[Oneshot] – Past

image

Title : Past

Cats : Choi Sooyoung And Oh Sehun

Genre : Romance, Sad, Angst

Author : Choi Min Ra

A/N : Hai! Saya Author baru disini, salam kenal semuanya🙂 . Sebelum itu saya ucapkan terima kasi sama Admin Borayoung yang udah bolehin saya bergabung  disini, Jeoungmal Gamshamnida #Bow . Dan Perkenalkan nama asli saya Nadya sedangkan nama pena saya Choi Min Ra, 99Line^^. Sekali lagi salam kenal semuanya dan mohon bimbingannya.

Maaf jika terdapat beberapa kesalahan dalam penulisan (typo) dan juga alur cerita yang buruk atau malah gaje. Sorry, masih amatir dalam dunia per-ff’an. Oke langsung saja

Happy Reading

Sooyoung side

Past

Sungai Han at seoul, korsel
10 januari 2010

Menghela nafas untuk kesekian kalinya membiarkan oksigen masuk menyeruak kedalam paru-paru ku. Aku duduk diatas kursi berukuran panjang terbuat dari kayu. Mata ku dimanjakan oleh suguhan Sungai Han yang mengalir pelan dalam damai.

Kembali beralih menatap arloji yang bertengger manis ditangan ku, menatap angka berapa yang sudah bertengger disana. Ini sudah menunjukkan waktu petang. Namun, orang yang kutunggu belum juga datang

Ya aku menunggu seseorang. Seorang lelaki bernama lengkap Oh Sehun, berperawakan tinggi dan memiliki wajah tampan diatas rata-rata. Aku kembali termenung menunggu kedatangan Sehun disini

Noona!”

Aku menoleh, membiarkan kepala ku berputar kearah belakang. Mendapati suara lelaki yang teramat ku kenal. Ia berlali menghampiri ku dengan tergesa

Noona menunggu lama?”

Ia bertanya menyisakan sebuah tanda tanya besar dikepalanya, mungkin. Deruan nafas kelelahan juga jelas terdengar oleh telinga ku. Ia mengambil duduk tepat disamping ku

“Tidak juga”

“Sungguh?”

“Ya”

Jelas bohong. Aku memang bohong padanya, tentang perihal menunggunya maksudku. Kau tau sudah berapa lama aku menunggunya? Jawabannya adalah satu jam. Tidak! Tidak!, bukan ia yang terlambat melainkan aku yang lebih dulu datang dari waktu perjanjian yang kami tentukan

“Lalu kita ingin berkencan kemana?”

Aku mengedikkan bahu pelan tanda tak tau sebagai jawaban dari pertanyaannya. Ia terlihat berpikir, membiarkan jemari tangannya bergesekan dengan dagu lancip miliknya

“Bagaimana jika kita makan malam?’

“Yang benar saja, ini bahkan masih jam 6 sore, Sehun”

“Nonton film di bioskop?”

“Aku sudah sering kesitu”

“Ke tempat bermain?”

“Terlalu kekanakan, Sehun!”

Ia terlihat menyerah dengan segala penolakanku akan tawarannya. Membuang nafas jengkel dan menyadarkan tubuh belakangnya pada sandaran kursi

“Lalu?”

Tanya Sehun

“Entahlah”

~

Kau tau Dimana tempat akhirnya kami berkencan?, jawabannya adalah sauna. Terdengar sangat aneh memang, tapi inilah akhirnya. Kalau saja si brengsek Sehun itu tidak memaksaka ku, sudah dapat dipastikan aku pasti lebih memilih kabur dari sauna ini dan berdiam dirumah

Hey! Kalian pikirkan saja, mana ada orang yang mau memilih berkencan di sauna, yang benar saja. Pantaskah dibilang berkencan?

Noona

Panggil Sehun, aku menunduk menatap Sehun yang sedang merebahkan kepalanya pada paha ku

“Cium aku”

Sehun berucap, memajukan sedikit bibirnya dari bawah sini kearah ku. Jujur ini menjijikan

“Bermimpilah tuan Oh!”

Aku menoyor kepalanya, ia terlihat menyengir nampak idiot.

Lelaki seperti Sehun memang tampan namun disisi lain ia terlihat idot, ceroboh, menyebalkan, usil dan masih banyak lagi hal yang tidak terlalu menyenangkan terdapat dalam dirinya. Dan semuanya membuat ku kesal setengah mati akan itu

Mungkin karna umurnya yang terbilang masih muda -meskipun tidak terlaku muda sama sekali- sehingga ia seperti ini. Mungkin itu faktor utamanya, atau malah bukan itu. Entahlah aku tak tau

5 bulan lebih mengenalnya, kini kami sudah terbilang sangat akrab. Itu semua bermula pada saat jam kuliah ku berakhir tiba-tiba hujan melanda saat itu dan ya aku tak dapat pulang. Pada saat itu ia memberi ku tawaran berupa tumpangan dengan mobilnya. Kebetulan kami satu universitas bersama. Lambat laun kami menjadi akrab, akrab dan akrab. Seperti saat ini, yang ku maksud

Lalu apakah kami sekarang memiliki hubungan terikat? Atau macam hal lainnya?. Haha tidak!, itu semua tak benar kami hanya sebatas teman. Meskipun ia pernah bilang bahwa ia menyukai ku. Namun aku hanya menjawabnya dengan perkataan ‘Jalani saja’. Bukan berarti menerimanya bukan?

Kalau boleh jujur. Aku memang memiliki rasa yang sama dengannya, namun aku masih ragu. Terlebih kita belum lama sekali mengenal dan ia juga masih dapat dikatakan remaja. Mungkin sepertinya jalan pikirannya masih terbilang pendek -Belum dewasa-

Noona

Suara yang sama, Sehun kembali memanggil ku

“Apa lagi?”

“Apa kau menyukai ku?, dapatkah kau memiliki rasa yang sama seperti ku?”

****

Past

Ando cafe at Seongbuk-dong, Seoul
10 Februari 2010

Diatas meja ditemani dengan dua buah lilin yang menyala. Aku beserta Sehun menyatap makanan kami masing-masing dengan tenang. Makan malam yang begitu romantis, ditemani dengan alunan musik klasik. Tak henti-hentinya membuat ku menarik senyum tipis

“Kau yang mempersiapkan ini semua?”

Aku bertanya pada seseorang duduk berhadapan dengan ku, ia adalah Sehun yang tengah melahap steak daging ke mulutnya dengan lahap

“Bagaimana?, kau suka?”

Sehun balik bertanya, memberhenti sejenak acara makannya, menatap ku dengan pandangan ragu

“Sangat”

Aku tersenyum

Sehun terlihat menarik nafas lega. Ia kembali menyantap makanannya begitupun dengan ku

Dan aku bahkan heran tidak biasanya Sehun bersikap romantis seperti ini. Karna yang ku tahu Sehun bukanlah tipe lelaki yang seperti ini. Yang ku tahu ia selalu saja bertintangkah menyebalkan dan selalu begitu ceroboh

Tapi kali ini?

