JIYOUNG – Chapter 05.5

Title: JIYOUNG
Author: Fanneey and Fadhilah
Genre: Thriller, Psychological, Romance
Rating: NC+17
Length: Series
Pairing(s): Doojoon/Sooyoung, Suga/Jiyoung, Suga/Suzy.
Cast(s): Choi Sooyoung [SNSD], Yoon Doojoon [BEAST], Bae Suzy [Miss A], Kang Jiyoung, Min Yoonki [BTS], Park Jimin [BTS], Kim Taehyung [BTS].
Summary: Choi Sooyoung mengakhiri masa mengajarnya dengan menyelidiki fakta kematian para siswi yang mengerikan.

Jiyoung-poster

***
Chapter 05.5 – Recaps

Cerita ini bermula di Anhyun High School, tahun ajaran 2006 silam.

Semester baru telah dimulai di bulan April. Dimana semua murid menghela nafas lega dengan pertanda masuknya tahun ajaran baru, masuknya angkatan baru. Hari ini tepat upacara penyambutan murid baru.

Rutinitas seperti biasa. Yoon Doojoon tengah menyampaikan sambutannya di atas podium setinggi dada beralaskan karpet merah bak orang penting. Ada yang tengah serius mendengarkan kata sambutan, ada yang sibuk berkirim e-mail, namun tidak sedikit murid yang acuh dan malah mengobrol.

“Jadi, kami ucapkan selamat datang untuk para murid baru!” masih dengan senyum mengembang yang kentara di wajah, Doojoon lantas turun dari podium bersamaan dengan tepukan tangan para siswa-siswi.

“Sambutan yang bagus untuk ukuran guru baru sepertimu.” Yang bersetelan jas biru necis terkekeh menanggapi komentar Choi Sooyoung, beberapa langkah setelah ia ke luar dari ruang aula, tempat dimana dilaksanakan upacara penyambutan tadi. Lantas keduanya bersitatap.

“Aku tersanjung.” Bisiknya pelan, “Kukira kau tidak peduli dengan apapun soal penyambutan murid baru itu, Choi-sonsaengnim.” Doojoon menyusul langkah Sooyoung.

“Kau kira,” penuturan pendek diliputi aura elegan serta kewibawaan ditangkap indera pendengar Doojoon, “aku peduli?”

***

“Sun-sunbae! Lepaskan aku!”

Pendengaran Doojoon tiba-tiba menangkap jeritan dari arah samping. Anak perempuan, sayup-sayup terdengar tangisan kecil setelahnya. Doojoon menoleh, dimana suara rintih dan isak yang kian menjelas itu terdengar. dilangkahkan kakinya mendekat menuju suara itu hingga sampai di depan pintu toilet siswi.

“Sun-sunbae … hiks … lepaskan …,”

“Ini termasuk upacara ritual penyambutanmu di sini, jadi terima saja!”

Kini disusul dengan suara guyuran air. Doojoon terkaget setelah mendengar cekikikan keras dari balik pintu kamar mandi bercat merah kusam.

Brak!

“Apa yang kalian lakukan?!” bentak Doojoon—mendobrak pintu kamar mandi tersebut. Terlihat Min Yoonki, Park Jimin, Kim Taehyung, dan Bae Suzy. Doojoon hapal betul empat wajah anak-anak bandel itu. “Minggir,” sambung Doojoon seraya mendekati titik utama penglihatannya, seorang siswi baru meringkuk di bawah wastafel—sepertinya baru dikerjai. “Bawa dia.” Titahnya.

Nametag siswi baru itu, Choi Sulli, keponakan Choi Sooyoung.

***

“Choi Sulli!” Sooyoung melewati ambang pintu ruang kesehatan dengan tak sabar. “Sulli-yah!”

“Sooyoung-sam …,” Sulli bersusah payah duduk di tepi ranjang dengan sisa tenaganya. Lekas Sooyoung mendekati sosok lemah itu lalu membantunya duduk dengan nyaman.

Gwenchanayo?” Sooyoung bertanya (meski ia harusnya tahu tidak ada yang baik-baik saja di sini).

Gwenchana,” jawab Sulli, nada meyakinkan disertai senyum.

“Tubuhmu dingin tapi suhu tubuhmu tinggi.” Sooyoung menempelkan punggung tangannya dengan dahi Sulli. “Berapa suhu tubuhnya?” menoleh, menanyai Kwon Sohyun, siswi palang merah yang berjaga hari itu, tengah merekap data pasien di meja konsultasi.

“Ah, sebelumnya empat puluh derajat Celcius, tapi saya rasa sudah turun.” Sohyun mendekati sosok Sulli lalu menyelipkan termometer lagi diantara ketiaknya. “Kita tunggu saja.” Ucapnya, kemudian kembali pada kesibukannya yang tertunda tadi.

“Tiga puluh sembilan derajat.” Sooyoung menggumam melihat angka yang tertera di termometer. “Istirahatlah di rumah.” Sambungnya.
Sulli adalah satu-satunya keponakan Sooyoung. Sooyoung menyayangi Sulli setelah ia menyayangi Ayah dan Ibunya. Tiffany, kakak ipar Sooyoung, menikah dengan Siwon—kakak laki-lakinya dan Sulli adalah buah hati mereka.

***

Min Yoonki menyampirkan ransel di pundaknya. Melangkah pelan menyusuri gang gelap nan sempit—jalan pintas menuju rumahnya. Hanya sekitar tiga blok dari sekolah. Mentari sudah lama terbenam di ufuk barat dan jarum jam tangannya menunjukkan pukul tujuh malam.

Tik.

Oh, sial. Suga mengutuki tetes hujan yang kian menderas. Menghantam tanah tanpa belas kasih. Bunyi kecipak langkah mendominasi gang itu. Tetapi … langkahnya terhenti akibat langkah seseorang di belakangnya membuntuti.

Suga menoleh dan biji matanya menangkap sosok anak perempuan dengan rambut basah yang dikucir satu berlari terengah-engah ke arahnya—tidak, bukan, ke tempat berteduhnya kini, emperan toko yang sudah tutup.

Kang Jiyoung. Ah, gadis ini. Suga ingat betul Suzy, Jimin, dan Taehyung sering menjahilinya.

“Kau basah.” Ujarnya, suara Suga berbaur dengan riuh hujan. Kaku.

“Yoonki-ssi,” panggil Jiyoung, lalu tersenyum. Suaranya seperti pecahan kaca yang jatuh. Bodoh, itu bukan itu jawaban yang kuinginkan. Menggosoki kedua tangannya kemudian. Suga dapat melihat pundak anak perempuan itu gemetar, kedinginan.

“Kau menggigil.” Simpulnya tanpa diminta. Suga melepas jaket hitamnya lalu melemparnya semena-mena pada Jiyoung. Jiyoung memberinya tatapan tanya. “Err—itu, pakai saja.”

Khamsahamnida.”

***

“Baiklah, pelajaran cukup sampai di sini.” Choi Sooyoung membenahi perabotan mengajarnya lalu memasukkannya ke dalam tas hitam miliknya—pertanda tiga mata pelajaran berakhir sudah di kelas 2-B.

“Bae Suzy,” Sooyoung memanggil nama salah satu siswi. Suzy menghentikan langkah, membiarkan ketiga kawannya (Suga, Jimin, dan Taehyung) ke luar kelas lebih dulu. Namun ego tingginya tak membiarkan Suzy membalikkan tubuh, ia tatap raut Sooyoung. “Bisakah kau luangkan waktumu sebentar? Ada yang harus aku bicarakan denganmu.”

