[SERIES] Story In 40 Days (Part 1)

story in 40 days

Title                       : Story In 40 days

Author                  : Chuyleez

Main Cast            : Cho Kyuhyun, Choi Sooyoung, Kim Soohyun (Kyuhyun+Sooyoung)

Support Cast      : Lee Donghae, Im Yoona, Kris Wu

Genre                   : Fantasy, Humor (Maybe), Romance

Length                  : Series

Annyeong yeorobunn…. Author comeback. Ini ff author buat special untuk ultah author kemarin hehehe…. #Saengil Chukkae… (*Ngomong Sendiri*). Mau bikin selain Kyuyoung masih belum bisa, padahal pairingnya Soo banyak -___- #mianhae

Jika ada kesamaan cerita, harap mention di facebook Andria Chuyleez Minoz or twitter @chuyleezluvsuju. Happy reading all ^^

Jatuh cinta dengan seorang manusia,Itu sudah biasa

Tapi bagaimana jika aku harus jatuh cinta dengan bukan manusia?

 

Gadis itu mengikat rambut panjangnya yang dianggap mengganggu pekerjaannya. Namun matanya tetap terpusat pada layar komputer  14 inch di kantornya. Tangannya kembali beradu pada keyboard membuat serangkaian laporan yang harus dia selesaikan tepat waktu. Lincahnya jari – jari itu menari diatas tuts hingga berakhir saat menekan tombol enter. Gadis itu menghela nafas lega.

“Hah, akhirnya selesai.”

Dia merenggangkan ototnya yang terasa kaku.

“Sooyoung~ah, kau sudah selesai mengerjakannya?” ucap Sunny memunculkan kepalanya dari sekat yang memisahkan tempat duduk mereka.

“Ne, akhirnya aku bisa ke Jeju dengan tenang.” Ujar gadis bernama Sooyoung itu.

“Jangan lupa oleh – olehnya yah.”

“Yah, setidaknya kau mendoakanku supaya bisa pulang dengan selamat.”

“Tentu aku mendoakanmu. Apalagi kalau kau bisa dapat bonusnya?”

“Bonus?”

“Donghae Sajangnim.” Sunny berbisik sambil mengerlingkan matanya nakal.

“Mwo?”

“Tentu saja kau harus mendapatkannya. Kesempatan hanya berdua dengannya di Jeju selama 20 hari. Lagipula dia tampan dan terlihat tertarik padamu.”

“Tapi aku tidak tertarik dengannya.” Jawab Sooyoung enteng.

“YAA!!” Sunny berteriak kesal.

“Aisshh, sudahlah aku mau pulang. Aku belum membereskan barang – barangku.”

“Kalau begitu aku pulang juga, biar kulanjutkan besok saja pekerjaanku.”

“Cish, selalu menunda – nunda pekerjaan.”

“Biarin.” Sunny memeletkan lidahnya. “Aku bukan workerholic sepertimu.”

Sooyoung menahan kesabarannya. Teman kerjanya ini memang pintar jika disuruh berdebat. Lebih baik dia menghentikannya sebelum mereka berdebat sampai pagi.

Sooyoung langsung mengambil tas Louis vilton terbaru miliknya dan pergi meninggalkan ruangan kerjanya.

“YAA!! Tunggu aku!!” teriak Sunny.

Sooyoung terlihat acuh. Tak mempedulikan kaki mungil Sunny kesulitan mengejar kaki panjang Sooyoung.

 

 

***

 

 

Seorang namja terlihat sedang menunggu di depan toko bunga. Senyum tak henti – hentinya mengembang di bibirnya. Berulang kali dia melafalkan teks yang dia tulis semalam di secarik kertas.

“Kita sudah mengenal lama, hampir 2 tahun lebih. Kau tahu aku ingin menjadi seseorang yang menjagamu dan melindungimu.”

Namja itu tertawa sendiri kemudian menutup wajahnya. Mungkin dia merasa malu dengan perkataannya sendiri. Seperti remaja berusia belasan tahun yang baru pertama kali jatuh cinta. Nyatanya, usianya kini menginjak dua puluh empat tahun, masih pantaskah dia bersikap demikian?

“Ini bunganya Tuan.” Ujar seorang pelayan memberikan serangkaian bunga mawar putih yang dia pesan.

“Ne, gamsahamnida.”

Dia bangkit dari duduknya setelah menyesap cappuccino yang dipesannya tadi. Kemudian pergi meninggalkan tempat itu dengan motor sport hijau 600 cc miliknya.

Di lain tempat, seorang gadis menunggu di sebuah bangku taman sambil membaca novel 300 halaman miliknya. Wajahnya yang cantik dibalut dengan dress berwarna putih membuatnya terlihat feminim. Dia menutup bukunya ketika merasakan tetesan air menyentuh bukunya. Dia memandang  langit yang sedikit mendung.

“Kenapa belum sampai juga?” gerutu gadis itu kesal.

Gadis itu berlari berteduh dibawah pohon sebelum hujan membuat tubuhnya basah. Dia memeluk tubuhnya yang kedinginan.

“Kenapa kau telat datang?” ujar gadis itu lirih. Raut wajahnya terlihat sedih.

Tanpa di duga – duga, hujan turun dengan derasnya. Namja itu menggerutu kesal. Memaki – maki hujan yang turun disaat yang tidak tepat.

“Aissh,kenapa mesti hujan?”

Dia hendak berteduh, namun dia membayangkan gadis yang ingin di temuinya masih berada disana dalam keadaan basah kuyup menunggunya. Dia tahu, gadis itu sangat setia. Jika sudah berjanji, dia akan menepatinya. Tidak ingin mengecewakan orang yang akan menemuinya. Akhirnya dia mengabaikan pandangannya yang memburam karena air membasahi helmnya dan tetap melajukan motornya.

