[Vignette] Stingy Kris

Image

Stingy Kris

Lineveur’s

Starring

Kris Wu Choi Sooyoung

Genre

Romance, Fluff, Slight

Rating

Teen

Length

Vignette

“… Kris adalah kekasih paling pelit yang pernah ada …”

Choi Sooyoung

***

“Lihat, deh!” Miyoung memperlihatkan sebuah tas tangan mungil yang tampak elegan, dan seketika napas Sooyoung tercekat melihatnya. “Bagus sekali, kan? Siwon membelikan tas ini untukku kemarin. Louis Vuitton keluaran terbaru.”

“Huuu!” sorak Sunny dan Yuri sambil melempari Miyoung dengan gumpalan kertas. “Kenapa kau tidak minta Siwon untuk membelikan buat kami juga?”

Miyoung tertawa-tawa melihat tingkah temannya. “Siwon tak akan memberi kalian apapun barang seujung jari pun. Ia kan hanya sayang padaku. Minta saja pada pacar kalian sendiri.”

Sunny dan Yuri tambah kesal, hanya bisa meremas-remas cup bubble tea yang sudah kosong. Miyoung masih menertawakan mereka, dan itu membuat keduanya jengah.

“Yuri?” panggil Sunny.

Yuri menyahut. “Ya?”

“Kita pacaran saja, yuk. Nanti aku akan membelikanmu tas yang lebih bagus daripada milik Miyoung.” Sunny menyembunyikan kikikannya.

“Heii! Kalian benar-benar mau berpacaran?” sergah Miyoung dengan suara melengking. “Oh, jangan sampai anak kalian nanti mempunyai dua Ibu.”

Sunny dan Yuri tertawa, kemudian melambaikan tangannya. “Tentu saja tidak! Memangnya siapa yang mau berpacaran dengan Si Pendek ini?” Yuri menyikut Sunny.

“Maaf Nona Otak Udang, aku terpaksa menolak pernyataan cintamu karena kekasihku sudah menunggu di depan sana,” balas Sunny tak kalah sengit. Mereka saling pelotot, tak mau kalah.

“Ya ampun! Bisa tidak kalian berhenti bersikap kekanak-kanakan?” Miyoung langsung melerai keduanya.

Sooyoung melirik arlojinya. Pukul setengah satu tepat. Sudah waktunya jam makan siang mereka berakhir. “Teman-teman, sepertinya kita harus kembali ke kantor. Waktu habis.”

Mendengar perkataan Sooyoung, Sunny dan Yuri langsung berhambur ke pintu kantin, berusaha siapa yang paling cepat keluar dari kantin. Miyoung geleng-geleng melihatnya, kemudian menatap Sooyoung, mengajaknya berjalan bersama.

“Tugasmu sedang menumpuk?” tanya Miyoung sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku roknya.

Sooyoung mengangguk dengan ekspresi suram. “Aku masih harus menagih naskah dari beberapa penulis. Dan buku yang aku edit belum selesai juga. Mungkin nanti aku akan lembur.”

“Hati-hati. Tak baik kalau kau memaksakan diri,” nasihat Miyoung bijak. “Mungkin kalau ada waktu, aku akan membantumu.”

“Tidak usah,” tolak Sooyoung dengan ekspresi kaget. “Pekerjaan Unnie pasti lebih berat daripada aku. Aku masih bisa mengerjakannya sendiri, kok.”

Miyoung tertawa kecil. “Bagaimana kabarmu dengan Kris?”

“Biasa saja,” jawab Sooyoung sambil mendengus ketika nama kekasihnya disebut. Mengingat dahulu Kris adalah musuh bebuyutan Sooyoung, hingga sekarang pun mereka tidak bisa menjadi sepasang kekasih yang benar-benar mesra. “Ia masih seperti dulu. Kekanak-kanakan, bodoh, idiot, cerewet, narsis dan … dan apa, ya?”

“Dan pelit,” timpal Miyoung. “Aku ingat ketika kalian kencan untuk pertama kalinya. Kris hanya mengajakmu makan dorayaki di kedai pinggir jalan. Aduh, waktu itu aku tidak bisa berhenti tertawa mendengar ceritamu.”

“Ia memang pelit. Sangat. Padahal dengan uang keluarganya yang melimpah itu, ia bisa mengajakku bolak-balik ke Hawaii berkali-kali,” sungut Sooyoung. “Apa susahnya meminta sedikit uang pada orang tuanya untuk kencan? Seperti dompetnya setipis dompetku saja.”

