Dark, Romance

Switch Off the Light: 2

lihgt

A story by Soshinism

—–

RatingPG 17 (Violent and disturbing content.)

GenreRomance, Fantasy, Supernatural

Cast: Cho Kyuhyun. Choi Sooyoung. Choi Siwon. Choi Minho. And many others you’ll find along the way.

If you would, please kindly check out my own blog, just click the link down below.

Soshinism

It’d seriously support my mental health, hahaha.

—–

— If I spilled my guts, the world would never look at you the same way. And now I’m here to give you all of my love, so I can watch your face as I take it all away.” -Switch Off the Light —

 

Suara yang dihasilkan dari ranting dan dedaunan pohon saling bergesekan membuat suasana tambah kelam malam itu. Angin terus berhembus membawa rintik-rintik kecil air hujan yang masih turun sejak tadi tapi tidak membesarkan volumenya. Sooyoung melirik Minho dari ujung matanya seakan bertanya apa yang harus mereka lakukan saat itu.

Well, well, well. Who do we have here? Ah, the gorgeous Choi Siblings,” ujar seorang lelaki dengan suara beratnya. Ia muncul tiba-tiba dari balik barisan pohon di hutan dengan senyumannya yang penuh dengan ancaman. Di sisi kanan dan kirinya ada seorang lelaki dan wanita yang perlahan juga muncul dari balik tubuh lelaki itu.

Mengumpulkan seluruh keberanian dalam dirinya, Minho membalas kalimat lelaki itu, “Apa yang kau lakukan di sini, Yunho-ssi?”

Lelaki yang dipanggil Yunho itu kembali tersenyum, kepalanya menunduk sedikit, tapi matanya masih lurus memandang kedua objek mainannya itu, “Hunting for food, of course, Choi Minho.”

“Kau tau ini bukan daerahmu, why still go here?” kali ini Sooyoung yang berhasil mengumpulkan keberaniannya dan mengangkat suaranya.

Yunho berhenti sejenak, matanya memandang ke atas seperti sedang berpikir tentang sesuatu sebelum menjawab Sooyoung, “Ah, about that, you see, those Hunters sedang semangat-semangatnya berburu dan menjaga daerahku, jadi aku tidak bisa terlalu banyak keluar saat malam untuk mencari sumber makanan. That is allright, right?”

Angin berhembus sekali lagi dan membuat rambut Sooyoung yang cukup basah karena hujan melambai-lambai dan bersinar ketika cahaya mengenai permukaannya. Ia berusaha menenangkan diri dengan memejamkan kedua kelopak matanya beberapa saat dan menghela napas beberapa kali. Ia hendak mengeluarkan jawabannya untuk Yunho sebelum Minho meletakkan tangannya di pergelangan tangan wanita itu, berusaha menahannya, tapi sang wanita meyakinkan saudara kembarnya yang lahir hanya beberapa menit sebelumnya itu dengan sebuah anggukan, untuk mempercayai apa yang harus ia katakan setelah ini. Dan perlahan genggaman itu lepas.

Arraseo. Satu minggu. Dan kau keluar dari sini.” Yunho tersenyum dan mengangkat tangannya, memberi hormat kecil untuk Sooyoung dan melenggang lagi ke tengah hutan.

“Jangan mengganggu manusia di sini! Leave my people alone!” teriaknya lagi pada Yunho sebelum ia benar-benar menghilang dari pandangannya dan lelaki itu hanya membalikkan kepalanya sedikit, mengiyakan apa yang dikatakan Sooyoung padanya.

Setelah beberapa saat berusaha menenangkan pikiran dan hati atas apa yang baru saja terjadi, kedua saudara kembar itu kembali ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan dalam diam. Tak ada yang mau memulai percakapan akibat keterkejutan yang masih memenangi pikiran keduanya. Sooyoung menempelkan kepalanya ke kaca jendela yang ada di dekat sisinya dan otaknya kembali memutar kejadian hampir dua ratus tahun yang lalu yang sampai sekarang tidak mampu dilupakan olehnya, maupun Minho, dan kakak lelakinya yang satu lagi, Siwon.

