[Twoshot] To Go To School (Second Shot)

image

Cho Hika’s Presented

“To Go To School”

Starring by Kim Jong In (as know as Kai), Choi Sooyoung and other supporting cast(s).

With feelin’ School-life, Romance, Friendship and Family.

And rated fot T.

As long as Twoshot.

*

Poster Credit : Phoenix From Busan

*

Disclaimer : Cast(s) belong to God. But plot is purely mine.

*

A/N : Terinspirasi dari Drama Korea “Dream High”, “School 2013” dan “God of Study”. But, overall is only an imagination from my mind.

*

“Tentang keluarga, cinta dan cita.” — To Go To School

*

Rollin’ and action!

*

Krek.. Krek..

Jendela kamar Sooyoung berdecit menimbulkan suara yang tidak sedap didengar.

Gdebug!

Obsesi.

Itu dia obsesinya.

Kai tiba-tiba terjatuh sehabis melompati jendela kamar Sooyoung.

Sementara Kai kesakitan, Sooyoung justru membulatkan mulut dengan sempurna.

Mungkin Sooyoung speechless.

“Maaf sebelumnya, guru. Aku tahu ini tidak sopan. Tapi kalau aku lewat luar, itu akan memperkeruh masalah. Karena aku datang kemari bukan untuk masalah sekolah. Jadi.. Jadi..”

Kai mungkin sangat cocok dibidang Rap. Terbukti dari satu nafas saja, Kai dapat berbicara lebih dari 25 kata. Dengan tempo yang cepat pula!

Jujur, ini kali pertama Sooyoung melihat orang semacam ini.

Bisa dibilang bermuka dua.

Atau berkepribadian ganda?

Karena..

Ada saatnya ketika Kai diam, tenang, dingin dan tampak kuat.

Tapi ada kalanya pula ketika Kai cerewet, lucu, penuh canda bahkan tak ubahnya seperti balita yang membutuhkan perlindungan.

“Aku membutuhkanmu.” Ucap Kai.

Sooyoung masih mematung.

Wajah Kai itu..

Mata Kai itu..

Berbeda sekali dengan Kai yang ia lihat disekolah.

Penuh cahaya. Bersinar. Terang diantara kekelabuan.

Begitulah mata Kai sekarang.

Merasa empati, Sooyoung datang mendekat ke arah Kai dan membantunya bangkit.

Tak lupa ia membersihkan baju Kai yang tampak kotor dan lusuh dengan menepuk-nepuknya.

“Kau kenapa? Ada apa?” Buka Sooyoung.

“Guru!”

Kai menggenggam erat tangan Sooyoung. “Aku butuh uang.” Tegas Kai.

Mata Sooyoung membulat hebat.

Dan sepersekian detik berikutnya ia menghempaskan jalinan tangannya dengan tangan Kai.

“Kau pasti kalah judi ya? Aku tahu tipikal murid brandal sepertimu. Jadi kau tidak perlu memasang angel face!” Sooyoung mendorong tubuh Kai mendekat ke jendela kamarnya. “Sekarang pergilah!”

“Ttt..tt..tunggu guru!” Kai menggenggam erat pergelangan tangan Sooyoung. “Bukan, bukan judi! Tapi untuk nenekku. Beliau harus dioperasi sekarang. Aku butuh uang, guru!”

Deg!

Sooyoung, kau salah persepsi!

“A..apa?”

Kai semakin memelas. Matanya mulai berkaca-kaca. “Kumohon bantu aku guru. Nenekku adalah satu-satunya keluargaku. Jadi kumohon.”

Sooyoung mengangguk pelan. Ia mungkin tidak tahu bagaimana persisnya jika ada diposisi Kai. Tapi yang Sooyoung tahu..

Kai pasti sangat sedih.

“Berapa?” Tanya Sooyoung.

“7,5 juta.”

“Hah?!”

.

Ruang operasi.

Ruang tunggu didepannya penuh kegelisahan.

Bukan tentang habisnya uang dalam sekejap. Tapi tentang hal yang melebihi harta.

Keluarga.

“Tuhan, jangan ambil nenekku. Ambil saja aku.” Ucap Kai di sela tangisnya.

Sooyoung tersentuh. Tangannya yang sedari tadi bertengger di bahu Kai semakin erat saja. Bahkan Sooyoung tak segan-segan memeluk Kai.

“Jangan berbicara seperti itu.” Ucap Sooyoung lembut.

Kai terdiam. Lama.

2 jam berlalu, pintu itu belum juga terbuka.

Tatapan mata Kai tak pernah lepas dari pintu itu.

Bahkan Sooyoung, gurunya itu ia abaikan.

Hanya satu dipikirannya.

‘Kai habiskan makananmu.’

‘Kai, ayo makan yang banyak.’

‘Ingat kata nenek! Kau harus jadi orang besar.’

‘Percaya pada dirimu. Jika kau tahu seberapa kuatnya pikiranmu, kau pasti tidak akan pernah menyerah. Percayalah!’

‘Kai, nenek baik-baik saja.’

‘Kai, nenek bangga padamu.’

Kai..

Ucapan-ucapan neneknya itu tiba-tiba saja terngiang di telinganya.

Entah rasanya apa sekarang. Tapi Kai tak ingin membiarkan satu-satunya harta miliknya pergi.

Back to the situation.

Pintu ruangan terbuka. Kai langsung menghampiri dokter yang tampak kelelahan.

“Bagaimana dok?”

Dokter itu menepuk bahu Kai pelan.

“Nenekmu sudah tenang dialam lain.”

Kai in shock !

Bulir-bulir bening mengguyur pipinya.

“Guru.” Ucap Kai berapi-api yang kemudian meremas dress Sooyoung.

Sooyoung panik. Takut-takut kalau Kai tidak dapat menahan emosinya.

“Lihat dokter itu! Bercanda dalam keadaan seperti ini. Lucu sekali bukan?”

Pembawaan Kai yang tenang memang tidak menampakan betapa besar emosinya. Tapi justru dengan seperti itu, Kai lebih terlihat berusaha menyembunyikan emosinya.

