Jiyoung – Chapter 03

Gambar

Title: Jiyoung

Author: @waynefanneey and @fadhilahhus98

Genre: Thriller, Psycological, Romance

Rating: NC+17

Lenght: Multichapter

Pairing: Crack

Casts: Choi Sooyoung [SNSD], Yoon Doojoon [BEAST], Bae Suji [Miss A], Kang Jiyoung [KARA], Min Yoonki [BTS], Park Jimin [BTS], Kim Taehyung [BTS], Choi Sulli [f(x)].

Summary: Choi Sooyoung mengakhiri masa mengajarnya dengan menyelidiki fakta kematian para siswi yang mengerikan.

NB: khusus part ini aku nyelipin adegan dari film jepang yang aku lupa namanya, tapi kalo gak salah penulis naskahnya Kohaku ^^

Warning: Full of typos, death characters, NO CHILDREN!

Chapter Three – Start

 

“Yoon Doojoon,” kata guru muda tersebut dan menaruh kapur di pinggir papan tulis setelah menuliskan namanya besar-besar. “Itu namaku, tapi kalian bisa memanggilku Doojoon untuk lebih akrabnya. Aku tidak biasa dipanggil Sonsaengnim.” Doojoon melihat kekakuan di wajah murid-muridnya tersebut dan tertawa renyah.

          Yoon Doojoon memang pribadi yang cukup menyenangkan. Umurnya baru 25 tahun dan gaya berpakaiannya lebih cocok dibilang guru olahraga dengan training dan jaket, ditambah postur atletis yang mendukung. Sayangnya ia merupakan guru fisika.

          “Serius. Panggil saja aku Doojoon. Kalian semua bisa bergantung padaku.” Katanya. Tetapi tak ada yang merespon. Justru beberapa di antara muridnya dengan sengaja menguap dan memalingkan muka.

          Baiklah. Doojoon akan memegang kelas ini dua semester ke depan, maka ia akan berusaha menarik hati murid-muridnya, sebagai seorang wali kelas di kelas 1-A. Sesi perkenalan terus berlanjut. Yang dilakukan Doojoon di pertemuan pertamanya mengajar adalah mengabsen semua murid. Ia membaca nama-nama murid dan menghapalkan wajahnya, nilai positif untuk wali kelas baru.

          “Son Naeun?”

          “Hadir.”

          “Hong Yookyung?”

          “Hadir.”

          Dan, Doojoon bersikap sangat ramah pada semuanya. Seakan-akan ia mengenal mereka sejak lama. Guru impian.

          “Oh Hayoung?”

          “Hadir.”

          “Dan… Choi Sulli?”

          Semua kepala di kelas 1-A menoleh ke satu-satunya angku yang kosong di tengah kelas. Beberapa di antara mereka memasang ekspresi kaku. “Ah, benar. Choi Sulli sedang sakit flu.” Kata Doojoon tenang. Walau ia merasakan keganjilan di sekitarnya.

          Semua orang tahu bahwa Choi Sulli tidak hadir bukan karena alasan flu yang sepele. Murid-murid kelas, termasuk Doojoon, juga Sooyoung, tahu hal ini. Ini karena kejadian sepekan silam, berita menyebar dengan cepat. Kenakalan empat orang yang kau-tahu-siapa-mereka sudah bukan kenakalan remaja yang bisa dimaklumi lagi kini. Tapi yang mengherankan adalah, keempat anak nakal kau-tahu-siapa-mereka itu masih tetap ke sekolah. Keadaan kelas mulai aneh. Ada bisik-bisik perdengar bising. Membicarakan Sulli, lagi. Maka Doojoon membuka suara untuk mengalihkan perhatian para anak didiknya.

          “Dulu saat sekolah aku bukan tipe orang yang serius belajar,” kenang Doojoon, berdiri di belakang mejanya setelah selesai mengabsen 20 nama. “Tapi sebagai wali kelas kalian, aku akan menjadi pria yang lebih serius sekarang.” Candanya, namun tak ada yang tertawa.

          “Doojoon-ssi, kau hebat!” ketua kelas Sulhu bangkit berdiri dan berseru. Semua murid ikut bangkit dari kursi mereka dan bertepuk tangan riuh. Doojoon terpana dan tersentuh melihat antusias muridnya tersebut, lantas ia tersenyum.

          “Aku akan membuat kalian percaya padaku sepenuhnya!” seru Doojoon ke seisi kelas.

          “YEAAAAAH!” seru sekelas serempak. Paling tidak, mereka senang punya guru yang diidam-idamkan mereka selama ini. Tidak terlalu patuh pada peraturan dan menjadi sahabat para murid.

         “Kalian semua bisa bergantung padaku kapan pun kalian butuh aku!” seru Doojoon lagi, kali ini lebih semangat, tampak seperti orang yang memberi orasi. Kelas kembali berseru riang. Mereka ingin bersembunyi dari kenyataan buruk masalah Choi Sulli dan geng kau-tahu-siapa-mereka. “Aku ingin menjadi kakak bagi kalian semua!”

          Seruan-seruan di kelas tidak juga berhenti.

 

          ***

 

“Flu?” tanya Choi Sooyoung sarkatis setelah Yoon Doojoon keluar dari kelasnya, diikuti tatapan sinis. “Kau mengatakan Choi Sulli hanya flu? Apa kau tidak pernah memikirkan bagaimana perasaannya?”

          “Mereka tidak pantas disuguhi berita kotor seperti itu. Jadi, biarlah menghilang dengan sendirinya.” Doojoon melangkah lebih dulu, Sooyoung masih mengikutinya dari samping. Mereka lalu berhenti di koridor yang sepi.

