Just Loving You – (Chapter 1)

image

Title :
Just Loving You

Cats :
Choi Sooyoung & Xi Luhan

Other Cats :
Kwon Yuri, Byun Baekhyun, Park Chanyeol

Genre :
Romance, Fluff

Author :
Nadya Choi (Dulunya Choi Min Ra)

Poster By :

FlameGoofy Artwork

.

Happy Reading!

.

Luhan kemarin bertanya pada salah satu temannya dimana tempat paling tenang dan bagus berada. Satu kata mewakilinya, ia bertanya pada Baekhyun dan lelaki bertubuh pendek itu menjawab

“Gunung”

Beakhyun memberi tahunya, ada gunung yang cukup bagus dikasawan Gangnam. Baekhyun juga memberitahunya digunung sana tak banyak orang berkeliaran karna banyak orang yang tidak mengetahui tempat itu. Luhan awalnya sempat ragu, namun setelah dipikir-pikir apa salahnya mencoba?

Ini demi gambarannya, demi lukisannya. Luhan memang kekurangan bidikan untuk gambar Lukisan. Ia bukan pelukis perfesional yang handal, ia hanya orang biasa yang menjadikan kegiatan melukis adalah hobinya

Pelepas setres ketika ia merasa lelah dengan harinya. Pengisi waktu ketika ia merasa bosan karna tidak ada kegiatan

Luhan bukan orang yang begitu terobsesi untuk menjadi seorang pelukis yang handal, bahkan cita-citanya bukan ingin menjadi pelukis. Sekali lagi, ini hanya sebatas hobi

Ia hanya menyukai ketika tangannya menari diatas kanvas lukis, cat lukis berbagai warna menghilangkan warna putihnya kanvas, menghasilkan lukisan yang cukup bagus. Setidaknya Luhan bukan pelukis abal-abal

Mobil Luhan berhenti tepat didaratan bawah gunung yang Baekhyun maksud. Kepalanya sedikit condong kekaca depan kemudi agar meneliti lebih jelas keseliling

Tangan Luhan bergerak melepas sabuk pengaman yang melekat ditubuhnya. Kaki kirinya lebih awal berpijak pada rerumputan gunung. Kali ini disekitarnya terlihat lebih jelas dari pada di dalam mobil. Setidaknya Baekhyun tidak berbohong kali ini.

Sejauh matanya memandang mengitari keseliling sini, omongan si Bacon ternyata memang benar. Dibawah gunung saja sudah terlihat bagus apalagi jika ia naik sampai kepuncak gunung. Terlebih tak ada orang sama sekali disini, begitu tenang

Lelaki bermarga Xi itu lekas berlari menuju bagasi mobil. Mengambil perlengkapan lukis yang telah ia siapkan jauh-jauh hari dari rumah sebelumnya. Sedikit kewalahan lelaki berwajah imut membawa perlengkapan melukisnya. Beruntung ia tak membawa perlengkapannya secara terpisah melainkan bergabung menjadi satu dalam satu box besar

Luhan sedikit terburu mendaki gunung sesudah ia mengunci mobil. Menyusahkan memang ketika mendaki gunung sambil membawa box besar dengan bobot berat. Bukan hanya menyusahkan tapi melelahkan, setidaknya itu pemikiran Luhan

Entah dimenit ke berapa ia sampai dipuncak gunung dengan rasa lelah bercampur dengan keringat yang bercucuran diwajah dan tubuhnya. Luhan mendesah lelah lalu menaruh box berisi perlengkapan melukis keatas tanah

“Tidak buruk”

Ia bergumam sambil mengulas senyum tipis. Luhan duduk dibatu besar disampingnya dan mulai menikmati suasana. Disini terlalu nyaman, sungguh sia-sia jika hanya dilewatkan begitu saja

Tangan Luhan mulai bergerak mengambil satu persatu peralatan melukisnya. Mulai dari Easel yang terlebih dulu diatur. Menaruh kanvas lukis pada Easel dengan tata letak yang benar. Mengeluarkan palet, lalu mengisi lubang palet itu dengan cat cair berbagai warna. Lalu mengeluarkan box berukuran kecil yang berisi kuas lukis dan pisau palet

Mata Luhan memandang kesekitar, mencari dimana letak yang pas untuk menjadi bidikan lukisannya. Luhan tersenyum sesaat setelah menemukannnya

Tangan Luhan mulai bergerak mengambil kuas lukis ukuran sedangan lalu melumurinya dengan cat berwarna hijau. Tangannya menari, bergerak kesana kemari bersama kuas yang ia pegang, melumuri putihnya kanvas dengan cat warna warni membentuk pola pemandangan alam

15 menit berlalu setengah dari luas kanvas telah membentuk gambar yang Luhan inginkan. Sedikit lagi, hanya perlu menambah beberapa warna untuk membentuk keseluruhan lukisannya

Namun suara yang berasal dari arah belakangnya, membuat Luhan yang semula focus menjadi was-was. Luhan berhenti sejenak, menaruh palet yang awalnya berada ditangan kirinya keatas box. Perlahan dengan pasti Luhan menolehkan kepalanya kebelakang

Tidak ada, tidak ada apa-apa. Matanya tidak mendapatkan apa-apa sejauh menatap kebelakang, ia hanya melihat reremputan dan pohon menjulang yang berdiri tegak dibelakangnya. Mata lelaki itu mengerjap beberapa kali lalu mengedikkan bahu tanda tak peduli

“Srekkk, srekk”

Suara itu, suara grasak grusuk itu lagi yang didengarnya, kali ini suara itu lebih jelas didengar dari sebelumnya. Luhan hanya diam terkaku. Bukan, ia bukan takut karna mengngira itu hantu atau hal semacamnya, Luhan sama sekali tak takut dengan hal berbau mistis, lagi pula bukankah ini masih siang?

Yang ia takutkan, ia mengngira itu adalah binatang buas yang berkeliar disini. Terlebih dibawah gunung sana hutan. Mungkin saja disana banyak binatang buas, lalu binatang buas itu naik kegunung untuk mencari makan

Luhan bersendekap dan memeluk tubuhnya sendiri. Menenangkan dirinya dan berfikir positif mungkin saja suara grasak-grusuk itu bunyi rumput lebat yang bergesekan karna terpaan angin. “Oh Tuhan lindungi aku” 

“Meow!”

“HAAA!!”

Luhan terlonjak kaget hampir saja terjatuh dari batu yang ia duduki. Se’ekor binatang menghampirinya dan bergelayut manja dikaki kiri Luhan. Luhan mengerjap beberapa kali lalu menunduk kebawah

“Nami!”

Suara seseorang berteriak memanggil kearah Luhan. Luhan menoleh mendapati seorang wanita memakai gaun cassual berwarna putih dengan renda senada sambil meneteng sebuah camera digital ditangan kanannya. Gadis itu menyerit dan mulai mendekati Luhan

“Aku mencarimu kemana-mana, Nami!”

Gadis manis bergaun putih selutut itu menunduk mengambil binatang yang diketahui Luhan adalah se’ekor kucing dari samping kakinya. Gadis yang kini berdiri disampingnya berbicara dengan kucing yang diberi nama Nami itu seperti membentak. Luhan hanya diam menatap gadis dan kucing yang berada dalam dekapan gadis itu heran

“Nuguseyo?”

Gadis disamping Luhan barusan tiba-tiba bertanya sambil menatap Luhan lekat. “Aku baru melihat mu disini”. gadis itu menambahkan

Luhan hanya diam belum merespon sama sekali. Gadis disampingnya menatap Luhan bingung, kepalanya bergerak miring kesebelah kanan dan kiri demi menatap Luhan lebih jelas

“Kenalkan nama ku, Sooyoung. Choi Sooyoung”

Gadis bernama Sooyoung itu tersenyum lebar sambil mengelurkan tangannya kearah Luhan. “Siapa namamu?”

