[Oneshot] Lately

Lately

Cast(s) :

  • Choi Sooyoung (SNSD)
  • Kim Minjun (2PM)
  • Kris Wu (EXO-M)

Genre : Romance-Hurt

Rate : PG+16

Author : Replay @WayneFanneey

Summary :

“Bertemu denganmu, membuatku berharap aku kembali ke masa lalu, untuk mencintaimu lebih dulu dari dia.”

***

Shot One

Gadis berambut cokelat-panjang itu mengangguk-anggukkan kepalanya seiring dengan alunan lagu beat yang melantun dari earphone-nya dan melewati telinganya dengan harmonis. Terkadang ia ikut bernyanyi-nyanyi sendiri sembari mendengarkan musiknya. Tidak peduli tatapan aneh dari pemuda yang duduk di sebelahnya.

“Choi Sooyoung, kau mengganggu konsentrasiku.” Deru pemuda itu sebal, setelah sebelumnya menatapi gadis bernama Choi Sooyoung itu lama kemudian menutup buku tebal yang sedang dibacanya.

Sooyoung hanya mendelikkan maniknya sekilas, lalu kembali acuh.

Pemuda berambut emas itu mengeluarkan decakan atas sikap temannya. Sebisa mungkin dia kembali konsentrasi pada buku yang sedang dibacanya. Ngomong-ngomong, buku setebal kamus enstein itu memang sedang dipelajarinya untuk pre-test Biologi besok. Bukan ulangan sih. Tapi Kris memang sedang mengikuti bimbingan untuk olimpiade Biologi mendatang.

“Apa masalahmu, sih, Wufan?”

“Masalahku adalah kau tidak bisa diam, berisik. Dan jangan panggil aku Wufan.”

Dan satu hal yang pemuda bernama Wufan itu sesali di sini—atau kita menyebutnya Kris karena dia tidak mau disebut Wufan. belajar dengan Sooyoung—ah tidak—belajar di rumah Sooyoung bukan pilihan yang tepat ternyata.

“Hei, lepaskan itu!” seru Kris akhirnya, kesabarannya habis sudah karena suara cempreng Sooyoung yang bernyanyi membuat gendang telinganya berdenging. Lama-lama telinganya bisa penyakitan juga.

Kris melepas paksa earphone yang hinggap di telinga Sooyoung. Lalu menatap gadis itu tajam, niatnya sih, mengancam. Bukannya takut, gadis itu malah merasa tertantang dan membalas Kris dengan tatapan galaknya.

“Kau tidak mau terganggu, belajar saja sana di rumahmu.”

“Aku tidak enak menolak ajakan Noona-mu untuk makan malam di sini, tahu.”

“Makan malamnya kan sudah selesai, kau pulang saja.”

“Kau seperti tidak tahu maksud sebenarnya dari Noona-mu saja, ck.” Kris berdecak lagi, sembari menggeleng tak habis pikir. “Dia memintaku makan malam di sini itu ada maksud lain.”

“Oh yeah, aku tahu.” Sahut Sooyoung malas.

“Agar aku belajar bersama dengan adiknya yang pemalas ini.” Lanjut Kris dengan oktaf di tinggikan. Sooyoung mengangguk ogah-ogahan.

“Terserahlah…”

Klek!

Tiba-tiba pintu kamar Sooyoung terbuka. Terlihat kepala Soojin—kakak perempuan Sooyoung—yang menyembul dari balik pintu kamar. Otomatis kedua orang yang sedang berseteru itu menoleh ke asal suara.

“Youngie, aku pergi dulu ya. Aku tidak akan pulang malam, kok. Jadi kalian belajarlah yang tekun, oke!” Soojin tersenyum tipis pada Sooyoung dan Kris.

“Tunggu, memang kau mau kemana?” heran Sooyoung.

“Aku ada pesta dengan rekan-rekan kerjaku. Biasa, kami menyambut kesuksesan perusahaan.” Jawab Soojin santai, tampak sekali dia tidak mengerti dengan tatapan kekesalan yang Sooyoung lemparkan padanya.

“Jadi, kau meninggalkanku berdua saja dengan si rambut mahal ini di rumah?!” desis Sooyoung dengan delikan maniknya sinis ke arah Kris.

“Siapa yang kau sebut si rambut mahal? Oh… Maaf Kris, jangan dimasukkan ke hati, ya.” Soojin menatap Sooyoung dengan wajah kesalnya, lalu beralih pada Kris dengan senyum ramahnya. Kris tanggapi dengan ekspresi maklum.

“Pergi saja, Noona. Kami tidak apa-apa.” Kris tersenyum dan saat itu pula Sooyoung mengumpat-umpat dalam hati atas sikap ‘sok manis’ dari Kris.

“Tidak! Aku ikut denganmu saja, Soojin!” ujar Sooyoung akhirnya. Dia beranjak dan menghampiri Soojin.

“Yah, kau masih kelas 2 SMA masa mau ke tempat party orang-orang dewasa?”

“Mereka tidak akan tahu aku anak SMA, lagipula.” Sooyoung menyeringai. “Aku pinjam pakaianmu, dong. Eonni-ku yang dewasa dan pengertian…” rayu Sooyoung.

“Ck, kau ini…” Soojin mengalah. Sooyoung memang kepala batu.

Dan entah kenapa, melihat Sooyoung dan Soojin pergi berarti membuat Kris tidak bisa menghabiskan waktu dengan Sooyoung malam ini, Kris memendam rasa kecewanya dalam diam.

***

“Jangan minum alkohol, mengerti?”

Sooyoung mengacuhkan ocehan kakaknya yang entah sudah keberapa kalinya. Gadis bertubuh tinggi semampai itu kemudian mengalihkan pandangannya pada parasmanan yang tersaji di meja. Manik bulatnya berbinar-binar melihat berbagai sajian makanan yang dihidangkan. Menggugah seleranya, kebetulan perutnya sudah lapar, padahal baru sejam yang lalu dia makan malam di rumahnya.

“Sudah bersenang-senanglah dengan temanmu, jangan khawatirkan aku.” Sooyoung meninggalkan Soojin yang masih menasehatinya. Jika dibiarkan, mungkin Soojin akan terus mengoceh sampai mulutnya mengeluarkan busa. Emm, tidak, itu terlalu berlebihan. Soojin paling akan mengoceh sampai telinga Sooyoung berdengung.

“Jangan jauh-jauh, Sooyoung!”

“Iya, iya, aku tahu, Nyonya!” Sooyoung terkekeh lalu menghampiri parasmanan yang jadi incarannya. Dengan cepat dia mengambil seporsi lalu memakannya dengan lahap, tanpa peduli dengan tatapan seorang pria yang berdiri tak jauh darinya.

Pria itu memperhatikan Sooyoung yang masih asik dengan santap malamnya. Gadis dengan tubuh ramping dan kaki jenjang yang membuat maniknya tertarik untuk terus melihatnya. Tidak, pria itu bukan pervent seperti pria kebanyakan. Hanya saja, sesuatu dalam diri gadis itu memang menarik perhatiannya. Apalagi… dia sempat melihat gadis itu datang bersama Soojin.