“Yoong, maaf aku datang terlambat. Tapi tetap tunggu aku disana. Aku ingin mengatakan semuanya padamu.” Batin namja itu.

Gadis yang dipanggil Yoong atau lebih lengkapnya bernama Im Yoona itu masih bertahan di bawah pohon. Tubuhnya telah basah kuyup. Dia masih memeluk dirinya.  Dia memandangi langit yang sepertinya belum mau menghentikan hujan itu.

Namja itu memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Pandangan kaburnya membentuk bayang – bayang sebuah mobil yang juga melaju dari arah berlawanan hendak menabraknya. Dia membanting stir ke kiri hingga tubuhnya terpental ketika sebuah mobil melaju dari belakangnya.

BRAKK!!

Motor sport itu berputar hingga akhirnya menabrak pembatas jalan. Sedangkan namja itu kini tergeletak tak berdaya di atas aspal dengan helm retak yang mengalirkan darah bercampur air hujan.

 

 

***

 

Terdengar suara sirine ambulance memekakan telinga ketika hujan gerimis masih mengguyur. Beberapa orang berdatangan untuk melihat keadaan korban kecelakaan tragis itu.

Tak jauh dari tempat kejadian, namja itu bangkit. Dia memandangi sekelilingnya dengan bingung. Hujan masih mengguyur namun dia tidak merasakan sedikitpun tetesan. Dia melihat ke belakangnya, kerumunan orang – orang yang terlihat ramai.

“Mianhae, karena salahku kalian harus menjadi korban. Tapi aku tidak bisa menundanya lagi. Aku harus mengatakannya pada Yoona.”

Sepertinya namja itu belum sadar dengan apa yang terjadi sesungguhnya. Dia memandang motornya yang telah hancur.

“Aissh, tidak bisa digunakan lagi.”

Namja itu terus berlari. Berusaha secepat mungkin ke tempat yang dia tuju.

Dia tersenyum ketika melihat gadis itu masih disana. Tetapi mengapa dia mengangis? Perlahan dia mendekati gadis itu.

“Yoona~ah.”

Gadis itu tetap menangis sambil duduk memeluk lututnya.

“Im Yoona…” Panggilnya lagi untuk memperjelas.

Namun gadis itu masih tetap menangis seolah mengacuhkan panggilannya.

“Im Yoona!! Kau tak mendengarku?” panggilnya lagi memperkeras suaranya.

“Kyu, kenapa kau pergi?” tangis gadis itu pecah.

Namja itu mengerutkan kening. “Aku disini Yoong, dihadapanmu.”

Yoona tak mendengar. Kyuhyun berusaha menyentuh bahunya namun tembus. Dia membulatkan matanya.

“Andwae…” ucapnya terperangah.

Kyuhyun mencoba lagi menyentuh bahu Yoona namun lagi – lagi tembus.

“Andwae… Kenapa bisa begini?”

“Kau harus ikut denganku Kyuhyun~Sshi.” ujar seseorang dengan suara besar yang menggema di telinganya.

Kyuhyun membalikkan tubuhnya. Dilihatnya seseorang dengan jubah hitam menutupi wajahnya berada di belakangnya.

“Nugusseyo?”

“Aku yang akan membawamu ke alam lain.”

“Mwo?”

“Kau sudah mati Kyuhyun~Sshi. Kau tidak berhak berada di dunia lagi.”

“Anniya… Aku belum mati.” Kyuhyun mencoba mengelak.

Kyuhyun memundurkan langkahnya ketika orang berjubah itu mendekat.

“Aku belum mati… Aku belum mati!!”

“Kau tidak bisa menyela takdirmu, saat ini tubuhmu sudah berada di kamar mayat.”

“Andwae!! Hentikan omong kosongmu.” Bentak Kyuhyun marah.

Orang berjubah itu terus mendekat. Kyuhyun berlari untuk menghindar dari kejaran orang berjubah itu.

“Kau tidak akan bisa lari, Kyuhyun~Sshi.”

 

 

***

 

 

Sooyoung menarik kopernya ketika tiba di Bandara Pulau Jeju. Dia tetap setia di belakang seorang namja tampan yang juga sedang menarik kopernya.

“Sepertinya sedang hujan Sajangnim.” Ujar Sooyoung pada Direkturnya, Donghae.

“Kau benar. Aku mau ke toilet sebentar. Kau tunggu saja disini.”

“Ne.”

Donghae meninggalkan Sooyoung sendiri.

Sooyoung mendudukkan tubuhnya dan menyandarkan punggung lelahnya pada kursi tunggu. Perlahan dia mulai memejamkan mata dan tertidur. Jelas saja, waktu tidurnya berkurang karena Donghae memberitahu secara mendadak bahwa mereka akan berangkat jam 4 pagi. Sooyoung yang baru bisa tidur jam 12 malam pun hanya punya waktu sekitar 3 jam untuk tidur dan sisanya untuk bersiap – siap berangkat ke bandara.

Kyuhyun masih terus berlari dari kejaran makhluk berjubah hitam itu. Dilihatnya ke belakang, makhluk berjubah hitam itu tidak menampakkan wujudnya.

“Ah, semoga saja dia tidak mengejarku lagi.”

“Kau mencariku Kyuhyun~Sshi?”

“YAA!!” Kyuhyun terkejut karena tiba – tiba orang berjubah hitam itu kembali muncul di hadapannya.

Sontak Kyuhyun kembali menyelamatkan diri. Hingga perhatiannya tertuju pada seorang gadis yang tertidur di kursi tunggu di bandara itu. Kyuhyun perlahan mendekati gadis itu. Entah mengapa dia merasa gadis itu memiliki magnet tertentu yang bisa menariknya mendekat.

