[Oneshot] Maniac

Maniac

Maniac

Written by Winterchan (@gelshaa)

Choi Sooyoung, Lee Jinki (Onew)

Oneshot | 9094 words

Romance, Friendship, Slight Comedy

Rated T

Plot and Graphic © Winterchan

Because I love people who loves chicken as much as I do.”

Warning: This is going to be pretty long.

***

 

Terlalu pagi untuk seorang Choi Sooyoung bangun. Terlalu pagi, baginya. Walau pada kenyataannya dering alarm ponselnya yang di-setting pukul 5.00 pagi sudah berbunyi empat jam yang lalu. Dan tidak ada alasan untuk Sooyoung menerima telepon bodoh dari sahabatnya yang minta ditemani kencan sepagi ini.

Sooyoung bahkan perlu membuka kamus besar bahasa Korea untuk memastikan benar-benar apa arti kencan sesungguhnya. Terakhir kali ia mengecek, kencan masih dilakukan oleh dua orang, tidak lebih. Sooyoung bersumpah akan membawa kamus tebalnya hari ini ketika menemui Yuri –sahabatnya–, dan menunjukkannya di depan matanya, sekalian memberi tahu secara tidak langsung bahwa dirinya tidak bisa diganggu di hari Minggu pagi.

“Cepat, Soo! Kencannya pukul 9!”

Yuri mengiriminya pesan singkat lagi. Sooyoung tidak terlalu peduli. Ia pikir Yuri yang membutuhkannya, tidak masalah jika Yuri harus menunggunya lama, tidak masalah jika ia harus datang terlambat. Dengan begitu sang sahabat bisa menghabiskan waktu kencan lebih lama tanpa gangguan? Lalu dia sendiri akan berkelana dan berwisata kuliner. Bukankah itu simbiosis mutualisme dengan Sooyoung yang tetap memenuhi keinginan sahabatnya? Sooyoung bersumpah dia adalah cupid sekaligus sahabat paling jenius sejagat galaksi bima sakti ini.

“Ya, aku sedang di jalan. Sabarlah.” Gadis brunette yang rambutnya telah dipotong sebahu itu menggerakkan jari di atas keypad touchscreen-nya dengan cepat.

“Bagus, aku tunggu.” Yuri menjawab, kali ini dengan cepat juga. Seulas seringai terukir di wajah suntuknya. Semenjak Yuri dekat dengan pria ini –entah siapapun itu dia tidak begitu ingat– sedikit demi sedikit gadis kulit gelap itu mulai melupakan kebiasaan kecil Sooyoung. Tidak pernah ada di dalam kamus seorang Choi Sooyoung bangun sebelum pukul 9 di hari Minggu pagi.

Di jalan menuju kamar mandi maksudku. Dasar Yuri bodoh’ gadis itu jadi cengengesan sendiri membayangkan wajah Yuri yang kemungkinan besar sudah excited dan berseri-seri sendiri dengan konyol. Sooyoung tahu betul bagaimana Yuri sering sekali terlambat jika berjanji hang out dengannya, bisa sampai satu jam. Untuk berkencan, percayalah, Yuri bahkan rela datang dua jam lebih awal.

***

“Oh hai, Kwon!” sapa Sooyoung santai setelah menemukan spot Yuri di dalam sebuah kafe yang berada di dalam pusat perbelanjaan terbesar di Korea. Seolah tidak menyadari wajah mendidih sahabatnya yang tampaknya sudah geregetan sekali dan siap meledak jika tidak ingat bahwa ia sudah berdandan cantik hari ini. Tampil dengan wajah emosi sama sekali tidak membuatnya menarik. Pepatah manapun mengatakan marah membuat wajah seseorang cepat tua.

Tahu bahwa kursi di hadapan Yuri akan diisi oleh sang pujaan hatinya, gadis yang baru datang itu langsung mengambil kursi di sebelahnya. “Lama menunggu? Ngomong-ngomong di mana dia?”

“Oh dia belum datang, aku sengaja datang satu setengah jam lebih awal karena aku tahu kau akan datang terlambat walau aku tidak menyangka kau datang jauh lebih lama dari yang aku kira. Dan aku hampir meledak di sini!” tangan Yuri tergerak mengibas-ngibas wajahnya, “terus apa maksudmu dengan ‘aku sedang di jalan’ lalu sampai di sini satu jam kemudian?!”

“Aku terjebak macet dan aku lupa di mana kita harus bertemu, jadi agak sulit menemukanmu di sini, dan aku sempat membantu seorang nenek yang kesulitan membawa belanjaannya di jalan juga anak kecil yang sulit menyebrang.” Raut meyakinkan terpatri jelas di wajah gadis bernama Sooyoung itu. Yuri biasanya percaya saja.

“Ku kira aku sudah memberi tahumu lewat pesan singkat.”

“Aku bilang aku lupa, Kwon.”

“Kau melupakan janji kita?! Kau anggap aku apa?” tanya Yuri dramatis.

“Dear Kwon Yuri, gara-gara teman kencanmu itu kau melupakan sesuatu tentangku, Yuri, my friend. Tidak ingat aku tidak pernah bangun kurang dari jam 9 di hari Minggu? Asal kau ingat, Kwon, gaya hidupku tidak sehat seperti dirimu yang gemar beryoga di hari Minggu pagi, aku gemar makan dan kau selalu mengatur asupan makananmu, kita sangat berbeda dan itulah yang membuat kita jadi sahabat, ingat? Dan kau mulai melupakanku, Yul! Aku sangat terpukul!”

Di sebelahnya, Yuri memasang poker face. ‘Sooyoung punya selera humor yang buruk akhir-akhir ini. Oh dia terlalu lama sendiri. Kurasa ia harus segera punya kekasih

“Kau berlebihan. Kau mulai melantur, Choi. Justru aku sedang berbaik hati dengan menghilangkan kebiasaan burukmu. Bukankah aku sahabat yang baik?”

“Aku pun datang terlambat bukannya itu keuntungan buatmu? Kau punya banyak waktu berdua dengan calon kekasihmu itu. Siapapun tidak ingin kencannya diganggu, kau hanya abnormal, Dear Kwon Yuri, my friend. Bukankah aku sahabat yang baik?” celotehnya tak mau kalah, panjang lebar.

“Lupakan. Ngomong-ngomong kau baik sekali sampai membantu nenek dan anak kecil di jalan itu.” Dasar Yuri bodoh haha, Sooyoung tertawa di dalam hati.

Ketika Yuri akan bicara lagi, manik matanya menangkap sang pria pujaan hati berjalan dari arah pintu masuk. Tampan sekali. “Oh oh! Dia datang!” Yuri histeris dan melihat ke satu arah, Sooyoung mengikuti arah pandang Yuri. ‘Wow percayalah, selera Kwon Yuri memang tinggi

“Yul, kenapa tempatnya di sini sih? Ini pusat perbelanjaan Yul. Tidak ada romantis-romantisnya,” sela Sooyoung di tengah kehisterisan sang sahabat. “Bukan kencan sebenarnya, dia hanya ingin hang out bersamaku di waktu kosong, bukan ritual lovey-dovey atau semacamnya. Rencana kami bukan hanya makan, makannya aku mengajakmu juga hehe.” Yuri nyengir lebar tanpa beban, yang diberi cengiran hanya bisa mendengus.

“Aku benar-benar akan membunuhmu jika aku harus jadi kambing tuli di antara kalian.”

“Oh kau tidak mau berfikir dua kali soal itu? Mengingat semua headline di koran akan berjudul ‘mahasiswi fakultas hukum membunuh sahabatnya sendiri akibat dijadikan kambing tuli, sulit dipercaya’.”

“Benar juga,” jawab Sooyoung dengan nada kelewat datar, “setidaknya kau harusnya menyuruh teman kencanmu membawa temannya juga, aku tidak ingin benar-benar jadi kambing tuli, Yul.” Yuri malah memalingkan wajah, langsung memasang senyum super manis di wajahnya dan melemparnya pada si pria, seolah tidak peduli akan perkataan sahabatnya yang menderita, –senyum yang Sooyoung ingat jarang sekali diberikan padanya, karena gadis Kwon itu hanya sering menunjukkan seringaian licik dan wajah tertekuk padanya–. ‘dan aku tidak ingin terlihat menyedihkan, yang terlihat seperti mengintil orang berkencan’ ucapnya dalam hati, karena ia tahu Yuri toh tidak akan peduli untuk mendengar.

Lelaki tampan itu mengambil tempat di hadapan Yuri, jadi dugaan Sooyoung tidak salah lagi. ‘Oh sekarang apa yang harus aku lakukan? Ikut dalam pembicaraan mereka? Pura-pura ke toilet lalu mencari kafe lain dan menikmati waktu sendiri? Oh tidak, lelaki itu pasti akan berfikir aku perempuan menyebalkan dan ia tidak jadi mengencani Yuri, lalu akulah yang jadi segala biang masalah dan jika aku harus memilih untuk makan sendiri aku lebih baik pulang, tapi Yuri tentu akan mengamuk jika ia tahu aku pulang’ Sooyoung menjerit di dalam hati.

Ketika lama hilang dalam dunianya, ia segera dikembalikan ke dunia nyata ketika mendengar suara––

JEDAK! “Aduduh!” Suaranya lumayan keras, cukup untuk mengagetkan ketiganya. Semuanya lantas menoleh ke sumber suara.

Di sana, lebih tepatnya di situ, Sooyoung yakin orang itu sepertinya habis menabrak kaki meja ketika berjalan ke sini, terlihat dari gelagatnya yang berjongkok dan memegangi kakinya yang terbungkus sneakers. Sooyoung yakin ia punya masalah hingga gagal mengerem dirinya sendiri.

“Err– kau baik-baik saja?” tanya Sooyoung ragu. Ia pikir ada yang salah dengan orang ini. Orang itu bangkit lalu tersenyum janggal, senyumnya lebar sekali sampai Sooyoung yakin orang ini adalah tipe-tipe orang yang selalu tersenyum, susah-senang, apapun kondisinya.

“Oh tentu! Tentu saja!” Ia menjawab sambil tersenyum ke arahnya. Walaupun senyumnya lebar sekali, Sooyoung tidak menganggap dia creepy, terlebih dia punya eyesmile yang cukup eye-catching, dan perfectly match dengan senyumnya. Dia langsung mengambil tempat duduk di sebelah Minho –setelah Sooyoung mengetahui namanya lewat Yuri yang beberapa kali mengucapkan namanya ketika mengobrol–.

“Oh Jinki-hyung,” ucap Minho, “apa yang membuatmu lama?”

“Tadi aku sempat membantu seseorang yang kesulitan mendorong trolley berisi penuh barang sehabis parkir,” jawabnya santai, tetap dengan wajahnya yang cerah, biarpun tidak tersenyum.

“Apa dia laki-laki, hyung?” tanya Minho, ia mulai menduga hal-hal aneh. “Ya.”