“Tidak.”

Sooyoung menatap Suzy—sedikit geram, meremas pegangan tasnya tanpa sadar. “Jangan ganggu Choi Sulli.”

“Bukan urusanmu.”

***

“Suga,” Suzy menarik suara, “apa kau sungguhan menjadikan Kang Jiyoung sebagai kekasihmu?” pertanyaan itu berhasil ikut menarik perhatian Jimin dan Taehyung.

Suga belum merespon, sepersekian detik mimik wajahnya berubah, tak lagi menunjukan jika ia sedang berpikir. “Ya.”

“Tapi, bukankah secara tak langsung kau meminta kita untuk tak lagi mengganggu dia?” protes Suzy. Taehyung membela, bahwa Suzy ada benarnya. Ini berarti menjadikan sedikit target buli mereka. Jimin pun tak terima.

Namun—“Kang Jiyoung tetap kekasihku.” Suga pergi begitu saja meninggalkan mereka. Sementara Suzy marah dan kecewa, ada satu hal yang Suga tidak tahu, mengenai Jiyoung dan dirinya.

***

Keheningan dalam mobil menemani Suga dan Jiyoung. Senyum terukir di wajah Jiyoung. Ia lirik orang di samping kirinya—hendak berbicara namun tidak jadi karena ponsel Suga berdering.

Yoboseyo?” Suga fokus dengan panggilannya. Jiyoung hanya duduk dan menatap, menunggu Suga selesai berbincang.

BIP! BIP! Mobil dari arah berlawanan tahu-tahu mengklakson. Jiyoung menengok ke jendela mobil, dan orang di kemudi mobil sebelah menunjukkan ke depan. Ia tak mengerti maksud orang itu sampai—

CKIIIT! Suga membanting stir mobil dan menabrak pembatas jalan.

***

Bayang-bayang warga terlihat berkumpul. Mobil yang menabrak pembatas jalan dengan dua orang korban, sedangkan tak jauh dari situ orang-orang juga mengerumuni sesuatu. Hingga mata itu kini terbuka, tanpa rasa sakit Jiyoung dibantu seseorang ke luar dari mobil, dilihatnya Suga berlumuran darah tak sadarkan diri. Namun rasa penasaran lain justru membawa Jiyoung mendekati kerumunan di ujung jalan.

Ia orbitkan pandangan ke satu titik.

Umma!”

***

Suzy menyalahkan Jiyoung perihal kecelakaan malam itu. Jiyoung tak mengelak selain diam dalam tunduk dan mimik lurus. “Ini terjadi karena kau! Kau yang membuatnya tak sadar dimana dia! Kau yang membuatnya lupa sedang apa dia! Kau yang membuatnya lupa sedang bersama siapa dia!”

Di rumah sakit, Suga belum juga sadar. Suzy menggenggam tangannya erat sekali sembari menangis. Jimin merasakan sakitnya juga, Suga merupakan teman yang loyal meski sesekali mereka berbeda paham. Taehyung yang tak tahan suasana seperti itu lalu ke luar ruang rawat, hingga aksidendal sorotnya menangkap Jiyoung berbelok ke satu tempat—kamar jenazah.

***

Sooyoung termenung di hadapan cermin-cermin besar yang memberinya refleksi. Ia bangkit, meliuk tangannya ke udara. Tatapan tajamnya beradu dengan bayangannya di cermin. Wajah sepucat kertas itu membuatnya jengah. Dengan hati-hati ia berjinjit dan melangkah anggun—tarian black swan.

Tepukan tangan dari arah belakang membuat tarian itu mengambang. Sooyoung membalikkan tubuh dan ada seseorang yang mematung di ambang pintu balik menatapnya.

“Berhenti menguntitku, Yoon Doojoon.” Sooyoung menyeka peluhnya kemudian menepi ke sisi ruangan untuk mengambil minum.

“Kau mengajar tari juga rupaya,” Doojoon mengangguk. Sooyoung mengusap tetesan air yang melewati sudut bibirnya, lalu ia menutup kembali botol minum itu.

“Kelasku akan mulai lima menit lagi.”

“Kalau begitu kita punya lima menit untuk mengobrol.”

Sooyoung mengela napas—menyerah. “Terserah.” Tukasnya. Doojoon mengembangkan senyum begitu tahu ia menang.

***

“Son Naeun?”

“Hadir.”

“Hong Yookyung?”

“Hadir.”

“Oh Hayoung?”

“Hadir.”

“Choi Sulli?” Tak ada sahutan. “Choi Sulli?” Sooyoung mengulang, dan hasil nihilnya sama. Manik bulatnya menelurusi ruang latihan tari itu, namun tak diperolehnya wajah manis milik anak perempuan bernama Choi Sulli itu. “Ada yang melihat Choi Sulli?” ditanyainya murid-murid itu.

Naeun mengangkat tangan. “Kami datang bersama, tapi dia tak kembali semenjak dari ruang ganti.”

“Biarkan saja, dia membolos dan kerugian ada padanya.”

“Tapi …,” Naeun tampak ragu-ragu.

***

Pukul lima sore kelas tari berakhir. Doojoon menunggui Sooyoung selesai namun sosok lain yang tak diduga menemuinya.

“Doojoon-sonsaengnim!” Doojoon menghampiri Naeun tergesa. Naeun tengah memapah tubuh Sulli yang terkulai lemas di bahunya. “Aku … menemukannya pingsan di toilet siswi.” Naeun hampir menangis, peluh bercucuran. Sigap Doojoon membopong Sulli.

Naeun mengangguk lemah ketika diperintah untuk memanggil Sooyoung-sonsaegnim segera. Ia segera berlari menuju ruang guru tatkala Doojoon melesat ke UKS dengan Sulli di gendongan. Sepasang mata menyorot tajam di balik tiang penyangga bangunan. Memerhatikan

***

Dibukanya pintu UKS tanpa sabar. Sooyoung sudah menangis sepanjang ia berlari ke mari. Sooyoung mengelusi punggung tangan Sulli, kemudian menggenggamnya erat sekali. Sooyoung dan Doojoon menanyai kronologis kejadiannya pada Naeun dan dengan terbuka Naeun mengungkap semuanya.

“Aku sempat mendengar suara-suara aneh dari kamar mandi siswi saat aku hendak ke toilet. Aku bersembunyi di balik tembok dan beberapa menit kemudian orang-orang itu ke luar. Tak ada suara aneh lagi setelahnya. Aku pun masuk. Tapi yang kutemukan malah Sulli dalam keadaan …,” suara Naeun serak karena menangis parah—dan ketakutan.

“Siapa orang-orang yang kau bicarakan?” tanya Doojoon.

“Suzy dan gengnya ….”

***

Keesokan harinya.

“Yoon Doojoon,” kata guru muda tersebut dan menaruh kapur di pinggir papan tulis setelah menuliskan namanya besar-besar. “Itu namaku, tapi kalian bisa memanggilku Doojoon untuk lebih akrabnya. Aku tidak biasa dipanggil Sonsaengnim.” Doojoon melihat kekakuan di wajah murid-muridnya tersebut dan tertawa renyah. Kelas 1-A tampaknya kebagian Guru Fisika tampan dan muda sebagai wali kelas, beberapa siswi terkikik senang sekaligus malu.

