Stolen Cat [Chapter 7]

stolen cat chapter 4

Stolen Cat – Chapter 7

Written by Winterchan (@gelshaa)

Luhan, Choi Sooyoung, Kwon Yuri, the rest can be found in the story.

Romance, School-life

PG-15 | Chaptered

Plot & Graphics © Winterchan

There’s no way you can steal my bestfriend

***

Pagi yang cerah, hari yang cerah, minggu pagi yang sejuk. Semuanya sama-sama terlalu mainstream untuk awalan sebuah fiction. Tapi itu yang terjadi, tak ada lagi awalan sebuah cerita yang bagus untuk menggambarkan paginya Choi Sooyoung. Setelah benar-benar bangun, wanita yang sedang memakai kaos berwarna putih itu memutuskan melakukan jogging di pagi hari, mengingat semenjak SMA dirinya mulai merasakan rasa malas melebihi apapun, terlebih dalam hal olahraga.

Sambil menenteng sebuah botol berisi air mineral ia membuka pintunya, dan terakhir menutup pagar putihnya sebelum akhirnya meluncur melaksanakan kegiatan sehatnya. Kebetulan di komplek perumahan ini, terdapat jogging track yang berada sekitar 200 meter dari jarak rumahnya. Tepat di sebelah jogging track tersebut, terdapat taman memanjang sepanjang jogging track tersebut, sehingga orang-orang yang hendak berolahraga pagi bisa sekalian menikmati sejuknya taman seraya beristirahat.

Hap hap hap satu dua satu dua. Ia menghitung dalam hati seraya kakinya berlari kecil dan tangannya mengayun. Selain karena Minggu adalah quality time setiap insan, hari itu juga memiliki cuaca yang baik di akhir musim dingin. Sehingga banyak juga pemuda pemudi, kakek nenek, ayah ibu, dan tetangga lainnya sedang sama-sama berolahraga.

“Ah, Minggu yang sehat,” itulah kata yang terucap ketika kedua kakinya berhenti berlari setelah sekitar tiga puluh menit. Sambil menduduki bangku taman, ia meneguk setengah dari isi botol minumnya. Ia bangkit dari duduk, berniat melanjutkan perjalanannya hanya dengan berjalan kaki saja sambil melihat-lihat taman yang terisi oleh orang tua yang sedang bersama putra-putrinya, sama-sama menghabiskan pagi dengan berolahraga dan mengajak bermain. Namun gerakannya terhenti secara dramatis ketika ditangkapnya seseorang oleh indera pelnglihatannya. Seseorang itu tampak berjalan pelan di belakang seekor anjing yang sepertinya jantan. Entah darimana ia tahu anjing itu jantan atau betina, yang jelas ia tahu.

Sama seperti dirinya, orang itu juga seketika berhenti secara dramatis, namun buru-buru melapisinya dengan ekspresi santai namun agak aneh.

“Luhan? Kenapa disini?” tanyanya duluan dengan alis terangkat. Sooyoung menggulirkan kedua bola matanya dari atas hingga bawah, ia tampak menggunakan celana pendek, kaus berwarna hitam dan sepatu. Tak lupa dengan sesuatu yang dibawanya bersama.

“Kau bertanya seolah-olah aku tidak diperbolehkan untuk menginjakkan kaki disini,” balasnya santai.

“Memang tidak boleh.”

“Maaf ya, tapi rumahku berjarak 400 meter dari sini. Tepat dari pertigaan dari jalan masuk belok kanan, disitulah rumahku. Ada masalah?”

Sooyoung yang tadi melipat dada seraya memalingkan muka kemudian terkejut, lehernya ia belokkan sehingga kembali menghadap pria itu. Ish, Sooyoung lupa ia bahkan pernah melihatnya di komplek ini, kalau tidak salah sehabis pulang.

Tidak mau menanggung malu, akhirnya ia mengalihkan pembicaraan, “Ngomong-ngomong itu anjing milik siapa? Lucu sekali.”

“Oh kau tidak lihat siapa yang membawanya? Ini milikku tahu.”

“Err tidak jadi. Anjing itu jelek,” ralat Sooyoung. Setelah itu terjadi keheningan singkat, dari sudut matanya, ia bisa melihat Luhan tengah berjongkok. Sedikit heran juga, sedang apa dia?

Oh, Luhan kemudian membisikkan sesuatu pada anjing itu. Hah, memangnya anjing bisa mengerti bahasa manusia? Pikir Sooyoung.

Sedetik setelah berifikir, Luhan kembali berdiri kemudian anjing itu tiba-tiba menggonggong kearahnya. “Auk!” Pandangan horror kemudian memancar dari Sooyoung melihat keduanya yang mencurigakan. Whoosh, makhluk berbulu cokelat itu berlari ke tempatnya, walau larinya tidak begitu cepat seperti anjing pelacak, well itu karena anjing itu masih tergolong kecil. Whoosh, reflek Sooyoung berlari menjauh secepat gerakan refleknya.

Anjing itu mengejarku!

“Auk!” Anjing itu menyahut dengan lidah yang terjulur lucu. Sementara Sooyoung masih berlari seakan hidupnya bergantung padanya. Run for your life! Lelah berlari, tanpa berfikir kakinya bergerak sendiri menuntunnya untuk memanjat pohon yang peduli setan dengan pohon jenis apa itu, yang jelas Sooyoung tidak sempat untuk mengidentifikasi jenis pohon apa yang sedang ditaikinya itu.

