Stolen Cat [Chapter 5]

stolen cat chapter 4

Stolen Cat – Chapter 5

Written by winterchan (@gelshaa)

Choi Sooyoung, Luhan, Kwon Yuri

Romance, College-life

PG-15 | Chaptered

Plot & Graphics © Winterchan

Aku lebih baik terjun ke jurang tanpa dasar.

***

Author POV

Pagi-pagi sekali Sooyoung sudah dengan tumbennya terbangun dari tidur lelapnya. Ketika menengok ke samping, dilihatnya seekor makhluk berbulu tengah terdiam sambil mengibas-ngibaskan ekor miliknya. Matanya memandang sang majikan penuh harap. Lalu kemudian, “Miaw.”

Setelah memberi makan si makhluk berbulu itu, Sooyoung melesat kembali menuju kamarnya lalu keluar dengan keadaan sudah rapi. Sudah memasuki musim dingin, Sooyoung malah enggan untuk naik kendaraan umum. Ah, barangkali sahabatnya mau bawa mobil. Hap. Diraihnya handphone putih yang tadi sempat terhubung dengan kabel charger. Jari-jari lentiknya mulai mengetuk-ngetuk benda putih itu.

Tuut tuut

“Yuri-ya!”

“Hey Sooyoung, kenapa pagi-pagi sudah telfon?” suara di seberang mulai terdengar.

“Ehehe kau bawa mobil ya, hari pertaman di musim salju cukup dingin sebenarnya.” Sooyoung nyengir tiga jari, walau ia tahu sebenarnya Yuri tak akan melihatnya.

“Aku sedang di jalan sebenarnya, cepat keluar dari rumah karena aku sudah hampir sampai!”

“Yuhuu I’m comiiing!”

Menaruh ponselnya ke saku, Sooyoung langsung melesat menuju rak sepatu. Terlihat sepatu-sepatu koleksinya berjajar rapi, Sooyoung mengabsennya satu-satu. Ah, terlalu banyak membuatnya pusing juga. Akhirnya pilihannya jatuh pada boots berwarna coklat terang. Bukan pilihan buruk karena ini musim salju!

“Sayaaaaang?” Sayang, begitulah Sooyoung memanggil makhluk berbulu mirip Garfield itu, sungguh Sooyoung enggan memanggilnya dengan nama, nama itu hanya mengingatkannya pada Lu– ah itu pokoknya. Ah, ia jadi ingin mengganti nama kucing itu.

Langkah-langkah kecil hewan itu menuntunnya menuju sang majikan, ah sungguh makhluk ini benar-benar lucu!

Setiap hari gadis itu memang akan berpamitan sebelum pergi kuliah. “Aku berangkat, baik baik di rumah, jangan nakal.”

Sooyoung melenggang lalu melangkah menuju pintu utama, tapi kemudian tubuhnya ia balikkan lagi. Makhluk kecil itu masih di tempatnya kemudian mengeong. Gadis tinggi itu jadi tak tega meninggalkannya sendirian.

“Baiklah aku akan membawamu hari ini, barang kali aku bisa menitipkanmu.”

***

Sooyoung melangkah melewati lorong, dengan tali di genggamannya, menuntun kucing gemuk bernama Lulu itu. Orang-orang yang kebetulan melewati dirinya sengaja melempar pandangan pada makhluk menggemaskan itu. Mengeluarkan suara “Wow dan waah”

Dan satu orang yang paling tidak ingin ia temui kebetulan berdiri disana, menatapnya dengan pandangan meremehkan dengan kedua tangan yang ia lipat di depan dada, “Cih, peliharaan dibawa-bawa, mau pamer huh?”

Sooyoung POV

Nah kan, masih pagi dia sudah berniat menguras emosi. Tidak punya kerjaan lain huh? “Apa? Mau mengambilnya dariku lagi?” Ku gendong hewan kesayanganku ini, melindunginya dari makhluk utusan neraka ini.

Luhan membelalakkan matanya tidak suka, kemudian menegakkan tubuhnya yang tadi bersender pada palang pintu. “Jangan sembarangan bicara!”

