CONNECTION – EPISODE 02

pr-by-wufanneey

Title: Connection
Author: Fanneey Wu
Artworker:  (Poster credit by) Borayoung
Genre: Action, Romance, Suspense
Rating: PG+17
Length: Series
Leanguae: Indonesian
Casts: Choi Sooyoung [SNSD], Lee Gikwang [BEAST], Xiao Luhan [EXO-M], and many other will come soon.
Inspiration: “Guilty Crown” anime, “Accimus” fanfic by Flow19, “Complicated” fanfic by Raeheechul, “Departures” song by Egoist.
Warning: Typos, death characters, bad storyline.
Author’s Note: Sebenarnya ini fanfic kolaborasi Fanneey dan Fadhilah yang pertama, dengan judul awal “Before The Dawn”, tapi judul dan jalan cerita diubah drastis oleh saya sendiri karena storyline sebelumnya nggak bisa dilanjut, haha.
Terima kasih untuk inspirasi dan penyemangatku Fadhilah, dan Kak Elisa atas sarannya tentang cara membuat fanfic yang menarik.
Saranghamnida yeorobun (^-^)

***

 

Sekarang aku sendirian di dunia ini, apa yang harus kurasa dan kupikir?
Setelah kita menghabiskan waktu bersama dan berbagi perasaan kita
Dan kau di sisiku sementara waktu
Rasa sakit itu yang aku tanggung

Untuk tidak mengizinkanmu pergi
Bahkan jika aku menahan tanganmu ketika kau meninggalkanku
Ketika aku berbisik, “Semua sudah kulakukan untukmu.”
Kau sudah tak mempercayai itu

Sekarang aku berlari ke arahmu
Tidak peduli berapa kalipun aku terjatuh dan tersesat
Tunggulah aku, aku datang untukmu
Tidak peduli seberapa kesulitan menghadangku

[Supercell, Guilty Crown Ost. Ending]

 

***
Episode 02 – Tentang Lee Gikwang

 

Pyeongchang Resort, Gyeonggi-do.

 

Sinar rembulan menerangi gelapnya malam di halaman belakang Resort kepunyaan keluarga Lee Sunkyu. Lampu taman yang temaram dan gemericik air kolam terdengar samar. Menggambarkan para ikan yang sedang bersenang-senang di dalamnya. Merengkuhnya. Saat-saat malam itu tak bisa hilang dari ingatannya. Lee Gikwang meremas kaleng soda yang habis ia minum, lalu melemparnya sembarang. Telapak tangannya yang terbalut perban—karena luka kejadian tabrak lari—tak ia perdulikan, yang ia pikirkan kini adalah seseorang itu. Pengemudi nekat itu. Kurang ajar!

Trek!

“Ah!” jerit seseorang dari balik tubuhnya. Gikwang menolehkan kepalanya, sepertinya kaleng sodanya telah menimpuk orang tak bersalah. Astaga, itu Choi Sooyoung.

“Cheosonghamnida. Saya tak melihat Nona.” Gikwang membungkuk. Sooyoung hanya tersenyum tipis membalasnya, menghampiri Gikwang dan berdiri di sampingnya.

“Nona baik-baik saja?” / “Lukamu bagaimana?” pertanyaan yang kompak. Membuat mereka saling bertatap, sekejap. Lalu, tertawa lepas.

“Aku baik-baik saja,” jawab Sooyoung mengajukan diri. Lalu pandangannya kembali mengarah pada tubuh Gikwang, menyorot telapak tangannya yang terbalut perban. “Tapi lukamu kelihatan buruk.”

“Terima kasih sudah peduli, Nona.” Lagi-lagi senyum khas itu, Gikwang menatap Sooyoung.

“Senyummu manis sekali, Gikwang.” Polos, Sooyoung berkomentar. Dikomentari seperti itu, Gikwang malah salah tingkah. Sudah banyak wanita yang memuji senyum menawannya, tapi oleh Choi Sooyoung tentu akan berbeda kasus.

“Anda… terlalu jujur,” Gikwang menghela nafas pendek sebelum kembali melanjutkan (setelah ia berhasil mengendalikan dirinya, tentu saja), “Sebenarnya saya tidak sebaik itu memperlihatkan senyuman pada sembarang orang.”

“Apakah aku adalah sembarang orang?” tanya Sooyoung, tampaknya gadis itu semakin bingung.

“Agaknya begitu.”

“Bagaimana agar aku menjadi ‘bukan sembarang orang’ bagimu?”

Eh? Gikwang mengerjap bingung. “Saya… tidak tahu.”

“Beritahu aku caranya jika kau sudah tahu,” pinta Sooyoung. “Aku merasa bersalah padamu.”

Apa ini maksudnya, Choi Sooyoung ingin lebih dekat dengannya? Jalan pikiran gadis ini misterius sekali. Apalagi hawa keberadaannya yang tipis. Jadi semakin menyeramkan saja, pikir Gikwang ngelantur.

