The Same Line

Snow copy

Title: The Same Line

Author: wufanneey

Genre: Angst, Fantasy

Rating: G

Lenght: Oneshot

Pairing: Myungsoo/Sooyoung

Summary: “Jika memang kita ada di dunia yang sama, tunjukkan padaku.”

***

 

Winter, 7th December 2010.

 

Aku berdiri mematung memandangnya. Dia cantik. Sama sekali tak berubah. Aku masih sangat mengenalinya walau wajahnya tertutup syal tebal. Maklum, udara sangat dingin hari ini dan diperkiraan salju pun akan turun. Aku berjalan perlahan, mendekatinya yang berdiri di depan mobilku sembari melambai padaku.

 

Oppa, kenapa pakaianmu seperti itu? Tidak kedinginan?” tanyanya.

 

“Kau mengkhawatirkanku?” tanyaku, iseng.

 

Dia terkekeh pelan. “Ya… aku sangat mengkhawatirkanmu…”

 

Aku tertegun mendengarnya. Mungkin dia hanya bercanda saat mengatakan itu, tapi aku menganggapnya serius.

 

Sejurus kemudian leherku terasa hangat. Aku melihat Jiyoung sudah melepaskan syalnya dan mengalungkannya di leherku.

 

“Yah, jangan seperti ini…” aku mencoba melepaskan syal ini tapi Jiyoung menahan tanganku. Dia tersenyum lagi.

 

Ya Tuhan, senyum itu.. senyum yang selalu membuatku egois dan ingin memberikannya label hina itu. Label keegoisan bahwa senyum itu ‘milikku’.

 

Aku membalasnya dengan senyum juga. Lalu aku membuka pintu mobil dan mempersilahkannya masuk. Dia duduk di sampingku.

 

“Bagaimana kehidupanmu di Jepang?” aku membuka percakapan saat mobil mulai melaju.

Tapi Jiyoung diam dan tidak menjawab, hanya sebuah gumaman kecil yang bisa aku dengar dari cherry mungilnya. “Kita bicarakan lain kali saja, sekarang kita main dulu, ya? Aku ingin main ice skating denganmu…”

 

“Jika kau memaksa…” aku menoleh padanya dan tersenyum.

 

Kali ini, tidak akan kusia-siakan lagi dirimu. Aku janji.

 

***

 

Aku dan Jiyoung menghabiskan waktu bersama. Tak ketinggalan maskerku, bukannya aku sok selebritis, tapi mengingat status ulzzang-ku, bisa saja ada ssasaeng fans yang menguntit. Aku tidak suka hal seperti itu. Mengganggu. Singkat cerita, aku dan Jiyoung memulai kencan kami dari permainan ice skating yang kujanjikan tadi.

 

“Myungsoo-oppa!” dia menarik tanganku dan membawanya berskating ria. Dia terus mengembangkan senyum selama bersamaku. Aku tahu dia bahagia, dan aku pun bahagia.

 

Aigeu, tanganmu dingin sekali… sini,” Jiyoung memasukkan sebelah tanganku pada saku mantelnya yang tebal. “Kau tak memakai syal, kau tak memakai sarung tangan… ya ampun…” Jiyoung menggelengkan kepalanya. Manis sekali.

 

Setelah bermain seluncur es, lalu kami pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli keperluan Jiyoung selama dia berlibur di Korea. Mengingat itu, rasanya bodoh sekali, itu artinya aku hanya punya waktu beberapa hari saja dengannya di sini.

 

“Oh… Oppa! Aku mau boneka bebek itu!” Jiyoung mengguncang pelan lenganku sembari menunjuk-nunjuk box kaca sebuah permainan ambil boneka.

 

“Baiklah, serahkan padaku!”

 

Set, set!

 

“Ah, gagal!” keluh Jiyoung.

 

“Aku coba lagi,” aku memasukkan satu koin lagi dan mencobanya.

 

Hup! Dapat! Saat aku mencoba mengangkatnya ke atas…

 

“Sudahlah, kurasa bukan keberuntungan kita hari ini, hahaha…” Jiyoung tertawa getir, karena aku gagal lagi mendapatkan boneka bebek itu.

 

“Yah.. kau jangan meremehkanku, lihat, ya!”

 

Kali ini, tak akan gagal lagi!

 

Set… perlahan aku menariknya, dan… Yap! Tidak terjatuh! Aku mendapatkan boneka bebek kuning yang Jiyoung minta.

 

“Yeah… bonekanya lucu sekali!” Jiyoung langsung memeluk boneka itu. Ugh! Entah kenapa aku jadi merasa iri pada boneka itu.

 

Aku tersenyum nyiyir, “Mana terimakasihnya?” tanyaku, tentu saja aku bercanda.

 

“Hmm… terimakasihnya ini saja,” Jiyoung mendekatiku dan sedikit berjinjit—menyesuaikan tinggi badannya denganku lalu…

 

Cup!

 

Kupingku memanas. Kulirik wajah Jiyoung yang tersipu-sipu. Dia… mengecup ringan pipiku!

 

***

 

Say ah,” aku mengangkat sendokku dan membuka mulutku lebar, memerintahnya agar ia juga membuka mulutnya.

 

“Nyam,” aku menyuapinya dan Jiyoung tersenyum sebelum mengunyah spagettinya pelan. “Ng… Oppa,” dia memanggilku, tanpa menelan isi mulutnya.

 

Aku merespon singkat, “Ya?”

 

Aku menunggu Jiyoung menyelesaikan urusan dengan kunyahannya sebelum dia kembali berkata, “Bagaimana kehidupanmu? Baik-baik saja?”

 

Sejenak aku berhenti menggulung-gulung spagettiku. Aku diam sambil memandangnya. Membiarkan suara-suara keramaian cafe ini mendominasi. Menutupi keheningan sejenak yang aku buat antara aku dan dia.

 

Baik-baik saja?

 

Apakah selama ini aku baik-baik saja?