Mesin mobil kembali berhenti dan hal itu membuat Sooyoung tersadar dari permainan otaknya lagi. Ia turun dari mobil dan Minho mengikutinya di belakang setelah mencabut kunci mobil dari tempatnya, kemudian dengan sigap membawa mayat-mayat manusia yang masih baru itu ke tempat penyimpanan di rumah besar milik mereka. Setelah selesai, keduanya menemukan Siwon masih terjaga dari tidurnya dengan segelas gin di tangan, tubuhnya terlihat lemas dan lunglai menempel pada sandaran sofa. Sooyoung mendekatinya dan menyadari beberapa luka di lengan dan wajahnya dan seketika, ekspresi wajahnya berubah khawatir.

Oppa, ige mwoya?” Minho yang awalnya tak menyadari mulai mendekat pada Hyung-nya dan memperhatikan hal apa yang membuat Sooyoung sekhawatir itu.

Mwoya, Hyung? A fight?”

Siwon menghela napas pelan sambil melihat beberapa lukanya yang sudah sembuh sendiri karena kemampuan regenerasi yang dimilikinya, “Yunho,” ujarnya. Satu nama itu mampu membuat kedua adik kandungnya terkejut dan terdiam beberapa saat, menyebabkan Siwon untuk mengerutkan dahinya meminta penjelasan tentang diamnya mereka.

“Kami juga bertemu dengannya, tadi ketika mengumpulkan mayat,” ujar Minho, matanya tak berani untuk melihat kakak lelakinya dengan langsung. Siwon menolehkan kepalanya ke arah Sooyoung, meminta konfirmasi atas apa yang baru saja didengarnya. Ketika wanita itu tidak menjawab dan mengalihkan pandangan darinya, Siwon sekali lagi menghela napas berat.

Why didn’t you call me?”

We didn’t want to worry you,” kalimat itu keluar dari bibir Sooyoung dan Minho bersamaan, dengan kata-kata yang sama persis.

Wait, why didn’t YOU call us?” Sooyoung menemukan dirinya sedikit menaikkan suara ketika mengucapkan pertanyaan retoris itu pada kakak lelakinya, kesal karena ia hanya mengkhawatirkan adiknya dan tidak dirinya sendiri. Siwon tersenyum kecil dan menenggak gin yang ada di tangannya sampai habis, menandakan bahwa dirinya sudah tak mengapa.

Hyung, mengapa kau sampai seperti ini? Ketika kami bertemu dengannya tadi, dia sama sekali tidak terlihat ingin menghabisi dan hanya meminta dipersilakan berada di sini untuk berburu. Sooyoung said he can stay here for a week, setelah itu, he’s out.”

Sooyoung menggaruk tengkuknya dengan salah satu tangannya ketika Siwon memberikan sebuah pandangan mengerikan padanya.

Gwenchana, sudahlah, kembali ke kamar kalian,” ujar lelaki yang lima tahun lebih tua dari adik-adiknya itu, dan yang diberi perintah pun hanya mampu menurut.

Sebelum berpisah, Minho ke kiri dan Sooyoung ke arah sebaliknya, lelaki yang lebih tinggi itu berkata, “Mianhae, Sooyoung-ah,” suaranya benar-benar pelan seperti berbisik, tapi Sooyoung masih mampu mendengar dengan jelas dan ia tersenyum kecil sebelum membalas permintaan maaf lelaki itu, “gwenchana, dia juga akan tau pada akhirnya,” kemudian kepalanya menoleh ke belakang sebentar dan Minho melakukan hal yang sama, dan keduanya sama-sama saling mengucapkan ucapan sebelum tidur tanpa suara.