“Apa dia memakai seragam yang sama dengan orang-orang itu?” tanya Minho lagi sambil menunjuk orang-orang di luar kafe yang sedang bolak-balik membawa barang keinginan pembeli.

“Itu tandanya dia pegawai, dan itu memang sudah tugasnya membawa barang-barang berat. Dia bukan seorang kakek tua yang butuh bantuan, Jinki-hyung.” Minho menjawab sok sabar.

“Aku tahu, aku tahu. Biarlah, ku pikir aku hanya berbuat baik.” Lelaki berambut hitam yang dipanggil Jinki itu hanya mengangkat kedua bahu. Dia lalu mengalihkan pandangan pada dua gadis yang masih diam memperhatikan. Lalu mengulurkan tangan pada perempuan tepat di hadapannya.

“Hai, kenalkan, aku Lee Jinki, tapi banyak yang memanggilku Onew.” Tidak lupa dengan senyumnya yang super cerah. Sooyoung menjabat tangannya, “O-oh aku Sooyoung, Choi Sooyung.” Onew beralih pada perempuan yang satunya lagi. “Aku Kwon Yuri.”

“Oh dan ini Choi Minho, dia sepupuku. Dan kau tahu? Dia membangunkanku pukul 6 pagi, walaupun aku bilang aku–– aw!” Lengannya disikut Minho, terlampau keras.

Hyung, seharusnya aku yang mengenalkanmu, bukan sebaliknya.” Minho memasang poker face yang ternyata bukan andalannya. Lama-lama ia menyesal membawanya ke sini. Benar-benar tidak bisa diandalkan. Bagaimana pun juga, yang dibicarakan di sini, adalah, ini adalah acara Minho. Tentu sudah kewajibannya mengenalkan diri duluan, dan ‘ada apa dengan Onew-hyung yang tiba-tiba curhat?’

“Oh maaf.” Jinki menggaruk kepalanya bingung, lalu tersenyum awkward. “Aku mahasiswa Fakultas Hukum di Dongyu University,” ujarnya lagi dengan penuh semangat, ia tersenyum akrab. Suasana tiba-tiba jadi lebih hangat. Minho terdiam dengan wajah super datar, rupanya sepupunya ini tidak cukup diberi tahu satu kali.

Yuri malah ikut tertawa kecil, Sooyoung juga. Ia sampai penasaran apakah pria bernama Onew ini memang selalu ceria dan tersenyum atau hanya pencitraan belaka? Ia pikir semua mahasiswa hukum itu serius. Mungkin terlalu sering bersosialisasi dengan orang-orang berwatak serius dan kaku hingga membuat dirinya sendiri menjadi salah satu dari mereka. Tapi toh rupanya ada juga orang seperti ini.

“Dia Sooyoung, temanku,” ucap Yuri pada Minho. Sooyoung menjabat tangan Minho dan keduanya saling melempar senyum ramah.

“Kau Choi Sooyoung dari fakultas hukum juga bukan? Perguruan tinggi yang sama denganku.”

“Bagaimana kau tahu?” tanya Sooyoung heran, ia merasa ia bukan orang populer untuk diketahui orang secara random. “Kau banyak dibicarakan, ku rasa kau mahasiswi paling muda di antara yang lain. Aku benar bukan?”

“Ah aku hanya lahir dua bulan lebih muda. Tidak ada yang spesial, dan dibicarakan orang kau bilang?”

“Ya, junior-junior selalu menyebut namamu bila ditanya tentang mahasiswi terbaik fakultas hukum. Nilai-nilaimu yang semuanya hampir sempurna, ya kau tahu, bisa jadi alasan.”

Senyum tidak pernah meninggalkan wajah Onew ketika berbicara, ia tidak tersenyum lebar seperti tadi. Hanya tersenyum ketika berbicara, siapa yang tidak akan ikut tersenyum bila berbicara dengan seseorang seperti itu? Rasa-rasanya siapapun yang mengalami ini tentu akan mengalami kenaikan mood. Terlebih menurutnya pria ini cukup tampan dengan rambut hitam legam pendeknya.

Oh thanks God telah membiarkan pria bernama Minho ini membawa temannya, setidaknya aku tidak mati menyedihkan di sini, diabaikan oleh dua orang yang mabuk asmara.

“Sebenarnya aku jarang memperhatikan orang. Jangan tersinggung jika aku baru mengenalmu sekarang,” ucap Sooyoung. “Oh tidak, tentu saja tidak. Fakultas hukum penuh dengan orang-orang serius, kau tahu?”

“Termasuk aku?” tanya Sooyoung menunjuk dirinya sendiri, menangkap sindiran yang menurutnya diberikan padanya.

“Oh tidak tidak! Bukan itu maksudku!” Jinki memberi gesture menyangkal dengan kedua tangannya, matanya melebar, dan kepalanya menggeleng. Sepertinya ia benar-benar takut telah menyinggung teman barunya. Sooyoung sampai tertawa lagi, tingkah Onew benar-benar berlebihan. ‘Oh apa aku sudah bilang bahwa dia benar-benar pria lucu?

Ngomong-ngomong aku suka sekali ayam! Dan aku akan memesan beberapa untuk hari ini. Kau mau juga? Aku tidak keberatan mentratktir teman baru! Ayolah jangan malu pesan semaumu! Oh aku harap tempat ini menyediakan banyak ayam.” Mata Onew berkilat-kilat binar ketika mengatakannya, ia selalu lebih dari semangat ketika berbicara tentang hewan unggas yang satu itu.

Sooyoung ingin sekali mengangguk. Tidak ada yang membuatnya lebih bahagia dari makanan. Lagipula ia hanya memesan segelas Frappucino dan cheesecake selama di sini. Tidak cukup untuk nafsu makannya yang besar. Dan sekilas info, Sooyoung belum sarapan. Jadi ia akan menyatukan jatah sarapannya dengan makan siang kali ini. Tapi, ia ingat di sini tidak menyediakan main menu, hanya beberapa beverages. Itu membuat senyum Sooyoung pudar, ia yakin sekali Onew tidak akan jadi mentraktirnya.

“Apa? Di sini tidak menyediakan ayam?” tanyanya. Jelas sekali ia kecewa. Ia menutup buku menu. “Hmm.” Onew tampak berfikir sejenak, terlihat seperti menimbang sesuatu.

“Ah Minho-ya, tidak apa-apa bukan aku harus meninggalkan kalian berdua di sini? Aku ada perlu sesuatu, dan tampaknya Sooyoung juga begitu. Baiklah terima kasih atas izin dan pengertiannya. Aku pergi, nikmati harimu, sampai jumpa!” Jinki menghilang dan melesat pergi dengan menarik tangan Sooyoung dan membawa gadis itu keluar bersamanya.

“E-eh–­–”

Minho sempat melongo, Onew mengucapkannya dengan sangat cepat dalam satu nafas, benar-benar cepat hingga ia yakin walaupun Onew bilang ia jelek dalam rap, sebenarnya dia bisa.

“O-oh iya.. Tidak apa-apa, hyung.” Minho baru mengatakannya setelah figur lelaki itu hilang. Yuri masih speechless gara-gara Sooyoung juga dibawa pergi. “Sepupumu tidak berencana menculik Sooyoung, ‘kan?”

Minho tertawa kecil, “Oh tidak, tentu saja tidak. Jinki-hyung orang yang benar-benar baik. Dia pasti hanya ingin menunjukkan hal-hal yang ia rasa orang lain perlu tahu. Ku harap Sooyoung tidak bosan lama-lama dengannya.” Yuri mengangguk-angguk maklum, dari penglihatannya sih memang begitu, ia berfikir bahwa walaupun Jinki itu aneh, raut wajahnya mengatakan bahwa ia orang baik.

“Baiklah.”

***

“H-hey! Sebenarnya kau mau membawaku ke man–– oh.” Pertanyaan Sooyoung dibiarkan menguap di udara, gadis itu mampu melihat sendiri ke arah mana dia diseret. Tulisan ‘McDonald’s’ terpampang jelas di situ. Jinki sumringah, Sooyoung berbinar. Persis seperti reaksi seorang anak yang baru pertama kali melihat taman bermain.

Tanpa menunggu aba-aba, keduanya sudah memposisikan diri di hadapan masing-masing, duduk paling dekat dengan counter. Onew pesan seember –jika kau mau menyebutnya sebagai ember– ayam goreng –hanya Tuhan yang tahu berapa isinya, pria ini tidak mau repot menghitung–, tidak lupa dengan nasi, juga dua gelas pepsi. Untuk berdua. Sooyoung menganga.

“Kau yakin?” Jinki menoleh penasaran, merasa tidak ada yang salah akan pesanannya. “Kenapa harus tidak yakin?” tanyanya balik. Onew sedikit waswas. Sudah mengantisipasi berbagai bentuk reaksi yang mungkin akan dilayangkan Sooyoung. Misalnya––

“Apa-apaan ini? Kau pikir aku perempuan rakus yang makan sebanyak ini?! Aku menjaga berat badanku! Dan di mana letak kerennya seorang laki-laki makan layaknya seorang kuli bangunan?! Hah?! Jawab aku!” Onew sudah lebih dari siap untuk semprotan-semprotan semacam itu, karena faktanya perempuan memang selalu seperti itu. Itu berdasarkan pengalaman Jinki sendiri.

Tapi–– BRAK! Onew mengerjat –hampir jatuh terjungkal jika ia tidak sigap mengendalikan diri–.

Mejanya dipukul oleh Sooyoung, cukup keras untuk mendapat perhatian dari sekeliling, yang sepertinya Sooyoung sendiri tidak sadar telah melakukannya.

“Nah! Ini baru namanya makan!” Kilat-kilat binar terpancar jelas dari manik legamnya. Choi Sooyoung seperti telah melupakan sisi cool-nya yang selalu ia pasang di depan manusia-manusia fakultas hukum yang membosankan. Dia kan mahasiswi terbaik, jaga image tentu sudah jadi kegiatan sehari-harinya.

Onew tersenyum lebar. Seumur hidup ia baru menemukan perempuan yang makan sebanyak dirinya. Oke mungkin banyak, tapi kan Jinki baru menemukannya. Hal itu membuat nafsunya untuk melahap ayam semakin memuncak.

“Satu, dua, tiga. Mul––” Oke, Jinki mengerti Sooyoung tidak butuh aba-aba.

***

“Yuri itu anak fakultas musik ya? Dia bermain klarinet?” tanya Jinki, keduanya sama-sama berjalan lambat. Rasanya cukup sulit menyeret langkah dengan perut super kenyang. Yuri dan Minho itu sulit sekali dicari.

“Kau tahu banyak.” Jinki nyengir. “Terimakasih.”

“Oh aku barusan tidak memujimu–– tapi ah sudahlah.”

“Aku punya akses luas soal Dongyu.” Gadis bersurai brunette itu hanya mengangguk.