 

Saat kepergian Jiyoung ke Jepang waktu itu, aku terus berwajah murung, tidak bersemangat, bernapas pun rasanya sulit sekali, itu bukan aku. Aku merasa itu bukan aku… Aku tahu saat dia bilang ingin pergi ke Jepang. Melanjutkan kuliah di sana dan jadi wanita hebat untuk membanggakan Ibunya yang sudah tiada. Impiannya selama ini. Seperti yang sudah kukatakan tadi. Aku tidak punya alasan apapun untuk menahannya kala itu, jadi kekasihnya bukan alasan kuat. Cinta? Dia bisa mencari cinta yang lain. Menunggu? Memang ada yang mau menunggu selama itu? Bertahun-tahun, tidak bertemu dengannya. Tanpa mendapat kabar apapun. Tanpa tahu apakah dia menemukan lelaki lain di sana atau tidak. Semuanya percuma.

 

Dan, apakah itu semua baik-baik saja bagiku?

 

Nan… mollayo…” aku menggeleng sembari tersenyum kecut. Tapi aku tidak memandang wajahnya, aku menunduk. Terlalu takut menerima kenyataan, dia pasti merasa kasihan padaku.

 

“Tidak tahu? Kenapa bisa tidak tahu?” tanyanya lagi. “Ahaha… kau aneh sekali…” terdengar tawanya yang renyah, sangat ringan. Seolah aku bercanda mengatakan itu.

 

“Kau sendiri belum menjawab pertanyaanku, bagaimana kehidupanmu di Jepang?” kali ini aku mengangkat wajahku dan melihat matanya. Aku ingin memastikan, apakah dia bahagia di sana? Dia kesepian? Sendirian atau—?

 

“Aku bahagia… banyak orang baik yang menerimaku,” jawabnya ceria. Jujur, jawaban yang membuatku kecewa… karena tidak memiliki alasan untuk membuatnya kembali di sisiku.

 

Aku tersenyum kecil. Aku dapat melihat manik jernihnya yang berbinar. Ya, dia benar-benar bahagia di sana.

 

Tiba-tiba terlintas hal lain dalam pikiranku. Yang membuatnya bahagia, berarti…

 

“Kau tidak kesepian?” tanyaku kembali memastikan.

 

Jiyoung menggeleng, “Aniyo… ada seseorang yang menemaniku, dia baik sekali.”

 

Takut-takut aku bertanya, “Nam—ja?” Dia mengangguk. Oh, Tidak. “Tapi… kau bilang padaku… tak akan menerima lelaki Jepang… kan,” ucapku terputus. Jujur, aku mulai panik. Panik jika dia akan meninggalkanku lagi.

 

Cherry manis Jiyoung tertarik membuat seulas senyum tulus. Cherry itu, empat tahun lalu cherry itu milikku. Dan, akan tetap menjadi milikku, bukan?!

 

“Aku memang tidak menerima orang berkebangsaan Jepang, tapi aku menerima orang Korea,” ujarnya.

 

Hatiku terasa tertohok. Seketika sakitnya menjalar ke seluruh tubuhku. Menggerakkan jari pun sakit sekali. Akhirnya aku hanya bergeming, menunggunya melanjutkan kalimat yang akan menyakitkanku.

 

“Dia,” Jiyoung memandang lurus ke arah di belakangku. Dan, seketika senyumnya itu semakin lebar tatkala bibirnya menyerukan sebuah nama, “Taemin-a! Kemari!” Jiyoung melambaikan tangannya dengan semangat. Aku menahan diri agar tidak menolehkan kepalaku ke belakang, agar aku tidak melihat wajah laki-laki itu yang tersenyum sumringah disambut Jiyoung, agar aku tidak melihat wajah laki-laki yang pasti…

 

Akan mendampingi Jiyoung!

 

Dalam hati aku memekik. Jiyoung, kumohon… mengerti perasaanku!

 

Terasa saat seseorang duduk di antara kami. Aku menunduk tapi Jiyoung membuatku kembali mengangkat kepalaku. Memaksaku memandang wajah laki-laki yang mungkin akan aku benci karena merebut Jiyoung dariku.

 

God, please!

 

“Dia… Lee Taemin, dia sekarang bekerja di Jepang dan pertemuan singkat kami di Universitas membuat kami jadi seperti ini. Sebenarnya aku sudah mengundangnya dari tadi, tapi dia agak terlambat tidak apa-apa, kan?” Jiyoung terkekeh kecil. Laki-laki bernama Taemin itu pun mengulurkan tangannya padaku.

 

“Kau tak perlu mengenalkan dirimu lagi. Jiyoung sering menceritakan tentang kau padaku, lagipula… seluruh Korea mungkin tahu siapa kau, haha… bangapseumnida, Myungsoo-ssi.” Ujarnya, entah berbasa-basi atau apa. Yang jelas aku tidak peduli. Dan, tawanya itu seakan mengatakan, “Jiyoung sekarang adalah milikku!’

 

Maaf saja, aku tidak akan membalas kata bangapseumnida darimu.

 

Taemin kemudian tersenyum canggung karena aku tak kunjung menjabat tangannya. Sungguh, pandanganku sudah buram karena mataku sudah tenggelam. Tapi sekuat tenaga aku berusaha tegar. Aku pria!

 

“Hello, hello, hello, hello…”

 

Dengan sigap aku mengangkat panggilan yang masuk saat handphone-ku berdering. Lagi-lagi tanpa melihat nama yang tertera di layar.

 

Yeoboseyo? Ne, aku akan segera ke sana. Nde… Tunggu aku! Baiklah…”

 

Pip.

 

Aku beranjak dari kursiku dan sedikit menunduk pada Jiyoung dan Taemin. “Mianhamnida aku ada urusan penting dan mendadak, kurasa aku harus pergi. Kita mengobrol lain kali.”

 

Tanpa menunggu jawaban, aku melesat meninggalkan mereka dan pergi keluar cafe itu. Siapapun yang meneleponku tadi, aku harus berterimakasih padanya. Karena selangkah saat kakiku keluar pintu cafe. Airmataku sudah menganak di pipi.

 

***

 

Aku mengemudi dalam keadaan sedkit tidak sadar. Atau malah kesadaranku sudah hilang. Entahlah… kenapa jalanan seperti meliuk-liuk, berkelok-kelok, membuatku pusing…

 

“Arrggh…”

 

Mungkin karena wiskey yang sempat kuminum tadi. Ah… bukan sempat, aku memang menghabiskan beberapa botol. Kupikir akan membuat perasaan lebih baik, ternyata tidak, justru aku lebih depresi setelah meminumnya.