          “Kau lebih munafik dariku.” desis Sooyoung sinis. Ia mendelik ke arah Doojoon yang tampak biasa saja.

          “Ini yang terbaik untuk kita semua. Sulli akan cepat pulih tanpa harus teman-temannya tahu apa yang terjadi padanya. Dan, ia akan kembali bersekolah dengan keadaan yang baik-baik saja. Percayalah padaku, Sooyoung.”

          “KEGADISANNYA DIRAMPAS MANA MUNGKIN DIA BAIK-BAIK SAJA?!” Sooyoung berteriak, membentak dengan emosi tak tertahan.

          Doojoon meremas kedua pundak Sooyoung. “Tenanglah, Choi Sooyoung! Kau bisa bicara baik-baik! Jika kau berteriak maka semua akan mendengar! Ini aib baginya!”

          “BAGAIMANA AKU BISA TENANG JIKA BOCAH-BOCAH BIADAB ITU MASIH BERADA DI SINI, HAH?!”

          “CHOI SOOYOUNG!” Doojoon membekap mulut Sooyoung dengan tangannya. Dan, seketika tangan Doojoon basah, oleh airmata Sooyoung. “Dengar, hari ini kita kunjungi Sulli. Jangan pernah berwajah sedih di hadapannya. Kupikir kau mengerti menyangkut hal-hal mental seperti ini, Psikolog Choi.”

          Sooyoung mengangkat wajahnya tak percaya. Dua pasang manik bening itu bersitatap cukup lama. Menyelami pikiran masing-masing dalam diam.

          “Jika aku tak bisa mendepak mereka dari sekolah ini, aku akan membuat mereka rasakan hal yang sama seperti yang Sulli rasakan.” Janji Sooyoung, dipenuhi ketegasan tiada tara. Seperti ada hal lain yang Sooyoung ketahui dan Doojoon tak tahu mengenai Sulli.

          Doojoon menautkan alis tebalnya, tampak bingung. “Itu bukan tindakan bijak sebagai seorang guru yang bersahaja, Nona Choi.”

          “Aku menyadarinya sejak dulu, pekerjaan guru ini hina. Lebih hina dari apapun. Aku tak bisa selalu memasang senyum palsu kepada muridku setiap hari, munafik.”

          “Kau… akan berhenti?” Mimik wajah sang Nona Choi yang terhormat itu ambigu, ia bungkam dan hanya menatap wajah penasaran Doojoon.

          Tak akan kubiarkan kau tahu.

          Di lain pihak, seorang siswi mendengar perdebatan itu. Tubuhnya merapat di sisi tembok dan ia mencuri dengar semuanya. Siswi itu menghela napas, raut mukanya datar. Meski begitu, ia kemudian menampakkan dirinya di hadapan Doojoon dan Sooyoung diikuti pertanyaan.

          “Sonsaengnim… bolehkah aku ikut… mengunjungi Choi Sulli?”

          “Kang Jiyoung?”

         

          ***

 

Sore itu, seusai sekolah bubar, Choi Sooyoung dan Yoon Doojoon beserta Kang Jiyoung pergi ke rumah Choi Sulli. Yang tak lain adalah rumah kakak laki-laki Sooyoung sendiri, Andrew Choi. Rumah Sulli berada di ujung blok yang tidak begitu jauh dari sekolah. Karena itu mereka bertiga lebih memilih jalan kaki. Rumah Sulli berlantai dua dengan cat warna biru muda. Di bagian depan ada pekarangan yang di tumbuhi berbagai mawar dengan indah.

          Nyonya Choi mempersilahkan mereka masuk dengan senyum cerahnya. Keluarga Choi memang sangat emosi karena Sulli kecilnya ‘dikotori’ oleh murid di sekolah Anhyun. Namun kemarahan itu tak berlarut, Doojoon dan Sooyoung berhasil mengendalikannya dan itulah alasan mengapa mereka disambut hangat di rumah Sulli ini.

          Pemandangan yang terlihat saat mereka bertiga memasuki ruang tamu adalah, ada tiga buah figura foto yang terpampang besar di dindingnya. Di kanan ada figura foto pernikahan Andrew dan Tiffany, di tengah adalah Tiffany yang tengah menggendong Sulli bayi kecil nan manis, dan di kiri adalah sesosok gadis remaja yang tersenyum lebar ke arah kamera sambil memegang raket tenis—pastilah Sulli.

          “Bagaimana keadaan di sekolah?” Tiffany menanyai sembari menyeduh teh di dapur untuk tamu-tamunya. Jiyoung hanya diam karena memang tidak ada yang harus diutarakannya.

          “Semua merindukan Sulli.” Jawab Doojoon. “Bolehkah kami melihatnya?” tanya Doojoon hati-hati.

          Tiffany tersenyum kecut. “Aku tidak yakin, malah kupikir Sulli kami harus pindah sekolah.” Bahkan ia tidak menjawab apakah mereka boleh melihat Sulli atau tidak.

          “Tiffany-ssi,” sela Sooyoung, seolah menghalangi Doojoon berbicara lebih jauh. Sooyoung bisa melihat raut kecewa di wajah guru laki-laki tersebut. “Ini materi pelajaran yang tertinggal oleh Sulli, temannya meminjamkan buku untuknya.” Tiffany menerima map berisi catatan pelajaran itu setelah mengucap terimakasih.

          Lalu, sore itu mereka habiskan hingga tak terasa mereka akan pamit pulang. Namun tiba-tiba Doojoon membalikkan tubuh saat Tiffany hendak menutup pintu rumah. “Tiffany-ssi, kumohon… biarkan kami membawa Sulli kembali ke sekolah. Atau paling tidak, biarkan kami melihat keadaannya.”

