Dream Girl [Chapter 3]

dream girl

Dream Girl – Chapter 3

Written by winterchan (@gelshaa)

Choi Sooyoung, Kim Myungsoo, Oh Sehun, Bang Yongguk

Romance, School-life

Chaptered | PG-15

Graphics & Plot © Winterchan

There’s a reason why people are the way they are.

***

Kim Myungsoo hanyalah satu dari segelintir orang yang diam dan tenang. Tapi bukan berarti menjadi orang yang pendiam menutup rasa ingin tahunya atau penasarannya. Menyangkut tentang perempuan, ada satu perempuan yang masih menghantui pikirannya. Bukan, bukan masalah cinta atau hal yang bersangkut paut dengannya.

Kau tentu masih ingat masalah gadis yang bahkan tak hanya menghantui pikirannya, tetapi juga mimpi di malam harinya. Justru berawal dari situlah kini gadis itu mulai beranjak untuk meninggalkan dunia mimpi seorang Kim Myungsoo tapi justru lebih berani untuk unjuk diri di hadapan dirinya, hingga kini membuat seorang Myungsoo tak dapat melepaskannya dari otaknya.

Menjadi seorang kutu buku, ia rela berangkat pagi sekali hanya demi mendapat ketenangan untuk melahap buku-bukunya, daripada ia harus menajamkan konsentrasi belajarnya di rumah di tengah keadaan gaduh dua sepupunya yang masih berumur 4 tahun yang baru-baru ini pindah ke rumahnya.

Dia memang seorang jenius, dia mampu bersekolah di universitas ini dengan biaya yang ditanggung pihak sekolah, sebut saja beasiswa. Bukan, Myungsoo bukan orang miskin. Keluarganya berkecukupan walaupun bukan keluarga konglomerat, kedua orang tuanya bahkan mampu memberinya mobil untuk transportasinya ke sekolah sebelum akhirnya dikembalikan pada orang tuanya lagi seminggu yang lalu. Ia bilang ia malas mengeluarkan uang untuk membeli bahan bakar. Kim Myungsoo hanya ingin membuktikan bahwa ia bisa bersekolah tanpa merepotkan kedua orang tua.

Kim Myungsoo menarik kursi di dalam kelas, mendudukinya lalu terlarut dalam kegiatannya membaca. Ini memang kebiasaannya yang tidak dapat dihentikan sampai dosennya datang satu jam kemudian.

“Myungsoo-ya, ya!” seseorang menyenggol dengan sikutnya. Myungsoo mendongak, benar saja, lelaki berusia setengah abad sudah tengah berjalan menuju singgasana. Lalu lelaki yang diketahui bernama Lee Kyungjin itu mulai menaruh beberapa mapnya. Kehadiran beliau memang biasanya tidak terdeteksi. Oh bahkan kehadiran Sungyeol di sebelahnya dan keadaan kelas yang sudah ramai saja tidak disadarinya sampai Myungsoo berhenti dari kegiatannya.

Myungsoo buru-buru menyimpan buku bacaannya dan mengeluarkan buku catatan sesuai materi hari ini.

“Saya akan membagi kelompok untuk proyek jurnal bulan ini.”

Myungsoo kemudian mendengarkan Lee Kyungjin secara cermat. Takut-takut melewatkan namanya yang disebutkan. Setelah dengan baik-baik ia dengar, kedua bola mata Myungsoo membulat sempurna. Tunggu apa katanya tadi? Choi Sooyoung?

Takdir huh?

Myungsoo menggulirkan kedua bola matanya pada gadis bernama Sooyoung itu yang duduk di bangku paling belakang dan paling pojok. Tampak gadis itu yang seolah acuh tak acuh atas kegiatan kelompok itu, dia terlihat sibuk mencoreti sesuatu pada buku gambarnya.

Ia kembali melihati satu-persatu teman kelompoknya, ada beberapa yang ia tidak kenal, termasuk Choi Sooyoung itu. Beruntunglah ia masih satu kelompok dengan Park Chanyeol yang walaupun terlihat idiot tapi ternyata lumayan pintar, sehingga kemungkinan ia adalah teman kelompok yang dapat dipercaya dan bisa diajak kerjasama.

***

Ditunjuk sebagai ketua, Myungsoo haruslah bersikap bertanggung jawab dan mampu mengoordinasi kelompok dan anggota kelompoknya. Sehingga ia berencana mengajak semua teman satu kelompoknya untuk diskusi. Ia telah sukses menemui setiap anggotanya. Terkecuali satu, yang satu ini sulit sekali ditemui, keberadaannya sulit dicari di seluruh penjuru sekolah. Myungsoo tidak pernah tau dia semisterius ini.

“Choi Sooyoung, Choi Sooyoung.” Myungsoo terus menggumamkan nama itu seraya matanya menelusuri taman sekolah ini. Semua tempat telah ia datangi tapi belum ditemukannya sosok aneh itu. Sehingga taman ini adalah tempat terakhir yang dikunjunginya.

Gadis itu belum pulang kan? Masih ada satu pelajaran lagi setelah ini.

Myungsoo berlari mendekati sebuah pohon. Bukan pohon yang diincarnya, melainkan gadis yang duduk dibawahnya. Akhirnya ditemukan juga Choi Sooyoung setelah pencarian panjang, belum lagi taman ini yang tingkat keramaiannya tinggi menyulitkannya mencari gadis bermarga Choi itu.

