[Oneshot] Ex?

Ex

Ex?

Written by Winterchan (@gelshaa)

Choi Sooyoung, Kwon Yuri, Byun Baekhyun, Park Chanyeol

Rating: G

Oneshot: 3382 words

Friendship, Romance, School Life.

Plot & Graphics © Winterchan

She can’t actually believe that guy over there is her ex.

***

Ribut. Satu kata yang terlintas di kepala Sooyoung, ketika dia berada di tengah-tengah kelas, sehingga dia bisa mendengar berbagai macam suara dari penjuru kelas, seolah suara itu terpantul dari tembok––meski nyatanya tidak. Tapi, yang jadi penyebabnya hanya satu, mungkin dua.

Dua murid paling tidak bisa diatur, itu Baekhyun dan Chanyeol. Mereka selalu tidak mau disebut duo troublemaker, tapi perilakunya menunjukkan itu, dan mereka tidak bisa dipisahkan.

Chanyeol orang yang tampan dan tinggi, suaranya––ini yang Sooyoung suka––berat dan dalam, sedalam samudera––. Awal-awal masa sekolahnya, Sooyoung, sebenarnya, pernah menaruh hati padanya, tapi dia tidak tahu bagaimana, tapi dia tak lagi menyukainya. Padahal menurutnya Chanyeol itu lucu.

Di sebelahnya, Baekhyun, yang berdiri dengan satu kaki di atas meja, tidak jauh berbeda, hanya saja dia tidak tinggi, hanya sekitar dua-tiga senti lebih tinggi dari Sooyoung. Baekhyun berisik. Tapi Sooyoung suka berteman dengan orang-orang berisik. Bisa dibilang dua orang troublemaker itu sahabat Sooyoung.

“HAHAHAHAHAHA! Kena kau, pecundang!” Suara Chanyeol, yang menggelegar dan paling keras, terdengar ke seluruh penjuru kelas––bahkan mungkin sampai ke luar––Sooyoung mengira.

Gara-gara dua orang berisik itu, satu isi kelas jadi super ribut, seolah semua orang tidak ada yang mau diam saja dan melewatkan kesempatan emas ketika semua guru rapat mendadak. Di pojokan, Sooyoung bisa melihat, dari tempatnya duduk, orang-orang membentuk lingkaran dan bermain kartu––yang Sooyoung penasaran disembunyikan di mana kartu itu sampai tidak terlihat satu guru atau osis pun––.

Pojokan yang lain, perempuan bergerombol, tertawa haha-hihi. Sooyoung biasanya ikutkubu kartu, atau ikut merecoki orang yang sedang duduk tenang bersama Baekhyun dan Chanyeol. Sooyoung biasa tertawa keras-keras, ikut meramaikan dunia.

Dari tempatnya duduk, yang persis di tengah kelas, ia melirik Baekhyun––masih berdiri di atas meja––yang kini sudah  sedang menyanyi lagu rock sambil melempar penghapus papan tulis sana-sini––dan sesekali tarantula dan ular karet.

“Kyaaaaaaa!” Itu suara perempuan––Sooyoung tidak tahu itu siapa––yang melengking dan memekakan telinga, ketika mendapati ada tarantula karet di atas kepalanya. Setelahnya terdengar Baekhyun yang tertawa terbahak dan tatapan jahil.

Ya ampun, apa benar dia temanku? Tanyanya, sulit percaya. Perempuan itu, ketika menyadari tarantula itu hanya karet, melemparnya kembali ke arah Baekhyun––dengan sekuat tenaga.

Sooyoung geleng-geleng kepala, seolah baru melihat temannya seperti itu.

Dan,

Lebih jauh lagi, apa benar dia mantan pacarku?

Kadang-kadang, Sooyoung tidak pernah percaya,––tapi itu benar adanya––dia pernah memacari anak sok gaul seperti Baekhyun yang satu itu, yang gila, jahil, dan tidak mau diam itu.

Sooyoung tertawa ketika dia menyadari bahwa sebenarnya Sooyoung juga tidak ada bedanya. Dia hanya sedang sedikit sakit kepala, sehingga melihat keributan membuatnya tidak nyaman, dan memaksanya bertingkah normal sehari.