          Sembari tersenyum, Tiffany menggeleng. “Keempat anak itu masih berada di sekolah yang sama dengan Sulli. Aku tidak bisa biarkan.” Lagi-lagi, Tiffany tidak menjawab apakah Doojoon boleh melihat keadaan Sulli atau tidak.

          Doojoon kecewa. Ia ingin semua masalah terselesaikan tanpa ada murid yang harus di depak, siapa pun itu. Doojoon memang tipe pria berkeingintahuan besar sekaligus penyelesai masalah dengan jalan lurus. Berbanding terbalik dengan Sooyoung. Sooyoung tidak berkata apa-apa. Sejujurnya, ia setuju dengan keinginan Tiffany. Mengusir keempat murid kau-tahu-siapa-mereka disertai cara paling memalukan. Sementara Jiyoung hanya berdiri tanpa suara di belakang Sooyoung.

          Selepas tiga insan itu pergi. Tiffany menutup pintunya. Ia menaiki tangga seraya membawa senampan makanan. Ia mengetuk pintu kamar Sulli dan memanggil-manggil namanya.

          “Sulli sayang, buka pintunya.”

          Pintu tidak dikunci, Tiffany masuk tanpa ada sahutan dari Sulli. Dilihatnya putri kecilnya meringkuk di sudut kamar, membenamkan kepalanya di antara kedua lututnya. Sesosok makhluk berambut panjang dan gimbal bukti tak dicuci selama seminggu. Tubuh bau dan penuh daki tak tertutupi. Tiffany menahan tangisannya.

          Gara-gara mereka, Sulli kecilku jadi seperti ini.

          Tiffany mendekat dan menyentuh ujung rambut Sulli setelah menyimpan nampan makanan tadi di sebelahnya. Sulli mengangkat wajahnya kaget, memperlihatkan matanya yang bengkak, ada lingkar hitam di bawahnya.

          “Sudah kubilang menjauh dariku!” Sulli mendorong Tiffany diikuti teriakan. Tubuh Tiffany beradu dengan tembok. Tiffany terduduk lalu menangis. Makhluk nista itu kini berlari keluar kamar meninggalkan Tiffany. “ARRRRGGGHHH! TINGGALKAN AKU SENDIRIAN!” jeritan Sulli menggila.

          “Sulli-ya!” Tiffany menggedor-gedor pintu kamar mandi dengan panik karena mendengar jeritan Sulli lagi dari dalam. Pintu terbuka dan menampakkan makhluk itu dalam keadaan mengenaskan. Tissu toilet berceceran. Air meluber kemana-mana. Sementara Sulli sibuk mengelapi toilet dengan tissu tanpa ingin meninggalkan seinci pun sidik jarinya.

          “MINGGIR!” pekik Sulli saat Tiffany mencoba membantunya. “JANGAN SENTUH AKU!” didorongnya lagi tubuh sang wanita yang sudah melahirkan dirinya itu. Tiffany menangis tak tertahan. Sulli masih sibuk dengan urusannya, tanpa peduli pada tangisan Tiffany yang menyayat hati.

          Inilah alasan sebenarnya Tiffany tak izinkan Doojoon membawa Sulli ke sekolah. Inilah alasannya tak ada yang boleh tahu keadaan Sulli. Karena Sulli-nya yang manis dan penurut, telah berubah menjadi monster yang menyeramkan. Dan mengenai ini, hanya ia dan Sooyoung yang tahu.

          Di luar rumah, ternyata bagunan dua tingkat itu tak mampu meredam teriakan-teriakan Sulli. Dan, yang mendengarnya adalah si anak perempuan pendiam. Ia sedikit menengadahkan kepalanya ke atas—balkon rumah Sulli. Lantas Kang Jiyoung melangkah pergi tanpa peduli apapun.

 

          ***

 

02.00 PM. Ditemani cuaca agak mendung yang menyorot dari jendela kelas, Choi Sooyoung memasuki ruang kelas 2-B dengan langkah elegan. Masih dengan setelan biru rok atas bawahnya, dan sepatu formal dengan hak setinggi 5cm, Sooyoung berdiri di depan kelas setelah meletakkan tasnya di meja. Tak ada yang peduli, murid-murid asyik mengobrol sambil menikmati sekotak susu produk percobaan dengan riang.

          “Yang sudah meminum susunya tolong kembalikan kotaknya ke tempat semula.” Sooyoung berdeham, kelas tetap bising.

          Kim Taehyung melambung-lambungkan bola basket hingga ia bosan dan kemudian melemparkan bolanya ke anak yang duduk paling depan. Lee Sungjong yang tengah meminum susu kotaknya spontan langsung memuntahkannya dari mulut karena lehernya terkena lemparan bola basket. Anak-anak lain langsung mengerubunginya, bukan untuk membantunya tapi untuk mentertawakan kebodohannya. Sungjong lalu berlari keluar kelas dengan wajah merah padam.

          Park Jimin dengan sengaja menjatuhkan kotak susu yang belum disentuhnya ke lantai. Cairan putih itu jadi berceceran membasahi lantai, menyebabkan seorang siswi bernametag Jung Soojung terpeleset lalu jatuh dalam keadaan rok yang tersibak. Jimin bersiul menggoda diikuti murid-murid lain. Mereka semua terbahak mengejek Soojung. Soojung kembali ke bangkunya dengan sesegukan.

          Hanya ada tiga anak yang tidak ikut meramaikan kebodohan kelas. Bae Suji sibuk mengunyah permen karetnya. Min Yoonki menyumpal telinga dengan hansfreenya sambil memejamkan mata. Kang Jiyoung mengamati keadaan kelas yang kacau dalam diam.