Kasihan.

.

Tomorrow..

“Kai, kau dipanggil Guru Choi.” Ucap seorang murid yang kebetulan lewat didepan kelas Kai.

Kebetulan sekali. Bel pulang sekolah baru berbunyi dan Kai memang berniat untuk menemui Sooyoung. Ada yang ingin Kai bicarakan. Bahwa sesungguhnya ia sudah tak sanggup lagi melanjutkan sekolahnya lantaran materi yang tidak mencukupi.

Setelah berjalan melewati beberapa koridor yang selalu tampak gelap, Kai sampai di Ruang Guru. Tepat seperti tujuan utamanya. Meja Guru Choi.

“Selamat sore Kai. Silahkan duduk.” Ucap Guru Choi ramah.

Kembali seperti sedia kala.

Kai.

Ia kembali.

Kembali dengan pembawaannya yang tenang dan..

Tidak sopan.

“Aku ingin memberikan ini.”

Sooyoung menyerahkan sebuah kartu berwarna putih pada Kai.

Itu kartu biaya bulanan sekolah.

Semuanya.

Seluruhnya sudah distempel.

Dan diberi cap ‘LUNAS’.

Tapi apa reaksi Kai?

Flat.

Sama sekali ia tidak membuka mulut.

Antara iya dan tidak ia menerima pemberian ini.

Disatu sisi, ia tidak ingin dianggap lemah. Dan disisi lain, kenyataan berkata bahwa Kai lemah.

Maka dengan dinginnya ia mengambil kartu itu dan bangkit meninggalkan ruangan yang cukup tenang itu.

Sooyoung menganga.

Mengapa tingkah anak ini selalu membuatnya terlihat aneh.

Mata yang membulat. Mulut menganga. Sampai tubuh yang mematung.

.

Yep!

Pukul 4.30 pm tepat.

30 menit lagi, proses bimbingan belajar akan segera dimulai.

Sooyoung telah mempersiapkan segalanya.

Ia membawa tumpukan buku latihan dari mulai tingkat dasar sampai tingkat menengah ke atas.

Ruang kelas yang dipakai cukup jauh dari ruang guru.

Ruang guru ada di lantai 1 dan ruang kelas bimbel ada di lantai 4. Dan Sooyoung harus menempuhnya dengan tangga.

“Huh! Seandainya saja ada lift.” Rutuk Sooyoung.

Baru menginjak lantai 3, ia sudah kelelahan sehingga ia memilih duduk diantara anak tangga.

Tiba-tiba saja matanya tertuju pada ruang kelas yang berada di ujung koridor dihadapannya.

Terdengar seperti alunan lagu.

Cukup membuat penasaran.

Maka dengan langkah perlahan Sooyoung menghampiri kelas itu. Dan mengintip dari kaca kecil didekat gagang pintu.

Oh! Rupanya radio tape yang mengalun lagunya.

Tunggu!

Siapa disana?

Seseorang dengan blazer khas murid SMA Dashin tengah bersimpuh.

“Kai?” Ucap Sooyoung pelan.

Lagu seakan diputar ulang.

Dan terdengarlah lagu Bruno Mars yang berjudul Talking to The Moon.

Satu persatu lirik itu dirangkai oleh Kai dengan gerakan-gerakan dance yang lembut namun dengan tempo yang terkadang sengaja ia buat cepat.

Emosinya seperti terpancar meskipun hanya dengan lirikal dance.

Masing-masing koreo mewakili setiap lirik yang terdengar. Kebetulan sekali lagu ini cukup cocok dengan situasi Kai sekarang.

“Dia pasti sedih baru kehilangan neneknya.”

Sooyoung bahkan terhanyut sampai lagu berhenti.

Eits! Tapi tunggu dulu!

Kalau Sooyoung ketahuan mengintip, bisa jatuh harga dirinya sebagai seorang guru.

Maka dengan cepat Sooyoung bergegas pergi.

Tapi apadaya ia bertemu dengan Kyuhyun, motifator yang juga sebagai tutor dalam bimbel di SMA Dashin.

“Buru-buru sekali.” Ucap Kyuhyun ramah.

Terjadilah sedikit dialog disini sampai Kai keluar ruangan dengan blazer yang ia letakan dipundaknya. Serta tas ransel yang hanya dijinjingnya.

Cukup menyita mata Sooyoung rupanya.

Tapi bagaimana menurut Kai?

Cukup menyita mata Kai juga rupanya.

Cukup menyita dalam arti melihat seseorang yang selalu tampak memperhatikannya justru berdialog dengan orang lain.

Sooyoung,

Kyuhyun.

Author’s POV End

Kai’s POV

Seperti inikah nasibku?

Aku rasa, tidak ada lagi yang memperhatikanku.

Satu-satunya orang yang selalu memperhatikanku, Nenekku. Ia sudah pergi.

Dan satu sahabatku entah kemana. Ia seakan tidak mengindahkanku.

Dan sekarang? Guru yang kukira bisa mengembalikan semangat hidupku justru memberikan harapan kosong.

Entahlah~

Sepertinya ia hanya kasihan padaku.

Oh My! What should I do?

.

Kemanapun kaki ini mau melangkah. Kemanapun hati ini ikut saja. Dan kemanapun tujuannya, otak ini lah yang memerintah.

Nah! Sudah sampai.

Disini anginnya terasa sekali.

Errr. Dingin.

Tapi indah juga.

Aku dapat melihat pemandangan senja disini.

Ya! Aku sedang berada di atap sekolah.

Atap sekolahku bukan sepenuhnya genting loh!

Tapi untuk apa aku kesini?

Untuk apa lagi kalau bukan menyusul nenek?

Lagipula sudah tidak ada artinya lagi aku hidup disini.

Sudah tidak berarti.

Sudah.

Satu langkah mendekat menuju pembatas atap.

“KAI!” Seru suara yang kukenal betul.

Guru Choi.

“Mau apa kau?”

Ck, pertanyaan bodoh.

Cukup! Back to the point.

