[MINI SERIES] Be Happy | Chapter 2

Soohan-Be-Happy-Poster-New

Tittle : Be Happy | Chapter Two

Author : ChoiXiOh

Cast : Xi Luhan [ex-EXO] || Choi Sooyoung [SNSD]

Other Cast : Find By Your Self

Rating : PG 17

Lenght : Mini Series 1-4.

Genre : Romance, fluf, comedy, school life, friendship (maybe)

A/N : Hohoho.. Aku balik lagi dengan ff yang ide nya dapet dari salah satu ff dan juga drama korea yang jadi favorit aku akhir-akhir ini “PINOCCHIO”. Judul FF ini memang gak sesuai sama isi cerita nya. Maklumin aja ya, aku gak tau kalo harus ngasih judul ff nya nama penyakit yang di jelasin dalam cerita ini. Walaupun ff ini jelek dan gaje. Kalian yang udah baca tetep harus RCL.

Summery : Xi Luhan adalah pria tampan yang masih duduk di bangku kelas 12 SMA yang mengidap penyakit langka. Bila penyakit nya itu kambuh, ia harus cepat-cepat mendapat ciuman dari seorang wanita yang benar-benar tulus mencium nya agar rasa sakit yang di rasanya itu hilang. Luhan memiliki sahabat bernama Choi Sooyoung yang juga mengidap penyakit aneh dan langka yaitu “PINOCCHIO”. Sooyoung tidak pernah bisa berbohong, dan kalau setiap dia bohong, sooyoung pasti akan mengalami cegukan. Cegukan nya itu akan hilang kalau ia kembali jujur. Dan untuk luhan, setiap penyakit langka nya itu kambuh, luhan pasti akan menyuruh sooyoung untuk mencium nya. Bagaimanakah kelanjutan dari summery di atas. Akankah luhan dan sooyoung yang awalnya sepasang sahabat menjelma menjadi sepasang kekasih karena dua buah penyakit aneh nan langka yang mereka idap ? ? #Summery yang panjang.

WARNING ! ! Alur gaje, absurd, typo bertebaran, feel mungkin gak ada. Don’t bashing, Don’t plagiat, and keep RCL. Big thank’s to active readers. Siders OUT !

~Happy Reading~

“Aku senang memiliki penyakit yang langka seperti ini. Karena dengan begitu kau akan setiap saat mencium ku.” – Xi Luhan

“Kadang aku merasa tersiksa dengan penyakitku ini. Karena dengan begitu aku tidak pernah bisa berbohong dengan perasaan ku yang sebenarnya.” – Choi Sooyoung

Author Pov

Luhan menggeliat tak tenang di atas ranjang king size nya. Sejak setengah jam yang lalu tubuh nya mengeluarkan keringat dingin yang cukup banyak dari pori-pori kulit nya. Suara ringisan dan erangan pun terdengar samar-samar dari mulut luhan. Sprei serta selimut nya kini sudah berantakan karena pergerakan tubuh nya.

“Arghh..” luhan mengerang mencengkram kepala nya lalu turun ke dada kiri nya.

Sakit itu. Sakit yang benar-benar sangat menyiksa batin nya itu kini datang menggerogoti tubuh nya membuat tubuh nya remuk nan panas. Kedua mata rusa milik pria berdarah chinese itu terpejam kuat kala menahan nyeri yang semakin menjadi-jadi.

Dengan perlahan luhan menyandarkan tubuh nya di sandaran ranjang nya, ia menolehkan kepala nya ke samping meja nakas dan melihat jam weker yang sudah menunjukkan pukul 11 malam waktu KST.

Luhan kembali mencengkram kuat kepala bagian belakang dan dada kirinya. Ia tidak bisa berlama-lama lagi. Rasa nyeri ini benar-benar menyiksa nya. Dada nya begitu sesak seperti ada seutas rantai baja yang mengikat di sepanjang dada nya. Kepala nya pun merasakan yang sama, ia seperti tengah menahan beban beribu-ribu kilo di belakang kepala nya. Begitu berat dan membuat luhan ingin pingsan sekarang juga.

“Arghh..”

Luhan tidak bisa lama-lama lagi. Rasa nyeri di kepala dan sesak di dada nya kini semakin menjadi-jadi. Ia membutuhkan sesuatu untuk meredakan rasa nyeri dan sesak yang begitu menyiksa dirinya.

Dengan langkah hati-hati nya, luhan berjalan ke arah pintu balkon nya yang terbuat dari kaca. Ia membuka pintu balkon tersebut lalu berjalan ke arah pagar pembatas balkon nya di samping kiri. Mata nya yang terlihat menyimpit menerawang ke dalam kamar sooyoung dari pinggir balkon nya.

Ia harus menemui sooyoung. Semoga saja pintu balkon kamar sooyoung tidak di kunci mengingat gadis yang menjadi sahabat nya itu sering lupa untuk mengunci pintu balkon dan memudahkan luhan untuk masuk ke dalam kamar sooyoung melewati pagar pembatas balkon nya.

Luhan sudah berancang-ancang akan melompati pagar balkon nya untuk sampai di pagar balkon kamar sooyoung. Tidak perlu susah-susah atau memerlukan beberapa alat untuk luhan melewati pagar pembatas balkon kamar sooyoung.

Karena memang balkon kamar nya dengan balkon kamar sooyoung berjarak dekat, atau mungkin bisa di katakan saling berhimpitan. Jarak nya tidak ada 2 langkah. Dalam sekali lompat luhan sudah mampu melewati bakar pembatas balkon kamar sooyoung.

Luhan berjalan ke arah pintu balkon sooyoung  yang juga terbuat dari kaca. Hanya saja kalau sooyoung sedikit menambahkan beberapa tirai yang terbuat dari kerang-kerang dan manik-manik membuat pintu kaca balkon nya menjadi semakin menarik.

‘Srekk..’

Luhan menggeser pintu balkon sooyoung dan melangkah secara pelan-pelan mendekati ranjang sooyoung. Dapat luhan lihat kalau kini sahabat nya itu sedang tertidur pulas seraya memeluk boneka doraemon pemberian nya saat hari natal tahun lalu.

Senyum tipis tersungging di wajah luhan kala melihat wajah polos sooyoung saat tertidur. Begitu damai, seperti dirinya tak memiliki beban hidup yang berat.

