Annabelle – PART I

annabelle

Title: Annabelle

Author: wufanneey

Genre: Angst, Dark

Rating: R

Lenght: Series

Pairing: Changmin/Sooyoung

Summary: Choi Sooyoung mencintai Shim Changmin, dan rela melakukan apapun demi membuat Changmin kembali ke sisinya. Sekalipun itu berarti membunuh dirinya sendiri.

Desclaimer: Plot is MINE!

Warning: Typo(s), ChangSoo haters don’t read!

***

Begin of Part One

Dinginnya udara menusuk-nusuk kulitku. Aku menggigil di pinggiran jalan—maksudku, di bawah Halte Bus. Aku tidak memakai jaket atau semacamnya, aku tidak suka memakai yang seperti itu, kupikir itu membuatku tampak gemuk. Bodohnya lagi aku lupa membawa payung, yang kuingat cuma beberapa potong pakaian dan alat make up seadanya yang bersemayam di dalam koperku. Suara kecipak-kecipak sepatu orang yang berlalu lalang di trotoar jadi melodi pengiring yang menemaniku sore itu. Tidak ada satupun yang peduli padaku, mereka semua sibuk kesana-kemari tanpa menanyai wanita kesusahan seperti aku. Kejam. Jadi, aku mencoba memejamkan mata sembari menunggu bus selanjutnya datang. Aku tidak bisa naik taksi, uang yang kubawa pun bahkan tak cukup untukku menginap di hotel.

Kukira kunjunganku ke kantor Changmin tadi siang akan membuahkan hasil yang bagus. Minimal, dia akan mengajakku naik mobilnya lalu menginap di rumah barunya. Rumah baru? Tentu saja. Ibu dan Ayahnya bilang Changmin menikahi seorang wanita dan hidup bahagia di rumah baru yang nyaman. Masa bodoh. Wanita—yang entah siapa namanya—bodoh. Beraninya dia menikah dengan Changmin-ku. Dibodohi oleh Changmin yang kuyakin tidak ada rasa secuil pun pada wanita itu. Kembali masalah tadi siang, Changmin ternyata mengusirku dari kantornya dengan cara paling memalukan. Menyeretku keluar dengan dua orang satpam. Tak lupa melempar koperku sampai isinya berserakan. Dia brengsek, namun anehnya, aku tidak bisa berhenti mencintainya.

Suara klakson mobil membuatku tersadar dari lamunan sesaatku. Hembusan udara yang terbebas dari indera penciumanku membawa manikku pada sebuah mobil yang berhenti tepat di depanku duduk. Mobil itu menurunkan kaca dan terpampanglah seraut wajah cemas Yunho dari jok kemudinya.

“Sooyoung! Naiklah!” teriakannya berbaur dengan gemericik hujan, menimbulkan sensasi sejuk saat mendengarnya. Tapi tak mampu membuatku bergerak, aku diam saja, aku tidak berminat pulang ke rumah dengan Yunho. Tidak lagi.

Tetapi, aku harusnya tahu Yunho pria yang punya pendirian teguh. Ada saatnya dimana dia tidak akan menuruti perintahku dan memaksaku melakukan apa yang dimauinya. Seperti sekarang. Tatkala dia keluar dari mobil dengan payung bening di tangannya, menghampiriku, lalu menarik tanganku agar mau mengikutinya.

Dan, yang terjadi selanjutnya adalah aku yang seperti anjing bodoh.

***

Tak ada perbincangan apapun di antara kami. Yunho marah. Tapi itu bukan urusanku. Memang haknya untuk marah tapi mengatur hidupku tidak masuk dalam kategori itu. Ini hidupku dan bukan hidupnya.

Tanganku mulai gemetar kedinginan. Sebisa mungkin aku menggenggam erat jemariku, menautkannya di tiap sela agar meminimalisir ketampakkannya. Suhunya masih dingin. Padahal penghangat mobil sudah dinyalakan.

“Pakai jaketku,” sial, Yunho menyadarinya.

