[ONESHOT] Thing We Called Fate

thing-we-called-fate-ver2

Title: Thing We Called Fate

Author: Carol Seon (캐롤라인)

Cast:

♦ Cho Kyuhyun

♦ Choi Sooyoung

♦ Cho Ahra

♦ Han Ji Ra (OC)

♦ Leeteuk (Cameo)

Length: Oneshot, Longshot (6000 words)

Genre: Love, Marriage.

Rating: PG-15

Annyeonghaseyo, reader-deul!^^

Ini merupakan post pertamaku di SFI, sebenernya FF ini sudah pernah di post di wp pribadiku. Tapi, tetep aku post—nggak enak sama reader yang udah mampir tapi nggak ada fiction baru untuk dibaca.

Baiklah, semoga kalian suka, ne?

P.S: Big thanks to Poster by HRa @ Poster Channel for this awesome poster you’ve made!XOXO

HAPPY READING!!

Jika cintaku adalah samudra, maka tak ada daratan lagi di bumi ini.

Jika cintaku adalah gurun pasir, maka yang bisa kau lihat di dunia ini hanya pasir.

Jika cintaku adalah bintang pada malam hari, maka langit malam tidak lagi berwarna hitam.

Dan jika cintaku bisa menumbuhkan sayap, aku sudah terbang menjulang tinggi.

(Thirteen Reasons Why by. Jay Asher)

.

.

.

.

“Appa.” Aku merasa bagian bawah bajuku ditarik-tarik.

“Ne?” Tanyaku dengan lembut.

“Ji Ra lapar.” Ujarnya sambil menyodorkan gelas padaku.

29f07498d32a7f43471f4461af710cf1

“Lapar? Kajja, mandi dulu setelah itu kita sarapan di luar, ne?” Anak berusia 4 tahun itu lalu mengangguk dan melangkahkan kaki mungilnya menuju kamar mandi dan diikuti olehku.

“Nah, sekarang kau tunggu disini. Appa akan siapkan baju untukmu, arrachi?” Perintahku yang dibalas anggukan bocah pintar ini.

Aku keluar dari kamar mandi, menuju lemari tempat aku menyimpan pakaian Ji Ra. Selera fashionku memang tidak bagus, namun setidaknya aku mengerti pakaian jenis apa yang cocok untuk dikenakan musim panas begini.

Setelah kurang lebih 5 menit berendam, aku mengangkat Ji Ra dari bathtub yang penuh busa tersebut, lalu membilas rambut hitamnya yang lebat dan badan putihnya yang halus.

kane_dennis_41363

“Kajja, Ji Ra-ya.” Ku genggam tangan mungil bocah tersebut meninggalkan apartemen ini.

Han Ji Ra, bocah berusia 48 bulan ini bukan anakku. Dia merupakan anak dari noona, jadi kesimpulannya Ji Ra merupakan keponakanku. Untuk seminggu ke depan, bocah ini akan dititipkan di apartemenku. Aku sebenarnya menolak, tapi mau bagaimana lagi? Aku juga tak tega melihat keponakanku satu-satunya ini tinggal bersama orang lain yang bukan keluarga. Mengingat Eomma dan Abbeoji sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.

“Itu.” Ujarnya sambil menunjuk-nunjuk sebuah cafe.

“Kau mau makan disitu?” Tanyaku. Dia menganggukkan kepalanya dengan semangat.

“Kajja.” Lalu kami masuk ke dalam cafe yang cukup ramai tersebut.

“Ji Ra-ya, kau mau makan apa?”

“Roti.” Jawabnya dengan huruf R yang belum jelas.

“Baiklah, tunggu disini, ne? Appa akan memesan.” Ji Ra mengangguk.

Kurang lebih 6 menit mengantri, aku kembali dengan nampan berisi sandwich, pancake, dan 2 gelas jus jeruk. Di tempat duduk, aku melihat Ji Ra sedang bersenda gurau dengan seorang yeoja yang usianya kurasa lebih muda beberapa tahun dariku.

“Ji Ra tampan sekali.” Ujar yeoja itu sambil mencubit gemas pipi Ji Ra. Lalu pandangan kami bertemu, aku tersenyum ke arah yeoja itu dan dibalas senyuman olehnya.

“Nah, Ji Ra-ya, sekarang waktunya makan.” Ujarku.

“Tapi Ji Ra masih mau main.” Jawab Ji Ra dengan wajah memelas.

“Lain kali kalau kita bertemu, imo akan mengajak Ji Ra bermain, arrachi?”

“Yaksok?”

“Nde, yaksok. Sekarang makan makananmu dan tumbuh besar, ne? Phy.” Ujar yeoja itu, dia mencium sekilas pipi Ji Ra lalu membungkukkan badannya ke arahku. Kemudian dia berlalu meninggalkan cafe ini.

“Yeppo.” Ujar Ji Ra.

“Nde? Yeppo?” Ulangku, Ji Ra mengangguk.

“Nde. Imo tadi memang cantik.” Ujarku, “Nah, sekarang makan dan cepat tumbuh besar, seperti yeppeun imo tadi katakan, ne?” Ji Ra lalu mengangguk dan mulai memakan sandwich-nya yang sudah kupotong kecil.

Sudah 3 hari Ji Ra bersamaku, jujur terkadang aku memang lelah menjaganya. Namun bersama Ji Ra membuatku merasakan hal yang lain, membuatku merasa layaknya seorang ayah yang menjaga anaknya. Dan sekarang aku dan Ji Ra sudah sampai di pusat perbelanjaan di sekitar Sinsadong, aku harus membeli popok Ji Ra yang sudah habis.

“Aish, apa beda ini dan ini?” Aku mengamati 2 bungkus popok yang ada di tanganku.

“Kenapa ponsel Noona justru tak aktif disaat seperti ini?” Aku kembali memasukkan ponselku ke dalam saku.

“Ji Ra-ya, menurutmu mana yang paling bagus?” Tanyaku sambil menunjukkan 2 bungkus popok tersebut ke hadapan Ji Ra yang terus memandangiku.

3

“Kalau kau pilih ini kita beli ini.” Ujarku, Ji Ra masih menimbang-nimbang.

“Aku pilih yang ini.” Tiba-tiba suara yeoja mengejutkanku dari belakang.

“Ji Ra, annyeong!” Sapanya pada Ji Ra sambil tersenyum.

“Imo!” Pekik Ji Ra dari dalam trolley.

“Apa kemarin kau menghabiskan makanmu?” Tanya yeoja itu dan dibalas anggukan oleh Ji Ra.

“Pintarnya.” Dia lalu mencium pipi Ji Ra.

Aku menatap yeoja itu dengan seksama, tampaknya yeoja ini merupakan kalangan atas. Kelihatan dari merk pakaiannya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Cantik? Ya, Ji Ra benar. Yeoja ini memang cantik dengan rambut kecoklatannya.

“Chogiyo.” Yeoja itu membuyarkan lamunanku.

“Ne?” Sahutku.

“Kemarin aku berjanji akan main bersama Ji Ra kalau bertemu lagi. Apa kau keberatan kalau aku ikut berbelanja denganmu?” Tanya yeoja itu hati-hati.

“Appa, jebal.” Ujar Ji Ra dengan tampang memelasnya.

“Tak apa. Aku senang ada teman berbicara.” Jawabku.

Yeoja itu selalu bercanda dengan Ji Ra, dan kelihatan dari wajahnya dia benar-benar senang melakukannya. Begitu pula dengan Ji Ra yang senang dengan keberadaan yeppeun imo-nya. Dan aku yang memperhatikan tindakan mereka berdua ikut senang, baik Ji Ra maupun yeoja itu tertawa lepas hanya karena hal sederhana.

“Kamsahamnida.” Ujarku saat kami sampai di sebuah restoran.

“Ah, ne.” Jawabnya sambil tersenyum.

“Karena kau suasana belanja menjadi ramai.”

“Ne. Aku senang kalau Ji Ra senang.” Ujarnya.

“Siapa namamu?” Tanyaku.

“Ne? Nama?”

“Eung! Tidak mungkin kau tak punya namakan?”

“Ah, nd..nde. Cho..Choi Soo…young im..nida.”

“Cho Kyuhyun imnida.” Lalu pelayan datang mengantarkan pesanan kami.

