Rainy Memory

rainy memory

RAINY MEMORY

Author: Lucky Spazzer

Main Cast: Choi Sooyoung SNSD/Oh Sehun EXO

Genre: Sad, Romance

Length: Oneshoot

Pairing: Sooyoung-Sehun

Disclaimer: Cast-nya milik Tuhan yang Maha Esa, Keluarga, dan SM. Sedangkan, aku hanya memiliki alur.

Author Note: Hello, sorry for the bad poster. Aku gak jago, apalagi gak punya P. Shop, aku hanya punya P. Scape, kalau request, aku malas soalnya pasti lama banget. Apalagi, kalau si artworker-nya lama banget nerimanya, ya sudah buat aja sendiri ^^

HAPPY READING

Mengapa ini harus terjadi pada saat hujan?

Author POV

Choi Sooyoung adalah gadis paling terkenal dengan senyum dan rasa periangnya, jarang ia merasa kesal dan marah. Tapi, bila ia marah sangat menyeramkan. Sangat kudu untuk tidak membuat seorang Choi Sooyoung marah dan mengamuk, semua orang sangat takut. Pertama kali gadis itu marah disekolah adalah saat seorang pria menyebalkan yang merupakan sunbae-nya__Cho Kyuhyun menggodanya. Tentu Sooyoung menggangap dirinya bukan wanita murahan dan harga dirinya lebih tinggi dari yang mereka kira, gadis itu marah dan mengamuk. Mengerikan, Kyuhyun saja sampai trauma dan tidak berani masuk sekolah.

Sejak itu, tak ada yang mau membuat gadis itu marah. Kecuali, hujan. Ya, hujan! Gadis itu sangat membenci hujan, hujan seperti adalah kelemahannya. Ia sangat kesal pada hujan, seolah-olah, hujan pernah memaki dirinya. Pokoknya, ia sangat membenci hujan. Ia tak peduli apa kata orang yang kata mereka hujan ada hal positifnya. Sooyoung tak peduli, ia hanya ingin ingat pada hal negatif soal hujan.

Sooyoung adalah gadis bertubuh tinggi, melewati rata-rata yang seharusnya. Rambutnya cokelat dan panjang, kakinya yang ramping dan tubuhnya yang ideal memang selalu menjadi impian banyak wanita. Kalian tak akan mengira bahwa Sooyoung sangat hobi diet, kan? Bila iya, kalian salah total! Sooyoung sangat suka makan! Anehnya, tubuhnya selalu proposional, layaknya model. Ia tak pernah gendut, apakah Sooyoung penderita bulimia? Tidak, Sooyoung sangat terkenal tapi tak punya musuh. Sangat menganehkan karena ke-pribadian Sooyoung adalah sangat easy going. Sooyoung adalah salah satu siswi paling mengesankan disekolah.

Dia sangat jago dalam bidang yang menyusahkan bagi seluruh murid, seantereo dunia mungkin. Yaitu Matematika. Padahal, kita semua harus bisa Matematika karena sampai kita dewasa dan tua bangka pun selalu akan ada Matematika dalam hidup kita. Sooyoung jago bahasa asing. Dia seperti gadis yang terlalu sempurna, terlahir dari keluarga kaya raya dan keluarga yang sepenuhnya sayang pada Sooyoung, ia memang benar-benar gadis bahagia.

*** RAINY MEMORY ***

Pelajaran Songsaenim Kim tak ada bedanya, selalu galak dan membosankan. Tidak terkecuali si gadis sempurna, Sooyoung. Gadis itu tak suka pada pelajaran Songsaenim Kim, tapi anehnya nilainya selalu sempurna. Songsaenim Kim adalah guru Sejarah, dan semua murid sekelas dengannya, 8-B, sangat membenci hal Sejarah. Membosankan. Sooyoung melirik keluar, dia mendesah kebosanan. Rintik-rintik bening itu membasahi kawasan Seoul, dan dapat ia duga kalau ia melupakan payungnya. Semalam drama Prime Minister and I sangat seru sampai-sampai paginya ia nyaris terlambat menuju sekolah. Hingga, payung biru kecilnya ia lupakan. Sampai akhirnya Songsaenim Kim mengusaikan pelajarannya.

“Pelajaran sudah usai, kalian boleh pulang. Dan berhati-hatilah akan hujan,” kata Songsaenim Kim. Sooyoung mendesah lagi, ia tahu bahwa ada halte dan mungkin ia bisa menaiki bus, tapi letak halte terlalu jauh dari sekolah. Ia bisa kehujanan dan tas barunya basah kuyup. Mau apa lagi? Dia sangat sebal, lagi-lagi kesialan selalu berpihak padanya. Hari itu mungkin hari sial-nya.

