Just Loving You – (Chapter 3)

image

Title :
Just Loving You

Cast :
Xi Luhan & Choi Sooyoung

Other Cast :
Park Chanyeol, Kwon Yuri, Byun Baekhyun

Raiting :
Pg -13

Genre :
Romance

Author :
Nadya Choi  (Syong)

Poster By :
FLAMEGOOFY ARTWORK

.

.

.

Happy Reading!

.

.

.

Rambut kuncir satu kudanya terurai kebawah seiring dengan kepalanya yang menunduk untuk menyembunyikan tangisannya dari sisi Luhan. Terisak, Sooyoung menghapus jejak air mata dikedua pipinya frustasi.

Luhan bisa merasakan dengan jelas jantungnya berdetak tak menentu. Ia tidak tahu mengapa, tapi hatinya jauh terasa sakit ketika isakan itu kian mengeras, ia yakin bahwa gadis brunette itu menangis dibalik tundukan kepalanya. Apakah ia akan gila, hanya melihat tangisannya bukanlah hal yang ia suka.

Bergeser pelan untuk lebih dekat kesisi gadis itu, kepala Luhan sedikit menunduk. Tangannya yang bebas mencoba untuk berada dipunggung Sooyoung. Sesuatu yang aneh mengganjal hatinya membuat Luhan mengurungkan niat untuk mengusap punggung tegap gadis itu.

Isakan itu berhenti setelah beberapa menit berlalu dan Luhan bersyukur air mata itu tak lagi terlihat ketika Sooyoung berangsur untuk mendongakan kepalanya.

Tapi tatapan kosong penuh suram itu masih terlihat dengan bagaimana cara ia menatap lurus kedepan tepat disatu titik. Ia bukan tipe pemuda yang dapat menenangkan perasaan seseorang, bahkan untuk perasaannya sendiri Luhan tak tau harus bagaimana.

Dan ketika tatapan sendu itu melayang kearahnya menyilang penuh kesedihan, siapapun melihat hatinya akan bergetar iba. Luhan tau menyimpan masa lalu yang kelam bagi sebagian orang khususnya perempuan bukanlah hal yang mudah.

Sebelum Luhan ingin membuka suara untuk menanyakan apakah ia baik-baik saja, suara lembut gadis itu lebih dulu memotongnya.

“Maaf”

“U-untuk?”

Pemuda itu tersentak bingung. Melihat Sooyoung yang bergegas memalingkan wajah dari hadapannya semakin membuat tanda tanya besar dikepalanya.

“Kau, sepertinya tidak terlalu terkejut ketika aku bercerita ayah ku adalah seorang pembunuh”

Luhan berdehem gugup. “Y-yeah, ku pikir kau punya alasan lain dibalik itu”

Tidak tau harus bagaimana, Luhan memilih untuk meselaraskan penglihatannya kearah botol-botol soju kosong yang barusan mereka tegak. Dagunya bertumpu pada lutut dilipatan kedua kakinya, ia menunggu, menunggu cerita masa lalu Sooyoung.

“Ayah ku adalah pembunuh bayaran”

Pikirannya tenggelam jauh kedasar, Luhan tak ingin buka suara takut-takut jika Sooyoung tak lagi bercerita. Segalanya Luhan begitu penasaran.

“Itu berlangsung 3 tahun lalu, tepat 8 hari setelah ulang tahun ibu, ayah  ditangkap”

Helaan nafasnya berderu ketika tangan gadis itu ingin melakukan hal serupa seperti Luhan. Pandangan matanya kosong dan beberapa kali menyuri pandang.

“Setelah beberapa kali melakukan sidang, ayah ku dieksekusi hukuman mati”

Ini bukanlah hal baik dan Luhan sekarang benar-benar paham dibalik alasan kenapa gadis itu menyembunyikan masa lalunya. Isak itu terdengar lagi, kepala pemuda itu refleks berpaling kearahnya.

“Kau tau sendiri bagaimana hidup didunia ini jika hal seperti itu sampai ketetangga. Menjadi buah bibir dan dikucilkan”,

Isakannya jauh terdengar menyedihkan, bisakah gadis itu berhenti menangis?

“Tidak masalah jika itu terjadi untuk ku, tapi ibu. Ibu kerap kali menangis, hampir setiap hari. Tapi, bukan untuk kepergian ayah, melainkan tindakan warga yang seringkali mengucilkan ibu. Itu hanya bertahan tidak sampai 1 bulan dan ibu pergi tanpa kabar entah kemana”

Jari panjangnya merayap untuk menghapus jejak air mata dipipinya. Frustasi, Sooyoung menggigit bibir bawahnya kuat, tak ingin isakannya terdengar lebih memilukan. Pendirian Sooyoung kuat, dan ia tak ingin itu rubuh begitu saja.

“Aku maklumi jika memang frustasi atas itu semua. Tapi, kenapa dia tega meminggalkan aku seorang diri?”

Lubuk hatinya terasa perih mendengar cerita gadis itu dan isakannya. “Lain lagi cerita disekolah. Menjadi hal lumrah jika aku dikatai anak pembunuh dan dibully. Bahkan beberapa teman yang dekat dengan ku berangsur menjauh”

Dan Luhan sekarang benar-benar tau alasan kenapa gadis itu kerap kali dibully. Maraknya anak gangster yang sok membully seseorang karna suatu alasan sudah menjadi hal yang biasa dalam kalangan anak remaja. Sooyoung dibully dan dijauhi karna alasan ayahnya adalah seorang pembunuh, hal seperti itu juga tidak hanya satu atau dua kali Luhan temui. Jadi, ketika mendengar hal seperti tidak lagi mengejutkan baginya.