Mereka––Sooyoung dan Baekhyun––berhubungan hanya sekitar enam bulan, sebelum akhirnya kandas, dan Baekhyun kembali jadi gila dan jahil, siapapun tidak percaya Baekhyun pernah menjalin hubungan. Masa sih Baekhyun yang itu punya pacar? Ih rumor kali, kata orang-orang SM High dengan ekspresi tidak percaya. Well, itu nyata, dan mereka, sang mantan, lagi-lagi sekelas di kelas tiga.

Tapi, Sooyoung, semenjak putus dengan si pembuat onar itu enam bulan lalu, sudah pernah berpacaran, setidaknya dengan satu orang––seseorang bernama Kim Jongin, yang adalah adik kelas, dan berakhir hanya dalam waktu satu bulan––. Kini Sooyoung tengah bahagia dengan seseorang dari sekolah tetangga, namanya Kris Wu.

Sementara Baekhyun, sampai saat ini masih saja mengenyam status sendirian. Chanyeol mengira gadis-gadis takut padanya, tanpa sadar, bahwa gadis lain pun takut pada Chanyeol yang tinggi dan jahil minta ampun.

“Yul, bisa hentikan mereka tidak?” erang Sooyoung putus asa, kepalanya berdenyut akibat berisik. Yuri, yang sedang mencoret-coret buku teksnya dengan spidol warna-warni, di bangku sebelahnya, menggeleng tidak berdaya, sebelum dia menengok juga, melihat Baekhyun di sana.

“Kau yakin pernah suka Baekhyun yang seperti itu?” Yuri tertawa, menunjuk Baekhyun yang kini memakai kantong plastik di kepalanya, tidak tahu tujuannya apa. Sooyoung menggeleng liar, dan matanya melebar horror.

“Aaaahhh.” Sooyoung, yang  sejak tadi menyandarkan kepala di atas meja, bangkit menegakkan tubuhnya. Mau keluar pun terasa percuma, di luar tidak ada bedanya, setiap kelas tampak seperti sedang lomba berisik––mencoba menghancurkan imej kelas masing-masing.

Sooyoung berdiri dan berjalan ke arah bangku yang ada di paling pinggir, paling dekat tembok, dan paling dekat jendela, bangku milik seseorang bernama––ah Sooyoung tak mengenali tasnya.

Dia menyandarkan kepala, lalu memejamkan mata, menikmati semilir angin musim yang sejuk, membawanya ke kenikmatan tidur, di tengah hiruk pikuk kelas yang absurd.

***

Ketika Yuri, Chanyeol, dan Baekhyun menampakkan diri di kantin, suasananya sudah agak ramai, tetapi sejak tadi, tak terlihat Sooyoung di mana pun.

“Kau yakin tidak melihat Sooyoung?” Yuri bertanya ketika sudah duduk di salah satu bangku, yang menghadap dua sahabatnya yang lain. Dengan penasaran, Yuri melempar pandangan, dalam keramaian, mencari sosok Sooyoung yang tinggi. Perempuan itu, jarang sekali melewatkan makan siang, tidak peduli sepenting apa pun urusannya.

“Bukannya tadi dia bersamamu terus?” tanya Chanyeol, yang matanya sudah bergerak-gerak tidak sabar untuk memesan makanan. Yuri mengangkat bahu. “Aku tidak melihatnya semenjak dia tidur di kelas.” Baekhyun melotot. “Tidur di kelas?” tanyanya, “di tengah-tengah keberisikan yang luar biasa? Tidak biasanya. Dia hanya tidur kalau guru ada.”

“Sooyoung bilang, tadi dia sedikit sakit kepala,” jawabnya lalu memberi Baekhyun tatapan menyalahkan, “gara-gara kalian tidak mau diam. Lalu aku pergi karena dipanggil ketua osis.” Yuri membuat gerakan dengan tangannya, tanda tidak tahu lagi. Baekhyun menggaruk-garuk kepalanya, lalu meminta maaf dengan wajah menyesal.

“Oh! Apa aku mengatakan sesuatu soal Osis?” Mereka berdua mengangguk bingung. “Aku harus mempersiapkan rapat! Oh ya, bungkuskan aku makanan, apa saja, uangnya akan aku ganti. Aku duluan ya!” Yuri berdiri, lalu, dengan tergesa-gesa, berlari menuju pintu keluar kantin yang besar, sambil mengikat rambutnya asal-asalan.

Chanyeol dan Baekhyun menatap kepergian Yuri dengan nelangsa, masalahnya, uang mereka hampir habis. Lalu, dengan serempak, mereka mengeluarkan dompet masing-masing, dan menghitung jumlahnya dan dengan menyedihkan menyatukan uang mereka untuk membungkuskan Yuri makanan.