 

CKIIIIIIT!

 

BRAAAAAK!

 

Aku tidak tahu apa yang terjadi. Sekelilingku seperti berkabut, ada asap dimana-mana. Ugh! Menghalangi pendanganku. Aku tak tahu suara apa tadi dan berasal darimana. Tapi suara keras sekali, seperti dua benda besar yang saling membentur.

 

Ah… aku memegangi kepalaku yang terasa sakit. Berputar-putar… apa aku sedang naik komidi putar? Konyol!

 

Aku menggesekkan permukaan kepalaku dengan telapak tangan. Lengket. Ah… cairannya berwarna merah… Apa ini…

 

Dan apa yang terjadi selanjutnya tak bisa kupastikan, karena pandanganku mendadak gelap.

 

***

 

Aku merasakan kehangatan menerpa wajahku. Perlahan, aku membuka mata… akh! Silau cahaya membuatku mengerjapkan mataku beberapa kali. Cahaya terang itu masuk melalui jendela kamar dimana aku berada sekarang.

 

Dimana aku berada sekarang?

 

Aku terduduk dan melihat sekelilingku. Aku di… Oh—Rumah Sakit.

 

Aku meraba perban pada kepalaku. “Akh!” seketika pusing saat aku menyentuhnya. Aku pun mencoba beranjak dari ranjangku dan menuju kamar mandi.

 

Set!

 

Shit! Aku sulit berjalan karena kakiku memakai bidai. Apa kakiku patah? Ah, peduli. Saat ini aku ingin ke toilet!

 

“Jangan memaksakan diri, anak muda.” Seorang wanita paruh baya menghampiriku dan menopang tanganku pada pundaknya. Membantuku berdiri dan menyeimbangkan tubuhku.

Aku berjalan tertatih memasuki toilet dengan hati-hati. Dan, saat aku keluar kulihat wanita yang berusia kira-kira setengah abad itu tengah menaruh beberapa makanan dan obat-obatan di meja samping ranjangku.

 

Dia menoleh dan tersenyum padaku. “Habiskan makanan ini dan jangan lupa minum obatnya, ya.” Ujarnya ramah. Aku hanya mengangguk menanggapinya.

 

Dia kembali membantuku berjalan ke ranjangku dan duduk. Tak ada sedikit pun niat dalam hatiku untuk mengajaknya berbicara. Kurasa aku masih terbawa suasana kemarin, maka aku diam saja.

 

Tak ingin tahu apa yang terjadi kemarin malam atau pun kenapa tiba-tiba aku berada di Rumah Sakit ini. Apakah mobilku baik-baik saja atau orangtuaku akan datang menjenguk. Aku pendam semuanya dalam diam.

 

Setelah wanita yang bisa kupastikan suster itu keluar kamarku. Aku menyantap sarapanku tanpa nafsu. Dalam diam. Kemudian aku menelan obat kapsulku dan diam lagi. Aku melayangkan pandanganku ke jendela kamar yang langsung mengarah keluar. Jelas rumah sakit ini tidak berada di kota, karena di luar banyak pepohonan rimbun dan rerumputan yang masih hijau, sangat asri. Kurasa mereka mendesain taman dengan cukup baik. Banyak bunga warna-warni yang tumbuh di sana. Anggrek, lily, mawar…

 

Ah, mawar.

 

Jiyoung sangat suka mawar putih. Aku tersenyum kecut mengingatnya.

 

Dan lebih baik, hari ini aku tidak membuka mata lagi jika itu membuatku mengingatmu… Kang Jiyoung.

 

Aku memutuskan berbaring dan memejamkan mataku lagi. Jika bisa, aku tak ingin mata ini terbuka lagi. Lebih baik menutup selamanya.

 

***

 

Do’aku tidak terkabul. Matahari sudah tenggelam tapi mataku terbuka. Aku terjaga menjelang malam. Hening. Aku melihat jendela, dan ternyata tirainya sudah tertutup. Helaan nafasku terdengar membahana karena saking sunyinya suasana di sini.

 

Dan, gelap.

 

Kenapa suster itu tak menyalakan lampunya? Memangnya sudah waktunya tidur? Bahkan mentari baru saja tenggelam beberapa menit yang lalu.

 

Aku berusaha berdiri dan berjalan walaupun terseok-seok. Tanganku meraba-raba dinding mencari saklar lampu. Sungguh, sangat gelap. Aku tidak suka, kegelaapan ini seperti mengambarkan gelapnya hidupku.

 

Aku benci.

 

Trek.

 

Lampu menyala. Akhirnya, dan aku berbalik untuk kembali pada ranjangku tapi…

 

Aigeu!” aku terlonjak kaget saat melihat sesosok gadis yang berdiri di hadapanku saat aku membalikkan tubuh. Gadis itu tersenyum ramah padaku, tapi aku bisa melihat wajah pucatnya walau tertutupi senyum.

 

Annyeonghaseyo!” sapanya dengan suara ceria.

 

Aku mengangguk bingung. Bagaimana bisa dia ada di kamarku? Dia pasien tetangga yang menyelinap?

 

“Aku tidak menyelinap, kok.” Ucapnya, kembali mengagetkanku.

 

“Kau… tahu darimana? Kau bisa baca pikiranku?” tanyaku, semakin bingung.

 

“Hm? Bagaimana ya menjelaskannya,” dia mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya pada dagunya. Seolah berpikir. “Ini karena kita… punya garis kehidupan yang sama, makanya aku bisa tahu pikiranmu dan kau bisa tahu pikiranku.”

 

“Hah?” aku terheran-heran dengan ucapannya. Dan kali ini aku yakin, dia pasien gangguan jiwa.

 

“Aku waras, Kim Myungsoo.”

 

“Eh?” sekali lagi, dia bisa baca pikiranku. Dan, aku akan mengosongkan pikiranku sekarang juga! Agar dia tak bisa membaca apa-apa!

 

“Kosongkan saja kalau bisa, tapi sesungguhnya, pikiran manusia itu tak akan kosong. Apalagi dirimu… kau selalu memikirkan yeoja yang kau cintai itu, geutchi?”

 

Dia tahu.