Aku ingin bunuh diri!

“Kai!” Ucapnya sekali lagi. Hanya saja kali ini ia tidak berteriak seperti saat memanggil namaku sebelumnya.

Malas. Aku harus fokus.

“Kai.” Suaranya semakin melemah. Membuatku sedikit luluh.

Aku tahu. Wanita tertentu memiliki daya tarik tertentu. Dan mungkin saja Guru Choi menarik dalam hal suara.

Coba aku ingin dengar sekali lagi.

Gdebug!

Jatuh!

Guru Choi terjatuh dari tempatnya berdiri.

“Guru!”

Darah segar mengalir dari dua lubang hidungnya.

Wajahnya pucat pasi.

“Guru!”

.

Ini sudah pukul 9 malam. Tapi murid-murid pilihan masih terperangkap disekolah.

Ahn masih betah dibimbing oleh motifator Cho.

Tao sudah mulai bosan dan menguap berkali-kali gara-gara pemaparan Guru Shim sedari tadi hanya teori.

Dan aku?

Hampir muntah karena terus diberi soal oleh Guru Choi.

Aku tahu, kami semua lelah. Terutama Guru Choi.

Wajahnya terlihat pucat atau memang ia pucat?

Mengapa aku tidak sadar sih?

“Sudah belum?” Tanya Guru Choi sambil mengusap-usap matanya.

“Ini.” Aku memberikan kertas soal yang ia berikan.

Dan dengan cepat jari jemarinya mengayun selaras dengan bulpoin merah diatas kertas itu.

Hey guru!

Kau tahu tidak?

Tadi itu aku shock melihatmu dengan darah segar. Untunglah kau tidak apa-apa.

“Ini!” Ia memberikan kertas yang baru saja dijelajahi oleh pulpennya. “Nilai 4 lagi.” Lanjutnya.

Argh!

Sial!

“Ini.” Ia kembali memberikan kertas kepadaku.

“Soal lagi?”

Ia mengangguk.

“Tapi…”

“Tidak ada tapi-tapian!” Ucapnya sembari meremas kertas hasilku tadi yang kemudian ia lemparkan ke tempat sampah terdekat. Padahal tumpukan kertas sampah itu sudah sangat tinggi. “Lihat! Tempat sampah itu penuh dengan nilai togel mu!” Lanjutnya.

Aku menggaruk tengkuk ku.

“Ini baru tingkat dasar! Kau harus mendapatkan 100 untuk lanjut mengerkan soal tingkat menengah.”

“Tapi guru! Dari tadi aku hanya mendapat nilai 0, 1, 2, 3 dan 4.”

“Dengarkan aku, Kai.” Ia mendekatkan wajahnya ke telingaku. Kedengarannya serius sekali.

“Pertama, nilaimu mungkin 0. Tapi lihat? Sekarang kau mendapat nilai 4. Maka tidak akan menutup kemungkinan kau untuk mendapatkan nilai 100.”

Aku tersenyum.

Guru ini bisa saja!

.

Tepat pukul 11 pm kami diijinkan pulang.

Guru Choi sudah keluar ruangan terlebih dahulu bersama dengan yang lain.

Dan aku masih menatapi nilai hasil tes tingkat dasarku yang terdiri dari dua angka nol yang tersusun. Yep! Delapan!

Baiklah! Sekarang saatnya pulang Kai.

Hm, sudah sepi sekali.

Beberapa koridor bahkan sudah dimatikan lampunya.

Tapi seperti ada orang disini.

Tap.. Tap.. Tap..

Cukup sepi sampai aku bisa mendengar suara langkahku sendiri.

Benar saja!

Ada orang disini.

Guru Choi,

dan Tao.

Sedang apa mereka berdua sampai tidak mendengar langkahku?

Ada yang aneh disini.

Sebaiknya kuselidiki dulu.

Aku bersembunyi diantara jalan koridor satu dengan yang lain.

Dari sini aku bisa mendengar pembicaraan mereka.

“Kau tahu? Sejak awal aku melihatmu? Kesan pertama dalam benakku mengatakan bahwa kau sangat cantik.” Ucap Tao sambil mengelus lembut pipi Guru Choi.

Kurang ajar sekali dia!

Posisinya yang mendesak guru sampai bersandar ditembok benar-benar! Keparat!

Coba lihat Guru Choi! Wajahnya itu menunjukan bahwa ia merasa ketakutan.

“Sangat cantik sampai aku ingin mencicipimu.”

Cukup! Ini sudah sampai batas!

Bugh!

Satu tinjuan memang pantas aku hamtamkan pada pipi panda ini.

Tapi aku juga tahu bahwa tipikal pria seperti Tao tidak akan kalah hanya dengan satu tonjokan.

Kai’s POV End

Author’s POV

Perkelahian terus berlanjut sampai satu kejadian yang takan terlupakan itu datang.

Sama seperti saat diatap sekolah, Sooyoung terjatuh dengan darah segar yang mengalir dari dua lubang hidungnya.

Hanya saja kali ini darah itu terus mengalir seakan tak ada lagi fibrin yang bekerja pada trombosit nya.

Malam itu..

Sooyoung dilarikan ke Rumah Sakit.

Keadaannya cukup kritis.

Ia koma.

.

2 bulan kemudian ..

Kai dan Tao belum juga mengembalikan tali persahabatan mereka.

Kai cenderung menjauh dari Tao. Dan Tao pun tampak acuh saat bertemu Kai.

Akhir-akhir ini Kai semakin tertutup saja. Tak pernah lagi Tao melihat Kai tertawa dan ber-jahil-jahil ria seperti dulu. Tao tahu benar perubahan drastis Kai ini dimulai sejak neneknya yang meninggal ditambah kejadian malam itu saat Sooyoung dilarikan ke Rumah Sakit.

Jujur, ada rasa bersalah dalam diri Tao. Ia sudah dewasa. Sudah mulai bisa berpikir.

Prinsipnya sekarang adalah menjadi saringan. Ambil baiknya, buang buruknya.

Tapi rupanya ini tidaklah mudah.