Baekhyun berdiri. “Aku akan yang akan beli makan siang, punya Yuri disamakan saja?” Chanyeol mengangguk dan membuat gerakan mengusir dengan tangannya. Dan dia menunggu, sambil mengetuk-ngetukkan jarinya. Selagi menunggu, Chanyeol berpikir, kepergian Sooyoung sungguh terasa janggal. Belum juga terlihat batang hidungnya semenjak bel istirahat berbunyi.

Lalu Chanyeol dikejutkan dengan suara bruk yang keras, yang datang dari kursi di depannya, yang ternyata adalah Choi Sooyoung, yang baru saja dia pikirkan. Hanya saja ada yang berbeda dari penampilan gadis itu. Pipi, hidung, mata, semuanya merah. Tangannya menggenggam––atau lebih tepatnya meremas––tisu, dan beberapa kali menghapus air matanya yang meluncur turun tanpa henti.

Sooyoung menangis keras, tidak terlalu, tapi cukup.

Chanyeol kelabakan.

Dari tadi dicari, dan muncul tiba-tiba sudah menangis? Dia tidak tau harus apa, maka dia hanya diam mematung dan memperhatikan bagaimana gadis itu menangis terseguk-seguk.Nanti, pada saatnya, dia sendiri yang akan cerita, pikirnya percaya diri.

Lalu dia menunggu dan menunggu, gadis itu belum juga berhenti. Dia mendengar dan terus mendengar bagaimana gadis itu menangis sambil sesekali mengatakan sesuatu, yang Chanyeol tidak bisa tangkap.

Akhirnya, beberapa kali, Chanyeol mulai bisa menangkap satu-dua kata. Di depannya, dia bisa mendengar Sooyoung menyebut-nyebut Kris. Kris kenapa? tanyanya. Dikeluarkan dari sekolah? Ketahuan pengedar narkoba? Chanyeol menggeleng-geleng liar.

Ketika dirasanya Sooyoung tak akan juga berhenti meski dunia terbelah dua, Chanyeol mulai berpikir untuk melakukan sesuatu. Dengan panik, Chanyeol merogoh-rogoh sakunya tidak sabar, dan mengeluarkan ponsel. Beberapa kali dia mencoba membuka kunci yang diamankan password-nya sendiri, dan gagal. Chanyeol menarik napas, dan mencoba lagi, dengan tenang, membuka kuncinya.

Dibukanya message dan mencari kontak Kwon Yuri.

Yuri! Tolong aku! Sooyoung tiba-tiba datang padaku yang sendirian di kantin dan menangis sejadi-jadinya! Aku tidak tau harus apa!

Ting. Chanyeol bersyukur Yuri mengetik dengan kecepatan turbo.

Apa? Tanya padanya kenapa dia menangis!

Aku tidak tahu! Aku tidak berani! Dia hanya menyebut-nyebut Kris. Dia bicara tidak jelas, sungguh.

Astaga! Sudah kuduga, Kris memang bukan orang yang baik. Instingku selalu benar.

Bisakah kau ke sini dengan cepat, Yul? Oh aku baru mendengar sesuatu dari Sooyoung. Dia mengatakan sesuatu tentang putus.

Tidak bisa Chanyeol, aku berada di tengah-tengah rapat. Apa? Putus? Kris brengsek!

Ayolah Yul?

Tunggu. Di mana mantannya? Mantannya?! Cepat panggilkan mantannyaaa!

Mantan siapa? Mantan Kris?

Mantanmu, Park Chanyeol.

Hah?

Bodoh! Byun Baekhyun, your fucking friend. Oh! Chanyeol menggaruk tengkuknya canggung.

Chanyeol tidak tahu kenapa dia harus memanggil mantannya, tapi mengikuti titah Yuri dengan patuh, matanya bergerak-gerak gelisah mencari keberadaan Baekhyun, di keramaian, dan dia tidak tahu apa yang membuat Baekhyun begitu lama. Dan Chanyeol semakin gelisah ketika Sooyoung tak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti, malah, entah perasaan Chanyeol saja atau bukan, semakin menjadi-jadi.

Kemudian Baekhyun datang membawa dua gelas jus jeruk dan satu botol susu pisang, yang dibawanya dengan nampan. Chanyeol sempat berpikir kemana makanannya pergi. Baekhyun melotot, melihat Sooyoung menangis, dan diliriknya Chanyeol yang bertampang tidak tahu apa-apa.

