Ralat !!!

Disini ChoiXiOh ingin menegaskan sesuatu yang mungkin membuat para readers bingung. Tentang Penname ChoChoiAddict itu memang awalnya bukan real punyaku. Kakak pembimbingku memberikan Pename serta beberapa fanfict Kyuyoung miliknya untuk diserahkan dan dipasrahkan kepadaku, karena beliau saat itu belum memiliki akun apapun untuk mempublish ff nya. Jadi dia memberikan ff buatannya dan menyuruh ku untuk mempublish ff buatannya di akun milikku. Tapi pada kenyataan nya aku malah lebih tertarik mempublish ff buatanya di SFI.

 

Untuk ff Wind Flower dari chap 1-2 memang real buatan ChoChoiAddict, tapi dari chap 3-seterusnya kami mutuskan untuk berkolaborasi membuat cerita nya. Walaupun awalnya sedikit ada masalah karena perbedaan pendapat dan masih banyak lagi kendala-kendalanya, aku (ChoiXiOh) dan pencipta ff Wind Flower (ChoChoiAddict) berusaha untuk menciptakan sebuah karya-karya tentang KyuYoung.

 

Untuk kesalahan yang masih banyak bermunculan dari ff yang kami buat, kami atas nama ChoiXiOh dan ChoChoiAddict minta maaf yang sebesar-besarnya.

 

 

Thanks For Reading :)

 

Regards

 

ChoChoiAddict and ChoiXiOh <3

 

[FREELANCE] BOYFRIEND

BOYFRIEND

Length: Oneshoot
Cast(s):
Yuta – SMrookies
Choi Sooyoung – SNSD
and the other minor cast
Recommended song: Boyfriend – Justin Bieber

image

<!–more–

Haaah. Damainyaaa.

Hari ini hari yang amat sangat damai. Minggu pagi yang cerah. Minggu pagi dimana aku bisa menikmati hariku sebagai seorang Yuta. Bukan trainee SM, yah meskipun tetap saja aku menikmati hari ini diruang latihan. Catat ‘ruang latihan’ tapi itu lebih baik, ya setidaknya daripada aku diam di dorm dan diganggu anak-anak lain. Di sini aku tenang. Hanya ada aku, sofa, cermin dan sebuah gitar akustik di sampingku.

Tenang. Sangat tenang.

“YUTA-HYUNG!” aish, Jeno sialan. Kenapa dia ada disini? Merusak hariku saja. “Yak, Hyung! Aku memanggilmu. Kenapa kau tidak mendengarku? Telingamu mulai bermasalah ya?”

Biarkanlah saja dia Yuta. Anggap angin lalu, ucapku pada diriku sendiri.

Hyung, apa yang kau lakukan di sini? Kau tidak jalan-jalan? Yang lainnya sedang jalan-jalan. Menikmati hari langka dalam hidup kita.” Celotehan Jeno mode on.

“Aku sedang menikmati hariku. Menikmati hariku yang tenang, sepi dan damai.” Ujarku dengan malas. Melelahkan sekali kalau harus berbicara dengannya.

“Jadi maksudmu aku mengganggumu ya?” GOTCHA! Bagai mendapat lotere, akhirnya Jeno sadar. Yeay! Anak-anak yang lain harus tau ini. Ini benar-benar suatu keajaiban, baru kali ini seorang Jeno tersadar. Biasanya, sampai bibirmu melepuh pun dia tidak akan sadar dengan perbuatannya. Haha, time to trolling him.

“Menurutmu?” Jangan lupakan wajah ‘cuekku’ saat menanyakan hal itu.

“Aku mengganggumu, Hyung. Mianhae.” Hah! Demi langit ketujuh, Jeno minta maaf! JENO MINTA MAAF! Ya Tuhan, terimakasih atas keajaibanmu Tuhan.

“Iya, aku maafkan.” Ini mengasyikkan.

“Hehe, eh, Hyung. Kau tidak bosan duduk melamun terus? Di sampingmu kan ada gitar, bagaimana kalau kau bernyanyi dengan gitar itu?” Hmm, si Jeno mulai  berulah, tapi sebagai Hyung yang baik, baikknya aku menuruti permintaan Dongsaeng jahilku satu ini. Itung-itung melatih skill-ku.

Geurae, kau mau aku membawakan lagu apa?”

“Bagaimana dengan satu lagu tentangku?” Jinjja, memang orang gila mana yang mau menciptakan lagu untuknya?

“Kau pikir kau siapa sampai ada yang membuat lagu tentang dirimu? Ada-ada saja kau ini.”

Jeno … Jeno.

“Bagaimana jika sebuah lagu tentang perasaanmu. Atau mungkin … YA! Lagu untuk wanita. Lagu untuk wanita tidak beruntung yang menjadi tipemu.” Dasar Dongsaeng kurang ajar, yang ada wanita itu akan menjadi wanita paling beruntung didunia karena memiliki seorang pria tampan sepertiku. Dasar tidak sopan!

“Iya, Hyung, ayolah. Nyanyikanlah sebuah lagu untuk wanita yang kau suka. Anggap aku adalah wanita yang kau sukai itu.” Apa? Dia jadi wanitaku? Wanita yang kusuka?

ANDWAE! Kau fikir aku tidak waras, aku pria normal.”

“Yang bilang kau gay siapa, Hyung? Aku kan hanya bilang ‘ANGGAP AKU ADALAH WANITA YANG KAU SUKAI ITU’ hanya anggap Hyung, anggap.” Cih, sok gemes dia.

“Kau terlalu jelek Jen, kau juga terlalu pendek untuk dianggap sepertinya.” Kena kau Jen.

“Aish Hyung, terserah kamu sajalah. Sekarang ayo!” Hahaha, lucu sekali dia, dia sok-sokan memelototkan matanya yang sipit padaku, lucu sekali. Dan tadi apa? Ayo? Ayo kemana?

“Ayo kemana Jen?”

“Ya nyanyi Hyung, masak manjat Namsan tower.” Haha, ini benar-benar mengasyikkan. Aku berani bertaruh kalau Jeno sangat imut saat geregetan.   

“Tapi dia tidak ada disini Jen, bagaimana aku bisa bernyanyi untuknya?” Dalam hitungan ketiga dia akan meledak. Satu, dua, ti …

“YAKKK HYUUUNG! tinggal menyanyi saja apa susahnya sih? Jangan banyak bicara Hyung, nyanyi saja!” Aku memutar bola mataku. Lihat, sekarang aku yang dia bilang banyak bicara, dasar tidak tau diri. Tapi, hehe itu juga keusilanku sih.

