Just Loving You (Chapter 2)

image

Title :
Just Loving You

Cats :
Choi Sooyoung & Xi Luhan

Other Cats :
Kwon Yuri, Byun Baekhyun, Park Chanyeol

Genre :
Romance

Raiting :
Pg-13

Author :
Nadya Choi

Poster :
FlameGoofy

Happy Reading!

.

“Apa tidak akan jadi masalah jika aku tinggal dirumah mu?”

Sooyoung menggigit jari manis  kanannya mata itu resah sambil menatap Luhan yang berada disebelahnya, khawatiran lebih jelas tergambar

“Memang apa yang kau khawatirkan?”

Luhan tersenyum ikut menoleh kearah Sooyoung. Matanya ikut bersitatap dengan gadis itu

“Orang tua mu”. Ucap Sooyoung. “Bukankah hal ini tidak wajar, jika seorang gadis tinggal dengan lelaki tanpa ikatan suami istri?. Apa kata orang tua mu nanti?”

“Jadi itu yang kau khawatirkan?”

Tanya Luhan, tangannya kemudian bergerak memencet tombol open pada lift didepannya. Beberapa seperkian detik kemudian pintu lift terbuka. Luhan lebih awal masuk sambil menyeret koper Sooyoung. Sebelum memencet tombol lantai yang akan ia tuju, Lelaki itu terlebih dulu memberi isyarat dengan sorotan mata agar Sooyoung mengeikuti hal serupa seperti dirinya.

“Hanya sebentarkan?, kurasa tidak apa-apa”

“Kau yakin?”

“Sedikit”

“Luhan!”

Sooyoung memukul keras bahu kiri Luhan. Jawaban lelaki itu dua kali lipat semakin membuatnya khawatir, bukan malah membuatnya merasa lega. Sooyoung kembali gelisah, jari manisnya kembali lagi ia gigit keras.

“Dengar”

Luhan menarik jari yang digigit oleh Sooyoung, kedua tangannya bergerak meremas pelan dua bahu gadis di depannya.

“Orang tua ku sangat jarang berkunjung kerumah ku, jikapun berkunjung Ibu ataupun ayah akan lebih dulu mengabarinya. Jadi, kau tak perlu khawatir”

Luhan kembali tersenyum sambil menagacak pelan rambut Sooyoung. Kedua mata Gadis itu mengerjap lucu sebagai respon dari tindakan Luhan. Tak lama kemudian Sooyoung langsung memeluk Luhan dengan erat, sambil memekik kata terimakasih tepat disamping telinga kanan Luhan.

Ting!

Pintu lift terbuka, Luhan gelabakan dibuatnya.

“Bisa tolong kau lepas, Soo?. Pintu lift telah terbuka, kau masih ingin tetap disini?”

“Ah… maaf”. Sooyoung melepaskan pelukannya. “Aku hanya terlalu senang”. Lanjutnya

“Aku maklumi”. Luhan tersenyum kemudian, ketika melihat Sooyoung yang menunduk malu. “Ayo!”

Luhan kembali lebih dulu memimpin jalan, membiarkan Sooyoung berada dibelakangnya. Kaki kanan pemuda itu lebih dulu berpijak, berbelok kearah kanan setelah keluar dari dalam lift, kemudian melangkah lurus.

Tap, tap, tap.

Suara hentakan langkah Luhan terdengar, seisi lorong hanya terdengar suara derap langkahnya.

Tapi…

Luhan mendadak berhenti, merasa ada hal yang kurang disekitarnya. Pemuda dikenal berwajah imut itu kemudian berbelok kebelakang.

Jauh disana, Sooyoung ternyata berbelok berlawanan arah dengannya. Entah, apa yang membuat gadis dengan tungkai tinggi itu tidak mengiringi langkahnya. Mungkin, karna sedari tadi gadis itu selalu menundukkan kepalanya sambil menangkup wajah dengan kedua tangan.

Luhan buru-buru berlari untuk menghampiri gadis bermarga Choi itu, untuk menghentikan langkah si gadis tersebut dari jalan yang salah.

“Sooyoung!”

Luhan mencegat tangan Sooyoung, memberhentikan langkahnya. Sooyoung tersentak, pikirannya yang barusan melayang entah kemana kini kembali seutuhnya. Ia mengerjap-ngerjap lucu kemudian mendongak menatap Luhan.

“Apa?”

“Sepertinya Kau salah jalan, nyonya Choi”

“Benarkah?”

Sooyoung menahan nafas ntuk beberapa saat sebelum menatap lurus kedepan. Dengan bodoh, gadis itu malah merutuki dirinya sendiri setelah mengetahui disana terletak kopernya berdiri. Sooyoung terkekeh menahan malu lalu bergumam maaf kearah Luhan

“Ayo”

Luhan mengenggam tangan kanan Sooyoung, tersenyum sebelum menariknya dengan lembut. Berjalan dengan santai seirama dengan hentakan jantungnya yang mulai berpompa meninggi. Sooyoung diam, memilih hanya mengekor, membiarkan Luhan memimpin jalan dengan tautan tangan mereka.

Tepat pada pintu dengan berlabel angka 0247 keduanya berhenti. Jemari Luhan yang semula menarik koper kemudian beralih menekan-nekan tombol password pintu apartement. Pintu terbuka dan Luhan lekas menengok kebelakang.

“Ayo masuk”

Luhan melepaskan genggamannya pada Sooyoung dengan lembut persis ketika ia menautkan tangannya barusan. Sooyoung terdiam menatap Luhan yang juga menatapnya.

Bahkan dengan sorotan mata Sooyoung tau, bahwa lelaki pemilik rumah itu menyuruhnya agar lebih dulu masuk. Sooyoung menggeleng, ada sesuatu yang membuatnya menolak untuk masuk lebih dulu.

“Kenapa?”

“Tuan rumah yang harus masuk lebih dulu, bukan tamu”. Luhan tertawa, hampir aja terbahak jika saja tidak sadar. Membuat Sooyoung yang kini menatapnya kebingungan setengah mati.

“Kau lucu sekali. Tapi baiklah”

Luhan hanya mangut-mangut sambil sesekali terkekeh lucu. Menuruti apa kata Sooyoung untuk masuk lebih dulu.

Untuk beberapa seperkian detik Luhan terdiam diambang pintu. Matanya melirik Sooyoung, memberi isyarat agar gadis dibelakangnnya itu mengikutinya

“Selamat datang!”

Errr, entahlah apa yang membuat Luhan berubah seperti ini. Sekalipun tamu bahkan teman terdekatnya pun, seorang Xi Luhan tidak pernah repot-repot untuk menjamu tamu. Hanya perlu tersenyum lalu berkata masuk, itu lebih dari cukup baginya. Tapi kali ini, entah gerangan berasal dari mana menghampirinya sehingga berbuat seperti ini.

“Terimakasih”

Sooyoung lalu tersenyum kemudian sibuk mengiring matanya menelusuri kesegala penjuru arah rumah Luhan. Luhan hanya bisa menggaruk tenguknya, merasa geli dengan perlakuannya barusan.

“Kau lapar?”. Suara aneh berasal dari sampingnya, Luhan terkekeh pelan setelah mendengar suara perut Sooyoung yang bebunyi.

“Ingin makan sesuatu?”

Sooyoung buru-buru mendekap perutnya yang berbunyi. Perutnya yang sedari tadi memang sudah lapar tidak dapat diajak berkompromi lebih lama lagi rupanya. Apa yang dapat gadis itu lakukan, selain hanya dapat menatap kearah Luhan dengan tatapan malu.

“Apa gratis?”

“Tentu saja bayar”. Sooyoung menghelaan nafas putus asa, bibirnya mengerucut lucu dibalik tundukan kepala. Mendengar ucapan Luhan semakin membuatnya merasa lebih lapar.

“Aku hanya bercanda”. Luhan mengulum senyum. “Kau ingin makan apa?”

Luhan berucap dengan lembut, ia kemudian melangkah laju menuju dapur setelah memastikan Sooyoung mereposnnya.

“Apa saja, aku bisa makan apa saja”

“Oke, baiklah”. Luhan berbalik menatap Sooyoung yang berdiri dibelakangnya.