“Argh..” Luhan kembali mencengkran kuat dada nya ketika rasa sesak dan nyeri di kepala nya itu datang.

Seperti nya ia tidak bisa lama-lama menunggu lagi. Luhan butuh sooyoung sekarang. Membutuhkan sahabat nya itu untuk membantu meredakan rasa sesak dan nyeri yang di derita nya. Karena hanya sooyoung lah yang bisa menyembuhkan rasa sesak dan nyeri di dada dan kepala luhan.

Dengan perlahan, luhan mulai menggoyangkan tubuh sooyoung. Suara nya sangat parau karena menahan sakit yang begitu menyiksa batin nya.

“Sooyoung-ah, bangun lah.” ucap luhan pelan.

Sooyoung menggeliat sebentar lalu menggumam tidak jelas.

“Sooyoung-ah, bangunlah. Aku membutuhkan mu.” ucap luhan sekali lagi, dan kali ini sooyoung sukses terbangun.

Kedua mata gadis berusia sepantaran dengan nya itu mengerjap-ngerjap lucu.

“Luhan, sedang apa kau di kamar ku. Apa yang kau lakukan, huh?” sooyoung langsung memborbardir luhan dengan pertanyaan.

“Soo, aku membutuhkan mu sekarang. Ku mohon, cium aku seakarang. Aku sudah tidak kuat.” ucap luhan dengan napas tersenggal menahan rasa sesak dan nyeri nya.

Mata almond sooyoung membulat seketika, ia mengucek-ngucek mata nya dan melihat raut wajah luhan yang memucat dengan tangan yang mencengkram kuat dada kiri nya.

“Luhan kau tidak apa-apa?” tanya sooyoung menuntun luhan untuk duduk di pinggir ranjang nya.

Luhan tak menjawab, yang keluar dari mulut nya hanya rintihan menahan rasa sesak dan nyeri di dada dan kepala nya. Sooyoung juga dapat melihat dengan jelas wajah pucat luhan yang sudah di banjiri dengan keringat dingin.

“Aku.. Argh..” ucap luhan terpotong kala rasa sesak di dada nya semakin menjadi-jadi.

Sooyoung terlihat panik melihat wajah pucat luhan yang sedang menahan sakit nya. Dengan sigap sooyoung menarik tangan luhan untuk mendekat ke arah nya. Di tarik nya dagu luhan agar mendongak menatap wajah sooyoung.

“Apa dada dan kepala mu sakit lagi?” tanya sooyoung dengan nada dan raut wajah panik nya.

Luhan mengangguk. Kedua mata nya kembali terpejam saat merasakan rasa sakit yang semakin menjadi-jadi. Luhan sudah benar-benar tidak bisa menahan semua nya. Ia butuh bungkaman bibir sooyoung untuk meredakan rasa sakit nya.

“Argh.. Cepat soo. Cepat cium aku. Aku sudah tidak kuat.” ucap luhan dengan napas yang tersenggal-senggal.

Sooyoung mengangguk. Ia menarik dagu luhan lalu dengan gerakan cepat nya menempelkan bibir nya dengan bibir luhan. Perlahan sooyoung mulai menggerakan bibir nya di bibir tebal milik luhan. Menyapukan setiap bentuk ciuman bibir nya di bibir luhan. Luhan pun merasakan rasa sesak dan nyeri di kepala nya sudah semakin berkurang.

Kedua tangan luhan perlahan merambat ke pinggang sooyoung lalu menariknya agar sooyoung duduk di atas pangkuan nya. Kedua tangan sooyoung pun sudah merambat mengalung di leher luhan. Mereka sama-sama memejamkan kedua mata mereka dan saling menggerakan kedua belah bibir untuk saling melumat.

15 detik…

20 detik..

40 detik..

Luhan perlahan menjauhkan bibir nya tepat satu menit mereka berciuman. Tatapan nya menatap dalam mata sooyoung yang juga tengah menatap nya. Salah satu tangan sooyoung merambat ke atas untuk mengusap peluh keringat dingin yang membanjiri kening indah luhan.

Kedua nya tersenyum untuk beberapa saat. Saling melemparkan senyum hangat lalu kembali mendekatkan wajah hanya sekedar untuk mempersempit jarak saja.

“Apa masih terasa sesak dan nyeri?” tanya sooyoung. Luhan mengangguk lemah.

Sebenar nya ia sudah tidak merasakan sesak dan nyeri lagi. Tapi tiba-tiba saja ide konyol untuk mengerjai sahabat nya itu muncul memenuhi sebagian rongga otak nya. Sepertinya bermain-main sebentar dengan sooyoung sangat menyenangkan.

Luhan memiringkan kepala nya dan kembali menyambut bibir sooyoung. Mereka kembali menyatukan kedua belah bibir mereka. Saling melumat dan saling mengecup. Sampai-sampai suara kecapan dari pertemuan bibir mereka terdengar jelas memecahkan kesunyian malam di dalam kamar sooyoung.

Sooyoung mengerang pelan saat merasakan luhan mulai bermain agresif melumat bibir nya dengan intens, membuat dirinya tersenggal kehabisan napas. Kedua tangan nya merambat ke dada bidang luhan lalu mendorong nya pelan, menyuruh luhan untuk melepaskan kontak bibir mereka. Namun sepertinya luhan tidak mengindahkan dorongan tangan sooyoung. Ia begitu menikmati apa yang sedang ia lakukan sekarang ini, sampai-sampai pria berwajah awet muda itu enggan untuk memberi jarak bibir nya dengan bibir sooyoung barang se-centi.

Luhan terpaksa melepaskan pautan bibir nya dengan sooyoung karena pukulan tangan sooyoung yang menyesakkan dada nya. Luhan melihat sooyoung menundukkan wajah nya seraya mengatur napas nya yang tersenggal.

Sooyoung mendongak lalu menatap luhan dengan tatapan kesal nya. “Kau berniat membuat ku mati muda, eoh?” ucap sooyoung kesal.

Posisi mereka masih seperti semula. Dimana luhan duduk di tepi ranjang sooyoung dan sooyoung yang masih mendudukkan tubuh nya di pangkuan luhan.

Luhan menyengir melihat nya. Ia dapat melihat rona kemerahan menyembul mewarnai wajah tembam milik sooyoung.

“Tapi kau suka kan?” tanya luhan dengan nada  menggoda.