Arra arra, aku akan bernyanyi. Listen carefully ne.” See, saking geregetannya dia padaku sampai-sampai dia hanya memutar bola matanya. Ok, Yuta show is begin

If I was your boyfriend, I’d never let you go
I can take you places you ain’t never been before
Baby take a chance or you’ll never ever know
I got money in my hands that I’d really like to blow
Swag swag swag, on you
Chillin by the fire while we eatin’ fondue
I dunno about me but I know about you
So say hello to falsetto in three two swag
I’d like to be everything you want
Hey girl, let me talk to you

[Flashback On]

“Sooyoung-noona, saranghae.”
 
“Sooyoung, I love you.”
  
“Sooyoung, would you be my?”

“Sooyoung, menikahlah denganku!”

Argh. Sialan, apalagi sih ini mengganggu konsentrasiku saja. Dasar fanboy, mereka ini sebenarnya ke sini mau audisi atau apa sih? Ini juga, ngapain pula SNSD pake acara muncul di tempat audisi, begini kan jadinya. Sabar Yuta, sabar. Kamu harus melakukan yang terbaik, daripada kamu mendengarkan hal-hal tidak penting itu, lebih baik kamu berlatih sejenak. Tenang Yuta, tenaaang.

Enam bulan kemudian …

“Bukankah ini bagus, Youngie?”

“Bagus, Eon, tapi yang biru lebih cantik.”

Jinjja? Tapi yang pink ini lebih imut, ada hiasan mutiaranya juga. Ini terkesan imut dan mewah.”

“Iya sih, tapi yang biru lebih glamour Taeyeon-eonnie. Warnanya lebih … Aw!”

“Yak, Youngie. Gwaenchanayeo? Yak, kalau jalan itu pakai mata, jangan cuma kaki! Lihatkan Youngieku sampai jatuh.”

Mianhae Sunbae, saya benar-benar tidak sengaja. Tadi saya terburu-buru. Jeongmal mianhae.”

“Mankanya lain kali hati-hati!”

“Sudahlah, Eon, lagipula aku juga baik-baik saja. Oh ya, kamu trainee baru ya? Aku baru melihatmu.”

“Oh ne, aku trainee baru. Sekali lagi jeongmal mianhae Sunbaenim.”

“Santai, oh ya kamu bukan orang Korea ya? Wajahmu sedikit berbeda. Kamu keturunan Jepang ya?”

“Iya, Sunbae. Saya berasal dari Jepang. Neoneun Yuta imnida.”

“Oh Jepang. Kau diterima di sini dengan bakat apa?”

“Ya, Youngie-ah, kita harus cepat keruang latihan. Yang lain sudah menunggu.”

 “Arra, Eonnie, baiklah Yuta-ssi aku pergi dulu ne. Berlatihlah dengan baik. Mari bertemu di puncak. Fighting!”

Oh, yeoppuda. Pagi ini aku sangat beruntung. Baru hari pertama aku memasuki gedung SM dan memulai hari sebagai trainee ini saja aku sudah bertemu dengan bidadari secantik dia. Apalagi nanti, besok. Wah, aku akan bertemu semakin banyak bidadari nantinya. Tapi, yang tadi itu benar-benar cantik. Dia tinggi, baik, kulitnya eksotis dan matanya besar. Cantiknya, eh sebentar, kenapa fisiknya tidak seperti gadis Korea lainnya ya? Apa dia bukan orang Korea juga? Dan dia siapa ya? Wajahnya seperti sudah tidak asing, tapi siapa? Entahlah, nanti juga aku tahu.
 
Beberapa hari kemudian di ruang latihan trainee

“Itu Yoona-sunbae! Lihat, dia cantik bukan?”

“Iya, dia cantik. Tapi lihat Sooyoung-sunbae, dia sangat cantik. Senyumnya hangat sekali. Ditambah lagi sifatnya yang ramah kepada semua orang dan senyumnya yang menawan. Ah, dia sangat cantik.”

Oh, jadi Sunbae itu namanya Sooyoung. Jadi yang aku tabrak beberapa hari yang lalu di lobi SM itu Choi Sooyoung SNSD. Aduh, kudet sekali sih kamu Yuta. Sampai ikon SM secantik dia saja kamu tidak tahu.

“Kalian lagi ngintipin siapa sih?”

“Siapa ngintip? Orang kami cuma melihat orang yang lewat.”

“Cih, dasar pembohong. Aku tau tadi kalian ngomongin Sooyoung-sunbae. Yaudah lah ya, gausah ngarepin yang ketinggian. Gak bakalan mau juga Sooyoung-sunbae sama bocah seperti kalian. Lagian Sooyoung-sunbae kan sekarang pacaran sama Kris-sunbae. Kris yang tinggi, tampan, berkharisma lagi. Oh, beruntungnya Sooyoung-sunbae.”

JEDER! Jadi Sooyoung-sunbae sudah punya pacar. Kris-sunbae lagi. Tapi, sepertinya omongan gadis itu salah, yang beruntung itu bukan Sooyoung-sunbae karena berpacaran dengan Kris-sunbae tapi Kris-sunbae yang beruntung bisa memiliki pacar sekelas Sooyoung-sunbae. Ah, jadi iri. Eh bukan bukan, bukan iri tapi cemburu, iya cemburu. Lagian pantas kan kalau seorang fanboy cemburu karena idolanya punya pacar. Baru tadi tau namanya, sekarang aku sudah patah hati karena dia punya pacar. Ah, Sooyoung-sunbae

[Flashback Off]

If I was your boyfriend, I’d never let you go
Keep you on my arm girl, you’d never be alone
I can be a gentleman, anything you want
If I was your boyfriend, I’d never let you go, I’d never let you go

[Flashback On]

Argh sial! Gara-gara telat datang latihan aku jadi kena hukuman. Ini semua gara-gara kejadian tadi malam …

Malam dimana Yuta tidak bisa tertidur.

“Yak Wufannie, apa kau sakit?”

“Aku tidak sakit Youngie. Aku hanya sedikit lelah. Makannya aku mengajakmu ke sini, jadi kamu bisa menemaniku dan menghilangkan rasa lelahku.”

“Dasar gombal! Harusnya kamu itu istirahat. Bukan kelayapan.”

“Aduh, Nyonya Wu, aku kan sudah bilang, aku mengajakmu ke sini agar kamu bisa menghilangkan rasa lelahku. Bukan untuk menceramahiku.”