“Beruntung saat pertama kali aku sekolah di SMP, Yuri tanpa alasan mau berteman dengan ku walaupun aku kelas 7 sedangkan dia kelas 9”

Isakannya berangsur hilang ketika gadis itu beberapa kali menarik napas.

“Dan ia jauh lebih mengerti aku, mungkin karna kita senasip yang sama, sama-sama tidak memiliki orang tua”

“Kenapa bisa?”, mata Luhan terbelakak, dengan hati-hati bertanya.

“Ia bilang ibunya meninggal ketika ia dilahirkan dan ayahnya meninggal karna penyakit kanker”

Tatapannya berubah sendu. Untuk beberapa hal yang tidak Luhan mengerti, suaranya menggantung ketika ia ingin berucap.

“Tapi setidaknya ia beruntung masih memiliki bibi, meskipun beliau tinggal di Busan. Yuri banyak membantu ku, gadis itu benar-benar baik”

“Hidup kalian pasti jauh lebih sulit daripada aku”

Mata bulat itu berkedip cepat, entah untuk alasan apa ketika Luhan buka suara. Ia tersenyum dan pemuda itu benar-benar tidak tahu apa maksudnya.

“Tentu, kau punya keluarga dan teman”

“Keluarga ya?”

Luhan mengguman, membuang tatapan dari hadapan Sooyoung dengan acuh. Seolah hal yang dikatakan gadis itu menjadi hal tabu baginya.

“Ada masalah?”

“A-apa?”

Alis kirinya naik keatas, seolah bingung dengan ucapan Luhan. Sooyoung menatapnya lebih jauh ke dalam mata.

“Kau seperti tidak suka ketika aku mengucap ‘keluarga’?”

“Tidak, tidak papa”

“Ayo cerita”

Gadis itu mendesak, mengguncang bahu kanan Luhan dengan kedua tangan panjanngnya. Pemuda itu mengigit bibirnya, lalu kembali menatap Sooyoung. Terjadi jeda dalam hitungan lama, dan gadis itu kembali memaksanya.

“Orang tua ku bercerai”

“E-eo?”

“Ayah dan ibuku sama-sama menikah dengan orang yang baru sekarang”

.

“Hey Luhan, aku ikut menginap ya?”

Gummy smilenya melayang hampir mengisi penuh penglihatan Luhan. Luhan mendesah kemudian menjaga jarak sedikit jauh dari Chanyeol. Kenapa sekarang ia baru sadar bahwa Chanyeol itu idiot, kelakuannya memang kurang waras sih.

“Untuk alasan apa? Kau bahkan hidup sendiri, untuk apa menginap?”

“Aku ingin bertemu Sooyoung-ssi

Luhan membelakak kaget, menatap Chanyeol yang lagi-lagi bahkan tersenyum lebih menggelikan. Tangannya mengacak asal rambutnya. Temannya memang gila, jauh dari kata gila.

“Tanpa harus menginapkan?”

“Tapi aku ingin menghabiskan banyak waktu dengan Sooyoung-ssi

Luhan tertawa mendadak untuk alasan yang tidak Chanyeol ketahui. Apakah ia melucu? Atau memang Luhan yang gila sekarang?. Pemuda bertumbuh tinggi itu menyerit, ditatapnya temannya itu yang terlihat aneh dari hari kehari.

“Hello, kawan. Apakah ada yang lucu disini?”

“Konyol sekali”

Luhan membuang muka seolah hal yang diucapakan temannya itu memuakkan.

“Oi Luhan, kau cemburu ya?”

Luhan menatap Chanyeol dengan ekspresi datar, sedatar apa yang dapat ia buat. Chanyeol meringis, tatapan sahabatnya itu mengerikan sekalipun tokoh hantu dalam film.

“Apapun, pokoknya aku ingin menginap”

“Bermimpilah”

“Oh hey Luhan, come on

“Tidak ada lagi kamar untuk menampungmu, tidak ada kasur!”

Matanya melotot bersikeras untuk mencegah Chanyeol. Oh hey, apa lagi yang akan dilakukan si idiot ini?

“Aku bisa tidur dikamar mu, kan?”

“Oh bung, kau seolah tidak tau kalau aku paling benci bahkan hanya pantat mu yang duduk dikasur ku”

Chanyeol mengacak rambutnya gusar, ditatapnya sekali lagi, mencoba membujuk Luhan dengan muka menderitanya. Luhan tak bergeming, menanggapi dengan datar untuk reaksi yang Chanyeol berikan. Sekalipun dia ber-aegyo, Chanyeol-ah dia tidak akan mempan. Dari kecil bersahabat dengannya, apa tidak cukup mengenali luar dalam?

“Hey, kita teman ya, kan?”

“Tidak untuk sekarang”

Chanyeol mendengus untuk hal dari jawaban Luhan. Dagunya naik, sambil melirik Luhan. Selalu tepat diasaat-saat seperti ini, Ide muncul mendadak dan Chanyeol langsung menyeringai kemenangan.

“Baik, aku akan tidur disofa”

Sialan!

.

.

.

“Aku pulang”

Itu Luhan!