Setelah pembukaan sederhana, ia mulai mengabsen. Sampailah pada nomor sembilan bermarga tak asing, “… Choi Sulli?”

Semua kepala di kelas 1-A menoleh ke satu-satunya angku yang kosong di tengah kelas. “Ah, benar. Choi Sulli-haksaeng sedang sakit flu.” Jelas Doojoon—walau ia rasakan keganjilan di sekitar. Sebab semua tahu bahwa Sulli tidak hadir bukan karena flu.

***

Sooyoung memprotes sepanjang Doojoon melangkahkan kaki. Flu konyol! Sulli-ku menerima kekerasan seksual dan apa kau bilang? Doojoon menutup mulut Sooyoung dengan ajakan menengok keadaan Sulli. Sooyoung bungkam masih dengan dendam, tidak terima, ia berpikir untuk menendang ke luar empat murid kurangajar yang menyakiti Sulli. Di lain pihak ternyata Jiyoung ada di sana dan mendengar semuanya, ia menawarkan diri agar bisa ikut mengunjungi rumah Sulli.

Sorenya seusai bubaran sekolah, sesuai rencana mereka pergi ke rumah Sulli—yang tak lain adalah rumah kakak laki-laki Sooyoung sendiri, Choi Siwon.

Tiffany mempersilahkan mereka masuk dengan senyum. Mereka duduk di ruang tamu, ditawari teh—suasana yang terlalu normal. Doojoon merasa inilah waktunya, “Bolehkah kami melihatnya?”

Tiffany tersenyum kecut. “Aku tidak yakin, malah kupikir Sulli kami harus pindah sekolah.” Bahkan ia tidak menjawab apakah mereka boleh melihat Sulli atau tidak.

“Tiffany-ssi,” sela Sooyoung, seolah menghalangi Doojoon berbicara lebih jauh. “Ini materi pelajaran yang tertinggal oleh Sulli, temannya meminjamkan buku untuknya.” Tiffany menerima map berisi catatan pelajaran itu setelah mengucap terimakasih.

Sampai mereka hendak pamit pulang, Doojoon tetap tak berhasil membujuk Tiffany mengizinkan mereka melihat keadaan Sulli. Selepas tiga insan itu pergi. Tiffany menutup pintunya lantas menaiki tangga seraya membawa senampan makanan menuju pintu kamar Sulli.

“Sulli sayang, buka pintunya.”

Pintu tidak dikunci maka Tiffany masuk tanpa ada sahutan dari Sulli. Sulli meringkuk di sudut kamar, membenamkan kepalanya di antara kedua lututnya. Rambut panjang dan gimbal bukti tak dicuci selama seminggu. Tubuh bau dan penuh daki. Tiffany menahan tangis.

Gara-gara mereka, Sulli kecilku jadi seperti ini.

Tiffany mendekat dan menyentuh ujung rambut Sulli setelah menyimpan nampan makanan tadi di sebelahnya. Sulli mengangkat wajahnya kaget, memperlihatkan matanya yang bengkak, ada lingkar hitam di bawahnya.

“Sudah kubilang menjauh dariku!” Sulli mendorong Tiffany diikuti teriakan. Tubuh Tiffany beradu dengan tembok. Tiffany terduduk lalu menangis. Makhluk nista itu kini berlari keluar kamar meninggalkan Tiffany. “ARRRRGGGHHH! TINGGALKAN AKU SENDIRIAN!” jeritan Sulli menggila.

“Sulli-yah!” Tiffany menggedor-gedor pintu kamar mandi dengan panik karena mendengar jeritan Sulli lagi dari dalam. Pintu terbuka dan menampakkan makhluk itu dalam keadaan mengenaskan. Tisu toilet berceceran. Air meluber kemana-mana. Sementara Sulli sibuk mengelapi toilet dengan tisu tanpa ingin meninggalkan seinci pun sidik jarinya.

“MINGGIR!” pekik Sulli saat Tiffany mencoba membantunya. “JANGAN SENTUH AKU!” didorongnya lagi tubuh sang ibu. Inilah alasan sebenarnya Tiffany tak izinkan Doojoon membawa Sulli ke sekolah. Inilah alasannya tak ada yang boleh tahu keadaan Sulli. Karena Sullinya yang manis telah berubah menjadi monster yang menyeramkan karena syok dipaksa menerima tindak asusila yang tak seharusnya.

Dari luar, bagunan dua tingkat itu tak mampu meredam teriakan-teriakan Sulli. Jiyoung mampu mendengarnya, dan sedikit menengadahkan kepalanya ke balkon rumah Sulli.

***

Ditemani cuaca agak mendung yang menyorot dari jendela kelas, Sooyoung memasuki ruang kelas 2-B, berdiri di depan whiteboard setelah meletakkan tasnya di meja. Tak ada yang peduli, para murid asyik mengobrol sambil menikmati sekotak susu produk percobaan dengan riang.

Sooyoung berdeham, kelas tetap bising.

Taehyung melambungkan bola basket kemudian melemparkan bolanya pada Lee Sungjong yang duduk paling depan. Spontan Sungjong tersedak, memuntahkannya dari mulut sebab lehernya tertubruk bola basket. Anak-anak lain menertawakai kebodohannya. Sungjong berlari keluar kelas dengan wajah merah padam.

Jimin sengaja menjatuhkan kotak susu ke lantai. Cairan putih membuat basah dan licin, menyebabkan Jung Soojung terpeleset jatuh dengan rok tersibak. Jimin bersiul menggoda diikuti siswa lain. Soojung terseguk kembali ke bangkunya.

Hanya ada tiga anak yang tidak ikut meramaikan kebodohan kelas—Suzy, Suga, dan Jiyoung.

Kelas tidak akan berhenti ribut jika saja Choi Sooyoung tidak menggoreskan kapur ke papan tulis dengan kasar. Membunyikan suara decit berkepanjangan dan membuat murid-murid menutup telinga.

Attention please.” Katanya tegas. Ia tidak peduli ada murid yang sedang berkeliaran di luar dan membolos, atau pun Sungjong yang belum kembali dari kamar mandi. Sooyoung berdiri di tengah-tengah mereka sambil mengacungkan benda kecil-tipis-bundar bergambar wanita yang memakai bikini. “Ini CD blue film yang aku sita dari Kim Jongin kemarin. Dia menghilangkan mozaiknya secara digital di rumah Park Jimin dan berencana memberikannya pada semua siswa di kelas ini.” Sooyoung menurunkan CD tersebut dan berjalan ke depan kelas. “Aku yakin kalian memahami bahwa gejala perubahan tubuh dan hawa nafsu seperti ini disebut dengan pubertas. Keefektifan nutrisi susu untuk tubuh kalian bisa dilihat pada pemeriksaan kesehatan bulan Mei nanti.”

Sooyoung mendatangi meja Jongin dan meletakkan CD film porno itu di sana.

“Meskipun saat itu aku sudah tak berada di sini lagi.” Sooyoung kembali ke mejanya, menatap para murid yang tidak juga memberikan respon selain Jiyoung. “Aku punya banyak kepentingan selain menjadi guru, jadi ini adalah bulan terakhirku mengajar.” Kali ini kalimatnya ampuh menarik perhatian Ketua Murid Lee Taemin—bangkit dari bangkunya, terkaget.

“Kau pasti bercanda!”

