[FREELANCE] My Name is Choi Sooyoung

Title: My Name is Choi Sooyoung
Author: Baby D (@dianarsitayanti)
Genre: Romance
Rating : PG 15
Main Cast(s):
Choi Sooyoung
Cho Kyuhyun
Disclaimer: Semua karakter tokoh di dalam FF ini dibuat hanya demi kelancaran cerita(?). Say no to plagiat ya guys~ ^,^

image

Author’s Note :
Ini pertama kalinya author ngirim FF ke Sooyoung Fanfic Indo. Semoga dipublish dan responnya bagus hehe. Oh ya FF ini sebelumnya telah di publish di WP pribadi author (https://kyuyoungdiari.wordpress.com/) Jadi jangan kaget kalau ada yang udah pernah baca FF ini (?). Typo tidak ditanggung (?).Kalau ada yang ingin berteman dengan author bisa mention ke @dianarsitayanti atau email ke dianarsita25@gmail. Happy Reading ya~

**

Aku menghentikan langkahku di depan sebuah Café di dekat kantorku. Kalau aku tidak salah dengar pemilik Café inilah yang akan menjadi calon tunanganku. Sebenarnya aku sangat malas dengan cara pertunangan yang sudah diatur ini. Bagaimana tidak? Ini kan sudah era modern. Mana ada orang tua yang masih menjodoh-jodohkan anak mereka?
Ah. Ada. Aku menepuk keningku. Orang tuaku dan orang tuanya.
Aku sudah berkali-kali bilang pada ayah dan ibu aku menolak perjodohan ini. Aku bahkan menyembah-nyembah pada mereka tapi apa? Mereka tetap memaksaku bahkan mengancam akan mencabut semua fasilitasku. Menyedihkan sekali kan?

Lalu apa yang aku lakukan dengan pose mirip stalker di depan Café ini? Aku hanya penasaran. Penasaran ingin melihat rupa namja yang selalu diagung-agungkan ibuku itu. Penasaran kenapa kedua orang tuaku ngotot ingin menjodohkan ku dengan seorang namja yang hanya kutahu namanya saja.

Aku berjinjit sedikit. Aku merutuk buat apa sih dia menambahkan lukisan di dinding kaca Cafénya?
Aku kan jadi tidak bisa mengintip dengan leluasa.

Akhirnya dengan sedikit perjuangan, aku bisa memandang ke dalam Café dengan design interior gaya western itu. Ruangan lantai satu itu ternyata cukup luas. Ada kurang lebih 10 meja dengan sepasang kursi di masing-masing mejanya. Aku memerhatikan sekeliling, Café yang di siang hari nampak ramai itu kini terlihat sepi. Tak ada tamu, tak ada pelayan, tak ada …

“Apa yang kau lakukan di sini, Nona?”

Aku hampir terjatuh karena kaget. Beruntung, namja yang hampir sama tingginya denganku ini buru-buru menangkap tubuhku. Untuk beberapa saat ia tidak melepaskan pegangannya apda tubuhku. Well, pose kami memang sedikit aneh, tubuhku setengah melengkung hampir terjatuh dan dia menahan pinggangku sambil satu tangan menempel ke dinding. Bisakah kalian membayangkannya?

Gwenchana? Apa aku mengagetkanmu?”

Aku terdiam untuk waktu yang cukup lama. Aku memandang wajahnya.

Tuhan, aku harus benar-benar berterima kasih padamu! Terima kasih karena mempertemukan aku dengan malaikat tampanmu!

__

Aku merengek-rengek seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan pada orang tuaku. Dengan tubuh jangkung dan kurusku, apa yang kulakukan lebih tepat terlihat seperti seorang monster yang meraung-raung. Kedua orang tua nyentrikku menatapku dengan tatapan ‘dia-bukan-putriku. Lalu kulihat jelas-jelas ibuku merapalkan semacam doa.

Eomma, kau pikir anakmu kemasukan setan huh?

“Kau ini kenapa? Pulang-pulang dari kantor malah bertingkah aneh begini!” tegur Ayahku sambil menyulut cerutunya yang mana asapnya membuatku langsung terbatuk.

Aku menjauhkan diriku dari Ayah yang sebentar lagi akan membuat cerobong asap dalam rumah. “Appa, ayo cepat tunangkan aku!” aku merengek membuat ibuku merinding mendengarnya.