“Mungkin ia punya alasan tertentu,” sanggah Miyoung. “Tapi, aku pikir kau ada benarnya juga. Tidak baik juga kalau terlalu pelit. Bisa jalan lebih cepat lagi, Sooyoung-ie?”

Sooyoung berjalan lebih cepat.

***

Sooyoung menghela napas panjang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih, nyaris setengah sebelas malam. Ia menguap, kemudian menatap berkas-berkas di mejanya yang makin menggunung. Sooyoung mulai mengemasi barang-barangnya, memutuskan untuk pulang sekarang sebelum malam sudah terlalu larut.

“Pulanglah, Sooyoung-ie,” ucap Miyoung yang langsung membuat Sooyoung menoleh.

“Bagaimana dengan Unnie?” tanya Sooyoung. Tidak biasanya Miyoung pulang larut, karena ia adalah tipe pekerja yang cekatan dan jarang sekali terpaksa lembur untuk menyelesaikan pekerjaan.

Miyoung melirik Guess yang melingkar di pergelangan tangannya. “Aku menunggu Siwon. Ia masih sibuk rapat dengan kliennya. Ah, sebaiknya kau meminta Kris untuk menjemputmu. Sudah malam sekali, bahaya kalau kau tetap naik bus ke apartemen.”

“Kalau ia mau,” decih Sooyoung. “Biasanya ia tidak mau kalau aku mengganggu kencannya dengan ranjang kesayangannya.”

“Mungkin ia mau kalau kau meminta dengan baik,” saran Miyoung diikuti kikik kecil. “Eum, coba panggil ia dengan sebutan chagi atau semacamnya.”

Mwo?” Sooyoung terlongo-longo. “Aku tidak sudi memanggilnya seperti itu! Dan ‘Kriseu’ bukan panggilan sayang!”

Miyoung tergelak melihat Sooyoung berbalik dengan mulut berbentuk kerucut yang membuatnya tampak menggemaskan. Sesaat  Sooyoung menghentikan hentakan kakinya.

“Mungkin aku akan mencoba menghubunginya.”

Miyoung tersenyum melihat punggung Sooyoung perlahan menjauh.

Sooyoung sibuk mencari-cari kontak Kris di ponselnya sambil bergumam-gumam. “Kris Wu. Kris Wu. Kris—ah, ini dia!”

“Yeoboseyo?” Sooyoung hampir meloncat dan menembus atmosfer mendengar suara Kris. Tidak biasanya Kris mengangkat teleponnya begini cepat.

“Kriseu? Ini aku, Sooyoung.”

“Oh. Ada perlu apa kau meneleponku? Jangan bilang kalau kau ingin meminjam uang padaku.” Lagi-lagi sifat pelit Kris muncul.

“Tentu saja tidak!” Sooyoung tertawa sesaat. “Aku hanya memintamu untuk menjemputku di kantor.”

“Ya ampun, apa yang kau lakukan malam-malam begini di kantor?” suara Kris terdengar kaget.

Sooyoung mendengus. “Lembur. Kau pikir apa yang kulakukan di kantor, huh?”

“Tidak ada. Hanya tidak biasa saja kau mau lembur. Eh, aku harus menjemputmu kapan?”

“Tentu saja sekarang, Kris Wu!”

***

Sooyoung mengetuk-ngetukkan flat suede kremnya dengan kesal. Kris belum datang juga, walaupun Sooyoung sudah menunggu sekitar setengah jam ditemani hembusan angin musim semi yang masih membawa hawa musim dingin. Sepertinya lelaki itu memiliki masalah dengan mobil bututnya. Sudah berkali-kali Sooyoung menyuruh Kris mengganti sedan bututnya,—yang sebenarnya tidak butut-butut amat, hanya saja Kris malas mencucinya—namun lelaki itu dengan santainya menunda perintah Sooyoung. Aku kehabisan uang, jelasnya.

Akhirnya Sooyoung dapat bernapas dengan lega ketika melihat sorot lampu mobil sedan hitam milik Kris. Kris mengklakson, menyuruh Sooyoung untuk segera masuk. Sooyoung membuka pintu mobil, melompat dan menghempaskan pantatnya di jok mobil yang empuk. Tanpa sadar, ia membanting pintu mobil, suatu hal yang dibenci Kris karena Kris punya kenangan buruk dengan pintu yang dibanting yang menyebabkan kaus kesayangannya robek karena tersangkut pintu.

“Jangan banting pintunya, dong!” omel Kris sambil bersiap tancap gas.