“Nona tak perlu merasa bersalah kepada saya. Karena dari sisi saya, melindungi Anda merupakan suatu kewajiban.”

Sooyoung seolah terpaku. Ia merasa perkataan Gikwang memang benar adanya. Ia yang merasa bersalah. Karena apa? Sooyoung tak tahu pasti. Gadis itu memang agak cemas saat melihat Gikwang di ruangannya tadi. Ia melihat Gikwang yang sedang menjahit telapak tangannya sendirian lalu membalutnya dengan perban. Sementara dirinya, yang hanya luka kecil pada sikut, sampai memanggil Dokter dan diobati secara profesional.

“Sudah lama aku tidak merasakan perasaan ini,” ungkap Sooyoung pelan. Ia menyentuh dadanya dan merasakan detak jantungnya berbeda. “Perasaan bersalah… dan cemas.”

Gikwang hendak membuka mulutnya, tapi terkatup lagi saat mendengar sebuah ringtone yang keluar dari ponsel Sooyoung. Sooyoung segera menerima panggilan.

“Aku tidak apa-apa, Gikwang menjagaku dengan baik, Ayah,” ujar Sooyoung setelah ia menyentuh tombol hijau di layar ponselnya. Oh, harusnya Gikwang tahu kejadian sekecil apapun menyangkut Choi Sooyoung akan langsung meroket ke telinga Choi Jungnam. “Selamat malam, Sooyoung juga mencintai Ayah.”

Choi Sooyoung menyaksikan Lee Gikwang yang melangkah pergi meninggalkannya di taman belakang, setelah ia memutuskan panggilan dari Sang Ayah. Untuk pertamakalinya, ia merasa menyesal telah menjawab panggilan Ayahnya.

 

***

 

Cube, Markas Rahasia BEAST, Ilsan.

 

“F2B1,” pria ber-eyesmile itu terus mengulang kata yang sama. Ia mengetuk-ngetuk jarinya di meja hingga menimbulkan suara. Berpikir keras akan sesuatu. “Aku tidak asing dengan plat nomor ini, sungguh.” Lee Gikwang meyakinkan diri.

“Apa lagi yang kau ingat selain ini?”

Yang ditanya langsung menggeleng, menyesal. “Mobil hitam, tidak terlalu jelas terlihat. Tapi kurasa itu keluaran 2008.” Tambahnya kemudian. Mungkin akan membantu.

“Ini pertama kalinya kau lengah, Gikwang.” Ujar Doojoon, lawan bicaranya, dan Gikwang mengakuinya. “Bagaimana bisa? Melakukan tabrakan malam hari di tempat terbuka, tidak akan ada yang menyangka itu adalah kecelakaan di sengaja, pintar.” Doojoon terus berpikir. Plat nomor mobil itu terus tercatat berulang di benaknya.

“Haruskah kita tanya polisi soal plat nomor itu?” usulan Yoseob dibalas Doojoon dan Gikwang dengan tatapam tajam. “Oke, ide buruk.” Pria tak terlalu tinggi itu tersenyum kikuk.

“F2B1, For Two Be One!” tiba-tiba sebuah suara menyeruak, spontan semua menoleh pada orang yang baru berkoar itu. Mata Dongwoon berbinar-binar. “Iya kan? Iya kan? Aku ingat kumpulan anjing gila itu!”

“Bocah ini benar. Kumpulan mafia yang menyerbu China tahun lalu,” timpal Yoseob, lalu bertukar senyum cerah dengan Dongwoon. Seakan mendapat ilham, senyumnya kian melebar. “Kami sempat berhadapan dengan mereka.” Tambahnya bangga.

“Siapa tepatnya yang kau panggil bocah, Bocah?” Dongwoon mencibir. Yoseob membalas kalau ia hanya kalah soal tinggi badan karena Dongwoon lah yang bocah.

“Oi, oi! Jadi, kalian mengalahkan mereka?” Gikwang memecah perdebatan Yoseob dan Dongwoon perihal ‘siapa yang lebih bocah’. Karena ditilik dari segi wajah, Yoseob kalah tua. Namun dari segi sifat kekanakan, Dongwoon unggul.

“Jumlah mereka lebih banyak saat itu, kita cuma berdua!” Dongwoon menjawab, ia membuat v dengan kedua jarinya. “Hyung pikir kita bakal menang dengan keadaan payah begitu? Mereka juga bicara bahasa alien!”

“Itu bahasa mandarin, Baka.” cibir Yoseob.

“Tunggu, ini… tentu saja…,” air muka Doojoon Sang Leader berubah lebih serius. “Mereka tidak akan bergerak tanpa orang yang mengendalikan mereka, kekhawatiran Presdir Choi ternyata benar.”

Gikwang merengut kesal. Lalu menjatuhkan tubuhnya pada sofa.