Mereka sama-sama telah melahap empat potong ayam goreng dengan nasi dan satu gelas softdrink ukuran jumbo. Sooyoung yakin sekali kalau sampai hal ini diketahui Yuri–– oh habislah dia. Yuri tidak suka gaya hidup yang tidak sehat, ia tidak suka junk food. Yuri suka sayuran dan air putih –Sooyoung sampai merinding melihat sahabatnya kadang hanya makan salad di siang hari– Sooyoung bisa diceramahi semalam suntuk dengan topiknya yang itu-itu saja.

“Terimakasih atas treat-nya. Kau yakin aku tidak perlu membayar setidaknya setengahnya? Kurasa budget-nya cukup membakar lemak dompetmu”

“Oh tidak perlu. Aku baru saja dikirimi uang oleh ayahku.”

“Baiklah. Terimakasih ya!”

Tentu saja momen ditraktir teman baru yang bernama Lee Jinki ini harus dimanfaatkan dengan benar.

***

“Dua porsi spicy wings dengan saus keju dan strawberry lava!”

Itu adalah hari lain ketika Jinki dan Sooyoung memergoki satu sama lain di tempat yang sama, pesanan yang sama pula. Dengan kedua jari yang sama-sama membentuk huruf V, menekankan kata ‘dua’. Sooyoung tidak datang dengan Yuri, cukup untuk menjelaskan bahwa dua porsi yang gadis itu pesan memang ia niatkan untuk dihabiskan sendiri. Maka ia selalu datang ketika food court kampus belum ramai, karena gadis itu sudah lebih dari berpengalaman untuk tahu pada jam berapa spicy wings kesukaannya akan sold out. Sedia payung sebelum hujan. Katanya.

“Oh! Jadi selama ini kau yang dibicarakan paman Jaehyun!” Sooyoung memicingkan mata. Jinki justru memberi senyum lebar, “gadis yang selalu pesan hal yang sama hampir setiap harinya, datang satu jam sebelum tempat ini ramai. Dan paman Jaehyun bilang dia adalah sainganku.”

“Orang yang selalu minta setidaknya dua porsi untuk tidak dijual sebelum ia datang. Astaga, kenapa aku baru sadar bahwa itu kau.” Jinki tersenyum cerah. “Tentu saja.”

“Dua porsi spicy wings dan strawberry lava.” Suara paman Jaehyun terdengar. Total empat porsi, masing-masing dari mereka memegang dua. Kedua pasang kaki mereka tampak sinkron terarah menuju meja yang sama. Food court di sini terbilang cukup mewah, letaknya di dalam gedung, ruangannya besar sekali, berlantai keramik yang bermotif serat kayu. Juga temboknya yang menyerupai tumpukan batu bata merah. Klasik tapi terlihat mewah dan mampu memberi suasana bersahabat bagi siapapun yang makan di sana.

“Tidak membawa Minho bersamamu?” tanya Sooyoung, begitu ia sudah mengambil tempat duduk.

“Oh ayolah, Minho itu juniorku dan oh juniormu juga. Kau pikir temannya hanya aku dan ia tidak punya teman seangkatannya?”

“Walau begitu, tapi sepertinya temanmu hanya Minho,” ucap Sooyoung sinis, melihat Jinki hanya datang sendiri, dan memang menurutnya ia selalu datang sendiri. Jinki menggaruk belakang kepalanya. Ah memang benar sih. Lagipula teman-temannya normal semua, dan Jinki hanyalah seorang chicken maniac, jika ia harus berkumpul dengan yang lain, terutama anak-anak hukum, bisa dibayangkan apa ekspresi yang akan mereka tunjukkan mendengar celotehan tentang ayam yang Jinki bicarakan. Jinki hanya bicara tentang ayam. Sudah cukup berkah untuknya dapat teman sejenis semacam Sooyoung.

“Yuri?”

“Oh dia sedang diet,” jawabnya singkat.

“Baiklah. Selamat makan!” Ujar Jinki semangat, menatap makanan di atas meja dengan penuh cinta. Sementara Sooyoung memberi tatapan penuh rasa nafsu.

“Selamat makan!”

***

Hari ini kelas berlangsung hikmad. Hening sekali, yang terdengar hanya suara gesekan spidol dengan papan tulisnya. Dosennya adalah Lee Jaemin, umurnya setengah abad. Tipe yang sangat serius. Maka tidak ada yang berani berisik. Hari itu Sooyoung memutuskan untuk duduk di barisan paling belakang. Kursi sebelahnya kosong, tapi Sooyoung tidak punya waktu untuk peduli.

Saat itu juga pintu kelas terbuka tanpa suara. Siapapun bisa menebak itu adalah si mahasiswa terlambat. ‘Oh jika aku jadi kau, aku tidak akan peduli untuk masuk daripada harus ketahuan lalu diusir dengan memalukan’ Pandangan gadis brunette itu memicing, mengantisipasi siapapun itu. Sebagian dari dirinya bahkan berharap agar dia bisa ketahuan saja oleh si dosen yang sibuk menulis itu, bagaimana pun ia butuh pertunjukan sebagai hiburan. Kelasnya terlalu membosankan dan kelewat serius, maka ia berterimakasih pada siapapun yang telah melanggar aturan telah datang tidak tepat waktu meskipun ia sendiri dari fakultas hukum.

Maka dengan itu dosennya akan berceramah tentang penegakan hukum, betapa hukum harus dijunjung tinggi demi terciptanya negara yang adil dan betapa memalukannya seseorang itu telah melanggar hukum yang adalah aturan, dengan masuk tidak tepat waktu. Bukan satu atau dua menit, tapi tiga puluh.

***

Ini adalah hari ke-sekian Jinki datang tidak tepat waktu. Oh jangan salah, Jinki bukan mahasiswa pemberontak yang gemar membuat masalah dan membuat dosen naik darah. Tidak ada yang pernah memergokinya terlambat, maka meski ia sudah terlambat setidaknya lima belas menit, ia tidak mempercepat laju mobilnya. Santai. Dari awal ia berjalan santai, tidak mau membahayakan diri sendiri, maka ketika ia sampai di gedung fakultasnya pun ia tidak berlari seperti kebanyakan. Berjalan dengan mengendap sampai depan pintu, mengintip sebentar untuk mengawasi dosen. Lalu membuka pintunya.

Jinki sadar bahwa seseorang sadar. Siapapun itu ia bersyukur dia bukanlah dosen, karena Lee Jaemin tampaknya tidak mendengar. Dalam hati ia selalu berterimakasih atas mewahnya fasilitas kampus ini termasuk pintunya yang jika dibuka tidak bersuara.

Setelah pintu dibuka, Onew membalikkan badan dengan posisi membelakangi pintu, lalu mulai berjalan mundur super pelan memasuki ruang kelas yang besar itu. Mengendap-endap layaknya seorang pencuri. Saat itu lah dosen menyadari, dan saat itu pula Sooyoung sadar bahwa orang itu adalah Lee Jinki alias Onew alias si maniak ayam. Sooyoung merasa bahwa sekarang bukan waktunya terkejut. Ayolah mereka bisa saja punya jadwal kelas yang sama. Ketika dosen Lee itu menoleh, Jinki menghentikan langkah sepersekian detik setelahnya. Like a pro.

“Mau ke mana kamu?!” tanyanya dengan nada tegas. Onew diam layaknya murid SMA yang ketahuan akan kabur di jam pelajaran. “Kembali ke tempat dudukmu!”

“Maaf. Terimakasih, Pak.”

Sesuai perintah, ia melangkah ke tempat duduk kosongnya di barisan belakang, dengan cengiran khas yang sepertinya hanya dimiliki Onew ia lemparkan ke sana-sini. Perempuan kebanyakan tertawa kecil. Termasuk Sooyoung. Ia terlihat amused.

Saat itu juga maniknya menangkap keberadaan Sooyoung, temannya, maka dengan penuh semangat ia berikan senyum paling cerah khas Onew!

“Oh hai Sooy––” Jedak, jeger, sreet!

Sooyoung tertawa tertahan. Suara-suara janggal di tengah keheningan itu, dari mana lagi kalau bukan dari Onew? Semua perhatian tertuju padanya, bahkan tak luput dari perhatian si dosen. Beberapa diantaranya juga sama-sama menahan tawa. Onew diam di tempat dengan posisi awkward seolah beku setelah menendang meja yang akan ia tempati, meja ringan itu tergeser cukup jauh setelah ia tendang tak sengaja.

“Perhatikan jalanmu, Onew,” bisik Sooyoung geli.

“Ada ribut apa di belakang?” tanya Lee Jaemin dengan suara beratnya yang tegas. Onew membalikkan badan dengan awkward, “Lantainya agak licin jadi meja ini bergeser cukup jauh ketika aku tidak sengaja menyenggolnya,” jelasnya, “hehe.”

“Apa maksudmu dengan menyenggol? Kau menendangnya tadi,” ujar Tiffany di sebelah Sooyoung. Sontak seisi ruangan menahan tawa. Sayangnya Tiffany tidak tahu kalau Jinki sedang making excuses, ia mengatakannya cukup keras, karena suara gadis blasteran Amerika itu tidak pernah bisa dikategorikan kecil.

“Jangan merusak fasilitas dengan menendangnya. Kau tidak bisa begitu saja menendang apapun yang kau mau,” ujarnya tegas. Onew menyeret mejanya ke tempat semula lalu akhirnya duduk.

Kembali hening ketika kelas dimulai kembali. Membuat atmosfir semakin membosankan. Sooyoung yang tak tahan mengambil ponselnya dari dalam tas. Berniat mengutak-atik apapun yang ada di dalamnya, daripada harus jatuh tertidur karena tak sanggup. ‘Aku hanyalah mahasiswi dengan nilai-nilai terbaik, bukan mahasiswi teladan berperilaku terbaik. Siapapun tolong catat itu.’

“Hey, wallpaper-mu gambarnya pizza––” terkejut, Sooyoung hampir lompat dari tempat duduknya. “––kupikir kau suka ayam sama sepertiku, kau tidak bilang kau adalah pizza maniac.

Man, tadi itu hening sekali’, siapapun tidak akan mengira Jinki akan bicara dan berkomentar soal wallpaper ponselnya, secara tiba-tiba.

“Kau membuatku kaget,” ucapnya dengan suara pelan sekali. “Maaf.” Jinki nyengir.

“Oh ini karena– hmm bagaimana menyebutnya ya? Kau tahu, makanan khas Italia yang paling lezat, aku sanggup menghabiskan satu loyang ukuran jumbo. Oh well, intinya aku suka semua yang lezat. Dan aku mengganti wallpaper ini secara berkala,” jelasnya dengan antusias. Selama ini baru Onew yang mau mendengar celotehan tentang obsesinya terhadap makanan.

––Oh, lagipula perempuan mana yang mau menjadikan gambar makanan sebagai wallpaper?

Tidak mau kalah, Onew menunjukkan ponselnya pada Sooyoung. Terpampang gambar berbagai macam hidangan ayam yang sengaja ia college sendiri sehingga memenuhi size wallpaper.

“Wow. Kau benar-benar seorang maniak.” Sooyoung hanya mampu bereaksi seperti itu.