Kyuhyun menyentuh bahu gadis itu. Masuk. Tubuh ruhnya seakan masuk ke dalam tubuh gadis itu.

“Bagaimana mungkin?” Kyuhyun sedikit terkejut.

Dia kembali melihat ke sekelilingnya. Orang berjubah itu belum muncul.

“Aku harus melakukan ini untuk bersembunyi. Mianhae, Agashi.” ucapnya dengan nada menyesal.

Beberapa saat kemudian, orang berjubah itu kembali muncul. Dia melihat ke sekelilingnya.

“Aissh, kemana bocah itu pergi?” ujar orang berjubah hitam itu sambil membuka penutup kepalanya.

Dia memandangi sebuah benda seperti ponsel di tangannya.

“Menurut radar yang kudapat dia ada disini? Tapi dimana dia?”

“Kris~Sshi, kau gagal lagi?” seorang makhluk berjubah hitam yang lain muncul di belakangnya.

“Sunbae, mianhae…” orang berjubah hitam bernama Kris itu menunduk takut.

“Dia masih berkeliaran di bumi. Kau harus berhasil membawanya sebelum 40 hari, atau kau tidak akan bisa mendapatkan apa yang kau inginkan.”

“Arrasso, sunbae.”

“Dia masih ada di sekitar sini.”

“Tapi bagaimana bisa aku tahu. Kekuatanku hanya sebatas mencari. Aku tidak bisa melihat jika dia masuk ke dalam tubuh seseorang.”

“Aku tidak mau tahu. Kau harus bisa membawanya. Atau kau akan mati selamanya.”

“Ne, sunbae.” Ucapnya lemah.

Makhluk yang dipanggil sunbae itu menghilang. Kris mengusap kasar wajahnya. Harus cari dimana lagi?

Kris menghilang bermaksud mencari keberadaan Kyuhyun di bandara itu dengan radar yang dia miliki. Dia yakin namja itu masih di tempat ini.

Donghae menghampiri Sooyoung yang masih menunggu di kursi tunggu. Dia membawakan beberapa makanan dan minuman di tangannya.

“Sooyoung~Sshi.”

Donghae mengguncang – guncang tubuh Sooyoung. Sooyoung mengangkat wajahnya. Donghae merasa ada yang aneh dengan sekretarisnya itu. Matanya memerah dan tatapannya tajam.

“Sooyoung~Sshi, gwenchanayo?”

Sooyoung mengangguk.

“Aku tahu kau pasti lapar.” Donghae menyodorkan cheese burger dan segelas Americano yang dia bawa.

Dilihatnya Sooyoung hanya terdiam. Namun Donghae dapat merasakan deru nafas Sooyoung yang terdengar cepat. Dia semakin khawatir.

“Sooyoung~Sshi… Sooyoung~Sshi…” ujar Donghae mengguncangkan bahu Sooyoung.

“YAA!!” Sooyoung berteriak keras.

Seketika ruh Kyuhyun keluar dari dalam tubuh Sooyoung. Sooyoung masih mengatur nafasnya yang semula terasa sesak.

“Sooyoung~Sshi…”

“Cepat kita pergi dari sini Sajangnim.” Ujar Sooyoung memohon. Sooyoung terlihat begitu ketakutan.

“Baiklah, kita pergi sekarang. Hujan sepertinya sudah reda.”

Sooyoung mengapit lengan Donghae. Donghae memandangnya bingung. Sooyoung masih terlihat ketakutan. Dia membiarkan tangan Sooyoung berada disana. Meskipun harus menahan debaran jantungnya yang begitu cepat saat bersentuhan dengan gadis itu.

Kyuhyun memandang lurus gadis yang baru saja dia pinjam tubuhnya untuk berlindung dari kejaran makhluk berjubah hitam itu.

“Hanya dia tubuh yang bisa aku tinggali saat ini. Aku harus mengikutinya.”

Kyuhyun mengikuti Sooyoung dan Donghae dari belakang diam – diam.

 

 

***

 

 

Sooyoung dan Donghae tiba di hotel yang akan mereka tempati selama dua puluh hari ini. Donghae mengantarkan Sooyoung ke kamarnya. Dia menuntun Sooyoung untuk duduk di atas ranjang. Terlihat sekali gadis itu masih shock. Meskipun Donghae tidak mengerti penyebabnya.

“Minumlah, Sooyoung~Sshi.” Donghae memberikan segelas air putih pada Sooyoung.

Sooyoung menerimanya dan langsung meneguk habis air putih itu. Lagi- lagi membuat Donghae terkejut. Gadis ini benar- benar haus rupanya.

“Istirahatlah. Aku tahu kau pasti lelah.”

“Sajangnim…”

“Ne?”

“Gamsahamnida.”

Donghae tersenyum manis. “Kalau ada apa – apa kau bisa ke kamarku. Kamarku tepat di sampingmu.”

Sooyoung mengangguk mengerti.

“Baiklah aku pergi dulu.”

“Ne.”

Donghae pergi meninggalkan kamar Sooyoung. Sooyoung menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.

“Apa yang barusan terjadi padaku?”

Sooyoung sendiri bingung dengan keadaannya tadi. Dia merasa tubuhnya sesak seperti ada pertarungan besar dalam tubuhnya. Namun akhirnya dia yang memenangkannya. Baru pertama kali dia mengalami ini.

 

 

***

 

 

Tok… Tok… Tok…

Sooyoung membuka pintu kamar hotelnya ketika seseorang mengetuk pintu.

“Sajangnim…”

“Sooyoung~Sshi, mau ke pantai bersamaku?”