Luhan membelakak, memandang gadis bernama Sooyoung itu dengan pandangan terkejut. Sekarang, gadis itu, mengajaknya berkenalan dengan gamblang. Bukankah ini hal yang sedikit aneh? Gadis itu mengajaknya berkenalan dengan mudah bahkan tanpa kikuk. Berbeda dengan Luhan mengajak berkenalan dengan seorang gadis butuh nyali yang besar

Sekali lagi, gadis yang dianggap Luhan aneh itu menyodorkan tangannya lebih maju kearah Luhan untuk membalas jabatan perkenalannya

“Ahh, aku Luhan. Xi Luhan”. dan lelaki itu akhirnya menjabat uluran tangan Sooyoung sambil tersenyum tipis. Ini terpaksa karna tak ada lagi cara untuk menghindarinya bukan,?

Sooyoung mengangguk mengerti setelah melepas tangan Luhan yang menjabatnya. Lelaki disamping Sooyoung kembali berbalik menatap lukisannya yang setengah jadi dengan gerak-gerik kikuk

“Apa yang kau lakukan?”

Luhan lagi-lagi terperangah, gadis yang baru saja seperkian detik yang lalu ia kenal sedang mengajaknya bicara, ditambah
Sooyoung tiba-tiba berjongkok disamping Luhan sambil meneliti lukisan didepannya, lalu menatap Luhan dengan pandangan bertanya. “Kau melukis?”

Antara ragu, gugup, kikuk dan risih Luhan menjawab seadanya

“Hmm, seperti itulah”

Luhan kembali mengambil palet yang terletak diatas box samping ia duduk lalu mengambil kuas yang lebih kecil dari sebelumnya. Tangannya bergerak mengusap ujung kuas pada kanvas

“Kau orang baru yang datang kesini?”. Sooyoung kembali

“Bagaimana kau tau?”

Luhan menoleh dan menatap kearah Sooyoung yang juga menatapnya. Gadis itu tersenyum yang terlihat sangat manis

“Aku baru melihat mu disini”

“Kau sering kesini?”

Luhan menggaruk tenguknya ragu, bingung, kenapa ia menjawab pertanyaannya Sooyoung dengan refleks

“Bagaimana kau tau?”

Sooyoung mengerjap beberapa kali, menoleh kearah Luhan dengan pandangan bingung. Luhan tersenyum tipis masih tetap focus pada lukisannyan. Sementara ia sendiri bingung apa yang membuatnya seperti ini

“Kau bilang, kau baru melihat ku disini. Otomatis kau berarti sering kesini”

“Ahh, benar juga”

Sooyoung tertawa renyah diakhir kalimatnya, menahan malu betapa bodohnya ia dihadapan lelaki disampingnya. Luhan ikut tertawa pelan, menatap Sooyoung yang tertawa terlihat lebih manis dari senyumnya

Sooyoung menyudahi tawanya. Ia menggaruk bagian tenguk belakangnya yang terasa tidak gatal. Gadis itu salah tingkah dan wajahnya sedikit memerah

“Sebenarnya aku setiap hari kesini”

“Setiap hari?”

Luhan mengangkat sebelah alisnya keatas. Menatap Sooyoung dengan pandangan heran

“Hmm, setiap jam 12 sampai sore aku disini. Lagi pula rumah ku tak terlalu jauh dari sini”

Sooyoung mengangguk-ngagukkan kepalanya beberapa kali. Matanya masih menatap lukisan Luhan yang sedikit lagi selesai

“Err, kau tidak sekolah?”

Luhan menatapnya dengan pandangan ragu. Sooyoung menoleh kearah Luhan kemudian tertawa pelan. Anggukan gadis itu terlihat pasti menjawab pertanyaan Luhan

“Ahh, atau kau sudah selesai sekolah?. Tapi tidak mungkin, wajah mu masih terlihat berumur belasan”

Sooyoung lagi-lagi tertawa, membuat Luhan terlihat kikuk dengan ucapannya. Lelaki itu berkedip beberapa kali, sebelum kembali focus pada lukisannya

“Kau menganggap ku masih berumur belasan tahun?”

“Hmm, begitulah. Kau pasti berpikiran sedangkan aku terlihat sangat tua”

Luhan menekuk wajahnya, merubahnya terlihat cemberut dibuat-buat. Sooyoung terkekeh bertepatan ia bangkit bersama Nami -kucing yang berada dalam dekapannya-

“Aku berumur 24 Tahun, tidak berumur belasan tahun”

Mwo?!

Luhan melotot seolah terlalu terkejut dengan jawaban Sooyoung. Kepalanya menoleh mendongak menatap Sooyoung yang tengah berdiri disampingnya. Gadis itu tersenyum meyakinkan

Luhan menggeleng-gelengkan kepalanya keras, lalu berucap “Tidak mungkin, kau bahkan masih mempunyai gigi susu”

Luhan tetap bersikeras, meyakinkan pandangannya bahwa ia menilai Sooyoung tidaklah salah. Sooyoung terlonjak terlihat begitu gugup

“Itu karna….”

“Karna?”

“Itu… Hey! umur ku memang segitu. K-kalau kau tidak percaya, kau bisa tanyakan pada Yuri”

“Yuri?”

Luhan mengangkat sebelah alisnya keatas. Seolah menganggap ucapan Sooyoung membuatnya lebih bingung. Jujur aja sulit diterima jika memang benar Sooyoung berumur 24 tahun seumuran dengannya. Ini jelas aneh, bahkan gadis itu masih memiliki gigi susu wajahnya juga terlihat masih sangat muda meskipun tinggi gadis itu hampir menyamai tinggi badannya. Apa jangan-jangan Sooyoung kekurangan hormon? Atau malah sebaliknya?

“Dia sahabat ku dari kecil, tanyakan saja padanya”. Sooyoung menjawab

“Kenapa aku bertanya pada sahabat mu? Kau dan dia bisa saja membuat karangan. Lebih baik aku tanyakan saja pada ayah atau ibu mu”

“Ayah dan ibu ku membuang ku”. Jawaban Sooyoung mampu membuat Luhan kembali terkejut

“Ahh, maaf aku tak tau. Bukan mak-”

“Sudahlah aku juga tidak apa-apa. Oh hey! Lukisan mu sangat bagus”

Sooyoung menyudahinya, memotong perkataan Luhan dengan mengalihkan topik. Menunjuk lukisan Luhan dengan tangan kanannya dan tersenyum seakan lukisan lelaki itu sangat bagus dipandang oleh kedua mata bulatnya

“O-oh, terimakasih”. Luhan tersenyum kikuk menggaruk tenguknya salah tingkah

“Apa boleh aku memintanya?. Aku ingin memajangnya dikamar, iyakan Nami?!”

Sooyoung  menggerak-gerakkan tubuh kucing yang berada didalam dekapannya. Seakan meminta respon, apa kucing itu ingin jika ia membawa lukisan Luhan

“Miaw!”

“Kurasa kucing ini juga menginginkannya”. Sooyoung tersenyum sambil mengelus pucuk kepala kucing yang berada dalam dekapan tangannya

“Ahh, tapi-”

“Tidak apa, aku hanya bergurau”

Luhan hanya diam, sambil menoleh kearah Sooyoung dan lukisannya bergantian. Bukan, ia bukannya tak ingin memberikannya. Hanya saja Baekhyun lebih dulu meminta lukisan yang ia buat disini. Terlebih itu sudah jauh-jauh hari sebelum ia kesini, Baekhyun terus merengek minta dibikinkan lukisan untuk kekasihnya

“Bagaimana jika besok akan aku bikinkan untuk mu? Aku janji aku akan kesini lagi, besok!. Otthe?”

Luhan menggesekkan ketiga jari kanannya, menghasilkan bunyi jentikan tangan yang sangat khas diakhir ucapannya. Sooyoung terkesiap, menatap Luhan dengan pandangan terkejut

“Kau mempercayai ku secepat ini?”