“Kau tinggal di daerah sini?” Tanyaku lagi.

“Ne, hotelku di dekat sini.”

“Jadi kau tidak menetap di daerah ini?”

“Ne, lebih tepatnya aku tak menetap di negara ini.” Jawabnya, “Mari makan. Sayang sekali Ji Ra tidak bisa ikut makan.” Lanjutnya sambil menatap Ji Ra yang tertidur.

“Ne. Dia pasti akan marah kalau saat bangun tidak bertemu yeppeun imo-nya.”

“Ne? Yeppeun imo?”

“Ah, dia menamaimu seperti itu.” Jawabku. Dia mengangguk lalu mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya.

“Sekali lagi terima kasih makanannya, Kyuhyun-ssi.” Ucapnya saat kami sudah berada di luar restoran.

“Ne cheonma.” Jawabku, “Tak usah sungkan-sungkan.” Ujarku.

“Ah, ne. Sampaikan salamku saat Ji Ra bangun. Bilang padanya kalau bertemu kembali aku akan mengajaknya bermain.” Ujarnya.

“Ne, akan kusampaikan.”

“Hati-hati membawa mobil.” Pesannya.

“Aku tidak membawa mobil.”

“Tidak bisa atau tidak mau?”

“Tidak mau.”

“Ah, arraseo. Baiklah aku duluan, Kyuhyun-ssi.” Dia lalu pergi setelah mengecup kening Ji Ra yang tertidur di gendonganku.

“Sooyoung-ssi!” Pekikku. Yeoja itu menoleh.

“Waeyo?” Tanyanya.

“Kalau kau merindukan Ji Ra,” Aku menggantungkan kalimatku, “Datanglah ke apartemenku di Garosu-gil Sinsadong.” Sooyoung tersenyum.

“Ne, aku akan datang.” Ujarnya. Lalu dia melambaikan tangannya dan melanjutkan langkahnya.

TING…TONG…

“Appa! Bunyi…bel…bunyi.” Ujar Ji Ra sambil menarik-narik tubuhku.

“Arraseo.” Aku lalu menuju interkom untuk melihat siapa yang datang.

“Ji Ra, Annyeong!” Suara yeoja itu langsung terdengar, membuat Ji Ra berbinar-binar.

“Imo!” Pekiknya.

tumblr_m527kopSt91rvf510o3_500

“Appa, buka pintu untuk Imo. Ayo.” Ujarnya sambil menarik-narikku.

Lalu kubuka pintu tersebut, yeoja itu lalu masuk dan memeluk Ji Ra.

“Bogoshippeo, Imo.” Ujar Ji Ra dalam pelukannya.

“Nado, Ji Ra-ya.” Balas Sooyoung, “Lihat ini. Imo membelikan Ji Ra mainan baru.” Dia menunjukkan plastik besar berisi lego.

box

“Appa! Mainan baru.” Ujarnya padaku.

“Ne, mainlah di dalam.” Jawabku, Sooyoung lalu masuk dengan cara ditarik-tarik oleh Ji Ra.

“Mau minum apa?” Tanyaku.

“Apa saja.” Jawabnya.

Kini Sooyoung dan Ji Ra sudah duduk manis di ruang tengah lengkap dengan lego yang sudah keluar dari kotaknya. Nampaknya mereka sedang menyusun lego itu, Ji Ra yang dasarnya memang pintar justru senang dengan mainan yang membutuhkan kreatifitas itu.

“Ini.” Ujarku sambil menyodorkan gelas berisi lemonade.

“Ah, ne. Kamsahamnida.” Ujarnya sambil mengambil alih gelas tersebut.

“Kau…bisa bermain piano?” Tanya Sooyoung padaku. Sepertinya mata bulatnya itu menangkap piano putih yang berada di sudut ruangan.

YamahaGC1WhiteBabyGrand

“Tidak.” Jawabku.

“Tidak? Lalu kenapa ada piano disini?”

“Ntahlah. Aku hanya senang piano itu ada disini.”

“Boleh aku…memainkannya?”

“Tentu.”

Sooyoung melangkahkan kaki jenjangnya ke arah piano tersebut. Lalu dia mulai memainkannya dan mengeluarkan melodi nan indah. Aku tertegun mendengar permainannya, boleh dibilang dia cukup handal dalam bidang ini. Lagu yang ia mainkan, rasanya seperti lagu sedih yang sering aku dengar.

“Imo, ajari aku.” Ujar Ji Ra yang ternyata sudah berada di dekat Sooyoung.

“Kemari.” Sooyoung mengangkat tubuh Ji Ra untuk duduk di pangkuannya.

“Ji Ra sudah tidur?” Tanyaku pada Sooyoung yang baru keluar dari kamar Ji Ra.

“Ne. Sebaiknya aku pulang sekarang.” Ujarnya.

“Duduklah dulu, setidaknya temani aku mengobrol sebentar.” Dia tampak menimbang-nimbang, namun akhirnya dia duduk di hadapanku.

“Jadi sampai kapan kau disini?” Tanyaku.

“Molla, mungkin sampai aku puas.”

“Ah, ne.”

“Aku benar-benar menyukai Ji Ra.” Ujarnya.

“Dia memang menggemaskan.”

“Seperti apa ibunya?”

“Ibunya? Cantik.”

“Pantas saja Ji Ra memiliki wajah yang sempurna. Kau tampan, dan Ibu Ji Ra cantik.”

“Aku tampan?”

“Kau memang tidak jelek.”

“Kamsahamnida, aku anggap itu pujian.” Ujarku, “Tapi aku bukan ayah Ji Ra.”

“Ne?”

“Ji Ra itu keponakanku.”

“Jinjja? Kenapa tidak memberitahuku?”

“Kau tidak bertanya.”

“Benar juga. Lalu dimana anakmu?” Tanyanya.

“Anakku? Aku belum menikah.” Sooyoung terdiam.

“Kau sendiri?”

“Aku sudah menikah dan dikaruniai seorang anak.” Jawabnya, dan entah kenapa itu membuatku sesak.

“Bagaimana wajah anakmu?” Tanyaku.

“Anakku sudah meninggal.”

“Aku…minta maaf. Aku tidak bermaksud-”

“Gwenchanna. Lagipula itu sudah lumayan lama.” Dia tersenyum samar, “Kalau anakku masih hidup, mungkin dia sebesar Ji Ra.”

“Lalu bagaimana suamimu?”

“Suamiku meninggalkanku.” Dia menghela nafas panjang, “Hidupku menyedihkan.”

“Kau…tak berniat mencari pengganti?”

“Sebaiknya aku pulang sekarang, Kyuhyun-ssi.” Pamitnya.

“Ah, ne. Ayo aku antar.”

“Datanglah kalau kau ingin datang lagi.” Ujarku saat kami sudah berada di luar apartemen.

“Bolehkah?” Tanyanya dengan mata berbinar.

“Ne. Lagipula apartemen selalu sepi.”

“Arraseo, sampaikan salamku untuk Ji Ra, ne? Na ganda.” Dia lalu melangkahkan kakinya ke parkiran mobil.

Sudah 6 hari Ji Ra menginap di apartemenku, dan genap 3 hari yeoja bernama Choi Sooyoung itu bertandang kemari. Setiap hari ia selalu datang pukul 9 dengan mainan baru yang ia bawa, lalu ia akan pulang jam 5 sore saat Ji Ra sudah tidur. Aku tidak menyangkal bahwa aku mulai menyukai perangai ramah dan cerianya.

“Besok hari terakhir Ji Ra disini.” Ujarku.

“Jinjjayo? Aku akan merindukannya.”

“Apa…kau akan tetap datang kemari walau Ji Ra tidak ada?” Tanyaku. Sedetik kemudian aku menyadari betapa bodohnya pertanyaanku.

“Tentu saja tidak. Tapi kita bisa bertemu di cafe dekat sini kalau kau mau.” Jawabannya itu sukses membuat senyumku mengembang.

“Sooyoung-ssi.”

“Nde?”

“Bisakah kau memainkan piano itu lagi?”

“Tentu saja.”

Dia lalu melangkah menuju piano tersebut denganku yang menyusulnya dari belakang.

“Piano ini…seolah memiliki banyak kenangan.” Ujarku.

“Ne. Aku bisa merasakannya.”

