[SERIES] Closer -Chapter 3

closer 

 

Closer By Kyoung

 

Main Cast: Cho Kyuhyun & Choi Sooyoung

 

Genre: Romance, Hurt/Comfort, Drama

 

Duration: Mini Series

Poster By: Kyoung @ Poster Channel

A/N: Fanfic ini buatan saya, siapapun yang mengklaim fanfic ini harap dihentikan. Fanfic ini tidak untuk di komsumsi oleh anak dibawah usia 17 tahun, dikarenakan penggunaan bahasa dan content yang berat.

Fanfic ini menggunakan tata cara bahasa novel terjemahan. Tidak memasukan unsur-unsur bahasa korea asli seperti, appa, eomma, dongsaeng, eomeo, aigoo, dan seterusnya.

Bila tidak suka lebih baik tekan ‘back’, daripada anda membuang-buang waktu hanya untuk bahsing karya saya.

 

Chapter 3

 

Ket:

-Dialog bercetak miring itu wanita masa lalu Kyuhyun yang masih dianggap hidup oleh Kyuhyun. Jadi bisa dibilang Kyuhyun ini berhalusinasi/menghayal.

 

Kyuhyun POV

 

Alarm belum berbunyi dan itu tandanya hari belum memasuki pagi, tapi aku terbangun dari tidurku karena sejak tadi aku merasa ada sesorang yang membisikkan sesuatu di telingaku.

 

Jam masih menunjukan pukul 2 pagi, mataku sudah tak terasa berat lagi. Dan ‘dia’. ‘Dia’ yang selalu menganggu tidurku. Aku tidak pernah tidur dalam waktu normal sejak 3 tahun terakhir karena ‘dia’ tak pernah hilang dari kehidupanku, dan mencoba mengangguku.

 

“Apa yang kau inginkan kali ini?” Aku bersuara dengan nada yang parau.

 

‘Dia’ tersenyum seperti biasanya kepadaku. Mata bulat almondnya mengingatkanku sekilas dengan wanita dari devisi lantai tiga di rumah sakit tempatku bekerja.

 

“Apa kabarmu hari ini?” Selalu omong kosong yang selalu ia tanyakan. Dan aku muak sekaligus nyaman mendengar suaranya.

 

“Tak ada yang berarti dari kehidupanku. Jadi berhentilah menganggu tidurku.” Kataku dengan nada ketus. Tapi percuma saja, ‘dia’ tidak akan berpengaruh dengan kata-kataku.

 

“Kau masih sangat ketus? Selama kita bersama kau selalu berbicara dengan nada seperti itu.”  Ya. Dan aku benar-benar muak dengan setiap ucapannya.

 

Aku ingin membencinya, tapi aku juga merindu-nya. Aku masih menyimpan dirinya dalam hatiku, walaupun aku tahu ‘dia’ yang selama ini menyakitiku. Bukan aku.

 

“Aku tak butuh omong kosong. Aku hanya butuh hidupku yang normal, jadi bisakah kau hidup dengan dunia mu sendiri. Aku muak kau mengangguku.” Dan aku mengeluarkan kata-kata sakartisku. Dan dia menundukkan wajahnya. Dan aku merasa beban berat kembali menghantui hatiku.

 

“Aku minta maaf. Aku minta maaf karena telah menyakitimu dan meninggalkanmu. Tapi aku akan selalu mencintaimu, Kyu. Sampai sekarang pun aku masih mencintaimu.” Dan sekali lagi aku yakin itu hanya omong kosong darinya.

 

“Kau selalu berbicara omong kosong, dan aku sudah kebal dengan semua omong kosong mu. Sejak dulu. Sejak kau memilih bersamaku, kau bahkan tak bisa melupakan pria itu. Pria yang bahkan kau pacari sedangkan kau juga memacariku. Kau hanya hidup dengan omong kosong, dan aku tidak butuh omong kosongmu.” Kata-kata tajamku menohok relung hatinya, dan aku merasa sedikit aneh dengan hatiku.

 

“Aku sudah bilang aku minta maaf. Aku minta maaf, Kyu. Aku tidak bisa memilih salah satu diantara kalian. Tapi aku juga tidak mau kehilangan salah satu diantara kalian.” Dia mulai menangis dan aku hanya diam melihatnya menangis.