Apakah adiknya? Ah, sepertinya begitu. Mereka cukup mirip. Pria itu pun menghampiri Sooyoung setelah gadis itu selesai dengan ritual makannya.

“Kau adik Choi Soojin?” tanyanya, berbasa-basi untuk memulai perkenalan. Sooyoung mengangguk setelah sebelumnya meminum air mineral untuk mendorong makanan yang masih menggumpal di kerongkongannya.

“Ya?”

“Aku Kim Minjun, rekan Soojin.” Jelasnya dengan senyum yang membuat Sooyoung tertegun. Pria bernama Kim Minjun itu memang tampan, tidak aneh jika Sooyoung bengong beberapa saat karena terhipnotis dengan ketampanannya.

“Jadi, kau benar adiknya?” pertanyaan yang sama terlontar karena Sooyoung tak kunjung menjawab.

Sooyoung terkesiap. “Ah… iya, benar. Aku memang adiknya, Choi Sooyoung.” Sooyoung balas tersenyum, lalu mereka berjabat tangan cukup lama. Masih saling bertukar tatapan, saling mengagumi dalam diam.

“Pantas saja, kalian begitu mirip.”

“Wajar kalau kami mirip, kami kan saudara kandung.”

“Bukan itu, tapi,” Minjun tertawa sejenak, “Cara makan kalian…”

Glek.

Sungguh Sooyoung malu sekali! Wajahnya pasti sudah memerah menahan malu. Kenapa image-nya buruk di hadapan pria tampan yang baru dikenalnya? Aish!

“Kenapa Soojin tidak pernah bercerita padaku ya dia punya adik secantik ini?” Minjun sedikit menunduk untuk melihat wajah Sooyoung, karena gadis itu menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang merona. Kali ini Sooyoung malu sekaligus senang karena secara tidak langsung Minjun memujinya… cantik?

Sooyoung terus menundukkan kepalanya karena malu, Minjun juga ikut-ikutan menundukkan kepalanya untuk melihat wajah Sooyoung. Mereka saling menunduk, lalu Minjun tertawa, entah apa yang dia tertawakan.

Cowok ini mau apa sih?

“Hahaha… kau benar-benar manis…” bisik Minjun di telinga Sooyoung, disertai tawanya yang renyah. Sooyoung mengangkat kepalanya hingga dia bisa mencium aroma jas abu-abu yang dikenakan Minjun. Membiusnya untuk sesaat.

Minjun kembali menegakkan tubuhnya. Dia lalu mengambil minuman dan meneguknya pelan. Dan saat itu pula manik bulat Sooyoung tertuju pada sesuatu, pada jemari Minjun. Oh, tidak. Ada cincin melingkari jari manis pria berambut raven itu.

Dia sudah menikah Choi Sooyoung!

***

“Soojin-a, boleh aku tanya sesuatu?” tanya Sooyoung pada kakaknya saat mereka baru sampai rumah, sepulang dari pesta.

“Apa?”

“Ada rekanmu yang bernama Kim Minjun, kan?” tanya Sooyoung ragu. Melihat ekspresi Soojin setelah dia melontarkan pertanyaan itu, sepertinya Soojin tak suka.

“Kau tahu darimana? Kau bertemu dengannya? Eh, dia yang menemuimu duluan kah?” belum menjawab pertanyaan Sooyoung, Soojin malah balik memburu gadis itu dengan pertanyaannya.

“Bagaimana kau tahu?”

“Kau menanyakan itu karena kau tertarik padanya, kan? Kuperingatkan kau, adikku sayang… jangan dekat-dekat dengannya karena dia sudah menikah. Dan lagi, istrinya sangatlah berbahaya.”

Jujur Sooyoung sangat kecewa dengan jawaban Soojin, kini tebakkannya soal Minjun yang sudah menikah berarti 100% benar. Padahal, ia berharap cincin itu hanya cincin pertunangan saja. Eh tahunya…

***

Choi Sooyoung melangkahkan kakinya cepat menuju gerbang keluar. Bel pulang baru berbunyi hitungan detik yang lalu tapi dia melesat begitu cepat. Rasanya begitu malas kalau harus bertemu dengan…

Tidak! Orang dihindarinya malah dia temui di parkiran! Aish… Kenapa Kris sudah ada di atas motor ninjanya sambil memandangnya penuh maksud? Apa dia kalah cepat dengan Kris? Payah!

“Hehe, kau bisa menduluiku, ternyata…” Sooyoung terkekeh, menyembungikan rasa sebalnya. Padahal dalam hati dia sedang mengutuk-ngutuk pemuda rambut emas—pirang—itu.

“Naiklah, kita pergi ke suatu tempat.” Kris menyodorkan helm pada Sooyoung. “Pakai, jangan diam saja!”

Sooyoung manyun-manyun, “Kau pasti mengantarku pergi ke suatu tempat buat belajar. Mentang-mentang Guru Kim menyuruhmu jadi tutorku, jangan seenaknya, ya!” tuduh Sooyoung.

“Salah sendiri nilai Biologi, Kimia, dan Fisika-mu di bawah garis kemiskinan, hahaha!” Kris malah terbahak. “Jadi, selama dua bulan kedepan kita tidak akan terpisahkan, ck. Harusnya kau senang karena mendapat tutor setampan aku.”

“Cish…” Sooyoung mendelik. “Aku tidak mau belajar denganmu, kau tidak bisa diajak kerjasama Tuan Wu yang tampan! Lagipula kan ada Jonghyun atau Luhan atau siapapun asal tidak dengan cowok pesolek sepertimu!”

Kris sebenarnya akan menonjok orang yang mengatainya ‘cowok pesolek’, tapi akan berbeda jika Sooyoung yang mengucapkannya. Dia akan anggap itu sebagai panggilan ‘sayang’ dan berusaha menahan emosinya.

“Sudahlah jangan banyak protes. Aku tidak akan mengajakmu belajar di hari pertamamu denganku ini, kita kencan.” Kris kembali menyodorkan helm itu dan kini Sooyoung menerimanya dengan semangat.

“Serius? Woaah, ayo jalan!”

“Giliran kencan kau paling semangat. Kau menyukaiku, ya?”

“Aku semangat karena aku sudah lapar, kencan berarti traktir makan, bukan?” Sooyoung balik bertanya dengan wajah polosnya, dia menerawang dengan mata cokelat berbinar-binar ke langit. Ahh… makan sashimi sampai kenyang karena di traktir oleh pemuda sekaya Kris, dia beruntung sekali hari ini!

Kris memutar bola matanya malas. Kebiasaan, saat kesal dia selalu menggas motornya mendadak. Membuat Sooyoung spontan mendekapnya erat dari belakang dan meneriakinya dengan sumpah serapah yang meluncur begitu saja.