 

“Hehehe… maaf membuatmu bingung, kita kenalan saja, ya. Choi Sooyoung imnida, bangapseumnida…” dia menunduk sopan, saat dia mengangkat lagi tubuhnya, dia memberikan senyum manis. Dan, itu membuat matanya menyipit dan dagunya bertambah lancip. Sesaat aku terpesona.

 

“Kurasa kau sudah tahu namaku,” ujarku dingin. “Kembalilah ke kamarmu, aku mau tidur.” Ujarku lagi, memberi kode ‘usiran’ padanya.

 

“Loh? Bukankah kau baru bangun? Kenapa mau tidur lagi? Dan, kenapa lampunya kau nyalakan? Seharusnya lampu dimatikan agar hemat listrik kan?”

 

“Tutup mulutmu dan kembalilah ke kamarmu!” bentakku keras. Dia sempat membulatkan matanya—terkejut—karena bentakanku yang tiba-tiba.

 

Ne, mian. Aku… cuma ingin berkenalan denganmu. Aku cuma ingin… punya teman.” Aku mendengar suaranya melirih. Tapi tak kuperdulikan karena aku sudah berbalik memunggunginya sambil berbaring.

 

Saat aku hendak memejamkan mata—

 

Krek! Suara pintu terbuka.

 

“Yah, tenanglah… hari sudah malam dan seharusnya kau tidur. Ya ampun… apa-apaan ini? Kau menyalakan lampunya? Tidurlah dan akan kumatikan lagi lampunya. Kau pasien baru dan masih sakit!” Kurasa itu omelan suster paruh baya tadi. Aku membalikkan tubuhku untuk melihatnya.

 

“Seharusnya bukan hanya aku yang kau mara—”

 

“Apa?” suster itu memandangku galak.

 

“—hi.”

 

Glek. Aku meneguk liur. Mana gadis itu? Mana gadis Choi Sooyoung itu? Su-sudah tidak ada?

 

“Memangnya siapa lagi yang bisa kumarahi? Hantu? Istirahatlah… kau mungkin sembuh satu minggu lagi.” Ujarnya ketus lalu menutup pintu cepat.

 

Brak!

 

Mwo? Satu minggu lagi?!” jeritku tertahan.

 

Bagaimana jika benar… gadis berambut panjang tadi adalah… Hantu? Bagaimana bisa tinggal satu minggu lagi di rumah sakit berhantu? Oh God!  Seketika bulu kudukku meremang dan segera aku menutupi seluruh tubuhku dengan selimut.

 

***

 

Malam esoknya, aku kembali di kejutkan dengan sosok itu. Gadis berkulit putih dan bertubuh tinggi mengenakan piyama bermotif daun. Rambutnya yang panjang sedikit bergelombang, tapi wajahnya kali ini tidak terlalu pucat.

 

“Kau… kenapa kemarin kau tiba-tiba menghilang?” tanyaku menyelidik.

 

Sooyoung memandangku takut-takut. “A-aku… cepat-cepat pergi karena kalau ketahuan Jung-ahjumma aku bisa dimarahi. Tolong jangan bilang-bilang, ya!” dia menaruh kedua tangan dekat mulutnya, memohon padaku.

 

“Oh! Suster itu Jung-ahjumma ya… Hmm, entahlah, aku tidak bisa jaga rahasia.” Ungkapku.

 

“Myungsoo, aku mohon! Aku tidak mau kena marah karena keluar malam-malam!”

 

“Suruh siapa keluar malam-malam? Dan, kenapa malam ini kau datang ke kamarku lagi?” tuntutku. Sooyoung menautkan jemarinya. Tampak gugup.

 

“Bu-bukankah aku sudah bilang kalau… kalau aku tidak… tidak punya teman.” Ucapnya sambil menunduk. “Aku ingin mengobrol denganmu. Kau satu-satunya pasien yang bisa diajak berbincang. Percayalah.”

 

“Lalu?”

 

“Kupikir aku dan kau bisa berteman… kita kan… punya garis kehidupan yang sama?”

 

Dengan kesal aku menyentil dahinya. “Kau ini, masih juga soal garis kehidupan yang tak tahu asal usulnya benar atau tidaknya itu. Kau masih saja percaya?”

 

“Itu benar, kok!” dia memanyunkan bibirnya. Wajahnya terlihat lucu walau agak pucat. “Kita sehati, Kim Myungsoo!”

 

“Baik-baik, jika kau bilang kita sehati, tunjukkan padaku.” Ujarku.

 

“Baik! Aku akan datang ke sini tiap hari… eh, tidak! Tiap malam! Karena aku yakin kita memang jodoh!” ujarnya lantang.

 

Dalam hati aku menertawainya. Gadis sepertinya tahu apa tentang jodoh? Maksudku, lihatlah tingkahnya, seperti anak SD, benar-benar kelewat polos. Ada-ada saja. Tapi, meski begitu… aku akan menunggu pembuktiannya.

 

***

 

Malam berikutnya, dia datang, mencoba berbincang-bincang denganku, menguak kehidupanku dan mengetahui segala hal tentangku. Begitu pula malam selanjutnya, malam selanjutnya, dan selanjutnya, setiap malam, tak pernah sekalipun dia tak mengunjungiku.

 

Dan hingga malam itu, malam ke enam aku di rumah sakit itu, seperti biasa Sooyoung mengunjungiku dengan senyum manis yang selalu dia bawa. Dia duduk di tempat tidurku tanpa segan.

 

Annyeong!” sapanya riang, seperti biasa kujawab dengan anggukan.

 

Aku tak terlalu memperdulikan kehadirannya karena aku tengah sibuk dengan sketsaku. Sketsa wajah Sooyoung. Entah kenapa aku ingin menggambar wajahnya. Mungkin karena tidak ada kamera makanya aku ingin mengabadikan wajahnya dengan gambaranku. Semoga tidak jelek.

 

“Apa, sih? Aku mau lihat!” dia merebut buku sketsa itu dariku. Entah kenapa aku gelagapan menunggu reaksinya ketika melihat gambaran wajahnya yang kubuat. Seketika manik beningnya berkaca-kaca. “Myu-Myungie…”

 

“Hei… jangan menangis! Kalau gambaranku jelek, bilang saja! Tapi jangan mengejek begitu!”