Dengan masih terduduk di dahan, ia melihat ke bawah. Wow, ini cukup tinggi. Dilihatnya anjing manis namun menyebalkan itu dengan setia masih menungguinya di bawah pohon. Sesekali menggonggong seakan memberi pesan untuk menyuruhnya turun.

Sooyoung POV

Dan beberapa saat kemudian, dalang dibalik semua ini datang. Ia berlari kecil sambil tertawa terbahak-bahak. Heh? Apa yang lucu? Dia pikir ini lucu? Atau aku memang lucu? Lupakan pertanyaan terakhir, karena aku tahu aku memang lucu.

Dari atas, kupandangi dirinya dengan horror. Sial, dia pikir ini lelucon? Sungguh demi Tuhan ini adalah kali pertamaku memanjat pohon! Dan aku tidak tahu aku bisa memanjat setinggi ini. Dan dan ini hanya karena seekor anjing bodoh? Lupakan, dia tidak bodoh karena dia menuruti apa yang diperintahkan lelaki sialan itu. Oh ngomong-ngomong tentang Luhan, dia masih saja setia dengan kegiatannya yang tidak penting itu, menertawai sesuatu yang tidak lucu!

“Wow ternyata kau bisa memanjat pohon,” ucapnya setelah berhenti tertawa.

“Tidak ada yang tidak bisa kulakukan,” ucapku bangga. Ini sedikit menutupi kecemasanku memikirkan bagaimana caraku untuk turun nanti. Bisa naik, tidak bisa turun. Sial!

“Oh ya, aku percaya kau memang hebat dalam memanjat,” aku tersenyum bangga mendengarnya, “karena kau memang manusia primitif, aku benar kan?” Sial. Kupenggal kepalanya nanti.

“Ini kebiasaan kau ketika hidup di hutan kan? Jadi kau sudah pasti bisa turun. Oh satu lagi, inilah akibat mengatai anjingku jelek,” ujarnya kemudian melenggang pergi. Niatku untuk merebusnya hidup-hidup akan benar-benar kulakukan setelah aku turun dari sini! Aku mengamati ranting-ranting di dekatku. Terdapat sejumlah es-es salju yang masih menempel di sana. Asdfghjkl, apa aku melompat saja ya? Ah aku tidak yakin akan masuk kuliah besok jika aku benar-benar melompat dari sini.

Ini memang hanya berapa meter dari tanah, tapi kenapa sepenglihatanku ini bagaikan aku sedang berada di atas menara ya? Ku lihat lagi ke bawah, anjing itu masih disana. Hey! Kenapa orang sialan itu tidak membawa anjing ini pergi? Sekalipun aku melompat anjing itu akan melahapku! Lihatlah lidahnya yang sengaja ia julurkan seperti itu!

Jam tangan baby-gee warna hitam yang bertengger indah di pergelangan tanganku sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Tentu bukan waktu yang ideal untuk berolahraga karena semakin siang semakin banyak kegiatan biarpun hari Minggu. Sehingga orang-orang mulai meninggalkan kawasan ini. Seorang ahjumma berjalan melewatiku dengan pandangan aneh. Hey! Bukannya tolong malah menatapku seolah aku ini apa.

Saat aku sudah mulai menyerahkan nasib dan pasrah, lelaki bernama Luhan itu datang lagi dengan cengiran menggelikan. “Oh maaf, aku meninggalkan bawaanku disini. Sekarang aku akan membawanya pergi. Kau bisa lompat sekarang, Nona.”

Luhan kemudian pergi lagi, kali ini dengan membawa anjing mliknya itu. Oh hei aku lupa sesuatu, sejak kapan dia punya anjing? Lupakan, itu bukan urusanku.

Aku sudah menyiapkan fisik dan mental untuk melompat. Oh God, kenapa ketika aku akan melompat pohon ini jadi semakin tinggi? Atau tanah yang semakin menurun? Atau ini hanya perasaanku?

“Huaaaaaa.” Aku menyerah. Akhirnya pecahlah sudah semua emosiku menjadi rengekan. Oh tidak tidak tidak, sebentar lagi aku akan menangis. Aku masih harus bersyukur disini sudah tidak ada orang, tapi itu juga merugikan jika kasusnya adalah aku melompat dan kemudian aku jatuh tak berdaya. Tidak akan ada yang menolongku.

Eommaaaaa!”

“Luhaaaaaaaan!!” Entah kenapa aku malah memanggil namanya yang merupakan hal tabu untukku.

Sejurus kemudian Luhan datang kembali. Yayaya! Apa dia punya teleport?

“Kau memanggilku?” tanya Luhan. Aku tidak jadi menangis, “menurutmu?”

Luhan memutar bola matanya malas. “Turunlah!” titahnya seraya mendongak ke atas.

Ne?”

“Lompatlah!”

“Aku takut akan terjadi kecelakaan, tahu!”

“Jangan berlebihan, bodoh. Aku akan menangkapmu, sekarang cepat lompat sebelum aku berubah pikiran.”

Apa aku bisa mempercayainya? Kau tahu kan dia ini sering kali seperti udang di balik batu, eh serigala berbulu domba!

“Kita ini musuhan dan kau musuhku, setahuku musuh tidak boleh membantu, lagipula aku tidak sudi dibantu oleh musuh,” ucapku.

“Apa? Memangnya aku sudi membantumu? Aku hanya tidak ingin difitnah menjahati anak orang. Ya sudah kalau tidak mau, lagipula leherku pegal tahu berbicara terus denganmu,” ku lihat pria jahat itu sok-sokan memijat lehernya yang kuyakini tidak pegal.

