Neverland [Part 1]

neverland

Neverland

Staring by Choi Sooyoung | Kris Wu | Other

With Felling Angst | Sad | Friendship | Little humor | Other

Ratted to PG

As Long as Serries

Storyline © hananhee and Poster © Borayoung

Don’t be Silent reader, Don’t be Plagiat

 Warning : Typo Everywhere, Other post in here

“Dan aku baru menyadari bahwa sesungguhnya keindahan Neverland hanya ada di dalam angan, di dalam harap, dan hanya ada di dalam ilusi.” –Choi Sooyoung

Happy Reading, and leave your comment.

.

Hananhee Present

.

 

Kesepuluh jari lentiknyanya masih betah menari pada tombol keyboard laptopnya. Jam dindingnya menunjukan pukul 10:15 pm.

Malam.

Ya,ini sudah larut malam untuk seorang wanita karrier sepertinya.

Biasanya jam 9 malam, wanita kerrier seperti dirinya yang lain pasti sudah stand by dengan piyama dan televisi mereka.

Tidak untuk gadis ini. Tidak untuk Choi Sooyoung.

“Eonni,lebih baik kita sudahi dulu untuk malam ini.Kita masih punya hari esok.” Suara gadis yang lain itu kembali terdengar dengan kalimat yang sama pula.

Diliriknya pintu ruang kerjanya. Gadis yang menyumbulkan kepalanya selama lebih dari lima kali itu tak pernah lelah untuk melakukan hal itu setiap Sooyoung pulang terlambat. Meski Ia tahu pada akhirnya hasilnya pasti akan sama. Sooyoung terkekeh melihat gadis itu.

“Kau lelah?” Tanya Sooyoung. Sebenarnya dilihat dari air mukanya saja orang lain akan mengatakan gadis itu pasti lelah.

“Pulanglah.Aku tak akan memotong gajimu bulan ini.” Ujar Sooyoung tenang. Gadis itu mendesah. Bukan itu yang Ia harapkan.

“Kalau aku pulang dulu,tak ada orang lain lagi yang akan mengingatkan-mu,eonni.” Jawab gadis itu dengan nada yang sedikit lemas dan penuh penekanan. Sooyoung tersenyum tenang.

“Ada Sehun.” Jawab Sooyoung singkat. Gadis itu kembali mendesah. Ia menyerah kalau Sooyoung sudah menyebut nama itu.

Sehun.

Anggukan kecil kembali di perlihatkan gadis itu sebagai respon akhir.

“Aku pulang dulu. Jaga dirimu.” Ujar gadis itu. Dari pakaiannya tertulis nama ‘Sulli Choi’. Ya,itu namanya. Sooyoung mengangguk.

“Kau juga,jaga dirimu.” Ujar Sooyoung sebelum pintu ruang kerjanya itu tertutup kembali. Sooyoung tersenyum melihat tingkah gadis yang notabenenya sebagai sekretaris pribadinya itu.

Jari lentiknya kembali menekan tombol pada keyboard laptopnya dengan lincah. Matanya mengikuti huruf yang tercetak di layar monitor dan sesekali melirik pada keyboard laptopnya.

Suasana hening itu terasa. Hanya suara mesin laptopnya, suara khas tombol keyboard yang ditekan saat mengetik, juga rintikan hujan yang melengkapi keheningan itu. Teh hangat yang di sediakan di dekat meja kerjanya kini mulai mendingin. Jarum jam terus berputar seakan berotasi pada jam dinding itu. Hawa dingin menusuk begitu terasa. Semua itu tak berarti bagi seorang choi Sooyoung. Ia telah biasa dengan semua ini. Pulang larut, dan hanya hening yang menemaninya.

“Kau terlalu bekerja keras,choi.” Ujar sebuah suara berat khas pria. Di dongakkan kepalanya menghadap asal suara. Senyum mengembang indah menghiasi bibir tipisnya.

“Kau datang?” Tanya Sooyoung dengan cerianya. Pemuda itu tersenyum.

“Kau kira aku akan membiarkan kekasihku bekerja keras sampai tengah malam nanti?” Jawab pemuda itu. Sooyoung mengembangkan senyuman mautnya lebih lebar lagi.

“Kau yang baik dari yang terbaik.” Pemuda itu terkekeh.

“Darimana kau belajar menggoda?”

Sooyoung menghentikan sejenak kegiatannya yang berupa membereskan file-filenya. Ia mendongak kepala menghadap pemuda itu.

“Itu ilmu darimu.” Wajah sok-polosnya terpasang membuat pemuda itu tertawa ringan.

“Kau tak mau mengakui itu,eoh?”

“Kau cukup pandai untuk menyerap ilmu baru,nona Oh.” Jawab pemuda itu di tengah tawa ringangnnya. Sooyoung hanya tersenyum.

“Sejak kapan aku berubah nama menjadi Oh Sooyoung?” Ujar Sooyoung sambil tersenyum yang bisa didefinisikan sebagai senyuman malu.

“Kelak nanti,nona.”

Sooyoung menaikkan sebelah alisnya.

“Kau serius? Kau masih 17 tahun.”

“Dan kau sudah 21 tahun.”

“Jadi maksudmu aku sudah tua begitu?” Ujar Sooyoung dengan nada bicara yang dibuat kesal. Betapa manjanya dia terhadap kekasihnya itu. Ya,pemuda bermarga Oh itu kekasih Sooyoung. Oh Sehun namanya.

“Kau yang mengakuinya.” Jawab Sehun dengan nada menggoda.

“Dan kau tak megelaknya untukku?”

“Karna itu fakta.”

Sooyoung mendengus. Ya, inilah resikonya berpacaran dengan pemuda yang lebih muda.

Dilanjutkannya pekerjaan membereskan file-file pekerjaannya itu dengan kesal. Menata kertas-kertas yang tercetak tulisan yang entah apa isinya, menutup laptopnya, membereskan barang pribadinya, mengambil tasnya, dan terakhir Ia meminum teh yang sama sekali tak bisa disebut hangat.

“Kita jalan hari ini.” Ujar pemuda itu.

“Di luar hujan.”

“Kau kira aku bodoh sampai aku tak bisa mengerti hujan?”

“Lalu?”

“Lalu?? Ya kita gunakan payung!” Jawab Sehun dengan kesal.Sooyoung hanya ber’oh.

“Ayo,cepat.” Ujar Sehun sambil mengambil langkah terlebih dulu.Sooyoung hanya mengekor.

Hanya terdengar derap langkah mereka berdua di sepanjang koridor kantor itu.Ya,memang hanya ada mereka berdua di kawasan ini.Sampai didalam lift-pun mereka masih saja terdiam.

Apa mereka tak merasa risih? Siapa bilang tidak risih.

“Kau makin tinggi,Sehunie.” Ujar Sooyoung memecah keheningan pada detik itu.

“Benarkah? Bahagia mendengarnya.” Jawab Sehun dengan seulas senyum diwajah tampannya. Sooyoung hanya mengernyit dahi bingung melihat repon Sehun.

“Memang kenapa?” Tanya Sooyoung.

“Setidaknya dengan tinggi badanku ini,aku akan serasi saat berdamping denganmu.” Jawab Sehun dengan senyuman bodohnya. Sooyoung hanya terkekeh.

Lagi,Hening.

“Kau membawa payung?” Tanya Sooyoung.

