Action, Fantasy, Reverse-Harem, Romance

AL2 – EPISODE 01

Title: Apartemen Lantai Dua
Genre: Reverse-Harem, Action, Fantasy, Romance
Rating: PG
Length: Series
Cast(s): Choi Sooyoung, Yoon Doojoon, Kim Myungsoo, Son Naeun, and OC!Isezaki Chika.

[Halo! Wufanneey di sini. Muncul lagi ke permukaan setelah sekian lama menghilang tanpa kabar. Saya dateng dengan fanfiksi ini: AL2. Bukan judul baru, prolognya udah di publish waktu 2016 silam *di wordpress pribadi saya hehe*. Saya kepingin coba genre action lagi setelah sekian lama saya nulis CONNECTION … *krik* *btw season 2 nya ga dilanjut, maap ya*. Entah kenapa, saya udah lelah dengan fanfiksi saya yang kebanyakan parodi-komedi-fluff-drama yang itu-itu lagi *padahal buatan sendiri*. Yoshlah. Enjoy!]

***

Episode 01

Pertemuan

Ini adalah akhir percakapan tercanggung yang pernah aku lakukan, alami sendiri. Seingatku, selama dua puluh lima tahun aku hidup, aku belum pernah merasa sebingung ini. Aroma yang terpentin dari kayu manis adalah refleksi hidangan penutup malam itu. Satu-satunya yang menarik perhatianku selain alunan violin dan angin sepoi-sepoi dari arah lautan. Aku lelah dan ingin tidur, mungkin satu gigit puding lagi sebelum aku terlelap bebas di kamar kapal. Tetapi sekalimat sakral yang membingungkanku itu tidak membolehkanku berbuat demikian.

“Maaf, tapi … kita harus berhenti sampai di sini, Sooyoung.”

Kau tahu apa yang kakekku selalu katakan sebelum makan? Berdoa. Untuk ketenangan dan kedamaian. Untuk perhatian dan Ridha Tuhan. Jelas doa khidmat sebelum makan tak pantas diakhiri dengan situasi menyedihkan. Berbahagialah selagi kau bisa makan, oke? Jadi aku mengambil tisu karena hampir tersedak potongan puding yang belum hancur sempurna dalam kunyahanku. Kyungho menatapku dengan ragu dan bersalah di wajahnya. Aku selalu menyukai ekspresi wajahnya namun tidak untuk yang satu itu.

“Sooyoung …,”

“Tu-tunggu sebentar,” violin itu masih melantun, begitupula angin malamnya, dan getaran-getaran kecil di meja makan karena ombak. Aku mencoba meraih tangan Kyungho tapi pria itu mencegahku sebelum terjadi. “maaf, tapi, … aku selalu cuci tangan sehabis dari kamar kecil, Jung Kyungho.” Kataku tersinggung.

“Maaf.”

“Hei.”

“Sooyoung-ah, aku ingin kita berpisah saja.”

“Hei—tidak, ini malam romantis kita, bukan?” dengan semua ini—rencana seharian yang kau atur sempurna, kencan dari pagi hingga makan malam di kapal pesiar mewah, persiapan yang kau buat ini, kukira kau akan melamarku sebagai adegan klimaksnya! “Kau … pasti punya penjelasan kenapa tiba-tiba mengatakan itu.” Aku coba menghadirkan segala dugaan postif selagi—

“Kau tahu apa alasannya.”

“Aku tidak tahu.”

“Choi Sooyoung, jangan membuatku mengatakannya.” Kyungho mendesah dan lagi-lagi tampak bersalah, kerutan di dahinya, keras rona wajahnya adalah pertanda yang sekali lagi, membuatku iritasi hanya dengan memandangnya.

“Kalau itu yang kau maksud. Aku kira kira kita telah selesai membahas itu, oke?”

“Itu hanyalah penyelesaian sepihak darimu yang tidak pernah aku setujui!”

“Hhh …,” aku tak habis pikir menghadapi pria ini. Aku sudah memberikan semua yang dimauinya tapi apa balasannya untukku? Menjadi seorang pembantah! Maka aku memutuskan, “Apa lagi? Apa lagi yang kau mau dariku? Apa yang belum aku lakukan untukmu?”

“Aku ingin kita berpisah baik-baik.”

Oppa!”

“Choi Sooyoung, buka matamu! Aku mohon.”

“Aku selalu melihatmu,” aku merengek padanya.

“Aku juga. Aku menyukaimu. Tapi aku pria brengsek.”

“Aku menerimamu apa adanya, Oppa.”

