[FREELANCE] First Love

First Love

Author: sychacha
Cast(s): Choi Sooyoung and The Boys

“In the end youll find your true love, but first love will always have special place in your heart.”

image

……………….

Kris Wu

Semua orang menyukai ayam, entah diolah seperti apapun. Tapi aku berbeda. Aku justru sangat membenci ayam. Chicken its not my style!

“Hyung, ayolah, ayam goreng ini enak sekali! Hmm~ Masa kau menolak makanan seenak ini, sih?” Chen membujukku makan ayam untuk yang kesekian kalinya
Aku menghela nafas. “Sudah berapa kali kubilang padamu, Jongdae-ah? Aku tidak suka ayam.”

“Tapi kenapa? Ayam itu makanan paling enak sedunia! Benar kan Sehun-ah?” Chen bertanya pada Sehun yang sedang menikmati seporsi ayam goreng di depannya

“Nyam-hyam. Iya.” Sehun menjawab sekenanya karena sibuk dengan ayam goreng itu.

“Nah, betul kan? Jadi sebenarnya apa sih alasanmu membenci ayam?”

Damn. He asked me why I hate chicken.

Itu karena …

Sebenarnya dulu aku sangat menyukai ayam. Jongdae benar, ayam adalah makanan terenak di dunia. Tapi tidak setelah kejadian itu. Kejadiannya tepat 1 tahun yang lalu di saat makan siang seperti ini, di meja ini dengan Chen dan Sehun juga. Kami yang kelelahan setelah berlatih, datang ke cafetaria SM ini untuk mengisi tenaga kami.

“Tunggu Hyung, bukankah itu Sooyoung sunbaenim dan Changmin sunbaenim?” ucap Sehun tiba-tiba sambil menunjuk ke arah meja di pojok cafetaria itu.

Baiklah, ini tidak benar. Aku tahu mereka memang dekat tapi hanya sebatas rekan satu agency, bukan?

“Sepertinya mereka berdua pacaran,” celetuk Chen.

Pacaran apanya? Makan siang bersama dibilang pacar Mereka berdua saling menyuapi. Dan makanan apa yang menjadi objek? Benar. Ayam. Ayam saus lada hitam. Makanan kesukaanku. Hebat sekali. Sial benar kau ayam! Kau kejam! Chicken, Youre not my style anymore! I hate you!

“Ayam bisa membuatmu sakit hati, sesak nafas dan perasaan sedih campur kesal yang berkepanjangan, Jongdae-ah,” ucapku tegas.

…………………………….

LuHan

Sepak bola dan Luhan adalah 2 hal yang tidak bisa dipisahkan. Luhan mencintai sepak bola sebesar kecintaan Sehun akan bubble tea, Luhan mencintai sepak bola sebesar kecintaan Baekhyun terhadap SNSD, Luhan mencintai sepakbola sebesar Intinya Luhan sangat mencintai sepak bola. Begitu menurut teman-temannya, bahkan dirinya sendiri berpikiran seperti itu sampai …

“Dimana sih lapangan sepak bolanya?” Luhan bergumam kesal. Mencela kepercayaan dirinya yang sangat yakin tidak tersesat di SMA tetangga. Dia mungkin percaya diri tapi sekolah ini sungguh luas.

Ingin bertanya pada murid di sekolah itu namun pandangan mereka sangat membunuh. Oh Tuhan, demi bubble tea diseluruh dunia, bagaimana ini? Di tengah kebingungannya Luhan justru mendapat hadiah yang membuat sakit kepala. Bruk. Luhan jatuh. Tidak pingsan, tapi jatuh dengan kepala yang berdenyut-denyut. Ia bersumpah akan mengirim orang yang melempar bola sial ini ke antartika biar dia bermain dengan beruang salju.

Yah! Siapa yang berani Luhan terdiam ketika melihat kerumunan gadis sudah mengelilinginya. Salah satunya yang berambut pendek malah bersimpu di sebelahnya dengan wajah cemas. Cemas, tapi masih terlihat manis sekali hingga Luhan merasa bisa terkena diabetes jika melihat gadis tersebut terus menerus.

