[Mini Series] Extraordinary Love – Chapter 2

extraordinary-love-jungminrin-done

Extraordinary Love

Chapter 2

by

Jung Minrin (@reddsky_10)

transformed from Idwinaya

SNSD Sooyoung || EXO-M Tao || SNSD Yuri

SNSD Tiffany || EXO-M Kris || f(x) Victoria || EXO-M Luhan || EXO-K Kai || SNSD Yoona

Length : Mini Series || Rating : PG || Genre : Romance, Family, Friendship, Sad

Visit my personal blog : Red Ocean, Red Sky

Note :

Chapter ini nggak bakalan sedih-sedih banget, sih. Jadi, tisunya dibuang aja dulu, hoho ^o^

Well, untuk kalian semua, happy reading🙂

***

“Apa?! Sooyoung menghilang?” seru Yuri melalui ponselnya. Ia sedang menerima telepon dari Kang Ahjumma, yang mendapat tugas untuk merawat Sooyoung selama Yuri tak ada. Betapa terkejutnya Yuri ketika mendapat kabar bahwa Sooyoung belum juga kembali ke rumah, sejak pulang dari sekolah kemarin.

“Benar, Nyonya. Maafkan saya, karena lalai menjaga Nona.”

Yuri menghela nafas. “Gwaenchana, Ahjumma. Ini bukan sepenuhnya salahmu,” ucap Yuri dengan suara yang lebih tenang. “Aku mohon, Ahjumma tetap mencari Sooyoung, ne?” pinta Yuri.

Baik, Nyonya. Saya akan berusaha untuk menemukan Nona Sooyoung.

“Gomawo, Ahjumma,” ucap Yuri tulus. “Jika ada perkembangan tolong segera mengabariku,” pesan Yuri. “Annyeong.”

PIP!

Yuri pun memutuskan sambungan teleponnya. Kedua tangannya meremas pelan ponselnya, tanda bahwa ia sedang cemas.

“What’s wrong, Yul?” tanya Kris yang duduk di belakang Yuri dan senantiasa memperhatikan wanita itu.

Yuri menggigit bibir bawahnya. “Sooyoung, Kris…” racau Yuri.

“Sooyoung? What’s wrong with her?” tanya Kris cemas. Ia langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Yuri, lantas memberikan pelukan pada Yuri. Meskipun Kris sama sekali belum bertemu atau mengenal Sooyoung, namun ia telah mencurahkan perhatiannya untuk Sooyoung. Bagaimanapun juga, suatu saat nanti, ia akan menjadi ayah Sooyoung.

“Sooyoung menghilang,” ucap Yuri sedih.

“Kau serius?” Kris nampak cemas.

Yuri mengangguk lemah. “Kris, maukah kau membantuku?”

“Tentu saja, Yul,” balas Kris ringan.

“Aku ingin kembali ke Seoul sekarang juga.”

***

Jadi, kau sedang berada di rumah Appa-mu?

Sooyoung mengangguk penuh semangat, meski ia sadar bahwa Yoona tak bisa melihatnya. Maklum saja, mereka sedang berbincang melalui sambungan telepon. “Benar, Yoong! Aku senang sekali!” seru Sooyoung. Saking senangnya, ia pun berguling-guling di atas ranjang.

Wah, selamat!

Sooyoung terkikik geli. “Ternyata, Appa dan Halmeoni sangaaaat baik padaku,” timpal Sooyoung. “Bahkan, hari ini, Appa akan mengajakku jalan-jalan,” lanjutnya.

Pasti asyik sekali.”

Sooyoung terkekeh pelan. Ia benar-benar merasa bahagia, karena akhirnya, ia bisa menghabiskan waktu dengan ayahnya.

Lalu, bagaimana dengan Umma-mu?

Sooyoung terdiam sejenak. ‘Ah, kenapa sejak kemarin, aku melupakan Umma, ya? Aish, Sooyoung pabbo!’ rutuknya dalam hati. “Mwolla. Tapi, Halmeoni bilang, beliau sudah menghubungi Umma. Jadi, Umma tak perlu mengkhawatirkan aku,” balas Sooyoung.

Memangnya, kau tak ingin membagi kebahagiaanmu dengan Umma-mu?

Sooyoung mendudukkan tubuhnya di atas ranjang, lantas menarik nafas dalam-dalam. “Ani, Yoong. Hubungan Umma dengan Halmeoni tidak cukup baik. Yah, mungkin, Halmeoni bisa menerima Umma kembali, tapi Umma?”

Kenapa kau tak mencoba mempersatukan Umma dan Appa-mu kembali saja? Supaya kau bisa merasakan kebahagiaan yang utuh.

“Eh?” Sooyoung mengernyit tak mengerti. “Memangnya, boleh?” tanya Sooyoung.

Kenapa tidak boleh?

“Karena…” Sooyoung terdiam sejenak untuk memikirkan jawaban yang tepat. “Karena Umma dan Appa kan, sudah memutuskan untuk berpisah.”

Lalu, kalau mereka berpisah, mereka tak boleh bersatu lagi?

“Eum, entahlah.” Sooyoung mengangkat bahunya.

Kenapa tidak kau coba saja, Soo?

“Aku takut. Bagaimana kalau Umma dan Appa tak suka?” tanya Sooyoung cemas.

Kau mulai saja dengan Appa-mu. Tanyakan padanya, apakah Appa-mu bersedia untuk bersatu lagi dengan Umma-mu?

“Begitu, ya?” gumam Sooyoung, sambil merenungi usulan Yoona. “Hm, baiklah, aku akan mencobanya saat kami pergi jalan-jalan nanti,” ucap Sooyoung.

Kudoakan semoga kau berhasil.

“Ne.”

Dan selamat bersenang-senang!

***

Tao mematut tubuhnya di depan cermin. Pagi itu, dia tidak sedang mengenakan setelan atau jas untuk pergi ke kantor, karena dia sudah memiliki jadwal ‘kencan’ dengan putri satu-satunya. Yap, Tao akan menikmati akhir pekannya bersama dengan Sooyoung. Padahal, biasanya, ia menghabiskan akhir pekan dengan mengerjakan berbagai macam proyek di kantor.