Dorongan inilah yang membuatnya penasaran akan kehidupan Kai sekarang.

Hingga pada suatu hari Tao membuntuti Kai sehabis pulang dari bimbel.

Dimulai dari pukul 10 pm, Kai pulang dengan berjalan kaki. Perumahannya pun terbilang kumuh.

Dan, Ya Tuhan!

Tao tidak pernah tahu bahwa selama ini Kai hidup dengan prihatin.

Karena yang Tao tahu hanya Kai when school side.

Ia hanya bermain dengan Kai di sekolah tanpa tahu keadaan Kai yang sebenarnya.

Mari kita lihat kembali.

Kai mengunci pintu rumahnya. Dan Tao justru berdiri tepat didepan pintu rumah Kai sehabis Kai masuk.

Terdengar sedikit suara dari dalam rumah Kai.

Seperti suara kompor yang dinyalakan.

“Hari ini makan mie nya separuh saja. Aku kan belum dapat gaji.”

Tes.

Satu bulir airmata Tao menetes mendengarnya.

Prihatin sekali.

Dan apa kata Kai tadi?

Ia bekerja?

‘Kai-aa, bagaimana bisa kau menjaga kesehatan tubuhmu itu hah?’

Selang beberapa menit kemudian Tao mulai lelah. Ia bersandar disudut lain dekat rumah Kai. Hingga tepat pukul 10.45 pm, Kai keluar rumah.

Tao kembali membuntutinya.

Rupanya Kai pergi menuju tempat kerjanya.

Sebuah kedai kopi pinggir jalan.

Kai bekerja paruh waktu disana. Tepatnya dari pukul 11 malam sampai pukul 5 pagi.

Sesudahnya Kai kembali pulang untuk sedikit istirahat dan memulai sekolahnya.

‘Maaf karena salah menilaimu.’

.

Pagi hari kala Kai sudah bersiap berangkat sekolah, seseorang mengetuk rumahnya.

Satu paket makanan tergeletak didepan rumahnya.

“Malaikat dari mana?” Kata Kai.

Bagi Kai, hari ini mujur sekali!

Bahkan saat disekolahpun, ia seperti mendapat sesosok malaikat.

Jadi begini.

Saat Kai tertidur di beberapa pelajaran, disaat ia terbangun sudah tersedia salinan dari catatan materi pelajarannya.

Keren!

Waktu bimbel tiba ..

Ahn membuka percakapan diantara Kai dan Tao. “Guru Shim dan Motifator Cho sedang menjenguk Guru Choi. Mereka bilang, keadaan Guru semakin membaik. Yaa, meskipun masih koma.”

“Syukurlah.” Ucap Kai lega.

Sampai disitu, suasana kembali awkward. Dan Ahn kembali membuka pembicaraan.

“Aku jadi teringat ucapan Guru Choi.” Seru Ahn sambil tersenyum.

“Apa?” Kata Kai.

“Guru pernah bertanya padaku. Apakah aku tidak ingin memetik buah yang kutanam sendiri?”

“Memangnya kau menanam apa?” Tanya Tao polos.

“Itu hanya perumpamaan, Tao-aa!” Rutuk Ahn.

“Maksudnya seperti sebuah hasil dari kerja keras.” Tambah Kai.

“Apa yang sudah kita lakukan selama ini seperti kita menanam tanaman. Airnya adalah ilmu. Pupuknya adalah kerja keras. Dan mataharinya adalah motifasi.” Ucap Ahn.

“Dan buahnya adalah hasil.” Ucap Tao sekenanya.

“Betul sekali!” Ucap Ahn kagum.

Jarang sekali kan Tao berkata ‘benar’.

“Woah~ Berarti Kai akan memanen buah yang besar ya?” Ucap Tao yang langsung mendapat tatapan khas Kai.

“Apa?” Kata Kai.

“Tanaman, air, pupuk dan mataharimu kan sudah sinkron. Jadi aku yakin kalau kau akan menjadi orang besar nantinya. Kau pasti sukses!” Jelas Tao berapi-api.

Kau pasti sukses.

Kau pasti sukses.

Kau pasti sukses.

Kalimat terakhir yang terlontar dari mulut Tao itu mengingatkan Kai pada neneknya yang pernah berucap hampir sama seperti Tao.

“Kau harus sukses, cucuku!”

“Kau pasti sukses!”

Kai. Dia benar-benar menyerap sugesti itu.

“Aku akan bekerja keras.” Ucap Kai yang secara tak langsung tengah menyemangati dirinya sendiri.

Ahn dan Tao saling melempar senyum melihat tingkah Kai yang perlahan berubah menjadi sedikit hangat.

“Semangat!” Timpal Tao.

Hwaiting! ” Tambah Ahn.

Mereka lantas tertawa bersama.

See? Sahabat tidak akan pernah bisa selamanya diam. Mereka pasti akan kembali menyatu. Hanya saja, ini semua butuh proses.

Cekrek.

Pintu ruang kelas terbuka. Cukup mengagetkan ketiga anak ini memang.

Tapi tak apa. Itu kan guru mereka. Guru Shim dan Motifator Cho.

Annyeonghaseyo.” Sapa Kai, Ahn dan Tao serempak.

Annyeong.” Jawab motifator Cho. Sedangkan Guru Shim hanya sedikit menebar senyum dan kembali fokus pada berkasnya.

“Perlu kubantu, Guru?” Ucap Tao yang langsung membantu Guru Shim merapikan kertas-kertasnya diatas meja.

“Huh! Tidak terasa ujian sudah didepan mata. Ini semua soal-soal ujian ditahun sebelumnya yang harus kalian kerjakan.”

Guru Shim begitu terlihat rucek.

Kerut dikeningnya menandakan bahwa ia juga cukup tertekan dalam menghadapi ujian ini. Tertekan karena takut kalau murid-muridnya belum bisa mendapatkan hasil yang baik.

“Tao, tolong dibagikan ya?” Tambah Guru Shim yang langsung disambut antusias oleh Tao.

“Kerjakan dengan benar.” Titah Guru Shim.