***

Dan beberapa bulan pun berlalu sejak Kyuhyun mulai sering mendekati Sooyoung, sebelum masuk jam pertama, saat istirahat, pulang sekolah, atau even sekolah yang lain, lelaki itu sama sekali tidak menunjukkan kelelahan untuk mendekati Sooyoung. Bahkan sepertinya wanita itu mulai kesal karena sang lelaki seperti tidak memiliki rasa menyerah sedikitpun meski hampir selalu ia beri perlakuan dingin, atau bahkan pertanyaan-pertanyaan dan small talk-nya dengan Sooyoung tidak wanita itu balas sama sekali.

Hari ini, seperti biasa, Sooyoung menukar buku-buku yang tidak diperlukannya untuk kelas dengan yang diperlukannya dari dalam lokernya. Ia kembali menatap ke tumpukan surat cinta dari para penggemarnya yang hampir setiap hari memenuhi lokernya. Biasanya surat-surat itu terkumpul dari seminggu sebelum Sooyoung membuka lokernya dan ia hanya membuang atau membacanya begitu saja tanpa benar-benar memedulikan isinya.

Ia lihat satu per satu keterangan yang ada di bagian surat itu dan membaca nama pengirimnya, ada yang menuliskan nama lengkapnya, ada yang hanya menuliskan inisialnya, ada pula yang sama sekali tidak menuliskan namanya. Setelah ia selesai menghitung jumlah surat itu, dibukanya masing-masing dan membacanya tanpa ketertarikan sedikit pun. Atau… setidaknya, begitulah yang dirasakan olehnya sampai ketika ia membaca sebuah surat terakhir yang terselip di antara buku-bukunya.

Surat itu terlapis rapi dengan sebuah amplop berwarna abu-abu tua. Ia buka dengan mudah amplop tersebut dan dari dalamnya menyembul selembar kertas. Sooyoung mengerutkan dahinya ketika membaca isi surat itu. Hanya satu kalimat dalam Bahasa Inggris.

Rooftop at lunch break, don’t be late, I’ll be waiting.

Ia menatap datar surat itu. Baru kali ini surat seperti itu ia dapatkan, biasanya hanya berisi pengungkapan cinta padanya tanpa ada kelanjutan yang berarti. Dan kali ini, ada beberapa perasaan yang bercampur aduk di dalam hatinya yang bertolak belakang dengan otaknya. Hatinya mengatakan, “Pergi saja, coba dulu, tidak ada yang salah dengan menerima surat seperti ini sekali-kali kan?” namun otaknya mengatakan untuk tidak perlu menerima surat itu, sama saja seperti surat yang lain, tidak ada artinya baginya.

***

Jam makan siang tiba dengan lambat –menurut Sooyoung. Dan ia menemukan dirinya berada di rooftop gedung sekolahnya dengan keringat mengucur deras di punggungnya. ‘What is this? Why am I even nervous? Get your sense back, Choi Sooyoung!’ rutuknya pada dirinya sendiri dalam hati. Tangan kanannya menggenggam surat itu dengan erat dan ia melihat sekeliling, tidak menemukan siapapun kecuali sebuah kursi tua yang ia kira diambil dari gudang dan diletakkan begitu saja di tengah rooftop.

Sooyoung mendekati kursi itu perlahan. Semakin dekat, ia semakin mampu menggambarkan apa yang ada di atas kursi itu. Sekotak dark chocolate dan surat lain dengan warna amplop yang sama dengan yang digenggamnya. Ia ambil kotak berisi makanan kesukaannya –sebenarnya ia menyukai semua makanan– itu dan membaca surat yang ada di sebelahnya. Lagi-lagi hanya sebuah kalimat dalam Bahasa Inggris yang menurutnya, sangat konyol. Ia tidak bisa mempercayai dirinya sendiri bisa-bisanya menerima dengan begitu saja surat itu, sampai-sampai benar-benar datang ke tempat yang tertulis di surat itu.

Ia baca sekali lagi isi surat itu dan menertawakan dirinya sendiri.

After school at the backgate. -xo

After school at the backgate, huh?” ujarnya menirukan kalimat yang tertulis di kertas itu dengan suara yang cukup keras.

