[SERIES] Story In 40 Days (Part 3)

story in 40 days

Title                       : [SERIES] Story In 40 Days (Part 3)

Author                  : Chuyleez

Main Cast            : Cho Kyuhyun, Choi Sooyoung

Support Cast      : Lee Donghae, Im Yoona, Kris Wu

Genre                   : Fantasy, Romance, Family, Humor (Maybe)

Length                  : Series

Annyeong yeorobunnn…. Wah kya’y mulai sekarang author update tergantung dah -_- #makin ngaret. Yah soalnya tergantung mood nulis author juga.

Jika ada kesamaan cerita harap mention di facebook Andria Chuyleez Minoz or twitter @chuyleezluvsuju. Gamsahamnida ^^

“Kyuhyun~Sshi, jebal lepaskan aku!” ucapnya memelas.

“Kau fikir aku akan melepasmu begitu saja?”

“Mwo?”

Kyuhyun semakin mendekat… Mendekat dan menghimpit tubuhnya. Sooyoung merasa nafasnya tercekat. Apa namja ini ingin membunuhnya dan membiarkan nafasnya habis.

Kyuhyun terus menekan – nekan tubuhnya yang kini telah menempel sempurna. Dahi mereka bersentuhan. Sooyoung merasa udara di sekitarnya menipis. Tatapan tajam mata Kyuhyun perlahan meredup. Namja itu memejamkan matanya.

Sooyoung membulatkan matanya. Namja itu menciumnya! Jantungnya terus berdetak cepat. Tubuhnya seakan terkurung. Tidak bisa memberontak. Tuhan, apakah ia akan mati sekarang karena ciuman namja ini?

 

***

 

Kyuhyun melepas ciumannya namun tidak melepaskan tatapan tajamnya.

“Jika kau mengacamku lagi, aku tidak akan segan – segan memperkosamu atau membunuhmu. Nona Choi.” Ancam Kyuhyun kemudian menghilang.

Sooyoung hanya terdiam. Dia benar – benar shock. Tubuhnya benar – benar gemetaran . Ternyata namja itu lebih menakutkan dari yang dia kira. Rasanya dia benar – benar nyaris mati kehabisan nafas.

“Sial kau Cho!!” umpat Sooyoung kesal.

Sooyoung keluar dari rumah kosong setelah berganti pakaian. Dilihatnya Kyuhyun berdiri membelakanginya. Sooyoung terlihat acuh dan berjalan seolah – olah tak melihatnya.

“YAA!!” teriak Kyuhyun menyadari Sooyoung meninggalkannya.

Kyuhyun berlari menyamakan langkah dengan gadis itu.

“Kau marah?”

Sooyoung diam. Masih mengacuhkannya.

“Taksi…!” ujar Sooyoung memanggil taksi yang lewat.

Sooyoung memasuki taksi tanpa mempedulikan Kyuhyun. Kyuhyun hanya diam di tempat. Dia menyadari kesalahannya. Yah, mungkin membiarkannya sendiri untuk saat ini adalah yang terbaik.

 

***

 

Sooyoung tiba di apartemennya. Dia sedikit terkejut melihat Kyuhyun sudah berdiri di balkon membelakanginya. Mungkin melamun. Dia menyadari namja itu kini mungkin dilanda kebimbangan. Tapi dia kesal dengan perilaku namja itu beberapa saat lalu.

Kreett…

Terdengar bunyi pintu kamar mandi tertutup dan gemericik air dari sana. Kyuhyun menyadari Sooyoung sudah tiba di apartemnnnya. Namun dia tetap diam dalam posisisnya. Beberapa saat kemudian, Kyuhyun mendengar pintu kamar mandi terbuka, lalu nyanyian – nyanyian kecil. Mungkin gadis itu mengeringkan rambutnya yang basah dengan baju handuk melekat ditubuh segarnya.  Lalu terdengar suara pengering rambut yang mengusik telinganya. Kyuhyun tetap diam pada posisinya. Seakan – akan pemandangan di balkon lebih indah dari apapun.

Tak lama suara pengering rambut tak lagi terdengar. Suasana kembali sunyi. Beberapa menit kemudian terdengar suara langkah high heels beradu dan suara pintu tertutup. Gadis itu masih mengacuhkannya. Yah, masih kesal. Kyuhyun menyadari itu.

Dari balkon apartemen, Kyuhyun dapat melihat Sooyoung dan Donghae yang memasuki sebuah mobil. Mencari makan malam mungkin. Itu yang ada di fikiran Kyuhyun.

 

***

 

Tuan Jin Hyuk tiba di Korea. Dia langsung menuju Apartemen putrinya. Namun apa yang dia dapat. Apartemen kosong yang sudah satu minggu lebih tidak dihuni meskipun barang – barangnya masih ada disana.

“Kemana anak itu?”

Sedikit ada penyesalan dalam diri Tuan Jin Hyuk karena tidak memperhatikan Putrinya. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Sepertinya sifatnya yang ini menurun pada putrinya. Namun walaupun begitu dia tidak tahu dimana tempat kerja putrinya. Bukankah dia adalah ayah yang jahat?

Tak lama setelah itu Tuan Jin Hyuk memutar setir mobilnya menuju sebuah bandara. Jeju. Sebuah daerah yang kini ada dalam fikirannya. Ingin dia mengunjungi mantan istrinya, dan mungkin mengunjungi makam putranya juga.

 

***

 

Sooyoung dan Donghae sedang makan malam bersama di sebuah restoran mewah. Sooyoung melahap makanannya dengan santai, tapi tidak Donghae. Entah mengapa namja itu terdengar gugup.

“Sooyoung~Sshi…”

Sooyoung mengangkat wajahnya. Memberi perhatian sejenak untuk Donghae.

Tiba – tiba dia merasakan lampu restoran perlahan meredup. Sooyoung memandang sekelilingnya dengan bingung. Apakah ada pemadaman bergilir? Tapi apakah itu berlaku untuk restoran mewah seperti ini?