“Katakan itu juga pada dirimu sendiri.”

Sooyoung mengangkat bahu, “Tapi aku tidak heran, memang daging ayam lebih lezat dari daging manapun, lebih lezat daripada beef, bahkan pork.” Onew mengacungkan kedua  jempol tanda super setuju.

Rasa lapar seketika menggerayangi gadis itu, maka Sooyoung membuka akun instagramnya. Bahkan home-nya penuh dengan gambar food porn. “Following-mu bahkan penuh dengan akun food porn,” ujar Onew sambil tertawa, “well, I expected nothing less.” Ia lagi-lagi tertawa, menemukan bahwa Sooyoung benar-benar perempuan ajaib.

Sooyoung cuma senyam-senyum saja. Sebegitu mudah ia membeberkan semua tentangnya pada orang yang baru dikenalnya beberapa minggu. Mudah saja untuk memberikan alasan, Onew sama seperti dirinya.

“Aku sedang lapar dan ini akan membantu menumbuhkan nafsu makan, kau tahu. Kau harus mencobanya.”

“Jangan salah paham, aku tidak jauh berbeda denganmu, kau tahu.”

“Jinki, Sooyoung, jangan berbicara terus, kalau dosen tahu, kalian bisa dikeluarkan.”

Holy crap. Jika mau memberi tahu bisakah memberitahuku dengan berbisik saja? Tidak perlu dengan suara keras.

Yang tadi itu suara Tiffany, ia mengerling kebingungan ketika ditatap oleh Onew dan Sooyoung bersamaan dengan tatapan ‘Oh-no-no-Not-this-too-Tiffany.’

Tidakkah ia sadar suaranya itu, lebih melengking di antara yang lain?

“Kalian berdua, keluarlah jika tidak berniat mengikuti materi dengan saya.” Dengan itu Lee Jaemin kembali menghadap papan tulis. Sooyoung langsung diam, sedangkan Onew malah cengar-cengir tanpa beban. Tidak jelas. Well, it’s just Onew being Onew.

***

Tok, tok, tok.

Hari itu pintu rumah Sooyoung diketuk, pukul delapan pagi, hari Minggu. Sekali lagi, hari Minggu. Hari yang sakral bagi Sooyoung untuk dikunjungi ataupun mengunjungi orang, ataupun bepergian. Hari untuk memanjakan diri, begitu kata Sooyoung. Dengan tidur sekurang-kurangnya sampai pukul sembilan pagi, atau paling telat pukul sepuluh. Setelahnya ia akan mandi dan memakan apapun yang ada di kulkas sambil menonton televisi.

Tok tok tok.

Siapapun itu, Sooyoung mengutuknya habis-habisan. ‘Ini masih pukul delapan, for God’s sake!’ Ia sudah menyerapahi siapapun dia non-stop. Suara ketukannya sampai ke kamarnya, karena oh, tidak ada yang tahu betapa kerasnya suara itu. Maka Sooyoung mengambil jalan lain.

“Halo, Yuri.”

Oh halo Sooyoung,” sapa Yuri, ada nada kebingungan terselip di sana.

“Apapun tujuanmu berdiri di depan pintu rumahku, entah itu kau terlalu rindu padaku atau apa, tapi lakukanlah beberapa jam kemudian. Kumohon Yul, aku bahkan bicara padamu dengan mata tertutup.” Sooyoung terdengar sangat sangat mengantuk.

Soo, apa yang kau bicarakan?

“Aku bahkan terlalu malas untuk keluar dari kamar dan membuka pintu untukmu, jadi––”

Tapi aku sedang berada di rumah, mungkin itu orang pent

“––bye!” Klik. Sambungan diputus sepihak oleh Sooyoung. Ia lempar ponselnya asal yang untungnya masih mendarat di atas kasur. Di seberang sana Yuri menggerutu. Kesal dengan kelakuan Sooyoung yang selalu saja memutus sambungan bahkan ketika ia belum selesai bicara.

Belum terlalu lama ia menutup telepon, suara pintunya diketuk terdengar lagi. Sooyoung berniat akan membiarkan saja, menunggu sampai siapapun itu lelah lalu pergi sendiri. Hah, Sooyoung tidak peduli.

Tok tok.

Ah tapi lama-lama ia terganggu juga. Ketukan ini sudah berlangsung setidaknya sepuluh menit. Orang yang cukup keras kepala. Maka Sooyoung turun dengan ogah-ogahan. Menyeret langkahnya yang berat, terseok-seok, enggan meninggalkan tempat paling nyaman sedunianya. Mata masih terpejam. Toh kakinya sendiri juga tahu di mana letak pintu depan.

Tok tok––

Pintu dibuka.

–Tok.

“Aw!”

Aduh jidatku yang malang.

Setengah jiwa Sooyoung yang masih berada di Dreamland ditarik kembali ke alam nyata secara paksa. Matanya terbuka lebar. Tangannya memegang dahi. Sooyoung meringis. Onew melebarkan mata.

“Astaga! Maafkan aku Sooyoung! Maaf, aku tidak sengaja, sungguh!” Jinki buru-buru sadar, baru saja ia mengetuk, bukan mengetuk pintu, melainkan dahi. Dahi yang indah, sayang, jadi sasaran ketukan tangannya yang terkepal.

YA!”

“Hehehe.”

“Ini bukan waktunya untuk ‘hehehe’! Sekarang katakan apa tujuanmu kemari! Kau menganggu tidurku dan baru saja menganggap dahiku adalah pintu?! Aku mengantisipasi alasan yang memuaskan!”

Wow Sooyoung terlihat menyeramkan ketika marah, dan Jinki berjanji satu hal pada dirinya sendiri, untuk tidak sekali-kali lagi berkunjung pada teman di hari Minggu. Bisa jadi ada yang lebih buruk dari ini, Jinki yakin sekali

Pada akhirnya Onew tetap mengangkat tangan kirinya yang memegang sebuah kantong. Gadis yang masih berpiyama dengan rambut berantakan itu mengernyit. “Apa itu?”

“Ini untukmu, Choi Sooyoung.” Sooyoung memutar bola mata. “Aku tahu. Maksudku apa yang ada di dalam?”

“Bukalah.”

Gadis itu membuka kantongnya, di dalam ada sebuah bungkusan. Bungkusan itu ia buka, lalu satu set piyama terlihat. Sooyoung mengerjap bingung. Piyama? Apa ini serius? ‘Da hell, Onew, untuk apa?’

Sooyoung bertanya melalui tatapannya yang ia berikan pada Onew. Dan oh, interaksi ini masih dilakukan di luar rumahnya, dengan Onew yang berdiri di luar, dan Sooyoung yang berdiri di tengah-tengah pintu.

‘Why you gotta be so ruuuuude? Kenapa aku tidak dibiarkan duduk saja di dalam?’

Mengerti ketidakmengertian Sooyoung, Onew memekik, “Oh!”

“Ya?”

“Kemarin aku berjalan-jalan sendirian dengan menyedihkan di pusat perbelanjaan. Aku menemukan piyama bermotif ayam itu ketika aku sedang berjalan dan melihat-lihat se––”

‘APA?! AYAM?’

Kedua mata Sooyoung melebar. Sisa kalimat yang keluar dari mulutnya tak lagi Sooyoung hiraukan. ‘The hell Onew? Kau pikir umurku berapa?’

“––jadi kupikir aku harus membelikan ini buatmu.”

Sooyoung melemparkan pandangan bolak-balik, dari piyamanya lalu ke Onew, lalu ke piyama baru itu lagi, lalu ke Onew, begitu seterusnya.

‘Oh My God! ini benar-benar ayam, kukira ia bercanda’

“Kenapa tidak kau belikan saja untuk sendiri? Maksudku, ini bahkan bukan hari ulang tahun siapa-siapa. Bukan ulang tahunku, apalagi ulang tahunmu. Dan kau serius?”

Jinki mengangguk-ngangguk semangat. Semangat sekali sampai Sooyoung bahkan tidak tega menolaknya. “Tentu saja, itu akan terlihat cocok denganmu. Oh aku berniat membelinya, tapi sayang tidak tersedia untuk pria.”

TENTU SAJA TIDAK AKAN ADA, LEE JINKI!’ Pekiknya dalam hati. Lagipula laki-laki mana yang mau memakai pajama bermotif sepasang anak-anak ayam lucu –jantan dan betina– berwarna kuning yang memakai baju pengantin? Onew pasti bercanda.

Sooyoung perhatikan piyama barunya lamat-lamat, oh memang lucu sekali. ‘Baiklah, tidak buruk. Lagipula untuk sebuah baju tidur, bukan masalah, iya kan? Siapa yang mau melihatku menggunakan baju tidur? Dosen? Teman satu kuliah? Tidak ada.’ Sooyoung akhirnya menerima.

Ingat, Sooyoung. Kau sedang dalam image marahmu karena dibangunkan di pagi hari. Jangan hancurkan imejmu sendiri ‘Oh, benar!’ Sooyoung menoleh tajam padanya. Jinki mengerjap, matanya berkedip berulang kali.

“A-apa?”

“Kau.”

“Ya?”

“Mengetuk-ngetuk pintu seakan tidak ada hari esok, dan memaksaku meninggalkan tempat tidur hanya untuk memberi ini?!?!” pekiknya. Onew tersentak hingga tanpa sadar mundur satu langkah. “Kau bisa kan memberinya padaku besok? Kita satu sekolah, Jinki, Demi Tuhan. Tidak perlu sengaja datang ke sini.” Sooyoung menghembuskan nafas keras.

“Benar juga.” Jinki menggaruk kepalanya. Lalu tanpa diduga, ia ambil kembali kantong yang ada di tangan Sooyoung, “Ya sudah aku pulang saja. Besok akan aku ulangi kejadian ini, pura-puralah tidak tahu dan kau harus terkejut besok pagi. Sampai jumpa, Sooyoung!” katanya dengan sangat ringan, seolah itu bukanlah apa-apa dan tidak jadi masalah buatnya. Tak lupa ia lempar senyum bersahabat, dan eyesmile-nya terbentuk.

Mendengar tidak satupun respon yang keluar dari perempuan di hadapannya, Jinki berbalik memunggungi, lantas melambaikan tangan. Ia tidak tahu Sooyoung masih melongo dengan mulut yang terbuka. Heran. Heran sekali. Rasa-rasanya Sooyoung harus segera pensiun dari statusnya sebagai mahasiswi lalu mulai melakukan investigasi tentang ‘ada berapa banyak orang yang bermental seperti Lee Jinki yang lahir di Korea pada 14 Desember 1989?’ layaknya seorang detektif.

Swiiiing. Gedebrug! “Aw!”

Sooyoung seolah ditarik kembali ke alam sadarnya. ‘Dari mana suara tidak indah itu berasal?’ Ia mengerjapkan mata dan saat itu juga dilihatnya Jinki sudah duduk di lantai luarnya, dengan posisi tangan kanannya yang berada di belakang, terlihat sedang menumpu berat badannya.

