Action, Fantasy, Reverse-Harem, Romance

AL2 – EPISODE 02

Title: Apartemen Lantai Dua
Genre: Reverse-Harem, Action, Fantasy, Romance
Rating: PG
Length: Series
Cast(s): Choi Sooyoung, Yoon Doojoon, Kim Myungsoo, Son Naeun, and OC!Isezaki Chika.

al2-poster.jpg

***

Episode 02

Sehari Setelah Kemarin Hari

Menerima omelan adalah wajib bagi Sooyoung seharian itu; dan bila ia mau berbesar hati membuatkan listnya, maka akan tampak seperti ini; omelan Manajer-oppa, Tiffany, Pak Direktur Kim, Ibunya, Kyuhyun-oppa, dan—errr siapa lagi? Ah, seterusnya, lah. Hanya satu akar dari semua omelan yang harus ia telan bulat-bulat itu, gara-gara acara kencan kemarin hari!

“Kau putus dengan Jung Kyungho?” Pak Kim memekik di ruangan bekerjanya itu, seolah kursinya kebakaran, ia sontak berdiri dan menggembrak meja dengan mata dipelototkan. Di hadapan, Sooyoung selaku lawan bicara mengangguk tanda iya. “Dan kau—dan kau—! Ba-baik baik saja?”

Sooyoung mengerjap kemudian mengelak, “Saya tidak baik-baik! Lihat, Pak! Lingkar hitam di bawah mata ini adalah bukti atas kepedihan hati yang saya rasakan! Sepulangnya dari kapal, saya menangis semalaman di kamar, di balik bantal!”

Sebetulnya, itu bohong. Setelah diantar pulang hingga masuk apartemennya kemarin, semalaman Sooyoung bergulingan di bungkus selimutnya. Tanyakan saja Ise sebagai saksi. Mengenai kantung mata yang tak sedap dipandang make-up artis itu, karena Sooyoung tidak bisa tidur memikirkan hal tidak berguna—yang pada intinya, semua bukan karena Jung Kyungho. Jujur saja, Sooyoung sendiri sudah lupa—tidak peduli pada keberadaan laki-laki itu.

“Ah, Sooyoung. Bukan itu maksud saya, tapi saya turut prihatin juga soal itu. Saya tahu kau wanita kuat, kalau hanya soal itu kau pasti bisa melaluinya.” Pak Kim menepuk pundak Sooyoung sekali.

“Jadi maksud Bapak apa?”

“Kau tahu, saya mengkhawatirkan mengenai reputasimu. Tahu sendiri, ‘kan, kelanggengan hubunganmu dengan Kyungho yang telah digembar-gemborkan media cukup signifikan dalam membangun baik reputasimu di mata publik. Netizen memandang kalian sebagai pasangan sempurna! Kemudian, dalam semalam hubungan itu hancur, saya yakin reaksi para netizen tidak akan bagus. Kau tidak bodoh untuk tidak paham apa dampak terburuknya, ‘kan?”

“Karir saya, Pak?”

“Betul!” Pak Kim kali ini menghempas kedua tangan di masing-masing sisi pundaknya keras-keras. “Bukti nyatanya adalah Goo Hara! Di depan matamu! Apa yang dia dapat setelah berita putus dengan pacarnya yang nyentrik itu terkuak ke media?”

“Dia …,” sang wanita muda Choi mengangkat bahu, “tak dapat apa-apa?”

“Betul sekali! Lebih parah lagi, bukan hanya Goo Hara pribadi, hal tersebut juga berdampak pada kelangsungan karir grupnya!” bapak yang tidak lagi muda itu melanjutkan, kobaran api terpancar di matanya yang bukan hal baru dilihat Sooyoung, panas, “Tapi, Sooyoung, apa yang mantan pacar Goo Hara dapatkan setelah putus?”

“Dia …,” Sooyoung teringat sesuatu, “pak, kalau Anda tidak tahu siapa mantan pacarnya, namanya Yong Junhyung.”

“Iya, iya, saya tahu.” Namun Sooyoung yakin Pak Kim sebenarnya lupa tapi malu mengakui. “Sooyoung! Kembali ke pertanyaanku tadi! Apa yang didapatkan Yong Junhyung setelah berpisah dengan Goo Hara?”

“Kesuksesan.” Jawab Sooyoung pendek. “Bukan hanya pribadi … tapi grupnya pun—”

Daebak! Lihatlah! Itulah kenyataannya!” Pak Kim menunjuk-nunjuk wajah Sooyoung, berapi-api ia mendeklarasikan fakta keji kaumnya, “Di belahan dunia manapun, pihak pria akan selalu diuntungkan! Maka dari itu saya membenci pria!”

“Anda pria, Pak.”

“Justru itu, saya benci pria karena saya masih mencintai wanita!”

“Maksudnya Bapak bukan homo, itu.”

“Kembali ke pembahasan awal, Sooyoung!” berbalik tubuh bugar Pak Tua Kim, menghadap jendela ruang kantornya yang terhubung langsung dengan pemandangan jalanan kota yang padat. Sooyoung memasang telinganya baik-baik, “Untuk itu, saya akan mencegah bagaimanapun caranya agar tidak muncul pemberitaan bahwa kau dan Jung Kyungho bukan lagi sepasang kekasih! Demi kebaikanmu, dan demi keuntungan yang tidak dapat Jung Kyungho ambil darimu!”

“Baik, Pak.”

“Pokoknya kau diam saja. Mulai dari sini adalah urusan internal perusahaan. Saya juga akan mengirim utusan ke pihak Jung Kyungho untuk bekerja sama menutupi fakta ini.”