“Maksudmu?”. Luhan bertanya dengan bingung

“Maksudku, bukankah kita baru mengenal dan itupun terjadi dengan sekejap. Kau tidak menaruh curiga pada ku, aku bisa saja bersikap jahat padamu”

Luhan tertawa, sangat renyah membuat Sooyoung kebingungan setengah mati. Gadis itu terpana menatap Luhan yang sedang tertawa hampir menampilkan lesung pipinya yang tidak dalam

“Kau tidak sejahat antagonis didalam Drama, bukan?”. dan mereka saling tertawa berdua

“Hah syukurlah, akhirnya aku mendapat teman sebaya ku selain Yuri”

“Eh?”. Luhan menyerit bingung menatap Sooyoung

“Hmm, selama ini aku hanya memiliki satu teman, Yuri. Banyak yang tak mau berteman dengan ku, karna mereka menganggap ku aneh”

Sooyoung memberi tanda kutip diakhir kalimat dengan dua jari kanannya, seakan menakuti Luhan. Dan lagi-lagi Luhan tertawa pelan melihatnnya

“Apanya yang aneh? Menurutku kau cukup menyenangkan”

Sooyoung tersenyum bersamaan dengan Luhan. “Yosh…, akan ku tunggu kau disini besok”

Sooyoung menunjuk dengan jari manis kanannya kebawah, memberitahu Luhan agar ia akan menunggu lelaki itu tepat disini. Luhan tersenyum lekas mengangguk

“Hah?! Nami!”. Sooyoung berteriak kaget setelah melihat jam tangan yang bertengger manis dipergelangan tangan kirinya

“Kita telat, Yuri pasti akan marah. Ayo cepat kita pulang!”. Gadis itu kembali mendekap kucing yang berada disela-sela kedua tangannya lebih erat, lalu menoleh kearah Luhan

“Maaf, Luhan. Aku harus pergi, sampai jumpa!”

Dan Sooyoung berlari pergi meninggalkan Luhan yang menatapnya dengan pandangan bingung. Gadis bergaun putih selutut itu menghilang dibalik jalan

.

.

Luhan merebahkan tubuhnya diatas kasur beralas putih bersih. Lelaki itu kerap kali menggela nafas, sedangkan pikirannya jauh berkelana ke kejadian tadi sore

Ia bertemu seorang gadis bahkan sekarang terlihat sangan dekat. Luhan tak pernah seperti ini selama ketika bertemu dengan gadis lain. Ia cenderung diam dan terlihat canggung berbicara dengan gadis.

Luhan bukan Baekhyun yang terlihat akrab dengan banyak gadis. Luhan juga bukan Chanyeol temannya, yang banyak bicara dan dapat mengendalikan suasana percakapan

Luhan hanya seorang lelaki pendiam dan tertutup dengan orang baru. Tapi, ketika gadis bergaun putih selutut itu mengajak ia berkenalan, semuanya berbeda

Choi Sooyoung, gadis itu berbeda dari gadis-gadis yang pernah ia temui. Sooyoung berbeda dengan segala sesuatu dari dalam dirinya

Sooyoung terlihat seperti kekanakan terlebih wajahnya. Begitu aneh gadis itu mengangku bahwa usia menginjak 24 Tahun sama sepertinya, sementara gadis itu masih memiliki gigi susu. Siapapun yang melihatnya pasti akan berpikiran sependapat seperti Luhan

Satu pemikiran Luhan tentang gadis yang membawa camera digital dan kucing itu, apa Sooyoung memiliki penyakit atau kelainan?. Atau memang Sooyoung yang berbohong?

Bahkan gadis itu juga mengaku tidak bersekolah lagi. Luhan begitu penasaran dengan Sooyoung. Hanya saja terlalu takut bertanya lebih jauh, meskipun Sooyoung terlihat baik-baik saja

Mendadak bunyi dering ponsel Luhan terdengar tepat disamping kepalanya terletak. Tanpa melihat nama penelepon muncul dilayar persegi panjang itu, Luhan langsung mengangkat panggilannya lalu berucap halo untuk orang disebrang sana

Lu!”

Si Baekhyun ternyata

Bagaimana dengan lukisan ku? apa selesai?”

“Hmmm”

Luhan hanya bergumam sebagai balasan, membuat Baekhyun yang berada diseberang sana jengkel. Tidak biasanya lelaki bermarga Xi itu seperti ini, pikir Baekhyun

Ada apa dengan mu, Lu?”

Seakan mengerti dengan maksud Baekhyun, Luhan mendadak terdiam. Ragu, antara ingin menceritakannya kepada Baekhyun atau tidak tentang tadi Sore

“Kau tau, Byun?”. Luhan berucap

“Ya?”

“Aku bertemu seorang gadis digunung yang kau maksud”

“Gadis?, Digunung?, kau menyukainya?, apa dia cantik?”

Baekhyun berucap menggebu disebrang sana, penasaran dengan cerita Luhan. Membuat Luhan merasa jengkel dengan keantusiasan temannya itu

“Ku akui dia cantik, tapi kalau masalah aku menyukainya atau tidak, aku tidak tau”

Baekhyun menyerit mendengar ucapan Luhan

“Hei ada apa dengan mu, bung?”. Baekhyun mengomentarinya

“Ada apa dengan ku?”. Luhan balik bertanya merasa bingung dengan arah bicara Baekhyun. Membuat lelaki diseberang sana mendengus semakin jengkel pada Luhan

Jadi intinya kau menyukainya atau tidak?”. Baekhyun berucap gemas pada Luhan

“Aku baru sekali bertemu dengannya bodoh! itupun hanya sebentar. Jadi, mana mungkin aku langsung menyukainya”

“See, jawaban mu labil Luhan“. Baekhyun terkikik disebrang sana

“Labil apanya?”. Sewot Luhan

Pertama kau bilang tidak tau apa kau menyukainya atau tidak, sekarang kau bilang mana mungkin kau suka padanya jika hanya bertemu sekali dengannya. Jadi Lu, jawaban mu yang pasti mana?”

“Aku tidak tau”

Luhan menggaruk-garuk kepalanya bimbang.

“Atau jangan-jangan kau jatuh cinta pada pandangan pertama?”. Tebak Baekhyun sambil kembali terkikik

“Bagiku itu terdengar konyol, Byun!”

Baekhyun terbahak diseberang sana, membuat Luhan mendesah frustasi sambil mengutuk temannya itu dalam hati

“Berhenti tertawa Byun Baekhyun! Ini sama sekali tidak lucu. Gendang telinga ku sungguh rusak mendengar tawa mu!”

“Pfff, baiklah, baiklah“. Baekhyun menyudahinya sambil sesekali tertawa. ‘”Tapi seharusnya kau mengatakan ‘untuk saat ini aku masih belum menyukainya”

“Begitukah?”

Luhan menjawab dengan polos dan itu membuat Baekhyun disebrang sana kembali terbahak. ‘Luhan, Luhan mau saja dibodohi’ batin Baekhyun dalam hati

Apapun itu, jangan lupa bawakan lukisan ku besok, oke!”

Luhan mendecih sinis mendengar 5 kata terakhir dari ucapan Baekhyun. Memang aku ini pembantunya apa? Luhan semakin sewot

Setelah itu tidak lagi terdengar suara Baekhyun diseberang sana, yang ada hanya suara ‘klik’ bertanda panggilan temannya itu berakhir

Luhan mengenyampingkan tubuhnya kekanan. Kepalanya bertumpu dengan tangan kanan sementara tangan kirinya terjulur kedepan mengarah kenakas. Luhan menempelkan satu jari kirinya keatas robot kayu berukuran kecil diatas nakas. Matanya menatap kosong kearah robot dengan tinggi 10 centi itu

Pluk!

