Dream Girl [Chapter 4]

dream girl 3

Dream Girl – Chapter 4

Written by winterchan (@gelshaa)

Choi Sooyoung, Kim Myungsoo, Oh Sehun, Bang Yongguk, Kim Jongin, Lee Jonghyun.

Romance, College-life

PG-15 | Chaptered

Graphics & Plot © Winterchan


 

Tap, tap, tap.

Choi Sooyoung melangkahkan kaki, menuntun tubuhnya memasuki sebuah ruangan. Oh tidak, sebuah gedung. Gedung penuh lampu menyilaukan, hiruk pikuk kota semakin terasa karena adanya gedung ini. Gedung yang selalu ramai tak peduli itu malam Minggu atau malam Jumat, atau bahkan malam Senin. Selalu ada aktivitas manusia di sini, dan sekarang Sooyoung memasukinya.

Alunan musik terdengar menendang gendang telinga. Bagi yang tak terbiasa mungkin sudah risih, karena ini sungguh berisik. Suara langkah kaki Sooyoung yang menggesek lantai seketika lenyap teredam keramaian.

Pandangannya memancar tanpa ekspresi. Begitu sudah memasuki pintu masuk, ia langsung meng-scan seisi ruangan. Meja bar tampak tidak terlalu ramai, hanya ada satu lelaki yang duduk di sana. Sisanya tampak sibuk menggerakkan tubuh di atas dance floor mengikuti irama musik yang diputar DJ. Ada juga beberapa yang terlihat memojok di pojok ruangan, dan Sooyoung tidak peduli pada apapun yang mereka lakukan di pojok itu.

Kedua kaki jenjangnya tanpa banyak pertimbangan langsung berbelok, mendekati bar. Sooyoung mengambil tempat duduk tepat di depan sang bartender yang tampak tengah melempar-lempar botol. Atraksi mungkin? Sooyoung tidak peduli. Begitu melihat ada pelanggan, bartender itu seketika menghentikan aksinya.

“Sooyoung? Kau kah itu?”

Sepertinya sang bartender yang sudah lama Sooyoung kenal itu tampak ingin berbasa-basi dulu. Bartender dengan name tag Lee Jonghyun itu melihat ke sekitar Sooyoung, dan tak didapatinya seorangpun yang datang bersama gadis itu. Karena biasanya gadis tinggi itu tidak datang sendiri.

Sooyoung mengangguk malas.

“Berikan aku apapun,” titah Sooyoung. Bartender itu langsung menyodorkan segelas Wine.

“Wine? Kau sedang bercanda?” ucapnya tak percaya disertai tawa mengejek. Namun ujung-ujungnya minuman itu Sooyoung teguk juga sampai tak bersisa.

“Kau sedang sendiri, kalau aku memberikanmu yang lebih dari ini–– oh tidak, aku tidak mau kerepotan menggendong wanita mabuk. Itu bukan urusanku oke.”

“Cih.”

Baru beberapa menit Sooyoung duduk, tiba-tiba tangan seseorang menyentuh kedua bahu Sooyoung, walau itu tak membuat Sooyoung merespon. Gadis itu masih tidak bergeming.

“Hai wanita manis, sendirian saja. Bagaimana kalau kau temani kami? Dijamin kau akan bersenang-senang.”

Terdengar suara seorang lelaki, dan suara itu cukup jelas untuk sampai di kedua telinga Sooyoung. Tapi wanita itu masih tak peduli.

“Kenapa kau diam? Sayang sekali wanita cantik sepertimu dibiarkan sendiri di tempat seperti ini. Ikutlah dengan kami ber––”

Sayang sekali. Kalimat pria itu dipotong. Nyatanya memang ia tak mampu melanjutkan kalimatnya. Pria itu tersungkur di bawah setelah Sooyoung membalikkan badan dari kursinya dan memukul pria tak jelas itu tepat di wajah.

Seketika orang-orang yang berada di bar menghentikan aktivitas mereka serempak, meilirik ke arah Sooyoung dan lelaki yang tersungkur itu. Manusia-manusia yang tadi bersarang di pojok ruangan itu –yang Sooyoung kira adalah teman satu geng pria yang ditonjoknya– lalu berhambur ke tempat kejadian.

Sooyoung menatap pria yang tengah menderita itu dengan tatapan jijik, benar-benar melupakan total orang-orang yang kini mengerubunginya. Jonghyun di sana berdiri dengan awkward.

Teman-temannya –termasuk satu pria yang tadi datang bersama si korban– tampak membantu lelaki itu berdiri, dan lelaki itu menatap Sooyoung murka, tak terima harga dirinya diinjak-injak oleh perempuan, dan di depan banyak orang. Ia merasa dipermalukan.

“Taejin kau tidak apa-apa?” tanya salah seorang wanita. Lelaki yang dipanggil Taejin itu hanya mengangguk, padahal hidungnya mengeluarkan darah.

“Dasar wanita jalang! Apa yang kau lakukan hah?” Perempuan berambut blonde itu langsung berbalik membentak Sooyoung.

Sooyoung melirik wanita itu malas.

“Apa aku mengenalmu?”

Wanita itu tampak lebih murka, emosinya memuncak. Ia mengangkat tangan kanannya.

“Apa? Mau menamparku? Sudah kau pikirkan baik-baik? Kau mau nasibmu sama seperti pecundang itu?” Tawar Sooyoung tenang seraya melirik lelaki yang ia pukul tadi.

Wanita itu terdiam, marah tapi tak bisa berbuat apa-apa. Sementara kerumunan semakin ramai. Dari caranya kerumunan itu menatap Sooyoung, sepertinya mereka semua memihak Taejin dan itu membuat Sooyoung muak. Faktanya, Taejin adalah Cassanova populer di club ini, itu sebabnya ia punya banyak dukungan.

“Dengar, aku tak mengenalmu dan teman-teman pecundangmu. Jadi lebih baik kau tak usah tampakkan wajah menjijikanmu di hadapanku. Minggir!”

Sooyoung melangkahkan kaki cepat-cepat keluar dari kerumunan, dan orang-orang di sana tampak memperhatikan Sooyoung hingga ia keluar dari ruangan.

Pelajaran yang bisa diambil adalah, jangan biarkan Sooyoung sendiri atau ia akan membuat masalah.

 


 

 

Oh Sehun berjalan dengan gerakan tidak santai, sibuk menggeledah setiap kelas. Berusaha menemukan sesosok yang dicarinya sejak pagi. Salahkan ingatan Sehun yang amat buruk, hingga menghapal kelas seseorang pun ia tak sanggup. Sehun bahkan sering kali kedapatan salah masuk kelas.

Cha!

Oh Sehun menemukannya. Orang yang dicari tengah duduk santai di dalam sebuah kelas –yang tentunya terlalu malas untuk Sehun ingat– Sooyoung duduk santai, kelewat santai. Kedua tangan Sooyoung dijadikan bantal, ia menyandar pada kursi. Kedua kakinya ia taruh di atas meja. Memang benar kata orang, kelas adalah tempat ternyaman untuk tidur.

“Sooyoung!” Dasar tidak sopan, faktanya adalah Sehun 2 tahun lebih muda darinya.

Sooyoung membuka mata, melirik sekilas ke arah pintu. Sehun masuk tanpa aba-aba. Tanpa merubah posisi Sooyoung hanya bertanya, “kenapa?”

“Tidak apa-apa, hanya sedikit rindu.”

Sooyoung langsung memberi lelaki itu tatapan teraneh yang dimilikinya. Sekaligus dengan pandangan jijik yang tampak natural sekali.

“Cih, katakan saja.”

Sehun langsung tersenyum tidak jelas. Sebrutal apapun Sehun, ternyata dia masih memiliki sifat kebocahan dalam dirinya.

“Aku dengar kau kemarin malam menghajar Taejin ya?” bagaikan peluru tepat sasaran, Sooyoung membuka matanya kembali.

“Darimana kau tahu?”