“Kau hanya perlu duduk dan tunggu dengan manis, biarkan aku yang memasak”

Luhan menuntun Sooyoung untuk duduk pada meja makan yang berada didapurnya. Ia tersenyum, melihat Sooyoung yang nampak bingung dengan tindakannya

“Kau yakin tidak ingin ku bantu?, aku termaksuk hebat dalam kategori memasak dan kau perlu tau itu”

“Tamu adalah raja dan kau perlu tau itu”

Sooyoung bungkam, tepat ketika ia tau, apa maksud dari ucapan Luhan.

Ini sudah beberapa menit berlalu dan Sooyoung hanya dapat menatap punggung Luhan dari kejauhan. Lelaki berwajah imut itu nampak sibuk dengan berbagai taperware berisi makanan dan peralatan dapur. Sooyoung menghela nafas dalam, merasa tidak enak juga jika hanya berdiam diri.

“Lu, kau yakin tidak ingin ku bantu? Setidaknya aku bisa melakukan hal lain selain memasak”

Tawar Sooyoung untuk kedua kali. Gadis itu bisa melihat kepala Luhan yang menggeleng kesana-kemari. Ia tau, bahwa itu adalah sebuah penolakan.

“Oke, baik, baiklah”

Sooyoung mendengus. Ia tak suka ini. Merasa berhutang budi terlalu banyak. Ia ingin membalasnya, meskipun hanya terhitung potongan kecil.

“Tidak usah menggerutu seperti itu”

Sooyoung buru-buru menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya mendelik kedepan dengan asupan tanya dalam hati, ‘Bagaimana Luhan tau ia sedang menggerutu?’.

“Suara mu cukup jelas didengar untuk ruang sekecil ini”. Luhan seakan tau apa yang sedang gadis itu pikirkan.

“Maaf”

Sooyoung menunduk, merenungi kebodohannya sambil meremas kedua lututnya yang dilapisi gaun casual berwarna putih. Perilakunya sudah buruk, belum genap satu jam terhitung setelah masuk rumah Luhan.

Tanpa gadis bernama lengkap Choi Sooyoung itu sadari, Luhan nampak mengulum senyum begitu lelaki itu berbalik menatapnya. Entah, ketika menelihat Sooyoung bertingkah lucu menurut pandangannya, hati Luhan selalu bergetar untuk tersenyum.

“Tak perlu minta maaf”

Ucap Luhan, lalu berbalik untuk mengambil makanan yang tergeletak disamping oven. Tangan lelaki bermarga Xi itu dengan cekatan membawa nampan terdapat 1 panci kecil berisi sup daging dan dua mangkuk nasi, menuju meja makan.

Mata Sooyoung terpejam sambil menghirup aroma sup daging. Bahkan dari kejauhan saja begitu menggugah selera, dengan mau gadis yang terkenal suka makan itu menarik seulas senyum gembira.

“Enak sekali!”

Luhan hanya menahan tawa, mata gadis itu sedari tadi tak pernah lepas dari gerak-gerik yang ia buat. “Kau bahkan belum mencobanya”

“Kau hanya perlu tau, aku dapat menilai masakan seseorang hanya melalui aroma masakannya”

“Jangan bergurau dengan hal yang tidak-tidak”

Mata Sooyoung memicing, setajam yang dapat ia buat. Menatap Luhan seolah tidak terima dengan ucapan lelaki yang kini tepat berada didepannya. Luhan hanya terkikik geli sambil menyodorkan semangkuk nasi, gadis itu begitu lucu dan Luhan ingin selalu tertawa melihatnya

“Baiklah, baiklah”

Luhan menyudahinya sembari menarik kursi yang berada disampingnya. Duduk didepan Sooyoung kemudian tersenyum. “Kau bisa mencobanya”

“Selamat makan!”

“Selamat makan”

Sooyoung menyatap makannya lebih dulu sedangkan Luhan hanya menatap gadis itu. Lebih menarik melihatnya makan ketimbang mengisi perutnya yang lapar. Pandangan Luhan tak dapat lepas dari Sooyoung, itu yang membuatnya merasa heran.

Caranya makan sampai kelakuannya dari gerak-geriknya pun, benar-benar menyita perhatian Luhan. Gadis lugu, bernama Choi Sooyoung, seseorang yang hidup dalam kehidupan misterius bagi Luhan. Semuanya Luhan begitu penasaran.

Tersadar dengan pikirannya yang mulai lebih jauh berkeliaran, Luhan buru-buru menggeleng kuat. Namun matanya tak pernah mau pindah barang beberapa detik dari sesosok Sooyoung.

Merasa diperhatikan dan melihat Luhan juga tak kunjung memakan makan malamnya, Sooyoung memberhentikan kegiatannya. Menaruh sumpit disamping mangkuk nasi dengan pelan lalu mendongak.

“Kau tidak makan?”

Dengan lugu Sooyoung bertanya. Gadis itu memiringkan kepalanya sambil memicingkan mata kearah Luhan, seperti biasa. Tidak, tapi kali ini berbeda. Mata Sooyoung begitu indah untuk ditangkap penglihatan Luhan kali pertama, berkilau seperti kena pantulan cahaya dari pantai. Oh tidak!, pandangan itu bekerja bagaikan sihir dan Luhan benar-benar terhipnotis sekarang.

“A-ah aku baru saja ingin memakannya”

Setelah Anggukan kecil yang terlihat begitu lambat dimata Luhan, gadis itu kembali menyatap makanannya, semua kembali kesemula. Luhan berdehem kecil untuk menghilangkan getaran aneh dalam hatinya, kemudian mengambil sumpit disamping mangkuk nasinya dan mulai makan.

Kutuk saja mata Luhan yang sedari tadi tak dapat diam hanya untuk disatu titik. Apa yang membuatnya seperti ini? Lelaki dengan tinggi 179 itu juga tidak tau. Matanya selalu bergerak untuk melirik Sooyoung diberbagai kesempatan.

Gadis itu makan begitu terburu-buru, membuat Luhan sudah bersiaga dengan satu gelas air putih tak jauh dari jangkauannya, takut-takut Sooyoung tersedak mendadak. Luhan ingin menegurnya, namun apa daya mulutnya seolah terkunci tak dapat berkata barang sepatah dua patah kata.

“Uhuk”

Nah!

Luhan buru-buru menyodorkan segelas penuh air putih kehadapan Sooyoung tepat sesudah menaruh sumpitnya. Dengan tangan gemetar khas orang tersedak biasanya, Sooyoung mengambilnya. Tepat pada saat bibir gelas bertemu dengan bibir Sooyoung, ia buru-buru meminumnya sambil menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak.

Luhan ikut membantu, memberi gerakan tangannya untuk mengelus punggung belakang Sooyoung dengan posisi yang masih berada tepat didepannya. Dengan sedikit khawatir Luhan menatap gadis itu menegak air putih yang mulai berangsur mengisi tenggorokannya.

“Merasa baikan?”

“Jauh lebih baik”

Sooyoung mengangguk-ngangguk kemudian menaruh gelas minum disamping mangkuknya

“Jangan makan terburu-buru”

Luhan kemudian duduk, matanya tak pernah lepas menatap Sooyoung yang masih mengatur nafasnya yang memburu. Tangan Luhan bergerak mengambil beberapa helai tisu didekatnya, tanpa harus melihatpun lelaki itu sudah tau betul dimana letak kotak berbentuk persegi panjang itu berada. Mudah saja, karna ini sudah terencana.

Tangan Luhan kemudian terangkat untuk menyodorkan tisu -yang telah ia ambil barusan- kehadapan Sooyoung.

“Lap bibir mu”

Ugh, mata Luhan jelalatan sudah dalam level kelewat kurang ajar. Bukannya menatap seluruh wajah Sooyoung, yang dipusatkannya hanya kepada bibir gadis itu. Bukan salahnya sebagai lelaki yang terlahir memiliki nafsu, salahkan bibir Sooyoung yang kelewat menggoda ketika basah. Sial, tak hanya mata yang menyihirnya bahkan kali ini bibir. Dan selanjutnya apa? Lelaki itu berdoa dalam hati semoga ia tak lepas kontrol mengingat hanya ada mereka berdua dirumah sederhana ini.