 

“Karena itu pilihan diciptakan. Kau harus memilih salah satu, tidak bisa semuanya kau miliki. Bahkan aku rela menentang keluargaku demi menghargaimu. Tapi kau malah mendorongku kedalam lubang hitam penyesalan.” Aku berteriak. Nafasku terengah-engah. Ini menyebalkan dan aku tidak suka dengan situasi seperti ini.

 

“Aku mencintaimu dan juga mencintai ‘nya’. Sudah kukatakan aku benar-benar tidak bisa memilih. Aku mencintai kalian berdua.” Kata-katanya busuk sekali. Dan aku ingin muntah mendengarnya.

 

“Kau orang yang tidak bisa menghargai usaha orang lain. Kau tidak pernah menghargai-ku, kau hanya mencari sesuatu dari hidupku.” Dia menggeleng dengan air mata yang terlihat transparan di mataku.

 

“Tidak. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu, Kyu.”

 

“Jangan pernah ganggu hidupku lagi. Kehadiranmu dalam hidupku membuatku tak bisa menjalani kehidupan normal seperti orang lain. Kau mengekang hidupku. Kau membawa jiwaku bersama jiwamu yang sudah mati. Kau menggelapkan kehidupanku. Aku bahkan tidak bisa melirik wanita lain yang lebih cantik dari dirimu karena rasa cintaku kepadamu benar-benar dalam dan rasanya sungguh menyakitkan.” Teriak ku dan air mata transparan nya semakin mengalir deras.

 

“Tidak usah menangis di depanku. Aku tidak butuh air mata transparan mu. Kau sudah mati sebaiknya hidup dalam duniamu sendiri dan jangan pernah mengusik kehidupan ku lagi.”

 

Aku tidak peduli berkata kejam kepadanya. Aku benar-benar tidak bisa mengontrol diriku lagi. Aku muak dengan kehidupanku. Kehidupanku yang di hancurkan oleh ‘dia’. Dia sudah mati dan tidak seharusnya muncul dihadapanku dengan kata maaf dan air mata omong kosong.

 

Dia menghilang dan tidak mengucapkan apa-apa sebelum pergi. Hanya air mata transparan yang aku lihat. Dan aku kembali merebahkan tubuhku. Ini masih jam 2.16 pagi, dan mataku kembali memberat dan seketika aku tertidur dengan sendirinya.

 

Pagi ini aku terbangun dengan keadaan hati yang benar-benar gelap dan suram. Tapi apa sebelumnya aku pernah bangun tidur dengan keadaan hati yang cerah? Kurasa tidak. Semuanya sama saja karena ‘dia’ selalu datang di tengah tidurku dan membangunkanku lewat bisikan-bisikan kelamnya.

 

Area di sekitar mataku menggelap karena kurang tidur. Kemarin aku benar-benar disibukkan dengan korban kecelakaan bus umum yang korbannya mencapai 15 orang. Aku benar-benar lelah sekarang, dan rasanya ingin tidur di bawah rengkuhan selimut tebalku.

 

Tapi aku malas. Malas kalau ‘dia’ lagi-lagi muncul di tengah tidurku dan membangunkanku dan membuatku terjaga sampai mataku rasanya ingin meledak.

 

 

Hari ini aku ada shift sampai malam. Ayahku memberiku beban berat karena harus meng-operasi pasien kelainan syaraf pagi ini. Seharusnya jadwal operasi akan dilaksanakan besok lusa, tapi karena keadaan tubuh pasien yang tidak memungkinkan untuk menunda operasi, maka operasi harus dilaksanakan pagi ini juga.

 

Aku berjalan ke lounge dokter untuk menikmati kopi pagiku. Sebelum berangkat tadi aku belum menyempatkan diri untuk sarapan. Bahkan minum air putih saja belum.

 

Aku berjalan melewati depan lounge dokter devisi spesialis Obstetri & Ginekologi di lantai tiga, dan aku berpapas-papasan dengan wanita itu. Wanita yang kupikir adalah reinkarnasi dari ‘dia’. Tapi kurasa tidak, karena sebenarnya wanita itu dan ‘dia’ benar-benar dari dunia yang berbeda.

