Annabelle – PART II

annabelle

Title: Annabelle

Author: wufanneey

Genre: Angst, Dark

Rating: R

Lenght: Series

Pairing: Changmin/Sooyoung

Leanguae: Indonesian

Summary: Choi Sooyoung mencintai Shim Changmin, dan rela melakukan apapun demi membuat Changmin kembali ke sisinya. Sekalipun itu berarti membunuh dirinya sendiri.

Desclaimer: Plot is MINE!

Warning: Typo(s), ChangSoo haters don’t read!


***

Begin of Part Two

Aku terbagun karena suara berisik dari lantai bawah. Sepertinya Yeonhee-ssi sedang membersihkan rumah, aku akan membantunya. Sebelum turun, aku mengecek penampilanku di cermin. Sedikit cuci muka dan sikat gigi dan membuatku tambah buruk, kan?

Kubuka koperku dan melihat-lihat apa saja yang kupunya. Beberapa pakaian yang biasa. Tak ada yang pantas kupakai hari ini. Maksudku, Yeonhee-ssi menjanjikan jasa tour guide-nya di sekitaran Seoul untuk hari ini kan, ingat?

Aku tak melihat Yeonhee-ssi dimanapun, aku melongokkan kepala ke dapur, aku juga tidak melihatnya. Tapi begitu melewati kamar Changmin, aku mendengar suara shower dan langsung tahu bahwa itu Yeonhee-ssi. Sementara Changmin tengah duduk tenang di meja makan.

Ternyata Yeonhee-ssi wanita yang disiplin. Dia sudah menyiapkan sarapan. Cepat sekali, pikirku. Jadi yang kulakukan setelahnya adalah, aku ikut duduk di samping Changmin, mengambil dua lembar roti, mengolesinya selai, lalu menggigitnya sebelum kutumpuk jadi satu.

“Changmin-a,” panggilku manja. Dia meresponku dengan lirikan singkat. Aku bergeser mendekati tempatnya duduk. “Aku minta uang untuk belanja.”

“Tidak ada.”

“Kau berbohong.”

“Bagiku, tak ada masalah mau itu bohong atau jujur.” Changmin memandangku malas. “Untuk apa aku memberimu uang?”

“Yeonhee-ssi akan mengajakku jalan-jalan. Aku tidak punya pakaian yang pantas. Mungkin kalau kau memberiku uang, aku bisa membeli beberapa potong.”

Changmin mengeluarkan sesuatu dari dompetnya, credit card. Great. Aku tahu Changmin masih bisa berbaik hati. Aku mengulum senyum penuh makna.

“Kembalikan sebelum sore.”

“Aku akan datang ke kantormu.” Bisikku mesra. Ya, aku akan mengembalikan ini ke kantornya. Tanpa istri bodohnya tahu, tentu saja.

Setelah itu, Changmin tidak bilang apa-apa lagi. Kemudian Yeonhee-ssi keluar dari kamarnya dengan keadaan siap. Dia memakai busana yang mirip orang kantoran, mungkin dulunya dia wanita karir. Sudahlah, aku tidak mau peduli. Lantas dia duduk di depanku dan mulai berbasa-basi seperti kemarin.

“Siap untuk hari ini?” tanyanya antusias.

“Mungkin iya. Mungkin tidak.” Enggan aku menjawab.

Yeonhee-ssi menampakkan senyum konyolnya. “Kau bergurau. Kau sangat siap.”

“Jika itu menurutmu,” kataku cepat. “Jadi… kau akan membawaku ke?”

“Kau akan lihat. Sebuah pameran bunga mawar dan museum dan mall…,” dia mulai menyebutkan satu-satu, aku malas menghitungnya. “Oh! Ya Tuhan! Ini jalan-jalan bersama sahabat yang kurindukan semasa sekolah! Fantastis! Aku tak pernah merasa sesemangat ini sebelumnya.”

Tiba-tiba aku teringat. Ini pun pertama kalinya bagiku—setelah sekian tahun berlalu—aku pergi bersama dengan wanita sebayaku, menghabiskan waktu berdua. “Aku pun.”