 

“Tidak… ini… sangat…,” Sooyoung menyeka airmatanya dengan punggung tangan. “Bagus…”

 

“Jangan berlebihan, aku mengambarmu karena aku sedang tidak ada kerjaan… aku juga mendapatkan buku sketsa itu dari Suster Jung.” Ungkapku. Menggaruki tengkukku. Apa aku salah tingkah? Dihadapannya? Konyol.

 

Sooyoung menggeleng. “Tidak! Aku tidak berlebihan! Tapi gambaranmu benar-benar bagus, Myungie, apa aku secantik ini?”

 

“Eh?” lagi, aku menggaruk belakang kepalaku yang tak gatal. “Ey… yah… kau memang… cantik?”

 

Jeongmalyo?”

 

Ye… ye…” aku hanya mengangguk-angguk. Terserah dia mau berkomentar apa lagi, yang jelas aku bicara apa adanya saja. “Kalau begitu mana terimakasihnya?” tuntutku padanya.

Sooyoung terlihat berpikir.

 

“Hadiahnya ini. Khamsahamnida!”

 

Cup!

 

Aku terbelalak. Pipiku dikecupnya ringan. Dengan pandangan lurus ke arahnya, aku meraba pipiku yang baru saja dikecupnya… ya ampun… hangat.

 

“Yah! Beraninya kau!”

 

“Ehehehe…” Sooyoung hanya tertawa-tawa. Sementara aku merasa deja vu. Manik bulatnya memancarkan pantulan dari sinar lampu, bening sekali. Pipinya merona, aku tidak pernah sebelumnya, melihat pipinya yang semerona itu karena biasanya dia tampak pucat.

 

Tiba-tiba saja, kedua tanganku menangkup wajahnya. Meneliti tiap detail pahat wajahnya. Sooyoung mematung di sampingku, masih terduduk di atas ranjangku. Aku pasti sudah gila. Aku ingin menciumnya.

 

“Oh iya, Aku ingin sekali pergi ke pantai denganmu… kita melihat laut.” Dengan gugup, Sooyoung menjauh dariku, memisahkan diri. Kemudian dia memandang menerawang sambil mendekap buku sketsa itu.

 

Aku tersenyum kecut. Gerakan tubuhnya menandakan dia menolakku. “Setelah aku sembuh, aku akan mengajakmu, oke! Melihat laut, ke pantai, sesukamu sepuas hatimu!”

 

Mendadak raut muka Sooyoung murung, matanya menjadi sendu. Dia menggeleng lemah. “Tidak bisa. Aku tidak bisa pergi ke pantai. Selama ini aku selalu membayangkannya pergi, dan saat kau datang kemari aku semakin berharap bisa pergi denganmu. Tapi kenyataannya memang tidak bisa.”

 

Wae?” heranku.

 

“Jung-ahjumma dan yang lain tidak akan mengijinkanku… pasti aku dimarahi.”

 

“Heh… kenapa mereka selalu memarahimu, sih?”

 

“Karena,” Sooyoung berhenti sejenak. “Karena aku merepotkan, aku membuat mereka susah, aku pembawa sial. Kau lihat kan wajahku pucat setiap hari? Aku memang gadis penyakitan.” Ungkapnya lugu. Mimik wajahnya tergambar bahwa dia tidak tahu apa-apa.

 

Kedua tanganku bergerak meraih bahunya, lalu merengkuhnya. Kepalanya tenggelam di dadaku. Aku tidak tahu apapun tentangnya, tapi ada rasa ingin membuatnya senang. Apapun itu. Mendengar ceritanya membuatku sedih. Tapi anehnya, dia sendiri tidak pernah menangis di hadapanku.

 

Abeoji sibuk dengan Perusahaan dan Ommoni adalah seorang artis papan atas. Em… aku berpikir sekali-sekali kau harus melihat Ommoni, dia sangat cantik apalagi jika berakting! Aku sangat menyukainya!”

 

Aku tidak tahu apa yang membuatnya berpikiran seperti itu, tapi yang pasti gadis polos yang harus merasakan dunia luar. Aku pernah mendengar curhatannya bahwa Sooyoung belum pernah keluar rumah sakit walau hanya pergi ke halaman depan.

 

“Mereka sering datang menjengukmu?”

 

Sooyoung menggeleng, tapi dia tetap mempertahankan senyumnya.

 

Itu keterlaluan. Separah apapun penyakitnya. Apa harus sampai begitu? Dan yang paling parah… Orangtuanya jarang menjenguknya, karena rumah sakit ini milik orangtua Sooyoung. Mereka hanya memberikan boneka bebek dan mawar putih? Memangnya kasih sayang hanya sebatas itu? Mereka tidak pernah berpikir apa?!

 

“Tapi walau mereka sibuk, mereka selalu membawakanku boneka bebek yang lucu dan bunga mawar putih. Aku sangat suka mawar putih. Indah dan harum, ya kan?”

 

Mendengar kata boneka dan mawar. Membuatku kembali mengingat Jiyoung. Sialan. Tidak boleh di saat seperti ini. Walau sifat dan kelakuannya mirip Jiyoung. Namun dia adalah Sooyoung, bukan Jiyoung. Hilangkan nama Kang Jiyoung dari kepalamu!

 

“Lihat saja, kita nanti akan ke pantai sama-sama.” Aku tersenyum dan menyemangatinya, Sooyoung balas tersenyum penuh harap padaku. “Jangan sedih, aku janji akan mengajakmu.”

 

Ne.”

 

“Nah, begitu dong.”

 

“Myungie, bisakah kau memelukku lebih erat lagi? Tubuhmu hangat sekali.” Kubalas dengan gumaman, aku mengabulkan permintaan Sooyoung dan mendekapnya lebih dalam. Dasar. Bagaimana tubuhnya bisa sekecil ini?

 

“Myungsoo, kau belum tidur?” tiba-tiba Suster Jung masuk dan memergokiku sedang mengobrol akrab Sooyoung. Sepersekian detik cepatnya aku menjauhkan tubuhku dari Sooyoung. Gawat jika ketahuan.

 

Aku terkesiap. “Er… ini, aku sedang… Sooyoung bilang… dia…” dengan terputus-putus aku mencoba menjelaskan padanya. Tingkahku lagi-lagi gelagapan. Setelah mendengar jawaban anehku, tak kusangka… tahu apa yang dia katakan?