“Heh? Aku suka kata mu? Maaf, tuan xi. Tapi aku tidak suka dengan  ciu-. Hik..” belum sempat sooyoung menyelesaikan ucapan nya, suara cegukan keluar dari mulut nya. Dengan cepat sooyoung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan nya.

“Ta.. tadi itu hanya cegukan biasa. Tidak berarti aku sedang boh-. Hik.. hik..” sooyoung merutuki dirinya sendiri.

Penyakitnya ini selalu saja menganggu nya. Dalam keadaaan seperti ini ia tidak bisa berkata bohong. Dan itu sangat memalukan untuk sooyoung. Apa lagi posisi mereka yang masih sama seperti semula. Oh My !!

Luhan terkekeh.  “Apa kau masih mau berbohong lagi kepada ku.”

Sooyoung merengut kesal.  “Hik.. Aku sedang tidak berbohong. Hik.. hik.. hik..”

Dan cegukan sooyoung pun semakin parah. Sooyoung benar-benar merutuki dirinya sendiri. Kenapa juga dirinya terlahir dengan penyakit aneh yang menyelimuti tubuh nya. Penyakit aneh yang sangat sukar untuk di sembuhkan. Atau mungkin tidak bisa di sembuhkan.

Luhan kembali terkekeh.  “Dasar keras kepala. Sudah tahu pengidap sindrom pinokio. Tapi masih juga berbohong. Apa kau mau cegukan mu itu tidak hilang, eoh?”

Sooyoung mengerucutkan bibir nya kesal.  “Baiklah.. baiklah. Iya . Aku memang berbohong. Puas kau, huh?”

“Itu berarti tanda nya aku bisa mencium mu lagi?”

“Apa? Enak saja. Aku tidak-. Hik.. Hik..” ucapan sooyoung kembali terputus kala suara cegukan itu keluar lagi dari mulutnya.

Luhan benar-benar puas terkekeh geli melihat raut wajah sooyoung. Ia tahu kalau sahabat nya ini pasti tidak akan pernah bisa berbohong. Atau kalau tidak ia akan hidup dengan suara cegukan yang menyebalkan keluar dari mulut nya.

“Kau masih berbohong juga ya. Apa kau ingin cegukan mu itu tidak hilang sampai besok pagi, eoh?”

“Aish.. kau menjebak ku kan? Menyebalkan.”

“Tidak. Aku hanya sedang mengetes kau jujur atau tidak. Dan ternyata kau berbohong. Jadi nikmati saja cegukan mu itu, nona.”

“Sialan kau rusa kejam. Awas saja kau besok.”

“Sudahlah. Lupakan itu, oke. Sekarang aku ingin ‘itu’ lagi.” ucap luhan menunjuk bibir sooyoung dengan dagu nya.

Sooyoung mendegus sebal.  “Kau tidak bisa berbohong lagi soo kalau kau menginginkan nya juga. Atau kau ingin cegukan sampai besok pagi.”

Sooyoung menggerutu dalam hati.  “Sialan kau rusa tengik.” ucap sooyoung.

Dengan cepat nya sooyoung langsung menarik kepala luhan lalu menempelkan bibir mereka kembali. Awalnya luhan sedikit terkejut. Tapi sedetik setelah itu rasa keterkejutan tergantikan dengan rasa puas. Ya. Luhan puas mengerjai sahabat nya, karena ia tahu sahabat nya itu adalah gadis yang mengidap sindrom pinokio. Penyakit aneh yang tidak bisa di sembuhkan. Sama seperti penyakit nya.

“Malam ini aku tidur di sini ya, soo?” tanya luhan di sela-sela persatuan bibir mereka.

Sooyoung membulatkan mata nya lebar-lebar.   “Apa?”

“Dan aku tidak mau tidur di sofa. Aku ingin tidur seranjang dengan mu.” timpal luhan.

Belum sempat sooyoung memprotes. Bibir nya sudah lebih dulu di bungkam oleh tebal nya bibir luhan. Awalnya sooyoung memang memberontak, tapi lama kelamaan ia menikmati juga pergulatan bibir mereka.

“Aku tidak bisa menolak. Karena aku tidak mau cegukan sampai besok pagi.” ucap sooyoung di sela-sela ciuman mereka.

Luhan tersenyum tanpa menjawab. Ia kembali membungkam bibir ranum sooyoung. Dengan perlahan ia merebahkan tubuh sooyoung di atas ranjang tanpa melepaskan pautan bibir mereka barang se-centi pun. Dengan perlahan juga luhan ikut merebahkan tubuh nya di samping sooyoung. Kedua tangan nya merambat ke bawah lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka. Sedangkan pautan bibir mereka belum terlepas juga.

“Selamat tidur, Choi sooyoung.” ucap luhan pelan.

Lalu setelah itu bibir nya kembali meraup bibir sooyoung. Satu tangan nya menekan tengkuk sooyoung, sedangkan satu tangan nya yang lain merambat ke pinggang sooyoung. Ia menariknya untuk mempersempit jarak tubuh mereka. Sedangkan tangan sooyoung memeluk leher luhan. Sesekali jari-jari lentik nya meremas pelan rambut coklat madu luhan.

Di satu sisi, tepat nya di depan bingkai pintu kamar sooyoung diam-diam sehun memperhatikan apa yang noona nya dan sahabat noona nya itu lakukan. Senyum miring atau lebih tepat nya smirk mengerikan membingkai wajah tampan seorang Choi Sehun yang manja namun cerdik dengan sekumpulan otak liar nya.

“Kena kau noona. Lihat saja apa yang akan ku lakukan besok.” ucap sehun berdesis pelan.

“Ibu dan bibi xi pasti akan mengamuk besok saat melihat kedua anak nya melakukan hal berbau dewasa. Hihihi.”

Setelah puas memerhatikan noona dan hyung nya. Sehun pun perlahan menutup kembali pintu kamar sooyoung lalu berjalan menjauh dari kamar noona nya itu.

Oh.. tidak, ternyata Choi Sehun yang tampan itu memiliki beribu cara licik untuk mengerjai noona nya. Kalau di lihat-lihat sehun lebih cocok menjadi adik luhan, karena mereka sama-sama berotak licik. Dan naeun lebih cocok menjadi adik sooyoung karena mereka sama-sama cantik nan rupawan.