“Bagian itulah darimu yang membuatku takut, Sooyoung-ah. Kau melihat semua kekuranganku dan berlaku seolah tak tahu apa-apa.”

“Apa yang salah dengan itu? Ketidaktahuanku membuatmu bahagia, ‘kan? Aku suka padamu, Oppa. Aku rela lakukan apapun untukmu!”

“Melakukan apapun untukku? Ah—aku paham. Maka sejak awal kau menerima cintaku pun dengan rasa kasihan, karena kau rela melakukan apapun untukku, begitu? Faktanya, kau tidak pernah benar-benar melihatku apalagi menyukaiku.”

“Jung Kyungho,” gertakku, karena percakapan panas yang malah melenceng dari topik awal. Apa yang baru saja ia katakan? Aku sulit mempercayainya! Kalau selama ini aku tidak menyukainya, untuk apa aku berkencan dengannya? Aku atau ia yang bodoh? Apakah kami pasangan bodoh?

“Kalau begitu aku tanya,” Kyungho menyorot lekat ke dalam dua bola mataku, hitam dan menuntut. “Apa yang kau sukai dariku?”

“Aku—” aku menyukai ekspresimu. Seperti apa ekspresi yang kau buat ketika bahagia aku menerima pernyataan cintamu, ketika kau ketakutan menonton film hantu, ketika kau tertawa melihat porsi makanku, aku—aku—semua itu … apakah bukan jawaban yang kau mau?

“Tidak bisa menjawabnya?”

“Aku—” ucapanku sedikit tersendat sejurus kemudian, pikiranku terpecah kemana-mana, terutama momen-momen kebersamaanku dengan Kyungho. Pasti ada. Pasti terletak di suatu tempat perasaanku yang sejati untuk Kyungho, aku hanya perlu mencarinya.

Kyungho masih menunggu.

Oppa, aku—” tanganku menjadi dingin tanpa sebab yang jelas, denyut jantungku melemah, bersamaan dengan kebingungan yang menggaris rautku, aku bicara dengan suara pelan, “—aku mengira-ngira jawaban apakah yang ingin kau dengar.”

“Hah.”

Gagal. Aku gagal meyakinkannya untuk tinggal. Itu hasilnya setelah kutelisik mimik mukanya lebih jauh dan mendapati kekecewaan tertinggal. Aku pun kecewa pada diriku sendiri.

“Yah, lagipula, ini bukan masalah simpel yang akan terselesaikan gara-gara kau bisa menemukan alasan atas rasa sukamu padaku. Haha, bodohnya aku.”

“Kau … akan tinggal di sisiku?”

“Ini murni keputusanku. Aku tetap akan  pergi. Aku harap kau rawat dirimu baik-baik karena aku tidak akan memintamu menemaniku ke gym lagi.”

Jahat, umpatku. Berusaha menghiburku?Senyum palsu yang memuakkan. Aku benci orang-orang bila memperlihatkan sesuatu yang membuatku ingin muntah, sebab yang aku ingin lihat adalah ekspresi bahagiamu itu, senyum hangat dan tulusmu yang biasa itu, aku ingin melihatnya.

“Oh … tampaknya kau lebih tenang sekarang. Seakan kau sudah terbebas dari kekanganku, dan bisa lari kapanpun pada wanita itu? Si Jalang, betul?” amarahku, kekesalanku—membuahkan tebakan pedas dari mulutku dan dibalas tamparan oleh Kyungho. Tamparan yang masih kuingat kencangnya hingga saat ini, panas dan sakitnya mungkin yang pertama dan terakhir bagiku—juga sedikit menyebabkan trauma.

“Maaf tapi kau sudah keterlaluan.”

“Kau yang keterlaluan,” balasku dengan ringisan yang dilebih-lebihkan agar Kyungho batalkan niatannya pergi. Sayang ia tetap akan pergi, meski sebelumnya memanggil pelayan untuk mengantarkanku ke fasilitas kamar tidur dan mengusapi pipiku dengan sapu tangannya yang kuberi ketika musim dingin pertama kami—dengan sayang.

“Tolong pastikan ia istirahat, atau setidaknya jangan biarkan ia pulang sendirian malam ini.” Pesan Kyungho pada nona pelayan itu untuk kedua kali—ia mencemaskanku, huh, tindakannya tak bisa bohong.