“Terimakasih,” kataku singkat. Aku lebih memilih menurutinya, daripada harus berbicara panjang lebar dengannya kemudian. Berdebat dengannya bukan ide bagus, untuk sekarang.

“Kenapa kau bisa ada di sana?”

Akhirnya, pertanyaan itu terlontar juga dari mulutnya. Aku menggumam kecil, lalu menjawab—mau tak mau, “Changmin mengusirku dari kantornya, aku tidak tahu lagi harus kemana.”

“Sudah kuduga—jadi sebaiknya kau pulang. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan jika Ibumu menelepon. Dia akan sangat panik jika tahu kau tidak ada di rumah.”

“Bilang padanya, aku sedang tak ingin diganggu.” Aku mengambil jaketnya dari jok penumpang di belakang, lalu memakainya. Jaket cokelat tua yang norak, juga kebesaran di tubuhku. Aku bisa mencium aroma Yunho dari jaket ini dengan utuh. Seakan Yunho yang tengah memelukku. Ajaibnya, tubuhku tidak menggigil lagi. Pelukan Yunho memang hangat.

Jeda keheningan di antara kami melanda lagi.

Aku melihat ke jalanan. Menyapu tiap pepohonan rindang yang kulewati. Persis arah menuju rumah. Lalu aku melihat Yunho yang serius mengemudi. Aku harus menghentikannya.

“Yunho…,” panggilku. Dan, dia merespon sebuah gumamman. “Aku tidak mau pulang.”

“Jadi kau mau kemana?”

Dari nadanya, aku tahu dia masih marah. Jadi aku tidak bisa bilang kalau aku mau ke rumah Changmin, akhirnya aku memutuskan ke sebuah tempat dimana beberapa minggu kemarin aku berada. Tempat aman yang membebaskanku dari kekangan berlebihan Yunho di rumahnya.

“Rumah Sakit.”

***

Kaki panjangku melangkah lebar-lebar menyusuri koridor Rumah Sakit, Yunho membuntuti dari belakangku. Kami menuju sebuah kamar hangat yang dihuni oleh seorang lagi malaikatku. Orang kedua yang kucintai setelah Changmin. Sosok kecil yang terbujur lemas berbalut selimut tebal itu tengah dibaringkan di ranjang kecil seukuran tubuhnya, berpayungkan kain tipis di atasnya. Aku tersenyum saat tubuhku semakin mendekat.

“Sayang… Umma datang…” dia tengah terpejam kala aku membisikkan kata-kata itu. Aku mengelusi kepalanya yang sudah tercukur bersih. Warna kulitnya sama seperti Changmin, alis dan hidungnya juga, tapi manik bening nan besarnya menurun dariku. Dia punya bibir yang mungil dan pipi bulat sama sepertiku saat aku kecil dulu. Dia akan jadi pria tampan kelak.

“Kau belum memberinya nama,” kalimat Yunho membuatku teringat. Ah benar, aku tidak tahu namanya siapa. Sejak kemarin malam, sepeninggal dari Rumah Sakit, yang kulakukan hanyalah berdiam diri di kamar dan merencanakan kabur dari rumah. Tak terpikirkan olehku nama untuk malaikatku. Satu nama tiba-tiba melintas di kepalaku.

“Yoogeun.”

“Baiklah, Jung Yoogeun.”

Terkejut. Aku menoleh pada Yunho dengan raut meminta penjelasan. Apa maksudnya memberi marga itu pada putraku?

Yunho berdeham, seolah mengetahui pertanyaan besar di otakku, dia lantas menjawab dengan tenang, “Kau istriku, Jung Sooyoung.”

Aku mengalah. Sejujurnya aku tidak pernah mengakui bahwa margaku telah berubah menjadi Jung. Dan, aku sulit menerimanya. Tapi Yunho memang punya hak, sekali lagi kutegaskan. Walau aku tidak suka.

Menghalau pikiran lain menyelinap, aku berkonsentrasi mengelusi pipi Yoogeun dengan punggung jemariku, selembut mungkin.  “Jung Yoogeun, baik-baik dengan Appa, ne?”