“Berpikirlah jernih, Kawan.” Saran Yoseob sambil membuat balon dari permen karet yang sedang di kunyahnya. Lalu… plop! Balon karet pink itu meletus dan membuat mulut-pipi-hidungnya belepotan. “Sayangnya aku tidak bisa membantumu lebih dari ini, misi baru sudah memanggilku.” Sesalnya kemudian, setelah mengusap bersih permen karet yang menempel di separuh wajahnya lalu kembali mengunyahnya, dan Gikwang bersumpah ia ingin muntah melihatnya.

“Ayolah!” Gikwang menatap teman-temannya bergantian.

“Aku juga tidak bisa, Hyung. Latihan dari Hong-appa menunggu untuk kukerjakan,” Dongwoon turut menyesal. “Kau tahu, kan? Kaboom! Beladiriku masih agak payah.” Gikwang menatap Dongwoon sangsi, mungkin ‘agak payah’ di sini lebih bisa ditafsirkan menjadi ‘sangat payah’.

Lantas Gikwang menyorot Doojoon, memelas.

“Jangan tanya aku!” tolak Doojoon cepat, lalu melangkah pergi. “Jangan gila! Kau tak akan bertanya padaku bukan?” Gikwang tahu Doojoon baru saja pulih dari kejadian yang membuat tulang keringnya patah. Jadi ia tahu pasti tak mungkin Doojoon membantunya. Ah, sial.

BRAKK!

“Yang Yoseob!!!”

“Uh-oh,” Yoseob mengerjap cepat, lantas menatap Gikwang dengan ekspresi serius berlebihan. “Yosh. Aku harus pergi. Demo… ganbatte, Kwangie. Do’aku menyertaimu.”

Bertepatan saat Yoseob meluncur melewati Gikwang, Yong Junhyung masuk semena-mena dan menarik kerah kemeja Yoseob. “Hyu—Hyung! Jangan tarik kerah itu! Ini mahal! Stok terbatas! Aku mengantri selama tujuh jam untuk mendapatkannya! Sekali dipakai efek kegantenganku meningkat dua kali lipat! Aaa—yah!” Junhyung melepas kerahnya lalu menarik telinga Yoseob. “Ayayayayah! Ampun, Hyung! Ampun!”

“Brengsek! Kau yang memasak sup mengerikan itu kan! Kau mau membunuhku?!—dan sumpal mulutmu itu, Cebol! Itu mulut atau saluran air hah?!”

“Huaaa! Jangan dimakan Hyung itu gagal!—dan ini mulut, bukan saluran air! Dikira aku wastafel apa?”

“Sialan aku lapar! Tidak adakah di antara kita yang bisa masak?!”

“Hyung… telingaku… onegai…” (T___T)

“Memangnya itu makanan apa, sih? Rasanya seperti sup daging kuda dari Gehenna! Daripada dimakan, malah sepertinya sup itu yang bakal memakanku.”

“Eh—Hyung pernah ke Dunia Iblis? Keren!” Junhyung memelintir telinga Yoseob. “Hayaaah! Sakit, Hyung! Itu—itu namanya Soto Betawi, Hyung. Aku menemukan resepnya di koran pembungkus gorengan.”

“Yack!” Junhyung nyegir asam. “Dongsaeng sialan!”

Yoseob meringis sembari menangkup kedua tangan di depan wajahnya. “Sumimasen!—demo, lepaskan telingaku, Juneechan…”

Selaku penonton, Yoon Doojoon menatap kedua orang itu (Junhyung – Yoseob) lurus-lurus. Ia menggeleng lambat ditambah helaan napas berat yang begitu mendukung suasana dramatis. “Seharusnya aku tidak membiarkan anak SD memegang peralatan dapur, ck.”

“Waks! Aku 21 tahun, Lead-ah!” Yoseob sewot.

“Eung,” gumaman Gikwang tiba-tiba menginterupsi. Ia mengangkat tangan kikuk dan tersenyum agak sangsi, “Kalian ingat permasalahan yang lagi kita bahas di sini, kan?”

Sang Joker yang baru katanya memakan sup kuda dari Gehenna menoleh kepada Gikwang dan menyahut santai, benar-benar bipolar. “Oh. Gikwang-ah, kebetulan ada kau. Seprai Yoseob bau sekali dan boxer-boxer kotorku belum dicuci, titip yah.”

Mata Gikwang membola.

Terima kasih kepada Junhyung, sama sekali tidak membantu.

“BUKAN ITU, HYUNG!”

Hah! Memangnya aku laundry berjalan apa?!

Gikwang tidak percaya manusia-manusia ini adalah Agen Secret Service yang begitu keren jika digambarkan di film-film. Bayangkan berapa banyak penggemar mereka yang bakal patah hati menerima kenyataan para Bodyguard keren ini punya seprai bau dan boxer kotor, dan sup mematikan, dan markas minimalis super berantakan. Demi Tuhan, untuk beribukalinya Gikwang mendambakan kehidupan pria normal pada umumnya.

Eh, eto.

Bicara soal pria normal… dimana Jang Hyunseung?

“Hyunseung-hyung kan lagi punya misi dengan Prepix Lau, ingat?” celetukan Yoseob membuat Gikwang ingin menjitak kepalanya. Cebol sialan!