Sooyoung mengambil selembar tisu basah dan mengelap wajahnya yang terlihat kuyu karena make up-nya luntur. “Aku banting berkali-kali pun aku jamin pintu mobil bututmu ini tidak akan rusak. Kau juga akan tetap baik-baik saja.”

“Jangan bilang kalau kau lupa bahwa aku tidak suka dengan pintu yang dibanting-banting,” balas Kris sinis.

“Aku memang lupa,” Sooyoung tersenyum miring. “Tapi bisakah kau tidak mengajakku berdebat tentang hal sesederhana itu?”

Mereka berdua terdiam. Kemudian Sooyoung memutuskan untuk membuka pembicaraan.

“Kriseu, bisakah kau membelikanku, eum, sepatu flat baru? Flat-ku sudah kekecilan,” pinta Sooyoung yang langsung dibalas Kris dengan gelengan.

“Tidak boleh.”

Sooyoung protes. “Kenapa tidak boleh? Masa kau tidak boleh membelikan kekasihmu sendiri sepasang sepatu saja?”

Kris tidak membalas, tapi ia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, membelah ruas-ruas jalan di Seoul dan menukik dengan tajam, membuat Sooyoung menjerit tertahan. Kris tidak merasa kasihan dengan Sooyoung yang ketakutan dan tetap konsentrasi menyetir, cause he used to drive fast.

Sooyoung memukul-mukul bahu Kris ketika lelaki itu menghentikan mobilnya di tepi jalan. Ia terbatuk-batuk sesaat. “Seharusnya kau tidak menyetir mobil secepat itu. Bahaya, Kriseu. Aku … Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padamu.”

Kris merasa bersalah, kemudian mendekap Sooyoung yang terisak dengan erat.

***

“Silakan diminum tehnya, Unnie.” Sooyoung meletakkan secangkir teh di meja ruang tamu, tepat di hadapan Hwayoung, kakak iparnya.

Istri Yunho itu menatap Sooyoung, sesaat, membuat Sooyoung bingung. “Kau tahu mengapa aku datang kemari?”

“Eh?” Sooyoung bingung mendengar Hwayoung mengalihkan pembicaraan, padahal tadi ia sedang menawarinya teh. “Tidak tahu, Unnie. Memangnya ada apa?”

“Aku sedang bertengkar dengan Yunho,” ulas Sooyoung sambil mengaduk tehnya. “Dan aku malas bertemu dengannya.”

“Setahuku selama ini hubungan Unnie dengan Yunho Oppa baik-baik saja,” gumam Sooyoung,  tak percaya bahwa kakaknya bertengkar dengan Hwayoung.

“Tidak juga,” Hwayoung menyeruput tehnya. “Dia bilang aku terlalu sering pulang malam. Padahal aku pulang malam karena pekerjaanku. Apa salahnya lembur beberapa kali saja?”

Sooyoung menggaruk tengkuknya. “Maaf, Unnie. Aku pikir sebaiknya Unnie menanyai orang lain. Aku bukan orang yang tepat untuk urusan pertengkaran pengantin muda, oke, sebut saja urusan asmara.”

“Yah, aku tahu. Itu sebabnya kau baru dapat pacar dua bulan lalu,” kekeh Hwayoung.

Unnie,” Sooyoung mengerucutkan bibirnya yang langsung membuat tawa Hwayoung meledak. Kakak iparnya itu memiliki tawa yang ‘luar biasa’, mungkin karena itulah Yunho memilih untuk meminang Hwayoung sebulan lalu.

“Eh, bagaimana kabarmu dengan Kris?” tanya Hwayoung, yang langsung membuat pundak Sooyoung merosot. “Aku pikir ia laki-laki yang baik. Wajahnya tampan.”

“Biasa saja. Ia semakin pelit sekarang,” desis Sooyoung kesal.

“Pelit? Jangan bilang ia tidak pernah membelikanmu semacam, eum, tas, alat-alat make up, pakaian, atau apalah itu?” nada bicara Hwayoung terdengar miris.

Sooyoung tersenyum getir. “Begitulah. Padahal keluarganya berkali-kali lipat lebih kaya daripada keluarga Unnie.”

Mendengar kata-kata Sooyoung, ringisan Hwayoung bertambah lebar. Keluarganya tergolong kaya—sangat kaya—dan apa yang Sooyoung bilang tadi? Berkali-kali lipat? Hwayoung tidak dapat membayangkan betapa kayanya keluarga Kris.

Omona. Aku pikir semua orang kaya pasti boros,” Hwayoung ingin menggigit kuku-kukunya sekarang juga, kalau saja ia tidak ingat kukunya masih dihiasi chip nail.