Sekarang aku mengakui aku menyesal menolak tawarannya. Kini aku sendiri yang susah, ah aku memang penakut. Kulihat sekarang Luhan sudah tidak peduli lagi, ia malah duduk lesehan di bawah tak jauh dari pohon ini dan sibuk dengan kegiatannya memberi makan anjing kecil bodoh itu.

Akhirnya setelah mengumpulkan keberanian yang hanya secuil, aku sudah berancang-ancang untuk melompat. Bagaimanapun juga ini harus diakhiri. Satu, dua, tiga…. Hap!

***

Author POV

Entah bagaimana runtut kejadiannya hingga akhirnya kini hanya terdengar suara tangisan wanita berumur 23 tahun. For God’s Sake,  dia benar-benar menangis. Yang jelas, setelah Sooyoung melompat, dia tidak mendarat secara sempurna sehingga ia jatuh mengenaskan. Mendengar suara yang tidak indah itu, Luhan langsung bangkit dan mendapati Sooyoung sudah jatuh terduduk.

Gadis itu masih berlinangan air mata. Luhan yang melihat itu berusaha mati-matian menahan tawanya, tapi bagaimanapun juga menertawakan benar-benar tindakan yang tidak berperikemanusiaan. Itu hanya akan membuat perasaan seorang wanita bertambah buruk. Akhirnya perasaan iba dan sedikit rasa bersalah menyelubungi dirinya.

“Sudah, berhentilah menangis.”

“Kau tidak akan mengalami luka serius.”

Luhan akhirnya ikut berjongkok di hadapan Sooyoung. Ini adalah kedua kalinya Luhan membuat Sooyoung seperti ini. Dan ini cukup membuatnya berhenti untuk tega pada wanita ini. “Sooyoung-ah, berhentilah menangis. Kau membuatku merasa bersalah.”

“Sooyoung-ah maaf,” ujarnya tak mau menyerah. Tapi wanita itu masih tak berkata-kata, melainkan segukan ringan yang terdengar dari mulutnya.

“Baiklah aku menyesal tidak menangkapmu dan membiarkanmu lompat sendirian.”

Sooyoung mengangkat kepalanya, hidungnya sedikit sembab akibat menangis. Ia dengan cepat mengusap air matanya dengan punggung tangan. Gerakan selanjutnya adalah ia berdiri masih dengan tanpa sepatah kata. Mungkin energinya sudah habis.

Dan tanpa dititah, Luhan mengantarnya pulang.

***

Walau lutut kanannya agak lebam, Sooyoung masih bisa berjalan sehingga itu tidak menjadi pantangan untuknya beranjak ke tempatnya menuntut ilmu. Dan pelajaran baru saja berakhir ketika dosen itu beranjak keluar dari kelasnya. Tinggal dua orang yang bertahan di kelasnya termasuk Yuri dan Sooyoung.

Kehadiran bertambah menjadi tiga ketika Luhan tiba-tiba saja masuk ke kelas tersebut, berniat menemui seseorang.

“Sooyoung, kau sekolah? Ku kira tidak akan masuk. Apa kau pincang atau mengalami luka serius lainnya?” tanyanya bertubi-tubi. Dengan tanpa aba-aba, Luhan memukul lutut Sooyoung dengan sengaja.

“Aw!” pekiknya, “sialan kau! Sembarangan memukul, lututku lebam tahu!”

Kemudian Yuri menatap keduanya bergantian, “tunggu-tunggu ada apa ini? Soo, lebam kenapa?”

“Insiden kecil,” jawab gadis itu singkat. “Oh hanya lebam kan?” tanya Luhan kemudian, “ya sudah aku pergi.” Sekian detik kemudian lelaki itu benar-benar menghilang di balik pintu. Aneh.

***

Kini dua sekawan yang diketahui bernama Yuri dan Sooyoung sedang sama-sama di perpustakaan. Yuri bilang ia butuh beberapa referensi untuk tugas tambahannya, sedangkan Sooyoung sebagai sahabat yang baik ikut menemani sambil membaca beberapa novel yang juga tersedia di sana. Tak butuh waktu lama, Yuri menyudahi dengan menenteng dua buku tebal di tangannya, karena wanita berambut hitam itu hanya membacanya sekilas. Sooyoung mendorong kursi ke belakang lalu menuntun langkah menuju rak berisi kumpulan buku, lalu menyimpan buku berjudul “Bittersweet” yang baru seperempat ia baca ke rak semula.

“Ah, Sooyoung-ah sepertinya aku tidak bisa mengantarmu ke toko itu, aku ada urusan hari ini,” ucap Yuri dengan wajah menyesal ketika mereka baru saja keluar dari ruangan perpustakaan. “Oh? Urusan apa? Ya sudah tidak apa-apa, aku juga akan pulang saja.”

Sooyoung POV

Ah aku juga baru ingat hari ini aku berencana pergi ke sebuah toko. Well, sebenarnya itu tidak terlalu penting karena niatku hanya ingin melihat-lihat toko aksesoris baru yang cukup besar di daerah Myeongdong. Sepertinya Yuri sibuk dengan tugas tambahannya itu ya. Ya sudah aku pulang saja.

Di tengah lorong, aku sempat berpapasan dengan teman Luhan yang kalau tidak salah namanya itu Oh Sehun ya. Kulihat ia bersama temannya yang tinggi sekali, kalau tidak salah namanya err Park Chanyeol, orang yang tinggi sekali itu membawa gitar. Ah iya aku lupa dua manusia itu sama-sama dari jurusan seni, tepatnya seni modern. Sedangkan seni modern itu sendiri terbagi lagi menjadi beberapa, ada vocal, modern dance, dan lain-lain.