Robot itu terjatuh kelaintai karna pergerakan jari telunjuk Luhan. Lelaki itu menghela nafas, kemudian memejamkan mata

Semua tetap sama, bayangan Sooyoung selalu muncul ketika ia memajamkan mata. Tidak mau terlalu lama tenggelam dalam bayangan Sooyoung, Luhan lekas membuka mata, menggeleng-gelengkan kepalanya dengan keras

“Kuharap kita akan berteman baik, Choi Sooyoung”

.

.

Luhan menghentak-hentakkan kakinya keatas tanah sambil sesekali bersenandung pelan. Sudah lebih sejam ia berada disini, ditempat yang ia janjikan dengan Sooyoung sebelumnya. Gunung

Lelaki itu kembali melirik jam tangan yang melingkar dipergelangan kirinya. “Sebentar lagi. Ya, sebentar lagi”

Luhan bergumam sambil mengangguk-nganggukkan kepalanya beberapa kali. Meyakinkan dirinya sendiri bahwa pemikiraan dia benar adanya

“Eo?! Luhan?”

Seseorang menepuk bahu kiri Luhan pelan. Luhan terpejerat, segera menoleh kesamping. Sesosok Sooyoung terlihat terkejut menatap Luhan

“Sejak kapan kau disini?”. Sooyoung bertanya

“Aku, b-baru saja sampai disini”

Luhan tersenyum sebisanya namun terlihat kikuk. Sooyoung menaikan sebelah alisnya, merasa tidak yakin dengan jawaban Luhan

“Kau tidak bohongkan?”. tebak Sooyoung

“Untuk apa aku bohong?”

Lelaki itu tersenyum lebih meyakinkan ketimbang tadi, menjeleskan sebisa mungkin pada Sooyoung bahwa ia memang sedang tidak berbohong. Meskipun nyatanya ia memang benar berbohong saat ini

“Baiklah”. Sooyoung menghela nafas, memandang Luhan dengan pandangan yang sulit diartikan

Luhan hanya tersenyum tipis lalu beralih mendekati box perlengkapan melukisnya. Sooyoung menyerit heran ketika Tangan lelaki itu bergerak meraih Easel dan hendak mengatur diameternya

“Apa yang kau lakukan?”

“Melukis, tentu saja”

“Disini?”

Luhan menyerit bingung, menatap Sooyoung yang terlihat aneh ditangkap oleh pandangannya. “Memang dimana lagi?”

“Akan kutunjukan satu tempat untuk mu. Ayo! Cepat bawa perlengkapan mu”

Luhan menurut, membiarkan Sooyoung mendorong punggungnya dari belakang. Menyuruhnya untuk lebih dulu berjalan sementara ia akan menunjukkan jalannya dari arah belakang.

“Sebenarnya kita akan kemana?”

“Kau akan tau nanti”

Luhan akhirnya memelih diam, ia tetap menurut tidak memberontak ketika Sooyoung mendorong punggungnya dengan pelan sambil berjalan

“Ahh, aku titip ini”

Sooyoung memberhentikan langkahnya dan Luhan otomatis mengikutinya. Luhan berbalik menghadap Sooyoung, memandangi gadis itu dengan pandangan heran.

“Apa lagi?”. Sahut Luhan sedikit jengkel

“Kau marah ya?”. jawab Sooyoung sambil menunduk,  tidak berani menatap Luhan

“Sooyoung bukan mak-“. dan gadis itu buru-buru memotong ucapan Luhan dengan kekehan khasnya

“Hehe, tidak masalah. Emm bisakah kau membantuku?. Ini sedikit berat, boleh aku menaruhnya disini?”

Sooyoung tersenyum lebar sambil menunjuk kedalam box yang berada ditangan Luhan. Gadis itu menodongkan kearah Luhan, kucing ditangan kanannya dan camera digital yang sering ia bawa ditangan kirinya. Luhan mengerjap beberapa kali kemudian mengangguk pasrah

“Tenang saja, dia-“. Sooyoung menunjuk kucing didalam box Luhan dengan jari telunjuk kanannya.

“Tidak akan mengompol atau membuang kotoran didalam box mu. Aku jamin itu”

Kemudian Sooyoung tersenyum meyakinkan sambil menepuk-nepuk pelan bahu Luhan beberapa kali.

“Bukan itu yang ku maksud”. Luhan kembali menyanggahnya namun Sooyoung lagi-lagi hanya tersenyum tipis menanggapi sanggahan Luhan. Ia lekas membalik posisi Luhan seperti semula, dan mendorong punggung Luhan pelan dari belakang

Beberapa meter lagi, jika terus berjalan lurus Maka, mereka akan keluar dari hutan dibawah gunung tidak tinggi ini. Namun anehnya, Sooyoung berbelok kearah kanan membawa Luhan menyusuri jalan setapak yang penuh dengan rerumputan setinggi mata kaki

“Sebenarnya kita akan kemana?”. Luhan menoleh sekilas kebelakang, memberi pertanyaan kepada Sooyoung

“Kau akan tau nanti”. Sooyoung tersenyum dibalik punggung Luhan.

Luhan hanya diam setelah selesai mendengar jawaban dari Sooyoung. Lelaki itu pasrah, kemanapun gadis bermarga Choi itu membawanya

“Cha! Kita sudah sampai!”

Luhan sedikit mendongakkan kepalanya yang semula menunduk, kini menatap kearah depan. Matanya seketika membulat karna terlalu terkejut. Sementara itu, Sooyoung berjalan lebih dulu beberapa langkah dari jarak Luhan berpijak. Gadis itu memekik tertahan sambil melompat-lompat kecil beberapa kali

“Bagaimana?, disini indah bukan?”

Sooyoung memecah suara dari keterkejutan Luhan sambil tersenyum senang. Luhan mengerjapkan matanya pelan sambil berjalan mendekati Sooyoung

“Oe, terlihat mengagumkan”

Dan Luhan tersenyum sambil menatap keseliling tempat ini. Mata Lelaki itu menyiratkan kekaguman mendapati tempat indah seperti ini, tersembunyi didalam hutan. Didepannya terdapat danau yang terlihat sangat cantik serta pepohonan rindang menemani. Luhan tak pernah berpikir jika ada tempat seperti ini

“Ayo sini!”

Sooyoung menarik lengan baju Luhan sedikit tidak sabar. Membawa lelaki itu untuk mendekati tepi danau

“Tunggu sebentar, aku akan menggelar tikar lipat disini”

Kemudian Sooyoung dengan gesit meletakkan keranjang yang terlihat seperti keranjang piknik itu diatas tanah reremputan. Luhan menyerit heran mendapati Sooyoung ternyata sedari tadi membawa keranjang piknik

“Sejak kapan kau membawa keranjang piknik itu?”

Luhan bertanya sambil menunjuk keranjang Sooyoung dengan kedua bola matanya. Sooyoung tertawa geli sementara tangannya sibuk mengatur tata letak tikar lipat yang ia ambil dari dalam keranjang piknik tadi

“Kau tidak menyadarinya?. Aku membawanya sedari tadi, makanya aku meletakkan Nami dan camera didalam box mu karna aku kesusahan jika harus membawanya tiga sekaligus”

Luhan hanya mengangguk-nganggukkan kepalanya kikuk mendengar penjelasan Sooyoung. “Duduklah!”

Sooyoung menepuk-nepuk tempat disebelahnya duduk, menyuruh Luhan agar ikut mengikutinya. Luhan tersenyum tipis dan segera duduk disamping Sooyoung

“Aku juga membawa beberapa cemilan”. ucap Sooyoung

“Wah…, kau sudah benar-benar menyiapkannya ternyata”

Luhan tersenyum sambil menatap pergerakan Sooyoung yang sibuk mengeluarkan toples kecil berisi kue kering dan snack

“Eo, aku sudah menyiapkannya, bahkan dari tadi malam”. Sooyoung menjawab seraya mengulas senyum tipis dibibirnya

“Mau?”

Sooyoung menyodorkan kue kering rasa coklat kearah Luhan. Dengan senang hati Luhan menerimanya dengan senang hati, mengucapkan terimakasih setelah tersenyum. Luhan memakannya kemudian

“Kau juga sering kesini?”