“Kadang itu membuatku kesal padanya. Tapi setiap kali aku protes, pasti ia akan berkata ‘aku kehabisan uang’, padahal apa susahnya mengeluarkan sedikit uang saja untukku?” Sooyoung meremas-remas jari-jarinya, menimbulkan bunyi klutuk-klutuk.

“Kau hanya perlu sedikit kesabaran untuk menghadapi pacar seperti Kris,” saran Hwayoung. “Dulu, mantan kekasihku juga kadang seperti itu. Tapi dia pelit karena dia memang benar-benar sedang kehabisan uang. Kalau Kris, entahlah.”

Sooyoung mengembang-kempiskan mulutnya, tanda kalau ia sedang kesal. Tapi Hwayoung membuat Sooyoung ceria kembali dengan charmspeak-nya.

“Bagaimana kalau kau kuajari membuat tiramisu?”

Oh, jangan bilang kau tidak mau, Choi Sooyoung.

***

Sooyoung melirik etalase sebuah butik di mal yang memajang sebuah dress selutut yang tampak manis. Ia pasti kelihatan cantik dengan busana musim semi itu. Mata kelincinya melirik ke arah Kris, dilihatnya lelaki itu tengah memasang wajah jenuh.

“Kriseu, kau pasti mau membelikanku dress ini. Iya, kan?” rajuk Sooyoung, mendekatkan pundaknya ke pundak Kris dan menunjuk dress yang ia maksud.

Kris menatap Sooyoung, kemudian menatap dress yang Sooyoung tunjuk. “Pasti mahal.”
“Oh ayolah, setidaknya kau harus membelikanku sesuatu,” Sooyoung merengek dan memasang tampang memelas. Tapi Kris tidak tertarik bahkan ketika Sooyoung mengeluarkan jurus-jurus aegyo-nya.

“Kita ke tempat lain saja,” Kris menggandeng tangan Sooyoung dan membawanya menjauh, membuat pundak Sooyoung melorot. Sooyoung mendesah.

“Seharusnya kau membuang sifat pelitmu itu. Tidak lucu kalau kau juga pelit pada kekasihmu sendiri.” Sooyoung menasihati Kris, tapi Kris seakan menyumpal kedua telinganya.

“Memangnya kenapa? Kalau kau protes dengan sifatku, itu artinya kau tidak mencintaiku apa adanya,” balas Kris cuek.

“Astaga, Kriseu. Bukan itu maksudku. Aku menyayangimu tapi aku juga punya hak untuk mengkritikmu.” Sooyoung mengacak-acak rambutnya. Kris mengangkat bahu.

Baru sebentar Sooyoung berjalan, obsidiannya sudah langsung tertumbuk pada tas Gucci biru kelam yang tampak mewah. Ia menarik lengan Kris. “Kriseu, belikan aku tas itu, ya? Boleh, kan? Kau boleh tidak membelikanku dress tadi, tapi tolong belikan yang satu ini, kumohon.”

“Tidak boleh, Sooyoung. Aku sedang kekurangan uang bulan ini,” tolak Kris lagi, yang membuat amarah Sooyoung menggerumbul di ubun-ubun.

“Kekurangan uang? Kekurangan uang apa maksudmu kalau kau masih mempekerjakan lusinan pelayan di rumahmu? Kau masih makan dengan layak, kau masih menggunakan pakaian yang layak, kau masih memiliki ponsel, kau masih memiliki mobil, bahkan kau memiliki belasan rumah yang terlalu besar untuk dirimu sendiri, kau masih memiliki banyak uang tapi untuk membelikanku sebuah tas saja kau tidak bisa, hah?” Sooyoung menyemprot Kris dengan penuh amarah.

Kris tertohok.

“Tidak bisakah kau bersikap seperti kekasih lainnya? Membelikanku sesuatu dan menghormatiku sebagai kekasihmu. Aku sudah bersabar hingga kau mau membelikanku sesuatu, apalah itu. Tapi kau tidak juga mengerti perasaanku. Kau jahat, Kriseu! Kau jahat!”

Kris tidak bisa melakukan apa-apa ketika Sooyoung berlari menjauh.

Seakan ia lumpuh.

***

Ini sudah larut. Dan Kris belum juga bisa menemukan dimana Sooyoung berada.