Begitulah ceritanya. Beberapa menit yang lalu aku punya seorang kekasih yang lumayan tampan dan lumayan kaya, karirnya sebagai aktor senior lumayan bagus, dan prestisenya di mata orangtua dan teman-temanku cukup terjamin. Pekerjaan yang menuntutku berperilaku di depan kamera mendatangkan titel bahwa—aku, Choi Sooyoung anggota girlgrup Nasional dan aktor Jung Kyungho, kekasihku—adalah pasangan terlanggeng menurut netizen, kami dinilai cocok dan diprediksi akan melangkah hingga jenjang yang lebih serius. Wanita mana yang tak bangga akan hal itu? Namun beberapa menit kemudian aku hanyalah wanita kurang beruntung yang diputuskan secara kejam—ditampar pula. Disebabkan kekasihku yang kubangga-banggakan itu  tadi, ternyata punya wanita lain di hatinya—atau sebenarnya, wanita itulah yang ada di hatinya sekarang.

Tengah damai-damainya aku merenung, tiba-tiba—

Tuk!

Aku mendengar itu.

Tuk, tuk!

Ya, suara ujung kuku jari telunjuk yang beradu dengan kaca jendela. Kaca jendela! Siapa orang kurang kerjaan yang akan dan bisa mengetuk kaca jendela kamar yang mengapung di tengah laut. Secara teknis, orang iseng itu bisa saja sengaja berjalan di sisi tubuh kapal dengan bantuan tali pegangan untuk mencapai jendela kamarku dan mengetuknya tiga kali. Naas secara logis, adapun orang seperti itu, maka ia tidak waras.

Tuk!

Sebelum ketukan ke lima aku bangkitkan diri dan membuka jendela itu. Kepalaku bersiap dengan jeritan kebakaran atau pemberitahuan darurat nahkoda kapal barangkali di depan ada pusaran air raksasa, bukannya seraut wajah nyengir seorang pria Asia. (Karma memang berlaku—yang aku bilang orang tidak waras barusan nyatanya adalah rekanku.)

“Bagaimana kabarmu, Nona Manis?”

“Ise.” Keluhku. Membiarkannya saja masuk dengan ketidakwajaran yang memang telah mendarah daging selama ia berdiam di Korea. “Bentuknya persegi, berengsel di salah satu sisi panjangnya, dan berfungsi memudahkan orang masuk ke suatu ruangan. Namanya pintu. Paham?”

“Aku tidak terbiasa masuk lewat cara itu.”

“Kapan kau akan terbiasa? Semua orang normal menggunakan itu. Kau bahkan bukan Arséne Lupin yang perlu mengendap-endap memasuki kamar seorang gadis!”

“Di matamu, Arséne Lupin sepertinya orang mesum.”

“Bagaimanapun juga, Arséne Lupin adalah laki-laki,” dan semua laki-laki itu mesum, lanjutku tanpa menyuarakannya, cukup dalam benak sebab tatapan tajamku mampu membungkam omong-kosong Ise sementara waktu.

“Bicara soal laki-laki, aku turut menyesal atas kepergian Jung Kyungho.” Nah kan, apa aku bilang, hanya sementara waktu.

“Dia tidak mati!” aku menjitak kepalanya. Aku bahkan tidak ingin bertanya kenapa ia tahu soal kandasnya hubungan percintaanku dan apakah ia datang kemari karena menguntitku.

“Oke ….” katanya, sengaja dilamat-lamat, “jadi bagaimana, ingin aku menghiburmu? Aku punya banyak trik baru—kau harus lihat!” Ise bersemangat sekali tapi aku tidak punya tenaga tersisa—pikiranku agak terkuras oleh satu masalah kecil yang Kyungho buat. Ingin aku mengusir Ise tapi pria itu sudah jauh-jauh datang kemari dengan taruhan nyawa, aku tidak setega itu ….

“Sebenarnya, Ise, maaf sekali tapi—aku ingin tidur.” Mataku telah setengah terpejam ketika mengatakan itu.

“Baiklah ayo kita tidur!” dengan gembira, Ise melepas jasnya dan mulai mempreteli kancing kemeja birunya. Aku menendang lututnya, sebelum membanting bokongku di tepi kasur.

Selesai mengaduh Ise membuka mulut, “Uh, kejamnya.”

“Baiklah. Ada apa?” tuntutku, tanpa sedikitpun tertarik dengan apapun yang akan ia katakan. Aku lebih tertarik pada kemeja barunya yang licin itu, sepertinya karena kemeja birunya yang lama aku robek kemarin lusa. Salahnya sendiri karena masuk dan bersantai di rumahku seenaknya (terkutuklah keahliannya membobol password apartemen). “Ise, kau tidak akan pergi sebelum aku mendengar permintaanmu, ‘kan?”