“Hei kenapa dia?” tanyanya hati-hati pada Chanyeol. “Sepertinya dia patah hati, aku mendengarnya menyebut nama Kris dari tadi.”

“Dan kau diam saja?” Tanpa menunggu jawaban, Baekhyun berjalan ke seberang meja, dengan wajah simpatik, ke tempat di mana Sooyoung duduk, dan berdiri di sampingnya. Tangan kanannya bergerak ke bahunya, dan dengan gugup, mengusap-usapnya pelan. Dan sesekali menepuk, sementara tangan kirinya menggaruk-garuk kepalanya, kebingungan. Sungguh sahabat yang baik.

Baekhyun tidak tahu bagaimana cara menghadapi orang menangis, begitu pula Chanyeol. Hidup mereka seolah dihabiskan hanya untuk menjahili orang, dan tertawa sepuasnya. “Di mana Yuri?” Chanyeol menjawab singkat, “Rapat.”

Baekhyun, yang berdiri, menundukkan kepala, melihat si perempuan yang sedang duduk. “H-hei Sooyoung. Apa yang membuatmu menangis?” tanya Baekhyun hati-hati.

“K-k-kr––”

“Kris?” potong Baekhyun. Sooyoung mengangguk dalam tangisnya. Seraya masih mengusap-usap bahunya, tangan kiri Baekhyun sibuk bergerak-gerak, meminta Chanyeol memberinya tisu lain, ketika dilihatnya, tisu yang Sooyoung gunakan sudah habis, dan malah menggunakan lengan bajunya.

Dengan patuh, Chanyeol memberinya sekotak tisu––yang entah datang dari mana, karena seingat Baekhyun, Chanyeol tidak pernah menyimpan tisu. Sooyoung merampas isi kotak itu dalam satu tarikan, dan mengusap air matanya yang tidak mau berhenti turun.

Lalu tangan kiri Baekhyun bergerak-gerak lagi, dan Chanyeol kebingungan, Baekhyun menggerakkan matanya ke arah jus jeruk yang dingin itu. Kemudian dengan bingung, Chanyeol menyerahkan segelas jus jeruk pada Baekhyun.

Baekhyun mengambilnya, dihadapkannya minuman itu di depan wajah Sooyoung, dan berkata dengan pelan, “Kau pasti haus. Minum dulu Sooyoung, setelah itu kau boleh melanjutkan menangis. Ayo.” Chanyeol merasa Baekhyun terdengar seperti seorang pengasuh, dia hampir tertawa.

Anehnya, dengan patuh, Sooyoung mereda, melirik sekilas pada jus jeruk yang menggiurkan yang ditawarkan padanya, dan menyedotnya sampai habis. Oh boy, dia benar-benar kehausan.

Apa dia menangis sepanjang perjalanan sampai sini? tanya Baekhyun.

Dan anehnya lagi, Sooyoung malah lanjut menangis, persis seperti apa yang disuruh Baekhyun. Kemudian––walaupun dia tidak benar-benar tahu apa yang dia lakukan–– dengan sigap, Chanyeol memberinya gelas kedua. Baekhyun melakukan lagi hal sama.

Orang-orang berlalu lalang, dan sesekali melirik mereka, berbisik-bisik, mengatakan bahwa itu terlihat lucu ketika seorang Baekhyun, yang berusaha menghibur mantannya yang menangis––karena mantan kekasihnya yang baru.

“Sooyoung, kau masih haus? Ayo minum lagi.” Suaranya lembut, tapi terdengar seperti ibu tiri, yang memaksa anaknya untuk terus minum sampai kembung, tapi Baekhyun bukanlah ibu tiri. Sooyoung menghabiskannya, lagi.

Orang bilang jus jeruk kantin memang paling segar dan paling enak.

Chanyeol memerhatikan, ketika gerakan mata Baekhyun menyuruhnya melakukan sesuatu. Chanyeol berpikir, akhirnya dia bergegas pergi, lalu kembali membawa nampan, dengan dua porsi makanan––yang menurut mereka porsi hemat karena biasanya jika untuk berdua, mereka pesan empat porsi.

“Nah Sooyoung, kau lapar? Makan dulu, setelah makan kau boleh berhenti menangis. Ayo, tidak usah ragu-ragu.” Di seberang meja, Chanyeol terkekeh.

