Hurt, Marriage-life, Romance

Red, White, Gray and Blue

image

Cho Hika (@annisahikanurf)

Proudly presents..

“Red, White, Gray and Blue”

.

Starring by Xi Luhan, Choi Sooyoung and others

With feelin’ Marriage-life

And rated for PG+

.

As long as Ficlet

.

Disclaimer : All the story is my imagination. Poster also.

.

A/N : Sorry for simply poster and story. Enjoy ~

.

Summary : Cinta memiliki 5 warna dasar. Merah, putih, abu, biru dan hitam. Tanpa perlu dijelaskan, pun alam bawah sadar kalian akan sangat lebih mengerti. Karena sesungguhnya setiap insan pernah merasakannya. Dan hanya waktu yang membedakannya.

.

December 26, 2013

Malam pertama pupuslah sudah.

25 Desember kami menikah.

Tepatnya dimalam natal.

Ketika salju turun..

Ketika setiap umat kristiani berdoa..

Dan saat itu aku berterimakasih.

Tuhan memberkatiku seorang istri yang luar biasa cantik.

Namanya Choi Sooyoung. Dia seorang model papan atas. Ayahnya adalah sahabat ayahku. Dan kami..

Dijodohkan.

Singkat cerita kami belum pernah bertemu sekalipun.

Pun pertemuan pertama kami adalah saat malam itu.

Saat malam yang pling diberkati Tuhan.

Malam pernikahan kami.

Aku ingat betul bagaimana rasa yang melebihi bahagia itu terasa kental menyelimuti tubuhku.

Aku juga ingat betul saat aku memasangkan cincin dijari manisnya. Saat aku melihat kearahnya ia langsung mengecup bibirku. Dan suasana riuh seketika.

Tapi sayangnya aku tidak tahu kalau ciuman —bahkan senyumannya— hanya sebuah topeng.

Ia tak pernah jauh dari senyum saat ada orangtua kami.

Tapi setelah kami pindah ke rumah baru, ia murung. Lebih banyak diam.

Bahkan tidak memerhatikanku.

Malam pertama tidak ada apa-apanya.

Dia bilang sedang menstruasi.

Tapi aku tidak melihat sesuatu yang lebih tebal dibagian tertentunya.

Entahlah~ Aku tidak tahu.

Sekarang ini aku hanya dapat memandanginya dari kejauhan.

Aku dimeja kerja, sementara Sooyoung duduk di sofa depan televisi.

Televisi mati.

Maksudku, ia tidak sedang menonton televisi. Tapi..

Aku yakin ia sedang menonton film hasil imajinasinya sendiri.

Sekilas aku mendelik arlojiku. Sudah pukul 9 malam. Tapi pekerjaanku belum juga selesai. Aku tidak bisa fokus. Atau lebih tepatnya, aku tidak pernah bisa fokus pada pekerjaanku sejak aku bersamanya.

Ia benar-benar mengalihkan perhatianku.

Dia..

“Hiks.. Hiks..”

Menangis?

Segera aku mendorong kursiku ke belakang dan dengan cepat menghampirinya.

Duduk disampingnya. Menyeka air matanya. Dan mendekapnya dalam diam.

“Apa yang kau tangisi?” Ucapku seraya mengusap punggungnya.

“Drama tentang hidupku.”

Glek.

Drama? Dalam hidupnya?

Mm.. Marhae..bwa.

Jujur, aku belum pernah berinteraksi dengannya sekalipun.

Bahkan ini adalah kali pertama kami melakukan interaksi —bahkan skinship— terlepas dari pandangan orangtua kami.

“KAU!”

Marah.

Aku tahu dia marah. Sampai-sampai mendorong tubuhku kelantai. Dia pikir akan menyelesaikan masalah? Tidak!

Sejak saat itulah dia meninggalkan rumah untuk yang pertama kalinya.

Miris.

December 27, 2013

Bukan suara ayam yang membangunkanku. Bukan terik matahari yang membangunkanku. Bukan juga suara istriku. Bukan.

Ini aroma yang sangat menusuk.

Alkohol, eoh?

“Luhan bodoh, Luhan bodoh, dasar bodoh.”

Dengan sempoyongan Sooyoung masuk kekamar kami.

Benar saja. Dia pasti habis mabuk.

Entah kenapa ada yang kukhawatirkan disini.

Sungguh! Tidak dapat kujelaskan sekarang sampai aku tahu semuanya.

