[FREELANCE] PSIKHE

Dengan jiwa, mereka berbicara …

.

Title: PSIKHE

Length: Oneshot

Rating: T [+]

Genre: General

Author: Oryza Sativa (Sebelumnya bernama Zea Mays dan Pengarang Telah Mati ._.)

Cast(s): Choi Sooyoung | Cho Kyuhyun

Other cast(s): Kim Jongwoon | Haruma Miura | Cho Ahra

image

Warning: OOC, Typo, EyD berantakan, Slight Shonen Ai (boyxboy), etc.

.

Tidak suka? Jangan baca.

.

Gaun hitam yang di kenakan gadis itu sedikit melorot; buru-buru dengan tangan kirinya yang kosong dia memebenarkan gaunnya. Gadis itu memberengut sebal saat gaun yang coba ia benarkan tidak mau menuruti perintah tangannya. Kue cokelat yang semula berada di tangan kanannya ia letakkan kembali pada piring kecil di atas meja. Menggunakan kedua tangannya untuk membenarkan gaunnya yang merosot.

Masih dengan bibirnya yang belepotan kue cokelat, Sooyoung (nama gadis itu) menggerutu kesal pada gaun hitam panjangnya. Setelah sukses membenarkan gaunnya yang sempat melorot, Sooyoung lantas dengan cepat menyambar kue yang tadi sempat di taruhnya, melihat ada sebuah tangan yang ingin mengambil kuenya.

“Kau terlalu banyak memakan kue, Sooyoung-a. Nanti badanmu bisa melar seperti kakakmu ini loh.” Pemuda berambut pirang sebahu itu berusaha merebut piring berisikan kue yang langsung di sembunyikan oleh Sooyoung di balik punggungnya.

Pemuda tampan dengan rambutnya yang di cat pink itu menghembuskan napas. Apalagi saat melihat Sooyoung -adiknya yang manis itu kembali menikmati beberapa makanan yang tersaji di atas meja. Tangan besarnya mencoba menghentikan Sooyoung saat gadis itu akan mengambil daging babi panggang di samping kakaknya.

“Itu daging babi, Sooyoung-a!” Tangan pria itu menepis tangan Sooyoung. Gadis itu hanya melihat kakaknya bingung, tidak mengerti. “Ada apa, oppa?” tanyanya dengan alisnya yang terangkat bingung.

Pemuda pirang di samping Yesung (pria dengan rambut di cat pink menyala) itu terlihat menggerak-gerakkan tangannya di hadapan Sooyoung. Yang Sooyoung artikan sebagai “Jangan-makan-daging-itu, itu-daging-babi.”

“Oh, daging babi,” beo Sooyoung kemudian, tatapannya beralih pada daging yang tadi sempat ingin dia ambil. Matanya yang bulat berpindah pada si pemuda pirang, cengirannya mengembang, menampilkan deretan gigi-gigi putihnya, “Terimakasih sudah memberitahuku, Miu-chan!” katanya yang di hadiahi tatapan tajam Yesung, kakaknya.

“Panggil dia dengan sebutan kakak, Soo!” bentaknya dengan suara pelan yang terdengar tidak mengintimidasi. Miura, pemuda yang sering di panggil oleh Sooyoung dengan sebutan Miu-chan itu geleng kepala, Yesung terkadang bodoh ya, sudah tahu adiknya tidak akan mendengarnya, masih saja dia mengomel seperti ibu-ibu yang sering berdebat denganku di pasar, lagian Sooyoung kan lebih tua dariku. Miura terkikik dengan pikirannya.

Yesung yang melihat itu beralih menatap tajam Miura. “Apa yang kau tertawakan?!” Mendengar perkataan Yeaung, tawa Miura malah semakin kencang. Alis Yesung tertekuk tajam, “Diam, bodoh!” ucapnya.

Sooyoung memandang kedua pemuda di depannya bingung, tapi sedetik kemudian gadis itu mengedikkan bahunya acuh, dan melanjutkan makan-makannya yang tertunda.

oOo

Seorang pemuda berjas hitam dengan dalaman putih itu berdiri mematung di tengah-tengah kerumunan orang. Tatapan matanya kosong, terlihat sangat tegang. Kedua tangannya yang berada di samping kiri-kanan tubuhnya dia gunakan untuk mencengkram jas hitamnya yang licin hingga kusut. Dadanya naik turun, seperti seseorang yang sesak napas.