Sooyoung lekas turun dari sofa ruang tamu lalu berlali menuju pintu utama dengan Nami yang berada didekapannya. Senyumnya merekah lebar bersiap menyambut Luhan.

“Kau sudah pul-”

Ucapannya menggantung tertahan diujung tenggorokan, pemuda itu tidak datang sendiri dan matanya begitu terkejut menatap orang yang berada disamping Luhan.

“Chanyeol-ssi?”

“Hai, Sooyoung-ssi

Tangan kanan pemuda itu terangkat setinggi bahu memberi salam dengan senyum yang menawan. Sooyoung membalasnya sedikit kikuk.

“Aku tidak tau kalau Chanyeol-ssi akan kesini, Baekhyun-ssi tidak ikut bersama kalian?”

Sooyoung menatap dua orang yang berada didepannya bergantian, ia tersenyum sekali lagi.

“Ah, tidak”

Chanyeol menggeleng lalu tertawa, begitu canggung.

“Dia akan menginap disini”

Luhan menunjuk orang disebalahnya, kemudian mendengus sebal. Dan Chanyeol mengangguk antusias, Sooyoung terkejut, bergegas menatap Chanyeol.

“Wah, benarkah?”

“Minggir aku ingin mandi”

Luhan menerobos, meninggalkan dua orang yang menatapnya bingung. Sooyoung dan Chanyeol bersitatap.

“Apa yang salah dengannya?”

Sooyoung bertanya sambil menatap Luhan yang kian menjauh menuju kamarnya. Chanyeol mengangkat kedua bahunya bingung, tanda tak tau.

“Tapi yang jelas, dia begitu sensitif hari ini”

Chanyeol berbisik tetap disisi kanan telinga Sooyoung. Gadis itu terkikik geli lalu menoleh kesamping.

“Ya sudah, kita masuk saja”

Sekali lagi ia tersenyum dan oh betapa manisnya gadis itu. Chanyeol mengangguk antusias sebelum mengikuti Sooyoung yang berjalan menuju ruang tamu.

.

.

.

Luhan berdiri didaun pintu kamarnya, menatap sahabatnya dengan Sooyoung yang -duduk disofa ruang tamu- asik bermain dengan kucing gadis itu. Ia mendengus untuk sebab Chanyeol yang terlihat begitu menenpel pada Sooyoung.

Tolong catat, ia selalu tidak suka ketika pemuda itu terlihat banyak tanya terlebih dengan muka sok polosnya.

“Jadi Namanya Nami?”

Chanyeol menggoyang pelan kucing yang berada digenggaman kedua tangannya, kepalanya menoleh kearah Sooyoung berusaha menuntut jawaban.

“Iya, Nami”. Sooyoung tersenyum

“Dia lucu sekali, bersih lagi. Kau pasti sangat merawatnnya”

Chanyeol tersenyum kemudian menggesek gemas ujung hidungnya dengan ujung hidung kucing itu. Suaranya mengeram redam dan Chanyeol terlihat begitu gemas ketika melihatnya.

“Tentu”. Sooyoung mengangguk yakin

Anyway, Apa dia bisa mencakar?”

Kemudian Pemuda itu menatapnya was-was sedikit menjauhkan tubuh kucing itu dari hadapannya. Sooyoung terkikik, membuat Chanyeol merasa bingung.

“Tidak dia jinak, tidak usah khawatir”

“Hehe bagus kalau begitu”

Oh apa ini?

Luhan tertawa mendecih didaun pintu sambil membuang muka. Apa yang ia tonton sekarang, pertunjukan membosankan macam apa yang ia lihat?. Apapun, iya tidak suka melihat tingkah Chanyeol terlalu banyak tanya, itu membuatnya kesal.

Oke baiklah, Perlahan, kakinya beranjak dari daun pintu menuju sofa ruang tamu, mendekati dua orang yang duduk bersenda gurau tersebut.

“Geser aku ingin duduk”

Luhan duduk tepat ditengah-tengah membagi jarak pada Chanyeol dan Sooyoung. Niatnya memang memisahkan dua umat itu. Berusaha sekuat mungkin meloloskan pantatnya untuk memisahkan jarak antara dua orang itu.

Chanyeol risih lekas memukul paha kiri Luhan. “Apa-apaan sih?”

“Apa?”

Luhan balik bertanya menatap Chanyeol dengan pandangan menantang. Chanyeol tertawa tak menduga, berdengus nyaring kearah sahabatnya itu.

Sooyoung yang bingung menatap dua orang itu hanya bisa diam tak bergeming.

“Ouh lihat, itu lucu sekali, haha”

Mencoba menggalihkan perhatian, Luhan menatap Chanyeol dan Sooyoung bergantian sambil menunjuk-nunjuk kearah televisi yang menampilkan iklan sambil tertawa.

Sooyoung dan Chanyeol menyerit untuk mencerna dari sisi mana iklan sabun mandi itu lucu. Dan sampai sekarang Luhan masih tertawa untuk hal yang tidak lucu, ia jelas gila sekarang.

“Haha”

“Gila!”

.

.

.

Oh Tuhan, apa salahnya hingga sepagi ini penglihatannya dihadiahi tidak begitu enak? Haruskan diberbagai kesempatan Chanyeol selalu menempel pada gadis itu? Bisakah sekarang ia minta pertolongan Doraemon untuk melenyapkan temannya itu?