“Apa ini sudah pantas?” gumam Tao sambil memperhatikan pantulan tubuhnya di cermin. Tao memang agak bingung dalam berdandan, karena ia tak pernah berdandan, kecuali jika sedang bekerja atau menghadiri pesta. Toh, jenis pakaian yang dikenakannya untuk bekerja dan menghadiri pesta itu kurang lebih sama.

Namun, kali ini?

Kali ini, kasusnya memang agak berbeda. Tao hendak jalan-jalan dengan Sooyoung dan haruskah ia mengenakan setelan atau jas?

Ugh, itu pasti akan memalukan. Apalagi, Tao akan berjalan di samping Sooyoung. Bukankah Tao akan terlihat seperti Ahjussi yang sedang mengencani remaja?

Jadi, Tao pun memutuskan untuk mengenakan kaus lengan pendek berwarna biru dan celana selutut. Bukankah itu pakaian seperti itu cukup santai untuk dikenakan saat berjalan-jalan dengan anaknya?

Setelah memastikan tak ada yang aneh pada dirinya, Tao pun memutuskan untuk segera keluar dari kamarnya dan menemui Sooyoung. Mereka sepakat untuk berangkat pagi, karena tak ingin terjebak macet atau hal-hal semacamnya.

CKLEK!

Sebelum Tao sempat meraih gagang pintu, pintu kamarnya sudah terbuka. Ternyata, Ny. Huang-lah yang membuka pintu.

“Astaga, Ibu! Kupikir siapa,” ucap Tao yang nampak terkejut.

Ny. Huang terdiam sejanak. Ia sibuk memperhatikan penampilan putranya pagi itu. Beberapa detik kemudian, ia justru tertawa keras. “Apakah ini Huang Zhi Tao?” guraunya.

Tao mendengus kesal. “Yak, apa-apaan Ibu ini?” tanyanya kesal.

Ny. Huang masih tertawa. “Ibu tak menyangka kau akan berpenampilan seperti ini,” ucapnya di sela-sela tawanya. “Kapan ya, terakhir kali Ibu melihatmu berdandan seperti ini?” tanyanya pada dirinya sendiri. “Sewaktu kau remaja, mungkin?” Dan Ny. Huang pun tertawa semakin keras.

Tao memasang wajah cemberut. “Sudahlah, terserah Ibu saja. Yang penting, aku sudah melakukan yang terbaik untuk Sooyoung,” balas Tao.

Ny. Huang berusaha mengendalikan tawanya. “Baiklah, baiklah. Anakku tersayang akan melakukan apapun demi cucuku, kan?”

Tao tak merespons ucapan Ibunya.

“Ngomong-ngomong, kalian akan kemana hari ini?” tanya Ny. Huang.

Tao mengangkat bahu. “Entahlah. Aku akan menyerahkan semuanya pada Sooyoung saja,” jawab Tao.

Ny. Huang melangkah mendekati putranya dan mencengkram kedua bahu putranya. “Dengar, Tao. Ini adalah kesempatan bagimu untuk mendapatkan hati Sooyoung,” kata Ny. Huang serius.

Tao mengernyit. Ia seperti mampu menebak jalan pikiran Ibunya. “Maksud Ibu apa? Mendapatkan hati seperti apa?” Tao hanya ingin mengetes hati Ibunya.

“Ibu tak ingin kehilangan Sooyoung lagi, Nak. Ibu mohon, buatlah Sooyoung supaya ia tinggal dengan kita, bukan dengan Yuri,” jelas Ny. Huang.

Tao mendengus pelan. ‘Persis seperti yang kupikirkan,’ batinnya. Ia pun menurunkan kedua tangan Ibunya di bahunya. “Ibu, bagaimanapun juga, pengadilan telah memutuskan bahwa Yuri berhak sepenuhnya untuk mengasuh Yuri. Lagipula, aku tak yakin kalau aku bisa merawat Sooyoung dengan baik,” jelas Tao.

Ny. Huang menatap Tao dengan pandangan tak suka. “Tapi, Ibu ada disini! Kita punya banyak maid yang bisa mengurus kebutuhannya!” tegas Ny. Huang.

Tao menggeleng lemah. “Tidak, Bu. Sooyoung butuh figur orang tua, seorang ayah dan seorang ibu.” Tao menarik nafas dalam-dalam. “Tapi aku sadar, kalau aku dan Yuri tak bisa memberikan hal itu pada Sooyoung. Jadi, daripada Sooyoung tinggal denganku dan tak bisa mendapat figur seorang ayah ataupun ibu, lebih baik kalau ia tinggal dengan Yuri saja. Setidaknya, ia mendapat kasih sayang seorang ibu.”

Ny. Huang mengerjap tak percaya. Putranya itu memang telah banyak belajar.

***

“Ayah?” Sooyoung menghentikan langkahnya ketika melihat sosok pria yang berdiri sambil bersandar pada mobil. Ia mengerjap tak percaya. Benarkah pria itu adalah ayahnya?

Pria itu menatap Sooyoung. “Oh? Kau sudah siap, Soo?” tanya pria itu. “Ayo berangkat!” ajaknya.

Sooyoung memandang pria itu dengan seksama selama sekian detik dan barulah ia percaya bahwa itu adalah ayahnya. Ia pun segera berlari kecil menghampiri ayahnya.

“Kenapa memandangiku seperti itu?” tanya Tao heran.

Sooyoung meringis. “Tak apa. Aku hanya heran dengan penampilan Ayah,” jawab Sooyoung lirih.

“Nenek juga mengatakan hal yang sama denganmu,” balas Tao. “Jadi, kau sudah siap?” tanya Tao memastikan.

Sooyoung mengangguk semangat.

Tao pun membuka pintu untuk Sooyoung. “Silakan masuk, Tuan Putri.”

Sooyoung hanya terkikik geli. Lantas, segera masuk ke dalam mobil mewah ayahnya.