Sooyoung memutuskan untuk kembali ke kelasnya setelah beberapa menit menunggu dan tidak ada seorangpun yang muncul untuk menemuinya.

Seorang wanita yang kira-kira berada di usia tiga puluhan ke atas masuk ke dalam kelas tempat Sooyoung berada, menyebabkan dirinya sadar dari lamunannya dan mengalihkan pandangan dari luar jendela kelasnya yang berada di lantai dua gedung itu kembali ke depan ruangan kelas.

Rasanya waktu berjalan lambat lagi sejak ia menerima surat kedua itu. Jemari-jemarinya yang lentik mengetuk pelan meja sesekali, sementara tangan kirinya ia gunakan untuk menyangga berat kepalanya. Ia melirik ke arah bawahnya untuk beberapa detik dan cukup tergiur dengan sekotak dark chocolate yang ia dapatkan dari penggemarnya dan hampir saja memakannya ketika bel tanda kelas terakhir selesai memekikkan telinganya. Dengan sigap ia masukkan segala barang bawaannya ke dalam tas punggung berwarna hijau lumut miliknya dan bergegas menuju tempat yang sejak tadi ada di pikirannya.

Ia harus berterima kasih pada kedua gen orang tuanya yang membuatnya memiliki kaki panjang sehingga langkahnya saat ini terasa sedikit, meminimalisir waktu yang ia butuhkan untuk sampai di gerbang belakang sekolahnya. Jantungnya berdebar beberapa kali lebih cepat daripada biasanya dan Sooyoung bertanya-tanya bagaimana hal itu bisa sampai terjadi pada dirinya sekarang, padahal biasanya tidak.

Menit demi menit makin berlalu dan tak ada tanda-tanda apapun dari sang pengirim surat yang memerintahkannya untuk berada di gerbang belakang sekolah setelah jam terakhir selesai. Amarah mulai menguasai dirinya dan ia mengumpat pada dirinya sendiri dalam hati ketika menyadari betapa bodohnya dirinya untuk benar-benar datang ke tempat yang diminta sang penggemar. Ia hampir saja pergi dari tempatnya menunggu ketika seorang lelaki datang padanya dan memberikan sekotak dark chocolate yang lebih kecil dari yang sebelumnya ia dapatkan di rooftop dan menghilang begitu saja dari pandangannya sebelum ia mampu mengetahui siapa lelaki itu.

Wajah lelaki itu tertutup masker hitam yang hanya memperlihatkan sedikit bagian tepi wajah dan dagunya, ia juga memakai sebuah snapback hitam dan membuat Sooyoung tak mampu mengenali siapa orang itu dari rambutnya. Sang wanita bisa saja mengejar lelaki itu dengan kemampuan berlarinya yang melebihi manusia, namun, ingat jika dirinya sedang berada di depan umum. Cepat-cepat ia urungkan niatnya tersebut mengingat identitas sebenernya tentang dirinya yang tak bisa diketahui sembarang orang harus terjaga dan memutuskan untuk kembali ke rumah dengan berjalan kaki. Siwon yang biasanya menjemputnya sedang ada latihan klub American Football hingga malam, begitu juga Minho yang sedang dipanggil pelatihnya untuk mempersiapkan perlombaan antarsekolah yang sebentar lagi akan diadakan. Sementara Yoona… ia tak mau Yoona tau bahwa dirinya menerima salah satu surat yang ditujukan padanya sehingga beralasan akan pulang sendiri dan membeli beberapa buku di toko buku beberapa blok dari sekolah –yang tentu saja tidak benar-benar ia lakukan.

***

Satu-dua, satu-dua, langkah kaki Sooyoung terdengar dan menggema di kamar miliknya. Sedari tadi ia hanya membolak-balikkan badannya dari kanan ke kiri, kanan ke kiri tiap dua langkah. Ia ingin sekali membuka kotak-kotak dark chocolate yang tadi didapatnya tapi pikiran negatif terus menghantuinya. Bagaimana jika ternyata itu adalah cokelat yang diberikan Hunters untuk membunuhku? Bagaimana jika aku benar-benar terjebak dan mati konyol?