“Anda yakin, mereka tidak akan menolak?”

“SM selalu bisa meyakinkan siapa saja, Sooyoung, tenang, tenang saja.” Terhenti sejenak sebelum Pak Kim dengan ketegasan yang nyata melanjutkan, ia bertanya, “Siapa lagi yang tahu fakta ini selain kau, Jung Kyungho, dan saya? Bagaimana dengan tempat kalian berkencan lalu berpisah? Yakin tidak ada yang mengenali kalian di sana?”

“Manajer-oppa dan saudari-saudariku sudah tahu, Ibuku dan mungkin sekarang Ayahku tahu, beberapa senior di agensi, dan …—” oh tidak.

“Dan?”

Oh tidak. Ise. Pak Kim tidak boleh tahu soal Ise. Mata Sooyoung rasanya semakin dipandang tajam oleh bapak direktur itu.

“Manajer, anggota grup, anggota keluarga, dan artis senior di sini saya bisa menjamin mereka untuk tutup mulut. Lalu siapa lagi? Sepertinya kau masih menyimpan sebuah nama?” dipandangi dengan penuh selidik begitu, Sooyoung tidak nyaman! Haruskah ia katakan …?

“Se-seorang kawan.”

“Kawan? Kawan sesama artis?”

“Uh, bukan. Hanya … warga biasa, Pak.”

“Hm, begitu. Pria atau wanita?”

Hah? Kenapa pertanyaannya perlu ke situ? Apa dijawab jujur saja? Berhubung Sooyoung juga malas menanggung beban berbohong dan melanjutkan kebohongan (perihal rencana kebohongan hubungannya dengan Kyungho, itu sih bukan ia yang menanggung tapi Pak Kim), “Kawan saya itu … pria.”

“Hm? Pria ya …? Dan pria ini bisa tahu kau baru putus dengan pacarmu, kalau bukan kau sendiri yang cerita, maka harusnya dia ada di sana saat kejadian. Yang mana?”

“Yang …,” yang kedua! Batin Sooyoung, tapi sangat aneh kalau Pak Kim tahu. Pertanyaan apa pula itu! Ise ada di sana—kemungkinan besar—karena Ise memata-matai kegiatan berkencannya. Kenapa ada Ise ketika kencannya dengan Jung Kyungho? Baginya karena Ise memang unik dan ia mencoba memahami pria itu setiap saat, bilamana ia bilang sekarang, keberadaan Ise di hari kencannya bisa jadi disebut lazim. Namun bagi orang lain? Makhluk berkelakuan seperti Ise tidak ada lazim-lazimnya! (Baca; menguntit kencan seorang wanita, masuk kamar wanita lewat jendela, membobol apartemen seorang wanita yang tinggal sendirian, menemani seorang wanita yang baru menjomblo semalaman—oh gawat, fakta-fakta itu menjurus ke pada ciri-ciri orang cabul.)

Karena Sooyoung tampak sebentar lagi hilang kesadaran, pertanyaan tadi pun diulang Pak Kim, “Dari mana kawanmu itu tahu, Sooyoung?”

“Dari …,”—Sooyoung mulai gugup—“… saya. Saya menceritakannya sendiri, hari itu juga, karena kami adalah sahabat dekat.” Dusta Sooyoung akhirnya. Ditambah sebuah cicitan enggan bersirat kepalsuan murni, “Sangat, sangat dekat.” Saking dekatnya ia sampai tidak terlihat dan aku tidak tahu apa yang sebenarnya ia pikirkan.

“Begitu. Bagus kau mau memberitahu saya. Siapa nama kawanmu itu?”

“I-ise.”

“Lee Se-ssi?*”

“Ise, Pak. Isezaki Chika, lengkapnya.”

“Isezaki? Ah … seorang Japanis, kah.”

“Ya, seharusnya.” Meski aku tidak yakin apa kewarganegaran yang dipegangnya sekarang, seharusnya sih, Jepang.

Beberapa detik setelah terhanyut dalam pikiran masing-masing kemudian …

“Tunggu, Japanis!”

“Errr—ya?”

“Japanis!”

“Anu, Pak?”

“Sooyoung! Bisa panggilkan kawanmu itu untuk menghadap saya? Ini sangat penting! Berkaitan dengan masalahmu juga!”

“Panggilkan? Eh—ada … apa, ya? Kalau saya boleh tahu?”

“Apa pekerjaan yang tengah ditekuni kawanmu itu?”

“Saya tidak begitu yakin. Di Korea, tampak seperti kerja serbutan—” dalam hati Sooyoung meringis, namun memang betul Ise terlihat seperti pengangguran yang luntang-lantung nihil progress dari hari ke hari. Sama sekali tidak ada kegiatan produktif yang Sooyoung ingat pernah Ise lakukan kecuali di tempatnya bekerja dulu—kepolisian cabang Tokyo.

Good! Pokoknya buat kawanmu itu menghadap saya segera, kalau bisa hari ini juga!”

Percuma bertanya lagi pada Pak Kim, pasti diacuhkan. Sooyoung tidak meresolusi keputusannya. Bukan ide buruk menghubungi Ise dan memintanya datang, toh pria itu bukan orang sibuk. Maka Sooyoung menyanggupi perintah Pak Kim—bersama rasa penasaran yang dikubur sementara.