Padahal Kris sudah berkeliling kota. Mengecek di kafe langganan Sooyoung dan sekeliling mal, mengunjungi apartemen Miyoung, apartemen Sunny dan Yuri,—yang langsung membuatnya sempat dikira penguntit hidung belang dan hampir pula digebuk Sunny menggunakan sikat rambut—menelepon Yunho, tapi hasilnya nihil. Tidak ada yang tahu dimana Sooyoung berada. Sooyoung bagai menghilang ditelan bumi, dan ini semua karenanya.

Kris memijit keningnya frustasi, kembali menekan tombol call di monitor ponselnya. Sudah sejak tadi ia menghubungi Sooyoung, tapi gadis satu itu belum juga mengangkat panggilannya. Dan ia hampir mati saat mendengar suara Sooyoung dari seberang.

“Yeoboseyo?”

Koreksi. Ini bukan suara Sooyoung. Maksudku, suara Sooyoung yang seperti biasanya.

“Yoona? Kau baik-baik saja?” tanya Kris ragu.

Sooyoung tidak merespon dalam beberapa detik. “Hik. Tentu, aku baik-baik saja.”

“Kau yakin?” Kris menajamkan pendengarannya ketika mendengar musik berdentum-dentum di seberang. Ia kenal musik ini. Musik khas klub malam. Astaga. Apa yang dilakukan Sooyoung sekarang ini?

“Kau ada dimana?” tanya Kris.

Terdengar suara cegukan. “Klub malam. Aku harus mencari Krishikuntuk memintanya membelikan tas baru untukku.”

Kris tertekur. Tidak memedulikan cegukan Sooyoung yang semakin parah dan suara Sooyoung yang terdengar dari speaker ponselnya, ia menekan tombol merah. Call ended. Ia harus tancap gas sekarang. Tidak ada kata nanti. Sekarang.

Mesin mobil pun menderu, dan balok baja beroda itupun melesat.

***

Kris melangkah dengan tergesa, membuka pintu klub malam terdekat dan ia kaget sesaat ketika dua orang wanita berdiri di hadapannya. Salah satunya mencolek dagunya sementara satunya lagi menyeringai, mengerling nakal. Oh oke, inilah salah satu resiko memiliki wajah tampan.

“Hei, Manis, mau bermain bersama kami?” salah satu wanita tersebut menawari Jonghyun dengan nada menjijikkan, membuat Kris bergidik sesaat.

“Sori, kau tidak usah repot-repot. Aku ada perlu disini,” Krs menerobos dua wanita tersebut, berlari masuk ke dalam bar. Dugaan pertamanya, Sooyoung ada disini.

Oh, tapi kemalangan kembali menderanya. Tiga orang wanita yang tidak beda jauh dengan dua wanita tadi menghadangnya. Ketiga wanita itu melingkupi wilayah di sekeliling tempat Kris menapakkan kakinya. Ketiganya memasang ekspresi sok menggoda. Nyatanya itu justru membuat mereka terlihat seperti zombie dibalur make up setebal pizza kesukaan Kris.

“Sayangku, kau pasti butuh teman malam ini,” rajuk seorang dari tiga wanita itu. Kris heran mengapa wanita-wanita di klub malam ini menggunakan nada bicara yang sama saja.

“Kau bisa pilih salah satu dari kami. Atau pilih saja kami bertiga,” timpal yang lain. Satu saja sudah bikin ribet.

“Mau kuantarkan ke tempat istimewa kita, Manis?” tawar yang terakhir. Kris harus berani menolak mereka sekarang.

“Maaf, aku sibuk. Aku mencari kekasihku disini,” elak Kris.

Yang pertama menangkupkan telapak tangannya di depan mulut. “Astaga. Pastilah kekasihmu begitu berandalan. Klub ini termasuk salah satu yang paling hebat di Seoul.”

Telinga Kris panas, seakan-akan daun telinganya akan copot dan meroket ke bulan mendengar wanita tadi mengejek Sooyoung. “Maaf atas tindakanku yang tidak sopan, tapi aku pikir kekasihku beribu kali lipat lebih berharga daripada kau. Minggir, aku mau lewat.”

Ketiga wanita itu menjerit pasrah, kemudian meninggalkan Kris dan kembali mencari mangsa yang lebih cocok. Kris lega, namun sesuatu kembali mengganjal hatinya. Ia belum juga menemukan Sooyoung.

Kris mendekat ke meja bar dan bertanya pada salah seorang barista. “Permisi, apakah kau melihat gadis berambut cokelat panjang? Ia memakai dress putih dan cardigan.”

“Mungkin kau perlu menilik siapa yang ada di sebelah sana,” barista itu menunjuk ke arah meja bar di sisi lain. “Kuharap kau akan memaksanya untuk berhenti minum. Kupikir ia sudah terlalu banyak minum tadi.”