          Kelas tidak akan berhenti ribut jika saja Choi Sooyoung tidak menggoreskan kapur ke papan tulis dengan kasar. Membunyikan suara decit berkepanjangan dan membuat murid-murid menutup telinganya.

          “Attention please.” Katanya tegas. Ia tidak peduli ada murid yang sedang berkeliaran di luar dan membolos, atau pun Sungjong yang belum kembali dari kamar mandi. Choi Sooyoung berdiri di tengah kelas sambil mengacungkan benda kecil-tipis-bundar bergambar wanita yang memakai bikini.

          “Ini CD blue film yang aku sita dari Kim Jongin kemarin.” Beberapa murid laki-laki langsung menoleh ke arah murid yang namanya disebutkan oleh Choi Sooyoung. “Dia menghilangkan mozaiknya secara digital di rumah Park Jimin dan berencana memberikannya pada semua siswa di kelas ini.” Choi Sooyoung menurunkan CD tersebut dan berjalan ke depan kelas. “Aku yakin kalian memahami bahwa gejala perubahan tubuh dan hawa nafsu seperti ini disebut dengan pubertas. Keefektifan nutrisi susu untuk tubuh kalian bisa dilihat pada pemeriksaan kesehatan bulan Mei nanti.”

          Tak ada yang mendengarkan. Para murid sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Tetapi Choi Sooyoung tidak peduli, ia mendatangi meja Kim Jongin dan meletakkan CD film porno tersebut, membuat si murid terheran.

          “Meskipun saat itu aku sudah tak berada di sini lagi.” Choi Sooyoung kembali ke mejanya, menatap murid-muridnya yang tidak juga memberikan respon padanya. Hanya Kang Jiyoung yang terlihat sedikit bereaksi ketika mendengar kalimat yang diutarakan oleh Choi Sooyoung barusan.

          “Aku punya banyak kepentingan selain menjadi guru, jadi ini adalah bulan terakhirku mengajar.” Kali ini kalimatnya ampuh menarik perhatian si ketua kelas. Lee Taemin bangkit dari bangkunya, tampak kaget.

          “Kau pasti bercanda!”

          Reaksi murid lainnya? Mereka ikut bangkit dari kursi masing-masing dan berseru senang, bergandengan tangan dengan teman sebangku dan saling mengucapkan selamat. Akhirnya salah satu guru yang tidak mereka sukai akan hengkang juga.

          “Aku tidak tahu apakah aku telah menjadi guru yang baik atau tidak. Dan, aku tidak peduli bagaimana pun pandangan kalian terhadapku.” Lanjut Choi Sooyoung.

          Kali ini semua murid duduk dengan rapi di bangku mereka masing-masing. Tetapi celotehan dan seruan masih saja berlangsung. Bahkan Park Jimin masih memainkan bola basketnya dan melemparkannya lagi pada Lee Sungjong yang baru kembali dari kamar mandi. Kali ini tepat mengenai pipinya. Ketika bola jatuh dan menggelinding di lantai, ia meringis kesakitan dan memegangi pipinya yang memerah. Seisi kelas mentertawainya kembali.

          Brak! Si ketua kelas Lee Taemin menggebrak mejanya dan menatap satu-satu temannya galak, ia bangkit dari kursinya. “Diamlah! Sonsaengnim sedang berbicara!” serunya—marah.

          Dan, itu malah berakibat sebaliknya. Kerusuhan makin mejadi. Park Jimin berdiri dan menyumpahi Taemin dengan kata-kata kotor. Kim Taehyung ikut mengatainya bahwa ia hanya sok menjadi ketua kelas. Kelas kembali ribut. Dengan ini, Kita bisa melihat dengan jelas siapa saja provokator keributan di kelas 2-B.

          “Terimakasih, Lee Taemin.” Kata Choi Sooyoung, tulus. Lee Taemin mengangguk lalu kembali duduk dengan tenang. “Ngomong-ngomong, kalian tahu beberapa gosip tentangku?”

          “Aku tahu!” seru seorang murid perempuan yang duduk di samping kiri, Bae Suji. “Kau biseksual.” Dan, tawa seisi kelas kembali membahana.

          “Benar,” namun Sooyoung membenarkan. Murid-murid kelihatan terkejut karena mengira guru mereka mengaku bahwa ia adalah biseksual. “Tapi kalian tak tahu apapun di baliknya.” Adalah kalimat yang sukses menimbulkan rasa penasaran di beberapa murid. Sooyoung mendatangi meja salah seorang siswanya.

          “Maafkan aku, Oh Sehun-ssi.” Katanya seraya membungkuk kepada Oh Sehun agar kepala mereka sejajar. “Meskipun kau mengirimiku e-mail pada tengah malam, mengatakan bahwa kau jatuh cinta padaku, aku tidak akan pernah bisa membalas e-mailmu.” Ia kembali berjalan pelan, setelah membuat wajah Oh Sehun bersemu.

          Dua orang murid perempuan langsung saling berbisik. “Choi Sooyoung benar-benar biseksual!”

          “Bukan karena alasan aku penganut lesbi sehingga tak menerima pernyataan cinta Oh Sehun. Ini hanya lelucon konyol dari seorang murid.” Jelas Choi Sooyoung. Tetapi kedua murid perempuan tadi masih bergosip membicarakan hal yang sama.

          Park Jimin menggebrak mejanya. “Jadi kau tidak pernah mempercayai kami selama ini?”

          “Iya, karena kalian semua pintar berbohong,” jawab Choi Sooyoung tenang.

          Termasuk kau dan ketiga teman berengsekmu.