Beberapa pengunjung pun sontak heboh. Namun tak lama, karena setelah itu sebuah layar besar menyala dan menampakkan tulisan. Semua perhatian tertuju pada layar LCD 50” itu.

 

Aku akan memberikan semua hatiku

Karena hanya kau satu – satunya untukku, Aku akan memilikimu

Letakkan tanganmu di dadaku. Rasakan jantungku yang berdetak.

Kau selalu dipikiranku sekarang

Ketika hari di dunia yang begitu sulit kau tertawa

Dan kau membuatku merasa kalau aku tidak pernah sendiri

Aku yang lemah tanpamu

Kau datang dan menunjukkan cara

Semua masalahku terasa pudar dan secara perlahan.

Aku merasa damai dan mulai tersenyum

Buanglah yang jauh sesuatu yang menghalangi

Angkatlah perasaanmu, kehangatanmu dan bersinar melalui kebaikanmu

Dan menjauhkan semua kesedihanku

Aku benar – benar ingin mengatakannya apa yang sedang aku rasakan

Aku jatuh hati karenamu secara mendalam, ini nyata

Aku mencintaimu lebih dari apapun

Hanya kau dan aku

(Song of Super Junior – All My Heart)

Sooyoung memejamkan matanya. Lagu itu lagu kesukaannya. Mengalun ditengah kegelapan yang terasa damai. Rasanya Sooyoung melupakan makanannya sejenak.

“Nae Yeojachingu ga dwaeo jullae (Maukah kau menjadi pacarku?), Sooyoung~ah?”

Sooyoung langsung membuka matanya ketika mendengar pernyataan Donghae.

“Ne?”

Donghae langsung meraih tangan Sooyoung dan meletakkan di depan dadanya.

“Apa kau bisa rasakan detakannya?”

“Sajangnim…”

“Aku menyukaimu. Kau setiap saat muncul dalam fikiranku. Aku lelah… Sebenarnya aku lelah. Aku ingin sekali mengabaikannya, namun rasa itu selalu muncul. Ketika kau tiba – tiba pergi setiap siang untuk bertemu temanmu. Aku mencemaskanmu dan rela menunggumu berjam – jam di lobby. Kau membuatku lemah Sooyoung~ah. Ottokhe… Aku harus bagaimana? Bukankah Cinta adalah perasaan yang tepat untukku padamu?”

Suara merdu Donghae menggetarkan dada Sooyoung.  Oh tidak! Namja ini benar – benar romantis.

Sooyoung tersadar mengapa semuanya berubah sunyi? Apakah tidak ada orang disini selain dirinya dan Donghae? Kemana yang lain?

“Say I Do… Say I Do… Say I Do…” tak lama terdengar suara orang – orang yang di cari Sooyoung.

“Mworagu??” batin Sooyoung bingung.

“Bagaimana Sooyoung~ah? Apa kau mau mengobati rasa cemas dan gelisah dalam hatiku?”

“Sajangnim…”

“Jangan panggil aku itu? Sekarang hanya kau dan aku? Aku sebagai seorang namja yang mencintaimu.”

Sooyoung menunduk dia berfikir keras. Ucapan Sunny dan Kyuhyun berulang kali terlintas dalam fikirannya.

“Tentu saja kau harus mendapatkannya. Kesempatan hanya berdua dengannya di Jeju selama 20 hari. Lagipula dia tampan dan terlihat tertarik padamu.”

“Benarkan yang kukatakan. Namja itu menyukaimu.”

“Lihat tadi namja itu menunggumu berjam – jam di lobby hotel. Kurasa dia pasti mencemaskanmu.”

“Sooyoung~ah…” ucapan Donghae menyadarkan Sooyoung.

“Beri aku waktu. Donghae~Sshi…”

“Ah, baiklah… Mungkin ini mengejutkanmu. Aku akan menunggu sampai kapanpun…”

“Tapi jangan terlalu lama Agasshi, nanti keburu namja tampan itu mencintai gadis lain. Jangan menyia – nyiakan namja setampan dan sebaik dia.” Celetuk  seorang Ahjumma yang menjadi salah satu saksi pernyataan cinta seorang Lee Donghae.

“Iya Agasshi… Kau akan menyesal jika menyia – nyiakannya…” sahut yang lain.

“Anak muda… Jika gadis itu menolakmu, bagaimana jika kukenalkan dengan putriku? Dia juga tidak kalah cantik.” Ujar Ahjumma lain menggoda Donghae.

Donghae hanya tersenyum malu. Donghae tersadar dia masih memegang tangan Sooyoung. Kemudian dia melepaskannya.

“Ah, mianhae…”

Tak lama lampu yang tadinya mati kembali menyala terang.

“Lanjutkan makanmu.”

Sooyoung memakan makanannya dengan perlahan. Entah kemana perginya nafsu makannya.

 

***

 

Donghae mengantar Sooyoung kembali ke kamarnya. Hanya hening dan suasana canggung menyelimuti mereka.

“Maaf jika membuatmu bingung. Tapi aku benar – benar menunggu jawabanmu.”

Cup

Sooyoung mematung ketika Donghae mencium keningnya.

“Jaljayo, Sooyoung~ah. Tidur yang nyenyak. Jangan menjadikan hal ini sebagai beban.” Ujar Donghae mengacak pelan rambut Sooyoung.

Sooyoung hanya mengangguk. “Ne… Jaljayo…. Donghae~Sshi…”

“Bisakah kau memanggilku Oppa?”

“Ne? Ah… Donghae Oppa…”

Donghae tersenyum lebar. “Tidurlah…”

“Ne…”

Sooyoung membuka pintu kamarnya dan menutupnya. Donghae kembali ke kamarnya.

Sooyoung menyentuh jantungnya yang berdetak cepat.

“Ige mwoya?” tanya Sooyoung bingung.

Jelas saja dia terkejut. Ini pertama kalinya seorang pria menyatakan cinta padanya. Yah, meskipun harapannya untuk mendapat ciuman pertama dari pacar pertamanya harus pupus karena setan mesum itu telah merebut  first kiss-nya.