Awalnya Sooyoung mengira pemuda itu hanya melamun, mungkin syok ditinggal kekasihnya menikah, melihat sedari tadi pemuda itu tidak ada gairah di pernikahan kakaknya ini, Sooyoung mengira begitu. Tapi melihat pemuda itu yang saat ini memegang kepalanya kuat dan memukul-mukulnya menggunakan kepalan tangannya membuat Sooyoung harus rela meninggalkan makanan enak yang sangat sulit di dapatnya itu.

Gadis itu berlari meninggalkan kakaknya yang sama sekali tidak menyadari keberadaannya sekarang ini, Sooyoung berlari menuju pemuda berjas hitam. Pemuda itu sempat kaget dan memberontak, saat sepasang tangan menuntunnya menjauh dari kerumunan orang.

Tapi akhirnya pemuda berjas tersebut menurut pada si gadis, aneh, biasanya ia akan memberontak pada siapa saja yang memegangnya dan tidak ia kenal.

oOo

Disinilah mereka terdampar, di halaman belakang rumah megah yang sedang melangsungkan pesta pernikahan.

Sooyoung menghempaskan tubuhnya pada sebuah bangku taman di bawah pohon ek yang masih kecil. “Hah, udara malam segar sekali, ya?” teriaknya dan merentangkan tangannya bersandar pada bangku taman.

Kening gadis itu berkerut saat melihat pemuda yang tadi di’culik’nya hanya diam saja tanpa pergerakan. Tidak benar-benar diam sih, pemuda itu bergerak-gerak gelisah. Kakinya bahkan tidak bisa tenang, bola matanya memandang sekelilingnya, Sooyoung bahkan melihat pemuda itu menarik-narik jari tangannya sendiri.

Ada apa dengannya? Apa dia ingin buang air? Sooyoung menggeleng kuat, mana mungkin! kepalanya miring ke kiri, guna menelisik apa ada yang janggal pada si pemuda.

“Hey!” panggil Sooyoung mencoba memulai. Tidak ada jawaban, pemuda itu bergerak-gerak gelisah.

Sooyoung berdiri dari duduknya dan melangkah ke hadapan pemuda itu, “Hai, kau mendengarku? Atau kau dari tadi sudah bicara, ya? Ah, maaf, aku tidak mendengarnya.” Masih tak ada tanggapan, dan itu membuat Sooyoung kesal. Kakinya menghentak-hentak seperti anak kecil, bibir bawahnya maju beberapa senti.

“Hei! Kau mengira aku ini sadako, ya?! Karena aku menggerai rambutku? Padahal aku sudah memakai jepit rambut berbentuk daun maple ini agar terlihat cantik!”

Sooyoung, masih dengan bibirnya yang maju beberapa senti menjulurkan tangannya pada Kyuhyun (si pemuda berjas hitam) karena nama Cho Kyuhyun tersemat rapi di samping kanan jas hitamnya. Aneh.

“Aku manusia tahu! Namaku Sooyoung, aku tinggal bersama kakakku yang katanya sih laki-laki, aku juga tinggal bersama pacar kakaku. Aku suka daun maple dan musim gugur, aku tidak suka matahari musim panas, tapi aku suka sakura dan salju. Kalau musim dingin biasanya aku akan membuat es krim bersama pacar kakakku dari salju. O iya, pacar kakaku laki-laki loh, dia juga sangat baik!” Dengan senyum lebar Sooyoung menceritakan tentang dirinya. Tanpa menyadari Kyuhyun yang menatap tangannya yang terulur dalam diam, mengamatinya tanpa bergerak. Lama.

Hingga perlahan tangan Kyuhyun terangkat. Sooyoung yang melihatnya membulatkan mulutnya bingung. Tiba-tiba saja tangan Kyuhyun menggenggam tangannya erat, tapi tidak terasa sakit. Sooyoung yang melihatnya tersenyum sumringah.