Aku memang istri Yunho. Dia menikahiku tujuh bulan lalu karena sebuah ‘kecelakaan’ yang bahkan bukan salahnya. Waktu itu kandunganku sudah berjalan dua bulan, tapi saking cintanya dia padaku, dia tetap menikahiku. Selama ini, dia juga yang menampungku di rumahnya—jujur aku tidak mau mengakui itu sebagai ‘rumah kami’—dan berbulan-bulan berjalan dia semakin menyayangiku. Dia pria yang baik dan bertanggung jawab, Ibu dan Ayah menyukainya, aku juga menyukainya. Tapi, hanya rasa ‘suka’ dan bukannya rasa ‘cinta’. Aku pernah meminta Yunho menceraikanku saja, karena bagaimanapun dia akan terus-terusan menderita dengan fakta: aku tidak akan pernah mengakuinya sebagai suamiku. Tetapi, seperti yang sudah kukatakan tadi, ada kalanya Yunho bersikap keras kepala.

Yoogeun terbagun, dia terisak-isak kecil. Aku segera menggendongnya penuh sayang, perlahan-lahan. Berharap dengan ini tangisannya akan mereda. Yunho meletakkan tangannya di bawah tanganku secara tiba-tiba.

“Biarkan seperti ini.” Begitu jawabnya saat kutanya. Aku mengangguk. Dan, dalam gendonganku kami mulai mengayun-ngayun tubuh mungil Yoogeun hingga dia mulai terlelap lagi. Begitu damai. Setelah tangisannya benar-benar terhenti, aku kembali meletakkannya di ranjang. Yunho lalu mengecup keningnya, lalu beralih mengecup keningku.

Seandainya Changmin yang ada di sini, apa reaksi pertamanya melihat Yoogeun menangis? Apa dia akan melakukan hal yang sama yang seperti Yunho lakukan?

***

Karena bersikukuh tidak mau pulang—dan aku pun tidak punya uang untuk bermalam di hotel—aku menginap di Rumah Sakit, di ruangan Yunho. Apakah aku belum memberitahu bahwa dia adalah seorang Dokter? Sepertinya iya. Dia Dokter, kaya, berwibawa, hidupnya mapan, tapi bodoh karena menjadikanku istri.

Tanpa menghubungi Yunho, aku bergegas membereskan barang-barangku, membersihkan diri, lalu cepat-cepat pergi sebelum Yunho memergoki lagi. Sebelum menyampaikan salam terakhirku pada Yoogeun pagi itu, “Jangan nangis selama Umma pergi, jangan membuat Yunho-appa repot. Umma akan kembali ke sini lagi nanti, sabar ya sayang…”

Lalu mengecup kedua pipinya bergantian.

Aku melangkah keluar Rumah Sakit, sembari menyeret koper seperti kemarin. Bedanya, di tanganku kini ada secarik catatan kecil alamat rumah baru Changmin. Kudapati dari adiknya, Sooyeon.

Di bus, aku tidak mendapatkan tempat duduk. Lututku lemas. Aku baru ingat belum makan apapun sepeninggal dari Rumah Sakit. Dan, belum minum obat. Jika Yunho tahu dia akan mengomeliku habis-habisan. Perutku serasa dililit kuat-kuat. Sakit sekali.

Tidak. Tidak. Tidak sekarang, Sooyoung. Tahan dirimu! Berkali-kali aku menegaskan dalam batin. Aku harus kuat sampai di tempatnya Changmin.

Beruntungnya aku mendapatkan tawaran duduk seorang wanita yang hendak turun saat mataku sudah berkunang-kunang. Nyaris saja aku pingsan. Selagi ada kesempatan, aku membuka koperku untuk mengambil lipbalm dan blush on. Kulihat wajahku di cermin, sangat pucat. Sedikit polesan blush on akan membuatnya lebih baik. Setelah itu lipbalm warna natural membuat bibirku lebih penuh. Aku tersenyum puas. Lagi-lagi aku terlihat cantik kendati hanya ber-make up tipis. Aku yakin semua akan baik-baik saja dengan ini.