Tapi berbicara masalah setan mesum, sejak tadi dia tidak melihat namja itu berkeliaran di sekelilingnya. Apa dia masih marah?? Mengapa dia marah? Harusnya Sooyoung yang marah karena namja itu seenaknya mengingkari janjinya dan seenaknya menciumnya.

Sooyoung mencoba untuk tidak peduli. Dia pun melangkah menuju kamarnya.

Sooyoung mendesah. Namja itu disana sedang menelungkupkan tubuhnya di atas ranjang. Matanya terpejam dan rancauan terdengar dari bibirnya. Apa dia mengigau? Baru pertama kali Sooyoung melihat hantu bisa tidur apalagi mengigau.

“Maaf kembali merepotkanmu… Jika saja aku tidak mati, aku tidak akan merepotkanmu… Aku pasti sudah mengatakannya sendiri. Tolong beri aku kesempatan… Jangan marah lagi… Jangan mengacuhkanku…” rancaunya ketika Sooyoung berusaha menajamkan telinganya untuk mendengar suara namja itu.

“Apa sebegitu tersiksanya kau kuacuhkan? Makanya jangan membuatku marah. Aku tidak marah kau ingin kembali meminjam tubuhku. Yang membuatku marah adalah kau telah merebut ciuman pertamaku. First Kiss-ku direbut oleh seorang hantu penasaran. Huh, menggelikan.”

Yah, Sooyoung memang sudah tidak marah lagi. Dia mulai merelakan dirinya agar Kyuhyun bisa kembali melaksanakan rencananya. Namun dia masih belum melupakan insiden tercuri ciuman pertamanya. Ditambah lagi Kyuhyun melihatnya sedang dalam keadaan hanya mengenakan tanktop dan celana hotpants. Tentu membuatnya semakin malu.

“Yah!” Sooyoung mengguncang – guncangkan bahu Kyuhyun.

Kyuhyun merasakan itu dan mendudukkan tubuhnya.

“Kau sudah pulang?”

Sooyoung mengangguk.

“Kapan kau akan melaksanakan rencanamu lagi?”

Kyuhyun mengangkat wajahnya dan matanya terlihat berbinar – binar. Tak menyangka gadis itu berubah pikiran.

“Jadi kau masih mengizinkanku memakai tubuhmu.”

Sooyoung mengangguk.
“Gomawo Sooyoung~ah.. Jeongmal gomawoyo…” Kyuhyun langsung memeluk Sooyoung erat.

“Hmmpphh.. Aaakh… Kkk…Kkkyu…”

Kyuhyun masih memeluk Sooyoung seakan belum menyadari bahwa gadis itu kini merasakan sesak nafas. Tak sadarkah dia kekuatannya sebagai ruh sangat kuat dibanding manusia biasa? Jadi hantu memang suka – suka.

“KKKYUUU!!!” Sooyoung memaksakan teriakan itu keluar dari tenggorokannya. Membuat Kyuhyun melepaskan pelukannya kala teriakan Sooyoung memekakan telinganya.

“Jika aku masih hidup, aku pasti sudah tuli. Suaramu seperti kaleng rombeng.”

“YAA!”

“Gomawo Sooyoung~ah…” Kyuhyun kini bergantian mencubit kedua pipi gembul Sooyoung. Membuat kedua pipi itu langsung memanas.

“YAA!!” Sooyoung memukul tangan Kyuhyun.

Kyuhyun tertawa senang. Dia benar – benar tidak bisa mengungkapkan rasa senangnya.

 

***

 

Sepertinya sudah menjadi kebiasaan Kyuhyun sejak dia bertemu dengan gadis itu. Dia akan memandangi gadis itu saat sedang tidur. Dia sendiri tidak mengerti mengapa dia menghabiskan waktu malamnya untuk memandangi gadis itu tidur. Mengapa bukan Yoona yang jelas – jelas  dia cintai? Alasannya karena saat tidur Yoona selalu menangis dan mengigaukan namanya. Membuat Kyuhyun ikut menangis dan terlihat lemah. Dia benci itu.

Oleh karena itu dia lebih memilih disini memandangi Sooyoung tidur.

“Wajahmu hampir mirip dengan Omma… Anni, lebih tetapnya hanya pipimu saja yang mirip dengan milik Omma…”

Kyuhyun menyentuh pipi putih Sooyoung dengan telunjuknya dan mencolek – colek (?) pipinya.

“Ini pipi apa bakpau? Rasanya aku ingin memakannya…” Ujar Kyuhyun menjilat bibirnya.

Kemudian perhatian Kyuhyun tertuju pada bibir merah gadis itu. Ingatannya kembali berputar pada kejadian beberapa jam lalu saat dia mencium paksa gadis itu.

“Aisshh… Mengapa aku melakukannya??” Kyuhyun mengacak rambutnya kasar. “Wajar saja saat itu aku sedang marah… Tapi mengapa harus menciumnya?? Pabbo!!” Kyuhyun meruntuki kebodohannya.

Kyuhyun tersentak ketika Sooyoung tiba – tiba membuka matanya.

“Kau belum tidur?” tanya Kyuhyun.

“Aku takut kau memakan pipiku saat tidur.” Ujar Sooyoung memegang kedua pipinya.

“Aish, kau mendengarnya?? Aku hanya bercanda.”

“Tapi bisa saja kan? Kau tiba – tiba membunuhku saat tidur.”

“Kau terlalu banyak nonton film horror Nona Choi. Aku tidak seperti itu.”

Sooyoung mencibir.

“Mengapa belum tidur?”

“Tidak bisa tidur.”

“Wae?”

Sooyoung memutar tubuhnya menghadap Kyuhyun. Masih dalam posisi berbaring.

“Kau benar. Donghae menyukaiku. Tadi dia menyatakan cinta padaku.”

“Benarkah? Sudah kubilang. Kau sih tidak mempercayaiku. Lalu apa jawabanmu?”

“Aku belum menjawab apapun. Aku masih ragu dengan perasaanku sendiri.”