“Oh jadi itu benar. Curang sekali pergi ke bar tidak mengajakku! Cih kukira kau temanku.” Sehun langsung merajuk –tentunya dengan cara terkeren yang hanya Sehun yang punya–

Sooyoung menarik kedua kakinya dari meja. Ia kira Sehun tertarik pada soal hajar-menghajarnya. Ternyata tidak.

“Darimana kau tahu namanya Taejin?” Sooyoung jadi penasaran juga.

“Taejin teman SMA ku dulu,” jawab Sehun ala kadarnya.

“Dia curhat padamu? Cih aku tidak mengerti pria jaman sekarang. Menjijikkan, pecundang itu pantas mendapat pukulan lebih.” Sooyoung langsung meilirik Sehun tajam, “jangan berteman dengan Taejin lagi.”

“Tidak, aku tahu dari Jonghyun.”

Gadis berambut cokelat tua itu terdiam sebentar dan kemudian melotot. “Kau menemui Jonghyun? Kau pergi ke bar? Cih kukira kau temanku,” ucap Sooyoung meniru ucapan Sehun sebelumnya.

“Lupakan. Aku tanya, kenapa kemarin malam kau kesana? Kau punya masalah?”

“Tidak juga.”

“Hei kau bisa cerita padaku! Akhir-akhir ini aku sedang berusaha jadi pendengar yang baik!”

Penuturan Sehun terdengar sangat antusias. Setelah ini, Sooyoung benar-benar yakin bahwa sebenarnya Sehun itu tidak lebih dari seorang bayi.

“Ceritakan padaku!” Sooyoung langsung melemparnya pandangan penuh rasa annoyed.

“Berhentilah bersikap menyebalkan! Kau hanya bocah ingusan yang hanya mengenal perkelahian. Kau belum dewasa, yang dewasa itu aku.” Gadis bermarga Choi itu malah memberinya pelajaran singkat.

Kursi yang Sooyoung duduki tergeser ke belakang begitu ia bangkit berdiri. Sehun menoleh penasaran.

“Kemana? Jangan bilang––”

“Ya benar sekali. Kau benar-benar mengerti aku Oh Sehun! Kaja!” Sooyoung serta merta menarik pergelangan tangan lelaki itu, menyeretnya keluar dan Sehun mengikutinya pasrah.

Begitu sampai di luar kelas dan tengah berjalan di koridor menjauhi kelas, keduanya mendatapi seorang lelaki yang tampak baru datang, berjalan berlawanan arah –hendak memasuki kelas–. Melihat siapa yang kini berada di depannya, lelaki bernama Kim Myungsoo itu berhenti. Begitu juga dengan Sooyoung. Sedangkan lelaki yang Sooyoung seret –Oh Sehun– hanya berdiri awkward tak mengerti apa yang terjadi.

“Sooyoung mau ke mana?” Myungsoo melirik sekilas lelaki di sebelah Sooyoung. Lalu kembali menjatuhkan pandangannya pada gadis di hadapannya.

“Oh Myungsoo-ya. Sebenarnya aku ada beberapa urusan. Yeah sampai nanti.”

Tak mengindahkan ekspresi Myungsoo, Sooyoung melanjutkan berjalan dengan masih menyeret Sehun dan meninggalkan Myungsoo di tempat. Sedangkan Myungsoo sendiri masih menolehkan kepala ke belakang, menatap kepergian Sooyoung dengan tanda tanya, hingga keduanya hilang di tikungan menuju gerbang.

“Hei kenapa aku baru sadar! Sooyoung pasti membolos lagi. Sial, aku tak berhasil mencegahnya.” Ia kemudian melanjutkan melangkah memasuki kelasnya.

Sementara di luar gedung kampus.

“Siapa itu tadi? Temanmu? Kau punya teman? Astaga kau benar-benar punya teman? Sulit dipercaya.” Sejurus kemudian Sehun menghujam Sooyoung dengan pertanyaan bertubi-tubi, tak lupa menambahkan hinaan di akhir.

“Jangan banyak bicara, aku benar-benar malas masuk kelas. Temani aku membolos.”

“Wow wow wow kau mau menyeretku ke perbuatan terlarang ini, Choi?” Sooyoung serta merta memberinya tatapan tidak terima mendengar penuturan Sehun yang amat sangat janggal terdengar di telinga.

“Oh Sehun, jangan bertingkah seolah kau ini suci. Aku bahkan baru ingat kau kemarin membolos seharian,” ucap Sooyoung penuh fakta.

Sehun langsung nyengir tampan. “dosen cantik pagi ini terlalu sayang untuk dilewatkan, Choi.” Sooyoung mendecih.

“Ternyata kebiasaanmu tidak pernah berubah. Pergi sana! Aku tidak butuh teman yang tidak setia kawan,” ucap Sooyoung ketus.

“Jangan cari masalah ketika kau sendiri, Choi.”

Sooyoung tak mempedulikan ucapan terakhir sahabatnya dan langsung melangkah meninggalkan Oh Sehun. Sementara Sehun kembali menuju kelasnya dengan langkah yang dilambat-lambatkan, berusaha membuat dirinya sendiri datang terlambat masuk kelas. Sehun juga sedang berusaha mencari masalah rupanya.

 


 

 

Choi Sooyoung berjalan luntang-lantung tak tentu arah dengan masih menggendong ranselnya yang ringan, karena faktanya Sooyoung jarang membawa buku ke kampus. Saat itu juga Italian restaurant bernuansa klasik  yang berada di seberang jalan menarik perhatiannya.

Ting!

Bel di atas pintu berbunyi kala ia membuka pintu kaca itu dan berjalan masuk. Gadis yang tinggi itu langsung mengambil tempat duduk yang paling dekat dengan customer service.

“Aku mau Peperoni Pizza ukuran medium,” ucapnya begitu sampai di counter pemesanan. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang kemudian membayarkannya pada si kasir dan langsung kembali ke tempatnya duduk.

Sooyoung melempar pandangan ke sekeliling restoran. Tidak terlalu ramai karena memang ini masih jam-jam sibuk, belum memasuki jam makan siang.

Pizza datang dan Sooyoung menghabisinya tanpa sisa.

Choi Sooyoung langsung keluar begitu perutnya sudah kenyang. Langkahnya membawa tubuh Sooyoung memasuki jalan sepi. Sooyoung tahu betul jenis jalan apa yang tengah ia lewati kini. Jalan-jalan sepi seperti ini rawan menjadi tempat siswa-siswi bolos. Karena faktanya Sooyoung adalah salah satu dari mereka.

Matahari bersinar agak terik, itu sebabnya Sooyoung menghidari menggunakan pakaian hitam sebanyak apapun ia menyukainya. Tapi anehnya jalan ini hanya terkena sinar matahari sedikit, hingga daerah ini menjadi agak lembab namun tidak menimbulkan kesan kumuh.

Sooyoung masih berjalan santai. Sampai sesuatu menyentuh kepalanya, menyentuh dengan tidak lembut. Dan berbunyi ‘Pletang’ ketika mencium aspal.

Benda itu jatuh setelah mengenai kepala Sooyoung. Itu kaleng, kalenng minuman. Sooyoung berhenti melangkah. Ia yakin sekali dalang dari kaleng itu pasti melakukannya dengan sengaja. Gadis itu memutar tubuhnya 180 derajat.

Didapatinya seorang lelaki menggunakan seragam yang Sooyoung kenali. Lelaki yang berjarak sekitar 7 meter darinya itu memandang Sooyoung dengan tatapan remeh. Sooyoung menatapnya murka.

Sooyoung mendekat beberapa langkah. Dalam satu lirikan ia berhasil mengetahui nama lelaki itu lewat name tag yang bertengger di jas sekolahnya. ‘Cih bocah SMA

Park Jimin. Itu namanya.

“Kau sengaja melakukannya, Jimin-ssi?” ucapan Sooyoung terdengar halus namun penuh penekanan

“Ya. Aku sengaja. Kenapa?”

“Asal kau tahu, kau bermasalah dengan orang yang salah, anak kecil.”

Jimin terlihat emosi, tak terima disebut anak kecil. Baginya ini penghinaan besar-besaran. Kemudian ia tertawa meremehkan.