“Luhan bodoh, bodoh, bodoh.”

Tidak ada lagi kata yang diucapkannya selain kata tersebut.

Tak apa bagiku.

Aku membantunya berbaring diranjang kami.

Dia menggeliat kecil. Dan seketika terlelap.

“Semoga kau baik-baik saja.”

Aku menatapnya nanar.

December 28, 2013

“Aku pulang.”

Seperti biasa.

Aku akan meletakan tas kerjaku sendiri. Menyambut diri sendiri. Berganti pakaian sendiri tanpa ada sosok seorang istri yang akan memilihkan pakaian ganti.

Sampai saat aku terbangun ditengah malam lantaran kelaparan pun ku buat makananku seorang diri.

Setidaknya ada mi instan disini.

Dan aku masih dapat ditemani oleh televisi.

Cekrik.

Pintu terbuka.

Itu dia!

Istriku, baru pulang.

“Aku lelah.”

Ia melempar tas nya kasar ke atas meja dan mendudukan dirinya diatas sofa disampingku.

Begitukah rasanya menjadi seorang model? Lelah?

“Kau lapar? Ini kubuatkan mi.”

Dia mendelik kemudian berdecak.

“Model sepertiku tidak makan mi!”

Ketus sekali.

“Yasudah kalau begitu biar aku saja yang makan. Setidaknya aku sudah menawarkanmu.”

Entah kenapa aku merasa bersalah.

Salahku karena tidak tahu apa-apa tentang istriku.

Aku tidak tahu kalau dia tidak mengkonsumsi mi instan.

“Kecuali saat lapar.”

Ia merebut satu mangkuk mie dari tanganku.

Ck, lucu juga.

“Baiklah aku akan membuatkannya lagi agar kita dapat makan bersama.”

Jujur, aku merasa lebih baik sekarang. Sepertinya aku mulai dihargai disini.

Aku bergegas menuju dapur untuk membuat mi.

Belum saja airnya panas, aku sudah memasukan mi nya kedalam rebusan air.

Dan belum saja mi melunak, aku sudah keburu mengangkatnya dan memindahkannya ke mangkuk.

Rasanya ingin cepat-cepat.

Sayangnya, dewi fortuna tidak sedang memihaku.

Sooyoung telah melahap habis mi nya. Cepat sekali.

Bahkan ia sudah terpejam diatas sofa sekarang.

Wanitaku ini pasti sangar kelelahan.

Mengapa harus tertidur disini sih ? Bagaimana kalau nanti lehernya sakit? Dia mungkin akan sulit berpose untuk pemotretannya.

Berbicara soal pemotretan —yang berkaitan dengan model, aku bahkan tidak pernah melihatnya dalam majalah.

Entah aku yang terlalu sibuk atau..

Aku mencoba membongkar isi tasnya.

Dapat!

Ada satu majalah didalamnya.

“Majalah Babe ? Aku bahkan baru mendengarnya.”

Tertera sebuah tulisan yang di edit dengan font cukup besar disampulnya. “SPECIAL MODEL, CHOI SOOYOUNG !”

Sehebat itukah dirimu wahai wanitaku?

Tanpa sadar aku tersenyum sendiri.

Wajahnya disampul majalah ataupun dimataku sama cantiknya.

Lembar pertama aku membukanya pelan-pelan.

Hanya berisi intro tentang siapa wanitaku ini.

Ada beberapa kalimat yang diberi tanda petik disini. “Malam natal lalu aku menikah dengan pengusaha bernama Xi Luhan. Dia sangat tampan. Aku sangat bersyukur.”

Benarkah?

Semakin exited saja !

Aku membuka lembar selanjutnya.

Ada yang aneh disini.

Hanya sekedar memastikan, aku membuka lembar selanjutnya.

Selanjutnya..

Dan selanjutnya.

Hingga kembali aku tutup majalah itu.

Baru kusadari bahwasannya terdapat tulisan kecil berwarna merah disisi kanan atasnya.

“Edisi Desember, Majalah Dewasa Babe.”

MAJALAH DEWASA??!!!

December 29, 2013

“Nghh..”

Dia melenguh menggeliat diatas ranjang kami. Aku sudah menunggunya bangun sejak tadi.

Aku terjaga memikirkan hal yang ada diluar pradugaku.