          “Setiap ada siswa yang memanggilku, meskipun itu dari kelasku, aku akan meminta guru pria dari kelas lain untuk menggantikanku. Kalian bisa bertanya pada Oh Sehun yang pernah memanggilku, dan aku mendatangkan Yoon Doojoon padanya.” Sooyoung menyambung dengan aura yang tetap sama—ketenangan melebihi segalanya.

          “Menurutku itu tindakan yang tak bertanggung jawab sebagai seorang wali kelas, Choi.” Komentar Bae Suji sinis dan langsung disambut ledakan tawa seisi kelas.

          “Kurasa ada benarnya juga.” Sahut Sooyoung. “Agar tidak menjadi manusia tak bertanggung jawab sepertiku, maka simaklah pelajaran terakhirku, sebagai guru kalian, sekarang.”

          Semua murid merasa aura di sekitar mereka menjadi janggal.

          Ckiiiiit! Ini kedua kalinya Sooyoung menorehkan kapur putih di papan tulis secara paksa. Bunyinya memekakan telinga, ngilu. Menarik perhatian murid-murid lagi.

          “Ada yang tahu buku ini?” wanita bermarga Choi itu mengangkat tinggi-tinggi sebuah buku berkisar 200-300 halaman di tangannya.

          Lee Taemin mengangkat tangan lalu berucap dengan lantang. “Itu buku yang ditulis Andrew Choi!”

          “Benar, Lee Taemin.” Sooyoung mengangguk. “Beliau adalah seorang guru sekaligus penulis yang hebat. Semua tulisannya menginspirasi kehidupan, penuh makna dan bukannya tipuan fantasi belaka.” Jelasnya.

          Kang Jiyoung mengangkat wajahnya. “Andrew Choi. Ayah Sulli. Kakak Sooyoung.” Ucapnya pelan, namun Sooyoung dapat mendengarnya.

          “Beliau sering melakukan perjalanan ke luar negeri, menjadi guru pertukaran di beberapa negara. Hingga beliau bertemu seorang wanita cantik bermarga Hwang di Amerika dan mereka menikah. Istrinya bernama Tiffany, yang marganya kini sudah berubah menjadi Choi.” Sooyoung terus menutur, tidak peduli muridnya mendengarkan atau tidak. “Tiffany hamil dan melahirkan malaikat kecil yang cantik. Malaikat kecil mereka kini bersekolah di sekolah yang sama dengan kalian, dia adalah hoobae kalian.”

          Aku tahu siapa!

          Aku tahu siapa!

          Aku tahu siapa!

          Terdengar bisik-bisik antar murid memburu, beradu siapa lebih dulu mengucapkan sebuah nama yang tak asing…

          Choi Sulli!

          Bae Suji memutar bola matanya acuh. Min Yoonki melepas hansfreenya dan menatapi seisi kelas datar, sama halnya dengan Kang Jiyoung. Sementara Park Jimin mulai mengucurkan peluh dinginnya satu-satu. Berharap sampai mati bahwa sosok wanita Choi di hadapannya ini tidak akan mengungkap perbuatannya pada Sulli sepekan silam. Oh, bencana baginya.

          “Tapi keluarga harmonis mereka tak bertahan lama, Andrew meninggal di usia Sulli yang baru menginjak empat bulan.” Para murid tampak terkejut. Sooyoung melanjutnya ceritanya, “Kalian tahu apa yang menyebabkan kematiannya di usia yang sangat muda?”

          Beberapa murid mulai mengeluh. Mereka benci acara tebak-tebakan. Maka Park Jimin memekik lantang, “Katakan apa!”

          “Virus HIV, penyakit AIDS.” Jawab Sooyoung santai. Wanita Choi itu mengetuk-ngetukkan ujung jari panjangnya pada meja. Suzy dapat melihat seulas smirk terbentuk di wajah cantik Sooyoung.

          Reaksi para murid kembali hiperbola. Ada yang menjerit, berteriak tidak jelas, bahkan murid perempuan yang duduk di depan—di dekat Sooyoung berdiri langsung pindah ke belakang.

          “Andrew Choi tertular AIDS selama ia di Amerika. Kejelasannya entah dari siapa. Hanya yang membuatnya ajaib adalah, Tiffany tidak tertular. Itu keajaiban terbesar. Berkali-kali Tiffany mengikuti testing kesehatan—negatif.” Ada beberapa anak yang berwajah ria. Entah kagum atau apa, namun tampak sangat bodoh di mata Sooyoung. “Tetapi penyakit itu menurun kepada putri mereka.”

          Brak! Park Jimin menggebrak meja tiba-tiba. Tubuhnya gemetaran. Rambut hitamnya sudah terbasahi oleh keringat dingin yang berbanjir. Kepalanya terasa dihantam dari belakang, ia menatap Choi Sooyoung dengan kacau, mematung dan tak sanggup melontarkan apapun. Fakta bahwa hidupnya akan hancur mulai menghantuinya. Fakta bahwa ia akan mati sia-sia mulai menggerogotinya.

          AIDS!

          AIDS!

          AIDS!

          Demi apapun itu penyanyit paling menjijikkan yang pernah ada!

          Choi Sooyoung memandang Park Jimin lurus. “Dan, aku memasukkan darah Choi Sulli kepada tiga kotak susu yang kalian minum. Kuharap ketiga kotak itu jatuh di tangan yang tepat.”

          Kena, kau.

          Seisi kelas sontak menjerit sejadi-jadinya, bangkit dari kursi dan berlarian menjauh dari guru bermarga Choi tersebut. Bahkan ada yang langsung memuntahkan isi mulutnya ke luar jendela kelas.