Kyuhyun memutar tubuhnya yang tadinya dalam posisi terlentang, menghadap Sooyoung.

“Donghae beruntung.”

Sooyoung mengerutkan kening.

“Dia bisa menyatakan cintanya di dunia. Tidak seperti aku. Aku sama sekali tidak diberi kesempatan untuk itu.”

Sooyoung merasakan pandangan Kyuhyun meredup.

“Selagi masih ada waktu, jawablah pernyataan cintanya sebelum kau menyesal.”

“Kyuhyun~ah…”

“Usia seseorang tidak ada yang tahu. Manfaatkanlah waktumu dengan sebaik mungkin sebelum habis dan kau menyesalinya.”

“Lalu menurutmu aku harus bagaimana?”

“Jika kau menyukainya, kau terima saja. Jangan buat dia terlalu lama menunggu. Kau tahu, aku menyesal membuat Yoona terlalu lama menungguku di taman itu.”

Sooyoung kembali memutar tubuhnya menghadap langit – langit kamarnya. Menerawang jauh. Mencoba meyakinkan hatinya, namun perasaan ragu masih mendominasi.

“Aisshh,,, Nona Choi pipimu benar – benar besar. Padahal tubuhmu kurus kering.”

“YAA!! Jangan menghinaku!!”

Kyuhyun tertawa.

Sooyoung menutup wajahnya dengan bantal dan mencoba tidur.

“Aku bercanda.”

 

***

 

Pagi – pagi hari, Sooyoung sudah keluar dari kamarnya. Untunglah hari ini hari minggu meskipun sedang di luar kota, dia tetap butuh libur. Tanpa sepengetahuan Donghae dia pergi. Sedikit bersalah juga pergi tanpa pamit. Tapi kalaupun minta izin, dia pasti ditanyai macam – macam oleh orang yang menyukainya itu.

“Apa rencanamu hari ini?” tanya Sooyoung sebelum memasuki rumah kosong untuk berganti pakaian.

“Masih sama. Ingin terus meyakinkan dia. Aku tak akan putus asa.”

Sooyoung mengangguk – nganggukkan kepalanya tanda mengerti. “Semoga berhasil.”

“Ne. Cepatlah masuk. Aku harus mengikuti Yoona. Hari ini dia ingin pergi ke toko buku.”

“Darimana kau tahu?”

“Setiap minggu kedua tiap bulan, adalah jadwalnya ke toko buku. Setiap minggu ketiga dia akan berbelanja di pusat perbelanjaan, dan minggu terakhir biasanya kami hanya jalan – jalan ke taman bermain.”

“Minggu kesatu?”

“Minggu kesatu karena kami baru gajian, justru kami tidak kemanapun. Mungkin hanya bersantai di rumah.”

“Apa pekerjaanmu selama hidup?”

“Aku seorang komikus. Sedangkah Yoona adalah seorang novelis. Bukankah kita serasi?”

Sooyoung tersenyum masam. Namja ini benar – benar percaya diri tingkat tinggi.

“Cepat ganti pakaianmu. Apa perlu kugantikan? Tidak apa – apa kan sekali – kali.”

Sooyoung mengerucutkan bibirnya kesal. “Bermimpilah!”

Kyuhyun tertawa senang. Dia begitu senang mengusili orang. Apalagi yeoja pemarah di hadapannya kini.

Sooyoung memasuki rumah kosong untuk mengganti pakaiannya. Sedangkan Kyuhyun menunggu diluar.

Kyuhyun melipat kedua tangannya di depan dada. Dia melihat ke sekelilingnya.

“Semoga saja Yoona belum pergi.” Gumamnya lirih.

Mata Kyuhyun membulat ketika melihat seseorang yang selama ini sedang mengejarnya. Dia sontak langsung menyembunyikan dirinya dengan masuk ke dalam rumah kosong.  Dia menabrakkan dirinya dengan Sooyoung hingga Sooyoung terjatuh. Terjadi pergulatan hebat di dalam diri Sooyoung karena dalam dirinya ada dua jiwa yang sedang bertarung.

“ARRGGHH!!” Sooyoung mengerang. Mungkin sakit. Namja itu terlalu memaksa memasuki tubuhnya. Matanya mulai memerah.

“Akh!” Sooyoung kalah pertarungan. Kini ruhnya terlempar dari tubuhnya sendiri. Sooyoung memandang sengit Kyuhyun yang kini menggunakan tubuhnya.

“YAA!! Apa kau tidak bisa bersabar sedikit?? Aku kesakitan bodoh!!” omel Sooyoung.

“Ada orang yang mengejarku di luar. Aku tidak boleh tertangkap sekarang.”

“Apa itu Kris?”

“Sooyoung~ah, jebal jangan beritahu dia.” Ucap Soohyun memohon.

Di luar rumah kosong, Kris memandangi radarnya yang terus berbunyi.

“Sepertinya dia disini. Tapi dimana?” Kris memutar tubuhnya berharap bisa menemukan Kyuhyun, sosok yang dia cari.

Kris tersentak saat melihat seseorang memakai jaket dengan topi menutupi kepalanya serta kaca mata hitam keluar dari rumah kosong. Kris memandangnya aneh. Namun dia mengerdikkan bahu seolah tak peduli. Dia harus tetap pada tujuannya. Mencari keberadaan Kyuhyun. Waktunya tidak lama lagi.

“Lama – lama aku bisa gila!” keluhnya.

 

***

 

Soohyun menyentuh dadanya yang berdetak cepat. Dia benar – benar takut ketahuan. Setelah posisinya dirasa aman, dia menghela nafas lega.

“Aisshh, semoga dia tidak curiga.”

Di taman, Sooyoung duduk di atas ayunan. Tangannya memegang sisi tali ayunan. Kakinya yang panjang menyentuh tanah. Melamun. Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan selain melamun. Melamun sambil menunggu Kyuhyun mengembalikan tubuhnya.

“Kita bertemu lagi.” Ujar Kris muncul di belakang Sooyoung.

