Annabelle – PART III FIN

 

Annabelle

Title: Annabelle

Author: wufanneey

Genre: Angst, Dark

Pairing: Changmin/Sooyoung

Length: Series

Rating: R

Leanguae: Indonesian

Summary: Choi Sooyoung mencintai Shim Changmin, dan rela melakukan apapun demi membuat Changmin kembali ke sisinya. Sekalipun itu berarti membunuh dirinya sendiri.

Desclaimer: Plot is MINE!

Warning: Typo(s), ChangSoo haters don’t read!

***

Begin of Part Three

Lenyap.

Lee Yeonhee-ssi sudah lenyap. Itu pemikiran yang terlintas di kepalaku—itu memang benar. Satu-satunya pengganggu hubunganku dan Changmin sudah tidak ada lagi. Tapi… semuanya tidak berjalan sesuai keinginanku. Aku tidak mengerti.

Pemakaman baru selesai beberapa jam yang lalu. Suasana kelam. Pakaian serba hitam. Awan bergumul, mengejekku, menyeringai kepadaku. Menggelap. Lalu, air berlomba menjatuhi bumi.

Tepat di atasku. Membasahi tubuhku. Aku menangis.

Ini bermula beberapa menit setelah kami sampai ke rumah, sepeninggal dari pemakaman.

“Kau membunuhnya!” bentak Changmin, tepat di depan wajahku. Giginya gemeletuk, rahang itu mengeras. Emosinya tersulut hanya karena Yeonhee-ssi mati. Apa dia bodoh? Kenapa harus marah hanya karena wanita itu?

Aku mengusap airmata dengan tissu yang kuambil dari tasku. “Aku tidak sengaja! Itu kecelakaan, Changmin…”

Bola mata yang biasanya selalu tenang itu, kini berubah warna menjadi merah. Changmin benar-benar marah, aku tidak mengerti dirinya semenjak kami berpisah. Dia menjadi… amat sangat tempramental.

“Kau pikir aku percaya mulut busukmu itu? Ternyata, seharusnya aku melayani permainanmu, masuk dalam perangkapmu, semua rencanamu. Saat kubilang kau menjijikkan, kau sungguh menjijikkan.” Katanya tajam. Aku terkejut aku tidak berdarah.

Namun, suaraku tercekat di tenggorokkan. Sebegitu hinanyakah aku, di mata Changmin?

Kali ini, airmataku menetes. Aku tidak bercanda. Rasanya menyakitkan, mendengar hal seperti itu dari mulut Changmin. Dia sungguh, sungguh keterlaluan!

“Jadi, seperti itu pandanganmu terhadapku?! Tidakkah kau lihat dari sisi lain? Selama ini kau mengenalku, kau sangat mengenaliku seperti kau mengenali dirimu sendiri! Kau pikir aku tega membunuh sahabatku? Yeonhee-ssi adalah sahabatku! Dan dia memang lemah! Salahkan dia yang tidak bisa berenang ke permukaan hingga napasnya habis!” aku meraung. Napas kukeluarkan sekali hentak. Tapi dadaku masih terasa perih. Sampai tanpa sadar aku menepuk-nepuknya.

PLAK!

Sudut bibirku, mengeluarkan cairan kental. Tamparan itu begitu keras. Ya, Changmin menamparku.

Yang kubisa hanya mematung di tempatku, menggenggam erat jemariku, dan menelan air liur yang menyumbat tenggorokan.

Sesakit-sakitnya pipiku, hatikulah yang paling sakit. Changmin yang selama ini kukagumi, kuidam-idamkan, kucintai dengan sepenuh hati. Dengan teganya menamparku. Aku. Wanita. Aku wanitanya apa Yeonhee-ssi telah mencuci otaknya?!

Aku tidak sanggup lagi menatap raut murkanya. Aku tahu matanya masih semerah tadi—atau bahkan lebih merah. Jadi aku mengalihkan pandanganku, menggigit bibirku sendiri sampai darah yang keluar semakin banyak.

Teruslah menetes.

Meneteslah sampai habis.

Aku tidak mau hidup tanpa Changmin.