Sooyoung mereda, menatap dua porsi makanan di depannya, dan kedua matanya berkedip-kedip. Baekhyun merasa bangga bisa menghentikan tangisan seseorang.

Chanyeol mulai mengerti apa yang temannya akan lakukan, maka dia memberi Baekhyun tatapan kau-tidak-akan-memberikan-punyaku-juga-padanya-kan? Dengan tatapan juga, Baekhyun menjawab silahkan-makan-milikmu-rakus! Baekhyun menepuk bahu gadis itu dua kali sebelum mengambil tempat duduk di sampingnya.

Baekhyun memerhatikan, dengan tatapan lapar, ketika Sooyoung mulai mengunyah makanan, yang seharusnya miliknya. Chanyeol, di depan, makan dengan amat semangat, dan tanpa belas kasih, tidak menawari Baekhyun.

“Kau tidak pesan juga?” tanya Sooyoung, ketika sadar bahwa Baekhyun hanya diam. Baekhyun, dengan senyum yang manis, menggeleng sok kuat. “Itu aku––sudah makan. Heheh.” Sooyoung hanya mengangguk tanpa bertanya lebih jauh.

Tapi…

Lama-lama, Baekhyun jadi semakin lapar, apalagi hanya sarapan sandwich yang tidak mengenyangkan. Kalau milik Yuri dia ambil sekarang, dan memakannya, maka dia harus bayar setengah harga pada Chanyeol, jadi Baekhyun memutuskan untuk tidak.

Dengan sendok yang tidak Sooyoung gunakan––karena dia menggunakan garpu dan membiarkan sendoknya menganggur––Baekhyun mulai sesekali ikut mencuri satu-dua suapan dari piring Sooyoung, mengunyahnya dengan nikmat yang luar biasa karena lapar. Dan ketika akan mengambil suapan ketiganya, Sooyoung memukul tangannya dengan cepat, menjauhkannya dari her precious food.

“YA! Jangan ambil punyaku! Kau bilang sudah makan tadi, kan!” ucapnya galak. Baekhyun, beberapa saat, tidak percaya tadi gadis ini menangis seperti tiada hari esok.

“Tapi Sooyooooung––” katanya, dengan nada merajuk, yang bagi Chanyeol, menyebalkan. Sooyoung melirik. “Apa?!”

“Aku kan sudah mengorbankan makananku untukmu!” sungutnya, “aku belum makan, kau tahu, tadi hanya bohong belaka. Kau menangis terus tadi.” Berhenti makan, Sooyoung menatapnya, dengan terharu––tatapan seolah ingin menjadikan Baekhyun anaknya. Lalu sedetik kemudian ekspresinya berubah menyesal.

“Maafkan aku, Baekhyun. Ini, kau bisa memilikinya. Aku belum memakannya terlalu banyak,” katanya murung.

“Tidak, tidak! Maksudku bukan itu––aahh lupakan apa yang aku katakan. Aku baik-baik saja, sungguh! Tidak apa-apa jika kau mau menghabiskannya.” Dengan tatapan mata meyakinkan, lelaki itu mengangguk-angguk.

Sooyoung, melihat Baekhyun yang salah tingkah, tertawa, untuk pertama kalinya. “Kita bisa makan berdua, Baek.” Baekhyun mengangguk kikuk. “Kau benar,” katanya. Kemudian Sooyoung menggeser piringnya, menempatkannya di tengah-tengah, dan mulai makan kembali. Dia bisa melihat, dari sebelah, mata Baekhyun yang berbinar.

Ting!

Satu pesan dari Yuri.

Kau menemukan Baekhyun? Dan bagaimana Sooyoung?

Jangan tanya aku bagaimana, tapi mereka sedang makan sepiring berdua, dan minum susu rasa pisang sebotol berdua.

Hahahahaha.

Isi pesan yang hanya tertawa seperti itu, Chanyeol merasa tidak perlu menjawabnya. Tapi, baru tiga detik setelah ia memasukkan ponselnya ke dalam saku, ringtone tanda notifikasi itu berbunyi lagi, hampir membuat Chanyeol berteriak secara virtual pada Yuri.

Kau tidak ingin pergi dari sana?

Chanyeol tidak mengerti. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku.