          Sedetik kemudian, Suzy, Suga, dan Taehyung baru menyadari maksud dari perkataan guru mereka tersebut. Kim Taehyung merasa ingin muntah, perutnya berputar-putar tidak karuan, fakta bahwa ia telah meminum setetes darah. Min Yoonki hanya menutup mulutnya, wajahnya pucat.

          Terkutuklah kau, Choi!

          “DIAM SEMUANYA!” teriak Choi Sooyoung. “Pemeriksaan kesehatan dilakukan bulan depan, kuharap kalian menantikan tes darah tiga bulan lagi. Jika hasilnya positif, maka masa inkubasinya antara lima sampai sepuluh tahun. Waktu yang cukup menurutku untuk merenungi dosa-dosamu. Terimakasih.”

          Bae Suji tidak kuat lagi. Ia bangkit dari kursinya sembari menutup mulutnya dengan sebelah tangannya, menahan sesuatu untuk keluar. Ia berlari dengan langkah lebar, melewati Choi Sooyoung yang pura-pura tidak melihatnya.

          Choi Sooyoung mengambil penghapus untuk membersihkan coretan kapur di papan tulis yang dibuatnya barusan. Kemudian ia berbalik dan tersenyum hangat pada murid-murid terakhirnya. “Sekali lagi terimakasih. Dan, selamat tinggal.”

          Bae Suji terus berlari dengan langkah lebarnya menuju toilet siswi. Ia mendorong pintu toilet itu dengan kasar dan menyenderkan punggungnya di salah satu bilik, kakinya lemas dan ia terduduk di bawah wastafel.

          “Pffftt—Hahahahaha!” ledakan tawa membahana ke seisi ruangan itu. “HAHAHAHAHA!” Suzy memegangi perutnya yang kram kala tawanya semakin lahak. Kakinya dihentak-hentakkannya ke lantai, masih tertawa dengan puasnya. Tertawa kesetanan sampai-sampai matanya mengeluarkan airmata. Suzy berguling-guling di lantai kamar mandi. “HAHAHAHAHAHAHAHAHA!!!”

***

A/N: Gimana? Udah mulai ada bayangan kira-kira siapa yang bakal jadi psiko-nya? Bahasanya berat nggak? Makin aneh?

FF ini ga akan panjang, paling 5/6 chapter udah tamat, jadi berkomentarlah di setiap chapter karena part terakhir akan saya proteksi. Bagi yang selalu memberi komentar passwordnya pasti akan saya kasih lewat twitter, jadi jangan sungkan cantumin twitter kalian di bawah! ^^

Mengerti? Cukup aku kasih tahu sekali kan? Kalau ada yang tanya soal password-password-an lagi hallo! Are you read this?

Sorry, saya nggak respect sama silent reader -_-v

54 thoughts on “Jiyoung – Chapter 03

  1. Hazna Swooners Azzahra October 3, 2013 / 5:37 PM

    UDAH ADA BAYANGAN KAK!
    aku curga antara jiyoung sama sooyoung. jiyoung karaternya pendiem banget di sini dan itu bikin penasaran!
    tapi sooyong kayanya jadi gila gara-gara ponaannya depresi, keliatan banget sooyong sayang sama sulli melebihi apapun, dan dengan kegilaannya dia masukin darah hiv ke tiga bocah biadab itu!
    jimin, kalo kamu sih udah pasti positif ya, hahaha! maanya jangan sembarangan perkosa anak orang :p

    • wufanneey October 3, 2013 / 5:42 PM

      hayooooh jiyong ata sooyong? haahaha tngg aja sema akan terbongkar di chapter-chapter selanjtnya! ^^

  2. thelittleshikshin October 3, 2013 / 6:05 PM

    gileeee sooyoung mantap bener:”””””D
    aku kesel sama empat anak you-know-who itu ih, waktu dibagian sooyoung ngejelasin dimuka kelas itu aku kaget sambil senyam-senyum(?) sambil bilang dalem hati ‘rasain lu rasain’ /tega banget/
    tapi itu ceritanya beneran gak sih? atau cuma akal-akalan sooyoung supaya nakutin mereka aja? :”D

    poor giant baby sulli:’-(
    lah suzy kenapa?:”o

    bahasanya masih bisa dimengerti kok gak berat kalau buat aku xD

    aaak ditunggu next chapternyaaa. fighting! Kalau di protect bagi passwordnya di twitter aku @littleshikshin ya:”3 hehe thanks

  3. Anna Choi October 3, 2013 / 6:30 PM

    oh my….. gak nyangka ceritanya kayak gini, ._.
    aaaaa /tereak ga jelas/
    geregetan banget sumpah sama ff ini, bikin tambah penasaran
    sooyoung keren abiss disini😀
    pengen punya guru kayak dia nih, eh kayak doojoon juga B)
    itu yang psycho suzy kayaknya ntar,
    masa Sulli punya AIDS?? ga nyangka, ajaib banget emang kalo tiffany gak kena
    pokoknya nextnya ditungguin ini🙂

    • wufanneey October 9, 2013 / 10:17 PM

      sama dong, siapa sih yang gak mau guru secantik sooyoung dan seganteng doojoon? hehehe ^^
      yang sicko suzy bukan ya? hayoo hayoo

  4. yuniasoo October 3, 2013 / 6:36 PM

    Adaw Sooyoung keren banget dah😀 kasian sama sulli, itu si suji ngapain ketawa-ketawa ??

    fani, ane ga punya twitter, dari fb-mu aja yah ?

    • wufanneey October 9, 2013 / 10:17 PM

      dari fb? boleh lah, mesaage aku aja kay?