“Engg, ada yang salah?”

Melihat Luhan yang terpatung seperti memikirkan sesuatu, Sooyoung mengasung tanya. Bahkan tanpa Luhan sadari, tisu yang semula berada ditangnanya kini sudah berpindah kelain tempat.

“A-ah tidak, tidak papa. Kau bisa memakan makananmu kembali”

Kepala Sooyoung berangsur mengangguk-ngangguk pelan, matanya yang semula menatap Luhan kini kembali beralih pada makanan didepannya. Rasa lapar gadis itu lebih dominan pada ketidak pedulianya untuk sekedar hanya tau kenapa Luhan sedari tadi tak pernah lepas menatap dirinya.

Alih-alih seperti itu, prioritas mengisi perut sudah menjadi nomor satu jika dihadapannya sudah tersaji makanan, itulah sisi lain dari seorang Choi Sooyoung.

“Emmm, Sooyoung?”

“Iya?”

Matanya dan mata bulat bersinar milik Sooyoung bertemu, bekerja layaknya sihir, Luhan hampir tak dapat berkata-kata dua kali jika dihitung dengan yang tadi. Sedikit berdehem, Luhan melanjutkannya.

“Disini ada dua kamar, tak apa kan jika kau tidur dikamar tamu?”

“Dimanapun itu, jika aku bisa tidur, tidak masalah”

Sooyoung tersenyum tulus, menampilkan gigi putihnya yang tertancap rapi. Tanpa disuruhpun, Luhan dengan senang hati menarik garis lengkung pada bibirnya untuk membalas senyuman menawan gadis itu.

Pagi-pagi sekali Luhan sudah terbangun akibat suara gaduh yang diyakininya berasal dari dapur. Ia tak tau apa yang sedang terjadi ruang sana, jadi dengan nyawa yang masih setengah sadar, Luhan mencoba untuk bangkit.

Yang menjadi penyapa ketika ia berdiri disisi kasur pada pagi hari ini adalah pusing. Kepalanya berdenyut kencang dua kali lebih hebat -dari pertama kali ia sadar sebelumnya-, ini efek terlalu tidur malam akibat tugas dosen Jung yang harus ia selesaikan. Luhan tak pernah lalai seperti ini sebelumnya.

Dengan lunglai lelaki itu berjalan setengah sadar menuju dapur. Hal pertama yang ia temukan adalah lampu ruang tamu yang menyala dan pintu kamar yang Sooyoung tempati terbuka. Luhan mengambil kesimpulan, tanpa harus berpikir panjang bahwa gadis itu sedang berada didapur.

“Apa yang sedang kau lakukan?”

Luhan bertanya dengan nada yang tidak bersahabat. Entah refleks atau kaget, Sooyoung hampir saja menjatuhkan piring ditangannya kelantai mendengar suara Luhan berucap.

“Hehe memasak”

Ia terkekeh, persis seperti anak kecil yang  sedang ketahuan mengambil sesuatu. Rambut gadis yang dikuncir dua kebawah itu memang sangat mendukung bahwa ia terlihat seperti anak-anak yang tak lebih dari umur 15 tahun. Jika seperti itu orang akan mengira ia tak normal karna postur tubuhnya yang menjulang tinggi.

“Maaf karna tanpa izin menggunakan dapurmu. Aku hanya ingin membuat sarapan untuk kita, hehe”

Terkekeh dua kali, mendadak kesadaran Luhan kembali seutuhnya dan pusing yang menderanya barusan berangsur menghilang. Dan dengan bodoh Luhan sekarang percaya, Sooyoung mempunyai sihir ajaib akibat itu.

“Engh, baiklah”. Luhan hanya mengangguk pasrah.

“Dari mana kau dapatkan sayuran itu?”. Tangan Luhan menunjuk berbagai sayuran yang terletak disamping kompor

“Super Market tak jauh dari sini”

“Sepagi ini?”, mata Luhan meleset pada jam kecil yang berada diatas kulkas, disana menunjukkan pukul 05.30 pagi. “Rajin sekali”

“Aku sering seperti ini”. Luhan mengangguk-angguk paham.

“Kau memasak sup Seolleongtang?”

“Hm”

“Perlu kubantu?”

Luhan bergerak kesisi samping kiri Sooyoung sambil melipat lengan piyama bajunya setinggi siku. Mata gadis disamping itu mendelik.

“Tidak perlu, anggap ini sebagai bayaran kecil karna telah memperbolehkan ku untuk tinggal disini”

Tangan Sooyoung mendorong-dorong pelan bahu belakang Luhan, menyuruh lelaki seumurannya itu hanya perlu duduk dimeja makan.

“Aku tulus membantu mu, Choi”

“Aku sangat berterima kasih karna kau berniat membantu ku, Xi”

“Jadi aku ingin membantu mu”

“Tidak perlu”

“Tamu adalah raja, Soo”

“Aku penumpang, anggap saja penumpang adalah pembantu”

“Aku tida-”

“Diam!”

Titah gadis itu pada akhirnya. Nada suaranya dan tatapan matanya bohong sekali apabila Luhan tidak tau jika sekarang Sooyoung merasa tak suka. Jadi ketika Luhan tak dapat lagi berkata-kata, jalan yang menjadi satu-satunya solusi adalah berdehem dengan pelan.

“Lebih baik kau mandi dulu, biarkan aku memasak, oke!”

Jari telunjuk dan jempolnya menyatu, membentuk seperti bulantan, tepat terletak didepan mata kanan. Mata Luhan terkesiap kaget, gadis berjarak 4 kaki didepannya itu benar-benar membuat hati Luhan bergetar tak karuan. Senyum yang manis, ekspresinya begitu imut.

Luhan buru-buru memalingkan kepalanya kesamping, takut-takut terlalu larut memandangi wajah pahatan sempurna milik Tuhan itu. Sedikit anggukan pelan, Luhan langsung melongos menuju kamar mandi tanpa berkata-kata pada Sooyoung.

Kepala Sooyoung memiring kekiri, kerutan didahinya merapat. Bingung, melihat Luhan yang berangsur menjauh dari hadapannya. Beberapa seperkian detik selanjutnya ia Tersadar, ketika ingat ia punya kegiatan lain, Sooyoung buru-buru berbalik menuju sisi ruang tengah dapur.

Semenjak 25 menit berlalu terhitung mulai dari ia duduk pertama kali disofa depan TV dari 1 jam yang lalu, gadis bernama lengkap Choi Sooyoung itu terus saja bergerak gusar. Nami kucing peliharaan Sooyoung itu bahkan sampai terbangun dari tidur siangnya, akibat ulah sang majikan.

Dirumah sendirian, tak ada hal lain yang dapat ia lakukan selain menonton. Disofa gadis tersebut terus saja mengganti posisi duduk, sering mengganti-ganti Channel TV, mukanya kusut layaknya baju yang belum disetrika, siapa yang tak menduga bahwa sekarang gadis itu sedang dihampiri bosan?.

Tangannya kemudian memencet tombol merah pada remote control TV. TV didepannya mati, mata Sooyoung buru-buru menatap Nami yang berada disampingnya. Kucing berbulu putih bersih itu nampaknya juga sedang dilanda hal sama sepertinya.

“Apa yang akan kita lakukan, Nami?”

Kepala Sooyoung bersandar pada sandaran tubuh kursi, matanya menatap Nami seolah meminta jawaban. Sipemilik nama yang disebut hanya mengeong malas, kemudian kepalanya kembali menelungkup pada sela kaki depannya, menetup mata setelahnya membiarkan si majikan yang kini menatapnya sambil mendengus kesal.

“Huh, Luhan juga belum pulang dari kampusnya. Membosankan sekali”

Dengusan itu kerap kali terdengar sedari tadi dan gadis itu juga mengutuk dalam hati segala hal yang membuatnya merasa bosan. Jengah, dirumah sendiri. Siapa sih yang tidak merasa bosan?