Aku sudah berdiri kokoh didepan ranjang. Berharap saat ia membuka mata, orang yang pertama dilihatnya adalah aku, seorang.

“Selamat pagi.” Seruku.

Gawat!

Suaraku parau.

Bukan aku menangis. Tapi, ini efek karena aku terjaga semalam. Kepalaku pening memikirkannya. Pikiran yang tak seharusnya ada menerpaku. Aku gelisah. Sangat.

Seperti biasa. Dia tidak akan pernah meresponku. Aku tahu.

Ia bangkit dan menguncir rambut panjangnya.

Maksud berlalu, ia justru berhenti tepat disampingku.

Dapat kupastikan jikalau ia berhenti lantaran melihat tanganku memegang sesuatu. Majalahnya. Majalah dewasa.

“Kau dapat darimana?”

Panik.

Dia panik dan segera merebut benda keji itu dari tanganku. Kemudian menyembunyikannya dibalik tubuhnya.

Sudah terlambat.

“Dari tasmu.”

“Siapa yang mengijinkanmu untuk mengambil barang-barang miliku?”

Semudah itukah ia bicara?

Pada suaminya sendiri saja ia membentak.

Cukup sudah.

“Aku ini suamimu! Aku berhak melakukan apasaja!”

Gurat-gurat dahiku nampak jelas.

Tak peduli rupaku seperti apa sekarang. Tapi yang jelas, aku marah!

Dia terdiam dan menunduk.

“Katakan padaku. Sudah berapa lama kau menjadi model majalah dewasa?” Tanyaku dengan nada melemah.

“Aku baru melakukannya. Hanya sekali.”

“KAU BOHONG!”

Sudah! Pecah semua!

.

Air mengalir dari setiap lubang shower.

Aku membersihkan diri.

Sambil bercermin aku berusaha mengingat apa yang telah aku lakukan.

Marah tidak akan menyelesaikan masalah, bukan?

So, that shouldn’t be.

Tuhan, kumohon maafkan aku.

Aku mencintainya.

Tapi apakah dia juga mencintaiku?

Kalau tidak, apa alasannya?

Memangnya aku kurang apa?

Aku tampan, kaya, cerdas, apalagi?

Heuh~

Sudahlah, ini takan selesai jika aku masih terdiam disini.

.

Sebelum aku berangkat kerja, aku berniat untuk meminta maaf. Tapi apadaya, sudah tak kudapati Sooyoung dirumah.

Aku melihatnya dari jendela.

Ia pergi bersama pria lain.

Aku tahu betul pria itu adalah pria yang menjadi patner Sooyoung dalam majalah dewasa itu.

Siapa namanya?

Coba kuingat!

Ch.. Sh..

Shim

Changmin.

Ya! Shim Changmin namanya.

Dia menjemput wanitaku.

Dia bahkan menciumi wanitaku saat wanitaku akan masuk kedalam mobilnya.

Sial! Seharusnya itu aku!

December 30, 2013

Sudah lewat pukul 10 malam. Sooyoung masih belum kembali.

Padahal aku menunggunya.

Aku berniat untuk meminta maaf.

Sejak peristiwa itu, ia belum kembali kerumah. Dia pasti sangat kesal.

Kumohon kali ini saja.

Datanglah.

Mari kita perbaiki semuanya.

Aku sudah membeli se-bucket bunga mawar merah dan putih untuknya.

Merah sebagai tanda cinta. Dan putih sebagai tanda suci.

Jika disatukan, ini berarti “Cinta Suci”.

Cekrek.

Pintu terbuka, akupun bersiap.

Sooyoung masuk, “Selamat ma-”

Pria itu lagi !

Makin tidak dihargailah aku disini.

Mereka berjalan masuk tanpa dosa.

Masuk kekamar kami.

Kamarku dan Sooyoung.

“Luhan, pintunya ku kunci. Kau tidur di sofa saja ya?” Itu 2 kalimat terakhir Sooyoung sebelum mereka masuk dan mengunci pintu kamarnya.

Argh! Aku mengacak rambutku sendiri.

Cukup sudah!

Aku akan membicarakan hal ini kepada keluarga kami sesegera mungkin.

Aku sudah menyerah.

December 31, 2013

Akhir tahun datang.

Dan akhir dari masa rumah tanggaku juga akan segera datang.

“Selamat pagi.” Aku membangunkan Sooyoung.

Tidak seperti biasanya, ia langsung bangun dan meresponku. “Pagi sekali.”