“Kau tidak apa-apa? Maafkan aku. Sungguh, tadi aku tidak sengaja, tolong maafkan aku,” gadis itu meminta maaf pada Luhan, rupanya dia yang melempar bola basket sial itu.

“Eh, tidak apa-apa, sungguh!”

“Kau … bukan murid sekolah ini kan? Ah, aku tahu! Kau pasti murid SMA Shinwa yang akan bertanding dengan sekolah kami, kan?”

“I-Iya.”

“Tapi kenapa kau tidak di lapangan? Bukankah pertandingan sudah hampir mulai?”

“Aku …,” Luhan malu mengakui bahwa dia tersesat tapi mau bagaimana lagi, daripada terlambat datang ke pertandingan lebih baik mengaku pada gadis ini, mungkin saja dia mau mengantarkan Luhan ke lapangan. Sungguh modus yang cerdas.

“Aku tersesat, sekolah ini luas sekali, sih.”

“Aaah … kalau begitu biar kuantarkan ke lapangan, kebetulan aku juga ingin ke sana.”

“Terima kasih kalau begitu.”

Begitulah, gadis manis itu mengantarkan Luhan ke lapangan sepak bola yang sudah sangat ramai. Setelah melalui berbagai jenis omelan dari teman-temannya Luhan pun mengikuti pertandingan itu. Dan gadis itu? dia duduk di kursi penonton sambil meneriakkan nama seseorang. Kalau tidak salah dengar sih, Kim Myungsoo.

Setelah melalui pertandingan yang cukup ketat didapatkan SMA Hanguk yang menang. Skor tipis hanya 1-0, tapi mau bagaimana lagi?

“Sehun-ah, adikmu sekolah di SMA ini kan?” Luhan bertanya pada Sehun yang sedang sibuk menyeka keringat.

“Iya, ada apa hyung?”

“Itu berarti kau kenal dengan murid-murid di SMA ini kan?”

“Ya beberapa, sih.”

“Bagus sekali. Kalau begitu siapa nama gadis berambut pendek itu?”

“Yang mana?”

“Itu, yang sedang bersama Kim Myungsoo.”

“Oooh … itu Sooyoung noona, kapten tim basket putri sekolah ini.”

“Kapten tim basket putri?” Luhan bergumam.

Keesokan harinya, seluruh anggota klub sepak bola SMA Shinwa dikejutkan oleh Luhan yang tiba-tiba muncul dengan membawa bola basket.

“Hyung, kita akan berlatih sepak bola bukan basket, kenapa kau malah membawa bola basket?” tanya Sehun heran.

“Lu, apakah dirimu begitu frustasi karena kita kalah dari SMA Hanguk jadi kau memutuskan bermain bola basket sekarang?” tuduh Xiumin.

“Aku sekarang juga suka basket, bukankah basket itu menyenangkan?” ucap Luhan sambil ternyum-senyum.

Tiba-tiba datang seorang gadis dan seorang laki-laki ke lapangan tersebut. Membuat Luhan sejenak memasang wajah bingung campur senyum-senyum tidak jelas.

“Halo Sehun-ah!” sapa gadis itu.

“Sooyoung noona? Dan Kim Myungsoo-ssi, eh, halo ada urusan apa noona ke sini?”

“Aku ingin bertemu dengan ..,” Sooyoung melihat ke sekelilingnya, “Ah, Dia!” Sooyoung menunjuk ke arah Luhan.

“Aku?” Luhan menunjuk dirinya sendiri, “Ada apa?”

“Aku ingin memberimu sesuatu,” Sooyoung mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna pink dan memberikannya pada Luhan, “Tolong diterima, ya, dan tolong berikan jawabanmu secepatnya.”

“Apa itu, Noona?” tanya Sehun heran.

“Ssst. Anak kecil tidak boleh tahu urusan orang dewasa.”

