Stolen Cat [Chapter 6]

stolen cat chapter 4

Stolen Cat – Chapter 6

Written by winterchan (@gelshaa)

Choi Sooyoung, Luhan, Kwon Yuri

Romance, School-life

PG-15 | Chaptered

Plot & Graphics © Winterchan

***

Gelak tawa dan cekikikan teman-temannya tak dapat membuat hatinya berhenti dari perasaan gusar. Ia menatap teman-temannya tanpa minat, ia justru merasa terganggu akan hal itu. Padahal biasanya dia juga adalah yang paling oces jika sudah berkumpul se-geng begini.

“Luhan gege kenapa sih?”

Baekhyun tampaknya yang paling peka terhadap lingkungan sekitar, sedangkan Luhan membalasnya dengan melirik si pemakai eyeliner itu, masih dengan tatapan gusarnya. Sedari tadi ia bukannya memakan makanan pesanannya, justru malah meliriknya tanpa nafsu.

Luhan tidak sedang melamun, tidak juga sedang dalam perasaan yang pada saat ini sedang musim, galau. Bukan, bukan itu. Perasaan yang kini dirasakan Luhan terpancar keluar. Baekhyun tentu dapat melihatnya, ia sedang gusar. Sesekali Luhan terlihat menengok ke kanan kiri, lalu diam lagi, lalu menengok kanan kiri lagi, seperti mencari sesuatu. Begitu seterusnya.

“Err, maaf ya kawan, aku harus pergi.” Tanpa adanya persetujuan dari teman segrupnya yang tengah memandang kepergiannya dengan heran, ia sudah melengos duluan terburu-buru.

Aha, ia cukup tau keberadaan seseorang yang sedang dicarinya. Gadis itu sedang membaca bukunya sendiri di sebuah bangku di pinggir lapangan. Matanya dengan mudah menangkap sosok yang tak terlalu familiar namun ia tahu itu. Luhan baru saja akan menghampiri gadis itu saat sosok yang ingin dihampirinya itu menutup buku, memasukkannya dalam tas lalu beranjak pergi.

“Err Hey!”

Untunglah sepertinya dirinya mengerti siapa disahuti dengan panggilan tak sopan itu. Wanita berambut hitam itu berbalik dan melihat kanan kiri, mencari siapa yang memanggilnya dengan panggilan kurang enak itu.

“Hey.” Luhan menggiring langkah mendekat.

Satu alis gadis itu terangkat naik, menunggu lelaki itu berbicara. Sedangkan Luhan tampak setengah gugup, “Err kau teman Sooyoung kan?”

“Ya? Kenapa?”

Sekali lagi Luhan terlihat agak ragu, “Err––”

“Aku Kwon Yuri,” lanjut Yuri, seperti mengetahui isi pikiran Luhan.

“Yuri-ssi, kau sendiri? Dimana Sooyoung?”

Ting. Bagai lampu, otak Yuri dengan sigap mencerna maksud dari Luhan. Jika saja ini adalah sebuah drama, maka efek CG harus ditambahkan untuk lampu otak milik Yuri. Gadis itu mengangguk dalam hati –jika bisa– seakan mengerti.

Ya, ia memang mengerti, Sooyoung sudah 5 hari tak masuk kuliah. Dan imbasnya adalah dirinya dilanda kesepian tak ditemani sang sahabat. Dan ini ada hubungannya dengan lelaki yang berdiri tepat dihadapan gadis bermarga Kwon itu. 4 hari yang lalu, dirinya dan Sooyoung sempat mengobrol lewat telepon walau sebenarnya Sooyoung memonopoli obrolan itu.

Luhan masih bungkam, menunggu jawaban dari Kwon Yuri. Walau sebenarnya lelaki itu sudah tahu jawaban apa yang akan ia dengar, ia sudah dengar dari teman-teman satu jurusannya yang ‘entah apa urusannya dengan Luhan’ memberi tahu perihal keabsenan gadis bermarga Choi itu padanya. Oh ada, tentu ada. Sebenarnya inilah yang membuat Luhan gusar.

Flashback on

Ini sudah lewat satu minggu dari tugas perpustakaan yang dijalani kedua peran utama, Choi Sooyoung dan pria berkebangsaan China, Luhan. Tapi tentu hubungan mereka tidak berakhir sampai disitu, bukan hubungan harmonis antar teman. Tentu saja tidak.