Aku mengangguk kecil, berusaha mengontrol emosi. “Cepat basuh tubuhmu. Kita akan kerumah ibu dan ayah.”

Dia mulai membuka matanya sedikit lebih bulat. “Mau apa?”

“Mengakhiri hubungan kita.”

Dia bangkit. Menatapku dengan mata yang berkaca-kaca.

Tidak! Aku tidak akan masuk kedalam perangkapnya.

“Mengakhiri hubungan kita dan merusak masa depanku, eoh?!”

Bukan.

“Kau pikir masa depanmu akan cerah jika bersamaku hah?!”

Dia mengusap matanya. Aku tahu, ia sendiri tidak menginginkan ada airmata yang menetes.

Dia gelisah. Dia mulai mengacak-acak rambutnya. “Tak ada seorangpun yang pernah mengertiku.”

Kau salah. “Aku mengerti.”

“Tidak!” Ia menunjuku dengan jari telunjuknya. Spontan. “Mereka semua berbohong! Kau juga! Asal kau tahu! Tidak pernah ada yang mengerti tentang diriku! Bahkan akupun tak mengerti!”

“Aku mengerti.” Yakinku.

Bulshit !” Jawabnya lagi.

Dia mendekat. “Kau mengerti apa?”

Aku menelan salivaku.

Aku yakin ini tidak akan sulit. “Aku mengerti kalau kau tidak benar-benar mencintaiku, kau suka mabuk, kau model majalah dewasa, kau lebih suka tidur dengan pria lain ketimbang diriku.”

Dia berdecak. “Benarkan? Kau tidak mengerti dan tidak akan pernah mengerti.”

“Memangnya apa yang-”

“Kau tidak mengerti kan bagaimana rasanya belajar mencintai orang yang sama sekali tidak kau cintai, sementara kau sudah memiliki kekasih sebelumnya?”

Benarkah?

“Kau tidak mengerti kan bagaimana beratnya memegang amanat orang yang kau cintai? Orangtuamu?”

Aku yakin, yang dimaksudnya adalah ayahnya.

Ayahnya meninggal satu tahun lalu dimalam natal saat pulang dari proyeknya.

Maka dari itu kami menikah dimalam natal tahun ini.

Ini semua amanat mendiang.

“Kau tidak mengerti kan bagaimana rasanya tinggal dalam satu rumah dengan orang yang putus asa?”

Aku tak mengerti. “Maksudmu apa?”

“Aku mengetesmu dasar bodoh! Aku bilang bahwa aku menstruasi dan kau percaya begitu saja? Seharusnya kau langsung menyentuhku saja!”

Glek.

Begitukah?

“Saat aku pergi juga! Memangnya kau mencegahku? Tidak kan? Dasar bodoh!”

Ada benarnya juga.

Tapi ada alasan untuk yang satu ini.

“Aku tidak tahu pasti. Tapi aku merasa lemah berada dihadapanmu.”

“Dasar bodoh!”

Kembali lagi aku disemprot.

“Tidak seharusnya kau merasa lemah. Kau pria bukan? Dasar banci!”

“Cukup!”

Kalau saja puncak kepalaku adalah gunung berapi, maka sudah meletus sekarang juga. Aku yakin!

Nafasku mulai tidak beraturan. Detak jangtungku pun begitu.

Aku tahu tekanan darahku mungkin naik secara drastis. Bagaimana tidak? Aku bahkan dapat merasakan betul setiap getaran hasil pompa jantungku.

Sooyoung diam tak bergeming. Dia menatapku dengan sangat tajam. Tapi sepersekian detik berikutnya tatapan itu menjadi sangat sendu.

Ia membelakangi tubuhku.

Aku tahu, dia menangis.

Airmatanya deras sampai aku dapat melihat satu kebocoran bulir bening itu.

Dia mengusap wajahnya kasar. “Maafkan aku.”

Aku tertegun.

Bukan maksudku untuk membuatnya merasa bersalah.

Pelan-pelan ia mengusap lengannya bersilang. “Aku hanya ingin kau mengerti.” Ucapnya lemah.

Baik!

Pertahananku runtuh sekarang.

Spontan aku mendekapnya dari belakang. Membiarkan daguku menopang dipundaknya.

Sebentar saja.

Aku mohon sebentar saja.

Hentikan waktu.

Tuhan, aku mencintainya. Sangat mencintainya.