Seturunnya dari bus, alamat rumah Changmin kutemukan dengan cepat. Di kompleks perumahan yang mewah. Melihat pagar rumahnya yang tinggi, dan tulisan ‘Shim’ di sampingnya, aku yakin ini rumah Changmin. Kutekan bel rumahnya dan monitor kecil langsung menampakkan seraut wajah wanita tak kukenal.

“Permisi, apakah ini kediaman Shim Changmin?” tanyaku sopan, kepada wanita asing itu.

“Ya. Ada perlu apa dengan suamiku?”

Aku terkejut. Wanita itu ternyata istrinya? Aku bersumpah ingin tertawa keras. Namun aku ingat aku masih punya etika. Hanya saja… wanita ini? Changmin serius? Maksudku, seleranya benar-benar berubah! Dari wanita cantik seperti aku menjadi wanita kampungan seperti dia.

“Aku sepupunya yang datang dari Beijing,” dengan senyum manis yang meyakinkan, aku mulai berakting. Rencana ini sudah kubuat matang-matang kemarin malam, aku jamin tidak akan gagal. “Kemarin aku mencoba menemuinya di kantor, tapi dia sibuk sekali. Jadi kuputuskan untuk menemuinya di rumahnya saja.”

“Ah… begitukah? Maaf aku tidak tahu, silahkan masuk.” Setelah mengucap itu, gerbang terbuka lebar—aku jadi tahu ternyata ini gerbang otomatis. Langkah kaki menuntunku melewati pekarangannya yang lumayan besar, dan asri. Eksteriornya bagus sekali. Tapi kenapa kenapa banyak mawar putih, bunga matahari, dan cartanation? Semua itu bunga kesukaanku.

Aku mengetuk sebuah pintu besar, tak menunggu lama wajah wanita tadi kembali muncul di hadapanku. Ternyata dia tinggi juga, hampir menyamaiku. Tapi tentu saja aku masih punya kaki yang lebih bagus darinya.

“Silahkan masuk, eumm…”

“Choi Sooyoung.” Ujarku sambil tersenyum.

“Ah, geurae… Sooyoung-ssi, kenalkan aku Lee Yeonhee, atau mungkin Shim Yeonhee,” dia balas mengenalkan diri. Aku tidak suka caranya menyebut marga ‘Shim’ di depan namanya. Memuakkan. Dan senyumnya, sangat konyol di mataku.

“Dimana Changmin?” tanyaku tak sabar.

“Bukankah seharusnya kau tahu? Dia masih di kantor.” Jelasnya dengan senyum konyol yang tak hilang dari wajahnya. Dengan rambut pendek acak-acakan yang diikat satu, pakaian sederhana dan apron yang dia kenakan, dia malah kelihatan seperti pembantu ketimbang istri Changmin. “Kau bisa menunggunya hingga dia pulang, tidak akan lama lagi.”

“Ah, aku akan merepotkan,” aku memaksakan senyum. “Sepertinya kau juga sedang beres-beres, aku pasti mengganggu.”

“Tidak-tidak! Tidak apa-apa! Aigeu, aku tidak menyangka Changmin mempunyai sepupu yang pemalu seperti Sooyoung-ssi.” Dia melepaskan apronnya dan mempersilahkanku duduk di sofa. “Mau minum teh atau sesuatu?”

“Teh hangat?” dia tersenyum lagi sebelum sosoknya menuju dapur. Konyol. Aku bukan sepupunya Changmin.

“Jadi, kau benar-benar dari Beijing?” Yeonhee-ssi berbasa-basi setelah meletakkan nampan berisikan dua gelas teh hangat di meja. Aku mengangguk dengan senyum palsu. Mana pernah aku ke Beijing. “Wah, sudah lama aku ingin ke sana, tapi Changmin tidak pernah mempunyai waktu luang.”

“Kau bisa pergi denganku.” Aku mengangkat bahu, pura-pura peduli.

