CONNECTION – EPISODE 01

Title: Connection

Author: Fanneey Wu

Genre: Action, Romance, Suspense

Rating: PG+17

Length: Series

Leanguae: Indonesian

Casts: Choi Sooyoung [SNSD], Lee Gikwang [BEAST], Xiao Luhan [EXO-M], and many other will come soon.

Inspiration: “Guilty Crown” anime, “Accimus” fanfic by Flow19, “Complicated” fanfic by Raeheechul, “Departures” song by Egoist.

Warning: Typos, death characters, bad storyline.

Author’s Note: Sebenarnya ini fanfic kolaborasi Fanneey dan Fadhilah yang pertama, dengan judul awal “Before The Dawn”, tapi judul dan jalan cerita diubah drastis oleh saya sendiri karena storyline sebelumnya nggak bisa dilanjut, haha.

Terima kasih untuk inspirasi dan penyemangatku Fadhilah, dan Kak Elisa atas sarannya tentang cara membuat fanfic yang menarik.

Saranghamnida yeorobun (^-^)

***

 

Bunga liar yang mekar

Kumohon, beritahu aku

Mengapa orang-orang bertarung dan saling menyakiti?

Bunga liar yang mekar dengan berani

Apa yang bisa kau lihat dari sana?

Mengapa orang-orang tak bisa saling memaafkan?

 

Hujan telah usai, dengan musim panas yang berwarnakan biru

Aku sendirian

Kau menggigil di depanku

Tanpa berkata apa-apa

 

Ketika teman-temanmu layu di sekitarmu

Apa yang kau pikirkan?

Dengan dedaunanmu yang tak bisa berbicara

Bagaimana caranya kau menyampaikan cintamu?

 

Mentari musim panas pun tertutup awan, angin pun berhembus

Keduanya pun bersatu

Aku akan menyanyi sebagai bukti bahwa kau hidup

Demi mereka yang tak bernama

 

[Euterpe, Guilty Crown Insert Song]

 

***

Episode 01 – Gadis itu Choi Sooyoung

 

Suatu tempat di Ilsan.

 

Seorang pria bertubuh besar, tertawa-tawa sambil meminum wine  di gelasnya. Rambut gondrongnya yang mulai memutih menutupi sebagian wajahnya. Usianya sudah hampir setengah abad, tapi tubuhnya masih segar bugar.

“Kalian hebat!” serunya, pada pria lainnya yang ada di ruang kedap suara itu.“Kerja bagus, Doojoon!” pria tua itu menepuk-nepuk pundak pria muda berambut pendek di sampingnya.

Pria bernama Doojoon tersenyum simpul.“Kau selalu bisa mengandalkanku, Hong.” Ujarnya, yang merupakan salah satu snipper handal dari komunitas itu.

Pria tua itu—biasa dipanggil Hong—tertawa lagi.

Jang, kemampuan menembakmu semakin membaik. Kau akan menerima kontrak dengan Prepix Lau minggu depan. Dia sudah tidak sabar untuk memakai keahlianmu, katanya,kali ini Hong berbicara pada Jang Hyunseung, pria cantik yang benci disebut cantik. “Jangan mengecewakannya, Prepix adalah teman baikku.”

Jang hanya sedikit menundukkan kepalanya. Snipper yang selalu menjadi partner Doojoon itu memang terlalu bersikap formal pada Bosnya.

“Yah, yah, yah… aku tidak dipuji, Appa?” tiba-tiba suara manja seseorang menyeletuk.

Hong menoleh pada Dongwoon, “Sayangnya, kau masih ceroboh.”

Dongwoon mencibir mendengarnya. Ia adalah yang paling muda di antara ke enam anggota tim yang lain. Mungkin karena alasan itu Hong tak mempermasalahkan Dongwoon yang suka bermanja-manja padanya. Anak remaja seusia Dongwoon memang masih butuh perhatian ‘orangtua angkat’nya.