“Terima kasih,” Kris segera beralih. “Dapat kupastikan bahwa aku akan berhasil membuatnya berhenti minum.”

Kris berjalan mendekat. Dan ia berani bersumpah bahwa ia melihat Sooyoung sedang mereguk segelas margarita atau apalah itu, dengan wajah merah dan tatapan mata nyalang. Sooyoung kelihatan bingung, sekaligus gelisah. Kris meraih pundak Sooyoung dengan lembut, dan Sooyoung dapat merasakannya.

“Kris? Kaukah itu?” sahut Sooyoung. Ia menatap Kris, tapi pandangannya kosong. Sooyoung menyodorkan gelas margarita-nya diiringi cegukan kecil. “Kau—hik—mau?”

Kris mengalihkan gelas Sooyoung dan meletakkannya di meja. “Kau harus pulang sekarang, Sooyoung. Bersamaku.”

“Tidak mau,” tolak Sooyoung. “Aku sedang—hik—menunggu Kris. Kau tahu dimana Kris berada?”

“Berhenti minum lagi. Kau akan menyiksa dirimu sendiri,” Kris membelai helaian surai cokelat Sooyoung.

“Kenapa aku harus berhenti minum? Ini menyenangkan—hik—dan akan membuatmu merasa lebih rileks, haha,” Sooyoung tertawa keras, tapi pandangan Kris bertambah sayu mendengarnya. “Hei, apakah kau melihat dimana Kris berada?”

“Aku ada disini,” jawab Kris dengan jujur.

Sooyoung terbahak. “Kau? Ada di hadapanku? Oh ayolah, kau pintar sekali membuat lelucon. Kau bukan—hik—Kris kekasihku.”

Kris losing control.

“Aku ini Kris dan aku ini kekasihmu!” bentak Kris, tangannya mencengkram pundak Sooyoung erat. Cengkramannya melemas melihat wajah pias Sooyoung. “Maafkan aku.”

Hening.

“Kau harus pulang sekarang.”

***

Sooyoung menangis tergugu-gugu.

Jemari pucatnya merengkuh seat belt erat-erat, ia terus menekuk leher dan kakinya. Meringkuk dengan bahu terguncang. Kris menyetir di sebelahnya. Tak menoleh sama sekali. Fokus menyetir dengan kecepatan penuh.

120 km/jam dirasa belum cukup. Kris memasok mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia tak peduli apakah lampu lalu lintas menunjukkan nyala merahnya, ditembusnya tanpa rasa takut. Telapak tangannya meremas stir hingga buku-buku jarinya memutih, wajahnya merah membara. Bilur-bilur peluh mengalir di pelipisnya.

Sooyoung masih terisak. Kris menghentikan mobilnya di tepi jalan dengan tenang. Iris pekatnya belum juga diorbitkan. Kris menatap jalan sambil tersenyum pahit. Jari-jarinya saling meremas satu sama lain.

Mereka berdua terdiam.

Tangan Kris meraih tengkuk Sooyoung dan langsung membungkam bibir gadis itu dengan bibirnya. Memberinya kecupan panjang. Kris masih bisa merasakan betapa basahnya pipi Sooyoung. Sooyoung tidak menolak ketika Kris hendak membabat bibirnya lebih dalam. Ia hanya terdiam dalam diam yang dalam.

“Maafkan aku,” lirih Kris. “Sungguh, maafkan aku.”

Sesuatu mengetuk hati Sooyoung untuk memaafkan Kris.

“Aku akan membelikan semua yang kau inginkan. Tas, pakaian, make up, parfum, buku-buku, ponsel, mobil, rumah sekalipun. Apapun yang kau mau. Asalkan kau tetap mau menjadi kekasihku.”

Sooyoung membiarkan Kris melanjutkan kata-katanya.

“Maafkan aku, aku bukan kekasih yang baik untukmu. Maafkan aku bila aku terlalu pelit. Sungguh, aku minta maaf. Aku tidak akan mengulanginya, aku janji,” Kris memeluk Sooyoung erat-erat, seakan-akan ia ingin meremukkan semua tulang iga gadis itu.

“Aku memaafkanmu,” bisik Sooyoung di telinga Kris. “Tidak seharusnya aku menjadi sematerialistis itu. Seharusnya aku lebih dewasa dan tidak banyak menuntut. Kalau aku tidak protes pasti kita tidak akan bertengkar seperti ini.”