Berada dalam jurusan yang sama, memaksa keduanya sering kali memasuki kelas yang sama. Dan semenjak mereka berada dalam satu kelas, maka proses belajar mengajar di kelas itu tak pernah berjalan mulus, tidak pernah. Selalu ada argumen kecil yang dibuat keduanya, entah yang memulai Luhan duluan, atau Sooyoung duluan atau bahkan keduanya yang memulai pertengkaran. Berawal dari melempar bisikan penuh kebencian lalu berubah menjadi sentakan dan ocehan penuh emosi yang tercipta diantara keduanya. Sehingga dengan tidak senang, dosen dalam kelas itu akan mengeluarkan mereka dari kelas tanpa protes karena menganggu ketenangan di tengah-tengah pelajaran.

Seluruh dosen yang mengajar di kelas itu pasti pernah mengeluarkan keduanya. Dan jika sedang emosi, dosen-dosen itu akan menghukum keduanya. Sejauh ini, mereka pernah membersihkan gudang, membersihkan ruang peralatan olahraga, berlari di lapangan, dan yang terakhir membersihkan toilet. Eww, menjijikkan. Sooyoung benci toilet umum dan ia menumpahkan seluruh kesalahan pada Luhan. Ia menganggap semua ini karena Luhan.

Luhan? Ia jelas tidak terima. Singkat cerita terjadi pertengkaran hebat yang terjadi di lorong kampus itu. Sehingga mengundang massa untuk menontonnya. Untunglah kejadian itu tak terdengar ke telinga pihak sekolah.

Tapi sialnya, Jung Saem yang pernah menghukum mereka mengetahui hubungan keduanya yang semakin parah. Akhirnya keduanya diseret ke meja milik Jung Seonsaengnim. Telinga kedua manusia itu memerah dan rasanya panas. Tentu, dosen itu tidak menghukum, tetapi menceramahi Luhan dan Sooyoung sampai mulutnya berbusa. Apalagi suara Jung seonsaengnim itu cukup menyeramkan, sehingga memberi efek tersendiri ke keduanya.

Diceramahi bagaimana keduanya sudah dewasa dan tindakan ini adalah tindakan kekanakan dan konyol. Ancaman gagal dari Jung saem pun diberitahukannya, ia pernah hampir memanggil kedua orang tua dari pihak Luhan dan Sooyoung. Tapi mau bagaimana? Orang tua Luhan berada di Beijing semua. Jelas, keluarganya memang asli China semua. Orang tua Sooyoung? Ayahnya adalah orang tersibuk, lagipula keluarga Sooyoung berada di Gwangju-do.

Pukul 5 sore, keduanya baru dibebaskan dan dipersilahkan pulang.

Oow, badai salju masih berlangsung sejak 3 hari yang lalu. Dan ia ingat, badai salju masih akan berlangsung hingga hari ini, kemungkinan besok pagi baru berhenti –itulah yang diberitahukan sebuah acara berita yang menampilkan prakiraan cuaca hari ini– Pantas saja dari jam 4 sore sudah tak ada mahasiswa berkeliaran disini.

Argh, Jung seonsaengnim memang menyebalkan. Dasar si tua kumisan! Argh I hate you.

Sungguh berkeliaran di badai salju seperti ini adalah pilihan bodoh. Bodoh. Apalagi untuk seseorang yang tidak tahan dingin seperti Choi Sooyoung. Sebenarnya salju sempat berhenti turun pada pagi hari, namun kembali turun lumayan lebat pada pukul 3 sore. Sehingga kegiatan dibubarkan.

“Kalian boleh pulang. Oh ya di luar sedang bersalju lebat. Kemungkinan ada badai kembali. Sebaiknya cepat pulang, hati-hati.” Itulah kata-kata yang terakhir diucapkan Jung saem.

Bisa-bisanya dia mengatakannya dengan tanpa dosa seperti itu. Sooyoung lagi-lagi mengutuk.

Mata Sooyoung mengikuti setiap gerakan Luhan yang baru saja muncul dari balik tembok, sambil sesekali bersiul, tangan Luhan bergerak melempar dan menangkap kunci yang sepertinya kunci mobil itu. Ia berjalan santai melewati Sooyoung yang tengah memandangnya penuh harap.