“Choi Sooyoung.”

“Sooyoung-ssi.”

“Hey, Sooyoung-ssi.”

“Choi Sooyoung.”

Myungsoo mulai menepuk pundaknya karena tak didapatinya respon dari gadis dengan headphone menutupi telinganya itu, “Sooyoung-ssi.”

Choi Sooyoung tidak pernah suka waktu sendirinya diganggu, bahkan sekalipun itu adalah teman terdekatnya. Apalagi orang asing? Kau tidak pernah membayangkannya. Sooyoung menggeram lalu kemudian…

Satu tinju mengenai wajah sempurna Myungsoo, hingga dirinya jatuh tersungkur. Demi apapun, respon seperti ini sama sekali tidak pernah terfikir oleh Myungsoo. Ia memegangi pipinya yang kini menunjukkan warna biru. Gosh pukulannya benar-benar bukan main.

Myungsoo memandang gadis yang kini berdiri itu dengan pandangan ngeri, marah, sekaligus malu. Malu karena kini seluruh perhatian tertuju pada keduanya. Myungsoo bukanlah tipe orang yang suka berkelahi. Dipukul pria saja jarang, sedangkan sekarang, seorang wanita memukulnya tanpa alasan.

Mengganggu waktu sendiri seorang Choi Sooyoung diibaratkan membangunkan singa betina.

Myungsoo ikut bangkit berdiri seraya masih memegangi pipinya yang kini agak lebam.

“Sooyoung-ssi, apa maksudmu?”

“Kau menggangguku,” jawabnya singkat, bahkan tanpa melihat lawan bicara yang baru saja menjadi korban pukulannya.

“Tapi kau tidak perlu berlebihan! Asal kau tahu, aku hanya meminta waktumu sebentar untuk membicarakan tugas! Kita satu kelompok!”

“Apa peduliku?” Sooyoung lalu melenggang pergi, bahkan menabrak dan menyingkirkan orang-orang yang tengah membuat kerumunan tanpa peduli. Bahkan Sooyoung sudah tidak peduli mata kuliah selanjutnya yang ia harus hadiri. Peduli setan dengan semua itu.

***

Kim Myungsoo telah membuang jauh-jauh tafsirannya tentang Choi Sooyoung. Semula ia membayangkan Sooyoung adalah orang misterius berhati malaikat seperti apa yang ada di mimpinya  saat itu. Ia jelas bukan wanita baik. Ia telah mengubah persepsinya tentang gadis mengerikan itu, persepsi awalnya yang mengatakan ia adalah gadis cantik berhati baik telah berubah 180 derajat. Ia mengerikan.

Tidak hanya itu, ia juga melupakan kejadian memalukan yang kemarin terjadi padanya. Membuang jauh memori itu seakan itu tidak pernah terjadi padanya. Setelah itu bahkan Sungyeol dan duo Jung langsung menginterogasinya tanpa henti, sampai puas.

Kemudian, seorang dosen muda muncul dari pintu.

“Choi Sooyoung dan Kim Myungsoo ikut saya.”

Myungsoo mengernyit kebingungan. Ada apa ini?

Sementara dirinya masih sibuk mengumpulkan beberapa kemungkinan mengapa dirinya sampai dipanggil oleh guru bimbingan konseling, Choi Sooyoung bahkan sudah berdiri di ambang pintu.

“Apa kau tuli?” Suara nyaring Sooyoung membuatnya kembali tersadar dari lamunannya. Dilihatnya Sooyoung sudah melangkah keluar.

Sesampai di ruangan yang tak pernah ia ingin datangi ini, dilihatnya guru bimbingan konseling itu sudah duduk tegap di kursinya, dan gadis yang bermasalah itu berdiri di hadapan guru itu tanpa beban.

Myungsoo lalu ikut berdiri di sebelah Sooyoung.

Menjadi orang yang tegas dan tak suka berbasa-basi, guru bimbingan konseling bernama Song Jisoo ini langsung to the point, “Sooyoung-ssi apa benar kau memukul Myungsoo-ssi?”

Myungsoo terbelalak, darimana guru ini tahu? Pasalnya Myungsoo tidak pernah sekalipun berencana melaporkan kejadian kemarin pada Song Jisoo. Sekali lagi karena ia tidak pernah mau sekalipun berurusan dengan guru bimbingan konseling.

“Kau mengadu? Cih, tak kusangka.” Sooyoung melirik Myungsoo sinis.

Kemudian wanita itu menggebrak meja. “Jawab Choi Sooyoung! Dan perlu kau tahu, seorang siswa melaporkan tindakan tidak manusiawimu kemarin!”

“Sudah tahu, untuk apa bertanya?” Sooyoung menjawab seperti biasa, bahkan ia nampak tidak takut dengan ketegasan pembimbing konseling di hadapannya.

Manners, Choi Sooyoung.”

“Myungsoo-ssi jawab dengan jujur.” Ia beralih pada Myungsoo yang belum berkata sejak tadi. Kemudian pertanyaanya hanya dijawab anggukan oleh pria bermarga Kim itu.

“Sooyoung-ssi bisa kau beritahu apa alasanmu memukulnya? Kau perlu tahu aturan, kekerasan dilarang keras disini!” suara wanita itu meninggi.

“Aku tahu.”