Ia terus seperti itu selama beberapa saat ke depan ketika akhirnya ia memutuskan untuk mencoba cokelat itu. Ia membuka tirai jendela kamarnya dan memastikan kedua kakaknya atau siapapun tidak mendekati kamarnya. Rasa malu membuncah sampai-sampai pipinya terasa hangat hanya karena memikirkan, bahwa ini adalah pertama kali ia mau menerima surat yang diberikan padanya.

Sooyoung membuka kotak pertama yang didapatnya saat di rooftop sekolah, memejamkan mata sejenak sebelum benar-benar memasukkan satu cokelat berbentuk daun dan mengunyahnya perlahan. Beberapa saat dan ia tak merasakan sesuatu yang berarti atau mengancam hidupnya, ia masukkan lagi cokelat-cokelat itu ke dalam mulutnya, tersenyum kecil karena rasa cokelat itu yang begitu pas di lidahnya, dark chocolate, pahit, her favourite of all chocolates.

Wanita itu menghela napas lega ketika tidak terjadi apa-apa yang buruk setelah memakan cokelat itu. Ia hampir menghabiskan dua potong terakhir cokelat di kotak pertama ketika menyadari ada satu kotak lagi yang lebih kecil ukurannya. Ia membuka kotak itu dan menemukan sebuah kertas di dalamnya. Perlahan dibukanya kertas itu dan matanya membelalak, meski tidak begitu terlalu terkejut.

“Kau lagi?” gumamnya merujuk pada siapapun pengirim dua surat yang memintanya untuk datang ke rooftop dan backgate sekolah tapi tidak pernah muncul. Kali ini, isi surat itu berbunyi:

The park near the end of the District 9’s border with District 10, 8 p.m., please?

Sooyoung tertawa setengah hati dan memutar matanya malas ketika membaca lagi dan lagi tulisan di kertas itu. Tidak bisa percaya pada penggemarnya itu masih berani mengiriminya hal-hal seperti itu namun tidak muncul sama sekali ke depan wajahnya. Pecundang, batinnya.

Ia melirik jam dinding yang ada di dinding sebelah kirinya saat ini dan pikirannya berkecamuk. Pukul 6.05 p.m., sambil menghembuskan napas berat, ia tarik coat miliknya dan memakainya sembari mencari kunci mobil miliknya. Ketika ia menemukannya, cepat-cepat ia berangkat menuju tempat yang tertulis di surat yang diterimanya untuk ketiga kali hari ini.

***

Sooyoung mematikan mesin mobilnya dan matanya melirik ke arah kirinya, pada jam tangan yang dikenakannya yang menunjukkan hampir pukul delapan, hanya kurang sekitar dua puluh lima menit lagi. Ia menggaruk tengkuk dan bagian bawah telinganya yang tidak gatal untuk menutupi rasa canggung dan gugup yang ia rasakan –pertama kali setelah ber-ratus tahun.

Lima menit berlalu dan ia memutuskan untuk keluar dari mobilnya, menunggu di salah satu kursi taman yang terpancang kuat di tanah taman itu. Ia menepuk-nepuk kedua tangannya pada pahanya untuk mengusir kebosanan, sesekali menggesekkan kedua telapak tangannya satu sama lain untuk meraih kehangatan.

It’s not raining today,” gumamnya pelan. Kepalanya menengadah ke atas dan menatap langit yang sudah menemaninya selama hidupnya itu dan tanpa disadari, bibirnya membentuk sebuah senyuman kecil yang membuat wajahnya nampak semakin manis.

Wanita itu mempertahankan raut wajahnya yang sekarang dan menikmati angin yang berhembus lembut melewati kulit wajahnya tak lupa memejamkan kedua matanya. Rasanya sudah sangat lama sejak terakhir kali ia merasakan kebebasan seperti ini sampai tiba-tiba, ia mendengar seseorang, tidak, tiga orang mendekatinya dari belakang. Langkah mereka tidak lamban seperti orang biasa, lebih cepat seperti miliknya ketika ia mengaktifkan kemampuannya. Sebelum benar-benar tersadar atas apa yang akan datang padanya dalam hitungan beberapa detik ke depan, seseorang sudah menendang punggungnya dari belakang, menyebabkan tubuhnya jatuh tersungkur.