***

Sooyoung menuruni anak tangga di rumah mewah nya dengan langkah tergesa dan terlalu terburu-buru. Kalau saja ia tidak memegang pegangan ia mungkin akan terjatuh berguling-guling.

“Selamat pagi semua nya.” sapa sooyoung saat sudah sampai di meja makan.

“Kau terlambat bangun lagi, youngie-ah?” tanya nyonya choi. Sooyoung mengangguk.

“Tentu saja noona terlambat. Tadi malam noona habis bersenang-senang dengan luhan hyung, bu.” ucap sehun tiba-tiba. Sooyoung menoleh cepat ke arah sehun yang sedang memakan roti bakar nya.

“Apa kau bilang, sehun-ah? Maksud mu apa?” tanya tuan choi.

Sehun tersenyum licik ke arah sooyoung.  “Semalam luhan hyung menyelinap lagi ke kamar sooyoung noona. Lalu setelah nya mereka berciuman, dan yang lebih parah nya lagi sooyoung noona dan luhan hyung tidur seranjang dengan keadaan bibir yang masih menyatu.” ucap sehun.

Sooyoung menganga lebar mendengar penuturan adik tampan nya itu.

“A.. apa kau bilang? K.. kau mengintipku semalam?”

Sehun mengangguk masih dengan sibuk memakan roti bakar nya yang tinggal setengah.

“Tentu saja, memang nya noona pikir aku tahu dari mana lagi kalau bukan karena mengintip mu.”

“Ya ! Choi Sehun.”

“Sooyoung-ah, apa benar kata-kata adik mu barusan itu?” tanya tuan choi.

Sooyoung gelagapan menjawab ucapan ayah nya itu.

“S.. semalam penyakit luhan kambuh lagi, ayah. Dan ia memintaku untuk meredakan rasa sakit nya. Aku sangat khawatir sekali melihat wajah pucat nya, maka dari itu aku mencium nya.” ucap soyoung menjelaskan yang sebenar nya kepada sang ayah.

Tuan choi mengangguk.  “Jangan percaya, ayah. Mungkin saja sebelumnya sooyoung noona dan luhan hyung sudah merancanakan akan melakukannya tadi malam.” cetus sehun membuat sooyoung menoleh kesal ke arah adik nya itu.

“Tutup mulut mu bocah tengik.” sungut sooyoung kesal. Sehun hanya tertawa puas melihat raut wajah noona nya yang kesal itu.

“Apa luhan masuk lewat balkon kamar mu lagi, soo?” tanya nyonya choi.

Sooyoung mengangguk. “Hm. Ibu percaya kan kalau aku dan luhan tidak melakukan hal yang lebih dari sebuah ciuman. Aku hanya ingin membantu luhan meradakan rasa sesak dan nyeri nya, bu.”

Nyonya choi tersenyum manis lalu mengangguk.  “Tentu ibu percaya dengan mu. Ibu tahu kau hanya ingin membantu luhan meredakan rasa sakit nya.”

Sooyoung tersenyum. Ia menoleh ke arah sehun lalu menjulurkan lidah nya berniat untuk meledek adik tampan nya itu.

“Ibu mengapa selalu mempercayai noona. Ibu tidak pernah mengijinkan aku untuk mencium naeun walau hanya di pipi. Sedangkan noona boleh mencium luhan hyung. Di bibir pula.”

“Ya ! Aku hanya berniat untuk membantu luhan meredakan rasa sakit nya saja. Kau tidak perlu berpikiran sejauh itu, bocah.”

“Ya! Noona, bisakah kau tidak memanggil ku dengan sebutan bocah. Aku ini sudah besar. ingat ! Usia ku sudah 16 tahun.”

“Tapi usia ku sudah 17 tahun. Kau masih lebih muda dari ku kan.”

“Aish.. sudah.. sudah. Mengapa kalian selalu saja bertengkar seperti ini. Bisakkah kalian damai sehari saja.”

“TIDAK BISA !” jawab sooyoung dan sehun bersamaan.

“Astaga. Apa aku salah telah menginginkan kelahiran seorang putra kalau ku tahu akhir nya akan seperti ini.” ucap nyonya choi dengan nada dramatis nya.

“Ah.. sudah lah bu, aku berangkat sekolah duluan.” ucap sooyoung.

“Sooyoung noona pasti sudah tidak sabar bertemu dengan luhan hyung.” cetus sehun membuat sooyoung mengepalkan kedua tangan nya kuat-kuat menahan emosi.

“Tutup mulut mu, Tuan CHOI SEHUN-SSI.” ucap sooyoung dan selanjutnya ia pergi meninggalkan ruang makan dan berjalan kasar ke arah pintu rumah nya.

“Kau selalu saja menggoda kakak mu, sehun-ah.” ucap tuan choi menggeleng-gelengkan kepala nya.

“Ayah sampai kapan akan mengijinkan luhan hyung untuk mencium sooyoung noona. Padahalkan mereka tidak ada hubungan apa-apa selain sahabat. Apa ayah tidak merasa curiga.”

“Apa yang kau bicarakan, sehun-ah. Kakak mu itu hanya membantu luhan untuk meredakan penyakit nya. Lagi pula ayah dan paman xi juga sudah menyetujui kalau mereka akhir nya menjadi sepasang kekasih.”

“Ayah tidak adil. Kenapa aku tidak di ijinkan untuk memiliki hubungan lebih dari sahabat dengan naeun. Padahalkan kita berdua juga sudah lama berteman seperti sooyoung noona dan luhan hyung.”

“Usia mu masih 16 tahun, sehun-ah. Belum waktu nya untuk mu berpacaran.” ucap nyonya choi.

“Huh.. menyebalkan. Kapan aku boleh berpacaran dengan naeun?”

“Nanti. Saat kau sudah sepintar kakak mu.”

Sehun merengut kesal mendengar ucapan-ucapan ayah dan ibu nya itu.

Sooyoung berjalan kesal keluar dari gerbang rumah nya yang megah. Di saat akan membuka gerbang rumah nya tiba-tiba saja luhan sudah muncul dari balik gerbang membuat  sooyoung berjengit kaget.

“Selamat pagi Choi sooyoung.” sapa luhan dengan senyuman lebar nya.

Sooyoung memegang dada nya karena degupan jantung nya yang tiba-tiba saja berdetak cepat karena terkejut.