Mwo? Tunangan? Kau mau tunangan dengan siapa?” tanya Ibuku dengan suara parau khasnya.

“Siapa lagi kalau bukan Cho Kyuhyun!”

MWO?”

Mereka berdua kompak menatapku dengan mata membelalak. Entah kapan mereka belajar melakukan reaksi bersamaan seperti ini. Tapi mereka kelihatan sedikit lucu. Mata membesar dan mulut membentuk huruf ‘O’ bulat. Well. Tidak lucu lagi karena cukup lama mereka memandangiku dengan wajah kaget yang jelek itu.

Ayahku akhirnya membuka suara, “Coba ulangi sekali lagi! Kau mau bertunangan dengan siapa?”

“Cho Kyuhyun! CHO KYUHYUN! C-H-O K-Y-U-H-Y-U-N!” aku mengulang tiga kali dan mengejanya dalam bahasa Inggis pada pengulangan terakhir.

“Bu-bukankah kau menolak habis-habisan? Kenapa tiba-tiba?”

“Pokoknya atur saja, Appa, Eomma! Ne ne ne? Jebal!”

__

Setelah bersusah payah membujuk kedua orang tuaku yang super-super tidak percaya itu akhirnya mereka mau menghubungi kembali keluarga Cho. Mengatur ulang pertemuan antara aku dan Kyuhyun. Dan coba tebak? BESOK kami akan bertemu saat acara makan malam bersama. Ini membuatku excited sekali.

Well. Maybe over excited karena sekarang kakiku yang gatal sudah hampir masuk ke dalam Cafénya. Ups … already in.

Cling cling!

Aku menoleh kaget ketika aku membuka pintu. Ah … ternyata hanya sebuah lonceng yang digantung diatas pintu. Betapa memalukannya diriku ini. Untung saja tidak ada yang melihat karena Café masih sepi.

Cham …. Cafénya sepi? Apa mereka tutup?

Chogiyo?” sapaku dengan suara yang kubuat sefeminim mungkin.
Tidak ada jawaban. Aku celingukan. Apa benar-benar tidak ada orang?Apa mereka sedang libur?

“Apa ada orang?” tanyaku (lagi) sembari melangkah masuk hingga tanpa sadar aku sudah berada di tengah-tengah café kosong itu.

Cklek!

Aku mencicit kecil kaget. Ah Choi Sooyoung penakut sekali kau ini.
Aku akhirnya menyadari suara cklek itu hanyalah suara gagang pintu yang terbuka. Benar saja daun pintu di sampingku terbuka dan kulihat Kyuhyun dengan seragam chefnya keluar dari sana. Dari jarak sedekat ini dia benar-benar sangat tampan. Aku rasa aku tidak bisa memalingkan wajahku sekarang.

Cho Kyuhyun sialan kenapa kau tampan sekali hah?

“Eoh? Kami belum buka Nona!” ia menyapaku sedikit kaget. Mungkin kaget karena mataku terfokus pada matanya yang sangat indah itu.

Aku buru-buru mengalihkan pandanganku. Kulirik arloji Rolex mungil yang membalut pergelangan tanganku. Sial ini baru jam 6 pagi. Pantas saja di sini tidak ada orang. Astaga Choi Sooyoung, kau benar-benar memalukan dirimu sendiri. Uh.

“Ah … jwesonghamnida!”

Buru-buru aku membungkuk kecil. Sekarang wajahku benar-benar memerah. Merah karena malu dan karena masih terpesona pada ketampanannya.

“Kalau begitu aku permisi! Aku akan kembali lagi nanti!” pamitku.

“Ah cham … karena kau sudah di sini bagaimana kalau secangkir teh dan muffin yang baru matang?” tawarnya ramah.
Aku bisa melihat barisan rapi gigi-giginya ketika ia tersenyum, Benar-benar tampan. Ah aku terpesona lagi. Bodoh sekali aku, kenapa aku dulu menolak dijodohkan dengannya. Untung saja aku cepat mengambil keputusan. Hampir saja aku menyesal kehilangan lelaki ini.
Kau beruntung Sooyoung-ah!

“Ah gurae? Ba-baiklah kalau begitu!” kataku sambil tersenyum kecil. Well, kapan lagi aku mendapatkan tawaran seperti ini?

“Silahkan duduk! Aku akan menyiapkannya untukmu!” katanya sambil berlalu meninggalkanku.

Ne!”