Sooyoung berjalan keluar, tiba-tiba ada seseorang menepuk bahunya. “Sooyoung noona?” tanya seseorang mengagetkan Sooyoung. Sooyoung menoleh, mendapati seorang pria memandangnya sambil tersenyum. Pria itu tinggi, ia memandang namja yang menepuk bahunya. “Kau tak pakai payung? Halte kan, sangat jauh dari sekolah, noona,” kata namja itu.

“Siapa kau?” tanya Sooyoung. “Payungku tertinggal, dan aku tidak membawa payung, hujan itu memang menyebalkan,” kata Sooyoung. “Coba hari ini tidak hujan, pasti aku bisa berjalan dengan santai menuju halte, tak usah memakai payung. Memakai payung apa tidak, aku juga akan terus kehujanan, mau pakai jas hujan apa tidak, semua sama saja. Aku akan terguyur oleh hujan, baik terkena tetesnya sedikit apa tidak.”

“Hmm…,” kata namja itu. “Aku Oh Sehun, anak 7-A. Coba noona jelaskan, kenapa noona harus meninggalkan payung?” balas pria yang mengaku-aku dirinya bernama Sehun, atau bisa saja itu nama aslinya. Sooyoung agak sebal dengan namja jangkung dihadapannya. Baru kenal saja sudah seperti berteman. Tapi, sikap easy going gadis itu akan rapuh apabila berhadapan dengan hujan, lebih menyebalkan lagi bila ada hujan badai.

“Semalam, aku dan sahabatku, Tiffany, menonton drama Korea terbaru yaitu Prime Minister and I sampai larut malam. Lalu, Tiffany pulang padahal drama itu belum selesai. Aku selesai menonton pukul satu malam, esoknya aku terbangun dan kurasa aku sudah telat, sudah pukul 7:24 yang berarti beberapa menit lagi bel berdering. Sehingga, aku lupa mengambil payungku,” jelas Sooyoung sambil menggerutu.

“Nih, pinjam sama payungku, noona,” kata Sehun sambil menyerahkan payung berwarna biru, kesannya tenang. “Sadarkah bahwa itu bukan salah hujan? Itu salah noona karena noona telah menonton drama larut malam. Bukannya aku sok bijak, tapi itu kenyataanya. Jangan salahkan hujan, bisakah noona ambil sifat positif dari hujan? Bila tak ada hujan, darimana air laut akan bertambah? Bila tak ada hujan, bagaimana dengan petani yang selalu membutuhkan hujan bagi padinya? Bila tak ada hujan, bagaimana cara tumbuhan terus hidup? Bagaimana bila air laut habis dan hujan tidak ada?”

Sooyoung terdiam, kaku. Ia butuh waktu yang lama untuk mencerna kata hoobae-nya yang satu ini, ia merasa konyol. Sunbae mana yang lebih ‘bodoh’ daripada hoobae-nya? Mungkin hanya dia, yang paling bodoh. Sehun menghela nafas, ia tahu bahwa ia sok bijak dihadapan Sooyoung. Tapi, apakah itu salah hujan? “Noona,” kata Sehun.

“Bisakah …, kita menjadi, teman?” tanya Sooyoung. Lalu, gadis itu menutup mulutnya. Ia menyadari kebodohannya, ia merutuki dirinya yang kadang-kadang tak bisa berkata-kata. Sehun hanya mengulum senyum. “Diam apakah berarti iya?”

“Ya, noona,” balas Sehun bergumam sedikit. “Bisakah kita pulang?” tanya Sehun. Sooyoung mengganguk sembari tersenyum masam. “Panggil saja aku tanpa embel-embel seperti itu,” kata Sooyoung, lalu berjalan menuju halte.

Dia tersenyum menanggapi bus yang ia tunggu sudah datang. “Sehun-aah!!” Sehun tersenyum. Ia sudah bisa membuat Sooyoung menyukai hujan.

*** RAINY MEMORY ***

Sooyoung POV

Aku berjalan sambil menenteng tasku, besok adalah 25 Desember. Itu berarti, natal akan tiba dan aku belum tahu harus bagaimana. Aku masih menimang-nimang kertas kado bergambar dua orang, yeoja-namja. Aku teringat pada Sehun, ah. Persahabatan kami terjalin sudah cukup lama, aku merindukannya. Eh? Merindukannya? Aku selalu berharap lebih. Aku berharap aku dan juga Sehun lebih dari hanya sekadar sahabat. Tapi, itu hanya dalam alam bawah sadarku. Kalian harus melihat bagaimana sosok Sehun. Sosok yang agak dingin, tapi punya segudang bakat dalam melakukan aegyo. Sungguh, aku ingin Sehun melakukan aegyo terbaiknya.