Sooyoung hanya tersenyum kecil. Dia tahu Kris ada di sekitar sini karena Kyuhyun melihatnya tadi hingga membuatnya ketakutan setengah mati. Sebenarnya Kris sama sekali tidak menyeramkan. Tubuhnya tinggi, kulitnya putih dan wajahnya cukup tampan. Sama sekali tidak menakutkan. Yang membuat dia terlihat menakutkan adalah profesinya yang sebagai seorang penjemput. Penjemput arwah penasaran.

“Kurasa kita berjodoh.”

“Kau berkhayal terlalu tinggi, Kris~Sshi.”

“Hey, aku masih ada kesempatan hidup lagi. Kau harus mendoakan aku supaya bisa menemukan bocah setan yang suka keluyuran itu.”

“Bocah setan?”

“Benarkan yang kukatakan?? Dia kan memang sesosok arwah penasaran.”

Sooyoung kembali mengangguk. Dia memang tidak menyalahkan semua ucapan Kris yang memang benar adanya.

“Sooyoung~Sshi, hmm… Kalau nanti aku kembali hidup, aku ingin bisa bertemu denganmu lagi.”

Sooyoung menoleh ke arah Kris meminta penjelasan.

“Yah, aku merasa dunia yang aku jalani sekarang terasa menyenangkan setelah bertemu denganmu. Sebelum itu aku benar – benar kesepian dan selalu diliputi rasa frustasi. Frustasi karena tugasku.”

Sooyoung hanya diam memandang namja itu yang menatap dalam matanya.

“Jika aku berhasil bereinkarnasi? Maukah kau menungguku? Aku benar – benar berharap kita bisa bertemu lagi.” Lanjut Kris lagi.

“Ne?”

“Memang cukup lama sih? Jika sekarang umurmu 24 tahun, jika kita bertemu 24 tahun lagi, usiamu akan 48 tahun. Tapi tak apa – apa, asal itu kau.”

“Apa maksudmu Kris~Sshi?”

“Aku menyukaimu. Nan jeongmal johayo.”

“Mwo??”

“Yah, aku benar – benar menyukaimu. Jadi aku ingin kau kembali menungguku sampai kita bertemu lagi, lalu menikah dan hidup bahagia.”

PLETAK!

Sebuah pukulan mendarat di kepala Kris. Kris langsung mengelus kepalanya yang barusan menjadi sasarannya.

“Sembarangan bicara.”

“Waeyo? Apa aku salah?”

“Yah kau salah. Secara tidak langsung kau menyuruhku menjadi perawan tua. Apa – apaan itu? Menunggumu?? Sampai 24 tahun lagi?? Kau gila!!”

“Ya aku tahu aku mulai gila. Tapi kau mau kan?”

“Bodoh jika aku mau. Aku akan segera menikah satu atau dua tahun lagi.”

“Mwo?? Benarkah?? Apa kau punya pacar??”

“Sebenarnya belum. Tapi aku akan berusaha.”

“Kalau tidak ada yang mau denganmu, aku mau denganmu.” Ujar Kris penuh harap.

“Bermimpilah! Aku tidak mau menikah dengan seorang bocah nantinya.”

Kris menggerutu. Yah sepertinya dia patah hati di awal.

 

***

 

Soohyun mengikuti Yoona yang sedang berjalan di atas trotoar. Arah ke toko buku, dia tahu pasti. Sudah sering dia melewati jalan ini bersama Yoona. Jika kalian berfikir Kyuhyun dan Yoona adalah anak yang rajin karena selalu ke toko buku, kalian salah. Disana mereka hanya memantau penjualan dan minat pembaca komik dan novel buatan mereka.

Yoona sesekali menoleh ke belakang. Dia merasa aneh pada seorang namja berjaket hitam dan bertopi yang mengikutinya sejak tadi. Sesekali dia percepat langkahnya berusaha melarikan diri.

Yoona memasuki toko buku. Dia terlihat terburu – buru  seperti di kejar sesuatu.

“Ji Eun~Sshi, bagaimana penjualan bukuku dan Kyuhyun minggu ini?” tanya Yoona langsung pada salah satu kasir yang dikenalnya.

“Penjualannya cukup baik. Semenjak dirilis dua minggu lalu, di toko ini bukumu sudah laku 50 buah disini dan buku Kyuhyun~Sshi 46 buah. Peminatnya cukup banyak, kami memesan 50 bukumu dan 50 buku Kyuhyun~Sshi lagi untuk stok disini.”

“Ah ne, gamsahamnida Ji Eun~Sshi.”

“Aku turut berduka cita atas meninggalnya Kyuhyun~Sshi. Komiknya jadi menggantung begitu saja. Padahal aku sangat menantikan akhir ceritanya.”

Yoona hanya tersenyum tipis.

Sangat disayangkan memang jika suatu karya berhenti begitu saja. Yoona sudah berulang kali merengek pada Kyuhyun agar dapat memberitahu akhir dari cerita cinta dalam komiknya. Namun Kyuhyun sama sekali tak memberitahunya. Hingga seperti inilah akhirnya kisah cinta yang menggantung dalam komik Kyuhyun.

Tanpa diketahui Yoona, Soohyun memasuki toko buku. Dia melihat komik – komik karangannya yang berjejer rapi di rak dari seri 1-15. Yah memang baru sampai 15 seri dan kisah itu menggantung karena kematiannya. ‘My Secret’ itulah judul komik yang dibuat Kyuhyun.

Komik cinta yang menceritakan tentang seorang laki – laki yang mencintai sahabatnya yang merupakan seorang gadis. Namun sayangnya kisah cinta namja itu harus pupus karena sang penulis telah meninggal dunia. Yah, mungkin mereka tidak berjodoh.

“Padahal saat itu, setelah aku mengatakan semuanya perasaanku padamu. Aku ingin menjadikan kisah cinta mereka berakhir bahagia hingga akhirnya menikah.” Gumam Soohyun.