Song Jisoo mati-matian menahan amarahnya, ia sudah dapat memprediksikan bahwa ia akan sering berurusan dengan gadis bernama Sooyoung itu. Sehingga ia perlu melatih kesabarannya mati-matian pula.

“Lalu apa alasanmu?”

“Dia mengganggu ketenanganku,” jawab Sooyoung santai. Song Jisoo menggeram kesal, alasan macam apa itu? Itu tidak dapat diterima! Kekerasan yang boleh diterima adalah hanya ketika membela diri!

Akhirnya dengan desakan, Myungsoo menceritakan kembali kejadian kemarin. Dan itu membuat guru itu semakin membuatnya emosi.

“Sooyoung-ssi, aku tidak mengerti jalan pikiran seorang siswa seperti dirimu–”

“Lalu apa maumu?” Astaga bahkan ia berani memotong ucapannya dan menantang seorang guru BK! “kau mau aku dihukum? Atau dikeluarkan? Tidak masalah.”

***

Jlep. Jlep.

Orang itu melemparkan beberapa anak panah dengan ujung jarum itu pada papan bulat beberapa meter di depannya. Sooyoung –orang itu– melempar jarum panah dart itu keras-keras, sebelum sampai akhirnya tepat mengenai yang paling tengah. Tampak dart itu sudah bolong-bolong, mencirikan sudah sering dimainkan.

Jarum terakhir, dan mengenai bulatan paling tengah, tepat di sebelah jarum yang sebelumnya. Di saat yang bersamaan juga, pintu ruangan terbuka.

Sooyoung tidak perlu menengok untuk mencari tahu siapa gerangan. Lelaki yang baru masuk itu tersenyum lebar. “Membolos lagi, huh?”

Suara super beratnya mudah dihafal, Sooyoung tau ini siapa. Ia hanya mengangguk sebagai balasan. Senyuman yang nampak di wajah orang itu semakin lebar, ia paling suka jika temannya membolos.

“Bang Yongguk.”

Yongguk menoleh, memperhatikan foto orang yang terpampang di depan dart yang rupanya  keberadaanya tidak disadari sejak tadi. Sepertinya ia baru melihat orang ini, terlihat Yongguk mengernyit heran.

“Siapa dia?”

“Demi apapun, aku bahkan sudah menghindarkan diri dari masalah sebisaku. Tapi orang itu,” jari telunjuk Sooyoung menunjuk tepat ke foto yang kini sudah bolong-bolong tertusuk jarum dart itu, “membuatku dipanggil oleh guru BK kemarin.”

Yongguk tertawa renyah. “Kau kalah taruhan, perjanjian adalah kau tidak akan mencari masalah selama dua bulan.”

Klek. Suara pintu terbuka kembali.

“Ahahahaha kemarin kau memukul orang? Lalu masuk ruang konseling?” baru saja masuk, orang itu sudah tertawa tidak jelas di hadapan keduanya, “tapi sebenarnya aku lebih sering masuk ruangan terkutuk itu, Choi.”

Orang itu –Oh Sehun– kemudian berhenti tertawa ketika dilihatnya ekspresi tak bersahabat sejak tadi tetap tinggal di wajah Sooyoung.  “Mungkin kau harus memberinya beberapa pelajaran,” ujar Sehun.

***

Kelas tampak tenang, setiap orang memperhatikan ke depan. Setelah dua hari membolos, akhirnya Sooyoung kembali masuk. Mungkin kau harus memberinya beberapa pelajaran. Sooyoung kemudian mengangguk, tapi kemudian menggeleng lagi. Tidak perlu memberi pelajaran, mungkin hanya sedikit saja.

Sooyoung sudah cukup kenyang dengan panggilan pembuat onar yang ditujukan untuknya. Entah anak-anak itu yang terlalu peka terhadap lingkungan atau memang dasarnya mereka adalah golongan pencari masalah dan gemar mencampuri urusan orang lain. Pasalnya di sekolah manapun yang pernah Sooyoung tempati, selalu ada saja orang-orang semacam itu. Di majalah dinding, terpampang wajah cantik Sooyoung, di bawahnya tertulis headline “pembuat onar” Membuat Sooyoung berulang kali mengusap wajahnya sendiri.

Sooyoung kemudian merobek kertas dari buku gambarnya. Lalu mencoretinya dengan kecepatan penuh. Sejurus kemudian, kertas itu sudah dibentuk menjadi kapal terbang yang siap diluncurkan.

Pesawat terbang kertas itu melayang di atas kepala-kepala mahasiswa yang tengah serius. Sooyoung selalu bisa mencuri waktu dimana sang profesor tengah sibuk pada papan tulisnya. Sooyoung mengantisipasinya secara antusias, ia telah mengukur segala sesuatunya secara tepat. Akhirnya ujung kertas itu menabrak kepala seseorang. Yes!

Sooyoung mulai memperhatikan gerak-geriknya. Lelaki yang diketahui bernam Myungsoo itu kemudian mengambil pesawat terbang yang mengenai kepalanya sebelum akhirnya jatuh di atas mejanya. Ia membuka pesawat itu.

Setelah terbuka, di atas kertas yang agak kusut itu terdapat sebuah gambar. Gambar itu seperti digambar menyerupai komik, tapi terlihat acak-acakan dan buru-buru walau Myungsoo masih bisa dengan jelas menangkap apa maksud dari gambar ini.