“Cih, Bos terlalu pilih kasih dengan Dongwoon.” Sinis Junhyung. Maniknya mendelik kesal ke arah Dongwoon. Bagaimana pun juga, senjata buatannyalah yang selalu Dongwoon gunakan, karena ia adalah seorang gun maker.

“Dan, si Maknae itu terlalu cari perhatian dengan Bos.” Tambah Yoseob, partner Junhyung.

Sebenarnya Dongwoon dengan jelas mendengar perkataan Junhyung dan Yoseob. Tapi dia hanya tersenyum polos, “Kalian iri ya? Hahaha!” kemudian terpingkal melihat wajah masam dua Hyungnya.

BEAST. Sebuah komunitas yang didirikan oleh Hong Seungsung. Hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahui adanya kelompok pengawal bayaran tersebut. Hong mendirikan komunitasini 20 tahun yang lalu. Ia merekrut anggota dari panti asuhan yang tersebar di Korea, Kanada, China dan Taiwan. Merekrut setiap anak laki-laki yatim piatu yang berusia kurang lebihtujuh tahun, lalu mendidik mereka. Melatih mereka beladiri, ilmu kepengawalan dan mata-mata. Singkatnya, BEAST adalah kumpulan Agen Secret Service.

Lee Gikwang,” panggil Hong pada seorang pria yang duduk menyendiri di sudut ruangan. “Kau dapat pekerjaan lagi.” Lanjutnya, lalu melempar secarik foto seorang gadis, Lee Gikwang menangkapnya.

“Namanya Choi Sooyoung. Ia adalah pewaris tunggal Choi Corporation. Choi Jungnam, Ayahnya menyewamu untuk menjaga putrinya selama dia pergi bisnis ke Hongkong.” Jelas Hong.

Gikwangmenatap Hong, kemudian ia menampakkan senyum khas yang membuat matanya menjadi garis lurus. Never failed.”

 

***

 

Kediaman Keluarga Choi, Gwangjin-gu.

 

Sinar mentari perlahan muncul di ufuk timur. Para melayan segera menyingkap gorden cokelat muda di kamar besar itu. Membiarkan cahaya pagi yang menerobos masuk seluruhnya. Pelayan-pelayan itu kemudian meletakkan senampan alat kecantikan di meja rias berukir kecil di samping bed king size itu. Seorang gadis berambut panjang-cokelat sedang asyik di tempat tidur itu, masih dalam alam bawah sadarnya.

“Nona Muda…” panggil salah seorang pelayan bertubuh kurus.“Nona Muda, bangunlah…” ujarnya lagi, berusaha selembut mungkin.

Choi Sooyoung menarik selimutnya sampai bahu.

Pelayan-pelayan itu mendesah bosan. Nona Mudanya memang punya kebiasaan seperti ini.Keundaeyo, Tuan Besar sedang menunggu Nona di bawah. Dia akan berangkat pagi ini.” Tutur pelayan lainnya.

Kalimat itu sontak membuat Sooyoung membuka manik sendunya. Lalu ia duduk dan menatap pelayannya, “Ayah pergi sekarang?” tanyanya tertahan.

Pelayan itu tersenyum tipis sebelum Nona Muda-nya melesat masuk kamar mandi dan melompat ke bathub-nya. Sekitar duapuluh menit kemudian Sooyoung keluar kamar dan segera turun menemui Ayahnya yang telah siap di meja makan memanjang. Dengan banyak bangku tetapi hanya akan ada dua yang terisi, oleh dirinya dan Ayahnya.

Jangan membuat masalah selama Ayah tidak ada.pria berjas hitam formal itu menatap lembut Sooyoung.Kemudian dia berdiri setelah menyelesaikan sarapannya. Choi Jungnam mengelus puncak kepala putrinya lembut. Sooyoung mempout cherry mungilnya.

Olmana?”

Tidak lebih dari satu bulan.”

Mata Sooyoung membelo. “Satu bulan?”

Jika kau melewatinya tanpa membuat masalah, Ayah akan membawakanmu hadiah.HiburChoi Jungnam cepat.