Lihatlah, Sehun jelas berbeda. Aku bahkan sangat takluk dalam karisma Sehun. Lelaki itu sangat tampan dengan memakai setelan Jas yang membuat dirinya begitu gagah.

Demi Tuhan, aku baru pertama kali melihat Sehun seperti ini

Kami berdua masih terlarut dalam suasana romantis yang Sehun ciptakan. Dan kulihat Sehun beberapa kali mencuri pandang kearah ku. Aku tak tau apa yang membuatnya bertingkah aneh seperti itu

Tapi, Tiba-tiba seorang pelayan lelaki menghampiri meja kami berdua. Aku keheranan sekaligus merasa bingung. Bukankah aku maupun Sehun tidak memangil pelayan berbaju putih dengan corak bewarna merah ini?

“Satu buah cupcake untuk nona yang manis”

Aku semakin menyerit keheranan ketika pelayan itu langsung saja beranjak pergi setelah menyerahkan satu buah cupcake pada ku

Cupcake itu dihiasi dengan hiasan yang cukup menggugah selera dengam ukuran lumayan besar. Dihiasi dengan permen kecil-kecil berbentuk hati dam bunga. Dengan permen beberapa huruf yang merangkai kata ‘I Love You’

“Kau yang memesannya?”

Sehun menggeleng cepat lalu tersenyum. “Kenapa tidak kau coba saja?”

Aku menurut, mengambil sendok berukuran kecil yang tergeletak tepat disamping ku. Lalu melahap kue itu perlahan. Aku menikmatinya dan menyuap kembali kue itu

Tepat pada sendokan ketiga, aku merasakan ada sesuatu benda yang mendesak pada tenggorakan ku. Sebuah benda yang terasa berlubang dan lumayan keras

Mata ku melotot lebar. Nafas tercekak. Sesuatu yang begitu keras menjanggal pada tenggorokan ku. Ini sakit, dan aku tak dapat bernapas

Sooyoung neo gwenchana?

Kulihat, Sehun segera berdiri menghampiri ku. Terlihat sangat panik, meskipun pandangan ku memburam

Aku berdiri berniat ketoilet untuk memuntahkan sesuatu yang mengganjal di tenggorokan ku. Namun apa daya baru saja aku ingin melangkah, aku tak kuat lagi dan akhirnya jatuh beserta piring kue yang sempat kumakan barusan

Sehun nampak mengerti apa yang membuat ku seperti ini. Ia langsung mendirikan tubuh ku dan menekan perut ku dengan kedua tangannya beberapa kali dari arah belakang untuk mengeluarkan benda itu

5 detik berikutnya aku dapat memuntahkannya, aku tak tau jelas apa benda itu. Yang jelas benda itu terlihat berkilau cerah akibat pantulan cahaya

Aku terkulai lemas. Sehun memapah ku untuk duduk, memberikan satu gelas air putih kehadapan ku. Aku menerima dan meminumnya dengan sekali teguk

“Apa itu barusan?”

Tanya ku pada Sehun dengan nafas tersengal. Ia terlihat gelisah, menggigit bibir bawahnya dengan ragu. Lalu berkata

“C-cincin”

Aku membelakak kaget. Cincin? Oh astaga. Kulihat Sehun meringis takut melihat ku

“Kau memasukkannya kedalam cupcake itu?”

Sehun mengangguk

“Kau berniat membunuh ku?”

Mianhae

“Kalau aku mati bagaimana?”

Sehun hanya menunduk takut.

Sudah ku bilang bukan? Sehun cuman lelaki ceroboh, terlalu gegabah. Seperti saat ini, lihat bukan? Ini terbukti. Aku bahkan jadi trauma makan bersama denganya lagi

Dengan kekesalan yang membeludak Aku segera bangkit mengambil tas yang tergeletak dikursi. Bergegas meninggalkan Sehun yang masih terdiam disana

“Sooyoung, jangan pergi”

Tak kuhiraukan teriakannya, yang terbilang melengking. Biarlah, jika mengingat kilasan kejadian barusan. Sungguh aku menjadi sangat kesal dengan Sehun

Sehun meraih tangan ku, menarik ku untuk menghadapnya. Aku menatapnya datar yang mungkin dapat membuat nyalinya mencuit begitu saja

“Maafkan aku, aku tak berniat seperti itu”

Sehun berucap memegang kedua bahu ku dengan erat

“Maafkan aku”

“Tapi setidaknya kau tak perlu melakukan itu semua. Kau bisa memberikan cincin itu secara baik-baik pada ku”

Aku membentaknya, menatap lelaki didepanku ini dengan kesal.

Seperti berada diambang kematian, aku tak suka jika Sehun bertindak seperti ini. Terlalu ceroboh mengambil keputusan tanpa memikirkan hal kedepannya dan berakhir dengan suatu masalah

Dan ya seperti inilah yang kumaksud

Bayangkan saja sebuah cincin tersendat ditenggorokan. Bagaiman rasanya?, Wow sekali bukan?

“Aku tau aku salah, jadi kumohon maafkan aku”

Dengan wajah memelas, Sehun membujuk ku untuk memaafkannya. Dan pada akhirnya akupun hanya dapat mengiyakan. Sehun tersenyum, merengkuh tubuh ku kedalam dekapannya

“ku mohon jangan ulangi ini lagi”

Dari bahu ku, kurasakan Sehun mengangguk cepat dan merengkuh tubuh ku lebih erat dalam pelukannya

“Aku janji”

Ia menjawabnya

“Sooyoung?”

Sehun kembali memanggil ku, melepas pelukannya dengan ku. Ia tersenyum menampilkan mata sabitnya yang melengkung

“Ada apa?”

“Selamat ulang tahun, Sooyoung-ah

Kalimat ucapan itu terlontar dari mulutnya. Sehun tersenyum menggenggam sebelah tangan ku dengan tangannya. Kemudian mengambil setangkai bunga mawar berwarna merah yang entah ia dapat dari mana aku tak tau

Ia Menyedorkan mawar itu pada ku. Matanya kembali beralih menatap mata ku, meyiratkan kata seperti ‘Ambillah’ dari ekspresi wajahnya. Aku menurut mengambil bunga mawar itu tepat diujung tangkai

Sehun melepas tangannya dari genggaman bunga. Sebuah cincin tiba-tiba jatuh bertepatan dengan lepasnya tangan sehun pada tangkai bunga. Aku menatapnya heran dengan kerutan didahi mulus ku

Saranghae

Ucap Sehun, dengan tersenyum mendang ku. Aku bingung dan tiba-tiba mata ku terasa berair, pada detik berikutnya dengan satu kedipan, air mata ku sukses keluar

“Aku tau jika aku ceroboh, gegabah, menyebalkan, selalu mengusik mu dan akupun tau bahwa aku juga kekanakan. Dan kau juga pasti tau bahwa aku menyukai mu, tapi kali ini berbeda. Rasa suka itu berubah menjadi cinta seiring waktu. Dan selalu bertambah setiap hari saat melihat”

“Sehun-”

“Aku tak tahu kenapa jantung ku selalu berdetak beberapa kali lipat dari biasanya saat berdekatan dengan mu. Aku juga tak tahu kenapa ada rasa tak suka jika kau berdekatan dengan pria lain selain diri ku, dan aku juga tak tahu kenapa ada rasa yang selalu ingin memiliki mu seutuhnya-”