Jangan berusaha mengelak, makhluk utusan neraka! “Memang benar kan? Buktinya kau pernah mengambilnya,” ucapku sesuai fakta. Entah bagaimana dan sejak kapan sekarang orang-orang mulai berkumpul di lorong ini, memasang pandangan ingin tahu.

Terlihat makhluk utusan neraka itu mengacungkan jari, “Dengar ya gadis sinting, dari awal aku memang tidak pernah mengambilnya! Makannya jaga barangmu baik-baik!” Cih sok menasehati. “Aku tidak suka dinasehati pencuri sepertimu,” ucapku sengit.

Dan kemudian telingaku mulai menangkap suara samar-samar atau bisikan dari orang-orang sekitar lalu menjatuhkan pandangan aneh pada Luhan. Ha! Sekarang orang-orang tahu kedokmu, Lu!

Kulihat Luhan mulai balik menatap orang-orang itu, “Ya ya ya! Kalian percaya ucapan gadis lulusan rumah sakit jiwa ini?” Terdengar protesan darinya.

Luhan POV

Apa ini? Benar-benar gadis sinting! Dibayar berapa orang-orang ini? Kenapa aku bisa berfikiran begitu? Hey aku tahu dia dari orang-orang, gadis sinting ini kan anak pengusaha, kakeknya juga orang paling berpengaruh di Korea. Dan aku baru tahu sifat menyebalkan plus kurang ajarnya ini.

Baru saja aku ingin melontarkan ucapan pedas padanya saat kudengar suara seseorang memecah suasana. “Hey hey ada apa ini?”

Aku kenal suara ini, syukurlah bukan salah satu dosen atau yang lainnya, dia Minseok sahabatku. “Astaga Lu, kubilang kan jangan mencari masalah lagi.”

Sialan baru datang dia sudah menyalahkanku! Minseok tolong, lihat dulu masalahnya! Lagipula kau ini sahabatku atau bukan sih? “Apa apa? Siapa yang mencari masalah?” tanyaku murka.

“Gadis ini yang mencari masalah!” tanganku terjulur menunjuk gadis itu. “Apa?! Kau tidak ingat siapa yang duluan mencari masalah di pagi hari seperti ini?” Gadis bernama Sooyoung itu mulai meninggikan suara.

“Kau yang dari awal menuduhku yang tidak-tidak!”

“Aku tidak menuduhmu!”

“Apa buktinya?”

Author POV

“Sooyoung-ah.” Terdengar suara lembut yang lebih terdengar helaan nafas lelahnya. Pemilik suara itu meraih kucing yang masih ada di tangan Sooyoung, membuat Sooyoung menolehkan kepala. Di sana terlihat Yuri.

“Baru saja kutinggal sebentar kau sudah menciptakan masalah lagi.”

“Aku tidak mencari masalah.”

“Ya, tapi kau menciptakannya.” Gadis bermarga Choi itu menatap sahabatnya kesal.

“Ha! Kau dengar? Kau menciptakan masalah tahu!” Terdengar lagi suara mengintimidasi dari Luhan.

Choi Sooyoung meliriknya marah, “Kau juga!” Sooyoung tak mau kalah. “Cih aku lelah berurusan denganmu! Sampai jumpa di perpustakaan gadis sinting,” ucap Luhan mengakhiri pertengkarannya dengan Sooyoung.

“Ayo Minseok!” Luhan kemudian mengajak Minseok pergi dari tempat yang menurutnya terkutuk itu, dan sahabatnya mengekor dari belakang.

Bagaikan live show yang telah berakhir, orang-orang mulai meninggalkan tempat yang sempat menjadi arena perang bagi kedua peran utama begitu pertengkaran itu diakhiri dengan kurang seru –itulah anggapan para mahasiswa yang menonton–

Dan ah ya Sooyoung hampir melupakan tugasnya yang harus ia lalui bersama makhluk utusan neraka itu. Kalau bisa ia ingin membakar perpustakaan sekarang juga –sehingga hukuman bisa diakhiri secara terpaksa– ah tapi bisa saja kalau perpustakaan terbakar, ia dan Luhan yang disuruh membangun kembali gedung perpustakaan. Wow, mimpi buruk.