Seorang perempuan tengah menendang bokong seorang lelaki. Seorang perempuan tengah memukul seorang lelaki hingga jatuh tersungkur. Dan gambar-gambar lainnya yang mengacu pada tindak kekerasan.

Myungsoo bergidik. Siapa yang mengiriminya gambar-gambar seperti ini? Apa ini maksudnya dia akan menghajarku? Myungsoo ingat betul, mahasiswa-siswi di kelas ini adalah orang baik-baik semua. Kecuali satu.

Mata bak elangnya kemudian menangkap sesuatu. Di pojok kertas yang kusut itu terdapat tulisan –CSY–

Ia kembali menengokkan kepala ke bangku paling belakang. Rupanya penghuni bangku pojok tersebut juga sama-sama tengah menatapnya, tapi Myungsoo juga tak melewatkan senyuman mengejek yang diberikan Choi Sooyoung.

Dugaannya 100% benar.

***

Kim Myungsoo bukanlah orang yang suka menyimpan dendam. Ia hanya perlu tahu watak buruk seseorang, dan pergi menjauhinya. Daripada harus menuai masalah lagi, lebih baik ia yang menjauh. Sekalipun Myungsoo pernah dipukul. Ia mengerang kenapa pikirannya selalu mengingatkannya pada kejadian itu terus? Myungsoo beberapa kali memukul kepalanya, berusaha menjauhkan fikirannya tentang wanita bernama Choi Sooyoung itu.

Aku hanya perlu menjauhinya. Ini bukan seperti Kim Myungsoo adalah sosok lemah dan penakut. Sekali lagi, Myungsoo tidak ingin menciptakan masalah apapun yang akan membuat beasiswanya dicabut dan nama baiknya tercoreng. Selama ini dirinya selalu dianggap murid teladan oleh tiap profesor.

Tiba-tiba saja fikirannya terbang ke satu murid bernama Oh Sehun. Benar Myungsoo hampir melupakannya. Perlahan puzzle yang membingungkan itu satu persatu terselesaikan. Ia mulai mengerti apa yang terjadi. Oh Sehun adalah pembuat onar nomor satu, dan temannya adalah Choi Sooyoung. Di sini, Sooyoung mulai menunjukkan sosok aslinya, warna aslinya. Dia berbeda dari perempuan lainnya, Choi Sooyoung berbeda, sangat berbeda.

Sesuatu kembali mengenai kepalanya, kali ini bukan berbentuk pesawat. Tetapi kertas itu berbentuk gumpalan. Ia sudah tau siapa yang melemparinya, mungkin Choi Sooyoung terlalu malas membentuk kertas itu menjadi pesawat. Sudah kedua kalinya Sooyoung melemparinya kertas dalam dua hari.

Dilihatnya gambar-gambar seperti kemarin kembali ada pada kertas itu. Merasa gerah, kali ini Myungsoo memberanikan diri membalas. Ia meraih pulpennya.

“Apa maumu?” Myungsoo kembali melempar kertas itu kepada pemilik asal.

Belum satu menit, gumpalan kertas itu kembali mengenai wajahnya. Myungsoo mengerang kesal.

“Menerormu.” Myungsoo hampir tertawa melihat tulisan itu. Apa katanya? Meneror?

Seolah tidak peduli, Myungsoo kembali fokus pada profesor yang tengah menjelaskan sesuatu panjang lebar, mengabaikan ekspresi tak terdefinisi milik Sooyoung.

***

Kim Myungsoo berjalan santai menyisir trotoar di pinggir jalanan sepi. Hari sudah agak sore, sehingga ia sedikit menikmati jalanan sore yang lengang. Kakinya berbelok menuntun raganya memasuki sebuah gang. Ini memang jalan pintas menuju rumahnya. Myungsoo bersiul mengikuti irama langkahnya.

Tlang. Cleng. Bak. Buk.

Myungsoo terperanjat. Suara apa itu? Ia mulai mundur beberapa langkah. Setelah langkah mundurnya terhenti, kepalanya pun ikut menengok ke arah kanan dimana ada sebuah gang besar. Myungsoo mengernyit lalu secepat kilat bersembunyi di balik tembok, lalu kembali memunculkan kepalanya sekedar ingin tahu.

Tampaklah di matanya sebuah perkelahian, ada delapan orang terlibat setidaknya setelah Myungsoo menghitung. Jika biasanya ia akan tidak peduli, tapi entah sesuatu menahannya untuk tetap tinggal.

Ada satu orang yang meninju habis seorang lelaki hingga terjungkal bahkan tidak mampu bangkit. Myungsoo tidak dapat melihatnya secara jelas, orang itu memakai masker hitam. Tapi ia kenal dengan figurnya yang tinggi. Setelah dibantai habis, empat orang yang sepertinya satu komplotan lalu pergi menjauh sambil meminta ampun. Myungsoo terkesiap seraya orang yang tengah berlari itu mendekat ke tempat di mana Myungsoo bersembunyi.

Myungsoo bernafas lega ketika orang-orang itu berlari melewatinya bahkan tanpa meliriknya sedikitpun. Namun tidak berlangsung lama ketika kembali didengarnya suara yang sepertinya agak familiar.

“Keluarlah, aku tahu kau di sana sejak tadi.”