“Bagaimana jika kita keluar?”, tawar Sooyoung. “Jalan-jalan atau hal sejenisnya”

Si kucing hanya menguap malas. “Aku anggap itu sebagai jawaban setuju”

Sooyoung lekas bangkit dari duduk sambil mengangkat Nami, buru-buru melongos kekamarnya untuk mengambil jaket dan topi yang tergeletak didalam sana.

Setelah menutup kamar yang ia tempati dengan rapat, Sooyoung berjalan menuju pintu utama sambil menghapal password apartement Luhan dengan benar.

“90422420”

“Nami apa kau merasa haus?”

Sooyoung bertanya pada kucing yang kini berada dalam dekapannya, sesekali gadis dengan tinggi 174 itu membenarkan posisi topi dikepalanya akibat terpaan angin yang mengenai seluruh tubuhnya.

Lima langkah setelah itu Sooyoung berhenti mendadak pada sisi depan Mini Market, dengan gerakan yang terlihat sangat lambat Sooyoung dan Nami saling bertukar pandang untuk beberapa saat. Gadis itu mengangguk yakin dan kucing bernama Nami itu mengeong, apa arti dari tatapan itu, hanya mereka yang tau.

“Ayo beli es krim!”

Gadis itu melompat-lompat gembira layaknya anak berumur 5 tahun, satu hal yang membuatnya senang memakan es krim disiang bolong seperti ini. Entah terlalu senang atau bagaimana gadis itu sesekali memekik tertahan, layaknya seorang fangirl bertemu sang idola.

“Makan es krim! Makan es krim!”

Sooyoung bersenandung pelan, kakinya menepak pada tanah yang kian melaju seiring berjalan detik. Dengan tidak sabaran tanganya mendorong pintu masuk, tatapannya buru-buru ia tolehkan pada ujung kanan ruang mini market.

Sebelum mengambil isi lemari es didepan, Sooyoung terlebih dahulu merogoh isi kantong jaket yang ia kenakan. Terdapat selembar uang 5000 won, gadis itu tersenyum lalu mengangguk-angguk gembira. “Lebih dari cukup, kau mau juga Nami?”

“Miaw! Miaw!”

Kucing itu mengeong semangat, seantusias ketika majikannya pertama kali ingin membeli es krim. Sooyoung lekas mengambil 2 cup mini es krim yang sama dengan rasa coklat. Lalu membawanya ketempat kasir sambil menenteng uang selembar 5000 won.

“Totalnya 1000 won”

Tukas penjaga kasir itu ramah, lalu ia menyerahkan satu kantung plastik kecil yang berisi dua cup es krim -milik Sooyoung- sambil tersenyum.

“Ini”

Khas seorang Choi Sooyoung membalas senyum itu wajib,  jadi gadis itu tersenyum sambil menyodorkan uangnya pada paman penjaga kasir.

“Jadi, Kembaliannya 4000 won”

“Ahjushi”

“Iya?”

Tangan si tukang penjaga kasir itu mendadak berhenti diudara ketika hendak mengambil uang kembalian yang berada dalam mesin kasir, kepalanya buru-buru mendongak menatap Sooyoung.

Gadis menengok kekiri dinding kaca membuat lelaki yang dipanggil Sooyoung ahjushi itu juga mengikuti arah pandangannya. Tepat disatu titik pada tembok kaca mini market

“Kau menerima lowongan pekerjaan?”

Gadis itu kembali meluruskan kepala menatap ahjushi didepannya, ahjushi itu mengangguk setelah bertukar pandang beberapa detik dengan Sooyoung.

“Iya, untuk shift pagi sampai siang”

Kemudian tangan ahjushi itu terjulur kedepan Sooyoung untuk menyerahkan uang kembalian. Gadis itu menerimanya, beberapa detik ada jeda setelah itu.

“Boleh aku menerimanya?”

“Benarkah?”

Ahjushi itu memekik entah terlalu senang atau apa, terlalu lebay jika dibandingkan dengan ekspresi Sooyoung yang terkesan biasa -bahkan datar-. Ahjushi itu kemudian berdehem pelan, mengatur nada suaranya untuk tidak seantusias tadi.

“Iya, shift pagi sampai siang saja kan?”

“Ya, jam 8 pagi sampai jam 1 siang”

Ucap ahjushi itu menjelaskan. Tangannya terletak bertumpu pada ujung-ujung meja kasir, tubuhnya sedikit condong untuk menatap Sooyoung lebih jelas.

“Aku sangat senang kau menerimanya. Kertas lowongan pekerjaan itu sudah hampir terpajang satu bulan”

“Dan tidak ada yang berminat untuk selama itu?”

“Karna mungkin gajihnya tidak terlalu besar, selain itu orang-orang kebanyakan akan memilih bekerja dicafe atau restoran jika bekerja shift seperti ini”

Tangannya ditarik kembali dan kini teletak bersendekap didepan dada, mata ahjushi itu memicing meneliti dari titik atas kepala dan jatuh pada ujung kaki Sooyoung. Pria dengan perkiraan menginjak usia kepala 4 itu mengangguk sambil tersenyum.

“Siapa namamu?”

“Sooyoung, Choi Sooyoung!. Nama ahjushi siapa?”

Senyum gadis itu merekah lebar dan tangannya terjulur kedapan untuk memberi jabat pada tangan ahjushi didepannya

“Aku Kim Joo Ho. Senang dapat mengenal mu Sooyoung-shi”

Tangan meraka menyatu dan bergerak keatas kebawah, salam perkenalan. Sooyoung mengangguk antusias sambil terkikik geli.

“Aku juga, ahjushi Kim”

“Besok kita akan berkerja Nami, kau harus ikut aku ya?!”

Tangan Sooyoung bergerak membuka tutup kertas cup mini ice cream, lalu ia sodorkan pada kucing kesayangannya. Ia tersenyum, sangat manis terpajang diwajahnya.

Tubuh gadis itu bergerak pelan untuk mencari posisi duduk yang nyaman diatas kursi taman tak jauh dari mini market barusan. Beberapa menit yang lalu, ahjushi pemilik mini market menyuruhnya untuk bekerja besok pagi saja.

“Sampai kapan kita akan seperti ini hmm?”

Dengan gerakan lembut, Gadis itu mengelus kepala kucing yang kini asik menjilati ice cream, pikirannya melayang seiring dengan gerakan tangannya. Banyak terjadi sesuatu belakangan ini membuat Kepalanya mendadak pusing akan banyak hal yang menghantuinya.

“Apa Yuri akan mencari kita? Mengingat hanya kita yang dia punya”

Angin berhembus tepat ketika ia meluruskan tubuhnya kedepan, beberapa anak rambut yang nakal menempel dipipi gembulnya itu terseret kebelakang. Tangan Sooyoung buru-buru menindih topi yang melekat dikepalanya, takut-takut hadiah pemberian Yuri itu hilang diseret angin.

“Tapi, diakan punya pacar”

Mendadak senyum yang merekah sedari tadi pudar. “Haha, bodoh sekali”

Sooyoung tertawa masam, untuk beberapa saat ketika ingatannya mendadak kembali berputar pada kekejadian kemarin. Diusir dan hidup sendiri, dua kata itu terus saja  menghantuinya. Ia tau bahwa ini sudah terlanjur.

“Yuri-ah, nan bogoshipda”

Wajah gadis itu merengut, kepalanya menunduk dalam. Hal-hal yang mengingatkannya pada Yuri meriang redam dikepala, gadis itu adalah satu-satunya orang yang ia punya didunia ini. Hidup dilingkup lingkungan yang sama dan latar belakang yang sama, tidak punya siapa-siapa, hidup dalam penuh usaha untuk tetap bertahan.

Teman satu seperjuangan memang susah dilupakan, terlebih itu adalah teman satu-satunya yang ia punya. Jangankan untuk dilupakan, tidak bertemu satu hari saja sudah terasa ada yang hilang. Semua yang ia lakukan selalu terbiasa dengan Yuri, hal-hal yang menyenangkan selalu dengan Yuri.

Yuri

Yuri

Dan Yuri

“Hah….”