Setelah memastikan bahwa putrinya telah masuk ke dalam mobil, Tao pun mengitari mobilnya dan menuju ke kursi pengemudi. “Kita akan pergi kemana hari ini?”

“Hm, bagaimana dengan Lotte World?” tanya Sooyoung.

Tao tersenyum kecil ke arah Sooyoung. “Laksanakan, Tuan Putri.” Dan Tao pun mulai menyalakan mesin mobilnya dan bersiap mengemudi.

Sooyoung tersenyum senang. ‘Awal yang sangat baik.’

***

“Jadi, kau ingin menikmati wahana apa, Soo?” tanya Tao pada Sooyoung yang nampak senang. ‘Ya Tuhan, kapan terakhir kali aku menghabiskan waktu dengan Sooyoung?’ pikir Tao. Dalam hati, sesungguhnya, ia merutuki setiap sikapnya selama ini. Ia telah melewatkan 15 tahun hidup Sooyoung begitu saja.

“Hm, apa, ya?” gumam Sooyoung bingung. “Aku jarang pergi ke tempat seperti ini,” celetuknya, lalu terkekeh pelan.

DEG!

Tao merasa semakin bersalah. Ia benar-benar belum pernah bisa membahagiakan putrinya.

“Ayah?” Sooyoung mengguncang tubuh ayahnya pelan.

“E-eh?” Tao tersadar dari lamunannya. “Jadi, bagaimana?” tanya Tao.

Sooyoung berpikir sejenak. “Bagaimana kalau kita berkeliling saja dulu sambil melihat-lihat?” usul Sooyoung.

“Kau yakin? Kau tak ingin langsung mencoba salah satu wahana?” tanya Tao memastikan.

Sooyoung menggeleng lemah. “Sebenarnya, aku ingin makan sesuatu,” ucapnya malu-malu, lantas menundukkan kepalanya.

Tao tertawa pelan, lalu mengacak rambut putrinya. “Baiklah, ayo kita makan sesuatu!” ajak Tao. ‘Setidaknya, ia sudah mau terbuka denganku, meski masih malu-malu.’

***

“Angkatlah teleponku, Tao…” gumam Yuri, sambil menempelkan ponselnya ke telinga. Wajahnya nampak khawatir. Bahkan, ia seolah melupakan kenyataan bahwa ia baru saja menjalani perjalanan dari New York ke Seoul. Saat ini, ia sudah berada di rumahnya dan berusaha menghubungi Tao.

Yoboseyo?

Yuri mengernyit heran, ketika mendengar suara orang yang menjawab panggilannya untuk Tao. Suaranya adalah suara perempuan. “Y-yoboseyo. Benarkah ini nomor telepon Huang Zhi Tao?”

Ne.

“Bisakah aku bicara dengannya?” tanya Yuri takut.

Nuguya?

“A-aku Kwon Yuri.”

Oh, Kwon Yuri? Mantan menantuku itu?

Yuri terhenyak. ‘Ini pasti ibu Tao,’ batinnya. “Nyonya Huang?”

Kenapa kau menghubungi putraku lagi? Bukankah kaulah yang meminta cerai dari Tao waktu itu? Lalu apa kau menyesal telah berpisah dari putraku?”

DEG!

Yuri merasakan pisau menusuk dadanya. Ia mencengkram dadanya, rasanya sesak sekali. Sesungguhnya, air mata Yuri sudah menggenangi matanya, namun ia berusaha menahannya agar tak jatuh begitu saja. “Aku ingin meberitahu Tao bahwa Sooyoung menghilang,” ucap Yuri lirih.

Cih! Ibu macam apa kau ini? Menjaga Sooyoung saja tak becus! Seharusnya, hak asuh Sooyoung jatuh ke tangan Tao.”

Yuri tak kuasa menahan air matanya. Ia tak merespons ucapan Ny. Huang.

Kau pasti terlalu sibuk memikirkan karirmu itu, kan? Seharusnya, sejak dulu aku tahu, bahwa kau tak bisa menjadi istri yang baik untuk Tao!

“M-maaf, aku hanya ingin menyampaikan hal itu,” balas Yuri susah payah, mencoba menahan isakannya. “Terima kasih.”

Sooyoung bersama kami.

Yuri membatu di tempatnya. Ia pun bingung dengan apa yang diucapkan oleh mantan mertuanya itu. “M-maksud Anda?”

Kemarin, sepulang sekolah, aku meminta Sooyoung untuk ke rumahku. Semalam, ia menginap bersama kami dan ia sedang pergi dengan Tao saat ini.”

PIP!

Sambungan telepon telah diputus oleh Ny. Huang, sementara Yuri masih sibuk mencerna ucapan wanita itu. ‘Ya Tuhan! Sooyoung sedang bersama mereka?

***

“Es krim-nya enak sekali,” gumam Sooyoung sambil senantiasa menjilati es krim cokelat yang telah dibelinya.

Tao melirik ke arah Sooyoung sekilas, sambil menikmati es krim vanilla-nya. “Sooyoung-aa…”

“Hm?” Sooyoung menoleh ke arah Ayahnya.

“Memangnya, kau tak malu ya, kalau berjalan-jalan dengan Ayah?” tanya Tao penasaran.

Sooyoung membulatkan kedua matanya. “Kenapa harus malu?” Sooyoung malah balik bertanya.

Tao menggaruk tengkuknya. “Kau kan, sudah remaja, masa kau masih berjalan-jalan dengan Ayah?”

“Ayah tak suka?” Sooyoung nampak sedih.

“Eh, bukannya begitu!” seru Tao, langsung menyungginkan senyuman. “Maksud Ayah, apa kau lebih memilih jalan-jalan dengan Ayah dibanding dengan teman-temanmu?” tanya Tao.

“Oh.” Sooyoung mengangguk paham. “Selama ini, aku sudah sering pergi dengan teman-temanku. Tapi, kalau dengan Ayah?” balas Sooyoung. Ia nampak kecewa.