Choi Sooyoung menunduk dalam diam. Ia menyendok supnya secara perlahan, guna menghindari tatapan Sang Ayah. Ia tidak bisa menerima ini. Ia tidak mau hadiah, tidak mengertikah? Jika Ayahnya pergi ia tak punya siapa-siapa lagi, ia begitu mengkhawatirkan Ayahnya. Ia hanya mau Ayahnya di sini.

 

***

 

Baru melihat penampilannya saja Lee Gikwang sudah tahu. GadisChoi ini akan jadi majikan barunya. Ia baru saja datang dengan mobil mercedes merah marun beberapa jam setelah Choi Jungnam pergi.Sejak pertama datang, ia tidak mengatakan apapun, karena memang tidak ada yang bisa dikatakannya. Sama halnya dengan Sooyoung, ia tampak biasa saja, tak menunjukkan keinginan untuk membuka percakapan sedikitpun karena sedari tadi Gikwang hanya melihat gadis itu memainkan simpul tali tanpa peduli sekitar.

Sebelum pergi,Choi Jungnam hanya memberitahu sedikit tentang putrinya, Choi Sooyoung, kepadanya. Bahwa ia adalah gadis yang sensitif. Namun, melihatnya sekarang membuat Gikwang berpikir dua kali soal perumpamaan ‘gadis yang sensitif’ tersebut. Sensitif dari sisi mana?

“Gikwang…”

Sontak, Gikwang mengerjap cepat ketika mendengar namanya disebut untuk pertamakali. “Ya?”

Dari posisi memunggunginya, kini Choi Sooyoung memutar tubuh menghadapnya. Sooyoung menunjukkan kedua telapak tangannya yang terbelit-belit tali—tidak, jika Gikwang memperhatikan itu lebih detail, itu adalah simpul, tepatnya simpul bintang.

“Kemari,” titah Sooyoung datar, ekspresinya tak menunjukkan ia benar-benar membutuhkan Gikwang untuk menghampirinya. Namun sebagai bawahan, Gikwang menurut. “Ambillah.” Adalah satu kata dari Sooyoung setelah Gikwang tepat di hadapannya. Sooyoung—yang dalam posisi duduk—menjulurkan tangannya ke depan Gikwang, Gikwang menunduk guna melihatnya.

Apa-apaan ini?

Sekiranya itulah pertanyaan aneh yang muncul di benak Gikwang.

“Kemarikan, kedua tanganmu.” Kali ini lebih terdengar seperti permintaan ketimbang perintah. Gikwang, yang lagi-lagi, hanya bisa menuruti. Sekarang Sooyoung tengah menyentuh tangan Gikwang dengan tangannya, mengalihkan simpul bintang itu penuh kehati-hatian agar tetap rapi.

Dan, “Ah.”

Ada apa dengan ‘Ah’ itu?

Gikwang mengherankannya lagi, mengernyitkan alisnya ketika raut wajah Sooyoung berubah kecewa dengan rusaknya simpul yang ia buat. Mata rubinya berkaca-kaca dan ia berkata lemas, “Ternyata… memang tidak bisa.”

Apa…

Lee Gikwang tak habis pikir.

Apa yang mesti ia lindungi dari gadis semacam ini?

 

***

 

Berjam-jam hari itu, Choi Sooyoung menghabiskannyadengan membaca buku di perpustakaan. Tentu saja setelah kejadian simpul tali buatannya rusak, ia tak mengungkit-ungkit itu lagi. Sampai hari mulai larut, Gikwang terus menemani Sooyoung di ruang baca. Memperhatikan Sooyoung yang menundukkan kepalanya pada meja sejak beberapa menit yang lalu.

Apa gadis itu tertidur?

Lee Gikwang mendekat ke meja Sooyoung dan duduk di kursi yang berlawanan. Ia merenggangkan otot-ototnya yang kaku karena sedari tadi terus berdiri mematung mengawasi Sooyoung. Gikwang menghela nafas berat. Memang melelahkan. Tapi Gikwang sudah terbiasa, ini pekerjaannya. Didikan Hong padanya  sejak ia berusia tujuh tahun memang tidak percuma.

