No Choice

nochoice

Author : Sifi_xo

Judul    : No Choice

Cast     :

–          Xi Luhan

–          Choi Sooyoung

–          Oh Sehun

–          Han Young [OC]

–          Jung Eunji

Genre  : Romance, Sad

Rated   : PG 15

Lenght: Oneshot

Note : Annyeong!!! Hah akhirnya aku post juga 😀 adakah yang nungguin? Mian, mungkin typo masih berkeliaran, jika gak dapet feelnya n dll lah, mohon dimaafkan. Ya udah gak usah basa-basi ini ffnya ^_^ Happy reading ^_^

————————————–

Xi Luhan          : “Aku memang sangat mencintaimu, tapi ada yang lebih mencintaimu. Dan harus ada salah satu yang mengalah”

Choi Sooyoung: “Kalian adalah orang yang paling berharga dihidupku, aku mencintai kalian berdua, tapi aku tidak bisa memilih diantara kalian”

Oh Sehun         : “Cinta memang sangat menyakitkan, kita selalu bersama dan aku tidak bisa melukainya dan kau. Salah satu dari kami harus ada yang mengalah, tapi maaf. Aku tidak bisa.”

Han Young: “ Paman akan selalu menjadi, paman yang terbaik.”

Jung Eunji        : “ Aku adalah gadis yang bertahan lama kencan denganmu, tapi sekarang ada yang lebih dari aku. Hiduplah dengan senang, aku akan membuka lembaran yang baru”

————————————–

No Choice

Sooyoung’s Pov

SM University

“Ok, everybody. Sekarang buka halaman 189 dan kerjakan soalnya sampai selesai, setelah makan siang aku ingin melihat tumpukan pekerjaan kalian di atas mejaku. Semua mengerti?” Ucap Mr.Jung setelah memberi kami tugas ini.

“Yes, sir!” ucap kami kompak.

Hari ini adalah hari yang paling menyebalkan, aku tidak tahu kenapa. Tapi yang jelas hari ini aku tidak semangat menjalani aktivitas di kampus. Ku lihat semua teman-temanku sedang serius mengerjakan tugasnya, oh ya. Kenalkan aku adalah Choi Sooyoung, mahasiswi dari fakultas design. Ya awalnya aku sama sekali tidak ingin masuk kesini, tapi karena ancaman Siwon oppa, mau tidak mau, terima tidak terima. Aku harus masuk kemari, jika tidak maka aku tidak akan di kuliahkan. Aku memandang buku setebal 700 halaman dengan sampul hitam dan aksen pelangi di depannya.

“Huh~” sudah berapa kali aku mendesah kesal, ‘Ark~~’ rasanya ngantuk’ kini aku tak sanggup lagi. Tubuhku terasa lelah, karena harus membantu Luhan pindah rumah kemarin. Dan sekarang saat aku sedang membutuhkan hiburan, ‘Si pirang’ tidak ada. Ya, si pirang. Aku memanggilnya pirang karena rambutnya yang pirang, hahaha. Aku selalu tersenyum saat mengingatnya, dia adalah satu-satunya alasan kenapa aku masih duduk di bangku ini. ‘Oh Sehun’, ya namanya Oh sehun. Dia selalu bilang “Terkadang hidup harus memilih, tapi itulah hidup. Hidup adalah pilihan.” Aku selalu tertawa saat dia berusaha berkata bijak, tapi jatuhnya lucu.

“Huh~~” aku menidurkan kepalaku dimeja, menatap bangku kosong milik Sehun. “Kenapa dia tidak datang? Apakah dia marah, karena kemarin aku tidak jadi datang?” gumamku pada diri sendiri.

Flashback

Kemarin seharusnya aku pergi dengan Sehun kebioskop, tapi saat di perjalanan aku melihat Luhan.

“Oh,Luhan? Apa yang sedang ia lakukan disini? Bukankah dia ada di Busan?” gumamku saat melihat ia sedang berbicara pada laki-laki tua di samping trucknya. Karena penasaran akupun menghampirinya, aku berjalan melewati beberapa kuli yang sedang mengangkut barang-barang dari truck untuk dimasukkan kedalam rumah berwarna putih itu. Aku terus memperhatikan, tubuh namja yang seperti Luhan dari belakang, “Apa benar dia Luhan?-”| “Hey nona, kalau mau melamun pergi sana, kau menghalangi jalan kami?” suara berat dari salah seorang kuli membuatku berpaling dari Luhan padanya.

“Ah, ye. Joesong-hamnida.. Joesong-hamnida” ucapku sambil mundur beberapa langkah.

“Oh, neo? Soo-ah” suara Luhan membuatku melihatnya, kulihat ia terkejut melihatku.

Aku tersenyum senang karena sudah lama aku tidak bertemu dengannya “Ak… aaa Luhan-ah!!” teriakku senang dan langsung memeluknya. Kurasa ia membalas pelukanku dengan erat, aku sangat merindukannya.

“Wah, kenapa kau bisa disini?” tanyanya saat aku melepaskan pelukanku.

“Hmm~~ aku kira kau pindah kemari karena tahu rumah ku disini? Ternyata tidak.” Jawabku dengan suara dibuat-buat dengan cemberut.

“Gwiyeobda~~” ucapnya sambil mencubit gemas pipiku, dan membuat tanda merah disana karena perih.

“Ark, sakit!” pekikku sambil menepis tangannya, dia tersenyum kiku.

Sekilas aku melihat kedalam rumah, disana terlihat beberapa kuli sedang memasukkan barang. “Mau ku bantu?” tawarku dengan bodohnya, dan melupakan janjiku dengan Sehun.

“Boleh..” kamipun langsung membantu kerja para kuli, agar lebih cepat.

————————————–

“Ah… akhirnya selesai juga.” Ucapku lega sambil duduk di atas sofa, yang berada di tengah ruang tamu yang masih dipenuhi dengan kardus dan barang-barang Luhan lainnya.

“Gomawo.” ‘Deg…’ aku terdiam saat merasakan ada yang menimpa pahaku, dan ternyata, Luhan. Ia sedang membuat pahaku menjadi bantal untuknya berbaring disofa, kurasa mungkin wajahku sudah memerah seperti kepiting rebus.

“Cheonma” balasku dingin, untuk menutupi rasa malu ini. ‘Oh god, kenapa aku seperti ini?’ aku terus memperhatikan ruangan di dalam rumah ini. Kurasa dia sedang memandangku sekarang, “Kenapa mukamu merah? Apa kau sakit?” mataku melotot saat ia bertanya seperti itu. “Apa?” aku langsung menatapnya dan membuat pandangan kami bertemu. Ada rasa aneh yang menghinggap di dalam sana *pegangdada.

“Aa… ania. Aku… aku..” ucapku bingung dan mencoba mencari alasan “Aku?” dia mengulang perkataanku. Dan aku menatapnya tajam, saat aku mencoba mencari alasan. Mataku menangkap jarum panjang itu tepat menunjuk pukul 20.40 malam.

“OMMO!!” Refleks aku pun berdiri dan membuat namja yang sedang berada dipangkuanku terkejut.

“Wae?” aku menatapnya resah.

“Ani… aku harus pergi sekarang.” Ucapku sambil mengambil tas ku yang ada di meja.

“Tapi-”

“Tidak apa, aku lupa jika ada janji. Lain kali aku akan mampir, annyeong.” Pamitku dan langsung berlari ke taman.

————————————–

“Hah… hah…” kusarankan jangan berlari sepanjang 3 km di tengah malam yang dingin, kini aku tengah tertunduk di taman. Nafasku serasa akan habis, karena harus berlari sejauh ini. Di tambah lagi udara malam yang dingin, aku mengedarkan pandanganku keseluruh taman. Disini sangat sepi, sudah tidak ada orang yang bermain disini.

“Apa dia sudah pulang?” gumamku, saat tak menemui sosok Sehun. Akupun langsung mengambil ponselku di tas, dan langsung menghubungi Si pirang.

‘Tutt…. tuttt… tutt.. clik’

‘‘Yeoboseyo?’

“Yeoboseyo?”

Aku tersenyum lega saat mendengar suara pirang “Oh, kau dimana? Kenapa aku ketaman kau tidak ada? Apa kau sudah pulang?” tanyaku kawatir.

“Ani, aku tidak bisa datang. Aku ingin menghubungimu tapi, aku tidak bisa.”

“Wae? Kenapa tidak bisa? Kenapa kau tidak mencoba menghubungiku? Kalau aku datang tepat waktu dan menunggumu disini sampai malam bagaimana? Kau tidak perduli denganku.” Emosiku tertahan.

“Ah, mianhae. Tapikan kau terlambat…” aku terdiam karena merasa bersalah “Maaf, aku harus menutup telponnya, kita bicara besok”

‘Pip’

Back to

Sekali lagi aku mendesah pelan, dan terus menatap bangku Sehun “Soo-ah” aku menegakkan tubuhku dan memandang orang yang memanggilku. “Ouh, Syungkyu-ah. Wae?” kulihat ia duduk dibangku Sehun.

“Apa kau tidak menjenguk Sehun?” tanyanya padaku, dan apa? Menjenguk? Sehun?. Aku menatapnya penasaran “Ya, Sehun absen karena sakit.” Seolah tahu arti tatapanku, “Aku harus pergi.” Ucapku dan langsung membawa semua barang-barangku.

————————————–

Author’s Pov

@Sehun’s apartement

‘Ting… tong’

‘Clik’

Pintu apartement Sehun terbuka, Sehun terdiam saat mendapati sosok Sooyoung sedang berdiri didepannya. Ya, Sooyoung sekarang berada di apartement Sehun. Ia langsung berlari meninggalkan Sungkyu di kelas, saat ia mendengar Sehun sakit.