Gikwang menggaruk puncak kepalanya. Semua member BEAST tidak bisa ia andalkan saat ini. Waktunya bekerja sendiri. Dan, fokus.

 

***

 

Kediaman Keluarga Choi, Gwangjin-gu.

 

Sebuah mobil merah marun terparkir depan kediaman Choi. Kakinya menuruni mobil yang baru saja ia parkirkan. Terkejut karena mobil yang terparkir di samping mobilnya berplat nomor F2B1, Lee Gikwang mempercepat langkahnya, mimiknya terlihat kebingungan dan seolah sedang mencari sesuatu. Bagaimana bisa mobil itu ada di sini?

“Maaf, apa kau sedang mencari sesuatu?” tanya salah seorang gadis dengan ramahnya—juru masak keluarga Choi, namanya Hyoyeon. Di samping Hyoyeon terlihat Sooyoung sedang mengunyah kentang gorengnya sambil duduk di bangku panjang.

“Ah, kebetulan. Saya sedang mencari kepala pelayan Cho, apa kau tahu di mana beliau berada?” sahut Gikwang penuh harap. Hyoyeon terlihat bepikir sejenak.

“Jika tak salah Kepala Pelayan Cho sedang berada di halaman depan. Karena aku sehabis mengantarkan makanan ke sana.” Jawab Hyoyeon. Setelah berterimakasih Gikwang melewati Hyoyeon begitu saja dengan cepat.

“Gikwang,” panggilan Sooyoung, membuat Gikwang menghentikan langkahnya.

“Ada apa Nona Sooyoung?” sahut Gikwang dengan pertanyaan ramah.

Membuat Sooyoung mengerucut cherry merahnya. “Kau selalu berkata formal kepadaku, waegeuronni?”

“Karena Anda adalah majikan saya.” Jawab Gikwang sekenanya.

“Kalau aku adalah majikanmu, kemarin kemana kau pergi? Aku tidak melihatmu di sampingku.”

“Kemarin?” Gikwang memutar otaknya. Sial, kemarin kan ia pergi ke Markas. “Maaf membuat Anda bingung, kemarin saya pulang untuk mengurus beberapa keperluan.”

Manik obsidian Sooyoung membelo. “Berarti kau punya rumah? Di mana?”

“Di Ilsan.”

Kali ini, manik hawa cantik itu berbinar-binar. “Bolehkah aku pergi ke sana?”

“Maaf, tapi tidak boleh, Nona.”

Jawaban mengecewakan. Dan, Sooyoung tampak kesal. Tanpa pamit ia menggandeng tangan Hyoyeon dan membawanya pergi. Gikwang berpikir bahwa jalan pikir Sooyoung benar-benar gadis aneh. Mana ada majikan yang ingin mengunjungi rumah bawahannya?

Ah, tunggu! Sesosok pria bertubuh gempal yang menggunakan pakaian berwarna biru dongker, bukankah itu Kepala Pelayan Cho? Tangan Gikwang meraih bahu pria itu, dan membuat pria itu agak terkejut. Pria bertubuh gempal itu menoleh dan menatap heran pada Gikwang.

“Chogiyo, Ahjussi, bisakah saya meminta waktu Anda sebentar?”

“Ah, tentu saja Pengawal Muda. Ada apa kau meminta waktuku?” jawab pria itu—kepala pelayan Cho—dengan ramah. Mendapat kesempatan, Lee Gikwang menodongnya dengan beribu pertanyaan yang bersangkutan dengan F2B1. Dan, sebuah jawaban yang membuatnya hampa adalah ketika kepala pelayan Cho berkata, “Sopir mobil berplat F2B1 baru saja dipecat malam tadi, dan saat ini sudah ada sopir yang baru.”

Otak Gikwang mendadak suram. Karena baginya itu adalah sebuah musibah besar, yang berarti lampu hijau telah menyala, yang menyatakan permainan telah dimulai.

 

***

 

Kyungdo Apartemen, Ilsan.

 

Lee Gikwang memang payah. Memutuskan pulang ke Ilsan, ke apartemen kecilnya untuk menenangkan diri. Jauh, jauh di lubuk hatinya ia tak tega meninggalkan Sooyoung. Namun melihat bahwa banyak orang-orang baik di sekitar gadis itu membuat perasaannya jauh lebih baik. Sejujurnya, pulang ke Ilsan pun ia berencana mengambil beberapa file yang ia simpan di komputernya. Menyangkut kelompok-kelompok mafia yang ia tahu.

Hegh!

Langkah kaki Gikwang mendadak beku tatkala didapatinya siluet tubuh jangkung seorang wanita di depan pintu apartemennya. Surai brunette yang tak asing dan…

130719sooyoungdoublem001

“Gikwang, kau lama sekali.”

Suara sedatar papan tenis milik Choi Sooyoung!

“No… Nona Sooyoung?!”