 

Tatapan kami saling bertemu, dan aku tidak bisa kalau tidak mengeluarkan aura gelapku saat menatap mata bulatnya. Bagiku mata itu sama saja seperti lubang hitam keterpurukan. Dan aku sudah pernah tertipu karena kepolosan mata bulat yang sama tapi berbeda. Dan aku bingung dengan diriku sendiri. Antara meyakini dan tidak.

 

Wanita itu memalingkan wajahnya saat aku menatap lama kedalam matanya, dia terlihat gugup padahal aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya menatap matanya, aku ingin mencari kesamaan dari mata itu dengan mata miliknya.

 

Tapi wanita itu tidak lagi menatap mataku dan kembali berjalan melewatiku. Aku memanggilnya dengan nada yang teramat datar dan dingin.

 

“Hei.” Panggilku. Kurasa dia berhenti, tapi dia tidak membalikan badannya kearahku.

 

Aku memanggil nya sekali lagi,  “Hei.” Panggilku lagi. Perlahan-lahan dia mulai membalikan badannya dan menghadap kearahku. Jarak kami lumayan terpaut jauh. Dia melirkku dengan hati-hati.

 

“Apa kau memanggilku?” Tanyanya. Aku mengangguk, dan wajahku masih tetap datar.

 

“Hn. Aku memanggilmu.” Ucapku. Dan wanita itu masih melirikku dengan ragu-ragu.

 

“Ehm. Ada apa kau memanggilku?” Tanyanya. Aku berjalan mendekat kearahnya, dan dia ragu-ragu memundurkan langkahnya. Aku menautkan alisku bingung dengan sikapnya.

 

“Kenapa?” Tanyaku. Dia melirikku.  “Eh. Apa?” Tanyanya.

 

“Kenapa kau bersikap konyol?” Kataku. Dia menautkan alisnya bingung.

 

“Konyol? Apa yang konyol?” Tanyanya. Dan aku harus menahan agar mataku tidak bergulir kearah lain. Jengkel juga menghadapi wanita ini.

 

“Kau.” Kataku. Dan dia semakin bingung. Harus ku tekankan. Aku tidak pandai berkata-kata.

 

“Aku? Apa? Kenapa aku konyol?”

 

“Kau dan sikap mu sangat konyol. Apa kau tak menyadari itu?” Kataku, dan aku menyadari kalau nada bicaraku barusan sangat-sangat-sangat dingin. Dan aku tidak peduli itu.

 

“Ehm, Kupikir kau salah orang.” Katanya. Aku hanya diam dan masih menatap tajam kearahnya. Wanita itu kembali gugup.

 

“Kau dari devisi lantai tiga kan?” Tanyaku. Dia mengangguk ragu-ragu.

 

“Dari devisi spesialis apa?” Tanyaku lagi. Dan aku baru sadar hari ini aku berbicara terlalu banyak tidak seperti biasanya.

 

“Aku dari devisi spesialis Obstetri & Ginekologi.” Jawabnya. Aku mengangguk

 

“Spesialis kebidanan.” Gumamku lalu berjalan melewatinya. Aku tahu aku bersikap menyebalkan, tapi aku tidak peduli.

 

 

Kyuhyun POV END

 

Sooyoung POV

 

Dia. Pria sejuta pesona dengan wajah datar sedatar tembok. Bahkan tembok berlin atau tembok besar cina pun tidak sedatar raut wajahnya. Mustahil, baru kali ini aku menemukan pria dengan raut wajah sedatar itu. Aku jadi ragu, sebenarnya dia manusia atau jelmaan jin berwajah datar.

 

Lupakan.

 

Dan pria dengan sejuta pesona dan berwajah datar itu ada di hadapanku sekarang. Kami memang sempat berpapasan dan dia memanggilku tiba-tiba. Dia tidak memanggil namaku, dan aku yakin dia belum mengetahui aku sebagai dokter baru di rumah sakit ini.

 

“Kenapa?” Tanyanya dengan nada terdengar datar dan dingin seperti raut wajah dan kepribadian-nya. Aku melirikku.  “Eh. Apa?” Tanyaku dengan suara ragu-ragu.

 

Pasalnya baru kali ini kami terlibat percakapan banyak seperti ini. Aku kira dia tidak akan mengeluarkan suaranya dan hanya mengandalkan deheman atau anggukan kepala untuk menjawab pertanyaan orang lain.