Kembali ke Yuta …

Cih, sok manis! Sok manis sekali sih itu Naga. Di panggung saja dia sok keren, sok berkharisma. Di depan Sooyoung-noona? Dia bahkan lebih menjijikkan daripada bayi berusia lima tahun. Lagian, gak elit banget sih dia. Masak ngajak ketemuan Sooyoung-noona di atap SM. ATAP SM. Tempat itu kan gelap, dingin dan tidak terawat. Bagaimana kalau nanti Sooyoung-noona masuk angin, demam, atau di gigit nyamuk? Kalau si Naga itu sih biar dia jatuh dari atap juga aku tidak perduli. Lagian kalau dia jatuh dari atap SM yang amat-sangat-tinggi itu palingan cuma cedera atau kalau tidak ya mati. Lagian dia kan Naga, bisa terbang. Dasar naga sialan. Terus, aku sekarang harus apa? Kalau aku diam di sini terus aku akan ditemukan oleh trainee atau coach yang lain. Yang ada malah aku jadi bahan ejekan. Terus kemana? Kantin, yang ada aku bakalan tambah dapat masalah kalau ada yang tahu aku di kantin. Dorm, hah … kuncinya kan ada di Hansol-hyung. WC, ah tidak tidak, memangnya aku kecoak. Terus dimana lagi, di halaman belakang? Parkiran? Atap? Eh, atap boleh juga. Setidaknya kalau siang tempat itu tidak gelap kan. Lagian juga aku tidak perlu khawatir dengan panas, hari ini cuacanya kan sedikit mendung sama seperti suasana hatiku yang sedikit mendung, jadi bolehlah aku diam di sana. Yihuuu atap, Prince Yuta is coming

“Hiks hiks hiks …,”

Eh, siapa itu? Baru sampai atap sudah ada suara tangisan. Bagus, pangeran setampan diriku bukannya di sambut dengan orchestra malah di sambut tangisan. Hufft, lagian siapa sih yang nangis itu, Cengeng sekali! Eh, jadi gadis itu yang menangis. Kenapa dia menangis? Kalau dari belakang sih cantik.

Tubuhnya ramping, surainya berwarna kecoklatan dan terbang indah tertiup angin. Sebaiknya aku hampiri saja dia, siapa tau aku bisa menenangkannya dan siapa tau juga dia cantik, kan lumayan. Hehehe …

Satu, dua, tiga. Ah, mana mungkin aku mengagetkannya yang ada kalau aku kagetkan bukannya berhenti menangis malah jatuh lagi, lagian yeoja ini tidak takut menangis di tempat setinggi ini.

“Em, jeogi.”

“Oh, ne.”

“SOOYOUNG-SUNBAE!” Hah, jadi yeoja yang menangis ini Sooyoung-sunbae. Kenapa dia menangis? Ya Tuhan, kenapa Kau biarkan air mata menetesi pipinya yang cantik.

“Yuta-ssi, gwaenchana?” Hah, dia menanyakan keadaanku? Harusnya aku yang bertanya.

“Apanya yang gwaencahana, Sunbae, justru Sunbae yang kenapa? Kenapa Sunbae menangis? Di tempat ini lagi, bagaimana kalau terjadi hal yang buruk pada Sunbae.”

“Hal yang buruk itu sudah terjadi Yuta-ssi.” Hah, apa yang dia gumamkan tadi? Hal buruk? Yak! Siapa yang berani-beraninya melakukan hal buruk pada My Baby Soo, minta dihajar dia!

“Em, apa yang terjadi Sunbae? Katakan saja padaku. Siapa yang mengganggu Sunbae? Sesaeng, Haters, Netizen? Katakan Sunbae.”

“Siapa yang menggangguku?” Eh, bagaimana sih ini, ditanya siapa yang mengganggunya malah balik bertanya. Aduh Sooyoung-noona, apa efek angin sudah menggeser letak otakmu.

“Loh, terus kenapa Sunbae menangis?”

“Aku? Menangis? Aku tidak menangis Yuta-ssi. Mataku tadi hanya tertiup angin, makanya jadi berair. Lagian, kamu sedang apa di sini? Bukannya jam segini harusnya kamu latihan ya?” Cih, dasar aktris, jelas-jelas tadi dia menangis masih juga tidak mau mengaku. Dan lagi dia justru bertanya kenapa aku di sini, harusnya aku yang bertanya kenapa dia di sini, bukannya SNSD Sunbaedeul sedang mempersiapkan comeback? Harusnya dia berlatih bersama member lainnya kan?

“Aku hanya sedang mencari tempat yang sunyi untuk mempelajari koreografiku dan tempat ini cukup sesuai untukku berlatih. Sunbae sendiri sedang apa di sini? Harusnya kan Sunbae berlatih untuk persiapan comeback SNSD.”

“Persiapannya di mulai besok. Lagipula aku sudah hafal koreografi dance-ya.” Yah, aku lupa. Dia ini kan yang paling cepat hafal koreografi dance, bagian dance member lain saja dia hafal. Daebak!

“Kalau begitu, maukah Sunbae menunjukkan padaku sedikit saja dance SNSD yang terbaru. Mau ya Sunbae.”

 “Eh, enak saja! Tunggu kami comeback ya.”

“Ah, Sunbae gak asik, ayolah Sunbae sedikit saja. Bagian intronya saja.”

“TIDAK! lagipula kalau nanti kamu tahu yang ada kamu keceplosan dan memberitahu trainee yang lain lagi. Sudah, daripada kamu memohon padaku yang tidak-tidak tujuan kamu ke sini tadi kan ingin berlatih koreografi, jadi sekarang ayo tunjukkan padaku kemampuanmu!”

Geurae, Sunbae mau aku membawakan dance apa?”

“SNSD – GEE. Bagaimana?”

“Ok, tapi Sunbae harus menyanyikan lagu itu sebagai pengiringku. Bagaimana?”

“Yah, suaraku kan tidak sebagus Taenggo. Tapi, baiklah. Demi menikmati persembahan dari seorang trainee setampan dirimu aku akan menyanyikannya.” Blush, aku yakin pasti sekarang wajahku sudah memerah semerah tomat. Dipuji tampan oleh seorang Choi Sooyoung, mimpi apa aku semalam. Baiklah, demi mendapat sanjunganmu lagi Noona, aku akan menampilkan yang terbaik.