Sementara aku yang terhanyut dalam topik obrolan Yeonhee-ssi, Changmin memperhatikan kami dalam diam. Dan, pandangan tak suka.

***

Yeonhee-ssi menjadi juru bicara selama perjalanan, dia juga yang mengemudi saat dalam mobil tadi. Dari raut mukanya, dia tampak gembira. Aku sih biasa-biasa saja. Kami berbelanja beberapa pakaian di Dongdaemun Market, melihat perayaan bunga mawar, lalu berjalan-jalan di sekitar Namsan Seoul Park. Cukup menarik dan menghabiskan waktu.

Sekarang kami tengah duduk-duduk di sebuah bangku dengan masing-masing menjilati es krim. Dari dulu, aku menyukai es krim vanila. Biasanya Changmin yang suka membelikanku di setiap kencan kami.

“Apa kau punya pacar?”

Aku menoleh tepat tatkala Yeonhee-ssi bertanya begitu. Lalu menggeleng. “Tidak.”

“Ah, sayang sekali…,” dia menatapku raut kecewa dibuat-buat. “Kupikir kita bisa merencanakan double date. Aku ingin melakukan hal itu dari dulu.”

Aku tersenyum kepadanya, “Aku punya seorang suami.” Ups, seharusnya aku meralat menjadi ‘akan punya’.

“Oh, benarkah?” dia kelihatan terkejut sekaligus senang. “Itu berarti double date impianku akan terwujud!”

Aku membalasnya dengan segurat senyum tipis sebelum Yeonhee-ssi melanjutkan lagi perbincangan kami ke topik lain. Sungguh, dia benar-benar sosok yang menyenangkan.

***

Aku membawa lima kantung belanjaan ukuran besar dengan tergopoh-gopoh. Ini sangat berat. Aku memang sengaja memakai credit card Changmin sepuasnya tadi. Aku membeli banyak baju, sepatu, tas, dan pakaian dalam yang bagus. Tentu saja tanpa Yeonhee-ssi tahu aku memakai uang suaminya. Ugh, suami… mengingat itu membuatku muak saja.

Secepatnya menyimpan belanjaanku di kamar, dan sebelum Yeonhee-ssi menyadari aku segera keluar gerbang lagi. Diam-diam aku pergi ke kantor Changmin, untuk memenuhi janji yang kubuat tadi pagi—mengembalikan kartu kredit padanya sebelum sore.

Di dalam bus, aku mengamati jam yang terpampang di menara ketika aku melewati taman. Bagus, ini baru jam tiga. Belum terlalu sore, benar kan?

Dari halte bus tempat aku turun, udara dingin seketika menyerbu, menusuk-nusuk tubuh menembus mantel yang kupakai. Aku tidak tahu musim dingin lebih ekstrem dari perkiraanku, padahal salju belum turun. Atau apakah aku sudah lupa rasanya musim dingin karena terlalu lama terpenjara di rumah Yunho? Entahlah, itu konyol.

Salah besar menggunakan sepatu hak tinggi sekarang. Parahnya aku lupa harus berjalan beberapa belokan lagi untuk sampai di depan gedung perusahaan tempat Changmin bekerja. Ini memakan waktu dan tenaga, sangat menyebalkan. Sepanjang jalan aku menggerutu.

“Permisi, bisakah aku menemui Shim Changmin?” adalah pertanyaan tersopan yang bisa kulontarkan pada recepsionist itu.

Bagian yang paling menyebalkan adalah bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah balik bertanya padaku, “Apa anda sudah membuat janji dengan beliau?”

Oh, God. Memangnya jabatan Changmin sepenting apa sih di perusahaan ini? Menemui kekasihnya saja harus membuat janji? Tidakkah ada sedikit aturan privasi di sini?

“Tidak.”

“Anda harus membuat janji dulu dengannya, baru saya bisa menghubungi—”

“Cukup beritahu dia Choi Sooyoung ingin menemuinya, maka dia pasti akan memperbolehkanku masuk.” Kataku ketus—memotong ucapannya. Maksudku, peduli amat dengan sopan santun di perusahaan bodoh ini.