Yeonhee-ssi kelihatan gembira. “Itu akan mengasyikkan.” Selanjutnya, dia bertanya lagi, “Lalu kau ke Korea dalam rangka?”

“Liburan,” kataku cepat. “Dan, aku merindukan Changmin.”

“Aku bisa mengerti.” Dia menyeruput tehnya pelan-pelan, begitu juga aku. “Sebenarnya pertama kali melihatmu kau memang mirip dengan Changmin, jadi kupikir kau saudaranya atau siapanya—maksudku, kalian sama-sama tinggi dan punya kulit gelap, dan wajah yang tidak terlalu oriental.”

“Kau benar.” Kali ini, aku menyetujui ungkapannya. “Saat kami masih di sekolah yang sama pun, banyak yang mengira aku adiknya.”

“Oh, kalian pernah satu sekolah juga?”

Aku mengangguk penuh. Mulutku mulai bercerita tentang bagaimana kehidupanku di sekolah bersama Changmin dulu. Kali ini bukan akting. Dan, kejujuranku itulah yang mengantarkan kami pada sore menjelang kepulangan Changmin ke rumah. Yeonhee-ssi ternyata wanita yang asyik diajak berbincang. Dia sosok yang terbuka dan percaya diri. Mungkin nanti akan kujadikan dia sahabatku. Atau tidak.

***

Saat suara klakson mobil yang keras dibunyikan, terpaksa Yeonhee-ssi yang sedang minum teh menghentikan obrolannya sejenak denganku, Lalu bergegas dia menuju pintu dan menekan suatu tombol—yang kuyakini adalah tombol untuk membuka gerbang luar. Yeonhee-ssi membukakan pintu dan tampaklah sosok pria jangkung yang kutunggu kehadirannya sedari tadi.

“Kenapa kau tidak bilang padaku kalau sepupumu datang ke Korea?” kudengar Yeonhee-ssi bertanya, pada Changmin tentunya.

“Sepupu?” suara tenor yang begitu kurindukan. “Siapa?”

“Yang baru datang dari Beijing itu, dia menunggumu sejak tadi di sini.” Jelas Yeonhee-ssi.

Sebelum Changmin keheranan dan menanyakan lebih jauh, aku memutuskan beranjak dan membalikkan tubuh. Membungkuk pada Changmin, menyapanya sesopan mungkin. Dia baru pulang dari kantor dan aku tidak mau membuatnya tambah lelah dengan ulahku, jadi aku akan bersikap sopan kali ini.

“Sooyoung?!”

“Iya, Sooyoung,” Yeonhee-ssi juga menoleh padaku. “Kutemani dia mengobrol tadi.” Ocehannya yang tak berguna terus berlanjut. Meski begitu, tetap kulihat Yeonhee-ssi dengan terbiasanya membukakan jas dan dasi Changmin—hal yang sangat ingin kulakukan sedari dulu.

“Apa yang kau lakukan di sini?!” pertanyaan itu Changmin lontarkan dengan nada tinggi.

“Yah, kenapa kau bertanya sekasar itu?” omel Yeonhee-ssi. Aku merasa puas, wanita itu sudah berada di pihakku.

Berusaha kujawab pertanyaan Changmin setenang mungkin, “Aku mengunjungi sepupuku. Apa salah?”

Rahang Changmin mengeras. Jika seperti itu berarti dia berusaha menahan amarahnya. Itu kebiasaan yang sangat kuhapal dari dulu, dan tidak berubah. Akhirnya Yeonhee-ssi kembali ke sofa dengan Changmin berjalan angkuh di belakangnya.

“Apa kau sibuk, Sepupu?” aku berbasa-basi palsu.

“Sangat. Jadi pergilah.” Aku menyipitkan mataku mendengar itu. Changmin benar-benar berubah, dia tak pernah seperti ini kepadaku sebelumnya. Aku sakit hati dengan perlakuannya, tapi terlalu awal untuk menyerah sekarang.

“Kau ini, tidak sopan mengusir tamu. Apalagi itu sepupumu sendiri.” Lagi-lagi Yeonhee-ssi membelaku. Changmin terlihat makin kesal.