Sejak kejadian diatap itu, aku dan Sooyoung-sunbae menjadi dekat. Yah, cukup dekat untuk ukuran seorang trainee dan Sunbae. Tidak jarang juga malahan Sooyoung-sunbae menyapaku terlebih dahulu. Saat di kantin pun, dia akan menyapaku terlebih dahulu baru menyapa trainee yang lain. Ah, dia benar-benar Happy Princess. Wajah cantiknya benar-benar tidak pernah menunjukkan raut sedih atau lelah. Mungkin, sekalinya ada orang yang melihat wajah sedihnya di luar akting hanya aku, waktu kejadian di atap itu. Tapi, bicara tentang atap bahkan sekarang aku masih belum tahu kenapa Sooyoung-noona menangis. Apa ada masalah ya?

“Heh Yuta, melamun saja? Ada masalah?”

“Eh, Hansol-hyung. Ada apa Hyung?”

“Malah balik nanya, kamu kenapa?”

“Aku nggak kenapa-napa kok Hyung. Hyung mengkhawatirkanku ya? Aku baik-baik saja kok Hyung.”

“Cih, percaya diri sekali. Iya aku khawatir padamu. Aku hanya khawatir kalau kamu sudah diberi racun tikus sama Jeno dan Mark.”

“Hah racun tikus? Memangnya kenapa aku diracuni? Memang aku punya salah apa pada mereka?”

“Aish paboya, kamu kan akhir-akhir ini saling bertukar sapa dengan Sooyoung-sunbae. Mereka kan fanboy akutnya Sooyoung-sunbae, jadi mereka tidak suka kalau kamu berkomunikasi dengannya.” Cih, memangnya Sooyoung-noona milik mereka. Dasar bocah.

“Hah, jadi hanya gara-gara itu.”

“Sudah, ayo masuk. Lama-lama di sini nanti jadi ngiler lagi.”

Sesampainya di ruang latihan …

“Hei Mark, itu kan sepatuku!”

 “Sepatu apa Jen? Ini milikku, milikmu kan yang warna talinya merah.”

 “Itukan merah Mark.”

 “Kau buta warna ya? Ini orange Jen ORANGE.”

 “Alasan, itu sepatuku Mark.”

 “Sepatuku!”

 “Sepatuku!”

 “Sepatuku!”

 “Sepa–”

 “DIAM! Kalian ini, sehari saja tidak membuat kekacauan bisa tidak? Baru jadi trainee kalian sudah seribut ini bagaimana kalau nanti kalian satu group?”

Mampus kalian, kena semprot Hansol-hyung kan jadinya. Makanya jangan banyak berulah. Kalau aku sih cari aman saja.

 “HELLO EVERYBODY!” aish, ngapain sih ini anak pake acara kesini. Inikan tempat latihan dance untuk trainee putra, bukan trainee putri.

 “Hei Wendy, kamu ngapain di sini? Ini kelas dance pria. Kelasmu di lantai bawah.”

 “Aku tau Hansol-oppa, aku ke sini karena lari dari kelas. Malas sekali ikut kelas hari ini, materinya cute dance. Memang apa gunanya menari dengan gaya imut, kalau mau imut tinggal aegyo saja, ngapain dance segala.”

Dasar yeoja jadi -jadian. Aku ingat betul saat dua minggu yang lalu, dimana para coach memberi tes dimana setiap trainee harus membawakan dance dari salah satu group SM, yang saat itu aku membawakan dance dari SHINee Sunbaenim, lucifer dan hampir semua trainee perempuan membawakan dance dari SNSD atau F(x) Sunbae, gadis ini justru membawakan dance Mr. Simple-nya Suju Sunbaenim, maunya apa sih ini perempuan?

 “Aish, kamu ini yeoja Wendy. Nantinya kamu akan debut sebagai idol perempuan. Kalau kamu tidak mau berlatih dance perempuan lalu kamu mau bagaimana?”

 “Aku akan debut seperti Amber-sunbae, cool kan?”

 “Tapi dia memang diperbolehkan tomboi, bukankah Sajangnim sendiri yang bilang tidak akan ada Amber kedua.”

 “Aku tidak peduli, lagian dulu Hyoyeon-sunbae dan Sooyoung-sunbae juga ikut kelas dance trainee putra, dan sekarang mereka tetap cantik jadi kenapa aku harus repot-repot.”

 “Aish Wendy …”

 “Sudahlah Hyung, biarkan saja Wendy ini. Kurang kerjaan banget sih ngurusin dia. Lagian Wen, kalau Sooyoung dan Hyoyeon-sunbae itu memang sudah terlahir cantik, jadi mau diapa-apain juga tetap aja cantik. Kalau kamu?”

 “Aku cantik Yuta-oppa, kamu saja yang buta tidak bisa melihat kecantikanku.”

 “Cih, PD sekalu kau Wen, lagian aku setuju dengan Yuta-hyung. Kalau Sooyoung dan Hyoyeon-sunbae itu cantik, kalau kamu itu JELEK.”

 “Sialan kau Mark! Eh, tapi ngomong-ngomong soal Sooyoung-sunbae, kalian tahu nggak ternyata Sooyoung-sunbae putus dengan Kris-sunbae. Ah, sayang sekali padahal mereka kan sangat serasi.”

 “Kamu tahu darimana Wen? Jangan menyebarkan berita yang tidak-tidak.”

 “Apanya berita yang tidak-tidak sih Hansol-oppa, kalian ini tuli ya? Berita ini sedang jadi trending topic disegala penjuru SM, lagipula beberapa hari yang lalu saat aku dan Joy baru selesai latihan dance, kami melihat Sooyoung-sunbae berjalan sambil menangis, kayaknya sih mau naik ke atap, tapi ya tidak tau juga sih. Pokoknya Sooyoung-sunbae jalan sambil nangis.”

“Dasar ratu gosip!”

 “Mark sialan!”

Jadi, yang kemarin Sooyoung-sunbae menangis di atap itu gara-gara putus dengan si Naga. Bagaimana ini ya, sejujurnya sih aku senang mendengar kabar ini, tapi kalau melihat My Baby Soo menangis seperti kemarin kan aku tidak tega juga. Apa aku temui dia saja ya, tapi kalau nanti dia tanya kenapa aku menemuinya. Kira-kira apa yang bisa membuat dia bahagia?

“Hei Jen, kamu kan fanboynya Sooyoung-sunbae, kamu tahu nggak hal-hal apa saja yang disukai Sooyoung-sunbae?”

 “Makanan, dance, boneka woody. Setahuku sih itu, memang kenapa Hyung?”

Makanan? Bukannya pelit, tapi Baby Soo kan shikshin, uangku tidak akan cukup untuk mentraktirnya. Dance, jujur saja punggungku sedang butuh istirahat setelah latihan ekstra beberapa hari ini. Boneka woody, itu karakter coboi di film animasi toy story itu kan? Boleh juga boneka ini, harganya terjangkau dan tidak menguras tenaga. Baiklah, boneka woody.