Desahan lelah itu teredam dengan deburan angin, pohon yang tergeletak disamping ia duduk daun dan dahannya ikut tergoyang bersamaan. Kepalanya mendongak menatap langit yang bersinar terang khas musim panas. Beberapa saat Sooyoung memejamkan matanya berharap beban berat yang ia pikul berkurang, maupun yang sekarang dan sebelumnya.

“Orang-orang benar, hidup tak punya teman itu hampa”

Mata gadis itu terbuka, kepalanya lurus kedapan menatap tepat disatu titik. “Hidup tidak adil kan, Nami?”

Suaranya mendadak parau, mengecil kian pasti. “Aku juga ingin punya teman”

“Untuk bersenang-senang”

“Saling bercerita”

“Dan.. banyak hal yang ingin kulalui dengan teman”

Helaan nafas itu berhembus seperti desahan frustasi. Sooyoung mencoba untuk bersabar dan tegar demi keadaan namun air matanya membendung dipelupuk mata, buru-buru ia dongakkan kepalanya sekali lagi agar kristal bening itu tak jatuh. Setidaknya ia tidak boleh terlihat lemah diluar, sekalipun didalam hatinya menangis meraung. 

“Tapi sekarang, aku hanya punya Yuri,  Luhan, dan kau”

“Yuri sudah hilang, dan aku tidak tau untuk Luhan apa dia akan betah berteman dengan ku kedepannya”

“Ketika Luhan juga hilang dan satu-satunya yang tersisa hanyalah kau”

“Jadi…”. Ia memberhentikan ucapannya dan buru-buru menatap Nami.

“Ketika aku tertinggal sendiri dan hanya kau yang ku punya jangan pernah tinggalkan aku…”

Mata Nami dan Sooyoung beradu seolah ada hal yang tersirat dari tatapan itu, air mata gadis itu membendung dipelupuk kiri yang siap terjun kapan saja.

“Kau mengerti kan?”

Berkedip, matanya yang tadi memburam mendadak mengeluarkan air mata dengan diawali mata kiri, tangisan tanda sedih. Sooyoung mengusapnya kasar dengan punggung tangan kanan, lalu menatap kucing didepannya tajam.

Responan kata miaw itu berbunyi beberapa kali dihadapannya, membuat Sooyoung tersenyum penuh arti dibalik tangisannya yang pecah.

Sooyoung mengusap-ngusap pelan pipinya yang kini dibanjiri oleh air mata, senyum itu terus merekah bersinar seperti matahari yang kini menyinari bumi. Ditatapnya Nami yang kini juga menatapnya, tangan panjang gadis itu terangkat untuk mengapai tubuh Nami dan memberikannya pelukan.

“Aku tidak peduli kau siapa, hewan maupun manusia. Kau, tetap menjadi bagian dari hidupku”

Sooyoung memeluknya erat, seerat yang ia bisa seakan pelukan itu tersirat jiKa ia benar-benar tak ingin kehilangan. Tangis gadis itu pecah, hatinya terombang ambing tak dapat dibendung.

Perlahan Sooyoung mencoba untuk mengatur tangisannya yang kian keras, ini masih siang dan otomatis aktivitas orang-orang disekitarnya ramai. Gadis itu hanya tak ingin beberapa orang yang melihatnya nanti akan berpikiran dalam hati bahwa ia itu aneh.

Sooyoung terdiam sesaat, mencoba untuk mengatur tangisannya agar berhenti sepenuhnya. Dengan satu tarikan nafas, gadis itu tersenyum lebar. Satu yang diyakininya bahwa segala sesuatu yang diawali dengan senyuman dan hati gembira maka hal yang dilalalui tidak akan terasa berat.

Tak lama kemudian matanya mendapat sesosok orang sambil meneteng payung berwarna kuning berjalan bersebrangan dengan arah duduknya. Meskipun wajahnya terhalang oleh payung, tapi Dari jalan langkahnya saja begitu terasa familiar bagi Sooyoung. Seulas senyum mengembang dan Mendadak gadis itu berdiri sambil menyahut nama orang itu.

“Luhan!”

Tangan Sooyoung melambai-lambai diatas kepala. Menyeru kepada lelaki yang kini terkejut menatap dirinya.

Luhan -lelaki yang barusan dipanggil Sooyoung- berlari cepat dengan payung diatas kepalanya untuk menghampiri gadis itu. Matanya menelisik kearah Sooyoung dari ujung kaki sampai keatas kepala.

“Apa yang kau lakukan disini?”

“Hehe, aku merasa bosan dirumah mu. Jadi, aku keluar”

Gadis itu terkekeh, membuat Luhan merasa sedikit heran dengan ekspresinya. Kemudian Luhan berjalan kembali lebih dekat dengan Sooyoung, payungnya ia taruh disamping kursi panjang depannya lalu duduk sebelum menarik tangan Sooyoung, menyuruh agar gadis itu juga duduk disampingnya.

“Sejak kapan kau disini?”

“Emm…”, jari Sooyoung terangkat mengetuk-mengetuk dagunya dan matanya memicing keatas. “Kurasa aku baru-baru saja berada disini”

Luhan menyerit, menatap Sooyoung bertanda bahwa ia bingung. Kemudian, yang dilihat Luhan hanya anggukan gadis itu yang terlihat lambat dimatanya.

“Benarkah?”

“Iya..”

Kepalanya mengulang mengangguk-angguk, menatap Luhan dengan pandangan yakin. Ekspresinya yang lucu, membuat Luhan tersenyum tanpa sadar.

“Lucu sekali..”

Tangan Luhan bergerak asal diatas kepala Sooyoung, mengacak surai kecoklatan gadis itu gemas. Sooyoung terkikik geli dibalik tangan Luhan yang mengacak rambutnya.

Tangan Luhan mendadak berhenti diudara, sesuatu tanpa sadar ia lakukan. Mengacak pelan rambut Sooyoung bukan perintah dari keinginannya, melainkan sisi lain melakukannya. Luhan melakukannya tanpa sadar dan ia tak tau kenapa, malah sekarang darahnya terasa berdesir hebat.

Sooyoung membuka mata -yang semula terpejam- merasakan tangan Luhan yang tak lagi mengacak kepalanya. Mata Sooyoung mendapati lelaki itu terdiam bagai patung dan tatapannya kosong seperti orang tidak sadar.

“Luhan, hei!”

Tangan Sooyoung melambai-lambai didepan wajah Luhan, Mencoba memastikan bahwa sekarang apa lelaki itu baik-baik saja.

Mata Luhan mengerjap-ngerjap ketika tangan Sooyoung seperti melayang dilihatnya. Lelaki itu tersadar dari lamunannya, membuat ia merasa malu ketika menatap tepat dimanik bulat mata Sooyoung.

“Kau melamun?”, Sooyoung bertanya.

“Maaf”

Luhan terkekeh malu, kepalanya yang pasti tak gatal itu digaruknya asal. Malu menyerangnya, dan sekarang wajah Luhan benar-benar merah.

“Kurasa lebih baik kita pulang”

Luhan lekas berdiri lalu mengapai payung kuning disampingnya. Terjadi jeda beberapa saat ketika lelaki itu menatap lurus kedepan mengacuhkan Sooyoung yang masih duduk dikursi. Ditatapnya gadis itu, matanya menangkap bahwa sekarang gadis bermarga Choi itu menatapnya heran.

“Kau tidak ingin pulang?”

Sooyoung lekas berdiri ketika lelaki didepannya ini bertanya. “Kenapa mendadak?, kita bahkan baru duduk”

Luhan buru-buru membuang muka, otaknya berpikir keras mencari alasan untuk menjawab tanya Sooyoung. Dililiriknya gadis itu sebentar

“Aku lelah”

“Baiklah. Kalau begitu ayo pulang!”

Mata Luhan mengerjap kaget ketika mendadak Sooyoung memeluk tangan kanannya. Kepalanya menoleh lambat kearah Sooyoung seiring dengan degupan jantungnya yang kian menggila.

“Ayo!”

Tak dipedulikan Luhan yang kini terlihat seperti orang bodoh, Sooyoung justru kian menarik-narik lengan Luhan untuk berajalan maju.

“Panas sekali” Sooyoung berhenti mendadak, “Pegang payung mu dengan benar Luhan”

Gadis itu menarik tangan kiri Luhan yang menggenggam payung, menaruhnya tepat ditengah-tengah mereka berdiri.