Aku memandang punggungnya yang berjalan ke balik counter besar di dekat tembok. Aku bisa menghirup aroma chocopie ketika dia melewatiku tadi. Ini pertama kalinya aku mendapatkan layanan dalam sebuah café yang bahkan belum buka. Bonusnya, yang melayaniku adalah pemilik Café sekaligus calon tunanganku.

“Silahkan!”

Kyuhyun dengan cekatan meletakkan sebuah nampan di atas meja di hadapanku. Aku mengamati isi nampan dihadapankku. Sepoci teh yang kutebak adalah Earl Grey dan dua buah muffin. Satunya sepertinya rapsberry dan satunya blueberry. Aroma muffin ini seolah menggelitik hidungku, memaksaku untuk segera mencicipinya. 

Massige juseyo!”

Aku mencicit kecil. “Ne gamshahamnida!”

Cukup lama dia berdiri dan mengamatiku sampai akhirnya dia memutuskan untuk duduk di kursi di hadapanku. Sekali lagi aku berkesempatan memandangi wajahnya yang indah bak batu pualam itu. Tubuhnya terlihat kokoh dan memberi kesan manly yang kental. Jari-jarinya nampak memiliki beberapa bekas luka. Well, pasti karena dia sudah lama berkecimpung di dapur. Kudengar dari ibu selain pintar membuat pastry dan dessert si Cho Kyuhyun ini menguasai masakan Korea dan Western dengan baik.

“Café ini milikmu?” tanyaku membuka pembicaraan karena cukup lama kami hanya berpandang-pandangan tidak jelas.

Ne! Café ini milikku! Bagaimana muffinnya?” ia balik bertanya.

“Enak sekali! Kurasa aku bahkan bisa menghabisakan lebih banyak dari ini!” kataku sambil tertawa renyah. Dia pun ikut tertawa.

“Benarkah? Kalau  kau mau lagi aku bisanya menyiapkannya! Geundae, kenapa kau datang pagi-pagi sekali? Apa kau orang baru di wilayah ini?” tanyanya ofensif.

Aku menggeleng. “ Kantorku dua blok dari sini! Kata temanku Café ini menyajikan dessert yang enak dan aku jarang bisa keluar dari kantor ….”

Dia mengangguk seolah mengerti apa yang aku katakan. Sebenarnya setengah yang kukatakan adalah kebohongan. Temanku memang bilang kalau Café ini memiliki dessert yang enak. Tapi alasanku ke sini bukan hanya karena itu.

“Aku sangat kaget! Kukira ada pencuri yang masuk karena aku lupa mengunci pintu!” ia tertawa canggung.

Aku ? Pencuri? Well, pencuri hatimu mungkin iya …

“Haha jwesonghamnida! Lain kali aku akan berusaha datang lebih siang!” gumamku.

Kring! Kring!

Suara ponsel itu benar-benar menggangguku. Ia merogoh saku celananya dan buru-buru pamit untuk menjawab panggilan itu. Aku hanya mengiyakan saja, sembari kulanjutkan menyantap muffin yang tergeletak di samping tehku.

Samar-samar aku bisa mendengar pembicaraanya. Kalau aku tidak salah tangkap rupanya Ibunya yang menelepon. Sebentar kemudian kudengar dia sedikit mengomel pada Ibunya tentang acara mereka besok malam.

Cham? Dia sedang membicarakan makan malam itu?

Aku mempertajam pendengaranku. Aku fokus mendengarkan kata per kata sebatas yang bisa kutangkap. Ku dengar dia menyebut-nyebut namaku dalam kalimatnya. Sepertinya dia berusaha menolak untuk datang tapi kemudian dia akhirnya mengiyakan dengan pasrah. Pasti Ibunya memaksanya.

Mianhaeyo Kyuhyun … itu pasti kerjaan Ibuku yang menyuruh Ibumu memaksamu datang!
Hampir 10 menit lamanya dia meninggalkanku untuk menjawab panggilannya. Ketika ia kembali ke tempat duduknya aku sudah menghabiskan kedua muffin itu. Aku menyesap tehku lalu memandangnya yang terlihat lelah.

Waeyo?” tanyaku pura-pura tidak tahu.

Anio gwenchana!” sahutnya mencoba terdengar ramah seperti tadi.

Jeongmal? Kau kelihatan lesu sekali!” tanyaku lagi.

“Ah … Ibuku …,” ia menghentikan kalimatnya. “Ibuku merancang acara makan malam untukku dan calon tunanganku!” ceritanya.