***

Motor Ninja Kris kemudian berhenti di tempat dengan lampu-lampu dan bangku-bangku yang tertata disana-sini. Oh, tanaman-tanaman juga. Butuh sekiranya setengah menit bagi Sooyoung untuk menyimpulkan bahwa ini adalah taman.

Tapi kenapa sepi sekali? Dan, terpencil?

Inginnya gadis tinggi itu mengajak Kris untuk mampir ke cafe di seberang sekadar mengurangi rasa laparnya. Tapi tampaknya, Kris sudah menyibukkan diri lebih dulu dengan buku yang dibawanya. Sooyoung mendengus sebal. Gadis itu pun memutuskan duduk di samping Kris kemudian mulai berselancar ria di jejaring sosial dengan IPhone-nya.

Lalu, hening.

Lama-lama bosan juga. Sooyoung melirik ke arah Kris yang tampak acuh sekali padanya.

Cish. Apa ini yang namanya kencan?

“Taman ini,” Sooyoung bersuara—sekedar membuka topik agar bisa bertanya, “Bagus. Tapi kenapa sepi sekali, ya?”

Kris menoleh, sepertinya perhatiannya mulai terpancing.

“Memang. Aku sengaja mencari tempat yang tidak berisik tapi nyaman. Dan, karena letak taman ini yang cukup strategis, tak banyak orang yang tahu.”

“Hmm,” Sooyoung menggumam sebagai tanggapan.

“Nah, ayo keluarkan bukumu,” Ujar Kris. “Kita belajar di sini.”

“Heh? Kau bilang tidak belajar!” tuntut Sooyoung.

Kris mengetukkan jari telunjuknya ke dahi Sooyoung, gadis itu sedikit meringis lalu terdengar omelan-omelan kecil dari bibir tipisnya. Sooyoung mengeluarkan buku pelajarannya dengan kesal.

Ujung-ujungnya dia menurut juga.

Sebenarnya Sooyoung malas-malasan kalau harus belajar dengan Kris. Karena Kris selalu memberi pertanyaan yang sulit, menurutnya. Kadangkala Kris menyetil dahi Sooyoung saat gadis itu tak bisa menjawab pertanyaan yang segitu mudah. Tapi kadang pula Sooyoung tertawa-tawa bangga saat berhasil menjawab pertanyaan yang Kris lontarkan padanya. Walau sering bertengkar—berseteru—karena hal kecil tapi mereka terlihat sangat akrab dan nyaman satu sama lain.

“Suara apa itu?” setelah memandangi Sooyoung beberapa saat, Kris spontan bertanya secara gamblang.

“Yah… suara perutku kurang lebih.” Sooyoung menjawab agak malu.

Sifat Sooyoung yang terlalu jujur ada kalanya membuat Kris tertawa walaupun tidak lucu sama sekali, “Baiklah belajarnya sampai di sini dulu, sekarang kita makan.”

***

Tik.

Sedetik setelah mereka selesai makan dan keluar dari cafe itu, setitik air mengenai hidung Sooyoung. Gadis itu menengadahkan kepalanya melihat ke langit, “Mendung.” Gumamnya pelan.

Lama kelamaan titik-titik air yang konstan beradu dengan tanah itu semakin cepat. Kini gerimis berganti hujan deras. Para pejalan kaki yang melintas berlarian mencari tempat berteduh. Begitu pula kedua orang yang kini berdiri di depan cafe.

Kris yang mendengarnya menoleh, “Kita tunggu sampai hujannya reda.”

“Tapi sekarang sudah sore, menjelang malam!” ujar Sooyoung sembari mengeratkan jaketnya. Udara juga semakin dingin, fiiiuh…

“Kau mau pulang hujan-hujanan lalu sakit? Tidak akan kubiarkan!”

“Sooyoung-ssi?” celetuk seseorang dari arah belakang Sooyoung. Oh, rasanya Sooyoung mengingat suara khas yang satu itu.

“Kim Minjun?” Sooyoung menyahut mendapati orang—pria itu—tersenyum padanya. Yang membuatnya jatuh cinta dan patah hati di saat yang bersamaan, kemarin. Weird, easy come easy go.

 

Ingat, dia sudah beristri Choi Sooyoung!

“Emm, dengan istrimu?” tanya Sooyoung tiba-tiba. Hanya mencari topik pembicaraan saja.

“Tidak—ah, bagaimana kau tahu aku sudah…?”

“Di jari manismu, itu…” Sooyoung menganggungkan kalimatnya, menunjuk bagian tubuh Minjun yang baru diucapnya.

“Ah, benar,” Minjun langsung paham dan mengangguk. “Kau dengan kekasihmu?” sambung Minjun.

“Kami teman,” kata Sooyoung cepat. Kris merasa jadi hantu di antara perbincangan mereka akhirnya di libatkan juga, walau sedikit. “Kris, kenalkan dia teman Eonni-ku, Kim Minjun.”

Kris mengangguk menanggapi.

“Dan Minjun…?” Sooyoung lagi-lagi menggantung kalimatnya.

Minjun terkekeh sejenak, “Hahaha, paggil saja Oppa, jika tidak keberatan.”

“Minjun Oppa, dia Kris Wu, teman kelasku.”

Kris ingin bertanya kenapa Sooyoung bisa mengenal pria itu—karena dilihat dari penampilannya jarak usia pria itu dan Sooyoung sepertinya terpaut jauh—tapi dia urungkan, sebaiknya nanti saja. Oh benar, pasti Sooyoung mengenalnya dari acara pesta kakaknya kemarin malam.

“Ya, senang bertemu denganmu.” Kris akhirnya menyahut, formal sekali. Keheningan yang muncul lagi cukup mengganggunya. Membawa suasana canggung.

Rintik air yang menghujam Seoul sore itu perlahan memudar, dan berhenti setelah sekian menit mereka menunggu. Untung saja hanya sebentar. Jika tidak, mungkin Sooyoung terus merasa tidak nyaman dengan suasana canggung seperti itu.

“Ayo,” Kris menarik pergelangan tangan Sooyoung agar mengikutinya begitu rintik konstan dari langit berhenti sempurna. “Aku akan mengantarmu.”

“Minjun Oppa, aku duluan ya.” Tak lupa Sooyoung memberi lambaian tangan dan senyum ringan pada Minjun.

“Tunggu, sebaiknya kau pulang denganku saja. Kebetulan aku mau ke rumahmu, ada yang harus kubicarakan dengan Soojin.” Ucapan Minjun seakan tombol pause yang membuat langkah Sooyoung berhenti, Kris reflek melepaskan genggaman tangannya pada Sooyoung.

Tapi, kenapa rasanya berat sekali ya untuk membiarkan Minjun mengantar Sooyoung pulang malam itu?

Ada apa dengannya?