Ia berhenti bicara kembali menatap ku dengan pandangan serius. Sehun menutup mata sebentar lalu menghelakan nafas dengan pelan seraya membuka mata

“Tapi setidaknya aku tahu satu hal. Itu semua mungkin ciri-ciri dari rasa cinta, jadi kupikir aku mencintai mu Choi Sooyoung. Jadilah kekasih ku”

Ia semua terlalu cepat terjadi dan begitu saja berlalu. 1 bulan yang lalu ia juga mengungkapkan hal yang sama  pada ku namun dengan cara berbeda dan terlalu memaksa. Aku tak tau apa yang harus kulakukan, tapi yang jelas air mata ku sedari tadi terus saja mengalir

Ya aku menangis, bukan berarti cengeng melaikan tangisan terharu atas tindakan Sehun. Berbeda dengan Sehun yang dulu-dulu. Kali ini ia terlihat sangat serius dan juga tegas meskipun pancaran senang masih dapat terlihat

Mata ku beralih menatap bunga yang kupegang. Sebuah cincin melingkari batang bunga. Aku tersenyum dan kembali beralih menatap Sehun, ia tersenyum cerah seakan meyakinkkan ku, bahwa ia merupakan pilihan yang terbaik. Aku diam karna masih ada Beberapa pertanyaan yang masih teriang dikepala ku

Haruskan Sehun?

Amankah hati ku, kutitipkan padanya?

“Jadilah kekasihku”

Kata yang sama kembali ia ucapkan. Menggenggam jemari ku lebih erat bertaut dengan jemarinya. Dan kuharap ini bukan pilihan yang salah

“Ya, aku menerima mu”

Aku menjawab, menghela nafas seraya tersenyum. Wajah Sehun terlihat gembira, ia segera memeluk ku dan detik berikutnya sebuah pekikan gembira terlontar dari mulutnya

“Tolong katakan, kalau ini bukan gurauan semata”

“Kau pikir aku bergurau?”

Aku menjawabnya dan segera melepaskan pelukanku padanya. Ia terlihat kebingungan menatapku. Namun, pada detik berikutnya matanya beralih menatap bunga yang ku pegang

“Sini kupakaikan”

Ia meraih bunga itu. Mengambil cincinnya lalu memasangkan pada jari tangan ku. Aku terdiam, membiarkan cincin itu melingkar manis pada jemari ku

“Terlihat sangat cocok”

Sehun berkomentar

“Ya”

Saranghae, Sooyoung-ah”

Meskipun kalimat itu kembali ia ucapkan. Tapi, Kali ini berbeda jangtung ku berdegup hebat. Sebuah kalimat simpel dan singkat namun sangat banyak maknanya

Kali ini Sehun menarik pinggul ku untuk lebih dekat padanya. Nafas kami beradu, matanya tembus menyeruak masuk kedalam retina mata ku. Ia tersenyum nampak miring, dan rasa curiga jelas tercium oleh ku

Saranghae, Sooyoung. Saranghae, saranghae

Darah ku berdesir hebat ketika untuk pertama kalinya Sehun menyentuh bibir ku. Rasanya bukan main dan ini gila. Saat Sehun melumat bibir ku antara gugup, malu dan darah berpompa begitu Cepat. Semuanya berbaur menjadi satu dan rasanya bukan main

‘Nado, Nado, Nado saranghae Oh Sehun’

****

Past

Jacheon Forest at Yeongcheon-si, Gyeongsangbuk-do. Seoul
12 april 2010

Aku berjalan beriringan bersama Sehun, menyusuri hutan Jacheon. Disini sangat sejuk, angin yang berhembus pelan terlebih bunyi burung yang berkicau sahut menyahut membuat hutan ini terasa damai

“Soo-ah, bagaimana jika kita menggelar karpetnya disana saja?”

Ucap Sehun sambil memunjuk tempat yang terdapat pohon rindang. Aku mengngangguk mengiyakan

Sehun mengelar karpet berwarna merah putih kotak-kotak khas karpet saat piknik. Aku menduduki karper itu dan segara mengeluarkan isi dari keranjang piknik yang ku bawa

Ya kami memang berpiknik, ketika Sehun dengan tiba-tiba bilang saat aku menelponnya ditengah malam mengucapkan selamat ulang tahun padanya, dan ia dengan tiba-tiba ingin mengajakku berpiknik. Bertepatan sekali dengan waktu libur, jadi ku pikir itu bukan ide yang buruk untuk dilakukan

Dan hari ini juga kami memperingati hari jadi aku bersama Sehun yang kedua bulan meskipun terbilang sudah lewat. Dan akupun sangat banyak membawa makanan

Tak lebih, aku hanya membawa beberapa sandwhich, puding, kue kering kesukaan Sehun, buah-buahan. Dan juga tak lupa membawa beberapa cemilan untuk acara santai kami

Oh ya jangan lupakan kue ulang tahun bagi Sehun. Aku jadi teringat bagaimana perjuangan ku untuk mengolah kue itu semalaman suntuk dan ya itu sangat menguras energi

“Apa saja yang kau bawa?”

Tanya Sehun, mendelik dengan teliti setiap pergerakan tangan ku yang mulai membuka beberapa tutup toples taperwere ini

“Kau dapat melihatnya bukan?”

“Cih galak sekali”

Ia terlihat mendengus menatap dengan sebal kearah ku

Memang apa peduli ku?

“Oh itu, bukankah itu kue kering?”

Sehun menunjuk sebuah toples yang berisi kue kering yang kubawa. Kemudian ia mengambilnya dan mengamati lebih jeli

“Ini kau yang membuat kue kering ini dan lukisan gambar pola  ini wajah ku?”

“Ya, itu pola wajah mu”

“Aku tak sejelek ini, Soo-ah”

Aish jinjja. Aku mendengeus untuk kesekian kalinya menatap Sehun tak suka lalu mengambil alih toples yang berisi kue kering dengan pola wajah jeleknya itu

“Ya sudah jangan dimanakan”

“Oh ayolah aku hanya bercanda”

Dengan sebuah cengiran, ia kembali mengambil alih toples itu dari tangan ku. Tangannya bergerak mengambil satu kue kering itu lalu memasukkan kedalam mulutnya

“Ini enak”

Komentarnya

“Mana mungkin masakan seorang Choi Sooyoung tidak enak”

Aku berucap membanggakan diri ku sendiri dengan kekehan kecil yang keluar melalaui mulut ku

“Percaya diri sekali, sudalah aku haus, kau membawa minum apa?”

“Jus lemon, aku membelinya dimini market sebelum kita berangkat”

Aku beralih bergerak menuju kerangjang mengambil botol jus lemon itu lalu memberikannya kehadapan Sehun

“Jus Lemon? Kau membelinya disaat musim semi?. Yang benar saja, ini bukan musim panas Sooyoung. Seharusnya kau membawa Jus Strowberry”

Brengsek, sialan, menyebalkan, cerewet. Aish jinjja, Oh Sehun!