 

“Kenapa kau bersikap konyol?” Katanya. Aku menautkan alisku bingung. Dia ini bicara apa sih? Tidak jelas sekali.

 

Aku bersikap konyol? Katanya? Yang benar saja. Bukankah itu keterbalikan ya? Dia yang bersifat konyol dan sangat-sangat-sangat aneh. Kami bukan dokter ‘Gayung bersambut’.

 

Dan aku pun sangat keberatan menjadi dokter ‘Gayung bersambut’ dengannya.

 

“Konyol? Apa yang konyol?” Tanyaku. Dan aku bisa melihat nya menghela nafas. Aku tidak tahu dia menghela nafas untuk apa dan kenapa. Apa aku membuatnya kesal. Lihat saja wajah datar nya sekarang semakin bertambah datar.

 

Aku kasian dengan tembok Berlin dan tembok besar di China. Sepertinya mereka sudah kalah pamor dengan wajah tembok milik pria ini.

 

“Kau.” Katanya. Dan aku semakin bingung. Aku benar-benar tidak mengerti dengan pria ini. Dia seperti Enigma.

 

“Aku? Apa? Kenapa aku konyol?” Kataku. Dan tidak sadar aku sudah menaikkan sedikit nada suara ku.

 

“Kau dan sikap mu sangat konyol. Apa kau tak menyadari itu?” Katanya. Aku mendadak meriding saat mendengar nada suara nya. Benar-benar dingin seperti salju.

 

“Ehm, Kupikir kau salah orang.” Kataku. Dia hanya diam dan masih menatap tajam kearahku. Aku agak gugup

 

“Kau dari devisi lantai tiga kan?” Tanyanya. Aku mengangguk ragu-ragu.

 

“Dari devisi spesialis apa?” Tanyanya lagi. Aku rasa orang ini banyak tanya sekali.

 

“Aku dari devisi spesialis Obstetri & Ginekologi.” Jawabku. Dia mengangguk

 

“Spesialis kebidanan.” Gumamnya lalu berjalan melewatiku. Aku melirik kearahnya dengan mulut terbuka lebar dan raut wajah bingung dan tak habis pikir karena sikap nya yang aneh.

 

Aku menoleh kebelakang menatap punggug pria tembok yang semakin menjauh dan akhirnya hilang di belokan koridor menuju ruangan Devisi spesialis bedah syaraf. Apa dia salah satu dokter di devisi itu ya?

 

“Pria itu benar-benar aneh. Dia berbicara padaku tapi seperti bicara dengan orang lain.” Kataku lalu kembali berjalan menyusur lorong koridor di Lt. 5.

 

 

Aku dan Taeyeon serta beberapa dokter dari devisi yang berbeda denganku sedang menghabiskan waktu makan siang di kantin umum yang terletak di lobby gedung. Di kantin umum ini hanya terdapat beberapa dokter dari devisi yang berbeda-beda, dari Lantai satu sampai dengan lantai 4. Lengkap juga dengan para perawatnya.

 

Aku masih tidak habis pikir dengan tata gedung rumah sakit ini. Kantin di rumah sakit ini dibagi menjadi 2, kantin umum yang letaknya di lobby gedung, dan kantin khusus yang letaknya di lantai 4 dan lima. Dan yang membuatku lebih bingung kenapa juga hanya lantai empat dan lima yang diberi fasilitas kantin khusus.

 

Kenapa tidak disama ratakan saja. Bukankah kalau begitu aka nada kesenjangan social. Antara lantai 1 sampai 3 dengan lantai 4 sampai 5. Ada apa dengan dua lantai rumah sakit ini sebenarnya.

 

Kata Taeyeon lantai 4 dan lima merupakan surganya dokter-dokter hebat, berbakat, dan menawan. Baik itu dokter pria maupun dokter wanitanya.

 

Lalu apa bedanya dengan lantai tempat devisi ku berada? Di lantaiku juga banyak dokter-dokter jenius dan tak kalah menawan dengan dokter-dokter dari lantai 4 dan lima.

 

“Hei! Apa yang sedang dokter baru kita lamunkan, huh?” Aku menghela nafas sinis saat Taeyeon tersenyum miring kearahku.

 

“Apa makanan yang di sediakan kantin khusus di lantai empat dan lima lebih enak dan mewah dari kantin umum di lobby?” Tanyaku.