Lelaki itu melotot. Mau tak mau Myungsoo keluar dari tempat persembunyiannya.

Myungsoo hampir jantungan melihat orang yang barusan menghajar seorang lelaki habis-habisan membuka masker hitamnya, lalu membuka snapback hitamnya juga. Dia adalah Choi Sooyoung.

“Yongguk-ah, kau bisa duluan.” Setelah temannya yang diketahui bernama Yonnguk dan yang lainnya melangkah pergi, kini tinggallah Sooyoung dan Myungsoo berdua.

“Untuk apa kau mengintip? Mengintip perbuatan yang illegal.” Myungsoo tidak menyangka gadis itu membuka percakapan diantara mereka, ia hampir mengira bahwa gadis itu akan menghajarnya lagi.

“Tawuran merupakan perbuatan yang lebih illegal.” Sooyoung tertawa menampilkan sederet gigi rapihnya, membuat Myungsoo kembali terpana sebelum akhirnya tersadar kembali.

“Kau tidak bisa membedakan antara tawuran dan berkelahi?”

“Apapun itu, perkelahian selalu ada dalam tawuran.”

“Gosh! Kim Myungsoo, hidupmu membosankan!”

Tidak mereka sadari, sebenarnya ini adalah percakapan terpanjang yang pernah mereka lakukan.

“Kau tidak taku bersamaku sendirian di sini? Kau masih ingat gambar-gambar yang aku beri padamu kan? Kau tidak cukup bodoh untuk mengerti maksudnya kan?”

Myungsoo tersentak. Apa ia akan menghabisiku disini? Apapun itu Myungsoo tidak boleh terlihat takut, bagaimanapun juga dia adalah pria!”

“Kau membolos untuk melakukan perkelahian dan tawuran? Kurasa kau adalah murid terburuk dari Kyungha. Kau akan segera mendapatkan namamu terpajang lagi di papan majalah dinding. Kurasa aku tidak akan lagi menutup mulut soal murid pemberontak sepertimu, asal kau tahu.” Soal rencana Sooyoung yang akan menghabisinya, itu adalah main main. Tapi Sooyoung tidak tahu, rencana Myungsoo yang satu ini tidak main main.

Sooyoung menggeram. “Kau mau melaporkanku? Lakukan! Kau pikir mereka akan percaya?”

Myungsoo tersenyum mengejek. “Setelah apa yang pernah kau lakukan padaku, kupikir bukan hal yang mustahil.”

Sooyoung meneguk air ludahnya susah-susah, benar juga. Hanya karena insiden ia memukul anak orang, hampir seluruh angkatannya menganggapnya ‘pembuat onar’. Apalagi sampai orang-orang tahu mengenai hobinya yang satu ini terkuak, dan kemungkinan paling buruk guru bimbingan konseling tahu.

Sooyoung sudah kenyang sekali dengan julukan nista itu, tapi tidak pernah benar-benar merubah sifatnya. Sooyoung bahkan beberapa kali pindah sekolah karena reputasi buruknya yang menguar di setiap penjuru sekolah di Seoul. Kyungha adalah universitas terakhirnya setelah sebelumnya ia pernah mengahajar seorang dosen di Chunha. Sebelum Chunha yang menendangnya duluan, Sooyoung akhrinya memutuskan pindah dari Chunha dan masuk ke Kyungha. Sooyoung bahkan menahan diri mati-matian untuk tidak meninju siapa saja yang berada di dalam sekolah. Jika tidak begitu, ia bingung akan kemana lagi setelah ini. Reputasi buruknya sudah terkenal, setiap sekolah bahkan tahu akan hal ini. Sooyoung bahkan pernah mematahkan tulang seorang murid dari Hanyang. Dan pernah hampir tawuran dengan murid-murid dari LH University.

Wow, prestasi yang membanggakan.

Hanya Chunha-lah yang belum tahu-menahu soal murid tidak tahu diri semacam Sooyoung ini. Karena Chunha termasuk sekolah yang agak tertutup. Berhubung Sooyoung juga adalah putri dari pengusaha kaya, memudahkannya masuk ke sekolah ini.

“Kau jangan sekali-kali,” ancam Sooyoung. Meskipun ia sudah agak berbeda dari dirinya yang dulu yang suka meninju orang sembarangan, tapi untuk hobi berkelahi dengan sekolah-sekolah tetangga, maaf Sooyoung belum bisa menghentikan itu.

“bahkan sebelum kau melakukan itu, aku sudah akan lebih dulu menghajarmu,” lanjut Sooyoung.

Myungsoo tertawa lagi setelahnya. “Tenanglah aku tidak akan melakukannya, hanya saja––”

Sooyoung bernafas lega. “tapi setidaknya harus ada sesuatu yang bisa menutup mulutku.”

“Katakan,” ujar Sooyoung tidak sabar. Sepertinya Myungsoo tidak peduli lagi soal dirinya tidak boleh berurusan dengan perempuan di depannya ini, yang terpenting untuknya sekarang adalah, manfaatkan kesempatan ini untuk menghemat uang.

“Kau harus membayar makan siangku selama tiga bulan penuh.”

***

Sooyoung hampir saja berlari dari kelas setelah waktu istirahat tiba, jika sesuatu tidak mengingatkannya. Ia tanpa suara berjalan ke arah di mana seorang lelaki tampan sedang duduk, masih membereskan beberapa bukunya dari meja.