Kini Sooyoung dan Donghae sedang berjalan – jalan di pantai. Suasana pantai cukup sepi, maklumlah ini bukan hari libur. Hanya terdengar suara angin dan debur ombak yang menghampiri. Matahari yang mulai tenggelam membuat suasana menjadi romantis.

Keduanya hanya diam. Sibuk dengan dunia masing – masing.

“Besok kita akan bertemu Tuan Shin. Siapkan dokumen yang harus dibawa besok.” Ujar Donghae membuka percakapan. Terlihat sekali namja tampan itu gugup.

“Ne, Sajangnim.”

Suasana kembali hening. Donghae terlihat sangat gugup sedangkan Sooyoung terlihat acuh.

Tiba – tiba perhatian Sooyoung tertuju pada seorang namja berkulit putih berdiri di dekat pohon sambil memandangnya tajam. Sooyoung mengalihkan pandangannya. Namun saat dia kembali melihat ke arah dimana namja itu berdiri, namja itu sudah menghilang. Sooyoung terlihat bingung.

“Sooyoung~Sshi, ayo kita cari tempat untuk makan malam.”

“Ne.”

Sooyoung berdiri mengikuti Donghae. Sesekali dia menoleh. Namja itu kembali muncul di dekat pohon dan memandangnya tajam. Sooyoung berusaha untuk tidak peduli. Tapi entah mengapa namja itu membuatnya penasaran.

Kini Sooyoung dan Donghae berada di sebuah restoran seafood.

“Kau pesan apa?”

“Sama saja seperti Sajangnim.”

Donghae terlihat sibuk dengan buku menunya. Sooyoung memandang sekelilingnya. Lagi –lagi perhatiannya tertuju pada namja itu. Namja berkulit putih yang dia lihat saat di pantai tadi. Kini namja itu duduk di sebuah kursi jauh di belakang Donghae. Namja itu tetap memandangnya tajam. Membuat Sooyoung semakin penasaran.

“Kita pesan ikan bakar saja yah.” Ujar Donghae.

Donghae melihat Sooyoung masih memandang sesuatu di belakangnya, membuat Donghae menoleh ke belakangnya.

“Ada apa Sooyoung~Sshi?”

“Anni, Sajangnim. Hanya saja ada orang aneh yang terus memandangku tajam.”

“Nugu?”

“Orang itu.” Sooyoung menunjuk ke arah Namja yang duduk di belakang Donghae.

Donghae kembali menoleh ke belakang. Dia mengerutkan kening bingung.

“Tidak ada siapapun.”

“Ne?” Sooyoung terkejut.

Sooyoung melihat ke arah Namja itu. Dia masih disana. Tapi kenapa Donghae tidak bisa melihatnya?

“Mungkin aku hanya berhalusinasi. Kepalaku sedikit pusing.”

“Gwenchanayo?”

“Ne, gwenchana.”

“Apa perlu kita ke rumah sakit?”

“Tidak perlu Sajangnim.”

Donghae masih memandangnya khawatir. Sooyoung berusaha menyembunyikan ketakutannya. Namja itu masih memandangnya tajam.

 

 

***

 

 

Donghae mengantarkan Sooyoung kembali ke kamarnya. Namja tampan itu masih memandangnya khawatir.

“Benar tidak apa – apa? Apa sebaiknya kita kembali saja ke Seoul?”

“Anniya. Gwenchana. Aku hanya perlu istirahat. Besok pasti sudah sembuh.”

“Baiklah kalau kau merasa sudah baikan. Kalau terjadi sesuatu kau ketuk saja pintu kamarku.”

“Ne. Sajangnim.”

“Selamat malam… Sooyoung~Sshi.”

“Selamat malam… Sajangnim.”

Donghae tersenyum kemudian meninggalkan kamar Sooyoung.

Sooyoung menutup pintu kamarnya kemudian membalikkan tubuhnya.

“YAAAAA….!!!!” Sooyoung berteriak keras.

Donghae kembali ke kamar Sooyoung dan mengetuk –ngetuk pintu setelah mendengar teriakan Sooyoung.

“Sooyoung~Sshi… Sooyoung~Sshi…” ucapnya cemas.

Nafas Sooyoung terasa tercekat. Namja berkulit putih yang sejak tadi mengikutinya kini berada tepat di hadapannya. Sooyoung merasa tersudut di belakangnya hanya ada pintu yang sejak tadi diketuk Donghae.

“Nugusseyo?” Sooyoung akhirnya membuka suaranya yang bergetar.

“Cho Kyuhyun.” Ucap namja itu singkat.

“Kau terus mengikutiku. Ada perlu apa?”

“Aku perlu tubuhmu.”

“Mwo?”

Kyuhyun terus mendekat hingga tubuh mereka menghimpit.

Ssshh!

Kyuhyun masuk ke dalam tubuh Sooyoung.

Donghae mendobrak pintu kamar Sooyoung. Dilihatnya Sooyoung masih berdiri di belakang pintu. Kondisinya sama seperti saat di bandara tadi. Dingin, dengan mata memerah.

“Sooyoung~Sshi, gwenchana?”

Sooyoung mengangguk.

Seketika tubuh Sooyoung menegang. Membuat Donghae tambah khawatir.

“Aku tidak apa – apa. Kau tidak perlu khawatir, Sayang.”

Donghae mengerutkan kening. ‘Sayang’? Ada apa dengan Sooyoung?

Donghae memandang Sooyoung bingung. Gadis ini kembali dengan normal. Matanya tidak memerah seperti tadi. Tapi ada yang aneh dengan ucapannya. Dia memanggil Donghae ‘Sayang’??

“Aku butuh istirahat. Apa kau masih mau tetap disini menemaniku?”