Tidur?itu bukan pertanyaan. Karena Gikwang kini melihat jelas Sooyoung dari dekat, mata rubinya tertutup kelopaknyarapat-rapat. Napasnya naik turun teratur, ia sungguh terpejam dengan damai.

Gikwang melirik jam yang terpampang di lemari antik besar di samping rak buku paling ujung. Pukul sebelas malam. Sepertinya dia akan tertahan di tempat ini lebih lama.Yang Gikwang lakukan setelahnya hanya memandangi wajah tidur Choi Sooyoung.Dari status sosial dan garis wajahnya, Gikwang pikir wanita ini angkuh dan sombong. Tipe gadis yang tidak disukainya sama sekali. Namun kulit sampul selalu sukses menipu. Alih-alih dari kata angkuh, Choi Sooyoung malah terlihat begitu polos dan rapuh. Menyadari apa yang tengah dipikirkannya, detik selanjutnyaGikwang tertawa hambar, “Bagaimana bisa Hong menyuruhku menjaga gadis macam ini?”

Tok!Tok! Pintu ruang itu diketuk.

Seorang pelayan bertubuh kurus masuk setelah Gikwang mempersilahkannya. Lalu pelayan wanita itu menatap Gikwang yang juga menatapnya. Dan, tiba-tiba saja pelayan itu tersenyum kecil pada Gikwang.Kemudian Gikwang menoleh ke arah Sooyoung.Seperti sebuah telepati, Gikwang merasa pelayan wanita itu menyuruhnya untuk mengangkat tubuh Sooyoung. Tanpa perlu dipikir lagi, Gikwangpun mengangkat tubuh Sooyoung. Menggendong yang biasa disebut orang-orang, ala bridal.

“Dimana kamarnya?” terpaksa Gikwang bertanya, yeah… karena rumah ini begitu besar (diperkirakan ada berpuluh-puluh kamar di sini) dan ia memang tidak tahu letak kamar Sooyoung.

“Di lantai dua, pintu ber-cat kuning keemasan.” Jawab pelayan itu. “Bisakah kau mengantarkannya ke sana sendiri? Aku belum menyelesaikan pekerjaan dapurku.”

“Baiklah,” jawab Gikwang sebelum pelayan itu berangsur pergi.

Gikwang menaiki tangga seraya mendekap Sooyoung di dadanya. Tidak ada lift, tentu saja. Terpaksa ia membiarkan Sooyoung menggunakan dadanya beberapa menit untuk bersandar.Rambut cokelat-panjang gadis itu tergerai natural. Lembut. Gikwang bisa mencium aroma lavender-nya. Aroma sialan yang cukup mengusiknya, membuatnya dengan terpaksa menundukkan kepala lagi, melihat wajah Sooyoung.Aroma rambutnya benar-benar membius seorang Lee Gikwang.

Setelah melewati detik-detik yang membuat Gikwang merasa tak nyaman, akhirnya ia bisa merasa tenang sesaat setelah ia melihat sebuah pintu bercat emas yang jaraknya tak terlalu jauh dari tangga. Langkahnya dipercepat,tak sabar ingin menjauhkan dirinya dari tubuh sesosok gadis yang pernah ia kira manja dan menyebalkan.

Sampai diruang berpintu cat emas, Gikwang membaringkan tubuh  ramping Sooyoung diatas ranjang berwarna pucinno manis. Geriknya sangatlah hati-hati jika Gikwang tidak tahu Sooyoung adalah sosok gadis rapuh. Khawatir gadis itu terbangun. Setelah tubuh ramping itu lepas dari dekapan Gikwang, yang kini telah terbaring diatas ranjang, Gikwang baru menyadari tenyata tangannya masih terjepit dibawah leher Sooyoung. Ia berusaha melepaskan tangannya,tapi juga ia kebingungan.Takut Sooyoung terbangun dari bunga tidurnya. Ia membungkukkan tubuhnya, hingga kini hidungnya dan Sooyoung saling bersentuhan.Seperti pose Romeo yang akan mencium Juliet-nya.