Luhan yang menerima kotak itu mau tidak mau senyum-senyum sendiri. Sooyoung memberinya hadiah? Tuhan memang sungguh baik.

“Kalau begitu aku pulang dulu, sampai jumpa!” Sooyoung pergi bersama dengan Kim Myungsoo.
Tapi .. tunggu. Ada yang aneh menurut Luhan. Sooyoung terlihat dekat sekali dengan Kim Myungsoo si kapten tim sepak bola SMA Hanguk. Mereka berjalan berdampingan, sangat dekat, bahkan saling menautkan jari. Bahkan Kim Myungsoo merapikan rambut Sooyoung yang berantakan karena angin. Tidak, ini aneh. Ada yang perlu diluruskan.

“Sehun-ah, apa Sooyoung dan Kim Myungsoo bersaudara? Mereka kakak beradik?” Luhan bertanya pada Sehun.

Sehun justru tertawa mendengar pertanyaan Luhan. Hahahha! “Hyung, kau ini lucu sekali, sungguh! Saudara? Kakak beradik? Mereka pacaran, Hyung. P-A-C-A-R-A-N.”

Luhan bagai tersambar petir di siang bolong. Sooyoung dan Myungsoo pacaran? Lalu apa maksud hadiah ini?

Luhan cepat-cepat membuka isi kotak itu. Isinya sesuai dugaan Luhan, surat cinta. Tapi bukan dari Sooyoung melainkan adik sepupu Sooyoung, Park Chorong. Luhan kemudian melempar bola basket itu entah kemana, yang anehnya dengan pas masuk ke tempat sampah di pinggir lapangan.

“Wah, hyung, aku rasa kau cukup berbakat untuk jadi pemain basket,” puji Sehun.

“Tidak. Basket? Apa itu? Sepak bola jauh lebih menyenangkan daripada bola basket!” ucap Luhan kesal.

Semua anggota klub sepak bola yang berdiri di situ jadi bingung. Luhan sedang PMS , ya?

……………………………

Kim Myungsoo

Kim Myungsoo berjalan menuju lokernya, melangkah mundur saat membuka pintu loker. Untung saja, karena begitu pintu loker dibuka banyak surat, kotak hadiah dan bahkan bola basket jatuh dari dalam lokernya.

Sampai kapan mereka akan berhenti mengisi lokerku dengan barang-barang tidak berguna seperti ini? Myungsoo bergumam sendiri.

Title Pangeran Sekolah memang sungguh menyulitkan baginya. Tapi itu bukan keinginannya. Bukan salah Myungsoo jika wajahnya tampan, bukan salah Myungsoo jika dia anak konglomerat, bukan salah Myungsoo jika dia pintar memainkan gitar, dan bukan salah Myungsoo jika dia menyukai …

“Selamat pagi, Myungsoo-ssi, berapa banyak surat cinta yang kau terima hari ini?”

“Ah, eh, itu …,” Dasar Myungsoo bodoh. Kau kelihatan sangat bodoh, bahkan menjawab pertanyaan sederhana macam itu saja tidak bisa, sungguh keterlaluan.

“Bahkan kau mendapat bola basket hari ini, kau benar-benar populer ya?”

Gadis itu tersenyum manis, sangat manis hingga rasanya Myungsoo bisa terkena diabetes jika melihat senyumnya, “Ini bolanya, sepertinya kau perlu loker tambahan, Myungsoo-ssi.”

“Soo, ayo ke kelas!” seseorang tiba-tiba menarik lengan gadis itu.

“Chanyeol-ah, hey Myungsoo-ssi, aku duluan.” Gadis itu memberi senyum manisnya pada Myungsoo.

Myungsoo hanya membalas senyum gadis itu dengan anggukan. Dan malah memukul kepalanya dengan bola basket. Merutuki kebodohannya.

“Dasar bodoh! Dasar bodoh! Bahkan aku tidak mengucapkan terima kasih? Ughhh!”