“Yei, kau menyambut tanganku! Itu artinya kau adalah temanku sekarang! Kau orang pertama yang mau menjabat tanganku, selamat!” teriakan Sooyoung tak lagi di dengar oleh Kyuhyun. Pemuda itu masih heran dengan dirinya sendiri, kenapa mudah sekali dia dekat dengan gadis di hadapannya? Mungkin aku akan bertanya pada kakak nanti, janji Kyuhyun pada dirinya sendiri. Dia merasa aneh pada dirinya sendiri. Aku tidak mengerti. Kyuhyun memejamkan kuat seolah sedang berpikir dalam dekapan hangat di sertai teriakan Sooyoung.

Yesung yang berdiri di sebelah Miura menatap adiknya dalam diam. Begitupun dengan pengantin wanita pada malam ini. Dia kaget saat melihat adik laki-lakinya yang mempunyai riwayat Asperger itu terlihat begitu dekat seolah mereka adalah teman lama yang kembali bertemu.

“Yesung-a?” Ahra (kakak Kyuhyun) membuka suara dalam hening.

Yesung masih terfokus pada Sooyoung yang saat ini menuntun Kyuhyun duduk di bangku taman dan mengajaknya berbicara.

“Dia terisolasi dari dunia luar karena pendengarannya. Aku baik-baik saja saat dia tidak menanggapi omongan orang tentang dirinya, karena dia memang tidak mendengarnya. Aku juga sudah berusaha menjelaskan padanya, kalau aku sedang menjalin hubungan dengan seorang laki-laki. Dia bilang tidak apa-apa, karena menurut dia semua sama saja. Dia benar-benar terperangkap dalam dunia kanak-kanaknya.” Miura di sampingnya memegang erat tangan Yesung, mengelusnya perlahan guna menenangkan kekasihnya itu.

Ahra yang berdiri di samping kedua pasangan tersebut menjatuhkan kepalanya pada dekapan sang suami. Memandang adiknya yang kini mulai berbicara menanggapi ocehan Sooyoung, adik Yesung, sahabat baik suaminya. Tentu dengan bahasa isyarat yang memang telah dia kuasai, walaupun masih terlihat canggung berhadapan dengan Sooyoung.

Sang suami mengelus pelan pundak istrinya. Aku mulai berpikir, Kyuhyun kini telah menemukan pengganti yang bisa menjaganya dan menggantikanku. Ahra memandang mereka dengan senyuman.

oOo

Sooyoung tidak pernah memakai alat bantu pendengarnya jika sedang berada di luar rumah, dia lebih nyaman memakainya saat berada di sekitar rumah; dekat dengan orang yang di kenalnya. Alasannya, karena dia tidak ingin mendengar suara orang-orang yang tidak dia kenal. Itu saja.

Semenjak pertemuannya dengan Kyuhyun minggu lalu, Sooyoung rasanya ingin selalu memakai alat bantu pendengarnya. Kalau-kalau nama Kyuhyun di sebut, siapa tahu orang yang di maksud ada di sekitarnya.

Hal ini sukses membuat Miura semakin gencar menggodanya, Sooyoung bahkan dengan jujur mengatakan bahwa dia sangat menyukai Kyuhyun. Suka dalam artian sebagai teman, karena selama ini Sooyoung memang tidak pernah memiliki teman –kecuali kakaknya dan Miura (kekasih kakaknya). Tapi Miura mengartikannya dalam hal yang lain. Sedangkan Sooyoung sama sekali tidak mengerti ada apa dengan kekasih kakaknya itu.

Saat ini Sooyoung sedang berada di halaman belakang rumah sederhana namun minimalisnya bersama sang kakak. Di belakang halaman rumah mereka terdapat sebuah pohon yang cukup besar, disana, Yesung membuatkan adiknya itu sebuah rumah pohon lumayan besar, yang di bangunnya bersama Miura dan kadang Sooyoung juga ikut membantu. Sering kali Sooyoung menghaniskan harinya di sana, bahkan pernah satu kali ia ketiduran sampai malam hari dan dicari kesana-kemari oleh kakaknya tapi tidak di temukan.

Bisa di bilang, penyebab lain Sooyoung yang terjebak dalam jiwa anak-anaknya adalah kakaknya sendiri. Yesung maupun kedua orangtua mereka dulu tidak pernah menyekolahkan Sooyoung di sekolah umum, Sooyoung hanya mengikuti homeschooling saja. Sekarang, Sooyoung telah berusia dua puluh satu tahun. Usia yang cukup matang untuk menikah, tapi dalam pikiran Sooyoung terlintas mempunyai pacar saja tidak pernah. Apalagi berkeluarga.