Tao pun semakin merasa bersalah pada Sooyoung. Namun, ia tak ingin waktu bersenang-senangnya dengan Sooyoung akan berubah menjadi waktu yang menyedihkan. Sudah cukup mereka menangis semalam, menumpahkan perasaan mereka masing-masing. Tao sudah berjanji kalau Sooyoung tak boleh menangis lagi ketika bersamanya. “Bagaimana kalau dengan kekasihmu?” celetuk Tao dengan suara menggoda.

Sooyoung menoleh cepat ke arah Tao sambil menunjukkan raut terkejut. “K-kekasih apa?” tanya Sooyoung gugup. “T-tidak. Aku tidak punya kekasih, kok,” elak Sooyoung, sambil menundukkan kepalanya.

“Kenapa harus malu begitu?” tanya Tao. Ia kembali menjilat es krim-nya. “Kalaupun kau sudah punya kekasih juga tak apa-apa, kok,” celetuk Tao.

“Aku memang tidak punya kekasih, Ayah!” seru Sooyoung kesal. “Yang penting dalam hidupku saat ini adalah Ayah dan Ibu,” ucap Sooyoung, lantas memeluk tubuh ayahnya.

Tao membalas pelukan Sooyoung. ‘Maafkan Ayah, Soo. Maaf kalau Ayah tak bisa bersama lagi dengan Ibumu.’

***

“Oh, Ahjumma.” Yoona nampak terkejut ketika ibu Sooyoung, Kwon Yuri menghubunginya.

Apakah kau bisa membantu Ahjumma?

“Ne?” Yoona menaikkan kedua alisnya. “Bantu apa, Ahjumma?” tanya Yoona bingung.

Begini, apakah kemarin, kau melihat Sooyoung ketika pulang sekolah?

“Ne, Ahjumma. Aku keluar dari sekolah dengan Sooyoung,” jawab Yoona. “Sebenarnya, kemarin aku ingin mengajak Sooyoung belajar di rumahku, tapi Sooyoung telah dijemput oleh supir Neneknya,” jelas Yoona, sambil mengingat-ingat.

Lalu, apakah kau masih berhubungan dengan Sooyoung?

“Ne. Tadi pagi, Sooyoung meneleponku. Tapi dia tidak menggunakan ponsel pribadinya,” jelas Yoona.

Oh, pantas saja.

“Memangnya, ada apa, Ahjumma?” tanya Yoona penasaran. Ia merasa sedikit khawatir dengan keadaan Sooyoung, mengingat nada bicara ibu Sooyoung yang menyiratkan kekhawatiran.

Hm, lalu apa Sooyoung bercerita padamu tentang sesuatu?

Yooona kembali mengingat. “Katanya, Sooyoung akan pergi jalan-jalan dengan Ayahnya,” jawab Yoona. “Tapi, aku tak tahu, kemana mereka akan pergi,” imbuhnya.

Apa kau bisa menghubungi Sooyoung ke nomor telepon yang digunakan oleh Sooyoung dan tanyakan keberadaannya?

Yoona nampak berpikir sejenak. “Baiklah, Ahjumma. Aku akan mengusahakannya,” jawab Yoona. “Memangnya, ada apa, Ahjumma? Apa terjadi sesuatu pada Sooyoung?” tanya Yoona.

T-tidak ada apa-apa, Yoona. Ahjumma hanya ingin bertanya begitu saja.

“Oh.” Yoona mengangguk paham, meski hatinya merasa belum puas atas jawaban ibu Sooyoung.

Ahjumma mohon bantuannya ya, Yoona? Kalau kau sudah tahu dimana Sooyoung, tolong segera beritahu Ahjumma.

“Ne, Ahjumma,” balas Yoona.

Terima kasih banyak. Annyeong.

“Annyeong.” Dan Yoona pun langsung memutuskan sambungan teleponnya. Ia masih bertanya-tanya tentang keadaan Sooyoung. Namun, ia segera mengesampingkan berbagai firasat buruknya dan memutuskan untuk mengirimkan pesan singkat kepada Sooyoung.

Sooyoung-aa, akhirnya, kau dan Appa-mu memutuskan untuk berjalan-jalan kemana?

***

“Siapa, Soo?”

Sooyoung mendongak ke arah ayahnya, setelah memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. “Temanku,” jawab Sooyoung sambil meringis pelan.

Tao memandang Sooyoung dengan tatapan menyelidik. “Teman?” tanya Tao memastikan. “Teman atau kekasihmu?” goda Tao.

Sooyoung mengerucutkan bibirnya, sambil memalingkan wajahnya. “Teman, Ayah!” tegas Sooyoung jengkel.

Tao tertawa puas, setelah menggoda putrinya.

Sooyoung nampak jengkel, karena ayahnya tengah mengerjainya. “Bagaimana dengan Ayah sendiri? Apakah Ayah punya kekasih atau teman wanita?” tanya Sooyoung.

Tao membatu di tempatnya, sambil menatap Sooyoung lekat-lekat. “K-kekasih?”

Sooyoung menyeringai. Nampaknya, ia berhasil membalas perbuatan ayahnya. Dengan begitu, ia bisa menggoda ayahnya. “Ayah pasti sudah punya kekasih,” celetuk Sooyoung asal.

“T-tidak, kok!” seru Tao yang nampak salah tingkah.

Sooyoung tersenyum lebar. “Jangan bohong!” tuduh Sooyoung.

“Sungguh! Ayah belum punya kekasih!” seru Tao.

“Atau jangan-jangan, Ayah masih belum bisa melupakan Ibu, ya?” tebak Sooyoung. Ya, dia sudah mulai menjalankan misinya. Setidaknya, ia harus mengetahui perasaan Ayahnya pada Ibunya.

Tao tertunduk lesu. “Memangnya, Ayah bisa melupakan Ibu dari anak Ayah sendiri?” tanya Tao lirih.

Sooyoung nampak bersalah, ketika melihat raut sedih yang ditunjukkan Ayahnya. “M-maksudku, apakah Ayah masih menyayangi Ibu?” tanya Sooyoung.

Tao mendongak lagi dan menatap Sooyoung. Ia menyunggingkan sebuah senyuman. “Ayah akan selalu menyayangi siapapun yang kau sayangi, Soo.”