Sembari menjentikkan jari dan seolah neon menyinari puncak kepalanya, Ise menarik simpul ceria, “Betul sekali! Aku tidak akan pergi—karena, yah, orang yang kucari ada di kapal ini.”

“Hm?” aku merenggangkan alis dan kelopak mataku pertanda jengah. Ise dan misi rahasia negaranya atau apalah itu. “Direct instruction, please.”

“Itu, lah. Apalagi?” Ise tampak enggan mengatakannya. “Aku butuh bantuanmu.”

“Bantuan? Baiklah, Isezaki-kun.” Aku mengambil dan menghembuskan setali napas pendek. “Siapa orang itu?”

***

Isezaki Chika. Manusia yang dideportasi dari negeri asalnya karena—aku tidak tahu apa alasan sebenarnya, tapi yang ia akui—ia tengah melakukan penyelidikan rahasia negaranya. Negara! Ia bilang ini adalah masalah negara, tentu saja aku tidak percaya. Ise adalah seorang Japanis yang kukenal sejak debutku di Jepang bertahun-tahun silam. Bisa dibilang, kami adalah teman masa kecil. Pekerjaannya? Semacam … agen rahasia? Buruh? Pesuruh? Entahlah—ia agak urakan semenjak dikeluarkan dari kepolisian tempatnya mengabdi dulu. Mengejutkan juga, faktanya orang seperti Ise adalah mantan aggota polisi.

Kalau saja ia tidak gila sejak saat ia berganti pekerjaan, tentu aku tidak akan malu mengakuinya sebagai temanku—ditambah, bilamana ia mau sedikit waras dan merawat diri, dilihat dari sudut manapun ia adalah pria tampan. Amat disayangkan.

“Ikut aku.” Tangan Ise yang berlapis satin menuntunku ke koridor kapal. Kami berjalan dengan kecepatan sedang, maka aku merasa genggaman erat tangan Ise sepertinya tidak perlu.

“Hei, ini,” aku berbisik.

“Ya, ruangan tempat kau dan mantan kekasihmu makan malam tadi. Kau bahkan belum memesan martini kesukaanmu itu tapi skenarionya telah berakhir, hahaha.”

Manikku memicing, mendeliknya tajam. Lalu, plak! Aku memberi lehernya hadiah kecil. “Ada nyamuk di lehermu.” Dustaku.

“Pukulanmu itu bagaikan tebasan petir bagiku, kau tahu.” Artinya: itu sakit, berhentilah menyiksaku.

Itu salahnya karena terus menggodaiku perihal putusnya hubunganku dengan Jung Kyungho. Di satu sisi aku menghargai leluconnya yang mencoba menghiburku tapi di sisi lain aku melampiaskan amarahku padanya karena—aku tidak bisa memukul Kyungho-oppa tersayang di sini, jadi aku memukul Ise sebagai gantinya.

“Itu, lihat, di sana,” Ise tahu-tahu menunjuk sesuatu dengan dagunya, seseorang. Aku bertanya-tanya kemana arah pandangannya. “jangan terlalu inten.” Peringatnya hati-hati.

“Yang mana, sih?”

Pundakku sedetik berikutnya mendapat rangkulan, membuatku bergeser sedikit dari tempatku berdiri dan melihat seorang pelayan menunggu roda berisi piring-piring kotor untuk lewat. Tersadar, aku menghalangi jalan! “Ah, silahkan.” Aku mengeyampingkan tubuhku dan sang pelayan wanita mendorong rodanya setelah menundukkan kepala sebentar. Begitu tersadar akan hal lain, aku menatap Ise dan pria itu cepat-cepat melepaskan rangkulannya.

“Jadi, yang mana orangnya tadi?”

“Pria tinggi yang makan malam bersama pacarnya—” aku menyikut perut Ise. “—uhuk! Bukan kau! Aku bicara soal orang yang incaranku itu! Kenapa sensitif sekali? Untuk ukuran seorang wanita yang bahkan tidak menangis ketika tahu kekasihnya berselingkuh—”

“Ise,” geramku.

Hai, hai, Ojou-chan, kau lihat? Tuan yang di sebelah sana.” Ise menunjuk punggung seseorang dengan sorot mata penuh keyakinan. Pria itukah? Pria bersetelan kasual yang berdiri berdampingan dengan seorang wanita di pinggiran kapal?