“Aku tak mungkin seceroboh itu sampai-sampai lupa membawa payung saat hujan turun”

Sooyoung tersenyum.

“Walaupun aku tak membawa payung,aku akan tetap memayungiku dengan apapun itu, bahkan mantelku sekalipun aku tak masalah asalkan kau bisa pulang tanpa harus menderita.”

Semburat merah itu terlihat di kedua pipi Sooyoung dengan indahnya. Senyuman itu tak Sooyoung hilangkan.

“Dan sekarang kau sedang menggodaku?” Ujar Sooyoung mencoba memendam perasaan gugupnya.

“Apa aku terlihat seperti sedang menggoda?” Jawab Sehun.

TING…

Lift terbuka menandakan bahwa mereka sudah berada di lantai dasar.

“Kenapa tak kau fikirkan sendiri saja?” Jawab Sooyoung dengan santainya. Segera dilangkahkan 2 kaki jenjangnya keluar lift. Pemuda bernama Sehun itu terkekeh sejenak dan segera menyusul kekasihnya yang telah dulu keluar lift menginggalkannya.

“Bahkan aku sudah bisa menyamai langkahmu.” Goda Sehun.

“Lalu aku harus bagaimana?”

“Nada bicara dinginmu aneh.”

“Benarkah?” Jawab Sooyoung tak percaya.

“Karna sedingin apapun sikapmu,selama cintamu bersamaku itu sama sekali tak mempan untukku.” Ujar Sehun. Sooyoung tertawa.

“Aku menyukai perkataanmu yang barusan.Bisa kau ulangi?”

“Nada bicara dinginmu aneh.”

“Bukan.. Yang satunya.”

“Yang mana?” Tanya Sehun berpura-pura lupa.

“Kau bilang kau tak bodoh, ternyata kau lebih dari itu. Kau idiot.” Dengus Sooyoung kesal.

“Karna ketulusan tak membutuhkan replay,nona Oh.” Jawab Sehun menghanyutkan. Sooyoung tertawa.
“Dari mana kau memelajari kata-kata seperti itu?”  Hanya senyum penuh makna yang yang Sehun berikan pada detik itu.

“Dari lubuk hatiku.” Jawab Sehun. Sooyoung hanya tertawa ringan.

Angin malam nan dingin menusuk itu sudah terasa bagi kedua manusia itu. Dan…

Segh!

Sehun membuka payung yang Ia bawa. Seulas senyuman manisnya Ia perlihatkan pada Sooyoung.

“Kau siap?” Ujar Sehun. Sooyoung terkekeh dan akhirnya mengangguk kecil.

Sehun segera menyodorkan tangan kanannya pada Sooyoung. Dengan ditemani senyuman malu, Sooyoung segara meraih ayunan tangan Sehun.

Mereka segera berjalan beriringan di bawah payung hitam kelam yang dibawa Sehun itu. Dengan air wajah mereka,orang akan mengira kalau mereka adalah pengantin baru. Sungguh manisnya~

“CHOI SOOYOUNG!!” Pekik seseorang yang membuat Sooyoung masuk ke dalam dimensi lain. Dimensi yang tak dapat didefinisikan tapi sering dirasakan. Dan sekarang Sooyoung merasakannya.

Seketika semuanya berbeda. Tak ada malam, tak ada payung, tak ada hujan, tak ada udara dingin, dan…

Tak ada Sehun.

Sooyoung telah kembali ke dalam operanya. Ya,Ia telah kembali kedalam kehidupannya lagi, kini.

“Kau melamun lagi.” Ujar gadis yang membuat Sooyoung sadar. Sadar tentang berharganya sosok itu yang kini tak mungkin ada di sampingnya lagi. Sadar betapa Ia merindukan sosok pemuda tampan yang menghiasi dimensi lamunnya. Sadar akan kebodohannya.

Ya, Ia memang bodoh. Tak seharusnya ia berharap pada orang yang telah mencampakan dirinya, bukan? Ya, memang tak seharusnya.

“Sehun lagi?” Ujar gadis yang lainnya lagi. Sooyoung hanya menundukan kepala merasakan perasaan sesak yang sudah biasa ia rasakan sejak kepergian sosok itu. Sehun.

“Kapan kau mau move on,eoh?” Ujar gadis cantik dihadapannya yang tak lain adalah yang menyadarkannya dari dimensi lamunnya. Stephany Hwang namanya. Sebut saja dia Tiffany. Tiffany si sahabat baik Sooyoung. Sooyoung makin mendalamkan rundukan kepalanya. Ia sudah tak tahan. Ia ingin, tapi tak bisa.

“Jangan terus sakiti dirimu dengan kegiatan tak berguna itu lagi.” Ujar gadis lain yang ada di sebelah Tiffany. Im Yoona namanya. Si cantik sahabat Sooyoung. Dan terlalu bodoh untuk Sooyoung kalau Ia tak mengerti maksud ucapan Yoona. Rasa-rasanya ingin dia berubah menjadi orang bodoh, sehingga tak perlu mengerti setiap kata yang Yoona katakan.

“Aku punya delapan kenalan. Kau mau?” Ujar Tiffany pada Sooyoung. Gelengan kecil nan lemah itu terlihat.

Hening…
“Sooyoung-ah! Kau mau lihat pertandingan basket hari ini?” Tanya Yoona mencoba menyairkan suasana yang sangat tak nyaman itu.

“Disana ada Chanyeol! Aku dan yoona bermaksud melihat pertandingan itu. Datanglah bersama kami.” Tambah Tiffany dengan antusias. Mata indah dua gadis cantik ini menyiratkan sebuah harap di balik keindah itu. Sooyoung mendongak untuk melihat dua sahabatnya. Ia mendesah. Anggukan pasrah untuk respon akhir yang Ia berikan. Kedua sahabatnya itu berhambur memelukanya.

“Kau yang terhebat.” Guman Tiffany. Sooyoung memutar kedua bola matanya malas. Selalu begini. Mereka segera melepaskan pelukan dadakan itu.

“Kami akan menjemputmu nanti jam setengah satu siang nanti.” Ujar yoona dengan antusiasnya yang tinggi, layaknya fangirl yang baru saja mendapatkan pelukan dari idol-nya.

“Aku ada rapat direksi sampai jam 12. Jangan terlalu awal untuk menjemputku.” Ujar Sooyoung mengingatkan. Yoona tersenyum.

“Aku tak se-idiot itu, nona Choi.” Jawab Yoona.

“Seohyun ikut?” Tanya Sooyoung.

“Memang Seohyun bersuka rela ikut ke turnamen basket? Ia lebih memilih ke Museum dari pada ke turnamen basket.” Jawab Tiffany.

“Kalau Jessica?” Tanya Sooyoung lagi.

“Katanya dia akan datang kalau kau juga datang.” Jawab Yoona.

“HEY!!” Pekik seseorang membubarkan topik tentang basket yang dibahas tiga orang itu. Tentu tiga manusia itu menengadah menghadap sumber suara yang suaranya sudah biasa mereka dengar. Hampir seluruh pengunjung cafe di situ menghadap 2 manusia yang tadi perpekik ria itu dan kini tengah berjalan menuju Tiffany, Sooyoung, dan Yoona.