“Luhan!”

Luhan berbalik santai, “Apa?”

Sooyoung sempat terdiam sebelum akhirnya menatapnya ragu, “Err kau bawa mobil?”

“Ya? Masalah denganmu?” Luhan menjawabnya tidak sabar, sepertinya ia ingin cepat pulang.

Sooyoung terlihat berpikir. Setidaknya aku bisa menggantungkan harapan pada Luhan. Aku tidak boleh terjebak salju hari ini.

“Boleh aku ikut denganmu? Aku, err aku tidak bisa menelepon Yuri, err tidak ada sinyal di cuaca buruk seperti ini.” Sooyoung mencoba memberikan alasan, berharap lelaki ini luluh.

Yep. Luhan sudah jauh mempersiapkan sesuatunya dengan matang, untunglah di Korea ini ia tidak sendiri. Ada pamannya yang tinggal tidak jauh dari kampusnya, bermodalkan mobil hasil pinjaman pamannya, ia bisa pulang hari ini. Walau mungkin ia harus berhati-hati dalam mengendarai, karena salju kerap kali menghalangi pandangan.

Luhan sebenarnya iba melihat Sooyoung yang menatapnya dengan harap-harap cemas. Hatinya dan otaknya berperang hebat. Ia tak sampai hati meninggalkan gadis itu disini. Tapi otaknya seakan melawan, pikirkan baik-baik! Dia membuat hidupmu bagai neraka. Jangan berbelas kasih padanya. Sebagai keputusan akhir, ia mengikuti saran otak jahatnya.

“Maaf tapi aku tidak mau.”

Pundak Sooyoung merosot. Ia dengan lemas berjalan menuju gerbang. Dan di bawah atap gapura gerbang kampus itu ia dapat melihat bagaimana salju turun lebih lebat dari hari-hari biasa. Bahkan sejak tadi siang saja ia sudah tidak enak badan, Yuri menyuruhnya pulang tapi Sooyoung cukup keras kepala. Tugas milik Sooyoung harus diberikan siang tadi, jadi mau tak mau ia tetap tinggal.

Wajahnya terutama hidungnya sudah lebih merah dari tomat. Menggigil sementara asap mengepul keluar dari mulutnya yang sudah pucat. Mobil Luhan lewat melewati gerbang dimana Sooyoung masih berdiri. Sooyoung juga bingung ia sedang menunggu apa, beresiko jika harus menerobos salju setengah badai ini.

Sooyoung benci Luhan. Tidak bisakah ia berbaik hati untuk hari ini saja? Sooyoung hampir menangis. Karena khawatir cuaca akan bertambah buruk, dengan terpaksa Sooyoung berjalan menerobos gumpalan-gumpalan salju dari langit. Akan sangat jarang ada bis yang bertugas, tapi untung masih ada satu. Setelah menunggu lama di halte langganannya, akhirnya ia bisa bernafas lega karena ada bis yang berhenti di depannya.

Keesokan harinya, Sooyoung menderita flu berat dan demam tinggi, ini mengharuskannya untuk meringkuk di bawah selimut sepanjang hari. Ia tidak lapor pada orang tuanya, karena itu akan membuat orang tuanya menjemputnya ke Seoul lalu membawanya ke Gwangju-do. Kemungkinan terburuk ia tak akan diijinkan untuk berada di Seoul lagi.

Flashback off

“Sooyoung memberi tahuku soal badai salju 5 hari yang lalu itu, for your information,” jelas Yuri, ada nada sarkastik dari setiap ucapan yang dilontarkan. Yuri jadi ikut sebal, Luhan lah yang membuat Sooyoung absen lima hari, membuat Yuri terpaksa harus merasa kesepian.

“Apa–– apa dia baik-baik saja sekarang?” tanya Luhan ragu.

“Ya bisa dibilang begitu, haft aku harus menjenguknya setiap pulang kuliah,” Yuri menghembuskan nafas prihatin. “Kau merasa bersalah?”

“Ya.”