Tidak bisakah ia tak berkomentar seperti ibu-ibu?. Cukup hanya diam layaknya laki-laki pada umumnya?. Tidak bisakah ia menghargai ku?, memang apa salahnya membawa jus lemon dimusim Semi?. Dan ya Aku sungguh menyesal menyetujui ajakannya untuk berpiknik

“Siapa suruh kau menyeruhku untuk membeli minuman?, seharusnya kau saja yang beli tuan Oh!”

Amukan ku hanya dibalas oleh cengiran khas miliknya dan aku benci itu. Ketika kedua matanya melengkung kebawah dan mulut dipenuhi dengan senyum yang menampilkan deretan gigi rapinya. Itu terlihat idiot, sangat

Dari pada sibuk mendumel, aku lebih memilih untuk tidak menghiraukannya dan lebih memilih mencari kegiatan yang berguna. Mata ku bergulir menatap kesetiap hiruk pikuk hutan ini

Dan ya kurasa ini lebih bermamfaat dari pada harus mengoceh tak jelas menyumpah serapahi Sehun dengan bruntal. Berharap lelaki menyebalkan itu segera lenyap dari hadapan ku

Namun tiba-tiba sebuah anggota badan merebahi paha ku yang terbalut jeans. Aku menunduk menatap sang pemilik kepala. Terlihat Sehun yang tengah menatap ku dari bawah sini

“Jangan marah”

Ucap Sehun, aku hanya menatapnya tidak bereaksi sedikitpun. Dengan perlahan Sehun menaikkan tangan kanannya guna menyentuh pipi kiri ku

“Mata mu berkantung. Pasti kau tidak tidur semalam”

Itu semua gara-gara kau Oh Sehun!

“Kau mengantuk?”

Aku menggeleng, membiarkan tangannya masih aktif berada pada pipi ku. Ia mendesah pelan, terdengar lelah dan semburat rasa bersedih tergambar diwajahnya

“Ada apa dengan mu?”

Dengan suara yang pelan, ku beranikan bicara pada Sehun. Ia terlihat menggeleng dan tersenyum getir

“Kau mencintai ku bukan?”

Sehun aneh!

“Tentu saja, jika tidak, aku pasti sudah meninggalkan mu”

“Aku serius Choi Sooyoung!”

“Kau pikir aku tidak serius?”

Untuk kedua kalinya Sehun kembali mendesah namun terdengar kesal. Tubuhnya kembali duduk dengan tegap disamping ku

“Kau bilang, kau membuat kue ulang tahun untuk ku. Dan sekarang aku menagihnya, dimana?”

“Disana”

Seraya menjawab, aku menunjuk box berukuran persegi itu, berwarna coklat dan pita yang menghiasi box itu sekaligus sebagai pengikat box agar lebih erat merekat

“Boleh ku buka?”

Tanya Sehun seraya mengambil box itu. Memandanginya dengan sebentar lalu menoleh kearah ku

“Buka saja”

Ia menurut, menarik secara perlahan pita berwarna putih itu dan membuka tutup box setelah terbuka. Sehun tersenyum memandangi kue itu

“Kau membikin kue ini?”

Sehun bertanya

“Ya, dengan bantuan ibu ku”

Sehun mengangguk mengerti. Mengambil pisau yang sebelumnya ku sodorkan padanya

“Eitsss tunggu dulu”

Aku mencegah Sehun, ketika tangan kanannya hendak memotong kue itu. Aku mengambil alih box yang berada padanya. Lalu, mengambil lilin beserta korek api yang telah ku siap kan. Dengan susah payah ku tancapkan lilin itu lalu menyalakannya

“Nah, sekarang buatlah harapan”

Ia menurut dan kedua tangannya saling bertaut terkepal didepan dada seraya menutup mata. Mulutnya terlibat bergerak melafalkan kaliamat-kalimat harapannya. Tak lama, ia membuka mata dan langsung meniup lilin

“Apa harapan mu?”

Aku menanyainya, Sehun menyeringai

“Rahasia”

Menyebalkan!

Sehun kembali mengambil box berisi kue itu, tanganya terangkat meraih pisau kue dalam genggaman ku. Memotong dengan perlahan lalu memakannya

“Ini enak, sungguh”

Aku tersenyum menerima reaksi Sehun. Namun, tiba-tiba. Sebuah ide jahil terbesit diotak ku

“Lebih enak jika begini”

Dengan colekan penuh pada kue Sehun, aku mencoret wajah Sehun dengan cream kue kemukanya beberapa kali. Sehun melotot, namun tiba-tiba sebuah seriangain muncul di bibirnya

Dengan jari telunjuk, Sehun mencolek penuh cream itu bersiap-siap mencoretnya diwajah ku. Refleks aku berdiri, menghindari aksi balas dendam Sehun

“Yakkk!, Oh Sehun!”

****

Past

Apartement Sooyoung, Nonhyeon La Folium at Nonhyeondong, Gangnam, Seoul.
22 agustus 2010

Aku berdiri di atas lantai tepat menghadap balkon. Mata ku disuguhi penuh dengan pemandangan hiruk pikuk kota Seoul seraya menunggu kedatangan seseorang. Dan kurasa kau tidak perlu bertanya-tanya mengenai orang itu siapa. Karna ku yakin kau tau pasti siapa orangnya

Yap, siapa lagi kalau bukan lelaki bertubuh menjulang dengan nama bermarga Oh. Sebut saja Sehun. Dan ini sudah menunjukkan pukul 11 siang. Sementara ia berjannji akan menemui ku jam 10 pagi. Dan sampai sekarang ia belum juga menampakkan seluit tubuhnya

Ngomong-ngomong tentang Sehun, memurut pengamatan ku ia terlihat berubah akhir-akhir ini maupun beberapa bulan lalu. Maksud ku Sehun berubah dari segi fisik bukan sifat. Dan ini aneh, jelas membuat ku khawatir padanya. Ia kerap kali terlihat cepat lelah dan tak jarang mimisan dengan darah keluar melimpah dari hidungnya

Aku pernah menyuruhnya untuk memeriksa itu ke rumah sakit untuk menanyakannya apakah itu penyakit yang lumayan serius apa tidak. Namun ia menolak dan hanya berkata

“Ini hanya mimisan biasa, bawaan dari lahir. Kau tenang saja”

Aku percaya padanya. Tapi jujur secercah rasa khawatir dan juga rasa curigu itu muncul dihati ku. Ini jelas tak masuk akal dalam logika, jika saja Sehun memiliki penyakit bawaan dari lahir itu sejak dulu, setidaknya 1 atau beberapa kali ia akan mengalami mimisannya dalam beberapa bulan lalu. Maksud ketika ia belum menjadi kekasih ku ia tak pernah seperti ini. Hanya 2 bulan yang lalu saja ia seperti ini

Dan tak hanya sampai disitu. Jangan lupankan ketika Sehun terlihat menghindar jika ku tanya menyangkut penyakitnya. Aku tak tau apa penyebab utama aksi menghindarnya, tapi yang jelas Sehun sekarang mulai menutup diri dari ku

Aku hanya berharap semoga ini hanya firasat ku saja. Ya semoga saja

Aku terlonjak kaget nyaris menjerit, ketika kurasakan sebuah tangan kekar melingkari perut langsing ku. Ku toleh kepala ku kesamping kanan, tepat pada saat itu juga seorang lelaki menghelakan nafasnya

“Yak Sehun, kukira siapa”

Aku memekik, membiarkan tangan ku terangkat terjun menepuk punggung tangan Sehun yang melingkar erat dipinggang ku dan pukulan itu lumayan keras. Sebuah gumaman mengaduh terlontar dari mulutnya

“Siapa suruh kau melamun, aku memanggil mu sedari tadi”

Bela Sehun

“Benarkah?”