Setelah mendapat boneka woody, di depan ruang latihan SNSD …

 “Sunny-ah, sudah berapa kali kubilang pemanasan dulu baru berlatih dance. Lihat kan jadinya.”

 “Sudah Eon, biar saja Sunny ini. Ngomong-ngomong hei yeorobeun, mana Sooyoungie?”

 “Aku tidak tau Hyo, tadi malam aku tidur di dorm F(x).”

 “Aku juga tidak tau Eon, aku baru saja pulang dari lokasi pemotretan.”

 “Bukankah kemarin Soo-eon sempat keluar dengan Fany-eonnie, coba tanyakan padanya.”

 “Fany-eonnie, kamu tahu Sooyoung dimana?”

 “Put your hands up put your hands up put put put put put, put (Tiffany sedang mendengarkan 2PM – Hands Up dengan headset pemirsa).”

 “Yak, Hwang Miyoung. Kamu denger gak sih?”

 “Ya, Hyoyeon-ie, kamu ini harus memanggilku Eonnie. Yang sopan ne Saeng.”

 “Jinjja, sabar Hyo sabar. Yak, Tiffany-eonnie yang baik kamu tau tidak sekarang Sooyoung dimana?”

 “Ah Sooyoung? Aku tidak tahu. Kemarin setelah mengantarku dia langsung pergi. Pulang dari butik saja aku dijemput Luna.”

 “Dimana dia?” Ah, Sooyoung-noona tidak ada, dimana dia. Kalau begitu berarti mulai dari kemarin SNSD Sunbae tidak mengetahui keberadaannya. Dimana Noona? Apa dia pulang ke apartemennya? Pulang ke dorm EXO? pulang ke apartemen si Naga? Eih, mana mungkin. Mereka kan sudah putus, lalu dimana? Yang kutahu dia tidak punya apartemen pribadi dan tidak mungkin pulang ke rumah orangtuanya. Aish jinjja, Noona dimana sih?

Di atap gedung SM …

Serius, Noona kamu dimana? Hei koboi, harusnya kamu tau Noona dimana. Eh, seperti ada suara. Siapa?

 “Siapa di sana?”

Tidak ada yang menjawab, padahal tadi aku yakin ada suara. Jangan-jangan hantu, tapi mana mungkin ada hantu di siang bolong begini.

Srek.

Tuh kan, ada suara lagi.

“Yak! Siapa di sana?”

Tap, tap, tap.

Sekarang ada suara high heels. Orang gila mana yang kesini memakai high heels. Hei, yang benar saja atap ini sangat tinggi, untuk ke sini harus menaiki anak tangga yang sangat banyak dan kalau naik ke sini memakai high heels aku berani bertaruh pasti kaki pemakainya akan segera patah.

 “Yu-yuta-ssi.”

 “Ah, Sooyoung-noona!” Hah, apa yang dia lakukan disini? Dari matanya, astaga dia habis menangis semalam suntuk? Penampilannya, aigoo dia ini kan Choi Sooyoung SNSD kenapa dandanannya seperti tunawisma begini.

 “Apa yang kau …”

 “Kau menginap di sini?”

 “Hei, jangan memotong ucapanku!”

 “Jawab aku, semalam kamu tidur di sini? Jawab Noona!”

 “Mau aku tidur dimana juga itu bukan urusanmu bocah.”

 “JELAS ITU URUSANKU! Kalau kau sakit bagaimana? Kalau ada masalah cerita, bukan sembunyi seperti ini. Harusnya …”

 “Harusnya apa? Lagipula kau siapaku sampai repot-repot mengurusi hidupku?”

 “Aku ….” Sial! Benar juga, di matanya kan aku cuma seorang trainee. Lagian tadi kenapa, repot? Aku bahkan dengan sukarela menyerahkan kehidupanku sebagai prianya.

 “Nah, ambil ini.”

 “Apa ini?”

 “Kau buta? Itu boneka woody Sooyoung-noona.”

 “Aku tau ini boneka woody Yuta-ssi, tapi kenapa kau memberikannya padaku?”

 “Em itu anu, kau suka?”

 “Suka.”

 “Hanya begitu?”

 “Maksudmu? ”

 “Tidak ada ciuman terimakasih untukku?”

 “Heh, dasar pervent. Kau itu masih bocah. Jangan berfikiran yang tidak-tidak!”

 “Siapa yang kau bilang bocah, Noona?”

 “Ya kamu lah adik manis.”

 “Ok, sekarang Noona boleh mengataiku bocah. Tapi lihat saja nanti kau akan menarik ucapanmu tadi.”

 “Cih, sok sekali! Memangnya kau mau jadi apa bocah?”

 “Aku? Tentu saja, aku akan memiliki tubuh setinggi Changmin-sunbae, otot dan abs sekekar Siwon-sunbae, wajah setampan Minho-sunbae dan suara semanly Yesung-sunbae. Jadi nanti, tidak ada alasan untuk Noona mengataiku bocah.”

 “Arraseo, jangan banyak omong, buktikan saja!”

 “Mari bertaruh!”

 “Bertaruh apa?”

 “Kalau aku berhasil membuktikan ucapanku tadi, Noona harus menuruti semua permintaanku. Sebaliknya, kalau aku tidak bisa membuktikannya, aku akan menuruti semua permintaan Noona. Bagaimana? Kupikir Choi Sooyoung adalah wanita pemberani.”

 “Arraseo, kupegang janjimu! Jangan coba-coba mengelabuiku bocah manis!”

 “Aisssh …”

[Flashback Off]

Tell me what you like yeah tell me what you don’t
I could be your Buzz Lightyear fly across the globe
I don’t ever wanna fight yeah, you already know
Imma make you shine bright like you’re laying in the snow, burr
Girlfriend, girlfriend, you could be my girlfriend
You could be my girlfriend until the epic world ends

Make you dance do a spin and a twirl
Voice goin crazy on this hook like a whirl wind
Swaggie

I’d like to be everything you want
Hey girl, let me talk to you

[Flashback On]

‘Satu dua, satu dua putar tendang putar hentak. Satu dua, satu dua putar tendang putar hentak’. Haaah, lelahnyaaa. Hari ini benar-benar luar biasa. Luar biasa lelahnya. Mana yang mengajar kali ini Mr. Baek lagi, sudah cerewet, bawel, tukang cari kesalahan orang lain juga. Dasar.