“Astaga! Jinki! Apa yang kau lakukan di sana?” Sooyoung buru-buru menghampiri. Wajah Jinki merintih kesakitan. Gadis itu mati-matian menahan tawa. ‘Damn, his face looks priceless.’

“Kau masih tega bertanya? Kau pikir aku mau membuang tenagaku dengan duduk-duduk santai di pagi hari di atas teras halaman depan rumah orang sambil meminum segelas teh hangat dan melihat pemandangan taman di depan sana?!”

HAHAHAHAHAHA!

Tawanya berhenti kala sebuah mobil berhenti di depan rumahnya. Keluarlah sesosok Kwon Yuri yang sudah berdandan cantik, jauh sekali dengan penampilan Sooyoung yang belum mandi. Yuri berjalan beberapa langkah.

“Oh hey Sooyoung aku ke sini sebenarnya ma–– Astaga Onew! Apa yang kau lakukan di sana?” Pandangannya pindah ke arah Onew yang masih terduduk.

“Apa aku terlihat seperti sedang duduk-duduk santai di pagi hari di atas teras halaman depan rumah orang sambil meminum segelas teh hangat dan melihat pemandangan taman di depan sana?!”

“Whoa chill man. Biar aku bantu.” Yuri mengulurkan tangan, membantu Jinki bangkit dari jatuh naasnya.

Ngomong-ngomong Sooyoung, sejak kapan anak tangga itu ada di sana?!” Sooyoung tertawa geli. “Mereka ada di sana sejak enam tahun yang lalu.”

“Oh man, aku tidak ingat mereka ada di sana ketika aku datang.” Rupanya Onew terjatuh, tak menyadari ada tiga anak tangga di depan pintu rumah Sooyoung dan berjalan dengan santai, berakhir dengan terjatuh naas. Onew mengusap-usap bokongnya yang terasa nyeri. “Man, anak tangga itu lancip sekali.” Rasanya masih sangat mules, mengingat tadi bokongnya sempat mencium ujung anak tangga sebelum benar-benar mendarat di atas teras. “Wow Sooyoung, kau memiliki puluhan bunga di dalam pot itu benar-benar di luar dugaan,” ucapnya sambil melihat kanan-kiri. Halaman depan rumahnya memang diisi oleh puluhan jenis bunga yang ditanam di dalam pot.

“Aku menyiram bunga setiap sore.”

“Jinki jam berapa kau ke sini?” tanya Yuri. “Sekitar delapan.”

“Delapan? Aku bisa membayangkan bagaimana Sooyoung mengomel padamu. Aku bahkan terkesan kau masih hidup dan baik-baik saja,” ucap Yuri. Sooyoung melotot. Penjelasan Yuri seolah-olah mengatakan Sooyoung itu semacam ibu tiri yang jahat.

“Oh? Yeah, aku dicekcoki dan aku bersyukur aku baik-baik saja.”

Yuri berpaling pada Sooyoung, “Oh dan kau belum mandi. Eh tapi aku tidak heran,” ujarnya, “sebenarnya aku kemari bukan dalam keperluan kunjungan antar sahabat. Aku hanya mau mengantarkan ini.” Yuri menunjukkan sebuah surat dengan amplop biru langit, lalu memindahtangankan surat itu pada Sooyoung.

“Oh terimakasih.”

“Dan aku tidak mengerti kenapa itu sampai di apartemenku. Ia tidak tahu alamatmu? Kau punya kenalan baru?”

“Ini dari Sulli. Kurasa ia menulis alamat yang salah. Aku yakin ia menulis surat ini ketika besoknya akan menghadapi ujian fisika. Tipikal Sulli sekali.” Sooyoung menyimpan surat itu di dalam saku. “Kenapa harus surat? Bukankah kalian bisa saling kirim email? Dan Sulli itu adikmu?” tanya Jinki tertarik.

Ia mengangguk. “Sulli gemar sekali menyombongkan tulisan tangan sambungnya yang rapi. Itulah mengapa. Dan dia suka menyelipkan sesuatu bersama suratnya. Terakhir kali ia menyelipkan bunga Baby’s Breath yang dikeringkan.”

“Sooyoung aku harus pergi sekarang. Aku diminta menjemput keponakanku di bandara. Bye!” Ia membalasnya dengan lambaian tangan. Lalu Yuri menghilang dibalik pintu mobilnya.

“Aku lupa tadi aku mau apa ya?” tanya Onew dengan tampang bodoh, “oh aku mau pulang. Benar aku mau pulang!” ucapnya dengan jari telunjuk yang mengacung. “Baiklah Sooyoung, kurasa aku akan melanjutkan perjalanan pulangku yang tertunda samp––”

“Eh eh eh!” Sooyoung menarik ujung kerah jaketnya dari belakang ketika Onew berbalik, menyebabkan langkahnya terhenti dengan kaki kanan yang setengah mengapung di udara. “Bukan berarti kau harus pulang hanya karena aku mengatakan itu, Jinki. Kau sudah terlanjur di sini. Bukankah aku terlihat seperti teman yang jahat, menyuruhmu pulang dengan hadiahmu yang kau bawa pulang kembali?”

“Benar juga.” Ia mengangguk, “lalu sekarang apa?”

“Masuklah.”

“Akhirnya!” pekik Onew. “Akhirnya apa?”

“Sooyoung, sadar tidak sih sudah berapa lama aku berada di luar?” Gadis itu melotot, lalu berbalik untuk melihat jam dinding di dalam ruang tamunya. “Astaga, sekarang aku benar-benar terlihat seperti teman yang jahat. Baiklah, sekarang masuk.”

Gadis dengan marga Choi itu melangkah masuk ke dalam rumahnya, diikuti Jinki dari belakang yang langsung melesat tepat ke sofa yang berada di ruang tengah, lalu menjatuhkan diri di atasnya. Dasar tamu tidak tahu malu. Well, it’s so Onew anyway. Sooyoung sudah maklum. Sejurus kemudian Sooyoung melebarkan mata, menyadari sesuatu.

“Astaga!” Gadis itu menepuk jidatnya, “aku belum mandi, aku bahkan belum mencuci muka. Astaga keadaanku pasti sangat kacau dan aku menerima tamu dengan memakai baju tidur, dan bagaimana dengan rambutku? Aku bahkan melupakannya. Penampilanku pasti sangat berantakan. Bagaimana aku bisa lupa?! Oh aku pasti tuan rumah yang buruk. Maafkan aku Onew, kurasa aku harus––”

“Whoa whoa santai, Sooyoung.” Sepertinya Sooyoung berbicara dalam satu tarikan nafas “Kau bahkan terlihat menakjubkan seperti ini, kau terlihat cantik.” Ia melanjutkan ketika didapatinya pandangan tidak percaya, “aku serius.” Ujung bibirnya tertarik, membentuk garis melengkung ke atas, ia tersenyum tenang. Oh oh! Onew terlihat saaangat good-looking.

Sooyoung tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum, “Terimakasih dan oh terimakasih juga untuk hadiahnya.” Onew mengangguk.

Dua detik kemudian terdengarlah suara lain. Itu terdengar seperti dari Onew. Gadis itu menatapnya dan Onew memberinya cengiran bonus eyesmile. “Aku melewatkan sarapan.”

“Aku belum belanja keperluan bulan ini, dan hari ini aku hanya punya dua cup ramen instan. Bukan sarapan yang sehat memang tapi itu lebih baik daripada harus memergoki temanku sendiri mati di rumahku akibat busung lapar. Jadi aku harap kau tidak keberat––”

“Ya ya! Bawakan aku apa saja!” sahut Onew girang. Mungkin Jinki adalah satu-satunya orang yang memiliki mood baik dan semangat yang tinggi ketika lapar.

Sooyoung pergi ke dapur dan kembali membawa dua cup ramen dengan asap yang masih mengepul. Onew mengantisipasi dengan senyum lebar lalu tepuk tangan histeris ketika ramen miliknya Sooyoung letakkan di atas meja.

Dan Onew menghabiskannya dalam tiga menit. “Aku tidak tahu kau juga pemakan segala yang baik.”

“Tentu saja. Aku harus makan yang banyak untuk tetap sehat dan bersemangat. Apapun jenis makanannya, tapi kau tahu ayam tetap jadi prioritas utamaku, dia yang setia menemaniku selama 23 tahun.” Lalu Sooyoung menghabiskan miliknya satu menit kemudian.

***

“Aaaaah sayang sekali. Kenapa tidak bisa, Yul? Tugas kuliahmu menumpuk? Ayolah kita jarang sekali ke Viva Polo. Kali ini aku yang traktir?” Sooyoung memberi puppy eyes semenggemaskan mungkin. Sia sia saja sih, toh Yuri tidak bisa melihatnya. Sooyoung mungkin lupa mereka tidak sedang melakukan video call.

“Aku mau sekali, Soo. Sungguh! Tapi tidak bisa malam ini. Aku sudah lebih dulu janji deng––”

“Pasti Minho!” tebak Sooyoung. Yuri nyengir tiga jari.

“Itu kau tahu.”

“Ya sudah tidak apa-apa lain kali. Tapi kalau lain kali, aku tidak traktir ya.”

Sooyoung kecewa, tapi tidak mungkin juga ia memaksa Yuri membatalkan janjinya, apalagi dengan Minho, sahabat macam apa dia yang menghalang-halangi Yuri berkencan dengan kekasihnya. Ralat, calon kekasihnya. Hmm, masa pendekatan yang cukup lama.

“Iya Sooyoung, lusa aku janji ke Viva Polo bersamamu deh.”

“Memangnya kalian berdua mau ke mana sih?”

“Aku mau ke rumahnya. Dia bilang dia akan menunjukkan lukisannya. Dia melukisku, Sooyoung! Oh My God, aku tidak bisa minta yang lebih dari Minho. Dia baik, tampan, atletis, romantis dan––”

“Iya iya Yul, kau telah menceritakan semua kelebihannya padaku setidaknya seribu kali–– apa kau bilang? Ke rumahnya? Malam-malam? Kau sudah sejauh itu ya?”

“Jangan pikir yang aneh-aneh! Kan aku bilang aku mau melihat lukisannya.”

“Pikir yang aneh-aneh? Yul, maksudku kau sudah mau berkenalan dengan orang tuanya? Aku pikir itu tidak aneh untuk berfikir seperti itu–– tunggu, Yul, jangan bilang kau berpikir aku berpikir…”

“Err, b-bukan apa-apa. Lupakan Soo! Oke, biar aku klarifikasi, aku hanya akan melihat lukisannya dan bukan menemui orang tuanya karena ia tinggal sendiri untuk sementara karena orang tuanya sedang di luar negeri, tidak kurang dan tidak lebih.”

“Semenjak kau berpikir seperti itu, aku jadi tidak yakin. Benar kau tidak akan melakukan hal yang lain?”

Sooyoung, berhenti beripikir apapun yang kau pikirkan!

Sooyoung terkekeh geli, menggoda Yuri benar-benar asik.