“Sedang apa kau disini?” tanya Sehun saat Sooyoung meletakkan sebuah kantong plastik diatas meja.

“Menjengukmu.” Jawabnya tanpa melihat Sehun yang masih memandangnya, dengan santai Sooyoung mengeluarkan semua isi didalam plastik tersebut.

“Bukannya hari ini kelas Mr. Jung? … Kau bolos?” tanyanya, namun Sooyoung hanya diam saja tak menghiraukan pertanyaan Sehun. Kini ia malah melenggang kedapur dan meninggalkan Sehun diruang makan.

————————————–

Kini Sooyoung sedang mengupas buah apel yang ia bawa untuk Sehun, Sehun tengah memandang tubuh yeoja yang sedang sibuk dengan apelnya dan tidak menghiraukannya.

“Soo, jawab aku. Kenapa kau bolos?” yeoja itu menghentikan aktifitasnya mengupas apel, “Lalu kenapa kau sakit?” tanyanya tanpa melihat Sehun dan kembali mengupas apel.

Karena kesal ia Sehunpun langsung menghampiri Sooyoung, dan langsung membalik tubuh itu untuk menghadapnya. Sooyoung meletakkan pisaunya dan tertunduk dihadapan Sehun.

“Mianhe..” lirihnya namun masih bisa didengar oleh Sehun. “Untuk apa? Apa yang perlu dimaafkan?” ucap Sehun dan membuat yeoja itu mendongakkan kepalanya melihat Sehun. Pandangan mereka saling beradu, keduanya terdiam dalam pandangan mereka.

“Mianhe.. karena kau menunggu ku ditaman di tengah cuaca dingin, dan kau jadi sakit” ucap Soo untuk yang kedua kalinya, dan langsung memeluk tubuh kekar dihadapannya. Sehun terhenyak atas apa yang dilakukan Sooyoung, perlahan ia pun membalas pelukan yang semakin mengerat ditubuhnya.

“Gwaenchana..”

“Mianhe, kau boleh menghukumku. Aku akan menerimanya, Hiks” Sehun terdiam saat mendengar isakan yang tertahan dari Sooyoung.

“Gwaenchana, kau ini kenapa? Aku tidak akan menghukummu nona Choi.” Balasnya lembut sambil mengelus halus pundaknya.

Namun bukannya tenang, namun Sooyoung malah menangis “Hiks…Hiks.. andwae. Kau harus menghukumku, karena sifat pelupaku. Kau harus sakit, aku takut terjadi sesuatu padamu. Kau harus menghukumku…” Rancaunya sambil mengeratkan pelukannya pada Sehun.

Sehun tersenyum singkat, beginilah sifat asli dari sahabatnya. Dan inilah yang membuat Sehun sangat menyayangi, oh tidak-tidak. Lebih tepatnya mencintainya. Perlahan Sehun melepaskan pelukannya “Baik-lah jika itu maumu!” tegas Sehun sambil mencengkram bahu Sooyoung.

“Apa hukumannya?” tanyanya sambil menghapus airmata yang masih tertinggal dimata indahnya.

Sehun tertawa renyah “Tutup matamu” tegasnya dan membuat Sooyoung langsung menutup matanya. “Aa… apa yang akan kau lakukan? Kau akan memukulku?” tanyanya polos.

Sehun tersenyum saat melihat ada ketakutan diwajah manis yeoja didepannya “Ya, aku akan memukulmu. Jadi angkat wajahmu!” perintahnya dan Soopun menurutinya. Ia tidak bisa menolak permintaan Sehun, karena ada alasan tertentu.

“Ba.. baiklah~” ucapnya tergagap karena takut, matanya semakin terpejam saat Sehun mulai menghitung.

“Kan-da~…” goda Sehun “Hana… dul… Se-”

~Cup~

Mata indah Sooyoung langsung terbuka saat ia merasakan, ada sesuatu lembut yang menyentuh bibirnya. Ia bisa merasakan hembusan nafas Sehun di hidungnya, 10 detik Sehun mengecup lembut bibirnya. Dan berhasil membuat rona merah dan sport jantung sesaat bagi gadis dihadapannya itu, matanya mengerjap beberapa kali. Mengingat apa yang baru saja terjadi, kini ia melihat Sehun sedang tersenyum senang didepannya.

“Itu hukumanmu, jadi jangan menangis lagi.” Ucapnya lalu berbalik meninggalkan Sooyoung yang masih mematung di dapur.

————————————–

Sooyoung sedang terlamun, matanya menatap ayunan kosong yang berada didepannya. Kini ia telah pulang dari apartement Sehun, sejak keluar dari apartemen Sehun ia terus saja memegangi bibirnya. Ia masih tak bisa melupakan apa yang baru saja ia alami, ‘Ommo… daebak.. apa yang baru saja dia lakukan?…’ kembali memagang bibirnya dan kembali mengingat saat Sehun menciumnya ‘Kisseu? Kisseu?’ ia langsung tersenyum saat mengucapkan kata itu dihatinya.

————————————–

@Cafe

T-max dengan lagu fight the bad feeling terdengar di seluruh ruangan cefe dengan nuansa italia ini. Disalah satu meja terlihat seorang Choi Sooyoung sedang duduk sambil mengaduk secangkir mochaccino mint, pandangannya tak lepas dari cangkirnya hingga terlihat seorang namja tinggi datang menghampirinya. Namja itu berambut pirang, ya siapa lagi jika bukan Sehun. Ya, Sooyoung sedang menunggu Sehun dan Luhan.

“Annyeong!” sapa Sehun semangat lalu duduk di kursi, ia mengmbil kursi yang menghadap Sooyoung.

Sooyoung mendongak dan tersenyum melihat Sehun “Ouh Annyeong.” Balasnya dan meninggalkan cangkirnya.

“Bagaimana kau sudah baikan?” ucapnya sambil memegang kening Sehun, Sehun tertawa ringan saat melihat ekspresi Sooyoung.

“Ah, gwaenchanayo. Aku sudah baikan karena kau.” Ucapan Sehun membuat Sooyoung terdiam.

“Eum.. karena aku?” ia menunjuk dirinya sendiri. “Kis-” | “Annyeong!!” Sapaan dari seseorang membuat Sooyoung memalingkan pandangannya ke asal suara.

Sooyoung mengakat tangannya sambil menyapa “Annyeong.” Balasnya pada penyelak kalimat Sehun, Sehun tertawa saat melihat Luhan. Ya mereka adalah sahabat lama sejak sma, tepatnya Sehun dan Luhan meraka adalah sahabat sejak kecil. Lalu saat Sma mereka bertemu dengan Sooyoung, mereka menjalin persahabatan dengan sangat baik. Dan itu yang mebuat Sooyoung sangat menyayangi, bukan. Lebih tepatnya mencintai mereka berdua, setiap kali ada gadis yang mendekati mereka, sekuat tenaga juga. Sooyoung mencoba menjauhkan mereka dari kedua sahabatnya.

“Kau datang juga.” Sapa Sehun saat Luhan duduk disamping Sooyoung.

Luhan tersenyum ramah “Mian, tadi aku ada urusan sebentar. Jadi aku terlambat.” Balasnya sambil memandang kedua sahabatnya bergantian.

Sooyoung mengangguk “Geurae, cepat pesan makanan.” Perintah Soo pada kedua pangeran itu.

“Arraseo!” “Arra!” ucap mereka kompak, lalu memanggil pelayan dengan kompak pula.

Kini mereka tengah memakan pesanan mereka yang baru datang 10 menit yang lalu, acara makan itu tambah seru saat mereka membicarakan masa-masa sma mereka. Dan juga menggoda Sooyoung, banyak sekali hal lucu saat mereka sma. Dan tak jarang Sehun dan Luhan harus menerima cubitan panas dari jari lentik tuang putri yang tengah cemberut itu. mereka menikmati makan siang mereka hingga malam menjelang, inilah kebiasaan mereka. Pesan makanan dan bediam diri di cafe untuk berbincang dan bercanda [nongkronglah].

————————————–

Kini mereka bertiga sedang dalam perjalanan pulang, Luhan dan Sooyoung diantar Sehun pulang. Karena Luhan tidak membawa mobilnya dan karena mereka searah, Sooyoung sedang tidur di bangku penumpang belakang. Sehun dan Luhan kembali melanjutkan perbincangan mereka di cafe.

“Hahaha hyung, kenapa kau tidak bilang? Kan aku bisa membantumu?” entah apa yang mereka bicarakan [author gak tahu], tapi mereka terlihat sangat senang. Hingga Luhan membuat keadaan menjadi hening dan canggung “Apa kau menyukai Sooyoung?” perkataan itu membuat Sehun langsung menghentikan laju mobilnya dan membuat Luhan terkejut.

“A… apa yang kau bicarakan hyung?” tanya Sehun saat setelah melihat Sooyoung dibelakang, takut terjadi sesuatu karena ia mengerem mendadak mobilnya.

Luhan terdiam dan menatap kedepan, ia menghela nafas sebelum mengeluarkan sebuah surat didalam kantong jaketnya “Apa ini?” tanya Sehun saat menerima amplop dengan cap rumah sakit di depannya.

Sehun membaca nama rumah sakit yang tertulis didalam amplop, “Rumah sakit Wusu?” sekilas memandang Luhan, ia membuka amplop tersebut dan membaca setiap kata yang tertulis, dan matanya menatanya membulat saat melihat tanda + disurat tersebut.