“Hai Sooyoung-ssi,” pemuda bernama Sehun itu menyapaku duluan. Ah ternyata dia masih ingat rupaku setelah lama tidak berinteraksi. “Hai juga Sehun dan umm––”

“Park Chanyeol!” Serunya. Wow dia pria yang ceria. Kulirik gitar yang dibawa Park Chanyeol, tidak salah lagi, dia pasti anak dari musik modern. “Kau bisa bermain gitar?” tanyaku pada pemuda tinggi di atas rata-rata itu.

“Tentu saja, kau belum pernah melihatku ya? Kita dari sama-sama dari jurusan seni lho.” Dilihat dari tampangnya, pasti akan sangat keren jika dia memainkan gitar itu. Woah suatu saat aku ingin sekali calon kekasihku nanti memainkan gitar hanya untukku, menurutku itu menakjubkan.

“Aku pernah melihatmu, tapi aku lupa,” ujarku.

“Oh, aku harus segera pergi, sampai jumpa Sehun-ssi, Chanyeol-ssi.” Aku mengakhiri perbincangan singkat ini, entah kenapa aku ingin segera pulang.

***

Jam baru menunjukkan pukul tiga sore ketika aku baru saja membuka pintu rumah. Setelah mandi sore aku sudah benar-benar tidak punya pekerjaan. Kulihat Suri si kucing pemalas menyebalkan itu sedang menggulung-gulungkan tubuh gemuknya di karpet ruang tengah. Entah sedang apa dia, yang pasti perilakunya itu tidak jelas.

Minggu lalu kakakku datang kemari dan mengajak menonton film “Robocob” di bioskop. Tumben sekali dia, kalau sudah begitu pasti dia sedang bertengkar dengan pacarnya. Lalu begitu kuajak menginap disini, dia sudah jatuh cinta saja pada si Suri itu, dan yang sedihnya adalah Suri lebih menurut pada kakakku daripada aku. Cukup tau saja ya, aku dikhianati.

Kuhampiri kucing bodoh berbulu oranye itu, lalu ikut bergulung-gulung dan memainkan ekornya yang seperti bantal mini. Dan itu membuat Suri mengeok ngamuk. Ha! Aku baru menyadari inilah penyebab Suri tidak betah denganku, aku lebih sering mempermainkannya daripada mengelusnya dengan kasih sayang. Baiklah, lupakan tentang kucing!

Sekarang, karena perutku sudah sedari tadi bernyanyi dan sibuk latihan vibra tak lupa juga dengan falseto-nya yang luar biasa, aku memutuskan untuk mengisi perut di luar. Bagaimanapun juga suara perutku tidak akan bisa lolos audisi American Idol. Terkutuklah wahai kulkas yang menelan habis semua makananku!

Seperti biasa, dengan bus umum aku telah sampai di depan sebuah cafe tempat yang aku dan Yuri biasa kunjungi. Woah bayangan makanan-makanan yang tersedia di sini membuat perutku kian semangat latihan vibra dan falseto. Eh maksudnya demo minta diisi. Dan lagi! Apa aku sudah bilang bahwa americano di sini adalah yang terbaik? Sepertinya belum, kalaupun sudah anggap saja belum. Demi seluruh penguasa laut, americano-nya benar-benar nikmat dan segar!

Ting.

Bel yang tergantung di atas pintu cafe berdenting kala tanganku membuka pintu kaca dan jiwa ragaku memasuki cafe bernuansa klasik ini. Kebetulan aku punya seorang kenalan yang berprofesi sebagai pelayan di cafe ini, namanya Lee Jieun, dia gadis yang imut. Pandanganku mengedar ke seluruh penjuru cafe ini, menelusuri setiap insan yang sedang menghabiskan waktu di sore yang baik ini.

Ting. Edaran pandanganku berhenti pada sebuah titik. Sepertinya aku melihat Yuri, dan seseorang. Loh? Katanya dia sedang sibuk dengan tugas dan urusan? Dan bukankah, bukankah tadi siang dia membatalkan rencana untuk hang out dan mampir di kafe ini bersamaku? Dan sekarang ia pergi kesini tapi bukan denganku.

Sosok yang duduk bersamanya segera ku ketahui setelah aku datang mendekat. Oh pria ini!

“Yuri?”

“Eh Sooyoung? Kenapa di sini?” Dia terlihat linglung. “Tadi sepertinya kau punya urusan,” gumamku.

“Jadi… Jadi ini yang kau lakukan?” jujur saja aku merasa dikhianati oleh sahabat sendiri. “Soo, aku––”

“Kau bilang kau ada urusan. Oh ternyata ini urusan yang kau maksud?” ucapku miris. Entah kenapa perasaanku yang sensitif seringkali membuatku meledak. Dan air mata adalah senjata yang siap meledak begitu perasaanku tak menentu.

“Yul–”

Author POV

Satu dua tiga. Bahkan dalam hitungan detik kedua mata gadis tinggi itu sudah berkaca-kaca. Sedangkan pria yang bersama Yuri, yang ternyata adalah lelaki dari China bernama Luhan masih belum bisa membaca situasi. What’s going on? Setidaknya itulah yang muncul di pikirannya ketika melihat Yuri yang kebingungan, dan Sooyoung yang hampir menangis. Gadis ini kenapa sering sekali menangis? Ia semakin bingung.