 “Yak semuanya dengar ini, sekarang saya yakin kalian pasti gerah dengan kondisi kelas kan? Sudah kelas dance isinya putra semua lagi. Jadi, bagaimana kalau seandainya saya membawa seorang coach wanita untuk mengajar kalian, setuju?”

Hah, dasar pembual! Terakhir kali dia bicara begitu bukannya membawa gadis cantik dia malah membawa Mrs. Kim yang genit itu. Sudah berumur tetap saja genit, menjijikkan.

 “Hei, aku bertanya kenapa tidak ada yang menjawab?”

 “Terserah coach sajalah. Siapapun coachnya bisakah kelas hari ini dipercepat. Kami sudah lelah.”

 “Hei Johny, kenapa kamu secemberut ini, mana semangat mudamu boy? Geurrae, daripada kalian semakin gerah maka aku akan memanggilnya. Mrs. Choi, masuklah!”

Haaah, benarkan. Kemarin mrs. Kim sekarang Mrs. Choi. Mereka berdua ini kan sama genitnya, sial.

 “Annyeonghasaeyeo.”

 “Annyeonghasaeyeo Sooyoung-sunbae.”

WHAT? Sooyoung-noona! Apa yang dia lakukan di sini?

 “Ya anak-anak. Hari ini guest coach kita adalah salah satu dewi kecantikan, CHOI SOOYOUNG.”

 “Ah, Seonsaengnim bisa saja. Saya kan jadi malu.”

 “Kenapa harus malu Sooyoung. Bagaimana boy, masih tidak semangat latihan?” Sialan, ya jelas mereka semangat lah. Ini lagi, ngapain coba My Baby Soo ke sini, pakai hotpants lagi, mau pamer kaki sudah tau di sini kandang macan. Dasar!

 “Geurrae, mari kita mulai latihan dance hari ini, DJ put it back on!”

 Setelah kelas dance berakhir …

 “Kau belum mau pulang Soo-noona?”

 “Sebentar, kakiku butuh istirahat.”

 “Itu akibatnya terlalu sering memakai high heels dan kurang istirahat. Lagian Noona juga, kaki Noona itu sudah ramping, sudah jenjang, Noona juga sudah tinggi jadi jangan pakai high heels lagi. Noona tidak kasian pada gadis-gadis lain, pada Sunny atau Taeyeon-sunbae misalnya, mereka jadi terlihat seperti kurcaci kalau berdiri di dekat Noona.”

Pletak!

 “Aw, yak! Kenapa Noona menjitakku?”

 “Makannya jangan sembarangan bicara, lagipula aku ini memakai high heels karena tuntutan fashion. Kau tidak akan paham.”

 “Tuntutan fashion apanya, hei Noona kau tidak lapar?”

 “Tentu saja lapar bocah. Pakai ditanya lagi.”

 “Hei Shiksin-noona, sudah kubilang jangan panggil aku bocah!”

 “Aku akan berhenti memanggilmu bocah kalau kamu berhasil membuktikan ucapanmu.”

 “Terserah kau saja. Baiklah, ayo makan!”

 “Aduh, aku capek. Males mau beli makan.”

 “Yak! Kau ini lapar, jadi harus makan, kalau sakit nanti bagaimana? Ayo makan!”

 “Sudah kubilang aku lelah Yuta-ssi.”

 “Yasudahlah, Noona mau makan apa? Biar kubelikan.”

 “Eh, seriusan kamu mau membelikankku makanan?”

 “Iya serius. Sudah, mau apa?”

 “Hehe, sebenarnya 2 blok dari sini ada kedai ayam goreng yang baru buka, jadi Yuta-ssi, belikan aku seporsi saja ayam goreng di sana. Mau ya?”

 “Yakin seporsi? Tidak kurang?”

 “Aish, kau pikir porsi makanku sebanyak apa ha?”

 “Hehe, Noona kan shiksin. Geurrae aku berangkat dulu. Tunggu di sini ne!”

 Sesampainya membeli makanan …

 “Noona, aku datang!”

 “Ayam gorengku!”

 “Yak Noona! Kau harusnya menyambutku bukan makanannya.”

 “Hehe, mian. Ayo buka! Aku sudah lapar.”

 “Iya iya.” Hai, hari ini memang cukup melelahkan sih. Tapi, sekarang rasa lelahku lenyap sudah, seorang bidadari tengah makan dengan lahapnya di hadapanku. Ck, pantas saja dia dipanggil shiksin lihat cara makannya, dia ini lapar atau rakus sih?

 “Hei Yuta-ssi, kenapa memandangiku terus? Cepat habiskan makananmu! Lihat punyaku sudah habis.”

 “Ck ck ck, hebat sekali kau Noona. Tapi heran ya, bagaimana mungkin tubuhmu masih sekurus ini? Padahal kan makanmu luar biasa.”

 “Ya iya lah, lagipula aku memang terlahir dengan keistimewaan terindah, makan banyak tapi tidak gendut. Eh eh sebentar. Annyeong, ne yeoboseo? Oh ne? Baiklah, aku ke sana sekarang. Ne ne. Arraseo. Ne. Ehm, Yuta-ssi aku pergi dulu ne, terimakasih atas makanannya. Lain kali akan kubalas kebaikanmu. Aku pergi dulu, annyeong.”

 “Chakkaman! Noona janji kan akan mentraktirku?”

 “Iya aku janji, bye bye.”

YES! Yuhuuu! Aku punya jadwal kencan dengan Sooyoung-noona, tidak tau sih kapan dia akan mentraktirku, tapi setidaknya dia punya hutang padaku.

Beberapa hari kemudian …

Akhirnya, selesai juga latihan hari ini, akhirnya aku bisa pulang ke dorm dan mengistirahatkan tubuhku ini. Du du du du du.

 “Dengarkan aku Soo!” Eh, sepertinya itu suara si Naga.

 “Apalagi yang harus kudengar Kris, sudahlah.” Ha, itukan suara My Baby Soo.

 “Itu semua tidak benar Soo. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Jessica. Aku hanya berteman dengannya Soo, tolong jangan tinggalkan aku, aku mencintaimu.”

 “Kau bisa bicara tidak ada hubungan apa-apa dengan Jessica di depanku. Tapi di depan orang lain? Di depan kamera? Kau lebih menyanjungnya dan lebih bangga padanya dari pada aku, pacarmu sendiri. Kau pikir aku buta Kris?”

 “Semua itu tidak benar Soo. Aku mencintaimu, aku bangga memilikimu Soo. Aku …”

Dasar naga pengecut! Di sini saja dia minta Sooyoung-noona kembali padanya. Padahal kemarin aku melihat dengan mata kepalaku sendiri dia asik berciuman dengan Jessica-sunbae. Ini tidak bisa dibiarkan!