“Berikan tanganmu,” tanpa Gikwang menyerahkan tangannya, Sooyoung sudah mengambil alihnya, lalu menempelkannya pada sensor di samping pintu dan tada! Pintu pun terbuka menampakkan sisi dalam apartemen Gikwang yang luarbiasa membinasakan mata.

Berantakan.

“Ini pertamakalinya aku mengunjungi apartemen seorang pria, sendirian.” Kata Choi Sooyoung jujur. Tanpa dipersilahkan atau melepas wedgesnya ia melangkah masuk.

“Sendirian?!” lagi-lagi, Gikwang dibuat kaget. “Ini juga pertamakalinya seorang wanita masuk apartemenku—eh apartemen saya!”

“Apa itu berarti buruk?” Sooyoung menoleh ke belakang dimana Gikwang masih berdiri kikuk. Mata rubi nan bening itu… astaga, tidak adakah gadis yang lebih polos dari Choi Sooyoung?

Buruk! Ini benar-benar buruk jika kubilang aku pria dan kau wanita! Dan aku benar-benar pria! Dan kau benar-benar wanita, Nona! Gikwang hanya mengungkapkan unek-uneknya dalam hati.

“Ti… tidak.”

“Jadi di mana aku bisa tidur?”

Tidur? Menginap? Di sini? Aku bahkan hanya punya satu kamar!!! Jika bisa, Lee Gikwang mungkin sudah menangis darah.

“Tu… tunggu, Nona! Nona Sooyoung!”

Sepertinya Nona Muda Choi tak membutuhkan jawaban Gikwang karena sejurus berikutnya, hawa cantik misterius itu melangkah ke sebuah ruang yang bisa disebut kamar. Tergesa, Gikwang menyusulnya, namun karena ceroboh ia terjerembab dengan posisi tengkurap di hadapan pintu kamarnya sendiri.

BRUKK!

Dan, tatkala ia berdiri, ia melihat Sooyoung menanggalkan sepatunya dan duduk di atas ranjang, menerawang apakah nyaman jika dirinya tidur di situ. Satu tangan Sooyoung meletakkan koper yang dibawanya di samping, membukanya dan mengambil sebuah gaun tidur berwarna biru laut. Tanpa mengunci pintu, dengan tenangnya Sooyoung melepas satu persatu blazer dan dress motif polkadotnya, kemudian ia memakai gaun tidurnya.

“Nona… Soo—young.”

Blush.

Mulut Gikwang membulat. Wajahnya merah padam hingga cuping telinganya. Tahu-tahu peluhnya mengucuri dahi dan atmosfer dalam kamarnya mendadak panas.

Apa…

Gadis itu baru saja…

Berganti baju di depan mataku?!

Sooyoung menoleh ke belakang di mana ia memunggungi Gikwang. Jantung Gikwang marathon memperhatikan detil gerik Sooyoung. Ingat Gikwang adalah pria! Dan Sooyoung wanita! Dan wanita berganti baju di kamar pria dan pria itu melihatnya! Apa kira-kira yang akan dilakukan Sooyoung selanjutnya?

Dum! Dum! Dum!

“Ma-maafkan saya Nona! Saya tidak sengaja! Bunuh saja saya, saya memang bersalah! Ta-tapi itu karena pintunya terbuka dan Anda tidak menutupnya jadi saya tidak tahu dan—”

Diluar dugaan, dengan ekspresi polos tanpa dosanya Sooyoung menyela, “Gikwang, aku lapar.”

Kukira dia bakal menghajarku, Tuhan!

“Makan?” setelah jeda limabelas detik, Gikwang berhasil mengontrol laju otaknya lagi. Walau yah, tetap saja ia tak berani bersitatap dengan Sooyoung atau ia akan menerkam gadis itu sekarang juga.

“Ya, onigiri.” Sooyoung mengangguk. Si Cantik Choi ini memiringkan kepalanya, membuat pemandangan yang berefek pada jantung Gikwang—berolahraga kedua kalinya.

Sooyoung sungguh, terlihat seduktif dan polos di saat yang bersamaan. Siapapun tolong kuatkan iman Gikwang malam ini.

 

***

 

“Yo, Brother! Kau ada di rumah? Ada yang perlu kubicarakan denganmu! Ini mengenai kelompok mafia F2B1!” seruan penuh semangat Yang Yoseob sayangnya tidak membuat semangat bertualang Lee Gikwang pulih. Tiga detik yang lalu Gikwang megangkat panggilan dari Yoseob dan tiba-tiba saja manusia petasan satu itu meletup-letup di telinganya. Membuatnya berdeging parah.

Sedikit malas, Gikwang menyahut sekenanya, “Ya, aku di rumah.”

“Yosh! Limabelas menit lagi aku sampai, mattenayo!”

“Hah? Tidak-tidak! Maksudku tidak sekarang! Tunggu! Kau tidak bisa datang ke sini ketika ada—”

“Kalau kau mengkhawatirkan rumahmu yang seperti dilanda tsunami itu, aku sudah memakluminya. Jadi, tunggu aku, oke? Aishitemasu, muah!”