“Hyung…” lirihnya dan berlarih melihat Luhan, Luhan hanya tersenyum matanya tetap memandang kedepan.

“Ya, itulah yang membuatku bertanya padamu. Apa kau menyukai Sooyoung?” tanya Luhan sambil memandang orang yang sedang di bicarakan. “Itu adalah alasan kenapa aku pindah ke wilayah rumah Sooyoung, aku ingin selalu melihatnya… sebelum aku pergi.” Ucapnya dengan senyum yang dipaksakan.

Sehun terdiam mendengar pernyataan Luhan, jantungnya bagaikan tertusuk pisau yang baru saja di asah. Ia tak tahu harus berkata apa, jika ia jujur pasti dia akan menyakiti hati Luhan dan jika ia tidak jujur dia harus siap untuk patah hati.

“Kau belum menjawabnya, apa kau menyukainya?” pertanyaan itu kembali dilayangkan oleh pria manis disebelahnya.

Sehun tersenyum pahit “Ya, aku menyukainya…” Luhan menatap tak percaya “Jika aku tidak menyukainya, kenapa aku bersahabat dengannya. Dan kenapa aku bersahabat denganmu? Itu karena aku juga menyukaimu, hyung. Aku menyukai kalian berdua, kalian adalah sahabat terbaikku.” Jawab Sehun bohong, dengan senyum palsu yang tersembunyi di wajah tampannya.

Luhan tersenyum mendengar penjelasan Sehun “Tentu, saja aku akan mendukungmu, hyung.” Dustanya dan kembali menjalankan mobilnya.

————————————–

Sekilas Sehun melirik yeoja yang masih tertidur di kursi belakang, ya sekarang Sehun sedang mengantarkan Sooyoung pulang. Setelah mengantar Luhan kerumahnya, mobil sport berwarna hitam itu berhenti tepat didepan sebuah rumah mewah. Ya Sooyoung, Luhan dan Sehun adalah anak dari orang yang cukup kaya.

‘Tin~~~’

Terlihat seorang penjaga rumah berlari dan membukakan pintu gerbang, dengan cepat mobil itu melesat danberhenti tepat didepan pintu utama.

“Annyeonghaseyo, tuan muda Oh. Uh, nona Soo bersama anda?” tanya seorang kepala pelayan wanita saat Sehun turun dari mobilnya.

Sehun tersenyum, sambil membuka pintu belakang “Iya, tadi kami berada di cafe. Apa Sooyoung tidak pamit?” tanya Sehun sambil meraih tubuh Sooyoung.

Kepala pelayan itu tersenyum “Tidak tuan, setelah mendapat telepon dari anda. Nona Soo, seperti terburu-buru.” Balasnya, saat Sehun berhasil mengeluarkan Sooyoung dari mobil dan menggendongnya ala bridal style.

————————————–

Kini Sehun berjalan memapah yeoja yang telah bermain di alam mimpi itu, Sehun tersenyum saat melihat wajah polos Sooyoung dalam dekapannya. ‘Kau tahu, ini pilihan yang sulit.’ Batin Sehun saat mengingat pembicaraannya dengan Luhan.

————————————–

“Jalja~” ucapnya lembut saat menyelimuti tubuh Sooyoung, Sehun tidak langsung pergi, ia duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan wajah yeoja yang tengah tertidur lelap itu. Perlahan salah satu tangannya meraih tangan kiri Soo, dan menggenggamnya erat.

“Kau tahu kita selalu bersama, dan kurasa kau tahu jika aku tidak bisa jauh darimu. Sebelum aku menyesal dan tidak pernah mengucapkannya, lebih baik aku mengatakannya sekarang. Aku tidak tau apa yang sedang terjadi saat ini dalam hatiku, aku tidak bisa memendamnya lagi … … Choi Sooyoung. Saranghae..” ucapnya sambil mencium lembut punggung tangan Sooyoung lama.

“Aku tak ingin mendengar jawabannya sekarang, atau mungkin. Aku tidak akan mendengarkan jawabannya. Aku tidak bisa melukai Luhan, aku akan menunggu. Dan aku juga tidak bisa mengalah, maaf.” Lanjutnya setelah melepas genggamannya pada Soo.

Clik

Perlahan Sehun meninggalkan tuan putrinya setelah mematikan semua lampu yang ada dikamar, kecuali lampu tidur. Sebelum benar-benar pergi, Sehun kembali melihat Sooyoung dari ambang pintu, lalu pergi.

Saat mendengar suara pintu ditutup, mata indah yang sedari tadi terpejam. Perlahan membuka, ya. Sooyoung memang sudah bangun sejak mobil Sehun berhenti di depan rumahnya. Ia terdiam termakan oleh heningnya malam, ingatannya terngiang kata-kata Sehun. Lalu mata indah itu melirik sebuah foto yang terpajang didinding kamarnya, ia tersenyum miris saat melihat foto mereka [Sehun, Sooyoung, Luhan].

Flashback

“Uh, Soo-ah. Kemarilah.” Panggil Luhan saat mereka sedang piknik ke taman, Sooyoung yang sedang asik membaca komik di pangkuan Sehun-pun langsung duduk dari tidurnya, dan.

‘Duagh!’

Kepala Sooyoung menghantam dagu namja berambut priang.

“Ark~~~” pekik mereka berdua dengan keras, sambil memegang bagian tubuh mereka yang sakit.

“Yak! Kau ini kenapa? Kenapa tiba-tiba bangun?” protes Sehun sambil mengelus dagunya.

Sooyoung terus mengusap lembut kepalanya “Sakit~” lirihnya dengan muka polos, dan itu membuat Sehun merasa bersalah karena sedikit memarahinya.

Suk… suk

“Gwaenchana?” Sooyoung langsung mendongakkan kepalanya, saat tangan Luhan mengelus bagian kepalanya yang sakit. Sooyoung terdiam karena terpana dengan senyuman Luhan dan perhatian yang ia tunjukkan padanya, “Hmm.. sangat menyakitkan~” rengeknya manja.

Sehun menyerngitkan keningnya, saat melihat sikap Sooyoung didepan Luhan. Itulah Soo, dia selalu protective pada Sehun dan selalu manja saat didekat Luhan. Sehun pun terkadang berfikir, apa mereka akan terus bersama. Bertiga?.

“Ah, seharusnya kau lebih berhati-hati.” Nasehat Luhan. Dan ‘cup’ sebuah kecupan mendarat tepat dipuncak kepala Soo, itu membuat yeoja yang sedari tadi merengek sakit menjadi diam.

Sehun tersenyum getir “Ya.. ya Hyung. Aku juga korban, kenapa hanya Sooyoung?” sahut Sehun dan membuat Sooyoung menatapnya dengan tajam.

Luhan tertawa “Kau mau kucium juga?” godanya sambil mendekati Sehun, dan refleks Sehun langsung menghindar. “Shireo!” tolaknya, ia paling jijik jika di goda Luhan seperti itu.

Backto

Sooyoung kembali memejamkan matanya setelah mem-flashback cerita di balik foto itu. Foto yang melihatkan Sooyoung yang berada di tengah dan Luhan, Sehun berada di kanan dan kirinya sambil mencium pipi Sooyoung dan membuat mata indah itu membulat karena terkejut.

“Nado saranghae~” ucapnya sambil mengeratkan selimutnya.

————————————–

@Cafe

Kini sudah satu bulan semenjak pengutaraan cinta dari Sehun, semuanya telah berubah. Kini Sehun jarang datang saat Sooyoung mengajak bertemu, seperti saat ini. Sooyoung sedang duduk dan bercanda bersama Luhan, ya. Luhan. Sekarang Sooyoung lebih sering bersama Luhan. Mereka terlihat bersenang-senang, ya walaupun tidak ada Sehun disana.

“Oh ya, kenapa Sehun tidak datang?” pertanyaan itu membuat senyum Luhan perlahan meredup.

“Ne?” Sooyoung melahap sepotong cheese cake yang menancap diujung garpu yang ia pegang.

“Hmm, dimana Sehun sekarang? Kenapa dia tidak datang?” ucapnya sambil mengunyah makanannya.

Luhan terdiam, ia menghela nafas pelan. Perlahan ia menarik tangan kanan Soo dan menggenggamnya erat. Sooyoung sedikit terkejut saat ia Luhan melakukan itu “Wae?” tanyanya sambil memandang Luhan dan membuat pandangan mereka bertemu.

Entah kenapa ada desiran aneh yang menyeruak ditubuhnya, jantungnya berpacu tidak normal. Tidak biasanya Luhan seperti itu “Kau tahu, kenapa Sehun tidak kemari?” Sooyoung menggeleng.

“Karena aku, karena aku dia tidak akan datang.” Ucap Luhan dengan lesu.

“Wae?”

“Karena dia tahu aku mencintaimu.” Sooyoung terdiam, kinerja otaknya seakan berhenti. Kedua sahabatnya ini telah mengutarakan cinta pada dirinya, “Luhan…” lirihnya

“Aku tahu, kita sudah bersahabat lama. Aku juga tahu kita selalu bersama, dan itu yang membuatku tidak bisa jauh darimu. Kau tahu, aku sangat cemburu jika kau terlalu protektif pada Sehun, aku selalu cemburu saat kau menanyakannya. Aku tahu ini salah, Sehun juga sahabatku. Tapi apa salah jika aku cemburu?” papar Luhan pada yeoja yang masih tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.

“A.. ak … aku.” Bibir Soo seakan kelu, ia sangat sulit mengatakan apa yang ingin ia ucapkan dari bibirnya.