 “Eh, annyeong Kris-sunbae. Annyeong Sooyoung-noona. Apa yang kalian bicarakan di lobi? Dan, hei Noona kenapa kau menangis?”

 “Dia tidak mena …”

 “Iya, aku tidak menangis kok. Tadi Yuri mengajakku menonton film sad, jadi aku menangis terharu karena film itu.”

 “Oh begitu. Eh Noona, Noona tidak sibuk kan? Ayo, mana janjimu?”

 “Janji apa?”

 “Haish, kau kan janji mau mentraktirmu makan. Jadi ayo sekarang traktir aku, aku sudah lapar.”

 “Eh tap-tapi …”

 “Ah tidak ada tapi, kajja.” Kutarik saja tangan Sooyoung-noona. Lagipula tujuanku sebenarnya bukan untuk menagih janjinya, aku hanya mau membawanya pergi dari sini. Kalau dia disini lama-lama nanti dia termakan akting si Naga lagi.

Di Restoran.

 “Hei Yuta-ssi, kau bohong padaku ya?”

 “Bohong apa?”

 “Kau sebenarnya tidak lapar kan? Aish, kau pikir aku akan mengingkari janjiku?”

 “Bukan, aku hanya menyelamatkanmu. Kalau pun Noona tidak mentraktirku kali ini aku juga tidak marah, yang penting Noona aman.”

 “Menyelamatkanku? Aman? Kau pikir aku darimana, medan perang? Ada-ada saja kau ini.”

 “Aku hanya menyelamatkanmu dari akting si Naga.”

 “Naga? Kris maksudmu?”

 “Iya, siapa lagi. Sekarang dengar aku! Jangan pernah mau didekati oleh Kris-sunbae. Aku sudah tau semua tentang yang terjadi diantara kalian.”

 “Cih, tau apa memangnya kau bocah.”

 “Aku bukan bocah dan aku tau semuanya. Aku tau kalian berpacaran, aku tau kecemburuanmu dan aku juga tau kalau si Naga itu selingkuh dengan Jessica-noona.”

 “Jangan sok tahu bocah.”

 “Aku bukan sok tahu, kemarin aku melihat sendiri naga sedang berciuman dengan Jessica-sunbae. Eh eh, YAK NOONA! Uljimayo, jangan menangis, lagipula apa yang perlu kau tangisi. Uljima Noona, uljimayo.”

 “Ak-aku … aku tidak menangis kok. Oh ya, jadi kau mau makan apa?”

 “Tidak jadi, sekarang ikut aku!”

 “Yak, kau mau membawaku kemana?”

Sesampainya di tempat tujuan …

 “Yak bocah, kenapa kau membawaku keatap sih? Kakiku pegal rasanya.”

 “Aku kan sudah bilang jangan sering-sering menggunakan high heels. Lagipula aku masih baru di sini, jadi setahuku tempat yang sunyi dan nyaman digunakan untuk menenangkan diri ya di sini.”

 “Kenapa harus atap sih?”

 “Jangan cerewet! Sudah, sekarang menangislah!”

 “Hah, untuk apa?”

 “Supaya kau tidak lagi memperlihatkan tangisanmu pada orang lain. Kalau mereka melihatmu menangis, mereka justru akan meremehkan harga dirimu.”

 “Kau menyuruhku menangis tapi kau masih berdiri di sini.”

  “Kau masih menganggapku orang lain? Lagipula aku sudah pernah melihatmu menangis dan aku juga tau alasanmu menangis, jadi menangislah sekarang dan jangan menangis lagi setelah ini.”

 “Tidak mau, lagipula untuk apa aku menangis. Tadi di restoran bukannya kau bilang tidak ada yang perlu ditangisi, lagipula aku juga lelah menangis terus. Orang yang kutangisi saja mungkin sekarang sedang tertawa lepas di sana, jadi untuk apa aku menangis di sini.”

 “Bagus. Itu baru namanya Choi Sooyoung. Lagipula Noona ini tidak sadar ya, Noona ini sudah jelek jadi kalau Noona nangis akan terlihat lebih jelek.”

 “Aish, Yuta.”

 “Hehe, Noona mau melihat dance-ku?”

 “Boleh, ayo tunjukkan!”

 “Ok, buka matamu lebar-lebar Noona. It’s showtime.”

 “Hahaha, yak Yuta-ssi kamu ini nari atau sedang terkena cacar sih, dancemu benar-benar seperti cacing kepanasan.”

 “Yak Noona! Aku sedang menari. Aish, sudah capek-capek nari malah diketawain.”

 “Aigoo, lucunya anak Eomma …”

 “Yak, aku bukan anakmu.”

 “Hahaha, iya gitu aja ngambek. Ngomong-ngomong terimakasih ya, sudah menyelamatkanku dan menghiburku hari ini. Aku tidak tau apa yang akan terjadi kalau saja tadi kau tidak membawaku pergi.”

 “Sudah, gitu aja? Hadiahku mana?”

 “Yak! Kamu ini matre ya, apa-apa selalu minta balasan. Dasar pamrih.”

 “Hehe, tapi serius aku minta hadiah untuk kali ini.”

 “Ok, kau minta apa ha?”

 “Aku hanya minta lupakan si naga dan jangan pernah lagi menangis untuknya. Ok?”

 “Em, ok.”

 “Apa? Aku tidak dengar.”

 “Ok.”

 “Apanya yang ok?”

 “Aish, ok aku akan mulai melupakan Kris dan tidak akan lagi menangis untuknya.”

 “Hehe, perlu bantuan?”

 “Bantuan apa?”

 “Apapun itu.”

[Flashback Off]

If I was your boyfriend, I’d never let you go
Keep you on my arm girl you’d never be alone
I can be a gentleman, anything you want
If I was your boyfriend, I’d never let you go, I’d never let you go

So give me a chance, ’cause you’re all I need girl
Spend a week with your boy I’ll be calling you my girlfriend
If I was your man, I’d never leave you girl
I just want to love you and treat you right

[Flashback On]

Hari ini adalah hari kedua puluh bulan Desember, berarti kurang beberapa hari lagi hari natal dan tahun baru. Ha, sayangnya natal kali ini aku tidak bisa merayakannya di rumah. Tapi tak apalah, lagipula bukan hanya aku yang tidak merayakan natal dengan keluarga. Lagipula, siapa tahu natal kali ini akan kurayakan dengan My Baby Soo. Hahahahaha. Eh, ngomong-ngomong sudah beberapa hari ini aku tidak bertemu dengannya. Memang dia sesibuk itu ya? Loh, itukan dia! Aduh, masak gadis secantik dia duduk di bangku lobi sendirian, lagipula kemana perginya SNSD Sunbae yang lain? Baiklah, karena sang Juliet sedang duduk sendirian maka sekarang Romeo akan menemaninya.