Tunggu, pikiran macam apa itu?

Gikwang menatap Sooyoung, sesuatu dari gadis ini menarik perhatiannya. Perlahan ia mengangkat kepala Sooyoung dan menarik tangannya yang terjepit leher Sooyoung.

“Uh…” Sooyoung tiba-tiba membuka mulutnya dan mengatakan sesuatu yang tidak jelas. Mengigau.

Sebelah tangannya kemudian terangkat dan mengelus puncak kepala Gikwang. Pria itu sedikit terganggu karenanya.

“Luhan…” suaranya selembut kapas.

Gikwang menautkan alisnya. Gadis ini bicara pada siapa? Matanya terpejam tapi dia terus merancau. Dan… Luhan? Seingat Gikwang, keluarga Choi hanya punya seorang putri—seperti yang dikatakan Hong padanya.

Jadi, siapa Luhan?

“Nona, saya bukan Luhan.” Gikwang melepaskan tangan Sooyoung yang menyentuh rambutnya. Meletakkannya perlahan di sisi tubuh gadis itu.

“Luhan!” Sooyoung membuka matanya, spontan. Terduduk di ranjangnya lalu menyapukan pandangannya ke seluruh penjuru kamar. Hingga mata bulatnya tertuju padaLee Gikwang.Dimana Luhan?” jeritan tertahan,kepadaGikwang.

Gikwang tidak menjawab apa-apa. Pikirnya buat apa menjawab jik jawabannya saja tidak tahu apa. Sooyoung menatapnya nanar, Gikwang tahu tatapan itu, tatapan memilukan dari seorang wanita kepada pria yang dirindukannya. Yang jelas, bukan untuknya. Mungkin teruntuk seseorang yang disebut Kris itu.

“Tidurlah, Nona Sooyoung. Ini sudah malam.” Akhirnya hanya itu kalimat yang dapat diucapnya sebelum ia berlalu dan meninggalkan Sooyoung yang tecenung dengan tatapan nanarnya.

Puzzle ini tak tersusun. Belum.

 

***

 

Pagi-pagi sekali Choi Sooyoung merasa seseorang menepuk-nepuk pipinya ketika matanya bahkan masih terpejam. Sooyoung menggaruk pipinya kemudian, lalu terpejam lagi.Tapi orang itu lagi-lagi mengganggu tidurnya, kembali menepuk pipinya.

“Nona Sooyoung,suara itu terdengar semanis sirup apel. Menggiurkan. “Ayahmu menyuruhku membangunkanmu setiap pagi.”

Sooyoung terkesiap seketika, tatkala suara itu lagi-lagi mengiang di telinganya. Mengusik tidur cantiknya. Sooyoung melihat Gikwang yang tersenyum. Senyum pria itu semanis suaranya, membuat kedua sudut matanya membentuk lengkungan bulan sabit.

Sebenarnya, aku masih mengantuk.Ungkap Sooyoung jujur.

“Saya tahu.” Gikwang tidak tahu lagi harus merespon apa kecuali itu. “Oh ya, Nona, sejak tadi ponselmu tak henti berdering.” Lanjutnya singkat.

Kali ini mata Sooyoung melirik ponselnya yang tergeletak di meja rias. Ia mengambilnya dan memastikan siapa yang meneleponnya. Ada sebelas misscall dari Lee Sunkyu, dan satu pesan dari orang yang sama. “Sunkyu mengajakku berlibur di Resort baru miliknya,” Sooyoung berkata pada Gikwang, lalu beranjak dari kasur dan mengambil Yukata yang tergantung di samping pintu kamar mandi. “Apa aku harus menerimanya?”

Gikwang tergagap, “Ke-kenapa Nona bertanya kepada saya?”

“Karena aku tak punya orang lain di sini untuk kutanyai.”

Hah? Apa-apaan gadis ini?!

“Apa Resort itu menyenangkan?” Sooyoung mendekati Gikwang dan menunjukkan layar ponselnya, di sana terpampang gambar bangunan Resort mewah sekaligus modern. Menurut Gikwang, jelas itu akan menyenangkan.