***

Nasib naas mungkin dilalui Luhan kala itu, siang ini ia sekelas dengan Choi Sooyoung beserta sahabatnya yang ia tak ketahui namanya. Lama-lama ia menyesal menolak ajakan Chanyeol dan Baekhyun untuk membolos. Dua sahabatnya itu memang menjadikan membolos sebagai hobinya. Cih, dasar generasi yang tidak patut dicontoh.

Tapi Luhan berfikir kembali, sebenarnya kalau sekali-kali ikut tidak apa-apa juga dari pada harus bernafas di ruangan yang sama dengan Choi Sooyoung dan berbagi oksigen dengannya. Ugh. Ia lebih memilih bolos dengan pasangan idiot itu, lagi pula kegiatan mereka selama membolos cukup menyenangkan juga, kadang bermain playstation, kadang hanya mampir di sebuah kafe. Semembosankan kegiatan itu, sekali lagi, itu jauh lebih baik daripada harus bernafas di ruangan yang sama dengan Choi Sooyoung.

Ia menopang dagunya bosan. Kenapa tidak habis-habis sih?

Pluk.

Dirasanya tutup spidol menimpuk dahinya. “Saya pernah mengatakan untuk tidak melamun dalam pelajaran saya, mengerti?”

Untung. Masih untung. Biarpun galak, dosen Son jarang sekali menghukum muridnya, ia lebih sering menegur. “Baik, saem.”

Teman sebangku Luhan –Minseok– menyikutnya pelan. “Ngapain melamun sih?” Luhan melirik sahabatnya malas, “Kenapa pelajaran ini tidak habis-habis sih?” Lelaki chinese itu malah memberi Minseok pertanyaan. “Loh kenapa? Masih tidak terima di kelas ini ada perempuan bernama Sooyoung itu?”

“Hati-hati jangan terlalu benci–––”

“Apa apa? Aku sudah sering dengar mitos mitos tidak masuk akal semacam itu. Jadi, cukup!” sergahnya tak terima dengan kalimat apapun yang akan Minseok katakan.

Cih aku lebih baik terjun pada jurang tak berdasar.

Luhan mulai merasakan aura aneh di sekitar, ia dengan sigap melirik dua bangu seberangnya, dan rupanya Sooyoung –sang penghuni bangku– juga tengah meliriknya sengit. Luhan mengabaikan tatapan kebencian itu dengan mengangkat bahunya tak peduli.

***

“Soo, jangan kelamaan lihat Luhan terus, nanti––”

“Yuri-ya, jangan menganggu! Aku sedang mencoba membunuhnya dengan tatapan laserku.”

Kwon Yuri tertawa tertahan, “Astaga.”

“Asal kau tahu, Luhan itu termasuk mahasiswa tampan lho, kau pasti mengira dia orang Korea, tapi dia sebenarnya Chinese,” lanjutnya. Sooyoung menyudahi aksi pembunuhan via laser-nya lalu beralih menatap Yuri dengan tatapan yang sulit ditebak, alisnya terangkat sebelah, “Lalu apa hubungannya denganku?”

“Siapa tahu kau tertarik,” ucapnya asal. Dan Sooyoung membalasnya dengan tatapan ‘wth?’

Cih aku lebih baik terjun pada jurang tak berdasar.

***

“Sooyoung-ah aku pulang duluan ya. Jangan lupa Lulu! Kau tadi menitipkannya pada Byun ahjumma kan?” Teriakan Yuri memenuhi hallway yang hampir sepi.

Byun ahjumma adalah istri dari Byun Byunghoon, penjaga sekolah. Byun ahjumma sendiri merupakan chef di kantin universitas. Ia memang sering ketitipan barang-barang milik mahasiswa disini.

“Oke.” Sooyoung mengacungkan kedua jempolnya keatas. Gadis itu kemudian melesat menuju kantin, barang kali Byun ahjumma disana.

Setelah mendapatkan kucing yang tadi di carinya, Sooyoung memutuskan duduk sebentar di meja kantin, mengusap-ngusap kucingnya penuh kasih sayang.

Tanpa disadarinya, seseorang sudah berada tepat di depannya dengan posisi tangan terlipat di dada. Sooyoung mendongak.

“Oh jadi berniat menyelewengkan tugas lalu kebur kesini, begitu ya?” Nada menyebalkan tak pernah menghilang dari suaranya. Wanita itu menarik nafasnya kasar, “Shut up, Lu!” Ia sudah cukup lelah bertengkar dengannya. “Jangan sok tahu.”