 

“Jangan bicara sendiri malam-malam! Bahaya!”

 

Krek! Lalu dia menutup pintu kasar.

 

Bi-bicara sendiri? Dia tidak bisa lihat apa? Aku sedang berbicara dengan Sooyoung!

Ketika aku menyapu pandangan ke seluruh sudut kamar…

 

Suster Jung benar. Aku sendirian. Dimana Sooyoung?!

 

***

 

Setelah malam aneh itu, Sooyoung tidak pernah mengunjungiku lagi. Mulai dari malam ke tujuh, ke delapan, ke sembilan… dan malam berikutnya. Memang seharusnya aku sudah sembuh pada hari ke tujuh tapi Dokter bilang kakiku belum pulih seutuhnya, maka aku harus melanjutkan perawatan di sini. Dengan senang hati aku mengangguk setuju. Tentu saja karena sebelum pergi, aku ingin mengucapkan salam perpisahan pada Sooyoung dan menepati janjiku untuk mengajaknya pergi ke pantai.

 

Sooyoung…

 

Tapi dia tak pernah datang.

 

Hingga selarut apa pun aku menunggu.

 

Sooyoung tak datang.

 

Kenapa?

 

Malam itu, aku nekat keluar kamar, aku ingin mencari sendiri ruangan Sooyoung di rawat. Aku khawatir sesuatu yang buruk terjadi padanya. Sooyoung satu-satunya gadis yang bisa membuatku tersenyum tanpa Jiyoung.

 

Krek!

 

“Choi Sooyoung? Sooyoung-a?”

 

Aku membuka pintu satu persatu. Dan, semuanya kosong. Aneh. Rumah Sakit ini megah, namun kekosongan ada dimana-mana. Yang kudapati dengan raut kecewa. Sepanjang koridor Rumah Sakit sangatlah sepi. Tak bersuara. Aku tak peduli dimana Suster-Suster ataupun para Dokter itu karena yang kupikirkan sekarang adalah Choi Sooyoung. Aku harus memastikan keadaaannya sebelum aku pergi.

 

“Ruang rawatmu dimana, aish…”

 

Inisiatif, aku pun menghampiri receptionist dan bertanya, “Dimana ruangan pasien bernama Choi Sooyoung?”

 

Saat aku bertanya, sontak sang receptionist itu tampak heran dan kebingungan. Dia balik bertanya, “Darimana anda tahu tentang Nona Muda Choi?” dengan suara setengah berbisik.

 

Aku menautkan alisku. “Tentu saja karena dia pasien di sini? Dia sering menemuiku dan kami juga sering mengobrol.”

 

“Apa?” dia membulatkan matanya.

 

“Memangnya kenapa—?”

 

GRUK!

 

Tiba-tiba saja seorang Suster menyenggol tubuhku, aku hampir limbung tapi untunglah tidak terjatuh. Dengan panik, Suster itu mengatakan hal yang membuatku terkejut, jantungku berdegup kencang dan rasanya lututku lemas.

 

“Nona Choi Sooyoung kritis! Beritahu yang lain untuk datang ke ruangannya! Lantai 4 nomor 12! Sekarang!” dengan gerak sigap sang receptionist itu menelepon tiap Suster dan Dokter untuk datang.

 

Lantai 4 di kamar nomor 12. Menaiki beberapa anak tangga, melewati beberapa lantai—karena lift dipenuhi oleh Suster dan Dokter yang akan menuju ruangan Sooyoung juga. Aku panik. Sampai hampir terjatuh beberapa kali. Aku berharap ini mimpi dan Sooyoung baik-baik saja.

 

Hingga terlihat sebuah pintu bercat merah dan gagangnya sedikit terbuka. Suster itu masuk, begitu pula denganku. Aku melangkahkan kaki ke dalam.

 

Mataku membulat. Sesosok gadis terbaring tanpa tenaga dengan banyak kabel menempel di tubuhnya. “Sooyoung kah? Sooyoung kah? Inikah Choi Sooyoung?” benakku bertanya-tanya.

 

Tapi… seluruh tubuh gadis ini tertutupi perban!

 

Aku terpaku. Melihat tubuh Sooyoung yang tak berdaya dan layar monitor yang menunjukkan bahwa Sooyoung dalam masa koma. Hatiku mencelos. Benar. Benar ini Sooyoung. Sooyoung yang ceria, periang, dengan senyum manisnya selalu memanggilku ‘Myungie’ tiap malam. Ini Choi Sooyoung!

 

Aku tak memperdulikan kehebohan para medis itu untuk mengkondisikan Sooyoung. Hal-hal aneh yang mereka lakukan, yang tak kumengerti. Mereka mendeteksi detak jantungnya dan peredaran darahnya, lalu memeriksa napasnya, dan hal lainnya. Sooyoung tetap tak sadarkan diri. Tak ada perubahan pasti.

 

Yang bisa kulihat hanyalah… mata jernihnya yang terpejam. Yang biasanya menatapku itu kini menutup, rapat, damai. Seakan dia tengah tertidur lelap. Kedua tangannya terlipat di atas perut. Dia memakai piyama hijau motif daun yang biasanya. Aku ingat, dia pernah bilang dia suka daun. Karena itu semua piyamanya bermotif daun.

 

“Tidak! Aku tidak berlebihan! Tapi gambaranmu benar-benar bagus, Myungie, apa aku secantik ini?”

 

Kau sangat. Sangat cantik. Aku belum pernah bertemu gadis secantikmu sebelumnya. Kau cantik. Kau cantik, Sooyoung-a

 

Setetes bening jatuh dari pelupuk mataku. Bodoh, kenapa aku menangis?

 

BRAK!

 

“Sooyoungie! Sayang!” seorang wanita dengan make up tebal dan pria berjas abu-abu tiba-tiba saja masuk mendobrak pintu dan membuat keributan. Si wanita menangis tersedu-sedu di pundak si pria dan pria itu mengusap-usap punggung si wanita. Aku muak melihat mereka, yang bisa kupastikan adalah… Orangtua Sooyoung!

 

“Sooyoung kami… Sooyoung kami…” wanita itu terus menangis.

 

“Tenanglah, dia akan sadar. Dia gadis yang kuat.” Pria itu mencoba menenangkan si wanita.