“Kau memasuki daerah teritorialku, kau melanggarnya nona,” ujarnya, “dan kau pantas mendapat pelajaran.”

“Hahahahahaha. Kau pandai membuat lelucon.” Sooyoung malah tertawa keras, dan Jimin tahu betul wanita itu tengah mengejeknya habis-habisan. Ia semakin tidak terima.

LS High School. Sooyoung mengenali dari seragam yang bocah itu gunakan. Lalu otaknya berusaha memutar ingatannya tentang sekolah itu, dan yang berhasil Sooyoung ambil dari ingatannya, setahunya itu adalah sekolah terburuk nomor dua di Korea. Isinya adalah gangster semua. Gangster abal-abal. Begitu Sooyoung menyebutnya. Karena baginya, murid LS High School hanyalah bocah-bocah SMA tak berguna.

“Kau tidak berusaha menghajarku? Dasar pengecut,” pancing Sooyoung seraya menaikkan alis kirinya.

Gadis itu menghinanya terlalu banyak, tak terima disebut pengecut, Jimin langsung mengambil langkah cepat mendekati Sooyoung.

Ia berhasil memukulnya dengan tenaga penuh. Sayang itu bukan Jimin yang melakukannya, melainkan Sooyoung. Jimin tersungkur kemudian bangkit kembali, berniat melayangkan pukulan balasan. Tapi Sooyoung lebih cepat, sebelum Jimin melakukan gerakan apapun, Sooyoung sudah memukulnya lagi tanpa ampun.

Hingga lagi-lagi Jimin jatuh tersungkur, dengan darah di ujung bibirnya. Sementara wajah tampannya mulai menunjukkan warna biru di sana sini. Jimin masih terbaring pasrah di atas aspal. Sooyoung berjalan mendekat dan berdiri tepat di samping tubuhnya, sehingga mengharuskannya menunduk untuk mampu menatap Jimin yang tersiksa.

“Sebaiknya kau dengarkan kata-kata orang yang lebih tua darimu, Jimin-ssi. Apa yang barusan aku bilang? Kau berurusan dengan orang yang salah.”

Untunglah Sooyoung tak mengenakan high-heels, karena jika ia menggunakannya, sudah dipastikan ia akan menginjak tubuhnya dengan sepatu high heels tinggi yang menyakitkan. Berhubung Sooyoung hanya menggunakan sepatu flat berwarna putih, Sooyoung menendang perut dan pinggangnya satu kali sebagai serangan terakhir. Jimin langsung terbatuk tak berdaya.

Sooyoung berbalik arah, tepat saat itu juga ia melihat kehadiran sosok lain di hadapannya. Masih dengan seragam yang sama, sehingga Sooyoung berasumsi lelaki di depannya adalah teman satu geng Jimin.

“Apa? Kau mau bernasib sama seperti pecundang yang satu itu?”

Selesai mengucapkannya, Sooyoung menaikkan dengkulnya, menendang lelaki di hadapannya tepat di tempat paling sensitif untuk anak lelaki. Hingga anak lelaki bername tag Kim Taehyung itu mengaduh kesakitan.

Setelah itu Sooyoung melenggang pergi meninggalkan kedua bocah SMA  tersebut.

 


 

 

Setelah puas menghajar dua bocah SMA, Sooyoung memutuskan untuk mengakhiri sesi membolosnya untuk hari ini. Ia memilih kembali ke kampus karena menurut perkiraannya adalah, sekarang sedang waktu istirahat untuknya.

Sooyoung sampai di kafeteria. Ia datang pukul 2 pm. Pada jam-jam seperti itu, kafeteria sudah terlihat ramai. Sooyoung mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru kafeteria. Mencari satu lelaki yang tadi pagi ditinggalkannya.

Sooyoung melihatnya. Kim Myungsoo tengah menyendiri di salah satu bangku kafeteria, tengah membaca buku. Membaca buku? Sooyoung hampir mati kebingungan memikirkan apa alasan Myungsoo membaca buku di tengah hiruk pikuk orang-orang yang kelaparan.

Tanpa banyak basa-basi gadis dengan marga Choi itu langsung mengambil tempat duduk di seberang Kim Myungsoo, sehingga mengalihkan lelaki itu dari bukunya.

“Kau menungguku?”

“Tidak juga,” jawab Myungsoo kalem. Sooyoung tampak tidak puas akan jawaban yang dilontarkan Myungsoo.

“Jika begitu, berikan aku alasan yang tepat mengapa kau memilih kafeteria untuk membaca buku. Kecuali kau tidak mengenal apa yang disebut perpustakaan.”

Myungsoo tersenyum kecil, dan Sooyoung menemukannya sangat manis.

“Kau bicara banyak padaku. Aku jarang melihatmu berbicara. Aku merasa tersanjung kau melakukannya di hadapanku.”

Sooyoung jadi bingung sendiri, ia juga baru menyadarinya. Apa itu tandanya aku mulai menganggapnya sebagai teman?

“Kalau boleh jujur, aku memang sedang menunggumu. Ingat kau masih punya kewajiban membayar jatah makan siangku selama 3 bulan. Sejauh ini, kau telah melakukannya selama satu bulan.”

Damn, masih ada dua bulan. Kau berniat memerasku huh?”

Bukan itu Sooyoung. Aku hanya ingin mendekatimu dan membuatmu terbuka padaku dalam kurun waktu yang kuberikan.

Pertanyaan Sooyoung dibiarkan menggantung di udara dan hanya dibalas senyuman Myungsoo. Ia menarik lengan gadis itu dan mulai membawanya pada counter, berniat memesan makan siang.

 


 

 

Ting tong. Ting tong.

Suara bel pintu basement yang berada di kediaman Oh Sehun berbunyi. Sooyoung lah yang menekan tombol bel tersebut. Baru dengar pintu basement memiliki bel? Oh Sehun punya. Karena basement yang terletak hampir seperti bawah tanah ini –harus jalan ke bawah menuju terowongan yang dibuat dengan mengeruk tanah– resmi milik Oh Sehun yang diberikan orang tuanya.

Ting tong.

Lama sekali. Sooyoung mulai menaikkan kaki kanannya dan mengayunkannya ke depan pintu –hampir menendang–. untunglah saat itu juga pintu dibuka secara tergesa-gesa oleh sang pemilik.

Saat itu juga Sehun mendapati Sooyoung berdiri dengan posisi awkwardnya –posisi menendangnya–

“Pfft! Choi Sooyoung apa yang mau kau lakukan hah?”

Sooyoung menurunkan kakinya dan memberinya tatapan sebal. “Lama sekali,” gerutunya. Sooyoung buru-buru mendorong tubuh Sehun masuk dan membiarkan dirinya masuk ke ruangan basement itu selayaknya rumah sendiri.

Mata Sooyoung melotot. Astaga ruangan ini benar-benar sampah. Di sofa, di meja, di atas tv, bahkan di atas karpet berserakan sampah makanan yang Sooyoung yakin adalah bekas Sehun sendiri.

Melihat Sooyoung yang membulatkan mata melihat keadaan ruangan, Sehun cuma bisa menggaruk kepalanya.

“Oh Sehun, setidaknya rapikan dulu rumahmu jika kau berniat mengundang tamu. Oh Ya Tuhan!” Sooyoung frustasi sementara Sehun lagi-lagi menggaruk kepalanya.

Pandangan Sooyoung jatuh pada Sehun, tepatnya penampilannya. Hanya mengenakan kaus tanpa lengan dan celana pendek selutut yang longgar, belum lagi rambutnya yang acak-acakan. Sooyoung yakin sekali bocah satu ini baru bangun dan belum mandi sama sekali.

“Aku tidak tahu kau akan datang sepagi ini, Choi! Astaga.”

Sooyoung mengedikkan bahunya tak peduli, lalu mendarat pada sofa yang tidak ada sampahnya. Tangannya tergerak mengambil sembarang majalah yang tersedia di sana.

“Aku mandi dulu! Jangan kemana-mana, tunggu yang lain di sini sampai mereka datang oke!” Sooyoung membalasnya dengan anggukan, tak repot-repot untuk melirik Sehun sedikitpun.