***

Awan hitam kembali menyelimuti langit Seoul saat mereka dalam setengah perjalanan menuju rumah Sooyoung. Rintik hujan perlahan turun lagi, kini kristal-kristal bening itu tak sederas sebelumnya, kini hanya gerimis kecil. Sooyoung menatap keluar jendela mobil Minjun, tenggelam dalam pikirannya. Entah kenapa ada perasaan bersalah yang mengganjal kala dia meninggalkan Kris di cafe tadi. Kris sepertinya tidak suka pada Minjun, dilihat dari tatapannya. Ya, Sooyoung simpulkan begitulah kira-kira, padahal belum tentu benar.

“Sepertinya kita berjodoh,” celetuk Minjun tiba-tiba.

Tersadar dari lamunannya sendiri, gadis berambut cokelat yang duduk di samping kemudi mobilnya itu menoleh, diikuti dengan pandangan aneh bercampur bingung dan heran.

Tak sadarkah kata ‘jodoh’ itu sesuatu yang serius? Maksudnya, ini menyangkut pasangan hidup selamanya, bukan? Tak sadarkah pria itu bahwa gadis remaja di sampingnya merasa tersinggung?

Tapi, kenapa Sooyoung mesti tersinggung?

Minjun sempat tertawa dulu sebelum melanjutkan, “Baru kemarin kita bertemu, dan sekarang kita bertemu lagi. Kebetulan kah?”

Sooyoung kembali ke posisi semula. Sekarang sudah paham dan tertawa renyah. Kemudian dia ikut melanjutkan candaan Minjun, “Mungkin kau benar.”

“Dan kuharap memang benar.”

Mereka berdua tertawa. Tenggelam dalam topik seputar jodoh dalam perbincangan mereka.

“Sudah sampai,” ujar Minjun singkat. Dia melepas seat belt-nya dan melihat pekarangan rumah Sooyoung dari jendela. “Kurasa akan ada yang mengamuk karena adiknya pulang selarut ini,” canda Minjun garing.

Eonni terlalu sibuk dengan pekerjaannya, kadang dia melupakanku untuk beberapa hal kecil,” Balas Sooyoung, mimiknya berubah sendu.

“Oh,” Minjun jadi merasa tak enak.

“Tak apa, aku sudah terbiasa dengan sikap cueknya.”

Tadinya tangan Sooyoung hendak membuka seat belt-nya lalu turun dari mobil, tapi terhenti kala tangan besar Minjun lebih dulu membukakannya. Wajah Minjun sangat dekat dengannya dan tatapan mereka nyaris bertemu—jika Sooyoung tidak mengalihkan pandangannya.

Klek!

“Kau bilang mau menemui Soojin Eonni?” tanya Sooyoung yang sudah keluar dari mobil, karena melihat Minjun yang masih berada di dalam tak tampak tak ada niatan untuk keluar.

“Soal itu, aku berbohong. Aku hanya ingin mengantarkanmu pulang.”

Eh?

“Kenapa?”

“Aku tertarik padamu,” ucap Minjun tenang, tanpa beban apapun di wajahnya.

Lagi-lagi Minjun tak menyadari situasi. Bahkan raut wajah Sooyoung yang berubah drastis pun tak dihiraukannya. Tak peka kah pria itu bahwa gadis yang diajaknya bicara sakit hati dengan perkataannya?

Seorang pria bersuami bilang padamu bahwa dia menyukaimu?

Bagaimana perasaanmu sekarang saat kau juga sadar ternyata kau juga menyukainya?

Minjun menunggu jawaban, namun Sooyoung diam saja. Tak kunjung merespon apapun, gadis itu menunduk, senang tapi bingung tapi…

“Maaf, aku terlalu lancang.” Sepertinya Minjun mulai menyadari situasi aneh antara mereka, dia memaksakan senyum walau ada segurat kekecewaan di wajah tampannya. Dia hendak menutup pintu mobil tapi Sooyoung menahannya.

“Tidak,” potong Sooyoung cepat. “Aku juga tertarik padamu, jika tidak bisa dibilang… menyukaimu.”

Apa?

Ini memang pilihan gila. Tapi Sooyoung tahu betul soal perasaannya sendiri. Dan dia tahu Minjun lelaki yang berbeda. Makanya, dia berani mengungkapkan perasaan tanpa takut apapun.

“Kau serius?” Minjun terbelalak.

Sooyoung mengangguk yakin, “Apa statusku sekarang adalah selingkuhanmu?”

“Maaf, Choi Sooyoung aku tidak memintamu untuk—”

“Aku butuh jawaban kepastian darimu.” Potong Sooyoung lagi. “Aku benar-benar suka padamu.”

Minjun mendongak dan menatap manik bulat Sooyoung yang bening. Ah, gadis ini memang menggodanya sejak pertama mereka bertemu malam itu. Tapi, bukan menggoda dalam tanda kutip wanita kebanyakan. Terlebih Sooyoung adalah adik dari Soojin, wanita yang pernah disukainya.

Choi Sooyoung, kau membuatku berdosa.

Tanpa jawaban untuk meresmikan hubungan mereka. Hanya bulan sebagai saksi. Malam itu, Sooyoung dan Minjun memilih sesuatu yang salah, tapi jauh dalam hati keduanya, mereka menginginkan ini.

Minjun mencium Sooyoung.

***

Shot Two

 

Lelaki itu melirik arlojinya sekilas, lalu kembali memfokuskan konsentrasinya pada layar monitor. Sesuatu yang sedang dikerjakannya. Lelaki tampan dengan rambut raven itu menghela nafas beberapa menit kemudian setelah pekerjaannya selesai, dan kini waktunya pulang. Dengan segera dia mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di meja kerja, lalu melesat keluar ruangannya.

Mari kita bicara sedikit tentang lelaki tampan ini. Namanya Kim Minjun, walau usianya masih muda tetapi dia sudah menjabat sebagai Manager di perusahaan, bahkan tak lama lagi mungkin akan menjadi Presdir. Ini bukan hal mudah untukknya, tapi jabatan tersebut bukan juga sesuatu yang diinginkannya. Karena dia mendapatkan pekerjaan itu karena pernikahan keluarganya dan keluarga perusahaan tempatnya bekerja. Perjodohan. Klise.

Minjun menghentikan langkahnya seketika, matanya terpaku melihat sesosok cantik yang berdiri dua meter di depannya.

“Sooyoung?” tanyanya ragu.

Gadis remaja itu membalasnya dengan senyuman. Kaki jenjangnya yang terbalut jeans panjang bergerak mendekati Minjun. Gadis yang bernama lengkap Choi Sooyoung itu pun mengaitkan tangannya pada Minjun. Jika kalian berpikir gadis tinggi itu adalah istrinya, jawabannya adalah bukan.

“Kenapa? Tidak boleh aku menemui kekasihku?” Choi Sooyoung mempout bibir mungilnya yang tak bisa dipungkiri sangat manis dimata Minjun.

Tunggu…

Kekasih?