  5. kuchiki October 3, 2013 / 7:14 PM

    Sooyoung y???
    Suzy napa tertawa sampai segItuny???
    Next thor

    • wufanneey October 9, 2013 / 10:18 PM

      yang ketawa-ketawa sendiri kalo gak autis ya gila /ups/

  6. mita October 3, 2013 / 11:01 PM

    wuih keren..
    Tapi masih bingung main cast nya siapa ya?
    Di tunggu part selanjutnya..😀

    • wufanneey October 9, 2013 / 10:19 PM

      soal maincast, sebenernya aku gak bisa bilang maincastnya sooyoung, tapi bukan suzy atau doojoon juga, jadi di sini kayaknya semua punya part cerita masing-masing. gimana menurutmu? ngerti kan?

  7. febryza October 3, 2013 / 11:49 PM

    Sooyoung seriusan psikolog? Tapi kok kayak ada yg aneh? Apa karena belom ada sooyoung pov atau doojon pov secara lengkapnya?

    • wufanneey October 9, 2013 / 10:21 PM

      aku udah cantumin di part pertama kalo sooyoung itu lulusan kyunghee jurusan psikolog ^^
      mungkin kamu lupa tapi aku ingetin lagi, hehe
      itu cuma info tambahan aja say, gak usah dipikirin

  8. rere October 4, 2013 / 12:03 PM

    astaga, sehun ga minum susu nya kan :” kasian sehun ditolak </3
    suzy sakit jiwa ya ._. hayoloh jimin entar ketular ._.
    lanjutan nya ditunggu ^^

    • wufanneey October 9, 2013 / 10:22 PM

      haha iya si cadel kesian amat, ditolak tooyoungie hehehe xD
      jimin ketular aids pasti, kan udah ‘this and that’ sama sulli–eh

  9. Yufasa October 4, 2013 / 12:22 PM

    kepalaku muter muter (?) tapi pas bagian terakhir sekalliiiiiiiiiiiiiiiiiiiii aku msh bingung, yah ini lbh jelas tapi…..cast sebenernya aku tuh masih bingung siapa yang main cast disini –“

    • wufanneey October 9, 2013 / 10:28 PM

      sama kayak komen di atas ya, maincastnya sebenernya gak cuma sooyoung aja, jadi setiap chara itu punya part penting tersendiri ^^

  10. zahrana October 4, 2013 / 7:20 PM

    *speechless*
    suzy…. freak. sumpah. terus si sehun kasiaaaan😥
    sulli juga kasian, tiffany juga kasian.

    bagus banget, duo author! ayo semoga feelnya tetap terjaga sampe final chapter! semangat!

    • wufanneey October 9, 2013 / 10:30 PM

      makasih supportnya say ^^

  11. Epanda October 6, 2013 / 8:53 PM

    Semoga susunya tepat sasaran, haha
    jahat2 bgt sih.
    Tp kok judulnya jiyoung?? Ada apan si sebenernya???????? Lanjut gapake lama ><

    • wufanneey October 9, 2013 / 10:34 PM

      semoga.
      judulnya jiyoung karena authornya suka nama jiyoung /plak/

  12. safira faisal October 7, 2013 / 5:18 PM

    aku curiganya antara jiyoung dan sooyoung nih, tapi kayanya jiyoung ya? Secara judul ff ini kan jiyoung #sotoy
    itu si suzy apaan sih? Ko malah ketawa? Aduh nyess banget itu jadi jimin, ketularan AIDS!!! Ditunggu chap 4nyaa^^ . Truss kalo chap akhir di protect, kasih tau aku ya eon? Twitter aku @safirafaisal . Gomawo ::)

    • wufanneey October 9, 2013 / 10:34 PM

      twitternya dicatat ^^
      thanks udah nyempetin komen ff gajelas ini, hohoho

  13. jejekeysun October 8, 2013 / 7:22 PM

    sumpah masih bingung -.- yg psycho nya sooyoung kah ? atau sulli kembali lagi untuk balas dendam sama suzy the genk . terus jiyoung nya diapain , kok belum ada konflik nya jiyoung thor ?

    • wufanneey October 9, 2013 / 10:35 PM

      konflik jiyoung sebenernya yang paling eheeeeeem

  14. Cho Soohyun October 9, 2013 / 3:54 PM

    Suzy tu gila ya? Sooyoung tu apa bnar psikolog?
    Sooyoung sayang bgt sama sulli sampek kyak gitu
    keep writing chingu

    • wufanneey October 9, 2013 / 10:36 PM

      memang, sooyoung sayang sulli melebihi apapun ^^

  15. winda October 10, 2013 / 5:35 AM

    Sumpah ni keren banget… Gayanya sooyoung kereeeen…
    Aku gak punya twitter, lewat email bisa??

  16. chakyuyoungster October 15, 2013 / 12:27 PM

    Baca dari part 1 sampe part 3 bener-bener jantungan ya. Soalnya ff ini beneran ngures konsentrasi tau gak?