***

Klik! Suara pintu apartemennya yang terbuka. Didorong Sooyoung pintu itu dengan tenaganya yang tersisa dari aktivitas hari ini. Menghadiri dan merangkum seluruh pertemuan yang pada intinya adalah keluh kesah plus luapan kekecewaan yang disingkat menjadi omelan. Melelahkan. Belum lagi skejul photoshooting yang tidak bisa ditunda, harus diselesaikan hari ini juga. Mau tak mau Sooyoung makan resikonya.

Sooyoung membiarkan sepasang sepatu tingginya tergeletak di dekat pintu. Ia sendiri melempar tas sampirnya ke meja dan langsung merebahkan punggung dan pundak pada empuknya destinasi sofa ruang utama. “Hah ….” Lemas, Sooyoung memejamkan mata.

Gara-gara padatnya jadwal tadi, ia jadi lupa menghubungi Ise sesuai suruhan Pak Kim. Selagi sadar Sooyoung pun ambil handphonenya dan mencari satu-satunya nama yang diketik menggunakan katakana di daftar kontak. Isezaki. Dapat terhubung dalam beberapa detik ke depan. Diangkat! “Ise? Halo?”

“Halo? Ah—siapa ini?”

“Ise,” Sooyoung merendahkan alis matanya dibarengi nada suara yang terdengar berbahaya.

“Sooyoung, tentu saja aku tidak akan melupakan pemilik suara indah yang memanggil namaku dengan sangat mesra! Ada apa, hm? Tidak biasanya kau meneleponku, atau mungkin—Kami-sama! Kau berinisiatif meneleponku lebih dulu! Mimpi apa ya aku semalam?”

Ise dan omong kosongnya, tidak mengurangi malah menambah lelah kuping Sooyoung seharian ini, maka ia langsung saja, “Ise bisakah kau datang ke gedung SM besok?”

“Uwaaa, seperti biasa kau mengabaikan basa-basi dan langsung ke poinnya ya.”

“Bisa atau tidak?”

“Untukmu, apa saja—”

“Oke, besok jam sembilan pagi.”

“Sebentar! Apa kau sudah melihat postingan teratas pann hari ini—”

Kalimat Ise sengaja Sooyoung potong lagi, “Ku tutup. Dah. Sampai besok.”

—ctasss! “AAAH!”

Menahan sambungan telepon, Sooyoung dibuat terkejut oleh teriakan tiba-tiba pria di seberang telepon, “Suara apa itu? Ise? Ise, hei … kau baik-baik saja? Halo?”

“Hah … ini, aku sedang memasak.” Suara di sana terdengar mengecil, ditimpa oleh ceklikan kompor yang dimatikan. “Aku baik-baik saja, tadi minyaknya hanya sedikit panas, kena tanganku.” Sooyoung menghembus napas lega mendengarnya.

“Hati-hati.”

Hai … Sooyoung-sama.”

“…”

“Tidak jadi nih, menutup teleponnya? Ingin mendengar suaraku lebih lama? Apa ini … kau amat mencemaskanku karena teriakanku tadi?”

“Isezaki, kau ada dimana sekarang?”

“Pertanyaanku tadi dianggurin! Ehhh—aku lagi masak tentu saja aku di dapur.”

“Di dapur mana?”

“Dapur mana lagi—”

“Dapur rumahku ya!”

“Eh, hehehe.”

“Ise!” bentak Sooyoung tanpa ampun. “Bau gosongnya tercium sampai ruang depan!”

Sekejap setelah memutus sambungan telepon, Sooyoung beranjak dari sandaran sofa dan tergopoh-gopoh (karena masih mengumpulkan sisa-sisa tenaganya) menuju dapur di belakang yang bersatu dengan ruang makan. Benar saja, diiringi lambaian tangan bak mengangkat bendera putih, Ise ada di sana, memakai apron pink beronda hadiah dari Tiffany untuknya, dalam rangka merayakan kepindahannya ke rumah baru waktu itu.

“Tuh ‘kan! Aku sudah sedikit curiga waktu kau bilang sedang masak, kau ‘kan tidak bisa masak!” pening kepala menghadapi kelakuan kawan ajaibnya ini, tanpa mengurut kening Sooyoung menghampiri, hal pertama yang dilakukannya adalah melap wajah Ise yang putih-putih—belepotan tepung.

“Ketahuan, ya.” Ise meringsut, mendekat dan menundukkan sedikit wajahnya agar Sooyoung leluasa membersihkan putih butir-butir tepung itu.

“Siapa yang mau kau bodohi?” tantang Sooyoung, matanya jeli hingga usapan terakhir pada leher Ise. Ise sekurang-kurangnya sepuluh sentimeter lebih tinggi darinya, maka ia harus menengadah untuk memeriksa apa seluruh bagian wajah Ise sudah bersih. “Masak apa juga, tepung dimana-mana begini, duh.”

“Yang paling simpel sih pancake atau okonomiyaki. Tapi aku orangnya tidak terlalu suka yang manis, dan kau sangat suka okonomiyaki. Jadi, ya, itu.”

“Kau, aku? Maksudnya ini makan malam kita? Tapi kau ‘kan vegetarian?” —dan kapan kita pernah kompromi untuk makan malam bersama?

“Ya. Jadi aku hapus segala macam jenis daging dari resep okonomiyaki. Aku ganti toppingnya dengan tofu.”

Hul.” Ise pasti tahu password apartemen (yang padahal baru diubah ini) berkat kemarin ia diantar pria ini pulang. Huh, Sooyoung lepas waspada sedikit saja pria ini berulah lagi. Menduga apa yang akan ia lakukan berikutnya saja sudah capek, maka tatkala betul-betul terjadi dugaannya, ia lebih capek!