“KALAU BEGITU KENAPA TIDAK KAU BUNUH SAJA AKU?!” Aku berteriak lahak. Suaraku serak. Airmataku tidak mau berhenti.

“BAIK! ITU KEINGINANMU!”

Changmin memberiku tatapan sinisnya sebelum menaiki anak tangga, meninggalkanku yang tak sanggup lagi menopang berat tubuhku. Aku terduduk lemas di lantai. Makeup-ku pasti sangat berantakan. Aku tidak peduli.

Yang kupikirkan adalah bagaimana caranya menghadapi Changmin sekarang. Dia akan membunuhku, tidak lama lagi. Changmin bukanlah tipe pria yang suka bercanda.

BRAK!

Suara dobrakan pintu itu berasal dari kamar atas—kamar yang dipercayakan Yeonhee-ssi padaku. Aku lihat dia membawa koperku keluar, lalu membantingnya tepat di hadapanku. Aku seperti gembel di bersimpuh di bawah kakinya. Sekotor inikah?

Nanar, aku menatap Changmin.

Kka,” dia mengusirku.

“Changmin-a...” parau, suaraku mulai habis.

Geunyang kka,” masih, tatapan itu masih tajam. Tidak heran kalau mataku perih ketika melihatnya.

“Kau benar-benar akan membunuhku jika seperti ini…,” aku terisak di bawah lututnya. “Kau tahu bagaimana aku—”

KKARAGO!” dengan kejamnya, dia menendang tubuh ringkihku. Aku lemas. Aku tidak kuat untuk sekadar berdiri apalagi melawan.

Jemariku gemetar. Gemetuk deretan gigi itu menakutkanku. Kemarahan Changmin adalah satu-satunya hal yang paling kutakuti. Bukan Ibunya, bukan Yeonhee-ssi, ataupun Yunho. Tapi Changmin lah. Dirinya bisa seenak jidat menggerakan lalu menghentikanku begitu saja.

Aku akui, selama ini aku menjadi bonekanya. Aku menikmatinya. Tapi perintahnya kali ini diluar spekulasiku. Dia. Menyuruhku. Pergi.

Pergi.

Hilang?

Selamanya?

Seperti… Yeonhee-ssi?

Kuusap mataku kasar. Aku tidak butuh ini. Aku tidak akan pergi. Changmin hanya terlalu depresi karena wanita itu tiba-tiba meninggal. Tapi nanti, dia akan kembali menjadi yang dulu lagi. Aku yakin. Aku dapat menjamin. Dia akan begitu. Dia selalu begitu.

“Aku akan kembali,” lututku masih lemas, tapi aku memaksakan diri. Tersenyum sepa kepada Changmin sebelum menyeret langkah beserta koperku keluar rumahnya.

“Kau tidak perlu kembali.”

Itu kalimat yang kudengar terakhir kali darinya sebelum pintu rumah menutup rapat. Entah kapan, pintu itu akan terbuka lagi untukku.

***

Aku tidak berbohong kalau kubilang aku kedinginan. Diluar sini—tepatnya di halte bus tempatku berdiam diri—sungguh membekukan tubuh. Aku suka melihat tumpukan salju yang menutupi trotoar, tapi aku tidak suka jika salju itu mengotori sepatuku.

Tin! Tin!

“Yunho?”

Aku berdiri kaget ketika melihat siluet tubuh pria itu keluar dari mobil. Ini kedua kalinya Yunho memergokiku dalam kondisi mengenaskan seperti ini. Aku bisa menebak pemikirannya tentang seberapa bejatnya Changmin terhadapku.

Raut wajah itu, prihatin. Tapi secercah ketulusan masih bisa aku lihat. Apa dia masih mau peduli padaku setelah aku mencampakkannya?

“Apa kau baik-baik saja?”

Pertanyaan itu. Aku tidak mengira itu pertanyaan yang keluar dari mulutnya setelah beberapa hari tidak mendapat kabar dariku. Jung Yunho berhenti membuatku terharu. Kumohon.

“Kau terluka?”

Itu pertanyaan kedua, dia mengulangnya. Aku tidak mengatakan apa-apa. Kepalaku mengangguk pelan-pelan. Aku tidak baik-baik saja. Aku terluka, Yunho-ya.