Hanya bagiku, hanya bagiku. Bukan bagi orang lain, bukan bagi penggemarnya, bukan bagi teman prianya, bukan bagi sahabat prianya. Hanya bagiku. Tanpa sadar, aku meraih telepon. Lalu kupijat tombol-tombol itu sehingga ada orang yang membalas teleponku.“Yeoboseyo?” tanya seseorang itu. Ya ampun, aku menepuk dahi, mengapa aku begitu bodoh sehingga menelpon Sehun?

“S…, S…, Sehun..,” kataku terbata-bata. “Natal besok, aku akan ke rumahmu, ya,” kataku. Aku menepuk dahi menyadari perkataanku dan langsung memutuskan hubungan teleponku dengan telepon keluarga Oh.

Lalu, aku berlari menuju kamar dan menangkupkan wajah dibalik bantal, sungguh. Bila aku sedang jatuh cinta, begini hasilnya. Malu pada orang itu dan bisa saja melakukan hal dibawah alam sadarku ke orang yang aku suka. “Dasar Choi Sooyoung bodoh,” bisikku dan langsung menepuk dahi.

Oh, kalau begini caranya aku tetap bodoh karena menepuk otakku. Aku langsung merutuk dan pergi menuju ruang musik, satu-satunya ruangan yang aku suka. Sebuah biola kumainkan, dengan nada asal. Bila sedang malu, gugup, atau kesal pada diriku sendiri, aku melakukan hal ini.

Bermain biola tapi tak tahu apa yang akan kumainkan. Kugesekkan asal biola-ku pada senar-senar-nya. Dan pada akhirnya membentuk nada yang, ah. Tidak bisa kudeskripsikan, sangat buruk. Seperti orang yang baru belajar main biola atau seperti bayi yang bermain biola. Sangat buruk.

Aku menghela nafas, aku mengambil langkah menuju kamar. Kupandangi rambutku yang kemarin baru kugunting pendek dan agak ikal, seperti dulu. Berwarna cokelat gelap tapi memberi kesan glamor-nya tersendiri. Tentu saja bagiku. Aku mengobrak-abrik lemariku, merombak pakaian dan akhirnya sempurna. Kaus putih bergambar hati abu-abu, jaket merah polkadot putih, celana abu-abu gelap, kaus kaki hijau kebiruan selutut dan sepatu cokelat bergaya kuno. Tak lupa, topi hijau kesayanganku kupakai. Gayaku sudah menyerupai yang kuinginkan.

Dengan segara aku mengambil uangku dan berlari menuju kawasan Seoul. Dikawasan Seoul, semua toko sangat dipadati. Mulai dari toko baju hingga toko hadiah. Yang jelas, aku tanpa alasan menapak menuju My Gift Shop, lalu aku memandang perlahan setiap raknya, aku tidak tahu apa yang Sehun suka. Tapi, aku memilih dua benda yang dimungkinkan cocok untuk Sehun. Kaus biru garis-garis putih dan juga celana biru gelap. Aku membelinya dan segera membeli alat bordir. Dikamar, aku berusaha belajar membordir tulisan ‘OH SEHUN’ dikausnya. Mungkin ia akan suka. Lalu, kubungkus dengan bentuk baju dengan kertas kado merah bergambar rusa yang imut, lalu aku menulis sesuatu disebuah kertas. Yang jelas, aku agak pahit saat menulis ‘Choi Sooyoung, your BFF’. Mengapa tak kutulis saja ‘your yeojachingu’? Tapi, aku akan menggangap diriku terlalu percaya diri. Bagaimana jika Sehun sudah punya pacar? Aku akan menjadi ‘pusat’ permasalahan antara Sehun-Yeojachingu-nya. Aku menghela nafas, setidaknya, natal ini akan lebih baik daripada tahun lalu…. Kuharap…

*** RAINY MEMORY ***

Author POV

Sooyoung mendesah mendapati kristal bening itu membasahi pagi Natal, kado-nya ia lindungi dengan plastik transparan. Ia resah karena hujan terus mengguyurnya. Kenapa hujan harus datang pada detik-detik yan tidak tepat? Kenapa bukan pada esok hari saja? Benar-benar menyebalkan, tapi Sooyoung tak peduli. Ia sudah mulai menyukai hujan, tidak membencinya lagi. Setidaknya, ia harus mencoba menyukai hujan. Hujan mungkin tidak selama-lamanya harus menjadi hal negatif seperti pikirannya. Ia harus memikirkan hal positif yang mungkin lebih banyak menguntungkan banyak pihak. Sooyoung menghela nafas panjang. Tok..tok.., seorang pria menatapnya sambil tersenyum, pria itu adalah Oh Sehun.