Sooyoung terdiam. Ia bisa menyimpulkan sesuatu.

Ayahnya masih menyayangi Ibunya.

Namun, Ayahnya memang harus menghadapi kenyataan bahwa mereka tak bersama lagi seperti dulu.

***

Yuri masih terduduk di sofa ruang tengah rumahnya dengan wajah cemas. Tangannya masih menggenggam ponselnya, sehingga ia bisa segera tahu, jika ada kabar dari Yoona mengenai Sooyoung.

DRRT… DRRT…

Ponsel Yuri pun bergetar, menandakan sebuah pesan masuk. Dengan gerakan lincah, Yuri pun segera memeriksa pesan yang masuk ke dalam ponselnya.

From : Yoona

Ahjumma, Sooyoung sedang berada di Lotte World bersama Appa-nya.

Tanpa pikir panjang, Yuri segera mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja di depannya dan berlaru keluar rumah.

Yuri harus segera menemui Sooyoung.

***

“Sooyoung!”

Tao dan Sooyoung yang sedang menikmati acara jalan-jalan mereka pun terpaksa menghentikan langkah mereka, lantas menoleh ke arah sumber suara yang memanggil nama Sooyoung.

Tao membeku di tempatnya, ketika menyadari sosok yang tak asing baginya tengah berdiri tak jauh dari mereka.

“Umma?” gumam Sooyoung ketika melihat sosok ibunya, Kwon Yuri.

Yuri segera berlari ke arah Tao dan Sooyoung. Ia langsung memeluk tubuh Sooyoung. “Sooyoung-aa, kau kemana saja?” tanya Yuri lirih.

Sooyoung nampak terkejut. “Umma sudah pulang?” tanya Sooyoung heran.

Yuri melepaskan pelukannya. “Umma segera pulang ke Seoul, ketika Kang Ahjumma mengatakan bahwa kau tidak pulang ke rumah sejak kemarin,” tutur Yuri.

“Mwo?!” Tao dan Sooyoung serempak terkejut.

“B-bukannya, Halmeoni sudah mengabarkan pada Umma, kalau aku akan pergi ke rumah Halmeoni?” tanya Sooyoung bingung. Seingatnya, supir Halmeoni-nya kemarin sudah mengatakan padanya, bahwa Halmeoni-nya sudah meminta ijin pada Umma-nya. Tapi, kenapa masalahnya seperti ini?

Yuri mengernyit tak mengerti. “Tidak,” balas Yuri lirih. “Umma bahkan baru saja menelepon Halmeoni-mu tadi,” ucap Yuri.

“Kau menghubungi Umma-ku?” tanya Tao terkejut.

Yuri langsung menatap ke arah Tao. Seolah baru menyadari bahwa Tao juga berdiri di samping Sooyoung. “Ne,” jawab Yuri mantap.

“Jadi, kau belum minta ijin pada Umma-mu, Soo?” tanya Tao pada Sooyoung.

Sooyoung nampak bingung. “Kupikir, Halmeoni sudah memberitahu Umma, makanya aku tidak menghubungi Umma,” celetuk Sooyoung. “Lagipula, Halmeoni juga membawa ponselku dan aku tak ingat dengan nomor telepon internasional Umma,” jelas Sooyoung.

“Aish!” Tao menendang udara dengan kesal. “Ibu, kenapa kau melakukan hal ini?” gumamnya. Ia pun merogoh saku celananya, mencari ponselnya untuk menghubungi Ny. Huang. “Kemana pula ponselku?” gerutu Tao kesal.

“M-mungkin, ponselmu dibawa oleh Umma-mu. Karena saat aku menghubungi ke nomor teleponmu tadi, Umma-mu yang menjawab panggilanku,” jelas Yuri takut.

“Mwo?!” Lagi-lagi, Tao terkejut. “Ya Tuhan, Ibu! Apa yang sudah kau lakukan pada kami?” Tao mengacak rambutnya kasar. “Sooyoung…”

“Ne?” Sooyoung mendongakkan kepalanya dengan lemah.

“Pulanglah dengan Umma-mu,” mohon Tao pelan.

Sooyoung dan Yuri terhenyak.

Tao menyunggingkan sebuah senyuman ke arah dua wanita itu. “Biar Appa yang menangani semua ini,” ucap Tao.

Sooyoung mengangguk patuh.

“Soo, terima kasih karena sudah menghabiskan waktumu dengan Appa,” ucap Tao tulus. “Dan Yuri,” Tao menatap Yuri lekat-lekat.

Yuri pun membalas tatapan Tao.

“Maaf karena telah membuatmu khawatir. Maaf atas sikap Umma-ku,” ucap Tao.

“N-ne, gwaenchana.” Yuri mengangguk mengerti.

Sooyoung menatap ke arah Ayah dan Ibunya secara bergantian. ‘Canggung sekali. Pasti sangat sulit untuk menyatukan mereka.’

***

“Ibu!” seru Tao, ketika ia sudah memasuki rumah keluarganya yang besar. Ia tak peduli jika ia bersikap tak sopan pada Ibunya, namun baginya, sikap Ibunya itu sudah keterlaluan. Membawa Sooyoung tanpa meminta ijin dari Yuri. “Ibu!” seru Tao sekali lagi.

TAP… TAP… TAP…

“Ada apa, Tao?” tanya Ny. Huang lembut yang sedang menuruni anak tangga.

Tao berjalan cepat menghampiri Ibunya di ujung tangga. “Ibu, jelaskan padaku, bagaimana Ibu bisa membawa Sooyoung kemari?” tanya Tao, sambil mencoba menahan rasa marahnya.

Ny. Huang mengernyit tak mengerti. “Bukankah Ibu sudah menjelaskan padamu, Nak? Ibu meminta supir untuk menjemput Sooyoung dari sekolahnya dan membawanya kemari,” jelas Ny. Huang. “Ngomong-ngomong, kemana Sooyoung?” tanya Ny. Huang.

“Tanpa meminta ijin pada Yuri?” tanya Tao tanpa menjawab pertanyaan ibunya.