Gadis berambut panjang bernama Sooyoung itu kini tengah duduk-duduk di atas rumput, memetik bunga-bunga ajeran di sekitarnya dan merangkainya menjadi sebuah mahkota cantik yang langsung dia kenakan di kepalanya. Dia berdiri dan berlari ke arah kakaknya yang sedang tiduran di bawah pohon.

“Oppa! Oppa! Lihat, aku membuat ini dari bunga-bunga itu, bagus, ‘kan?” cengir Sooyoung memamerkan mahkota yang ada di kepalanya. Yesung yang melihat adiknya memutuskan untuk duduk dan bergumam sambil mengangguk sebagai jawaban. Gadis itu memekik senang dengan jawaban yang di berikan sang kakak.

Tak lama, sebuah suara yang memanggil nama mereka membuat kedua kakak-adik itu menoleh, Sooyoung mengenal suara ini sebagai suara Miura. Gadis itu menoleh ke arah belakang dimana asal suara terdengar. Matanya melebar saat melihat siapa yang sedang di bawa oleh Miura.

“Kyuhyun-a!” pekiknya semangat, dia langsung berlari ke arah pemuda yang tanpa sadar sangat ia rindukan tersebut dan sesegera mungkin memeluknya erat. Gadis itu bahkan tidak memperdulikan suara gelak tawa Miura yang sedang menertawakannya. Dia sangat merindukan pemuda ini.

“Sudah-sudah, kau bisa membuat Kyuhyun-ssi kehabisan napas kalau kau peluk seperti itu.” Miura memisah paksa pelukan Sooyoung pada Kyuhyun, pemuda itu kini hanya bisa mematung dengan reaksi Sooyoung. Miura terkekeh kecil. “Ayo, Soo. Bawa Kyuhyun kesana,” tunjuk Miura pada Yesung yang kini tengah melambaikan tangannya pada mereka.

Sooyoung melangkah sambil mengandeng tangan Kyuhyun, berjalan menuju ke arah Yesung dan Miura yang sudah duduk tenang bersama Yesung.

Sesampainya di hadapan Yesung, Sooyoung bahkan enggan melepaskan tangannya pada tangan Kyuhyun. Dia tidak menghiraukan Miura yang terdengar seperti menggodanya.

Yesung tersenyum pada Kyuhyun. “Hai, Kyu,” sapanya. Kyuhyun balas tersenyum pada Yesung, senyum yang lebar. Kyuhyun memang cukup mengenal Yesung, dia sering malihat Yesung bersama pria yang selalu bersama kakaknya. Jadi secara tidak langsung, Kyuhyun cukup akrab dengannya, Yesung juga cepat tanggap dengan penyakitnya.

Cengiran Sooyoung melebar. “Oppa, boleh aku membawa Kyuhyun melihat-lihat rumah kita?! Boleh, ya? Boleh, ya?” rayu Sooyoung pada kakaknya. Yesung tertawa melihat tingkah Sooyoung dan langsung menanggapinya dengan mengangguk. Gadis itu bersorak gembira dan segera menarik tangan Kyuhyun menuju taman bunga matahari yang selalu dia rawat.

Setelah sampai di tengah-tengah hamparan bunga matahari, Sooyoung mengajak Kyuhyun duduk dan dia berceloteh sepanjang waktu.

Kyuhyun terlihat memejamkan matanya, menikmati suara Sooyoung yang memasuki gendang telinganya. Dia butuh ketenangan, tapi suara Sooyoung yang tidak berhenti berbicara sedikit mengganggunya. Pemuda itu membuka matanya dan langsung bertatapan dengan mata bulat Sooyoung.

Sooyoung menatap Kyuhyun, gadis itu memiringkan kepalanya bingung. “Ada apa?” tanyanya penasaran.

“Aku … aku butuh hmm, di-diam sejenak kurasa,” jawab Kyuhyun sambil menatap Sooyoung ragu. Pemuda itu bergerak-gerak gelisah, kedua bola matanya bergerak melihat kemana-mana. Kakinya tak berhenti ia goyangkan.