“Begitu lebih baik”

Sooyoung tersenyum lebar, pelukan ditangan Luhan semakin ia eratkan. Ditatapnya Nami yang berada dalam gendongannya ternyata kini tengah menatapnya juga.

“Miaw!”

Chanyeol mendorong pelan pintu kedatangan mini market, matanya langsung tertuju pada kulkas minuman terletak disamping kulkas es krim.

Tangannya mengambil 2 botol air mineral yang dingin. Dirogohnya saku celana samping kanan dimana uangnya terletak disana, sebelum berjalan menuju kasir untuk membayar.

Dengan malas lelaki bertubuh tinggi itu berjalan menuju kasir

“Totalnya 1000 won”

Chanyeol buru-buru mendongak menatap tukang kasir didepannya. Akibat menundukkan kepala memainkan ponselnya sedari tadi, membuat ia tidak begitu memperhatikan tukang kasir.

“Pegawai baru?”

Chanyeol bertanya sambil menyodorkan selembar uang 5000 won kehadapan tukang kasir. Tukang kasir yang dikenali Chanyeol dengan gender gadis itu mengambil uang yang berada ditanganya perlahan sambil tersenyum.

“Iya”

“Sejak kapan?”, gadis itu menyerit menatap Chanyeol

“Baru hari ini”

Sekali lagi gadis itu tersenyum. “Ini, kembaliannya 4000 won”

Chanyeol menerimanya namun matanya tak pernah lepas dari sesosok gadis didepannya

“N-namamu? Boleh aku tau?”

Chanyeol berucap dengan ragu, rasa penasarannya dengan gadis itu membuatnya lupa bahwa sekarang ia banyak tanya. Persetan, biar saja ia banyak tanya dari pada harus mati penasaran.

“Tentu”, gadis itu terkikik sebentar dan walaupun sebentar Chanyeol yang terus menatapnya sedari tadi merasa terpana.

“Sooyoung, Choi Sooyoung” tangan gadis itu terangkat mengarah ke Chanyeol. “Dan siapa nama mu?”

“Chanyeol, Park Chanyeol”

Chanyeol menerima uluran tangan gadis itu, seiring dengan tangan mereka yang berjabat turun naik, Chanyeol maupun Sooyoung saling bertukar senyum.

Tiga sekawan itu berjalan beriringan dilorong kampus, kelas masing-masing telah berakhir walaupun salah satu dari mereka ada yang terlambat pulang.

Siapa lagi tiga sekawan kalau bukan Si cantik Luhan, Si Happy Virus Chanyeol, dan Si pemarah Baekhyun.

Chanyeol berdehem mendadak, membuat dua kawan disebelahnya langsung memicingkan mata kearahnya.

“Kau tau?-”

“Tentu saja tidak”

“Aku belum selesai bicara, Banci”

Mata Chanyeol melotot, bicaranya dipotong dan itu membuatnya kesal. Ia adalah tipe orang pelupa, dan kadang jika bicaranya dipotong sebentar saja ia akan lupa topik yang akan ia bicarakan.

Jadi mata kedua orang itu sama-sama saling melotot, yang satu marah karna bicaranya dipotong sedangkan yang satunya lagi marah karna dikatai banci. Hawa disekitar memanas, seolah akan terjadi kebakaran masal. Luhan buru-buru menengahinya dengan berada ditengah-tengah temannya berdiri.

“Sudah”

Luhan bersikeras untuk memasukkan bahu kanannya disela-sela bahu Chanyeol dan Baekhyun untuk menengahi, namun nampaknya seolah bahu dua temannya itu seperti lem, sehingga susah baginya untuk menengahi keduanya. Kedua pasang mata itu makin nyalang, membuat Luhan semakin was-was.

Namun, karna Luhan grasak-grusuk sedari tadi membuat Chanyeol juga merasa risih. Ia akhirnya mundur beberapa langkah sambil melayangkan pandangan jengkel kearah orang yang kini tersenyum tidak kelas.

“Berhenti tersenyum seperti itu Luhan, aku bahkan lebih takut melihat senyum mu dari pada senyum hantu”

Wajah Luhan mendadak berubah datar, wajahnya ia tolehkan kearah Baekhyun yang berucap barusan. Muka kedua orang itu bersitatap sama datar, sehingga Chanyeol yang berada disamping hampir terbahak melihatnya.

“Memang kau pernah melihat hantu tersenyum hah?”

Tangan Luhan mengepal diudara siap-siap sok meninju Baekhyun. Lelaki bertubuh paling pendek diantara temannya itu mendengus lalu berucap dengan pelan kata ‘iya kau barusan’. Luhan tidaklah tuli untuk mendengar kata pelan Baekhyun yang tepat berada disampingnya.

Luhan benar-benar ingin melayangkan tinju dibahu temannya itu, kalau saja Chanyeol pihak yang sedari tadi diam lebih sigap menahannya.

“Sudahlah, Ingin dengar cerita ku tidak?”

Kedua pasang mata itu kemudian beralih tempat, sama-sama menatap tepat disatu titik. Chanyeol si empun punya cerita menoleh kearah Luhan dan Baekhyun bergantian, alisnya turun naik mencoba menawar ceritanya.

Luhan dan Baekhyun saling bersitatap, mengangguk Baekhyun mewakilinya. “Apa?”

“Kalian tau mini market paman Kim kan?”

“Tak jauh dari apartementnya Luhan, bukan?”

Tangan lentik Baekhyun bergerak menerka-nerka didepan Chanyeol, sebelah alisnya naik. Lelaki bertubuh paling tinggi diantara mereka itu mengangguk mantap.

“Lalu?”

Giliran Luhan yang bertanya, bahunya menyenggol bahu Chanyeol, menyuruh agar lelaki itu melanjutkan ceritanya.

Beberapa detik terjadi jeda sesaat Chanyeol saling bersitatap dengan kedua temannya. Berdehem pelan, pemuda bermarga Park itu memulai.

“Disana ada pegawai baru”

Dengusan terdengar double, Luhan dan Baekhyun satu sama lain saling mendengus jengkel.

“Kenapa?”

Tatapan datar dari kedua temannya itu menjadi hadiah tersendiri bagi Chanyeol, seolah apa masalah yang ia bicarakan hanya menjadi topik pembuang waktu mereka.

“Kukira, terjadi kebakaran, perampokan, atau hal sebagai terjadi. Ternyata hanya pegawai baru, apa jika kau temukan pemulung baru dipinggir jalan kau juga ingin menceritakannya pada kita hah?”

Suara Baekhyun terdengar melengking hampir seperti teriakan. Sudah cukup lelaki tinggi itu menguji kesebarannya, ketika dikantin temannya itu tidak bisa diam selama mereka menunggu Luhan keluar dari kelasnya. Itu sudah lebih dari kapasitas cukup, dan sekarang apa temannya itu berinisiatif untuk menguras habis kesabarannya yang hanya tersisa sedikit?

Baekhyun adalah tipe lelaki cerewet dan pemarah. Hal-hal yang sensi sedikit saja dapat membuatnya naik beberapa pitam terhitung dalam kurun waktu detik saja. Sudah berteman sejak SMP apa  Chanyeol tidak cukup untuk mengenali kepribadiannya?

Tanpa memikirkan Chanyeol yang kini tengah memandang mereka bingung, Baekhyun dan Luhan kembali berjalan yang sempat tertunda akibat cerita tak bermamfaat si Tiang listrik itu.

“Eitss tunggu dulu. Tapi kurasa ini ada kaitannya dengan kalian”

Kedua tangan Chanyeol terbentang, persis sekali dengan kerangka layang-layang. Ia berdiri tepat didepan Baekhyun dan Luhan yang kini menatapnya bingung.

“Baik, baiklah. Lanjutkan”

“Dia gadis dan terasa tidak asing, aku seperti pernah mendengarnnya entah dimana”

Tangan Chanyeol bergerak menggaruk-garuk ubun kepalanya. Ia menunduk mencoba untuk mengajak otaknya mengingat gadis yang bertemu olehnya tadi pagi.