“Oh, ayolah, Tao, kau adalah Ayahnya. Seharusnya, kau…”

“Bukan begitu caranya, Bu,” ucap Tao, lalu membalik tubuhnya sambil mengacak rambutnya. “Setidaknya, Ibu harus meminta ijin pada Yuri, sehingga tak ada kesalah pahaman diantara kita,” jelas Tao.

Ny. Huang mengernyit tak suka. “Kenapa kau tidak berterima kasih saja pada Ibu karena telah mempertemukanmu dengan Sooyoung, hm?”

Tao kembali menatap ibunya. “Tapi, aku tak pernah meminta begitu, Bu. Lagipula, selama keadaan Sooyoung baik-baik saja, aku akan tenang dan bahagia,” jelas Tao.

“Tapi, kau juga senang dengan kehadiran Sooyoung disini, kan?” balas Ny. Huang tajam.

“Iya, Bu. Tapi bagaimana jika keadaannya seperti ini?” Tao nampak frustasi. “Bagaimana kalau Yuri tak akan membolehkan Sooyoung kemari lagi?” tanya Tao kesal.

“Tao…”

Tao mendesah keras-keras. “Sudahlah, Bu. Aku pergi ke kamar dulu,” ucap Tao, lantas berlalu ke kamarnya.

Tao benar-benar kecewa.

Kecewa pada takdirnya.

***

“Umma, kenapa menangis?” tanya Sooyoung pada ibunya yang masih memeluknya di atas ranjang, sambil menangis sesegukan.

Yuri semakin mengeratkan pelukannya pada putrinya. “Jangan tinggalkan Umma lagi, ne?” mohon Yuri di sela-sela isakan tangisnya.

Sooyoung membalas pelukannya, lantas menggeleng pelan. “Tidak. Sooyoung tidak akan meninggalkan Umma lagi,” balas Sooyoung. Karena melihat betapa sayang dan perhatiannya ibunya pada dirinya, mau tak mau, Sooyoung pun ikut menangis. “Tapi, Umma…”

“Ne?”

“Apakah Umma masih mengijinkan Sooyoung bertemu dengan Appa?” tanya Sooyoung takut. Ia tak ingin menyinggung perasaan ibunya.

Yuri melepaskan pelukannya, lantas menatap Sooyoung lekat-lekat. “Kau pasti begitu merindukan Appa-mu, ya?” tanya Yuri.

Sooyoung mengangguk pelan.

Yuri memeluk Sooyoung lagi. “Tentu saja, Umma akan mengijinkanmu bertemu dengan Appa lagi,” ucap Yuri. “Tapi, kau harus ijin pada Umma, ya? Jangan membuat Umma khawatir,” lanjut Yuri.

“Ne, Umma,” jawab Sooyoung senang. “Gomawo, Umma.”

“Apapun akan Umma lakukan untukmu, Sayang.”

***

“Oiya Soo, bagaimana kabarmu?” tanya Yoona pada Sooyoung yang baru tiba di dalam kelas.

“Kenapa kau tanya begitu?” tanya Sooyoung heran. “Tentu saja, aku baik-baik saja!” seru Sooyoung.

Yoona meringis. “Bukan begitu, Soo,” elak Yoona. “Kau kan, baru saja bertemu dengan Appa-mu. Jadi, bagaimana?”

“Oh, itu.” Sooyoung mengangguk paham. “Awalnya, semua berjalan sangat baik. Sampai…”

“Sampai apa?” tanya Yoona penasaran.

Sooyoung mendesah pelan. “Ternyata, Halmeoni belum memberitahu pada Umma, kalau aku akan pergi ke rumah Appa,” tutur Sooyoung.

“Lho? Bukankah supir yang menjemputmu sudah mengatakan bahwa Halmeoni-mu sudah mengabari Umma-mu?” tanya Yoona bingung.

Sooyoung tertunduk. “Nah, makanya, aku juga bingung,” gumam Sooyoung.

“Selamat pagi, Anak-anak!” seru sebuah suara.

Sooyoung dan Yoona pun serempak mendongakkan kepalanya dan melihat wali kelas mereka―Cho Seonsaengnim―yang masuk ke dalam kelas.

“Pagi ini, saya datang kemari untuk memperkenalkan murid baru yang akan bergabung di kelas ini,” kata Cho Seonsaengnim.

“Wah, siapa, ya?”

“Laki-laki atau perempuan?”

“Aku sangat penasaran.”

Murid-murid nampak penasaran dengan murid baru yang akan masuk ke kelas mereka.

“Masuklah,” perintah Cho Seonsaengnim pada seseorang di luar kelas.

TAP… TAP…

Terdengar suara derap kaki. Seorang pemuda pun masuk ke dalam kelas.

“Wah! Tampan sekali dia!”

“Yah, ternyata dia laki-laki.”

Muncul reaksi berbeda diantara murid perempuan dan laki-laki.

“Nah, silakan perkenalkan dirimu,” kata Cho Seonsaengnim.

“Hai! Namaku Jongin, tapi kalian bisa memanggilku Kai. Aku pindahan dari Amerika,” ucap pemuda itu dengan suara datarnya. “Aku harap bantuan kalian. Gamsahamnida.” Kai membungkuk sekilas.

“Nah, Jongin-ssi,”

“Maaf, panggil aku Kai saja,” sela Kai.

“Oh, baikalah. Jadi, Kai-ssi, silakan duduk di bangku kosong tersebut,” kata Cho Seonsaengnim sambil menunjuk ke arah bangku kosong yang terdapat di deret belakang.

Kai mengangguk, lalu segera melangkah ke arah bangkunya.

Seluruh murid perempuan nampak antusias dengan kehadiran Kai, yang bisa dibilang, memiliki penampilan fisik yang lumayan.

“Hei, Soo! Kai tampan sekali, ya?” celetuk Yoona, sambil menyikut Sooyoung.

Sooyoung mengangguk ragu. “Ne, tapi kurasa, ia bukan anak yang ramah.”