Tangan lembutnya mengayun sampai kebelakang kepalaku. “Aku akan belajar mencintaimu.”

Aku semakin mengeratkan dekapanku. Semakin dalam dan semakin hangat.

Aku pikir ini saat yang tepat.

Aku menghembuskan nafasku tepat disamping tengkuk Sooyoung. Aku sengaja melakukannya agar Sooyoung dapat merasakan sensasiku.

“Aku semakin merasa bersalah.”

Sendu.

“Aku tidak bermaksud.” lanjutnya.

Marhaebwa.” Ucapku pelan sambil mengayun dekapan kami.

“Malam itu..”

Flashback ON

“Kau kabur dari rumah?” Tanya seorang pria bernama Shim Changmin.

Yang diajak bicara justru diam.

Sooyoung,

Ia hanya memandang jalan yang menurut penglihatannya hanyalah jalan lurus.

Changmin lantas memulai akal busuknya.

“Tenangkan dirimu.”

Sooyoung menoleh. Menatap Changmin datar, kemudian mengangguk kecil.

“Ini.”

Changmin mengambil satu botol minuman —yang entah apa— pada Sooyoung dari jok belakang.

“Apa?” Tanya Sooyoung.

“Minum saja.”

Sooyoung polos yang tak tahu apa-apa lantas menuruti perintah Changmin.

Setiap tegukan yang ia telan, semakin ia merasa melayang.

Tenang.

Tenang.

Tenang.

Choi Sooyoung, kau berhasil dikibuli oleh mantanmu sendiri.

Alih-alih dalam kesempatan besar, Changmin memanfaatkan ini.

Bukan tentang permainan intim. Tapi tanda tangan kontrak.

“Biar seluruh dunia tahu.”

Changmin menyuruh Sooyoung menandatangani kontrak kerja dengan majalah dewasa yang terkenal diseluruh dunia.

Karena Sooyoung tidak sedang dalam keadaan sadar, maka Sooyoung menurutinya. Ia menandatangani kontraknya.

Sehingga saat tiba waktunya, mau tidak mau Sooyoung melakukannya.

Melakukan setiap pose yang tidak ia ingin lakukan.

Dan sialnya, pemotretan kala itu ia tidak sendiri.

Ia dikelilingi oleh banyak pria.

Dia baru berpikir.

Ini benar-benar drama hidupku.

Mau bagaimana lagi?

Kontrak sudah ditandatangani.

Kalian tahu bukan? Pertanggungjawaban apa yang akan diterima seorang model jika mereka melanggar kontraknya?

Meja hijau sampai jeruji besi akan menanti.

Sooyoung tidak menginginkan itu. Terlebih lagi mau ditaruh dimana wajahnya kalau berita ini terdengar sampai ke telinga keluarganya?

Ibunya?

Ibu Luhan?

Ayah Luhan?

Luhan sendiri?

Sooyoung bodoh!

Tapi ia masih beruntung.

Kontrak itu hanya satu malam plus satu malam untuk Changmin.

Sial!

Flashback OFF

Masih dengan pose backhug, aku mengayun pergerakan kami sesuai irama cinta.

Cinta?

“Aku mencintaimu, Sooyoung.”

Sooyoung tersenyum sambil menunduk. “Aku tidak tahu harus berkata apalagi. Kau terlalu baik. Keluargamu juga. Aku sangat berterimakasih.”

Aku mengangguk. “Akan kutahan peredaran majalah edisi bulan ini. Juga akan kutarik kembali setiap majalah yang sudah terjual. Tak peduli berapa uang yang harus kukeluarkan, yang penting jangan sampai kau merasa bersalah lagi. Anggap saja kau tidak pernah melakukannya.”

Sooyoung menceloskan kepalanya sampai mendongak sambil meliriku. “Kau malaikat.”

Aku menarik napas. “Bukan.”

Entah apa yang membuatku spontan untuk mengatakan bukan.

Mungkin ini karena otak liarku yang mulai terkontaminasi aroma tubuh Sooyoung.

Melihat caranya melihatku sangat lucu sekali.

Aku dapat melihat jelas bibir pink nya.

Pasti manis.

Astaga! Apa yang aku pikirkan?

Aku melemahkan pandanganku. Yang ada justru aku melihat leher panjangnya.

Ganas.

Cukup!

Kumohon!

Pertahananku benar benar runtuh sekarang.