“Ah—”

“Kenapa—oh, tanganmu.” Sooyoung menyentuh punggung tangan kanan Ise bekas terciprat minyak panas itu. Mulai menggembung dan sepertinya sakit. Iseng, ia menyentuhnya sedikit lebih keras.

“—it! Sakit!”

“Ahaha, rendam dengan air panas sana. Nanti baluri dengan salep. Aku ambilkan dulu.”

“Dengan air panas? Serius?”

“Iya. Sana cepat.”

“Sooyoung.” Panggilan Ise pelan, dijawab Sooyoung dengan gumam sembari mengambilkan ember kecil untuk diisi air panas. Ise memperhatikannya cukup lama, sebelum menyambutnya pulang ke rumah dengan tulus, “Selamat datang kembali.”

“Oh.”

“Kau mau makan, mau mandi, atau mau a—”

“Aku mau menyirammu dengan air panas kalau kau terus bicara yang tidak perlu.”

“—ku. Aku pijat pundakmu, maksudku.”

“Tanganmu ‘kan sedang sakit.”

“Oh iya.” Dalam sejurus kedipan Ise melemas. Sejurus kedipan lagi Ise teringat akan sesuatu yang adalah alasannya datang ke mari, “Oh iya!” tanpa aba-aba pria itu bersemangat kembali.

“Apa lagi?”

“Kau sudah melihat postingan teratas pann hari ini?”

“Situs pann? Belum. Memang kenapa? Kau tertarik dengan topik berita selebritis? Kalau dipikir sih kau juga termasuk netizen, ya.”

“Bukan-bukan, bukan tentang aku tapi kau! Kau jadi artis!”

“Kau mungkin bodoh, makanya kau lupa, tapi aku, memang seorang artis, Ise.”

“Bukan, bukan itu aku bilang! Kau—lihat, kau jadi perbincangan terhangat seharian ini! Bisa-bisa nanti juga masuk pemberitaan di televisi!” tangan kanan Ise menggampai handphone yang ditaruh di meja, lihai jemarinya membuka browser dan menelurusi situs yang dimaksud—tempatnya menuai dan meredakan konflik, situs para netizen, situs para penggemar idol.

“Artis pann, maksudmu?” Sooyoung mengintip artikel yang ditunjukkan Ise dan membaca sederet judul yang—sungguh mengerikan—sepertinya ia tahu siapa dan siapa yang dimaksud dalam artikel tersebut; Female-Idol ini Menyelamatkan Nyawa Seorang Pria yang Tercebur ke Laut. Merupakan hot topic sejak dipublikasikan kemarin malam hingga hari ini.

***

Makan malam Sooyoung hari itu selesai dengan okonomiyaki ala Ise yang terasa wajar-wajar saja di lidah. Tidak enak, tapi tidak buruk juga. “As expected from ordinary people.” Gumam Sooyoung ketika pertama kali giginya menggigit sepotong. Mendengar itu, Ise mengerutkan alis ketidakmengertian akan artinya. Apakah mereka makan malam bersama di apartemen Sooyoung? Jawabannya adalah iya.

Setelah itu, Sooyoung meletakkan mug biru di sisi tangannya. Tatapannya pada Ise memintanya untuk segera pergi tetapi yang ada pria itu membuatnya tambah kesal-balik menatapnya bersama rengekan, “Aku belum membayar sewa kamarku di sana, dan bibi pemilik rumah sepertinya marah.”

Meski Sooyoung agaknya tahu ke mana arah pembicaraan ini, ia tetap meneruskan percakapan, “Belum membayar sewa?”

“Tidak bisa, sebenarnya. Ehe.”

“Jangan ‘ehe’ padaku! Apa sih yang kau lakukan selama ini?”

“Menghabiskan seluruh hasil jerih payahku selama mengabdi pada pemerintah.”

“Menghabiskan uang tabungan dari gajimu bertahun-tahun bekerja, maksudnya?”

“Eyyy-ya.”

“Jadi?”

“Aku rela menjadi babu di rumahmu.” Tawar Ise mantap dengan keyakinan seratus persen di matanya.

Nah, kan. Sooyoung betul-betul ingin memberi tapak tangan merah pada pipi pria itu. “Aku tidak butuh babu. Sudah ada robot pembersih.” Tolaknya.

“Robot pembersih tidak bisa masak, ‘kan?”

Hul. Jadi itu alasanmu memasak untukku hari ini?” Sooyoung menopang dagu dengan telapak tangannya. Ia meragu, “Tidak terlalu enak. Masakan Ibuku jauh lebih enak.”

“Mana boleh membandingkannya dengan masakan Ibumu!”

“Masakan Miyoungie lebih enak.”

“O-oke.” Pantas saja banyak benda berwarna pink di rumah ini (apron, mug, piring, mangkuk, dan alat makan lainnya-pasti karena Tiffany). Karena mereka duduk bersisian, Ise menggeser kursinya lebih dekat ke arah Sooyoung. “Aku bisa mencucikan bajumu.”

“Apakah kau hidup untuk menjadi istri seseorang? Bersih-bersih, memasak, mencuci baju, wah-kau bahkan lebih andal dariku soal itu sepertinya, ya. Lagipula aku biasa mengirim baju kotor ke laundry, dan terutama-aku tidak mau seorang pria mencucikan pakaian dalamku.” Sooyoung menerawang Ise seolah benda menjijikkan ada di depan mukanya.

“Sooyoung, pencucian di laundry artinya kau mencampurkan bajumu dengan baju orang lain. Bau, kotoran, dan keringat yang bercampur-“

“Aku tidak peduli asal hasilnya bersih.”