***

“Huh! Lelah sekali!” Tao meregangkan otot-otot tubuhnya sejenak, setelah sekian lama terpaku pada pekerjaannya di laptopnya. Saat ini, Tao memang sudah berada di kantornya dan melanjutkan berbagai tugasnya sebagai seorang CEO Huang Company.

Tao memandang ke arah sebuah ponsel yang tergeletak di atas meja kerjanya. “Oiya, ponsel Sooyoung,” gumamnya, lantas mengambil ponsel berwarna putih itu. Ponsel Sooyoung memang dibawa oleh Ny. Huang dan belum sempat dikembalikan pada Sooyoung, karena kemarin, Sooyoung langsung dijemput oleh Umma-nya.

Tao pun mulai mengutak-atik ponsel Sooyoung. Bukannya ingin memata-matai putrinya, ia hanya ingin melihat perkembangan Sooyoung selama ini.

Tao tertawa kecil, ketika ia melihat koleksi foto Sooyoung di ponsel milik Sooyoung. Ia merasa terhibur melihat ekspresi-ekspresi putrinya yang diabadikan. Setidaknya, ia merasa tidak sepenuhnya melewatkan perkembangan putrinya.

Tao menghentikan gerakan tangannya, ketika melihat sebuah foto.

Foto Sooyoung dan Yuri yang nampak bahagia.

Dalam hati, Tao bertanya-tanya, ‘Apa kalian jauh lebih bahagia tanpa aku disisi kalian?

***

“Cepatlah sedikit, Soo,” kata Yoona tak sabar, ketika melihat Sooyoung yang masih sibuk mengganti sepatu sekolahnya dengan sepatu yang biasa digunakannya untuk menari.

Sooyoung mendengus kesal. “Aish, sabarlah sedikit, Yoong!” seru Sooyoung jengkel.

“Ya! Kalau kau terlalu lama lagi, kita akan dimarahi oleh Victoria Sunbae!” seru Yoona. Yoona memang agak takut dengan Victoria―sunbae dan pelatih di sekolah tari mereka.

Sooyoung segera bangkit, setelah selesai memakai sepatunya. “Iya, iya! Ayo segera ke ruang latihan!” seru Sooyoung.

Yoona hanya mendengus, lantas mengikuti Sooyoung sudah mulai berjalan.

BRUK!

“Auw!” pekik Sooyoung ketika seseorang menabrak tubuhnya.

BRUK!

Yoona yang tak memperhatikan pun menabrak Sooyoung juga. “Auw.”

Sooyoung melihat sosok yang baru saja menabraknya. “Kau?”

Pemuda yang menabrak Sooyoung mengernyit bingung. “Waeyo? Kau mengenalku?” tanya pemuda itu ketus.

“Eh! Kau Kai, kan?” Yoona nampak sumringah ketika menyadari bahwa pemuda yang menabrak Sooyoung adalah Kai, teman barunya.

“Ne!” balas Kai ketus. “Kalian berdua siapa?”

“Kami teman sekelasmu!” seru Yoona semangat.

“Oh, ya?” Kai nampak terkejut. “Maaf, kalau aku tak mengenali kalian,” sesalnya. “Sudah, ya? Aku sedang tergesa-gesa,” lanjutnya, lantas melanjutkan langkahnya.

“Ah, iya. Sampai ketemu lagi, Kai!” seru Yoona senang.

Sooyoung mendengus pelan melihat tingkah Yoona. “Aigo, Yoong. Kenapa kau ramah sekali padanya, padahal dia begitu ketus pada kita?” tanya Sooyoung jengkel.

Yoona mengibaskan tangannya ke depan Sooyoung. “Gwaenchana. Setidaknya, dia bisa luluh dengan sikap ramahku,”’ ucap Yoona senang.

“Bermimpilah, Im Yoona. Bermimpilah.”

***

“Lho? Kenapa sepi sekali?” Yoona nampak heran, ketika melihat ruang latihannya begitu sepi.

“Kemana orang-orang?” timpal Sooyoung.

“Hai, Kalian!” seru sebuah suara.

Sooyoung dan Yoona serempak mencari sumber suara. Didapatinya seorang pria yang berdiri di sudut ruangan sambil memandang ke arah mereka.

“Kalian murid Victoria, kan?” tanya pria itu.

“Ne,” jawab Sooyoung dan Yoona bersama.

“Anda siapa?” tanya Yoona.

Pria itu tersenyum. “Kenalkan, namaku Xi Luhan,” ucapnya. “Victoria sedang mengikuti sebuah turnamen, jadi aku yang akan menggantikannya,” jelas pria bernama Luhan itu.

“Oh, begitu.” Sooyoung mengangguk paham. “Namaku Huang Sooyoung. Salam kenal, Sunbae,” ucap Sooyoung, lantas membungkukkan badannya.

“Aku Im Yoona, Sunbae,” timpal Yoona.

Luhan hanya tersenyum. “Baiklah, kalian bisa melakukan pemanasan terlebih dahulu, sambil menunggu teman-teman kalian,” jelas Luhan.

“Ne, Sunbae!” balas Sooyoung dan Yoona. Keduanya langsung bersiap untuk melakukan pemanasan.

BRAK!

Pintu ruang latihan terbuka dengan keras.

Sooyoung dan Yoona yang terkejut pun segera menoleh.

“Maaf, apa aku terlambat? Tadi aku berputar-putar mencari ruangan ini,” ucap seseorang dengan nada tak berdosanya.

“Aigo, kenapa bocah itu lagi?” gumam Sooyoung jengkel.

“Hai, Kai!” Lagi-lagi, Yoona nampak bahagia.

***

“Kwon Yuri?” panggil sebuah suara.

Yuri segera mendongakkan kepalanya. Matanya bertemu pandang dengan sepasang mata yang memiliki sorot mata yang tajam. “Tao?”

“Kau ingin menjemput Sooyoung?” tanya Tao pada Yuri. “Hm, bolehkah aku duduk disini?” tanya Tao sambil menunjuk ke arah samping Yuri.

Yuri mengangguk pelan, lantas menggeser duduknya.

Tao pun duduk di samping Yuri. “Gomawo.”