“Boleh aku berbicara sebentar sebelum mereka mulai mengerjakan, Guru Shim?” Tanya motifator Cho.

“Oh iya, tentu saja boleh.”

Kai, Ahn dan Tao memasang wajah gugup. Mereka semua tahu bahwa apa yang akan dibicarakan mungkin berhubungan dengan perihal lusa. Hari dimana Ujian diselenggarakan.

“Dengar anak-anak.” Motifator Cho mulai berbicara.

“Sebuah kehormatan bagiku untuk bekerja sama dengan sekolah ini. Sekolah terkenal dengan catatan buruk terbanyak sepanjang masa. Jadi apa alasanku menerima kerjasama ini adalah kalian. Sebelumnya aku sudah mengintai tiap perilaku kalian terlebih dahulu. Dan satu yang kuyakini. Akan kuubah tanaman busuk kembali berguna. Dan itu kalian. Kalian yang perlahan tumbuh dan seakan mematahkan teori irreversible. Ya! Kalian semua hebat! Aku bangga bisa bertemu dengan kalian.”

Motifator Cho mengangkat dua ibu jarinya serta menyunggingkan senyum terindahnya.

Begitu pula Guru Shim, Kai, Ahn dan Tao yang juga ikut tersenyum serta bertepuk tangan.

“Dengarkan aku. Ujian akan dihelat pada lusa nanti. Dan malam ini adalah malam terakhir bimbingan belajar bagi siswa terpilih. Apapun hasilnya nanti, aku harap kalian tidak mengecewakan. Jadi cobalah kalian buktikan bahwa buah yang selama ini kalian tuai adalah buah yang sangat manis. Penuh kebahagiaan dan SUKSES!”

Mereka pun saling bertepuk tangan.

Ini saatnya anak-anak !

Buktikan !

.

Ini sudah pukul 10 malam. Tapi Kai masih berada diruang kelasnya. Ia sedang membereskan sampah yang berupa kertas-kertas.

Itu adalah kertas soal hasil tes Kai selama bimbingan belajar. Ia sengaja merapihkannya. Berharap Sooyoung dapat melihat kerja kerasnya.

Karena sejauh ini, motifasi terbesar Kai adalah Sooyoung.

Sekarang coba kita lihat dilain sisi.

Di depan gedung sekolah, terdapat seorang wanita yang menumpangi taxi turun dengan pakaian rumah sakit.

Itu Guru kita.

Guru Choi.

Ia bergegas menuju lantai 4, tempat proses bimbel berlangsung sejauh ini.

Dalam hati ia berharap.

Kai.

Satu persatu anak tangga itu dijamahi Sooyoung.

Tak peduli gelap. Tak peduli sepi.

Jadi dimana Kai sekarang?

Sooyoung sudah dikelas itu sekarang, tapi Kai justru tidak ada.

Author’s POV End

Sooyoung’s POV

Sepertinya dia sudah pulang.

Kai.

Padahal aku ingin bertemu denganmu.

Kres.

Aku menginjak selembar kertas yang sudah tidak karuan bentuknya.

Apa ini? Kenapa jadi banyak trash bin disini? Dan isinya justru kertas semua.

Entah iseng atau apa. Aku mulai mengambil setiap kertas yang ada dibeberapa trash bin.

Satu persatu aku buka.

Oh My!

Hasil tes milik Kai.

40

80

0

50

70

100

0

20

Astaga nilainya!

Memalukan sekali ia masih mendapat 0. Tapi setidaknya ia pernah mendapatkan nilai 100, kekeke.

“Sendirian saja?”

Nuguya?

Suara apa itu?

“Disini.”

“Kai?”

OMO OMO OMO ! Kai?

Ingin rasanya aku memeluknya. Tapi apadaya.

Kai tersenyum hangat. Ini kali pertama aku melihatnya setelah tidur yang cukup panjang.

Ia mendekat dan tanpa seijinku mendekapku.

“Kau sudah sadar ya?” Ucap Kai sambil mengeusap punggungku.

Aku tertawa. “Seharusnya aku yang bertanya begitu.”

Kai langsung melepas dekapannya. Bibirnya sedikit dimajukan.

Tuhan! Dia imut ternyata!

“Sudah ya, aku harus kembali.” Ucapku.

Suasana ini terlalu awkward bagiku. Aku takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan nantinya.

“Tunggu!” Ia menggenggam pergalangan tanganku.

“Apa?” Ucapku gugup.

Wajah Kai terlalu dekat sehingga membuatku takut.

“Kau!”

Tatapannya mulai intens. Ia bahkan berbicara sambil melihat pergerakan bibirku.

Astaga astaga astaga !

Ini perasaanku saja atau apa hah?

“Kau..” Ucapnya lagi.

Ia semakin mendekat dan mendekat.

“Kau belum memberiku semangat untuk ujian lusa.”

Huh!

Aku langsung mendorong tubuhnya pelan.

Cukup kecewa.

“Iya iya! Semangat ya!” Ucapku asal.

“Hey! Bukan begitu caranya memberi semangat.”

Oke! Jadi maunya anak ini apa?

“Begini ya, biar kuajarkan.”

Huh! So’ menggurui!

“Pertama, kepalkan tanganmu. Kedua, siapkan ancang-ancang untuk senyum selebar mungkin. Dan katakan HWAITING !”

Aku terkekeh kecil.

Sejak kapan ia selucu ini?

“Ayo lakukan!” Perintahnya.

Baiklah. Tak ada salahnya juga kan?

Pertama, kepalkan tangan.

Kedua, siapkan ancang-ancang untuk senyum selebar mungkin.

Ketiga, “HWAITING !”

Cup.

Dalam waktu bersamaan saat aku berkata hwaiting, Kai justru mencium kilat pipi bulat ini.

Speechless.

Sooyoung’s POV End.

Author’s POV

Ini sudah tiga bulan setelah ujian berlalu.

Selama waktu senggang diantara waktu sehabis ujian sampai pengumuman ini, Kai menghabiskan waktunya untuk bekerja dan mengajar anak-anak kecil yang tidak berkesempatan sekolah.