“Bukan salahmu sepenuhnya,” sanggah Kris. “Aku juga harus introspeksi diri.”

Sooyoung melepas pelukan Kris dan tersenyum pada lelaki beriris pekat itu. “Sekarang kita pergi kemana, Kris?”

“Pulang. Aku ingin makan es krim dan nonton film dengan gadis cantik.”

Sooyoung tertawa lebar.

-fin

 

37 thoughts on “[Vignette] Stingy Kris

  1. febryza March 12, 2014 / 12:04 AM

    ini awalnya pake cast jonghyun-yoona ya author? soalnya tadi pas aku baca masih ada nama mereka berdua. tapi gapapa jalan ceritanya menarik kok

    • lineveur March 12, 2014 / 12:14 AM

      Haha … Iya, maaf banget buat typo-nya itu, ya. Soalnya aku ngeditnya sambil ngantuk xD
      Makasih udah baca & comment, ya c:

  2. shin hyun young March 12, 2014 / 11:03 AM

    Kris pelit’a ga ketulungan..
    Seru cerita’a walo ada typo sedikit,,

    • lineveur March 12, 2014 / 4:44 PM

      Kris emang sengaja kubikin pelit kayak gitu, hehe.
      Maaf buat typo-nya, ya. Soalnya aku ngeditnya pake mata cuma lima watt lol
      Makasih udah baca & comment, yaa ^^

  3. @ggcsy24 March 12, 2014 / 1:35 PM

    kris pelit banget sih -__- kasian soo unnie
    tapi gpp yg penting kris udah sadar sekarang.keren thor

    • lineveur March 12, 2014 / 4:49 PM

      Haha … Jangan salahin Kris, tapi salahin aku aja yang udah bikin Kris jadi pelit kayak gitu xD
      Makasih udah baca & comment, yaa

  4. borayoung March 12, 2014 / 4:41 PM

    kurang greget, ga ada bagian shopping yang ngebelanjaiin sooyoung apa aja. hahahaha

    • lineveur March 12, 2014 / 4:42 PM

      Haha … Maaf soal bagian kurang gregetnya itu, kak xD
      Makasih udah baca & comment, ya, kak c:

      • borayoung March 12, 2014 / 4:44 PM

        aku buka poster request loh di wp pribadi aku *promosidikit*
        aku liat km mesen di hsg tadi, sayang udah ada yg ngetake. hehehe

      • lineveur March 12, 2014 / 4:46 PM

        Kakak buka request poster di wp pribadi kakak? Kok enggak bilang-bilang T^T
        Tau gitu aku enggak mesen di hsg, habis itu ujung-ujungnya juga aku sendiri yang bikin posternya x)
        Maaf banget, kak /puppy eyes/

      • borayoung March 12, 2014 / 4:47 PM

        gwaenchanayo ^^
        main main ya ke wp aku fanfictyoung.wordpress.com

      • lineveur March 12, 2014 / 4:50 PM

        Kakak baik bangeet
        Siip, kak, tunggu aja kedatanganku, hehe …

  5. hananhee March 13, 2014 / 5:59 PM

    Dedek~~ [?]
    Berapa umurmu? 12 kurang,kkan?? Ituu kenapa kamu masukn adegan diatas umurmu? Heuh? Kriseunya-eh, Kisseunya maksudnya.. mau cuma satu klausa ajapun, itu tetep aja kisseu *terus?? -_-*
    Aku aja ggk berani..

    Btw, itu ada typo jadi Yoona sama Jonghyun :3
    But, oveol *?* udah bagus.. tapi, cobadeh cek lagi tata bahasanya ada yg rancu.. perhatikan juga penempatan titik dan koma
    tapi itu menutku

    Kalo difikir buat usia kamu yang masih 12 kurang ini, ffnya udah .keren😉
    Semangat nulis ajadeh, buat kedepannya

    • lineveur March 13, 2014 / 7:25 PM

      Kakak …
      Aduh, kak, itu bukan adegan diatas umur, kok. Kisseunya cuma sekilas aja. Enggak nyampe ‘kemana-mana’, dooong … Aku juga enggak berani kalo lebih dari itu, haha …
      Maaf kak, sebenernya ff ini kubuat dgn cast Jonghyun & Yoona, tapi kuedit jadi SooKris. Ngeditnya sambil ngantuk lagi, kak. Makanya masih ada yang salah gitu, deh
      Siip, kak. Nanti aku perhatiin lagi di tata bahasa & tanda bacanya, hehe. Makasih buat kritikannya, ya, kak ^^