Perasaan bersalah semakin menggerogoti Luhan, ia sebenarnya pantas disebut lelaki brengsek. Mana ada lelaki yang membiarkan seorang wanita terjebak dalam badai salju, dan tak mau memberikan wanita itu tumpangan pulang. Kejam. Ya sebut saja seperti itu.

Luhan sebenarnya lelaki baik, sangat baik. Namun setiap sesuatu yang berhubungan dengan Choi Sooyoung, otaknya tidak pernah sinkron. Ego seringkali mengalahkan hati.

Ia masih sangat ingat bagaimana waktu kecil ayahnya pernah menasihatinya bahwa “Kau tidak boleh bertindak jahat. Kau harus jadi manusia baik. Orang lain tidak boleh dijahati, apalagi perempuan. Kau sayang ibumu kan?”

“Tentu saja, lagi pula Luhan kan orang baik.”

Wow, Luhan patut bertepuk tangan atas pelanggaran yang banyak dilakukannya, tidak menuruti perintah orang tua. Membiarkan seseorang jatuh sakit karena dirinya. Kurang jahat apa dia?

***

“Luhan gege! Mau ikut ke dance studio punya Kai tidak?”

“Oh aku lupa memberi tahumu, aku ada urusan, Yeol. Minggu depan saja aku ikut ya?”

“Uh baiklah.” Chanyeol mengiyakan lalu melempar pandangan setengah curiga dan bertukar pandang dengan sahabatnya yang lain.

Tanpa banyak berkata-kata lagi, lelaki itu kemudian berlari menghampiri Yuri, lalu terlihat pergi berdua dengannya. Sehingga semakin menimbulkan tatapan heran dari Chanyeol dan kawan-kawan.

***

“Kau yakin mau ikut aku? Kalau Sooyoung malah mengusirmu bagaimana?” Sifat usil Yuri memang sering keluar walau di saat yang seperti ini. Dan ini berhasil membuat nyali Luhan menciut.

“Ehe aku bercanda, jangan dipikirkan.” Yuri malah nyengir tiga jari.

Sampailah mereka di depan rumah Sooyoung. Jenguk tidak jenguk tidak jenguk tidak jenguk. Uh kenapa harus berhenti di jenguk sih? Luhan sedari tadi menghitung untuk membuat keputusannya.

Rasa gengsi lelaki itu benar-benar tinggi hingga ia berniat kabur dan tidak jadi. Tidak ini tidak benar, mana ada Luhan menjenguk gadis aneh itu. Ini bukan gayaku. Bukan.

Badan Luhan berbalik arah, sehingga posisinya berlawanan dengan Yuri. Ia mengangkat kakinya, sudah benar-benar berniat kabur. Namun tak sampai, tangan Yuri lebih cepat bergerak menarik kerah bajunya untuk menahan lelaki itu.

Ada satu pelajaran yang diambilnya hari ini. Baik Sooyoung baik Yuri sama saja. Sama-sama sering menarik kerah baju orang. Dan Luhan tidak suka kerahnya ditarik-tarik. Ini baju mahal oh ya ampun.

“Kau masih memikirkan gengsimu? Oh ya ampun Luhan. Aku tidak habis pikir ada orang sepertimu. Musnah saja kau.” Yuri mulai tersulut emosi.

“Err baiklah baiklah.” Haish sudah terlanjur.

Pintu depan Sooyoung terbuka olehnya dengan mudah, Yuri memasuki apartemen Sooyoung dengan santai. Lagipula Yuri sudah kelewat sering ke rumahnya, sehingga Sooyoung dengan cuma-cuma memberi kunci cadangan pada sahabatnya.

“Sooyoung-ah! Aku dataaang.” Teriakan Yuri menggema di ruang tamu. Ia menarik Luhan ikut masuk, dan membiarkan pria itu terduduk di ruang tamu sementar gadis itu melesat menuju singgasana –read: kamar– milik Sooyoung. Yuri melihat gadis itu sedang menguap dan tubuhnya masih terduduk di kasur empuknya.

Wajahnya yang kusut khas orang baru bangun tidur bercampur pucat adalah hal pertama yang Yuri amati hari itu. “Baru bangun tidur eoh? Kau istirahat cukup kan?”

“Ya ya ya eomma.”

“Hey aku membawa tamu hari ini, kau tidak keberatan bukan?”

“Tamu?”