Mulia sekali.

Dan sekarang adalah saat paling bahagia.

Saat pemerintah mengakui keberhasilan SMA Dashin. Saat SMA Dashin berhasil meluluskan 100% murid-muridnya. Saat nama Kai disebut sebagai peraih nilai terbesar disekolahnya. Dan disusul oleh Tao, serta Ahn.

Dengan begini, mereka benar-benar tengah memetik buah yang manis.

Tao siap melanjutkan ke fakultas fotografi di University of South Korea. Sementara Ahn mengambil matematika. Dan Kai? Siapa yang tahu.

Sekarang coba kita lihat Kai.

Ia tengah duduk duduk dikursi semasa bimbelnya.

Dihadapannya ada Guru Choi.

“Guru?”

“Hm.”

Kai mengeluarkan lenguhan kecil.

“Tepati janjimu.” Ucap Kai.

“Janji apa?” Tanya Sooyoung so’ polos.

Kai mulai memutar bola matanya.

Ia mulai malas akan permainan ini.

Sehingga secara sepihak, Kai merebut bibir Sooyoung.

Merasakan betapa manisnya bibir ini dan juga hari ini.

Disetiap lumatannya ada rasa.

Rasa yang ia yakini betul bahwa ini bukan hubungan antara Guru dan Murid.

Bukan anak asuh dan orang tua asuh.

Tapi ini soal cinta.

Perasaan.

Emosi.

Inilah masa depan!

Flashback ON

“Kau kabur dari Rumah Sakit?” Tanya Kai pada Sooyoung.

Sooyoung meregangkan tubuhnya diantara ruangan hangat dalam kelas sepi itu. “Aku bosan. Sudah berapa lama aku tidur? Badanku terasa sakit semua. Uh!”

Kai menghentikan pergerakan Sooyoung. Ia mengunci kedua tangan Sooyoung.

“Guru?”

“Hm?”

Kai menunduk. Satu dalam pikirannya.

“Aku takut tidak lulus.” Ucapnya.

Sooyoung tersenyum. Baginya hal ini cukup wajar terjadi.

“Tapi aku lebih takut kehilanganmu.”

Deg!

Satu pernyataan yang terlontar tulus dari mulut seorang Kai.

“Aku takut saat dokter mengatakan tentang hidupmu yang hanya dapat berjalan sebentar.”

“Aku takut saat melihat darah terus mengalir dari tubuhmu.”

“Aku takut saat orangtua mu justru menyalahkanku.”

“Aku takut saat aku berpikir tentang hidup tanpamu.”

Pernyataan itu mengalir dari mulut Kai yang tanpa terasa telah meluluhkan hati Sooyoung.

“Jangan takut.” Buka Sooyoung. “Hal yang seperti itu tidak perlu diingat lagi.”

Sooyoung mengangkat kepala Kai. Diusapnya pipi lembut itu.

“Ini semua salahku. Aku terlalu tertutup sampai tidak ada yang tahu soal kelainanku, penyakitku, Hemofilia.”

Kai tidak pernah tahu sebelumnya.

Jujur, saat itu Kai bertekad untuk semakin dekat dengan Sooyoung.

Kai tahu. Mereka saling membutuhkan.

Entah nafsu apa yang merasuk kedalam tubuh Kai sehingga ia berani mendekatkan wajahnya dengan Sooyoung.

Mendekat dan mendekat.

Hap!

Sooyoung menepuk tangannya pada jarak yang tersisa diantara wajah keduanya.

“Aha! Aku harus kembali!” Ucap Sooyoung gugup.

Kai kecewa.

Ini mungkin saja berarti penolakan.

“Tunggu!” Seperti biasa Kai menggenggam pergelangan tangan Sooyoung. “Berjanjilah padaku untuk memberikan ‘itu’ jika aku lulus nanti.”

Tidak sopan sekali.

“Apa?”

“Itu!” Kai meluruskan pandangannya pada bibir Sooyoung.

“Apa-apaan kau ini?!”

“Katakan saja ‘Ya’. Aku tidak menerima penolakan.”

Sooyoung melengos.

Dan dari kejauhan Sooyoung membuka mulutnya. “Ya.”

Flashback OFF

“Kudengar Tao akan melanjutkan ke fotografi. Dan Ahn ke matematika. Jadi kau akan kemana?” Tanya Sooyoung.

Kai membetulkan posisi duduknya. Dan sedikit merapikan dasinya.

“Jangan kaget ya?” Ucapnya so’ cool.

“Kenapa aku harus kaget?” Ucap Sooyoung dengan nada meremehkan sehingga membuat Kai terkekeh kecil.

“Fakultas kedokteran, University of South Korea.”

O

Bibir dan mata Sooyoung membulat.

Semakin membuatnya tampak bulat saja. Kekeke~

“Panggil aku dokter Kai.” Ucap Kai sambil terkekeh.

Sooyoung memukul bahu Kai pelan.

“Aku akan menjadi dokter. Dan aku berjanji untuk membantumu tetap hidup, Sooyoung-aa.”

Sooyoung tertegun.

“Hey! Panggil aku guru dasar tidak sopan.”

“Kalau begitu panggil aku dokter.”

“Apa-apaan sih!”

Kai mencubit pipi Sooyoung. “Wah~ Kau blushing ya?”

Sooyoung malu. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

Romansa memang indah sekali ya?

‘Akan kupegang ucapanmu itu, Dokter Kai!’

END.

Catatan kaki :
Hemofilia adalah penyakit dimana penderitanya tidak atau hanya memiliki sedikit trombosit yang berperan dalam proses pembekuan darah. Biasanya mereka akan cepat kelelahan. Namun apabila mereka kelelahan, mereka akan mengalami mimisan yang darahnya sukar berhenti, sehingga juga dapat menyebabkan kematian. Maka dari itu penderita penyakit ini diharuskan cuci darah minimal 2 kali dalam 1 minggu. Apabila tidak, bisa fatal akibatnya.