Sehun langsung melesat secepat roket menaiki tangga yang menghubungkan ruangan ini dengan ruangan-ruangan lain di rumahnya.

Beberapa menit berlalu.

Sooyoung mati kebosanan. Ia heran sendiri, sebenarnya apa yang membuat Sehun begitu lama. Apakah ia perempuan? Tanpa sadar ia tertawa sendiri membayangkan Sehun keluar turun dari tangga menggunakan dress berwarna pink menyala.

“Sehun! Sehun!” teriakan Sooyoung menggema.

“Apaaaaa!” sahut Sehun dari atas. Terdengar langkah kaki Oh Sehun menuruni anak tangga dengan terburu-buru.

“Apa?” tanya Sehun dari tangga. Rambutnya masih basah dan acak-acakan, jelas sekali belum dirapikan.

“Berikan aku yang seperti ini!” titah Sooyoung, jari telunjuknya menunjuk pada salah satu bungkus keripik kentang yang telah kosong.

“Ambil saja yang itu.”

“Idiot! Bukan sampahnya, isinya!” ujar Sooyoung frustasi, kemudian lirikannya jatuh pada salah satu benda putih yang menjulang tinggi yang berada di pojok ruangan. “apa ada di dalam kulkasmu itu?”

“Ya terserah, geledah saja sesukamu,” jawab Sehun dengan nada yang super malas.

Buru-buru gadis itu berjalan cepat menuju kulkas itu. Untunglah masih ada beberapa snack. Ternyata benar apa kata Sehun, tempat ini adalah surga biarpun keadaannya bak kapal pecah.

Saat itu juga pintu terbuka menampilkan sosok-sosok yang sejak tadi Sooyoung tunggu. Kai dan Yongguk masuk ke dalam. Tanpa aba-aba mereka langsung duduk, persis seperti apa yang dilakukan Sooyoung tadi. Kedatangan Yongguk biasanya membawa sesuatu yang penting. Oleh sebab itu Sooyoung langsung mengambil tempat duduk di sebelah Sehun.

“Sooyoung-ah kau ingat Park Jimin?” tanya Yongguk membuka percakapan.

Gadis yang ditanya terlihat berfikir sebentar. Rasa-rasanya ia pernah melihat nama itu. Sekelebat suatu kejadian membuatnya ingat. “Aku ingat!”

Gosh dia adalah bocah SMA yang menggangguku!”

“Kalian ingat Jaejin bukan?”

“Apa ini berhubungan dengan Jimin?” tanya Sehun hati-hati. “Gotcha!”

“Jaejin anak LH University yang dulu hampir mengajak kalian tawuran.” Yongguk berusaha memberi clue, dan tampaknya hanya Sehun yang sepenuhnya sudah mengerti biarpun belum dijelaskan secara rinci.

“Kemarin ia mendatangiku dan menantangku berkelahi besok. Guys, tandanya kalian harus membolos lagi satu hari. Tampaknya ia akan membawa seluruh anggota gengnya.”

Kai yang sedari tadi terdiam mulai membuka suara, masih belum terlalu mengerti. “dan hubungannya dengan Jimin yang Sooyoung habisi beberapa hari lalu?” Kai melirik Sooyoung sebentar dan benar saja, gadis itu juga memberikannya tatapan sinis.

“Kalian belum mengerti? Jaejin ketua geng itu adalah sepupu Jimin. Dan yang bisa kita ambil dari sini adalah, sudah dipastikan Jimin, bocah ingusan itu melaporkannya pada Jaejin.”

“Hah baru dihajar segitu saja sudah mengadu, dasar bocah.”

“Yah kenapa harus besok! Dosen cantik besok mengajar di kelasku.” Sehun langsung lesu dan ucapannya dihadiahi ketiga pasang mata memperhatikannya dengan tatapan aneh.

 


 

 

Myungsoo melangkah masuk ke rumahnya, diikuti gadis bernama Sooyoung yang membuntuti di belakang. Rumah Myungsoo sedang sepi kala itu, entah mereka di mana Myungsoo jadi bingung sendiri. Karena biasanya kedua sepupunya yang berumur 3 dan 4 tahun selalu membuat suasana rumah berisik. Neneknya pun Myungsoo tak tahu di mana karena biasanya jam segini beliau sedang minum teh di beranda atau di kamarnya.

Kedua orang bermarga Kim dan Choi itu sampai di ruangan utama, ruang tengah. Sooyoung langsung melesat ke sebuah ruangan di rumahnya dan kembali membawa kotak P3K yang Myungsoo sendiri bingung dari mana Sooyoung mendapatkannya. Karena faktanya lelaki itu tak pernah memberi tahu letak kotak tersebut, ini juga kali pertamanya Sooyoung datang ke rumahnya.

“Duduklah,” titah Sooyoung. Myungsoo langsung duduk di sebuah sofa, dan Sooyoung ikut duduk di sebelahnya.

Sooyoung menatap prihatin wajah tampan Myungsoo yang kini penuh noda biru dan lebam. Ujung bibirnya pun berdarah, benar-benar pemandangan yang memprihatinkan.

Dengan cekatan, Sooyoung mulai membuka kotak tersebut dan mengobati wajah tampan Myungsoo yang kini sudah tak tampan lagi. Seraya membersihkannya dengan kapas, Sooyoung sesekali meniupnya.

“Ah! Itu sakit Sooyoung.”

“Diamlah. Sudah kubilang berapa kali bukan, jangan berkelahi. Kau hanya akan melukai dirimu sendiri.”

“Tapi orang itu yang mengajak berkelahi terlebih dulu! Aku tidak mungkin lari begitu saja.”

“Ya sudahlah, jangan bicara dulu. Biar kuselesaikan dulu ini.” Gadis itu lanjut membubuhi obat pada wajah Myungsoo yang babak belur itu.

 

Krrrrriiingggg!

 

Myungsoo terlonjak. Tidur nyenyaknya terganggu secara paksa. “Mimpi Sooyoung lagi,” gumam Myungsoo. Kedua alisnya berkerut menyatu. “hei sejak kapan aku suka berkelahi?” gumamnya lagi, “dan sejak kapan Sooyoung berubah jadi wanita lemah lembut begitu? Kadang mimpi itu sulit dimengerti.”

Myungsoo menggelengkan kepalanya. Lalu beralih melirik jam weker yang tadi membangunkannya. Buru-buru ia bergegas ke kamar mandi, bersiap-siap lalu langsung berangkat.

Untunglah begitu ia sampai di kampus, ia masih memiliki waktu 5 menit. 5 menit yang menentukan nasibnya. Jika saja ia datang terlambat di pelajaran profesor Song, bisa mati dia.

Sampai profesor bernama lengkap Song Qian itu masuk, Choi Sooyoung belum juga menunjukkan tanda-tanda kehadiran. Myungsoo menghela nafas lelah. Hah gadis itu, kapan ia bisa berhenti bolos dan kembali hanya pada waktu makan siang?

 


 

 

Di hari yang sama namun berbeda tempat. Tepatnya tempat di mana gadis bernama Choi Sooyoung berada. Ia kini berada di sebuah jalan sepi, dekat pemukiman beberapa penduduk kelas menengah. Kali ini ia ditemani Yongguk, Kai, dan tentu saja Oh Sehun. Berdiri dengan tidak sabar menunggu kedatangan Jaejin dan kawan-kawan yang mereka tak peduli siapa.

Kai dan Yongguk menyandarkan punggungnya pada tembok di salah satu sisi jalan. Sementara Sooyoung dan Sehun melakukan hal yang sama di sisi jalan yang satunya. Persis seperti gangster yang siap menghadang siapapun yang lewat di jalanan ini, dan menagih uang secara paksa.

Tap. Tap. Tap.

Deru langkah yang terdengar banyak mulai memenuhi jalanan sepi ini. Empat-empatnya langsung menoleh ke sumber suara. Akhirnya!