Gadis itu terlihat membulatkan matanya. “Kau butuh ketenangan, ya? Benarkan?! Baiklah, aku akan diam,” senyum Sooyoung pada Kyuhyun. Kyuhyun masih menatap ragu pada gadis itu, namun dia lebih memilih menuruti apa kata keinginannya. Dia lalu memejamkan matanya, menarik dan menghembuskan napasnya teratur, dia memilih tiduran di atas rumput dengan pohon dan bunga-bunga matahari sebagai penghalau cahaya matahari langsung. Kyuhyun tersenyum tipis, ini damai. Sooyoung tidak bisa tidak tersenyum melihat wajah Kyuhyun yang terlihat sangat menikmati ketenangannya. Gadis itu pun ikut berbaring di samping Kyuhyun, memejamkan matanya dan ikut menikmati ketenangan alam.

“Aku Cho Kyuhyun, tapi panggil saja aku Kyuhyun. Ak-aku tidak tahu darimana kau tahu namaku, atau mungkin Yesung hyung yang memberitahu, ya? Hm, aku sebenarnya tidak suka keramaian, aku suka suasana yang tenang dan sepi. Umurku sekarang dua puluh dua tahun. Aku senang sekali bekerja di kedai kopi di samping rumah Yesung hyung. Di sana menyenangkan, aku juga jadi bisa membuat secangkir kopi kesukaanku.” Sooyoung mendengarkan Kyuhyun bercerita dengan tenang, gadis itu kadang menyela cerita Kyuhyun untuk menjawab apa yang di tanyakan, kadang juga menyela untuk bertanya pada Kyuhyun, apa maksud yang itu dan ini. Mereka bertukar cerita masing-masing.

Sooyoung juga menceritakan kekurangannya dalam hal pendengaran pada Kyuhyun. Kyuhyun mengerti, Kyuhyun juga menceritakan bahwa dia mengerti bahasa isyarat yang selama ini tanpa sadar mereka artikan sebagai bahasa tangan, tidak lupa pemuda itu juga membagi tahu hal yang selama ini menjadi momok dimana dirinya tidak suka keramaian dan hanya mempunyai teman sedikit. Ia pengidap sindrom asperger. Tidak mengagetkan bagi Sooyoung, dia bahkan tidak tahu apa itu asperger, namun Kyuhyun mencoba memberitahunya sedikit hal tentang asperger, karena dia pun tidak terlalu memahaminya, mungkin dia akan meminta kakaknya untuk menjelaskan apa itu asperger pada Sooyoung nanti. Asperger bisa di bilang adalah kelainan jiwa yang banyak orang anggap itu sama seperti autis. Tapi sebenarnya autis dan asperger itu berbeda, sangat berbeda. Kyuhyun menolak jika di sebut anak idiot pengidap autis.

“Hoam, aku mengantuk. Ini jam berapa?” Kyuhyun bertanya sambil mengusap-usap matanya yang berair karena mengantuk. Pemuda itu menoleh ke arah Sooyoung yang tidak menjawab pertanyaannya.

“Hmm, mungkin sekitar jam satu siang. Memangnya kenapa?” tanya balik Sooyoung, wajahnya polos menatap Kyuhyun yang balik menatapnya dengan pandangan bingung tidak mengerti.

Kyuhyun memandang gadis yang berbaring di sampingnya. “Bukankah ini waktunya tidur siang?” Raut wajah Kyuhyun polos saat menatap Sooyoung.

Adik dari Yesung tersebut membulatkan mulutnya. “Benarkah? Tapi aku tidak pernah tidur siang,” ucap Sooyoung tidak kalah polosnya.

“Kenapa tidak pernah? Aku selalu tidur siang sebelum berangkat bekerja, supaya tidak mengantuk saat bekerja nanti,” sahut Kyuhyun dengan raut wajah lucu.

“Begitu, ya? Yasudah, kau tidur siang saja di sini, bukankah di sini nyaman?” kata Sooyoung tersenyum lebar, tangannya terentang menyentuh rumput-rumput yang menjadi alasnya.