 

Kesabaranku mulai habis. Emosi yang tiba-tiba datang entah darimana, kenekatan berlebihan yang kudapat begitu saja, meluncur bak roket, “Kemana saja kalian? Sementara putri kalian antara hidup dan mati, kemana saja kalian? Apa yang kalian lakukan?!” aku berteriak keras. Hingga kedua orang itu mengalihkan perhatiannya padaku. “Maaf aku membentak kalian… aku memang tak ada hubungan apa-apa dengan Sooyoung. Tapi… asal kalian tahu. Sooyoung tidak pernah berpikiran buruk tentang kalian! Dia selalu berpikir kalian pergi bekerja untuknya! Selalu berharap akan bahagia karena orangtuanya! Tapi apa—?”

 

Mereka terdiam.

 

“Aku… aku adalah Kim Myungsoo, temannya! Teman yang baru dikenalnya satu minggu ini! Mungkin lancang jika mengatakan, aku begitu sangat mengenalnya! Tahukah kalian apa warna yang disukainya? Kemana dia ingin pergi?”

 

Mereka kini menunduk. Suster dan Dokter tetap bekerja tak memperdulikanku. Hingga yang terdengar hanya suara layar dengan garis terputus-putus.

 

“Choi Sooyoung. Selama hidupnya hanya berada di dalam kamar. Warna yang disukainya hijau dan dia menyukai motif daun. Dia suka boneka bebek dan mawar putih. Dia juga ingin pergi ke pantai untuk melihat laut,” ungkapku. Aku terdiam kemudian, tidak melanjutkan, berusaha mengatur nafasku yang memburu. “Dia menceritakan semuanya padaku.”

 

Sampai akhirnya…

 

Layar hitam itu menunjukkan garis lurus.

 

***

 

Aku bermimpi. Mengunjungi pantai denganmu. Kau tidak tahu kan?

Ya, kau tidak tahu, karena itu hanya mimpi. Karena kau sudah tidak ada.

Namamu Choi Sooyoung. Gadis 23 tahun yang tak pernah melihat keindahan dunia. Terjebak dalam kamar sesak dengan kabel-kabel medis yang menggulung tubuhmu. Gadis penderita kelainan kulit sejak lahir, yang tidak aku tahu apa namanya. Para suster bilang setiap hari perbanmu harus di ganti, mereka bilang nanah itu keluar dari tubuhmu setiap hari. Kenapa kau tidak pernah membicarakan itu denganku? Apa kau takut aku akan jijik dan menjauhimu?

Tidak, Sooyoung-a.

Kau bilang kita punya garis kehidupan yang sama, sehingga kau bisa baca pikiranku dan sebaliknya. Makanya kau ingin berteman denganku. Kau bilang kita jodoh.

Jujur, aku tidak pernah percaya. Tapi rasanya memang mungkin saja. Garis kehidupanku yang gelap… sama denganmu. Ya, kita sama. Aku akui kita berjodoh.

Choi Sooyoung, kau bisa mendengarku?

Apakah di sana gelap?

Kau bisa melihatku?

Hm… kita sedang ada di pantai, bukan?

Anginnya sungguh sejuk, ya.

Maaf aku tidak bisa lebih lama menemanimu. Tapi… seminggu sudah cukup kan?

Tutup matamu dengan tenang, damailah di sana…

 

***

 

Sudah kukatakan kita punya garis kehidupan yang sama dan aku benar!

Aku tahu kita sedang ada di pantai.

Wuah… indahnya, ternyata laut itu berwarna biru, kekeke.

Ah… udaranya memang sejuk, hm…

Ini terakhir dan pertama kalinya aku melihat laut… denganmu.

Myungie, berkatmu aku bisa melihat wajahku yang cantik, kukira… wajahku itu jelek dan busuk, karena setiap hari mengeluarkan nanah dan itu bau sekali…

Tapi kau bilang aku cantik.

Kenapa kau bilang begitu? Kau mencoba membohongiku, ya? Tapi sebenarnya tidak masalah kau bohong atau tidak. Karena mendengar kata itu keluar dari mulutmu pun aku sudah sangat gembira.

Maaf aku tidak bisa mencium pipimu lagi saat ini, padahal aku sangat ingin…

Berterimakasih…

 

***

Epilog

 

Winter, 17th December 2013.

 

Butiran air yang mengkristal menghujami kepalanya yang tak tertutupi apa-apa. Sepatu bootnya membuat jejak-jejak di atas gumpalan salju yang menutupi rerumputan area pemakaman. Dengan segenggam buket bunga mawar putih di tangan. Dia genggam sangat erat. Sedikit menggigil tak akan menyurutkan niatnya untuk menghadiri hari peringatan ketiga tahun ini.

 

Lelaki itu menaruh sebuket bunga di samping sebuah nisan, kemudian bersimpuh di hadapannya. Tak tahu apa yang dia pikirkan saat ini. Yang terpancar hanya tatapan redup, kiat-kiat terus memandangi sebongkah nisan.

 

Choi Sooyoung.

Born, 2nd February 1988.

Until, 17th December 2011.

 

“Sudah tiga tahun, hm?” Kim Myungsoo memulainya. “Bagaimana bisa tiga tahun berlalu, tapi aku belum juga melupakanmu?” kemudian dia tertawa getir.

 

Udara kian mendingin. Membuat kebekuan dalam diri Myungsoo semakin menjadi. Kendati tubuhnya tak ingin beranjak barang sejengkal pun. Karena ini saatnya dia melepas rasa itu. Rasa rindu itu.

 

“Jiyoung mengirimiku foto putrinya yang sangat cantik. Dia baru lahir, hari ini. Kau akan suka jika melihatnya. Jiyoung bertanya padaku apa nama yang bagus. Dan, aku memberitahunya nama Sooyoung bagus untuk bayi mungil itu. Maaf tidak meminta ijinmu dulu, jangan marah, oke?”

 

Myungsoo menggesekkan kedua tangannya, guna menambah kehangatan.

 

“Ish… Dingin sekali…” keluhnya.

 

Lantas mengangkat wajahnya lagi untuk memandangi nisan Sooyoung.

 

“Bicaralah, Sooyoung-a. Katakan kenapa kau menjadikanku teman saat itu. Katakan kenapa kau selalu tersenyum padaku. Katakan kenapa aku jatuh cinta padamu saat kau sudah tidak ada di sisiku. Katakan, Choi Sooyoung!”