“Kalau begitu, aku bisa merawat anak-anakmu.”

Sooyoung mendesah, anak-anak yang Ise maksud sudah pasti anjing-anjing kecil peliharaannya. “Bila aku sedang sibuk atau sesuatu terjadi, mereka selalu ku titipkan pada Soojin, dan perlu digarisbawahi mereka bukan anak-anakku.”

“Anak-anak kita.” Ralat Ise.

“Aku rasa bukan itu ralat yang benar.”

“Master, hamba mohon.”

Perempatan muncul di jidat Sooyoung. “Ise, kalau kau tidak punya uang, carilah pekerjaan. Kalau kau tidak bisa mencari pekerjaan, jadilah gelandangan. Kalau kau jadi gelandangan, mati saja.”

“Uwaaa! Belum pernah ada orang yang menyuruhku untuk mati, ternyata seperti ini rasanya!”

“Yah, rasakan saja sensasinya.”

“Menyakitkan!”

If a man will not work, he shall not eat.”

“Tolong jangan berbicara bahasa alien.”

“Kau lah yang alien.”

“Aku mohon.”

“Tidak. Apa kata tetangga nanti melihat pria dan wanita yang belum menikah tinggal seatap?”

Entah apa alasannya tahu-tahu sinar wajah Ise berseri mendengar pertanyaan Sooyoung, “Jadi kau melihatku sebagai seorang pria?”

“Bukan? Jadi kau banci?”

“Bukan!”

Kkeut. Pembahasan ini selesai. Sudah cukup, aku mau tidur. Selamat malam.” Ise menahan sebelah tangan Sooyoung, memelas. Sempat pikiran Sooyoung mengawang dosa apa dirinya di masa lalu hingga diuji kesabaran seberat ini? Dihela lah napas pendek oleh wanita itu sebelum berkata setelah hasil pikiran awang-awangnya mencoba memaklumi, “Hanya malam ini. Oke? Tidurlah di kamar tamu sana.”

Bola mata Ise yang serwarna mentari, berbinar-binar. Persis anak kecil yang kegirangan karena diberikan hadiah. Bohong bila Sooyoung tega menyuruhnya untuk mati. Tentu saja Ise adalah kawan terbaiknya. Bahkan bisa dibilang, yang terbaik dari semua kawannya yang wanita sekalipun-di samping saudari-saudari Son Nyeo Shi Dae-nya. Sooyoung harap ini bukan pilihan yang salah. Fiuh, lagipula hanya semalam. Tidak akan terjadi sesuatu yang aneh.

Sooyoung mengantar Ise depan kamar yang dimaksud-sebenarnya Ise sudah tahu seluk-beluk kediaman ini namun apa salahnya, sekali-kali ia ingin memperlakukan pria itu seperti tamu. Ia membuka pintu dan mendapati gelapnya ruangan tidur itu, kemudian-klik! Seketika cahaya memenuhi pandangan. Sooyoung merasakan udara bergerak-menyentuh kulit mukanya, ia terdiam sejenak.

“Ada apa?” Ise bertanya sembari ikut memeriksa ke dalam kamar. “Wah, rapi juga di sini.”

“Tentu saja, karena tidak ada yang menggunakan.”

“Heee … Bagaimana kalau aku menjadi pengguna tetap?”

Ini anak, dikasih hati minta jantung. Sabar, sabar. Sungut Sooyoung dalam kepalanya. Kemudian Sooyoung berjalan ke sisi jendela dan menyentuh engselnya. Terkunci rapat. Ia geser gorden guna member celah maniknya sedikit mengamati keadaan di luar gedung. Tak banyak orang dan kendaraan berlalu-lalang. Sudah jam berapa sekarang? Sebelum menuju kamarnya sendiri, ia menoleh pada penumpang baru kamar itu sekali lagi, “Ise, pastikan kau tidak membuka jendelanya.”

***

Kamar itu gelap karena lampunya yang sengaja di matikan. Begitupula AC-nya. Bersisa satu neon khusus untuk tidur. Namun pada kenyataannya, Sooyoung meremas-remas selimutnya saja sejak satu jam terakhir-ia tidak tidur. Ia tidak bisa tidur. Ia merasakan hawa kamarnya menjadi berat dan udara rasanya sulit diambil. Sooyoung mendudukkan dirinya di ranjang dengan napas terengah-engah. Keningnya mengucurkan keringat, basah hingga ke punggung kemeja polosnya. Zrattt! Sooyoung sibak selimut, melompat dari ranjangnya. Setelah menguatkan perkiraan dalam benak, ia tarik laci kecil di meja rias samping ranjangnya.

Mengatur napas sembari menatap baik-baik benda yang ada di dalam laci itu, tangannya bergerak meraih. Sebuah pedang kayu tanpa sarung. Panjangnya tak lebih dari satu meter. Nama Choi Sooyoung diukir dengan kaligrafi di bawahnya. Lumayan berdebu karena sekian lama tak disentuh. “Sepertinya aku harus menggunakanmu lagi.” Lirihnya, menyentuh ujung tumpul pedang sewarna tanah basah itu.

Alam bawah sadarnya bernostalgia sesaat setelah saling bertemu kulit dengan pedang itu. Tak berlama-lama lagi, secepat mungkin Sooyoung meyakinkan diri, membawa serta seluruh badan pedang itu di kuasanya, lantas berlari ke luar kamar.