“Ya, aku membawa seseorang.”

Sooyoung berjalan keluar diikuti Yuri di belakangnya. Tampaklah seorang lelaki yang terlalu dikenalinya sedang berdiri, sama-sama menatapnya.

Memakai baju piyama dengan sweater tebal, rambut berantakan dan terakhir, wajah yang pias adalah hal pertama yang dilihat Luhan setelah lama tak melihat gadis itu. Gadis itu tampak berbeda dengan hari biasanya. Tidak tampak lagi wajah menyebalkan khas Choi Sooyoung. Digantikan dengan wajah pias khas orang sakit.

Sooyoung membulatkan matanya, masih tidak percaya dengan seseorang yang dibawa Yuri.

“Kau! Sedang apa disitu?” Suara pertama yang didengar Luhan, walau sebenarnya ada sedikit nada tidak suka bercampur tidak percaya yang terselip di kalimatnya, tapi setidaknya ia tidak mengusir Luhan. Atau mungkin belum.

“YA––” Masih untung aku mau berbaik hati menjengukmu! Teriakannya tertahan di tenggorokan, kalimat selanjutnya ia ucapkan dalam hati. Luhan ingat Sooyoung jatuh sakit karena tindakan jahat dan ketegaannya.

“Err maaf.”

“Soo, tadi Luhan minta ikut denganku.”

Sooyoung melangkah pelan mendekati Luhan. “Kau sedang dirasuki apa sehingga mau susah-susah datang kesini?”

“Teman-teman satu jurusanku memberitahuku bahwa kau jatuh sakit, jadi aku err aku––” Luhan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, “Kau tahu kan hari itu saat aku meninggalkanmu di kampus. Aku minta maaf soal itu.”

Yuri yang berdiri tak jauh dari mereka diam-diam berjerit dalam hati –jika bisa– karena baru kali ini ia melihat mereka tidak dalam keadaan bertengkar, sehingga muncul secercah harapan keduanya bisa berbaikan. Dan Yuri meng-amin-inya.

“Wow apa aku seterkenal itu?” Justru respon itulah yang terdengar dari Sooyoung. Ia malah memikirkan bagaimana teman-teman di kampusnya memberi tahu Luhan soal itu. Ehe apa aku populer?

Tentu saja iya. Dia populer, Luhan juga sebenarnya. Karena perseteruan mereka bagai makanan sehari-hari bagi seluruh siswa-siswi di sana. Pemandangan yang sudah tidak asing.

“Sooyoung-ah kau sudah makan?” Yuri memecah keheningan yang terjadi beberapa detik. Ia tahu suasana akan berubah awkward jika dibiarkan terus begitu.

“Um belum, sejak pagi,” jawabnya jujur. “Astaga Sooyoung, bagaiman––”

“Ah!” Suara Yuri terpotong saat suara rintihan Sooyoung terdengar. Ia membungkuk seraya kedua lengan Sooyoung memegangi perutnya. Matanya juga terpejam seperti menahan sakit.

“Soo– Sooyoung?” Luhan yang sejak tadi di depannya refleks memegang kedua pundak gadis itu dengan tangannya. Ia membungkuk dan menatap gadis itu cemas. “Soo– Sooyoung?”

Yuri melesat menghampiri sahabatnya, “Sooyoung-ah? Ya ya kau kenapa? Kau mau aku bawa ke rumah sakit?” suara Yuri terdengar lebih cemas.

Ketika keduanya sedang dilanda kepanikan, Hap! Dalam sekejap Sooyoung sudah berdiri tegak lagi. “Hehe, kalian jangan seperti itu, aku hanya lapar.” Cengiran Sooyoung bertambah lebar ketika dilihatnya wajah Yuri menampilakn ekspresi datar dan wajah Luhan yang melongo.

“Heh!” Sooyoung menjentikkan jarinya di depan wajah Luhan yang masih menampilkan ekspresi yang sama.

Tidak. Luhan tidak memikirkan bagaimana Sooyoung menipunya dengan berakting seperti orang kambuh maag begitu. Tapi bagaimana mungkin Sooyoung seolah melupakan kebenciannya terhadap dirinya saat itu. Apa ia mulai terpesona akan kebaikan hatiku? Menggeleng kuat, Luhan mengenyahkan pikiran konyol plus menggelikan itu. Ah ia sedang sakit, biasanya orang sakit akan berperilaku berkebalikan dari aslinya.