“Hanya saja, aku sedikit heran karena kau yang menemuiku duluan. Memang ada apa?” tanya Minjun hati-hati, masih dengan senyum yang kentara di wajahnya. Membuat hati Sooyoung berdesir melihat wajah tampan bak malaikat itu.

Satu pemberitahuan, Minjun sama sekali tidak pernah menunjukkan senyumnya pada istri hasil ‘perjodohan’nya. Alasannya, lelaki itu tidak cukup akrab dengan wanita, dia hanya akan menunjukkan senyum pada wanita yang di sukainya saja.

“Harusnya kau sudah tahu,” jawab Sooyoung, pura-pura cemberut.

“Apa?” Minjun memang tahu, tapi dia senang sekali menggoda kekasihnya ini.

“Rindu, ehm,” katanya singkat, tak ayal membuat kupu-kupu dalam perut Minjun berterbangan dan rasanya dia akan meledak saking bahagianya.

Tentu dia senang. Karena ini pertama kalinya Sooyoung mengungkapkan kata yang manis untuknya. Karena dalam hubungan mereka, biasanya Minjun yang selalu mengatakan rindu, cinta, dan sayang duluan. Dan membalasnya pun, kadang Sooyoung enggan. Tapi hari ini, pertama kalinya gadis itu…

Grab!

Minjun langsung memeluknya erat.

“Aku juga merindukanmu, aish…” bisiknya dia telinga Sooyoung. Nafasnya yang berhembus hangat membuat lutut Sooyoung lemas.

“Uhm, Oppa… aku sesak.” Sooyoung balas berbisik. Minjun terkekeh karena sadar dia memeluk Sooyoung terlalu erat, dia pun melepasnya.

“Mau makan malam?” tanya Minjun kemudian, sontak Sooyoung makin sumringah mendengar penawarannya. Lantas dia mengangguk dengan semangat.

***

Suara garpu dan pisau beradu terdengar. Berdenting mengiringi suasana makan malam di restoran tempat Minjun dan Sooyoung berada sekarang.

“Kau ke kantorku sendirian?” tanya Minjun di sela aktifitasnya.

Sooyoung mengangguk. “Memang mau diantar siapa?”

Minjun berhenti mengunyah sejenak, dia menelan makanan itu lalu mengambil segelas air dan meneguknya pelan. Membiarkan makanan terdorong air itu melewati kerongkongannya dengan nyaman.

“Kris?” katanya cepat. “Mungkin… Kukira dia mengantarmu.”

Sooyoung menghentikan aktifitas makannya lalu mengangkat kepalanya. “Aniyo. Oppa cemburu, ya?”

“Siapa yang tidak cemburu melihat kekasihnya dekat dengan laki-laki lain yang jelas-jelas menyukainya.”

Maldo andwae. Kris teman baikku.”

“Sekali lihat saja orang akan tahu dia suka padamu. Dari tatapan, perhatian, dan pelakuannya padamu, tch…”

Aigeu. Oppa benar-benar cemburu,” ujar Sooyoung. “Padahal aku tidak pernah mempermasalahkan kedekatanmu dengan istrimu. Karena aku percaya padamu.”

Skak. Sekarang Minjun yang merasa bersalah.

Mianhae,” katanya pelan.

“Itu bukan salahmu, dan sebenarnya, ini adalah salahku. Seharusnya dia memang kau perlakukan seperti itu, dengan baik dan penuh cinta. Bukan aku yang mendapatkannya. Kau, kan, suaminya.”

Minjun menghela nafas lelah, dia paling tidak suka jika Sooyoung mulai mengungkit-ungkit tentang istrinya. Dia menggenggam tangan Sooyoung dan menatapnya lekat.

“Aku akan melakukan itu kepada istriku kelak,” ujar Minjun serius. Dada Sooyoung terasa sesak. “Istri masa depanku yang aku cintai, kau, Choi Sooyoung.”

Sooyoung menatapnya bingung? Apa ini sebuah lamaran?

“Kau akan menikahiku?”

“Segera.” Jawab Minjun yakin disertai senyum manawannya.

Setelah perbincangan singkat itu, makan malam berlanjut lagi dengan suasana romantis.

“Sooyoungie?” tanya sebuah suara dari arah belakang Sooyoung tiba-tiba.

“Soojin?” Sooyoung berdiri dan terkejut dengan kedatangan kakak perempuan satu-satunya itu. Kakaknya terlihat datang bersama tunangannya.

“Sedang apa kau di sini… dengan Minjun?” tanya Soojin heran. Tepatnya dia tidak ingin menyimpulkan apa yang sedang dilakukan adik kesayangannya ini sendiri.

“Kau tidak lihat dia sedang makan?” Minjun bersuara. Spontan Soojin menatapnya sinis.

“Aku tak bertanya padamu, Tuan Kim.” Desisnya penuh penekanan pada setiap kata. Semua yang mendengarnya pasti sadar Soojin menyelipkan kemarahan pada kalimatnya. Tapi tampaknya, hanya Minjun yang tak menyadarinya—atau tak peduli.

“Aku tahu, kau bertanya pada kekasihku, kan?” Minjun menjawab dengan kalem.

Kelopak mata Choi Soojin membulat sempurna. Dia menatap adiknya meminta penjelasan. Sooyoung balas menatapnya, sulit diartikan. Tapi Soojin anggap itu sebagai jawaban iya.

“Pulang sekarang, Choi Sooyoung.” Soojin menahan amarahnya dengan menarik tangan Sooyoung dan membawanya pergi. “Kurasa makan malam kita nanti saja, Soohyun-ssi, aku harus membicarakan urusan penting dengan adikku sekarang.”

Pria yang datang bersama Soojin itu sedari tadi berdiam diri dan nyaris tidak dianggap keberadaannya, akhirnya ia bersuara, “Aku akan mengantarmu, kkajja.”

Shin Soohyun—tunangan Soojin—membukakan pintu mobilnya untuk kedua wanita itu. Lalu dia sendiri duduk di kursi kemudi dan mulai melajukan mobil dengan kecepatan sedang.

Kim Minjun menatap sendu kepergian mobil itu, bersama dua sosok wanita yang dicintainya dan pernah dicintainya.

“Kau malah semakin membenciku, Soojin-a…” lirihnya.

***

Siswa-siswi menyimak pelajaran Guru Kim dengan serius. Hukum Norton, Ohm dan sebagainya yang menyangkut elektronik. Semua jelas tidak mau ketinggalan materi apalagi minggu depan akan ada test bulanan dari Guru Kim. Tapi tampaknya dua orang sedang tidak berminat dengan pelajaran.

Yang satu seorang gadis berambut cokelat-panjang, sedang menatap keluar jendela karena dia duduk di bangku ketiga di barisan paling kanan. Yang satunya seorang pemuda berambut emas acak-acakan yang sibuk menulis sesuatu di kertas—bukan menulis pelajaran—yang duduk tepat di bangku belakang gadis itu.

Pluk!