“Sehun? Kau tinggal sendiri?” tanya Sooyoung sambil memasuki rumah pria itu. Rumah yang nyaman dan hangat. Perapian masih menyala dengan api berkobar-kobar, pohon natal menjulang tinggi didekorasi dengan banyak ornamen, kado-kado terkumpul dibawahnya. Sooyoung menghirup sebuah aroma, aroma kue jahe.

“Yah, sebenarnya tidak. Appa dan Eomma sedang pergi menuju rumah temannya yang jauh, padahal aku ingin mereka disini,” desah Sehun. “Taruh saja kado-mu disitu, kau ingin bermain sebentar tidak?” tanya Sehun. Sooyoung menaruh kadonya dan menatap Sehun dengan mata berbinar-binar, entah karna dipantulkan cahaya lampu yang menderang secapa sempurna atau memang matanya berbinar-binar?

“Bermain? Ayo!” balas Sooyoung. “Bagaimana kita perang salju? Atau membuat manusia salju?” usul Sooyoung. Ia sangat suka musim dingin yang tiba pada natal, kata orang, sifat childish Sooyoung akan kembali hidup pada musim dingin. Terbukti sekali oleh ucapan yang baru saja ia lontarkan tadi.

“Pelan-pelan,” kata Sehun. Ia melirik tangan Sooyoung, sarung tangan sudah ada. “Baiklah, perang salju akan dimulai,” seringai Sehun memandang Sooyoung yang bergidik ngeri. Tatapan gadis itu benar-benar imut.

“Jangan mengeluarkan smirk! Itu mengerikan! Smirk-mu menghilangkan mood-ku untuk bermain perang salju kau tahu?” balas Sooyoung sambil melirik Sehun yang memandangnya datar. Lalu, ia segera berlari menuju halaman sebelah dikediaman keluarga Oh.

Sehun hanya memandang sahabatnya, apakah dia berharap lebih? Sama seperti, Sooyoung? Sooyoung.. Aku ingin sekali menjadikan kau pacarku, batin Sehun.

*** RAINY MEMORY ***

Sehun POV Aku menatap semua hadiah natalku, aku melirik sebuah kado. Kado dari sahabatku, Sooyoung. Aku penasaran pada isinya. Apa ia membuatkanku kue gosong lagi seperti saat aku menang lomba olimpiade IPA? Jelas tidak karena mana mungkin tega-teganya ia membuat kue gosong pada hari yang indah ini. Aku membukanya, baju berbodiran namaku yang hurufnya tidak beraturan. Kuakui bordiran itu bukan bordiran profesional, dan jelas murni dari tangan sahabatku walau tak tahu kepastiannya. Aku menatap sebuah celana, celana impianku! Aku sudah lama ingin celana itu, apa karena Kris hyung yang membuatku iri pada celana bagusnya?

“Sooyoung …., sebenarnya aku ingin cintamu sebagai kado natalku,” kataku, lirih. Aku hanya memandang kosong. Aku tahu, seharusnya aku menyatakan betapa sukanya aku padanya, betapa sayang aku padanya. Tak heran mereka menyebutku Smart and Stupid, mungkin bodoh pada masalah gugup karena cinta? Ah, besok aku harus mengatakan padanya, kata itu.

*** RAINY MEMORY ***

Author POV

Sooyoung menaiki ayunan itu, ia dorong perlahan lalu ayunan itu terhempas ke udara, mengayun perlahan tubuh rampingnya. Kakinya mengayun mengikuti ayunan itu mengayun dirinya, ia tersenyum membiarkan angin membelai rambutnya. Sooyoung akui, ia suka dihalaman rumahnya, halaman rumahnya ada sebuah ayunan. Ayunan itu yang membuatnya selalu refleks setelah biola. Dia sangat menyukai bagaimana cara ayunan itu merasakannya berada dalam belaian seorang ibu.

Sooyoung sudah tidak beribu sejak 7 tahun, memang ia punya banyak memori yang masih tersimpan. Tapi, bukankah kehilangan eomma sangat menyakitkan? Eomma-nya terkena leukimia, kanker darah. Sooyoung yang belum mengerti apa itu penyakit hanya diam saat Appa-nya menangisi eomma-nya. Appa yang kini menggantikan posisi eomma-nya, appa sangat sayang pada Sooyoung. Appa tidak pernah menikah lagi saking cintanya pada eomma, appa adalah pekerja keras semenjak Eomma Sooyoung sudah tiada. Appa Sooyoung jarang berada dirumahnya, ia hanya dirumah apabila weekend sudah tiba. Tapi natal hari ini, appanya tidak bisa menemani karna ada urusan di Negeri Paman Sam, Amerika.