*

Halo holaaa ^0^

Hika here ~

Akhirnya selesai di publish juga nih ff :3 Alhamdulillah yah🙂

Sebelumnya mohon maaf kalo cerita membosanka, typo bertebaran, dan lain lain.

Oh ya, aku mau ngucapin makasih buat yang udah ikutan vote waktuitu(?). Ini dia result pertama dari hasil vote nya. “To Go To School” dapet lebih dari 40% suara loh *tepuktangan*

Mau tau hasil kedua dan ketiganya?

Stay ya🙂

Tapi aku ga janji bisa pubish cepet *grin

Sudahlah~ Hayo hayo dikomen🙂

LOVE,
HIKA

57 thoughts on “[Twoshot] To Go To School (Second Shot)

  1. xzahrana November 27, 2013 / 8:27 AM

    aaaaaaaaaa so sweet! sookai! aku tunggu yang lainnya ya, author.

    thanks for the story😀

    • annisahika November 27, 2013 / 10:15 AM

      aaaa makasih :3
      sip” ‘-‘)7
      anytime🙂

  2. Kang Yong Ah November 27, 2013 / 9:08 AM

    Yey happy ending. .banyak2in sookai ne thor

    • annisahika November 27, 2013 / 10:16 AM

      yey juga xD hehe kalo sempet yaa😀

  3. park yongjin November 27, 2013 / 10:31 AM

    Keren banget … bikin soohun , eon😉 keep writing !

    • annisahika November 27, 2013 / 11:58 AM

      makasih banget🙂 soohun nanti aku buatin sequelnya verxes blue aja ya😀

  4. safira faisal November 27, 2013 / 10:44 AM

    huwaaa soo sweet banget inii, kai beranian banget sama gurunyaaa. Sedih juga sama kehidupan kai, untung tao baik banget mau nolong diaa. Dan akhirnya sooyoung kai bersatu kan? Berharap ada sequel, pengen liat ‘Dokter Kai’ beraksi, wkwk

    • annisahika November 27, 2013 / 1:04 PM

      haha kai emang badung😀
      iyadong angel Tao suka membantu :3
      iyadong bersatu :3 buat sequel, aku pikir” dulu ya😀

  5. twoyeosin November 27, 2013 / 12:25 PM

    waah.. keren banget ceritanya thour.
    suka sama couple yang ini.bikin lagi ne yang soo-kai
    hahaha.. kalo temen aku sampek liat kainya dipasangin ma unnie ku pasti dia ngomel-ngomel hahahaha…
    semangat ;D

    • annisahika November 27, 2013 / 1:06 PM

      makasih banget ya🙂
      ciye suka sookai ciyer :3
      temen kamu? Ah, inikan cuma fiksi🙂
      gomawo ^^

  6. Choi Min Ra November 27, 2013 / 1:00 PM

    Ah sumpah ini ff keren. Kyaaaaaa…..

    Eh! aku bingung mau koment apa?. pokoknya! intinya! ini ff aku suka banget

    Ditunggu ff karya author lainnya
    Fighting!

    • annisahika November 27, 2013 / 1:07 PM

      ah sumpah makasih banget :3
      muehehe sip (y) makasih ya🙂

  7. AnnHee November 27, 2013 / 1:08 PM

    aihhh…
    Ada bgian yang aku skip,si.. Hampir aja,tadi kecolongan adegan ‘itu’.Dan untungnya belum btulan kecolongan.Kan,aku masih di bawah umur.. *gananya -_-

    Wooaaah! Kai jadi dokter *histeris
    Soo eonn ksian bget,ya?? Punya penyakit hemofillia..
    Eh,selisih umur sooyoung sama kai berapa tahun,yya??
    Dan syukurlah,Kai,tao sama ahn bisa dapet nilai bagus dan bisa mencapai cita” mereka.Seneng bget aku bacanya..

    Next ff apa,eonn? Modern duke,yya??
    Tapi,aku terserah aja,si..
    Pokoknya,tetep fighting aja deh…
    FIGHTING,eonn!^^

    • annisahika November 27, 2013 / 7:07 PM

      aih untung kamu nyadar umur ya saeng xD
      selisih umur mereka 4 tahun🙂
      aki seneng baca komenan kamu :3
      hayoo coba tebak😀 yang pasti ditunggu aja ya🙂
      jeongmal gomawoyo ^^

  8. rifqoh wafiyyah November 27, 2013 / 3:10 PM

    Bener2 so sweet kaisoo….:),bkin sequel’a dundd thor??
    Keren bngett..:)

    • annisahika November 27, 2013 / 7:09 PM

      SooKai dear~ kalo KaiSoo itu Kai x Kyungsoo🙂
      aduh mian aku lagi closed buat ff request😦 coba deh nanti kalau aku open request, kamu mampir ke page request aku, terus request buat sequel ini deh *inisih sekedar saran🙂
      makasih banget🙂

  9. AULIAsookai November 27, 2013 / 4:14 PM

    oh my god thor~ ini ff pling so sweet🙂 terus berkarya thor banyakin ff sookai ne!! i love u authornya *abaikan tanda i love u nya😉

    • annisahika November 27, 2013 / 7:10 PM

      really? Kalo ada kesempatan ya haha😀
      i love u too muehehe🙂 gomawo ya ^^

  10. sailors moon November 27, 2013 / 5:22 PM

    Omaygaaat keren bgt sumpahhh
    Ada sequel gak? Wkwkw sookai emg udj sling membutuhkan

    • annisahika November 27, 2013 / 7:12 PM

      makasih bgt🙂 aku pikir” dulu ya😀

  11. yeni swisty November 27, 2013 / 5:29 PM

    wihh cepet banget ngepost part 2 nya😉
    yeyy.. Happy End😉

    • annisahika November 27, 2013 / 7:13 PM

      iyadong😉 muehehe😀
      yeyeyelalalala *abaikan-_-

  12. ninjasforsookris November 27, 2013 / 6:11 PM

    yaa byun kai! xD
    bagus deh, bisa dapet pelajaran juga dari ff ini xD harus bisa memetik hasil yang manis dari apa yang udah kita tanam sendiri. nice story authornim;D
    sookai sweet banget ya kayak aku /gak.
    ditunggu ff vote kedua sama ketiganya yayaya. fighting!