Sampai ia ruang utama-ruang depan yang terhubung langsung dengan satu-satunya pintu masuk, ia memaksa matanya merapat. Berkonsentrasi mengaktifkan sesuatu. Beberapa detik kemudian, kristal hitam kedua bola mata Sooyoung tergantikan oleh merah rubi yang kontras dengan warna kulitnya. Dalam ruangan gelap itu, sorot kedua mata Sooyoung memantul-yang seharusnya tidak mungkin karena tidak ada sumber pencahayaan di manapun, kecuali mata itu sendiri yang bercahaya di tengah gulita. Merah rubinya liar menelusuri sudut-sudut. Langkahnya lamat dan hati-hati, mengantar ia tiba di belakang-area dapur. Pedang di genggam lebih erat, kembali siaga redlocks miliknya menyusuri seisi sudut dapur. Tidak mendapati apapun.

Langkah-langkah kecil Sooyoung kini menuju ke awal, ke kamarnya … yang berdekatan dengan kamar yang Ise tempati, atau tepat di sebelah kamar Ise. Satu langkah lagi ke depan pintu kamarnya, puncak telinganya menegang mendengar sebuah suara aneh.

“Zraaahhh ….”

“KKKHHH!”

Sukses ia melotot, suara tak dikenal itu berasal dari kamar Ise. Ia dorong pintu itu terbuka menggunakan kakinya. Ia memekik, “ISEZAKI!”

Di atas ranjang, terdapat jelas siluet seorang wanita bergaun panjang, berambut sama panjangnya dengan kondisi gimbal. Tengah bergembira terdengar dari suara tawanya yang menyayat pendengaran, sembari siluet wanita misterius itu mencekik leher Ise yang terbaring di bawahnya. Kesakitan, juga Ise tampak kesulitan bernapas. Sooyoung memicingkan mata, sebab ia yakin hanya mata merahnya yang bisa melihat sosok itu, mata orang biasa seperti Ise tidak bisa melihatnya.

“Hihihihi ….”

“Ekkk-ah, Soo-a-aku-” napas Ise terputus-putus, wajah pun memucat sebab sebuah tangan menghalagi tempat oksigen masuk tubuhnya-bersamaan kulit wajah Sooyoung sendiri juga memucat.

Sooyoung menerjang sosok yang menyerupai wanita itu, menyeramkan-sebab rambut hitam panjang dan buruk rupanya, aroma tak sedap yang dikeluarkan serta matanya yang melelehkan tangisan darah. Namun sebelum pedang kayu Sooyoung menusuk dada kiri sosok itu, pedangnya lebih dulu dihempas jauh. Terlempar hingga berbenturan dengan lemari di pojok ruangan. Sosok menyeramkan itu kini beralih mencekik leher Sooyoung, mendekatkan wajah buruk rupa itu ke arahnya. Sooyoung menahan ringisan, sosok itu menciumi lehernya!

Begitu dekat! Wajah sosok itu dipenuli luka robek, matanya tak henti mengucurkan cairan berbau amis-seolah-olah menangis darah, namun ia tersenyum amat menyeramkan menampakkan deretan giginya yang hitam!

“Hhh-ha-aaah … aroma … mu … jauh lebih sedap …,” bicara! Sosok itu mengatakan sesuatu! Tidak, fokus, Choi Sooyoung! Abaikan apapun yang dikatakannya, nyawamu sedang terancam!

“Ukkkhhh-uhukkk!” Sooyoung hampir kehilangan kesadaran, ia mencengkram tangan Ise di sebelahnya. Ia tusukkan kuku jarinya ke punggung tangan Ise. Sadar dan sakit, Ise yang telah mengembalikan kondisi pernapasan otomatis terkejut.

Dari sudut pandang Ise, sebatas terlihat Sooyoung dengan napas terengah-engah berbaring di sebelahnya. Apa yang terjadi? Sooyoung melirik susah payah dengan sedikit penglihatannya yang terbuka, “I-Ise-! Pedangku! Ambilkan-!”

Segera setelah diperintah, dalam sekali loncat Ise meraih pedang yang dimaksud-tergeletak di dekat kaki lemari. Lemparannya tepat sedetik sebelum sosok itu menyerap habis energi sekaligus kesadaran Sooyoung. Begitu Sooyoung menangkap senjata kayu itu, langsung ia tusuk dari belakang punggung sang sosok wanita menyeramkan.

Sosok itu meraung kesakitan. Melepaskan kekangannya pada tubuh Sooyoung. Beberapa detik kemudian menghilang ditelan gelapnya ruangan.

“Uh, uhuh,” Sooyoung mendudukkan diri kemudian mencarikan sandaran untuk punggungnya. Sejurus kemudian Ise sudah ada di sisinya.

“Sooyoung, kau-apa yang terjadi tadi? Kau baik-baik saja?”

“Akh!” Sooyoung menyemburkan napas berat, lehernya masih terasa sedikit sempit karena cekikan mencengangkan tadi. “Aku sudah merasakannya semenjak aku membuka pintu kamar ini. Ada penghuni sebelum kedatanganmu. Seseorang tengah menggunakannya.”

“Seseorang? Siapa?”

“Roh penasaran.” Jawab Sooyoung, saat napasnya mulai teratur. “Orang-orang awam biasa menyebut mereka sebagai hantu. Tapi sebenarnya, makhluk-makhluk itu hanyalah arwah manusia yang belum tertidur dengan tenang. Arwah seperti itu juga dapat dikatakan jahat karena mereka suka menghisap jiwa manusia, seperti yang kau alami tadi.”

“Dan mencekik juga …,” keluh Ise. “… tadi itu sangat sakit, aku bisa merasakan dua tangan menekan leherku dari dua sisi namun aku tidak bisa melihatnya. Benar-benar mengerikan.”