“Ck, cepat ke perpustakaan atau aku akan melaporkannya pada Jung saem,” ancamnya.

***

Luhan kali ini mengelap beberapa buku usang di pojok perpustakaan. Di bagian pojok memang khusus buku-buku keluaran tahun jebot. Cukup menarik karena sebagian dari buku itu ada yang membahas misteri-misteri yang pernah terjadi di kampus terkenal ini. Juga beberapa sejarah orang-orang yang pernah ikut andil dalam kemajuan universitas. Juga diantaranya buku-buku tentang Korea Selatan di masa lalu. Ada lagi buku-buku misteri bergenre horror disimpan disini. Benar-benar menarik.

Sementara Sooyoung merapihkan rak-rak beserta bukunya. Rupanya banyak buku yang tidak disimpan sesuai urutan abjad dan Sooyoung harus menyusunnya kembali. Tugas mengelap kaca rak untuk buku referensi pun dilakoninya.

“Haf.” Sooyoung melenguh lelah. Sebenarnya tugasnya lah yang lebih melelahkan dari tugas Luhan. Ia harus menaiki tangga untuk menyimpan buku yang semestinya ditaruh di bagian atas. Sementara hanya mengelap buku sambil duduk santai, apa susahnya?

Sooyoung terduduk menyandar, menempatkan Lulu di pangkuannya setelah sebelumnya mencari-cari kucing itu yang ternyata berkeliaran di sekitar Luhan. Bukannya menunggu Sooyoung bekerja, kucing itu malah lebih memilih menunggu Luhan dibandingkan dirinya. Benar-benar pengkhianatan.

“Dengar ya, jangan mentang-mentang namamu mirip dengan lelaki utusan neraka itu kau malah lebih memilihnya. Ingat majikanmu siapa!” Sooyoung mengomeli kucing tak berdosa itu. “Miaw,” kucing belang itu mengeong pelan.

“Aku membawamu kesini untuk menemaniku, tapi apa? Cukup tau ya! Aku sakit hati.” Sooyoung berubah dramatis.

Luhan yang mendengar suara Sooyoung mulai merasa terganggu, apalagi setelah ia mengetahui bagaimana Sooyoung memanggilnya, lelaki utusan neraka. Sialan.

“Heh sedang apa kau? Kerja! Jangan sok capek begitu!” titahnya sadis. Perlahan langkah kaki lelaki itu terdengar mendekati Sooyoung. “Apa salahnya aku istirahat? Pekerjaanku lebih melelahkan darimu, tahu!” ucap gadis itu sebal, bibirnya ia manyunkan.

“Ck alasan––” Ucapannya terhenti ketika dilihatnyanya makhluk yang sejak tadi Sooyoung pegang meliliti kakinya manja. Rupanya kucing itu benar-benar naksir Luhan.

“Ya! Lulu! Jangan dekat-dekat dia!” Sooyoung tergesa meraih kembali peliharaannya yang sempat kabur dari pangkuannya.

Luhan tersenyum licik, “Lihat? Bahkan peliharaanmu lebih memilihku. Dan Lulu? Nama menjijikkan macam apa itu? Aku turut sedih karena kucing itu diurus olehmu, dia pasti sedih,” ucapnya memanas-manasi.

Cukup. Wajah Sooyoung mulai merah menahan amarah. “YA! Bisakah kau kembali bekerja? Dan oh itu artinya namamu juga menjijikkan,” gadis itu menampilkan ekspresi jijiknya.

Gadis bersurai coklat itu terlihat berfikir, “Oh ya, karena aku tak sudi namamu mirip dengan lelaki utusan neraka ini. Kau tidak keberatan kan kalau aku mengganti namamu?” tanyanya pada kucing itu, ia tersenyum manis. “Miaw.” Itulah yang kucing itu berikan sebagai jawaban, mau bagaimana lagi, mau dia setuju atau tidak, jawabannya sudah pasti hanya kata miaw, tak ada yang lain.

“Aku beri nama, Yuna? Itu nama yang cantik ya, seperti sahabatku.” Ah ya nama itu kini mengingatkannya pada sahabatnya yang kini tinggal di Jepang, Im Yoona. “Ah tidak, Suri lebih bagus.”