Dan hilang sudah kesempatan Myungsoo untuk mendekati cinta pertamanya, Choi Sooyoung.

………………

Park Chanyeol

Park Chanyeol terlihat begitu senang tenggelam di antara bunga di toko bunga langganan calon kakak perempuannya. Ralat, cinta pertamanya.

“Sooyoung noona.”

“Hm? Ada apa, Chanyeol-ah?”

“Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi tolong jangan marah setelah kau mendengar ini.”

“Memangnya apa yang ingin kau katakan, eoh?”

“Aku,” Chanyeol mencium pipi noonanya, “Aku menyukaimu, noona.”

Sooyoung kaget, tentu saja. Sooyoung bingung, tentu saja.

“Chanyeol-ah, maafkan aku, tapi aku tidak bisa. Kita tidak bisa, kau tahu itu kan?”

“Karena ayahku akan menikah dengan ibu noona, kan? Aku tahu.”

“Lalu, kenapa kau masih …,”

“Aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku pada cinta pertamaku, sekarang aku sudah lega.”

“Chanyeol-ah …,”

“Aku tidak apa-apa, jangan merasa tidak enak karena perkataanku tadi, oke? Hm … aku tunggu kau di mobil saja.”

Chanyeol membalikkan badannya, berjalan menuju mobil. Tapi, tiba-tiba lengannya ditahan.

“Aku tidak mau cinta pertamamu berakhir menyedihkan.”

“Noo …,”

Kata-kata Chanyeol terhenti. Sooyoung tiba-tiba menciumnya. Tidak di pipi seperti yang dilakukan Chanyeol, tapi tepat di bibir Chanyeol. Ciuman yang singkat dan hangat.

……………………

Kim Jongin

Wajah tampan, memiliki kemampuan dance yang keren dan keluarga kaya membuat Kim Jongin dipuja sebagian gadis di sekolahnya. Tak heran dirinya begitu hobi berganti-ganti pacar alias menjadi seorang playboy kelas hiu.

“Yah! Kim Jongin! Beraninya kau …,”

Plak. Kim Jongin ditampar seorang gadis cantik bernama Krystal, pacarnya, ah tidak, sudah menjadi mantan pacar. Alasan biasa, Kim Jongin menebar pesona pada gadis lain.

“Kuterima tamparan itu,” ucap Jongin sambil tersenyum dan pergi begitu saja meninggalkan Krystal dengan wajah memerah karena emosi yang memuncak

“Kau gila, Jongin-ah. Kau punya Krystal yang begitu sempurna tapi kau masih menebar pesona pada gadis lain? Sungguh keterlaluan.” Taemin si pemegang gelar sahabat Jongin tersebut akhirnya angkat bicara.

“Mau bagaimana lagi?” ucap Jongin tanpa rasa bersalah.

“Sebenarnya kau mencari gadis yang seperti apa, sih? Naeun yang innocent itu kau tinggalkan, Sulli yang seperti model itu kau duakan, dan Krystal yang sesempurna itu masih saja kau sia-siakan. Aku tidak mengerti, sungguh.”

“Lee Taemin, sahabatku. Aku, Kim Jongin, sahabatmu yang tampan ini tidak perlu gadis yang sempurna. Aku hanya butuh seseorang yang mampu membuatku …,” ucapan Kim Jongin tiba-tiba berhenti ketika melihat seseorang berjalan ke arahnya, “Membuatku merasa seperti tersetrum listrik saat aku melihatnya,” ucap Jongin kemudian dengan senyum mengembang di wajahnya.

Taemin mengikuti pandangan Jongin dan mendapati seorang gadis cantik sedang berjalan ke arah mereka. Hei, Taemin tahu gadis ini!

“Taemin-ah, aku rasa aku sudah menemukan gadisku.”

“Eh, hm .. Jongin-ah, aku rasa jangan.”

“Taemin-ah, annyeong!” gadis cantik itu menyapa Taemin.