Aku sedikit kaget karena dia tiba-tiba langsung menceritakannya padaku. Well, dia kan tidak kenal denganku tapi bisa-bisanya dia langsung buka mulut begitu kutanyai.

“Wah kau akan bertunangan? Chukkae!” aku tersenyum tulus.

“Ini tidak seperti itu!” ia terlihat ragu.

Apa dia tidak mau bertunangan denganku?

Wa-waeyo?” tanyaku penasaran bercampur cemas.

Ia mendengus masam. “Aku takut gadis itu tidak menyukaiku! Sebenarnya aku tidak tahu rupanya, aku juga tidak tahu apa yang ia sukai dan tidak sukai! Aku hanya tahu namanya saja!”

DEG!

Rasanya jantungku hampir terlepas lagi dari tubuhku. Aku mengira dia akan bilang kalau dia berniat membatalkan pertunangannya. Ternyata dia cuma takut aku tidak menyukainya. Astaga …

Dia menunduk lesu. Aku memandangnya lekat-lekat. Semakin lama aku memandangnya semakin rusak pula fungsi otakku. Bayangkan saja, ide gila ini tiba-tiba terbersit begitu saja.

“Boleh aku tahu namamu?” tanyaku.

Ia terpaku sejenak lalu akhirnya menjawab, “Hm? Ah nama? Kyuhyun! Cho Kyuhyun!”

“Kyuhyun-ssi? Ah …. Bagaimana kalau besok kau pergi makan malam saja denganku?” tawarku yang membuat ia kaget.

“Makan malam?” tanyanya ragu. “Mianhaeyo, tapi aku harus bertemu calon tunanganku! Aku tidak ingin mengecewakannya karena tidak datang dalam pertemuan pertama kami!”

“Ah gurae? Sayang sekali!” aku mengembangkan senyuman di wajahku.

Aku akhirnya bangkit dari dudukku. Kuraih tas tanganku yang kuletakkan di samping nampan. Aku mengeluarkan dompetku dan siap membayar makananku. Kutatap matanya sekali lagi lalu aku melemparkan senyuamnku. Senyuman penuh kemenanganku.

“Kyuhyun-ssi, kau benar-benar tidak bisa makan malam denganku?”

Ne! Aku benar-benar tidak bisa! Jweseonghamnida!”

“Kau yakin?”

Dia memandangku bingung. Lebih tepatnya memandangku jengkel. Pasti dalam hatinya dia bertanya-tanya kenapa aku, si gadis jangkung yang sudah mengganggunya pagi ini ngotot sekali mengajaknya makan malam dan kenapa pula aku mengajaknya makan malam padahal dia sudah bilang kalau dia mau bertemu calon tunangannya besok.

“Kau yakin?” ulangku.

Ne, aku yakin! Wae guraeyo?!”

“Kyuhyun-ssi … kau bahkan belum bertanya siapa namaku!”

“Memangnya siapa namamu?” tanyanya dengan nada kesal yang sangat kentara.

Sekali lagi aku tersenyum penuh kemenangan padanya. “Namaku Choi Sooyoung!”

Ia membelalak kaget. “Kau … calon tu—“

Aku tersenyum jahil. Sebelum ia sempat bertanya lagi bibirku dengan cepat sudah membekap mulutnya.

Gurae Kyuhyun-ssi! Aku Choi Sooyoung! Gadismu! ^^

THE END

5 thoughts on “[FREELANCE] My Name is Choi Sooyoung

  1. Rizky NOviri May 31, 2015 / 4:36 PM

    aaaa.. syoo jail nya ya, padahal awalnya was was.. syahahaha😀

    seru seru seru
    keren fany-ssi😀

    semangat buat ff ff lainya.. fighting!😀

    • wufanneey June 8, 2015 / 12:43 PM

      Ini ff kiriman say, authornya bukan saya, hehe

  2. Ki June 2, 2015 / 7:39 PM

    Ffnya keren bgt…
    Tapi pas ending soonya kok nekat banget ya..
    Di tunggu ff lainya

  3. Risqi June 11, 2015 / 2:51 PM

    keren ceritanya! awalnya menolak dijodohkan.. ehh pas tau calon tunangan nya itu kyuhyun yang ganteng si sooyoung langsung mau! duhhh. sooyoung agresif nih masa dia nyium kyuhyun duluan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s