Luhan dan Baekhyun saling bersipandang. “Ciri-cirinya?”

“Tinggi, cantik, putih, terlihat seperti kekanakan, dan….”

Jari telunjuk dan jempol kanannya saling bergesek didagu mencari kata yang pas untuk menggambar sesosok gadis itu. Chanyeol menatap sesaat kedua temannya yang kini terlihat penasaran dengan lanjutannya.

“Dan…”

Tangan Baekhyun memutar tak sabar menyuruh temannya yang paling tinggi itu untuk melanjutkan kalimatnya.

Jetikan tangan Chanyeol terdengar nyaring, bertanda sekarang bahwa ia ingat. “Kucing, iya juga membawa kucing berwarna putih bersih”

Luhan yang lebih dulu peka, kakinya yang semula melangkah bersamaan dengan dua pasang kaki lainnya mendadak berhenti. Tatapan matanya lurus kedepan seolah memikirkan sesuatu yang janggal dan mencoba untuk mencarinya.

Baekhyun dan Chanyeol yang barusan juga berjalan dengan Luhan juga ikut berhenti melihat temannya satunya itu berhenti.

“Siapa namanya?”

Luhan tidak sabaran menggoyangkan bahu kanan Chanyeol, menyuruh temannya itu agar segera menjawab pertanyaan seolah tak ada waktu sama sekali tersisa. Chanyeol menatap Luhan aneh, tapi otaknya bekerja untuk mengingat nama gadis itu.

“Choi…. yo.. young… soo…”

Mata Chanyeol terpejam dan tangannya terletak dipelipis dagu, berpikir mencari jawaban Luhan.

“Sooyoung maksud mu?” Terka Luhan

Mata Chanyeol terbuka sambil tersenyum menunjuk-nunjuk Luhan. “Nah itu maksudku itu. Tapi… Eh?!”

Kepala Chanyeol menunduk tiba-tiba dan matanya menerawang jauh kelantai lorong, sesuatu yang janggal barusan diucapkan Luhan membuatnya seperti ini. Ia kemudian bertukar pandang dengan Baekhyun yang sama bingung dengannya.

“Maaf, kurasa aku harus pulang lebih dulu”

Baekhyun langsung membelakak dan kemudian tertawa tak percaya. Tatapan tajam dan sangat menusuk itu langsung menjadi hadiah bagi Luhan disebelahnya.

“Dah…”

Tanpa peringatan apapun Luhan langsung melongos pergi. Yang menjadi pihak sangat dirugikan adalah Baekhyun, tatapan membunuh penuh api itu sedari tadi itu tidak pernah padam dan sekarang Luhan membuatnya berkobar penuh dahsyat.

Chanyeol menatapnya penuh was-was, tangannya terangkat untuk mendekap Baekhyun agar tidak mengamuk hebat beberapa hitungan detik lagi.

“YAK XI LUHAN! PERGI KEMANA KAU HAH?! BUKANKAH KAU YANG MENYURUH KAMI AGAR PULANG BERSAMA DENGAN KAU?! DAN SEKARANG KAU MENINGGALKAN KAMI?! KEMARI KAU TENGIK!”

Suara itu menggelegar maha dashyat tak kalah dengan suara teriakan pendemo berpuluh-puluh lebih. Chanyeol benar-benar sigap mendekap Baekhyun dari belakang, agar kawannya itu tak mengejar Luhan lalu menghajarnya habis-habisan.

“YAK PARK CHANYEOL! LEPASKAN AKU EOH!”

2 hari berlalu

“Aku sungguh tidak sabar, kita akan berpesta malam ini dirumah Luhan”

“Iya aku juga, sudah lama kita tidak seperti ini”

Lelaki bertubuh tinggi tersebut mengangkat tangan kanannya sejajar dengan tinggi bahu, memperlihatkan 1 keresek penuh berisi daging dan sayuran. Kawan yang menjadi patnernya berkunjung kerumah Luhan itu mengangguk antusias, berpesta dimalam minggu membakar daging memang benar-benar mengasikkan.

“Tapi, apa tak apa kita kesana tanpa memberitahu Luhan?”

Lelaki yang lebih tinggi berucap, mendadak temannya yang berada disebelahnya berhenti. Mereka saling bersitatap untuk beberapa saat, sampai akhirnya sipendek bernama Baekhyun berucap.

“Aishh… tak perlu khawatir kita kan sudah sering seperti ini?”

Kepala Chanyeol -Si tinggi- bergerak naik miring dan matanya memicing keatas, otaknya berpikir keras untuk mengulang dan mengingat-ingat dalam memorinya apakah ia pernah melakukan hal seperti ini tanpa izin dari Luhan. Tersenyum cerah, kaki panjangnya kembali berjalan menyusuri lorong menuju apartement Luhan.

Dua keresek yang berada ditangan kanan dan kiri Chanyeol bergerak maju mundur, ia berjalan layaknya anak yang begitu gembira membawa dua kresek penuh berisi aneka mainan. Senyum lebar dan aneh itu tepatri diwajahnya membuat ia benar-benar terlihat abnormal.

Dan Baekhyun yang berjalan beriringan disebelahnya mendadak merinding, melihat senyum lebar Chanyeol itu tidak jauh berbeda dalam karakter film hantu yang ia tonton beberapa hari lalu.

“Berhenti tersenyum seperti itu, Nyeol. Kau sungguh membuat ku takut”

Bahu Baekhyun hanya dapat menyenggol pangkal kanan Chanyeol. Lelaki itu bukan tandingannya, tubuhnya yang pendek tak akan cukup bisa menyeimbangi tubuh Chanyeol yang berbanding terbalik dengannya. Dan maksud dari senggolan itu adalah, menyuruh Chanyeol agar berhenti tersenyum aneh yang ditangkap oleh matanya.

Satu kata membuat Chanyeol sangat sensitif. Matanya bergerak tanpa minat memicing kearah Baekhyun sedatar dari sebelum-sebelumnya. Tubuh pendek itu meringsut kebelakang, takut-takut Chanyeol meledak tiba-tiba.

“Aku hanya terlalu senang. Tugas kuliah membuatku benar-benar miras, beberapa minggu terakhir aku sama sekali belum menyentuh daging sampai sekarang”

Dan dua orang lelaki super ganteng itu berhenti tepat didepan pintu apartement Luhan. Pintunya tertutup rapat dan rapi seolah tak ada tanda kehidupan didalam sana.

“Kau yakin dia ada didalam?”. Bahu kanan Chanyeol menyenggol tubuh Baekhyun disebelahnya

“Memang kemana lagi dia harus pergi, hah?”

Baekhyun menubruk teman yang berada disebelahnya, menyuruh lelaki itu untuk menjauh dari sisi password. Jarinya yang lentik kemudian menari diatas alat itu. Kombinasi password benar, dan pintu didepannya terbuka renggang. Baekhyun lebih dulu masuk tanpa memperdulikan Chanyeol yang berteriak minta ditunggu.

“Hei tunggu aku!”. Chanyeol bersikeras mencoba melepaskan sepatunya

“Ehaaa!!”

Kaki Chanyeol menendang-nendang diudara, sangat tergesa lelaki bertubuh tinggi itu mencoba melepas sepatu yang masih melekat setengah dikakinya yang panjang. Teriakan berasal dari Baekhyun membuatnya tak dapat berpikir lebih jauh untuk dapat melepaskan sepatunya dengan mudah.

Hal pertama yang menjadi tatapan awalannya adalah 2 kantung kresek ditangan kiri dan kanannya Baekhyun terjatuh. Dari belakang punggung lelaki itu, Chanyeol dapat melihat bahwa tangan temannya itu terangkat menutupi mulutnya. Terkejut berlebihan itulah yang dapat Chanyeol cerna.

Melihat Baekhyun yang terlihat sangat berlebihan, membuat Chanyeol juga penasaran dengan apa yang dilihat si tubuh pendek itu. Perlahan ia mendongak, menatap kesatu titik dimana Baekhyun memandangnya.

“Ehaaaaa!!”