Lalu Sooyoung mulai memainkan jemari lentiknya di atas tuts piano, membuat alunan melodi indah yang akan membuat semua orang berdecak kagum. Dan tanpa terasa setetes air mataku jatuh begitu saja, lagu ini benar-benar menyiratkan kesedihan.

“Lagu itu-”

“Menyedihkan.” Potongnya, “Terlalu menyedihkan.”

TING…TONG…

“Sepertinya ada tamu. Tunggu sebentar.” Ujarku, Sooyoung mengangguk dan jemarinya kembali bermain.

Aku melangkahkan kakiku menuju pintu depan sambil menerka-nerka siapa yang datang bertamu. Mengingat aku bukan tipikal namja yang memiliki banyak teman, dan hal tersebut meminimalisir kemungkinan datangnya tamu kemari. Setelah membuka pintu, kini mataku membulat. Aku agak terkejut dengan kedatangan yeoja ini.

“Noo…noona.” Ucapku.

“Kau terkejut sekali.” Ledeknya, “Aku pulang cepat karena merindukan Ji Ra. Apa…tunggu, apa itu suara piano?” Noona mulai masuk.

“Ne. Aku kedatangan seorang tamu.” Ujarku.

Lalu dengan cepat Noona melangkahkan kakinya ke ruang tengah yang menjadi tempat piano itu bersemayam. Dan tiba-tiba dentingan piano itu berhenti.

“Ann…Annyeonghaseyo.” Ujar Sooyoung sambil membungkukkan badannya ke arah Noona.

“Kyuhyun-ssi, sepertinya aku harus pulang sekarang. Sampaikan salamku pada Ji Ra saat dia bangun.” Sooyoung langsung mengambil tasnya.

“Biar aku antar.” Ujarku.

“Tidak usah. Aku…bisa sendiri.” Dan dia pergi keluar dari apartemenku.

“Noona! Mau kemana?” Tanyaku yang melihat Noona berjalan keluar.

“Oleh-oleh tertinggal di mobil. Tunggu sebentar.” Ujar Noona. Aku mengangguk lalu membereskan gelas dan makanan ringan yang tadi aku dan Sooyoung santap.

“Ah, ini bukannya punya Sooyoung-ssi?” Aku memandang sapu tangan yang terselip di bantal sofa.

“Sebaiknya aku antar. Kurasa dia belum jauh.” Aku lalu melangkah meninggalkan apartemenku.

Beruntung aku hanya tinggal di lantai 6, membuatku tak usah menunggu lama di dalam lift. Saat menunjukkan huruf G, pintu lift berdenting dan dengan cepat aku melangkahkan kakiku keluar. Aku menolehkan kepalaku kesana-kemari mencoba mencari keberadaan Sooyoung-ssi, dan ternyata dia sedang di lobby bersama…Noona?

Aku menyembunyikan badanku, namun mataku terus menatap ke arah Sooyoung-ssi dan Noona yang sedang bicara. Apa Noona dan Sooyoung-ssi saling kenal? Lalu Sooyoung-ssi membungkukkan badannya dan melangkah keluar dari apartemen, begitu juga dengan Noona. Aku kembali masuk ke dalam lift, aku rasa aku akan mengembalikan ini kepada Sooyoung-ssi lain kali.

“Cha~ Ini untukmu.” Noona memberikan sebuah paperbag kepadaku.

“Igeo mwoya?” Tanyaku.

“Baju.” Jawab Noona.

“Apa Noona mengenal Sooyoung-ssi?” Tanyaku.

“Tidak.” Jawab Noona.

“Jinjjayo? Aku kira kalian saling mengenal.”

“Memangnya kenapa?”

“Tidak ada. Aku ingin minta nomor ponselnya pada Noona.”

“Sejak kapan kau mengenal yeoja itu?”

“Baru. Aku rasa seminggu terakhir. Yeoja itu sangat menarik.”

“Apa kau menyukainya?”

“Kenapa tiba-tiba Noona bertanya seperti itu?”

“Karena baru kali ini kau mengajak seorang yeoja datang kemari.”

“Benar juga.”

“Geuraeseo?”

“Geuraeseo mwo?”

“Kau menyukai yeoja itu?”

“Molla.”

“Tidak boleh.” Tiba-tiba Noona membanting cangkirnya, “Kau tidak boleh menyukai yeoja itu.”

“Waeyo?”

“Pokoknya tidak boleh.”

“Waeyo, Noona?”

“Anggap saja yeoja itu tidak baik untukmu.” Lalu Noona berjalan menuju kamar Ji Ra.

“Jangan sekali-kali menaruh perasaan terhadap yeoja itu. Na ganda.” Noona lalu pergi sambil menggendong Ji Ra yang masih tertidur.

Aku mendudukkan tubuhku di sofa, Noona tidak biasanya seperti ini. Seposesifnya Noona, dia tidak pernah ikut campur dalam masalah percintaanku. Tapi kali ini Noona berbeda, membuatku penasaran dari biasanya. Sebenarnya apa hubungan Noona dan Sooyoung-ssi? Apa mereka musuh saat di sekolah dulu?

Pagi ini aku berencana makan di cafe tempatku makan bersama Ji Ra waktu itu. Sudah 4 hari Ji Ra meninggalkan apartemen ini, dan 4 hari juga aku tak bertemu Sooyoung-ssi. Merindukannya? Tentu saja, bukankah aku sudah bilang bahwa aku menaruh perasaan untuknya? Walau Noona melarangku, aku tidak bisa berbohong kalau aku menyukai yeoja itu.

Dan sekarang takdir layaknya berada dipihakku, yeoja itu berada di cafe ini. Dia duduk di meja sudut sendirian, di mejanya hanya ada sisa pancake dan jus jeruk. Aku melangkahkan kakiku ke arahnya, tampaknya Sooyoung-ssi sedang melamun karena pandangannya kosong ke arah jendela cafe.

“Annyeonghaseyo, Sooyoung-ssi.” Sapaku, dia terkejut namun akhirnya dia tersenyum.

“Annyeonghaseyo, Kyuhyun-ssi.” Jawabnya.

“Kau sendirian?” Tanyaku.

“Tidak. Sekarang aku berdua denganmu.”

“Ah, benar juga. Sudah lama tak bertemu.”

“Ne. Ji Ra apa kabar?”

“Baik. Sekarang dia bersama Ibunya.”

“Ah.”

“Aku ingin mengembalikan ini.” Ujarku sambil memberika sapu tangan miliknya.

“Ternyata tertinggal di tempatmu.”

“Bisakah kau beri upah untukku?”

“Upah?” Dia tertawa sejenak, “Kau mau upah apa?”

“Nomor ponselmu.” Dia lalu tersenyum.

“Berikan ponselmu.” Ujarnya, aku menurut dan memberikannya ponselku.

“Cha~” Dia mengembalikan ponselku, “Apa sekarang lunas?” Tanyanya.

“Ne.” Jawabku sambil tertawa, “Apa kabar?” Tanyaku.

“Harusnya kau menanyakan hal itu terlebih dahulu. Aku sehat, kau sendiri?”

“Tak buruk.” Jawabku, “Aku ingin sarapan.”

“Sarapan saja.” Ujarnya.

“Bisakah…kau tetap disini?” Dia tertawa lagi.

“Ne. Aku akan tetap disini.”

Dan benar saja, saat aku kembali Sooyoung-ssi masih disana sambil memainkan ponselnya.

“Kamsahamnida.” Ujarku.

“Untuk apa?”

“Karena kau mau menemaniku makan.”

“Tidak perlu sungkan. Lagipula aku tidak ada kerjaan hari ini.”

“Jinjjayo? Aku juga tidak ada.” Ujarku, “Mau berjalan bersama?”

“Apa kau selalu mengajak wanita yang baru kau kenal berkencan?”

“Petama, aku sudah lama mengenalmu. Kedua, kau terlalu percaya diri berkata aku mengajakmu berkencan, aku hanya ingin mengajakmu jalan-jalan.” Dia tertawa lagi.

“Geurae. Ayo kita jalan-jalan.” Jawabnya.

“Jadi apa pekerjaanmu?” Tanyaku. Kini kami berjalan-jalan di kawasan Sinsadong.

“Aku? Aku model, designer, aku memiliki banyak pekerjaan.” Jawabnya, “Kau sendiri?”