Donghae semakin bergidik. Mengapa Sooyoung memandangnya dengan tatapan menggoda? Jika Donghae adalah Namja brengsek, dia pasti telah menyerang gadis ini sekarang juga. Tapi dia bukan namja seperti itu.

“Aku akan pergi. Kau istirahat saja.”

“Tidur yang nyenyak sayangku…” ucap Sooyoung tersenyum sebelum menutup pintunya.

Donghae semakin bergidik. Apa Sooyoung mabuk? Seingatnya tadi Sooyoung tidak meminum apapun selain jus.

Gadis itu tersenyum penuh kemenangan. Kemudian melirik ke arah seorang gadis yang sedang meringkuk di sudut kamar sambil menangis.

“Kurasa aku cocok dengan tubuhmu, Sooyoung~Sshi.”

“Kembalikan tubuhku Kyuhyun~Sshi.”

Oh tidak! Apa yang terjadi sebenarnya? Benarkah ini terjadi? Sooyoung terlempar dari tubuhnya sendiri karena kalah bertarung dengan Kyuhyun saat berada dalam tubuhnya.

“Baiklah aku akan mengembalikannya. Tapi aku benar – benar butuh bantuanmu.”

Ruh Sooyoung menghentikan tangisannya.

“Aku butuh tubuhmu, hanya karena aku ingin mengatakan pada seseorang. Bahwa aku mencintainya.” Ucap Kyuhyun dalam tubuh Sooyoung atau mulai sat ini kita sebut dengan Soohyun dengan sepenuh hati.

“Lalu apa yang harus aku lakukan?”

“Kau tidak perlu melakukan apapun. Aku hanya meminjam tubuhmu untuk sementara. Berpura – pura menjadi namja dan membuat jatuh cinta seorang gadis bernama Im Yoona.”

“Aku bukan lesbian!!” bentak Sooyoung.

“Aku tahu itu. Setelah aku berhasil membuat dia jatuh cinta dan mengatakan bahwa aku mencintainya sebagai Kyuhyun, aku akan pergi dari tubuhmu. Aku tidak akan mengganggumu lagi.”

Sooyoung memandangnya penuh selidik.

“Jika saja saat itu aku tidak mengalami kecelakaan, aku pasti sudah mengatakan perasaanku padanya. Dan aku tidak akan mati penasaran seperti ini. Aku mencintainya. Aku ingin dia tahu aku mencintainya.”

“Mengapa tidak kau katakan saja kau itu Kyuhyun dan katakan kau mencintainya. Kenapa harus meminjam tubuhku, menyamar sebagai namja dan membuatnya jatuh cinta.” Ujar Ruh Sooyoung kesal.

“Kurasa kau tidak pernah jatuh cinta Sooyoung~Sshi. Yoona bukan orang yang mudah percaya. Sangat bodoh jika aku tiba – tiba muncul dengan tubuhmu dan mengatakan bahwa aku Kyuhyun.”

Sooyoung terlihat kesal. Dia berdiri dan berusaha kembali masuk ke dalam tubuhnya. Terjadi pertarungan besar dalam tubuh Sooyoung. Membuat tubuhnya limbung dan terjatuh di atas ranjang. Ruh Sooyoung kembali terlempar. Petanda dia kalah.

“Mengapa kau harus memakai tubuh yeoja? Mengapa bukan namja??!!” Sooyoung berteriak frustasi

“Aku tidak tahu. Kau memiliki magnet sendiri yang membuat tubuhku mudah untuk masuk ke tubuhmu.”

Sooyoung mengusap wajahnya kasar. Dan menghela nafas. Mungkin ini adalah cara satu – satunya agar namja itu berhenti mengganggunya. Membantu namja itu agar dia cepat – cepat pergi dari tubuhnya.

“Baiklah, aku akan membantumu.”

Kyuhyun dalam tubuh Sooyoung tersenyum senang. “Jeongmal?”

“Tapi kau harus janji, setelah kau berhasil mengucapkannya kau harus cepat pergi dari hidupku.”

“Aku janji, Sooyoung~Sshi. Gomawo.”

“Sekarang pergilah dari tubuhku. Aku mau mandi.”

“Tidak bisakah aku yang memandikannya?”

“YAA!! Mesum!! Ini tubuhku!!” teriak ruh Sooyoung.

Kyuhyun dalam diri Sooyoung menarik tangan ruh Sooyoung hingga jatuh tepat di atas tubuhnya. Seketika ruh Kyuhyun keluar dari tubuh Sooyoung. Sooyoung kembali ke tubuhnya.

“Jinjja… Ini sungguh melelahkan.” Keluh Sooyoung setelah kembali dalam tubuhnya.

“Sudah sana. Kau bilang mau mandi.”

Sooyoung melirik kesal. “Jangan mengintip!” ancamnya.

Kyuhyun tertawa. “Aku bisa berubah menjadi bak mandi jika mau mengintipmu mandi.” Guraunya.

“YAA!!”

Kyuhyun tertawa semakin keras. “Aku hanya bercanda. Cepat sana mandi. Ada banyak hal yang perlu kukatakan padamu.”

Sooyoung menghentak – hentakkan kakinya kesal kemudian masuk ke dalam kamar mandi.

Kyuhyun membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Memikirkan apa yang akan dia lakukan selanjutnya.

 

 

***

 

Sooyoung memunculkan kepalanya dari balik pintu kamar mandi. Dia memandangi seluruh kamarnya.

“Tidak ada namja gila itu.” Ujar Sooyoung menghembuskan nafas lega.

Dengan percaya diri dia keluar dari dalam kamar mandi dengan tubuh berbalut handuk. Sooyoung mendekati lemari yang berisi beberapa pakaiannya.

Sit… suittt….