“Tentu saja.”

Choi Sooyoung menatap Gikwang tepat di matanya, “Baiklah, terima kasih.”

Setelah itu Sooyoung mengetikkan balasan untuk teman yang ia sebut Sunkyu, sebelum berlalu ke kamar mandi dengan Yukata di tangannya. Bersamaan dengan itu, Gikwang menghela napas bebas. Gadis aneh!

 

***

 

Sebuah rumah megah bergaya Eropa. Dengan desain arsitektur dari arsitek ternama. rumah—Istana—yang bahkan ada pada cover majalah bisnis ini adalah tempat putri tunggal keluarga Choi di besarkan. Ada jalan sepanjang seratus meter dengan tanaman dan pepohonan rimbun di tiap sudut. Nuansa hijau benar-benar terasa di halaman depan rumah ini setelah melewati gerbang utama.

Gadis bertubuh pendek dengan blazer kuning bergegas masuk ke dalam rumah itu. Tak biasanya ia diperlakukan sedikit aneh seperti ini. Ia tak diizinkan langsung bertemu dengan Nona Muda Choi seperti biasanya, kali ini ia harus menunggu perizinan dari seseorang di dalam sana baru ia bisa masuk dan bertemu dengan Sooyoung. Sunny tak terima diperlakukan seperti itu oleh para pelayan di rumah Sooyoung. Presdir Choi saja selalu mengizinkannya membawa Sooyoung pergi bermain.

“Maaf, Nona Sunny. Nona tidak bisa bertemu langsung dengan Nona Sooyoung tanpa perizinan dari pengawal barunya.” Ujar salah satu pelayan kepadanya, sopan.

“Mana bisa seperti itu! Sejak kapan dan dari mana peraturan itu berasal?”  pekik Sunny. “Kalau begitu,biar aku yang bicara dengan pengawalnya! Beraninya dia mengaturku seenaknya? Dia pikir dia itu siapa?” sambungnya emosi. Gadis manis bertubuh mungil itu melipat tangan di dada. “Dimana pengawalnya?!”

“Maaf sekali lagi, Nona, tidak bisa. Sebaiknya Nona menunggu di sini saja.” Jawab pelayan itu lembut. Berusaha setenang mungkin.

“Hei pengawal sok tahu! Dimana kau? Sini hadapi aku jika berani! Lancang sekali kau menghalangiku untuk bertemu sahabatku!” teriak Sunny menggila.Gadis itu menginjak-injak lantai putih ruang megah itu dengan high heels-nya, hingga suara derikannya terdengar ke seluruh penjuru.

Tak lama dari itu, seorang pria dengan cardigan menuruni tangga dan menghampiri Sunny.Anda memanggil saya?” tanyanya. Suaranya yang khas reflek membuat Sunny membeku.

Nuguya?” Sunny menurunkan oktaf suaranya. Matanya memandang lurus Gikwang tanpa kedip.

Lee Gikwang adalah pengawal baru Nona Sooyoung.” Merasa kalau Gikwang tak akan menjawab, sang pelayan itu menggantikannya untuk menjawab.

Mwo?” mulutnya menganga. Sunny melihat pria itu dari atas sampai bawah. Jujur, batinnya mengatakan pria ini lebih cocok jadi direktur daripada pengawal—dilihat dari pakaiannya yang sangat formal dan gayanya yang… keren?

“Sunkyu,” Sooyoung muncul dari sudut yang sama seperti munculnya Gikwangserta merta memeluk Sunny. Jika saja bukan Sooyoung yang memanggilnya Sunkyu, ia pasti sudah mengomeli orang itu. Gikwang mengatakan padaku kalau Resort itu menyenangkan, jadi aku tidak sabar pergi ke sana.”

“Gikwang?” Sunny membeo. Sebisa mungkin mengendalikan mimik wajah keterkejutannya. “Kenapa kamu meminta pendapat dari seorang pengawal, Sooyoung-ah? Tentu saja Resortku bakal menyenangkan!”