“Astaga. Apa kau ingin membuat ku mati jantungan di pagi hari, luhan.”

Luhan tersenyum menampilkan sederet gigi putih nya.

“Ayo kita berangkat. Ini sudah terlalu siang.” ucap luhan lalu menarik tangan sooyoung ke arah motor sport nya.

***

“Ada apa dengan mu, eoh? Mengapa sejak tadi wajah mu di tekuk seperti itu. Apa ada masalah?” tanya luhan saat mereka sedang berjalan di koridor menuju ke kelas mereka.

Sooyoung memutar bola mata nya malas.  “Ya. Aku memang ada masalah. Dan sehun lah masalah ku.” ucap sooyoung dengan nada kesal nya.

Luhan terkekeh, ia mengacak-acak rambut panjang sooyoung yang lebat.

“Memang nya kapan sehun tidak menjadi masalah mu. Kalian selalu saja bertengkar. Apa kalian tidak bosan, eoh?”

“Aku lebih suka naeun lah yang menjadi adik ku.”

“Aish.. kau ini. Sudahlah, lagi pula sehun bukan pria yang terlalu menyebalkan.”

“Pria katamu? Oh.. astaga. Anak itu belum pantas di panggil pria, luhan. Bocah itu masih sempit pengetahuan nya.”

“Tapi pengetahuan nya untuk mendapatkan adik ku tidak pernah sempit, soo.”

“Ya, dan ku peringatkan kepada mu untuk selalu mengawasi adik mu. Aku tidak mau kalau nanti nya otak polos naeun ternodai dengan otak liar nya sehun.”

“Kau terlalu berlebihan, nona choi.” ucap luhan.

Sooyoung tak lagi memprotes karena mereka sudah sampai di pintu kelas mereka. Luhan dan sooyoung duduk di bangku mereka masing-masing.

Baru saja 5 menit berada di kelas, tiba-tiba saja guru kang masuk ke kelas mereka dengan wajah yang menampilkan senyum di wajah nya. Benar-benar tak biasa bukan. Semua murid-murid yang berada di kelas 12 A pun saling berbisik-bisik melihat guru tersangar mereka akhir nya menampilkan senyum tipis nya yang jarang sekali beliau perlihatkan ke semua orang.

“Selamat pagi anak-anak semua nya.” sapa guru kang dengan nada yang berbeda kini.

“Selamat pagi.”

“Baiklah. Ada kabar bahagia yang akan ku beri tahu kepada kalian semua.”

“Kabar apa, guru? Apa ujian nasional tahun ini di tidak adakan.” tanya salah satu murid bernama asli Kim Jong In.

“Apa hanya itu yang ada di otak mu, tuan Kim jong in-ssi. Tentu saja tidak. Ujian nasional kalian tetap akan berlangsung.”

Terdengar helaan napas putus asa dari mulut murid-murid yang menaungi kelas paling favorit di SMA Joongbun ini.

“Lusa pihak sekolah akan mengadakan piknik ke suatu daerah pegunungan yang sejuk. Dan untuk kelas 12 di wajib kan untuk ikut.”

Kini terdengar soarakan heboh dari seluruh penjuru kelas yang memiliki segudang siswa-siswi pintar, berkarisma, nan mempesona. Ya bisa di katakan kalau kelas 12 A adalah surganya siswa-siswi terkenal.

“Tumben sekali. Memang nya ada maksud apa pihak sekolah mengadakan acara seperti itu, guru?” Kini tanya salah satu murid pria berwajah imut, Do Kyung Soo.

“Anggap saja ini adalah hadiah dari pihak sekolah untuk persiapan kalian menghadapi ujian nasional 5 bulan lagi.”

“Bagi yang akan ikut tolong mendaftarkan diri ke ketua kelas. Dan kalau sudah selesai, ketua kelas tolong berikan daftar nama murid yang ikut piknik ke pihak kesiswaan. Terima kasih.”

Setelah selesai mengucapkan kata-kata nya yang terakhir tadi, guru kang pun pergi meninggalkan kelas 12 A. Dan seketika kelas yang paling tersohor itu pun ramai seketika.

Sooyoung merebahkan kepala nya di atas meja. Sepertinya ia adalah siswi satu-satu nya yang tidak selera untuk mengikuti hal-hal macam seperti itu. Ia lebih memilih tidur di rumah atau bersantai menonton televisi dengan berbagai macam snack di hdapan nya.

“Hei.. soo. Kau ikut acara piknik yang di adakan oleh pihak sekolah itu tidak?” tanya bomi teman sebangku nya. Sooyoung memejamkan mata nya, terlalu malas untuk menjwab pertanyaan teman sebangku nya ini.

“Aku tidak tahu.” jawab sooyoung tanpa minat.

Sooyoung baru saja akan terbang ke alammimpi sebelum seseorang yang berada di samping kiri nya berani untuk menganggu waktu tenang nona choi.

“Soo. Sooyoung-ah.” panggil seseorang dari samping kiri sooyoung. Sooyoung mengangkat kepala nya lalu menoleh dan mendapati luhan sedang menoleh ke arah nya.

“Ada apa?” tanya sooyoung dengan nada malas nya.

“Apa kau ikut acara yang di adakan pihak sekolah itu?” tanya luhan.

Sooyoung menghela napas lelah nya.  “Aku ingin sekali tidak ikut.”

“Mengapa tidak ikut. Kalau kau tidak ikut aku tidak akan punya teman, soo.”

“Kenapa seperti itu. Bukankah teman mu banyak. Kau bisa menyuruh jongin wufan atau yixing untuk menemani mu kan.”

Luhan menggeleng. Ia berjongkok di samping meja sooyoung.  “Ayolah, soo. Aku ingin nya dengan mu. Bagaimana kalau penyakitku tiba-tiba saja datang dan kau tidak ikut. Lalu aku akan meminta bantuan ke siapa lagi kalau tidak ada kau. Kau tega kepada ku, soo.” ucap luhan dengan nada memelas membuat sooyoung tidak bisa mengelak nya.

“Wanita mu kan banyak. Mengapa kau tidak minta salah satu wanita mu untuk mencium mu kalau penyakit mu itu datang.”

Luhan mendesah kesal. “Aish.. sudah berapa kali ku katakan. Penyakit ku hanya bisa sembuh kalau kau yang mencium ku.”