“Kau mau menjadi kekasihku?” Sooyoung terdiam untuk kedua kalinya, ada rasa senang dan sedih dalam hatinya. Rasa senang karena cintanya tak bertepuk sebelah tangan, tapi ia sedih karena akan melukai kedua hati sahabatnya.

Sooyoung tertunduk, ia tak tahu harus berkata apa “Soo, apa kau mau menjadi kekasihku?” Luhan mengulangi pertanyaannya, mata indah itu langsung memandang pemilik mata indah dihadapannya dengan senyum di wajahnya.

“Kau tahu, aku sangat senang mendengarnya..” terlukis sebuah senyum di wajah tampan Luhan “Tapi aku takut..” senyum itupun perlahan luntur “Takut? Apa yang kau takutkan?” Sooyoung menghela nafas panjang.

“Aku takut kalian akan terluka, aku tidak bisa memilih…” Luhan mengerutkan keningnya, ia menatap Soo penasaran “Maksudmu memilih?… a… apa Sehun juga menyatakan cintanya juga?” Sooyoung terdiam, matanya memandang Luhan dan mengingat semua perkataan Sehun saat dirumahnya.

“Ne..”

Luhan terkejut, dia kecewa dengan sahabatnya itu. Ia menghela nafas kesal “Jadi dia bilang dia akan mendukungku? Tapi dia terlebih dulu mengatakannya padamu?” tanyanya dengan emosi tertahan.

“Tapi dia tidak mengatakannya seperti ini, dia mengatakannya saat aku tidur. Aku tidak tahu ada apa dengannya, apa dia ada masalah? Aku sangat menghawatirkannya” pertanyataan itu membuat Luhan geram, baru saja ia mengatakan dia sangat cemburu jika Sooyoung lebih menghawatirkan Sehun. Tapi sekarang Soo mengatakan dia kawatir dengan Sehun.

“Mworago?”

Sooyoung terkejut melihat tatapan amarah Luhan padanya “JIKA KAU MENGHAWATIRKAN SEHUN KENAPA KAU TIDAK MEMILIHNYA SAJA! HA?” Bentak Luhan pada Sooyoung sehingga membuat para pengunjung melihat kearahnya. Sooyoung terhenyak dengan apa yang dilakukan Luhan padanya, matanya sudah berair. Perlahan tapi pasti mata indah itu mengeluarkan air mata, ia tidak menyangka Luhan yang dikenalnya baik dan perhatian padanya. Sekarang membentaknya, Sooyoung menggigit bibir bawahnya karena merasa kesal dan kecewa.

“Ke… kenapa kau membentakku?” lirihnya.

“Mi.. mianhe..” Luhan tak tahu apa yang baru saja ia lakukan.

Kini Sooyoung tersenyum getir “Kau tahu, kenapa aku tidak bisa memilih..” ia menatap Luhan yang juga menatapnya. “Karena aku mencintai kalian berdua, aku tidak bisa jauh dari kalian. Kau tahu betapa lelahnya perasaanku, aku bingung dengan diriku sendiri. Itu karena aku tidak bisa memilih, kalian sangat berarti bagiku. Kau tahu… kau tahu aku tidak bisa jauh dari mu dan Sehun. Kau tahu. Semua ini menyiksaku… jika aku harus dihadapkan dengan dua pilihan antara kau atau Sehun, aku akan lebih memilih mati. Karena begitu aku tidak harus merasakan sakit saat kehilangan salah satu diantara kalian.” Ucapnya tanpa jeda, hingga nafasnya tersengal. Kedua pipinya juga sudah basah karena air mata yang terus menetes dari mata indahnya, ia tidak tahu jika akhinya akan seperti ini.

“Soo..” hanya itu yang keluar dari bibir Luhan.

“Aku harus pergi..” ucapnya sambil bergegas pergi, namun Luhan menahannya “Kau mau kemana?” Sooyoung menatap tangan Luhan di lengannya, dan perlahan melepaskan pegangan itu.

“Kesuatu tempat.” Ucapnya dingin.

Namun Luhan kembali mencengkram lengan kurus itu dengan kuat, hingga Soo mengerang kesakitan. “Ark~~” | “Kau mau menemui Sehun?” tanyanya dengan emosi yang tertahan, kini Luhan sudah berani terang-terangan memperlihatkan kecemburuannya terhadap Sehun.

“Tidak. Aku tidak bisa melihatnya sekarang, aku takut jika aku harus kehilangan salah satu dari kalian. Aku hanya ingin menenangkan diri, Luhan. Jadi kumohon biarkan aku pergi.” Pintanya sambil mencoba melepas cengkraman Luhan.

Namun Luhan tidak membiarkannya, ia langsung menarik Sooyoung kedalam pelukannya “Mianhae… aku tidak bermaksud-” kalimatnya terpotong saat Sooyoung mendorong tubuh Luhan menjauh darinya, ia tidak tahu apa yang baru saja ia perbuat.

“Tidak, ini tidak benar. Mianhae, tapi aku harus pergi…” ucapnya lalu pergi meninggalkan Luhan.

————————————–

Sehun hanya duduk termenung di bangku taman, ia terus memandang kosong rumput yang di injaknya. Ia sedang memikirkan apa yang terjadi akhir-akhir ini, jari-jari tangannya bergerak resah.

Sehun’s Pov

Sudah sebulan aku jarang bertemu dengan Sooyoung, aku sangat merindukannya. Kenapa semuanya menjadi seperti ini? Aku hanya bisa mengacak rambutku kasar sambil menegakkan punggungku. Aku selalu menghindarinya saat di kampus,

Flashback

Aku berjalan masuk kedalam kelas, kulihat Sooyoung tengah duduk di bangkunya dan berkutat dengan buku designnya. Perlahan aku berjalan menuju bangku milikku, rasanya ingin sekali aku menyapanya. Tapi.. tapi aku ingat pertanyaan Luhan hyung, ‘Dia menyukai Sooyoung..’ Batin Sehun sambil melamun.

“Ouh kau sudah datang?” suara milik Sooyoung membuatku tersadar dari lamunan sesaat ini.

Aku hanya tersenyum tipis dan tak menjawab pertanyaanya, aku duduk di bangkuku dan kurasa dia terus mengikuti setiap gerak-gerikku.

“Kenapa kemarin kau tidak datang kerumah? Padahal Luhan datang… aku hubungi. Kau juga tidak menjawabnya?… … wae? Kau sedang ada masalah? Apa kau sakit?”

Deg

Kurasakan tangannya menyentuh keningnku, aku bisa merasakan kehangatan dari kulitnya yang menempel di kulit keningku. Aku menatapnya yang juga sedang menatapku dan menungguku berbicara.

“Ckck.. tidak kok, tidak panas?”

“Hentikan!” ucapku sambil berdiri dan menepis tangannya dari keningku.

“Sehun~” kurasa ia sedikit terkejut, aku berdecak pinggang dan menatapnya kesal.

“Hentikan Choi, kau ini kenapa? Aku baik-baik saja? Bisakah kau tidak seperti ini terus? Berhentilah over protective terhadapku.” Dia terdiam, aku melihat kesekeliling dan kami menjadi pusat perhatian. Aku kembali menghela nafas kecil, lalu menariknya pergi dan mencari tempat berbicara.

————————————–

Aku menarik tangannya, aku menariknya kesesuatu tempat. Aku sedikit berlari dan kurasa ia juga mengikuti gerak langkah kakiku.

‘Hah… hah..’ aku bisa mendengar nafasnya yang tersengal karena aku mengajaknya berlari.

Kini aku sedang berada ditaman belakang kampus, aku mengajaknya disini, karena tempatnya yang sangat sepi. Disini hanya ada rumput, pepohonan dan tumbuhan lainnya.

“Dengar…” ia tertunduk saat aku menyudutkannya di pohon besar yang berada didepanku saat ini “Lihat aku Soo.” Perintahku tapi dia menggeleng pelan. “LIHAT AKU!” bentakku sambil menarik dagunya hingga ia melihatku.

“Dengarkan ini, aku tahu kau tidak bisa jauh dariku. Tapi apa kau fikir kita akan selalu bersama? Maksudku, kau, aku dan Luhan. Apa kau tidak berfikir kedepan? Aku takut jika seperti ini terus, aku tidak akan bisa memiliki kekasih.”

“Ma.. maksudmu?” tanyanya bingung.

“Maksudku… berhentilah perhatian denganku. Jaga jarak denganku, dan hilangkan semua kebiasaanmu terhadapku.” Pintaku dengan emosi palsu ini, aku sangat tidak menginginkan itu semua. Tapi Luhan, dia adalah sahabatku dari kecil dan sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri.

Kulihat ia sudah hampir menangis “Ta… tapi?-” | “Tidak ada tapi-tapian, mulai saat ini jangan pernah tunjukan semua perhatianmu.” Ucapku lalu pergi meninggalkannya.

Back to

Aku mengusap kasar wajahku, dan semenjak kejadian itu. Aku benar-benar melakukannya, aku menjauhinya dan ternyata ini sangat sulit. Meninggalkan kebiasaan dan hal-hal yang dikerjakan bersama, dan sekarang harus sendiri itu sangat menyakitkan. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi, aku tidak bisa terus-terusan seperti ini. Hari-hariku serasa kosong dan sepi, dan kalian tahu. Ini sangat menyakitka, kenapa aku harus mencintai satu orang yang sama.

“Apa aku bisa kuat melihat mereka bersama? Apa ini akan lebih menyakitkan? Aku sangat tidak akan sanggup, tidak akan-”

“Oh, Sehun?” suara itu membuat ku melihat siapa yang memiliki suara tersebut, dan betapa terkejutnya aku melihat sosok yang sedang berdiri di hadapanku saat ini

“Eunji?”