“Pasangan yang berbahagia itu? Maksudmu, kau mengincar pria itu?” Ise mengangguk yakin. Justru akulah yang tidak yakin—semenjak ia bukan lagi seorang polisi lalu tertarik dengan dunia sulap dan keintrikan sejenisnya, jujur saja—kepribadiannya jadi tidak meyakinkan.

“Uh-oh, mereka bukan pasangan bahagia. Sayang.”

Sayang? Batinku geli.

Membiarkan aku mendengar penjelasan Ise berlanjut, “Sang wanita jelas-jelas telah merasakan cinta bertepuk sebelah tangan pada sang pria, belum lama, namun cukup menyakitkan.”

Bertepuk sebelah tangan? Tidak mungkin. “Tapi senyumnya selebar itu, wanita itu …,” elakku.

“Seolah-olah tidak ada hari esok, betul? Itu karena sang wanita sangat bahagia hari ini, akhirnya sang pria menerima ajakan kencannya meski bisa jadi ini yang pertama dan terakhir.”

Selain menjebol password apartemen tanpa alat bantu, ia juga punya kemampuan merangkai asumsi aneh dalam sekali lihat. Aku prihatin kalau tahu inilah faktor mengapa ia diberhentikan sebagai polisi di Jepang. “Rancu sekali.”

“Analisaku tak pernah meleset, maksudmu? Terimakasih.”

“Ya … sama-sama.” Sahutku malas. Ise memang selalu sepercayadiri itu lagipula, biarkanlah. “Berarti kau juga bisa mengira, kenapa pria itu tidak menerima cinta sang wanita?”

“Kenapa, ya?” Ise tersenyum misterius. “Kau pikir kenapa? Akan aku beri penghargaan bila kau tahu jawabannya.”

“Jawabannya?” aku terhenyak sesaat. ”Jawabannya … tidak ada alasan … untuk saling menyukai?” ugh. Aku teringat pertanyaan Kyungho tadi. Alasan untuk menyukai. Tanpa kusadari selama ini, aku masih saja memikirkan apa alasanku menyukai Kyungho ….

“Aku ingin sekali memberimu penghargaan. Tapi bukan itu jawabannya.”

“Lalu apa?”

Menatapku tenang tepat di mata, dan tatkala ia menjawab dengan kebanggaan dirinya yang berlebihan itu, “Tentu saja karena dia adalah targetku, sang Chollima.”

—terdengar jelas suara massa besar tercebur ke air.

***

Massa itu dinilai berat terdengar dari suara ceburannya yang besar. Suara itu menarik banyak perhatian termasuk aku dan Ise. Byurrr! Drashhh! Ombak akibat benda jatuh mengaung jelas masuk daun telingaku. Membuat kaget dan memaku. Terutama karena jeritan panik seorang wanita memanggil-manggil sebait nama—yang dipastikan nama orang yang jatuh itu. Tunggu, orang? Wanita tadi! Wanita yang tengah berkencan tadi! Seseorang yang tercebur ke lautan itu ternyata adalah pasangan kencannya! Karena kasihan, tanpa pikir dua kali langsung saja aku bergegas menghampirinya. Wanita itu memanggil satu nama sembari menunjuk ke bawah kapal dan berselingan dengan mencari pertolongan. Kata-kata yang ia keluarkan tidak jelas saking paniknya, aku hampir-hampir dibuat panik juga.

Aku menoleh ke belakang, ke arah Ise yang bola matanya masih melebar akibat keterkejutan. Salah satunya mungkin karena aku tiba-tiba hilang dari sisinya. “Ise!” pun aku panggil namanya, meminta. Nun seolah tahu apa mauku, Ise menolak keras dengan gelengan kepala dan kedua tangan bersilang di dada. Dasar, pria pengecut itu! Sejurus kemudian ekspresi wajah Ise berganti menjadi seringai—aku tidak paham apa maksudnya kali itu, sebab aku tidak bisa tinggal diam.

Orang-orang di sekitar tampaknya sudah ada yang memberi tahu nahkoda kapal dan staff-staff pelayaran bahwa seseorang telah jatuh ke laut. Kecelakaan ini menimbulkan ribut, namun wanita itu tampaknya tak bisa menunggu lebih lama karena ia mulai sesegukan. Aku menatapnya iba. Barangkali … orang yang jatuh itu tidak bisa berenang?

“Tenanglah, Nona!” ku tepuk pundaknya pelan. Sang wanita menoleh, menatapku pelan-pelan dengan hidung dan mata yang telah memerah. Aku lepas blazerku dan ku sampirkan di pundak wanita itu.

“Nona, apa yang mau Anda lakukan?!” seorang staff meneriakiku.