Kuputuskan mengawali aktingku lagi, memasang wajah kecewa sungguh-sungguh, “Begitu ya… Baiklah, aku akan pergi.” Aku beranjak dari duduk sebelum meraih koperku dengan tangan.

Yeonhee-ssi ikut berdiri dan mencekal lenganku. “Tunggu! Kau akan bermalam dimana, Sooyoung-ssi?”

“Persediaan uangku hanya cukup untuk menyewa kamar kecil.” Ungkapku—aku berkata jujur. Yeonhee-ssi sepertinya prihatin, dia menatap Changmin seraya mengisyaratkan sesuatu. Dan, aku menangkap penolakan tegas di wajah Changmin.

“Lagipula aku selalu sendirian di rumah, aku kesepian. Kau tidak menyewa satupun pembantu dan aku bisa mati karena bosan. Saat Sooyoung-ssi datang tadi, aku senang sekali karena punya teman mengobrol.” Oh, ternyata dia membujuk Changmin agar mengijinkanku tinggal. Bagus. Sangat bagus. Yeonhee-ssi beralih memandangku dan kembali membujuk, “Kau mau kan, tinggal di sini beberapa hari lagi? Hitung-hitung mengurangi biaya liburanmu di Korea.”

Tanpa kau minta, aku akan tinggal.

“Tapi… aku tidak enak…”

“Lihat. Dia saja menolak. Aku pun tidak mengijinkan.” Tandas Changmin tegas.

“Kumohon… Sooyoung-ssi,” Yeonhee-ssi menggenggam erat kedu tanganku dengan mimik muka memohon. “Hanya beberapa hari saja… Dan, oh! Aku bisa menjadi tour guide-mu selama kau di sini, kita bisa berjalan-jalan ke berbagai tempat menyenangkan!”

“Tapi, Changmin…”

“Tenang saja, walau sikapnya begitu, tapi aku yakin dia pun sebenarnya tidak tega sepupunya tinggal di kamar kecil yang kau bilang tadi.”

Aku juga meyakini hal yang sama, Yeonhee-ssi.

“Hanya beberapa hari saja, kan?”

Tidak, selamanya.

“Kau tidak akan menyesal!” seru Yeonhee-ssi sembari memelukku.

Tapi kau yang akan menyesal.

Dari sudut penglihatanku, Changmin menghela napas kasar lalu pergi, naik ke lantai atas. Aku mengulum senyum simpul. Sudah kujamin, rencana ini tidak akan gagal.

***

Sehabis aku makan malam dengan Changmin. Sementara Yeonhee-ssi sedang mencuci piring di dapur. Dia yang membuatkan makan malamnya, kesannya dia seperti koki rumah saja. Sedang aku dan Changmin majikannya.

Manikku dengan jeli menelusuri setiap sudut rumah bergaya modern ini, minimalis namun terlihat megah diluar, aku sulit menjelaskannya. Di dinding ruang depan, aku bisa melihat foto pernikahan Changmin dan Yeonhee-ssi terpajang besar-besar. Senyum mereka bahkan tak terlihat indah, malah membuat mataku perih. Lalu mataku terhenti di depan sebuah pintu kamar yang tertutup rapat. Itu bukan kamar yang Yeonhee-ssi sediakan untukku, itu ‘kamar mereka’. Memuakkan mendengarnya, aku ingin muntah. Membayangkan kegiatan yang akan terjadi nanti malam, setelah mereka memasuki kamar itu dan meninggalkanku di kamar lantai atas sendirian, berselimut dingin. Otak bodoh. Pikiran bodoh. Enyahlah!

“Bagaimana caranya merayumu?” aku bertanya pada Changmin, sungguh penasaran. Changmin kelihatan kesal, tapi tak berniat menjawab. Jadi aku bertanya lagi—memanas-manasinya, “Aku yakin dia tak seliar aku saat di ranjang. Memangnya dia cukup memuaskanmu?”

“Tutup mulutmu.”