“YAH! ANDWAE! Yang Yoseob kau tidak bisa—!”

Piiip…

Bagus.

Eh—tidak, ini buruk.

Gikwang menoleh ke arah Sooyoung yang tengah melahap onigiri buatannya di meja kerjanya dengan tenang. Perjelas, onigiri buatannya! Langka sekali seseorang bisa memakan masakan Lee Gikwang! Chakkan, kenapa jadi membahas itu?

Kita kan sedang membahas tentang—TIDAK BOLEH! Yoseob tidak boleh datang atau si Fake Maknae Berisik itu akan menuduhnya pria kotor karena membawa seorang gadis ke apartemen. Tapi tunggu, bisa saja ia menjelaskan dan semuanya akan beres, kan? Tapi tetap saja, ia akan mati karena malu! Tak berkutik di hadapan seorang Choi Sooyoung? Gosh!

“Apa itu temanmu, Gikwang?”

“Apa? Siapa?”

“Yang tadi menelepon,” ucap Sooyoung dan duduk di samping Gikwang. “Namanya Yang Yoseob?”

Entah kenapa Gikwang merasa, pertanyaan-pertanyaan aneh yang selalu dilontarkan Sooyoung setiap saat mengenai kehidupan pribadinya itu berbahaya. “Uh—yah.”

“Dia akan datang ke sini. Apa kau akan mengenalkannya padaku?”

“Tidak.”

Sooyoung tampak kecewa. “Kenapa?”

Karena kau berbahaya! Arrrgh!

Alih-alih menjawab, Gikwang malah mengalihkan topik pembicaraan, “Ini sudah larut, Nona. Sebaiknya Anda segera tidur.” Sooyoung menatap Gikwang, ia tak bergerak barang sesentipun, membuat Gikwang bertanya-tanya, “Ada yang salah?”

“Kau mirip Luhan.”

“Siapa?” familiar, sepertinya Gikwang tak asing dengan nama itu. Gikwang menajamkan ingatannya dan… ah! Malam dimana Sooyoung mengigau dan menyebut-nyebut nama Luhan!

“Kau mirip Luhan, jadi aku merasa nyaman jika bersamamu.”

Tidak, sebenarnya. Bukan hanya merasa nyaman, tapi juga merasa terlindungi. Sooyoung percaya pada Gikwang, Ayahnya bilang Gikwang akan menjaganya. Tapi Sooyoung tidak mengira Gikwang bakal menjaganya seperti Luhan menjaganya. Perasaan bersalah, perasaan cemas, perasaan nyaman, perasaan hangat ketika bersama Gikwang, sama seperti ketika ia bersama Luhan. Sooyoung merindukan Luhan, tapi Luhan tak bersamanya. Jadi, untuk alasan itulah ia mendekati Gikwang, ia tengah menyalurkan rasa rindunya yang terpendam untuk Luhan, pada Gikwang.

Apa tidak boleh?

“Luhan suka mengawasiku kemanapun aku pergi. Luhan suka melindungiku apapun yang terjadi. Luhan suka memasakkan sesuatu untuk kumakan. Luhan suka menyuruhku cepat tidur jika sudah larut.”

“Luhan melakukan semuanya?”

“Ya, sama seperti kau melakukannya, Gikwang.”

“Jadi, siapa seseorang bernama Luhan itu, Nona?”

“Dia…”

Rambut Sooyoung begitu wangi, Gikwang bisa mencium sepuasnya dengan jarak sedekat ini. Dan tatapan itu… tidak seperti biasanya. Gikwang merasa Sooyoung tulus padanya, dalam hal apa, ia tak tahu. Hanya dengan menatap matanya… mata yang semakin membesar, mendekat, semakin indah dan menarik wajahnya lebih dekat, berakhir tertutup.

Sooyoung menawarkan, jadi Gikwang menerima. Singkatnya, Gikwang mencium Sooyoung. Bukan di dahi, pipi, atau hidung, tapi tepat di bibir. Walau kelihatannya dingin dan jarang tersenyum, namun ternyata bibir Sooyoung manis seperti permen, dan bibir Gikwang begitu penuh meraupnya. Kedua lengan Gikwang gemetar, ia ingin memeluk Sooyoung. Ia ingin melingkarkan tangan di pingganggnya, menahan kepalanya agar mereka tak terlepas. Semakin memikirkan dirinya tak bisa lagi mencium Sooyoung seperti sekarang, semakin ego Gikwang tak terelakkan. Ia kalah melawan naluri lelakinya, kebutuhan yang membuncah akan Choi Sooyoung yang entah kapan telah menjadi candunya, sukses menguasainya.

Diluar kontrol, Gikwang membawa tubuh Sooyoung berdiri dan menjorok di sudut ruangan. Mereka masih berciuman. Sooyoung menahan dada Gikwang dengan kepalan tangannya agar Gikwang tak menghimpitnya, dan Gikwang lengan kekar merengkuh pinggangg kecilnya.