Sooyoung beruntung tidak punya appa yang kasar seperti yang ia tonton dalam drama. Biasanya, appa-appa itu kasar dan menjadi pemabuk dan peminum alkohol. Tapi ia beruntung, appa-nya tak seburuk itu. Ia bersyukur mempunyai appa yang baik dan mencintainya. Dulu, appa-nya sangat over protective pada dirinya saking tidak ingin Sooyoung terkena penyakit yang mengerikan seperti eomma-nya. Sooyoung ingin segera mempunyai namja agar ia bisa ditemani, bukan sebegai pelampiasan karena appa-nya. Ia merasa dunia-nya hening dan sepi, ia ingin ada ‘seseorang’ yang lebih dari sekadar hubungan teman dan sahabat, lebih jauh dan jauh. Sooyoung akhirnya memejamkan mata, membiarkan angin dingin menemaninya.

*** RAINY MEMORY ***

Author POV Sooyoung memandang pesan di layar handphone Samsung miliknya, jelas-jelas pesan sebuah pria dengan nama Oh Sehun terpampang. Ia tersenyum sedikit membaca pesan tersebut.

From: Sehunnie Hei, shiksin! Apakah beratmu sudah naik diatas rata-rata? Kekekekeke…, tentu saja aku bercanda, mana mungkin aku serius? Oya, bisakah kau menemuiku? Ditaman sekolah hari ini? Pukul 15:42, aku tunggu, ya… Atau mungkin kau yang menungguku? Salam manis, Sehun.

To: Sehunnie Hei, pria dingin jago aegyo! Apa kabar, huh? Baik, kan? Tentu saja berat badanku tidak naik, mana bisa menaiki dalam sekali makan? Bercanda saja, itu gila. Tentu saja perlu proses. Menemuiku? Apa kadoku buruk bagimu? Hei, hari ini aku belum melihatmu darimana saja kau? Apa kau menghindariku, HunHun? Salam manis, Sooyoungie.

Sooyoung memasukan handphone itu ke dalam tas. Sebenarnya kenyataan apabila Sehun belum bertemu dengan sahabatnya itu, padahal Sooyoung sudah mencak-mencak mencari sosok sahabatnya itu. Tapi pikirannya kelewatan, mana mungkin Sehun menghindarinya? Bila iya, gadis itu butuh penjelasan yang panjang. Sepanjang tingginya Namsan Tower. Ditaman, seorang pria berkaus biru sedang asyik memainkan handphone miliknya, entah yang pria itu lakukan tapi Sooyoung menduga itu Sehun. Benar saja, Sooyoung terharu bahwa Sehun mau memakai kaus yang ia beli dengan bordiran kelas bawah miliknya. Ia tersenyum sedikit pada pria itu, tulisan OH SEHUN terpampang dengan sempurna.“Annyeong, Sehunnie…”

“Ah, Sooyoung!” seru Sehun senang. “Sebenarnya aku tak menghindarimu, lihat kaus ini, bagus bukan? Surprise! Aku memberikan kejutan, bila aku menampakan aku, berarti bukan kejutan bukan?” balas Sehun bercanda, ia tergelak. Sooyoung tersenyum.

“Hei, bodoh. Lalu kau hanya mau menunjukkan itu? Adakah hal lain? Kau menyita waktu makan-makanku. Dan itu perlu bayaran,” kata Sooyoung mendengus, tangan ia lipat didada. Lalu ia mem-pout-kan bibirnya. Hahahaha, aegyo gagal itu tidak buruk. Lumayan imut malah.

“Soo,” kata Sehun tergagap. “Sebenarnya aku sudah lama memendam perasaan ini padamu, tapi …, ya, tapi..,” Sehun terdiam. Sedangkan Sooyoung mulai mengulum senyumnya, senyum terbaik yang ia tunjukkan. “Wo ai ni!” teriaknya dan langsung ngacir dari hadapan Sooyoung.

“Eh?” tanya Sooyoung bingung. “Hunnie!! Kamu ngomong bahasa Neptunus, ya?!” Sooyoung menggaruk kepalanya. Ia heran menanggapi Sehun, baginya itu seperti perkataan ‘asing’, kali ini ia menyerah karena ia tak tahu bahasa Neptunus.

“Aku tanya Baekhyun saja,” gumam Sooyoung dan langsung beranjak menuju kelas Baekhyun, teman sahabatnya yang jahil dan bandel. Saat menemukan Baekhyun, ia langsung bertanya.

“Baek, wo ai ni itu apa? Bahasa Neptunus?” tanya Sooyoung, dengan polosnya.

“Bahasa Cina …,” gumam Baekhyun, “tanya saja sama Luhan hyung!” Sooyoung mendengus, darimana Sehun bisa bahasa Cina? Setahunya, Sehun payah banget kalau disuruh ngomong bahasa Cina.

Tapi sekarang? Sehun lancar berbicara, Sooyoung menjulingkan bola matanya dan beranjak menuju kelas Luhan, “Bye, Bacon!”