  6. valenmarcella March 13, 2014 / 9:49 PM

    author daebakk
    keren banget ff nya
    sekalian ijin repost yah author yang baik gati
    gomawo

      • lineveur March 13, 2014 / 9:54 PM

        Oh, oke, silakan. Reblog always allowed ^^

    • lineveur March 13, 2014 / 9:52 PM

      Makasih buat pujiannya, ya.
      Aduh, keren banget? Masaa? Padahal menurutku ini hancur, haha …
      Repost? Ah, reblog maksudnya? Silakan, tapi tolong cantumkan credit, ya c:

  7. wufanneey March 14, 2014 / 4:11 PM

    amit amit yah punya pacar pelit kayak kris =___=
    untungnya ganteng jadi masih bisa dipertahanin, ck
    tapi bagian endingnya kurang memuaskan tuh…
    asa kurang greget soalnya Kris tiba-tiba minta maaf pas sooyoung nya mabuk2 an, kenapa coba kalo gitu nggak mabuk dari dulu aja?
    tapi overall suka kok…
    sering2 bikin sookris yah! ^^
    oh iya terus salam kenal Fanneey imnida, 97line😀

    • lineveur March 14, 2014 / 6:50 PM

      Haha … Bener tuh, kak xD
      Bagian endingnya kurang memuaskan, ya, kak? Maaf kak, aku tuh enggak bisa nentuin ending yang memuaskan, hehe … Makasih banget buat kritikannya, ya, kak😀
      Siip, kakaaaa … Salam kenal juga, kak. Aku Lin, 02 line, muehehe …

  8. qarenzapark March 15, 2014 / 7:53 PM

    Aduh, kris kurang pelit😀 hakhakhak
    Ceritanya asik gitu xD terus berkarya😀
    Kenalin aku author juga disini. Qarenzapark, 00 line🙂

    • lineveur March 16, 2014 / 7:38 PM

      lol
      Aduh kak, itu kris udah poooool pelitnyaaa xD
      Makasih buat pujiannya, kakaaa … ff lainnya ditunggu aja, yaaa …
      Salam kenal, kakak. Aku Lin, author baru, 02 line /muda banget/

      • qarenzapark March 27, 2014 / 2:46 PM

        Kamu seumur kayak adek aku loh de hakhakhak^^ terus berkaya adikku !😀

      • lineveur March 27, 2014 / 6:52 PM

        Makasih buat semangatnya, kakaaaaa
        Kakak semangat juga, yaaa😀

  9. rifqoh wafiyyah March 16, 2014 / 6:53 PM

    Bener2 dah si kris pelit’a minta ampun..
    Tapi daebak thor….:)

  10. choi_reni407 March 17, 2014 / 6:01 AM

    Aaaaaa.. Suka banget saeng.. Daebak..

    • lineveur March 18, 2014 / 9:51 PM

      Makasih buat komentarnya, kakaaak😀
      Ditunggu aja ff yang lainnya, yah

  11. sooyoungster12 April 10, 2014 / 11:15 AM

    ya ampun, kris pelit banget…
    ff.a bagus, keren!
    ditunggu ff sookris lainnya….

    • lineveur April 11, 2014 / 7:23 PM

      Kris pelit banget? Aaaah, ternyata banyak juga yang komentar ttg kepelitannya Kris lol
      FF-nya bagus? Makasih bangeeeeettt … Padahal menurutku itu ancur xD
      Siip, ff lainnya ditunggu aja, yaaa

  12. yohana May 12, 2014 / 9:00 PM

    Genre nya sad gak sih?
    Aku sampe nangis bacanya
    Nice ff thor
    Kalo bisa sequel ya!

    • lineveur May 15, 2014 / 9:11 PM

      Sad? Oooh, bukan, bukan! Cuma Slight, jadi sad-nya nyempil sedikit gitu. Kalo aku kira-kirain, sih, main genre-nya itu romance-fluff-little sad (?)
      Sequel? Wah, maaf, aku belum mikirin sequelnya. Kita liat nanti aja, yaa
      Makasih udah baca & comment, Yohana c:

  13. aprilia June 20, 2014 / 2:57 PM

    huwooo.. keren bgt. akhirnya kris berubah. ciee.. cie.. cie..

  14. ismi khaerin September 7, 2014 / 10:52 PM

    kris pelitnya minta ampun, amit amit deh.keke

  15. chocoyun July 27, 2015 / 9:00 PM

    baru baca nih ff’-‘ bagus chingu jalan ceritanya unik(?) ditunggu karyamu yang lainnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s