“Kalau kau mau cerita, cerita saja, Sooyoung,” kata Chanyeol yang sejak tadi, dan jarang-jarang, terdiam. “Tapi kalau bercerita membuatmu ingin menangis lagi, sebaiknya nanti saja,” lanjutnya.” Sooyoung terdiam, dahinya berkerut, ia berpikir.

Singkatnya. Kris Wu, lelaki tampan dari sekolah tetangga, ternyata memacari teman satu sekolahnya, tanpa memutuskan hubungannya dengan Sooyoung, dan mengaku padanya bahwa dia single. Entah bagaimana berita itu cepat menyebar, dan akhirnya sampai ke telinga Sooyoung. Sooyoung, tentu saja, tersinggung.

“Dan kau sempat menghilang. Ke mana kau sebenarnya?”

“Aku berusaha menelpon Kris, yang tidak tahu kenapa, sulit sekali dihubungi.” Dahi Sooyoung mengernyit, “aku memutuskannya saat itu juga, dia benar-benar brengsek, aku dianggap apa selama ini? Tidak bisakah ia bicara baik-baik kalau memang menaruh hati pada orang lain?” geramnya.

“Kau tampak baik-baik saja, Sooyoung, kau yakin tidak patah hati?”

“Tidak, tidak. Bukan itu” katanya. “Itu sesuatu seperti…” Sooyoung berpikir, “merasa marah karena tidak dianggap sama sekali, maksudku––hei aku juga manusia dan punya perasaan.” Sooyoung menggeram.

“Apa aku perlu menghajarnya untukmu?” tanya Chanyeol menggebu, tinjunya teracung ke udara. Sooyoung menggeleng. “Tidak. Jangan habiskan tenaga untuk orang tidak penting seperti dia.” Chanyeol tertawa.

Baekhyun berpikir dan mulai mengingat sesuatu. “Sakit kepalamu sudah sembuh, Sooyoung?” tanyanya. Sooyoung, yang sudah selesai menghabiskan makanannya, menoleh ke samping kiri. “Sakit kepala?” tanyanya bingung, dan dilihatnya Baekhyun dengan ekspresi semoga-cepat-sembuh-nya, tengah menatapnya, sempat membuat Sooyoung ingin tertawa.

“Yuri bilang, itu gara-gara kami––aku dan Chanyeol terlalu berisik.”

“Kau benar, di kelas rasanya kepalaku sakit sekali, sampai membuatku ingin meliburkan diri––yah setidaknya dua minggu. Lalu––aku tidak tahu bagaimana, tapi itu hilang.”

Baekhyun tertawa. “Yeah, itu bagus.” Kemudian lelaki itu tersenyum manis. Detik itu juga Sooyoung tahu, apa yang membuatnya menyukai Baekhyun yang aneh, gila, dan jahil itu dulu.

Sooyoung tersenyum padanya juga.

Kemudian Chanyeol merasa bahwa dia benar-benar harus pergi.

***

Hari ini adalah hari lain ketika guru-guru hilang lagi, pergi meninggalkan kelas untuk rapat. Tidak ada yang mau melewatkan kesempatan emas. Bahkan para bintang kelas yang jenius pun, anehnya, berharap guru-guru lebih sering mengasah hobi rapatnya. Intinya, mereka suka kebebasan.

Baekhyun, lagi-lagi, membawa binatang karetnya, kelabang––yang tampak luar biasa asli. Melempar asal ke belakang dan ke depan, dan tersenyum bangga ketika berhasil membuat orang berteriak, dan dengan histeris berlari ke luar kelas––dan dia tidak kembali. Mungkinphobia.

“HAHAHAH! What the hell, Byun Baekhyun!” Sooyoung memukul-mukul punggung Baekhyun keras-keras, sambil dia tertawa seperti tak ada hari esok. Hari ini, untungnya Sooyoung tidak sakit kepala lagi, jadi ia bisa tertawa keras-keras. Chanyeol menggambar segala macam di papan tulis.

Di luar kelas, seseorang dari kelasnya menepuk-nepuk dua penghapus blackboard––padahal tak satu kelas pun menggunakan kapur dan blackboard jadi Sooyoung heran dia mendapatkannya dari mana––, menghasilkan debu-debu kapur, dan ada gadis yang terbatuk-batuk tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dia tidak yakin apakah itu sesak napas atau hanya batuk. Temannya, di sebelahnya, menawarkan obat batuk.