Dari pergerakan pundaknya, aku bisa melihat Yunho menghela napas berat. Dia mendekatiku, lalu memeluk tubuhku erat. Membuatku menenggelamkan wajah di dada bidangnya.

Aroma tubuh Yunho, mint.

Pelukannya yang selalu hangat.

Kapan terakhir kali dia memelukku? Sepertinya aku merindukan ini.

Sayang, sekalipun aku merindukannya. Kedua tanganku kaku untuk sekedar balas memeluknya. Bibirku kelu untuk sekedar bilang selamatkan aku dari Changmin. Aku juga ingin menatap matanya, tetapi mataku terlalu kelabu untuk itu.

Semua harapanku pada Yunho, semu.

Aku tidak pantas, aku terlalu sering menyakitinya. Aku sangat jahat. Mungkin ini balasan untukku, Changmin memperlakukanku sekejam aku memperlakukan Yunho.

Jadi, sekarang…

Semuanya cukup adil, eum?

Kepala Yunho menunduk lebih dalam, aku menggapai wajahnya dengan kedua manikku. Bibirnya mengarah pada telingaku, napasnya berhembus hangat, dia berbisik pelan di sana, “Kita pulang, hm?”

“Aku tidak punya tempat lain untuk pergi, kecuali rumahmu, Yunho.” Ujarku dengan suara serak.

Yunho menyentuh tanganku, mengelusinya berulang kali, lalu menggenggamnya erat-erat. Dia menuntunku masuk ke mobilnya.

“Setidaknya kau harus memakai mantel yang lebih tebal.” Yunho melepas mantel yang dia pakai lalu menyelimuti pundakku dengan itu. Aku berterimakasih dengan suara kecil.

Ketika dia hendak menjauh—setelah selesai memakaikan mantelnya, pergerakannya terhenti seketika. Aku menatapnya dengan tanya, begitupula dia. Tatkala dia mengangkat tangannya menyentuh luka di sudut bibirku, aku tahu apa arti dari tatapan tanya itu.

“Changmin menamparku,” jelasku tanpa memandangnya.

“Aku tidak bertanya bagaimana kau mendapatkan luka itu. Yang ingin kutahu, apakah itu terasa sakit?”

“Ya.” Kini iris kami bertabrakan.

Yunho mendesah—seolah desahan itu berarti; aku menduga ini akan terjadi. Sejurus kemudian dia mengambil kotak P3K dari jok belakang mobil. Harusnya aku tahu dia selalu membawa benda itu kemana-mana. Aku cuma dia waktu Yunho membersihkan lukanya dengan antiseptik, lalu menempelkan plester kecil di sana. Dengan cekatan.

“Jangan coba-coba untuk pergi ke sana lagi,” dia mengusapi pipiku. “Ke rumah Shim Changmin.”

Aku tidak menjawab.

***

Yunho mengatakan selamat malam, mendaratkan ciuman lembut di keningku, sebelum pintu kamar yang sudah kurang lebih seminggu kutinggalkan ini dia tutup.

Aku menoleh, menyapukan pandanganku ke sekeliling. Tidak ada yang berubah. Semua masih berada pada tempatnya. Bingkai foto Changmin, masih di atas meja. Seprai yang belum diganti dari seminggu lalu. Sandal bulu-buluku bahkan masih ada, di tempat yang sama.

Ini akan jadi kamarku lagi.

Tidurlah, Choi Sooyoung.

***

Tok! Tok! Tok!

Tiga kali ketukan pintu mengusik waktu lelapku. Siapa lagi kalau bukan Yunho.

Dengan langkah terseret aku menuju pintu kemudian membukanya. Hal pertama yang kulihat adalah, wajah Yunho yang tidak selembut sebelumnya. Seperti… marah.

Yunho menunjukkan botol kecil berisi kapsul-kapsul di depan mataku. Aku terbelalak. Itu obatku. Bodoh Sooyoung! Dia pasti menemukannya ketika hendak membereskan isi kopermu!

“Kenapa isinya masih sama?” nadanya tidak menandakan dia dalam mood yang baik-baik saja.

“Maafkan aku, aku lupa meminumnya.” Sesalku.