 

Airmatanya jatuh satu-satu. Beban yang selama ini dipendamnya rasanya berpendar keluar. Memencar mengosongi rongga dadanya. Sesaknya tak separah sebelumnya. Myungsoo terus menangis.

 

“Ah… kau tahu? Rasanya sudah lebih baik sekarang…” Myungsoo tersenyum. Disentuhnya nisan itu penuh perasaan. “Selamat tinggal, Sooyoung-a.”

 

Angin kembali bertiup dari arah yang sama tetapi kali ini lebih kencang. Myungsoo membuka matanya dan bangkit berdiri sebelum ia menyadari sesuatu yang sebelumnya tidak berada di sana.

 

Di depan nisan Sooyoung yang penuh dengan salju, tertulis sebuah kalimat, yang tampaknya diukir oleh seseorang dengan sebatang ranting.

 

“Jangan menangis. Aku juga mencintaimu, Kim Myungsoo.”

 

Myungsoo tertegun dan melirik ke balik bahunya, bulu romanya menegang seiring ia menolehkan kepalanya ke hamparan salju di belakangnya. Tidak ada siapa pun. Ia hanya seorang diri di pemakaman itu.

 

Sebutir dua butir mengalir jatuh kembali, dan kini ia menangis tak tertahan lagi. “Dimana? Aku tidak bisa melihatmu. Dimana kamu, Sooyoung-a?”

 

Aku selalu berada di sampingmu. Apa kau bisa melihatku? Aku sedang berada di belakangmu.”

 

Sosok yang menjawab itu berdiri di belakangnya.

 

***

 

A/N: Selesai juga fanfic terpanjang yang pernah saya bikin, hahaha. Waktu itu WilnaSooyoungster request Myungsoo/Sooyoung. Aku cuma bisa bikinin ini, revisi fanfic ku waktu tahun 2011 silam, waks… lama banget yak? Cast awalnya ini Minho/Hara/Jiyoung. Bagi yang udah pernah baca, ada beberapa bagian yang beda, ya kan?

17 thoughts on “The Same Line

  1. Qarenza Park December 17, 2013 / 3:55 PM

    Wah ! FF nya bagus !
    Tapi kasihan soo eon sakit T.T
    Masih gantung. Buat sequel ne !😀

  2. Yufasa December 17, 2013 / 4:25 PM

    aku belum /? Hm…. Jadi tu hantu beneran??? Serem T.T , tapi kacian mereka ngga bersatu kakak….
    Lain kali ditunggu yang bersatu ok?? ditunggu ff yang lain, eh kak bikinin pairing sooyoung-jungshin(cnblue) ya, ngga tau kenapa pengen/? Kalo bisa sih ^^ hehe

    • wufanneey December 23, 2013 / 12:28 PM

      belum pernah bikin sooyoung jungshin,
      takutnya nggak ngefeel…
      tapi ntar dicoba deh kalo bisa ^^

  3. srimurdhaningsih December 17, 2013 / 6:27 PM

    hampir nangis tapi ga jadi nangis-_-
    kasian L sama sooyoung. miris bgt cintanya
    ditunggu cast ini lagi ^^

  4. miss_sooyoungster10 December 17, 2013 / 8:49 PM

    Nangis beneran ini TT

  5. hananhee December 17, 2013 / 8:53 PM

    keren,aku baru baca ini..

    Bagian soo kritis itu,lho!! Cetar bget ><
    dag-dig-dug-jleb (?) gituu,,!

    Bagian akhirnya aku suka,tapi juga nggak,, soo jadi keliatan miris. L nggak bisa liat,tapi dia selalu bareng myungsoo oppa..
    Tapi,aku suka!! Ff.nya bikin nangis,lho! Keren!!

    Tetep,berkarya,kak~ ^^

  6. Choi Min Ra December 18, 2013 / 2:16 AM

    Hiks ff nya bikin nangis T.T
    Apa lagi yang pas sooyoung koma.
    Ff mu keren aku suka
    Ditunggu ff myungsoo & sooyoung yang lainnya

    • wufanneey December 23, 2013 / 12:27 PM

      nggak berani bikin myungsoo sooyoung lagi, duh,
      maap ya -o-

  7. shin hyun young December 18, 2013 / 2:25 PM

    Kasian myungsoo giliran ud move on malah. Ditinggal lagi.. Kasian soo hidupnya miris bgt.. Tpi ffnya bagus walopun agak nyesek2 gmna.. Gitu…

  8. Anna Choi December 18, 2013 / 2:27 PM

    aku kira ini ff horor, nggak taunya….
    sedih banget tau soo eonn keadannnya kayak gitu :”””
    itu waktu myungsoo ketemu soo eonn, itu arwahnya soo eonn aja atau sama tubuhnya? itu tanda tanya banget buat aku. soalnya merinding tau soo eonn koma gitu.
    feelnya aku dapet, tapi ya gitu baca sambil merinding hehe….. daebak!!

  9. kim eunji 97 December 18, 2013 / 3:40 PM

    Ngenes banget ya mereke :””””
    daebak author-nim ^^

  10. thelittleshikshin December 18, 2013 / 5:20 PM

    ya ampun…….. feel ff nya hidup banget, mewek akuT______T
    2 thumbs up buat kamu wufanneey

  11. yeni swisty December 19, 2013 / 10:10 AM

    sumpah feel nya dapet banget, buat aku nangis T.T
    sedih mereka gk bisa bersatu T______T

  12. JeByung-JeSoo December 20, 2013 / 7:32 AM

    eonni ya ampun aku nangis ginilah eon :”””>
    suka banget ff nyaaa :”””> atulaaah huhuhuu:”””>
    daebak eon, aku selalu suka ff buatanmu :”””> /masih nangis/
    Kak Fani, jjang!’o’)9 daebakk jinjja neomu daebak!

  13. wiwik June 25, 2014 / 7:44 AM

    wuahhh ff nya bagus bnget ceritanya bner2 buat org bner2 msuk kdlm crtanya :3

  14. Amel Ryriis June 25, 2014 / 10:18 PM

    Hwwwaaa ;( ini mnyedihkan,,soo eon kasihan,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s