Dengan gerakan gesit, aku membalik tubuh kearahnya. Dan pandang yang kulihat pertama kali pada dirinya adalah wajahnya yang terlihat pucat pasi

“Kau baik-baik saja?”

Ia hanya mengangguk dan tersenyum meyakinkan, tapi tak ayal membuat wajah pucat pasinya itu menghilang begitu saja. Dan rasa khawatir itu kembali menyergap ku

“Maaf aku terlambat karna ada urusan sebentar”

Aku hanya dapat menghela nafas merasa ada yang janggal dengan Sehun

“Kau benar baik-baik saja bukan?”

Pertanyaan itu kembali ku ulang dengan penuh penekannan. Dan lagi-lagi ia hanya mengagguk tanda tak apa. Dan ini sulit kupercaya. Ini bukalah jawaban memuaskan untuk ku

Tapi, dengan tiba-tiba Sehun terlihat memejamkan mata dengan satu tangan memegang jidatnya, menggigit bibir bawahnya menahan sakit

“Ya Sehun, kau kenapa?”

Cairan pekat bewarna merah itu mengalir melalui kedua lubang hidung dengan deras. Aku bergerak gelisan ketika tubuh Sehun hampir limbung kebawah lantai

‘Brukk!’

“Ya!, Sehun-ah!”

~

Sekarang aku tau semuanya

Rasa takut, khawatir, curiga dan penasaran atas Sehun kini terjawab sudah. Berkat aku membawa Sehun kerumah sakit atas ensiden pingsannya dan juga berkat seorang Dokter bermarga Park itu menjelaskan semuanya

Bagaikan berada diatas langit dan terhempas begitu saja. Ini sakit, sangat sakit ketika aku tahu apa penyakit Sehun sebenarnya. Ia berbohong pada ku, pentakitnya bukanlah bawaan dari lahir, melaikan penyakit mengerikan. Dokter Park menjelaskan Sehun menderita penyakit Leukemia stadium akhir atau Leukemia tingkat akut

Dan hal yang paling menyedihkan adalah hidup Sehun tak dapat bertahan lebih lama lagi. Dia difonis Dokter Park hanya dapat bertahan hidup kurang lebih dua minggu. Aku bertanya apakah ada hal yang dapat menyelamatkan jiwa Sehun. Namun dengan kata menyesal Dokter park menjelaskan

“Untuk saat ini penderita penyakit Leukemia tingkat akut tidak dapat disembuhkan melalui pengobatan terapi, operasi ataupun obat-obatan. Kecuali satu, keajaiban. Berdoalah semoga Tuhan memberikan pertolongan pada Sehun”

Dan kalimat penjelasan dari Dokter park itu masih teriang dikepala ku. Kenapa seperti ini?, kenapa Sehun tak jujur pada ku dari awal?

Aku kembali berjalan, melangkahkan kaki ku menuju kamar inap Sehun. Dengan gerakan perlahan ku buka kenop pintu berbentuk bulat itu. Aku menunduk memasuki kamar inap Sehun sementara kedua mata ku berlinang dengan air mata

“Sooyoungie?”

Aku mendongak menatap si pemilik suara yang terdengar seperti suara ibunya Sehun

“Ah~, eommonie

Ucap ku, kaki berjalan menuntun ku untuk mendekat kearah beliau. Aku membungkuk sebagai rasa hormat ku padanya

“Apa kabar mu, Sooyoungie?”

Tanyanya sekedar untuk berbasa-basi atau apa. Tapi yang jelas lengkungan senyum itu tergambar diwajahnya

“Baik eommonie, bagaimana dengan eommonie sendiri?”

“Sama sepertimu”

Dan setelah itu hening, tidak ada lagi percakapan antara aku dengan ibunya Sehun. Kami sibuk dengan kegiatan masing-masing

“Ah tentang penyakit Sehun, kau sudah mengetahuinya?”

Ibunya Sehun kembali berucap, tentang penyakit yang menyangkut Oh Sehun. Aku hanya mengagguk sebagai jawaban

“Baru saja tadi, ketika Dokter park menjelaskan. Aku sangat terkejut eommonie

“Maaf aku menyembunyikan masalah ini pada mu. Tapi ini semua, atas kehendak Sehun sendiri”

Apa maksud ini semua?

“Kehendak Sehun?”

“Ya, iya menyuruh ku untuk tutup mulut pada mu terkait penyakitnya. Tapi kurasa kau berhak mengetahuinya karna kau kekasihnya-”

Aku diam, menunggu kalimat penjelasan ibunya Sehun berikutnya. Ia tersenyum dengan getir memandangi wajah Sehun yang pucat pasi serta tubuhnya yang tergeletak tak berdaya

“Penyakitnya diketahui kurang lebih dua bulan yang lalu ketika kami sekeluarga tengah menyatap makan malam dan tiba-tiba Sehun pingsan dengan darah yang mengalir melalui hidungnya. Dan selama dua bulan ini juga Sehun selalu melakukan pengobatan terapi tanpa sepengetahuan dari mu-”

Butiran krystal itu mencair berjatuhan melalui matanya, ibunya Sehun menangis sambil sesekali mengusap pelan wajah pucat milik anaknya. Dan akupun sama seperti ibunya Sehun, mati-matian menahan isakan tangis dengan menggigit bibir bawah ku kuat

“Tapi kurasa pengobatan yang dilakukan Sehun tak membuahkan hasil apapun. Aku tak tau lagi apa yang harus kulakukan untuk menyelamatkan Sehun selain hanya berdoa. Dan perihal kenapa Sehun menyembunyikan ini semua pada mu, tapi aku tak tau pasti mengenai ini. Tapi yang kutahu Sehun hanya takut kau menjauhinya jika kau tau penyakitnya”

Anio aku tak seperti itu eommonie

Aku menyangkal tidak membenarkan perkataan Sehun, karna benar tak pernah ada terbesit sedikitpun pikiran untuk meninggalakan Sehun karna penyakitnya. Jujur aku tulus mencintainya

“Ya aku tau kau tak mungkin seperti itu”

Yakin ibunya Sehun. Wajahnya kembali ia arahkan menatap Sehun dengan air mata berlinang. Aku menuruti arah pandang beliau, menatap Sehun yang terbaring lemah tak berdaya diatas kasur rumah sakit

Kumohon, Cepatlah sembuh Oh Sehun

****

Past

Wooridul Spine Hospita at Gangseo, Seoul
27 Agustus 2010

Aku berjalan dengan tergesa memasuki gedung bertingkat menjulang ini, dimana disini juga tempat Sehun di rawat. Ibunya Sehun bilang bahwa Sehun telah sadar beberapa jam yang lalu meskipun keadaannya masih belum dikatakan membaik. Dan aku hanya dapat menjenguk baru ini saja karna tugas kuliah yang harus ku selesai terlebih dahulu

Dengan gerakan perlahan ku buka hendle pintu itu dengan tergesa. Dan Dengan langkah pelan ku dekati ranjang yang ditempati Sehun

Setelah mengalami beberapa hari koma, akhirnya Sehun dapat syiuman meskipun keadaannya memprihatinkan. Warna pucat itu masih setia bertengger manis diwajahnya

“Kurasa kalian butuh waktu berdua, aku pamit dulu”

Ibunya Sehun memecah keheningan, kakinya berjalan menjauh beranjak pergi dan menepuk pundak kiri ku pelan sebelum benar-benar pergi

“Kau jahat!”