“Kau lupa, atau sengaja?” tuduhnya. Yunho berjalan mendekatiku, refleks aku melangkah mundur satu-persatu. “Apa kau sungguh ingin mati? Kau begitu tidak suka hidup bersamaku?”

Aku mencoba berkelit tapi gagal. “Bukan itu—”

“Lalu apa?” tanyanya lagi—tak sabaran.

“Aku tidak mau Changmin melihatku meminum itu! Dia akan menganggapku wanita penyakitan!” pekikku. Aku memukuli dadanya karena tubuh Yunho benar-benar sudah menghimpitku di pinggiran ranjang.

“Changmin?” seolah tak percaya dengan yang barusan kubilang, dia memberiku ekspresi tak habis pikir. “Kau mau tahu ini obat apa?”

“Aku ingin tahu itu, dari dulu. Tapi kau tidak pernah memberitahuku kebenarannya.”

“Hemofilia.” Satu kata itu sukses membuatku tercekak.

Hemo—filia?

Aku tertawa hambar. “Oh… jadi selama ini aku mengidap penyakit itu? Ahaha…”

“Sooyoung-a...”

“Jangan mendekat! Kau tidak mau tertular, kan?” gertakku, dengan suara yang tidak bisa dibilang rendah. Aku merasa hina. Selama ini dia membodohiku. Aku yakin Umma dan Appa sudah tahu, hanya aku yang tidak tahu. “Keluar, Jung Yunho. Aku lelah, aku ingin tidur.”

Yunho keras kepala. Dia masih mendekat, sekarang kedua tangan kekar Yunho memegang keras pundakku.

Dia menatapku intens, lamat-lamat, dibawah pendar lampu kamarku yang temaram. Aku nyaris terhanyut mendengar permintaannya. “Dengar aku, aku ingin kau sembuh. Aku ingin kau tetap di sampingku. Jadi, kumohon padamu… lakukan apa yang kuminta. Minum obat ini, Sooyoung-a…”

“Lepaskan aku. Keluarlah. Tinggalkan aku sendiri.” Aku membalas tatapan itu. Yunho kokoh berdiri, dengan tatapan yang sama. Aku menarik napas, lalu menghembuskannya dalam sekali sentak, “AKU BILANG KELUAR!”

***

Semalaman aku menangis. Sama sekali tak ada niatan dalam kepalaku untuk memejamkan mata. Rasanya, aku tak akan terbangun lagi jika tidur malam itu. Jung Yunho kadang membuatku takut. Dia bisa lakukan apapun. Setelah aku mengusirnya keluar, dia mengunci kamarku dari luar. Jenius.

Aku tahu dia akan mengancamku untuk minum obatnya atau aku mati kelaparan di dalam kamar. Keduanya pilihan konyol. Kalau boleh, aku ingin memilih keluar kamar, tapi mati karena tak meminum obat sialan itu.

Aku mulai merindukan kemarahan Changmin.

“Yunho, aku mau melihat Yoogeun.” Aku menggedor-gedor pintu kamarku. Kemungkinan besar Yunho mendengarnya, kemungkinan kecil dia mau mengabulkannya. Masa bodoh. “Aku tahu, kau sudah membawanya pulang dari Rumah Sakit, kan?”

Tak ada respon apapun. Mengecewakan.

“Aku… belum sempat memberitahu Changmin,” kataku pelan. “Dia harus melihat anak pertamanya…”

Tanganku meraih handel pintu, hanya menyentuhnya tanpa tenaga. Tak kusangka pintu itu terdorong sendiri, ditarik dari luar. Aku memandang Yunho setengah tak percaya. Dia membukakan pintunya.

“Kau benar-benar… mencintai pria itu?”

Seharusnya Yunho tahu, jawabannya akan menyakitkan dirinya sendiri. Aku tersenyum kecut. “Kau tahu tanpa harus kuberitahu.” Yunho mendesah—kali ini desahan pasrah. “Maaf, aku tak bisa menjadi bonekamu. Mencintaiku, bukan hal yang mesti kau lakukan. Aku sudah memperingatkanmu, Yunho-ya. Tapi kau sengaja membiarkan dirimu terjatuh terlalu dalam. Ini bukan salahku, tapi aku akan meminta maaf.”