“Kalau jiwamu sampai habis terhisap, kau bisa mati.”

“Mati? Tapi bukankah yang seperti itu yang disebut sleep paralyzing?”

“Itu hanya istilah lainnya, atau aku bilang-kebohongan yang disebar untuk tidak membuat cemas orang-orang awam.”

“Aku … baru mendengar hal itu.” Aku Ise, terhenyak.

Selesai memaparkan, Sooyoung menegakkan lagi tubuhnya, menyesal, “Ini mungkin salahku karena sering mengosongkan, meninggalkan rumah, dan tidak melakukan eksorsisme beberapa waktu ke belakang. Mungkinkah aku harus melakukannya sebulan sekali?”

“Entahlah. Memang kau sering didatangi hantu seperti tadi?”

“Dan diserang? Ya, beberapa kali, mungkin sering, tidak tahu juga bagaimana persepsimu. Namun menurutku, saking seringnya aku menjadi sensitif akan hal-hal semacam itu. Aura yang berbeda sedikit saja aku bisa merasakannya.”

“Seperti yang kau bilang sebelumnya ….”

“Ya.”

“Em, Sooyoung?”

“Apa?”

“Ngomong-ngomong,” Ise terdengar ragu-ragu di ujung lidahnya, “matamu …?”

“Oh,” Sooyoung teringat, ia lekas sembunyikan lagi warna matanya dan merubahnya kembali ke hitam semula. Seraya ia tunjuk dengan jarinya, “maaf, kau pasti kaget, sudah lama kau tidak melihat warna mataku yang ini.”

Ise tersenyum letih, ikut duduk di samping Sooyoung. “Ya, aku hampir melupakan seperti apa warna matamu. Tapi sekarang aku melihatnya lagi. Merah … seperti batu rubi.”

“Bukan seperti darah?”

“Yah,” Ise menggaruk tengkuknya, bingung menjawab pertanyaan itu mungkin penyebab ia mengganti topik pembicaraan, “sekarang bagaimana?”

Sooyoung menghembus napas pelan ketika selesai maniknya mendapati jam satu malam pada penunjuk waktu handphone Ise yang disimpan di atas meja. Ia membuat perintah, “Masih tengah malam. Kembalilah tidur. Besok kau harus bangun pagi untuk pergi ke gedung SM bersamaku.”

“Bagaimana denganmu?”

“Aku akan berjaga, makhluk sejenis itu mungkin akan muncul lagi. Terimakasih karena kejadian tadi, aku menjadi lebih was-was.” Sooyoung meletakkan pedangnya di samping bantal. “Tidurlah dengan tenang. Karena kau adalah tamuku malam ini, maka aku akan menjagamu. Berterimakasihlah.”

“Aku sangat berterimakasih kau mau melakukannya tapi, apa peran kita tidak terbalik?”

“Peran apa yang kau bicarakan?”

Ise mengeringkan tenggorokannya sebelum mendeklarasikan, “Seharusnya pria yang menjaga wanita.”

“Dalam kasus ini, peran seperti itu tidak berlaku. Umpamakan roh penasaran muncul lagi untuk menghisap jiwamu, akulah yang punya kekuatan untuk melawannya. Kau bisa apa?”

“Aku bisa menyusahkanmu.”

Nice. Kau sudah paham, makanya sana tidur.”

Tak lama setelah berhasil membaringkan lagi tubuhnya di atas ranjang, Ise mengaduh mengundang atensi Sooyoung untuk bertanya ada apa. Pria itu menjawab malu-malu, “Kau yakin akan duduk di sampingku dengan setelan seperti itu? Maksudku … karena kemeja kebesaranmu, kau seolah-olah tidak memakai … celana di baliknya. Errr-maksudku-“

“Dengar, Isezaki,” Sooyoung menatap mata pria itu lekat-lekat dan tajamnya-bilamana sebuah pisau-barangkali dapat merobek sesuatu saking tajamnya. “seberapa seringpun kau menggodaiku. Kau tidak pernah benar-benar melihatku sebagai seorang wanita, ‘kan?”

“Hah?”

“Anggap saja aku panda raksasa yang bertugas menemanimu tidur malam ini.”

Menggerutu kecil pria itu-tak mampu terdengar kuping Sooyoung, kecuali tiga kata terakhir tatkala Ise memalingkan wajahnya, “Terserah kau lah.”

Aneh. Kenapa kau yang kesal? Sooyoung menopang kakinya, dan duduk bersandar memperhatikan pundak Ise naik turun dengan tenang.

***

“Dia datang.”

Sooyoung berdiri, bersiap dengan senjata kayu di tangan. Ise terbangun karena gerakan Sooyoung yang tiba-tiba membuat ranjang itu terlonjak, “Ada apa?”

“Tetap di belakangku.”

“Ya, tapi ada apa lagi ini-tolong jelaskan sesuatu padaku-“

“Lebih kuat. Kali ini auranya lebih kuat dari sebelumnya. Apakah … makhluk lain yang datang?”

Seselesainya menanyakan pertanyaan retoris untuk dirinya sendiri, setungkai jenjang kaki wanita muncul, kemudian secara gemulai tungkai yang satunya lagi menampak, seolah mereka tengah melangkah. Namun tubuhnya tak ada. Hanya sepasang kaki yang mendekat dan terus berjalan mendekat. Ise bangkit sepenuhnya dari zona lelapnya dan berdiri di belakang Sooyoung, agak berjengit melihat pemandangan itu.

“Kau bisa melihatnya?” tanya Sooyoung kaget.