Murid lain ikut bangkit dari kursi masing-masing dan berseru senang, bergandengan tangan dengan teman sebangku dan saling mengucapkan selamat. Akhirnya salah satu guru yang tidak mereka sukai akan hengkang juga.

“Aku tidak tahu apakah aku telah menjadi guru yang baik atau tidak dan, aku tidak peduli bagaimana pandangan kalian terhadapku.” Lanjut Sooyoung.

Kali ini semua murid duduk dengan rapi di bangku mereka masing-masing. Tetapi celotehan masih berlangsung. Bahkan Taehyung memainkan bola basketnya lagi dan melemparnya pada Sungjong yang baru kembali dari kamar mandi. Kali ini mengenai pipi. Ketika bola jatuh dan menggelinding ke lantai, Sungjong meringis kesakitan, memegangi pipinya yang memerah. Seisi kelas mentertawainya.

Brak! Taemin menggebrak meja dan menatap galak, ia bangkit dari kursinya. “Diamlah! Sonsaengnim sedang berbicara!” serunya—marah.

“Terimakasih, Lee Taemin.” Kata Sooyoung tulus. Taemin mengangguk lalu kembali duduk dengan tenang. “Ngomong-ngomong, kalian tahu beberapa gosip tentangku?”

“Aku tahu!” seru Suzy, “Kau biseksual.” Tawa sekelas kembali membahana.

“Benar,” namun Sooyoung membenarkan. Murid-murid kelihatan terkejut sebab mengira Sooyoung sungguh biseksual. “tapi kalian tak tahu apapun di baliknya.” Adalah kalimat yang sukses menimbulkan rasa penasaran. Sooyoung mendatangi meja salah seorang siswa. “Maafkan aku, Oh Sehun-ssi,” dia membungkuk kepada Oh Sehun agar kepala mereka sejajar. “meskipun kau mengirimiku e-mail pada tengah malam, mengatakan bahwa kau jatuh cinta padaku, aku tidak akan pernah bisa membalas e-mailmu.” Ia kembali berjalan pelan, setelah membuat Sehun bersemu.

Dua orang murid perempuan langsung saling berbisik. “Choi Sooyoung benar-benar biseksual!”

“Bukan karena alasan itu hingga tak menerima pernyataan cinta Oh Sehun. Ini hanya lelucon konyol dari seorang murid.” Jelas Choi Sooyoung. Tetapi kedua siswi tadi masih bergosip membicarakan hal yang sama.

Jimin memprovokasi. “Jadi kau tidak pernah mempercayai kami selama ini?”

“Iya, karena kalian semua pintar berbohong,” jawab Choi Sooyoung tenang. Termasuk kau dan ketiga teman berengsekmu. “Setiap ada siswa yang memanggilku secara pribadi, meskipun itu dari kelasku, aku akan meminta guru pria dari kelas lain untuk menggantikanku. Kalian bisa bertanya pada Oh Sehun yang pernah memanggilku, dan aku mendatangkan Yoon Doojoon padanya.”

“Menurutku itu tindakan yang tak bertanggung jawab sebagai seorang wali kelas, Choi.” Komentar Suzy sinis dan langsung disambut ledakan tawa.

“Kurasa ada benarnya.” Sahut Sooyoung. “Agar tidak menjadi manusia tak bertanggung jawab sepertiku, simaklah pelajaran terakhirku sebagai guru kalian, sekarang.”

***

“Pffftt—Hahahahaha!” Suzy memegangi perutnya yang kram kala tawanya semakin lahak. Kakinya dihentak-hentakkannya ke lantai, masih tertawa dengan puasnya. Tertawa kesetanan sampai-sampai matanya mengeluarkan airmata. Suzy berguling-guling di lantai kamar mandi. “HAHAHAHAHAHAHAHAHA!!!”

Sooyoung mengancam memasukkan darah pengidah Aids dalam susu yang ia minum? Tolol! Siapa yang bakal percaya lelucon itu?

***

Tepat 03.30 PM, Sulli baru datang ke sekolah seorang diri. Berdiri kaku di depan pintu ruang Kepala Sekolah. Sulli memegangi map merah berisikan berkas-berkas penting yang bersangkutan dengan syarat perpindahannya. Ia cengkram map itu erat-erat. Rambut panjangnya basah dan lepek, seragamnya kusut, sepatunya kotor sehabis menginjak lumpur. Mirip betul dengan gelandangan.

“Lihat siapa yang berani datang ke sekolah.” Sulli menoleh saat terdengar sebuah suara dari belakang—Suzy dan kelompoknya. “Gadis lemah … pengidap Aids?”

***

Sulli tergeletak tak berdaya di lantai kamar mandi. Wajah dan tubuh penuh lebam. Suzy puas melihatnya, lantas menepuki pundaknya dari debu dan melangkah angkuh. Taehyung meludah dengan sengaja lalu menyusul Suzy. Tetapi mereka berdua terhenti tatkala teriakan Jimin menginterupsi. “Kau! Berhenti di sana!” Jimin mendatangi sosok yang diteriaki tadi—Naeun, siswi kelas 1-A menatapnya ketakutan dengan kaki gemetar. “Kau melihat apa yang kami lakukan padanya?” Jimin menginterogasi. Takut-takut Naeun menggeleng. Rupanya ada tikus tak diundang. Jangan berbohong kepadaku, bodoh.

Jimin menarik kepala Naeun dan mencium bibirnya. “Jika kau punya nyali untuk laporkan kami kepada siapa pun, kau juga harus punya nyali untuk merasakan apa yang aku dan Choi Sulli pernah lakukan,” Naeun terbelalak menatap wajah Jimin. “atau kau mau sekarang? Agar darah kita bercampur saat ini juga?”

Ani—anieyo, Sunbae!” tolaknya terbata-bata.

“Tepati perkataanmu.” Ucap Jimin sebelum Naeun berlari terbirit-birit meninggalkan ia dan ketiga temannya, juga Sulli yang tak berdaya. Sementara itu, Suga berjongkok untuk menyentuh kulit pucat Sulli dan memeriksa nadinya—dan ia terkesiap.

***

Kasus pembunuhan Sulli membuat sensasi besar-besaran di Anhyun. Seseorang menyebarkan kabar burung bahwa pembunuhan itu dilakukan berencana oleh kelompok geng yang sudah tak asing lagi—Suzy, Taehyung, Jimin, dan Suga. Dari satu ke yang lain, sampai terdengar ke telinga para guru. Kelas 2-B ricuh membicarakan empat tertuduh pembunuh.

Sepasang manik Jiyoung melanskap seluruh penjuru kelas. Sooyoung-sonsaengnim, tak ada yang berubah setelah Anda pergi.

“Teman-teman! Aku punya pengumuman!” Lee Taemin si Ketua Kelas berdiri di hadapan teman-temannya. “Aku menemukan sebuah situs website dengan foto-foto pembunuhan Choi Sulli!” serunya semangat seolah kematian Choi Sulli suatu hiburan yang layak diperbincangkan. Semua murid langsung menujukan perhatian padanya.

“Kau gila?”

“Jangan bicarakan issue, please.”

“Tidak, serius. Seseorang mengupload foto-foto mengerikan itu dengan menggunakan username Jiyoung.” Taemin menatap satu-satu wajah horor temannya. “Lihat ini! Aku yakin photoshop tidak sampai secanggih ini!” Ia mengambil ponsel di saku almamaternya kemudian menunjukkan foto-foto dari situs tersebut. Soojung menjerit histeris. Jongin menutup mulutnya menahan mual.