Jongin keheranan melihat kejadian barusan. Jadi Taemin dan gadisnya saling mengenal? Ini kebetulan yang sangat bagus, Jongin bisa mendekati gadis itu dengan mudah.

“Noona, annyeong. Ada urusan apa kau ke sini?”

“Aku baru saja mendaftarkan adik sepupu Luhan di sini.”

“Adik sepupu Luhan hyung?”

“Iya, namanya Yeri. Tolong jaga dia baik-baik ya.”

“Baiklah.”

Kim Jongin bingung. Hei, siapa itu Luhan? Siapa itu Yeri? Dan apa hubungan Taemin dan gadis cantiknya ini? Di saat kebingungan itu belum terjawab ada seorang anak kecil yang tiba-tiba berlari ke arah gadis cantiknya ini, dibelakangnya turut serta seorang pria yang menurut Kim Jongin terlalu cantik untuk ukuran seorang pria.

“Mom! Ayo pulang, aku sudah lapar ucap anak kecil itu.”

“Iya, iya. Tapi beri salam dulu pada Taemin ahjussi.”

“Annyeonghaseyo, Taemin ahjussi.”

“Mark, kau sudah besar ya? sapa Taemin lembut pada bocah laki-laki di depannya, Kau lucu sekali,” ucap Taemin sambil mengusap kepala si bocah kecil nan menggemaskan itu.

“Halo, Taemin-ah!”

“Luhan Hyung!”

Jongin melihat pemandangan yang semakin aneh. Taemin berpelukan dengan entah siapa itu. Perasaan Jongin jadi tidak enak.

“Ah iya, Jongin-ah. Perkenalkan, ini Sooyoung noona sepupuku dan ini Luhan hyung, suaminya … dan bocah menggemaskan ini Mark, anak Sooyoung noona dan Luhan hyung.” Taemin mengenalkan keluarga sepupunya dengan santai tanpa menyadari perubahan ekspresi Jongin. “Noona, hyung, ini sahabatku namanya Kim Jongin.”

“Ah, halo Jongin-ssi,” sapa Sooyoung dengan senyum cantiknya yang membuat Jongin seketika tidak bisa bernafas.

“A-ah, ha-halo Noona.”

Taemin menahan tawa mendengar Kim Jongin berbicara seperti orang kesetrum begitu.

“Taemin-ah, aku rasa kami harus pergi sekarang,” ucap Luhan tiba-tiba.

“Oke hyung, hati-hati kalau begitu.”

“Mark sayang, say bye to uncle Taemin and uncle Jongin,” ucap Sooyoung lembut.

“Bye bye Taemin ahjussi, bye bye Jongin ahjussi.”

Taemin mengelus lembut kepala keponakan menggemaskannya itu, memeluk Sooyoung dan Luhan kemudian.

“Sampai jumpa Taemin-ah, mainlah ke rumah kami jika kau tidak sibuk! Kau juga boleh datang Jongin-ssi.”

Mark berjalan di depan Luhan dan Sooyoung yang mengikutinya dari belakang sambil bergandengan tangan erat sekali.

Damn you, Lee Taemin! Kenapa kau tidak bilang gadisku sudah menikah? Bahkan dia punya seorang anak. Sungguh keterlaluan kau!” tutur Jongin uring-uringan.

“Aku sudah bilang jangan, kau saja yang sok tahu,” Taemin tertawa puas, Ini akibatnya jika kau sok playboy.

“Yah! Lee Taemin!”

…………………..

Oh Sehun

“Lalu, bagaimana dengan cinta pertamamu?”

Sehun tiba-tiba teringat pertanyaan sederhana BamBam, sahabat sehidup sematinya. Masih dengan segelas bubble tea di tangan, Sehun berpikir tentang jawaban pertanyaan itu sambil menyusuri jalan pulang.

“Cih, cinta pertama?” Kekanakan sekali gumam Sehun yang kemudian larut dalam bubble tea favouritenya.

Tiba-tiba dia mendengar suara seorang wanita yang berteriak. Suri-ah!