Lagi-lagi dengan refleks Luhan mengulurkan tangan dan menempatkan punggung tangannya di dahi Sooyoung. Dan panas seketika menyengat kulit tangannya di tengah-tengah cuaca yang dingin.

Dan cengiran Sooyoung hilang seketika digantikan wajah melongonya ketika ia merasakan sentuhan Luhan yang tiba-tiba.

“Oh ternyata kau benar-benar sakit,” ucap Luhan.

“Ya, dan itu karena mu.”

“Ya aku tahu betul, maafkan aku.” Ini sudah ketiga kalinya Luhan berkata maaf, apa lelaki itu mulai melemah? Atau ini adalah Luhan edisi baik hati?

“Berhentilah bilang maaf. Sejujurnya aku agak aneh mendengarmu yang seperti ini,” Sooyoung melempar tatapan aneh, “Aku lebih suka kau yang semena-mena.”

Kwon Yuri kembali memecah suasana awkward. “Soo, tadi aku hampir jantungan melihatmu seperti orang sekarat begitu.” Menanggapi kekhawatirannya, perempuan yang lebih tinggi darinya itu malah kembali menampilkan cengiran khasnya. Gadis ini, biar demam dan flu sedang menyerang, ia tak pernah menghilangkan karakter cerianya, apalagi jika di hadapan sahabat tercintanya.

“Berhenti tersenyum seperti orang kesetanan. Kau menakutiku!” ucap Yuri bergidik dan senyum Sooyoung sukses hilang dalam seketika.

Ting. Suara dentingan misterius itu kembali terdengar menghampiri otak Yuri, seakan mengingatkannya pada sesuatu. “Ah Luhan-ssi. Kebetulan kau disini, boleh aku minta uangmu?” Yuri menengadahkan tangannya tak lupa sambil menepuk-nepukkan telapak kaki kanannya ke lantai, memberi efek tidak sabar.

Luhan keheranan, “Uang?”

“Aku tidak punya uang, dan Sooyoung juga tidak punya. Kau tidak kasihan lihat Sooyoung hampir mati kelaparan? Kemarikan uangmu,” perintah Yuri. Dalam hati ia terkekeh senang, hehe trolling Yuri.

Dengan masih keheranan, Luhan merogoh kantung jaketnya. Mencari benda hitam berisi uangnya. Diberikannya beberapa lembar uang pada Yuri dengan agak tidak ikhlas. Bagaimanapun juga, itu adalah uang sakunya, tapi berhubung hari ini adalah Luhan edisi baik hati, jadi ia memberikannya walau tidak mau.

“Sooyoungie tadinya aku ingin mengajakmu makan di luar. Tapi kondisimu tidak akan memungkinan, kalau sampai kau pingsan di jalan kan tidak lucu,” celoteh Yuri.

“Ah benarkah? Ayo makan di luar!” ajak Sooyoung semangat, ia sudah membayangkan restoran-restoran Jepang favoritnya beserta makanan-makanan enak menggugah selera. “Nanti saja ya, Soo. Oh ya lagipula tidak akan makanan Jepang! Aku perlu makanan sehat untuk orang sakit sepertimu.”

“Ya ya ya terserah ibu.”

Ting. Lampu yang tadi sempat dimiliki Yuri berpindah pada Luhan. Kali ini Luhan punya ide cemerlang. “Ah aku saja yang belikan. Aku tahu harus beli apa.”

Tak berlangsung lama, lampu  di otak Luhan langsung redup setelah Yuri mengetahui maksud tersembunyi di balik kebaikannya, “Tidak. Kau pikir aku tidak tahu? Kau akan membawa kabur uangmu kan?”

Bahu Luhan merosot seketika, “Err.”

“Iklaskan saja Luhan-ssi. Anggap ini permintaan maaf untuk dia,” bola mata Yuri bergerak menunjuk Sooyoung yang sudah terduduk di kursi menopang dagu. “Cepatlah, aku lapar,” ucap Sooyoung lemas. Selain perutnya yang kosong, rasa pusing juga mulai melandanya kembali.