Kris melempar remasan kertas kecil itu pada gadis yang duduk di bangku depannya. Sooyoung mengambil kertas itu lalu membukanya, membacanya sekilas sebelum mendecih sebal. Kemudian dia menulis balasannya dan memberikannya pada Kris.

Kris membuka kertas itu dengan semangat. Tapi semangatnya luntur seketika setelah dia membaca isi yang tertera di sana. Dia langsung memasang wajah malas.

Dan mereka terus balas-membalas surat tanpa diketahui Guru Kim.

Penasaran apa isi surat dari Kris ke Sooyoung dan sebaliknya? Beruntunglah karena mereka mengijinkan penulis untuk memberitahukannya pada pembaca.

Kris: Sooyoung, aku suka padamu. Jadi pacarku, ya?

 

Soo: Kau tinggi, macho, keren,… tapi banci. Bisa tidak sih menembakku dengan sedikit gentle?

 

Kris: Aku tidak menerima penolakan.

 

Soo: Aku juga tidak menerima penolakan, atas apa yang aku katakan. Dan aku mengatakan TIDAK.

 

Kris: Kau gila, Choi. Kau baru saja menolak cowok terpopuler di sekolah.

 

Soo: Oh yeah, kurasa aku harus memeriksakan mentalku ke Dokter Jiwa, karena punya teman super keren yang suka padaku.

 

Kris: Cih… kau akan benar-benar menyesal.

 

Soo: Terimakasih atas kutukanmu. Kalau aku boleh jujur, kau terlambat, sangat.

 

Kris: Kau sudah punya pacar?

 

Setelah itu, Sooyoung tidak membalas lagi. Bukan karena tidak mau membalas, tapi karena bel sudah berbunyi menandakan pelajaran memusingkan dari Guru Kim sudah selesai. Sooyoung membereskan buku-bukunya. Belum juga melangkah keluar kelas, tangannya tiba-tiba tertahan oleh sebuah tangan besar.

“Siapa?” tanya Kris. Entah ini hanya perasaan Sooyoung atau apa, tapi gadis itu menangkap nada emosi dari suara berat Kris. “Siapa laki-laki itu?” ulangnya dengan nada yang sama.

“Kau tidak perlu tahu, yang jelas, aku mencintainya dan dia mencintaiku.” Jawaban Sooyoung jelas tidak membuat Kris puas.

“Lee Jonghyun? Ah, aku tahu dia sering mengajakmu makan di kantin berdua.” Tebak Kris. “Atau Gikwang? Kalian sering berbelanja kaset game bersama, bukan?” tebaknya lagi karena Sooyoung tak kunjung menjawab. “Oh, aku tahu. Cowok kurus yang suka memperhatikanmu diam-diam itu? Siapa namanya, er… Luhan?”

“Aku berpacaran dengan Minjun, puas?!” seketika Sooyoung memekik. “Sekarang menyingkir dariku!”

“Minjun? Kim Minjun?” ulang Kris dengan nada tak terdefinisikan.

“Pertanyaanmu sudah kujawab, sekarang lepaskan tanganku, aku mau pulang.” Sooyoung menghentakkan tangannya, tapi Kris menggenggamnya semakin erat.

“Dia sudah menikah, Sooyoung!”

“Lalu apa masalahmu?”

“Jelas ini masalahku, aku temanmu!”

“Ini hidupku, bukan hidupmu! Mana berhak kau mengaturku?!” Sooyoung geram. Menurutnya, sifat ‘ikut campur’ Kris sudah sangat keterlaluan, ini diluar batas kesabarannya. Dan, dia benci Kris.

“Berpisah dengannya,” suara lelaki itu dingin dan menusuk, seketika tatapannya juga menjadi lebih tajam.

Berharap Sooyoung gentar dengan itu? Tidak sama sekali. Yang ada, gadis itu menatapnya dengan lebih menusuk.

“Aku minta kau berpisah dengannya!”

“Kau menyukaiku bukan berarti kau berhak memperlakukanku seenaknya, memerintahku sesuka hatimu, karena sikapmu itu membuatku membencimu, Wu.” Desis Sooyoung dingin.

Plak!

Sooyoung menepis tangan Kris kasar. Manik bulatnya menatap manik elang Kris tajam. tanpa berkata apapun, gadis tinggi itu berlalu dengan pundak yang menubruk lengan Kris.

“Choi Sooyoung, dengarkan aku!” Kris mengejar.

“Enyahlah! Kris—!”

Kris membungkam bibir Sooyoung dengan bibirnya. Ciuman kemarahan, lebih tepatnya.

“Aku membencimu!” Sooyoung berlalu setelah mengusap bibirnya kasar, Kris sempat melihat setitik bening menggumpal di manik Sooyoung.

Hanya mampu menatap punggung gadis yang dia cinta dengan nanar. Dia terlalu pengecut untuk mengejar pemilik punggung itu dan memeluknya, lalu meminta maaf atas kelancangannya.

***

Aku aneh. Memang benar.

Egois? Ya.

Tapi aku tidak peduli. Selama aku bahagia… aku tidak peduli apapun.

“Lupakan kejadian itu, Choi Sooyoung! Kris menyebalkan! Arrh!” Sooyoung berguling-guling di kasurnya frustasi. Hari sudah malam, sudah harusnya dia sudah bisa memejamkan mata. Namun, sulit sekali!

“Ada apa denganku?” gumamnya lirih. Dia menyentuh bibirnya pelan. Rasanya manis dan…

Aniya!

“Dia gila! Dia keterlaluan!” runtuk Sooyoung lagi. Melempar-lempar bantal gulingnya dengan emosi membuncah. Dia sangat kesal. Ini hari tersialnya, menurutnya.

Sooyoung beranjak dari kasurnya kemudian mengambil ponsel dan mengirim pesan singkat pada Minjun.

To: Jun Oppa

Bisa bertemu denganku sekarang?

Kutunggu di cafe taman waktu itu.

“Mau kemana kau?” heran Soojin yang melihat Sooyoung malam-malam bersiap dengan jaket tebalnya. “Choi Sooyoung, aku bertanya padamu!” kali ini Soojin berteriak.

“Aku ingin bertemu Minjun.” Jawabnya singkat. Gadis yang ditanyai itu kemudian memakai boot pendeknya.

“Aku tidak mengizinkanmu berhubungan dengan dia.”

“Aku tidak pernah meminta izinmu.” Balas Sooyoung dingin.

“Baik. Kau urusi hubunganmu dengannya, aku tidak akan ikut campur. Aku tidak akan mengusik kalian… tapi satu hal yang harus kau tahu, Choi Sooyoung,” Soojin menggantung kalimatnya. “Dia punya wanita yang sah dalam kehidupannya, pikirkan bagaimana perasaan wanita itu mengetahui suaminya berselingkuh.”

“Aku tidak peduli.”

Brak!

Sooyoung keluar dengan dentuman pintu yang keras. Dan detik itu pula, Soojin menangis.