Dia menunduk lemah—tak memandangku. Aku menyentuh wajahnya. Mulai dari rambut-rambut yang menutupi keningnya, turun ke hidungnya, terakhir aku mengelusi pipi tirusnya. Parahnya aku baru menyadari dia semakin kurus dari hari ke hari. Mengkhawatirkanku, hm?

Yunho memegang tanganku agar tak berpindah dari pipinya. Dia memohon bersamaan dengan wajahnya yang terangkat mengarah padaku, “Cium aku, maka aku akan mengantarmu ke tempat pria itu.”

Jujur saja, kami belum pernah berciuman kecuali ketika peresmian suami-istri waktu upacara pernikahan. Aku kejam, ya? Rasanya tidak suka mencium pria selain Changmin.

Aku sedikit berjinjit. Lalu mengecup bibirnya. Hanya menempelkan bibirku padanya. Namun sebelum aku dapat melepasnya, Yunho menangkup wajahku dengan kedua tangannya, menghisap bibirku keseluruhan. Ini bukan keinginanku, sulit bagi tanganku untuk mendorong tubuhnya. Percuma, aku memang wanita lemah. Pukulanku di dadanya terbuang sia-sia, aku menyesal melakukannya. Kini kedua tangan kekar itu beralih memeluk pinggulku—itu pinggul, bukan pinggang—dan itu sangatlah tidak sopan.

Masih dengan tautan bibir, dia mengangkat tubuhku dalam posisi berdiri. Aku melotot ketika menyadari tubuhku terhempas ke ranjang. Memberontak kendati tak berguna.

“Menyingkir dariku!” pekikku, membuat dorongan sia-sia—lagi. Yunho sama sekali tak bergerak dari atas tubuhku. Kedua tangannya ada diantara pundakku. dia mengancam, aku tak bisa melawan.

“Tamat kau sekarang, Sooyoung…” bisik Yunho pelan sebelum memulai permainannya. Tanpa menunggu jawabanku, dia langsung menyerbu bibirku. Melumatnya seperti binatang liar.

Aku memberontak, menghentak-hentakkan kakinya namun Yunho yang cerdas dengan segera mengunci kedua kakiku dengan kakinya sendiri. Dia kesetanan! Dengan laparnya dia melepas semua pakaianku tanpa kesadaran yang tersisa. Aku berteriak, bahkan sampai menangis, namun tetap saja tak dia hiraukan sama sekali. Dia terus melakukan apa yang nafsunya perintahkan. Tak cukup dengan bibir, Yunho mulai beralih ke leherku. Melakukan hal menjijikkan lainnya. Meremas, menghisap, mengulum dengan kasar dadaku. Menyesakkan. Sementara aku terus berteriak dan menjerit. Namun suaraku tertahan, tak terdengar karena Yunho yang menutup gelombang suara itu sendiri dengan mulutnya yang bringas. Aku memukuli kepalanya dengan kuat karena tak tahan terhadap pelecehan yang kudapat. Harga diri selangit yang kubangun roboh hanya karena nafsu binatangnya. Namun apa daya. Sekuat apa aku memukulnya, maka dia akan lebih kuat lagi menghabisiku.

Pagi itu, aku memasukkan Yunho dalam daftar manusia brengsek yang pernah kukenal. Selain Changmin dan Appaku.

“Arghhh… kau bajingan! Hentikan! Ahhh…” aku hanya bisa meremas seprai kasur. Rasa sakit yang kurasakan hanya bisa kulampiaskan dalam bentuk hentakan-hentakan kaki yang tak berfungsi sama sekali. Yunho tetap tak mendengarkanku.

***

Setelah melewati sepanjang perjalanan dalam mobil Yunho, aku hanya mengalihkan pandanganku keluar. Sama halnya dengan Yunho yang tak berniat mengajakku berbincang. Aku sakit hati dalam ketidakberdayaanku. Aku baru tahu Yunho sebrengsek itu. Kalau dipikir-pikir, kenapa semua lelaki yang kukenal selalu dembel-embeli kata ‘brengsek’?

Menyedihkan.