Seekor anjing mungil berbulu cokelat lari tepat di depannya ketika suara teriakan itu terdengar. Sialnya, anjing itu berlari ke arah jalan raya.

“Ah tidak, Suri-ah!” Sehun sempat mendengar teriakan itu sebelum entah bagaimana dia sudah menggendong anjing mungil itu. Lebih tepatnya menyelamatkan anjing kecil itu sebelum tertabrak mobil.

“Suri-ah, Suri-ah! Kau tidak apa-apa sayang? Unnie di sini, jangan takut,” Sehun terhenyak ketika melihat seorang wanita mengambil anjing mungil itu dari gendongannya.

“Kau sudah menyelamatkan Suri, terima kasih banyak!” wanita tersebut mencium pipi Sehun yang mau tidak mau membuat rona merah di wajah Sehun.

“A-ah, iya, sama-sama. Kalau begitu aku pergi dulu, jaga anjingmu baik-baik.”

“Tunggu, sebagai ucapan terima kasih, maukah kau piknik bersamaku di taman ini?”

Sehun menoleh, benar, di sebelahnya ada taman. Tapi tunggu, piknik? Dengan wanita asing? Ini tidak benar.

“Tapi …,”

“Ayolah, kumohon … aku hanya berdua bersama Suri, jika ada kau pasti akan lebih menyenangkan,” wanita itu memohon dengan wajahnya yang sangat manis.

“Baiklah.”

Begitulah, akhirnya Sehun mengikuti wanita itu ke tengah taman.

“Siapa namamu?” wanita itu bertanya pada Sehun sambil menata bekal piknik yang dibawanya.

“Oh Sehun, panggil saja Sehun. Kau sendiri?”

“Aku Choi Sooyoung, panggil saja Sooyoung atau …,” wanita tersebut mengamati Sehun dari atas sampai bawah, “Aku rasa kau bisa memanggilku Noona, kau masih SMA kan?” Sehun menggangguk mengiyakan.

“Baiklah, makanan sudah siap. Aku punya sandwich, jus jeruk, pie strawberry dan ah iya, puding pisang,” wanita cantik itu memamerkan bekalnya, “Aku membuatnya sendiri, lho.” Silahkan dicoba wanita itu menyodorkan puding pisang dan sendok kecil pada Sehun.

“Terima kasih,” Sehun mencicipi puding pisang tersebut dan, “Ini enak sekali, Noona!”

“Benarkah? Aku senang jika kau menyukainya, ayo makan lagi,” wanita itu tersenyum dan Sehun bersumpah itu senyum tercantik yang pernah dilihatnya.

“Sehun-ah, kenapa kau diam saja? Ayo makan lagi.”

“A-ah, iya.” Sehun yakin sekarang dia terlihat sangat bodoh. Menatap Sooyoung sambil menganga, bodoh kan?

“Sehun-ah, bagaimana rasanya menjadi murid SMA?”

“Melelahkan. PR, ujian ini, ujian itu, belum lagi gadis-gadis yang mengejarku Ck, pokoknya sangat melelahkan,” jawab Sehun atau lebih tepatnya curhat.

“Ah, begitu?”

“Tapi Noona juga pasti seperti itu kan waktu SMA, bedanya yang mengejarmu adalah para pria,” Sehun tertawa kecil sambil memakan sandwichnya.

“Aku harap begitu,” gumam Sooyoung pelan.

“Apa, Noona?”

“Tidak, tidak ada.” Sooyoung kemudian mengalihkan perhatiannya pada anjing mungil di pangkuannya, Suri.

“Noona sangat menyayangi Suri ya?”

“Begitulah, aku hanya punya Suri maka dari itu aku sangat menyayanginya.”

Ingin sekali Sehun bertanya lebih pribadi begitu melihat ekspresi Sooyoung saat membicarakan Suri. Tapi, Sehun tidak berani.

Kring. Kring.