“Kalian terlambat 8 menit.” Dengus Yoona membuka dialog dengan kedua gadis cantik itu

“Maaf, tadi macet. Aku bahkan sempat ragu kalau ini Kanada.” Jawab gadis cantik dengan wajah khas orang barat. Jessica Jung namanya. Dan gadis satunya itu hanya mengangguk kepala membenarkan ucapan Jessica. Seo JooHyun. Sebut saja Seohyun.

“Kali ini kalian aku lepaskan.” Ujar Tiffany. Sooyoung hanya terkekeh.

“Kau tak boleh menghukum kami. Kami juga lelah gara-gara mecet yang berujung tadi.” Ujar Seohyun tak terima.

“Sudahlah! Nanti kita akan ke turnamen basket. Kau,Seohyun. Kau harus ikut!” Ujar Yoona yang terdengar memaksa.Seohyun mendelik.

“Kenapa harus?” Jawab Seohyun tak terima.

“Karna kami akan datang.”

“Kau datang?” Tanya Jessica berbisik pada Sooyoung. Sooyoung mengangguk. Jessica tersenyum.

“Jam berapa dimulainya?” Tanya Jessica pada Tiffany.

“Jam satu dimulai.” Jawab Tiffany. Jessica tersenyum lebar.

“Seohyunie,kau datanglah.Kita berangkat bersama jam setengah satu siang nanti.” Ujar Jessica menjeda pembicaraan Yoona dan Seohyun. Air muka Seohyun mengemukakan ketidak terimaan.

“Sudahlah! Ikut saja. Ingat,kami 4 dan kau 1. Kau akan selalu kalah dengan kami.” Ujar Jessica sebelum Seohyun bersuara.Dan begitu seterusnya perdebatan tak penting itu.

Sooyoung hanya menatap kopi dihadapannya dengan tatapan kosong menghiraukan para sahabatnya yang sibuk dengan topic pembicaraan mereka. Satu hal yang ada di fikirannya. Basket. Sehun adalah anggota club basket di sekolahnya. Sehun bercita-cita sebagai kapten tim basket yang berhasil mengalahkan tim basket dari seluruh penjuru dunia. Dan kini Ia akan menonton turnamen basket. Hal yang mengingatkannya pada sosok itu. Sosok imut nan manis yang memenuhi fikirannya. Oh Sehun. Dia telah pergi mencampakannya.Kini hanya desahan pasrah yang terlihat dari sosok Choi Sooyoung.

Ia telah terperangkap di dalam ilusi besar. Ilusi besar yang membawanya seperti dalam dunia fantasi. Dunia yang terlalu rumit untuk dijelaskan. Sooyoung tertunduk dan hanya tersenyum miris. Bisa-bisanya Ia terperangkap di dalam dunia fantasi yang penuh dengan ilusi itu.

•••

Nama-nama itu terus diteriakkan oleh Tiffany, Yoona, dan Jessica. Berteriak histeris layaknya fangirl. Bersorak senang saat melihat anggota tim basket itu berhasil memasukan bola pada ring lawan.

Dan Sooyoung?

Sooyoung hanya menatap kosong pada lapangan bola basket yang ada di hadapannya. Lagi-lagi Ia tersenyum miris melihat kapten salah satu tim basket itu berhasil memasukan bola ke dalam ring lawan. Tersenyum miris? Kenapa Ia tidak ikut bersorak bahagia seperti Yoona,Tiffany dan Jessica? Kalau Ia tak tertarik bisa saja Ia hanya membaca novel seperti Seohyun.

Tersenyum miris.Senyuman yang menyimpan kepedihan di dalamnya. Ia melakukannya? Ya,Ia melakukannya. Ia tersenyum miris melihat kapten tim basket itu berlari dengan kaki jenjangnya. Ia tersenyum miris saat kapten tim basket itu melompat, Ia tersenyum miris saat kapten tim basket itu melempar bola, Ia tersenyum miris pada setiap hal yang dilakukan kapten tim basket itu. Dari kaos tim basket yang digunakan sang kapten itu, tertulis nama ‘Wu Yi Fan’ dengan nomor 4. Sooyoung benci nomor 4. Ia mendukung tim dengan kapten Wu Yi Fan itu karna kekasih Tiffany -Chanyeol juga satu tim dengan kapten basket itu. Tapi Ia benci nomor 4.

Nomor kesialan. Demikian kata orang.

Nomor kepedihan. Begitu kata Sooyoung.

Empat.

Tepat 4 bulan yang lalu, Sehun mencampakannya. Tepat tanggal 4 bulan keempat 2 tahun lalu, Sehun memintanya untuk jadi kekasihnya. Kenapa harus empat? Sooyoung menundukkan kepala menahan rasa yang sudah wajar lagi untuknya. Sesak. Ia memejamkan matanya berusaha menahan liquid bening menyedihkan itu.

•••

            Kini semuanya tengah berhamburan menuju tujuan mereka yang berbeda-beda. Pertandingan telah selesai. Sooyoung mengemudikan mobilnya dengan kecepatan normal menyusuri jalanan kota kanada dengan tenang. Sekilas Ia melirik taman kota di kanada itu. Ia segera menepikan mobilnya dengan kasar. Entah apa yang difikirkannya. Ia keluar dari mobilnya dan berjalan dengan tenang menyususri suasana taman kota sore itu. Diambilnya IPhonenya dari saku kemejanya dan memencet-mencet IPhonnya. Ia menempelkan IPhonenya pada telinganya.

“Sulli-ah,tolong cancel semua acaraku hari ini.” Ujarnya pada orang disebrang.

“Tak ada apa-apa,lakukan saja pekerjaanmu,semoga harimu menyenangkan.” Ujarnya lagi sebelum akhirnya Ia memutuskan telfon itu.

Sejenak Ia menatap keadaan sekitar dan kemudian menghela nafas. Ia kembali melanjutkan langkah kakinya. Mengikuti arah angin bergerak. Melihat pepohonan yang besar meneduhkan orang-orang yang sedang berteduh di bawahnya. Tersenyum ramah pada orang yang kebetulan Ia kenal. Kemudian bersenandung bersama angin. Dan tersenyum tipis melihat orang lain tersenyum padanya. Merasa telah bosan berjalan-jalan sendiri menyusuri taman kota hari ini, Ia mendudukkan dirinya pada bangku taman yang lengah. Sekali lagi,Ia kembali menghela nafas. Ia menutup matanya merasakan hembusan angin yang tengah bermain-main disekitarnya.

“Permisi..” Ujar sebuah suara khas pria yang berat terdengar menjeda kegiatan Sooyoung. Sooyoung membuka matanya dan menatap siempu suara. Wajah yang familiyar bagi Sooyoung. Rahang yang tegas, mata elangnya, hidung mancung,rambut pirang stylish, Tubuh tinggi atletis, dan kulit sedikit gelap. Tentu orang ini familiyar. Pemuda itu adalah kapten tim basket bernama Wu Yi Fan. Sooyoung membalasnya dengan senyuman ramah.

“Ada apa?” Tanya sooyoung mencoba bersikap ramah.

“Aku hanya ingin menumpang duduk disebalahmu.” Jawab pemuda itu dengan datar. Sooyoung menaikkan sebalah alisnya. Harusnya pemuda itu membalas senyum ramah sooyoung dan berbicara dengan ramah bukan? Apa dia tak diajari tata krama?