Aish baiklah, kalau kau tidak percaya, dan barangkali kau mau melihat bakat Minho yang lain, ikutlah bersamaku! Aku harus membuatmu yakin bahwa a––”

“Tunggu tunggu! Tidak, bukan itu! Aku yakin kok kau tidak akan melakukan hal diluar rencanamu. Aku tidak usah ikut ya, err aku mau err membaca novel Mockingjay yang belum selesai. Kurasa pergi ke rumah Minho bukan ide yang bagus jadi––”

“Tidak. Kau harus.”

Oh tidak, Sooyoung benar-benar malas harus keluar, ia sudah terlanjur nyaman dengan kasurnya, dan novel Mockingjay ada di sana, di sebelahnya. Sooyoung bersumpah ia lebih baik membacanya daripada harus menonton sahabatnya sendiri berkencan, dan ia hanya jadi obat nyamuk. Lagipula, ia tidak pernah tahu bagaimana pendapat Minho tentang dirinya jika ia tiba-tiba muncul juga di rumahnya dengan awkward, dia kan hanya mengundang Yuri! Minho akan mengutuknya diam-diam. Oh tidak! Sooyoung tidak mau seperti itu.

“Kau pergilah sendiri, Yul. Sungguh aku harus menyelesaikan novelku hari ini.”

“Tidak bisa Soo. Salahmu tadi mencurigaiku. Aku harus membuktikan bahwa ucapanku benar.”

‘Damn, aku kan tadi hanya menggodanya. Aku tidak serius.’ Ia bisa membayangkan seringaian Yuri di seberang sana.

“Aku tidak curiga, kok. Sungguh! Tadi aku hanya bercanda. Aku percaya. Tidak perlu bukti. Ayolah, orang mana yang tidak percaya pada sahabatnya sendiri?”

“Mobilku akan sampai di rumahmu dalam dua puluh menit. Bersiap-siap ya.”

Damn Yul.

***

Beep beep!

Dua puluh menit kemudian suara klakson terdengar dari depan rumah Sooyoung. Dan lima belas menit kemudian, sampailah keduanya di depan rumah Minho. Bel dipencet, pintu dibuka oleh pelayan rumah. Pelayan itu tersenyum ramah dan mempersilahkan keduanya masuk. Rumahnya punya desain interior yang bagus. Sooyoung akui itu. Ini kali keduanya Yuri datang ke rumah Minho.

“Minho di ruang atas.”

“Terimakasih bibi.” Bibi itu tersenyum lalu kembali ke belakang. Lantas keduanya melangkah menaiki tangga. Minho punya ruang sendiri di mana di dalamnya diisi televisi, komputer, gitar, koleksi bola miniatur, piala-piala dan seperangkat playstation.

Minho belum menyadari kehadiran Sooyoung dan Yuri. Minho masih menunduk, tampak serius menyelesaikan sebuah puzzle dengan––

Onew?

Hey, benar kan itu Onew?

Dan apa tadi, puzzle? Yang benar saja?

“Onew?” tanya Sooyoung langsung dengan menunjuk-nunjuk Onew. Tampaknya lupa soal tata krama dan salam. Wajahnya terheran-heran. Onew mendongak, dilihatnya Sooyoung bersama Yuri. Minho juga ikut-ikutan mendongak.

“Oh hai Sooyoung!” Onew melambaikan tangan norak. “Sedang apa kau di sini? Dan, kenapa kau di sini?” tanyanya lagi.

Loh Ini rumah sepupuku,”

Benar juga.

“Terus salah gue? Salah bapak gue? Salah temen-temen gue?” Ekspresinya menyebalkan, dengan kedua tangan yang diangkat, dan wajah menantang.

“Iya iya Jinki. Terserah.”

“Jadi hanya Sooyoung yang disapa? Aku tidak?” tanya Yuri sinis. “Oh maaf. Hai Yuri!” sapa Onew akhirnya, dengan nada super ceria.

“Ah kau sudah datang. Oh hey Sooyoung!” sapa Minho ramah. Mematahkan pikiran Sooyoung sebelum datang ke sini yang mengira Minho akan berkata setidaknya seperti–– “Sooyoung? Di sini juga? Yul, aku tidak menyuruhmu membawa Sooyoung ‘kan? Aku tidak mengundangnya ‘kan? Aku hanya mengundangmu ‘kan? Kenapa dia di sini?”

Sooyoung lega kejadiannya bukan seperti itu.

“Hai Minho. Err mungkin kau tidak mengharapkan kedatanganku jadi aku minta maaf,” ujar Sooyoung tidak enak.

“Hei, santai saja Sooyoung. Lebih ramai lebih baik. Lihat, aku bahkan membawa Jinki.”

“Ya, Yuri menyeretku untuk ikut. Jadi ya, apa boleh buat.”

“Kalian bermain puzzle?” tanya Yuri tidak percaya. “Tadinya hanya Jinki-hyung yang memainkannya, tapi aku iba padanya. Dia belum menyelesaikannya sejak setengah jam yang lalu.”

Puzzle adalah game untuk para jenius, penyabar, dan pekerja keras!” sungut Onew. “Hei biarkan aku bergabung!” sahut Sooyoung semangat. Puzzle ini terdiri dari seribu potong. Oh jelas saja Onew kesulitan. ‘Serahkan ini padaku, dear Lee Jinki.’ Sejurus kemudian Sooyoung duduk di hadapan Jinki, di atas karpet putih yang saaaangat lembut.

“Yuri, kau mau melihat hasil lukisanku bukan? Berikan pendapatmu sejujur mungkin, ikut aku.” Yuri mengikuti langkah Minho yang mengarah ke belakang, meninggalkan Jinki dan Sooyoung yang sudah tenggelam dalam permainan puzzle.

Lalu tidak ada suara untuk beberapa detik kemudian.

“Astaga Minho! Ini menakjubkan! Lihat bagaimana kau memadukan warna-warna ini! Ini, ini– ini keren!” pekik Yuri nyaring. Membuat Onew terperanjat kaget hingga tangannya yang bergerak dari bawah tanpa sengaja mengangkat puzzle-nya ke atas dan pyarrrr, potongan-potongan yang sudah terselesaikan setidaknya tiga perempatnya itu terpencar kembali.

“Kau boleh membawanya pulang kalau kau menyukainya.” Terdengar suara Minho.

“Jinkiiiiiiiiiiii! Apa yang kau lakukaaaaan?” pekik Sooyoung murka. Pekikannya lebih nyaring dari Yuri. Terlebih Onew duduk tepat di hadapannya, hanya berjarak mungkin satu meter, membuatnya harus menutup telinganya rapat-rapat. ‘Damn, dia terdengar seperti lumba-lumba.’

“Hei aku tidak sengaja. Yuri mengagetkanku.” Onew berkata jujur, ia benar-benar kaget mendengar suara Yuri yang muncul di tengah keheningan, di tengah konsentrasinya yang ditujukan hanya untuk menyelesaikan puzzle.

Kepingan-kepingan puzzle yang berantakan dan jatuh di bawah meja kecil itu akhirnya ia punguti kembali. Sooyoung membantunya. “Oke, lupakan puzzle ini. Ayo bermain yang lain.”

“Apa?”

Onew melempar pandangan ke sekeliling. Ada bermacam-macam permainan papan juga di sini, bahkan kartu juga. Pandangannya jatuh pada papan kotak-kotak hitam putih.

“Catur. Kau suka catur? Ini permainan untuk para jenius juga, cocok sekali buatku.”

“Tantangan diterima. Aku cukup pandai dalam hal ini. Mana caturnya?”

Permainan dimulai, Sooyoung memegang pion putih dan Jinki dengan pion hitam.

***

Lima belas menit berlalu. Permainan catur belum selesai.

Onew menggaruk rambut hitam pendeknya. Langkah selanjutnya ini, Onew benar-benar tidak yakin. Ugh Sooyoung menyerang dengan baik. Ia sudah kehilangan sebagian besar pion-pion penyerangnya. Sooyoung juga, tapi tidak lebih banyak dari miliknya.

Dua menit berlalu dan Jinki belum juga menggerakkan pion.

“Onew, ayolah! Aku bisa jatuh tertidur menunggumu. Sesulit itukah? Hah, sudah kubilang. Jangan menganggap remeh lawanmu, Lee Jinki! Apalagi lawan sepintar aku! Hahaha.” Sooyoung tertawa menyebalkan. Lagi-lagi Jinki menggaruk kepalanya bingung, matanya tidak lepas dari pion kudanya. Kudanya dalam keadaan terancam, begitu juga dengan ratunya yang lebih penting.

“Ah rasanya aku sudah bisa mencium aroma-aroma kemenangan. Hehe.” Di sisi lain, Sooyoung tidak bisa berhenti bicara soal kemenangan, memecah konsentrasi Jinki yang berpikir keras. Oh bahkan Sooyoung bisa mencium asap di sela-sela aroma kemenangannya. Asap akibat Jinki berpikir kelewat keras.

Sepuluh menit kemudian permainan berakhir, kemenangan jatuh di tangan Choi Sooyoung. Gadis itu tidak bisa berhenti menertawai kekalahan Onew yang malang. Harga dirinya seakan jatuh ke dasar jurang. Dikalahkan oleh seorang perempuan? Onew ingin sekali ikut lompat bersama harga dirinya.

“Jangan bersedih, Jinki. Lihat, aku tidak meminta hadiah atas kemenangan apapun. Jangan putus asa begitu, kita bisa bertanding lain kali, dan kalahkan aku!” Sooyoung menepuk-nepuk pundaknya. Onew diam dengan wajah sok sedih.

“Hei kau lapar tidak sih, Soo?”

Benar juga, Sooyoung kan tidak jadi ke Viva Polo. Tentu saja perutnya kosong sejak sore. Sooyoung mengangguk keras. “Baik, ikut aku ke dapur. Kita lihat Minho punya apa.”

“Kau mau mencuri?”

“Tentu saja tidak Sooyoung. Aku kan sepupunya, aku sering melakukan ini. Jangan khawatir, Minho tidak akan marah. Lagipula, kita kan tamu. Salahnya tidak menyediakan makanan apa-apa.” Sooyoung akhirnya mengangguk. Lantas keduanya bangkit berdiri setelah setidaknya satu jam setengah lamanya mereka duduk.

“Lagipula mereka mengobrol berdua saja! Tidak mengajak-ajak, lihat kita diabaikan bukan? Hah! Ada apa dengan ‘lebih ramai lebih baik’ yang Minho bilang tadi. Ih dasar laki-laki tidak bertanggung jawab!”

Sooyoung menatap Jinki ngeri. Hih, sekarang dia lebih terlihat seperti laki-laki penyuka sesama jenis, atau perempuan yang minta pertanggungjawaban atas kehamilannya, atau bahkan waria penggoda kurang kerjaan ketimbang seorang sepupu yang menggerutu gara-gara diabaikan.

Lantas Sooyoung memukul pelan kepalanya. “Biarkan saja. Iri ya? Tidak suka lihat sepupumu bahagia sementara kau hidup 23 tahun dengan status single?” Onew mengaduh seraya mengusap kepalanya berlebihan.