“Halo Eomma, iya iya, aku akan segera pulang, baiklah,” Sehun memutuskan teleponnya.

“Ibumu, Sehun-ah?”

“Iya Noona, ibu memintaku untuk segera pulang. Biasa, untuk menyuruhku membersihkan kamarku yang katanya seperti kapal pecah padahal tidak seburuk itu.”

“Pulanglah kalau begitu, matahari juga sudah hampir tenggelam, memang sudah saatnya kau pulang.”

“Tapi … Noona, bisakah kita bertemu lagi?”

“Tentu saja. Besok kutunggu kau di tempat ini pukul 4 sore.”

“Serius?”

“Tentu.”

“Kalau begitu besok aku saja yang membawa makanan dan, ah iya, Noona suka bermain layang-layang? Besok akan kubawakan layang-layang.”

“Baiklah, aku serahkan piknik kita besok kepadamu, Oh Sehun-ssi.”

“Siap Kapten Sooyoung!”

Begitulah, keesokan harinya, lusa, bahkan selama seminggu ini Sehun selalu bertemu dengan Sooyoung di taman itu, di tempat yang sama dan di jam yang sama serta berpisah di jam yang sama juga.

“Sehun-ah, terima kasih ya sudah mau menemaniku selama seminggu ini, sungguh menyenangkan menghabiskan waktu denganmu.”

“Untuk apa berterima kasih, Noona? Aku yang seharusnya berterima kasih.”

“Untuk apa?”

“Karena aku telah menemukan jawaban pertanyaan yang belum kujawab sampai sekarang.”

“Maksudmu?”

“Noona, ah tidak, Choi Sooyoung-ssi, menghabiskan waktu bersamamu sangat menyenangkan dan aku berharap bisa terus bersamamu, aku …,”

“Kau?”

“Aku mencintaimu, Choi Sooyoung. Do you wanna be my girlfriend?”

“Aku …,”

Sooyoung tidak melanjutkan kata-katanya dan yang terjadi selanjutnya justru di luar bayangan Sehun. Sooyoung menciumnya. Benar. Tepat di bibirnya. Sehun membalasnya. Ciuman yang manis dan hangat.

Esok harinya Sehun terlihat bersemangat sekali pergi ke sekolah. Tidak biasanya memang, karena sekarang Sehun tahu apa jawaban pertanyaan Bambam. Tunggu saja, Bambam, akan kujawab pertanyaanmu dengan baik pikir Sehun sambil berjalan melewati taman tempatnya biasa bertemu Sooyoung.

“Suri! Suri! Jangan lari!”

Sehun melihat anjing yang sangat familiar berlari ke arahnya.

“Tolong tangkap dia!” Sehun mendengar orang yang mengejar Suri minta tolong padanya, tanpa dimintai tolong pun Sehun dengan senang hati akan menangkap anjing mungil menggemaskan itu.
Orang itu berdiri di depan Sehun sambil mengatur nafasnya. Seorang wanita setengah baya rupanya.

“Terima kasih sudah menolong menangkap Suri, anak muda. Larinya sungguh cepat.”

“Maaf, tapi anda siapa dan bagaimana Suri bisa bersama anda?”

“Suri anjing putriku tentu dia bersamaku, tapi bagaimana bisa kau tahu Suri?”

“Jadi anda ibu Sooyoung?”

“Kau kenal putriku?”

“Tentu saja, dia pacarkuah, saya belum mengenalkan diri dengan benar. Nama saya Oh Sehun, Ahjummoni, saya pacar Sooyoung putri anda.”

“Pacar? Tapi bagaimana bisa?”

“Saya bertemu dengannya seminggu yang lalu dan sejak itu kami selalu bertemu dan menghabiskan waktu bersama dan kemarin saya menyatakan perasaan padanya.”

“Anak muda, aku rasa itu mustahil. Putriku sudah meninggal setahun yang lalu, kau mungkin salah orang.”

“Meninggal? Tapi …. tidak mungkin.”