 

“Tentu saja sangat-sangat berbeda. Kantin khusus di lantai empat dan lima sudah seperti surga makanan ter-enak dan termewah di sepenjuru R.S.I Haesang.” Jawab salah satu dokter dari bagian devisi yang beda denganku.

 

“Pokoknya lantai empat dan lima bagaikan surga di R.S.I. Haesang. Bukan hanya kantin nya saja, tapi fasilitas dan dokter-dokter disana juga benar-benar membuatmu iri.” Sambung dokter wanita dari lantai yang berbeda denganku.

 

Kata-kata mereka hanya akan membuatku iri dengan kemewahan devisi lantai empat dan lima. Kenapa devisi ku tidak diletakan saja di lantai empat atau lima. Aku yakin, aku bakal betah berada di rumah sakit kalua fasilitas untuk dokternya saja semewah itu.

 

Rumah sakit ini bagaikan hotel bagi orang sakit. Tidak ada kesan menakutkan sama sekali kalau kau pergi berobat kemari.

 

Kami kembali berbincang-bincang, tapi semenit setelah itu keadaan kantin umum di lobby mendadak hening. Aku tidak begitu tertarik denga apa yang membuat keadaan kantin umum lobby yang tiba-tiba jadi seperti kuburan tanpa suara.

 

Aku masih fokus mengunyah makananku sebelum semuanya terganggu gara=gara Taeyeon menyenggol-nyenggol lenganku. Aku menggerutu sebal kearahnya tanpa mendongakan wajahku. Aku tidak terlalu mengerti dengan apa yang dikatakan Taeyeon, aku kembali melanjutkan makanku.

 

Tapi itu tidak bertahan lama. Seseorang dengan suara berat khas pria memanggil namaku. Aku mendongakkan wajahku, dan sedetik setelah itu mataku langsung mebelalak. Si pria tembok keturunan dewa Yunani ada di hadapanku sekarang.

 

Aku yakin wajahku terlihat konyol saat ini. Dengan mata membelalak lebar dan mulut penuh dengan makanan. Si pria tembok memandangku dengan wajah datar khas tembok nya.

 

“Dr. Choi, bisa ikut aku sebentar. Ada yang harus kita bicarakan.” Katanya. Aku terpaku beberapa saat. Taeyeon menyenggol lenganku membuat kesadaranku kembali.

 

Si pria tembok masih menatapku dengan tatapan mata tajamnya, dan itu sedikit membuatku takut.

 

“A- apa? Kau tadi berkata apa?” Tanyaku. Sial! Aku yakin semua orang di kantin menertawakan kekonyolanku.

 

“Setelah makan siangmu selesai, ke ruang kerjaku. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” Katanya. Aku hanya mengangguk gugu tanpa menjawab ucapanya.

 

“Dan usahakan datang tepat waktu. Aku tidak suka dengan wanita lelet.” Lanjutnya dan langsung pergi dari hadapanku.

 

Aku menatap punggung pria itu dengan tatapan tak percaya. Ya tuhan, ternyata ada juga manusia dingin seperti itu.

 

“Ehem.. kurasa kau harus menghabiskan makan siangmu dengan cepat, Dr. Choi. Sang pangeran es meminta mu datang ke ruangannya. Dia tidak suka wanita lelet.” Aku melirik kesal ke arah Taeyeon. Dia kembali berulah lagi.

 

“Sial! Ada urusan apa si pria tembok itu denganku? Kenapa aku harus datang ke ruangannya.” Sungutku.

 

Taeyeon kembali menyenggol lenganku.  “Hati-hati, pheromone seorang Dr. Cho sangat kuat. Jangan sampai kau tidak sanggup untuk meninggalkan ruangannya.” Ledeknya.

 

“Ingat kata-kata ku, Kim Taeyeon. Aku tidak akan mempan dengan pesona pria tembok itu. Dia dokter yang sombong. Menyebalkan.” Kataku dengan nada yakin.

 

“Jangan bicara sembarangan. Bagaimana kalau kata-katamu menjadi boomerang bagi dirimu sendiri. Aku tidak takin kalua kau tidak terikat dalam pesona Dr. cho.” Aku hanya mendelik.

 

“Kau tidak habiskan makananmu, Soo?” Tanya Taeyeon saat aku bagkit dari dudukku dan bersiap meninggalkan area kantin.