Sooyoung menengadahkan kepalanya ketika mata miliknya mulai menangkap tiga pasang kaki mengelilinginya. Dan ketika pandangannya sampai ke wajah ketiga orang itu, ia tersenyum sarkastik dan membuang ludah bercampur darah dari mulutnya. Dengan siaga ia berdiri dengan kedua kakinya yang masih mampu menahan beban tubuhnya.

“Shim Changmin,” ujarnya, masih dengan senyum sarkastik yang khusus ia berikan untuk lelaki yang ia panggil Shim Changmin itu.

Sang lelaki mendekat beberapa langkah sebelum akhirnya berhenti cukup dekat dengan wajah Sooyoung hingga ia bisa merasakan hangatnya napas wanita itu di wajahnya. “I’ve missed you a lot, chagiya,” ujarnya sambil meletakkan punggung tangannya di wajah Sooyoung untuk merasakan betapa lembutnya kulit wanita itu. Sang wanita hanya diam dan mundur perlahan sambil memperhatikan dua orang yang ada di belakang Changmin, alisnya mengerut dan menyadari, mereka juga termasuk orang-orang bawahan Yunho, sama seperti Changmin. Kali ini, ia tidak peduli dengan ucapan Changmin sama sekali.

Hampir saja Changmin meletakkan bibirnya pada bibir Sooyoung sebelum wanita itu berhasil melayangkan sebuah pukulan pada jantung lelaki itu. Sang lelaki terlempar beberapa meter dari tempat awalnya karena keterkejutannya atas serangan Sooyoung. Tapi, rasa lega dalam hati Sooyoung sirna saat itu juga ketika menyadari dua orang yang ada di belakang Changmin mulai menyerangnya. Awalnya, ia masih mampu untuk menghindari serangan-serangan itu sampai salah satu di antara keduanya melemparkan sebuah pisau belati yang sudah berlumur perak yang menjadi salah satu kelemahannya ke kaki kanannya dan saat itu pula ia mulai merasa kakinya tak mampu lagi menahan beban tubuhnya.

Kedua tikus pengikut Changmin masih saja melayangkan beberapa pukulan yang masih bisa dihindari Sooyoung lagi saat lelaki itu memerintahkan keduanya untuk menghentikan aksinya.

Shit, he’s up again now, gerutu Sooyoung pada dirinya sendiri. Ia masih mampu berdiri dengan tumpuan satu kaki lainnya. Darah mengalir dari ujung-ujung bibir dan pelipisnya.

“Ayolah, Choi, katakan saja kau ingin bersamaku lagi dan aku akan menghentikan semua ini.”

Sang wanita, dengan pandangan penuh kebencian pada lelaki di depannya ini, berhasil membuang ludah bercampur darah yang masih keluar dari mulutnya ke arah lelaki itu, mengenai tepat dari lehernya dan mengucur sampai ke pakaian mahalnya. Ia lebih baik kehilangan nyawa saat itu juga daripada harus kembali bersama lelaki yang paling dibencinya itu.

Sesaat, Changmin terdiam, kepalanya menunduk sebelum akhirnya menengadah lagi untuk menatap kedua mata Sooyoung yang mulai berair karena rasa sakit yang dirasa. Hanya beberapa detik setelah itu, Sooyoung merasakan sesuatu yang tajam menusuk abdomennya di bagian kiri. Kedua tangannya ia arahkan ke luka yang baru saja dihasilkan Changmin setelah lelaki itu menarik pedangnya tanpa rasa kasihan pada sang wanita.