“Aku rindu ciumanmu.” Ungkapku.

“Apa maksudmu berbuat seperti ini?” Changmin balas menanyaiku, pedas. Dia menatap mataku tajam, sesuatu yang tak cukup membuat nyaliku ciut.

“Aku hanya ingin bertemu denganmu.” Aku menjawab, membalas tatapannya sesendu mungkin. Aku tahu dia tak mungkin setega itu padaku. “Kau harusnya tahu, aku kehilanganmu, sangat.”

“Kau membodohi Yeonhee.”

“Demi kau, Changmin.”

“Aku tak pernah memintamu.” Tandasnya, menohok hatiku.

“Tapi kau… kau tidak mencintai Yeonhee-ssi, kan? Kalian menikah karena perjodohan!”

Changmin beranjak dan menyudutkanku, di dinding. Wajahnya sangat dekat. Tatapannya dipenuhi kebencian, mengarah padaku. Satu tangannya menghalangi pergerakanku. Aku mulai kesulitan bernapas. “Kecilkan suaramu atau aku akan membunuhmu jika Yeonhee sampai mendengarnya. Asal kau tahu, selama kau tidak ada, aku sudah hidup bahagia dengannya. Tanpa kau, aku masih bisa bernapas, makan, tidur, bekerja seperti biasa. Memang kau pikir kau itu siapa, huh? Jangan harap hidupku bergantung padamu!”

Desisannya, membuatku tercekak. Itu kalimat terpanjang yang diucapkannya padaku hari itu, tapi tidak baik telingaku untuk mendengarnya. “Tapi aku yang bergantung padamu, Changmin. Hidupku bergantung padamu!”

“Masa bodoh dengan hidupmu. Kau pikir aku peduli? Yang ada kau yang sudah menghancurkanku di masa lalu! Jadi, lupakan saja!”

Aku tak dapat langsung berkata-kata kecuali satu, pasang ekspresi mengiba.

Masih dalam posisi ini, Changmin berbisik lagi, “Dengar baik-baik… kau dan aku… sudah berakhir!”

“Kau tidak mengerti…”

“Kau yang tidak mengerti!”

Aku merasa perutku diremas. Ada yang salah denganku. Atau makanannya. Atau kata-kata kejam Changmin.

Aku bergegas pergi ke kamar mandi. Melihat wajah pucatku nampak lagi di cermin wastafel. Sial, aku lupa minum obat lagi. Hari ini dua kali aku tak minum obat. Dan, biasanya ini tidak pernah terjadi. Lambungku memang bermasalah—entahlah, Yunho hanya bilang begitu. Tapi rasanya tidak mungkin kalau cuma gagguan pencernaan, aku sampai dirawat di rumah sakit dua minggu. Aku membuka mulutku lebar-lebar. Memasukkan jari telunjukku ke dalamnya, mengoreki tenggorokanku sampai dinding-dindingnya perih, seketika rasa mual itu kian menjadi. Perutku rasanya dikocok terus-menerus, dan berakhir aku memuntahkan lagi semua makanan yang sudah kutelan tadi di kloset toilet.

“Oeekk! Ohuukk!”

Pintu kamar mandi digedor kencang oleh seseorang. “Choi Sooyoung! Apa yang terjadi? Buka pintunya!”

Setelah mengusap sisa-sisa muntah di sekitar mulutku, aku membuka pintu dan—lagi-lagi—Changmin menyuguhiku tatapan tidak bersahabat.

“Kau terlalu lama di kamar mandi. Yeonhee panik, dia kira kau sakit perut karena makan malam yang dibuatnya.” Ternyata karena Yeonhee-ssi, kukira kau yang serius mencemaskanku terlalu lama di kamar mandi.

“Aku hanya lupa minum obat.”

“Bergegaslah tidur. Lalu kau bisa pulang besok pagi, jangan sampai Yeonhee melihatmu lagi.”