Kyuhyun mengangguk setuju, disini memang nyaman. “Baiklah, aku akan tidur disini. Tapi, tapi, hm, apakah tidak apa-apa?” Kyuhyun tiba-tiba menjadi was-was.

“Tidak apa-apa, aku selalu tidur di sini kok, atau kalau kau mau, kau bisa tidur di atas rumah pohonku,” jawab Sooyoung pelan, gadis itu sedikit menguap, dan matanya juga sudah terasa berat, tak lama ia jatuh dalam tidurnya. Kyuhyun yang melihat gadis itu tertidur pun memutuskan untuk tidur juga.

oOo

Kyuhyun sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Sooyoung di sepanjang hari-harinya. Tidak heran jika mereka jadi lebih sering menghabiskan hari-hari mereka di rumah pohon Sooyoung. Dua bulan mereka bersama bukannya tidak di lalui dengan hal yang datar-datar saja, kadang jika Sooyoung terlalu cerewet, Kyuhyun seringkali hilang kendali pada otak dan pikirannya. Dia seringkali akan berteriak pada Sooyoung karena menurutnya terlalu mengganggu ketenangannya. Tapi Sooyoung tidak pernah marah, dia tidak sedih saat Kyuhyun membentaknya. Dia malah mengira selama ini Kyuhyun terlalu datar dan tidak punya ekspresi, sama seperti sadako tapi tidak menyeramkan. Sooyoung senang saat Kyuhyun mulai menunjukkan ekspresi terganggu pada ocehannya. Saat Kyuhyun sudah mulai terganggu, biasanya Sooyoung akan mengajak Kyuhyun diam sejenak, menghirup aroma alam yang menenangkan. Setelah selesai pada kegiatan ‘rutin’ mereka, biasanya Kyuhyun akan memberikan sebuah hadiah untuk Sooyoung. Hadiah yang entah sejak kapan mulai ia berikan pada Sooyoung. Sebuah ciuman, tepat di bibir.

Walaupun Kyuhyun terlihat seperti terisolasi dari dunia luar. Tapi sebenarnya ia mengetahui begitu banyak hal yang bahkan tidak di ketahui Sooyoung. Pengetahuannya tidak bisa di abaikan, ia bisa di bilang jenius, walaupun ia kadang kesulitan dalam mengucapkan ataupun memahami beberapa kata.

Bahkan Kyuhyun pernah satu kali menunjukkan pada Sooyoung sebuah … video porno. Ya, dan untung saja saat itu Miura yang menangkap basah Kyuhyun yang memberikan Sooyoung video itu, jika Yesung yang kebetulan melihatnya, entah bagaimana nasib Kyuhyun.

Satu lagi, Kyuhyun juga mengetahui istilah pacaran. Dia mengetahuinya jelas dari sang kakak. Dan dengan bantuan (sedikit paksaan) Yesung agar mau menjelaskannya pada Sooyoung, Kyuhyun pada akhirnya bisa menyatakan prihal perasaannya pada Sooyoung. Awalnya, Sooyoung memang tidak mengerti, namun setelah dijelaskan oleh kakaknya, dia sedikit mengerti, dan tentu saja menerima ajakan Kyuhyun untuk menjadi kekasihnya. Sooyoung mengira, jika Kyuhyun menjadi kekasihnya mereka bisa tinggal bersama seperti kakaknya dan Miu-chan, tapi dengan wajah merah padam, Miura membantah perkataan Sooyoung.

Sejenak, Yesung rasanya butuh waktu beberapa menit untuk mengatur kinerja jantung dan pernapasannya. Di depannya berdiri empat orang yang sangat di kenalnya, Yesung tidak akan sekaget ini jika saja Ahra tidak mengutarakan apa tujuannya datang kesini. Bahkan dengan semangat yang menurut Yesung berlebihan, ibu Kyuhyun sangat ingin Yesung menerima lamaran ini. Benar, mereka datang untuk melamar Sooyoung, tentu saja.

“Dimana Sooyoung-a?” Cho Hana melesakkan kepalanya melihat kearah dalam rumah Yesung, mencari-cari kiranya dimana sang calon mantu berada. Yesung menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal, ia meringis dan langsung kembali menuruni tangannya setelah di tatap tajam oleh Cho Hana -ibu Kyuhyun dan Ahra. Wanita paruh baya itu memutuskan untuk masuk ke dalam rumah Yesung, karena sang empunya rumah tidak juga mempersilahkannya masuk.