“Ah… Gikwang…”

Gikwang menciumnya lagi setelah mereka mendapat udara beberapa detik. Kali ini lebih dalam, lebih lama. Gikwang menyadari Sooyoung kurang responsif dalam berciuman jadi ia mengajarinya, secara perlahan. Dan Sooyoung mencoba-coba, membalas ciuman-ciuman itu. Apple Gikwang merah dan penuh, dan cherry Sooyoung menginginkan Gikwang mengajarkan lebih bagaimana cara berciuman, jadi gadis itu menangkup pipi Gikwang tatkala adam berkulit tan itu hendak mengakhiri.

Walau Gikwang tak terlalu tinggi, namun Sooyoung tetap harus berjinjit ketika mencoba memulai ciuman dengan Gikwang. Tentu Gikwang merespon dengan senang hati, dan Sooyoung tersenyum kecil di baliknya. Mereka saling mencium, melumat, menjilat, dan menyesap. Lagi, lagi, dan lagi.

 

***

 

Incheon International Airport.

 

tumblr_mvtkmcVujz1qin5n0o1_1280

“Lay!” pria kebangsaan China yang dipanggil Lay sontak menghampiri seseorang yang baru saja memanggil namanya dengan tergopoh. “Lama tak bertemu.” Lantas kedua adam itu berpelukan sebentar.

“Luhan-gege! Kau semakin kurus saja!” sembari berjalan menyeret koper, Lay berbasa-basi. “Bagaimana kontrak dengan Han? Mereka jadi berinvestasi padamu?”

“Begitulah,” Luhan tersenyum kecil.

Lay membantu Luhan membawa koper-kopernya, kemudian memasukkannya ke bagasi mobil yang akan dikendarai Lay—ia datang sengaja untuk menjemput Luhan. Lay menanyakan Luhan akan langsung ke Apartemennya atau tidak, dan Luhan menjawab kalau seseorang sudah menunggunya di Kediaman Choi, seseorang yang mungkin merindukannya.

Lantas Sang Xiao Tampan melepas kacamata hitamnya, kemudian manik matanya memperhatikan situasi Bandara Incheon yang begitu ramai hari ini. “Bagaimana dengan Sooyoung? Ia baik-baik saja?”

“Ada sedikit masalah, sebenarnya, tapi tidak terlalu serius,” ungkap Lay. “Dan mengenai Nona Sooyoung, kau sidah tahu kalau Presdir Choi meninggalkannya ke Hongkong, bukan?” Luhan menunggu Lay melanjutkan, “Nah, lalu beliau menyewa seorang pengawal untuk menemaninya, itu karena, kau sedang tidak bersamanya, Ge.”

Luhan tergugu. “Shenme?”

“Lee Gikwang, pengawal asuhan Hong Seungsung.”

 

***

 

Kyungdo Apartemen, Ilsan.

 

“Sepertinya,” Yang Yoseob menarik suara. Menatap pria marga Lee yang duduk di depannya penuh selidik. Jari telunjuk Yoseob terangkat, menunjuk sudut bibir Gikwang setengah jijik. “Kau pakai lipstik. Kau abnormal, yah?”

Seketika Gikwang mengusap bibirnya, menghapus lisptik—yang sesungguhnya itu lipstik Sooyoung, dan menggeram pada Yoseob, “Ma-mana mungkin! Aku normal!”

“Tapi kejelian mataku tak bisa tertipu, itu sungguh lipstik yeoja. Warna pink aroma strawberry, sou desu ne?”

Gikwang gelagapan. “Katanya kau mau membicarakan masalah para mafia anjing itu!”

“Wajahmu merah, loh.”

Merah?

Mati mati mati mati mati mati mati saja kau Yang Yoseob!!!

Dengan gerak-gerik aneh Lee Gikwang menyentuh pipinya sendiri. Meraba kalau wajahnya memang panas. Reka ulang adegan ciuman antara dirinya dengan Choi Sooyoung tadi bukan terhitung adegan untuk anak dibawah 17, memang. Dari segi usia Yoseob memang mencukupi untuk tahu, namun dari segi wajah masih kurang jauh. Jadi, Gikwang lebih memilih bungkam seribu bahasa mengenai hal itu. Lagipula, sekarang Sooyoung tengah tertidur nyenyak di kamarnya, poin keberuntungan bagi Gikwang.

“Serius, Yangyo, serius.”

“Oke, maaf. Aku cuma agak penasaran. Dan, mau menjelaskan masalah mafia itu tengah malam begini, maaf lagi kalau-kalau aku mengganggu waktu rehatmu,” Yoseob mengeluarkan secarik foto dari saku jaketnya. Bergambarkan seorang pria dengan rambut kepirangan dan wajah tidak terlalu korea. Yoseob menarik napas pendek sebelum jemarinya menunjuk sosok dalam foto itu dan berkata dengan nada tajam, “Orang ini yang sekarang menggerakkan F2B1.”

“Maaf?”