Dan Luhan juga ikut sibuk mengatur alat perlengkapan melukisnya. Mulai dari mengatur tata letak Easel terlebih dahulu

“Begitulah”. Sooyoung tersenyum seadanya, matanya terlihat kosong dipandang Luhan, sedangkan tangan gadis itu sibuk membuka satu persatu tutup toples yang ia bawa

“Ada masalah?”

Luhan bertanya dengan nada ragu, sedikit menelisik perubahan mimik Sooyoung. “Kenapa kau terli-”

“Tidak, hanya saja….”

“Hanya?”. Luhan mengulangi kata kedua dari Sooyoung, menanti lanjutan dari ucapan gadis itu yang sempat terpotong

“Tidak, tidak ada”. Sooyoung menyudahinya dengan senyuman tipis sebagai penutup diakhir ucapannya

“Kau yakin?”. Luhan meragukannya. “Berceritalah”

“Hei! kenapa kau sangat ingin tau?”

“Karna aku penasaran”

Luhan membalasnya dengan suara bervolume kecil, hampir tak terdengar oleh alat pendengaran Sooyoung

“Baiklah, baiklah”. ucap Sooyoung sambil diselingi kekehannya

“Disini rumah kedua ku”

Luhan menyerit mendengar ucapan Sooyoung. Lelaki itu tersadar lalu segera menjawab. “Rumah kedua mu?. Kau tidak gilakan, Soo?. Disini hutan. Kau berniat menjadi tarzan versi wanita?”

“Bodoh!, bukan itu maksud ku”

Sooyoung menjitak kepala bagian kiri Luhan, membuat lelaki yang terkena jitakan tangan Sooyoung mengaduh kesakitan dengan gaya yang dibuat-buat

“Lalu?”. lelaki itu berucap tanya sambil mengelus kepalanya yang sempat dijitak Sooyoung

“Ketika aku merasa kesepian atau macam hal sejenis itu, aku akan kesini”

“Menyalurkan perasaan mu, begitu?”

“Bisa dibilang seperti itu”

Sooyoung tersenyum tipis lalu menyerahkan kembali setoples kue kering kearah Luhan. Luhan menerimanya, kemudian mengambil salah satu kue kering yang berada dalam toples itu. Sebelum memakan kue kering yang Sooyoung berikan, Luhan buru-buru berucap

“Kau kan bisa curhat pada temanmu, siapa itu?”

“Yuri maksud mu?”. Luhan mengangguk-angguk

“Yuri tak selalu ada untuk ku”. Sooyoung berhenti sebentar lalu kembali melanjutkan ucapannya

“Yuri kan sekolah, bekerja, dia juga punya pacar. Jadi, kadang dia juga berkencan”. Sahut Sooyoung, lalu kedua lutut kaki gadis itu melipat bersendekap didepan dada. Ia melirik Luhan, menanti jawaban selanjutnya dari lelaki itu

“Lalu bagaimana dengan mu?, kau punya pacar?”. Sooyoung terkekeh pelan lalu menggeleng dengan yakin

“Bekerja?”

“Aku sering membantu Yuri, ditoko bunganya”

“Kau juga sekolahkan?”. Kemudian Sooyoung tertawa keras sambil memegangi perut kecilnya. Luhan mengerjap bingung mendapati suara tawa dadakan Sooyoung

“Bukankah sudah ku bilang, aku tidak Sekolah”

“Kau serius? Tidak sekolah?”. Luhan mengulanginya bertanya lebih pasti, namun hanya anggukan kepala Sooyoung beserta senyum tipisnya

“Ada lagi yang ingin kau tanyakan?”

“Kurasa tidak”

Kemudian Luhan mengeyamping, meletakkan Easel didepannya, lalu mengeluarkan box kecil berisi kuas dan pisau palet. Ia juga mengeluarkan tempat palet untuk mengisinya dengan warna-warni cat cair. Lalu berhenti mendadak, membuat Sooyoung sedari tadi mengawasinya menatap Luhan bingung

“Emm… kenapa kau tidak sekolah?”. Sooyoung mengerjapkan mata beberapa kali, terkejut mendapati Luhan yang tiba-tiba berbalik kearahnya

“Karna bersekolah tidak menjamin kebahagian”

Alis kiri Luhan merangkak naik keatas, bertanda bingung dengan jawaban Sooyoung. “Maksud mu?, tidak menjamin kebahagiaan?. Tapi setidaknya kau disekolah mendapat teman yang dapat membuat mu sedikit bahagia”

Kali ini Sooyoung tertawa. “Kata siapa? itu mungkin berlaku untuk mu, tapi tidak untuk ku”

“Maksud mu?”

“Aku tidak mendapatkan teman dari pertama kali sekolah sampai berhenti sekolah dan sekarang, kecuali Yuri, bukankah sudah ku ceritakan”

“K-kenapa?”. Luhan berucap ragu

“Entah. Tapi yang ku yakin, karna aku seorang pendiam dan tertutup jadi, mereka beranggap aku ini aneh”

“Tapi, itu bukan alasan utama mu untuk berhenti sekolahkan?”. Luhan berucap memastikan. Sooyoung tersenyum sambil mengangguk-ngangguk

“Hey! setidaknya kau bisa meraih impian mu dengan sekolah. Kau akan tau betapa sulitnya mencari kerja dikota sebesar ini, jika sekolah mu tidak tuntas”

Sooyoung tersenyum masam mendengar ocehan Luhan yang terdengar seperti ocehan ibu kepada seorang anak. Ia kemudian duduk bersimpuh tepat didepan Luhan yang sedang menatapnya

“Aku tetap tidak ingin sekolah”

“Kenapa?!”

Luhan hampir memekik, begitu antusias dengan rasa ingin tahunya terhadap alasan Sooyoung dibalik fakta bahwa gadis seumuran dengannya itu tidak ingin sekolah. Sooyoung mengerjap beberapa kali, terdiam untuk sejenak

“Kau serius ingin tau?”. Luhan mengangguk dengan pasti

“Semenjak aku sekolah menengah pertama dari kelas tujuh sampai sembilan, satu orangpun tak ada yang pernah mau berteman dengan ku”‘. Sooyoung berhenti sejenak, mengambil jeda untuk menelisik mimik Luhan, namun nampaknya lelaki itu tidak sabar untuk menanti ucapan Sooyoung selanjutnya

“Mereka semua menganggap ku orang yang aneh, pendiam, dan sangat tertutup. Yuri selalu memerahi ku ketika aku pulang dari sekolah dengan keadaan babak belur?”

“Babak belur?”. Luhan memekik dengan kedua alis yang bertaut. Pikiran Luhan mengelana untuk beberapa pikiran yang memenuhi otaknya, menerka-nerka apa maksud Sooyoung

“Kau tau? Masih banyak disekolah korea, jika menemukan murid aneh apalagi tipikal seperti ku dijadikan sebagai bullying”

“Jadi maksud mu kau korban kekerasan?”. Sooyoung terkekeh pelan

“Hm… dan ini!”. Sooyoung menunjuk bekas luka dibagian pangkal tangan kanannya kearah Luhan

Lelaki itu memerhatikannya kearah yang ditunjuk Sooyoung, itu terlihat seperti bekas jahitan yang terlihat cukup panjang. Luhan ingin menanyakanya dimana gadis itu mendapat luka seperti itu. Namun ketika ia ingin membuka suara, Sooyoung lebih dulu menyumpalinya

“Ini ku dapatkan, ketika aku berani melawan pereman disekolah”

Sooyoung membenarkan lengan bajunya yang sempat ia gulung sebahu untuk menampilkan bekas luka sayatan kepada Luhan. Gadis itu kembali tersenyum, lalu beralih kearah Luhan

“Semenjak itu, setelah kelulusan, aku tak ingin lagi melanjutkannya ke sekolah menengah atas dan Yuri juga tidak keberatan akan hal itu”

Sooyoung tertawa hambar dengan pelan, matanya menatap kearah danau dengan pandangan yang sulit diartikan

“Hanya berani melawan preman sekolah?”