Confirmed, namamu sekarang Suri. Aku akan kembali kerja, ingat jangan dekat-dekat lelaki itu,” ia memberi peringatan sekali lagi dengan jari telunjuk yang mengacung.

Luhan seolah menjadi orang ketiga, ia menatap gadis itu risih. “Waktu istirahatmu habis nona. Kau lihat rak sebelah sana?” jari telunjuk lelaki itu menunjuk ke atas sebelah kanan. “Disana agak berantakan penyusunannya, jadi susun kembali dengan baik agar pekerjaan besok tidak terlalu berat.” Gaya Luhan sudah seperti bos, memberi pengarahan ini itu, dan Sooyoung muak mendengarnya.

Rak disini memang besar-besar dan tinggi, sudah seperti perpustakaan kota saja.

Choi Sooyoung mulai memindahkan tangga itu menuju rak yang dimaksud, dan Suri membuntutinya dari belakang. Ia perlahan menaiki anak tangga ke-empat yang terbuat dari kayu itu. Cukup ahli, ia berdiri di anak tangga itu karena memang yang ini tidak terlalu tinggi. Tangannya dengan lihai menyusun buku-buku itu.

Sooyoung melihat kembali kebawah. Benar kan. Suri meleos pergi meninggalkan Sooyoung, berjalan menuju dimana Luhan berada. “Ya ya ya! Suri! Jangan coba-coba!” Ia berteriak-teriak kebawah. Badannya ia miringkan untuk menjaga Suri tetap berada dalam jangkauan matanya. “Suri-yaaa!”

Ups. Badannya terlalu miring dan kini kaki kirinya tak lagi berpijak pada anak tangga itu.

Bruk.

Yang pertama kali mencium lantai berkarpet merah itu adalah bokongnya.

“Huaaaaaa.” Terdengar suara tangisan khas anak lima tahun menggema di seluruh ruangan. Ia menggunakan lengannya untuk mengusap bokongnya yang malang. “Suri-yaaaa.” Masih sempat ia memanggil Suri walau tengah menangis. “Yuri-yaaa.” Dan kali ini ia memanggil sahabatnya, Yuri. “Eommaaaaaaaa.” Lebih buruk, ia memanggil ibunya yang sebenarnya berada di Gwangju-do.

Terakhir kali ia terjatuh dan menangis seperti ini terjadi ketika ia SMP.  Astaga, SMP sudah cukup dewasa untuk menangis seperti itu, dan kini ia sudah di jenjang kuliah, tapi kebiasaannya ini tak pernah hilang.

“Pfftt.”

Cukup. Luhan tidak mampu menahan lagi tawanya yang siap meledak kapan saja.

“BAHAHAHAHAHAHAHAHAHAH.” Lelaki itu bahkan sampai terguling layaknya kerbau. “Astaga, Choi.” Bahkan terlihat air mata lelaki itu keluar. “Hahahahah.”

Tangisan Sooyoung kian parah setelah lelaki itu menertawainya, bahkan kini ia sampai tersedu-sedu walau tak mengaung lagi bagaikan singa. Sooyoung menatapnya benci sekaligus menyedihkan.

Luhan berhenti tertawa, sementara Suri diam menatap Sooyoung polos seraya mengibaskan ekornya ke kanan kiri.

Sooyoung masih diam tak berkata-kata, air matanya belum kering. Dan ini membuat Luhan menatapnya iba. “Maaf.”

Sungguh, ini pertama kali Luhan berkata maaf padanya.

“Ya! Sudahlah jangan menangis lagi! Jangan seperti anak kecil begitu.”

“Bisa dilanjutkan kerjanya?” lanjut Luhan. Sooyoung mendongakkan kepalanya, “Kau masih tega menyuruhku bekerja setelah aku kecelakaan begini?”

–Luhan POV–

Kecelakaan katanya? Berlebihan sekali. “Oh ya ampun, jangan berlebihan Choi.” Gadis itu masih terdiam, benar-benar bocah. “Ya baiklah, karena aku baik. Kau diam saja disitu dan tunggu aku sampai aku menyelesaikan pekerjaanmu!”