Tanpa suara pula, Sooyoung menariknya keluar kelas.

“Hey hey!” terdengar protes dari Myungsoo –lelaki yang ditarik–

“Aku sudah menyetujui syarat tutup mulutmu. Sekarang ikuti aku karena kau sudah lapar.”

Myungsoo kemudian melepaskan lengannya yang ditarik seenaknya. “Tapi tidak perlu menarik juga.”

“Cepatlah sebelum antrian bertambah panjang!” Seolah tidak mendengarkan perkataan Myungsoo, ia menariknya kembali bahkan kali ini lebih brutal.

Sooyoung membawa nampan lalau menaruhnya dan duduk tepat di hadapan Myungsoo yang sudah lebih dulu melahap makanannya.

Myungsoo kemudian menelan makanannya, “sebenarnya aku hanya memintamu membayar makananku, bukan menemaniku makan juga.”

Sooyoung tertohok. “Cih baik aku akan pergi.” Sooyoung sudah siap-siap pergi, namun tangan genggaman tangan seseorang menahannya.

“Aku hanya bercanda. Duduklah.” Sooyoung menepisnya, “tidak, tidak perlu.”

“Duduk atau aku akan membuka mulutku soal Sooyoung si pembuat onar.” Terpaksa, Sooyoung kemudian kembali duduk.

Sooyoung merasa bodoh telah mengikuti segala kemauannya. Memangnya siapa dia? Akan tetapi dirinya juga tidak tau mengapa ia mau-mau saja. Myungsoo punya kartu AS yang membuat gadis itu tidak bisa berkutik.

***

Ini adalah hari ketujuh gadis bermarga Choi itu menyeret-nyeret Myungsoo ke kantin. Sebenarnya siapa yang membuat deal siapa juga yang terlihat antusias. Well, sebenarnya Sooyoung tidak pernah keberatan soal mentraktirnya selama tiga bulan penuh, toh uang bukan jadi masalah untuk Sooyoung, yang penting dia tidak kelaparan.

“Myungsoo, aku ingin tahu kenapa kau tidak pernah sekalipun memiliki niat untuk balas dendam padaku?” tanya Sooyoung di sela-sela kegiatan makannya.

Myungsoo mengaduk jus jeruk miliknya, sebelum akhirnya ia menyedot jus itu. “Maksudmu?”

“Maksudku aku pernah memukulmu hingga wajahmu ternodai oleh warna biru yang memprihatinkan. Aku pernah mengganggu dan menerormu.”

“Itu karena–– aku tidak ingin mencari masalah dengan siapapun termasuk dirimu. Belum lagi kukira kau wanita yang tenang dan baik, ternyata saat itu kau mengerikan. Jadi kukira menjauhimu adalah pilihan terbaik.”

Sooyoung meneguk susu cokelatnya yang entah kenapa jadi terasa hambar. Apa aku semengerikan itu? Ada sedikit rasa sakit yang menjalar ketika mendengar Myungsoo mengatakan dirinya mengerikan. Sooyoung mengakui ia memang mengerikan, ia bahkan terbiasa dengan orang-orang memanggilnya seperti itu. Tapi ia tidak pernah berharap mendengarnya dari Kim Myungsoo, lelaki di depannya. Walau Sooyoung sendiri tidak pernah tau apa alasannya.

“Oh begitu. Hidupmu membosankan sekali.”

 

Kebersamaan Myungsoo dan Sooyoung yang sedikit tiba-tiba ini menuai banyak keheranan dari warga sekolah. Terlebih lagi sahabatnya Sungyeol dan juga teman Sungyeol, Jessica Jung dan Krystal Jung.

Ketika Myungsoo datang ke sekolah di esok paginya, duo Jung itu kerap kali menanyainya mengapa bisa seorang Myungsoo berteman dengan wanita menyeramkan itu.

“Myungsoo-ya, kenapa kau mau berteman dengan Sooyoung yang mengerikan itu? Kau tidak jera setelah mendapat pukulannya. Kau sebaiknya berhati-hati,” ujar Jessica memperingati.

“Kau juga jarang makan bersama kami,” ucap Sungyeol nimbrung.

“Itu karena– Sooyoung tidak akan mau jika aku bersama kalian–” Ia tidak mau membayarkan makananku jika bersama kalian! “dan aku ada beberapa urusan sebenarnya,” ucapannya terdengar menggantung, tapi ia bersyukur mereka tidak bertanya lagi.

***

Tiga minggu sudah Sooyoung membagi uang jajannya untuk membelikan Myungsoo makan siang saat istirahat tiba. Dan ia belum mendengar hal-hal yang buruk mengenainya terpajang di mading sekolah. Sooyoung mengangguk, itu tandanya Myungsoo menepati janjinya dengan baik.

Dan seperti sudah naluri atau karena kebiasaan. Begitu jarum jam berdetik di waktu istirahat ia akan langsung meluncur ke bangku Myungsoo, menariknya ke kantin, dan Myungsoo rela-rela saja diperlakukan seperti hewan peliharaan. Toh ia sudah mengerti Sooyoung memang selalu tidak sabar jika itu menyangkut makanan.

Tapi kali itu Sooyoung tidak masuk pada pelajaran, padahal sepenglihatannya ia masih melihat Sooyoung tadi pagi di kelas ini. Sebelum akhirnya menghilang entah kemana.