Ahra hanya bisa nyengir melihat Yesung yang kini menatapnya tajam bersama sang suami. “Hei, ini permintaan Kyuhyun, tahu!” cengirnya pada Yesung. Rambut Yesung yang di catnya pink sudah berantakan akibat ia acak-acak. Pria itu lalu melirik Kyuhyun yang kini berdiri tegang di hadapannya. “Kalian masuklah,” ucapnya kemudian.

Kyuhyun menatap Yesung di depannya dengan pandangan takut. Ahra dan suaminya telah menyusul ibu mereka masuk ke dalam. “Apa -apa Hyung marah padaku?” Kyuhyun bergerak-gerak gelisah di tempatnya berpijak. Tangannya tidak bisa diam saling menarik tangan yang satu dan yang lainnya. Yesung tersenyum dan menepuk kepala Kyuhyun pelan. “Masuklah dulu.”

“Jadi, bagaimana jawabanmu, Yesung?” Kembali, Cho Hana menagih jawaban pada Yesung. Wanita tersebut kini tengah berada di lantai beralas karpet, duduk bersama Sooyoung yang juga sedang memandang kakaknya penuh minat. Dia sudah mengetahui tentang lamaran ini, setelah di beritahu oleh ibu Kyuhyun tentunya. Sedangkan Kyuhyun sedari tadi masih menatap Yesung takut, ia sangat takut jika Yesung tidak menerima lamarannya.

“Ayolah, Yesung. Mereka sudah cukup umur!” bisik Ahra yang duduk di samping Yesung. Miura yang kebetulan duduk di sebelahnya mengangguk setuju. Menghela napas sejenak, Yesung lalu menatap mereka satu per satu. “Tapi aku tidak yakin, Cho Ahra. Kau tahu? Mereka seperti terjebak dalam jiwa anak kecil mereka!” Yesung menggertakkan giginya geram.

Ahra membantah ucapan Yesung. “Kau salah, Jongwoon! Justru disini Kyuhyun telah menunjukkan sifat dewasanya. Dia siap bertanggung jawab dengan menikahi Sooyoung, menjaga dan menafkahinya. Aku tahu, dia kadang juga bisa bersikap kekanakan, tapi dengan adanya Sooyoung dia bisa meredam keegoisannya. Dia sendiri yang mengatakan itu padaku.” Tatapan mata Yesung membulat, pria itu memejamkan matanya meresapi setiap ucapan Ahra.

“Baiklah.” Ucapan Yesung dihadiahi pelukan hangat Cho Hana, salah satu hal yang awalnya sangat Yesung ragukan adalah: ibu Kyuhyun yang tidak menerima keadaan adiknya. Namun ternyata dia salah, bahkan sebelum Kyuhyun mengenal Sooyoung pun, ibu Kyuhyun sudah mengetahui kekurangan Sooyoung. Ahra dan Miura betos senang. Mereka berjanji akan mengurus pernikahan Kyuhyun dan Sooyoung agar menjadi semenarik mungkin.

oOo

Acara pernikahan Kyuhyun dan Sooyoung di laksanakan di halaman belakang rumah Sooyoung dan Yesung. Pendeta di boyong kesana dengan bantuan suami Ahra. Tamu yang di undang hanya sedikit, hanya teman-teman dekat dari kakak masing-masing mempelai. Sooyoung sendiri tidak punya tamu yang harus di undangnya, malah saat di tanya oleh Miura siapa yang ingin dia undang, dengan polos dia menjawab bahwa dia ingin mengundang Kyuhyun. Sedangkan Kyuhyun hanya mengundang pemilik kedai yang selama ini mau menerimanya bekerja disana dan beberapa teman yang memang dekat dengannya di kedai. Selebihnya hanya di penuhi oleh tamu-tamu Yesung dan Ahra saja, tidak lupa tamu-tamu dari ibu sang mempelai pria.

Tempat diadakannya pernikahan di sulap oleh Ahra dan Miura menjadi halaman yang begitu indah. Mirip-mirip sedikit dengan tempat dimana Edward dan Bella melangsungkan pernikahan mereka, -tapi bedanya Edward dan Bella berada di dalam hutan, sedangkan Kyuhyun dan Sooyoung di belakang halaman rumah.