Mata Luhan berkedip-kedip cepat, masih sama menatap Sooyoung. Gadis itu hanya mengangguk sebagai respon dari pertanyaan itu

“Kenapa bisa?”

“Ehmmm…. bisakah jangan membahasnya?. Masa lalu yang kelam tidak seharusnya diungkitkan?”

Sooyoung menggaruk tenguknya ragu, membuang pandang kearah lain. Tidak seharusnya ia bercerita serinci ini

“Ah.. maaf”

“Ya”

Dan lagi-lagi Sooyoung tersenyum, membuat Luhan sedikit tertegun dengan senyum manisnya bak malaikat. Benar-benar gadis yang murah senyum

“Maaf..”. Luhan berucap pelan dengan nada menyesal

“Untuk?”.

Sooyoung menoleh, meminta penjelasan dari arti ucapan menyesal lelaki disampingitu

“Untuk, karna aku telah berpikir negative tentang kenapa kau tidak ingin sekolah”

“Sekarang, itu tidak menjadi masalah bagi ku”

Sooyoung tersenyum, membuat Luhan juga mengikuti hal yang serupa seperti gadis itu

.

“Langit begitu cerah hari ini”

Ucap Sooyoung, Ia sekarang rebahan diatas tikar lipat berwarna kotak-kotak merah putih. Tangan kanannya terangkat untuk menutupi kedua belah mata akibat teriknya matahari. Meskipun posisinya saat ini tepat berada dibawah pohon, cahaya tetap merembet masuk melalui sela-sela daun.

“Ya, kupikir juga begitu”

Luhan menyahut tepat disamping Sooyoung rebahan. Posisinya sama seperti yang dilakukan Sooyoung, rebahan dengan tangan kiri sebagai pelindung mata dari rembetan cahaya.

Satu jam telah berlalu dari waktu yang mereka habiskan sebelumnya. Hari juga semakin terasa terik, namun nampaknya kedua insan itu seperti enggan meninggalkan tempat ini meskipun tidak ada kegiatan menyenangkan yang dapat dilakukan.

Tiba-tiba Nami, si kucing berwarna putih bersih meringsut dengan cara melopat tepat ditengah-tengah kedua insan itu merebahkan diri. Luhan berjengit kaget, hampir saja memekik keras akibat aksi dadakan kucing itu.

“Jangan nakal, Nami!”

Sooyoung membentak kepada kucingnya, meskipun dengan sedikit kekehan lucu mendapati ekspresi konyol Luhan ketika terkejut. Gadis itu bergerak menyamping, mengelus pelan punggung Nami

“Kau lucu, Luhan”

“Apa?”. Luhan mengerjap mata beberapa kali

“Kau lucu, apa kurang jelas?”

Sooyoung tersenyum sambil menatap Luhan tepat dimata lelaki itu. Tangannya tak lagi mengelus kucing kesayangannya. Sooyoung memberi senyum ketulusan kepada Luhan

“Aku lucu?”. Luhan tertawa. “Dari sisi mananya?”. Lelaki itu mengangkat satu alis kirinya, meminta jawaban pasti dari ucapan Sooyoung.

“Ketika kau terkejut, menurut ku itu lucu”

Luhan memalingkan wajahnya yang semula menatap Sooyoung. Wajahnya terlalu merah jika hanya diperlihatkan pada Sooyoung. Tidak bisa mengelak, bahwa lelaki itu memang sedang tersipu malu

“Turut senang mendengarnya”. Kemudian Sooyoung dan Luhan sama-sama terkekeh

“Lukisannya…”. Ucap Luhan ragu

“Kau serius ingin membawanya?”

Alis Sooyoung bertaut hampir saja menyatu satu sama lain. Merasa heran dengan ucapan lelaki disampingnya

“Kenapa tidak?”

Luhan terkekeh tanpa sebab yang tidak Sooyoung ketahui. Tangan kepala lelaki itu bergerak gusar tepat diatas kepalanya, membuat Sooyoung semakin bingung akan itu.

“Kurasa lukisannya jelek, jadi sepertinya…….”

“Masa sih?”. Sooyoung buru-buru bangkit, menggapai lukisan Luhan yang berada disampingnya secepat mungkin

Matanya bergerak kesana-kemari menelisik lukisan Luhan jauh lebih jeli. Luhan mengawasinya ikut bangkit kala Sooyoung juga bangkit. Ekspresinya gelisah menanti komentar Sooyoung

“Emm…”

Sooyoung menggantung suara saat iya berhenti memandangi lukisan Luhan. Gadis itu mengerjap beberapa kali sambil memiringkan kepalanya lalu kembali beralih menatap lukisan Luhan.

“Tidak, ini tidak jelek Luhan!”

Sooyoung menggeleng keras. Kepalanya menghadap Luhan menatap lelaki itu dengan pandangan bingung. “Jelek dari sisi mananya?. Ini bahkan terlihat sangat bagus, kau melukisnya seperti orang yang sudah professional”

“Jangan memuji terlalu berlebihan”

Luhan tertawa masam, cepat-cepat meralat ucapan Sooyoung.

“Berlebihan bagaimana?”

Gadis itu lagi-lagi membentaknya, membuat Luhan cemberut begitu saja. “Aku merasa itu jelek. Kau memuji itu sangat bagus, kau juga bilang aku sudah professional, asal kau tau aku tidak punya bakat dalam seni. Apa salah ku bilang itu berlebihan?”

Sungut Luhan, membantah segala hal yang Sooyoung katakan padanya sebelumnya.

“Itukan menurut mu, bukan menurut orang lain”

“Orang lain juga akan beranggapan sama seperti ku”

“Baiklah, baiklah”. Sooyoung melerai sebelum Luhan akan kembali menyangkal ucapannya. Gadis itu mendesah jengkel lalu kembali menatap lukisan Luhan bergambar Hutan itu

“Bagus atau tidak, aku akan tetap membawanya”

Sooyoung tersenyum senang sambil menatap Luhan. “Kau tidak berhak melarangnya, karna ini sudah jadi milik ku”

Gadis itu memeletkan lidahnya, mengejek kearah Luhan. “Terserah mu lah”

“Yosh…., kalau begitu aku akan mendaftarkannya dalam kontes lukis”

Luhan membelakak kalang kabut, empat kata terakhir dari ucapan gadis itu membuatnya kaget setengah mati

“Jangan!”

Luhan melambai-lambaikan keras kedua tangannya kearah Sooyoung. Aksi protes dari hal yang akan gadis itu lakukan. Mata Luhan memancarkan kekhawatiran yang lebih

“Kenapa jangan?”. Sooyoung menaikkan sebelah alisnya keatas. “Tenang saja aku akan mencantumkan nama mu sebagai pelukis aslinya”

“Aku tidak peduli dengan nama pelukis aslinya siapa. Tapi tetap saja jangan!”

“Oh ayolah sekali saja”

Kedua tangan Sooyoung beraut rapat memohon kepada Luhan. Matanya mengerjap beberapa kali, membuat ekspresi seimut yang ia bisa untuk meluluhkan hati Luhan

“Tapi….”

“Ku mohon..”

Sooyoung semakin memintanya membuat berbagai ekspresi lucu kearah Luhan. Tak ada cara lain selain ini yang dapat dilakukan Sooyoung untuk membujuk lelaki itu

Aish.. Jeongmal, arra, arratago

Luhan membuang muka kesamping, tangannya mengibas-ngibas kearah Sooyoung, menyuruh gadis itu agar berhenti membuat ekspresi konyol yang ditangkap oleh penglihatan Luhan

“Terimakasih!”

Sooyoung langsung memeluk Luhan, memekik senang sambil terkekeh disisi kanan leher Luhan.