Dia tersenyum dan memperlihatkan smile eyesnya “Annyeong~~” sapanya dengan ceria. [Skip]

————————————–

Sooyoung berlari keluar dari cafe, ia tidak tahu jika hujan telah turun dan mengguyur wajah kota myeongdong itu. Dengan air mata yang masih menetes, ia tak menghiraukan panggilan dari Luhan. Tak ada yang tahu apa yang sedang difikirkan olehnya, Sooyoung berlari ketepi jalan dan lansung masuk kedalam cafe.

“SOOYOUNG-AH!!!” Teriak Luhan saat taksi yang ditumpangi Sooyoung mulai melaju meninggalkan cafe. Tanpa berfikir lagi, Luhan langsung berlari untuk mengambil motornya yang terparkir didepan cafe.

————————————–

Dengan baju yang sedikit basah Sooyoung terduduk diam di dalam taksi, yeoja cantik itu terus memikirkan kata-kata dan ekspresi Luhan.

“JIKA KAU MENGHAWATIRKAN SEHUN KENAPA KAU TIDAK MEMILIHNYA SAJA! HA?”

“Karena aku, karena aku dia tidak akan datang.” Ucap Luhan dengan lesu.

“Wae?”

“Karena dia tahu aku mencintaimu.”

“Kau mau menemui Sehun?” tanyanya dengan emosi yang tertahan.

Ia memijat keningnya, upaya menghilangkan rasa pening yang tiba-tiba menerpanya. “Nona, kita mau kemana?” pertanyaan supir taksi itu membuyarkan Soo.

“Pemakaman Jeoxxx”

“Ne.” jawab supir itu.

————————————–

Hujan semakin deras, udara dingin dan angin kencang membuat orang-orang mulai mencari tempat untuk berteduh. Sooyoung yang berada didalam taksi terlihat cemas dan bingung, ia terus melihat keluar jendela. Apa yang ia takutkan telah terjadi, yeoja bertubuh tinggi itu terus memikirkan dua orang yang sangat berarti baginya.

“Kenapa semuanya harus begini?” gumamnya sambil mengelap pelan wajahnya, dan saat itu terlihat seorang pengendara motor melaju melewati taksi yang di tumpanginya dengan kencang.

“Ya, kenapa saat hujan masih bisa ngebut?” suara supir taksi membuat Sooyoung mencari siapa yang dimaksud.

“Ada apa?”

“Ah, tidak. Tadi hanya ada seorang berandalan yang ngebut, padahal ini sedang hujan deras. Dan jalanan akan jadi licin.” Jawab supir taksi itu saat lampu lalu lintas memperlihatkan warna merah.

————————————–

Luhan memacu kencang sepeda motornya di antara rintik hujan. Bayangan wajah Sooyoung memenuhi pikirannya, ia merasa sangat bersalah karena telah membentak yeoja yang ia cintai itu. Seorang yeoja yang sedang berjalan di trotoar sekilas mirip dengan Sooyoung, bahkan seorang penumpang taksi pun sempat terlihat seperti Sooyoung.

————————————–

Di tempat lain Sehun dan Eunji sedang menikmati kopi hangat di sebuah cafe, mereka terlihat menikmati obrolan mereka di tengah hujan deras yang tengah turun.

————————————–

Hujan semakin dan semakin deras turun membasahi Myeongdong, langit hitam menyelimuti langist seoul. Luhan masih memacu sepeda motornya, mengikuti sebuah taksi yang ia yakini bahwa Sooyoung berada di dalamnya. Sepeda motor itu dipacu lebih kencang menembus derasnya hujan yang turun. Sementara Sooyoung, tiba-tiba perasaan yeoja itu sangat tidak enak. Jantungnya berdegub lebih cepat dari biasanya. Ia teringat jika Luhan datang bersamanya dengan motor sportnya, ia teringat akan ucapan supir taksi tadi.

“Luhan?”

————————————–

Luhan mencoba mendekati beberapa taksi yang ia kejar, namun tidak ada Sooyoung. Ia terus memacu sepeda motornya lebih cepat.

————————————–

“Kenapa dia tidak mengangkat panggilan ku?” gumam Soo saat ia tidak bisa menghubungi Luhan.

Jemari lentiknya bergerak resah diatas layar ponselnya.

“To: Luhanie

Kenapa tak mengangkat telponku?” Ia langsung menekan tombol Send.

————————————–

Tiba-tiba disebuah perempatan jalan tampak ramai orang-orang. Sepertinya ada kecelakaan di sana karena terlihat orang-orang yang histeris. Kemacetan mulai terjadi. Sooyoung yang duduk di kursi penumpang mencoba melihat apa yang sedang terjadi.

“Ada apa ini?” tanya Sooyoung.

“Sepertinya kecelakaan. Hujan membuat jalanan menjadi sangat licin.” Jawab supir taksi itu.

Sebuah perasaan aneh menghinggapi hati Sooyoung, ia berdoa agar apa yang ia pikirkan tidaklah benar. Saat mobil taksi itu akan sampai di keramaian tersebut, Sooyoungpun membuka kaca taksi dan mencoba menghubungi Luhan. Namun betapa terkejutnya saat ia menangkap sebuah sepeda motor yang sangat ia kenal, dengan ponsel yang masih ia rekatkan ditelinganya ia langsung membuka pintu taksi yang berjalan pelan itu. Supir taksi itu tidak tahu apa yang di lakukan oleh Sooyoung, ia mencoba mengejar Sooyoung karena dia belum membayar taksinya.

Sooyoung mempercepat larinya. Ia tak peduli tubuhnya yang dihantam butiran air hujan yang masih turun dengan deras, tubuh yeoja itu basah kuyup. Detak jantungnya kembali tidak normal.

“Tidak… tidak mungkin…” gumamnya saat menepis pikiran-pikiran negatif di otaknya.

Seorang namja tergeletak di tepi jalan, terlihat seseorang sedang mencoba memanggil ambulan. Kondisi namja itu cukup parah, karena helm yang ia kenakan terlepas dan pecah. Motor sportnya juga ringsek di bagian depan, ternyata ia menabrak pembatas jalan.

Sooyoungpun sampai ditempat kecelakaan, ia langsung menjerit saat apa yang ia pikirkan dan ia kawatirkan terjadi.

“Luhan!” teriaknya lalu menghampiri tubu namja yang ia cintai itu, Luhan hanya diam. Orang-orang yang mengelilingi mencoba membiarkan Sooyoung memeluk Luhan.

Sooyoung mengusap lembut wajah yang tengah terguyur hujan itu, kini air matanya telah bercampur dengan air hujan yang membasahi wajahnya. Salah seorang ajumma yang kasian lasngsung memayungi tubuh mereka.

“Cepat panggil ambulan, kenapa lama sekali?” ajumma itu berteriak pada orang-orang yang sedang melihat drama di tepi jalan itu.

“Luhan, bangun! Luhan bukalah matamu!” teriak Sooyoung.

Perlahan mata indah yang sejak tadi terpejam itu membuka, meski terbuka sedikit tapi sepertinya Luhan mengenali siapa pemilik suara itu.

“Soo…” ucapnya lirih.

“Luhan! Bertahanlah, sebentar lagi ambulan datang, bertahanlah. Aku mohon…” ucapnya sambil kembali merengkuh tubuh tak berdaya itu.

“Sooyoung, aku mencintaimu..”

Sooyoung mengangguk cepat, airmatanya sudah tidak bisa ia tahan lagi “Aku tahu, aku juga mencintaimu… kumohon bertahanlah.” Pinta Soo namun mata indah yang tadinya terbuka lemah menatap Sooyoung kini kembali terpejam.

Sooyoung terdiam, ini semua bagaikan mimpi “Lu… luhan?”. Ajumma yang tadi sejak tadi memayungi mereka hanya bisa menangis saat melihat Luhan telah menutup mata.

Suara sirine ambulan terdengar nyaring, seorang petugas medis memeriksa keadaan Luhan. Ajumma tadi sedang memeluk tubuh Sooyoung yang basah kuyup, ia menenangkan Sooyoung saat para medis sedang menangani Luhan.

“Tenanglah, aku yakin dia namja yang kuat.” Hiburnya dan membuat sedikit senyum di wajah Sooyoung, mata indah itu tak pernah lepas dari Luhan. Rasa sakit di kepalanya seakan sirna, karena yang dipikirannya hanya ada Luhan.

“Nadinya melemah…” seru seorang petugas pada Sooyoung. Mendengar perkataan itupun Sooyoung lansung jatuh pingsan.

Suara sirine ambulan berbunyi nyaring di antara derasnya hujan dan membelah jalanan kota seoul.

————————————–

Mata indah itu perlahan membuka dengan lemah, ia bisa menangkap bayangan seorang yeoja yang sedang memeriksanya.

“Kau sudah sadar?” suara itu membuat Sooyoung teringat dengan apa yang baru saja terjadi. Ia langsung menegakkan tubuhnya dan membuat suster itu sedikit terkejut.

“Dimana Luhan?” tanyanya pada suster yang mencoba memasang infus di tanganya.

“Pasien bernama Luhan masih menjalani operasi, anda tenang saja. Lebih baik anda istirahat..” jawab sang suster saat setelah memasang selang infus ditangan Sooyoung.

Namun ia tidak menghiraukan apa kata suster itu “Aku harus menemuinya!” ucapnya sambil melepas jarum infus yang ada ditangannya. Sang suster mencoba menghalanginya, tapi dengan kekuatan yang tersisa ditubuhnya ia berhasil membuat suster itu tersungkur ke lantai.