Sementara masih terdengar samar-samar suara Yuri dan Minho yang masih berbicara, sesekali terdengar suara Yuri tertawa. Wow Sooyoung tidak tahu mereka bisa mengobrol selama itu.

“Hei aku tidak semenyedihkan itu. Oke lupakan mereka dan ikut aku sebelum aku ditemukan mati di rumah Minho akibat busung lapar.”

“Jinki-hyung! Jangan acak-acak isi lemari es lagi! Kembali ke tempat!” Baru dua langkah berjalan, teriakan Minho terdengar dari arah belakang ruangan, “aku baru saja pesan pizza delivery lima menit yang lalu. Tunggulah sebentar!” lanjutnya.

Mendengar itu, refleks Sooyoung kembali ke tempatnya semula, duduk di atas karpet lembut seraya memeluk bantal bola. Diikuti Onew yang langsung tengok kiri-kanan, mencari sesuatu untuk dipeluk juga. Dasar peniru.

“Apa Minho tidak punya bantal lain?” tanyanya bingung. Lalu Minho muncul, di belakangnya ada Yuri yang mengajak main monopoli, sambil menunggu om-om pizza delivery datang. Mungkin tadi Minho mendengar Onew mengatakan sesuatu tentangnya, terutama soal lelaki yang tidak bertanggung jawab barusan. Kuping Minho panas mendengarnya.

Lalu sepuluh menit kemudian pizza ukuran jumbo datang. Masih panas. Permainan dihentikan sejenak untuk menggerayangi potongan-potongan pizza yang berbentuk segitiga. Woo, Sooyoung tidak bisa lebih senang dari ini. Yuri hanya makan dua potong, dia takut gemuk, sisanya dihabiskan Sooyoung, Onew, dan Minho, yang saat ini belum bisa berhenti berebut potongan pizza terakhir. Minho sempat kaget saat tahu Sooyoung makan seperti kuli.

“Hei biarkan aku memilikinya!”

“Mana bisa begitu? Kan aku yang pesan!”

“Tapi aku belum makan sejak sore!”

“Tapi aku adalah raja ayam!” Hening.

“Tapi aku pemilik rumah!”

“Tapi aku adalah raja ayam!”

“Tapi aku mahasiswi hukum terbaik!”

“Tapi aku yang paling atletis!”

“Hei aku adalah raja ayam dari segala ayam!” “…”

“Aku perempuan! Ladies first, guys! Ladies first!”

“Tapi aku Minho!”

“Tapi aku raja ayam!” “…”

“Tapi aku tidak bisa berenang!”

Yuri pusing. Dilihatnya Minho, Onew, dan Sooyoung bergantian. Bukankah lelah berdebat terus? Hanya demi potongan terakhir pizza? Dan apa ini hanya perasaannya atau perdebatan mereka semakin sulit dipahami? Yuri tidak pernah mengerti.

“Tapi aku yang paling tampan!”

“Tapi aku––”

“CUKUP!” Titahnya tegas. Lalu semuanya terdiam. “Sampai kapan kalian mau berdebat?” Lalu dengan super santai, diambilnya pizza terakhir dari dalam box dan ia makan dengan santai. Menimbulkan tatapan-tatapan yang sulit ia mengerti. Ada yang sedih, tidak rela, dan tidak percaya?

“Tapi di antara kalian, akulah yang makan paling sedikit. Mau protes?” Semuanya tak punya pilihan lain selain diam, memang cukup adil sih. Yuri total hanya makan tiga. Jahat sekali rasanya kalau harus melayangkan protes.

Lalu permainan dilanjutkan, sampai berakhir dan posisi miliarder alias yang paling kaya jatuh ke tangan Choi Sooyoung. Lagi-lagi Sooyoung. Menurut Onew, Sooyoung itu DDM. Diam-diam menang. Hah dasar silent gamer! Padahal hari itu Sooyoung hanya sedang beruntung.

Dan lagi-lagi, Onew dan Sooyoung ditinggalkan. Minho dan Yuri memisahkan diri untuk mengobrol lagi. Sooyoung tidak berani pulang kalau tidak bersama Yuri, dia kan tidak membawa mobilnya. Hari sudah cukup malam, jadi mau tak mau, dia harus mau menunggu Yuri yang tampaknya lupa malam sudah cukup larut. Pukul 9.30 pm.

Menunggu, permainan demi permainan ia mainkan dengan Onew. Sampai puzzle yang tadi berceceran pun ia susun lagi, bahkan sudah selesai. Sampai puncaknya, tidak ada lagi yang bisa dimainkan. Hingga kantuk menyerang. Sooyoung menguap, Onew juga, tapi lebih lebar. Apalagi Jinki, kemarin malam ia tidur pukul dua pagi, menyebabkan kantuk yang tak tertahankan menyerangnya malam ini, menuntut jam tidurnya yang sempat terkurangi. Tapi rasanya tidak tega juga jika Sooyoung, tamunya, ditinggalkan tidur. Itu ‘kan terdengar rude dan sama sekali bukan tindakan gentleman!.

***

Pukul 10.30 pm. Yuri dan Minho muncul. Entah apa yang mereka bicarakan sampai selarut itu. Mereka kembali ke tempat semula. Lalu terkejut ketika melihat kedua orang malang yang sudah terkapar tidak berdaya. Yuri meilirik jam tangannya. Lalu melotot. “Astaga! Apa jam tanganku salah atau memang sudah selarut ini?!”

“Memang sudah larut sepertinya. Lihat saja Onew dan temanmu.”

Di sana, di atas karpet putihnya yang saaaangat lembut, Onew tertidur dengan posisi tengkurap, tepat di ujung karpet, dengan bantal kotak berada di atas punggungnya, menganggur. Padahal ia sendiri tidak menggunakan apa-apa sebagai alas kepalanya. Yang satu itu, Yuri tidak pernah paham.

Lalu tidak jauh dari Onew berada, di sebelah kirinya, Sooyoung tertidur dengan posisi terduduk, dengan punggung yang menyender pada tembok, serta memeluk bantal bola dengan kedua tangannya.

***

Hari itu, Sooyoung ditelpon Onew. Dengan semangat menggebu-gebu, Onew memamerkan perihal dua kupon makan gratis di Chicken Hell. Akhirnya Sooyoung memaksa Jinki untuk memberikannya satu. Karena hari itu adalah hari terakhir penukaran kupon, jadilah dua-duanya sama-sama berencana menukarkan hari itu juga, ketika jam kuliah berakhir.

Wajah Jinki muncul ketika kaca mobil dibuka. Wow aku tidak tahu Onew juga bisa bawa mobil. Oke, itu memang haknya sih mau bawa mobil atau tidak. Bukan masalah Sooyoung sebenarnya. “Mau sampai kapan berdiri di situ?” Hah, tidak bisakah ia bersabar sedikit? Aku sedang menduga hal-hal tak terduga yang kemungkinan bisa ada di dalam mobilmu, you freak.

Sooyoung masuk, di samping kursi pengemudi. Ia sudah mengantisipasi kalau-kalau di dalam ia mencium bau kemenyan dari parfum mobilnya atau mendengar lagu Gwiyomi dari music player-nya dan segelintir hal tak terduga lain. Bagaimanapun juga Onew itu aneh, benar bukan? Bukan salah Sooyoung kan kalau ia menduga hal itu?

Tapi ia sangat bersyukur Onew tidak se-freak itu. Dibanding parfum mobil kemenyan, Sooyoung justru bisa mencium wangi parfum melati. Setidaknya tidak lebih seram dari kemenyan ‘kan? Dan dibanding lagu Gwiyomi, Sooyoung justru hanya mendengar alunan instrumen dari music player-nya. Ternyata Onew bisa normal juga! Inginnya sih Sooyoung tepuk tangan histeris.

Jinki menyetir dengan serius. Entah Sooyoung baru sadar atau bagaimana, tapi menurutnya kalau sedang serius, Lee Jinki terlihat sangat… berbeda.

***

Kuponnya sudah ditukarkan dan dua porsi Chicken Hell sudah di depan mata. Sooyoung berbinar, Onew bingung. Maksud dari Chicken Hell itu apa sih? Onew tadinya mau bertanya pada ahjussi kasir, tapi dia urungkan. Dilihatnya ada kotak saran, Onew mengambil selembar kertas dari dalam tasnya. Ditulisnya sesuatu yang berbunyi;

‘Tolong siapapun baca ini. Kenapa kalian memberi nama menu ayam dengan Chicken Hell bukannya Chicken Heaven?! Apa kalian tega memberi nama ayam lezat tidak berdosa ini dengan kata neraka?!’

Sooyoung cuma bisa geleng-geleng kepala.

“Astaga, aromanya! Ini benar-benar menggelitik nafsu makanku! Oh yeah terimakasih telah memberikan satu kupon itu. Dan kau harus sering membawaku ke sini! Sering-sering juga mentraktirku” pekik Sooyoung semangat.

“Kalau begitu, kenapa kau tidak jadi pacarku saja?”

Sooyoung berhenti.  “Apa? Siapa?” Ayam yang ia pegang berhenti di depan mulutnya yang menganga, hendak menggigit tapi tidak jadi.

“Choi Sooyoung, siapa lagi?” ujarnya santai. Sooyoung melongo. Wah ada apa ini? Mungkin Onew salah minum obat? Dan kenapa harus sekarang? Ayolah aku sangat lapar saat ini, katakan hal seperti itu lain kali.

“Apa hubungannya makan di Chicken Hell dengan menjadi pacarmu?” Tanyanya lagi dengan alis terangkat. Sudah terlanjur, ia butuh penjelasan sekarang juga.

“Ada, bukankah jadi lebih mudah? Kalau kau jadi pacarku, aku akan mengajakmu setiap hari ke sini, lalu mengajakmu mengunjungi semua restoran di setiap penjuru Korea, bahkan kemanapun kau mau!” ujarnya penuh semangat. “Oh man, bukankah aku sangat romantis?” tanyanya pada diri sendiri, dengan semangat yang sama.

Kurasa alasan itu terdengar sedikit janggal dan sulit diterima tapi biarlah, aku tidak akan pernah mendapat alasan rasional jika bertanya padanya, apapun itu.

“Hanya itu?”

“Tentu saja karena kupikir aku sedang jatuh cinta pada seseorang.”

“Siapa?”

“Choi Sooyoung, siapa lagi?”

Ah! Sooyoung tidak tahu kenapa dan bagaimana, caranya menyebut nama lengkapnya terdengar sangat.. err bagaimana menyebutnya ya? so good so right? Intinya Sooyoung menyukai bagaimana pria itu menyebut nama lengkapnya, yang mampu memberi efek burung merpati yang beterbangan di dalam perutnya. Kenapa burung merpati? Karena kupu-kupu berasal dari ulat dan Sooyoung benci ulat.