Dan untuk kali pertama lelaki bermarga Xi itu merasakan sensasi yang aneh. Jantungnya berdegup kencang, tangannya gemetaran, mukanya terasa panas dan lidahnya kelu

Luhan mengerjap-ngerjap bingung dalam dekapan Soyoung, iya tak pernah merasakan hal seperti ini.

‘Errr.. ada apa dengan ku?’

Luhan membatin dalam hati

.

.

Luhan menaruh nampan berisi setumpuk makanannya pada meja kantin kampus. 17 menit yang lalu kelas paginya telah berakhir, Luhan mengisi isi perutnya terlebih dahulu sebelum kelasnya kembali dimulai

“Luhan!”

Luhan tersedak air putih ketika sesorang berteriak tepat dihadapannya saat ia sedang menegak minumannya. Lelaki itu menepuk-nepuk pelan dadanya yang terasa sakit, berdengus jengkel sebentar lalu mendongak kedepan

‘Dua orang idiot ternyata’

Luhan kembali pada kekegiatan semulanya tanpa memikirkan tatapan nyalang orang dihadapannya

“Luhan!”

Luhan berdecak sebal lalu mendongak kearah Baekhyun dan Chanyeol -Dua orang idiot yang Luhan maksud-

“Apa?”

Baekhyun tertawa dengan ekspresi ketidak percayaannya, Tangannya mengepal kuat, dari atas kepalanya seolah terlihat api yang sedang mengepul keluar

“Kenapa kemarin tidak masuk kampus?”

Chanyeol lebih dulu berbicara sebelum Baekhyun mewakilinya dengan cerocos ucapan kemuarkaan terhadap Luhan. Lelaki bermarga Park itu menepuk-nepuk bahu kanan Baekhyun untuk menenangkan amarah teman disampingnya

“Aku ke gunung”

“Gunung?”

Kedua lelaki didepan Luhan memekik kearas. Baekhyun dan Chanyeol bertukar pandang, sedetik kemudian ekspresi kebingungngan tergambar jelas pada wajah tampan keduannya

“Apa yang kau lakukan disana?”

Chanyeol semakin mencondongkan tubuhnya kedepan setelah berucap tanya pada Luhan. Chanyeol menatap Luhan, ekspresinya seakan tergambar meminta jawaban dari tanyanya

“Tidak ada”

“Bohong!”

Baekhyun menyangkalnya. Tubuhnya ikut melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Chanyeol. “Kau bertemu dengan gadis itu kan? Gerochi!”

“Gadis?, Gadis siapa?”

Chanyeol kembali menegakkan tubuhnya seperti semula lalu beralih menatap Baekhyun, tangannya bergerak meraih bahu kanan Baekhyun lalu menggoncangnya.

“Baiklah, baiklah. Aku memang bertemu dengan gadis itu”

Luhan menaruh sumpit tepat disamping mangkuk nasinya, acara makannya jadi terganggu karna ulah dua temannya ini

“Apa yang kalian lakukan?”

Baekhyun mendelik, menatap Luhan dengan pandangan curiga. “Sebatas mengobrol, itu saja”

Geojitmal!”

“Aku tidak berbohong, Byun!”

Luhan membentak dengan menggebrak meja kantin

“Kau memang pembohong!. Kau bilang akan mengantarkan lukisannya, tapi kau malah pergi dengannya”. Baekhyun tetap bersikeras menuduh-nuduh Luhan dengan mengacungkan jari manisnya kearah lelaki itu. “Kau tau berkat kau, aku harus membatalkan kencan ku dengan Taeyeon!”

“Yak!!”

Chanyeol memekik, ikut-ikutan hal serupa sama seperti Luhan yang mengebrak meja. Matanya melirik kesekitar. Menjadi perhatian dari seluruh mata penjuru kantin, memang benar-benar memalukan. Jadi, cara seperti ini memang ampuh untuk melerai keduanya

“Aku dari tadi bertanya siapa gadis itu, kenapa tidak dijawab?”

Chanyeol merasa semakin gemas. “Kau bisa tanyakan pada, Nyeol”

Baekhyun melipat kedua tangannya didepan dada sedangkan Chanyeol melirik jengkel kearah orang disampingnya, mearas terledek dengan kata terakhir yang diucapkan Baekhyun

“Tidak usah memanggil ku dengan kata ‘Nyeol’, banci”

“Aku tidak banci, Park Chanyeol!”

Baekhyun memukul bahu kiri Chanyeol dengan keras sebagai bentuk tidak terima dikatai banci. Dan, Chanyeol hanya bisa mengaduh kesakitan

“Kau memang banci, Byun”

Luhan menghardiknya, ikut membantu Chanyeol untuk mengatai Baekhyun. Chanyeol kemudian mengajak Luhan untuk berhigh five ria karna berhasil membuat si Byun itu merasa kesal

“Tidak penting dengan kata banci. Kalian harusnya bersyukur karna aku masih bisa mengontrol emosi ku untuk tidak membunuh kalian”. Baekhyun berhenti sejenak untuk mengatur napasnya, dagunya bertumpun pada kedua tangannya yang terletak diatas meja kanting

“Yang terpenting sekarang adalah siapa gadis itu, Luhan?”

Chanyeol mengangguk setuju dengan ucapan Baekhyun. Luhan bergerak gelisah melihat tatapan keingintahuan kedua temannya. Luhan kemudian berdehem pelan lalu membuka suara

“Gadis yang kutemui di gunung itu lumayan cantik untuk kategori wanita korea, ceria, murah senyum, baik menurut pandangan ku”

“Ireum, Siapa namanya?”. Baekhyun dan Chanyeol bertanya serempak

“Sooyoung. Choi Sooyoung”

.

.

Luhan menutup pintu mobilnya pelan, kakinya berpijak pada tanah hutan. Kemudian setelah merasa aman dengan mobilnya, Luhan buru-buru mendaki keatas gunung.

3 hari telah berlalu, hari dimana terakhir kali ia bertemu dengan Sooyoung si gadis yang selalu membawa camera dan kucingnya. Luhan berencana untuk menemui gadis itu untuk entah apa alasannya. Tiba-tiba saja ia merasa ingin bertemu dengan Sooyoung

Jujur saja lelaki itu merasa malu, ketika sisi lain dari kata hatinya mengatakan ia merindukan Sooyoung. Gadis yang selalu menarik perhatian Luhan untuk lebih kenal jauh mengenalnya dan kehidupannya

Mungkinkah kata Baekhyun memang benar, kalau ia memang menyukai gadis itu?

Luhan menggelang keras. Tanganya bergerak mengelus-ngelus dadanya yang berdegup sangat kencang. Matanya mengerjap bingung lantaran tak pernah merasakan sensasi seperti ini

Dengan langkah tergesa Luhan akhirnya sampai pada tempat tujuannya, gunung, tempat dimana ia pertama kali bertemu dengan gadis itu.

Matanya bergerak menelisik kesekitar, Sooyoung tak dapat ia temukan disekitar sini. Luhan kemudian beralih pada jam tangannya yang melingkar ditangan kirinya

“Sudah jam 4 sore, seharusnya dia ada disini”

Luhan menggaruk tenguknya ragu. Ia tidak dapat menemukan Sooyoung dan itu sedikit membuatnya kecewa.

Kemudian Luhan mulai berpikir, mencoba mengingat-ingat dimana tempat selain disini yang pernah Sooyoung kunjungi. Kata danau tiba-tiba melintas dalam benak Luhan

“Danau!”

Luhan memekik lalu lekas berlali ketempat tujuannya. Lelaki itu berbelok kekanan setelah sampai dipertigaan hutan.

Luhan semakin berlari lebih kencang ketimbang tadi. Ia sudah tidak sabar, seakan waktu yang tersisa hanya beberapa detik sebelum ia sampai ketempat yang pernah ia kunjungi bersama Sooyoung

Luhan mengatur napasnya yang memburu, berlari kencan untuk jarak yang lumayan jauh memang melelahkan. Matanya mendapati Sooyoung yang telihat menenggelamkan wajahnya disela-sela lipatan kedua tangnnya dan lututnya yang ia tekuk setinggi dada sebagai tiang penyangga tangannya.