“Apa yang menjulur dari lehernya? Apa itu usus?”

“Mana ada usus di leher, kau bodoh ya.”

“Kenapa pembunuh itu menggundulinya?”

“Mungkin, karena rambutnya bisa dijual?” jawab Taemin asal. Soojung meninju bahunya dan Taemin meringis kecil.

“Kira-kira siapa pemilik username Jiyoung psikopat itu?” tanya Sehun yang biasanya tak banyak berkomentar.

“Manusia, tentu saja.” Taemin mengangkat bahu, tetapi diam-diam pandangannya tertuju pada Suzy, Taehyung, Jimin, dan Suga bergantian. Sehun dan anak lainnya mengikuti arah pandang Taemin dan mereka mengerti suatu sinyal.

“Jiyoung? Jiyoung apa? Kim? Nam? Jung? Kwon?” Jongin menerka-nerka. “Atau… Kang?” tebaknya ngeri.

“Kang Jiyoung? Jangan gila. Cewek kundere itu bicara saja susah, apalagi bunuh orang.”

Username Jiyoung bukan berarti nama aslinya juga Jiyoung.”

“Ah iya, kau benar.”

“Hih. Cara picisan.”

Mulut-mulut ember itu tak henti berkomentar semau mereka tanpa peduli tingkat kebenarannya.

Apa yang mereka bicarakan? Apa yang Anda cari? Apa yang sebenarnya terjadi, Sonsaengnim?

Mendengar perbincangan itu, di penjuru yang tak terlihat dan tak disadari siapa pun, seorang murid menarik lengan panjang kemejanya dan menampakkan inisial J di lengan bawah kulit putih pucatnya. Inisial yang digoresnya dengan silet hingga daging merahnya tak tertutupi.

BRAKKK!

Empat kepala sontak menoleh ke sumber suara. Pintu kelas bercat kusam itu didobrak dengan tidak sabar oleh mantan Guru Wali Kelas 2-B. Suzy menatap wanita jangkung itu tenang. Taehyung merasa ada yang tidak beres, maka ia menjauh dari meja Suzy dan duduk di sebelah Suga, bangku teraman untuk saat ini.

“Kalian benar-benar akan mati,” bisikan itu menyelinap masuk pada tiap pasang telinga murid di kelas, terutama pada empat orang. Sooyoung menyambung dengan nada yang lebih rendah, “tidak ingatkah aku pernah memasukkan darah Choi Sulli pada tiga kotak susu di kelas ini?”

Suzy mengangkat sebelah alisnya. Cih, mau apa lagi wanita ini.

“Aku memasukkannya pada kotak susu yang kalian minum,” seluruh penjuru kelas akan tahu siapa kalian yang dimaksud.

“Kau berharap aku berteriak lalu bunuh diri?”

“Terlalu dramatis.” Sooyoung mendelik ketika Suzy mendecih. Seisi kelas hening. Ingin tahu apa yang akan dikatakan Sooyoung selanjutnya. Perdebatan Sooyoung dan Suzy sebelumnya tak pernah seserius ini. “Sebelum kau berteriak, kau bahkan tak dapat merasakan ngilu lagi.”

“Kau mengancamku, Sonsaengnim?”

“Maaf? Dengan siapa kau berbicara?” Sooyoung mendesis. Maniknya redup, auranya begitu gelap, Suzy pun merasakan itu walau ia takkan terkencing ketakutan.

“Yah … jika kau menganggap hamster yang dibawa Jung Soojung dapat menjawab pertanyaanku,” mendengar peliharaannya disebut-sebut, Soojung langsung memeluk hamsternya. Sementara Jimin dan murid lain menahan tawa. “tentu saja kau, Choi. Dasar bodoh.”

“Bae Suzy, kau masih pelajar di sini. Jika perlu kuingatkan.” Jaga bicaramu, kau lebih bodoh.

“Ah, cheosonghamnida, Mantan-Sonsaengnim,” ralat Suzy.

Sooyoung mencengkram keras kerah seragam Suzy. Seseorang, hentikan mereka berdua! Taehyung menggigit bibirnya. Ujung matanya mencuri pandang ke arah Suga yang tampak acuh, lalu beralih pada Jimin yang memainkan bola basketnya. Anak-anak gila!

“Choi Sooyoung-ssi,” Sooyoung melirik ke samping. Siswa yang baru memanggil namanya itu beranjak dari kursinya dan melangkah mendekat, “tidak sepantasnya Anda melakukan hal seperti ini di jam belajar. Terlebih, Anda bukan siapa-siapa lagi di Sekolah ini.”

Suga.

Sekejap mata, Suzy membeku.

Sooyoung melepaskan tangannya pada kerah kemeja Suzy, lalu merapihkannya tanpa ragu seolah bukan ia yang membuat kemeja siswi Bae itu kusut.

Suga tak berkata apa-apa lagi, dengan berlalu melewati Sooyoung dan Suzy. Takut-takut Taehyung mengekorinya dari belakang. Disusul Jimin yang setengah berlari—ia bahkan dengan sengaja menendang meja ketika lewat. Beberapa murid meringis mendengarnya.

“Kau,” manik bulat nan tajam Sooyoung itu kembali pada Suzy. “dan ketiga temanmu …,” bersiaplah. Sooyoung tak mengerti mengapa ia tak sanggup mengucap kata terakhir. Sooyoung cuma mengepalkan tangan kuat-kuat. Wajahnya merah padam. Ia mendesis dengan mengerikan, “aku berhenti bukan berarti kalian keluar dari pengawasanku. Aku tidak akan puas sebelum salah satu dari kalian merasakan hal yang Sulli rasakan.”

Kematian.

***

Suara pintu yang baru saja dikunci terdengar bersamaan dengan helaan napas letih Doojoon. Ia ke luar paling terakhir dari kantor guru sehabis rapat hari ini. Semua hal buruk terjadi di musim pertamanya menjadi wali kelas.

Langkah tegap Doojoon menggema di sepanjang koridor perjalanannya menuju parkiran. Ia tak dapat mengendalikan bulu kuduknya yang meremang ketika melintasi kamar mandi siswi yang bersegel garis kuning polisi. Tempat dimana mayat Choi Sulli ditemukan.

Doojoon tahu-tahu memelankan langkahnya. Atmosfer penasaran akan ruangan itu menghantuinya. Setelah membunuh pikiran-pikiran aneh, ia pertegas langkahnya memasuki toilet itu. Detik itu pula matanya membelo—“Apa yang kau lakukan di sini?”—Choi Sooyoung?

***

“Naeun-ah, kamu nggak pulang?” tanya seorang siswi yang tengah berbenah dengan beberapa buku pelajaran di mejanya. Lawan bicaranya sedang duduk di depan mejanya.

“Nanti, Sohyun. Aku harus membersihkan mukaku dulu sebelum jerawat bermunculan!” jawab Naeun dengan sedikit nada menggerutu. Tangannya tetap saja sibuk mengusap kapas basah ke pipi dan sekitar kening.

“Kalau begitu, aku duluan yah. Sampai besok.”

“O. Hati-hati.”

Neo do.” Setelah siswi itu keluar dan menutup pintu, ruang kelas itu nampak lebih luas dan sepi.

Sunbaedeul sialan. Mereka kira aku akan takut dengan ancaman bodoh itu. Hah! Aku akan mati? Kalianlah yang mati!” umpat Naeun lalu melempar kapas kotor ke tempat sampah di bawah meja.