Ketika dirasanya semua perempuan di kelas dia sudah kerjai dengan puas, Baekhyun bergabung dengan orang-orang di pojokan kelas, yang sedang memainkan sesuatu bernama 007 Bang. Permainan dimulai, dan setiap saat, orang-orang tampak tertarik, bergabung satu per satu sampai akhirnya menjadi lingkaran besar.

Permainan dimulai kembali dan Baekhyun kalah. Konsekuensinya, ini yang dia tak mengerti, adalah memilih, Truth atau truth?

Satu pertanyaan datang dari seseorang bernama Daehyun. “Apa kau takut hantu?” Daehyun menerima pukulan di kepala beberapa kali, menyoraki, mengatakan bahwa pertanyaannya murahan dan tidak menantang sama sekali.

“Yeah, aku takut,” akunya dengan berat hati. Para perempuan, terutama yang sering dijahilinya, terkekeh. Selama ini Almighty Baekhyun dikenal tidak takut apa-apa, ialah yang membuat semua orang takut. Sooyoung, di sisi lain lingkaran, terkikik. Baekhyun bertekad, mulai saat ini, ia tidak akan kalah lagi, terlalu banyak rahasia yang bisa kapan saja kalau ia kalah la––o ow.

“Baekhyun, kau kalah lagi.” Baekhyun mengangguk pasrah, melamun sedikit, kau bisa jadi sasaran. Chanyeol, di sisi lain juga, belum pernah kalah sama sekali. Baekhyun memperingatkan Chanyeol, lewat matanya, untuk tidak menanyakan apapun ketika dia kalah.

Sampai detik kesepuluh belum ada yang mau bertanya, tapi semua orang tampak sedang berpikir, Baekhyun menunggu dengan sabar. “Apa aku boleh bertanya lagi?” tanya Daehyun kikuk, lebih kepada teman-temannya. Daehyun selalu saja bertanya yang tidak penting. Tapi untuk orang-orang yang pernah kalah, yang ditanya olehnya, merasa itu sebuah keberuntungan. Tidak seperti Kibum––atau Key––yang menanyakan sesuatu seperti, apa kau pernah berselingkuh? Berapa kali kau berselingkuh? Sebutkan selingkuhanmu satu-satu!

Lebih tidak beruntung lagi, Key sama sekali belum pernah kalah sepanjang sejarah permainan.

“Tidak, tidak!” Kata Key, Daehyun menurunkan, dengan pasrah, tangannya yang tadi teracung. “Biar aku!” kata Key lagi dengen ekespresi berbahaya. Baekhyun menunggu dengan berdebar. Orang-orang tertawa-tawa, beberapa menutup mulutnya, dan menunggu Key membuka mulut.

“Baekhyun,” Key memulai, “kau masih suka Sooyoung––” mata Baekhyun melebar. “––ya?” Holy crap. Kedua telinganya memerah. Dia bisa melihat, semua orang tersenyum-senyum jahil padanya. Key merasa bangga luar biasa akan otak jeniusnya.

“Aku harus menjawabnya ya?” tanya Baekhyun, mengulur waktu. Semua orang memberinya tatapan tidak-baekhyun-tak-perlu-dijawab-sekarang-itu-jadi-pr-untukmu. Baekhyun tidak keberatan, bila harus menjawabnyas sekarang juga, tapi masalah terberatnya ada di situ, di sebelah Chanyeol, maksudnya––Sooyoung, maksudnya lagi, orang yang bersangkutan ada di situ, ikut bermain pula. Maksud yang sebenarnya, dia bisa mendengar. Key memang benar-benar gila, pikirnya.

Chanyeol menunggu dengan penasaran. Yuri, di lain sisi, tersenyum aneh. Sooyoung, dilihatnya dia masih baik-baik saja, malah, wajahnya terlihat paling biasa di antara yang lain.

“Yah,” Baekhyun membuka suara. “Sebenarnya,” ucapnya hati-hati, “masih.” Diakhiri dengan menggaruk belakang kepalanya. Kemudian serangkaian kata ‘aww’ terdengar di antara para perempuan. Bagaimana pun juga, Baekhyun belum berani melihatnya. Dia hanya bisa melihat, di seberangnya, Yuri yang tersenyum padanya, seperti ibu yang bangga anaknya telah wisuda. Semua orang seperti tidak menyangka Baekhyun yang jahil dan luar biasa musuh seluruh umat, bisa suka perempuan juga, dan itu adalah mantan kekasih enam bulannya.