Mereka mulai memperhatikan beberapa orang yang Jaejin bawa. Ada 6 orang, total 7 dengan Jaejin. Sementara mereka? Hanya 4 orang. Dan yang membuat mereka hampir ingin protes adalah, beberapa dari mereka membawa sesuatu di tangannya masing-masing, bahkan ada yang membawa botol bir. Ada juga yang membawa gir motor, sial itu untuk apa? Dilemparkan? Konyol! Sedangkan mereka berempat ke sini dengan tangan kosong.

Melihat itu Yongguk tersenyum meremehkan, justru karena itu mereka terlihat seperti pengecut yang takut kalah.

“Mana Choi Sooyoung?” Jaejin yang tampaknya adalah leader membuka suara dengan murka. Jadi, ia sudah tau siapa yang menghabisi sepupu kesayangannya itu? Mendengar namanya disebut, Sooyoung menoleh tanpa rasa takut.

“Apa?” tantang Sooyoung.

“Semakin banyak orang yang kau bawa, dan membawa senjata pula, semakin terlihat pengecut lah kalian. Itu jika kalian ingin tahu.” Disertai senyum meremehkan, Sooyoung mengucapkannya dengan puas, apalagi setelah melihat wajah Jaejin yang tersulut emosi dan terlihat tak terima.

Perkelahian pun tak terhindarkan.

Jumlah orang yang mereka lawan yang lebih banyak semakin menyulitkan mereka. Apalagi mereka membawa senjata-senjata tidak jelas.

Bugh. Sooyoung memukul orang yang membawa botol bir kosong.

Prang. Orang itu mengarahkan botolnya ke arah Sooyoung, tapi keberadaan tembok di belakang Sooyoung menyelamatkannya hingga botol itu tak mengenainya, justru malah menabrak tembok dan membuat pecahannya jatuh ke aspal. Lelaki itu kini hanya memegang ujung botol yang bawahnya sudah pecah, dan bagian bawah botol yang kini tajam itu mengenai lengan kanan Sooyoung, merobek baju hitamnya dan mengenai kulitnya.

Sooyoung meringis.

Wajahnya kini sudah dipenuhi lebam, Sehun dan yang lain juga tak jauh berbeda. Bahkan gir motor yang sebelumnya diputar-putar terlebih dulu dan dilemparkan tepat mengenai Kai. Oh malangnya.

Seketika semuanya menghentikan aktivitas mereka setelah rasa-rasanya mereka mendengar suara sirine. Polisi? Gawat!

Mobil polisi berbelok ke arah jalan sepi yang kini mereka pijaki. Sial! Ternyata polisi-polisi itu memang tahu keberadaan keributan yang mereka timbulkan. Detik itu juga semuanya berpencar, Jaejin dan kawan-kawannya langsung melesat bak roket menjauhi mobil polisi ––entah kemana. Sooyoung dan yang lain buru-buru meraih ransel mereka dan lari ke tujuan yang sama –berpencar tak tentu arah–.

Setelahnya, semua polisi yang berada di mobil keluar semua dan berlari mengejar. Saat itu juga mereka mengambil langkah seribu yang benar-benar cepat. Cepat bahkan mungkin mengalahkan kecepatan seekor cheetah. Itu hanya perumpamaan, jangan menganggapnya serius.

Lelah berlari dengan jarak yang jauh, Sooyoung memilih bersembunyi di sebuah gang gelap dan sempit. Berharap polisi tak menemukan keberadaannya. Keberadaan temannya yang lain Sooyoung tak tahu di mana, yang jelas mereka benar-benar berpencar. Sooyoung membuka tas ransel hitamnya, mencari suatu benda. Gotcha!

Sooyoung menemukan masker putihnya yang ia beli di apotek beberapa hari yang lalu. Buru-buru ia pasang masker tersebut, setelahnya ia kembali merogoh tas ranselnya. Diambilnya sebuah sweater berwarna putih. Sooyoung membuka sweater hitam yang kini ia gunakan dan menggantinya dengan sweater putih. Rambutnya yang ia kucir kuda kini ia lepas dan rambut panjangnya pun tergerai.

Satu lagi, Sooyoung mengeluarkan snapback berwarna putih juga dari dalam tasnya dan memakainya. Setelah dirasa sempurna, ia berjalan sedikit ke tepi gang, menengok kanan kiri mencari keberadaan polisi. Setelah di rasa aman, ia keluar dengan tenang, berjalan santai dan bertingkah wajar.

Didapatinya sebuah toko kecil atau minimarket di ujung jalan, setengah berlari ia menghampiri toko tersebut dan memasukinya. Karena tak ingin dicurigai, ia pun membeli beberapa barang dari minimarket tersebut, termasuk plester luka dan semacamnya.

Gadsi itu sampai di kasir. Melalui pintu kaca minimarket, Sooyoung mampu melihat seorang polisi memegang pistol tengah berjalan seraya mengawasi lingkungan sekitar. Termasuk gang sempit tadi pun tak dilewatkan oleh si polisi. Sooyoung menghembuskan nafas lega, aksinya tak terlambat dan sekarang ia berada di minimarket ini.

Dengan tingkah sewajarnya, Sooyoung berjalan keluar minimarket dengan plastik belanjaan digenggamannya, dan polisi itu masih di sana. Mereka sempat bersitatap sekilas tapi kemudian si polisi tadi melanjutkan langkahnya, tak menghiraukan kehadiran Sooyoung di sana.

Sooyoung semakin lega, si polisi tak mengenalinya. Untunglah ia sudah mempersiapkan segalanya di dalam ransel yang ia bawa. Masker yang ia pakai, selain untuk menyamarkan wajahnya dari si polisi, juga untuk menutup wajah lebamnya sehingga warga atau bahkan si kasir tadi tidak curiga.

Lengan kanannya tiba-tiba terasa perih kembali. Dilihatnya lengan kanannya, dan ternyata darahnya sudah merembes pada lengan sweater yang ia gunakan. Mengabaikan rasa perih di lengan kanannya, Sooyoung terus menuntun langkahnya cepat-cepat.

Choi Sooyoung kini sudah berada di pinggir jalan besar. Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, jadi ia memutuskan untuk pulang saja. Ia menyenderkan punggungnya pada tiang halte. Menunggu taksi untuk lewat. Biarpun lebih mahal, setidaknya taksi lebih cepat.

Sooyoung menggulirkan bola matanya ke kanan kiri, lalu melirik arlojinya beberapa kali. Saat itu juga ia mendengar langkah kaki mendekat kearahnya. Sepertinya pengguna bus. Sooyoung ingin menoleh, tapi entah dia jadi agak ragu. Dugaannya dia adalah Kim Myungsoo. Akhirnya ia memutuskan untuk tak menoleh, karena dugaannya kuat sekali. Entah mengapa gadis itu ingin menghindari Myungsoo untuk saat ini.

Lelaki itu berdiri di sebelah Sooyoung, dan dari ujung matanya Sooyoung tahu itu benar-benar Kim Myungsoo. Tapi tampaknya lelaki itu belum mengenali Sooyoung. Karena ada dorongan dari dirinya, Myungsoo menoleh ke samping kiri, dan didapatinya seorang gadis tinggi.

Salahkan postur tubuh Sooyoung yang tinggi, sehingga Myungsoo mampu mengenali gadis itu dengan mudah. Karena memang Sooyoung adalah gadis dengan tubuh tertinggi di kampusnya.

“Sooyoung?”

Gadis itu ikut menoleh, “Oh hai.” Sooyoung berusaha bertingkah wajar, suaranya agak teredam karena mengenakan masker.

“Kau sedang flu? Kalau sedang flu kenapa tak izin saja untuk tidak masuk kuliah?” pertanyaan Myungsoo mengacu pada masker yang Sooyoung gunakan.

“Iya begitulah.” Pertanyaan itu dijawab ala kadarnya oleh Sooyoung. Ia resah karena taksi yang ia tunggu tak kunjung lewat.

Myungsoo berjalan mendekati Sooyoung dan betapa terkejutnya dia melihat darah yang terlihat kontras dengan sweater putih yang gadis itu gunakan.

“Sooyoung, lenganmu berdarah!”