Aku mulai melanjutkan pekerjaanya yang sempat tertunda akibat insiden itu. Ah aku menyesal, andai saja tadi aku memotret wajah Sooyoung yang sedang meraung tidak jelas tadi, atau bahkan merekamnya dalam bentuk video. Ini bisa jadi kartu As untukku.

Asal kau tahu, wajahnya derp dan konyol. Itulah yang membuatku tertawa kesetanan walau kini aku menyesalinya. Kau bayangkan, wanita berusian 23 tahun meraung bagai bocah 5 tahun. Hal pertama yang akan kau lakukan adalah tertawa.

Ya, karena aku tak punya rasa simpati untuk gadis aneh ini.

Sempat terbesit dalam pikiranku untuk membuatnya menangis meraung lagi, sehingga aku bisa mengambil gambarnya. Tapi ah itu tidak mungkin. Itu tindakan kriminal.

“Ya! Kerja dengan benar, kau belum menyapu sebelah sana!” kudengar teriakan maha menyebalkan darinya. Astaga aku menyesal membiarkannya diam disitu, ia hanya akan menjadikanku babu.

Aku menurut tanpa berkata-kata. Aku tidak ingin menghabiskan tenagaku hanya untuk marah.

“Hey kaca sebelah sini belum terlalu bersih! Bersihkan bagian sini!” Ku lihat ia menujuk kaca rak yang tadi sempat ku bersihkan lalu kutinggalkan untuk tertawa.

“YA! Dasar tidak tahu terimakasih! Aku membiarkanmu diam saja itu sudah bagus. Dan itu bukan berarti kau bisa menyuruhku ini itu! Kenapa tidak kau kerjakan sendiri saja hah?!” teriakku kesal. Ku lihat Sooyoung menciut kemudian menatapku takut.

Aneh. Bagaimana mungkin wanita ini terlihat takut? Ia bahkan seringkali meneriakiku seperti tadi dengan cara yang lebih ganas. Mungkin setannya sedang keluar.

“Aku membencimu,” desisnya pelan.

“Kau pikir aku tidak membencimu?” balasku.

***

Author POV

Tugas untuk hari ini akhirnya selesai. Luhan mengunci pintu perpustakaan itu kemudian pergi menemui Shim ahjumma. Setelah itu kembali ke perpustakaan dimana Sooyoung masih disana.

“Yuri-yaaa.”

“Jangan merajuk begitu. Kenapa sih?”

“Tadi aku jatuh dari tangga saat di perpustakaan.”

“Lalu? Kau tidak apa-apa kan sekarang?”

“Luhan sialan menertawakanku gara-gara aku menangis.”

“Astaga. Kau bisa berjalan?

“Bisa sih, tapi–”

“Perlu aku jemput?” Sooyoung memang punya kebiasaan melaporkan kegiatannya pada Yuri, dan kini ia melakukannya seraya Luhan pergi menemui Shim ahjumma. Sebenarnya ia ingin Yuri menjemputnya, tapi tadi gadis itu bilang ia punya banyak sekali tugas. Apa Sooyoung setega itu? Tidak, lagipula ia hanya jatuh biasa, ia tidak cidera dan sebagainya.

“Tidak perlu. Aku naik bus saja ya.”

Tepat setelah Sooyoung menutup teleponnya, Luhan muncul dengan wajah datarnya. Kemungkinan ia mendengar percakapan Sooyoung dan Yuri di telepon. Maksudnya mendengar kalimat yang diucapkan Sooyoung saat di telepon.

“Membicarakanku?”

“Tidak.”

***

Benar-benar hari yang panjang yang dilalui baik Sooyoung maupun Luhan. Pasalnya bahkan mereka sama-sama berdiri di halte bus yang sama. Menunggu bus dengan jurusan sama. Itu tandanya rumah mereka satu jurusan.

Bus berhenti di depan keduanya.

Dengan gerakan cepat yang sama keduanya berniat memasuki bus namun terhenti karena dirasanya pintu itu tak kan cukup memuat dua orang sekaligus. Oh tidak. Jangan sampai naik bis saja sampai harus bertengkar.

“Aku dulu!”

“Kau pernah mendengar istilah ladies first?”