Wanita tersebut mengeluarkan sebuah foto dari dompetnya. Ini putriku, Choi Sooyoung mungkin Sooyoungmu adalah Sooyoung yang lain.

Sehun menatap foto itu lekat-lekat. Tidak, ini benar. Bahkan ini baju yang dipakainya kemarin.

“Apakah itu artinya yang kau lihat adalah arwah Sooyoung?”

“Dia terlihat terlalu nyata untuk jadi arwah.”

Yang kemudian Sehun dengar adalah kisah Sooyoung. Wanita tersebut memang benar.
Sooyoung meninggal setahun yang lalu karena kanker hati yang di deritanya. Dan Suri adalah anjing kesayangan Sooyoung yang menemani Sooyoung selama dia hidup karena Sooyoung tidak punya teman. Penyakitnya yang membuatnya harus terus tinggal di rumah. Dia tidak bisa menikmati menjadi murid SMA juga karena penyakitnya. Dan Suri adalah satu-satunya teman yang dimiliki Sooyoung.

Sore itu, Sehun pergi ke suatu tempat bersama dengan Suri dengan membawa buket bunga lili.

“Noona, kenapa kau tidak bilang padaku jika kau ini sudah meninggal? Padahal aku sangat berharap bisa menikah denganmu, tapi ternyata kau sudah tidak ada. Aku sungguh kesal,” ucap Sehun sambil meletakkan buket lili itu di atas makam Sooyoung.

“Walaupun begitu, aku harap kau bahagia di surga dan aku punya permintaan. Tunggulah aku di sana, jangan berani mencari pria lain, kau masih pacarku, ingat itu ya! Dan tentang Suri, aku sudah membicarakannya dengan Ahjummoni dan dia mengijinkanku untuk merawat Suri jadi mulai sekarang Suri akan tinggal bersama denganku, jadi jangan khawatir ya .. kalau begitu aku pulang dulu, sampai jumpa, aku mencintaimu!”

Sehun menoleh dan melihat sosok Sooyoung berdiri di bawah pohon sakura di dekat makam itu. Sooyoung tersenyum bahagia, sangat cantik.

4 thoughts on “[FREELANCE] First Love

  1. Elisa Chokies April 18, 2016 / 10:46 PM

    Nononono. Bentar-bentar. Izin ngakak dulu.

    WAKAKAKAKAK~

    Eh itu yg bagian Luhan lucu bgt, ucul sumpah
    Udah pede Sooyoung yg nulis surat cinta, ternyata yg nulis Chorong, Ahayde. Bukan keberuntunganmu Lu. Sooyoung hanya untuk Myungie. Dan apa tadi? Katanya suka bola basket tapi pas tau SooMyung pacaran malah jd sebel kuadrat, makanya jgn sok kepedean atuh ganteng.

    Myung km pangeran sekolah masa iya kalah sama bocah cem Chanyeol? uh? uh?

    Hun, km g beruntung disini. Sabar hun, anak sabar disayang Tuhan.

  2. Chansoo May 3, 2016 / 10:24 PM

    Wkwkwk 😂

    Ini fanfic kocak banget sih, asli !
    Bacanya pake senyum2 sendiri gak jelas
    Ceritanya seru dari awal sampe akhir, keren lah pokoknya. Sangat sangat menghibur 😚
    Meskipun pas bagian si thehun rada2 ngenes dan menyayat hati. Sabar ya hun..
    Tabahkan hati wkwk

  3. angelinaep June 28, 2016 / 1:03 AM

    Aku suka bagiannya ceye dan soo, mereka cocok skaliii 😂😂 moga2 aja mereka bisa jadi pasangan atau main di film yg sama kan ceye skarang sdh bisa main film 😂😂 #SooYeol

  4. Vexia July 12, 2016 / 10:35 AM

    nahh gue mungkin jadi diabetes baca ff lu bev, manis amat cem syoung walaupun part sehun rada nyesek sih tapi gue suka bev, lanjut lagi bev bikin ff syoung yakk ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s