    Keren deh pokoknya. Daebak!
    Penulisan critanay kyk nyata kita saksiin sendiri. Lnjutannya jgn lama-lama ya🙂

  17. sludeer241 October 19, 2013 / 9:59 PM

    Baru bacaa ini fanfic>< seruuuu
    Penasaran serius itu sooyoung sama jiyoung kenapa pendiem kayak gituuu lanjuttttttt

  18. nafisyoung November 13, 2013 / 5:09 AM

    sadis, seru, bikin penasaran. lanjutannya doong. kalo di protect ini twitterku @nafiikl. bagiin yaa

  19. Klee December 1, 2013 / 11:31 PM

    akhirnya nemu ff yg ada taehyung nya *o* polos2 tp perannya emang rada cocok sih/? xD
    dari ketiga chap ini seru2 lah jalan ceritanya, daebak. maaf ya komennya disatuin, akunya juga baru nemu nih ff xD tapi keren kok, aku suka jalan ceritanya. penasaran sama jiyoung+suga. sampai akhir taehyung nakal nih? .-.
    ditunggu next chapnya, jangan lama2 ya haha minta pass nya yaa, nih twitter aku @Novitasari_F. fighting! ^^

  20. Ratna Dwi (@meeuwii) December 16, 2013 / 12:52 PM

    waaah ini ceritanya keren banget!
    bahasanya juga bagus, ga pasaran kayak ff kebanyakan🙂

    dan ngebayangin DuJun jadi guru~~~ hmmmmmm🙂

    udah ada lanjutannya belum ya? pengen baca lagi.

  21. babyjeon December 24, 2013 / 10:51 PM

    Keren thoooorrrr. Sifatnya pada ga ketebak semua! Kalo kata aku yg syco itu sooyoung! Next chapter jgn lama2 ya thoorr!;;

  22. annisahika December 26, 2013 / 11:57 AM

    suji kenapa? Pe’a bener tuh anak. Oh, atau aku yang pe’a? Entahlah~ aku jarang” baca ff psiko *bukaaib
    sooyoung niat banget ya? Dujun mana dujun? Aah ditunggu pokonya ~ :3
    fighting! ^^

  23. Kumiko January 10, 2014 / 9:14 PM

    aaa aku tau telat banget .. baru baca baru komenk baru venasaran ..
    aku ga bisa nebak nunggu aja chap selanjutnya
    o iya .. @SF_Mumz bagi PW nya ya kalo di protect..
    penasaran bingit thor .. terusin ya !! FIGHTING

  24. tari February 8, 2014 / 11:57 AM

    sullinya kasian bgt. depresi, aku bacanya hampir mau nangis. empat serangkai itu jahat banget. penasaran sma next chap!^_~

  25. nadigoo February 8, 2014 / 7:16 PM

    Omooo sulli bisa sampe kaya gitu depresinya ckck
    Jahat banget sih suzy and genk
    Loooh ko suzy malah ketawa sih? Dasar gilaaa
    Bener tuuh si andrew choi kena hiv?

  26. sooyoungie February 12, 2014 / 4:36 PM

    serius sulli hiv? apa cuma akal2an soo doang . Cepet di post ya thor😀 btw suzy knp ketawa2 gt? Apa psiko nya jiyoung? Tp ga mungkin , tp judul nya jiyoung

  27. @DevilYehet February 26, 2014 / 5:04 AM

    omo sullinya kena aids, terus si suzy ngakak2 lagi, ahh bikin penasaran thorr

  28. @Tita_Maharani February 27, 2014 / 1:25 AM

    Woww
    Ceritanya makin Seruu
    jadi penasaran ama Jiyoung Sooyoung and Suzy
    soalnya sifat mereka beda bangett
    ini cerita ga bisa di tebakk
    daebak abisss >_<

  29. icha March 13, 2014 / 11:07 AM

    ini yg jadi psiko aku masih bingung thor hihi ceritanya weowe banget. dari ngeri sampe sedih bacanya. ditunggu kelanjutannya deh hihi twitterku @opparsgurl

  30. saditriani March 13, 2014 / 12:36 PM

    itu si suzy kenapa? gila?-____- feelnya dapet bgt thor baca ini><

  31. @ggcsy24 March 13, 2014 / 7:02 PM

    psiko nya jiyoung ya? abis dia misterius bgt

  32. nahdha April 15, 2014 / 9:10 AM

    Dan akhirnya sudah dichap ini annyeong aku new readers,maaf baru sempet berkomentar dibagian ini karena bingung berkomentar apa dan chap sebelumnya memang sudah kerennn… jujur di chap ini kayanya lebih ke jiyoung yg psiko tp entlah rasanya sooyoung jg bs jd,kasian bgt sm sulli pasti udh depresi berat bgt.oiyaa nasib peraaaan suga sama jiyoung baaimanna?lalu author backgroun/warna fonftnya agak diubah yaah,ga terlalu keliatan soalnya gomawo and ini twitter ku @nahdharlyn salam kenal

  33. ji May 19, 2014 / 1:15 PM

    Wih ceritanya bener bener rame hoho keren

  34. choi_reni407 June 13, 2014 / 7:16 AM

    wuaaaaah..ni ff gokil..bikin gereget banget.. sumpah!! pengen gue bejek2 si suzy. haahahaha… maafkan aku author .. baru komen di part 3.
    soalnya part 1 & 2 aku masih mencerna masalah yg ada . wkwkwk maaf yaaa..

    tapi demi apapun ini seru banget. gregeeeet banget . pengen nelen hp rasanya. wkwkwk

  35. N P August 19, 2015 / 9:48 PM

    Kayak pernah baca ff yg persis kayak gini sebelumnya, cuma beda main cast nya… Aku lupa judulnya…

    ceritanya seru, lanjut yaaa

    • wufanneey August 19, 2015 / 9:52 PM

      Mungkin Connection atau apa gitu ya? Saya juga agak lupa tapi lebih kurang terinspirasi dari sana. Tapi kalo kamu teliti, ceritanya itu beda kok say.

  36. Nadya Ulfa April 11, 2016 / 2:12 PM

    Keren banget sumpah… Saya ga koment dichap 1-2 maaf ya author saya keasikan baca tapi setelah liat tulisanmu di bawah itu jadi aku coba deh sempetin komen nadnadya01 itu twitter aku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s