Lelaki itu tertawa dengan penuh kemenangan dan pergi meninggalkan Sooyoung yang berdarah-darah. Sementara sang wanita, dengan seluruh kekuatan yang masih tersisa di tubuhnya, berusaha untuk kembali ke mobilnya dan mengemudi pulang. Berharap kedua saudara lelakinya belum sampai rumah agar ia bisa menyembunyikan apa yang baru saja terjadi padanya.

Di sisi lain jalan, hanya beberapa menit sebelum Sooyoung mengemudikan mobilnya keluar dari area itu, seorang lelaki sampai di taman itu, dengan wajah sumringah bagaikan baru saja mendapatkan jackpot terbesar dalam hidupnya. Ia menunggu dan terus menunggu hingga beberapa jam, sampai kesabarannya habis dan langkah kakinya yang penuh kekesalan terdengar.

***

“Sooyoung eodiga?”

“Huh? Kupikir dia sudah di rumah?”

Kedua lelaki itu saling melempar tanda tanya virtual dan bertanya-tanya di mana keberadaan saudara perempuannya sekarang. Tidak biasanya Sooyoung keluar malam-malam seperti ini tanpa memberitahukan salah satu di antara lelaki itu.

Siwon memasang wajah khawatirnya dan berkata, “Aku bilang padanya kalau tidak akan di rumah sampai malam dan dia tidak berkata apapun jika akan per–.”

Kalimatnya terputus saat itu juga ketika pintu rumah besar itu terbuka lebar, menghasilkan sebuah dentuman yang cukup menggema di penjuru ruang. Siwon dan Minho yang sedang terduduk di sofa ruang tamu mendadak membelalakkan mata dan berlari ke arah seorang wanita penuh darah yang terengah-engah dan kesusahan untuk mengangkat tubuhnya sendiri sampai-sampai ia harus berpegangan pada handle pintu sebagai sumber kekuatan.

Siwon bersegera mengangkat adik perempuannya itu ke kamarnya dan menyadari ada luka cukup lebar yang mulai dari bagian depan tubuhnya dan menerus hingga bagian belakang tubuhnya. Ia merebahkan tubuh Sooyoung di atas kasur miliknya dan memerintahkan Minho untuk mengambil beberapa keperluan untuk membersihkan luka wanita itu. Beberapa saat ia menunggu untuk melihat luka itu menutup sendiri, tapi tidak. Luka itu tidak beregenerasi dan masih terus menganga menyebabkan darah terus mengalir. Seakan tertampar, ia sadar mengapa luka itu tidak sembuh sendiri sejak tadi.

“Kau sudah tidak makan daging manusia selama berapa lama?” tanyanya pada Sooyoung tapi tidak mendapatkan jawaban. Matanya menelusuri wajah sang adik dan menyadari betapa pucat wanita itu.

Setelah Minho masuk membawa tempat air hangat dan handuk baru, Siwon dengan cepat berlari menuju ruang persediaan dan kembali membawa beberapa potong daging manusia lengkap dengan beberapa kantong darah untuk adiknya. Minho menyadari apa yang terjadi dan merutuki dirinya karena lalai menjaga Sooyoung di sampingnya.

Perlahan, luka-luka yang ada di tubuh Sooyoung mulai melakukan regenerasi, pembuluh darah, daging, dan kulit mulai menyatu lagi hingga hampir kembali seperti semula, kecuali luka yang ada di abdomennya. Luka itu hanya sembuh sedikit, meski lubang menganga itu sudah tertutup, tapi dapat dipastikan Sooyoung masih akan merasakan bagian itu belum sepenuhnya sembuh ketika bangun esok.

Siwon hendak mengambil handuk yang sudah direndam dalam air hangat yang dibawa Minho ketika lelaki itu menghentikan apa yang akan dilakukan hyungnya dengan berkata, “Biar aku saja, Hyung,” dan yang lebih tua pun mengangguk pelan seraya berpindah dari posisinya untuk memberikan ruang pada Minho.

Ia mulai membasuhkan handuk itu pada beberapa bekas tempat luka yang masih berlumur darah di tubuh Sooyoung, di wajahnya, lengannya, kaki, dan tak lupa abdomennya. Berusaha selemah lembut yang ia mampu agar tak menyakiti Sooyoung.