Apa Sooyoung cemburu karena aku bersama sahabatnya? Tanya Luhan bukan pada siapa-siapa. Buru-buru ia mengenyahkan pikiran terkonyol yang pernah hinggap di kepalanya sepanjang hidupnya.

“Kau, Luhan!”

“Ya aku memang Luhan,” jawab pria itu dengan ekspresi yang menunjukkan blank 100%

“Yul, jadi sekarang aku tidak penting ya? Oh kau sudah dapat teman baru. Selamat! Aku akan pergi. Dan Luhan, kau telah mengambil sahabatku yang hanya satu-satunya.” Itulah seruntut kalimat yang berhasil diucapkannya dengan tidak ikhlas sebelum benar-benar hilang dari pandangan keduanya.

Kemudian keadaan hening menyelimuti seperti biasa. Tapi rasa penasaran Luhan mematahkan semua dugaan yang datang silih berganti di otaknya, sehingga langsung menanyakannya pada yang bersangkutan. “Kau tidak mengejarnya?”

“Tadinya sudah terfikir untuk melakukan itu, tapi kupikir itu tidak sopan mengingat kau lah yang mengajakku kesini, Lu.”

“Jadi Kwon Yuri, ada apa dengannya?”

Terdengar Yuri menghela nafas lelah. “Err sepertinya terjadi kesalah pahaman di sini.”

“Maksudmu?”

Yuri tertawa kecil, “kau payah dalam membaca situasi ya?” Luhan semakin tidak mengerti, “kau tahu dia ini sedikit sensitif, banyak tepatnya,” jelas Yuri. Luhan diam menunggu gadis itu untuk melanjutkan kalimatnya, “aku adalah sahabatnya satu-satunya, dan ia pasti merasa cemburu dan terkhianati––”

“Hey jangan bilang dia naksir padaku?! Well aku memang tampan sih,” potongnya.

“Luhan-ssi berhentilah bersikap menyebalkan.” Pria itu hanya menampakkan senyum anehnya.

“Bukan itu. Oh ya ampun kau tadi mendengarkan perkataannya barusan tidak sih? Dia tidak cemburu padaku. Dia cemburu padamu Luhan.”

Luhan menautkan alisnya, bingung dan blank. “Bukan itu pula. Maksudku, dia mengira aku telah menemukan sahabat baru sehingga berfikir aku melupakannya yang notabene adalah sahabat lamaku. Dengan kata lain, dia mengira kau telah mencuri sahabatnya satu-satunya,” jelas Yuri, “sekarang kau mengerti?”

Luhan mengangguk paham, “Ah aku mengerti. Tapi mengapa bisa begitu? Maksudku kita kan hanya baru bertemu beberapa kali.”

“Harusnya aku pergi dengannya hari ini, tapi aku bilang aku ada urusan. Dan sekarang Sooyoungie menemukanku denganmu di sini. Haish, sekarang bahkan aku melupakan tujuan awalku untuk menemuimu di sini,” keluh gadis itu. Ia mulai membereskan buku yang tadi siang ia pinjam dari perpustakaan. “Aku sebenarnya butuh bantuanmu, tapi sudahlah.”

Asdfghjkl Sooyoung akan sulit sekali untuk kudekati lagi setelah ini. Dia pasti akan uring-uringan menangisi yang tak perlu ditangisi. Ash anak itu bisakah sekali saja ia melihat sesuatu secara positif. Berfikir dulu positif sebelum benar-benar meledak,” Yuri mendumal sedangkan Luhan memperhatikannya yang sedang komat-kamit, tak habis pikir.

“Hal yang sama pernah terjadi sebelumnya ketika aku dekat dengan seorang lelaki saat SMA dulu, ah aku ingat dia pernah dimusuhi Sooyoung selama seminggu penuh,” kenang Yuri, ia menerawang sibuk ber-flashback.

“Dia sensitif sekali ya,” gumam Luhan menanggapi. Brak. Yuri mengejutkan Luhan dengan suara gebrakan meja yang ia timbulkan. Yuri memicingkan mata, menatap Luhan seolah lelaki itu adalah pelaku kejahatan.

“Luhan-ssi, sekarang kasus yang sama menimpa dirimu.” “Aku?” tanya pria itu, alisnya terangkat keheranan. “Ya. Kau akan dimusuhinya dalam waktu yang lama, ya aku tahu kalian memang musuh tapi hmm aku curiga dia akan semakin membencimu.”

“Huh? Harusnya dia memusuhimu, Kwon.”

“Luhan-ssi, Sooyoung tidak pernah dan tidak akan pernah bisa benar-benar marah dan membenciku, dia hanya akan merasa gagal menjadi seorang sahabat yang baik sehingga berpikir aku lebih memilih mencari sahabat lain. Justru kau Luhan, dia pasti menganggapmu telah mengambilku, sahabatnya, darinya.”

Luhan menganga cukup lebar, sekarang apalagi? Ia dihadapkan masalah konyol yang baru. “Aku akan meminta maaf padanya begitu aku di rumah nanti. Oh sial tugas tambahanku belum selesai, aish ini semua karena kau Luhan!”

“Hah sebenarnya aku juga punya tujuan mengajakmu kesini, Kwon Yuri. Aku butuh seseorang dari jurusan modern dance untuk tugas wawancaraku. Karena kau juga merangkap sebagai pemain klarinet, kupikir kau sempurna untuk tugasku.”

“Kau sudah mengatakannya!”