“Hanya bangku ini yang terlihat lengah.” Ujar pemuda itu lagi dengan nada suara yang super datar.

“Duduklah,aku juga tak akan lama.” Jawab sooyoung dengan sedikit risih. Yang benar saja? Berbagi bangku dengan manusia tanpa tata krama? Pemuda itu langsung saja duduk tanpa berucap ‘terimakasih’ atau setidaknya ‘maaf’.

“Kalau..” Sooyoung membuka suaranya.Pemuda yang kita ketahui bernama Wu Yi Fan itu mengalihkan pandangan dari ponselnya menuju sooyoung yang masih saja memejamkan matanya.

“..Kau dicampakan,apa yang akan kau lakukan?” Lanjut sooyoung. Pemuda itu menaikkan sebelah alisnya.

“Kau bertanya padaku?” Tanya pemuda itu. Sooyoung membuka matanya dan menatap pemuda itu.

“Hanya kau yang ada di dekatku.” Jawab sooyoung singkat. Pria itu terdiam berfikir, sejenak.

“Menghilang?” Jawab pria itu ragu.

“Mungkin aku akan pergi ke luar negri.” Jawab pemuda itu lagi. Kini Ia terlihat sedikit lebih meyakinkan. Hanya sedikit. Sooyoung menghela nafas berat.

“Kalau kau tak bisa pergi,apa yang akan kau lakukan?” Tanya sooyoung lagi. Pria itu menatap sooyoung dalam.

“Move on.” Jawab pria itu yakin. Sooyoung menatap pria itu ragu.

“Karna tak ada kata tak mungkin di dunia ini.” Ujar pria itu lagi dengan penuh keyakinannya. Pria tampan bernama Wu Yi Fan. Pria dingin tapi optimist, Sungguh menarik. Sooyoung hanya tersenyum tipis.

“Move on..” Gumannya. Sambil terus tersenyum kecil.

“Terdengar sederhana tapi rumit.” Gumannya lagi.

“Kau pernah dengar istilah ‘Walau terluka tak akan ada darah’?” Tanya pemuda itu. Sooyoung memutar kepalanya menghadap pemuda tampan itu. Wu Yi Fan.

“Aku baru pertama kali mendengar istilah itu.” Jawab Sooyoung.

“Itu adalah kata-kataku saat aku terpuruk. Walau aku terluka, tapi setidaknya aku tak berdarah. Jadi aku harus bisa kembali bangkit. Paling tidak lukaku tak ada darahnya, jadi aku tak perlu takut.” Ujar pemuda itu. Sooyoung memandang pemuda itu dengan makna yang sulit ditafsirkan dari tatapan itu. Tatapan teduh  yang menyiratkan ketidak percayaan dan tersirat juga sepercik kebahagiaan. Hanya angin yang berani mengganggu mereka dan…

“KRIS!!” Pekik seseorang membuat semuanya kembali normal. Tentu pemuda bernama Wu Yi Fan dan Sooyoung memutar kepala menghadap orang yang berteriak tadi. Sedetik kemudian senyuman itu mengembang di bibir pemuda bernama Wu Yi Fan itu.

“HEY!!” Sahut pemuda bernama Wu Yi Fan itu seraya melenggang menghampiri 2 pemuda yang tadi berteriak. Sooyoung hanya memandangnya dengan wajah tanda tanya. Kris? Bukannya pemuda itu bernama Wu Yi Fan? Apa Kris dan Wu YiFan itu hanya memiliki wajah yang sama saja? Entahlah. Kenapa juga harus difikirkan. Sooyoung membidikan bahunya dan kembali menikmati angin di sore itu. Ia tersenyum tipis. Memang,pemuda itu benar. Setidaknya Sooyoung harus bisa bangkit karna Ia tak perlu takut pada lukanya. Bagaimanapun lukanya tak berdarah. Ia harus bisa bangkit dari bayangan manusia yang tak berperasaan seperti Sehun. Manusia yang bekerja layaknya mesin. Bekerja sesuai perintah.

Mesin? Ya,Sehun adalah mesin yang diperintahkan untuk bersama Sooyoung dan kemudian pergi. Mesin yang tak berperasaan.

•••

Inikah respon yang diberikan Yoona? Hanya terdiam sambil memelototkan matanya? Hanya ini? Bukan itu yang diharapkan Sooyoung. Untuk kesekian kalinya Sooyoung mendesah membuang nafasnya kasar. Ia memandang sahabatnya dengan malas. Kesalahan besar menemui Yoona untuk urusan ini. Sungguh,ini kesalahan besar. Seharusnya Sooyoung menghampiri Tiffany atau mungkin Jessica yang sedikit lebih kalem. Walau hanya sedikit. Tapi,sayangnya hanya Yoona yang sudah standby di apartment mereka berlima.

“Kau tak mau menjawab pertanyaanku?” Tanya Sooyoung. Yoona segera menggelengkan kepalanya.

“Bukan.Tapi..”

“..Bisa kau ulangi pertanyaanmu?” Lanjut Yoona. Sooyoung memutar bola matanya merasa malas.

“Aku sudah mengulanginya lebih dari lima kali.” Jawab Sooyoung dengan enggan.

“Kau bertanya nama kapten tim basket dengan nomor 4 itu?” Tanya Yoona seakan tak percaya. Sooyoung mendesah lagi.

“Aku mohon,jangan terlalu dianggap serius. Aku hanya ingin tahu dan sebatas ingin tahu.” Ujar Sooyoung penuh penekanan.

“Kau yakin ingin tahu?” Tanya Yoona tak percaya. Sooyung kembali mendesah kasar lagi. Benar-benar repot bila harus bertanya dengan seorang Im Yoona. Sooyoung mengangguk saja.

“Wooaahh!! Rekor! Akhirnya kau berhasil melupakan Oh Sehun.” Ujar yoona dengan mata berbinar-binar. Sooyoung memandang sahabatnya aneh.

“Apa yang kau fikirkan,eoh?” Tanya Sooyoung tak sepihak dengan Yoona.

“Kau tertarik dengan kapten tim basket itu?”

“Untuk kedua kalinya,aku bilang jangan dianggap serius.Aku hanya sebatas ingin tahu.”

“Baiklah,aku akan mengatakan semua yang aku tahu tentang kapten tim basket itu.” Jawab Yoona antusias tanpa perduli ucapan Sooyoung tadi.

“Nama aslinya Wu Yi Fan,Ia sering disapa Kris. Ia blasteran China-Kanada. Dia punya satu adik laki-laki bernama Wu ZiTao yang ahli dalam bidang wushu. Orang tuanya sudah bercerai,Ayahnya CEO di Wu corperation. mmm… Apa lagi ya?…”

“Ah iya! Dia lahir pada 06 November 1990 dan dia adalah orang yang cool… Hanya itu yang aku tahu.” Ujar Yoona. Sooyoung memandangnya dengan datar.

“Bukannya aku hanya tanya namanya saja?” Yoona tersenyum jahil.

“Eiiyy.Biasanya kalau sudah tahu namanya pasti ingin tahu hal yang lainnya juga.” Jawab Yoona.

“Dan itu menurutmu,nona Im.” Jawab Sooyoung

“Tapi biasanya kita sehati,nona Choi..” Sahut Yoona. Untuk kesekian kalinya,Sooyoung mendesah.