Memang tanpa Yoona sadari, Kyuhyun menulis sebuah komik yang menceritakan tentang perjalanan kisah mereka. Kisah seorang Cho Kyuhyun yang menyukai sahabatnya Im Yoona. Cinta dalam hati yang dirasakan Kyuhyun untuk Yoona. Berharap bahwa kisah mereka akan berakhir bahagia baik dalam dunia nyata maupun dunia komik.

Namun semuanya musnah. Di dunia nyata mereka tidak akan bisa bersatu. Bagi Kyuhyun itu sangat menyakitkan.

Soohyun tersadar dari lamunannya ketika menyadari Yoona baru meninggalkan toko buku. Sontak dia berlari mengejar Yoona.

Yoona menyadari orang yang tadi mengikutinya kembali mengikutinya. Sontak dia berlari sekencang mungkin menghindari orang itu.

”Mengapa dia mengikutiku terus? Apa dia penculik? Ottokhe??”  batin Yoona panik.

“Akh!” Yoona terjatuh. Kakinya terkilir dan membuat luka cukup lebar pada lututnya.

“Neo gwenchana?”

Yoona menyeret tubuhnya menghindari orang itu. Dia benar – benar ketakutan.

“Jangan ganggu aku!”

“Yoong~ah.”

“Kenapa kau selalu mengikutiku? Walaupun kau mengikutiku aku tetap tidak akan percaya kalau kau adalah Kyuhyun.” Yoona akhirnya menyadari orang yang mengikutinya sedari tadi. Orang yang beberapa hari lalu mengaku sebagai Kim Soohyun, kemudian keesokan harinya mengaku bahwa dia adalah Kyuhyun.

“Kakimu terluka.”

“Jangan pedulikan aku!” bentak Yoona.

Soohyun menarik paksa tangannya hingga Yoona berdiri. Namun gadis itu memberontak.

“Jangan menyentuhku, Akh!” Yoona kembali merasa nyeri pada lututnya.

“Jangan banyak bicara.”

Kini Yoona dan Soohyun berada di sebuah halte. Soohyun berlutut di hadapan Yoona sedang membersihkan luka dengan sapu tangan yang dia bawa. Yoona terlihat diam memperhatikannya. Tidak, lebih tepatnya memperhatikan tangan orang itu. Gerak – gerik melipat sapu tangan secara diagonal kemudian memasangkannya di lutut Yoona yang terluka.

“Kalau begini pendarahannya akan berhenti!”

Yoona membulatkan matanya. Memorinya seakan berputar pada kejadian 10 tahun lalu ketika dia tersandung batu dan terluka. Kyuhyun dengan lembut menuntunya untuk duduk dan mengobati lukanya. Cara dia memasangkan sapu tangan persis dengan yang dilakukan orang di hadapannya ini.

“Kalau begini pendarahannya akan berhenti! Sudah tidak sakit lagi kan?”

Suara Kyuhyun terus terngiang – ngiang di telinga Yoona. Dia mencoba untuk kembali tidak percaya namun terasa sulit.

“Kau benar  – benar mirip dengan Kyuhyun. Apa kau adalah reinkarnasi dari Kyuhyun?”

“Bukankah sudah aku katakan bahwa aku adalah Kyuhyun?”

Yoona tersadar akan pertanyaan konyolnya. Raut wajahnya kembali mendingin.

“Aku harus segera kembali. Terimakasih karena sudah membantuku.”

“Apa kau masih tidak percaya?”

“Jika kau benar Kyuhyun, aku harap kau segera pergi dan jangan pernah temui aku lagi. Seharusnya kau sudah tenang disana.” Yoona sebelum beranjak pergi meninggalkan Kyuhyun.

“Tapi aku mencintaimu.”

Yoona menghentikan langkahnya.

“Aku mencintaimu, Yoong. Aku melakukan ini karena aku ingin mengatakannya padamu. Bahwa aku mencintaimu. Benar – benar mencintaimu.”

Yoona membalikkan tubuhnya. Matanya memerah menahan tangis. “Katakan padanya… Bahwa aku tidak mencintainya. Sudah puas dengan jawabanku? Sebaiknya kau segera pergi. Jangan pernah mengganggu orang lagi.” Jawab Yoona dingin kemudian pergi meninggalkan Soohyun.

Soohyun merasa patah hati. Tak terasa air mata menetes di pipinya. Yoona menolaknya. Benar – benar berbanding terbalik dengan yang diharapkannya. Bertahun – tahun hidup bersama Yoona membuat dia yakin gadis itu memiliki perasaan yang sama dengannya. Namun apa yang dia dapat ucapan yang dia dengar dari gadis itu benar – benar berbeda.

Bohong jika Yoona tidak mencintai Kyuhyun. Dalam hatinya, Kyuhyun menempati tempat tersendiri. Bahkan sudah hampir satu minggu Kyuhyun meninggalkannya, dia masih menangis sendiri tiap malam jika mengingat namja itu.

“Mianhae… Mianhae… Ku harap kau bisa pergi dengan tenang. Jangan berharap lagi… Jangan pernah berharap lagi… Kita tidak akan pernah bersatu… Kita tidak akan pernah bersama lagi…”

Satu alasan Yoona menolak cinta Kyuhyun. Dia tidak ingin berharap lagi. Dia tidak ingin hidup dalam cinta semu yang tidak akan pernah menjadi nyata. Supaya dia bisa cepat melupakan. Melupakan cintanya untuk Kyuhyun. Yang kadang membuat dia menangis setiap malam.

 

***

 

Kris mengantar Sooyoung sampai di rumah kosong tempat biasa Sooyoung mengganti pakaiannya.

“Kau tinggal disini? Apa kau jadi penghuni rumah kosong itu?” tanya Kris heran.

“Aku senang disini.” Ujar Sooyoung yang tentunya berbohong. Mana mungkin dia senang pada tempat sepi, menyeramkan, kotor dan menakutkan seperti itu.

Kris tersenyum miring.