Luhan berjalan maju mendekati Sooyoung tanpa mehiraukan suara kucing putih gadis itu yang berkata ‘miaw’ beberapa kali sebagai sapaan kedatangan. Tangannya menyentuh bahu Sooyoung yang gemetar

“Sooyoung?”

Terkejut dua kali -yang pertama seseorang yang memanggilnya dan kedua menyentuh bahunya-, Sooyoung lekas menoleh kesamping, letak dimana seseorang berada disampingnya

“Luhan..”

Sooyoung berucap sambil sesegukan, ia terlalu lama menangis sehingga seperti ini. Luhan ikut berjongkok disamping Sooyoung, tangisan gadis itu membuatnya juga merasa iba

“Apa yang terjadi?”

“Yuri mengusirku”

Sooyoung sepontang menjawabnya. Gadis itu menggerakkan tangannya untuk menghapus sisa air mata yang melekat dikedua pipinya

“Kenapa bisa?”

“Aku tidak sengaja memecahkan guci peninggalan almarhum ibunya. Itu membuatnya marah lalu mengusirku. Apa yang harus ku lakukan? Tempat dimana aku bisa tinggal hanya dirumah Yuri”

Kemudian Sooyoung kembali menangis entah untuk keberapa kalinya. Luhan tak tau dari mana berasalnya dorongan ingin memeluk Sooyoung yang terlihat kasian dimana lelaki itu.

Luhan berani menarik Sooyoung kedalam dekapannya, tangannya bergerak mengelus-elus punggung gadis itu. Sooyoung semakin terisak dalam pelukan Luhan.

“Kau sudah menjelaskannya pada Yuri, bahwa kau tidak sengaja menjatuhkan guci itu”. Tanya Luhan dan Sooyoung mengangguk cepat

“Lalu kenapa kau tetap diusir?”

“Jika aku jadi Yuri, aku juga akan melakukan hal yang sama”

Luhan terdiam, bibirnya bungkam namun tangannya masih mengelus-elus punggung Sooyoung. Bagaimana cara agar dapat membantu Sooyoung?, Luhan mulai berpikir. Dimana tempat agar gadis itu dapat tinggal untuk sementara

Yang melintas dalam pikirannya hanya ada satu tempat. Luhan mulai menimbang-nimbang apakah tempat itu tepat untuk gadis dalam pelukannya. Luhan menarik napas dalam, lalu berkata

“Kau bisa tinggal dirumah ku”

TBC

Hay lama gak kambek! Ada yang kangen?! #Kagak :v

Curhat dikit, sebenernya ini ff udah lama mendem dilaptop, cuman akunya gak berani ngepost. Setelah dipikir-pikir karna aku udah lama gak update, satu-satunya jalan ya ngepost ini, karna gak ada ff yang kubikin selain ini :v

Eh iya masalah nama, aku ganti nama. Sebenernya nama Choi Min Ra itu punya temen ku, aku sih udah minta izin ke dia. Tapi karna ada beberapa masalah,  akunya juga gak enak sama dia jadinya aku ganti sama nama ku sendiri meskipun nambah marga :3

Ahaha kayaknya kebanyakan curcol. Udah deh :3

Pokoknya wajib komen bagi yang udah baca, mau lanjut apa engga :v

16 thoughts on “Just Loving You – (Chapter 1)

  1. febryza December 16, 2014 / 7:20 PM

    masih agak penasaran sama sooyoung kok kayaknya dia agak misterius gitu deh.. tapi misterius kayak gitu juga udah bikin luhan suka yaelah beruntung bener dia

  2. winterchan December 16, 2014 / 7:51 PM

    hm sebenernya ada sesuatu yang tetep bikin penasaran. alasan dia tertutup.
    hasssh kasian sooyoung jadi terlantar, tapi emang maklum yuri marah sih..
    yaudah tinggal di rumah luhan aja! muahaha
    part 2 ditunggu! semangat!

  3. novianti sitorus December 16, 2014 / 8:22 PM

    sumpaaaah!! Ceritanya bagus bangeeet! bawaannya ikut sedih denger kisah sooyoung😦
    Ditambah luhan yang care :’)
    Lanjut chinguuuuuu^^

  4. M.Farrel December 16, 2014 / 8:35 PM

    Wuanjer..penasaran gila. Kok dipikiran gue Sooyoung itu hantu ya? Agh jangan lah. Gak bisa bersatu nanti. Apa dia sejenis gumiho. Ya sudahlah…mau cepat-cepat baca kelanjutannya.

  5. fitriyulinda85 December 16, 2014 / 9:17 PM

    Astaga sooyoung jngn nangis, pasti abiz ini yuri bakal cari kamu k

  6. fitriyulinda85 December 16, 2014 / 9:19 PM

    Sooyoung jngn nngis dong pasti nnti yuri bakal cari kmu koq dan tinggl breng dia lagi, kehidupan sooyoung masih bikin penasaran nihhh author mohon di perjelas lagi dong ^^ di tunggu kljutannya

  7. chevelyyn December 17, 2014 / 10:12 AM

    Dari awal mikirnya si sooyoung itu hantu tau -_- kenapa ya -_-

    Kasian banget kisahnya sooyoung, udh ditinggalin orang tuanya, dibully, diusir dr rumah yuri. Tapi luhannya care bangeett!

    Ditunggu lanjutannyaa, semangat!😀

    • chevelyyn December 17, 2014 / 10:26 AM

      Kok ditinggal org tua ya -_- maaf salahh, maksudnya dibully, diusir dari rmh yuri

  8. Anna Choi December 18, 2014 / 5:50 AM

    Penasaran sama sooyoung,
    Daebak! Luhan ngajakin sooyoung tinggal di rumahnya.
    Nextnya bakal ditunggu~🙂

  9. Soohaelin December 18, 2014 / 7:56 AM

    Ah, soo kok bisa gak punya temen ampe segitunya? Luhan kayanya emang suka ama soo itu mha:D lanjut thor penasaran jawaban soo, kalo misal mereka satu rumah kayanya seru dah:D hehe, ditunggu part 2nya semangat!!

  10. Amel Ryriis December 21, 2014 / 9:47 PM

    Lanjut…lanjut.. Kudu dilanjutin thor,,
    pnsaran bgt sma soo, sprtinya ada sesuatu hal besar yg trsebunyi dri diri sooyoung*ceilah–‘

    sprtinya bnih2 cnta udh mulai tmbuh nih, aplgi luhan kyaknya mulai suka sma soo😀

    what??? Soo tgl dirmah luhan?? Gmna jdinya tuh,, aplgi yah komntr 2 idiot itu,, heheheh

  11. ahn December 22, 2014 / 9:26 AM

    Luhan ngajak sooyoung tinggal dirumahnyaa???
    Sosok sooyoung masih misterius yaa,,,
    Next’nyaa ditunggu,,,,

  12. nisaandryani December 24, 2014 / 1:21 AM

    ngebayangin muka nya soo kaya anak kecil pasti cantik🙂
    aduhhh pas bagian seru nya tiba2 tbc
    sumpah baek sama chanyeol kocak bgt wkwk

  13. nadasooyoungstersoneelf December 25, 2014 / 11:40 AM

    kalo menurutku ada sesuatu yg disembunyiin sooyouny nya #sotoy :v
    next ditunggu ..
    jangan lama2 ya thor ..🙂

  14. rizki December 26, 2014 / 10:40 AM

    penasaran sama sooyoung.
    Next chap di tunggu
    jangan lama-lama ya thor

  15. @ggcsy24 January 4, 2015 / 6:08 PM

    kasian sooyoung unnie dia diusir😦 luhan baik -baik ya ama sooyoung jangan aneh-aneh..
    next kak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s