“Sstt.. bisakah kau pelankan suara mu. Bagaimana kalau yang lain nya dengar.”

“Sebagian teman kita sudah mengetahui penyakit ku dan obat apa yang bisa menyembuhkan penyakitku ini, soo. Jadi mengapa kau khawatir seperti itu, eoh?”

‘Pletak’. Satu pukulan keras mendarat tepat di ubun-ubun luhan membuat luhan sedikit merasakan nyeri di puncak kepala nya itu. Luhan meringis, ia menatap sooyoung kesal.

“Tapi aku tidak suka kau mengumbar-ngumbarkan nya.”

“Ya! Tidak usah memukul kepala ku juga.”

“Habis nya kau asal bicara saja sih. Memang nya kau senang memiliki penyakit aneh seperti itu, eoh?”

“Aku senang. Aku memang senang.”

“Apa?” tanya sooyoung cepat saat luhan mengatakan kata-kata nya barusan.

“Kenapa? Memang nya salah kalau aku bilang aku senang dengan penyakit ku ini. Karena dengan begitu aku akan selalu mendapatkan ciuman dari bibir mu yang manis itu.” ucap luhan dengan tatapan menggoda nya membuat sooyoung membulatkan mata nya lebar-lebar.

“Ya ! Xi Luhan. Tutup mulut mu. Sialan kau!”

“Bisakah kau tidak berteriak di samping telinga ku seperti ini, soo. Kau membuat telinga ku rusak.” sungut luhan kesal seraya mengusap-usap kedua telinga nya.

“Pergilah. Kembali ke tempat duduk mu dan jangan ganggu waktu tenang ku.” ucap sooyoung.

“Tapi kau ikut acara piknik itu kan, soo?”

“Diam, lu. Jangan ganggu aku. Aku ingin tidur.”

Luhan mendengus sebal. “Baiklah. Aku tidak akan menganggu mu.”

***

Jam istirahat sudah berbunyi sejak 15 menit yang lalu dan sekarang sooyoung beserta 3 teman nya sedang bercengkarama bersama seraya menikmati beberapa makanan dan minuman di meja kantin. Sebenarnya sooyoung sangat malas sekali ke kantin, terlebih kantin ini pasti akan sanat ramai saat istirahatmembuat nya malas saja. Tapi harus bagaimana lagi, ketiga teman nya ini memaksa nya untuk ikut serta mereka bertiga ke kantin.

“Apa kalian ikut acara yang di adakan oleh pihak sekolah itu.” Tanya salah satu gadis bermata rusa yang cantik.

“Aku ikut.” ucap krystal.    “Aku juga ikut.” bomi menimpali.

“Aku tidak tahu.” ucap sooyoung tanpa minat.

“Kenapa soo. Ku dengar piknik tahun ini akan di adakan di tempat yang benar-benar indah. Di daerah pegunungan. Bukankah itu sangat menyenangkan.” ucap salah satu gadis bersurai blonde.

“Aku tidak berminat untuk ikut acara yang membuang-buang waktu seperti itu.”

“Ish.. kau bodoh. Kau akan menyesal kalau kau tidak ikut piknik tahun ini.”

“Memang nya apa yang ku dapatkan dari mengikuti kegiatan membosankan itu, huh?”

“Tentu saja kau akan mendapatkan keuntungan. Ku dengar Xi Luhan juga ikut.”

“Ya! Jung soo jung. Apa hubungan nya dengan luhan.”

“Tentu saja ada hubungan nya, soo. Kalau kau tidak ikut lalu bagaimana kalau penyakit luhan kambuh. Apa kau tega membiarkan nya kesakitan sepanjang piknik, eoh?”

“Memang nya apa hubungan nya dengan ku. Ku rasa itu bukan urusan ku sama sekali.”

“Bukankah luhan selalu meminta mu mencium nya kalau penyakit nya itu kambuh, eoh.” tanya yoona dengan nada menggoda.

“Ya! Wanita nya itu banyak. Luhan bisa menyuruh wanita-wanita nya untuk mencium nya.”

“Kau tidak merasa marah atau kecewa melihat luhan di cium wanita lain selain kau, huh.”

“Hahaha.. Tidak. Aku tidak-. Hik.. Hik..” ucap soyoung terpotong kala suara cegukan keluar dari mulut nya.

Krystal, yoona dan bomi pun tertawa terbahak-bahak saat mendengar suara cegukan yang keluar dari mulut sooyoung. Sooyoung mendengus sebal. Ia benar-benar merutuki penyakit nya itu.

“Ya! Aku tidak-. Hik.. Hik..” ucap sooyoung terpotong lagi.

“Sudahlah soo. Kau memang tidak pernah bisa berbohong. Jadi mengakulah kalau sebenar nya kau menyukai luhan.”

“Berhenti bicara yoon bomi.” sungut sooyoung sebal.

“Mengakulah soo, dan katakan perasaan mu yang sesungguh nya kepada luhan. Dengan begitu kau tidak perlu lagi membohongi hati mu sendiri.” ucap yoona dengan nada bijak nya.

“Aku tidak bisa. Dan tidak akan pernah bisa.” ucap sooyoung dengan nada sedih nya.

“Mengapa bisa begitu. Kau belum menyatakan nya kan. Bagaimana bisa kau bicara seperti itu.”

“Aku tidak mungkin menyatakan perasaan ku yang sesungguh nya kalau ku tahu ada seorang gadis yang menyukai luhan juga.”

“Siapa? Siapa gadis itu?” tanya krystal dengan nada tak sabar nya.

Sooyoung mendongak menatap ketiga sahabat nya.  “Park Chorong.”

“Park Chorong dari kelas 11 D ?” tanya ketiga gadis di depan sooyoung dengan nada serempak.

Sooyoung mengangguk dalam. “Apa luhan juga menyukai gadis itu?” tanya yoona.

Sooyoung menggeleng pelan.  “Aku tidak tahu. Tapi sepertinya chorong sangat-sangat menyukai luhan.”

“Mungkin saja luhan tidak menyukai gadis itu, soo. Lagi pula kalau di lihat-lihat luhan hanya dekat dengan mu saja.”

“Itu karena kami sahabat sejak kecil, im yoona.”

“Tidak sooyoung-ah. Bukan itu maksud ku. Apa kau tidak bisa menangkap tatapan luhan saat menatap mu.”