Terdengar suara namja sedang bersiul. Sontak membuat Sooyoung berteriak.

“AAAARRRGGHH!!!” Teriak Sooyoung keras sambil memegang erat handuknya.

“Sooyoung~Sshi, gwenchana?” Donghae tiba – tiba membuka pintu kamar Sooyoung setelah mendengar teriakan Sooyoung. Namun beberapa detik kemudian wajah namja itu memerah.

Suasana canggung tercipta dalam kamar itu. Sooyoung mengerjap – erjapkan matanya.

“Mi… Mianhae…” ujar Donghae tergagap sambil kembali menutup pintunya.

Sooyoung mendelik ke arah Kyuhyun yang kembali bersiul dengan santai.

“Ku kira kau sudah pergi.”

“Aku tidak mungkin membuang kesempatan emas.” Ujar Kyuhyun sambil memandang deduktif tubuh Sooyoung yang berbalut handuk.

“Jinjja mesum. Sudah menjadi hantu tapi masih punya fikiran kotor.”

Kyuhyun tersenyum evil.

Sooyoung mengambil beberapa bajunya dan kembali ke kamar mandi untuk berpakaian.

Beberapa menit kemudian, Sooyoung keluar dari kamar mandi dengan memakai piyama tidur. Wajahnya kembali terlihat jengkel ketika melihat Kyuhyun masih berbaring di atas ranjangnya.

“Pergi kau. Aku mau tidur.”

“Tidur saja. Aku tidak makan tempat. Aku hanya hantu.”

“Tapi tetap saja kau menggangguku.”

Kyuhyun menggeser posisi tubuhnya. “Sudah cepat tidur.” Kyuhyun terlihat memejamkan mata.

“Apakah hantu mengantuk juga?”

“Aku hanya ingin menemanimu tidur.”

“Aku tidak butuh ditemani.”

“Kau ketus sekali Nona. Bagaimana pacarmu betah denganmu kalau begitu?”

“Aku tidak punya pacar.”

“Lalu namja itu?”

“Dia direktur tempatku bekerja.”

“Mwo?”

“Dan kau sudah membuat kesalahan saat memakai tubuhku. Kau membuatku memanggilnya ‘Sayang’ itu memalukan.”

“Mianhae… Aku tidak tahu. Habisnya aku melihatnya begitu menyukaimu.”

“Mwo?”

“Apa kau tidak tahu? Namja itu menyukaimu. Dasar tidak peka.”

BRUKK!

Sooyoung menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang. Sepertinya dia benar – benar lelah dan ingin mengakhiri semua perdebatan yang sepertinya tidak akan ada ujungnya itu.

“Kau sama seperti temanku Sunny. Selalu berdebat denganku dan tanpa ujung.”

Sooyoung perlahan mulai memejamkan mata. Kyuhyun tersenyum memandang wajah tidur gadis itu.

“Maaf kalau aku akan merepotkanmu untuk hari ini dan beberapa hari ke depan.”

 

 

***

 

 

Sooyoung dan Donghae sedang berada dalam sebuah pertemuan dengan rekan kerja mereka. Membahas mengenai proyek mereka disana.

“Jadi progress pekerjaan sampai saat ini sudah berapa persen?” tanya Donghae pada rekannya.

“Sampai saat ini progress sudah mencapai 30%, jika tidak ada kendala cuaca dan sebagainya, kemungkinan bisa selesai akhir bulan ini.”

“Aku harap bisa lebih cepat dari itu.”

“Akan ku usahakan.”

Sooyoung jengah. Benar – benar jengah. Tubuhnya memang berada di sebuah meja bersama dengan Donghae dan rekan kerjanya, namun fikirannya tertuju pada namja yang sedang duduk beberapa meter darinya.

Lihat namja itu. Benar – benar berotak kotor.

Hanya karena tidak ada yang bisa melihatnya, dengan santainya dia duduk bersebrangan dengan seorang gadis berpakaian minim dan menunjukkan belahan dada. Dengan bibir merah merekah yang sexy.

“Aku tahu apa yang kau lihat, Pria berotak mesum.” Batin Sooyoung.

“Oh ya, aku harus kembali ke proyek. Apa kau ingin melihat langsung perkembangannya.”

“Ah, nanti saja. Mungkin saat proyeknya 50% aku akan kesana.”

“Baik, Donghae~Sshi. Aku akan mengabari perkembangan selanjutnya.”

“Ne. Gamsahamnida, Shindong~Sshi.”

“Aku pamit dulu Donghae~Sshi, Sooyoung~Sshi.”

“Ah, Ne.”

Rekan kerja bernama Shindong itu pergi meninggalkan Donghae dan Sooyoung.

“Sooyoung~Sshi, mau kembali ke hotel atau…”

“Sajangnim, boleh aku izin pergi?” ucap Sooyoung memotong perkataan Donghae.

“Kemana?”

“Hmm, bertemu teman lamaku.”

“Apa perlu aku temani?”

“Anniyo. Biar aku sendiri.”

“Baiklah. Ingat jangan pulang larut malam. Kalau ada apa – apa hubungi aku.”

“Ne.”

Sooyoung pamit pergi meninggalkan Donghae. Kyuhyun seketika tersadar Sooyoung meninggalkannya.

“YAA!! Sooyoung~Sshi!!” teriak Kyuhyun.

Sooyoung melangkahkan kakinya cepat dan terkesan seperti dihentak – hentakkan.

“Katanya mau ke rumahnya siang ini… Tapi dia sendiri yang lupa dan malah asyik memandangi dada wanita itu.” Umpat Sooyoung kesal. “Dasar namja mes… AAARRGGH!!!” Sooyoung terkejut dan berteriak ketika Kyuhyun tiba – tiba muncul di hadapannya.