“Sudahlah ini tidak akan selesai jika diteruskan, terimakasih untuk bantuan singkatmu, Luhan-ssi.” Yuri bangkit berdiri, sehingga kursi yang tadi didudukinya bergeser ke belakang sedikit. Yuri meraih tasnya, “Oh ya satu lagi, aku tidak tahu Sooyoung akan mengamuk seperti apa, yang jelas kini dia sedih sekali. Jadi hehe kau mengerti maksudku bukan? Aku sudah menjelaskannya padamu. Bye Luhan.”

***

Luhan POV

Aku menyusuri pinggiran jalan, meratapi nasibku yang selalu tertimpa masalah. Tugas wawancara belum dikerjakan akbiat insiden kafe itu. Salahkan juga dosen yang tiba-tiba memberi tugas hanya karena aku adalah murid terpercaya, alasan macam apa itu?

Kenapa di sini tidak ada kaleng bekas ya? Padahal niatku adalah menendang kaleng bekas, tapi sayang di sini tak ditemukan sampah apapun. Aku sedang berjalan santai sampai aku melihat gadis yang tadi mengamuk di kafe sedang berdiri di penyebrangan jalan. Kepalanya menunduk. Apa dia sesedih itu?

Entah bagaimana bisa kakiku justru melangkah mendekati sosoknya yang kukenali walau tengah sedikit menunduk, karena aku ingat tadi ia memakai jaket berwarna biru. Hey lampu sudah menunjukkan lampu hijau untuk pejalan kaki, dia tidak menyebrang?

Kini aku sudah benar-benar di sampingnya. Tanganku kumasukkan di dalam saku hoodie, bukan karena sok keren, tapi di sini memang dingin, kalau kau bertanya. Aku juga berniat menyebrang, namun niatku kuurungkan melihat lampu menyala merah untuk pejalan kaki dan menyala hijau untuk pengendara. Tapi astaga, gadis ini malah melangkah maju! Apa ia tidak bisa melihat lampu?!

Dengan gerakan reflek, kutarik lengan kanannya hingga ia tertarik ke belakang dan tidak jadi menyebrang, atau lebih tepatnya meregang nyawa. Beruntung ia tadi baru melangkah satu langkah, jadi aku tidak menariknya terlalu dramatis.

“Choi Sooyoung, kau belum bisa menyebrang, huh?”

“Memang.” Ia mendongakkan kepala.

“Beruntung karena aku mendampingimu menyebrang sekarang,”

Dia tertawa sarkastik, “Oh ya?”

“Apa tadi kau berniat mengakhiri hidup? Choi Sooyoung, jangan lakukan hal yang berbahaya hanya karena aku. Dengar, aku akan merasa sangat bersalah jika kau memang benar-benar punya niat seperti itu, yang penyebabnya adalah aku. Apalagi jika kau sampai mati konyol.”

“Aku tidak bunuh diri, dasar sok tahu! Luhan-ssi kau boleh mencuri apapun dariku, asal bukan sahabatku satu-satunya,” ucapnya. “kau tahu rasanya dikhianati? Ya aku tahu aku berlebihan dan menyebalkan,” lanjutnya pelan.

“Hey aku tidak mencuri Kwon Yuri darimu, Nona. Aku memang membutuhkannya untuk tugasku! Kenapa sulit sekali mempercayai kata-kataku?”

Kulihat matanya mulai mengkilap diterpa cahaya penerangan jalan. Jangan bilang dia akan menangis lagi. Ya Tuhan.

“Minggirlah! Aku akan pulang!” titah gadis itu seraya mengibaskan tangannya seolah mengusirku. Ia kemudian menyebrangi jalan, namun kali ini pada waktu yang tepat. Dan aku mengikutinya dari belakang. Lagipula rumahku memang searah dengan rumah miliknya. Lupakan, bahkan kami berada di komplek yang sama.

***

Author POV

Esok paginya, Luhan sudah bergegas menemui gadis yang ia temui kemarin, “Kwon Yuri, astaga sulit sekali memperoleh kata maaf darinya. Aku menyerah, lagipula aku sudah terbiasa memusuhinya.”

“Kemarin pesanku juga tidak dibalas, telpon tidak diangkat,” Yuri ikut curhat. “Sekarang terserah padamu, Kwon. Ini kan masalah kalian berdua. Selesaikan baik-baik, aku tidak ada sangkut pautnya dengan hal ini oke.”

“Kenapa kau berkata seolah aku memiliki hubungan dengan sahabatku sendiri? Luhan ini kan salahmu, ingat siapa yang mengajak ke kafe itu duluan?”

“Hey aku mengajakmu kesitu karena kupikir americano di sana adalah yang terbaik,” ujarnya tak mau kalah.

Yuri memutar bola mata malas, “kalian tidak ada bedanya.”

“Apa? Lagipula aku kan memang membutuhkanmu untuk tugas wawancara ingat? Kau juga bilang butuh bantuanku untuk tugas tambahanmu itu, aku benar kan?”

“Luhan, kau sudah mengatakannya untuk ketiga kalinya!”

“Benarkah?”

***

Luhan berjalan lesu ke kantin, di sana lah ia melihat lagi perempuan childish bernama Choi Sooyoung. Namun bersama seseorang yang ia yakini adalah teman seperjuangannya, Oh Sehun. Hei hei sedang apa mereka?

“Choi Sooyoung, aku perlu bicara,” mulai Luhan begitu ia telah sampai di meja tempat Sooyoung dan Sehun berada. “Oh hyung! Ah sepertinya aku harus pergi,” ujar Sehun seperti mengetahui situasi.

“Sehun mau kemana?” tanya Sooyoung. “Aku ada urusan, baiklah sampai jumpa Sooyoung, hyung!”