“Baik aku pergi ya.”

Setelah sosok Yuri menghilang di balik pintu, keheningan seketika menyelimuti ruangan itu. Luhan berniat untuk pulang tapi tidak tega meninggalkan wanita ini sendiri. Oh astaga, kenapa Luhan yang tegaan jadi tidak tega begini. Ah lagipula uangku sudah diraup Yuri, jadi aku juga harus kebagian makanan, harus! Itu kan uangku.

Ia mencuri pandang pada wanita yang kini menyandarkan tubuhnya di sofa pada ruangan itu. “Sooyoung, kalau kau ingin tidur kau bisa istirahat di kamarmu. Asal kau tahu, tidur di sofa bisa membuat badanmu pegal-pegal.”

Entah dapat keberanian darimana, Luhan bahkan menceramahinya bagai sosok sahabat.

“Energiku habis untuk berjalan ke kamar, Luhan. Lagipula aku lapar, jadi aku ingin tidur.”

Lelaki itu memutar otaknya, berfikir keras. Lapar dan tidur, sejak kapan orang lapar ingin tidur?

Melihat wanita itu dengan cepatnya terlelap membuat hatinya sedikit tergerak. Entah digerakkan apa. Digerakkan Sooyoung? Bisa jadi. Ya. Tidak.

Luhan menggeret langkah menuju kamar Sooyoung. “Maaf Sooyoung aku lancang.” Ia mengambil sebuah selimut dari atas tempat tidur, lalu kembali ke ruangan sebelumnya. “Tapi sepertinya kau membutuhkan ini.”

Kini tubuh Sooyoung sudah tertutup selimut, hanya menyisakan leher dan kepalanya. Luhan duduk di sofa sebelah, menopang dagu menunggu kepulangan sahabat Sooyoung. Yang jelas ia ingin segera makan lalu pulang. Istilah SMP atau ‘sudah makan pulang’ ia pegang teguh saat ini.

Jika terlalu lama di sini, bisa jadi ia melakukan hal-hal mengejutkan lainnya.

***

Setelah menghabiskan makanannya, Luhan segera pamit pulang pada kedua sahabat itu, sesuai yang diinginkannya tadi, sudah makan pulang. Berada di satu komplek yang sama dengan Sooyoung membuatnya mudah untuk pulang, hanya tinggal berjalan beberapa blok dari sini, lalu belok di pertigaan dan ia akan sampai.

Sempat terfikir di benak Luhan, kenapa Sooyoung tidak marah sama sekali ya. Dia kan jatuh sakit gara-gara aku meninggalkannya waktu itu. Padahal gadis itu kan sensitif sekali. Ada masalah sedikit menangis, disinggung sedikit marah-marah, bahkan kesehatannya pun sensitif, sedikit-sedikit langsung demam.

Hey terlalu lama bermusuhan dengannya membuat Luhan tau perilaku gadis itu. Dan ia tidak menyadarinya. Atau mungkin belum.

***

–To Be Continued–

 

**) Part ini aku agak cepet ya updatenya, maklum habis minum mi*zone. Kemungkinan ini bentar lagi end. Eh tapi gatau deng behahahah

Oke ya, aku pamit doeloe, bye😀

36 thoughts on “Stolen Cat [Chapter 6]

  1. thelittleshikshin January 17, 2014 / 8:29 PM

    Nah kayaknya aku nyium bau-bau cinta diantara mereka /apadah
    ngakak, lapar pengen tidur😄 bahahah SMP😄
    wih ditunggu next chapter muhahaha

    • winterchan January 19, 2014 / 10:02 AM

      mhaha bisa jadi bisa jadi :v
      oke tunggu ya🙂

  2. miss_sooyoungster10 January 17, 2014 / 9:55 PM

    Next!!!
    Gak sabar..baguslah klo di post cepet daripada kelamaan..hehehe..Nanti lumutan

    Hwaiting!!

  3. Zee Anggita January 17, 2014 / 10:26 PM

    waaah keren chingu, luhan dh mulai merhatiin soo eon..
    nextnya di tunggu..

  4. Elisa Chokies January 17, 2014 / 11:29 PM

    fanfic ini bakal trus ku ikuti, setelah ngikutin cerita ini
    langsung ktagihan,alasan utama sih karena Soohan ^_^ .

    nggk ada alasan nggak buka blog ini krn fanfic SooExo selalu hadir dan hadir. hhe.. thankyuu gelsha.