 “Hallo Sooyoung-noona.”

 “Eh Yuta-ssi, mengaggetkanku saja. Ada apa?”

 “Kenapa Noona duduk di sini sendirian? SNSD Sunbae lainnya mana?”

 “Aish, Yuta-ssi kenapa kau menanyakan mereka sih?”

 “Memangnya kenapa?”

 “Aish, aku ini sedang iri dan cemburu berat pada mereka!”

 “Eh, kenapa?”

 “Mereka enak jadwal individunya hanya sampai tanggal 23, Yoona sampai tanggal 24, jadi mereka bisa merayakan natal disini. Sedangkan aku? Tanggal 23 aku justru harus berangkat sendirian ke Jepang selama seminggu untuk proyek pemotretan. Menyebalkan sekali kan?”

 “Sekarang ganti aku yang iri pada Noona.”

 “Eh, kenapa?”

 “Noona enak merayakan natal di Jepang. Aku?”

 “Eh, mian. Astaga aku lupa. Mianhae.”

 “Iya Noona. Ya sudah, kalau begitu ayo jalan-jalan!”

 “Kemana?”

 “Temani aku beli baju Noona, aku masih belum terlalu paham tentang Seoul.”

 “Cih, bilang saja cari tumpangan.”

 “Hehe. Anggap saja kencan Noona. Noona kan bisa sekalian belanja.”

 “Aish.”

Sesampainya di salah satu Mall terbesar di Seoul …

 “Wah, besar sekali ya.”

 “Aduh, jangan lebay. Iya sih, Mall ini memang besar. Ya harap maklum lah.”

 “Maklum kenapa?”

 “Aish, kau tidak tahu ya. Departement store ini milik keluarga Siwon-oppa, Choi Siwon SUPER JUNIOR, tahu kan?”

 “Iya iya, gak penting juga. Ayo, belanja!”
 
 “Lebih bagus yang mana Noona, kotak-kotak biru hitan atau abu-abu hitam?”

  “Aku sih lebih suka yang abu-abu hitam.”

 “Geurrae, kalau begitu aku ambil yang ini. Ayo ke stand sepatu!”

 “Ok.”

 “Hei lihat, ini bagus Yuta-ssi. Sepatu ini cocok digunakan dengan kemejamu yang tadi.”

 “Jinjja? Eh iya, bagus juga rupanya. Chakkaman … jeogi, apa anda pelayan di stand ini?

 “Nde, neoneun Chaeyeon imnida. Ada yang bisa saya bantu?”

 “Em, boleh saya tau berapa harga sepatu ini?”

 “Oh, sepatu ini harganya 8 ribu won. Tapi jika tuan membelinya sekaligus dengan couplenya harganya menjadi 15 ribu won.”

 “Ha, sepatu ini ada couplenya?”

 “Iya tuan. Mau saya tunjukkan?”

 “Boleh, bawa ke sini couplenya.”

 “Mohon tunggu sebentar tuan, saya ambil dulu sepatunya.” Jadi ini ada couplenya. Wah, agak mahal sih, tapi kan lumayan. My Baby Soo kan suka dengan sepatu ini, jadi kalau aku belikan couplenya dia tidak akan menolak kan?

 “Maaf tuan, ini sepatunya.”

 “Eh, chakkaman. Sooyoung-noona!”

 “Nde, ada apa Yuta-ssi?”

 “Kemarilah!”

 “Ada apa?”

 “Coba sepatu ini!”

 “Untuk apa?”

 “Jangan cerewet, coba saja. Muat tidak?”

 “Muat kok. Kenapa sih?”

 “Baiklah kalau begitu, saya ambil sepatu couple ini.”

 “Baik tuan, mari ke meja kasir.”

 Di dalam mobil.

 “Nah, ini untukmu.”

 “Ha, kenapa kau berikan padaku?”

 “Kan ini sepatu wanita, mana mungkin aku memakainya.”

 “Lho, kufikir kau membeli ini untuk diberikan pada Wendy.”

 “Hah, Wendy? Kenapa Noona berpikir begitu?”

 “Ya setauku kan kalian dekat, jadi kupikir ini akan kau berikan padanya.”

 “Hei, Noona cemburu ya? Mengaku sajalah.”

 “Siapa yang cemburu?”

 “Ya Noona lah, lagipula aku memang sengaja membelikan sepatu ini untuk Noona. Jadi Noona punya sepatu selain high heels. Aku bosan melihat Noona memakai sepatu tinggi itu terus.”

 “Memang kenapa? High heels itu fashion item wajib bagi wanita. Dengan memakainya maka para wanita akan bertambah rasa percaya dirinya.”

 “Iya, dan itu hanya berlaku bagi wanita yang tinggi badannya kurang. Itu juga bukan alasan untuk Noona yang sudah terlahir setinggi ini. Lagipula, Noona tidak khawatir terkena varieses?”

 “Tidak, memang kamu khawatir?”

 “Iya.”

 “Kenapa?”

 “Karena aku menyayangimu.”

[Flashback Off]

If I was your boyfriend never let you go
Keep you on my arm girl you’d never be alone
I can be a gentleman, anything you want
If I was your boyfriend, I’d never let you go, never let you go

Na na na, na na na, na na na
Ya girl
Na na na, na na na, na na na ey
If I was your boyfriend
Na na na, na na na, na na na ey
Na na na, na na na, na na na ey
If I was your boyfriend

 “Wah, bagus Hyung. Daebak!”

 “Ah, biasa aja Jen, aku tau aku memang hebat.”

 “Dasar! Eh Hyung, memang serius ya lagu ini?”

 “Maksudmu?”

 “Kau seriusan mau menyatakan perasaanmu lewat lagu ini?”

 “Kalau iya kenapa memangnya?”

 “Ya tidak apa-apa sih, aku hanya berfikir kalau kau membawakannya sebagus tadi pasti gadis itu akan menerima cintamu.”

 “Jinjja, kamu serius?”

 “Iya, memang siapa sih yang kamu suka?”

 “Sooyoung-noona.”

 “YUTA SIALAN!”

♡ The End ♡

Aah, jeongmal mianhaeyeo. Sumpah ini ceritanya kacau banget. Maaf ya yeoreobeun, aku nyampah disini. Sekali lagi jeongmal mianhae (heart)