Bahkan tapak merah tanganku masih membekas di pipi kanan Yunho. Aku menamparnya keras-keras, dengan sisa-sisa tenagaku setelah dia dengan kekurangajarannya menyetubuhiku.

Tapi apa yang bisa wanita lemah sepertiku perbuat? Jika aku membunuh Yunho tak akan ada orang yang akan menjaga Yoogeun nanti—aku tak bisa menjamin diriku sendiri mampu untuk membesarkannya. Orangtuaku jelas akan menolaknya mentah-mentah—atau yang lebih parah, membuang Yoogeun ke panti asuhan—jika tahu itu putraku dan Changmin.

Terasa, sudah sampai di depan gerbang bertuliskan ‘Shim’. Aku meyakinkan diriku sekali lagi, bahwa ini pilihan yang benar. Sedetik aku melihat wajah cemas Yunho. Keparat, aku tidak mau peduli lagi.

“Aku akan menunggu di sini.” Katanya pelan. Aku mendecih, memberinya delikan mengerikan.

“Aku tidak akan kembali.” Tandasku, sebelum membanting pintu mobil tepat di depan wajahnya, kuat-kuat. Aku bisa melakukannya tanpa Yunho.

Membawa Yoogeun dalam gendonganku. Memasuki halaman rumah itu, aku merasa sesuatu yang sama akan terjadi. Maksudku, kemarahan Changmin atas kedatanganku. Atau pertanyaannya atas siapa anak yang kubawa. Akankah dia senang? Atau kecewa? Mengetahui fakta Yoogeun adalah putra pertamanya.

Kriet…

Bunyi derit pintu membahana, memecah hening di dalam rumah. Ini bukan lagi sepi—namun senyap.

Pintunya tidak dikunci, firasatku Changmin tidak pergi kerja—dia masih depresi atas kepergian wanita Lee yang polos itu. Bingkai foto ukuran besar tertangkap bola mataku pertama kali—foto pernikahan konyol yang memuakkan—Changmin dan Yeonhee-ssi. Lihatlah senyum konyol wanita itu dan senyum terpaksa Changmin. Aku tidak tega menyuguhi mataku pemandangan ini lebih lama. Haruskah aku mengumpat lagi melihat itu? Aku terlalu banyak mengumpat hari ini.

Aku membaringkan Yoogeun kecilku di sofa. Sepelan mungkin, selembut mungkin, berusaha agar dia tak terbangun sampai Appa sungguhannya datang. Setelah kupastikan Yoogeun akan tenang dalam posisi yang sudah nyaman, aku lalu menurunkan bingkai foto pernikahan itu. Dan—

PRAK!

—membantingnya.

Kacanya pecah, belingnya berserakan di mana-mana. Salah satu menngenai telapak kakiku, membuat erangan kecil keluar dari mulutku. Sial.

Selanjutnya suara langkah terdengar menuruni tangga tergesa-gesa—seperti dugaanku, dia akan datang karena suara bising di bawah. Aku tersenyum manis pada Changmin. “Apa yang kau lakukan pada foto itu, Choi Sooyoung?!”

“Itu terlihat jelek, jadi aku memecahkannya. Tak masalah, kan?”

Changmin mendekatiku lalu menjambak rambutku, memaksa mataku memandangnya dalam. “Wanita gila!”

“Kau yang membuatku begini!” aku memekik lahak di depan wajahnya. “Lagipula Yeonhee-ssi sudah mati! Untuk apa menangisinya terus? Persetan dengan apa-apa yang sudah dia lakukan untukmu, karena aku jauh lebih penting darinya!”

PLAK!

Tamparan hebat kembali dilayangkan. Changmin yang diamuk emosi tanpa sadar kembali melakukan kekerasan padaku. Aku hanya menyeringai kecil, agak menyeramkan.

““Haha… Hanya itu yang bisa kau lakukan, pecundang? Kenapa tidak sekalian saja kau bunuh aku, hah? Bunuh aku! BUNUH!” Aku mulai membentak kearah Changmin dengan sorot menantang.

Namun aku tahu Changmin sebenarnya tak dapat berbuat apa-apa. Dia kalah sekarang. Dia hanya terdiam sambil mengepalkan tangannya. Seperti hendak memukul kembali kepalaku.