————————————–

Kakinya terasa lemas, kini Sooyoung berdiri didepan sebuah pintu. Warna merah dari lampu itu masih menyala, ia ingin sekali masuk kedalam. Ia terduduk didepan pintu, semua bayangan saat kecelakaan.

“Luhan, bangun! Luhan bukalah matamu!” teriak Sooyoung.

Perlahan mata indah yang sejak tadi terpejam itu membuka, meski terbuka sedikit tapi sepertinya Luhan mengenali siapa pemilik suara itu.

“Soo…” ucapnya lirih.

“Luhan! Bertahanlah, sebentar lagi ambulan datang, bertahanlah. Aku mohon…” ucapnya sambil kembali merengkuh tubuh tak berdaya itu.

“Sooyoung, aku mencintaimu..”

Sooyoung mengangguk cepat, airmatanya sudah tidak bisa ia tahan lagi “Aku tahu, aku juga mencintaimu… kumohon bertahanlah.” Pinta Soo namun mata indah yang tadinya terbuka lemah menatap Sooyoung kini kembali terpejam.

Sooyoung hampir gila dengan semua kejadian ini, ia masih terduduk di lorong rumah sakit. Ia menangis histeris saat mengingat peristiwa yang baru saja terjadi.

“Soo…” Sehun berlari menghampiri gadis yang tengah menangis itu dan langsung menariknya dalam pelukannya.

“SEHUN~~” Tangisnya pecah dalam dekapan namja itu.

“Tenanglah, dia akan baik-baik saja.” Hiburnya sambil mengeratkan pelukannya.

Seorang yang datang bersama Sehun, Eunji. Hanya diam terpaku saat melihat sosok Sooyoung, ia masih tak percaya bisa bertemu dengan orang yang memisahkannya dengan Sehun.

“Ternyata dia benar- benar menyukai Sehun, mereka masih bersama.” Gumamnya, sebuah senyum terlukis diwajah cantiknya. Perlahan ia berjalan menjauhi kedua insan yang masih berpelukan didepan ruang operasi, ingatan-ingatan tentang masa lalunya terngiang di pikiran Eunji.

————————————–

“Soo makanlah, sudah hampir 3 hari kau tidak makan. Kau bisa sakit?” rayu Sehun sambil menyodorkan sesendok bubur pada Sooyoung. Namun sia-sia, yeoja itu hanya diam dan menatap mata yang selama 3 hari ini belum terbuka. Luhan, setelah operasi dia mengalami koma. Dan selama itu pula Sehun tidak bisa berbicara dengan Sooyoung, ia hanya bisa memeluknya dan menenangkannya saat ia menangis karena mengingat kecelakaan itu.

“Soo, kau harus makan. Luhan tidak akan pernah membiarkanmu sakit-” kalimat Sehun terhenti saat mata itu menatapnya, ia tidak tahan dengan sikap Sooyoung. Ia langsung meletakkan mangkuk itu dan langsung menarik tubuh lemah itu kedalam dekapannya.

“Hentikan!” suara lemahnya membuat Sehun memberi jarak diantara mereka. “ Bukankah kau sendiri yang bilang jika kita tidak akan bersama? Maka dari itu, aku akan memilih Luhan dan menjauh darimu. Kau mengacuhkanku selama satu bulan tanpa aku tahu alasan yang jelas dan sekarang kau menunjukan perhatian dan itu membuatku berharap lebih. Jadi kumohon jauhi aku..” ucapnya dengan sisa tenaga yang ada ditubuhnya.

“Soo…” lirih Sehun, namun tiba-tiba tubuh itu melemah dan jatuh di lengan Sehun.

————————————–

Sudah hampir satu hari Sooyoung tak sadarkan diri, karena ia terlalu kelelahan. Kini ia sedang menatap langit-langit dikamarnya, perlahan tangannya terangkat dan seakan meraih lampu yang menjadi pusat pencahayaan utama di ruangan itu.

“Kenapa begitu terang..” gumamnya sambil menutup matanya dengan telapak tangannya.

Clik

Tiba-tiba lampu itu langsung mati, dan membuat ruangan itu gelap. Namun masih terlihat cahaya dari jendela kamar yang kordennya telah terbuka.“Kau sudah sadar?” Sooyoung mengalihkan pandangannya pada siluet namja yang berdiri didekat jendela.

“Se… Sehun…” lirihnya saat mengetahui siapa pemilik suara itu.

Perlahan Sehun berjalan menghampiri Sooyoung “Luhan sudah sadar, temui lah dia.” Ucap Sehun dan membuat Sooyoung tersenyum, mendengar itu Sooyoung langsung bergegas untuk menemui Luhan. Namun saat ia akan melepas infus yang ada ditangannya, Sehun menghentikannya.

“Mianhae…” ucapnya pelan.

Sooyoung terdiam menatap Sehun “Mianhae, karena menyuruhmu melakukan semua itu.” Sooyoung tersenyum miris “Gwaenchana..” balasnya sambil melepas tangan Sehun yang menahannya.

“Tidak!” tahan Sehun, Sooyoung memandangnya bingung “Aku tidak akan membiarkanmu memilih Luhan, aku tahu aku egois, tapi maaf aku tidak akan bisa mengalah.” Perkataan Sehun membuat hati Sooyoung senang, tapi juga ada rasa sedih saat ia mengatakannya.

“Tapi… aku tidak bisa memilih, kalian adalah orang yang aku cintai. Aku tahu ini tidak benar, dan ini salah. Aku mencintai uda orang sekaligus, aku tidak bisa memilih diantara kalian.” Ucapnya, ia tertunduk. Ia sangat merasa bersalah pada Sehun, secara tidak langsung Sooyoung telah mempermainkan perasaan kedua nmaja yang ia sayangi.

Sehun terkejut saat mengetahui bahwa Sooyoung mencintainya dan Luhan, perlahan kedua tangan Sehun meraih wajah pucat itu dan menyuruhnya untuk menatap mata Sehun. “Kau tidak salah, cintalah yang salah. Cinta selalu datang dengan mudah dan akan sangat sulit untuknya pergi. Saat ini kau hanya terjebak dalam keadaan, aku tidak akan memaksamu untuk memilihku, tapi aku juga tidak akan bisa mengalah demi Luhan. Kau mengerti?” Sooyoung mengangguk pelan.

Sooyoung bersiap turun dari ranjangnya, dan Sehun mempersiapkan kursi roda untuknya “Gomawo..” ucap Sooyoung saat Sehun membantunya duduk di kursi rodanya. Sehun tersenyum, saat memasang botol infusnya di tiang yang terpasang di kursi roda.

————————————–

“Luhan…” suara itu membuat sang pemilik nama membuka matanya. Luhan tersenyum saat melihat Sooyoung. Sehun mendorong kursi roda Sooyoung untuk lebih mendekat pada Luhan.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Sooyoung dengan airmata yang tertahan.

Luhan mengangguk lemah “Hmmm…. bagaimana denganmu?” tanya Luhan dengan suara lemah.

Perlahan Sooyoung berdiri dan duduk di tepi ranjang Luhan “Aku sangat menghawatirkanmu tahu” jawabnya manja, dan beginilah saat Sooyoung bertatap muka dengan Luhan dia akan kembali manja.

Luhan tertawa lemah “Kemarilah, biar aku bisa memelukmu.” Pinta Luhan sambil merebahkan tangannya, Sooyoungpun mengikuti permintaan Luhan. Dan mendekap tubuh namja yang masih lemah itu dengan erat. Sehun yang melihat itu merasa sangat bersalah, perlahan ia berjalan meninggalkan Sooyoung dan Luhan.

————————————–

“Kau membuatku kawatir…” rengeknya manja dalam pelukan Luhan. Kini mereka sedang duduk ditaman rumah sakit, tentunya mereka tidak bedua saja. Sehun ada diantara mereka.

“Mianhae, waktu itu aku membentakmu” ucap Luhan saat ia teringat kejadian 2 minggu yang lalu. Sooyoung mengangguk dalam pelukan Luhan “Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu.” Ucapnya sambil meresapi aroma tubuh Luhan yang menyeruak kedalam hidungnya dan membuat sebuah sensasi tersendiri bagi Sooyoung. Sehun tersenyum saat melihat adegan itu, perlahan ia berjalan meninggalkan mereka berdua tanpa menimbulkan suara.

Dari kejauhan Sehun hanya tersenyum, “Apa aku harus benar-benar mengalah?” gumamnya pada dirinya sendiri saat melihat betapa manjanya Sooyoung saat didekat Luhan, seperti saat ini.

“Kau tahu, melihat orang yang kita cintai bersama orang lain memang menyakitkan? ”suara itu menghentikan langkah kaki Sehun.

“Eunji-ah?”

“Annyeong~~~” Eunji tersenyum sambil melambaikan tanganya pada Sehun.

————————————–

Kini Sehun dan Eunji sedang duduk bersama di sebuah taman, mereka melanjutkan perbincangan mereka yang sempat terpotong karena kecelakaan Luhan. Sambil menikmati segelas kopi panas dan soda di sore hari.

“Melihat orang yang kita cintai bahagia, adalah kebahagiaan yang sebenarnya.” Perkataan Eunji membuat sebuah senyum di wajah Sehun.

“Maksudmu?”

“Banyak orang yang mengatakan bahwa cinta tidak harus memiliki, tapi itu hanyalah omongan mereka saja. Di balik itu semua, mereka berusaha untuk mendapatkan cintanya lagi.” Jawabnya sambil menatap wajah namja yang sedang memandang kerumuman orang-orang yang juga menikmati suasana ditaman ini.