 

“Sudak tidak bernafsu. Si pria tembok akan mengomel kalua aku sampai terlambat.” Kataku lalu berjalan meninggalkan kantin menuju ke lift untuk sampai di lantai lima.

 

Setelah sampai di lantai lima, aku bertanya kepada seorang receptionist. Aku hanya menyebutkan ciri-ciri sip ria tembok, karena aku belum mengetahui namanya sampai saat ini. Begitu aku katakana ciri-cirinya, si receptionist langsung tahu, dan dia menunjukkan sebuah ruangan yang berada di paling pojok lorong.

 

Aku mengangguk menggumamkan ‘Terima kasih’. Aku agak gugup, karena ini pertama kalinya aku dan sip ria tembok itu saling bertemu dengan waktu yang mungkin agak lama. Entahlah, aku merasa pertemuan pertama kami saat ini akan memakan waktu agak lama.

 

Aku mengetuk pintu ruangannya. Dia menyuruhku untuk masuk, sebelum masuk aku menghela nafasku. Rasa gugup ini benar-benar menganggu.

 

Si pria tembok masih berkutat dengan dokumen nya padahal aku sudah ada di hadapannya. Melirik asaja dia tidak, apalagi menyuruhku untuk duduk. Dasar menyebalkan.

 

“Apa ada yang ingin anda bicarakan, Dokter?” Tanyaku se-sopan mungkin.

 

Si pria tembok itu akhirnya melirikku. Dia menyuruhku duduk. Suasana menghening beberapa saat, karena sip ria tembok tidak bicara apa-apa. Dia hanya menatap lurus kearahku dengan tatapan tajamnya.

 

Aku benar-benar gugup saat ini.

 

“Tidak perlu bersikap terlalu formal begitu. Aku lebih suka dengan wanita yang bersikap santai.” Katanya.

 

Aku mendongakkan wajahku dan melirik sekilas kearahnya.

 

Sialan sekali!

 

Memangnya siapa yang membuatku tidak bisa bersikap santai.

 

“Hm. Baiklah. Apa ada yang ingin kau bicarakan denganku, Dokter?” Tanyaku.

 

“Aku memiliki seorang pasien yang harus di operasi. Dia menderita kanker rahim dan peradangan pada selaput otak nya. Bukankah dia akan menjadi pasienmu juga.” Katanya. Aku mengangguk.

 

“Suaminya memohon kepadaku untuk menyelamatkan istrinya. Aku sebagai dokter tentu akan melakukannya. Tapi aku hanya mampu menangani peradangan selaput otaknya. Untuk masalah kanker rahim, aku serahkan padamu.” Aku kembali mengangguk.

 

“Aku juga akan berusaha menyelamatkan wanita itu.” Kataku dengan nada mantap.

 

“Aku harap kita bisa bekerja sama menangani masalah pasien yang satu ini, Dr. Choi.” Katanya. Aku mengernyitkan dahi bingung.

 

“Kenapa kita harus bekerja sama? Bukankah kita bukan dari devisi yang sama.” Kataku. Si dokter berwajah es melirikku datar.

 

“Wanita itu memiliki masalah di bidang mu dan bidang ku. Tentu saja kita harus bekerja sama. Kau bisa membantuku kalau aku membutuhkanmu.” Katanya. Aku sedikit terkejut. Hanya sedikit.

 

“Hanya untuk masalah pasien wanita ini. Apa kita bisa bekerja sama, Dr. Choi?” Tanyanya.

 

Aku hanya mengangguk.  “Ya, kurasa kita bisa bekerja sama, Dr. Cho.” Kataku.

 

Kami saling berjabat tangan. Aku merasakan getaran aneh saat tagan kekarnya menyentuh tanganku. Keras seperti tembok. Seperti orangnya.

 

 

To Be Continue…

 

A/N: Next chapter mungkin bakal ketahuan deh kalo mereka itu di jodohin. Tapi itu masih bayangan ku yaa. Untuk next chapter bakal mulai muncul soft konflik nya.

Maaf kalo masih banyak typo bertebaran, gak aku edit ulang soalnya😀😀

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

12 thoughts on “[SERIES] Closer -Chapter 3

  1. Choi Ahra November 10, 2016 / 6:26 AM

    Kyuhyun gitu banget suh dinginnya..
    Huhuu..
    Kasian Sooyoung..
    Tapi Sooyoung ga boleh kalah.
    Sooyoung harus kuat..