***

“Tiba-tiba ingin menemuiku malam-malam begini, ada apa?” Minjun menyesap kopi panasnya sesaat setelah menatap Sooyoung lama.

Gadis itu meminta untuk bertemu, tapi setelah bertemu, dia hanya diam saja. Jelas Minjun bingung.

“Ada masalah? Jika iya, ceritakan saja padaku,” kata Minjun lagi.

Tapi, Sooyoung tetap menunduk semakin dalam. Dia memain-mainkan sedotan di gelas jus-nya tanpa minat untuk meminumnya.

“Kenapa…,” Sooyoung bersuara, begitu pelan tapi Minjun tetap bisa mendengarnya. “Kenapa aku harus menyukaimu?” tanyanya retoris.

Minjun tidak menjawab, selain pertanyaan itu bukan untukknya, hanya Sooyoung sendiri lah yang bisa menjawab pertanyaan itu. Minjun membiarkan Sooyoung bicara lagi, dia tahu gadis itu punya segudang keluh kesah yang disembunyikannya rapat-rapat. Sooyoung mahir menutup kesedihannya dengan topeng wajah ceria setiap saat. Walau pada nyatanya… gadis itu begitu rapuh.

Dan, benar saja. Sooyoung menangis.

“Mereka tidak mengerti perasaanku, cinta, itu anugerah, bukan? Tapi kenapa mereka menghalangiku untuk mencintaimu? Mereka tak membiarkan anugerah Tuhan masuk hidupku!” pekikannya tertahan oleh segumpal cairan bening di kelopak manik bulatnya.

Minjun jelas tahu siapa itu ‘mereka’ yang dimaksud. Ucapan Sooyoung kenyataan, memang. Tapi sesuatu dalam diri Minjun menahan untuk menyudahinya. Dia ingin mempertahankan Sooyoung, dia ingin mempertahankan anugerah Tuhan itu.

“Jangan dengarkan mereka,” Minjun mengelus rambut Sooyoung yang tergerai indah, lembut. “Pikirkan saja tentang kita.”

“Tapi lama-kelamaan itu menyakitkanku, kau tahu.” Suara Sooyoung masih parau, akibat isakannya tadi.

“Aku tahu, aku juga merasakannya.”

“Kau tidak merasakannya, hubungan kita tidak pernah terdengar oleh pihakmu!”

“Istriku tahu, aku memberitahunya, tentang kau dan aku.”

Sooyoung terbelalak. Minjun membalasnya dengan senyum getir.

“Aku pernah mengatakan aku ingin menikahimu, kan?”

Sooyoung mengangguk.

“Jadi, aku memutuskan untuk menceraikan istriku.”

Seharusnya Sooyoung bahagia mendengar itu, seharusnya dia menjerit kegirangan karena hal yang paling diinginkannya akan terwujud. Tapi… kenapa Sooyoung menangis?

Kenapa malah derai airmata yang menerima kabar bahagia itu? Oh, bahagiakah bagi Sooyoung?

Minjun langsung memeluk Sooyoung hangat. Dia memejamkan mata, seketika pula tangis Sooyoung pecah. Dia tersedu-sedu dalam dekapan tangan Minjun.

“Sudah jangan menangis, maafkan aku…” entah kenapa kalimat itu terlontar dari bibir Minjun.

“Tidak, bukan salahmu. Aku hanya, hanya…”

“Aku mengerti, kau terlalu terharu, kan?” tebak lelaki itu. Dengan ragu Sooyoung mengangguk. Minjun tersenyum senang lalu menghapus airmata Sooyoung dengan ibujarinya.

Ya, aku hanya terharu dengan sikapnya. Aku mencintainya, aku mencintainya, aku mencintai…

Bermaksud menghentikan tangisan Sooyoung, Minjun menyapu hangat cherry mungil Sooyoung. Sooyoung memejamkan mata menerima perlakuan Minjun. Tapi kenapa dia kian terisak?

Aku mencintai… Kris.

***

Siang ini Sooyoung duduk sendirian di atap sekolah. Melihat awan-awan yang bergerak mengikuti angin. Matahari sangat terik tapi tak membuat surut harinya. Dia sedang tidak ingin bersedih. Dan, seharusnya itu tidak terjadi.

Semenjak malam itu, Sooyoung tidak pernah melihat Minjun lagi muncul di hadapannya. Sooyoung juga tidak tahu kenapa dia enggan menemui Minjun di kantornya. Ini terlalu janggal.

Kalau Kris? Ah, sama saja. Atau lebaih tepatnya, Sooyoung yang menghindari Kris. Perasaannya terhadap Kris… jadi aneh. Sooyoung tahu tapi dia mengelaknya, rasa cinta itu. Sudahlah, lupakan soal Kris. Pikirkan saja kekasihmu itu.

“Hhhh…” belakangan ini, Sooyoung sering sekali menghela nafas lelah. Kantung hitam juga semakin terlihat jelas di bawah matanya.

Tidak ada kabar sama sekali dari Minjun.

Tidak pesan, telepon apalagi.

Sooyoung menghela nafas lelah. Sirmatanya sudah tidak bisa keluar lagi, terlalu kering untuk matanya yang sudah sembab. Seminggu ini dia menangisi Minjun, menangisi hubungan mereka, menangisi janji yang Minjun berikan.

Dia rindu pada pria itu.

Tapi gengsi mengakuinya. Biarlah, nanti juga Minjun akan menghubunginya jika pria itu juga rindu.

Tapi, jika Minjun tidak rindu bagaimana?

Sooyoung melihat layar ponselnya nanar. Apa dia harus benar-benar menelepon pria itu? Tentu saja! Hubungan mereka butuh kepastian!

Yeoboseyo?”

Ah, suara berat ini. Kim Minjun.

Yeo… Yeoboseyo, Oppa?”

Sial, kenapa gugup begini?

Nde? Nuguseyo?”

Jleb!

‘Nuguseyo’ tanyanya? Harusnya pria itu tahu!

Sooyoung menggigit bibir menahan tangis. “Mianhamnida, saya salah sambung.”

Pip.

Sooyoung memutuskan sambungan sepihak. Apa maksudnya itu? Minjun sudah melupakannya? Dia tidak lagi menyimpan nomor Sooyoung di ponselnya? Apa yang terjadi sebenarnya?

***

“Waktu itu mereka akan bercerai, tapi seketika istrinya pingsan saat di persidangan. Manager Kim terlihat sangat gelisah karena setelah dibawa ke Rumah Sakit istrinya tak kunjung sadar, belakangan dia tahu ternyata istrinya pingsan karena kelelahan.”

“Kelelahan?” heran Sooyoung. Sang resepsionis di perusahaan tempat Minjun dan Soojin bekerja itu mengangguk.

Nde, itu karena istrinya sedang mengandung. Rencananya dia akan membuat kejutan untuk memberitahu Manager Kim Minjun, tapi hari itu Manager malah meminta cerai, jelas dia frustasi dan langsung drop.”