“Kau mau membunuhku, hah?” omel Sooyoung kesal.

“Kenapa kau meninggalkanku?”

“Kufikir kau sedang asyik tadi.”

“Asyik apa?” tanyanya polos.

Sooyoung kesal. “Pura – pura tidak tahu.”

Sooyoung memberhentikan sebuah taksi dan masuk ke dalamnya. Kyuhyun mengikutinya.

“Dimana rumahmu?” tanya Sooyoung pada Kyuhyun.

Supir taksi itu mengerutkan kening. Gadis itu berbicara sendiri?

Sooyoung yang menyadari itu terlihat canggung.

“Ah, mian…”

Kyuhyun tertawa terbahak – bahak sedangkan Sooyoung memandangnya kesal.

Tak lama mobil taksi itu berhenti di depan sebuah rumah besar yang terlihat cukup ramai. Sooyoung hendak turun, namun Kyuhyun mencegahnya.

“Bisa kita turun di gang sebelah sana? Aku tidak mau turun disini.” ujar Kyuhyun.

Sooyoung memandang namja itu aneh. Dari tatapan matanya terlihat sedih.

“Tuan, aku turun di gang depan.”

“Ah, ne.”

Seperti perkataan Sooyoung, supir taksi itu memberhentikan mobilnya di depan sebuah gang. Sooyoung segera turun dari taksi setelah membayar diikuti Kyuhyun.

“Kau membawa semua yang kukatakan kemarin?”

“Tentu saja aku membawanya. Kau tahu pagi – pagi sekali aku sudah pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli semua ini.” Ucap Sooyoung dengan nada ketus.

“Hey, katanya kau mau membantuku.”

“Cepat katakan apa yang harus kulakukan?”

“Ganti pakaianmu disana.” Ujar Kyuhyun menunjuk sebuah rumah kosong.

“Mwo??”

“Palli…”

Sooyoung akhirnya menuruti permintaan Kyuhyun. Dia melepas pakaiannya, menutup payudaranya dengan kain perekat, memakai t-shirt, celana jeans dan sebuah mantel. Dan untuk yang terakhir dia memakai sebuah wig pendek dan sepatu.

Sooyoung segera merapihkan pakaian perempuannya dan segera pergi dari rumah kosong itu.

“Otthe?” tanya Sooyoung meminta Kyuhyun mengomentari penampilannya.

“Kau kurus sekali.” Kyuhyun berkomentar ketika melihat pakaian yang dikenakan Sooyoung sedikit kebesaran.

“Aku ini yeoja, sedangkan ini pakaian namja, jelas saja besar.”

“Kau tidak lupa topinya kan?”

“Tentu aku bawa.”

“Ah, bagus – bagus.”

“Sudah cepat rasuki aku.” Sooyoung memejamkan matanya mempersiapkan diri untuk Kyuhyun masuk ke tubuhnya.

Kyuhyun tersenyum. Gadis ini baik, hanya saja sedikit ketus dan galak.

Sooyoung tersentak ketika merasa geli di sekitar dadanya. Dia membuka matanya kembali. Di lihatnya namja itu sedang meraba dadanya.

“YAA!” Sooyoung menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

“Benar – benar rata. Kau hebat membungkusnya.”

“Tapi tidak perlu diraba begitu.” Pipi Sooyoung memerah. Sepertinya yeoja itu malu.

“Baiklah aku akan masuk sekarang.”

Sooyoung kembali memejamkan matanya perlahan. Kyuhyun mendekati Sooyoung. Dekat… Dekat menghimpit dan masuk ke tubuh Sooyoung. Seketika ruh Sooyoung keluar dari tubuh dia sendiri.

“Lalu apa yang akan kau lakukan?”

“Menunggu Yoona pulang.”

“Mengapa tidak tunggu saja di rumah?”

Kyuhyun dalam diri Sooyoung (Soohyun) memandangnya sedih.

“Aku tidak akan siap melihat tubuhku sendiri berada dalam peti mati.”

Sooyoung tersentak. Perkataannya benar.

Tak lama terdengar suara sirine ambulance memekakan telinga. Soohyun memutar tubuhnya membelakangi jalan raya ketika mobil ambulance itu lewat. Mobil ambulance yang membawa tubuh aslinya untuk segera dimakamkan.

“Kyuhyun~Sshi…” Sooyoung menyentuh bahunya.

Dilihatnya Soohyun menitikkan air mata. Sedih rasanya jika terpisah dari raganya sendiri.

“Gwenchana.” Terlihat sekali Soohyun mencoba untuk tersenyum. “Aku akan ke rumah sebentar.”

Sooyoung mengangguk. Dia memandangnya iba.

Soohyun berlari pulang ke rumahnya. Dilihatnya satu persatu pelayat yang datang mulai pergi.

“Kasihan sekali, harus meninggal dengan cara yang tragis.”

“Padahal dia masih muda dan tampan.”

Rasanya Soohyun ingin menutup telinganya. Entah mengapa mendengar suara orang – orang yang membicarakan kematiannya membuatnya sakit.

Soohyun mengedarkan pandangannya mencari sesuatu. Hingga perhatiannya tertuju pada dua orang wanita yang duduk di pojokan. Mereka adalah Omma-nya dan gadis yang dicintainya, Yoona. Mereka menangis sambil mendekap foto besar Kyuhyun.

“Omma… Yoona~ah…”

Soohyun rasanya ingin berteriak dan memberitahukan identitasnya sesungguhnya. Bahwa dia Kyuhyun. Rasanya dia juga ingin mengatakan pada Yoona saat itu juga bahwa dia mencintainya. Tapi entah mengapa bibirnya seakan terkunci.