Seperginya Sehun, Luhan mengambil alih tempat duduk yang tadi ditempati Sehun. Sehingga posisinya kini berhadapan. “Sekarang bergaul dengan Sehun? Yuri tidak kau ajak kemari?”

“Kalau kau bisa mengambil Yuri dariku, aku juga bisa mengambil Sehun darimu,” tukasnya.

“Choi Sooyoung, aku tidak mengambil siapa-siapa darimu. Baiklah aku meminta maaf karena waktu itu aku membawa sahabatmu pergi, tapi sungguh, itu karena aku benar-benar harus mewawancarainya.”

Sooyoung terlihat terdiam, “aku tidak percaya sebelum Yuri yang menjelaskannya padaku.” Hahaha! Dalam hati, Sooyoung tertawa puas –jika bisa– Yuri sudah menjelaskan masalahnya dari semenjak malam kemarin dan Sooyoung tentu mengerti. Hanya saja mungkin sedikit mengerjai orang ini akan memberikannya hiburan.

Tanpa keduanya sadari, hampir seluruh isi kantin memperhatikan keduanya. Bagaimana tidak, setiap hari kerjaan keduanya adalah bertengkar dan kini, apa yang dilihat oleh mereka? Anjing dan kucing kampus nampak duduk berdua berhadapan. Walau Sooyoung lebih nampak acuh dibandingkan Luhan yang sepertinya banyak sekali berbicara.

“Pergilah, aku sedang makan dan aku tidak mau diganggu.”

“Tidak sampai kau mau mengerti.”

“Hey inikah Luhan yang kukenal? Mana Luhan yang tega dan acuh? Apa aku tidak salah, sekarang Luhan seperti ini?”

“Jangan mulai, Choi.”

“Dengar ya Luhan, aku mengerti, hanya saja aku sulit untuk memaafkanmu.”

***

“Sooyoung!”

“Hai Sehun.”

Sooyoung melihat ke sekeliling, taman di kampus ini memang sepi, dan dirinya menemukan Sehun terduduk di bangku di bawah pohon itu. Sehingga mengundangnya untuk ikut duduk. “Sendirian?” Tanya Sooyoung. “Tidak karena kau di sini,” jawab Sehun. Sooyoung terkekeh.

“Tidak ke kantin?”

“Tidak, aku membawa sandwich, kau mau?” Sooyoung menawarkan sandwich yang kebetulan ada dua dari dalam kotak bekalnya. “Dengan senang hati.”

***

Hampir satu minggu sudah Luhan mengganggu hidup Sooyoung. Hanya karena belum terucap kata yang mengindikasikan bahwa Sooyoung sudah memaafkannya, sehingga kini tampak seperti Luhan meneror Sooyoung. Bagaimanapun juga, ialah yang membuat persahabatan Yuri dan Sooyoung renggang. Setidaknya itulah yang diketahui pria itu.

Dan entah bagaimana, mungkin takdir yang selalu menuntun Luhan ke tempat di mana Sooyoung berada, biarpun Sooyoung sedang berada di tempat yang tak banyak orang lalui. Luhan kala itu menggeret langkah santai seperti biasa, tapi kemudian pandangannya kembali menangkap seseorang. Maksudnya dua orang.

“Sehun? Sooyoung?” gumamnya dari kejauhan. Jadi mereka benar-benar sudah dekat, kukira Sooyoung hanya bercanda. Dia balas dendam? Sedikit heran, karena keduanya sekarang terlihat sering sekali bersama. Oh tidak! Luhan juga merasakan rasanya bagaimana jadi Sooyoung saat itu. Kenapa mereka sering sekali bersama sih!

Tidak tahu bagaimana ceritanya, yang jelas dirasanya ada slight pang yang menyerangnya. Tidak tahu juga apakah Luhan cemburu? Merasa dikhianati? Tidak juga. Yang jelas, ia merasa err cemburu? Tapi cemburu yang bagaimana? Apakah hal ini dikarenakan kini Sooyoung sering bersama Sehun? Atau Sehun sering bersama Sooyoung?

To Be Continued

***

*) Helo author datang membawa part 7 yang absurd. Aciatciat author pengen banget nutri**boost tapi gak kesampaian jadinya updatenya kaya gini -_-V

Gak mau banyak cingcong author mau pamit bye, jangan lupa tinggalkan komentar🙂

34 thoughts on “Stolen Cat [Chapter 7]

  1. kartika February 22, 2014 / 9:57 PM

    mianhe aku baru coment di part ini *bow* aciyee luhan cemburu ciyee. sehun-sooyoung terus buat si luhan cemburu wkwk #digeplakluhan lanjutannya selalu ditunggu🙂 hwaiting thor..!!😀

    • winterchan February 26, 2014 / 5:54 PM

      iya gapapa😀
      makasih udah mau nunggu🙂

  2. sllky February 22, 2014 / 10:00 PM

    haha gk dimaafin, skrg malah cemburu sama sehun, makanya peka dong han’-‘ next part ditunggu😀

    • winterchan February 26, 2014 / 5:55 PM

      /pukpukluhan/
      oke thanks for reading🙂

  3. eunhani February 22, 2014 / 10:49 PM

    Kangen bgt sama ff ini… keren kok thor … suka bgt sama karakter soo-han yg kyk anjing sama kucing gtu.. wkwkwkwk lucu… ini soo eon mau ngerjain luhan gtu ya? Wkwkwkwk

    • winterchan February 26, 2014 / 5:56 PM

      sama author nya ga kangen? hikseu. sepertinya begitu😀

  4. nadigoo February 23, 2014 / 12:10 AM

    Aigoo soo childish banget tp aku suka karakternya nggak biasa haha
    Luhan cemburu sama soo itu haha

    • winterchan February 26, 2014 / 5:57 PM

      anti-mainstream ya /?
      haha bisa jadi😉

  5. Anna Choi February 23, 2014 / 6:25 AM

    Ngakak banget bacanya xD
    Soo kamu benar-benar childish, tapi daebak!!! Wkwk
    Itu luhan udah gak egois ya? Cieh itu cemburu gara-gara soo unn sama sehun haha~
    Makin bagus gitu lo sha ff-mu, kenapa gak pede?
    Next-nya ditunggu lo😉 semangat sha!!!