Recepsionist wanita itu nampaknya agak kaget dengan nada suaraku yang meninggi. Aku menarik senyum tipis melihatnya kemudian menelepon ke ruangan Changmin—itu yang kudengar karena mulutnya menyebut-nyebut Shim-sajangnim.

“Beliau menyuruh anda langsung masuk ke ruangannya di lantai 2.” Dia mempersilahkanku.

Aku berbalik badan dengan angkuh. Recepsionist itu seperti tidak nyaman dengan sikapku tapi apa peduliku? Bukankah sudah kukatakan Changmin memang akan mengijinkanku menemuinya?

***

“Changmin-a,” aku menyapanya riang seperti biasa. Sedetik setelah aku masuk Changmin seperti menyembunyikan sesuatu di bawah mejanya. Aku menyernyitkan alis, mendekatinya, untuk melihat apa yang sedang dia pegang. “Kau menyembunyikan sesuatu?”

“Tidak penting untuk kau tahu.” Jawab Changmin sekenanya.

Tapi aku penasaran. Itu selembar kertas. Dengan sekali gerak aku mengambil kertas itu dari tangannya, dan tertegun.

“Kau… masih menyimpan foto pra-wedding kita?”

Changmin merebut selembar foto itu dari tanganku, lalu dia robek, dan berakhir mengenaskan di tempat sampah. “Aku baru saja mau membuangnya, maaf membuatmu kecewa.”

Aku tersenyum.

Tidak. Aku sama sekali tidak kecewa. Fakta bahwa kau menyimpan foto itu sampai sekarang pun sudah jelas, Changmin-a. Kau masih mencintaiku. Kenapa kau tidak jujur saja padaku sejak awal, hm?

“Ah, benar. Kau kemari mau mengembalikan kartu kreditku, kan?” Changmin mengalihkan pandangan pada berkas-berkas di mejanya, membolak-baliknya seolah mengabaikan keberadaanku di sini. Tapi aku tahu tak satupun dari bacaan-bacaan itu yang benar-benar ada di kepalanya sekarang.

Karena dia tidak pernah bisa menolak pesonaku, sekuat apapun dia mencoba.

Aku duduk di atas mejanya semena-mena. Menopang sebelah kaki, menyondongkan kepalaku untuk meraih wajah tampannya dengan mataku. Changmin menghela napas berat menyadari kelakukanku, tapi karena hal itu dia kemudian mengangkat kepalanya dan gotcha! Iris kami berbenturan.

Satu tanganku menarik dasinya. Tangan lainnya membelai lembut wajah Changmin. Setiap lekuk wajah yang kugilai ini, akan kubuat selamanya memandangku seperti ini. Menyusuri kening, turun ke pipi, rahang, dan terakhir bibir. Aku tidak sabar menunggu bibir itu mendarat di bibirku. Aku memancing dia menciumku dengan menjilat bibirku sendiri.

Tatapannya berhasil kukunci. Tak satu pun dari kami berniat melepaskan diri, mengalihkan pandangan, atau bergerak menjauh. Perlahan aku mencondongkan wajah lebih dekat, walau kelopak mata kami berdua masih terbuka lebar. Namun dalam sepersekian detik Changmin sudah menangkup wajahku dan menabrakkan bibir kami. Kasar.

Dengan posisiku di atas meja, dan dia di kursi. Membuatnya harus menengadah sedangkan aku menunduk. Bibirnya meraup bibirku penuh, menghisapnya dalam bibirnya yang tebal. Changmin masih sama seperti dulu, selalu tak sabaran bila menyangkut hal seperti ini. Sesekali dia menggigit bibirku, rasa perih yang membuatku ingin membuka mata, tapi kuurungkan. Alih-alih sakit, aku malah ingin lebih lama merasakan.