“Sudah sana cepat pergi. Kau harus tetap menjalankan tugasmu. Ingat waktumu tinggal 19 hari lagi.”
“Kau masih menyimpan tombol yang aku berikan kan?”

“Tentu. Aku menyimpannya.”

“Beritahu aku jika kau benar – benar menemuinya.”

“Ne… Aku pasti… memberitahumu.” Ujar Sooyoung sedikit ragu.

Kris tersenyum lebar. “Baiklah aku pergi. Jangan merindukanku yah…”

“Cish, siapa yang mau merindukan orang aneh sepertimu.”

“Rindukan aku Soo~ah. Aku benar – benar ingin memiliki seseorang yang merindukanku.”

“Dasar pemaksa! Sudah cepat pergi!”

“Baiklah aku pergi. Annyeong…” pamit Kris kemudian menghilang.

Sooyoung menghela nafas.

“Mengapa akhir – akhir ini aku dikelilingi dua namja aneh dan narsis seperti mereka. Lama – lama aku bisa gila!!” keluh Sooyoung.

Sooyoung menolehkan kepalanya. Dia mengkerutkan kening melihat Soohyun yang kembali dalam keadaan lesu dan cukup berantakan.

“Hey, apa yang terjadi? Mengapa kau lemas begitu?”

Tanpa di duga, Soohyun memeluk tubuh Sooyoung. Seketika pertukaran terjadi. Ruh Sooyoung kembali pada tubuhnya dan ruh Kyuhyun keluar dari tubuh Sooyoung. Masih dalam posisi berpelukan.

“YAA! Waegeurae?”

“Hiks!”

“Kau menangis?”

Kyuhyun mengeratkan pelukannya. Menyembunyikan wajahnya pada bahu Sooyoung. Dia malu menangis di depan seorang gadis. Namun apa, hatinya benar – benar tidak kuat lagi menahannya.

Mereka hanya berpelukan tanpa melanjutkan kata – kata. Beruntunglah mereka karena daerah itu sedang sepi. Jika tidak, mungkin mereka di anggap gila. Ah, tidak! Mungkin lebih tepatnya hanya Sooyoung yang gila.

 

***

 

Kini Kyuhyun dan Sooyoung berada di pinggir pantai. Sepertinya silir semilir angin mampu menenangkan hati seorang Kyuhyun yang sedang patah hati.

“Ceritakan apa yang terjadi.” Ujar Sooyoung lirih dan tatapan lurus ke depan.

Yah lirih, jika dia bersuara dengan keras, dia benar – benar dikira gila karena bicara sendiri.

“Yoona… Menolakku.” Ujar Kyuhyun berat seperti menelah pil pahit.

Sooyoung mengubah sedikit posisi tangannya yang kini memeluk lututnya. Tekhnik lain untuk menunjukkan keterkejutannya. Yah, lagi – lagi tidak mungkin jika dia berteriak atau menampakkan ekspresi terkejut. Saat ini dia hanya berhadapan dengan makhluk tak memiliki raga.

“Lalu apa yang akan kau lakukan?”

“Aku menyerah…”

Sooyoung menoleh ke arah Kyuhyun.

“Aku akan pergi dari sini.”

“Kyuhyun~ah…”

“Tapi aku punya satu permintaan lagi.”

Sooyoung menaikkan alis. Seolah bertanya kemauan Kyuhyun.

“Beri waktu aku Tujuh hari untuk menyelesaikan komikku.”

“Komik?”

“Aku seorang komikus. Aku baru mengeluarkan komik seri  kelima belas, saat aku ingin membuat komik seri keenam belas, aku justru meninggal.”

“Permintaanmu terlalu konyol Kyuhyun~Sshi. Bagaimana bisa menyelesaikan komik dalam waktu sesingkat itu?”

“Aku juga berfikir ini adalah ide yang cukup gila. Komik itu menceritakan kisah cintaku pada Yoona. Aku ingin cerita itu berakhir dengan bahagia. Walaupun nyatanya berakhir dengan sedih. Jadi tolong beri aku kesempatan. Biarkan aku menghidupkan kisah cintaku dalam komik yang berakhir dengan bahagia. Hanya itu yang aku minta darimu. Aku janji, setelah itu aku pergi. Dan tidak akan mengganggumu lagi.”

Sooyoung memandang Kyuhyun kasihan. Namja ini benar – benar sedih dan putus asa. Dia merasa hanya dia satu – satunya harapan untuk namja itu.

Sooyoung mengangguk menyetujui. Sebuah gerakan yang kembali membuahkan senyum di bibir Kyuhyun.

“Gomawo, Soo~ah. Jeongmal gomawo. Sampai kapanpun aku tidak akan melupakan jasamu.”

Sooyoung tersenyum samar.

 

***

 

Sooyoung dan Kyuhyun tiba di apartemen. Sooyoung sedikit memperlambat langkahnya menyadari Donghae berdiri di deoan kamarnya. Bisa melihat betapa cemasnya raut wajah namja itu.

“Oppa…”

“Kau darimana saja?” tanya Donghae dengan rasa cemas.

“Aku ada urusan sebentar.”

“Apa kau menghindariku?? Karena aku menyatakan cinta padamu kemarin dan sekarang kau menghindariku?”
“Tidak seperti itu.”

“Jangan membuatku cemas.”

“Mianhae jika aku mencemaskanmu.”

“Mau pergi bersamaku?”

“Kemana?”

“Taman bermain.”

“Ne?”

“Aku mengajakmu berkencan.”

Blush! Pipi Sooyoung memerah. Ini baru pertama kalinya seorang namja memintanya berkencan.

“Aku menunggumu. Berdandanlah yang cantik.” Ujar Donghae tersenyum manis.

Sooyoung hanya mengangguk.

Sooyoung memasuki pintu apartemennya. Dia menyentuh jantungnya yang berdetak kencang. Namun debaran jantungnya seketika menghilang saat mendengar suara tawa namja setan di hadapan. Tawa terbahak – bahak yang terkesan mengejek. Membuat Sooyoung kesal tentunya.

“YAA, wae??!” tanya Sooyoung bingung.