Melepas sepatu berhak itu, aku panjat pembatas kapal dan berdiri di atasnya dengan kakiku, sebelum melirik staff tadi dengan ujung mataku, “Kalian terlalu lambat!”

Byurrr! Terjadilah. Wajahku adalah yang pertama masuk. Menerjang air laut di malam hari ternyata cukup buruk, selain karena dingin, juga tidak ada pencahayaan. Orang itu mungkin sudah terselam jauh ke dalam, aku berusaha menyimpan oksigen yang tersisa untuk terus menggerakkan kakiku ke dasar. Blup, blup, bluppp!

Tidak ada cara lain, pandanganku sekeliling sudah gelap total. Aku memaksa memakai bola mataku yang satunya untuk melihat. Pria itu! Akhirnya ku temukan! Tangannya terjulur seolah minta diraih, sepertinya ia masih punya sedikit kesadaran untuk bertahan. Aku tarik ia ke permukaan. Seketika angin laut kembali menampar pipiku bersamaan dengan mataku yang kembali seperti semula.

Dari atas, aku mendengar sorak sorai bersahutan. Ayolah, jangan buang-buang waktu lagi! Aku kedinginan di sini! Maka tatkala bantuan di turunkan, aku mengalihkan pria pingsan itu untuk dibopong. Kemudian kami kembali naik ke atas kapal.

Ise sudah ada di sana dan langsung memakaikanku handuk kimono. “Kau keren sekali!” pujinya. Aku membalas kalau ia tidak tahu malu, sebagai pria, seharusnya ia yang melakukan hal tadi dan bukannya aku. “Sayangnya aku tidak terbiasa jadi pusat perhatian orang-orang.” Yah, yah, ia punya banyak alasan—dan kebanyakan di antaranya tidak logis.

 “Kau bahkan tidak khawatir padaku,” kataku ketus tanpa memandangnya. “bisa saja aku yang tenggelam karena membawa beban berat pria tadi.”

“Tidak ada gunanya orang biasa sepertiku mengkhawatirkamu. Lagipula, kau,” ucapan Ise terjeda, “… sedang merajuk padaku?”

“Daya khayal berlebihanmu yang membuatku tampak demikian.”

“Tidak usah malu-malu. Ah, tapi tidak disangka, kau manis juga kalau malu-malu begitu.”

“Aku tidak merajuk dan aku tidak malu.” Kataku dongkol. Aku duduk di salah satu kursi dan memeluk diriku sendiri. Kerubunan orang memenuhi di depan, dimana pria itu dibaringkan. Apa pria itu sudah sadar?

Aku berdiri dan bermaksud menghampiri. Orang-orang memberiku jalan lewat sembari memuji-muji, “Oh, Nona Heroik ini! Nona, kau tidak apa-apa?”

“Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan orang tadi?”

“Dia …,” aku mengikuti arah pandang bapak-bapak yang bicara itu. Pria tadi sudah terduduk dengan sekujur tubuhnya basah kuyup—ia sudah sadar. Wanita muda di sebelahnya memakaikan handuk masih berlinangan airmata.

Aku menghampiri mereka berdua. Bersimpuh lalu memandang wajah pria itu. “Tuan, bagaimana keadaanmu? Sepertinya tadi kau menelan cukup banyak air dan, kenapa bisa tiba-tiba terjatuh ke lautan seperti itu?”

“Iya, Oppa kau ceroboh! Huhuhu!” wanita muda itu memeluk sang pria sekilas.

Pria itu terbatuk-batuk, dan saat ia balik memandang wajahku, alih dari menjawab pertanyaanku, dengan ketakjuban di matanya yang terpantul dalam binar-binar, ia berkata, “Merah.”

“Apa?”

“Nona … matamu tadi … di dalam air, berwarna merah.”

Pria itu perlahan-lahan mengangkat tangannya, ia bawa jemarinya menyentuh kulit pipiku. Dingin, tempat dimana pria itu menyentuhku terasa dingin. Namun kenapa timbul titik-titik peluh di keningku? Jemarinya dingin seperti es, namun wajahku panas, dan semakin memanas.

“Wajahmu … juga.” Lanjutnya, tangan itu bergerak dari pipi menuju keningku. Membandingkan suhunya sambil memandangiku keheranan. “Apa kau demam? Wajahmu sangat merah … dan kau berkeringat sangat banyak.”

Aku tidak bisa bergerak. Pria itu hanya terus menatap diriku. Mulai yakin dengan asumsinya, “Naeun-ah, aku sudah baik-baik saja. Jadi tolong antarkan Nona ini untuk beristirahat. Sepertinya dia sakit.”