Sementara orang yang dibicarakan, Lee Gikwang, melihat pemandangan dua gadis yang berpelukan di depannya dengan maklum. Dari sepengetahuannya, Sooyoung masih berusia dua puluh dan terhitung masih ukuran mahasiswa. Mungkin gadis rambut pendek ini, teman kuliahnya?

“Ayo, Gikwang.”

Belum sempat Gikwang menjawab, Sunny telah menyela. “Kamu mengajak dia?!”

“Gikwang adalah pengawalku, Ayah mengatakan dia akan menjagaku.”

“Ish…” Sunny menahan geramannya. Menjengkelkan! Gikwang memang tampan tapi liburan adalah privasi! Mana bisa ditemani pengawal? Norak!

“Apa itu tidak boleh?”

Sunny merenggut kecil, “Tidak apa. Cuma aku agak kesal.”

 

***

 

Pyeongchang Resort, Gyeonggi-do.

 

Langit mulai gelap ketika mereka bertiga sampai ke tujuan. Gikwang bahkan tak mempercayai ada sebuah Resort mewah di Gyeonggi-do. Ini menakjubkan, Resort pribadi menakjubkan. Ia tak henti membayangkan seberapa kaya dua gadis yang bersamanya ini. Gikwang lebih memilih berjalan-jalan di sekitar Resort ketika Sunny lebih memilih masuk duluan dan mengistirahatkan tubuh lebih dulu.

            “Gikwang.”

                 “Astaga!” Gikwang terlonjak mendapati Sooyoung berdiri di sampingnya dan menatapnya dengan mata bulat berwarna keunguan itu. “Apa kau—maksudku Nona Sooyoung, sejak kapan berada di sini?”

          “Seturunnya dari mobil, aku mengikutimu.” Ungkap Sooyoung.

     “Mengikutiku?” terkejut, pikiran Gikwang berseliweran. Sooyoung mengikutinya sedari tadi namun Gikwang tak menyadarinya. Gadis ini tidak punya hawa keberadaan!

            “Ya,” kata Sooyoung cepat. “Apa aku mengganggu?”

            “Tidak juga, tapi… saya hanya terkejut.”

            Hawa cantik Choi itu mengangguk. Tak berkata-kata lagi, ia membiarkan hembusan angin malam menerpa kulit lengan telanjangnya, mengibarkan rok tipis creamy selutut yang dikenakannya. Sooyoung menikmati ketika ketenangan melandanya. Ia merindukan seseorang akan memeluknya jika ia kedinginan, dan ia menunggu hal itu. Namun harusnya Sooyoung tahu, bagaimanapun kondisinya, pelukan itu takkan sampai padanya. Kali ini Lee Gikwang yang bersamanya. Bukan Dia.

            1236313_577571548972075_1593494422_n

            “Berapa Ayah membayarmu?”

          Bayaran? Itu pertanyaan ekstrem bagi Lee Gikwang. Seumur-umur belum pernah ada yang bertanya begitu, karena ia dibayar secara sukarela. Bahkan sering melebihi perkiraannya. Karena yeah, biasanya hanya orang-orang berada yang menyewanya. “Eh? Kenapa tiba-tiba Nona bertanya?”

            Sooyoung mengaitkan jemarinya, “Hanya ingin basa-basi.”

            Gikwang melongo. Basa-basi yang menyeramkan!

BRRRM!!!

Derumesin mobil menyadarkan Gikwang dari kelengahannya. Reflek dia menoleh ke sisi pundaknya, darimana suara itu berasal. Sebuah mobil melaju kencang dari samping keberadaan mereka. Segera ia mengambil langkah seribu, lengan kekarnya langsung merengkuh tubuh Sooyoung, sedetik sebelum mobil itu benar-benar menabrak tubuh ramping Sooyoung—dan tubuhnya.