Shit, aku membenci nama itu,” geram Baekhyun dan langsung pergi. Sooyoung nyengir saja saat mendengar ucapan pelan Baekhyun. Dia benar-benar tidak mengerti mengapa Sehun dengan sok-sok-an mau bicara bahasa Cina, mengapa bukan bahasa Jepang atau bahasa Korea saja, sih?

Sooyoung langsung menuju meja Luhan yang berbicara dengan Kris serta Tao. “Lulu! Wo ai ni itu artinya apa?” tanya Sooyoung polos. Luhan melotot pada Sooyoung, kaget. Yang ditatapnya malah ketawa-ketiwi gak jelas. “Matamu kayak kodok!”  ejeknya.

“Siapa yang ngomong kayak gitu ke Sooyoung noona?” tanya Luhan. Ia langsung memandang kedua temannya, Tao dan Kris seolah berkata kamu-yang-ngomong-gitu-?.

“Sehun, sudah Lulu! Jangan banyak tanya, buruan,” renggek Sooyoung.

“Saranghae…,” balas Luhan membuat Sooyoung tertawa lepas. “Eh, aku gak ngomong saranghae ke noona, babo! Wo ai ni artinya SARANGHAE,” kata Luhan penuh penekan pada kata menyebutkan saranghae.

“Eh?” kata Sooyoung. “Gomawo, Ludeer!” kata Sooyoung dan berlari. Ia tersenyum, Sehun juga mengerti perasaanya. Selama ini…

*** RAINY MEMORY ***

Sooyoung POV

Kucari pria itu, hah… Dimana pria yang menyukai ku itu? Aku berjalan mencak-mencak, aku bingung kemana pria yang selaku hoobae-ku tersebut. Aku mengacak-acak rambut, frustasi. Pasti kalau kalian melirikku, aku bagaikan singa yang siap mengaum. Aku berjalan lari menuju loker dekat kolam renang, firasatku mengatakan, Sehun ada disana. Dan, firasatku selalu benar sedangkan otakku selalu salah. Aku menemukan Sehun sedang mengacak-acak rambutnya, lebih mirip singa daripada gaya rambutku tadi.

“Sehun?” tanyaku, halus. Dia memandangku, dia mendesah. Hei, apa yang si bodoh itu pikirkan, huh? Sesuatu yang, negatif? Aku menolaknya? Dia memang selalu berpikir negatif bila ia sudah menyatakan sesuatu. “Hei, jangan gugup. Aku tak bilang ‘Sehun, ah. Kau kira aku menyukaimu, hah, bodoh? Aku tidak menyukaimu! Aku bahkan membencimu! Kau hanya pelampiasanku’, kan? Eh, tunggu, tadi aku baru bilang seperti itu, ya? Tapi tidak serius buatmu.”

“Kau memusingkan,” decak Sehun sambil menggerutu. Aku tersenyum hambar.“Bilang saja, aku menerima saja bila kau mengatakan hal itu, untuk kedua kalinya. Pokoknya, aku siap pada penolakan.”

“Kau terlalu percaya diri,” sindirku. Percaya diri bahwa aku menolaknya. “Tentu saja jawabanku bukan sebuah penolakkan, nado saranghae.” Aku tersenyum penuh kemenangan padanya, menang bahwa aku sudah merebut hati Oh Sehun. Sehun hanya menganga, sumpah. Tatapannya seperti orang bodoh. Kuakui itu! “Hei, jangan menganga atau kumasukkan cicak pada mulutmu.”

“Eh, eh, iya,” balas Sehun sambil tersenyum. “Kau menyebalkan sekali, aku lebih suka kau bersikap manis seperti putri saat kita menjadi sahabat, saat menjadi yeoja-ku kau malah bertingkah sembrono.”

“Hei, aku normal,” kataku. “Darimana kau belajar bahasa Cina? Aku lebih suka kau bilang hal itu dengan bahasa Inggris atau tidak Korea. Kau memusingkan saja!”

“Tentu saja belajar dari Luhan hyung!” balas Sehun bersemangat. “Jadi, apa kau mau ke bioskop atau pergi menonton drama baru?” tanya pria itu. Aku menggeleng membuatnya lemah tak berdaya. “Kencan?”

“Aku tak mau menatap layar bioskop. Sia-sia saja, aku lebih suka kita saling memandang,” aku tersenyum manis pada Sehun. Sehun melongo lagi, lalu ia tertawa. “Eh? Salah, ya?” tanyaku kikuk, aku benar-benar merasa kikuk sekarang.

“Harusnya aku yang menggombalimu, bukan kau yang menggombaliku,” tawa Sehun membuatku sebal. “Jangan memukulku, hahaha,” tawa Sehun.