Pluk!

Sepersekian detik yang lalu ia sempat merasakan bulu kuduknya meremang, namun segera ia acuhkan.

Krieeet.

Terdengar suara benda di dorong perlahan dari luar ruangan, gesekan antara permukaan lantai dengan benda itu menimbulkan suara yang mengiris gendang telinga. Seperti suara silet yang menggores permukaan beton, atau kerikil yang menyayat papan tulis. Naeun menoleh.

Hening kembali memangut, mungkin tadi hanya suara penjaga sekolah yang selesai beres-beres. Lagipula, tidak ada siapa-siapa di kelas ini selain dirinya. Kali ini Naeun sudah rampung dengan urusan wajahnya, dengan cepat ia membereskan barang-barang ke dalam tas pink kepunyaannya.

Ponsel Naeun berdering singkat tanda ada pesan masuk, cekatan jempolnya membuka pesan untuknya. Rupanya dari Sohyun, yang menanyakan apakah botol minuman miliknya tertinggal, sambil mencari Naeun membalas; Aku tidak lihat.

“Aku mau mencarinya, jangan keluar kelas dulu!” begitu balasan Sohyun. Dengan kesal Naeun membanting bokongnya ke sofa. Apa tidak ada hari lain untuk mencari botol minuman sialan itu? Apa Sohyun tidak merasa lelah? batin Naeun menggerutu.

Klek!

Pintu dibuka dengan pelan, sayup-sayup suara langkah mendekati Naeun. Naeun mengerutkan kening kala menangkap bayangan sosok di belakangnya terefleksi di dinding. Jelas sekali bayangan itu menunjukan sang objek tengah memegang sesuatu dan mengangkat tangan tinggi-tinggi ke arahnya.

“Sohyun, cepat cari botolnya! Aku mengantuk!” ujar Naeun menghilangkan perasaan paranoidnya, ia sama sekali tak mau menoleh ke belakang meski hatinya terus bertanya-tanya siapa sebenarnya yang kini bersama di ruangan itu. Suara langkah sosok itu makin dekat.

Dengan sedikit menahan napas Naeun melirik ke arah pantulan layar ponselnya, terlihat seseorang tengah bersiap menyerang Naeun dengan pisau besar di tangannya. Seperti pisau untuk memotong daging. Sedetik kemudian anak perempuan itu berguling ke lantai menghindari hujaman pertama dari sosok di belakangnya. Tak ayal belati mengkilat itu mematahkan bangku kelas yang keras.

“Kau?” yang ia lihat kini adalah sosok seseorang mengenakan seragam sekolah Anhyun. Tak ada jawaban melainkan deru napas. Bedebah ini malah menyeringai mengerikan.

“Mundur atau kau akan menyesal!” ancam Naeun meski dengan susah payah ia mencoba berdiri, lututnya terasa kosong. Sosok itu justru menggerakan kepala seperti pemanasan anak-anak sekolah.

Beberapa saat mereka terjebak momen saling pandang.

Perlahan namun pasti si murid berseragam lengkap itu mengangkat pisau besar berkaratnya, manik mata tajamnya membidik ke arah kepala Naeun. Dengan penuh perhitungan ia melempar pisaunya ke arah kening Naeun.

Set!

Kembali meleset karena Naeun berhasil mengelak ke samping, pisau itu berdenting menabrak dinding dan jatuh ke lantai. Namun serangan ke dua berhasil menembus betis Naeun, benda tajam itu menancap pasti menembus daging di kaki gadis malang Son.

“Rambutmu indah, Son Naeun,” untuk pertama kalinya Naeun mendengar suara parau dari sosok bertopeng itu.

Namun persetan, kini rasa nyeri begitu mendera kakinya yang terluka. Cairan merah kental mulai merembes keluar dari kulit Naeun, bau anyir pun menyeruak ke seluruh sudut ruangan.

Naeun melafalkan beberapa puji-pujian yang ia ingat, sebelum dirinya hilang keseimbangan dan ambruk di lantai. Susah payah ia mendorong tubuhnya menjauh dari orang gila di hadapannya. Klise saja, Naeun tersudut karena ada dinding menghadang punggungnya.

Sebuah gerakan tangan tiba-tiba mengenai perut Naeun dan membuatnya semakin tersungkur, kini pisau keparat itu dengan tajam mengiris daging di betis Naeun. Siswi itu berteriak keras seakan ia kini berada di tengah hutan. Sosok di hadapannya makin gila, ia hujamkan pisau miliknya ke arah perut Naeun berulang kali.

Mata Naeun terbelalak dengan mulut mulai memuntahkan gumpalan darah segar, tangannya meraba perut yang kini penuh luka robek. Semakin lama pandangannya semakin buram, hanya bayangan warna seragam biru yang bisa tertangkap iris matanya sampai akhirnya gelap. Namun sosok haus nyawa itu tak kunjung puas, ia memandangi Son Naeun yang tengah meregang nyawa dengan menyakitkan. Beberapa saat kemudian ia merobek leher Naeun dan mengikis kepalanya hingga rambutnya menjuntai berjatuhan. Diselingi tawa sinis, pembunuh sadis itu melengos pergi meninggalkan jejak darah.

Dengan gumpalan rambut lepek Naeun di genggaman.

***

“Naeun-ah kamu di dalam?” Sohyun melongokkan kepalanya ke dalam ruangan lebih jauh. “Kenapa lampunya dimatikan begini sih, kan seram.” Gumam Sohyun sebelum ia menyalakan lampu.

Trek!

Sohyun belum menyadari ada bau darah menguar dominan di dalam kelas, ia masih sibuk mengoreki tasnya mencari sesuatu. “Kamu belum lihat botol minumku, Naeun-ah? Di tasku nggak ada soalnya …,”

—dan, Sohyun, akhirnya mendapati pemandangan merusak mata tak jauh dari tempatnya melangkah sejurus kemudian. Tubuh bersimbah darah, pakaian tercabik-cabik, tak bernyawa, leher yang nyaris putus, kepala tanpa rambut. Gambaran Son Naeun yang mati dengan mengenaskan. “KYAAAHHH!!!”

***

Setelah Sulli, Naeun adalah korban pembunuhan kedua. Kondisi setelah meninggal sama persis, kepala dalam keadaan tanpa rambut sehelaipun. Kelas 2-B kembali dihebohkan dengan foto-foto kematin Naeun di situs misterius, uploadernya masih username yang sama seperti waktu itu, Jiyoung.

Sementara Doojoon, menerima amanat dari pihak sekolah untuk menyampaikan pesan pada Suzy dan kawan-kawan—sekaligus menghindari meluasnya gosip bahwa keempat anak itu pembunuhnya, yaitu drop-out dari Anhyun.

***

Surai raven Suga terbasahi tetesan air yang sempat terbendung awan hitam. Percikan air di trotoar merembes lewat sepatu ketsnya yang punya beberapa lubang. Itu sama sekali tidak membuat moodnya menjadi baik. Sungguh, tentu saja. Untuk ukuran berandalan yang baru dikeluarkan dari Sekolah.

Sebenarnya Suga tidak percaya, ia tidak mungkin dikeluarkan. Itu hanya ancaman Doojoon dan ia yakin sekalipun benar ia didepak, Ayahnya—setidaknya—akan melakukan sesuatu untuk itu. Oh, keluarganya ‘kan, memang kaya.