“Oh jangan berlebihan. Aku terbiasa mendapatkan luka seperti itu,” jawab Sooyoung santai, dan sesuai fakta.

“Itu akan infeksi jika lenganmu tak segera diobati.”

Sooyoung tersenyum walau Myungsoo tak mampu melihatnya akibat masker yang ia gunakan. “aku tahu aku tahu! Aku akan langsung mengobatinya begitu sampai di rumah.”

“Aku tidak yakin!” Sooyoung mengangkat ujung alis kirinya. “maksudmu?”

“Ikutlah ke rumahku!” paksa Myungsoo lalu menarik tangan kiri Sooyoung. Sooyoung langsung melotot tak terima.

Saat itu juga taksi lewat, dan Myungsoo langsung mendorong Sooyoung masuk kedalamnya diikuti oleh dirinya.

 


 

 

Suasana hangat dan menyenangkan langsung menyambut Sooyoung begitu mereka sampai di rumah minimalis milik Myungsoo. Biarpun agak sepi tapi suasana hangatnya terasa kentara. Suasana seperti ini asing bagi Sooyoung karena ia sudah lama tak merasakannya.

“Di mana ibu dan ayahmu?”

Myungsoo memberinya senyum hangat dan menjawab, “Mereka di Daegu, aku di sini bersama nenek dan––”

“AHAHAHAHAH, Jeongmin-ah hentikan!” Terdengar suara anak perempuan dari ruangan lain memecah kesunyian. Cklek. Saat itu juga pintu sebuah ruangan terbuka, ruangan itu adalah kamar Myungsoo. Dua kepala mungil menyembul dari balik pintu. Mereka adalah Jeongmin dan Yeshin, kedua sepupu Myungsoo yang berumur 3 dan 4 tahun.

“Myungsoo-hyung sudah pulang?” tanya Jeongmin dengan ekspresi lucunya. Myungsoo mengangguk seraya tersenyum singkat.

“Eonni itu––” ucapan Yeshin terhenti seraya menatap Sooyoung yang berada di sebelah Myungsoo, “siapa?” lanjutnya. Ekspresi penasaran Yeshin benar-benar terlihat lucu.

“Dia temanku. Sudah kalian masuk kamar kalian, jangan main di kamarku. Hus hus.” Myungsoo mengibas-ngibaskan tangannya, seperti mengusir dua anak lucu tersebut. Mereka kini berjalan beriringan menaiki tangga dan melanjutkan permainan mereka di kamar keduanya.

“Duduklah,” ujarnya setelah ruang tengah steril dari kedua anak kecil tersebut.

Sooyoung mendudukkan dirinya di atas sofa empuk berwarna merah marun tersebut tanpa banyak kata-kata.

“Tunggu.” Myungsoo langsung melesat pergi menaiki tangga dan kembali membawa kotak P3K di tangannya.

Lelaki itu mengambil tempat tepat di sebelah Sooyoung, namun keduanya saling berhadapan.

“Buka sweaternya.”

Sooyoung langsung melemparnya tatapan terhoror yang ia miliki. Myungsoo terdengar seperti remaja-remaja mesum jika ia berkata begitu. Myungsoo yang mengerti situasi hanya bisa mengusap wajahnya frustasi.

“Astaga. Apapun yang ada di benakmu, lupakan. Kau mengerti kan kenapa aku menyuruhmu begitu?”

Tanpa banyak bicara, Sooyoung membuka sweaternya, dan untunglah Sooyoung memakai kaos. Eh untung? Kaos yang ia gunakan berwarna putih juga, bertuliskan Inside. Itu jika kalian ingin tahu.

Pemandangan memprihatinkan yang Myungsoo lihat adalah luka sayatan di lengan atas Sooyoung, hampir dekat dengan pundaknya. “Darimana kau mendapatkan ini?” tanya Myungsoo langsung.

“Dari pecahan kaca,” jawab Sooyoung jujur. Untunglah Myungsoo tak lagi banyak bertanya dan kini sibuk membersihkan luka di lengan gadis itu dengan alkohol dan kapas.

Kini yang ia rasakan adalah rasa perih yang terasa dua kali lipat lebih menyakitkan ketika Myungsoo membubuhinya obat merah. Sooyoung memejamkan matanya rapat-rapat dan menggigit bibir bawahnya, mencegah dirinya sendiri untuk berteriak.

“Bersabarlah. Lukamu benar-benar parah. Sayatannya cukup dalam.” Setelah itu Myungsoo dengan sabar menggulung lukanya dengan perban.

Sooyoung menarik maskernya, menampilkan beberapa lebam di pipinya. Myungsoo lagi-lagi terkejut dibuatnya.

“Astaga Choi. Sebenarnya apa yang telah kau lakukan seharian ini? Choi, apa kau tak tersiksa dengan keadaanmu yang seperti itu?”

Myungsoo dengan cekatan mengobati setiap luka yang menodai wajah cantiknya, mulai dari darah di ujung bibirnya. Meniupnya pelan-pelan seraya membersihkannya dengan kapas dan membubuhinya obat lebam.

“Kau terlihat seperti perempuan yang khawatir karena kekasihnya berkelahi,” ucap Sooyoung disertai tawa.

Dan tiba-tiba Myungsoo merasakan deja vu.

“Terserah padamu.”

“Kenapa kau mau repot-repot menolongku?” tanya Sooyoung lagi.

“Karena wajah cantikmu terlalu sayang untuk dilukai.”

Jawaban simpelnya mampu membuat Sooyoung hampir tersipu, tapi untunglah ia mengendalikannya dengan bertingkah biasa.

“Myungsoo-ya. Kenapa kau bertingkah baik sekali padaku?”

“Karena pada dasarnya aku memang orang baik.”

Sooyoung menghela nafasnya. Ia merasa tak pantas berteman dengan orang baik sebaik Myungsoo. “tapi aku tidak pantas untuk diperlakukan secara baik, apalagi oleh orang sepertimu.”

“Itulah sebabnya aku mengatakan aku adalah orang baik. Karena aku memperlakukan siapapun dengan baik.”

“Cih entah mengapa nada bicaramu terdengar percaya diri sekali.” Tawa Myungsoo langsung meledak kala itu.

Sejurus kemudian, kedua tangan Myungsoo dengan cekatan merapihkan kotak P3K tersebut lalu melesat kembali ke suatu ruangan, menaruh kembali kotak tersebut pada tempatnya semula. Setelahnya ia kembali ke tempat Sooyoung berada.

Keheningan tiba-tiba menyelimuti, bingung harus melakukan apa atau mengatakan apa. Sesungguhnya Myungsoo merasa tak enak, ia ingin menyuruh Sooyoung pulang karena barang kali orang rumah khawatir. Akan tetapi itu akan terdengar seperti mengusir dan tak menginginkan keberadaannya. Di lain sisi pula, Myungsoo tidak ingin Sooyoung pulang dan meninggalkannya secepat ini.

Tik. Tok.

Suara jarum jam dinding yang ada di ruang tengah mengisi keheningan. Jarumnya sudah menunjukkan pukul 5.30 pm dan Sooyoung sadar sekali akan hal itu. Ia lalu membuka suara.

“Myungsoo-ya! Biarkan aku menginap di rumahmu. Ya ya ya?”

“Eh?” Myungsoo meliriknya gugup.

Sooyoung menghela nafas pasrah. “aku tidak mungkin pulang dalam keadaan seperti ini. Kepala pelayan rumahku pasti akan melaporkannya pada ayah.”

“Baiklah. Kau boleh. Tapi––” Sooyoung menatapnya penuh harap. “Hanya ada tiga kamar di sini. Kamarku, kamar nenekku, dan kamar kedua sepupuku.”

“Kau tidak perlu banyak berfikir soal itu, aku bisa tidur di mana saja. Bahkan di kamar mandi sekalipun.” Sooyoung mengangguk-nganggukkan kepalanya meyakinkan.

“Dan aku bisa tidur di kamarmu,” lanjut Sooyoung tanpa rasa canggung sedikitpun.

“Baiklah.” Myungsoo mengiyakan seadanya.