Sayangnya Changmin melepaskan ciuman kendati aku ingin lebih. Atau tidak. Ternyata dia melepas ciumannya untuk menarikku duduk di pangkuannya. Dia memeluk pingganggku dan aku memeluk lehernya. Kami berciuman lagi. Lebih dalam. Lebih lama.

Puas dengan hal itu, aku menarik wajahku untuk mengambil napas. Tapi kemudian Changmin melepas syal yang membelit leherku, untuk dia hisap. Ini terlalu agresif—namun aku tak kuasa menolak.

“Uh… Changmin…”

Desahan itu keluar begitu saja, aku khawatir akan ada yang mendengarnya jadi kurendam dengan menggigiti cuping telinga Changmin.

“Shh… ahh…”

Sepertinya itu tindakan salah karena malah Changmin yang mendesah. Walau aku suka suara desahannya, tapi aku tahu Changmin tidak suka kalau aku membuatnya mendesah. Jadi aku berhenti menggigit kupingnya.

“Mau melanjutkannya?” aku menanyainya. Percayalah rambut kami sama-sama beratakan karena saling memeluk dan menarik.

Changmin tidak mengatakan apa-apa. Memandangku dengan tatapan yang sama seperti tujuh bulan lalu, tatapan permohonan, saat dia meminta sesuatu dariku. Dan, kami tak mampu menghindari dosa besar itu. Aku membalasnya dengan tatapan penuh cinta, dan kuharap Changmin paham apa maksudnya.

Changmin beranjak dari kursi untuk mengunci pintu ruangannya. Sesaat sebelum dia menggendongku menuju sofa, dia berbisik padaku, “Jangan menyesal.”

Seraya memeluk lehernya kubalas ucapannya, “Aku tidak pernah menyesal selama itu denganmu.”

Untuk yang kedua kalinya, kami menyatu sore itu. Sudah kubilang bukan, pria ini hanya milikku.

***

Keesokan harinya Yeonhee-ssi mengajakku jalan-jalan ke suatu tempat lagi. Dia bertanya padaku kenapa wajahku begitu cerah hari itu. Kujawab dengan senyuman singkat. Wanita bodoh. Memangnya aku harus laporan padamu kalau kemarin aku tidur dengan suamimu?

Seperti yang dia lakukan sebelumnya, banyak bicara dan tersenyum konyol padaku. Dia menceritakan apapun yang dia lihat. Kami berjalan-jalan di sekitar taman kota yang cukup menyejukkan, untunglah suhunya tidak sedingin kemarin.

Aku menghentikan langkah ketika kami berdua sudah berdiri di depan mobil. Rencana bagus hinggap di kepalaku. Sangat bagus.

Yeonhee-ssi memandang sekeliling yang mulai gelap. Matahari sudah tergelincir di ufuk barat beberapa menit yang lalu. “Sebaiknya kita cepat pulang sebelum terlalu malam.”

“Biarkan aku menyetir hari ini,” aku tersenyum kepadanya, kuakui aku memang tidak mahir mengemudikan mobil, tetapi pelajaran singkat dari Yeonhee-ssi kemarin cukup membantu. Aku ingin mencobanya.

Seperti dugaanku, Yeonhee-ssi akan menyetujuinya. Serta merta dia menyerahkan kunci mobil itu padaku.

Kami masuk dan aku mulai melajukannya pelan-pelan.

“Ah, salju pertama turun…,” telingaku mendengar gumaman itu, yang keluar dari mulut Yeonhee-ssi yang duduk di jok belakang, nyaris terdengar seperti bisikan.

Benar. Salju pertama di bulan Desember ini, yang tololnya malah kulihat bersama Yeonhee-ssi. Seharusnya Changmin yang berada di sisiku sekarang. Mungkin kami bisa bernostalgia mengingat masa-masa indah dulu. Changmin yang manis yang menggenggam tanganku, berhangat di bawah pohon cemara, lalu memelukku memecah kebekuan es musim dingin.

“Aku berharap Changmin sedang melihatnya juga,” kata Yeonhee-ssi sebelum menyambung, “Kami belum pernah melihat salju pertama bersama-sama sebelumnya.”