“Kau tuli, yah? Aku bilang, F2B1 sekarang bekerja di bawah perintahnya. Mereka-mereka yang mengincar Sooyoung adalah bawahannya,” jelasnya lagi. Muka imutnya sama sekali tidak imut jika dalam situasi serius begini, itulah Yoseob. “Namun anehnya, dari informasi yang kudapat, dia adalah tunangan Choi Sooyoung.”

Gikwang terbelalak, detak jantungnya tiba-tiba menggila dan paru-parunya kosong karena detik itu pula ia menahan napas. “Siapa namanya?”

“Xiao Luhan.”

 

***

 

Kediaman Keluarga Choi, Gwangjin-gu.

 

Para pelayan membungkuk hormat saat seorang pria berpakaian formal memasuki ‘Istana’ keluarga Choi. Pria itu tersenyum ramah, menyapa setiap pelayan seperti biasanya. Wibawanya memang selalu terlihat. Putra dari Presdir Xiao yang merupakan seorang pengusaha kaya dan terkenal di bidang elektronik itu memang memiliki pribadi yang disukai semua orang. Pintar, baik hati, dan dewasa.

Xiao Luhan membuka pintu kamar Nona Muda Choi perlahan. Tetapi bayangan akan gadis cantiknya yang terbaring anggun di atas ranjang tak terjadi di kenyataan. Yang dilihatnya kini adalah nihil. Bergegas Luhan menuruni tangga dan menanyai salah seorang pelayan dimana Choi Sooyoung berada.

“Nona sedang bersama pengawal barunya, di Ilsan.” Adalah satu kalimat yang membuat Luhan mendidih. Di saat ia sudah kembali, kenapa justru gadisnya yang pergi?

“Di mana alamatnya? Aku akan menjemputnya sekarang.” Si China Tampan itu menanyai lagi. Sang pelayan kemudian mencatatkan alamat pada note kecil sambil lalu menyerahkannya pada Luhan.

Kyungdo Apartemen, Ilsan.

Jadi… mereka sedang di Ilsan?

Luhan merasakan firasat buruk.

***

A/N (lagi):
Ada yang setuju, kalau Gikwang dan Luhan mirip? Maksudnya, bukan dari segi wajah, tapi dari beberapa sisi mereka memang punya banyak kemiripan, loh.
Visual Grup (bedanya, Gikwang adalah visual yang terasingkan, kkk~)
Dancer Grup (bedanya, Gikwang main-dancer sedangkan Luhan lead-dancer)
Kelahiran 90line, hohoho
Termasuk yang paling cerdas di antara member lain (bedanya, Gikwang selalu jadi objek bully)
Suaranya sama-sama manis kayak lolipop
Senyumnya mematikan (kalo ini pendapat pribadi, hahaha)
Tinggi badan standar O..o #digeplak
Nama panggilan: Kiki and Lulu (KAWAII!!! >/////<)

75 thoughts on “CONNECTION – EPISODE 02

  1. kyura December 27, 2014 / 8:30 AM

    Keren..

  2. icha dewi January 14, 2015 / 3:02 PM

    ada apa ini sebenarnya masak iya luhan yg ngincar soo

  3. Kim hyo mi February 22, 2015 / 8:00 PM

    Wah baru pertama kali nich baca ff sooyoung ama gikwang,..bgus thor ffnya,kyanya gikwang suka ama sooyoung pd pandangan pertama,aq penasaran luhan disini jadi siapanya sooyoung.

  4. andryani March 22, 2015 / 1:12 AM

    ohh jadi luhan tunangannya sooyoung, dia jahat ga sih?

  5. kusumaani April 7, 2015 / 11:51 PM

    daebaaak ,,sooyoung sama gikwang nya sweet bgt lanju ya thor,ngga sabar sama kelanjutannya

  6. kusumaani April 7, 2015 / 11:54 PM

    luhan itu sebenernya jahat ngga sih?kenapa dia ngincer sooyoung?BTW,suka sama scene gikwang sama sooyoung thor hehe

  7. KNIGHT April 12, 2015 / 7:52 PM

    jadi luhan itu jahat atau gimana -.-a
    btw suka karakter soo disini
    manis banget xD

  8. SonElf July 2, 2015 / 8:07 PM

    sooyoung nunna kelewat polos jadi nya gitu
    imanya gikwang gk kuat akhirnya di terkam juga tu sooyoung nunna
    gikwang tu suka apa ndak si sama sooyoung nunna penasaran apa cinta segi tiga dengan luhan

  9. fransiscafrtnta24 June 30, 2016 / 4:01 PM

    knp luhan ngincar soo tunangan sendiri???? tujuan nya ap ??:/
    trs papa ny soo tw putriny diincar (?)
    sooyoung innocent bgt sumpah duh :v
    penasaran selanjutnyaaa!

  10. coco August 6, 2016 / 12:50 PM

    brharap soo bisa jatuh hati sma gikwang plisss
    luhan itu bad boy atau good boy ya di ff ini?

  11. farah November 23, 2016 / 7:40 PM

    Makin seru ceritanya,,, mau tau lagi gimana lanjutan nya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s