“Nenekku akan keluar kamar sebentar lagi dan memasakkan makan malam. Kau pergilah ke kamarku. Di sana ada kamar mandi, cepat mandi dan kembali untuk makan malam. Cepat!” Myungsoo sedikit mendorong tubuh Sooyoung dan gadis itu langsung melesat menuju ruangan di dekat tangga dengan pintu yang bertuliskan Kim Myungsoo dalam bentuk hangul.

Satu jam berlalu, nenek Myungsoo tengah menyiapkan makan malam di dapur, sementara Myungsoo menyiapkan piring-piring dan alat makan lainnya.

“Myungsoo-ya, Jeongmin dan Yeshin bilang teman perempuanmu datang ke rumah. Apa ia sudah pulang?” tanya sang nenek membuka percakapan.

“Belum. Ia bilang mau menginap sehari,” jawab Myungsoo kalem.

“Oh benarkah? Wah senangnya ada anggota keluarga baru. Cepat suruh dia ke sini, makan malam sudah siap.” Myungsoo kira ia akan diomeli karena membawa orang asing ke rumah, terlebih lagi ia seorang perempuan. Tapi ternyata tidak.

“Iya, Nek.”

Myungsoo melangkahkan kakinya menuju kamarnya sendiri. Pintu terbuka, di dalam terlihat Sooyoung tengah terduduk di meja belajar milik Myungsoo seraya berkutat dengan ponselnya. Dan tentunya sudah mandi.

Myungsoo melangkah masuk. “Sooyoung-ah ayo keluar. Waktunya mak––” ucapannya terhenti, pandangannya kembali tertuju pada pakaian yang Sooyoung kenakan, sedikit heran karena sudah sepenuhnya terganti.

“kau membawa pakaian?”

Sooyoung langsung nyengir tidak jelas. “aku menyiapkan semuanya di dalam ranselku. Aku membawa pakaian ganti setidaknya untuk satu hari.”

Myungsoo hanya bisa bergumam ‘ooh’

“Aku sebenarnya sudah mempersiapkan jika sesuatu terjadi dan benar saja, ketika hal ini terjadi padaku dan aku tak mungkin pulang dalam keadaan menyedihkan seperti ini, setidaknya aku bisa bermalam di rumah teman-temanku.”

“Maksudmu Oh Sehun?”

“Dari mana kau tahu?”

“Tentu saja, dia yang kemarin-kemarin kau tarik-tarik keluar itu kan? Saat itu kau membolos.”

“Ahaha ya kau benar.”

Myungsoo terlihat memikirkan sesuatu sebelum akhirnya berucap kembali. “dan kau belum menjelaskan padaku dari mana semua lukamu ini berasal. Aku butuh penjelasan. Sekarang, ikut aku ke ruang makan. Mereka sudah menunggu.”

“kau pikir aku mau menunjukkan wajah babak belurku di hadapan nenekmu. Aku tidak mau didepak dari sini karena cucunya bergaul dengan perempuan tidak benar. Aku tidak mungkin menggunakan masker ketika makan,” jelas Sooyoung putus asa. Padahal ia lapar bukan main.

“Benar juga. Aku akan membawa makanannya ke sini.” Whoosssh Myungsoo melesat hilang bagai ditelan angin, lalu kembali dengan kecepatan mega membawa nampan.

Kedua mata Sooyoung berbinar-binar setelahnya. Ah Myungsoo memang mengerti. Kebetulan di sana ada meja kecil, dan Sooyoung duduk di lantai dengan Myungsoo di hadapannya.

Mereka berdua lalu makan dengan tenang tanpa ada sepatah katapun keluar dari mulut keduanya.

“Aku tadi bilang pada nenekku kau sedang flu berat jadi tak bisa ke sana, dan aku harus menemanimu.”

Sooyoung merasa tersanjung, Myungsoo bahkan rela mencari alasan. Padahal bisa saja ia meninggalkan Sooyoung di sini untuk ia makan bersama keluarganya. Yah mungkin karena tak sopan juga seorang tamu berdiam diri di kamar pemilik sedangkan pemiliknya sendiri berada di luar kamar, jadi lelaki itu lebih memilih makan di kamar bersamanya.

“Terimakasih. Aku menghargai usahamu.”

Myungsoo meliriknya tak percaya. “Aku serius,” ucap Sooyoung menambahkan, melihat ekspresi lelaki itu yang agak aneh.

“Kali ini kau berkelahi dengan siapa lagi?” tanya Myungsoo serius.

“Aku tidak tahu, mereka dari universitas sebelah.”

“Mereka?” Myungsoo melotot. Sooyoung cuma mengangguk ala kadarnya. “hanya gara-gara aku menghabisi bocah SMA, justru sepupunya yang turun tangan.” Lelaki itu mendengarkan dengan seksama. “kemarin lusanya, aku menghajar seorang lelaki di bar hehe,” Sooyoung mengakhirinya dengan cengiran. Sedangkan Myungsoo dibuat terkejut olehnya, gadis ini sungguh tidak main-main.

Setelahnya tatapan Sooyoung jatuh pada kedua bola mata Myungsoo, memberinya pandangan serius.

“Aku ingin bertanya sesuatu.” Myungsoo hanya diam, menunggu gadis itu untuk melanjutkan kata-katanya. “kenapa kau peduli padaku?” lanjutnya. Myungsoo memilih diam sejenak, membuat Sooyoung hampir mengigit kukunya sendiri karena dirundung rasa penasaran.

“Karena––” Sooyoung mengangkat alisnya. “–aku ingin menjadi temanmu.”

“Sesederhana itu?” tanya Sooyoung, alis kirinya terangkat, “dan kenapa kau ingin menjadi temanku?”

“Karena kau membayar jatah makan siangku,” ujar Myungsoo asal, tapi sepertinnya ucapan itu tidak berasal dari lubuk hatinya. Dan Sooyoung tahu.

Sejurus kemudian gadis itu melemparnya pandangan aneh, seolah Myungsoo adalah pria termatre sejagat raya. Berusaha memancing agar Myungsoo mengatakan hal yang sebenarnya.

“Haha tentu saja bukan itu. Hanya saja aku tertarik untuk membuatmu dekat denganku dan berteman denganku. Kau terlihat tertutup dari luar. Terkadang kau butuh seseorang untuk membuatmu merasa nyaman menjadi orang terbuka,” Myungsoo menghirup nafas sejenak, “dan aku bersedia menjadi orang itu.”

Seketika hatinya dijalari rasa hangat. Ia belum pernah mendengar seseorang mengatakan hal setulus itu padanya. Sooyoung tidak peduli pada orang yang baru dikenalnya, tapi Kim Myungsoo melakukannya dengan berbeda. Choi Sooyoung tersenyum lebar, senyuman yang tulus datang dari dasar hatinya yang terdalam. Myungsoo membalasnya dengan tersenyum manis.

“Lihat sudah pukul sembilan malam. Waktunya tidur.” Ctek. Lampu kamar dimatikan tanpa aba-aba.

“Hei aku bahkan lupa di mana letak kasurmu.”

“Itu urusanmu.” Blus. Kini Myungsoo sudah meluncur masuk ke dalam sleeping bag yang berada tepat di bawah kasur dengan beralaskan karpet beludru, sementara ia membiarkan Sooyoung tidur di kasur miliknya.

“Aw! Hei jangan injak kakiku!”

“Itu Salahmu! Kenapa kau mematikan lampunya sebelum aku naik ke kasur?!?!”

“Jangan lewat sini Choi, kau menginjak-injak kakiku! Naiklah lewat sisi satunya!”

“Aku tidak peduli!”

 

–To Be Continued–


**)) Selamat malam! Di tengah malam ini author memutuskan mempublish lanjutan ff Dream Girl yang terlupakan, terbengkalai, dan teraniaya (?)

Entah ini ff termasuk apa tapi author ngerasa ini hancur tak berbentuk dan sungguh terlalu.

Yah, maafkan yah karena memang tulisan author gak pernah baleg. Author bisanya imajinasi doang, giliran ditulis jadinya begini (?)