Ia memang salah mengizinkan Chanyeol menginap, ia tau. Seharusnya ini tidak terjadi, dan ia tidak perlu merasa kesal sepagi ini.

Dan juga, Apa lagi yang salah sekarang?, Chanyeol yang terkenal paling tidak bisa memasak malah ikut menimbrung bersama Sooyoung memasak. Apa dunia sekarang terbalik atau otak temannya itu yang terbalik?

“Masukan ayamnya kesini ya?”

Luhan hanya dapat melihat Chanyeol yang menunjuk wajan entah berisi apa, tapi yang ia yakini bahwa wajan itu berisi minyak goreng. Kakinya berjalan mendekat kesisi dapur untuk mengawasi.

“Iya”

Detik berikutnya setelah Sooyoung berkata iya. Chanyeol langsung melempar ayam kedalam wajan penggorengan. Dan Luhan tidak bisa tidak tertawa melihat Chanyeol yang mengaduh kesakitan. Ia sudah bilang bukan? bahwa temannya itu paling tidak bisa masak.

“Awww!”, tepat dengan perkiraan, Chanyeol memekik kesakitan.

“Hahahaha!”

“Berhenti tertawa!”

Chanyeol memekik sambil menutupi tangannya yang terkena cipratan minyak. Beruntung ia barusan sedikit jauh dari wajan penggorengan. Ia memang terlalu bodoh.

“Tidak papa kan?”

Sooyoung buru-buru mengapai tangan Chanyeol yang terluka dengan perlahan. ia menengok tangan kanan pemuda itu yang sedikit memerah. “Pasti sakitkan?”

“Tapi kurasa itu tidak terlalu parah, apa perlu kuobati?”, tawar Sooyoung dengan muka khawatinya.

“Ah, gwenchana“. Chanyeol lekas menarik tangannya lalu menyembunyikan tepat dibelakang pinggang. Sedikit tersenyum ia mengangguk pelan.

“Dasar bodoh!”. Luhan menyahut dari sisi kanan meja makan.

“Luhan, berhentilah mengatainya”

Chanyeol tersenyum penuh arti dalam diam, oh dari ujung lirikannya lihat Saja sekarang Luhan terlihat kesal sambil mendengus.

“Kau duduk saja bersama Luhan, biar aku saja yang memasak”

Dan Sooyoung mendorong-dorong pelan bahu belakang Chanyeol, menyuruh pemuda itu untuk duduk dimeja makan. Ia tersenyum sebelum meleset menuju penggorengan.

Mata kedua pemuda itu beradu. Pandangan Luhan seolah tidak suka, begitu sebaliknya. Mendadak suasana menjadi sunyi, yang terdengar hanyalah suara berisik Sooyoung yang memasak.

“Kau tidak kuliah?”

Luhan bertanya tentu saja dengan nada yang enghh tidak bersahabat. Kedua tangannya yang terlipat didepan dada dan kakinya yang menyilang membuat Chanyeol ingin sekali menonjok pemuda itu.

“Tidak, aku tidak ada jam kuliah hari ini”

“Ohh- APA?!”

Luhan memekik keras didepan Chanyeol. Pikirannya jauh berkelana untuk hal-hal kedepan. Matanya melotot menatap Chanyeol.

“Aku akan menghabiskan waktu yang banyak bersama Sooyoung”

“YAKK!”

.

.

.

“Hey bung!”

Luhan melirik malas kearah Baekhyun yang berada didepannya, temannya itu tersenyum dan entah mengapa itu terlihat memuakan bagi Luhan. Kemudian kedua tangan kanannya yang menopang pipinya semakin melorot kebawah. Oh hey, tentu saja pemuda bermarga Xi itu tidak dalam mood yang bagus. Ingat kejadian tadi pagi bukan?

“Oh hei . . . Ada apa dengan mu, Lu?”

“Apakah itu jadi urusan mu?”

Baekhyun mendengus, ia membenci Luhan ketika pemuda itu bad mood, semua hal kurang ajar dalam dirinya akan keluar, bertingkah menyebalkan yang dapat membuat Baekhyun harus memiliki asupan sabar 10 kali lipat dari biasanya. Sekalipun ia adalah sahabatnya, pemuda itu tidak pernah pandang bulu.

“Ya, ya, ya. Anyway, dimana Chanyeol? Apa dia tidak memiliki kelas?”

“Dia menginap dirumah ku”

“Oh- APA?!”

Astaga suara macam apa itu?

Luhan buru-buru memejamkan mata lalu menunduk dalam, satu tangannya menutupi separuh bagian wajahnya. Oh hei, mereka menjadi pusat perhatian pejuru kantin akibat terikan melingking si Byun. Dan seolah temannya itu tidak memiliki rasa bersalah, ia malah menggoncang bahu Luhan kuat.

“Ya, jelaskan pada ku!”

“Apa sih?”

“Sejak kapan ia menginap dirumah mu? Bocah sialan, kenapa tidak mengajak ku?”

“Baru tadi malam”

“Dan sekarang dimana dia?”

Dan Luhan kembali menunduk, wajahnya bahkan terlihat masam dua kali lipat dari sebelumnya. Ia jadi ingat kejadian tadi pagi, haruskah ia dibuat kesal kembali?

Aku akan menghabiskan waktu yang banyak bersama Sooyoung

Menyebalkan, bahkan ia dibuat merinding, kata-kata Chanyeol mengiyang dikepalanya bagai jam yang diputar teratur. Oh God, bocah itu memang sialan.