    • winterchan January 19, 2014 / 10:05 AM

      sama sama ya, makasih juga udah ngikutin cerita ini🙂

  5. Anna Choi January 18, 2014 / 6:52 AM

    Ngakak banget bacanya😄
    Apalagipaa baca ini ‘luhan edisi baik hati’
    Uwaa luhan perhatian banget ke sooyoung :3
    Makin cintah sama soohan😀
    Sering-sering minum mijon aja sha biar cepet dapet pencerahan sama idenya wkwk
    Nextnya ditunggu🙂

    • winterchan January 19, 2014 / 10:07 AM

      aku juga makin cintah❤
      beliin dong mijon nya :v

      sip😉

  6. febryza January 18, 2014 / 8:05 AM

    ya ampun ini sumpah mereka awkward bgt sampe ada istilah luhan edisi baik hati terus soo yg sok-sok kambuh maag hahahaha

  7. sweetndah January 18, 2014 / 11:18 AM

    rasa bersalah ato bener” cemas lu??

  8. slvky January 18, 2014 / 3:12 PM

    luhan edisi baik. lapar-tidur. smp. haha, itu konyol banget, sumpah.
    next part nya cepetan yaa. sering2 juga minum meizonnya, biar cepet pulishnyaaa. mangaaatt authoorrr

    • winterchan January 19, 2014 / 10:11 AM

      tidak ada yang tidak mungkin (?)

  9. yeni swisty January 18, 2014 / 7:12 PM

    aaaa.. akhir nya ada part yg gk ada pertengkaran di antara SooHan🙂 serasa damai dunia, dan kurasa bakal ada benih2 cinta nih di antara SooHan🙂 #CieCieCie

    Next part di tunggu🙂

    • winterchan January 19, 2014 / 10:12 AM

      bisa jadi bisa jadi :v

      oke tunggu aja ya😉

  10. hananhee January 18, 2014 / 8:33 PM

    Eciecieciee.. udah ada sinyal tuh,, jadi bisa internetan /?
    Nggk tau mau bicara apa, mau bilang aja kwlo ini kece badiii ><
    Tetep ditunggu buat next-partnya^^

    • winterchan January 19, 2014 / 10:13 AM

      sinyal kenceng, ngebut tanpa hambatan (?)
      sip tunggu oke😉

  11. shin hyun young January 19, 2014 / 10:38 AM

    Kyaaa luhan mulai care sma soo, akhirnya juga scene yg aku idam2kan ada juga-saat mereka ga ribut-terlalu pusing juga bacanya klo mereka berantem mulu..

  12. Soohaelin January 19, 2014 / 6:01 PM

    Seru thor,, ditunggu lanjutannyah ;)!!
    Fighting (y)

  13. ymshtemi January 21, 2014 / 2:47 PM

    wah tumben bgt luhan berubah baik ke sooyoung:/ kkk nextnya ditunggu ^^

  14. wufanneey January 21, 2014 / 6:41 PM

    hahaha astaga si lohan gengsian xD
    sooyoung nya kok berasa unyu banget di chapter ini

  15. KyuhyunBaekhyunSooyoung January 23, 2014 / 11:45 AM

    lanjut thor…..
    ck ck ck Luhan pelit juga ya, sama orang sakit. untung ada kkakab yul
    ngupdate nya jangan lama2, ini ff kesukaan ku loh….

    • winterchan January 24, 2014 / 4:02 PM

      really? /halah/
      ini kesukaan kamu? makasih deh😀
      sip diusahain ga akan lama😉

  16. Rizky Amelia January 26, 2014 / 7:02 AM

    Ciee luhan perhatian banget sm soo eonni meskipun gengsinya msh setinggi langit

    Next partnya ditunggu ya eonni ^^

    • winterchan January 28, 2014 / 3:18 PM

      tinggi banget tuh (?)
      oke😉

  17. mrn June 6, 2014 / 1:02 PM

    Gemesss liat xi luhan :p

  18. Rifqoh Wafiyyah June 26, 2014 / 6:58 AM

    sweet mereka…:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s