Kata itu meluncur, dari seperkian kata yang ingin kuucapkan padanya. Ini terlalu menyedihkan melihat Sehun, kekasih ku, terbaring lemah tak berdaya dengan berbagai alat medis yang menyergap tubuhnya dan sebuah senyum pucat yang terlalu amat dipaksakan

Air mata ku bergulir jatuh entah kenapa. Aku duduk ditepi ranjang Sehun, menatapnya dengan pandangan sendu. Tangan ku terangkat untuk memeluk tubuh ringkih Sehun, kekasih ku

Ia meresponnya dengan tepukan kecil pada punggung ku, badan ku menempel dengan badannya. Dan suhu Tubuh Sehun dapat kurasakan panas dan terasa loyo

“Sooyoung-ah, bogoshipoyo

Itu kalimat pertama yang ku dengar dari Sehun meskipun terdengar gemetar dan memilukan. Buliran air mata ku semakin mengalir deras untuk kedua kalinya

“Aku takut kehilangan mu”

Ucap Sehun, dan cukup! Aku benci ini. Kenapa seperti ini?, kenapa Sehun harus menderita penyakit seperti ini?. Ini terlalu sakit diderita Sehun, begitupun aku meskipun aku tak menderita penyakitnya. Yang sakit adalah disini, dihati ku

Penjelesan Doktee Park itu jelas masih teriang dipikiran ku. Ketika ia berkata waktu hidup Sehun hanya menghitung hari lagi. Tidak adakah yang dapat membantu ku? Ya Tuhan tolong berikan keajaiban mu

Tangis ku kembali pecah dengan isakan lumayan keras. Isakanku beserta hening senyapnya ruang kamar inap Sehun berbaur menyatu dan keadaan semakin menyedihkan saat kurasakan pelukan Sehun mulai mengendur

“Hey jangan menangis!”

Sehun kembali bersuara dengan serak. Pundak baju ku terasa basah dan kuyakini itu adalah air mata Sehun yang berjatuhan. Aku mengeratkan pelukan ku seakan tak mau melepaskannya

“Sehun jangan tinggalkan aku”

Kalimat itu meluncur melalui mulut ku dengan kalimat penuh dengan permohonan. Karna jujur Aku tak tau apa yang harus kukatakan padanya

“Aku tak berani menjamin itu”

“Hiks… Sehun-ah”

Kalimat yang dilontorkannya membuat ku semakin kalut dan juga takut. Tubuh ku bergetar hebat dengan isakan yang keras merasakan begitu sesak didalam hati. Dan rasa sakitnya bukanlah main

Tiba-tiba Sehun melepas tautan tangan yang memelukku. Tangannya terangkat untuk melepaskan pelukan tangan ku yang melingkari punggungnya, aku bersikeras untuk tidak melepaskannya. Karna jujur aku takut kehilangannya

“Lepaskanlah aku tak lari kemana”

Aku menurutinya melepaskan pelukanku terhadap Sehun. Mata sembab dan sayu miliknya kubiarkan masuk menerobos retina mata ku. Ia terlihat menghela nafas dengan susah payah dan memegang bahu ku erat

“Maafkan aku telah menyembunyikan penyakit ku pada mu dan maafkan aku untuk hal lainnya”

Ia bersuara dengab pelan terdengar serak

“Ya, aku memaafkan mu”

Aku menjawabnya, tangan menyentuh pipi Sehun yang terasa dingin ditelapak tangan ku

“Dan mau kah berjanji beberapa hal untukku?”

“Apa itu?”

“Kau percaya akan takdir?”

Ucap Sehun, dahi ku mengerut menatap Sehun dengan pandangan bingung.

“Kurasa takdir kita berbeda Sooyoung-ah”

“apa maksud mu oh Sehun”

Semua ucapannya sungguh membuat ku bingung, Sehun terlihat sangat aneh entah kenapa

“Ya takdir kita berbeda Soooyoung. Takdir ku adalah menjadi lelaki penyakitan dan hanya menjadi benalu dalam hidup mu, sedangkan Takdir mu adalah bahagia dan mendapatkan jodoh selain diriku, kita ditakdirkan untuk tidak dapat bersama dan itu jelas terlihat. Aku hanya ditakdirkan untuk mendampingi mu untuk sesaat tidak untuk selamanya, aku hanya bagaikan seorang tamu yang hanya singgah dihati mu untuk sebentar, lalu pergi”

Aku menggeleng keras mencerna setiap kata yang terlontar dari kalimatnya. Aku mengerti arah pembiraannya dan Aku tak ingin mendengar itu, aku tak percaya akan takdir

“Jadi ku mohon carilah lelaki lain selain diri ku, berbahagialah dengan jodoh mu kelak. Belajarlah untuk menghapus rasa cinta ini”

“Tidak Sehun, itu bukan takdir kita”

Aku bersikeras untuk menolak semua perkataannya. Aku tak ingin itu terjadi. Tapi Kenapa Sehun berbicara seperti itu?

“Berjanjilah beberapa hal untuk ku. Tolong jangan pernah lupakan aku yang pernah singgah dihati mu, tapi kau boleh menghapus rasa ini dan mencari lelaki lain selain diri ku. Dan Tolong jangan pernah bersedih ketika aku tak ada lagi disamping mu. Berjanjilah untuk menjadi wanita yang kuat dan selalu jaga kesehatan mu dengan baik”

Aku tak sanggup berkata, mendengar kalimat yang dilontarka oleh Sehun. Pikiran ku berkecamuk takut jika hal itu memang terjadi

“Se-”

Bibir ku bungkam, tak dapat bicara lagi ketika kurasakan benda lunak bernama bibir itu menyentuh bibir ku. Dengan memejamkan mata perlahan merasakan lumatan lembut dan juga hangat yang kurasakan

Kami berciuman melumat satu sama lain dengan air mata sedih yang berbaur menjadi satu. Dan kuharap Tuhan memberikan keajaibannya

Dengan tiba-tiba kurasan sebuah cairan berbau anyir dan pekat menyeruak masuk melalui rongga hidung ku. Aku membuka mata dan melepas kontak bibir kami

Aku menatap Sehun was-was dan perasaan tak enak melanda diriku. Hidung Sehun mengeluarkan cairan darah begitu banyak dan ia terkulai lemas dibahaku.