“Apa rencanamu selanjutnya?” Tanya Yoona dan terlalu bodoh untuk Sooyoung kalau Ia tak mengerti maksud ucapan Yoona.

“Memukulmu.” Jawab Sooyoung sekenanya.

“Jangan terlalu tertutup dengan sahabatmu sendiri.” Sahut Yoona. Sooyoung mendesah.

“Aku tanya namanya hanya aku pernah melihat orang lain memanggilnya Kris. Dan itu membuatku bingung karna setahuku namanya Wu Yi Fan.” Ujar Sooyoung berusaha meluruskan.

“Kau pernah bertemu dengannya selain di turnamen basket itu?” Tanya Yoona tak percaya. Sooyoung mendesah. Ia menyesal menemui Yoona hanya untuk tahu nama pemuda itu. Wajah kusut Sooyoung makin menjadi.

“Aku hanya melihatnya di kedai dekat kantorku.” Sahut Sooyoung sekenanya. Yoona mendelik.

“Kau serius?” Ujar Yoona.

“Aku akan benar-benar memukulmu kalau kau terus mengintrogasiku.” Sahut Sooyoung setengah mengancam. Yoona hanya menyengir.

•••

Sulli mendesah mencoba untuk mengatur perasaan cemasnya.Mencoba mengatur perasaan pedihnya saat akan melihat reaksi Sooyoung nanti.Reaksi yang terkesan menyedihkan.

“Eonni,kita harus bisa meluncurkan produk baru untuk musim gugur ini.” Biasanya setelah ini Sooyoung hanya akan mendesah dan bilang ‘Baiklah.’ Dengan pasrah. Sulli tercekat saat Sooyoung tersenyum, tak seperti biasanya.

“Aku mengerti,perintahkan bagian design untuk membuat design baru untuk produk baru musim panas ini.” Jawab Sooyoung. Sulli mendelik.

“Jangan terlalu cepat. Lebih baik kita luncurkan produk baru pada musim gugur nanti saja.” Sanggah Sulli. Sooyoung tersenyum.

“Sudah satu musim ini kita fakum.” Jawab Sooyoung. Sulli membeku. Sooyoung sudah berubah. Sooyoung sudah kembali pada Sooyoung yang dulu.

“Eonni,kau baik-baik saja? Kau tak demam?” Guman Sulli. Sooyoung tekekeh.

“Tentu tidak.” Jawab Sooyoung seraya kembali pada pekerjaan awalnya yang berupa memeriksa berkas-berkas.

“Kembalilah bekerja.” Ujar Sooyoung sambil terus focus pada berkas-berkasnya. Seperti tersambar petir,Sulli langsung berjalan mundur dan kemudian keluar dari ruangan dengan nuansa elegan itu. Sooyoung tersenyum sendiri. Ia berhasil. Berhasil kembali bangkit walau masih sedikit perih. Ia berhasil.

“Walau terluka tak aka nada darah,bukan?”

•••

            Jam dinding itu terus berdetak membunuh detik. Udara makin menurunkan suhunya. Sooyoung tetap saja berkutat dengan laptopnya sedari tadi. Untuk kesekian kalinya,Sooyoung menyandarkan tubuhnya pada kursi kerjanya dan mengusap wajahnya kasar. Ia lelah. Ia mendesah. Tentu Ia sudah lelah,ini sudah jam 10:21 pm. Sudah malam.

Larut malam.

Ia mulai berdiri dan melangkahkan kakinya keluar ruangan. Ia segera menghampiri Sulli yang masih sibuk dengan pekerjaannya.

“Kau tak lelah?” Nyaris saja, Sulli terjungkal dengan ekspresi kagetnya.

“Eonni! Kau mengagetkanku!” Ujar Sulli kesal sambil mengelus dada. Sooyoung tertawa senang. Sulli mengendus.

“Eonni..” Ujar Sulli menghentikan tawa Sooyoung.

“Apa kau lapar?” Tanya Sulli. Sooyoung menaikkan sebelah alisnya dan disusul kekehan ringan.

“Kau belum makan?” Jawab Sooyoung. Sulli mengangguk dengan jujurnya. Sooyoung tersenyum.

“Baiklah,ayo kita ke kedai.Aku juga sudah lapar lagi.” Jawab Sooyoung. Sulli tersenyum lebar.

“Aku yang traktir!” Ujar Sulli seraya melangkahkan kakinya mendahului Sooyoung. Mereka terus berjalan dengan cerianya dengan ditemani hawa dingin itu. Mereka bagaikan kakak beradik kalau sudah seperti ini. Sungguh.

“Apa yang membuatmu kembali bangkit,eonni?” Tanya Sulli saat mereka telah duduk di bangku kedai itu dengan manis menunggu pesanan mereka. Sooyoung mendelik.

“Yang membuatku bangkit?” Guman Sooyoung.

“Tentu karna aku ingin kembali bangkit dan berhenti merepotkanmu dan yang lain.” Jawab Sooyoung. Sulli tersenyum usil.

“Jangan bilang kau sudah jatuh cinta lagi.” Ujar Sulli dengan usilnya. Sooyoung terkekeh.

“Jatuh cinta denganmu?” Jawab Sooyoung sekenanya. Sulli tertawa.

“Bagaimana hubunganmu dengan Jong In? Lancar?” Tanya Sooyoung.

“Tentu semuanya lancar. Dia juga sudah berencana melamarku musim semi depan.” Jawab Sulli. Sooyoung mendelik.

“Kalian sudah serius?” Tanya Sooyoung setengah tak percaya. Sulli mengangguk.

“Dan kau harus cepat menyusul langkah kami.” Jawab Sulli. Sooyoung tertawa ringan.

“Itu membutuhkan waktu lama.” Jawab Sooyoung.

“Tapi kau sudah 22 tahun.” Sanggah Sulli. Sooyoung tersenyum.

“Dan empat bulan yang lalu aku baru saja dicampakkan.”

“Jadi,kenapa aku harus terburu-buru. Toh,aku masih punya kalian yang mau menemaniku.” Lanjut Sooyoung masih dengan entengnya. Sulli menatapnya sendu.

“Aku… Akan ke Amsterdam setelah menikah dengan Jong In-oppa.” Ujar Sulli dengan pedihnya. Sejenak Sooyoung terdiam dan akhirnya hanya tersenyum pahit.

“Aku rasa aku benar-benar harus segera menyusulmu agar aku tak kesepian,kelak.” Tambah Sooyoung. Senyum pahitnya kini makin pahit. Tersenyum miris, tepatnya. Sulli tersenyum penuh makna pada Sooyoung.

“Kau bisa lebih dari mereka yang melukaimu,eonni.” Ujar Sulli mencoba menyemangati Sooyoung dan dibalas senyuman hangat oleh Sooyoung.

“Bukannya aku memang yang terbaik?” Ujar Sooyoung bermaksud bercanda. Keduanya kemudian tertawa di tengah udara dingin menusuk itu. Tertawa yang bisa memecah udara dingin menjadi kehangatan kekeluargaan.

•••

Suara makian itu terus terdengar jelas di rumah bernuansa ellite itu. Sungguh,tak ada tawa atau lelucon yang terdengar. Hanya suara makian dari pria paruh baya itu. Terus dari tadi. Hampir satu setengah jam pria paruh baya itu terus berceloteh.