“Memangnya kau perempuan?” tanyanya santai. Terdengar nada meremehkan diantara kalimat yang ia lontarkan.

“Oh aku mengerti. Kau kan perempuan. Baiklah Luhan, kau bisa masuk duluan.”

Tidak. Luhan paling benci disebut cantik. Dan barusan Sooyoung mengatakan bahwa ia adalah perempuan. Ini penghinaan.

Sepertinya sang konduktor bus mulai tidak sabar karena selanjutnya terdengar, “Maaf nona, tuan. Sebaiknya cepat masuk.”

Sooyoung masuk terlebih dahulu lalu diikuti Luhan. Keduanya duduk di bangku yang berseberangan.

***

Apalagi ini? Bahkan kini dua orang yang bermusuhan itu turun di pemberhentian yang sama.

Sooyoung POV

Ku langkahkan kakiku cepat-cepat demi meninggalkan lelaki utusan neraka itu. Sungguh aku ingin cepat-cepat terjun ke kasur empukku. Suri sengaja ku peluk karena cuaca mulai mendingin. Lebih dingin dari cuaca ketika pagi tadi.

Komplek ku mulai terlihat. Aku menuntun langkahku memasuki komplek dan melanjutkan perjalananku karena rumahku masih beberapa blok dari sini.

Aku menengokkan kepala ke belakang. Astaga, namja itu berjalan ke arah yang sama denganku. Oh tidak apa itu artinya–

“Heh! Kau mengikutiku ya?” tanyaku sengit

Luhan menghentikan langkahnya kemudian menatapku dengan pandangan tidak suka. “Pfft apa? Mengikutimu? Dengar, rumahku ada di komplek ini. Puas?”

Ya Tuhan. Rumahnya? Disini? Di komplek ini? Dia tetanggaku? Kemana saja aku? “Ck terserah yang jelas rumahku juga disini!”

“Ya sudah,” ucapnya acuh lalu mulai berjalan seperti biasa.

Di pertigaan, aku membelok ke arah kanan sedangkan Luhan ke kiri. Dan taraa, rumah sederhana pemberian ayahku sudah tampak di depan. Ayahku memang membelikan rumah ini untukku selama di Seoul. Orang tua ku di Gwangju-do semua, begitu juga Soojin, kakakku.

***

Author POV

Luhan membuka pagar rumahnya lalu mulai melangkah masuk, membuka sepatunya kemudian memasuki rumah hangatnya. Tak habis pikir, sejak kapan Sooyoung tinggal di komplek perumahan yang sama denganku? Dosa apa aku? Tak cukup sampai situ, setelah harus melalui rintangan berat sejak bertemu gadis sakit jiwa itu sekarang aku harus terima fakta bahwa aku bertetangga dengannya? Lelucon macam apa ini? – setidaknya itulah pikiran yang menelusuk memasuki otaknya saat itu–

Tidak.

Ini tidak benar. Dan tidak lucu.

Aku lebih baik terjun ke jurang tanpa dasar.

–To Be Continued–

***

**) Bagaimana tanggapanmu mengenai chapter 5 yang hancur tak berbentuk ini? Iya author tau ff ini malah ngebosenin abis. Maaf. Aku jadi ngerasa gagal jadi author.

Disini full soohan moment lagi ya, walaupun momentnya berantem mulu. Berhubung ini ceritanya tentang love-hate relationship gini, jadi ya gitu deh (?)

Ini udah part 5 dan mereka belum akur. Kira-kira kapan akur? Atau malah ga akan pernah akur? Mhaha gak tau deh.

Untuk yang masih mau nunggu ff ancur ini, silahkan tunggu🙂
Dan buat yang ga mau nunggu lagi juga gapapa hehe🙂

Author pamit dulu, sekian bye😀

31 thoughts on “Stolen Cat [Chapter 5]

  1. [semi-hiatus] (@DorkyDesy) January 12, 2014 / 10:22 PM

    jebal kapan kalian akuur u,u
    setelah sekian lama nunggu akhirnnya muncul juga mwehehehe xD
    A-yo lanjut next chapnya

  2. Bubble Princess January 13, 2014 / 12:42 PM

    sooyoung ama luhan kpan akur nya? soohun setiap kli brtemu pasti berantem ckckck…