“Sehun!, Sehun!, sadarlah!”

Aku mencoba membangunkannya dengan cara menguncang tubuh Sehun dengan kuat. Dan hal yang tak ingin ku harapkan terjadi, ketika pendeteksi jantung Sehun bergerak lurus dan suara memekikkan itu berbunyi melengking

‘Tittt~’

“Sehun-ah!”

****

Past

Pemakaman umum at Nonhyeondong, Gangnam, Seoul
28 Agustus 2010

Kaki ku bergemetar hebat hampir tak dapat berdiri dengan sempurna. Tangis tak usai reda melepas kepergian Sehun untuk selamanya. Disini aku berdiri menatap peti mati Sehun disebelah liang kuburnya, yang sebentar lagi peti matinya akan dimasukkan kedalam sana

Ibu sedari tadi terus mencoba menenangkan ku meskipun itu sia-sia. Banyak keluarga beserta kerabat ku atau pun juga Sehun datang kepemakaman ini termaksud ayah dan Ibu Sehun. Mereka tak sedikitpun menangis mungkin mereka sudah ikhlas untuk kepergian Sehun, berbanding terbalik dengan ku

Beberapa petugas mulai bergerak mengiapkan segala sesuatu untuk memasukkan peti mati Sehun keliang kubur. Tangis ku semakin kencang ketika petugas itu bersiap memasukkan peti mati Sehun

“Hiks Sehun, aku ingin ikut dengan mu”

Aku meloncat menaiki peti mati Sehun, duduk disana seraya menggoyang-goyangkan peti mati itu, tangan ku berusaha keras menarik paksa tutup peti mati ini untuk membukanya dan ikut bersama Sehun

Hajima Sehun-ah, jangan tinggalkan aku, ku mohon.  Katakan ini hanya sandiwara semata seperti april mop yang kau lakukan bulan lalu”

Aku tak peduli dengan keadaan sekitar, ibu terus menangis memanggil nama ku untuk berhenti. Aku tak peduli dan aku hanya ingin Sehun kembali

“Hiks Sehun-ah kembalilah”

“OH SEHUN KUMOHON, KEMBALILAH. HAJIMA!”

Tubuhku melemah tidakalah lagi memberontak seperti tadi, kepala ku berdenyut hebat dan pusing. Kurasakan tubuh ku terangkat turun dari peti mati Sehun

“Sooyoungie”

Ibuku segera memelukku mencoba menenangkanku dengan usapan yang kurasakan pada punggung belakang ku. Ia menangis dengan isakan begitupun dengan ku

Aku hanya diam, tak tau lagi harus apa, ketika peti Sehun mulai diturunkan keliang kubur.  Bahu ku bergetar Hebat dan rasa sesak itu kembali menyergap ku

Beberapa menit berlalu kini acara ini sudah selesai. Aku menatap nanar batu nisan yang bertancap dikuburan itu. Sebuah tulisan yang menunjukkan

Oh Se Hoon
Born : 12 april 1994
Until : 22 Agustus 2010

~

Mobil ku berhenti pada jembatan luas yang lumayan sepi, aku keluar dan berjalan ketepi jembatan. Jembatan yang pernah ku singgahi bersama Sehun dulu, dan kini sekarang menjadi kenangan

Aku memegangi besi berukuran balok memanjang itu sebagai pembatas jembatan dengan erat. Memori ku bersama Sehun itu berputar ter-flashback begitu saja tanpa diminta

Aku benci ini, benci akan takdir

Benci takdir ku yang harus terpisah oleh Sehun, benci takdir yang membuat ku tak dapat bersama Sehun, benci takdir yang merebut Sehun lebih awal, benci takdir yang dapat membuatku merasakan sakitnya kehilangan

Tak pernah sedikitpun terbesit pikiran jika aku bersama Sehun akan memiliki takdir semacam ini. Jadi apa harapan kita selama ini?, apa untungnya impian ku bersama Sehun selama ini?. Jika itu hanya kan menjadi impian semata

Kenapa Tuhan seakan tidak bertindak adil pada ku, apa salah ku sehingga menjadi seperti ini?, apakah jika aku menyusul kepergian Sehun, Tuhan akan bertindak adil pada kami?

Haruskah?

Aku kembali lebih erat memegang pembatas jembatan paling atas sementara kaki ku naik kebalok kedua dari tiga balok yang memanjang. Kakiku beserta tangan ku bergemetar luar biasa hebat. Mata kubergulir mentap kebawah dimana disana terdapat arus yang sangat deras mengalir

Rasa takut dan juga mendesak datang bersamaan. Seperti malaikat dan juga iblis datang tiba-tiba. Dan yag kurasakan disebelah kiri ku seperti iblis menyuruh ku untuk terjun sedangkan disebelah ku si malaikat menyuruh ku untuk tidak terjun kebawah

Aku bimbang

Namun pada akhirnya, pilihaku jatuh pada iblis. Aku melepas pegangan tangan ku pada tiang balok mendatar itu secara perlahan. Dan mulai mengatur keseimbangan tubuh ku

1

2

3

Aku akan menyusulmu Sehun-ah

*~*~*~*~*~*~*

Aku kembali menutup buka persegi yang biasa sering disebut diary itu secara perlahan lalu memasukannya pada laci meja. Itulah beberapa kisah ku bersama mantan kekasih ku dulu, Oh Sehun 2010 lalu. Dan dimasa itu juga aku dapat merasakan kebahagian dan kehilangan yang mendalam

Ini sudah 4 tahun semenjak kejadian itu dan aku butuh tenaga ekstra untuk belajar mengikhlaskan kepergian Sehun selama ini meskipun sulit

Tapi beruntung ada seorang lelaki yang mau membantu ku dalam masalah ini. Laki-laki itu bernama Kris, lelaki berkebangsaan kanada-China. Selama 4 tahun ini ia selalu ada untuk dan ia juga yang menggagalkan rencanaku untuk bunuh diri dijembatan 4 tahun lalu. Kalian ingat bukan?

Percaya atau tidak aku sudah menikah dengannya lima bulan lalu dan aku mengandung anaknya 2 bulan. Ya aku memang mencintainya meskipun secercah rasa untuk Sehun masih ada. Dan Kris-pun tau itu, tapi ia memakluminya

“Kau kembali membaca diary itu?”