“Aku—tidak apa-apa.” Aku mengangkat tanganku sendiri untuk mengkover tangannya di dahiku. Dengan senyum, “Tidak apa-apa, aku sangat sehat, Tuan.” Ulangku.

Pria itu meyakinkanku sekali lagi, “Choi Sooyoung?”

“Hah? Tu-tuan, apa maksudmu?” setengah berteriak, karena aku terkejut pria ini sadar siapa aku. Situasi yang sangat jarang aku alami sebab meski Girls’ Generation adalah girlgrup yang sangat populer, namun hawa keberadaanku di pentas sangatlah sedikit dan langka orang-orang mengenalku sebagai sosok selebritis.

“Kau Choi Sooyoung, ‘kan?”

Tidak—jelas-jelas aku tidak sehat—ada yang aneh denganku. Ada yang aneh dengan tubuh ini. Cucuran keringat di dahiku semakin membanjir, kali ini ditambah dengan jantungku yang berdegup-degup. Kencang seakan hendak melompat dari tempatnya. Apa yang kulewatkan di sini sehingga aku tidak mengerti apapun?

“Choi Sooyoung? Choi Sooyoung-unni?” dan wanita itu! Benar! Wanita itu dipanggil Naeun beberapa saat yang lalu! Mungkihkah—ia, Son Naeun yang terkenal akan kecantikannya itu?

Bila ia Son Naeun, maka pria ini siapa? Bila kuamati lebih dekat, aku tidak asing dengan wajahnya. Malah, sesuatu dalam diriku merasa, bahwa aku sangat mengenalnya. Ia berkelakar hangat, bersinar—seolah-olah sekelilingnya dilindungi oleh cahaya, dan kata-kata yang ia keluarkan sangat lembut—terdengar seperti rayuan manis. Bukan orang asing. Aku yakin orang ini—

“Begitu, ya. Doojoon-oppa, betul ini Sooyoung-unni.”

Doo—Doojoon?

Unni ini adalah Choi Sooyoung yang itu, sudah jangan menyebut namanya lagi. Unni sepertinya tidak nyaman.” Naeun meraih tanganku. “Ayo, Unni. Aku akan mengantarmu beristirahat, tubuhmu juga pasti masih kedinginan, kau harus cepat ganti baju.”

Gawat. Ini sangat gawat.

“Ah—”

Ucapanku terpotong oleh tindakan Ise yang mengambil pundakku dengan lengannya, menanam wajahku di dadanya. Di antara lengan Ise, aku mendengarnya berbicara pada Naeun dengan nada manis, “Terimakasih atas perhatianmu, Nona. Tapi karena kau sudah menyadari situasinya, biar aku yang mengurus sisanya. Sebab saat ini, wanita ini adalah tanggung jawabku.”

“Oh. Apa kalian datang bersama?”

“Ya.” Jawab Ise singkat. Masih rangkulku erat.

Beberapa detik kemudian, Naeun bersuara lagi, terdengar tidak nyaman, “Oh—kalian pasti sedang berkencan juga. Ma-maaf sudah mengganggu.”

“Tidak!” meski wajahku terpendam di antara lengan Ise, tentu saja aku harus memekik bila ada yang bilang begitu soal kami. Di sisi wajahku Ise tahu-tahu menghembus napas panjang, entah karena apa.

“Sooyoung-unni—”

“Psssh, cukup sampai di sini, Nona.” Ise menaruh satu jadi di bibirnya, seraya mengedip ia mengatakan sampai jumpa, “Aku menyesal harus berpisah dengan wanita secantik dirimu. Namun kita pasti akan bertemu kembali di bawah sinar bulan. Ja, ne.”

***

Aku membungkus diriku sendiri dengan selimut tebal. Tidak berhenti bertanya-tanya perihal insiden aneh tadi, terutama yang paling mengganggu pikiranku, adalah Yoon Doojoon. Selimut menutupi setengah wajahku, menyisakan setengah hidung dan mata. Ise memperhatikan tingkahku sembari duduk di kursi yang menghadap kasurku—menyamping jendela. Kondisi ini sudah berlangsung kurang lebih tiga puluh menit.

“Hei … kau tahu kenapa?”

“Kau tidak cerita, bagaimana aku tahu apapun?” Ise mengeluh, menekan-nekan ujung jemarinya satu sama lain.

“Sepertinya kau kesal?”