“Yak, menyebalkan,” kataku, dasar namja itu! “Ka…,” omonganku terputus karena sebuah benda menimpa bibirku. Aku membelakakan mataku melihat dia. Dia mengecup bibirku, tulus dan lembut. Aku langsung menjitak kepalanya.

“YAK! Appo…,” ringgisnya.

“Dasar pervert! Mesum! Menyebalkan!” kataku.

“Biarin!” kata Sehun. Aku tersenyum, aku teringat pada impianku.

“Sehun, lakukan aegyo terbaikmu, dong! Hanya untuk diriku, bukan yeoja lain,” renggekku berharap. Sehun tergelak dan langsung menunjukan aegyo-nya yang sangat imut. “Hei, kau sudah bisa berhenti.”

“Aku tahu itu,” balas Sehun datar. “Jadi, kau mau apa hari ini?”

“Hari ini, ya …,” gumamku. “Tidak ada, aku ada tugas dari Songsaenim Ryuu, bagaimana kita kencan seusai aku tak ada jadwal? Jadwalku padat untuk beberapa hari. Mianhae Sehun-yaa.. Aku benar-benar menyesal.”

“Oh, tak apa-apa. Jangan bertingkah seolah-olah ini terakhir kali kau hidup,” tawanya. Aku tersenyum.

*** RAINY MEMORY ***

Sooyoung POV

Aku menggerutu, hujan badai. Sebenarnya aku menyukai hujan__terkecuali hujan badai, hujan itu bisa membuat kaca mobil appa menjadi blur, dan yang aku takutkan, suka terjadi kecelakaan dimana-mana. Aku sangat membenci kecelakaan, apalagi sahabat terdahuluku meninggal akibat hujan badai. Ia ditabrak oleh sebuah mobil yang saat itu mesin untuk mengelap kacanya tidak berfungsi sempurna, aku membenci sekali hujan badai.

Aku memandang teleponku, harusnya sekarang pria itu__Sehun, menelponku untuk kencan. Tapi sepertinya les Bahasa Jepang-nya masih agak lama. Sehun memang mengikuti les Bahasa Jepang karena eomma-nya ingin ia kuliah di Jepang. Aku mendukungnya, asal ia tak melupakanku. Aku mendesah, ia belum menelpon.

O ya, sebenarnya hujan badai tidak membawa kesialan bagiku, hanya beberapa jam yang lalu. Appa libur dan aku sangat senang, itu berarti aku bisa bersama appa. Appa bilang, ia sangat suka aku sudah punya pacar.

“Choi Sooyoung! Kau masih menunggu telepon Sehun?” tanya appa diambang pintu. Jas kerjanya sudah diganti dengan baju sehari-hari. “Ya, appa. Dia belum menelponku,” balasku risih. Firasatku mengatakan, sesuatu yang buruk akan menimpaku.

Entahlah, menimpa siapa aku tidak peduli. Yang penting Sehun menelponku, setidaknya satu kata ia lontarkan bagiku! “Appa makan saja dahulu, nanti aku ikut ..,” lirihku, appa tersenyum dan mengganguk. Gomawo Appa, appa memang mengerti aku.

Teet…, teet… Teleponku bergetar, aku tersenyum. Dilayar terpampang tulisan ‘OH SEHUN’, aku mengangkatnya. “Yeoboseyo, Sehun?” tanyaku tersenyum. Tapi saat itu hanya terdengar teriakan, apa yang terjadi?

“Ini, Choi Sooyoung bukan? Yeoja-nya Sehun?” tanya seseorang. Aku mengenali suara itu, suara eomma Sehun. Aku pernah menemuinya, setelah Sehun menyatakan perasaanya padaku.

“Ne, nyonya Oh. Ada apa, ya?” tanyaku.

“Sehun …, Sehun…,” kata Ny. Oh. Sudah kuduga, sesuatu yang buruk menimpanya. “Dia, sudah kembali pada Tuhan, Sooyoung … Saat ia pulang, ia menyebrang, tapi sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya…” Aku tertekan, benar-benar buruk berita yang aku dengar.

“Terimakasih pemberitahuannya, aku akan kesana. Secepat yang aku bisa, Nyonya Oh,” kataku terisak. Aku segera berlari menuju ruang makan. Appa bertanya padaku, dan tentu aku menjawab jujur. Kata Appa; “Baiklah, tapi jaga dirimu! Semoga Sehun masih bisa diselamatkan.” Aku tersenyum saja dan langsung berangkat menuju rumah Sehun.

Dirumah Sehun, tampak Nyonya Oh tersenyum getir padaku. “Sehun ada dirumah sakit, nak, maaf lupa memberi tahumu. Rumah sakit Seoul, kamar nomor 201,” kata Nyonya Oh. Aku hanya membalas dengan anggukan dan langsung berlari. Sungguh, kesialan ini terjadi pada musim hujan. Kini, aku menjadikan hujan badai adalah musuhku. Musuh terabadiku.