“Oh hei, jawab aku, Lu!”

“Aish, dia mungkin saja menghabiskan waktu bersama Sooyoung”

Dan Luhan lebih memilih menatap kelain arah ketimbang melihat wajah Baekhyun yang terlihat menahan amarah. menyebalkan sekali.

“A . . . Jadi ini alasan kenapa kau sedari tadi seperti ini?”

Mata Luhan mendelik kearah pemuda didepannya lalu berkedip beberapa kali, otaknya terlalu lambat untuk merespon apa maksud dari kata Baekhyun barusan. Sumpah ya, Luhan benar-benar membenci bagaimana temannya itu tersenyum seolah ada hal yang tersembunyi dibalik itu.

“A-apa?”

“Eyy, kau cemburukan?”

Luhan terbelakak untuk kata terakhir yang temannya itu ucapkan. Apa barusan? Apa? I-ia cemburu?.

“Y-yang benar saja”

Oh kontrol dirimu Xi Luhan, tidak ada kata cemburu yang dikenal dua temannya dalam kamus besar seorang macam Luhan. Tidak, tidak ada.

“Masih tidak mau memangaku? Ya ya apapun, tapi ngomong-ngomong sedang apa mereka?”, sambil berucap Baekhyun menggesek-gesek pelan dagunya.

“Byun Baekhyun, berhenti bicara. Kau ingin merasakan bagaimana nikmatnya sepatu ku menyumpal mulutmu, hah?”

“Oh hei, relax men

Kedua tangan Baekhyun menepuk-nepuk diudara. Menyuruh Luhan untuk tidak terlalu mempermasalahkannya. Melihat wajah temannya itu yang sama sekali tidak bersahabat juga membuatnya sedikit takut.

“Aku tau kau orangnya terlalu gengsi. Jadi, aku akan menghubunginya”, Luhan lekas meliriknya

“Ini kulakukan untuk mu, bahagialah sedikit”, Ucap si Byun itu sedikit menggoda

“Cepatlah”

Tangan Baekhyun buru-buru merogoh saku jaketnya untuk mencari benda persegi panjang itu. Tangannya yang lentik menari dengan lincah diatas layar touch screen itu untuk mencari nomor Chanyeol. Suara klik beberapa kali terdengar dan Luhan tidak bisa diam hanya untuk memastikannya. Beberapa saat kemudian ponselnya tepat berada disisi telinga kanan.

Mata Luhan dan Baekhyun saling beradu, setelah terdengar suara operator yang malah menjawab panggilannya.

“Dimana mereka?”

.

.

.

“Hah, kurasa disini tidak ada sinyal”

Chanyeol menggoyang-goyangkan ponselnya yang terangkat tinggi diudara, tidak ada satupun sinyal sama sekali. Hanya tanda X yang terlihat dan Chanyeol memakluminya karna wajar ini dihutan belantara.

“Mana ada sinyal ditempat seperti ini?”. Sooyoung maupun Chanyeol saling tertawa

“Benar juga, haha”, pemuda itu tertawa hambar.  “Ah ya, apakah kau sering kesini?”

Matanya mengeliling liar kesekitar, menyapu penglihatan yang dihadiahi pohon rindang, rumput yang hijau, dan danau yang tepat didepannya. Chanyeol berdehem pelan sebelum mengambil duduk tepat disebelah Sooyoung.

“Ya, tapi akhir-akhir ini jarang”, ucap Sooyoung sedikit cemberut. Chanyeol meliriknya sebentar sebelum mengangguk paham.

“Ah . . . Tapi hei, aku serius baru tau ada tempat seperti ini”

“Tempat ini tidak cukup terkenal sebenarnya”, Sooyoung mengangguk sementara kedua belah bibirnya mengulum kedalam setelahnya. “Kau mau?”

Chanyeol melihat Sooyoung yang menyodorkan toples kue kering kehadapannya. Ia tersenyum lalu perlahan mengambilnya. Kenapa ada kue semungil ini?.

“Tempat ini benar-benar tenang”

“Ya kau, benar”, sahut Sooyoung sambil memakan kue kering ditangannya.

“Luhan juga pernah kesini?”

Sooyoung menoleh kearah Chanyeol, dan pemuda itu memberi tatapan minta dijawab. Ia tersenyum.

“Iya”

“Dan kau juga bertemu disini dengannya?”

“Ah, tidak tidak”

Sooyoung menggeleng-geleng yakin. “Aku bertemunya tepat dibukit gunung, ketika ia melukis”

“Apa tempatnya sebagus ini?”

“Lumaya, tapi bedanya tidak ada danau seperti itu”

Telunjuknya menunjuk danau didepan sana. Setelah sesaat merentangkan kedua tangannya keatas, Sooyoung merebahkan diri diatas rerumputan yang hijau. Oh lihat langit begitu cerah siang ini, bahkan hampir tidak ada awan yang terlihat.

“Kau ingin kesana sekarang?”. Sooyoung mencolek tangan pemuda disampingnya.

“Emm aku sekarang betah disini, terlalu malas berjalan lagi. Apa lain kali bisa?”

Chanyeol menatapnya, memberikan tatapan penuh harap pada matanya. “Tentu, kenapa tidak?”

“Terima kasih”

.

.

.

“Biar aku yang bawa”

Chanyeol menarik dengan cepat kantong kresek yang berada pada tangan Sooyoung. Senyumnya yang lebar terlihat ketika gadis itu terkejut dengan aksi dadakannya.