  2. Elis sintiya November 10, 2016 / 7:02 AM

    Kyuhyun sikapnya kebangetan banget ya.. kan belum tentu sooyoung sama ‘dia’ itu sama.. siapa tahu keptibadian dan sikap mereka berbeda hanya saja secara fisik mereka hampir mirip… dan penasaran bgt sama yang namanya ‘dia’ semoga part berikutnya di tunjukin namanya…. akhirnya kyuyoung ada moment berdua siapa tahu abis ini mereka lebih deket dan Kyuhyun akan jauh lebij mengenal sooyoung..

  3. ajeng shiksin November 10, 2016 / 9:31 AM

    Kenapa kyuhyun muka nya tembok banget yak ..
    Gimana yak reaksi mereka ql tw mereka bakal di jodohin . trus kyuhyun bakal bales dendam lewat sooyoung enggak yak ??
    Ditunggu kelanjutan nya

  4. may November 10, 2016 / 11:03 AM

    Ada ap dgn ms laluny kyu???? Mkin pnasaran msh byk tnda tannya d part ni.
    Gmn reaksi mreka kl tau d jodohin, ap kyu msh ttp lnjut mo bls dndam k sooyoung gr2 muka mrka mirip???
    Lanjut trs ffny kyny seru nih d part nnt🙂 fighting….🙂

  5. dekyusoo November 10, 2016 / 7:01 PM

    yuhuuuu.. akhirnya di post..
    kyuhyun dingin bgtttttt…
    ditunggu a next nya..
    selalu semangat author…

  6. cerlut November 10, 2016 / 9:13 PM

    penasaran sama wnita masalalu kyu oppa, apa wajahnya mirip soo eonnie ato cuma matanya aja yg mirip.
    kyu oppa benar2 dingin, trusterangnya aku ngebayangin endingnya, kyak gimana ya endingnya, kalo dilanjutin ni ff sampe ending ya aku bersyukur, klo gk, yah disayangkan. soalnya banyak banget ff kyuyoung yg aku baca gk tuntas2. ksalahan para readers jg sih, ada aja readers yg gk memberikan kometar disetiap ada ff. aku harap ff ini tuntas sampai ending

    NEXT…………….

  7. kyura November 12, 2016 / 8:05 AM

    Jngan” kyu tembok yg bsa berjalan 😄.
    Ohya kyu gak tau k klw dia mw dijdohkn ama soo??
    Nexy yahh

  8. nzizzh November 12, 2016 / 4:28 PM

    Woyyy kyu enak ajahh si sooyoung sama sama in dgn si dia emang dia nya siapa sihhh penasarann aku jadinya dann satu lagi kyu dia sma sooyoung beda jauhh tau ga Jdi stop ya nyamain sooyoung sam dianya kamu ihh nyeebelin😒😒

    nah lohh sooyoung ada getaran apa hayooo hahaha ..
    Nextnya ditunggu sekali..

  9. saufadillani November 12, 2016 / 4:41 PM

    Kyu dingin amat, btw kyu belom tau dia dijodohin sama soo?
    Alurnya kelambatan, tp tetep bikin penasaran gimana kelanjutannya dan endingnyaa..
    Semangat thor, cepetan yaa

  10. one656kimhyunra November 15, 2016 / 5:37 AM

    Itu si “Dia” siapa sih, sampe kyu jd halu gtu. Berdelusi. Dia harus ke dokter psikis..

    Cie, akhirnya berkomunikasi juga mereka. Itu kyuhyun tidur dimana? Gada yg denger dia heri ngomong kyk gtu ama halu nya..

    Next next
    semangat..😀😀😀
    ga sabar pen tau reaksi syoo pas tau kyu yg d jodohin ama dia. Hahaha

  11. yani yanuari November 22, 2016 / 10:22 AM

    ya tuhan Cho kyuhyun,,,, knpa nada bicara’a dingin bnget sedingin es balok Ckckckck -_-” yng sabar yaa soo eonni, eonni pasti bisa menghadapi es berjalan it…. fighting keep Waiting next part min

    • Kyoung November 23, 2016 / 6:19 PM

      Sipp.. ditunggu aja ya kelanjutannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s