    • winterchan February 26, 2014 / 5:58 PM

      wkwkwk ‘-‘
      luhan sudah berubah. luhan yang dulu bukanlah luhan yang sekarang /?
      heheh abisnya ff aku aneh dan ga keren T.T
      sip makasih😀

      • Anna Choi February 26, 2014 / 6:00 PM

        Apaan keren kok😉 aku masi cinta dan setia membaca buktinya (y)😀

  6. safira faisal February 23, 2014 / 7:14 AM

    akhirnya ada ff baru juga di SFI^^ . kesel nih, luhan gak peka2-_- . luhan cemburu nya sama sooyoung atau sehun sih?

    • winterchan February 26, 2014 / 6:00 PM

      Luhan pasti bisa peka kok😉 #GerakanLuhanPekaLingkungan /gak
      cemburu sama chanyeol /?

  7. 소녀 사슴 (@AnggrainiNurP) February 23, 2014 / 8:46 AM

    Yeeayy Akhirnya Author Update, Aku Kangen Banget Sama FF Ini.. Keren Banget Thor Daebak Nih Chapter 7nya,,Hhaha Luhan Gege Cemburu *Ketawa Evil* Ditunggu Next Chap Ya Thorr Fighting!! Saranghae <3333

    • winterchan February 26, 2014 / 6:01 PM

      ga kangen sama authornya? T.T
      heheh makasih😀
      /ikut ketawa/ sipsip nado❤❤❤

  8. Rizky Amelia February 23, 2014 / 12:27 PM

    Sooyoung parahh dikit dikit nangis-__- tp ngkali juga wkwk
    Uhukkk luhan cemburu ya karna soo eonni sering sm sehun

    Next partnya ditunggu ya eonni ^^

    • winterchan February 26, 2014 / 6:01 PM

      wkwkwk ‘-‘
      bisa jadi😉
      oke sipsip❤

  9. shin hyun young February 23, 2014 / 2:15 PM

    Ampun.. Soo childish’a ga ketulungan..
    Lu udh deh peka sma perasaan sendiri, kmu itu ya cemburu ya bisa diblg udh mulai suka mungkin sma Soo(?)
    SooHun ayo trs bikin luhan cemburu ok..

    • winterchan February 26, 2014 / 6:02 PM

      wkwkwk ‘-‘
      kasian lu-ge dibully aja disebut ga peka wkwk /pukpukluhan/
      bisa jadi tuh😉

  10. Bubble Princess February 23, 2014 / 7:27 PM

    ternyta sooyoung hnya ngerjain luhan? cckckk…. ditunggu next partnya🙂

  11. miss_sooyoungster10 February 23, 2014 / 11:32 PM

    Akhirnyaa…dilanjutin juga..hahah
    Luhan serung berubah2 sikapnya yaa..
    Oke..Next

    • winterchan February 26, 2014 / 6:06 PM

      hehe iya ‘-‘
      mungkin dia masih satu spesies sama bunglon, who knows /?
      sip😉

  12. winda February 24, 2014 / 3:35 PM

    Kukira luhan bakalan nangkep soo, ternyata enggak.. Soo juga sih gak mau, jadi jatoh kan..
    Update soon^^

    • winterchan February 26, 2014 / 6:07 PM

      biasalah sooyoung sok jual mahal getoh /?
      oke😉

  13. Elisa Chokies February 25, 2014 / 1:48 PM

    Sampai chapter tujuh belum ada Skinship ya mereka u,u ? kalau bisa next chap aku request mereka skinship deh, bisakah?

    Bagus, di part ini Luhan mulai ada tanda” falling love, hhaha tinggal nunggu Sooyoung nih tapi Soo justru dekat sama Sehun.

    O’ow Someone is jealous for you Soo >_<

    • winterchan February 25, 2014 / 4:24 PM

      Diusahain bisa kok unnie, thanks for advice ♡♡

  14. yeni swisty February 25, 2014 / 6:55 PM

    wah, itu si luhan cemburu ma soo apa sma sehun
    next part di tunggu

    • winterchan February 26, 2014 / 6:08 PM

      sama keduanya bisa jadi /?
      oke😉

  15. khurotunnisa February 26, 2014 / 4:31 PM

    wah, sooyoung childish banget deh..
    luhan tuh cemburu ma sapa?
    luhan gak peka sih
    ff nya keren..
    lanjut ne~ hwaiting!

    • winterchan February 26, 2014 / 6:09 PM

      wkwkwk ‘-‘
      sama keduanya bisa jadi.
      aduh kasian lu-ge dibilang ga peka terus, sabar ya lu-ge /pukpukluhan/
      makasih😉 okesip😀

  16. mrn June 6, 2014 / 1:33 PM

    Luhan cemburuu cieeeee

  17. Rifqoh Wafiyyah June 26, 2014 / 8:00 AM

    hanppa mlai cmburu yey…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s