Dirundung rasa penasaran, Myungsoo melangkahkan kaki keluar. Firasatnya mengatakan ia masih berada di lingkungan sekolah. Selama perjanjian mereka belum habis, Myungsoo memang memberi syarat bahwa Sooyoung tidak boleh membolos, karena itu artinya Sooyoung absen untuk membayarkan makan siangnya.

Myungsoo melangkah keluar, mungkin taman adalah tempat di mana Sooyoung bersinggah. Dugaannya benar, pohon itu. Sooyoung duduk di bawahnya, posisinya tepat seperti pertama insiden pemukulan terjadi. Tapi kali ini Sooyoung tidak membawa headphone bersamanya.

Myungsoo membiarkan langkahnya menuntun dirinya menuju Sooyoung berada. Gadis itu bahkan tak menyadari kehadiran pria itu yang sudah berada di sampingnya.

“Kalau kau membolos terus, kau akan lama bersekolah di sini,” ucap lelaki itu membuka percakapan. “kenapa tidak ke kantin?” lanjutnya.

Sooyoung menarik nafas dalam-dalam, sebelum tangannya meraih sesuatu dari dalam sakunya. Sooyoung kemudian menyodorkan sejumlah uang. “Pergilah, gunakan itu untuk makan siangmu.”

Daripada mengambil uang itu, Myungsoo justru ikut duduk menyandar di bawah pohon. Myungsoo mulai menyadari ada sesuatu yang salah padanya.

“Kalau kau tidak keberatan, cerita saja padaku, anggaplah aku temanmu setidaknya untuk satu hari.”

Sooyoung menengok, dilihatnya Myungsoo dengan wajah seriusnya. Sooyoung tidak pernah berfikir bahwa Myungsoo bisa bertingkah seperti teman dekatnya, Sooyoung tidak pernah percaya pada orang yang baru dikenalnya begitu mudah, apalagi orang yang pernah mencari masalah dengannya.

Sooyoung menatap Myungsoo ragu.

“Baiklah aku tidak memaksamu.”

“Tadi malam ibu dan ayahku bertengkar hebat. Ayahku ternyata memiliki simpanan, ayah meminta ibu untuk segera bercerai. Aku tidak pernah tahu bahwa konflik orang tua bisa seberat ini, kukira aku paling beruntung di dunia. Ternyata ibu dan ayah memang tidak saling mencintai dari awal, tapi ibuku khawatir akan kondisiku, sehingga ia tidak mau bercerai. Setelah aku dewasa, aku baru sadar ternyata aku lahir dari sebuah kesalahan,” Sooyoung terdiam sejenak, sementara Myungsoo masih mendengarkannya baik-baik.

Itulah sebabnya semenjak kecil aku sering mendengar mereka bertengkar. Dan seakan tidak peduli pada keluarga, ayahku hanya memikirkan uang dan uang. Ayahku membenci aku dan ibuku. Bahkan ayah pernah mengunciku di dalam gudang selama seminggu hanya karena aku nakal dan banyak merepotkan ayah.”

“Keluargaku memang menyedihkan.”

Myungsoo menatap gadis di sebelahnya prihatin. Kim Myungsoo sadar, semua yang ada di dirinya, tidak ada pada Sooyoung.

Myungsoo orang yang suka kedamaian, sementara Sooyoung gemar menciptakan keributan. Myungsoo tidak suka perkelahian, sementara semua Sooyoung selesaikan dengan kekerasan. Myungsoo adalah murid nerd, tapi wajah super tampannya menghapus imej nerd-nya sekalipun dia adalah kutu buku, sementara buku adalah musuh besar Choi Sooyoung.

Ia mengerti, ternyata dibalik sikap setiap orang, ada alasan yang menyertainya.

Myungsoo menepuk-nepuk pundaknya, “Kau bisa menangis kalau kau mau.”

Sooyoung tertawa hambar, “untuk apa aku menangis? Aku tidak suka menangis, aku suka berkelahi.”

“Menangis itu manusiawi, bahkan lelaki pun berhak melakukannya. Tidak ada yang salah dengan mengeluarkan air mata.”

Sooyoung kemudian tersenyum menenangkan, meyakinkan bahwa dirinya tidak akan menangis. “tapi sungguh, aku tidak ingin.”

“Myungsoo-ya,”

“Ya?”

Sooyoung tersenyum tulus, “Terima kasih telah menjadi temanku hari ini.” Ini adalah kali pertamanya Sooyoung menguapkan kata terima kasih. Myungsoo membalasnya tak kalah manis, bahkan sangat manis.

“Bahkan untuk seterusnya juga tidak masalah.”

Choi Sooyoung adalah gadis baik-baik, Sooyoung adalah gadis hangat. Ia hanya butuh kasih sayang orang tua. Myungsoo mengerti mengapa dirinya bisa seperti ini, bisa meraih pendidikan dengan beasiswa, semua berawal dari keluarga. Keluarganya memfasilitasi semua kebutuhan belajarnya dengan senang hati, seluruh anggota keluarga mencintainya sepenuh hati. Sehingga Myungsoo mampu memberikan sesuatu yang membanggakan orang tuanya, yaitu beasiswa. Sesuatu yang baru telah mengetuk hatinya.