“Ahjumma…” Panggil Soohyun akhirnya menghentikan sejenak tangisan dua wanita itu.

Keduanya menyeka air mata dengan tissue di tangan mereka. Kemudian memandang seseorang di hadapannya penuh tanya.

“Ah, aku teman Kyuhyun. Kim Soohyun imnida…” ujar Soohyun asal.

“Kim Soohyun?”

“Aku temannya di sosial media. Aku baru pertama kali kesini.”

Omma Kyuhyun mengangguk – nganggukkan kepalanya mengerti. Sedangkan Yoona masih memandang penuh selidik. Dia tidak pernah tahu mengenai namja bernama Kim Soohyun. Kyuhyun tidak pernah bercerita apapun tentang namja itu.

“Aku turut… Berduka cita.” Ujar Soohyun perlahan seperti ada yang mengganjal tenggorokannya.

“Ne…” ucap Omma Kyuhyun lirih dan singkat.

Soohyun berbalik memandang Yoona dengan tatapan sedih. Yoona kembali memandangnya bingung. Ada apa dengan orang ini? Mengapa cara pandangnya seperti telah mengenalnya lama?

 

 

***

 

 

Sooyoung mengetuk – ngetuk jarinya pada alas duduk sebuah kursi taman. Dia benar – benar bosan menunggu Soohyun. Tidak banyak yang bisa dia lakukan saat menjadi ruh. Kini tangannya berpindah menopang dagunya. Berganti – ganti posisi guna membuang rasa bosan.

Kris terus berjalan mengikuti ponsel radarnya. Kini bukan jubah hitam lagi yang membalut tubuhnya, tapi pakaian seorang namja keren layaknya manusia. Gunanya untuk menyamarkan diri supaya Kyuhyun tidak ketakutan dan lari lagi.

“Sepertinya di daerah sini… Tapi di sebelah mana?” gerutu Kris.

Kris mendudukkan tubuhnya pada sebuah kursi taman. Dia berfikir keras sambil memandangi ponsel radarnya.

“Kesana… atau kesana??” tunjuknya ke kanan dan ke kiri.

Kris menghentikan tingkah konyolnya ketika melihat gadis yang duduk di sampingnya memandangnya bingung. Kris ikut memandangnya bingung. Kedua makhluk itu kini saling berpandang – pandangan. Mungkin jika tanda tanya dalam fikiran mereka bisa tergambarkan, akan ada seribu tanda tanya yang muncul.

“Kau bisa melihatku?” tanya keduanya bersamaan.

Sooyoung menutup mulutnya. Gadis itu terlihat terkejut. Sedangkan Kris membulatkan matanya.

“Ruh?” tanya Sooyoung.

“Bukan.”

“Lalu?”

“Penjemput.”

“Ne?”

“Aku yang bertugas membawa kembali ruh – ruh yang masih bergentayangan di bumi.”

“Ruh – ruh yang bergentayangan?”

Kris memandangi Sooyoung dari atas kepala sampai kaki.

“Kau ruh yah?”

“Ne?”

“Karena tidak bisa membawa Cho Kyuhyun, aku akan membawamu saja.”

“Mwo?”

Kris menarik tangan Sooyoung dan hendak membawanya pergi. Sooyoung meronta – ronta.

“YAA!! Lepaskan aku orang aneh.” Sooyoung terus berusaha menarik tangannya dari genggaman erat tangan Kris.

Sooyoung membulatkan matanya ketika melihat sebuah pusaran besar tak jauh dari hadapannya. Pintu menuju kematian abadi. Sooyoung menggeleng – gelengkan kepalanya.

“Aku belum mati!! Aku bukan ruh!! Lepaskan aku!!” Sooyoung memberontak. Gadis itu mulai menangis.

Kris seakan tak peduli. Tangannya masih tetap menggenggam erat tangan Sooyoung seakan tidak lagi melepaskan buruannya.

Bagaimana nasib Sooyoung selanjutnya?? Apakah dia yang akan menggantikan Kyuhyun menuju pintu kematian?

 

 

TO BE CONTINUED….

Part 1 Selesai…. Gimana readers part 1-nya?? Harap memberikan respon. Keep Comment… Kalau ga bisa comment, cukup like aja koq. Atau mungkin yang ga bisa komen di blog, bisa juga komen di twitter atau facebookQ. Yang jelas aku tungu responnya. Gamsahamnida ^^.

3 thoughts on “[SERIES] Story In 40 Days (Part 1)

  1. Della April 10, 2014 / 12:58 PM

    Hai semua >u< kalian Sooyoungster ??? suka dengan fanfic tentang Sooyoung unnie ? ^^ kalau iya,, kalian bisa kunjungi blog ini : http://songhyerim.blogspot.com/ dijamin kalian akan suka ^^
    NB : Terima kasih buat author, dan maaf aku numpang promo ^^

  2. BabyNam August 17, 2015 / 10:22 AM

    Aaaaaaaaaaaaaa~ rame banget aku suka ceritanyaaaa:”’) fantasy gitu,
    duh kesian Sooyoung baru aja mau nyelametin orang,udah kena batunya. Jangan sampe deh Sooyoung mati abadi,ga tega rasanya kalo sooyoung meninggal gitu aja tanpa sebab-akibat.
    Dan entah kenapa aku greget banget sama Kris, kalo dia punya maksud seharusnya jangan main hakim sendiri ya, kesian Sooyoung #kebawaemosi ;_;
    neeeeext lanjuuut, (y)

    • BabyNam August 17, 2015 / 10:32 AM

      ternyata aku telat baca;_; maaf ya, aku ga liat tanggal perilisannya :” tapi aku bener bener suka ff nya. Ijin next baca aja ya berarti, nanti aku tinggalin jejak lagi. *bow

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s