“Maksud mu?”

“Tatapan luhan saat menatap mu itu berbeda dengan tatapan luhan ke gadis lain. Maksud ku, ku lihat luhan selalu menatap mu penuh arti.”

“Penuh dengan cinta maksud mu, yoong.” timpal bomi.

Yoona mengangguk.  “Ya, itu maksud ku.”

“Kalian terlalu banyak menonton drama romantis picisan, kawan. Luhan bukan tipe pria seperti itu.”

“Ya tuhan sooyoung. Harus bagaimana lagi kami meyakinkan mu kalau luhan itu menyukai mu juga.”

“Aku tidak mau percaya diri dulu. Aku jauh mengenal luhan. Dia tidak pernah menunjukan rasa cinta nya kepada wanita yang di cinta nya secara terang-terangan. Luhan selalu memendam nya sendirian. Ia akan menyatakan perasaan nya bila dia merasa sudah menemukan waktu yang tepat. Dan ku rasa dia akan menyatakan perasaan nya kepada gadis idaman di kelas 11 D itu.”

“Astaga choi sooyoung. Park chorong itu tidak ada apa-apa nya di bandingkan dirimu. Kau lihat saja. Dia terlalu manja. Aku yakin luhan pasti tidak menyukai gadis yang manja.”

“Sudahlah. Aku tidak mau membahas itu lagi. Biarkan luhan yang menentukan pilihan nya kelak.”

***

Sooyoung sedang merenungkan dirinya di balkon kamar nya. Sejak tadi helaan napas lelah keluar dari mulut nya. Sooyoung sedang bingung saat ini. Ia bingung untuk ikut piknik atau tidak. Sebenar nya besok ia ingin menghabiskan waktu berjam-jam di kamar dengan berbagai macam snack dengan varian rasa yang macam-macam.

Tapi kalau tidak ikut sayang juga. Masalah nya acara pariwisata seperti ini hanya ada satu tahun sekali yang sekolah adakan. Percuma juga kan kalau sooyoung tidak ikut. Terlebih sebagian pikiran nya menuju ke arah pembicaraan nya dengan ketiga sahabat nya saat istirahat di kantin tadi.

Mengenai luhan. Apa ia harus ikut piknik cuma hanya karena luhan juga ikut. Tapi kalau ia tidak ikut bagaimana kalau tiba-tiba penyakit luhan kambuh. Bukankah luhan harus mendapat ciuman dari nya.

“Tapi wanita nya kan banyak. Bisa saja dia menyuruh salah satu wanita nya itu untuk mencium nya.” ucap sooyoung pelan.

“Tapi selama ini yang mencium nya hanya aku. Luhan bahkan tidak mau meminta wanita lain untuk mencium nya selain aku. Apa benar apa yang di katakan ketiga gadis itu tadi. Luhan menyukai ku?”

Sooyoung menggeleng-geleng kuat.  “Ah.. tidak.. tidak. Aku tidak boleh percaya diri dulu.” ucap sooyoung.

Semenit setelah itu sooyoung kembali menghela napas lelah nya entah untuk yang keberapa kali. Oke.. kali ini sooyoung benar-benar yakin akan keputusan nya. Ia akan ikut piknik lusa besok.

“Baiklah. Aku akan ikut acara piknik itu. Lagi pula tidak ada salah nya menikmati liburan sebelum ujian nasional.” ucap sooyoung.

“Dan sekarang waktu nya pergi berbelanja bahan makanan untuk persiapan piknik lusa.” ucap sooyoung.

Sooyoung beranjak dari kursi malas nya yang berada di balkon kamar nya. Setelah itu sooyoung mengambil sweater lalu memakai nya, dompet dan juga ponsel. Sooyoung berencana untuk belanja berbagai makanan untuk bekal perjalanan nya saat piknik lusa.

Sooyoung keluar dari kamar nya, ia menuruni anak tangga.

“Kau ingin kemana malam-malam begini, soo?” tanya nyonya choi yang sedang bersantai menonton televisi bersama tuan choi dan juga sehun.

“Aku ingin keluar sebentar, bu. Ke supermarket di depan gang.”

“Tumben sekali noona ke supermarket malam-malam seperti ini. Apa noona ingin membeli berbungkus-bungkus snack dan memenuhi kulkas dengan semua koleksi snack-snack noona.”

“Bukan urusan mu, sehun babo.”

“Biar sehun yang mengantar mu, soo. Ini sudah malam, tidak baik seorang gadis keluar malam-malam seperti ini.” ucap tuan choi.

Sooyoung menggeleng.  “Tidak usah, ayah. Lagi pula di depan gang juga ramai dengan anak-anak kecil yang sedang bermain.”

“Biarkan saja ayah. Nanti juga pasti sooyoung noona menghubungi luhan hyung untuk mengantar nya.”

Sooyoung mendelik tajam ke arah sehun. “Diam kau bocah.”

“Sudahlah, sebaiknya kau pergi sekarang. Nanti keburu malam.”

“Baiklah. Kalau begitu aku keluar dulu.”

Sooyoung berjalan ke arah pintu rumah nya yang megah. Ia menutup pintu rumah nya lalu berjalan ke arah gerbang rumah nya. Ia keluar lalu tiba-tiba saja terkejut kala melihat luhan sudah berada di depan gerbang nya.

“Xi Luhan. Apa yang sedang kau lakukan di depan gerbang rumah ku.”

“Tadi nya aku ingin masuk dan mengajak mu berbelanja bersama untuk persiapan piknik lusa.”

“Dari mana kau tahu kalau aku memutuskan untuk ikut piknik itu juga.”

“Krystal, yoona, dan bomi yang memberi tahu ku kalau kau ikut piknik itu juga.”

Sooyoung mendengus sebal.  “Aish.. gadis-gadis itu. Dasar mulut besar.” desis sooyoung sebal.

“Sudahlah. Lebih baik kita belanja bersama saja.” ucap luhan lalu menarik tangan sooyoung untuk naik ke motor sport nya.

***

Luhan memakirkan motor sport nya di depan gerbang rumah sooyoung. Sooyoung turun dari motor sport luhan dengan dua kantung plastik penuh di kedua tangan nya.

“Terima kasih karena sudah menemaniku berbelanja.”

“Aku memang sudah berniat untuk berbelanja dengan mu.”