“Aku melanjutkan bisnis Abbeoji-ku.”

“Oh.”

“Berapa usiamu?”

“Menurutmu berapa?”

“Hmmm, 24?” Tebakku.

“Apa aku tampak semuda itu? 26 lebih tepatnya,” Ralatnya, “Kau sendiri? Berapa usiamu? 27 tahun?”

“Wah, kau benar.”

“Terlihat dari wajahmu.”

“Ya! Maksudmu aku terlihat tua, eoh?”

“Anniyo. Kau sendiri yang menyimpulkan hal tersebut.” Elaknya sambil tertawa.

“Di usiamu yang 26 tahun, kau tidak ingin menikah?” Tanyaku.

“Aku sudah pernah melakukannya sekali.”

“Aku tahu, maksudku kau tak ingin menikah lagi?”

“Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Karena umurmu sudah 26 tahun, umur dimana seorang yeoja harus menikah atau menjadi tidak laku lagi.”

“Kau mendoakanku menjadi tidak laku, eoh?”

“Anniyo. Kau sendiri yang menyimpulkan hal tersebut.”

“Oh, kau mau balas dendam?” Aku tertawa melihat raut wajahnya.

“Menikahlah.” Ujarku, kini nadaku berubah serius.

“Kenapa kau menyinggung pernikahan? Kau mau menjadi calonku?”

“Tak masalah.” Jawabku. Lalu keheningan terjadi.

“Kyuhyun-ah!” Suara tersebut membuatku dan Sooyoung menolehkan kepalaku ke belakang, ternyata Leeteuk-hyung.

“Eoh? Soo…Sooyoung. Tiba-tiba dia mematung menatap yeoja yang berdiri di sampingku.

“Wah, kau mengenalnya, hyung?” Tanyaku. Leeteuk-hyung hanya diam dan memandangi Sooyoung-ssi dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Dia model terkenal di Paris.” Jawabnya, “Aku penggemarmu!” Lanjutnya.

“Ah, ne. Kamsahamnida.” Ujar Sooyoung sambil membungkuk.

“Wah, ternyata aku berjalan-jalan dengan model terkenal?”

“Ppabo! Makanya TV-mu yang super tipis itu sekali-kali dihidupkan.”

“Cish, kau tahu itu bukan kebiasaanku.” Dengusku, “Ah, Sooyoung-ssi, ini Leeteuk sepupuku.” Ujarku. Sooyoung tersenyum ke arah Leeteuk, begitu juga sebaliknya.

“Sebaiknya aku pergi sekarang. Annyeong, Kyuhyun-ah.” Leeteuk-hyung menepuk bahuku, “Annyeong, Sooyoung-ssi.” Dia lalu memeluk Sooyoung.

“Ya! Sudah lepaskan.” Ujarku karena mereka berpelukan hampir 10 detik.

“Cish. Na ganda.” Lalu Leeteuk-hyung berlalu bergitu saja.

“Maafkan perlakuannya, ne?” Ujarku pada Sooyoung-ssi, “Eoh? Kau menangis? Apa dia menyakitimu?” Tanyaku yang melihat matanya berair.

“Anniyo.” Ujarnya, “Debu. Mataku tak kuat terkena debu.” Lanjutnya sambil mengerjapkan matanya.

“Jangan dikucek.” Ujarku sambil menahan tangannya.

“Ne.” Jawabnya.

Hari itu benar-benar berjalan dengan baik, hampir seharian aku menghabiskan waktu dengan Sooyoung-ssi. Untungnya yeoja itu tak mengeluh sedikitpun dan tampak menikmati kencan kami hari ini. Tunggu, kencan? Bukan, ini hanya jalan-jalan.

“Kau darimana?” Tiba-tiba suara Noona mengejutkanku.

“Kamjaggiya! Bagaimana bisa Noona masuk, eoh?”

“Aku hapal kombinasimu.” Ujar Noona, “Katakan kau darimana.”

“Aku? Hanya berjalan-jalan.”

“Dengan siapa?” Tanya Noona lagi. Aku tak menjawab, “Dengan siapa?”

“Choi Sooyoung.” Jawabku.

“Kau ini sudah kuperingatkan! Jangan bergaul dengan yeoja itu!”

“Memangnya kenapa?”

“Tidak ada alasan. Aku hanya tidak suka dengan yeoja itu.”

“Noona, kau dulu tak melarangku dekat dengan siapa. Kenapa sekarang-”

“Sekarang itu berbeda. Kau mau mengencani 100 wanita di Seoul? Tak apa. Tapi tidak dengan yeoja itu.” Kini Noona keluar dari apartemenku.

Ada apa sebenarnya? Kenapa Noona begitu benci dengan Sooyoung-ssi? Apa mereka pernah saling mengenal? Aku mencoba mengingat-ngingat apa Noona pernah menyebutkan nama Sooyoung di daftar musuhnya, namun bukannya menemukan jawaban kepalaku malah sakit.

Sekitar pukul 8 malam, aku mencoba menghubungi Sooyoung-ssi. Banyak yang ingin kutanyakan padanya.

“Yeobseo?”

“Yeobseo, Sooyoung-ssi.”

“Ne, waeyo, Kyuhyun-ssi?”

“Kau tahu ini aku?”

“Tentu saja.”

“Bagaimana bisa?”

“Hanya menebak, aku yakin kau akan menghubungiku.”

“Cish, kau percaya diri sekali.”

“Nyatanya kau memang menghubungiku.”

“Aish, jinjja. Hmm, Sooyoung-ssi.”

“Waeyo?”

“Boleh aku tanya sesuatu?”

“Silahkan.”

“Apa kau mengenal Noona-ku?”

“Noona-mu? Anniyo, wae?”

“Molla, Noona sepertinya mengenalmu.”

“Jinjjayo?”

“Eung, Noona agak-”

“Membenciku?”

“Ne. Mianhamnida.”

“Eyyy, gwenchana. Kau tak perlu meminta maaf.”

Lalu obrolah kami terus berlanjut sampai pukul 1 tengah malam. Sebenarnya aku masih ingin melanjutkan obrolan ini, namun ini sudah terlalu malam dan Sooyoung juga butuh istirahat. Apa yang salah denganku kali ini? Mendengar suaranya membuatku senang dan mengakhiri panggilan ini juga terasa berat. Apa aku benar-benar menyukainya?

Tak tahu sudah berapa banyak hari yang aku dan Sooyoung lewati, frekuensi bertemu kami memang semakin bertambah semenjak kami bertukaran nomor ponsel. Sooyoung dan berkepribadiannya yang easy-going  membuatku nyaman di sekitarnya. Dan akibat bertambahnya frekuensi kami bertemu, aku semakin yakin bahwa aku menyukai yeoja ini.

“Kyuhyun-ah.” Panggilnya.

“Waeyo?”

“Ayo beli mainan untuk Ji Ra. Sudah lama sekali aku tak bertemu dengannya.”

“Kau mau menemuinya?”

“Tapi…kau tahu sendiri Noona-mu tidak menyukaiku.”

“Pertanyaanku hanya kau mau atau tidak menemuinya?”

“Mau!”

“Yasudah, selebihnya urusanku.”

“Jinjja? Kajja! Kita harus membeli mainan.” Lalu dia menarik tanganku masuk ke dalam toko mainan tersebut.

“Ini bagus, ini juga bagus.” Sooyoung tampak sibuk bergelut dengan pikirannya.

“Kau tak meminta pendapatku?”

“Tak perlu. Pendapatmu pasti tak jauh dari permainan seperti itu.” Dia menunjuk sebuah display yang berisi PSP.

“Darimana kau tahu?”

“Anggap saja kau terlalu gampang ditebak.”

“Memang mainan jenis apa yang ingin kau beri pada Ji Ra?”

“Mainan yang bisa meningkatkan kecerdasannya.”

“Memangnya bermain PSP tidak bisa cerdas?”

“Cish, aku tahu kau cerdas hanya karena PSP, jadi tolong diam dan biarkan aku memilih mainan disini.”

“Menurutmu aku cerdas?”

“Kalau kau tak mau diam tunggu di luar saja.”

“Shirreo. Aku ingin bersamamu.”

“Kalau begitu diamlah.”