Demi apapun,bahkan Kris menganggap bahwa rumah itu adalah neraka kedua di dunia setelah perusahaan ayahnya. Terus berlanjut tak hanya untuk hari ini. Esok Ia akan mendapatkan makian dengan bahasa pedas khas Ayahnya lagi. Ia membenci ini. Orang bilang menjadi seorang Kris itu menyenangkan. Wajah tampan,tubuh tinggi attletis,incaran para gadis,Adik yang tampan dan baik,etlet basket,punya harta yang tak terhitung pula. Tapi apa kalian tahu? Di balik keharmonisan yang sudah biasa terumbar media, keluarganya tak lebih dari ‘broken home’. Orang tua yang hanya sibuk dengan urusan dunia mereka sendiri. Ayahnya yang selalu menuntut Kris lebih tanpa memeberi perhatian lebih. Ibunya dan Ayahnya yang sudah berbisah sejak Kris berusia 8 tahun, dan sekarang hobi Kris-pun menjadi bahan makian Ayah kandungnya sendiri saat di rumah. Sungguh, tak ada nikmat yang terselip dibalik semua itu.

“Sampai kapan kau pertahankan basketmu,eoh?!” Maki Ayahnya dengan nada sinis. Kris hanya bisa diam dan sesekali mendesah pasrah.

“Berhentilah melompat untuk bola basket tak berguna itu dan carilah kegiatan yang lebih berguna!” Maki Ayahnya lagi. Untuk kali ini,Kris mulai membenahi posisi duduknya berharap emosinya memadam. Ia mendesah.

“Menjadi CEO di perusahaan Ayah lebih menjanjikan daripada menjadi atlit basket yang tak karuan!” Lagi-lagi Kris mendesah. Kalau bukan Ayahnya,mungkin Kris sudah memukul wajah pria paruh baya di hadapannya itu.

“Kau sudah dewasa! Jangan bermain-main. Jadilah pria dewasa yang memiliki masa depan!” Maki Ayahnya lagi. Kris menunduk berusaha menahan emosinya yang kian memuncak.

“Usiamu sudah 22 tahun bukan? Kau terlalu egois,Wufan!” Ujar Ayahnya dengan penuh penekanan. Kris mendesah lagi. Emosinya sudah sulit untuk dikendalikan. Sebisa mungkin Ia menjaga kesabarannya.

“Kau bisa melakukannya! Kenapa kau keras kepala,eoh?!” Makian itu makin menjadi. Untuk kali ini Kris akan menciptakan image ‘durhaka’. Lihat saja. Kris mendongak menatap Ayahnya tajam.

“Kenapa harus aku yang keras kepala? Kenapa bukan Ayah yang keras kepala?” Ujar Kris dengan sinis.

“Kau sudah tahu tapi belaga tak tahu?” Jawab Ayahnya meremehkan. Kris terkekeh.

“Ayah yang tak menyadarinya.” Sanggah Kris masih dengan sinisnya. Tatapan membunuh itu juga tak luntur. Tatapan bagaikan Danau Natron, yang siap membekukan siapa saja yang melihatnya.

“Ayah yang selalu memaksaku untuk menjadi pengganti Ayah. Ayah terlalu egois untuk bisa menyadirinya.” Jawab Kris tajam. Detik berikutnya Ia bangkit dari duduknya.

“Dan Ayah juga harus bisa instropeksi diri sebelum menyalahkan orang lain.” Lagi,Kris berujar tajam sebelum akhirnya Ia pergi dari tempat terkutuk itu. Ia menaiki tangga menuju kamarnya. Tak ada yang tahu bukan? Inilah alasan atas sikap dingin seorang Kris. Ibunya yang telah lepas tanggung jawab semenjak perceraian itu dan kini entah dimana, Ayahnya yang selalu menuntut lebih tanpa memberi perhatian lebih pada dirinya dan adiknya yang sedang duduk di bangku SMA.

===

            Sooyoung melempar tas kerjanya sembarangan pada sofa abu-abu itu dan merebahkan dirinya di sofa itu.Ia menghela nafas lelah.Jam 11:45 pm.

Malam.

Tentu,Sooyoung selalu pulang larut. Seseorang ikut merebahkan diri sofa disebelah Sooyoung membuat gadis bersurai coklat -Sooyoung itu menengok.

“Kau pulang malam lagi.” Ujar gadis yang ikut merebahkan diri itu. Oh,ternyata Tiffany.

“Hm,kantor ada proyek baru.” Jawab Sooyoung. Tiffany tersenyum.

“Mandilah! Kau bau.” Ujar Tiffany disusul senyuman dari Sooyoung.

“Izinkan untuk 10 menit saja.Aku lelah.” Jawab Sooyoung merajuk.

“Aku mengerti, tapi jangan kau nodai apartment kita dengan bau badanmu.” Ujar Tiffany dengan nada bercanda. Sooyoung terkekeh.

“Aku yang bayar tagihan listrik dan air untuk bulan ini. Bagaimana?”  Tawar Sooyoung.

“Tapi dengan kau membayar itu semua, kau tak bisa menghilangkan bau badanmu yang menyebar ke apartment kita.” Jawab Tiffany. Sooyoung terkekeh.

“Mana yang lain? Apa mereka belum pulang?” Tanya Sooyoung

“Jangan mengalihkan pembicaraan!” Jawab Tiffany. Sooyoung mengerucutkan bibirnya kesal.

“Aku menegrti.” Ujarnya seraya melangkah menuju kamar mandi. Tiffany terkekeh. Mata indahnya beralih menatap sebuah foto dengn tatapan teduh.

“Dia berhasil bangkit paman,bibi.” Gumannya pada sebuah foto yang menampakkan Sooyoung yang tersenyum bahagia dan di samping kanan-kirinya ada seorang pria dan wanita paruh baya yang ikut tersenyum bahagia. Tiffany tersenyum tipis memandang foto itu. Di samping foto itu,terdapat foto Sooyoung,Tiffany,Yoona,Jessica,dan Seohyun dengan pose konyol mereka. Tiffany terkekeh memandangi foto yang ini.

Mata indah Tiffany kembali beralih pada foto di samping foto mereka berlima. Pandangan sendu terlihat. Pada foto itu,terlihat Tiffany yang tengah tersenyum memperlihatkan eye-smilenya dengan bahagianya dengan kanan-dan kirinya terlihat seorang pria paruh baya yang tersenyum tipis dan wanita paruh baya yang merangkul Tiffany dan ikut tersenyum bahagia.Tiffany tersenyum pahit melihat foto keluarganya itu.

“Aku merindukan kalian.”

•••

            Sooyoung memandang aneh Tiffany. Bukannya sebelum Sooyoung masuk kamar mandi Tiffany masih seperti biasanya? Dan kini,lihatlah. Tiffany berubah. Tiffany menunduk dan tak merespon apa yang Sooyoung katakan.

“Tiffany..” Panggil Sooyoung hati-hati. Tak ada respon.

“Kau tak tidur,kan?” Dia mulai gila!

“Tiffany!!” Pekik Sooyoung. Seakan tersambar petir,Tiffany mendongakkan kepalanya dengan paksa dengan ekspresi kagetnya. Sooyoung mendesah.

“Kau kenapa,eoh?” Tanya Sooyoung. Tiffany menarik sebelah alisnya merasa bingung.