Hyung, istirahatlah, biar aku yang berjaga,” ujar Minho pada kakak lelakinya. Dan sebelum Siwon mampu memberikan protes, ia sudah mendorong tubuh besar lelaki yang lebih tua darinya itu keluar dari kamar Sooyoung. Sementara dirinya duduk di kursi yang ditariknya dari meja Sooyoung dan diletakkan di samping ranjang wanita itu.

***

Sinar matahari pelan-pelan masuk dari balik tirai jendela kamar Sooyoung saat seseorang menariknya ke samping. Minho membereskan baskom berisi air dan handuknya, sepelan mungkin agar tidak membangunkan sang wanita yang masih terbaring di ranjang. Namun, usahanya gagal ketika ia mendengar rintihan kecil milik Sooyoung. Minho membalikkan badannya dan menemukan Sooyoung dengan kedua matanya yang belum benar-benar terbuka sempurna. Kemudian sebuah senyuman lebar diberikan wanita itu untuk kembarannya, lebar hingga giginya yang tersusun rapi terlihat.

I worried you and Siwon Oppa again, right?”

Minho mendekat ke sisi ranjang itu dan meletakkan tubuhnya untuk melihat sang adik. “Yes, you did,” ujarnya pelan. Wajahnya masih penuh kekhawatiran dan lingkaran hitam terlihat di sekitar matanya.

“Lihatlah di cermin bagaimana wajahmu sekarang. Kau sampai pu–.”

“Apa yang terjadi?” Putus Minho sebelum Sooyoung menyelesaikan kalimatnya.

Diam menyelimuti ruangan itu untuk beberapa saat, yang ditanya terlihat memikirkan bagaimana akan menjawab dan hilang dalam pikirannya sendiri, sebelum akhirnya ia berbicara.

“Aku keluar sebentar untuk mencari angin segar… Dan orang-orang bawahan Yunho muncul begitu saja,” ujarnya. Kepalanya menunduk dan tak ada keberanian dalam dirinya saat ini untuk menatap wajah Minho langsung karena kebohongan yang baru saja dikatakannya. Lelaki itu memperlihatkan ekspresi tidak percaya dan Sooyoung tau benar, Minho pasti menyadari ketika ia berbohong meski sudah berusaha menutupinya dengan erat.

“Kau tidak hanya keluar untuk mencari angin segar, benar kan?”

Perlahan Sooyoung menengadahkan kepalanya dan memiringkannya sedikit untuk menatap lelaki itu. Pipinya memerah tanda rasa malu dalam dirinya hampir mencapai titik tertinggi dan sebuah senyuman kecil terbentuk di wajahnya. Sang lelaki yang melihat itu hanya mampu membalas tingkah sang adik dengan senyuman juga, mengetahui wanita itu memang begitu malu soal hal-hal seperti ini.

Arraseo, gwenchana. Ceritakan saja jika kau sudah tidak semalu itu,” ujar Minho cepat sembari menganggukkan kepalanya dan senyum di wajah Sooyoung makin lebar.

“Ah, sebelum aku lupa, kau tidak perlu ke sekolah dulu hari ini.”

“Huh? Wae? Gwenchana, I’m okay. Aku ingin bertemu dengan Yoona, dan lagi, I can’t be in this dungeon for a whole day, Minho-yah.” Lelaki yang lebih tua beberapa menit dari dirinya itu menghembuskan napas sambil memejamkan mata dan hanya mengangguk, tau ia tak bisa menahan keinginan sang adik jika ia sudah bertekad kuat.

—–

Chapter 2 ends here.

Yeay, done! Mohon maaf ya kali ini rada sedikit momennya Kyuhyun sama Sooyoung. Tapi tenang aja, di chapter berikutnya bakal banyak kok. Chapter ini buat ngeliatin lucunya dan gemesinnya Choi Siblings satu sama lain, hihi.

Thanks for reading, have a nice nice day!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s