“Mungkin tidak pernah ada malam pertama pada hubungan kita. Tapi bagaimana jika kita membuat pagi pertama?”

Astaga Luhan! Pikiran kotormu ini!

Sooyoung pasti akan sangat marah.

Astaga! Astaga!

Respon yang sungguh luar biasa.

Dia mengangguk kecil dan berlari kecil menjauhiku.

Sreekk.

Gordeng tertutup rapat.

Sooyoung, kau benar-benar!

Epilog

“Bagaimana dengan warna merah?”

“Saat kita melakukan’nya’, kau lupa?”

“Warna putih?”

“Um.. Saat aku bertahan kala kau pergi.”

“Abu-abu, abu-abu?”

“Kau menggantungku! Aku kira kau tidak mencintaiku.”

“Ayolah jangan marah padaku lagi ya? Sekarang coba warna biru.”

“Biru bisa berarti rindu, bisa juga kesedihan. Kita sudah melewatinya bukan?”

“Kalau hitam?”

“Walaupun kita menyukai warna hitam, tapi aku tak pernah berharap akan hadirnya warna hitam dalam kisah kita.”

“Aku berharap begitu.”

“Aku mencintaimu.”

“Aku juga.”

END

Entah kenapa aku make bahasa yang ringan di ff ini. Mungkin karena aku gatau gimana cara make bahasa dewasa yang cocok buat marriage-life ._.v

tapi gapapa kan ya?

Setidaknya aku sudah berusaha ^0^

Oh ya! Sebenernya ni ff enaknya di post pas malam tahun baru. Tapi karna aku ada agenda di malam itu(?) jadi aku pikir bakal lebih baik kalo di post sekarang 😀

Dan aku berharap kalian dapat menghargai usahaku dengan mengisi kolom komentar dibawah ini ^^

LOVE,
HIKA

Advertisements

47 thoughts on “Red, White, Gray and Blue”

  1. Bagus eon 😉 Gak papa cover jelek, kan yang dibaca FF-nya bukan cover-nya #kenapa bahas cover ya?# Oya, eon, untung eon skip bagian ‘itu’-nya -_- Jadi bebas buat anak bocah kayak aku 😀 Keep writing!!! GANBATTE!!!

    1. sebenernya aku gayakin kalo itu bisa disebut cover atau ga -_- tapi seengganya bisa jadi ilusrtasi dari fic nya hihi 😀
      iyaa aku pun gaberani *atau lebih tepatnya gabisa* nulis bagian ‘itu’ nya 😀
      oke makasih saeng ^^

  2. ada cangsoo momen /ngaco/

    na kan… uda kepengen dari dulu baca sooyoung x lulu yg mariagge life,
    akirnya kesampaian juga xixixi…
    enak banget dibaca, kok tumben basa mu kayak gini?
    walau yg sebelumnya juga bagus,
    tapi yang ini keknya jadi faforitku >,<

  3. Ini yang kedua kalianya baca pair soohan yang genrenya marriage life 😀
    Aku kira sooyoung kepaksa dijodohin ama luhan eh ternyata g
    Is changmin keterlaluan masa sooyoung suruh nandatanganin perjajian kyk gt cihhh g gentle
    Keren ffnya aku makin ketagihan sama soohan heheheh 🙂
    Next ff ditunggu

  4. bingung mau komentar pa :/
    tpi yg jelas aku suka sama ff nya 🙂
    and ini ff Marriage life pertama yg castnya SooHan yg pernah ku baca 🙂

  5. uwaa akhirnya ada juga ff soohan after-marriage life XD
    aku suukaaa banget :3
    gapapa meskipun ga malem taun baru, ff ini berhasil bikin moodku berubah wohoo 😀
    next ff ditunggu 🙂

      1. Aku juga jarang sih nemu ff SooHan —maupun SooEXO— yang Marriage-life. Mungkin karna anak EXO masih pada bocah jadi author juga mikirnya bocah(?) -_- *oke abaikan xD

  6. hikss,kirain mereka berdua beneran mau cerai,ternyata engga,yaampun eon,ffnya sedih bgt gt,ternyata sooyoungcinta jg sm luhan,dia cuma butuh pengertian lebih doang dr luhan T_T
    ffnya daebakk eon,ditunggu karya-karya ff lainnya,fighting! 😀

  7. Pingback: ONE-TWO SHOOT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s