Dalam hati ia membulatkan tekadnya kuat-kuat, ia sudah bertekad untuk membawa Sooyoung kembali pada jalan yang benar. Dan langkah paling pertama yang mesti dilakukannya adalah menjadikan Sooyoung sebagai temannya.

–To Be Continued–

 


 

*) Mianhae banget kalo alurnya cepet dan buru-buru. Soalnya aku gak mau kalo ff ini nyampe lebih dari 5 chapter. Rencananya ff ini gak akan panjang banget. Jadi ya mianhae banget.

Terakhir, berikan komentar ya🙂

 

33 thoughts on “Dream Girl [Chapter 3]

  1. sparkmvp April 6, 2014 / 7:50 PM

    Akhirnya datang jugaaa
    Semangat nulisnya kak! Next chapternya cepet dateng ya ;D

  2. DeliaaOKT April 6, 2014 / 8:06 PM

    Keren ffnya..jarang2 nemuin ff myungsoo-sooyoung
    ditunggu next chapternya ya:D

  3. inettalenilakbs April 7, 2014 / 4:29 AM

    next kak…..
    aku suka ff yang ini, ternyata menarik juga.
    kak aku tunggu, yang stolen Cat nya.

  4. FAnoy April 7, 2014 / 4:00 PM

    Mian baru komen..saya baru tau ada ff ini..jarang banget myungsoo-sooyoung..aku beruntung mbaca ini..keep writing..fighting ‘-‘)9

  5. Emmalyana25 April 7, 2014 / 4:18 PM

    keren!!!
    sooyoung eonni sumpah cowoknya keluar yah -__-
    aciee myungsoo..
    next ditunggu

    • winterchan April 7, 2014 / 6:57 PM

      hahaha sekali sekali sooyoung agak serem kan gapapa
      sip tunggu ya😀

  6. Nazihah Mohsein April 7, 2014 / 4:48 PM

    Next chapternya cepet dateng ya ;D

  7. Amel Ryriis April 7, 2014 / 11:21 PM

    Suka2 sma karakternya soo disini,terus nnti myungsoo ubah kepribadian soo,psti keren jdinya,😀
    next part ditnggu😉

    • winterchan April 9, 2014 / 9:33 AM

      hehe sekali sekali karakter soo kaya gini😀
      sip tunggu ya ^^

  8. @ggcsy24 April 7, 2014 / 11:27 PM

    wah.. udah lama aku tunggu ff ini, akhirnya muncul juga yeay!! ternyata sooyoung nakal gara2 broken home ya? myungsoo juga baek banget ya ampun.. next thor

    • winterchan April 9, 2014 / 9:36 AM

      nah 100 buat kamu! /?
      iya myungsoo justru kebalikannya
      sip🙂

  9. selviiii April 8, 2014 / 4:32 AM

    Kerennnn . Next thor🙂

  10. miss_sooyoungster10 April 8, 2014 / 9:44 PM

    Yeaa, akhirnya FFnya muncul juga.
    Akhrinya juga Myungsoo-Sooyoung udh baikkan…Senangnyaa🙂
    Next~

    • winterchan April 9, 2014 / 9:31 AM

      gak baik marahan lama-lama /?
      sip🙂

  11. fyevita April 10, 2014 / 7:13 PM

    wow, keren bgt! gak sabar nunggu part selanjutnyaa. lanjut thor^^

  12. Vi April 10, 2014 / 8:18 PM

    Wow myungsoo kayak kesatria yah. Aku nunggu kelanjutnnya ya😀

    • winterchan April 11, 2014 / 6:24 AM

      Hehe myungsoo mah power ranger /?
      Oke oke🙂

  13. wufanneey April 12, 2014 / 1:55 PM

    ceritanya ordinari banget. tapi manis.
    myungsoo bener-bener murid biasa di sini, bukan kingka dan semacamnya, yah aku suka! ^o^
    alasan di balik kelakuan Sooyoung yang semena-mena itu… pasti ada.
    semoga kamu bisa merubah Sooyoungie secara perlahan, Myungsoo-yah😀
    Keep writing gelsha…

    • winterchan April 12, 2014 / 8:44 PM

      Jinjja?
      Nah iya bener ‘-‘
      haha oke oke sip makasih kak😀

  14. Rizky Amelia April 21, 2014 / 1:50 AM

    Jadi Sooyoung nakal gara gara broken home
    Semoga aja Myungsoo bisa ngerubah dari Sooyoung yang nakal ke Sooyoung yang baik

    Next paartnya ditunggu eonni^^

    • winterchan April 21, 2014 / 9:07 PM

      nah iya hehehe
      amin hehe, sip oke😀

  15. sungjae June 6, 2014 / 6:02 PM

    Diterusin y thor….. aq suka crita.x…..^^

  16. Lovanisa October 28, 2014 / 6:08 AM

    Keren keren keren

  17. SYLove February 20, 2015 / 5:57 PM

    Satu hal yang aku pikirin setelah baca part ini, Sooyoung anak broken home dan itu faktor utama knp Sooyoung brutal.
    Tapi sebrutalnya Sooyoung dia nepatin janji dan hangat.

    Nonjoknya kurang greget harusnya sebelah satunya juga hahaha
    Myung itu baik hati dan tidak sombong! (rajin menabung dan membantu orang tua)

    R.N(?): Semoga pedekate-nya berhasil. Fighting!
    Kartu As yaa? Aku punya kartu joker hahaha (kidding)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s