Ketika makan siang di kantin, seperti biasa, berempat, Sooyoung masih terlihat sama. Baekyun membiarkan pengakuannya hanya sekedar informasi untuk Sooyoung, tanpa benar-benar tahu, bahwa sejak tadi sampai waktu pulang tiba, ada seseorang yang kesulitan mengendalikan perutnya yang bergejolak tidak nyaman––namun menyenangkan. Mereka menyebutnya kupu-kupu. Tidak peduli sebanyak apapun dia makan, kupu-kupu itu tampaknya selalu punya tempat kosong, di dalam perutnya, untuk menggelitik.

Seminggu kemudian, Sooyoung sudah menjadi kekasih dari Byun Baekhyun sekali lagi. Semua orang selalu bertanya-tanya bagaimana caranya mereka menjadi sepasang kekasih, apakah Sooyoung yang memintanya duluan, atau Baekhyun duluan, tapi tak ada satupun yang memberitahu. Chanyeol dan Yuri juga, yang notabene sahabatnya, tidak pernah tahu, yang mereka dengar hanyalah mereka––Baekhyun dan Sooyoung––tidak tahu, kata mereka, itu tiba-tiba dan begitu saja.

Bagaimana mungkin, dua orang bisa tiba-tiba––benar-benar tiba-tiba––menjadi sepasang kekasih?

 

––FIN––


*) Hai, aku kembali bawa ff Sooyoung, featuring Baekhyun perdana! Yah Baehyun sebenernya udah jadi bias aku semenjak jaman exo masih zigot, dan seketika inget kalo si Baekhyun ini satu-satunya bias aku yang belum pernah dijadiin lead role di ff aku, dan aku pun jadi merasa bersalah karena sudah menistai bias sendiri. Dan akhirnya aku bikin ff Baekhyun deh.

Dan sekalinya dibikin ff dia malah makin nista! Maafkan fansmu yang seperti ini, Baek!

Oh ya, di sfi sekarang authornya sibuk-sibuk ya? Pada jarang lagi update *ini gak nipak banget*, yah memang authornya sekarang sudah pada besar (?)

Btw yang sudah baca, komen ya 🙂

Akhir kata, sampai jumpa!

10 thoughts on “[Oneshot] Ex?

  1. Hana December 31, 2015 / 2:18 PM

    Satu kata aja. Manis :3

  2. Ki January 1, 2016 / 10:57 AM

    Ini lucu manis dan sempurna,
    Mau ff lagi dong

    • winterchan January 1, 2016 / 2:54 PM

      Wah termakasih😀
      Diusahakan🙂

  3. Tyas January 5, 2016 / 1:37 AM

    Sukaaaaaaaa

  4. Kiki (@Rizky_amelia24) January 8, 2016 / 9:55 AM

    Awalnya senang SooKris ada muncul tapi Krisnya jahat banget😦 ngeduain Sooyoung gitu😦 untung aja ada mantannya yang luar biasa ceria wkwk
    Dan pas bagian mereka main ToT itu aku senyum senyum sendiri wkwk pasti Baekhyun malu banget karena secara ga langsung dia nyatain perasaanya dong wkwk (pengalaman) tapi akhirnya dari permainan ToT mereka bisa jadian lagi wkwk. Harusnya BaekSoo berterimakasih sama Key karena pertanyaannya yang ‘berkelas’ itu wkwk

    • winterchan January 9, 2016 / 10:56 PM

      Yaah hehe maafin Kris dibikin nyebelin di sini😦
      iyadong, baekhyun gitu!
      pasti wkwk
      betul, yang paling berjasa di sini Key ya😀

      btw terimakasih sudah baca + komen😀

  5. kywpis. January 10, 2016 / 1:04 AM

    Ya Tuhan…… ini terlalu manis untuk disebut manis /apaan/
    btw itu pasangan ghaib ato apaan sih, tiba tiba pacaran, terus putus gitu aja x”D plus kesian canyul yang jadi obat nyamuk waktu lagi di kantin, yodah canyul ganteng sini sama aku aja /g/
    yaudah deh kebanyakan bacot akunya, keep writing ya kak! ♥

    • winterchan January 10, 2016 / 2:52 PM

      Yah jadinya apa dong, asem manis (?)
      Masalah yg begituannya mah rahasia soobaek heheheheh
      Ngga kok, ngga kasian, udah sama aku 😁👫

      Hehe terimakasih sudah baca + komen🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s