“Ini tugas pria”

Sooyoung tersenyum, menoleh kesamping berlawan arah dengan Chanyeol untuk membuang tawanya.

“Hei kenapa tertawa?”

“Ah, t-tidak tidak”

Sooyoung menggeleng keras, matanya mengerjap menatap Chanyeol. Oh? Apa ia dianggap orang gila sekarang?

“Kau begitu lucu”

Tangan pemuda itu menggesek ubun kepalanya, oh percayalah ia baru pertama diperlakukan seperti ini oleh pria. Telapak tangan Chanyeol begitu lebar, tangan pemuda itu hampir penuh diatas kepalanya.

“Ah maaf, tangan ku bergerak refleks”

Chanyeol buru-buru menarik tangannya yang berada pada ubun kepala Sooyoung ketika melihat gadis itu tertegun. Ia sedikit tersenyum, ah tidak lebih tepatnya salah tingkah.

“Eo? Tidak masalah, tidak papa”

Tawa Sooyoung terdengar gugup dan tangan kanannya bebas menggaruk leher belakangnya yang menunduk.

“Emm, bisa kita pulang sekarang?”

Kelima jarinya melipat seperti batuk, tepat berada didepan mulut ketika deheman gugupnya terdengar dari arah samping. Sooyoung mendongak tepat ketika tangan Chanyeol mengarah kedepan, dimana mobilnya terparkir disana.

“Ah?, t-tentu”

“Ayo”

Chanyeol melangkah lebih dulu menuju mobil didepan sana. Sooyoung mengekor, mengikut dibelakang pemuda itu.

“Kau masuk saja lebih dulu, biar aku menaruh bahan-bahan ini-” Chanyeol mengangkat kedua kantong kresek itu kehadapan Sooyoung, “-Dibagasi”, lanjutnya sambil menunjuk bagasi mobil dengan jempolnya.

“Baiklah”

.

.

.

“Kami pulang!”, Teriak Sooyoung dan Chanyeol tepat ketika masuk kedalam apartment Luhan.

“Ya Chanyeol!”

Bukan untuk memberi salam kedatangan, Baekhyun yang sedari tadi berada pada sofa ruang tamu malah berteriak kesal kearah Chanyeol.

“Eo? Baekhyun-ssi?”

“Oh hey, Sooyoung-ah!”

Tangannya melambai setinggi bahu dengan senyumannya. Sooyoung tersenyum kikuk sambil membalas sapaan Baekhyun.

“Kenapa kau tidak bilang jika menginap, hah?”

Baekhyun menepuk keras-keras bahu kanan Chanyeol, dan seseorang yang kena pukulan mengaduh kesakitan. Maskipun tangan pemuda itu persis seperti perempuan tapi percayalah pukulannya bahkan lebih parah dari pukulan Luhan yang sering diberikannya.

“Pedas seperti biasa, Byun. Terimakasih”

Chanyeol mendengus sambil berlalu menuju dapur, tidak ada minat membalas perbuatan sahabatnya itu, tapi oh tunggu saja hari pembalasan pasti akan ada.

“Hei jawab aku!”

“Oh simpan dulu itu, aku masih lelah, oke?”

“Ya ya tentu, lelah setelah bersenang-senang”

Mata Luhan memicing kearah Baekhyun disamping sana, setelah hanya diam sedari tadi diatas sofa, beberapa jam barusan ia terlalu sensi pada kata bersenang-senang, sinyal yang diberikan Baekhyun benar-benar hebat. Ia tidak akan pernah lupa bagaimana ia dan si Byun ber’andai-andai untuk hal -yang sebenarnya tidak mungkin dilakukan untuk kata bersenang-senang Chanyeol dan Sooyoung-.

Bagaimana jika setelah mereka bersenang-senang, ternyata mereka nyaman satu sama lain dan akhirnya jadian?”

Bagaimana jika Chanyeol melakukan hal yang tidak-tidak pada Sooyoung setelah mereka bersenang-senang?

Oh mari lupakan itu.

Berlagak seperti penyamaran dan Untuk tidak terlalu mencolok jika ia menguping sekarang, Luhan mengambil jus yang berada pada meja didepannya lalu sedikit menegaknya, dan matanya berpura-pura seolah menonton televisi didepan.

“Tentu, kami bersenang-senang”

“Uhug”

Luhan tersedak tepat ketika kata bersenang-senang terucap. Ketiga pasang mata itu langsung terarah pada Luhan yang berada diruang tamu. Pemuda itu nampak susah payah mengatur nafasnya yang tercekak akibat tersedak dengan cara menepuk-menepuk dadanya.

“Kau tidak papa?”

Sooyoung menyodorkan botol air mineral -yang awalnya hendak ia minum- kearah Luhan. Pemuda itu menerimanya dengan tangan gemetar dan tangan Sooyoung mengelus punggung belakang pemuda itu untuk membantu, tepat ketika Luhan menegak isi botolnya. Hanya butuh 5,5 detik botol berisi air mineral setengah litar itu Luhan tegak.

“Merasa baik?”

“Jauh lebih baik”

Luhan terengah, sesaat setelahnya dua suara dibelakang sana tertawa keras.

Oke

Baiklah

Kejadiannya secepat kilat, dan botol mineral itu melayang keras tepat didahi Chanyeol. “Hadiah untuk tawa kesenangan mu”, Luhan tersenyum telihat kurang ajar bagi penglihatan si korban.