    • annisahika November 27, 2013 / 7:14 PM

      alhamdulillah bisa ngasih pelajaran :’)
      makasih ya🙂 eh tapi aku lebih sweet loh jiakakak😀
      sip deh (y) gomawoyo ^^

  13. kim nana November 27, 2013 / 7:09 PM

    Feel endingnya so sweet,,
    Good story: )

    • annisahika November 27, 2013 / 7:15 PM

      ciatciatciat sweet kan kaya yang nulis😀
      makasih🙂

  14. miss_sooyoungster10 November 27, 2013 / 8:06 PM

    Aaa…
    Terharu bener ini….
    Tapi so sweet…
    I ♥ IT

  15. syaffinhumaira November 27, 2013 / 10:04 PM

    eon hika kalau buat ff pasti super duper bagus :3
    so sweet , kece keren daebaak lah !
    fighting ya eon ! kutunggu karya karyamu selalu ^w^

    • annisahika November 28, 2013 / 4:19 AM

      ah kamu terlalu berlebihan saeng :3
      makasih ya🙂 muehehe sip (y)

  16. fransiscafortunita24 November 27, 2013 / 11:26 PM

    Wowwww ( ื▿ ืʃƪ) keren bgt ceritanyaaaaa xD
    Aku suka ><
    Percintaan antar guru dan murid (´⌣`ʃƪ)
    Wkwkwkwkw
    Ditunggu ff lain nya !
    Hwaiting !

    • annisahika November 28, 2013 / 4:19 AM

      makasih banget yaa🙂 hehe😀

  17. Qarenza Park November 28, 2013 / 4:44 PM

    Ah , saya suka saya suka /ala mey mey/ teruskan karyamu thor😀

  18. Anna Choi November 28, 2013 / 5:35 PM

    karena aku bacanya telat dan ini udah fin aku komen disini aja yah :3 hehe mian lagi males *deepbow*
    untung aja tao sama kai nggak selamanya jadi musuh
    btw, itu end nya romantis banget walaupun beda 4 tahun tapi tetep aja keliatan kai lebih dewasa hoho~
    buat aku ini kok belum end ya? wkwkw
    ada sequel nggak??
    keep fighting hika!!

    • annisahika November 28, 2013 / 6:28 PM

      akedeh gapapa🙂 makasih banget😀 hoho liat nanti aja deh yaa😀 gomawo yaa ^^

  19. Sooyoungster EXO November 28, 2013 / 9:08 PM

    so sweeeet……….

  20. annisakpopfans November 29, 2013 / 11:08 AM

    Good ff thor! And mianhae baru komen. Suka ff SooKai nya

    • annisahika November 29, 2013 / 12:28 PM

      makasih ya🙂 iya gapapa ko ^^

  21. wufanneey November 29, 2013 / 3:11 PM

    WTH SOOKAI!!!!!
    gila, nggak pernah aku baca sookai sampai nge feel berlebihan kayak gini, astaga astaga astaga…
    mau sookai lagi kan jadinya XO, bahaya!
    kai itu imut ya ternyata, dia lebih imut dari maknae exo /digampar hun/
    turut berduka cita atas kepergian nenek kamu… semoga kehadiran sooyoungie bisa mengobati ya..
    oke deh, aku nggak bisa komen apa-apa lagi selain KEREN ^o^

    • annisahika December 2, 2013 / 1:23 PM

      hayo hayo hayo jadi suka kan ama couple imut amit ini/?😄
      thanks ya fanfan ^0^

  22. jimbumie November 30, 2013 / 4:32 PM

    huaaa…keren thor ^^ ditunggu ff nya ya ^^

  23. Di December 24, 2013 / 11:52 PM

    Sweet banget!!! Ini pertama kalinya aku baca ff “Sooyoung-Kai dan suka!! >.<

    • annisahika December 25, 2013 / 5:49 AM

      aku juga pertama kalinya bikin ff SooKai :3 tapi bukan pertama kalinya buat aku bilang makasih sama reader yang sudah berkomentar :3

  24. yantie February 28, 2014 / 5:35 PM

    chingu. . Gag tau kenapa tp ff ini ngena bgt. .gmana perjuangan kai menutupi keadaan.nx yg sebenarnx,gmana usaha soo eonnie buat ngerubah pencitraan skolah dhasin,dan gmana perjuangan kai utk jd sukses . .waaaaaaaaa ddaebak. .dgn ide cerita yg benar2 gag pasaran. . Keep writing chingu

    • annisahika March 2, 2014 / 8:58 AM

      mungkin karena ff ini lebih merujuk ke kisah nyata🙂 emang kenyataannya gitu kan? Cowo blagu buat nutupin kekurangannya, guru cuman ‘title’, orang miskin gasuka didenger. Pokonya aku ngambil dari reality deh🙂 gomawo yaa ^0^ ok😉

  25. Syifa Aqilla March 3, 2014 / 4:53 PM

    aigoo~ Kai -_- ck!
    kenapa janji nya harus itu ~_~

    • annisahika March 8, 2014 / 5:51 AM

      Yaa suka” dialah -_- gemana siih eonni ‘-‘)/

  26. Rara_Panda May 5, 2014 / 7:34 AM

    OMG,,, ini super duper keren.
    Kai so sweet bangeet
    Terharu sama semangat mreka smua, sma kerja keras mreka dan hasil yg mreka capai.

    KaiSoo realy realy sweet *_*

  27. Choi Je Kyung June 29, 2014 / 7:14 PM

    Ciee~ yang mau banget dipanggil dokter sama Soo eonnie😛
    Ku harap hubungan mereka lancar2 ajah yah🙂 Dan juga moga2 Kai memegang janjinya pada Soo eonnie >_<

  28. Salsabilah June 22, 2015 / 9:42 PM

    Saiia suka saiia suka, !! Daebak thorr..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s