Akhirnya Sooyoung hanyut dalam toko mainan ini, membiarkanku berkeliling sendiri. Toko mainan ini luas dan lengkap, aku rasa saat aku punya anak nanti aku harus sering mengajaknya kemari. Lalu mataku tertuju pada sebuah robot yang tersusun rapi di rak paling bawah. Aku berjongkok dan memandangi robot tersebut.

TFCF4-14

“Sedang apa?” Tanya Sooyoung yang ternyata sudah ikut berjongkok denganku.

“Robot ini bagus.”

“Benarkah?”

“Eung!”

“Kau menyukainya?”

“Tak buruk.”

“Kau ingin aku membelikannya untukmu?” Sooyoung terkekeh.

“Cish,” Dengusku, “Kau sudah menemukan yang kau mau?”

“Eung! TADAA!” Dia menunjukkan boks berisi puzzle 3D.

cubicfun

“Baiklah, kajja. Aku sudah lapar.” Ujarku sambil menarik tangannya.

“Eung!”

Besoknya, sesuai janjiku. Aku akan mengajaknya bertemu Ji Ra. Bahkan pagi ini aku sudah bangun dan bersiap-siap ke apartemen Noona, mengingat jarak apartemen Noona dengan apartemenku cukup jauh dan aku harus mengejar bus. Aku tidak suka naik mobil atau taksi, ntah mengapa aku memiliki trauma menaiki kendaran roda 4 tersebut.

Sepanjang perjalanan aku memikirkan apa yang harus aku katakan pada Noona nanti, aku tahu Noona pasti akan bertanya-tanya mengapa aku mau mengajak Ji Ra untuk menginap. Karena biasanya aku akan menolak mentah-mentah jika Noona ingin menitipkan Ji Ra untuk setengah hari saja, namun kini aku justru meminta Ji Ra untuk menginap di apartemenku.

“Siapa di luar?” Tanya Noona dari interkom.

“Jangan pura-pura tidak tahu.”

“Oh, ternyata dongsaeng-ku yang tampan.”

“Cepat buka.”

“Apa kata sandi-nya?”

“Noona cantik.”

“Gacha!”

KLIK! Lalu pintu itu terbuka.

“Aku benar-benar menyesal mengatakan hal tersebut.” Ujarku pada Noona saat aku sudah menapakkan kakiku di ruangan yang luas dengan design minimalis ini.

“Ya! Kau itu dongsaeng yang tak bisa membuat Noona-nya senang!” Balas Noona sambil memukul lenganku.

“Apa itu Appa?” Tiba-tiba Ji Ra muncul masih dengan badan basah yang penuh busa.

“Ya! Han Ji Ra! Siapa yang menyuruhmu keluar dari bathtub, eoh? Dan lagi kau bisa terpeleset!” Noona langsung menggendong tubuh Ji Ra yang basah itu.

“Ji Ra rindu Appa.” Ujar Ji Ra.

“Biar aku yang memandikannya, Noona.” Ujarku, lalu mengambil alih Ji Ra dari gendongannya.

“Jadi kenapa kau datang ke apartemenku pagi-pagi?” Tanya Noona sambil memasak. Kini aku dan Ji Ra sudah duduk manis di meja makan.

“Aku ingin bertemu Ji Ra.” Jawabku.

“Appa rindu Ji Ra?”

“Ne. Neomu bogoshippeo.”

“Nado.” Balas Ji Ra.

“Cha~” Noona lalu menaruh sepiring yolk beserta sosis dan kentang di hadapanku dan sepiring roti isi untuk Ji Ra.

“Apa tidak sepi?” Tanyaku di sela-sela makan.

“Apanya?”

“Disini. Apa tidak sepi?”

“Tidak, Ji Ra terkadang ribut.”

Suami Noona memang sudah meninggal, aku tidak ingat jelas kejadiannya, namun setahuku suami Noona itu tentara dan harus meninggal saat Noona hamil Ji Ra.

“Noona, apa tidak ada yang ingin kau lakukan hari ini?” Tanyaku. Mulai meluncurkan aksi.

“Tidak.”

“Benarkah? Coba Noona fikirkan.”

“Tidak ada, memang kenapa?”

“Aku ingin mengajak Ji Ra-”

RING…RING! Tiba-tiba ponsel Noona berbunyi, membuat Noona mau tak mau meninggalkan meja makan untuk meraih benda tipis tersebut. Tak lama setelah itu kembali, wajahnya tampak…bingung?

“Kyuhyun-ah. Maukah kau menjaga Ji Ra untuk 3 hari ke depan? Ada yang harus Noona urus.” Mendengar penuturan tersebut tentu saja mataku berbinar-binar.

“Baiklah. Tak usah khawatir.”

“Ck. Apalagi masalah disana?” Noona berbicara sendiri lalu melangkah menuju kamarnya kembali.

“Ji Ra-ya. Kau mau tidur di tempat Appa?”

“Eung! Apa ada Imo?”

“Sssttt! Jangan sebut nama Imo di depan Eomma!” Ujarku sambil meletakkan telunjuk di depan bibirku. Ji Ra mengangguk lalu ikut meletakkan telunjuknya di depan bibir mungilnya.

Sementara kami makan, Noona sibuk merapikan perlengkapannya di kamar. Bahkan sesekali aku mendengar Noona mengumpat kasar, sepertinya kantor redaksi majalahnya membuat kesalahan lagi.

tumblr_lhsnglaEhR1qctfhvo1_500

“Ji Ra-ya, baik-baik dengan Appa, ne?” Ujar Noona sebelum kami meninggalkan apartemennya.

“Eung!” Jawab Ji Ra.

“Jangan merepotkan.”

“Eung!”

“Annyeong, Noona. Hati-hati dan jaga kesehatanmu.”

“Eung, kau juga.”

“Kajja Ji Ra-ya!” Aku mulai menarik perlahan tangan namja mungil ini.

Sampai di luar apartemen, aku merogoh sakuku dan mencari nomor Sooyoung disana. Tak sampai 10 detik panggilan yang kulakukan sudah dijawab.

“Tebak siapa yang sedang bersamaku.”

“Apa itu Ji Ra?”

“Eung! Kenapa kau pintar sekali?”

“Ji Ra-ya!” Aku memberikan ponsel itu pada Ji Ra.

“Ini Imo, kau merindukannya bukan?” Mendengar kata Imo, Ji Ra langsug menempelkan ponselku ke telinganya.

“Imo!” Pekiknya.

“….”

“Eung!”

“….”

“Jinjja?”

“….”

“Ne.”

“Sudah?” Tanyaku. Lalu Ji Ra mengembalikan ponselnya padaku.

“Kau bersiap-siaplah.”

“Eung! Aku akan sampai apartemenmu sebentar lagi.” Pip! Lalu sambungan tersebut selesai.

“Imo!” Pekik Ji Ra sambil berlari mendekati Sooyoung yang sudah berjongkok sambil membuka lebar kedua tangannya.

“Ji Ra-ya, bogoshippeo!”

“Nado, Imo.”

“Lihat ini! Imo belikan ini untuk Ji Ra.”

“Buka di dalam saja, ayo masuk.”

Di dalam, Ji Ra sudah larut dalam puzzle 3D-nya, sementara Sooyoung memainkan piano, dan aku mendengarkan dengan seksama. Lagu yang ia mainkan masih sama, lagu yang layaknya menggambarkan kesedihan.

“Sooyoung-ah, apa lagu yang kau mainkan?”

“Ini? Remember Me.”

“Apa kau yang membuatnya sendiri?”

“Tidak. Suamiku yang membuatkannya untukku.”

“Apa kau merindukannya?”

“Sangat. Lagu ini membuatku terus mengenangnya.” Sooyoung menghela nafas, “Dan semoga dia mengingatku.”  Lalu Sooyoung kembali memainkan jemarinya di atas tuts-tuts piano tersebut.

“Kau harus belajar bermain piano.” Ujarnya, “Untuk apa ada piano kalau tak dimainkan?”

“Ada kau yang memainkannya.”

“Memangnya aku akan terus disini dan memainkannya?” JEDAR! Bagai disambar petir, itulah perasaanku sekarang. Aku lupa kalau Sooyoung tak akan terus bersamaku. Aku lupa bahwa Sooyoung bahkan tak menetap di Korea. Kalimat Sooyoung barusan benar-benar menamparku.

“Jadi kau masih bergaul dengan yeoja ini?!” Noona membentakku lagi kali ini.