“Min Yoonki-ssi,” Suga baru beberapa meter jauhnya dari gerbang Anhyun dan tiba-tiba panggilan pelan itu menyentaknya. Tebakannya benar tatkala Suga berbalik dan melihat Kang Jiyoung bersama payung kuningnya. “Gwenchanayo?”

“Jiyoung?”

Bola matanya seperti kristal. Rambut hitam pekat berkucir satu dan poni pagar menutupi dahinya. Suaranya, seperti kabut pegunungan. Dingin dan buram. “Aku mendengar apa yang dikatakan Doojoon-sonsaengnim kepada kalian.”

Suga mengerjap. Tak terpikiran apa jawaban untuk ungkapan itu. Mengetahui Kang Jiyoung memulai pembicaraan dengannya lebih dulu pun cukup membuat kepalanya menjadi kosong.

Gwenchanayo?” Sekali lagi Jiyoung bertanya.

Suga memastikan kalau pertanyaan itu tak akan sia-sia dengan gelengan singkatnya, “An gwenchana.”

Hening kemudian. Suga tak menunggu gadis Kang itu merespon jadi ia langsung menarik tangannya, berkata bahwa udara begitu dingin dan ia butuh payung. Jiyoung tak berkata apapun karena tak ada yang mesti dikatakannya, ia bahkan menurut saja ketika Suga membawanya ke sebuah tempat yang dipenuhi tumbuhan hias. Rumah Kaca.

Jiyoung, untuk sekian detik, tertegun melihat tempat itu. Suga melihatnya dan ia hanya tersenyum tipis. “Ini tempatku,” katanya. “aku menghabiskan waktu di sini ketika moodku tengah buruk.” Suga menjelaskan tanpa diminta.

Jiyoung menatap Suga, bingung harus merespon apa. Saat ini mood Suga tidak baik. Ingin melakukan sesuatu untuk Suga. Mungkin memeluknya? Itu pernah mencuri dengar dari Soojung tentang bagaimana cara menenangkan hati seseorang. Jiyoung memilih melakukannya.

Ketika Suga memutuskan berdiri termenung memandangi tumbuhan-tumbuhan hias aneka warna itu, Jiyoung melangkah pelan menghampirinya. Lalu melingkar tangannya di perut Suga dari belakang, memeluknya dan merasakan kalau tubuh Suga menjadi kaku karena pelukan itu.

“Jiyoung-ah,” Suga menunduk, ia melihat kedua tangan Jiyoung di perutnya. Tampak kurus dan pucat. Dentum jantungnya sempat tak terkontrol, namun Suga mengendalikannya secepat ia bisa.

“Kau tahu aku mencintaimu, ‘kan?” Suga terkesiap. “Yoonki-ssi?”

Suga sedikit gemetar menyentuh kulit Jiyoung dan merasakan betapa dinginnya tangan itu untuk pertama kali. “Aku tahu.” Lirih Suga pelan, sepercik hatinya tampak enggan mengucap kalimat ini kendati akhirnya ia mengucapnya. “Kau tahu aku juga mencintaimu, ‘kan?”

Jiyoung memejamkan matanya rapat—terlampau tenang. “Ya. Selalu.”

—dan mereka berciuman.

***

“Kemana anak-anak itu?” untuk sekian kali Doojoon memeriksa jam tangan dan mendapati kalau hari sudah bukan siang, ia mendesah, “Bisa-bisanya.”

Tak satu pun di antara Suga, Suzy, Jimin atau Taehyung datang menemuinya sepulang sekolah. Ia sudah terlalu baik dengan memutuskan untuk menunggu lebih lama, namun hasilnya sama saja. Anak-anak berandal itu, selain kurang ajar, ternyata tukang ingkar janji juga, pikir Doojoon.

“Ck, bisa-bisanya aku ditipu bocah.” Doojoon berdiri dari kursinya. Lalu berjalan ke kasir untuk membayar tiga gelas kopi yang dipesannya tadi. “Choi Sooyoung-ssi?” bisik Doojoon ketika matanya menangkap siluet tubuh jangkung seorang wanita yang familiar, bahkan hanya dengan melihat punggungnya saja Doojoon tahu bahwa wanita itu adalah mantan guru di Anhyun.

Sooyoung berada di jarak 10 meter—lebih-kurang—dari tempat Doojoon berdiri sekarang, di luar Kedai Kopi. Apa yang dilakukan wanita itu malam-malam begini? Di lingkungan Sekolah? Bukankah seharusnya ia sudah tak punya urusan apa-apa?

Kaki panjang Doojoon menuntunnya berlari mengejar Sooyoung—refleks. Ketika wanita itu, di balik punggungnya, ia tengah menyeret seorang siswi berambut panjang. Bae Suzy! “Choi Sooyoung-ssi chakkanmanyo!” pekik Doojoon. Terlambat, mobil itu sudah berlalu kencang.

Doojoon tidak tinggal diam. Ia lantas berlari ke tempat mobilnya terparkir dan terburu-buru masuk ke dalamnya. Lalu membelah kegelapan jalanan malam membuntuti kemana Sooyoung pergi.

“Dimana ini?” Doojoon sampai di suatu tempat asing, bangunannya tampak tua, bertingkat-tingkat. Jika dilihat di siang hari mungkin ini semacam apartemen biasa.

Sooyoung terlihat keluar dari mobil dengan masih menyeret siswi tersebut. Doojoon segera memarkirkan mobilnya di tempat strategis dan mengikuti Sooyoung lagi. Sampailah Sooyoung itu di depan pintu. Mengeluarkan sebuah kunci dan memutarnya di lubang kunci, pintu reot pun terbuka. Suara decitannya membuat ngilu indera pendengar. Doojoon was-was memperhatikan gerak-gerik Sooyoung.

Sooyoung masuk ke dalam. Doojoon menahan napas kemudian mendobrak pintu.

Seketika tubuh Doojoon mematung. Pemandangan di dalam ruang itu sangatlah mengerikan. Terbaringnya raga Suzy di satu ranjang, dan Sooyoung yang hendak mengayunkan pisau di tangannya. “Choi Sooyoung! Berhenti!”

Sooyoung seakan menulikan telinganya. Ia terjebak dalam euforia balas dendam. Ia sudah tak peduli lagi, tatapannya kosong selain menatap mata terpejam Suzy yang damai. Pikiran Sooyoung blank.

Doojoon mendorong tubuh Sooyoung hingga keduanya terjatuh. Pisau itu berhasil menggores pipi Doojoon. Doojoon merintih tertahan, tatapan Sooyoung masih kosong dari bawah tubuhnya. Hanya tenaga berontak wanita itu kuat sekali, Doojoon nyaris kewalahan. Ia menahan kedua tangan Sooyoung di samping kepalanya, “Choi Sooyoung! Apa yang coba kau lakukan? Aku tahu kau wanita gila tapi tidak kusangka kau segila ini!”

Sooyoung menghantam perut Doojoon dengan lututnya, sehingga dalam sepersekian detik posisi berubah menjadi Sooyoung dan duduk di atas perut Doojoon. Doojoon kaget dengan posisi tiba-tiba itu. Pastilah ia sudah mimisan parah melihat pemandangan Sooyoung di atas tubuhnya jika bukan dalam situasi sekarang.

Wanita ini bukan Choi Sooyoung, begitu pikir Doojoon ketika Sooyoung merobek ujung roknya sendiri dengan pisau, lalu digunakannya untuk mengikat kedua tangan Doojoon di atas kepalanya.