Dirumah sakit, aku menuju ruang 201. Seperti yang dikatan Nyonya Oh. Aku langsung berlari, disitu ada teman-teman Sehun lainnya. Kris, Tao, Suho, Baekhyun, Chanyeol, Luhan, dan teman-teman lainnya. Aku merasa lemah bila harus berurusan dengan cinta, aku terbujur kaku sekarang, lemah dan tak berdaya. Aku memeluk kakiku, dan membiarkan celanaku menjadi korban isakan tangis. Sehun …, mengapa kau harus pergi?

“Sehun …, apakah ia benar-benar tak bisa menjadi pendamping hidupku lagi?” isakku perlahan. Baekhyun, hanya tersenyum getir padaku.

“Ia benar-benar kehabisan darah, stok darah yang dimiliki Sehun sudah menipis karena kemarin ada yang lebih parah dari Sehun,” kata Baekhyun lirih. Aku menangis, meraung-raung. Aku tak mau menerima kenyataan! “Sehun berpesan padaku, kau jangan membenci hujan, hujan bukan musuhmu seaslinya. Itu takdirnya, itu salah sang pengemudi. Salahkan mesinnya, salahkan pembuatnya. Jangan salahkan hujan,” kata Baekhyun. “Aku tak mengerti,” isakku perlahan.

“Mengapa aku harus menerimanya? Aku gadis baik-baik saja, aku tak mengerti.”

“Carilah pria lain, aku tahu kau susah mengerti. Tapi, mencobalah menerimanya. Sehun akan tenang bila kau menerima kepergiannya, damai dan tulus,” kata Baekhyun. Aku mengganguk, aku berjanji. Tak akan menyalahkan hujan. Hujan hanyalah setetes air, hanya benda tak bersalah. Aku tak boleh menyalahkannya. Aku tersenyum, hei Sehun. Apakah dialam sana kau tersenyum?

THE END

Typo bertebaran atau alur kurang dimengerti? Maaf, ya…. Efek gak mau diulang lagi aktif, dont forget to like and comment! I HATE SIDERS!! Thankyou yang udah mau jadi good readers. Big hug for you, with love XOXO

16 thoughts on “Rainy Memory

  1. AULIAsookai December 25, 2013 / 8:29 PM

    ya tuhan~ tadinya aku kira akan bahagia,eh ternyata:/ #hmmm sad ending

    • luckyspazzer December 25, 2013 / 9:19 PM

      Hahaha …, ketipu !!! #malahngakak# Terimakasih udah komentar😉

  2. gojil. December 25, 2013 / 10:26 PM

    Kok aku ngakak? Aneh ya….. Tapi sad juga author, bagus…

    • luckyspazzer December 26, 2013 / 10:30 AM

      Ngakak pas bagian mananya??? Thanks udah comment😉

  3. allaboutkyuyoung December 26, 2013 / 1:13 AM

    Omona… Kaget aku. Sad ending😥 tapi bagus kok. Daebakk! Ditunggu epeep yang lain^^

    • luckyspazzer December 26, 2013 / 10:32 AM

      Okay, terimakasih ya udah mau komentar ^^ Kaget ya sad ending? Hahahaha, terus mau gimana lagi? Kepikirannya udah kayak gitu kok😀

  4. shin hyun young December 26, 2013 / 11:27 AM

    Sad ending ternyata, sabar ya soo nanti juga pasti ketemu lagi sma penggantinya sehun..

  5. yeni swisty December 26, 2013 / 1:04 PM

    T____T kenapa sad ending T____T

    • luckyspazzer December 26, 2013 / 1:20 PM

      itu kehendak sang author😀

  6. winterchan December 27, 2013 / 1:30 PM

    kenapa sad ending ㅠㅠ
    duh sehun ㅠㅠ

  7. hananhee December 27, 2013 / 7:46 PM

    Sad ending :((

    Gila, keren bget! jangan salahin aku kalo nangis sendiri TT
    Posternya tetep keliatan kece kok *sorry,salah fokus*

    Tetep berkarya!^^

  8. thelittleshikshin December 28, 2013 / 9:56 AM

    astaga…… aku kira happy ending:”) sooyoung sabar yaaaa huhu bagus, feelnya dapet:”)

  9. SooYoung~ December 31, 2013 / 4:16 PM

    Sad ending😦
    bagus thor ..

  10. SYLove March 30, 2015 / 10:47 PM

    Kirain Happy End, ga taunya Sad End..

    Moment SooHun so sweet, lucu, etc.
    Semua karena hujan. Nyesek juga.

    Bacon manly ciee.
    Luhan ama Sooyoung kocak! Ngakak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s