“Aku tidak mengerti…” ucap Sehun tanpa melihat lawan bicaranya.

“Aku.. akulah orang itu..” Perlahan Sehun memandang lawan bicaranya itu.

Eunji tersenyum “Yah, akulah orang itu. Dulu aku pernah bilang padamu, bahwa cinta tidak harus memilikikan. Aku mencoba untuk merelakanmu dan iklas akan itu semua, tapi aku rasa aku tidak bisa. Aku kembali dan mencoba mencarimu, berharap perasaan dulu masih sama. Tapi… tapi ternyata, kau masih bersama dengan Sooyoung dan Luhan. Pupuslah harapanku..” jelasnya dengan tawa miris yang ringan.

“Eunji…”

“Ah.. gwaenchana…” Eunji tersenyum ceria.

“Mianhae… kau benar, tapi itu akan sangat menyakitkan. Kau tidak akan bisa bersamanya dan melakukan hal yang menyenangkan lagi bersama, aku pernah mencoba membiarkannya pergi tapi nyatanya aku malah mencoba mendapatkannya lagi.” Balas Sehun sambil meneguk soda yang berada di tangannya.

Eunji tertawa pelan “Tidak, buktinya aku masih bisa duduk dan berbincang dengannya..” Sehun terdiam dan menatap Eunji yang sedang tersenyum manatapnya.

————————————–

5 years later

Disebuah ruangan bernuansa putih itu terlihat seorang yeoja masih berkutat dengan dunia mimpinya. Ia tidak sadar jika sedari tadi sudah ada seseorang yang mengamati setiap inci wajahnya.

Cup

Sebuah kecupan mendarat tepat di bibir tipisnya “Kau tidak mau bangun eoh?” tanya sang namja sambil terus mencium setiap inci wajah dari yeoja yang telah menyandang sebagai istrinya itu.

“Eung~~” lenguhnya sambil menggeliat kecil dibawah tubuh suaminya itu, perlahan tangan kurus itu mengalung di leher yang suami.

Sebuah senyum terlukis diwajah sang istri, namun matanya masih tertutup. Rasa kantuk membuatnya enggan membuka matanya, lagi pula ini hari minggu dan dia tidak ada kegiatan di kantor.

“Bangunlah, kau lupa ini hari apa? Kau tidak ingin mengecewakan Han Youngkan?” Sang namja itu langsung menarik tubuh istrinya hingga ia duduk dan bersandar di dadanya. Perlahan mata yang sejak tadi terpejam kini perlahan membuka, ia langsung memeluk tubuh tegak yang menjadi sandarannya itu. Menghirup aroma maskulin yang setiap hari ia rasakan, meresapi kehangatan dari tubuhnya.

“Soo-ah, kenapa kau jadi manja seperti ini?” tanyanya sambil membalas pelukan istrinya itu.

“Biarkan saja, memangnya aku tidak boleh bermanja-manja dengan suamiku sendiri?” tanya Soo manja sambil menatap wajah suaminya itu.

“Arraseo… arraseo..” jawabnya sambil memberikan morning kiss pada tuan putrinya itu.

————————————–

Sooyoung sedang memandang pantulan dirinya di cermin, ia menatap mini dress yang ia kenakan. Ia mengelus bagian dada dan lengan gaun itu, ia tersenyum saat mengingat siapa yang memberi gaun tersebut.

“Kau sudah siap?” suara itu membuat Sooyoung sadar dari flashbacknya.

Sooyoung tersenyum saat melihat suaminya sedang mengenakan jasnya, ia berjalan menghampiri suaminya dan membantu suaminya mengenakan jasnya. “Kau tahu, aku tidak pernah berfikir akan seperti ini denganmu.” Sooyoung memasangkan dasi yang belum terikat itu “Mianhae… aku masih belum bisa memilih..” sang suami hanya tersenyum.

“Gwaenchana, walaupun kau tidak bisa memilih diantara kami. Tapi sekarang kau jadi miliku, dan aku akan menepati janjiku padanya. Aku tidak melarangmu melupakannya, dia juga orang yang paling berarti di hidupku. Yang penting sekarang kau adalah milikku.” Jawabnya sambil mengecup lembut kening istrinya.

“Sehun..” lirihnya dan langsung memeluk tubuh namja yang tak lain adalah Sehun, ya. Kini sudah hampir 5 tahun Sehun dan Sooyoung menikah, dan apa yang terjadi pada Luhan? Iya, Luhan meninggal saat hari dimana Sehun bertemu dengan Eunji. Ia mengalami pendarahan diotaknya. Tak ada yang bisa melupakan hari itu, terutama Sooyoung ia adalah orang terakhir yang berbicara dengan Luhan. Namun itu semua adalah masa lalu, kini Sooyoung sudah hidup bersama Sehun walaupun Sehun tahu jika Sooyoung masih mencintai Luhan. Tapi yang terpenting sekarang Sooyoung sudah menjadi miliknya seutuhnya, dan mereka sudah memiliki seorang putri. Oh – Han – Young.

“Han young-ah…” suara Sooyoung menggema di seluruh ruangan. Terlihat seorang anak kecil sedang terburu-buru keluar dari sebuah pintu kamar, sambil memasang pita di gaun indahnya “Ne, eomma..” jawabnya saat berada didepan eommanya.

“Kau sudah siap?” tanya Soo sambil berjongkok dan merapikan gaun putrinya.

“Ne!!” jawabnya semangat.

Ini adalah hari saat kepergian Luhan, tak pernah sekalipun keluarga kecil itu melupakan hari ini. Setiap tahun Sooyoung, Sehun dan Hanyoung selalu pergi menjenguk Luhan. Namun hari ini tiba-tiba Sehun harus pergi sebentar, dan menyuruh Sooyoung dan Hanyoung untuk pergi terlebih dahulu.

————————————–

Sooyoung turun dari mobilnya ia melihat kesekeliling, tak ada seorangpun disana. Sebuah tempat yang sepi dan tempat terakhir untuk semua manusia membaringkan tubuh mereka, pemakaman Luhan. Ia melihat Hanyoung yang begitu bersemangat, ia sudah menceritakan siapa Luhan dan itu membuat Hanyoung sangat menyayangi Luhan. Hanyoung juga memasang semua foto Luhan dikamarnya

“Wah, paman kau tampan sekali.” Ucapnya sambil mengelus foto yang bertengger di sebuah nisan itu.

“Apa kabarmu? Apa kau baik-baik saja?” Tanya Soo sambil meletakkan buket mawar putih di samping foto itu.

Sooyoung ikut berjongkok dan ikut membersihkan makam Luhan seperti apa yang dilakukan oleh Hanyoung “Wah paman, rumah mu kotor sekali.” Ucap gadis kecil itu sambil menyingkirkan dedaunan kering yang berada didekat foto Luhan.

Sooyoung mengelus lembut puncak kepala Hanyoung “Nah sekarang sudah bersih, mari kita berdoa.” Ajak Soo pada Hanyoung sang masih sibuk dengan dedaunan itu.

“Hmm…” ia mengangguk semangat.

Merekapun berdoa untuk Luhan, sebuah senyum terlukis di wajah Sooyoung dan Hanyoung. Saat mereka berdoa seakan Luhan berada disampingnya, tak ia sadari sebuah kristal telah menetes dipipinya.

————————————–

“Han Young-ah, mari kita pulang.” Ajak Sooyoung sambil mengulurkan tangan pada putri kecilnya.

“Sebentar eomma…” Hanyoung langung merunduk dan mencium foto itu “ Paman akan selalu menjadi, paman yang terbaik.”bisiknya pada foto itu, seolah-olah foto itu akan menjawabnya. Sooyoung tersenyum melihat tingkah lucu putrinya.

“Ayo kita pulang?” Suara berat yang tak asing bagi Soo dan Hanyoung itu membuat mereka melihat keasal suara.

“Appa!!!” teriak Hanyoung, berlari menghampiri Appanya.

Sehun langsung memeluk putri kecilnya dan menggendong tubuh mungilnya “Kau sudah bertemu dengan paman?” Hanyoung mengangguk semangat “Ne! Aku sudah bertemu dengannya.” | “Kau tidak mau bertemu dengannya?” suara Sooyoung membuat Sehun melihat yeoja yang sudah disampingnya.

“Nah, tuan putri. Ikut eomma dulu ne, appa harus bertemu dengan paman tampanmu.” Ucapnya pada putri kecilnya sambil memberikan tubuh itu pada Sooyoung.

“Hyung… bagiamana keadaanmu? Aku sangat merindukanmu, tak terasa sudah 5 tahun. Dan sekarang Hanyoung sudah besar, kau tau dia sangat menyukaimu bahkan tak ada satupun fotoku yang di pajang di kamarnya..” Sehun tertawa sambil memandang nisan itu “Ku harap dia tidak akan menjadi seperti Soo … kau tahu sendirikan bagaimana sikapnya terhadap kita berdua…” ucapnya diiringi tawa pelan, lalu ia mulai memanjatkan doa.

Angin berhembus dengan kencang, membuat dedaunan yang di kumpulkan Hanyoung berterbangan. Perlahan Sooyoung, Sehun dan Hanyoung menjauhi makam Luhan. Dan inilah akhir cinta dari mereka, semuanya pasti ada pilihan walaupun harus ada yang berkorban dan tersakiti.