“Ke-kenapa tanganku—YAH! Choi Sooyoung dengar aku bicara! Kenapa tanganku diikat? Lepaskan tanganku!”

“Berisik,”

Wanita ini kerasukan, tuduh Doojoon. Sooyoung merobek lagi sisi lain rok yang dipakainya, sehingga menampakkan sebagian besar paha mulus dan putihnya. Kali ini, robekan kain itu ia pakai untuk menyumpal mulut Doojoon.

“Umphhh!”

“Diam atau pisau ini akan melukai bagian lain dari tubuhmu selain pipimu.” Itu ucap Sooyoung dengan nada sangat dingin setelah menyayat pipi Doojoon (yang memang sudah tersayat pisau sebelumnya) lebih dalam. Menyebabkan Doojoon meringis keras di balik sumpalan kain di mulutnya. Perih dan bau darahnya yang menetes membuat pusing. Amis dan menjijikkan.

Menyadari kalau Doojoon sudah cukup tenang, Sooyoung yang masih berbaik hati tak membuat Doojoon pingsan, lantas beranjak dari menindih perut Doojoon menuju tempat Suzy berbaring. Bersiap memecang pisaunya melancarkan kegiatan yang baru tertunda.

Tatapannya tak terdefinisikan, saking redupnya Doojoon tak bisa menebak apa Sooyoung bersungguh melukai Suzy atau hanya gertakan. Atau sebetulnya Sooyoung dikendalikan? Semakin memikirkannya semakin membuat Doojoon gatal ingin melakukan sesuatu. Tapi ikatan di kedua tangannya sangat kencang, gerak sedikitpun menimbulkan perih.

Pisau Sooyoung terarah ke pipi Suzy. Peluh Doojoon membanjir. Doojoon terdesak, menggerakkan kakinya sembarangan. Doojoon berhasil bangun, beruntung ia sering membentuk otot lengannya dengan back-up sehingga mudah baginya untuk duduk dari posisi berbaring. Sedikit susah Doojoon mengesot dengan tali terikat di kedua tangannya.

SRET! DUAK!

Sesuatu tergores pisau bersamaan dengan Doojoon yang menendang kaki Sooyoung hingga wanita itu limbung dan terjatuh menimpanya. Doojoon melotot sekaligus meneguk liur sebab pisau yang Sooyoung pegang menancap di samping kepalanya. Salah posisi sedikit saja pisau itu akan membuat telinganya putus.

“Kenapa kau menghalangiku untuk membunuhnya!” teriak Sooyoung, manik rubi yang nyalang mengikis jarak pandang Doojoon.

***

“Choi Sooyoung …,” tanpa –ssi lagi, Doojoon memanggil namanya pelan nyaris seperti bisikan. Hening tak ada tanggapan. “Guru Choi.” Masih hening.

Doojoon menoleh ke samping, dimana Sooyoung duduk tak bertenaga. “Choi Sooyoung, bisa kau mendengarku? Sooyoung?” Doojoon mulai panik karena wanita itu tak kunjung berbicara apa-apa. Doojoon menguncang pundaknya kencang, berkali-kali, tanpa lupa memanggil-manggil namanya.

“Yoon … Doojoon …,” suara Sooyoung parau. “Kenapa aku … kau ada …” kalimatnya terputus-putus.

Doojoon panik. “Ma-maafkan aku, ini salahku, kau boleh menonjok wajahku atau menendangku, akan aku terima. Aku nyaris menyentuh—”

“Jika kau tidak menghentikanku, Suzy pasti sudah mati …,” tatapan Sooyoung lurus. Ia tersenyum pedih.

Hingga yang terjadi selanjutnya, Sooyoung menangis. Tangisannya pilu dan menyesakkan dada Doojoon yang mendengarnya. Karena Doojoon tahu, tindakan Sooyoung terhadap Suzy tadi hanya termakan api dendam setan sesaat. Tidak mungkin guru yang paling dikagumi di Anhyun melakukan tindak kejahatan keji seperti ini.

Kematian Sulli memang pukulan keras baginya, Sulli adalah harta yang tak ternilai baginya setelah kepergian kakaknya. Sekarang, Sooyoung sudah tak punya siapa-siapa lagi selain Tiffany. Tangisan Sooyoung cukup menjelaskan segala hal. Doojoon bingung harus berkata apa, jadi ia hanya mendengarkan keluh-kesah Sooyoung dalam diam.

“Maaf, maaf, maafkan aku, semuanya … aku salah, aku salah atas semua ….”

***

A/N:

Setelah saya baca lagi, ternyata fiksi ini wanky dan alay sekali pemirsah. Saya jadi malu. Dihapus sayang, dilanjut nanti tambah alay. (Maaf adegan kissu-kissunya saya skip hghghghg, geli sendiri bacanya—plus Yundu-ajussi receh banget di sini.)

Dan ternyata, saya baru sadar ketika jamannya dibuat fiksi ini (2013 kalau nggak salah), ketika itu BTS masih sangat underrated malah ada yang nggak tau siapa itu Min Yoonki. Tapi apa? Sekarang mereka populer banget. Kok saya yang ngerasa bangga ya?

6 thoughts on “JIYOUNG – Chapter 05.5

  1. Depp June 26, 2016 / 12:06 AM

    Aku kira kamu update lanjutan nih ff🙂 bikin fanfic sooExo dong😀 .btw aku udah baca adegan kisseu-kisseunya nya kok😀

  2. azalea June 26, 2016 / 4:24 AM

    ini udah end ato gimana..?
    trus suzy ngga jadi mati?
    sooyoung bner bner sayang ke sulli sampe berencana bls dendam ke geng suzy cs..
    tpi geng mereka emng bner bner kurang ajat si..
    masih penasaran sama jiyoung si tukang upload foto itu siapa sebenernya …

    • Yang Yojeong June 26, 2016 / 8:56 AM

      Ini belum end, sesuai judulnya RECAPS ini merupakan sinopsis dari lima episode ke belakang …

      😏😏😏

  3. sychacha June 26, 2016 / 9:31 AM

    Penasaran banget sama username Jiyoung ini, nggak tau kenapa kok mikirnya emang si kang jiyoung ya?tapi ga tau juga,hehe. Ditunggu banget chapter selanjutnya 💪

  4. febryza June 26, 2016 / 1:33 PM

    Loh aku kira kamu ngeupdate fiksi ini loh fab ternyata cuna recaps aja, tapi gapapa sih kalo menurut aku jadinya di part ini bikin pembaca ngerewind part sebelumnya yah secara kan ini udh lama bgt dari terakhir kamu apdet
    Iya sih aku setuju juga sama kamu pas dibaca ulang lagi part2 sebelumnya ada beberapa bagian yg menurut aku “apasih, kenapa aneh gitu sih” tapi overall untuk plotnya bagus kok apalagi pas waktu kamu pertama bikin ff ini pertama kali juga ada pairing doojoon-sooyoung kan hehehe jadi kalo menurut aku sih ya dilanjut aja dengan perubahan gaya bahasa kamu yg sekarung tanpa ngerubah ide utamanya gitu *sokbanget* *padahalgabisanulis* hehehe semangat fan !!!!

  5. ismi khaerin July 7, 2016 / 4:40 PM

    Oh pantesan kyaknya gak asing bca ini, terusin dongggggg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s