Di seberang, Onew tersenyum lebar sambil menatapnya. Dan baru kali ini Sooyoung merasa tidak sanggup untuk menatap balik. Maka ia memilih untuk menatap ayamnya yang masih ia pegang. Ya Tuhan, kenapa ayam ini terlihat sangat menggoda dan menggiurkan?

“Kau tahu kenapa? Karena aku cinta orang yang mencintai ayam seperti aku! Dan Choi Sooyoung sangat cantik!” sahutnya sambil tersenyum bodoh. Tidak bisakah ia sedikit romantis? Oh tentu saja tidak, ini adalah Onew yang kita bicarakan. Apa hanya perasaanku atau telinganya memang memerah? Dia lucu ketika sedang malu!

“Apa kau sedang menyatakan cinta?”

“Iya! Sekarang, kalau kau memakan ayamnya itu tandanya kau menerimaku, dan jika tidak, kau bisa tinggalkan satu porsi Chicken Hell itu tanpa menyentuhnya.”

Apa dia bilang? Tidak bisa, rasa laparku tidak bisa ditunda.

Tanpa sadar, Sooyoung menggigit ayamnya yang sudah sejak tadi berada di depan mulutnya. Kresss. Damn, kenapa sangat enak? Kenapa ini renyah sekali? Sooyoung mengunyahnya santai, lalu bola matanya bergulir untuk meilirik Onew sekilas.

H-hey apa aku sudah pernah bilang bahwa dia punya eyesmile yang menarik perhatian? Hei apa aku sudah pernah bilang dia terlihat good-looking jika sedang tersenyum? Hey, kenapa dia tersenyum aneh seperti itu? Hey, kenapa ia terlihat bahagia sekali? Hey, kenapa ia belum menyentuh makanannya. Hey kena–– sebentar!

Damn, Onew!

Apa barusan aku menerima pernyataan cintanya? Kurasa tidak ––oh, benar, aku memakan ayam itu. BAGAIMANA MUNGKIN AKU TIDAK MENYADARINYA?

 Pantas saja Onew ––Damn! Tidak bisakah ia tidak menjadikan ayam selezat ini sebagai pilihan?

 

***

“Apa?! Pacarmu kau bilang?!”

Sooyoung tidak mengerti kenapa Yuri bisa seterkejut itu. Bukankah itu hal normal untuk memiliki seorang kekasih?

Yuri melongo. Mulutnya setengah terbuka, kedua matanya melebar. Kenapa ia terkejut sekali sih?––oh, aku tahu. Hingga detik ini, Minho belum memintanya jadi pacar. Sekarang Sooyoung paham. Yang menjalani pendekatan kan Minho Yuri, bukan Sooyoung, apalagi Jinki si aneh.

“Onew?! Lee Jinki?!” Sooyoung mengangguk kaku. Jinki berkedip.

Tiga detik kemudian Yuri jatuh pingsan.

–FIN–

 

***

 

 

*) Wahahahahahahahahahhaha ending macem apa ini? Intinya sih, ff macem apa ini? Kalian sadar ga sih, ini inti ceritanya di mana? Wkwk, dasar author abal. Udah panjang-panjang, endingnya gini doang. Maafkaaaaaan ;_; Kalian pasti nyesel udah baca. Sadar ga sih? Di sini bahkan ga ada momen romantisnya sama sekali? Duh gimana ya, author juga gabisa bayangin momen sosweet kaya ff soohan aku kebanyakan. Entah imej Lee Jinki di otak aku itu cuman; sangtae(?), konyol, gila, dan kadang autis. Dan itu bikin aku jadinya justru cuman menonjolkan sisi Onew yang kaya gitu di ff ini. Dari awal emang rencana aku udah gitu sih, ini bakal cuman nyertain momen biasalah, ga akan nyelipin momen lovey-dovey. Dan kalian mungkin nanya kenapa Onew? Iya author tahu pairing ini mungkin masuk dalam daftar super crack pairing. Alasannya sederhana sih, aku lagi suka sama leader shinee ini, dan btw mereka emang ada momennya kok. Dan momennya itu momen yang lucu semua, lucu bukan dalam artian cute ya, tapi lucu funny! Kagugu atuh lah. Aku pernah liat interaksi mereka di video seohyun-focus, akhir 2013 kalo gak salah (kbs gayo daejun). Di situ dia ngobrol sama Sooyoung, dia ngomong bentar ke si Sooyoung, entah ngomongin apa, habis itu si Onew nari-nari gak jelas gitu di depan Sooyoung dan akhirnya mereka ketawa (?). Ini juga yang bikin aku gak mau bikin moment sosweet di ff mereka, lah moment real nya aja kaya gitu coba (?). Semoga kalian paham. Dan faktanya mereka emang temen deket kok, terbukti waktu di nocturnal (2010) yang Onew nelpon Sooyoung tuh, kalian tahu kan? Mereka ngomongnya udah pake banmal atau informal. Tandanya mereka temen deket kan? iya kan? Berarti nggak terlalu crack kan? Iyain aja -_-

Oke yang terlanjur baca, kalian harus komentar! Aku ngewelcome kritik kok, asal disertai saran dan menggunakan bahasa yang sopan dan tidak offensive. Sekian, sampai jumpa!

B5l90j6CcAAhre_

[bonus] smiling onew!

17 thoughts on “[Oneshot] Maniac

  1. sparkmvp May 11, 2015 / 9:15 PM

    Ketika dua bias utama jadi cast?!!!? Ya ya emang crack pairing but overall suka! Gasulit membayangkan onew yang freak bersama sooyoung wkwkwk

    semangat nulisnya

    Fighting!

    • winterchan May 12, 2015 / 4:06 AM

      Alhamdulillah kalo suka😀
      Kkk~
      Sip! Makasih udah baca + komennya😀

  2. Di May 12, 2015 / 8:24 PM

    This is just perfect! Onew bias utama aku di shinee dan sooyoung bias paling paling ultimate nya aku alias nggak pernah ganti dari tahun ke tahun. Suka banget!! Bisa nggak sih ff mereka berdua ini di perbanyak hihihi mereka kaya dua orang yang dork di gabungin jadinya super dorky. Yey!

    • winterchan May 12, 2015 / 8:53 PM

      Alhamdulllah kalo suka😀
      iya aku juga sebenernya nyari ff mereka banget, sayangnya sedikit. bener bener jarang yang bikin. jadi aku bikin deh (?)
      yap setuju, super dorky😀

  3. ChoiXiOh May 13, 2015 / 9:06 AM

    Haha😀 sempet agak gimana sih gitu pas baca. Tapi pas liat ending nya kok jadi ketawa gak jelas.
    Btw aku kangen banget sama ff soohan mu author-nim. Bisa gak aku minta ff soohan dari mu. Wekk :p

    • winterchan May 13, 2015 / 6:46 PM

      wahaha aku pas bikin ga niat dibikin comedy sebenernya wkwk
      kangen? wah, yakin nih? wkwk asik aku dikangenin (?)
      pengen bikin sih, tapi sekarang-sekarang lagi belum dapet feel buat ff soohan lagi nih😦
      entah kapan bisa dapet feelnya lagi, kalo ada inspirasi sama feelnya mah, pasti dibikin kok😀

      btw thanks for reading + leaving a comment😀

  4. Zea Mays May 15, 2015 / 2:05 PM

    Kakandakuuuuuuuuuu!!!! #plak #dor #duangh
    Haiiiii…. aku baruuu nyasar di sini, dan sedang nyari2 ff yg membuatku tertarikk.😀

    Alhamdulillah banget sesuatu buatku bisa nemu ff yg kereeeeenn beginiiii!!😀

    Aku panatik|? Sooyoung, sering nyebut klo Onew itu suamiku setelah Yesung|? pas nemu ff ini … saya gembira banget loooh, wkekk.

    Enggak nyangka aja gitu ada ff mereka, dulu pernah nemu siih, cuma ff itu gak di lanjut lagi kayaknya, aku udah lupa bacanya dimana ._.
    Mereka bener2 crack pairing kayaknya ;3

    Kkkk disini keliatan banget mereka itu maniak. Yang satu makanan, yg satu ayam.😀

    Aku juga suka gaya penulisan kakak, rapiiii, tanda bacanya juga pas… alurnya juga keren menurutku. Nggak kayak aku, yg kalau nulis ff alurnya aneh banget, bahasanya juga itu2 aja…😥

    Yoh! Aku suka ff iniii, aku izin save ya kak? Buat di baca ulang nanti di waktu luang gitu.😀

    • winterchan May 16, 2015 / 7:01 PM

      Alhamdulillah banget kamu nyasarnya ke sini😀
      keren? hihi makasih❤

      iya dulu juga aku pernah baca ff mereka, kayanya aku tahu deh di mana
      iya, jaraaang banget yang bikin ff mereka

      sama-sama maniak, cocok kan cocok kaan?

      wah makasih banget udah merhatiin cara penulisan, dll. kamu reader yang kritis!😀
      alurnya keren? wah makasih sekali lagi! padahal menurut aku alurnya ini berasa ga penting banget (?)

      alhamdulillah kalo suka. gapapa save aja, aku juga suka gitu kok kalo nemu ff yang aku suka!😀
      sekali lagi makasih udah baca + kasih komentar!🙂

      • Zea Mays May 18, 2015 / 7:33 AM

        Okee siiippp…. buat lagiii doong yg castnya merekaaa😀
        <<<<

      • winterchan May 18, 2015 / 9:20 PM

        Oh sip insya Allah ya. Berhubung aku juga lagi suka sama onew, jadi pengen bikin lagi. Cuman ya belum mulai nulis hehehe ._.

      • Zea Mays May 18, 2015 / 9:39 PM

        Ditungguuu!!😀

  5. Rizky NOviri May 21, 2015 / 2:47 PM

    ya ampun.. dari awal.ampe akhir ini ff bikin aku ketawa mulu.. hahaha
    lucu..😀

    onew kenapa kau se-aneh itu??😀
    sebenernya itu pernyataan cinta ya memaksa ya terutama bagi sooyoung, mana mungkin dia bisa nolak makanan..😀

    keren…

    • winterchan December 23, 2015 / 9:33 PM

      Hihi iyakah? Makasih😀
      Wkwk maksa juga yang penting sooyoung suka dan dia mau hehe

      Sekali terimakasih sudah baca + komen❤

  6. yuki-chan May 21, 2015 / 3:45 PM

    Akhirnya aku nemu ff onew sooyoung yg sekece ini, wajar aja sih authornya kece juga xD. Love this!! Keep writing!!^^

    • winterchan December 23, 2015 / 10:04 PM

      Wah makasih❤
      Makash juga sudah meninggalkan komentar!😀

  7. nadasooyoungstersoneelf June 28, 2015 / 12:15 PM

    hahahahhaaha sumpah ngakak thor baca ini ff :’v
    kasian si yuri belum di tembak tembak :v
    nice ff thor ^^

    • winterchan June 28, 2015 / 2:52 PM

      wkwkwk iya pedekate lama dia xD
      hehe Thanks for reading🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s