“Oh hei apa-apaan ini?!. Ya! Kenapa hanya aku? Dia juga menertawaimu!”

Chanyeol menunjuk Baekhyun yang berada disampingnya.

“Maaf”, tangan Luhan terangkat setinggi bahu, seperti mempelai pria yang berikrar janji suci didepan pendeta.

“Awalnya memang untuk Baekhyun, tapi tanganku tergelincir ketika ingin melemparnya. Botol itu sepertinya mencintai mu, Nyeol”

Dan Baekhyun tidak bisa tidak tertawa menyaksikan itu, “Apa sakit?, kau baik-baik saja?”

Baekhyun bertanya dengan tawa ejekannya. Dan Chanyeol buru-buru melepar botol itu kearah Baekhyun.

“Kurang lebih seperti itu rasanya, kau dapat menikmatinya”

“YAK!”

.

.

.

Sorijillo!”

Bruk!

Luhan meringis sekejap setelah Baekhyun berteriak kencang. Terjatuh saat mabuk mungkin rasanya tidak sakit, tapi Luhan yang masih dalam mode sadar, yang hanya melihat temanya itu terjatuh kelantai cukup membuat tulang-tulangnya bergretak.

“Apa dia baik-baik saja?”

“Jangan risau, bukankah dia memang seperti itu jika mabuk?”, Chanyeol menyahut dari depan

“Dia sudah sering kali terjatuh keras seperti itu saat mabuk, ku harap ketika dia sadar tulangnya tidak akan berpindah kelain tempat”

“Meskipun dia lembek dari luar, tapi jika dari dalam tulangnya benar-benar keras”

“Hei, apakah kau masih kesal soal yang tadi?”

Luhan terkikik sesaat setelah matanya melirik pada tangan Chanyeol yang merah akibat pukulan Baekhyun. Dengusan terdengar dan Luhan memilih diam untuk saat ini juga.

“Itu sangat sakit-“, Chanyeol beujar sambil mengangkat gelas soju ditangannya. “Jika kau ingin merasakannya, Aku akan menyuruh Baekhyun memukul mu dilain kesempatan”, cangkir berisi soju ditangannya ia tegak setelahnya.

“HEI!!”

Chanyeol tersedak soju yang ia minum akibat Baekhyun yang mendadak bangkit dan berteriak dengan nyaring. Pemuda itu terengah, tangannya gemetar menerima botol mineral yang diberikan Luhan.

CHUGULLAE?!”

Berteriak tak kalah nyaring, pemuda itu balas menendang Baekhyun yang elong disampingnya. Tersedak soju itu sakit, cukup membuat tenggorokannya terasa tercekak.

“Itu sakit bodoh!”

“Sakit mana dari yang ini, hah?”

Tangan Chanyeol menapar pelan pipi Baekhyun, pangkal tangan kanannya yang merah akibat pukulan si Byun ia arahkan kepada pemuda itu. Baekhyun yang setengah sadar terkikik geli dan Chanyeol mendengus terlalu keras.

“Maaf, nae chinguya!”

Kedua tangannya melingkar dileher Chanyeol, membawanya dalam pelukan persahabatan. Chanyeol hampir saja muntah akibat Baekhyun yang terlalu erat memeluk lehernya, ditambah lagi bau keringat dan soju yang berbaur dibadan sahabatnya.

“Ya! Lepaskan bodoh”

Chanyeol bersikeras berusaha melepaskan pelukan menggelikan sahabatnya itu. Dia memang benar-benar gila jika mabuk, seharusnya ia tadi jauh-jauh dari Baekhyun saja.

“Ugh-”

Chanyeol mengerjap beberapa kali. “Ya ya! Kau ingin muntah?”, tangannya memukul-mukul pinggang Baekhyun keras.

“Uhug-”

“Ya! Lepaskan aku! Ya ya!”

Memberontak dengan keras, satu-satunya cara kembali menendang Baekhyun. Mungkin ia menendang terlalu keras sehingga Baekhyun juga roboh kelantai terlalu keras. Yang Chanyeol dengar pemuda itu meringis kesakitan.

“Ya! Kau tidak papa?”

Kaki Chanyeol menendang-nendang pelan ujung kaki Baekhyun yang tidak sadarkan diri. “Ya!”

Sementara Baekhyun dan Chanyeol ribut, Luhan malah sibuk mengamati Sooyoung yang tidur disampingnya. Kedua tangannya yang melipat diatas meja sebagai alas kepala, apakah baik-baik saja tidur diposisi seperti itu untuk jangka waktu hampir satu jam.

Luhan tersenyum beberapa saat, sebelum mengikuti hal yang sama dilakukan gadis itu. Sial, kenapa ketika tidur ia cantik sekali?

Hidungnya yang mungil. Matanya yang ketika terbuka begitu bulat. Oh, kenapa Luhan baru sadar bahwa kening gadis itu sungguh indah. Pipinya juga chubbi. Alisnya indah. Dan bibirnya, emmm bagaimana mendefinisikannya ya? Sebenernya sih cukup menggoda untuk penglihatan Luhan sendiri.

Oh- astaga. Apa yang ia pikirkan?

“Heh!”, suara Baekhyun terdengar lagi

“Bisakah kau diam, hah?”