Sooyoung merasa lututnya lemas dan dadanya sesak. Dia mengacuhkan ucapan-ucapan sang resepsionis itu tentang Minjun dan istrinya. Rasanya, kepalanya sudah berputar-putar sekarang. Pening dan berat. Oh, kenapa rasanya sulit sekali menahan tubuhnya dengan tumpuan kakinya?

“Ah, Kim Yubin-ssi memang sangat beruntung mendapatkan suami yang pengertian seperti Kim Minjun-ssi, bahkan beliau membatalkan perceraian dan hubungan mereka semakin mesra saja—Eh, Nona?!”

Resepsionis itu langsung panik melihat Sooyoung yang pingsan.

***

Orang pertama yang dilihatnya saat Sooyoung membuka mata adalah Kris. Tidak, apa dia mengkhayal?

“Kau sudah sadar?” ini suara Kris, dia benar Kris. Terselip nada khawatir dari suara bassnya. Saat itu juga Sooyoung merasa tangannya digenggam erat. Hangat.

Bukannya menjawab pertanyaan Kris, alih-alih bingung Sooyoung mengedarkan pandangannya menyapu ruangan tempatnya berbaring sekarang.

“Kau di Rumah Sakit,” seolah tahu isi pikirannya, Kris berujar. “Aku yang membawamu ke sini.” Jelasnya lagi tanpa diminta.

“Bagaimana bisa?” akhirnya Sooyoung mengeluarkan suara.

“Aku..,” Kris menggantungkan kalimatnya. “Aku baru saja menemui Minjun,” Ucapnya lancar setelah sedetik sebelumnya menghela nafas berat. “Aku tidak tahan melihatmu yang menangisi dia setiap hari, aku ingin dia menemuimu untuk sekadar menjelaskan hubungan kalian tapi… dia malah memintaku untuk menjagamu, karena dia sudah tidak sanggup.”

Penjelasan Kris membuat Sooyoung ingin menangis lagi. Tapi Kris langsung merengkuh tubuh gadis remaja yang rapuh itu, memberinya kekuatan.

“Maafkan aku…” bisik Kris.

“Tidak, aku yang meminta maaf,” balas Sooyoung pelan. “Kau lebih terluka daripadaku, maaf…”

Kris kian mengeratkan pelukannya. “Biarkan aku melaksanakan amanat yang Minjun berikan, kumohon biarkan aku menjagamu. Aku ingin berada di sampingmu.”

Tangan Sooyoung terangkat. Ingin balas memeluk, tapi tertahan oleh sesuatu. Akhirnya dia hanya menepuk-nepuk punggung tegap itu dengan tangan mungilnya. Tanpa Kris bisa lihat, gadis cantik itu tersenyum hangat.

“Aku lelah, bisa antarkan aku pulang?”

***

“Kris.”

“Ya?” reflek Kris menyahut panggilan Sooyoung setelah dia mengantarkan gadis itu pulang ke rumahnya. Dari luar belum ada tanda-tanda mobil Soojin, sepertinya kakak perempuan Sooyoung itu masih di kantor.

“Malam ini kau temani aku di rumah ya?” pintanya.

“Huh?” Kris mengernyit bingung.

“Menginap denganku, aku tidak ada teman di rumah. Kumohon.” Pintanya lagi, meyakinkan.

“Soojin Noona?”

“Soojin tidak akan pulang, dia bisnis keluar Kota dari hari ini sampai tiga hari ke depan.”

“Jadi kita hanya berdua? Ah… Aku takut aku akan melakukan sesuatu padamu saat kau tidur.” Kris tampak tak yakin, dia memasang tampang seolah sedang berpikir.

“Berani menyentuhku, kutuntut kau ke Komnas HAM!” ancam Sooyoung serius.

Kris tergelak, dibalas tawa Sooyoung kemudian. Entah apa yang mereka tertawakan. Yang jelas, Kris sudah tenang karena ini pertama kalinya gadis itu tertawa lagi setelah seminggu belakangan berwajah murung.

“Tapi aku serius, Choi Sooyoung. Setiap pria normal itu punya nafsu.”

“Yah! Kau bilang kau akan menjagaku! Kuadukan pada Minjun kalau kau melanggar janji!”

***

Ending macam apa itu? AAARRHH! Mianhae, mianhae, mianhae! *nyumput dibelakang Minjun*

12 thoughts on “[Oneshot] Lately

  1. kenianurasha May 21, 2013 / 1:53 PM

    Akhirnya endingnya sookris..
    Suka bgt sama ffnya..
    Keren bgt (y)
    Ditunggu ff yg lainnya hehe

  2. Choi Je Kyung May 21, 2013 / 2:03 PM

    Ngegantung nih chingu,
    Buat ASnya dong, jebal #muka melas

  3. sookris May 21, 2013 / 7:13 PM

    aku kira endingnya syoo sama minjun, eh ternyata sama kris ya? iya kan? iya aja deh /loncat loncat/(?)
    ceritanya keren, feelnya dapet. sookris jjang’-‘)9

    bikin ff sookris lagi thor hehe

  4. vamygirls May 23, 2013 / 12:47 PM

    authorr !!
    keren !
    aku suka yang endingnya gantung, sumfeh seru !
    bikin after storynya dongss,
    aku seneng deh, apalagi kalo terjadi sesuatu yang,, *yadong
    Wokwwo buat FF Soo lagi yaww😀

  5. Yukifishy May 23, 2013 / 8:08 PM

    Kris emang baik tp end ny gntung. .

  6. Hika May 25, 2013 / 1:53 PM

    feel nya dapet ah seruuu :3
    mau sequel🙂

  7. fia June 27, 2013 / 1:59 AM

    Gantung thor huhu

  8. winda July 31, 2013 / 1:32 PM

    Ehh, itu ceritanya soo unni jadi sama kris oppa ya??
    Kok ngegantung sih thor??
    Tapi gakpapalah, tunggu ff soo unni yg lain ya..

  9. Fantasy Purple August 25, 2013 / 9:09 AM

    Hwaaaaa!!! Ketemu ff SooKris lagi…! Suka banget sama SooKris. Makasih ya chingu udh mau bikin ff SooKris. Ceritanya seru bangeeettt, endingnya gak gantung, yah walaupun blm ada kepastian Sooyoung jadi yeojachingu’nya Kris atau enggak. Alurnya juga jelas, konfliknya terselesaikan dgn rapi, bikin ceritanya mudah dimengerti. Ditunggu ff Sookris lainnya ya. (•ˆ⌣ˆ•)

  10. tia February 15, 2014 / 11:26 AM

    ffnya seru banget . kalau aja ini ada kelanjutannya . akan aku tunggu🙂

  11. saditriani February 16, 2014 / 11:32 PM

    keren ceritanya dan bikin nyesek banget-_-

  12. tyasyasyaaas February 20, 2015 / 5:59 PM

    aku sukaaaa><

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s