“Aku dan calon suamiku sering melihatnya.” Ungkapku.

Dia agaknya terkejut. Terlihat dari gerakan kepala tiba-tiba itu, yang langsung melihatku dari refleks cermin di depanku. Yeonhee-ssi membetulkan posisi duduknya. “Kau bilang tidak punya pacar. Aigeu, kau membohongiku.”

Aku tertawa garing. “Bukan pacar, tapi calon suami.” Namanya Shim Changmin, jikalau kau mau tahu, bodoh.

“Pasti menyenangkan melihatnya bersama orang yang kau cintai.” Ada jeda beberapa menit setelah kalimat itu. Sementara aku mulai memikirkan sesuatu. Rencana bagus itu.

Aku sedikit mengurangi kecepatan.

“Yeonhee-ssi,” dia merespon kecil waktu namanya kupanggil. “Kau orang yang baik.” Aku meliriknya dengan sorot mata ambigu.

Dia mengerjapkan mata, tanda terkejut—lagi. Apa yang dia bisa cuma ekspresi murahan seperti itu? Aku hanya mencoba jujur dengan bilang dia orang baik. Oke, dia memang wanita baik-baik, kan?

“Tapi tidak cukup baik untuk Changmin.” Tukasku akhirnya.

“Apa maksudmu?”

“Kau mengerti betul maksudku. Kau wanita baik, kau terlalu baik, tapi kau tidak cocok dengan Changmin. Saking baiknya, kau wanita yang mudah terbodohi,” kuberi senyum sinis di antara tatapan datarku lewat refleksi cermin mobil.

“Sooyoung-ssi, aku pikir—”

“Aku belum selesai bicara,” kataku ketus. “Changmin yang kau lihat, tidak seperti yang kulihat. Dia yang kau kenal, tidak seperti yang kukenal. Dia yang kau tahu, tidak sesungguhnya seperti itu. Perjodohan memang awal yang buruk buat kalian.”

“Apa maksudmu berbicara begitu?” dia mulai terpancing alurnya. Menarik.

“Jika aku tanya apa dia pernah tidur denganmu, apa kau bisa menjawabnya?”

Urat-urat di sekitar lehernya tertarik. Tapi tatapannya tidak cukup tajam kalau melawan tatapan mataku. Kau harus belajar banyak membuat ekspresi, Yeonhee-ssi. Terutama mimik wajah marah. Heuh, dasar wanita polos.

“Kenapa kalian masih belum punya anak?” seringai jahat di wajah cantikku, kutarik dengan sengaja. Memancing emosi seorang wanita baik-baik seperti Yeonhee-ssi sangat menyenangkan. Kalau ada waktu lagi bakal sering-sering kulakukan.

“Kami terlalu sibuk pekerjaan masing-masing.” Dia berkelit, dan itu alasan kuno.

“Kulihat kau menganggur di rumah.”

“Aku baru saja keluar kerja.”

Jeda tercipta, karena aku tak membalas lagi perkataannya.

Ini butuh nada suara angkuh, namun pertama-tama nada cerah seperti biasa. Oke, aku akan memulainya. “Oh iya, aku belum memberitahumu nama calon suamiku, ya?”

“Sooyoung-ssi, kau bahkan belum menjawab maksud ucapanmu yang tadi.” Dia nampak kesal.

“Namanya Shim Changmin,” kataku cepat.

“Kau bilang sesuatu?”

“Calon suamiku, namanya Shim Changmin, yang akan menjadi mantan suamimu.”

Dia melotot. Terlihat mulai tak nyaman. “Bukankah kau sepupunya?”

“Aku bohong padamu.” Aku tertawa. Detik berikutnya aku tegugu memegang setir mobil, erat. “Sebenarnya aku mantan pacarnya tujuh bulan yang lalu. Kami nyaris menikah, bahkan sudah membuat foto pra-wedding, sialnya terjadi salah paham sampai membuat pernikahan batal.”

“Sooyoung-ssi!”

“Dan, kau adalah pengganggu. Enyahlah.”