“Misiku untuk menangkap orang itu gagal karena kejadian tadi. Terimakasih berkatmu. Ya, aku cukup kesal. Untungnya bertemu wanita cantik membuatku kehilangan kekesalanku untuk beberapa menit. Namun melihat tingkahmu yang begitu membuatku kesal lagi.”

“Hei … kau tahu—”

“Aku tidak tahu.”

“Aku belum selesai!” pekikku, tanpa ku sadari bibirku mengerucut di balik selimut. “Tadi wajahku terasa panas dan keringat membanjiri dahiku. Padahal seharusnya aku kedinginan sehabis menceburkan diri ke laut di tengah malam. Jantungku juga berdetak lebih cepat daripada biasanya. Padahal aku tidak sedang kelelahan. Tanpa sebab yang jelas, semua itu …,”

Kelopak mata Ise berkedip sekali, kemudian membelo. “Be-benarkah? Kau … bisa merasakan hal seperti itu padaku? Mengejutkan juga, ya.”

“Bukan. Bukan padamu. Aku merasakannya ketika pria itu memandangku lekat. Yoon Doojoon. Kenapa ya kira-kira?”

 Tampak kecewa. Ise terdiam sejenak, merangkai deduksi dalam kepalanya dan mulai bertanya, “Kau tidak tahu?”

“Makanya aku bertanya padamu.” Aku meragu sesaat. “Sepertinya aku sakit, iya ‘kan?”

“Sakit? Yah,” Ise mengeringkan tenggorokkannya, lantas melanjutkan, “sakit atau bukan, ini juga cukup sulit bagiku menjelaskannya. Biar aku tanya sekali lagi, bagaimana kondisi tubuhmu bila berhadapan dengan Jung Kyungho?”

“Sehat-sehat saja.”

“Tidak ada indikasi-indikasi seperti barusan? Wajahmu dan jantungmu rasanya bagaimana?”

“Rasanya fit.” Jawabku.

“AHHH!”

Aku ikut terlonjak karena teriakan Ise, “Jangan tiba-tiba berteriak!”

Menutup wajahnya, bersisakan sebelah matanya untuk menatapku, Ise bicara sesuatu, merupakan pernyataan teraneh yang ia keluarkan hari itu. “Aku tidak mau mempercayainya. Aku tidak menyangka kau akan mengalaminya pertama kali karena orang lain dan bukannya aku. Tapi mendengar semua penjelasanmu, gejala-gejala yang kau alami … ya, kau sedang sakit, dan aku tahu apa penyakit yang kau derita.”

“Sudah ku duga! Apa itu? Meski kata-katamu tidak terjamin dan tidak layak dijadikan pegangan, namun aku ingin mendengar pendapatmu dulu!”

“Ah! Aku sangat tidak ingin mengatakannya kau tahu!”

“Kau membuatku penasaran!”

“Kau membuatku patah hati!”

“Hah?”

“Cinta. Kau menderita penyakit cinta.” Ise akhirnya memvonisku, lemas menengok ke samping—menghindari pandangannya dariku, ia memandang ke luar sembari bertopang dagu di sisi jendela. “Sepertinya … itu adalah cinta pada pandangan pertama.”

“Ise, kau gila?”

“Seandainya aku gila.”

Bahaya. Bila ia berkata begitu maka yang terjadi adalah kebalikannya: ia serius. Sungguh? Manik-manikku melotot dan menerawang jauh melewati batas yang aku tidak tahu. Tubuhku lemas dan perlahan-lahan kesadaranku menghilang. Tidak mungkin.

***

Di bawah ini ada ilustrasi wajah ise-kun, aku yang gambar ehe 😋

Advertisements

6 thoughts on “AL2 – EPISODE 01”

  1. Omg!!!! soo-kyungho putus?! Really???? #poor soo eonni 😦 tpi it ise, siapa dya?? ko nama’a japanes gtu sih min?? Apaa dya bneran suka sma soo eonni??? dan doojon?? masak iya sih soo eonni bsa jatuh cinta pda pndangan prtma sma doojon??? jdi pnasaran sma next part’a min, kajja keep waiting next part 🙂 fighting 😉

    1. Hoho sangkyu. Iya dong Sooyoung kyungho putus /dalam khayalanku hiks/ tapi bukan maksud ngedoain yang jelek kok 😅😅😅
      Ise itu original character ciptaan aku karena kupikir gaada yang cocok meranin karakter kayak dia 😐

  2. Sooyoung divonis terkena penyakit cinta stadium akhir. Sudah tak tertolong wkwkwk
    Pas liat gambar ise-kun jadi inget sama kise di anime kuroko no basuke :v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s