Baekhyun dan Chanyeol sama-sama berteriak, objek didepannya benar-benar membuatnya hebring. Seorang gadis ada dirumah Luhan menggunakan baju tidur!. Seingat mereka Luhan tak mempunyai adik perempuan sekali pun. Tapi sekarang? Oh hey mereka berdua perlu penjelasan

“K-kau siapa?”

Baekhyun menunjuk kearah gadis itu dengan gemetar, ditatapnya Chanyeol yang sedang terkejut sama dengan dirinya.  Gerakan yang terlihat sangat lambat Baekhyun kembali menatap gadis didepannya.

“Kenapa ribut sekali, Syo?”

Mulut tiga orang diruang tamu itu sejekejap langsung terbuka lebar. Luhan mendadak datang dari arah kamar dengan handuk yang menggesek rambut basahnya. Setelah 4 pasang mata itu saling bertemu, semuannya mendadak bingung.

“Luhan! Kami perlu penjelasan!”

“Hehe, aku pernah bertemu dengan Sooyoung-ssi sebelumnya”

Sipemilik gummy smile itu berucap, senyumannya kian naik tak kala melirik Sooyoung didepannya. Tangannya kemudian terangkat untuk mengambil daging dipemanggangan.

“Dimana?”

Sumpit Baekhyun menghalangnya untuk mengambil daging dipemanggangan. Mata lelaki bermarga Byun itu mendelik meminta jawaban. Chanyeol menatapnya datar, aksinya dihalau oleh Baekhyun tanpa izin.

“Mini market. Kau bekerja di mini market paman Kim, bukan?”

Kepala Chanyeol bergerak miring, matanya bersitatap dengan gadis itu.

“Iya”. Sooyoung tersenyum sangat cerah

Menopang dagu dengan tangan kanan, Luhan menatap tanpa minat Sooyoung dan kedua temannya. Semenjak sesi memperkenalkan gadis disamping duduknya satu jam lalu, ia sudah seperti tak dianggap tersisihkan bagaikan sebatang obat nyamuk.

Aksi dadakan kedua temannya itu sama sekali tidak terpikirkan oleh Luhan. Bodoh sekali baginya sampai lupa dihari. Seharusnya lelaki berwajah imut itu tau, malam minggu menjadi malam pesta kecil dirumahnya.

“Jika kau tak betah tinggal dirumah Luhan, kau bisa tinggal dirumah ku Sooyoung-ssi. Aku sunggah tak keberatan”

Mata Luhan membelakak kaget. Daun salad yang semula berada ditangan kanannya kini meluncur mulus dipermukaan wajah Chanyeol. Orang yang menjadi korban kekerasan pemuda imut itu mendengus kesal.

Chanyeol hampir siap melempar balik daun salad hadiah Luhan, kalau saja Baekhyun tidak mencegahnya.

“Ini makanan, jangan main kau lempar sembarangan”

“Yha! Dia yang mulai lebih dulu!, kenapa aku yang kau marahi hah?!”, Chanyeol berucap tak terima

Sooyoung hanya bisa tertawa melihat Luhan dan kedua temannya itu berseteru. Hal apa saja yang dilakukan oleh mereka dari tadi sampai sekarang, selalu sukses membuatnya menarik senyum dan tertawa. Teman-teman Luhan begitu mengasikkan, membuat Sooyoung iri beralasan.

“Sudahlah! Kalian bawa soju kan?. Tenggorokan ku sudah tak sabar ingin menyicipinya”

“Yey! Ayo kita minum!”

“Kita pulang dulu, Luhan!”

Baekhyun berteriak setengah sadar, botol soju yang telah ia tegak lebih dari 2 dan sekarang kadar alkohol dalam minuman itu membuatnya mabuk sempoyongan.

Chanyeol melirik sekilas Baekhyun yang kini berdiri namun matanya menutup setengah, tak lama tatapan itu beralih kearah Luhan. Hanya ia dan Luhan masih sadar, bahkan Sooyoung yang hanya minum 3 gelas kecil langsung mabuk dan gadis itu sekarang tertidur sambil bergumam hal-hal yang tak dapat ia tangkap apa artinya.

“Kami pulang dulu, jangan sampai kau mabuk. Ingat itu, kau sedang tinggal dengan gadis”

Susah payah Chanyeol mencoba membopoh tubuh berat Baekhyun sambil menceramahi Luhan.

“Iya, aku tau. Jangan lupa tutup pintu!”

Luhan hanya duduk diruang tamu, terlalu malas berdiri untuk mengantar kedua temannya itu kedepan pintu. Matanya juga mengitar malas melihat Chanyeol dan Baekhyun berangsur menjauh dari hadapannya.

“Iya”

Dan setelah itu pintu utama tertutup rapat. Luhan menghela nafas lelah, ditatapnya ruang tamu yang berantakan.

Sooyoung sedang tidur tepat disamping ia duduk, kepalanya bersimpuh pada meja sofa. Luhan sungguh tak tega membangunkan gadis itu dari tidurnya sekedar menyuruh Sooyoung untuk tidur dikamarnya.

Mata bulat Sooyoung perlahan terbuka tanpa peringatan. Luhan yang memandangnya sedari tadi terkejut kalang kabut.

“Temanmu sudah pulang?”

Suara Sooyoung begitu terdengar parau, dan Luhan beranggapan bahwa gadis itu tak dapat sama sekali berurusan dengan yang namanya minuman beralkohol.

“Iya, Barusan”

Sebotol tanggung air mineral yang masih tersegel diserahkannya pada Sooyoung. Gadis itu menerima dan membukanya perlahan.

“Beruntung sekali kau mempunyai teman seperti mereka”

Luhan langsung menoleh kearah Sooyoung yang baru saja mulai menegak isi botol plastik itu. Tatapan itu bingung, mengerut dengan pandangan aneh.

“Beruntung?”

“Iya, untuk ukuran aku yang tidak punya teman sama sekali”

Sooyoung berucap setelah menegak setengah isi botol. Air yang belepotan disekitar bibir, ia usap perlahan dengan jari jempol kanannya. Luhan buru-buru mengalihkan perhatian tidak ingin terbawa nafsu dengan bibir gadis seusia dengannya.

“Tapi sekarang kau kan punya”

“Haha, iya. Menyenangkan sekali”

Luhan hanya meresponnya dengan senyuman simpul, sama sekali tak menoleh kearah Sooyoung. Tubuhnya yang duduk dikarpet secara perlahan ia sandarkan pada sofa yang berada dibelakangnya.

“Mungkin mereka akan menjauh setelah tau siapa aku sebenarnya, dan mungkin kau juga”

Luhan mengangkat alisnya bingung, apakah Sooyoung seutuhnya sadar apa belum?

“Memang kenapa?”

Ia juga penasaran, jadi dengan tolehan yang perlahan Luhan menatap Sooyoung yang ternyata juga menatapnya.

“Janji tidak akan menjauhiku setelah ini?”

Mata gadis itu meredup dan Luhan yakin betul bahwa Sooyoung belum sadar seutuhnya. Ragu, Luhan mengangguk sambil bilang iya setelah itu.

“Alasan aku tidak punya teman adalah-”

Bicara Gadis itu menggantung, kalimat lanjutannya benar-benar membuat Luhan penasaran. Jika saja Sooyoung adalah salah satu dari Baekhyun atau Chanyeol sudah dengan kata pasti ia langsung memaksanya. Namun, karna Sooyoung masih tergolong orang asing baginya, maka Luhan mengurungkannya.

“Ayah ku adalah seorang pembunuh”

Bagai guntur dengan volume maha dahsyat, mata Luhan melotot lebar. Suaranya tercekak diujung ubun, seolah satu kata saja begitu susah ia keluarkan.

Ditatapnya Sooyoung perlahan. Gadis itu menerawang kosong kedepan, matanya mengupuk air dan jika berkedip sekali saja maka krystal bening itu akan siap jatuh. Apa gadis itu benar-benar sadar?

TBC

One thought on “Just Loving You (Chapter 2)

  1. nadasooyoungstersoneelf March 1, 2015 / 10:03 AM

    wiih lama nunggu kelanjutan nih ff …
    next part ditunggu banget thor ..
    semoga luhan nggk ngejahuin sooyoung …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s