“Sepasang kaki yang bergerak sendiri itu? Hiyyy. Sialnya iya.” Kuduk Ise seketika meremang. “Apa sih itu?”

Sooyoung pegang pedang itu dengan tangan kanannya, sementara tangan kiri mengisyaratkan Ise untuk lebih mundur lagi sebab menduga makhluk yang datang kali ini akan lebih berbahaya dari pada sebelumnya. “Tunjukkan wujud aslimu, Yaksa.

Ya-yaksa?” Ise sempat meragukan pendengarannya. Melihat betapa kakunya garis wajah Sooyoung sekarang, keringat Ise mengering.

“Benar. Karena kau bisa melihatnya, sudah jelas kali ini bukan hantu yang muncul. Melainkan Yaksa-“

“Roh kehidupan yang melambangkan alam?” sepasang kaki jenjang itu perlahan-lahan menampakkan utuh wujudnya. Tampak hingga ke paha, perut, pundak, dan sampailah pada sepasang bibir pucat yang bicara-yang dimiliki oleh seraut wajah tidak asing tertangkap retina mata Sooyoung, setidaknya, sejak insiden di kapar pesiar kemarin malam.

“Son Naeun.”

Annyeonghasimnikka, Unni.” Beserta senyum manis di wajah cantiknya, Naeun melambaikan tangan. Wanita cantik di kapal itu! Ise berseru.

“Apa yang kau lakukan di rumahku?”

“Hah, ya ampun. Aku sudah jauh-jauh datang ke sini untuk menyapamu, aku juga mengirimkan seseorang sebagai pengantar pesan tapi kau malah membunuhnya dan, ketika aku sampai … kau menyambutku dengan wajah tidak menyenangkan? Aku terluka, Unni. Dimana sikap ramahmu seperti pertemuan kita di kapal waktu itu?”

“Kau mengirim pengantar pesan? Roh tadi adalah ulahmu?” bola mata Sooyoung memerah dalam sekejap, Ise merasakan sepercik panas menyiprat dari tubuh Sooyoung. Panas! Panas macam apa ini!

Unni, jangan marah. Aku cuma bercanda!”

“Bercanda? Nyawa Ise hampir melayang karena ulahmu! Bagaimana kau akan bertanggungjawab? Hah!” Sooyoung maju dan menodong leher Naeun dengan pedangnya. “Pergi dari hadapanku.”

“Wah, jadi pedang kayu tumpul ini yang tadi membunuh temanku?” jari telunjuk Naeun menyentuh ujung pedang itu hendak menurunkan sedikit dari-posisi seakan ingin memenggal-lehernya namun …

Tes …

“Oh, tidak. Jariku berdarah.” Naeun meratapi ujung jarinya yang menimbulkan setitik merah. “Bagaimana bisa pedang kayu menjadi setajam itu? Luka ini cukup sakit.”

“Aku akan membuatnya sangat sakit kalau kau mau.” Sooyoung tersenyum sinis, kali ini ujung pedang mengarah pada sebelah pipi putih mulus Naeun. “Dengan senang hati aku akan merobek pipi indahmu ini kalau kau tidak segera pergi.”

“Hah …, Unni, Unni.” Seraya menyemburkan napas letih, Naeun memegangi keningnya. Sedetik kemudian Naeun menyeringai, “Tapi Baiklah. Hihi, aku akan bermain-main denganmu sebentar saja. Serang aku kalau kau bisa?”

Membelo manik-manik merah Sooyoung bersamaan gerakan tangkasnya bertujuan menusuk tepat di pipi, namun terlambat sebab Naeun menghilangkah separuh wajahnya yang hendak Sooyoung koyak dengan pedang itu. Menyebalkan. Sooyoung tahu, akan percuma melawan seorang Yaksa bila situasinya sudah seperti itu. Mereka bisa membuat tubuhnya transparan atau menyatukan diri dengan alam atau apalah namanya, dan Sooyoung di sini akan kewalahan menghadapi makhluk setengah materiil tersebut.

“Apa maumu?” tawar Sooyoung akhirnya. Menurunkan pedang dari siaga dan menatap rupa Naeun sekali lagi.

“Heee, menyerah dalam sekali percobaan, ya?”

“Akan terlihat bodoh kalau aku bersikeras berusaha menusukmu dengan tubuhmu yang jelas-jelas sulit untuk ditembus pedangku.”

“Betul, hihi!”

“Jadi, apa maumu?” ulang Sooyoung.

Naeun tak bosan menampakkan senyum bisnisnya, sedikit pelan ketika suara itu meminta, namun Sooyoung yakin itulah yang Naeun katakan dan ia dengar, “Begini ….”

Pun Ise di sana turut mendengarkan.

“Aku menyadarinya ketika Doojoon-oppa bilang matamu berwarna merah di dalam air. Aku langsung menerka-nerka siapa kau sebenarnya, makhluk apa yang memiliki warna mata seperti itu? Makanya sekarang aku ingin mengonfirmasi sesuatu. Apakah terkaanku itu benar atau salah? Aku ingin melihat wujud aslimu. Gumiho-unni.”

***

(bersambung)

duh, maaf lama ga update padahal tinggal mengkopi dari wordpress saya ke wordpress ini tapi ya gitulah ehehehe… current situation: tengah disibukkan dengan kehidupan non dunia maya (biasalah sok sibuk), kkkk~

dan belakangan saya mulai berpikir untuk pindah lapak ke wattpad, sebab teman-teman author yang lain juga sibuk di sana. kalau para pembaca di sini, pindah lapak ke wattpad juga kah?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s