Mendadak, sengaja kuinjak pedal gas kuat-kuat. Yeonhee-ssi memekik dan berusaha melepaskan sabuk pengamannya.

“Apa kau sudah gila?! Hentikan mobilnya!!!”

Aku memutar bola mata. “Kalau kau mau kita bisa mati bersama. Itu lebih baik daripada melihat Changmin hidup denganmu.”

Yeonhee-ssi membelalakkan matanya. Dia terus-terusan berteriak memintaku berhenti. Peduli dengan itu, sengaja kubenturkan moncong mobil dengan pembatas jalan. Suaranya keras sekali. Setelahnya aku murni hilang kendali. Rem mobil yang kuinjak tak berfungsi banyak. Bunyi decitan ban langsung terdengar memecah keheningan jalan itu. Yeonhee-ssi menatapku nanar. Mobilnya menembus pembatas jalan, tergelincir ke sungai. Dengan posisi yang terbalik.

Tercium bau mesin yang terbakar. Aku menahan napas. Sesak. Aku bohong soal mati bersama Yeonhee-ssi, apalagi dalam keadaan konyol begini. Jadi susah payah kubuka pintu mobil. Sebelum berenang ke permukaan kulihat wajah miris wanita marga Lee itu di jok penumpang, menepuk-nepuk kaca dengan gusar. Mulai memucat. Dia mengerang, memejamkan matanya erat—sekarat.

Kuberi dia senyum picik.

Nikmati detik-detik terakhirmu, sahabatku.

Fin of Part Two

***

10 thoughts on “Annabelle – PART II

  1. rizky amelia December 28, 2013 / 1:04 PM

    yahhh kok Soo eonni jahar sihh pake bunuh bunuh orang segala kalau arwah nya yeonhee datangi Soo eonni gimanaa dongg
    ck mereka mlh ngelakuin ‘itu’ lagiii
    Yunho manaa kok gk nyari Soo eonni

    next partnya ditunggu ya eonni ^^

  2. restu deotari December 28, 2013 / 2:10 PM

    wawwww gua suka banget sama karakternya soo sama changmin disini!!! tapi kasihan yunho nya:(. cepet lanjut ya thor!!!

  3. ariyantiretno December 28, 2013 / 2:12 PM

    ohh god sooyoung jadi jahat karena cintanya sama changmin

    yaa semoga changmin bisa nerima sooyoung
    lanjut thor !!

  4. rinaapriliani7 December 28, 2013 / 3:17 PM

    aigoo soo eonni kaya dibutain sma cinta sampe bunuh orang segala..
    aku masih penasaran sma obat yg dikonsumsi soo eo itu obat apa???

  5. Anna Choi December 28, 2013 / 4:26 PM

    Soo unni jahat.. tapi aku dukung dia :3 wkwk
    itu sebenernya changmin masih sayang sama soo kah?
    nextnya ditunggu😀 semangat Fani!!!

  6. fransiscafortunita24 December 29, 2013 / 1:48 AM

    Sumpeee (۳ ˚Д˚)۳ Sooyoung eonnie kejam bgtt disini … (˘̩̩̩⌣˘̩̩̩) smpe bunuh” yeonhee .. Tp ak msh dukung idola ak kok>:D huehehehehehehe
    Jdi changmin msh ska sooyoung (˙▿˙?)
    Penasaran selanjutnya, ditunggu~
    Hwaiting !

  7. hikmahnur969 January 1, 2014 / 7:47 PM

    aku suka karakter Sooyoung yang ini. beda gitu. thanks udah beri karakter yang eda dalam fanfic ini. Keep Writing , and I like youre style . hwating !!!! : )

  8. rifqoh wafiyyah January 30, 2014 / 2:50 PM

    Andwe..!!,soo unnie jngn jhat..
    Mdh2’an stlah ini soo unnie ttep di trima sama klurga chang oppa sma chang oppa’a..:)

  9. kyura December 24, 2014 / 11:17 AM

    Kok soo jdi jajat gini sihhh

  10. epanda January 11, 2015 / 8:41 PM

    soo kenapa jahat???😥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s