“Kau. Kau sudah kuperingatkan untuk menjauh dari dongsaeng-ku ini. Apa kau tak punya telinga, eoh?” Dan ya, yeoja ini—Sooyoung— ada disini bersamaku.

Sebenarnya Noona harusnya pulang besok, tapi sekarang dia justru sudah menapakkan kakinya di apartemenku tepat saat Sooyoung ada disini.

“Joesonghamnida.” Ujar Sooyoung.

“Aku tak perlu maafmu! Kau-”

“Noona! Jangan membentaknya!”

“Tak apa Kyuhyun-ah. Noona-mu berhak membenciku.” Sooyoung lalu berdiri dari duduknya, “Kalau Noona-mu ingin aku menjauhimu akan kulakukan. Jadi tolong berhenti mengurusi hidup Kyuhyun. Aku permisi.” Sooyoung lalu berjalan cepat keluar dari apartemenku.

“Kyu-”

“Diam.” Ujarku pada Noona dengan nada yang dingin.

“Noona melakukan ini karena Noona sayang padamu. Karena Noona ingin melindungimu.”

“Pergi. Aku ingin istirahat.”

“Kyuhyun-ah…”

“Sebelum aku yang pergi dari tempat ini.” Akhirnya Noona bangkit ke kamar dan membawa Ji Ra pergi bersamanya.

Aku masih tak mengerti dengan Noona. Apa yang salah dengannya? Apa dia memiliki dendam terhadap Sooyoung? Tapi kenapa keduanya menyangkal bahwa mereka saling kenal? Aku menghempaskan tubuhku ke kasur empuk ini, lalu meraih ponselku dan mencari nomor Sooyoung disana.

Namun bukan suaranya yang terdengar, justru suara operator yang mengatakan bahwa ponsel Sooyoung sedang tidak aktif. Apa yeoja itu marah? Andwae! Ini tidak boleh terjadi, aku juga merasa turut memegang andil dalam hal rumit ini.

Seminggu sudah aku tak menemui Noona, Ji Ra, maupun Sooyoung. Yeoja itu menghilang begitu saja. Ponselnya tak aktif dan aku juga tak menemukannya di tempat yang biasa kami kunjungi. Salahku tak meminta alamat hotelnya selama ini. Atau ternyata ia sudah kembali ke asalnya? Aish, kenapa aku menjadi sesak begini.

Aku memutuskan pergi sarapan di cafe yang biasa aku dan Sooyoung kunjungi. Berharap menemukan yeoja tinggi itu disana, walau selama 6 hari ini hasilnya nihil. Aku sama sekali tidak bisa menemukannya. Dan hari ini, sepertinya dewi fortuna sedang baik padaku, yeoja itu ada disana—menyantap pancake-nya beserta segelas jus jeruk.

“Kyu…Kyuhyun-ah.” Dia terkejut melihatku yang langsung duduk di hadapannya.

“Kemana saja kau selama ini?”

“Aku kira Noona-mu melarangmu untuk menemuiku.” Ujarnya.

“Aku kira aku tak peduli dengan larangannya.” Jawabku, lalu dia tersenyum lebar.

“Kenapa kau begitu ingin menemuiku?” Tanyanya. Aku gugup.

“Ntahlah, kau menarik.”

“Jinjjayo?”

“Aku ingin memesan. Tetaplah disana.” Dia terkekeh kecil.

“Ne. Aku akan menunggumu.”

Lalu aku kembali dengan nampan berisi sandwich. Lalu sambil sarapan aku maupun Sooyoung mengobrol ringan dengan berbagai topik. Lihat seperti apa aku merindukan yeoja ini, aku bahkan hampir lupa wajahnya, itu artinya aku harus sering menemuinya agar aku tak lupa dengan wajah bulatnya itu.

“Kenapa kau memandangiku seperti itu?”

“Agar aku tak lupa dengan wajahmu.”

“Sejak kapan kau pandai merayu?”

“Sejak bertemu denganmu.”

“Apa itu artinya aku pengaruh yang buruk?”

“Ya. Tidak.” Ujarku yang membuatnya mendengus kesal.

“Sooyoung-ah.”

“Wae?”

“Maukah kau bercerita sedikit tentang masa lalu pernikahanmu?”

“Kenapa tiba-tiba kau ingin tahu? Dan lagi, bukannya aku pernah memberitahumu?”

“Bukankah sudah kukatakan? Aku tak keberatan menjadi calonnya. Aku ingin mendengarnya sekali lagi.”

“Aish, jinjja.” Dia menghela nafas dalam, “Aku mengenalnya sejak aku masuk universitas. Namja itu memiliki pesona yang tak tertahankan, seluruh yeoja menginginkannya. Aku tidak termasuk yeoja fanatik tersebut, namun dia memilihku.”

“Lalu?”

“Lalu? Hmmm, kami terus dekat sejak saat itu. Dan tepat di hari kelulusannya dia melamarku. Lalu kami dikaruniai seorang putra. Namun kecelakaan merenggut nyawa putraku dan membuat suamiku meninggalkanku. Selesai.”

“Selesai? Begitu saja?”

“Kau mau aku lanjutkan dan melihatku menangis disini?”

“Aku tak ingin melihatmu menangis. Tapi jika kau tak menangis bagaimana caranya aku meminjamkan bahuku untukmu.”

“Berhenti menjadi perayu.”

“Cish, aku hanya ingin menghiburmu.”

“Ne. Gomawo.”

“Ayo berkencan.”

“Maksudmu jalan-jalan?”

“Kencan.”

“Geurae. Ayo kita kencan.”

Hubunganku dengan Sooyoung sekarang sangat tersembunyi. Aku tak pernah meminta Sooyoung datang lagi ke apartemenku, kami hanya akan bertemu di luar—bersama Ji Ra sekalipun. Hal ini kami lakukan mengingat Noona yang menentang kedekatan kami berdua, padahal aku dan Sooyoung tak ada hubungan apa-apa—setidaknya sampai detik ini karena malam nanti aku berencana melamarnya.

“Tumben sekali kau mengajakku bertemu di luar Sinsadong?” Suaranya dari seberang terdengar sedikit heran.

“Memangnya tidak boleh? Semua tempat di Sinsadong sudah kita datangi.”

“Yah, benar juga.”

“Jadi bagaimana? Kau mau?”

“Sejak kapan aku menolak?” Tawa khasnya terdengar.

“Baiklah malam ini aku jemput di hotelmu.”

“Jemput? Kau naik apa?”

“Aku…aku akan coba membawa mobil.”

“Ya! Andwae! Aku tak mau kalau kau tak yakin seperti itu. Sebaiknya kita bertemu ditujuan saja.”

“Padahal aku ingin mencoba romantis dengan cara menjemputmu.”

“Cish. Lupakan hal berbau romantis. Kenapa kau menjadi seperti anak remaja sekarang?”

“Ntahlah. Hanya saja aku ingin melakukannya.”

“Baiklah, lakukan hal romantis saat kita bertemu, ne?”

“Ne.”

“Baiklah aku akan siap-siap sekarang. Apa nama tempatnya?”

“Restoran Goraebul.”

“Restoran Goraebul?”

“Eung! Kau tak suka?” Hening terjadi, “Ya, Sooyoung-ah? Kau masih disitu?”

“Ah, ne.”

“Apa kau tak suka restoran itu?”

“Bukan begitu. Kau tahu Goraebul termasuk restoran mahal, dan aku rasa kau tak lupa porsi makanku juga tidak sedikit.”

“Kalau kau makan lebih banyak dari uangku sepertinya aku akan menggadaikanmu pada pihak restoran.”

“Cish. Baiklah aku siap-siap dulu, ne?”

“Ne. Dandan yang cantik.”

“Apa aku pernah tidak cantik?” Dia tertawa sekilas sebelum mematikan panggilan tersebut.

Jam menunjukkan pukul 19.50 KST saat Sooyoung menapakkan kaki jenjangnya di restoran mewah ini. Dengan pakaiannya yang sederhana namun menawan, ia melangkahkan kakinya ke arahku dengan senyum lebar di wajahnya. Dia benar, dia tidak pernah tidak cantik.

Sooyoung-DKNY-SS-Fashion-Show-sooyoung-30083008-500-734

“Sudah lama?”