“Mengapa kau belanja dikit sekali?” tanya sooyoung saat melihat luhan hanya berbelanja setengah dari belanjaan nya.

Luhan tersenyum lalu mengacak-acak rambut sooyoung yang panjang.  “Ingat ! Aku bukan shikshin seperti mu. Aku tidak memerlukan banyak makanan di tas ku.” ucap luhan.

“Ish.. kau mengejek ku, eoh.”    “Aku tidak mengejek. Bukankah itu memang kenyataan.”

“Sudahlah, aku masuk ke dalam dulu. Sekali lagi terima kasih atas tumpangan nya.”

“Tidak biasa nya kau berterimaksih seperti ini kepada ku.”

“Aish.. sudahlah. Tidak usah bahas itu. Aku mengantuk dan ingin tidur. Jadi aku masuk duluan luhan.” ucap sooyoung lalu memutar tubuh nya ke arah gerbang rumah nya.

Sebelum masuk ke dalam halaman rumah nya, luhan sudah kembali menahan tangan nya membuat langkah nya terhenti. Sooyoung membalikkan tubuh nya menghadap luhan.

“Sooyoung.” panggil luhan.

Sooyoung menatap luhan dengan tatapan tanda tanya nya saat melihat tatapan luhan yang menatap nya dengan tatapan yang sulit di artikan.

“Ada apa, luhan?”

“Boleh aku melakukan sesuatu kepada mu?”

“Sesuatu? Sesuatu apa?”

Luhan tidak menjawab. Yang pria itu lakukan adalah mendekatkan wajah nya dengan wajah sooyoung. Sooyoung tercekat saat mengetahui luhan memiringkan wajah nya perlahan. Deru napas luhan pun terasa jelas menerpa wajah sooyoung.

Dan sooyoung lebih terkejut lagi saat merasakan bibir luhan menekan bibir nya. Tubuh sooyoung membeku seketika. Ia tidak membalas semua bentuk gerakan bibir luhan yang menyapu kedua belah bibir nya. Perlahan luhan menjauhkan wajah nya dari wajah sooyoung. Ia dapat melihat jelas wajah keterkejutan sooyoung.

“Anggap itu kecupan selamat malam dariku.”

“Dan sekarang kau masuklah. Istirahatlah yang banyak. Dan jangan lupa untuk tidak mengunci pintu balkon mu. Aku takut kalau nanti penyakitku kambuh aku bisa menerobos kamar mu dari balkon.” ucap luhan.

Sooyoung yang sdah tersadar pun menganggukkan kepala nya gugup. Ia menundukkan kepala nya tak mampu melihat luhan langsung.

“K.. kalau begitu aku masuk dulu.” ucap sooyoung dan langsung masuk ke dalam rumah nya dengan langkah tergesa-gesa.

Luhan yang melihat nya pun hanya menyunggingkan senyum tipis nya.. “Kau gadis yang menarik Choi Sooyoung.” ucap luhan pelan.

‘TBC’

Note : Halo.. halo !! Anaknya soohan hadir lagi bawa ff  yang absurd nya semakin menjadi-jadi. Gimana di part 2 ini. Apa kalian sudah mendapatkan feel nya. Maaf kalo masih banyak kekurangan nya. Maklumi saja aku masih sangat pemula untuk menciptakan sebuah karya. #Wekk. Oke  sekarang waktu nya KEEP RCL !!

10 thoughts on “[MINI SERIES] Be Happy | Chapter 2

  1. SISKA NELIEA CHO August 13, 2015 / 7:52 PM

    keren.. aku suka banget ceritanya🙂 sebenernya luhan tuh sakit apa?? cara ngobatin nya aneh gitu dengan *kiss*
    tapi luhan memanfaatin penyakit nya agar bisa nyium Sooyoung eonni.. kkk~
    next thor.. aku tunggu next part nya.. fighting

  2. febryza August 14, 2015 / 12:49 AM

    eeeettt berapa kali tuh soohan ciuman? ckckck
    luhan itu penyakitnya beneran sembuh kalo sooyoung yg cium? kesempatan bgt dong kalo gitu

  3. novianti sitorus August 14, 2015 / 6:38 AM

    luhan menang banyaak hahaha
    Duh ga kebayang banget jadi sooyoung yg gapernah bisa boong :’)
    Ceritanya seruuu! Lanjut yaaa😀

  4. Eka August 14, 2015 / 10:50 PM

    Waaaahhh soohan. Luhan ama sooyoung cute banget walo sebenernya umur mereka udah tua hahahha. Si luhan seneng banget nyium sooyoung mulu. Tapi emang bener kalo nyium cewek lain ga sembuh pentakit luhan?? Lanjut ya thor 😉

  5. Soohaelin August 15, 2015 / 1:30 AM

    Sweetnyaaaa soohan,,,
    soo jadi sukanya ama luhan,,yaiyalah kan dia cium tulus jadi luhan sembuh,,
    tapi luhannya licik banget nih anak wkwkwk😀
    sehun?! Ama naeun?? Haha mereka belum pas 17 jadi gak boleh pacaran uluh,,kaciannya:D
    nice part kak
    keep writing and fighting!😉

  6. Ki August 17, 2015 / 6:58 PM

    Wahh mau dong jadi mbak soo
    Diciumi gitu😀😀
    Luhan modus banget ya.
    Next nya ditunggu

  7. M V G September 5, 2015 / 11:03 AM

    Huaa.. Kesel bgt waktu liat kata ‘TBC’. Cepet di lanjutin ya author/eonni. Penasaran bgt. Klo bisa ffny di panjangin biar moment SooHanny banyak😹.
    Hwaiting buat Authorny!!

  8. mai September 9, 2015 / 10:05 PM

    anyeong haseo, aku reader baru disini. aku suka banget ceritanya. Menarik dan jauh dari kata membosankan. Pokoknya TOP bnget! Next partnya buruan ne.. Semangat!!

  9. Sooyoungster October 21, 2015 / 5:42 PM

    Please update I waiting for you to complete the story fainting☺️

  10. Depp June 21, 2016 / 4:07 AM

    Woaahh suka banget sama nih ff , SooHan dah mulai ada perasaan🙂 . Bikin greget, kurang panjang biar nambah greget😀 pokoknya nih ff harus lanjut *jebal😀 next ff ditunggu😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s