            Tubuh keduanya sama-sama terpental. Punggung Gikwang sukses mendarat di tanah sementara Sooyoung yang masih ia rengkuh memegang lehernya erat. Gikwangsedikit meringis. Pria itu perlahan menengadahkan kepalanya saat Sooyoung sudah mulai merenggangkan pegangan pada lehernya.

Gwenchanayo?” tanya Gikwang hati-hati.

Melihat air muka gadis itu, sepertinya tidak baik.Mata Sooyoung masih terpejam memaksa. Peluh dahinya menetes mengenai pelipis Gikwang. Jaraknya yang sangat dekat dengan Sooyoung membuatnya bisa mendengar pompa jantung gadis itu, sangat cepat. Sepertinya ia syok.

BRRRM!!! Deru mesin mobil masih terdengar.

Gikwang berusaha beranjak dan mengejar. Tapi terlambat, mobil itu sudah melesat pergi dalam sekejap. “Bajingan!” runtuk Gikwang.

Tahu-tahu Gikwang merasa tangannya digenggam erat, itu Sooyoung, yang masih terduduk lemas di tanah. “Gikwang…”

“Nyawa Nonanyaris melayang, karena saya. Maafkan saya.Beralih pada Sooyoung, Gikwang berkata tanpa melepas tautan tangan mereka.

Sooyoung balas menatap manik Gikwang. Bukan. Ini manik penyesalan yang pertama kali dilihatnya, sorot penuh penyesalan itu. Yang membuat degupan jantung Sooyoung menjadi berantakan, bercampur antara degupan syok dan degupanyang ia tak tau karena apa.Baru tersadar dengan tautan tangan mereka, Sooyoung dengan cepat berdiritanpa mengucap sepatah kata pungadis itu langsung mengepak-ngepak dress-nya yang sedikit kotor. Pipi gadis itu merona.

“Sooyoungie! Apa yang terjadi? Apakah kamu terluka?” dari dalam Resort, Sunny menghampiri dengan beberapa orang staff Resort mengekorinya. “Omo, lenganmu tergores!Eottokkhae?” si Cerewet Lee itu tampak panik berlebihan melihat lengan Sooyoung mengeluarkan cairan merah.Hubungi Dokter Kim!” titahnya sigap, sebelum dengan cepat para staff membawa Sooyoung ke dalam bangunan Resort.

Lee Gikwang memandang lurus ke arah jalanan di hadapannya. Pandangan selidik… dan kecewa. Ia terus meruntuki kegagalannya hari ini, mengepalkan tangannya keras. Pertamakalinya Gikwang lengah, dan itu karena pesona seorang Choi Sooyoung di sampingnya. Satu-satunya yang dapat ia ingat hanya plat mobil hitam itu.

F2B1.

            Bukan fakta menyenangkan. F2B1 tidak pernah main-main. Jadi Gikwang sekarang tahu alasan kenapa gadis itu harus dijaga baik-baik. Fakta bahwa F2B1 mengincarnya.

Tapi, kenapa?

 

***

A/N (lagi): Maaf gak pake poster, soalnya photoshopku rusak ._.

udah, cuma mau bilang itu aja.

terus ini ada bonus pic buat yang nggak tau muka Lee Gikwang Main Dancer BEAST, xixixi

gikwang4d

71 thoughts on “CONNECTION – EPISODE 01

  1. julia kim April 25, 2016 / 4:10 PM

    daebak! kesan crimenya cukup terasa di paragraf awal. cara penulisannya ngalir. Penasaran knp soo diincar sama F2B1

  2. fransiscafrtnta24 June 30, 2016 / 3:37 PM

    yess action yuhuuu ~~ ><
    soo d sini innocent bgt yaa •_•
    oh itu yg namanya gikwang ganteng jugaa hihihi
    ap hub soo dgn luhan ?
    F2B1 siapa itu ?:/
    penasaram selanjutnya !

  3. coco August 6, 2016 / 12:32 PM

    bagus thor ff nya
    jrang jrng ad soogikwang moment

  4. farah November 23, 2016 / 7:38 PM

    Aku reader baru thor,,, baru kali ini nemu ff soo gikwang.. Keren ceritanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s