“Anniyo.”

“Kau sudah pesan?”

“Belum. Aku tak terlalu tahu apa yang menjadi favoritmu.”

“Aku tidak punya makanan favorit. Semua makanan enak bagiku.”

Lalu kami memesan makanan yang menjadi andalan di restoran bintang lima ini. Selama menunggu pesanan, aku dan Sooyoung mengobrol banyak hal. Tak jarang ia tertawa karena yang aku ucapkan atau sebaliknya. Apa ini wajar? Aku bahkan ingin menikahi yeoja yang baru kukenal selama sebulan setengah.

“Mari makan.” Ujarnya saat para pelayan meletakkan piring-piring pesanan kami.

“Kau senang?”

“Tentu saja. Lihat seluruh makanan di depanmu. Apa kau tak senang?”

“Aku senang karena aku makan makanan ini bersamamu.” TUK! Sebuah pukulan ringan mendarat di kepalaku.

“Berhenti jadi perayu.” Ujarnya.

“Kau malu? Wajahmu memerah.” Ledekku, namun dia tak menanggapiku dan langsung melahap makanan yang ada di depannya.

Goraebul_feast-575x262

Acara makan ini tak berlangsung hening, kami masih mengobrol dengan berbagai topik yang aku atau Sooyoung bicarakan. Dan jujur saja, semakin dekat dengan waktu pelamaranku, semakin kencang pula jantungku berdegup. Astaga, aku ini kenapa?

“Cho Kyuhyun!” Tiba-tiba bentakan tersebut terdengar, membuat aku dan Sooyoung menolehkan kepala kami ke arah sumber suara.

“Noo…Noona.”

“Jadi selama ini kau masih berhubungan dengan yeoja ini, eoh?” Suara Noona tidak keras, tapi sangat menusuk, “Kau ini selalu patuh padaku, tapi sekarang hanya karena yeoja ini kau membangkang. Dan kau! Aku yakin aku sudah memperingatimu sampai mulutku berbuih, tak bisakah kau meninggalkan adikku?”

“Ahra-ssi, aku-”

“Tak usah banyak bicara. Apa yang kau inginkan dari adikku, eoh? Uang? Memangnya pekerjaan modelmu tidak memberimu banyak uang? Atau-”

“Noona!” Bentakku yang membuat Noona diam, “Ini hidupku. Ini cintaku. Jadi aku mohon jangan mengaturku lagi. Aku bebas memilih kemana aku ingin melangkah dan kepada siapa cintaku ini berlabuh. Kau menentangku? Silahkan. Aku yakin kalau Eomma dan Abbeoji masih hidup mereka tak akan menghalangiku mendapatkan cinta yang kumau.”

“Jadi kau benar-benar menyukai yeoja ini, eoh?” Tanya Noona, matanya bahkan sudah berair.

“Aku bahkan mencintainya. Kebetulan Noona ada disini, aku rasa aku akan melakukannya sekarang.” Aku merogoh sakuku, mengeluarkan sebuah kotak berisi cincin di dalamnya.

tumblr_n8mv1uTIRT1tc3j70o1_500

“Jika cintaku adalah samudra, maka tak ada daratan lagi di bumi ini. Jika cintaku adalah gurun pasir, maka yang bisa kau lihat di dunia ini hanya pasir. Jika cintaku adalah bintang pada malam hari, maka langit malam tidak lagi berwarna hitam.” Aku menghela nafas panjang, “Dan jika cintaku bisa menumbuhkan sayap, aku sudah terbang menjulang tinggi. Maukah kau menikah denganku?”

Dan tepat setelah aku mengatakan hal tersebut, dua yeoja yang sangat penting di dalam hidupku ini hanya diam. Tak ada satupun dari mereka yang mengeluarkan suara, bahkan desahan nafas sekalipun.

“Kau…melamarnya?” Akhirnya Noona bersuara.

“Eung! Aku melamarnya.” Aku menatap Sooyoung yang masih diam tak percaya.

“Kau…benar-benar melamarnya?” Kini Noona menangis.

“Ya! Noona! Kenapa kau menangis, eoh?” Aku berdiri dari kursiku dan menatap Noona yang kini meneteskan air mata.

“Karena kau bodoh! Kau adikku yang paling bodoh!” Ujarnya sambil memukulku.

“Aku tidak bisa.” Tiba-tiba kata tersebut meluncur dari mulut Sooyoung, membuatku membeku tiba-tiba.

“Aku tidak bisa menikahimu. Mianhae.” Hatiku sakit mendengarnya, “Lebih baik aku pulang.” Dia lalu bangkit dari kursinya dan membungkuk ke arahku dan Noona. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti.

“Terima.” Ujar Noona yang ternyata menahan lengan Sooyoung, “Jangan membuatku semakin membencimu karena menolak perasaan adikku.” Lanjutnya, membuatku maupun Sooyoung terkejut.

“Aku…tak suka adikku menyukaimu. Tapi kalau adikku sudah menyayangi dan mencintaimu seperti ini, menolaknya akan membuatku semakin membencimu.”

“Noo…Noona.”

“Dan kau, jangan buat aku menyesali keputusanku memberi restu pada kalian berdua.” GRAB! Kupeluk tubuh Noona.

“Gomawo.” Ujarku.

“Tak usah berterima kasih padaku, terima kasih pada Tuhan. Karena setelah berputar jauh, akhirnya kau mendapatkannya.” Tutur Noona sambil menepuk punggungku.

“Dan kau Sooyoung-ssi. Aku rasa kau paham.” Kini Noona beralih memeluk Sooyoung, dan hal itu membuat Sooyoung menangis.

Dan kini suasana restoran ini menjadi sendu dan tentu sangat membahagiakan, aku memang tak mengerti kenapa Noona melarangku menyukai Sooyoung. Tapi yang terpenting Noona memberikan restunya padaku.

“Kau gugup?” Tanya Leeteuk-hyung.

“Eoh. Aku rasa aku akan pingsan.”

“Lucu.” Ujarnya.

“Apa?”

“Tak ada. Kau tampak gagah hari ini.”

“Jadi…coba ceritakan padaku bagaimana bisa kau menikah dengan yeoja yang baru kau kenal selama satu setengah bulan?”

“Ntahlah, hyung. Aku merasa sudah mengenalnya sejak lama.”

“Benarkah?”

“Eung! Bahkan dalam sekejap saja rasa sayangku padanya sudah begitu besar.”

“Berterima kasihlah kepada Tuhan. Karena setelah berputar jauh, akhirnya kau mendapatkannya.”

“Heol~ Perkataan hyung persis seperti Noona.”

“Memang hal itu yang pantas diucapkan.” Ucapnya, “Baiklah, ayo ke altar. Acara sudah akan di mulai.”

Lalu aku berjalan menuju tempat acara yang sekarang sudah dipenuhi beberapa teman Noona, teman Sooyoung, dan teman-teman lamaku. Aku benar-benar pikun sekarang, apa berada di rumah terlalu lama membuatku pikun? Aku bahkan lupa beberapa teman-temanku yang sekarang sudah ada disini.

Akhirnya setelah lama menunggu, yeoja cantik itu memasuki ruangan ini. Yeoja cantik dengan segala yang melekat di tubuhnya.

tumblr_lphe3vL6uq1qhnsg4o1_500 Long-Wavy-Wedding-Hairstyle-Ideas a57df507b5ef8bb6985eb279eea2f1d8tumblr_mopi76Ui1W1qzapjzo1_500

Dia berjalan dengan Leeteuk-hyung yang menjadi walinya, orang tua Sooyoung memang sudah meninggal saat ia masih sangat kecil. Dia berjalan perlahan dengan terus menggandeng Leeteuk-hyung, dan kini dia tepat di depanku. Dan tangannya kini berada di tanganku.

“AH!” Pekikku.

“Waeyo?” Leeteuk-hyung kemudian bangkit dari bangkunya.

“Anniyo, gwenchana. Kepalaku sedikit sakit.” Lalu Leeteuk-hyung kembali duduk.

“Gwenchanna?” Bisik Sooyoung.

“Eung. Sepertinya otakku berusaha mengingat sesuatu yang aku lupakan. Apa ada yang kulupakan tentang hari ini?” Tanyaku.

“Anni. Semuanya sudah tertata sempurna.” Jawab Sooyoung.