Airmataku mulai menggenang. Dia bahkan tidak menanyakan obat apa yang kuminum, apa penyakit yang kuderita, atau apakah aku baik-baik saja. Yang dia pedulikan hanya Yeonhee-ssi, selalu Yeonhee-ssi, tak sadarkah dia kalau aku juga punya perasaan?

“Bagaimana kau bisa setega itu padaku, Changmin-a?”

“Aku memang seperti ini.” Tidak! Dia berbohong! Pasti berbohong padaku!

Aku memegang tangannya. Kian erat sebelum dia mengelak pergerakanku. “Kau masih mencintaiku, kan?”

“Khayalan tololmu.”

“Changmin-a…” airmataku sudah jatuh. Mengaliri kedua pipiku. Changmin-ku bisa berubah seperti ini, aku belum bisa mempercayainya. Seharusnya dia mencintaiku. Karena, sampai sekarang aku bahkan masih mencintainya. Tidak berkurang sedikitpun. “Tak bisakah kau lihat? Menghargai usahaku untuk sampai ke sini? Untuk menemuimu? Tak bisakah kau rasakan sedikit saja… ketulusanku?”

Dengan gerakan cepat, dan kasar, dia menepis tanganku. Detik itu juga hatiku mencelos. “Jangan membuat Yeonhee curiga. Cepatlah naik ke kamar yang dia sediakan. Aku tidak mau lagi berurusan denganmu.”

“Yeonhee-ssi? Kau hanya memikirkan Yeonhee-ssi! Sebegitu pentingnyakah wanita itu bagimu?”

“Simpan saja pertanyaan bodohmu, untuk dirimu sendiri.”

Airmata di pipiku makin membanjir. Aku bahkan belum memberitahunya tentang Yoogeun, tapi dia sudah bersikap seperti ini kepadaku.

Meninggalkanku yang tergugu lemas di lantai kamar mandi. Dengan make up meluntur mengotori wajahku, aku masih menangis. Wajahku tidak karuan lagi. Sampai Changmin mengucap kalimat terakhirnya padaku malam itu, aku masih menangis. “Kau menjijikkan.”

Fin of Part One

***

9 thoughts on “Annabelle – PART I

  1. Yufasa December 17, 2013 / 3:43 PM

    bentar? Oke awal masih rada kosong, pertama, sooyoung itu punya anak sama changmin?kan? Tp nikah sama yunho, changmin ngga tau dia punya anak? Truss? Emang kenapa changmin bilang, penghancur hidup? Just itu aja sih, seperti biasa bagus, cuman ya itu, kayaknya kurang pas aja karna sooyoung yg kyknya ngga bisa relain changmin gitu. But its ff, lanjutin ok, figthing!! ^^

  2. Anna Choi December 18, 2013 / 2:45 PM

    nggak tau mau ngomong apa, plotnya daebak dan bikin penasaran, dilanjut yaa😀

  3. rinaapriliani7 December 18, 2013 / 7:20 PM

    bikin penasaran..
    ditunggu part selanjutnya chingu🙂

  4. khurotunnisa December 21, 2013 / 7:05 PM

    daebakk keren
    bikin penasran
    lanjut ne😉

  5. rinaapriliani7 December 25, 2013 / 8:30 PM

    aigoo chingu.. ff ini kapan dilanjut??
    aku hilirmudik(?) setiap hari pantengen blog ini tapi yg ditungguin blom jg muncul..
    ayolah ching, cpet dilanjut yah yah yah *puppy eyes*

    • wufanneey December 26, 2013 / 9:48 AM

      udah ada part duanya, di cek coba ^^

  6. annisahika December 26, 2013 / 10:44 AM

    astaga ga nyangka sooyoung eonni kaya begitu. Sebegitu terobsesinya sama bebeh(?) changmin O.o
    keren fanfan-aa (y) pake banget deh kerennya😀

  7. kyura December 24, 2014 / 10:46 AM

    Aku gak tega nae eonni dgniin ama changmin.😢
    Jdi pnasaran knpa dlu’y changmin dan soo pisahh.??

  8. epanda January 11, 2015 / 8:24 PM

    ini suka banget sama ceritanya!!!! ><

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s