By the way, di sini lumayan banyak momen SooHun ya? Dan author gak terlalu nyadar. Eh tapi momen 2Soo nya lebih banyak dong😀

Walaupun chapter ini sudah termasuk bubuk (?) dimohon untuk tetap tinggalkan komentar. Karena ciusly, komentar itu asik loh. Bikin ketagihan! #IniBeneranPengalaman

Ahkhir kata, sampai jumpa di ff selanjutnya. Bye!🙂

23 thoughts on “Dream Girl [Chapter 4]

  1. MoSYoungTa July 25, 2014 / 9:50 AM

    aw aw aw menarik huhuhu ^-^
    ampun Syoo makin berandalan ><
    au Myungsoo berikan Syoo jalan yg benar yah, biarkan dia menjadi milikmu *kecepatan
    suka pas bagian akhir itu loh ^-^
    banyakin moment Myung-Syoo ya *kedip centil*

    • winterchan July 26, 2014 / 6:43 PM

      aw aw aw makasih huhuhu ^-^
      wkwkwk maapin, author malah bikin dia tambah berandalan
      nanti myungsoo akan membawanya ke jalan yang benar kok
      sama aku juga bagian akhir😀
      sip pasti!😉

  2. nadasooyoungstersoneelf July 25, 2014 / 10:48 AM

    Next nya cpt y thor jgn lama2 ….

  3. yeniswisty July 25, 2014 / 11:37 AM

    mungkin abis kejadian ini Sooyoung berubah gk bakal berandalan lagi gara2 Myungsoo :v
    Next Part di tunggu ^^

  4. fathiyahazizah July 25, 2014 / 11:41 AM

    Sooyoung ngeri amat deh x_x

    Myungsoo baik amat ama sooyoung “karena gue baik”. Myungsoo muncul tiba-tiba -,-

    Next ya …

    • winterchan July 26, 2014 / 6:53 PM

      abis kalo ganteng ga baik kan gak keren wkwk
      wahaha
      sip🙂

  5. Elisa Chokies July 25, 2014 / 12:52 PM

    O-EM-JEH.

    Ini katanya ff yg terlupakan ya???? Lupa??? Lupa???!!
    ((ganyantai)) ((alay)) ((dibacok))

    GELSHAA INI LUAR BIASA!

    EXTRAORDINARY YUHUU. Cerita, alur, diksinya tu kalo
    kata Bebi ngeRAMPOK

    Dan hubungan antara Soo&Myung ini unyuss sekali ya,
    meski Soo suka tonjok tonjokan bengep sana bengep sini
    tendang tendang sama orang …….tetep aja unyus dan aku
    suka huhu.

    Satu lagi, kamu berhasil bikin image si Myung bener bener kaya kaito kid /plak/ maksudnya kids dan innocent gini ohorat!

    Oke gelsha cetar ulala yang fictnya membahana badai /
    jogetmorena komen ga bermutu ini selesai, maap ricuh maap alay pokok’e kamu keren!

    P.s. Aku kok jd alay gini ya -_-

    P.s.s. ff barunya mana nih ?? ^^

  6. FAnoy July 25, 2014 / 1:45 PM

    Sooyoung keren banget. Ngehajar anak SMA ingusan yang memang minta dihajar(?). Mereka kok pengecut banget ya? Mentang2 ngelawan senior.
    Myungsoo peduli bgt sama sooyoung. Seneng deh ngelihat(ngebayangin) mereka.
    Lanjutannya ditunggu ya? ‘-‘)9

    • winterchan July 26, 2014 / 7:37 PM

      sooyoung emang keren😀
      iyadong udah ganteng baik lagi, pacar idaman banget kan wkwk
      sippo😀

  7. emmalyana25 July 25, 2014 / 7:23 PM

    myungsoo baik banget…
    itu soo eon bener bener laki nya keluar -_-
    next cepetan..

    • winterchan July 26, 2014 / 7:39 PM

      iyadong wkwk
      biasa jiwa security nya keluar
      insya Allah😀

  8. soobeautifulchoi July 25, 2014 / 9:28 PM

    Myungsoo pduli bgt sma soo😀
    suka ya sma sooyoung😀
    sooeon bnar2 anak brandalan ya, pdhal dia prmpuan😐

    smoga gara2 myungsoo soo bsa brbah jd prmpuan yg feminim trus mrka dua jadian😀
    Kkkk~
    Update soon please, fighting!

    • winterchan July 26, 2014 / 9:48 PM

      siapa dulu, pacar gue gitu /digebukin/
      bisa jadi bisa jadi!
      haha perempuan jiwa security dia

      amin. amin juga yang itu.
      thanks oke tunggu ya😀

  9. dinaalifa July 26, 2014 / 10:14 PM

    yaampun sooyoung cewek tapi bengalnya bukan main… Myungsoo sabar banget ya nadepin sooyoung nya. hehe🙂
    Kapan dilanjut lagi thor. aku nungu loh…

    • winterchan July 26, 2014 / 10:21 PM

      bulan puasa sih, jadi Myungsoo sabar (?)
      thanks banget udah nunggu, insya Allah cepet kok.😀

  10. @ggcsy24 July 31, 2014 / 8:33 AM

    uwaaa next next next secepat nya yaa thoorrr.., sooyoung myungsoo sweet banget disini… hehehehe

  11. Sooyoung's Weird Fan August 3, 2014 / 6:53 PM

    Annyeong, new reader imnida, haha.
    Jarang nemu FF Sooyoung-Myungsoo, harus dipantengin nih (?)
    FF nya keren banget, Myungsoo nya baik & sweet banget tapi ke-PD an, tapi emang bener sih kalo Myungsoo di FF ini emang orang yang baik banget, beda sama Sooyoung yang sifatnya kaya berandalan *peace*, tapi Sooyoung sebenarnya orangnya baik juga kan? Kasihan juga sih si Sooyoung, sifatnya jadi kaya berandalan gitu. Si Taejin sama Jimin emang bikin emosi aja nih, hahaha. Banyakin Sooyoung-Myungsoo moment-nya ne😀
    Sorry baru comment di chap ini soalnya baru nemu FF ini, dan sorry kalo comment-ku cuma pendek, hehe.
    Ditunggu kelanjutannya~ Keep writing^^

  12. Amel Ryriis January 4, 2015 / 1:49 PM

    Woahhh… Sooyoung jdi perempuan perkasa bgt sih😀
    myung emng baik bgt, jngn2 mulai suka nih sam soo😀

    nextnya ditnggu,

  13. SYLove February 20, 2015 / 6:33 PM

    Sooyoung itu Preman yang brutal. Gak tanggung, siapa aja dia ajak berkelahi ckckck (applause!)

    Jimin dan Jaejin, gangster abal-abal (aku setuju Sooyoung!)
    4 vs 7 + benda tajam. Gak fair itu! Harusnya ada wasitnya biar fair wkwkwk

    Gimana ya rasanya ke gir, Kai? (Woohh, pasti enak kan(?))
    SooHun+SooGuk+SooKai jarang, padahal aku mengharapkan lebih tentang pertemanan mereka (I mean, kedekatan mereka sejauh mana)

    Tapi aku suka ke brutalan Sooyoung❤
    Kalo bisa aku mau ikut (jadi penonton)

    DeJavu tuh sama mimpi sendiri, aku bahkan udah berfeeling ria kalo Sooyoung babak belur..

    R.N(?): Kasian si Taehyung. Nasibnya kurang baik hahaha

  14. yani yanuari April 7, 2016 / 8:32 PM

    wawww keren!! tpi mian sorry, ff drean girl’a yng kmaren” lusa ntu baru nyampe 3 part yaa kan?? in part baru’a, bner kaga?? sorry baru bsa coment d’part in, & d’part2 sblum’a kaga coment gtu hehehe😀 maklum baru bsa coment d’blog kek gini hihihihi ^_^ eohhh yaa min ttep publish next part’a yaa min, mkin pnsaran sma moment SOO couple’a kkkkkk *^_^* keep waiting min😉

    • winterchan April 9, 2016 / 6:51 AM

      Iya hehe gapapa😀
      Makasih ya sudah baca + komen🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s