Chanyeol membentaknya dengan keras, dan Baekhyun balas memukul kepala pemuda itu. “Bisakah kau biasa saja?”

Dan

Bruk!

Ia terjatuh lagi

Chanyeol memutar bola matanya malas, gelas soju dihadapannya ia raih perlahan. “Heh, ayo minum lagi”

Gelas terasa mengetuk diubun-ubun kepalanya. Luhan mendongak, meluruskan badannya kearah pemuda didepan sana. Kepalanya mengangguk pelan, tangannya meraih gelas yang Chanyeol berikan, lalu menyambut air soju yang terisi digelasnya.

“Apa saja yang kau lakukan?”

“Maksud mu?”

“Kau-” Pandangan Luhan dan Chanyeol saling beradu. “-dan Sooyoung”

“Kau benar-benar ingin mengetahuinya?”, Chanyeol mendecih sesaat lalu setelahnya air soju itu lolos dalam tenggorokannya.

“Tidak juga”, balas Luhan sambil memutar-mutar gelas soju ditangan yang belum sama sekali ia minum.

“Muna sekali-”

Dan Luhan lekas melirik kearah Chanyeol. “Kami hanya pergi kegunung yang pernah kau datangi, lalu pergi belanja di supermarket itu saja”

“Meskipun itu saja, kurasa kau terlalu senang”

“Senang ya?-“, Chanyeol mendecih sambil kembali menuang soju kedalam gelasnya. “Ya tentu, kenapa tidak?”

“Kau menyukainya?”

Tuangan air soju dalam gelasnya tepat terhenti ditengah, bunyi khas botol ditaruh pelan pada meja terdengar. Kedua pasang mata itu saling bertukar pandang. Hanya tatapan datar tapi banyak arti disetiap tatapan

itu

.

Chanyeol tersenyum sedikit angkuh, “Bagaimana jika aku bilang, iya?”

.

.

.

TBC

.

.

Ahahahaha, hai long time no see :vvv. Aku bawa kelanjutannya yah yang sebenarnya telat banget buat ngeupdate. Maaf banget yah telat banget, bicos feel nulis labil banget, hampir gak ada gairah sebenarnya lanjutin ini. Dan juga chapter ini lebih pendek keknya dari chapter chapter sebelumnya, maaf banget.

Udah itu aja sih yang mau disampein, muehehe jan lupa komen yah? Oke? Oke?

Bye!

10 thoughts on “Just Loving You – (Chapter 3)

  1. dinaalifa July 3, 2015 / 12:43 AM

    Aakkk keren thor. Sebenernya udah lama banget aku nunggu ini ff.
    Syukur deh ya Luhan ngga terlalu mempermasalahkan latar belakannya Soo keknya. Dan uah.. ternyata ada Chanyeol diantara mereka berdua.
    Pernyataan terakhir Chanyeol cukup buat aku penasaran sama part lanjutannya thor. Jadi aku minta author jangan lama lama yah updatenya. Hehe😀

    • Nadya Choi July 4, 2015 / 2:41 PM

      Ehehe, makasih udah nungguin. Maaf ya :3. Diusahain deh lanjutnya cepet makasih juga ya udah baca^^

  2. febryza July 3, 2015 / 9:45 AM

    duh luhan udah ketara bgt itu kalo cemburu kalo chanyeol ngedeketin sooyoung masih aja gengsi buat ngaku kalo cemburu ckckck..
    nah sekarang chanyeol ngaku kalo dia suka sama sooyoung, hayoloh luhan gimana tuh

    • Nadya Choi July 4, 2015 / 2:43 PM

      Iya nih si Luhan emang gengsian /plak/
      Makasih udah mau baca sama comment^^

  3. ChoiXiOh July 3, 2015 / 12:16 PM

    Iya nih pendek banget kak syong. Padahal sekarang udah jarang banget nemu ff soohan

    • Nadya Choi July 4, 2015 / 2:45 PM

      Ka syong? :vvvv
      Huhu iya daku minta maaf dengan dikau ㅠㅠ chapter ini emang pendek karna akunya gak dapet ide lebih, ya mentoknya jadi aneh ㅠㅠ

      Makasih udah baca sama comment^^

  4. Soohaelin July 5, 2015 / 5:08 AM

    Huaaa,akhirnya post juga kak🙂
    wuahhh luhan itu cemburu kan?? Udah ngaku aja lu kamu cemburu kekeke. Chanyeol sepertinya menikmati waktunya ama soo.
    Wiihh, kalo udah ada si byun mah udah pasti ramenya kaga ketulung wkwkwk😀. Chanyeol diakhir ngomong kaya gitu!? Apa nanti bakal ada perebutan soo kah? Penasaran,, next ditunggu segera kak😀
    keep wraiting and fighting!

  5. sefristan kimberly July 16, 2015 / 3:58 PM

    Aku suka sama ff kamu. ..
    Aigo chanyeol jan suka sama soo eonni dong… soo just for luhan untuk ff ini
    Mm figthing author

  6. nadasooyoungstersoneelf July 25, 2015 / 11:38 AM

    huaaa akhirnya publish juga …
    udah lama bangeeeeeeeeet nunggu ini ff ..
    next part yg cepet ya thor/? :’v

  7. Depp June 19, 2016 / 4:32 AM

    Ngakak chanyeol tingkahnya konyol :v suka deh liat luhan cemburu🙂 so sweet . Boleh minta pw chap 4 gak thor?😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s