“Kau tidak berani, kan? Baik! Aku akan melakukannya sendiri!” Dengan gesit, kukeluarkan botol obatku, menghamburkannya di atas telapak tanganku. Memaksakan tenggorokanku menelan seluruhnya. Sulit, aku nyaris memuntahkannya, tapi ini satu-satunya cara bunuh diri paling efektif di depan Changmin.

“Bodoh! Wanita bodoh! Cepat muntahkan itu!” umpatnya kesal—atau marah—aku tidak peduli. Pandanganku mulai buram, kepalaku berat, tak kusangka efeknya cepat sekali. “Kapan sekali saja kau menurut padaku? KUBILANG MUNTAHKAN CHOI SOOYOUNG!”

Changmin menepuk-nepuk punggungku—keras. Membuatku terhentak sekaligus mual. Sesuatu naik ke tenggorokan, menuju mulutku, dan aku tak bisa menahannya.

“Hoek! Hukk!” semuanya, keluar lagi. Napasku tersengal, begitupula Changmin yang menatapku penuh amarah. “Kenapa kau membiarkanku hidup? Lebih baik aku mati daripada hidup tanpamu!”

“Kupastikan tanganku sendiri yang akan menyeretmu ke neraka.” Katanya tajam. “Simpan tenagamu untuk hal yang lebih berguna, semisal, menghindari pukulanku.”

Aku menangis. Aku memaksa untuk berdiri ketika dia sudah memunggungiku. “Kau masih mencintaiku…”

“Mencintaimu?” Changmin berbalik dan senyum getir tampak di wajah tampannya. “Kau hamil anak Yunho sebelum pernikahan kita, kau pikir aku tidak tahu? Kalian menikungku dari belakang! Dan kau kira aku masih mencintaimu? Setelah penghianatan hina itu kau pikir aku masih bisa mencintaimu? Tidakkah kau gunakan otakmu, Choi?!” bentaknya lalu menghempaskan tubuhku ke lantai—kasar. Kurasakan belakang kepalaku terhendam sesuatu, benda runcing tapi aku tak tahu apa itu. Perih, susah payah kutahan rintihan yang hendak keluar.

Isakanku semakin keras. “Itu anakmu bodoh! Darimana kau menarik kesimpulan itu anak Yunho?!” aku tidak bisa menahan amukanku. Membalas sorotan gelap Changmin. Pria pemarah, bodoh, kejam, dan kucinta.

Changmin tersenyum miring. ”Kau berusaha menipuku?”

“Menipumu? Aku tidak bahagia menikah dengan Yunho! Masih bisa aku menipumu? Ya, aku memang membunuh Yeonhee-ssi, tapi menipumu bukan tujuanku. Kalau kau tidak percaya, aku membawa Yoogeun kemari, dia putra kita.”

Changmin terbelalak. Tangannya terkulai lemas di samping kakinya. Jatuh tersimpuh di hadapanku. Tatapannya, kosong. Namun mengarah padaku. “Lelaki brengsek itu yang mengatakannya, dari mulutnya sendiri…”

Aku meneguk liurku. Terkejut. Fakta dibalik batalnya pernikahan kami, karena kebohongan Yunho. Serendah itukah Yunho di belakangku? Dia sengaja ingin Changmin meninggalkanku dengan image buruk demi menikahiku? Bajingan!

Perih di kepalaku kian kentara. Sejurus kemudian pandanganku kabur, lama-lama menjadi kelam. Dan, gelap.

Pekikan Changmin jadi melodi pengiring, “Choi Sooyoung!” terakhirku.

Fin of Part Three

***

E P I L O G U E

Jung Yunho terbirit memasuki rumah megah itu—rumah Shim Changmin. Kurang lebih empat jam dia menunggu di luar namun tak ada tanda-tanda Sooyoung akan keluar.

“Choi Sooyoung! Eodiga? Sooyoung-a!”

Ketika sampai dan melihat pemandangan di dalam, lututnya lemas. Jantungnya. Dia dapat mendengar dentuman keras dalam tubuhnya.

Pecahan kaca dimana-mana, ceceran darah membanjiri lantai. Bau anyir yang menohok penciuman. Berasal dari sosok wanita yang terbujur kaku di pangkuan seorang pria. Yunho meneguk liurnya yang terasa bergumul di tenggorokan.