“Apa yang kau lamunkan?” Tanya Sooyoung lagi. Tiffany terdiam mencoba berfikir.

“Aku melamun?” Tiffany balik bertanya.Sooyoung kembali mendesah.

“Acting-mu buruk. Kau ingin mengunjungi makam ibumu di San Fransisco?” Ujar Sooyoung. Bingo! Sooyoung tepat. Tiffany terdiam beberapa saat. Senyum tipis terlihat.

“Kau mau menemaniku,bukan?” Sooyoung mendelik.

“Apa kau bilang?” Jawab Sooyoung sedikit tak percaya.

“Temani aku ke San Fransisco.” Ulang Tiffany merajuk, sedikit aegyo. Sooyoung berdigik melihat Tiffany. Sesaat kemudian senyuman licik Sooyoung perlihatkan.

“Baiklah,aku akan menemanimu ke San Fransisco.Tapi_”

“..Kau harus menemaniku juga.” Lanjut Sooyoung. Tiffany mengernyit bingung.

“Minggu depan ada pesta perjumpaan perusahaan besar di Amerika yang digelar di San Fransisco sana. Kau harus menemaniku ke pesta itu. Bagaimana?” Tawar Sooyoung. Tiffany terdiam menimbang-nimbang jawabannya.

“Biasanya siapa saja yang akan datang ke pesta itu?”

“Tentu perwakilan perusahaan dan ditemani keluarga,atau mungkin sekretaris mereka.” Jawab Sooyoung.

“Tapi aku bukan keluargamu!”

“Kalau begitu aku juga tak akan menemanimu_”

“Baiklah!” Ujar Tiffany dengan nada suara lebih tinggi.

“Aku akan menemanimu!” Lanjut Tiffany.Sooyoung tersenyum penuh kemenangan.

“Ahh~ Sebelum ke San Fransisco, maukah kau menemaniku ke makam Orang Tuaku dulu?” Pinta Sooyoung. Tifany mengendus.

“Arraseo.” Jawabnya pasrah.

•••

            Sooyoung masih saja menggerakan kesepuluh jari lentiknya di atas keyboard laptop. Matanya dengan jeli meneliti setiap kata yang tercetak pada layar laptopnya.

Krek..

Seketika kepalanya terangkat berusaha memandang orang yang berhasil membuka pintu ruang kerjanya.

Choi Sulli.

Sooyoung menghela napas lega.

“Kenapa?” Tanya Sooyoung membuka topic.

Wajah cantik Sulli itu tertutup dengan ekspresi suram. Langkahnya terlihat ragu memasuki ruangan berkesan elegant itu. Tangannya yang telah dingin itu menggenggam sebuah amplop berisi.

Sooyoung mengenyit masih tak mengerti.

“Eonni..” Satu kata itu keluar dengan lirih.

Kepala Sulli masih saja tertunduk memandang lantai.

“Hm.” Dan hanya respon itu yang Sooyoung berikan.

Tangan putih Sulli terulur memberikan amplop yang sedari tadi Ia genggam. Tentu amplop itu telah lusuh karenanya.

Untuk kesekian kalinya, alis Sooyoung bertemu.

“Mianhae..” Kata kedua yang Sulli ucapkan.

Tangan Sooyoung yang tergerak ragu mulai tak sanggup menahan rasa penasarannya. Amplop itu berhasil berpindah tangan.

“Surat apa ini?” Alih-alih membuka langsung, Sooyoung bertanya dengan ragunya.

Tak ada respon.

Hanya rundukan dalam dari Sulli yang di perlihatkan.

Oke,rasa penasaran Sooyoung yang menggerakan tangannya dengan cekatan. Matanya membulat seiring untaian kata yang Ia baca. Kepalanya terdongak memandang tak percaya Sulli.

Tersenyum.

Sooyoung tersenyum bahagia.

“Kapan kau dan Jongin akan menikah?” Satu frase itu berhasil membuat rundukan kepala Sulli menipis. Kepalanya terangkat memandang Sooyoung tak percaya.

“Hei! Kenapa kau malah bermuka suram?”

Sulli tak percaya dalam bisunya.

Senyuman itu tak ada sedikitpun kepedihan, hanya ada ketulusan. Sebaik itukah atasan-nya itu?

“Hei!” Sekali lagi, Sooyoung menegur Sulli.

“Bulan depan”

Sooyoung masih saja tersenyum.

“Aku tahu,kau pasti dapat yang terbaik.” Sekali lagi, tenggorokan Sulli dibuat menciut oleh Sooyoung.

“Kau tak merasa kehilangan?”

“Kenapa harus? Bukannya harusnya aku bahagia mendengar berita ini?”

“Tapi aku resign.”

“Tapi kau akan hidup bahagia setelah ini.”

Lagi,Sulli dibuat tak berkutik oleh Sooyoung.

Choi Sooyoung.

Gadis berhati tulus nan cantik. Sayang,hatinya masih di bekukan oleh seorang pengecut.

•••

Gemerlap lampu pesta menambah kemeriahan pesta itu. Sooyoung dan Tiffany berjalan beriringan memasuki kawasan gemerlap itu. Langkah dengan senyum indah terukir dari wajah mereka. Pesta perjumpaan perusahaan besar di Amerika. Disinilah mereka berada. Langkah berikut mereka terhentikan oleh seorang pria berpawaan tinggi gagah berpakaian resmi serba hitam dengan kemeja putih itu yang menghadang mereka.

“Choi Sooyoung?”

Kedua gadis itu mengernyit sejenak.

“Ne?”

“Tuan Choi Jaebin menginginkan kehadiran anda di ruang atas.”

Choi Jaebin!

Nama yang Sooyoung benci. Persetanan dengan statusnya sebagai cucu seorang Choi Jaebin.

Sooyoung menatap pria itu tidak suka.

“Dengan siapa beliau datang?” Frase ketus itu keluar. Terdengar emosi di dalam nada bicara itu.

“Beliau datang dengan rekan kerjanya.”

Sooyoung mendesah resah. Tatapan tajam khas Choi Sooyoung tak juga surut.

“Pergilah.” Suara lembut Tiffany melelehkan tatapan tajam itu.

Kepala Sooyoung terputar menghadap Tiffany. Tak lupa kedua alis itu bertaut juga.

“Tak sering dia mengunjungimu.”

Benar,tak sering. Dan itu lebih baik dibanding harus bertemu.

“Antar aku.” Perintah Sooyoung pada pria itu yang tak lain adalah suruhan kakeknya itu.

Dengan tegas,Sooyoung melangkahkan kakinya mengikuti arah pria itu membawanya.

Bagaimana bisa kakenya itu datang dari Jepang ke San Fransisco di event ini.

Mood yang Sooyoung bilang baik itu berubah secara mendadak setalah nama Choi Jaebin itu di kumandangkan pria di hadapannya itu.

Pria itu mengetuk pintu sejenak menunggu respon dari orang di dalamnya.

“Suruh dia masuk.” Samar, Sooyoung mendengar untaian kata itu.

Tanpa menunggu perintah, Sooyoung segera menempatkan tangannya pada gagang pintu coklat itu.

Lebih cepat lebih baik.

Dan itu yang memperngaruhi kerja otaknya,sekarang.

Krek.

Detik terhenti.

Iris mata nan indah itu membuat detik Sooyoung terhenti.

Kris Wu.