  3. slvky January 13, 2014 / 1:42 PM

    lelaki utusan neraka? ngakak, sumveh. panggilan kesayangan mungkin ya? haha
    aku doain cepet akur deh, biar cepet nikah juga, hihi
    next partnya pasti masih ditunggu dong, secepatnya yaa

    • winterchan January 13, 2014 / 9:51 PM

      cepet nikah? wkwk xD
      sip tunggu aja oke😉

  4. Kumiko January 13, 2014 / 2:02 PM

    Aaa berantem mulu..
    aku ngarep ada skinshipnya masa? #abaikan
    lanjut dong eonni.. penasaran banget ini !!
    FIGHTING!!

    • winterchan January 13, 2014 / 9:51 PM

      skinship? buat itu nanti deh ya😉
      sip tunggu aja oke😀

  5. ymshtemi January 13, 2014 / 3:43 PM

    berantem mulu mereka berdua apa gak capek coba.. ==

  6. hananhee January 13, 2014 / 7:22 PM

    Uwaaaa!!!
    Kece badai!!! >< *sori alay kumat*

  7. miss_sooyoungster10 January 13, 2014 / 9:30 PM

    END?!?!
    -_-

  8. elisayoonaddict January 14, 2014 / 5:28 AM

    Yeheiii… SooHan Comeback🙂

    Ni anak berantem mulu,kaga bisa romantis dikit napa, ntar lama2 jd suka loh.
    part ini panjang ..aku suka..aku suka🙂

    • winterchan January 14, 2014 / 10:06 AM

      soohan comeback stage ceritanya (?)
      nanti diusahain ada yang romantis deh😉
      hehe alhamdulillah kalau suka🙂

  9. shin hyun young January 14, 2014 / 7:55 AM

    Knpa sih kalian akur, ga bosen apa berantem mulu. Nanti sekali2 bikin moment yg normal yah jgn absrud mulu..

  10. yeni swisty January 14, 2014 / 10:48 AM

    itu mereka kpn mw akur nya:/
    oh iya bisa gk buat part 6 atau part berapa gitu, buat moment soohan yg sweet
    next part di tunggu🙂 ‘_’)9

    • winterchan January 16, 2014 / 5:47 AM

      bisa bisa ‘-‘)b
      tunggu aja oke😉

  11. Soohaelin January 14, 2014 / 1:08 PM

    Ditunggu part selanjutnyah yah thor😀

  12. iinAtma January 15, 2014 / 5:26 PM

    Soohan kapan akurnya ini ??? Berantem terus..
    Bikin scene romantis dong thor di perpusnyaa :)) di tunggu part selanjutnya yaa

    • winterchan January 16, 2014 / 5:48 AM

      wkwk tau deh (?)
      oke diusahakan ya, tunggu aja oke😀

  13. Anna Choi January 16, 2014 / 2:58 PM

    bacanya udah lama tapi baru sempet komen… mianhae /bow/
    kenapa mereka berantemnya semakin panas??
    beneran makin gak bisa bayangin ntar akurnya gimana ._.
    tapi ff-nya bikin makin cinta sama soohan wkwk :3
    semangat sha~~

    • winterchan January 17, 2014 / 6:51 PM

      apasih yang ga mungkin di dunia ini /ga nyambung/
      mehehe sip sip😉

  14. wufanneey January 17, 2014 / 2:59 PM

    kok aku ngerasa ceritanya gini terus sih dari kemarin-kemarin (maksudku eps kemarin)
    mereka (soohan) kerjaaannya berantem terus, nggak ada kemajuan😦
    ih gemes kaaaan!
    yuri juga aduh bukannya bantu comblangin [?]

    • winterchan January 17, 2014 / 6:53 PM

      ini semua dikarenakan jung kyungho hadir dalam kehidupan soohan /gak
      ntar yuri kerja sampingan jadi mak comblang deh :3

  15. mrn June 6, 2014 / 12:44 PM

    Mereka memang manis haha ga bosen baca nya meskipun dengan menunjukkannya dengan berantem

  16. Rifqoh Wafiyyah June 25, 2014 / 11:57 PM

    mreka tetanggaan? yeyy…

    • winterchan June 26, 2014 / 10:58 AM

      Iya hehe
      thx for reading yo🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s