“Memalukan. Baru diajak kencan saja sudah jantungan.”

“Jelas saja. Ini pertama kalinya aku diajak berkencan oleh seorang namja.”

Sooyoung membuka lemarinya.

“Aku tidak membawa baju lain selain ini. Kira – kira baju apa yang harus kupakai.”

“Baju itu saja. Yang warna orange.”

“Ini??”

“Tapi tanpa blazer.”

“Mwo?? Baju ini bertali tipis.”

“Kan biar sexy.” Ujar Kyuhyun menggoda.

Sooyoung kesal. Ingin rasanya dia melempar sepatu high heels 10 cm-nya ke mulut pedas Kyuhyun yang selalu menggodanya.

Beberapa menit Sooyoung habiskan untuk membersihkan dirinya. Sedangkan Kyuhyun menghabiskan waktunya untuk berbaring di atas ranjang.

Selalu teringat – ingat saat dia selalu pergi bersama Yoona saat minggu keempat. Mereka memakai kaos couple dan banyak yang mengira mereka pasangan kekasih. Senyum tipis terukir dari bibirnya.

Cklek!

“Kau suruh aku pakai baju ini?? Kau gila!!” ujar Sooyoung memakai baju yang dipilih Kyuhyun.

“Baju itu bagus.”

“Tapi terlalu terbuka.”

“Dadamu ternyata lebih kecil dari yang kukira. Pantas bisa rata begitu saat kau menyamar menjadi pria.”

Sooyoung mendelikkan matanya dan menyilangkan tangan di depan dadanya.

“Aku tidak akan menuruti apa yang kau katakan.”

“Hey, berubahlah sehari untuk namja itu. Kalau pakai blazer ini kau akan terlihat ingin berangkat kerja.”

“Aku tidak peduli.”

Sooyoung mengambil kotak rias dari tasnya. Dan merias wajahnya di depan meja rias. Natural dan cantik. Kyuhyun memperhatikannya dari belakang gadis itu. Tanpa sadar dia tersenyum.

“Mengapa senyum – senyum? Mencurigakan!”

“Anni. Kau cantik.”

“Jangan meledekku lagi Tuan Cho. Biasanya sehabis kau memujiku lalu kau akan meledekku habis – habisan.” Ujar Sooyoung sambil memakai lipstick berwarna pink muda.

“Kau benar – benar cantik. Melihat wajahmu aku jadi ingat Omma.”

“Memang aku setua itu apa kau jadi teringat pada Omma-mu.”

“Anniya…” tanpa diduga Kyuhyun menempelkan pipinya ke pipi gadis itu dari samping. Membuat Sooyoung sedikit terkejut.

“Kyu~ah.”

“Lihat.”

Sooyoung diam memandang wajah dirinya dan Kyuhyun di depan cermin.

“Bukankah wajah kita sedikit mirip?”

Sooyoung benar – benar memperhatikan apa yang dikatakan Kyuhyun. Benar yang dikatakan namja itu. Hampir mirip. Tapi dimananya? Apakah bentuk muka? Hidung? Mata? Kalau mata sepertinya tidak mungkin. Mata namja itu lebih sipit darinya.

“Ada dua kemungkinan jika memiliki wajah mirip. Yang pertama memiliki garis keturunan yang sama. Atau yang kedua, mungkin jodoh.”

Sooyoung langsung mendorong tubuh Kyuhyun.

“Mana mungkin kau saudaraku?”

“Kalau begitu kita berjodoh.”

“Bermimpilah! Mana mau aku berjodoh dengan hantu. Aku akan menikah satu atau dua tahun lagi.”

“Benarkah? Dengan siapa?”

“Dengan siapa pun yang kucintai dan mencintaiku.”

Kyuhyun tertawa. “Yang pacaran bertahun – tahun saja belum tentu menikah, mengapa kau percaya diri sekali bisa cepat menikah.”

“Aku bisa menerima Donghae Oppa dan mengajaknya menikah.”

“Hah, jadi begitu?”

“Tentu.”

Sooyoung memasang blazernya. Dia menggerai rambutnya saat ini. Kemudian meraih tas tangannya dan pergi meninggalkan Kyuhyun.

“Sepertinya aku harus mengikutinya pergi.” ujar Kyuhyun menampakkan smirk-nya.

Kyuhyun menghilang. Mungkin benar yang dikatakannya tadi. Mengikuti kencan Donghae-Sooyoung. Atau mungkin?? Mengganggu keduanya??

 

TO BE CONTINUED…

 

Teaser Part 4 :

“Soo, kau kenapa? Mengapa kau berpakaian seperti ini?”

….

“Aku benar – benar tidak bisa melanjutkannya… Aku harus bagaimana? Apa aku harus menghentikannya?”

….

“Jangan berani mendekat! Atau aku akan membunuh gadis ini.”

….

“Jika kau benar adalah jodohku? Apa yang harus ku lakukan? Apa aku harus mengikutimu juga kesana?”

….

 

Part 3 selesai. Wah… kenapa banyak KyuNa-SooHae moment?? (#Digampar Readers). Karena KyuYoung beda alam jadi ga mungkin author bikin kisah cinta yang biasa kaya sepasang manusia. Mian part ini gaje sangat. Juga ada perubahan cerita, sepertinya author akan kasih tahu siapa kembarannya Kyu pas Part terakhir. Dan Part Terakhir itu ga tahu part berapa -_-.  Terus juga banyak yang ga sesuai sama teasernya. Maklumlah author labil -_-. Keep RCL ne….

One thought on “[SERIES] Story In 40 Days (Part 3)

  1. BabyNam August 17, 2015 / 12:31 PM

    Wihhh makin penasaran ,kesian cinta Kyu ditolak mentah-mentah. Tapi bener lhoo emang sakit kalo nolak tapi sebenernya cinta. Yang salah itu waktu aja sih sebenernya,harusnya Kyu ngatain lebih awal agar tidak ada konflik yg berkepanjangan #etsaaaahhh

    ijin lanjutt`~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s