End

 

Ah~~~ akhirnya selesai juga ^_^ gimana2?  jelek ya? hehe maaf.
tapi semoga kalian suka,😀 aku tunggu respon kalian khekhekhe~~~

KEEP RCL! SIDERS? Gak temen dong -_-  wkwkw😀

40 thoughts on “No Choice

  1. DeliaaOKT July 10, 2014 / 5:31 AM

    Aduh..nangis bacanya
    Luhan kenapa meninggal??Berharap endingnya SooHan,tapi SooHun juga gpp
    Bagus ffnya

    • sifixo July 10, 2014 / 5:37 AM

      uljima~~ ^_^
      Gomawo😀

  2. winterchan July 10, 2014 / 5:39 AM

    Luhan huaaaaa
    Aduh ga tega sama luhaan ;A;
    tapi sehun sooyoung bersatu😀
    Ini Feelnya kerasa, daebak!
    ditunggu ff lainnya🙂

  3. husnulk July 10, 2014 / 5:42 AM

    wah akhirnya syoo sama sehun juga dan hidup bahagiaa…
    trnyata luhan hrs mninggal ya… yasudahlah gpp nice ff chingu😉

  4. Astrini July 10, 2014 / 5:53 AM

    Wahhh bagus banget ffnya ^^
    Sampe nangis nih bacanya T.T
    Ditunggu ff bagus lainnya ya thor ^^

    • sifixo July 10, 2014 / 1:50 PM

      uljima~~🙂
      gomawo ^^

  5. Mrn July 10, 2014 / 9:04 AM

    Ternyata prediksi ku benar wwkw, sedih bgt ceritanya

    • sifixo July 10, 2014 / 1:51 PM

      hehehe 100 deh buat kamu ^^

  6. leebuyong July 10, 2014 / 9:37 AM

    Aku suka! Feelnya dapet dan walaupun ada typo tapi itu gak mengganggu. Cuma sayang ajaa karna terlalu larut eh tbtb ceritanya udh habis hahaha. Jempol lah!

    • sifixo July 10, 2014 / 1:50 PM

      hehe kan udah minta maaf sebelumnya wkwkw :v
      gomawo😀

  7. Rifqoh Wafiyyah July 10, 2014 / 11:32 AM

    huaaa…:(,hanppa hiks.. knpa trjadi pdamu…:(
    knpa soo unnie gk nikah sma dua2nya aja hehehe…
    darbak… feelnya krsa bngett…

    • sifixo July 10, 2014 / 1:52 PM

      Bukannya romantis ntar malah pada rebutan lagi kalo nikah ama mereka berdua kkkk~~~
      gomawo😀

  8. ayuk July 10, 2014 / 11:52 AM

    Huaaaa baca.ny sampe nangis waktu luhan kecelakaan..
    Ini ff.ny aku suka bnget
    Feel.ny dapet banget deh chingu
    Ditunggu ff laen.ny chingu…pokok.ny daebakkkkkkk jempol dehhhh

    • sifixo July 10, 2014 / 1:52 PM

      uljima😀
      gomawo🙂

  9. Nobela July 10, 2014 / 12:06 PM

    Keren banget nih ff nya daebakkk🙂 feel nya juga dapet banget kok

  10. FAnoy July 10, 2014 / 12:16 PM

    Sooyoung kok keren(?) bisa jatuh cinta sama 2 orang sekaligus? Tapi ya wajar sih..mereka ganteng😍
    SooHun nikah yeeey^^..nama anaknya Oh Hanyoung..tapi aku malah inget Oh Hayoung APink-_-
    Luhan sakit apa? Kayaknya parah banget.. yah Luhan kok meninggal? Sedih banget huaaa😟😭
    Keren ffnya👍..ff laen ditunggu yes? ‘-‘)9

  11. wufanneey July 10, 2014 / 12:33 PM

    halo Sifi_xo-ssi, terimakasih atas fanfic Soohunhan nya yang menghibur sekaligus menyayat hati :”””)
    saya juga sempat galau waktu scene sooyoung-sehun-luhan di resto, itu kerasa banget ya, gimana seorang cewek duduk manis di antara dua cowok ganteng. GAH! INI MUSTI SOOHUN ATO SOOHAN?!!!
    yeah walaupun endingnya soohun tetapi saya gak suka cara penyelesaian dengan luhan, itu kejam , suer, kasian luhan ;(
    terus sehunnnya juga agak keji sama Eunji, dia cewek loh, tapi kok sehun kesannya kurang menghargai perasaan eunji ke dia, how poor again…
    udah ah gitu aja,
    salam,
    Fanneey

    • sifixo July 10, 2014 / 2:02 PM

      hehe gomawo ^_^
      tapi emang di dunia nyatanya seperti itu, dan kematian Luhan emang q buat sama persis dengan kejadian didunia nyatanya😀

  12. Amel Ryriis July 10, 2014 / 12:43 PM

    Nice ff,bnar2 keren complicated deh,
    ;( ksian luhan,
    mngkn udh takdirnya soo sma sehun,hidup memang harus memilih🙂

    tpi endingnya aku suka,daebak😉
    ditnggu krya2 slnjutnya🙂

  13. fitriyulinda85 July 10, 2014 / 11:03 PM

    Astaga ini cerita apa sih sebenernya bene” bikin aku kesel gara” cerita ini aku jdi nangis dan ini gak boong pas mereka berantem tiba” air mataku jtuh sendiri dan ku bnr” ngersain apa yang sooyoung rasa harus milih di antara orng yang kita sayang apalagi kedua sahabt kita itu rmng berat bngt ….. Author aku gak ska yang sama cerita ini *bercanda hehehe , dan buat ceritanya KEREN!!!!!!! Aku akan jdiin favorite kwkwkwkwk di tunggu cerita yang lainnya ya thor ^^

    • sifixo July 13, 2014 / 4:11 PM

      hahaha😀 jangan gitu dong ^_^
      so pasti😀
      gomawo🙂

  14. AldiraParamitha July 11, 2014 / 8:15 PM

    thor gue benci ama elu thor … rumah gue banjir gara2 elu … apalagi pas bagian nya luhan meninggal … basah kasur gue … kalau bisa sih di lanjut *KelihatanSeru #HappyFamily

    • sifixo July 13, 2014 / 4:20 PM

      Yah jangan benci dong kkk~~
      ngungsi dulu deh hihihi😀 jemur dong kasurnya🙂
      di usahain kalo ada ide, thanks udah baca😀

  15. fazrinee July 12, 2014 / 5:56 AM

    aku kira bakalan sama luhan. eh akhirnya sama sehun yeyeye !! ^^ bagus banget chingu. aku ganyangka endignya kaya gitu😀

    • sifixo July 13, 2014 / 4:20 PM

      thank you😀 hehe harusn nyangka dong ^_^v

  16. kartika July 13, 2014 / 3:54 PM

    Feelnya kerasa banget. aku sampe nangis bacanya. thor tanggung jawab thor, sampe sekarang aku belom berhenti nangis nih, bantalku juga basah. thor, kamu bikin ff ini pake ramuan apa sih sampe aku sendiri bisa ngerasain gimana perasaan Sooyoung. GOOD STORY ^^ 10 jempol buat author😀

    • sifixo July 13, 2014 / 4:22 PM

      Uljima~~ ^_^
      pake ramuan cinta dong kkk~~~
      kamu juga gak tahu, aku buatnya sambil nangis juga tahu :’)
      wah 10 jempol, gomawo😀

  17. Di July 18, 2014 / 10:15 PM

    Sukaaaa!!! Dan nggak kecewa sama ending nya karena jujur aja aku lebih suka sehun sama sooyoung hihihi

  18. eleonorakarisa July 21, 2014 / 7:07 PM

    aaaaah~ suka banget thor T^T aku merinding sambil nangis ini baca endingnya.. hwaaaa😥 feeling nya duapet, daebak lah authornya! aku kira luhan bisa sehat terus akhirnya yg nikah sm syoo itu luhan, tapi ternyata si yehet ohorat hihi tapi aku suka kok endingnya soohun couple, happy ending pula, meskipun lulu oppa meninggal😦 ditunggu karya lainnya ya thor hehe

  19. Delvia Marcelinna July 26, 2014 / 5:37 AM

    ffnya keren banget chingguuu~ ffnya jjang!! daebak!! dan aku suka banget bagian sehun sama soo yang so sweet habis bangun tidur, itu aku envy banget bacanya –” so sweet banget mereka berdua!! oke lanjutkan karyamu yang lain ya chingu, gomawoyo ffnya ^^ ohiya kalo bisa buat squel dong chinguu~ tapi jangan ada konflik, buat yang romantis romantis aja buat soohun ya? ya? soalnya aku demen banget baca yang romantis kaya gini walaupun envy, pliss buat squel dongg hehe –“v

  20. nafisyoung August 13, 2014 / 6:14 AM

    selalu berat kalo suruh milih soohan ato Soohun. selalu dapet feelnya kalo mereka castnya. suka🙂

  21. ismi khaerin September 7, 2014 / 10:28 PM

    tauah, mewek q mbcanya . Hiks knpa si luhan kudu mati sh ??. #lebay

  22. leka November 17, 2014 / 2:32 AM

    ff ini berhasil membuat aku menangis
    walaupun luhan meninggal tapi gpp lah yg penting sooyoung eonni bahagia bersama sehun dan han young

  23. Erika Dewi April 28, 2015 / 8:28 AM

    sedihhh bgtt tp bagus kok

  24. chocoyun July 23, 2015 / 7:40 AM

    ff nya bagus. knpa soo tetap gak bisa memilih salah satunya. akhirnya soohun bersatu, tapi kasian juga ama luhan–

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s