Darah yang keluar dari pergelangan tangan Changmin sudah berhenti—mengering setelah sekian lama. Tetesannya bahkan terinjak oleh sepatu Yunho.

Bau anyir yang kentara. Yunho merasa bulu romanya menegang. Hipotesis yang bisa dia dapatkan di sini; kepala Sooyoung membentur lantai hingga dia tak bernapas lagi, Changmin yang merasa bersalah menggores nadinya hingga tak berfungsi.

Airmata Yunho mengalir deras disertai isakan bayi mungil di atas sofa. Jung Yoogeun adalah satu-satunya hartanya kini. Mengenaskan, bayi tanpa dosa itu menyaksikan sendiri kematian kedua orangtuanya.

“Maafkan aku, Choi Sooyoung, Shim Changmin…”

Penyesalan selalu… datang terlambat.

Fin of All

***

A/N: akhirnya tamat juga Annabelle ini hahaha (walaupun publishnya telat WAKS xD). Eits, wait a minute! Setelah chingudeul baca ini jangan jadi benci sama charanya, ya. Kan namanya juga fanfiksi. Jadi, semua hanya bohong belaka =u=

Ngomong-ngomong… ini kedua kali aku bikin fanfic dengan chara yang pada mati—setelah Black Paradise—dan jadi ketagihan kepingin bikin yang begini lagi, tapi ngeri juga bo [?].

Hahaha, udah ah kepanjangan. Langsung Like&Comment aja yo!😉

12 thoughts on “Annabelle – PART III FIN

  1. rinaapriliani7 January 26, 2014 / 10:14 PM

    yaaaaaahhhh chingu ko udhan.. dikira masih ada 3 atau 5 part lagi😦
    cerita keren chingu🙂

  2. fransiscafortunita24 January 27, 2014 / 5:27 PM

    yahhhh thor knp Changmin sm Sooyoung nya di bikin mati 😭 ….. jadi ini semua salah Yunho ?!
    -____________-
    ceritany bgs tp sad end T^T
    ditunggu ff lainnya🙂 yg happy end😀
    hehe kalo bisa (:
    hwaiting !

  3. Shafira January 30, 2014 / 4:52 PM

    wah ffnya daebak, aku bacanya sampe tegang.

    ditunggu ff yang lainnya:-)

  4. Anna Choi January 31, 2014 / 12:23 PM

    Kok meninggal semua ujungnya??
    Kasihan anaknyaa ‘-‘
    Over all ffnya keren :3

  5. restu deotari February 1, 2014 / 7:15 AM

    yunho jahat bgt….. sooyoung kan sayang bgt sama changmin harusnya jangan ngaku anak changmin sebagai anak nya dong pantes aja changmin kayaknya benci bgt sama soo . keren thor sering2 bikin ff changsoo yaaa

    • wufanneey February 8, 2014 / 3:09 PM

      ini cuma fiksi kan…
      aslinya Yunho baik kok, ganteng pula xD

  6. Elisa Chokies February 7, 2014 / 11:51 AM

    Awalnya rada ragu baca ff Soo-Changmin ,tp bagus juga sih

    • wufanneey February 8, 2014 / 3:04 PM

      kok ragu sih? :3
      kalo gitu akan kubuat kakak suka sama Changsoo, kekeke

  7. Della April 10, 2014 / 12:53 PM

    Hai semua >u< kalian Sooyoungster ??? suka dengan fanfic tentang Sooyoung unnie ? ^^ kalau iya,, kalian bisa kunjungi blog ini : http://songhyerim.blogspot.com/ dijamin kalian akan suka ^^
    NB : Terima kasih buat author, dan maaf aku numpang promo ^^

  8. kyura December 24, 2014 / 11:51 AM

    Keren,,👍 aq suka bnget ff’y.. Tpi knpa sad ending..

  9. epanda January 11, 2015 / 9:10 PM

    ini keren banget. bacanya sampe deg2an. ga nyangka jadinya sad ending hiks😥
    semangat terus bikin ffnya ya!!! ditunggu ff lainnya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s