Yesung menghembuskan napasnya, pria itu tersenyum tipis melihat bagaimana adiknya -yang kini menjadi isteri Kyuhyun tersenyum senang saat Kyuhyun menyematkan sebuah mahkota dari bunga di kepalanya. Dia terlihat seperti peri dengan gaun putih sederhana namun indah hadiah dari ibu Kyuhyun yang kini di pakainya. Sooyoung juga menyematkan sebuah mahkota yang di buatnya dari daun-daun pohon nangka di kepala Kyuhyun, sekarang mereka terlihat seperti raja dan ratu yang bahagia.

“Mereka berbicara dengan jiwa, Yesung-a.” Miura melangkah kearah Yesung dan berdiri di samping pemuda tersebut, tersenyum lebar saat melihat Kyuhyun yang kini mencium Sooyoung mesra. Ibu Kyuhyun dan Ahra bahkan mengabadikan moment tersebut dengan ponsel mereka.

Yesung menolehkan kepalanya ke arah sang kekasih yang masih memandang pemandangan di depannya. Mengangkat sebelah alisnya tidak mengerti.

“Dengar, aku tahu kau enggan melepas Sooyoung. Tapi ayolah, kau kan sudah menang, Sooyoung dan Kyuhyun akan tinggal dan membuat rumah di sini, di halaman belakang rumahmu ini, kau bisa melihat Sooyoung setiap hari bahkan setiap saat. Jadi kau tidak perlu mengkhawatirkannya. Lagipula aku yakin, mereka bisa hidup damai setelah ini. Kau tidak tahu saja bagaimana mereka berinteraksi jika bertemu, mereka sangat damai, saling melengkapi kekurangan masing-masing. Kau tidak perlu khawatir, Yesung-a. Karena seperti kataku tadi, mereka berbicara dengan jiwa mereka.” Pemuda itu tersenyum dan menatap Yesung yang juga menatapnya. Yesung mengehela napas. Kemudian mengangguk. Dia memang terlalu berlebihan dengan kekurangan adiknya dalam hal pendengaran. Miura menggenggam tangan Yesung dan membawanya bergabung bersama yang lain. Semua tamu undangan telah pulang, kini tinggal mereka bertujuh saja yang tersisa. Menikmati hari ini dengan canda tawa yang terderai hingga senja tak lagi nampak. []

.
.
.

Owari

.
.
.

oOo

.
.
.

Omake [Bonus]

“Ne, Sooyoung-a? Apa sekarang aku boleh bercinta denganmu?” Kyuhyun bertanya dengan polosnya pada Sooyoung yang kini sedang duduk di tepi ranjang mereka yang sebenarnya adalah ranjang Sooyoung, -untuk sementara waktu sebelum rumah mereka yang di bangun di halaman belakang rumah Yesung selesai di buat (padahal tahap awal pembuatan saja belum ada), mereka akan tinggal di rumah yang selama ini Sooyoung tempati.

Sooyoung menatap Kyuhyun dengan kepalanya yang miring ke samping kiri. Perempuan itu lalu mengangguk. “Tentu saja boleh!” jawabnya tersenyum riang. Kyuhyun balas tersenyum lebar dan dengan segera membawa Sooyoung dalam pelukannya dan menawan bibir Sooyoung dalam ciuman panjang, mereka melewati malam di sertai teriakan dan desahan Sooyoung sebagai irama. Semoga Yesung dan Miura tidak terganggu.

“Aku mencintaimu, Sooyoung-a.” Kyuhyun menggerak-gerakkan tangannya di hadapan Sooyoung, pria itu lalu mengeratkan pelukannya pada tubuh polos wanitanya.

Sooyoung mengangguk. “Aku juga! Aku juga mencintai Kyuhyun!” Mereka kembali berciuman dan berbagi kehangatan di bawah selimut yang sama. []

.

A/N:
FF ini pernah di publish di blog pribadiku😉 http://zhealovegood.wordpress.com

*Psikhe dalam bahasa Yunani berarti Jiwa.

Ada banyak kekurangan di ff ini, terutama untuk informasi sindrom yang di alami Kyuhyun.😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s