Lalu acara dilanjutkan dengan pembacaan sumpah setia yang dilakukan aku atau Sooyoung, kemudian aku menciumnya dengan lembut dan perlahan. Begitu juga dengannya yang membalas ciumanku dengan perlakuan yang sama.

“Gomawo.” Bisiknya, “Karena memilihku setelah semua yang terjadi.”

.

.

.

EPILOG

“Ya! Sooyoung-ah!” Pekik Ah Ra yang mengejar Sooyoung.

“Mianhae, eonnie.” Ujar Sooyoung sambil membungkuk.

“Kenapa kau kembali?” Nada bicara Ah Ra yang dingin benar-benar menusuk Sooyoung.

Bagaimana ia tak terkejut? Sepulang dari pekerjaannya di luar kota,ia melihat yeoja itu—Choi Sooyoung—setelah lama menghilang. Dan semakin terkejut saat menemukannya justru berada di apartemen adiknya—Cho Kyuhyun.

“Aku hanya rindu rumah.” Jawab Sooyoung.

“Aku tahu kau berbohong, Sooyoungie.”

“Aku-” Sooyoung menghela nafasnya, mencoba menahan air mata yang ingin keluar dari pelupuk matanya, “Aku merindukan suami dan anakku.” Lanjutnya.

“Bukankah sudah kukatakan untuk menjauh dari mereka berdua?”

“Aku merindukan mereka, eonnie.”

“Kau lupa statusmu hanya-”

“Arra. Keluarga Cho menginginkan anak dari rahimku saja, tapi aku tak bisa bohong bahwa aku mencintai suami dan anakku. Begitu juga sebaliknya.”

“Tapi itu dulu. Sebelum kecelakaan yang menimpa keluargaku.” Ujar Ahra, “Sebelum Kyuhyun hilang ingatan seperti saat ini. Kau kira dengan begini ia bisa mencintaimu kembali?”

Sooyoung terdiam. Dia ingat betul bagaimana berita duka tersebut sampai di telinganya, berita yang mengatakan bahwa mobil berisi keluarga Cho yang Kyuhyun kendarai mengalami kecelakaan. Waktu itu Sooyoung sedang berada di rumah sakit setelah proses bersalinnya, dan dia harus menahan rasa sakit karena diancam keluarga Cho untuk bercerai dengan Kyuhyun, sebab dia sudah melahirkan. Dan berita tersebut menambah rasa sakitnya, mertuanya, suaminya, dan anaknya berada di dalam mobil tersebut. Beruntung ternyata anak beserta suaminya tersebut masih hidup. Walau suaminya harus terkena amnesia.

“Tapi-”

“Tinggalkan Kyuhyun. Kau tau bagaimana ia menderita karena mempertahankanmu dulu.”

“Tapi eonnie, aku tak bisa bohong bahwa aku mencintainya. Aku ingin bersamanya.”

“Keluargaku sudah memberikan semuanya padamu.”

“Akan kukembalikan. Tapi kumohon, biarkan aku kembali bersama suami dan anakku.”

“Apa kau ingin membuat Kyuhyun menderita lagi? Kau tahu sebagaimana Eomma dan Appa-ku begitu membencimu.”

“Arra, eonnie. Tapi-”

“Tidak ada tapi-tapian, Sooyoungie. Dan lagi, Ji Ra sekarang bukan anakmu, melainkan anakku. Aku sudah mengubah data kelahirannya.” Pedih, itulah yang Sooyoung rasakan sekarang, “Pulanglah. Dan jangan temui adikku maupun keponakanku lagi.” Sooyoung mengangguk lalu membungkukkan badannya, ia lalu melangkah meninggalkan apartemen yang dulu menjadi rumahnya beserta Cho Kyuhyun.

“Kenapa Tuhan tak membiarkanku hidup bahagia bersama semua orang yang kucintai? Eomma, Appa, Kyuhyun, dan Ji Ra. Semuanya ditarik jauh dari hidupku.” Batin Sooyoung sambil menyeka air matanya.

— THE END —

So? What do you think?

Tinggalkan komentar untuk FF ini, ne?

Terima kasih atas waktunya dan maaf kalau ada kata-kata yang typo, karena author juga manusia♥

wpid-picsart_14191629623681.jpg

16 thoughts on “[ONESHOT] Thing We Called Fate

  1. cho haneul(tia) March 21, 2015 / 11:39 AM

    Ohh jira itu anaknya sooyoung dan kyuhyun ??? Tapi kenapa mereka harus di pisahkan ??? masihhh bingung…sedangkan Epilognya malah membuatku semakin bingung… apakah tak ada sequel or after story untuk menjelaskan semuanya???

    kyuhyun amnesia…??? aduhh bingung…masalah apa yang melatari kedua orangtua kyuhyun tak menyukai sooyoung?

    • 캐롤라인 March 21, 2015 / 11:42 AM

      Hihihi, ada chingu. Tapi nggak sekarang😁

  2. Amel Ryriis March 21, 2015 / 1:57 PM

    Salah satu ff trkeren yg prnah aku baca, kata2nya dan alur crtnya aku suka, sulit ditebak krna tbakan awalku smuanya salah😀 keren thor, trnyata kyu sma soo udh mnikah, pntesan soo bnar smua tbakannya tntng kyu, trnyta eh trnyata emng mrk suami istri,😀
    tpi akunya pnsaran sma kyu,itu amnesianya slama-lmanya yah..

    sbnrnya aku sdh prnah bca ff ini,
    ff ini udh prnah dipost di KSI yah klw gk slah??😐 atau diwordpress lain😐 aku lpa soalnya😀 hehe

    Nice FF thor, I Like It😉

    • 캐롤라인 March 21, 2015 / 2:02 PM

      Kamsahaeyo chingu😂😂😂
      Aku post di wp pribadiku,hihi.
      Ditunggu seq.nya~~

  3. Risqi March 22, 2015 / 3:22 PM

    ff nya kerenn banget! bikin terharu bacanya. ternyata kyuyoung dulu udah pernah nikah dan punya anak jira. tapi sayang kyuhyun terkena amnesia & status jira juga udah diubah jd anaknya ahra. aku penasaran nih kenapa dulu keluarga cho sangat membenci sooyoung & mereka hanya menginginkan anaknya sooyoung. kasihan banget sooyoung menderita kayak gitu. emang apa salahnya soo coba? buat sequel nya donk..

    • 캐롤라인 March 22, 2015 / 3:27 PM

      Kamsahaeyo chingu! Seneng kalo feelnya bisa dapet.
      Insyaallah bakal ada sequelnya. Tapi nggak sekarang,hihi😊

  4. jeni March 22, 2015 / 9:18 PM

    aduuh sedih banget jadi sooyoungnya, endingnya kurang memuaskan tuh chinguuu heheh keep write yaaa

  5. nahlasone March 26, 2015 / 4:59 PM

    keren banget, thor. Keep writing, ditunggu sequelnya ^^

  6. Sayekti March 28, 2015 / 4:46 PM

    Wah sequel juseyo chingu-ya. Masih penasaran nie ama peristiwa yang terjadi dimasa lalu.

  7. epanda March 31, 2015 / 6:21 PM

    jadi ji ra anak kandung soo? kyu amnesia? tqpi yg namanya jodoh ya tetep aja ketemu hehe
    as dongsssss
    keren!!!

  8. alies April 4, 2015 / 7:19 PM

    Keren banget…

  9. Isma KSY April 18, 2015 / 6:26 PM

    ah.. jadi gitu, aku kira leeteuk oppa mantan suami soo eon.. ternyata eh.. ternyata..
    suka sekali ceritanya..
    ditunggu cerita KyuYoung yang lainnya, ehehe

  10. kyura September 1, 2016 / 10:33 AM

    Nice ff..
    Tdi waktu baca aku baberapa kali nebak” gitu dan semua yang udah ku tebak salah,, aku suka ff mu thor,, keren feel’y dapat, dan satu lagi ff’y gak bisa ketebak jalan critanya..

    Cuman masih gantung aja kenapa kluarga si kyu gak suka ama si soo..
    Ditunggu ff kyuyoung lain’y dari kamu 😊

  11. lala September 2, 2016 / 1:38 PM

    Ini keren demi gaun cantik sooyoung
    Wow bangetlah
    Sequel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s