Ucap sebuah suara yang tiba-tiba tangan kekarnya langsung melingkari pinggang ku dari arah belakang. Sebuah hembusan nafas itu menerpa kulit leher ku

“Maafkan aku”

Aku berucap dengan nada menyesal

“Tak apa, aku mengeri”

Aku tersenyum dan membalik posisi ku menghadapnya. Aku kembali tersenyum dan segera merengkuh tubuh tingginya

Saranghae

Tuhan, Ku mohon untuk kali ini saja jadikan ini yang terakhir. Jadika ia takdir dan jodoh terakhir ku Tuhan. Aku mencintainya begitupun ia. Biarkan kami bahagia untuk selamanya

Tolong hapuskan takdir yang berbeda diantara yang miliki dan rubah jadikanlah takdir kita menjadi sama sehingga menyatu. Supaya rasa sakit dan kehilangan itu tak lagi kembali seperti 4 tahun silam

Terakhir dan selamanya

“Nado Saranghae”

END

Posted from Choi Min Ra

32 thoughts on “[Oneshot] – Past

  1. syoohmy April 11, 2014 / 3:56 PM

    pertama aku seneng banget ni ff soohun,ternyata aku baca genrenya angst,sad T_T. aku sebenernya udah nebak kalau kayak gini T_T,hhhhh sookris akhirnya T_T padahal aku ngarep soohu *shiperkumat* hehe tapi bagus kok chingu daebak !moment soohun nya juga lucu :D! ditunggu ff soohun lainnya!hwaiting ne ^^

    • Choi Min Ra April 12, 2014 / 12:43 PM

      Haha mian.
      Oke, oke, makasih sebelumnya

  2. DeliaaOKT April 11, 2014 / 4:34 PM

    Aku suka ffnya eonn… Jujur,tadi aku berharapa Soo eonni itu endingnya ketemu Luhan,tapi gpp,,bikin ff SooHun lg ya,eh SooHan juga #maksa😀

    • Choi Min Ra April 12, 2014 / 12:45 PM

      Hehehe, sebenernya emang mau buat endingnya itu Sooyoung sama Luhan, cuman karna lagi kangen sookris yang begini, meskipun Krisnya nyepil dikit :3
      Oke thanks sebelumnya🙂

  3. anita sy April 11, 2014 / 5:33 PM

    menyentuh bnget…bkin nangis hiks.Tp akhirny. Soo bahagia ma.Kris.Suka ma moment Soohun waktu Sehun nembak Soo trus kissing huwaa romantis bnget.Pokokny keren….next ffny chingu

    • Choi Min Ra April 12, 2014 / 12:47 PM

      Makasih^^
      Iya aku juga suka bagian itu🙂
      Oke, makasih sebelumnya

  4. kartika April 11, 2014 / 6:32 PM

    suka sama moment soohun pas sehun nembak sooyoung dan itu romantis. tapi yang di rumah sakit itu bikin mewek T.T kirain tadi endingnya sooyoung sama luhan ternyata sama kris, nggak papa lah sama siapa aja aku suka😀 karya lain ditunggu thor🙂

  5. winterchan April 11, 2014 / 7:06 PM

    author tanggung jawab aku mewek ini T.T
    sehun kenapa sehun kenapaa? T.T

    • Choi Min Ra April 12, 2014 / 12:50 PM

      Tanggung jawab?, oke aku nikahin air matanya /plak/ #Becanda
      Hehe maaf ya, thanks sebelumnya

  6. yeni swisty April 11, 2014 / 8:26 PM

    Ku kira bakal happy ending😦
    ff bagus

    • Choi Min Ra April 12, 2014 / 12:51 PM

      Sebenernya emang mau buat Happy end cuman imajinasi nyosor ke sad end, dan jadilah seperti ini
      Oke thanks ya🙂

  7. shin hyun young April 11, 2014 / 10:04 PM

    Kasian SooHun.. Mungkin dikehidupan sekarang takdir kalian beda tpi mungkin dikehidupan nanti takdir kalian sma, ditunggu ff soo-exo lain’a yah..
    Nice ff..

    • Choi Min Ra April 12, 2014 / 12:52 PM

      Amin… :3
      Oke, thanks sebelumnya🙂

  8. fransiscafortunita24 April 11, 2014 / 10:09 PM

    yahh sad ending TT^TT
    Tpi Cerita nya bgs kok :’) *walaupun bikin mewek😦
    ditunggu ff lainnya, hwaiting !

    • Choi Min Ra April 12, 2014 / 12:54 PM

      Iya sad T_T
      Hehe makasih^^
      Oke, Thanks sebelumnya

  9. febryza April 12, 2014 / 12:15 AM

    di awal cerita moment sehun sooyoungnya so seest bgt eh kesini-sininya jadi sedih ternyata untung akhirnya ada kris yg nolongin dan jadi orang buat ngebantu soo unnie

  10. rifqoh wafiyyah April 12, 2014 / 12:51 AM

    Omo……….!!
    Huaaa…….:'(,gak rela hunppa mninggal…..:(
    Sedih sumpah…..:(
    Daebak….:)

    • Choi Min Ra April 12, 2014 / 12:55 PM

      Saya juga gak rela sebenernya😥
      Tapi yah…
      Thanks sebelumnya

  11. qarenzapark April 12, 2014 / 10:17 AM

    Huwaaa, gue terharu😥 bagus ff nya😀 Kamu author baru ya ? Kenalin, qarenza park imnida, 00 lines😀 Kayaknya aku manggil eonnie deh. Baca ff ku ya, eonnie ?😀

    • Choi Min Ra April 12, 2014 / 12:57 PM

      Hehe makasih^^
      Iya author baru, oke qarenza salam kenal. Sipp nanti aku baca
      Thanks sebelumnya🙂

  12. wufanneey April 12, 2014 / 1:22 PM

    so sad. kenapa sehun tetap bertahan sama sooyoung padahal hidupnya nggak lama lagi? dia nggak cukup mengerti perasaan cewek kalo ditinggal orang yang dicintainya menurutku.
    momen termanis itu waktu sehun ngasih cincin ke sooyoung, walau hampir ketelen hehehe…
    keep writing lah pokoknya!
    karena tulisan itu terus berkembang kalo terus dilatih🙂

    • Choi Min Ra April 13, 2014 / 11:58 AM

      Iya Sehun emang ku buat kayak gitu kak, tetep pertahanin Soyoung. Soalnya kalau dia yang jauhin Sooyoung karna penyakit dia, akunya bingung mau buat gimana endingnya :3
      Hehe makasih juga atas sarannya🙂

  13. valenmarcella April 12, 2014 / 2:27 PM

    author daebak
    keren banget sad ending
    SooHun pairingnya mantep
    suka banget romantis
    author hwaiting ^^

  14. Llisadwisusanti April 12, 2014 / 2:53 PM

    Annyeong thor:D, saya orang bru d’sni :D– Salam kenal Ne😀, yahhh ffnya sad ending, sbenarnya udh nebak bakal sad ending pas udh tau klo sehun punya penyakit, tpi karna saya kepo sama endingnya jdi lanjut aj bacanya, yahh~ trnyata bener sad ending:'(, tpi ffnya bagus bnget kok😀, Daeback😀

    • Choi Min Ra April 13, 2014 / 12:03 PM

      Ne annyeong!. Aku juga baru disini. Oke salam kenal juga🙂
      Hihi makasih

  15. rana April 13, 2014 / 5:09 PM

    akkk……. keren banget thor….. :)))))))))

  16. Sooyounghardcore April 17, 2014 / 10:01 AM

    Wooooooooow~ aku udah curiga pasti ada sesuatu nih T.T sedih ceritanya thor.

  17. rchoi May 23, 2014 / 9:22 PM

    Eiiii. Nyeseekkk. Masa iya sehun meninggal😥 terus ngarepnya syoo ketemu sama luhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s