Iris mata nan memandang dirinya dingin itu membuat semuanya terhenti.Terasa jarum jam tangannya tak lagi berotasi.Jam dinding di dekatnya-pun,demikian. Bahkan jantungnyapun tak lagi berdetak.

Kris Wu.

ikut terseret dalm masalah ini. Benarkah?

TBC

Annyeong~ aku kembali dengan ff baru-ku. Maaf sebelumnya bagi yang udah request sequel-nya Miracle in December. Aku bener-bener buntung inspirasi buat lanjutan ntu ff. :(   maaf sekali lagi. *bow*

Mungkin part 1-nya bikin bosen,ya? *reader:banget!* heheh~ saya tahu,kok! xD tapi,berubung masih part 1, jadi saya belum masukin permasalahannya,mungkin part 2 ato mungkin part 3?

Dan seancur apapun ff saya, tetap tinggalkan comment, ya? Aku nggak berharap pujian dari kalian, ataupun sanjungan *emang ada*. Yang aku butuhkan adalah kritik dan saran, dan bila tidak ada kritik maupun saran *mau banget!* silahkan sampaikan kesan kalian saat membaca ff ini, okeh?

Leave your comment, please!

Seeyou.

Hananhee^^

27 thoughts on “Neverland [Part 1]

  1. giofi16yousen December 21, 2013 / 11:15 AM

    I like it this fanfic🙂
    Sehun kenapa sukanya ninggalin soo eonni sih ?
    Wah itu yang dimaksud terseret dalam masalah apa thu ?
    Penasaran nih sama kelanjutanyya suer penasaran banget
    Ditunggu ya next partnya🙂
    FIGHTING🙂

    • hananhee December 22, 2013 / 9:30 AM

      iya, nggak tau tuh sehun sukanya main tinggal anak orang /dijambaksehun/
      apa yya? maunya kenapa,hayyo?

      oke, ditunggu aja..
      Makasi, suportnya ><

  2. yeni swisty December 21, 2013 / 12:16 PM

    aturannya pas sehun ninggalin soo di perjelas biar kita semua yg baca tau jalan ceritanya🙂
    itu soo manggil2 kris wu and ada masalah apa??
    next part di tunggu #fighting ‘.’)9

    • hananhee December 22, 2013 / 9:33 AM

      masalah itu, aku rencananya mau digamblang part-part setelah ini..
      hah? Soo manggil-maggil kris wu bagian yang mana? mungkin yang terakhir,maksudmu? Itu bukan Sooyoung POV, dan syoo nggak manggil” kris wu..

      Oke, silahkan ditunggu🙂
      Makasi, supportnya^^

  3. @ggcsy24 December 21, 2013 / 1:40 PM

    kris sama sooyoung mau dijodohin kah?? wah bikin penasaran. . lanjut eon

    • hananhee December 22, 2013 / 9:33 AM

      waah? maunya dijodohin,ya? duh.. kita liat next part aja,ya..🙂

  4. thelittleshikshin December 21, 2013 / 1:44 PM

    wih wih wih udah lama nih gak baca sookris, ninjas kangen banget sama mereka:””)
    ya ampun aku sukaaaaa, ff ini bakal jadi list ff sookris yang aku tungguin. Cepet dilanjut ya next partnyaa. fighting!

    • hananhee December 22, 2013 / 9:35 AM

      iya, aku juga lama nggak baca ff sookris, jadilah aku yang buat ffnya. walau abstrud –”

      ditunggu aja,ya.. makasih suportnya^^

    • hananhee December 22, 2013 / 9:36 AM

      iya, sookris..
      oke, silahkan ditunggu..

  5. Choi Min Ra December 21, 2013 / 4:55 PM

    Wahhh lama gak baca ff sookris
    Akhirnya ada juga ff nya

    Errr kenapa oh kenapa kamu sehun ninggalin soo eonn? :3
    Ahhh aku jadi penasaran kenapa sehun ninggalin Soo eonn

    Next part ditunggu
    Fighting!

    • hananhee December 22, 2013 / 9:37 AM

      iya, udah nipis nih ff sookrisnya..
      kenapa ya? maunya kenapa? xD

      oke, ditunggu aja,ne?
      makasih suportnya^^

  6. ymshtemi December 21, 2013 / 8:26 PM

    sehun kenapa ninggalin sooyoung??? kris kenapa bisa ada sama kakeknya sooyoung?._.)? next part ditunggu ya^^

    • hananhee December 22, 2013 / 9:38 AM

      kenapa,ya? iya,kok bisa ya?
      hehe.. oke,ditunggu aja

  7. borayoung December 21, 2013 / 8:32 PM

    bagus, ini fanfict buatan km yang keberapa?
    pemilihan kata yang tepat, penulisannya rapih
    daebak
    lanjutkan karyamu yang seperti ini, fighting ^^9

    • hananhee December 22, 2013 / 9:41 AM

      aduh.. kalo di tanya yang kebrapa, aku nggak tahu.. yang pasti ini ff kedua yg aku publish di SFI..
      makasih, eonn.. btw, makasih bget buat posternya,sampe” ada acara redonya, pasti aku nyusahin banget,ya? hehe
      oke, aku bakal coba buat mempertahanin..^^

  8. novianti sitorus December 21, 2013 / 10:45 PM

    syoo ketemu kris, semoga dijodohiin😀
    Lanjut chingu🙂

    • hananhee December 22, 2013 / 9:42 AM

      pengen bget ya, mereka dijodohin.. xD

      oke, ditunggu aja..

  9. kim eunji 97 December 22, 2013 / 5:47 AM

    hayoo musti ini mau dijodohin ya hhehehe😀
    update soon author-nim ^^

    • hananhee December 22, 2013 / 9:43 AM

      hayoo… kenapa hayo…? xD
      oke, ditunggu aja^^

  10. Dep Ace December 22, 2013 / 2:57 PM

    elah
    TBC -_-

    Lanjut chingu ^^

    • hananhee December 22, 2013 / 3:04 PM

      oke, ditunggu aja ;))

  11. wufanneey December 23, 2013 / 1:05 PM

    SOOKRIS banget ini.
    kris yang dingin tapi sebenarnya care
    sooyoung yang ceria tapi misterius
    sehun yang manis ternyata brengsek

    aku suka karakternya member snsd di sini, mereka udah sobatan kayak adek-kakak. semoga nggak ada masalah diantara mereka di chapter-chapter selanjutnya ^^

    tapi kenapa sooyoung benci banget sama kakeknya ya?
    apa hubungannya dengan kris?
    hum . . .

    • hananhee December 24, 2013 / 9:04 AM

      hehe.. memang aku buat sookris, soalnya kepikiran sifat kris yang jaimnya naudzubillah!

      iya, kenapa ya? pinginnya kenapa,hayyo? hum.. apa,ya?

  12. Di December 24, 2013 / 4:42 PM

    Lanjuuuut!!!!!

  13. annisarizki January 18, 2014 / 7:13 AM

    Whoa.. Keren.. Bahasanya keren, alurnya juga bagus, kerasa bgt ceritanya kaya drama.. hhe Daebak (y)🙂

    • hananhee January 18, 2014 / 1:48 PM

      beneran? padahal ini ff jaman bahula-ku, lhoo u,u
      kerasa banget abstrudnya..

      butt, thnx before yya!^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s