“Aku memang akan menjemput Sooyoung,” jawab Yuri atas pertanyaan Tao.

“Oh. Kebetulan sekali,” gumam Tao. Ia pun merogoh saku jasnya. “Ponsel Sooyoung tertinggal di rumahku dan aku ingin mengembalikannya,” ucap Tao, sambil menyodorkan ponsel putih milik Sooyoung pada Yuri.

Yuri menerima ponsel Sooyoung. “Oh, gomawo sudah mengembalikannya,” balas Yuri. “Mengenai ponsel yang dibawa Sooyoung…”

“Gwaenchana,” sela Tao. “Biarkan ponsel itu dibawa oleh Sooyoung saja,” lanjut Tao.

Yuri mengangguk pelan. “Ne.”

Tao mendongak menatap langit sore yang berwarna kemerah-merahan. “Ngomong-ngomong, bagaimana kabarmu sekarang? Baik, bukan?” tanya Tao.

Yuri tertunduk. “Lumayan,” balasnya singkat. Yuri pun mendongakkan kepalanya dan melirik Tao. “Bagaimana denganmu?” tanya Yuri.

“Baik,” jawab Tao. “Sekali lagi, aku minta maaf, karena sikap Umma-ku yang lancang…”

“Gwaenchana,” poton Yuri.

Tao menatap Yuri lekat-lekat.

Yuri tersenyum simpul. “Umma-mu pasti terlalu merindukan Sooyoung dan aku bisa mengerti itu,” lanjut Yuri. “Ini juga salahku, karena aku tidak pernah membuka komunikasi denganmu.”

Tao tersenyum. “Gomawo sudah memaafkan kami.”

“Dan kalau kau atau Umma-mu ingin bertemu dengan Sooyoung, aku akan dengan senang hati mengijinkannya,” timpal Yuri.

Tao nampak terkejut. “Benarkah?”

Yuri tersenyum. “Tentu saja,” balas Yuri ringan. Ia pun mendongak dan menatap langit sore. “Orang tua seharusnya melakukan apapun untuk kebahagiaan anaknya, bukan?”

“Hm.” Tao pun kembali terdongak.

Dua sejoli yang pernah terikat sebagai suami-istri itu pun melewatkan waktu dalam kesunyian, menikmati matahari yang nyaris terbenam.

TBC

Hi, Minrin is back! Hoho ^o^

Jarang main ke blog, karena sibuk mempersiapkan ff series. Sekarang, aku emang lagi sibuk mempersiapkan berbagai ff series dan mulai stop bikin ff oneshot (kecuali 100 Love Songs yang juga lagi aku siapin :D).

Udah panjang, belum? Hehe🙂

Gimana? Masih adakah yang nangis? Kalo ada, aku kirim tissue lagi, ya? Haha😄

Apakah menurut kalian, interaksi Tao dan Sooyoung itu terkesan seperti sepasang kekasih? Jujur aja, interaksi mereka itu terinspirasi dari kedekatanku sama ayahku. Yah, begitulah, aku emang akrab banget sama ayahku. Aku mirip Sooyoung juga dan ayahku mirip Tao, bedanya ayahku punya kumis *dijitak* Haha😄 Oke, aku bercanda ^^v

Okelah, cukup sekian cuap-cuapku.

Just leave your trail😉

Love,

Jung Minrin

12 thoughts on “[Mini Series] Extraordinary Love – Chapter 2

  1. @Sung_SooAe May 9, 2013 / 5:40 AM

    karna kebetulan aku kg pernah deket sama ayhku sendiri jadi agak susah mbayangin moment soo bersama tao, eh masa soo sama kainya dikit banget sih thor*bnykprotes -.-*
    Haha tapi ini tak begitu sedih😀 ye..
    nice story ditunggu next chapternya

    • idwinaya May 9, 2013 / 7:08 AM

      Kai-nya masih nyempil-nyempil dikit dulu aja, haha😄
      Next chapter biar part-nya Kai aku banyakin deh ^^v
      Iya, aku udah bilang kan, chapter ini nggak begitu sedih, hoho ^o^
      Okesip, semoga kamu senantiasa menunggu lanjutan ff ini🙂

  2. Febryza May 9, 2013 / 6:58 PM

    Engga kok interaksinya tao sama sooyoung kaya bapak sama anak soalnya aku juga gitu sama ayahku hehehe…
    Jadi penasaran sama kelanjutan ceritanya

    • idwinaya May 9, 2013 / 7:00 PM

      Hoho, samaan dong. Sumpah, kirain mereka terlalu deket gitu🙂
      Tunggu aja kelanjutan ceritanya, ne?😉

  3. Ananta May 14, 2013 / 10:24 PM

    Tao kesian yaa mau deket ama anak sendiri aja susah *plakk
    Eh, itu Luhan aja yg nanti sama soo eon ntar Kai nya sama Yoona eonni yaa thor *puppy eyes*
    Next part harus lebih cetar yaa, hwaiting😀

    • idwinaya May 14, 2013 / 10:31 PM

      Haha, iya emang gitu. Luhan sm Sooyoung, Yoona sm Kai ^^
      Okesip, gomawo udah baca🙂

  4. Fitri June 8, 2013 / 10:37 PM

    min next dong ..
    yang cepet ya,, :3

    • Jung Minrin June 10, 2013 / 10:44 AM

      Oke, aku usahain ya🙂
      Makasih udah baca😀

  5. elissone June 30, 2013 / 1:30 PM

    Dikit amat interaksi antara soo dengan tao seperti anak dan ayah pada wajarnya!
    Nanti Luhan sama sooyoung kan? Iya kan??! #mianmaksa^^v

    • Jung Minrin June 30, 2013 / 3:10 PM

      iya, emang jarang ayah-anak yang begitu, kkk~
      hm, semoga aja sooyoung sama luhan😀
      gomawo udah baca n comment, yaa ^^

  6. Choi_Reni407 August 14, 2013 / 11:20 PM

    KaiSoo-kah?
    Yeay..
    Next part aku tunggu

  7. liliknisa June 5, 2014 / 1:03 AM

    next part di tunggu ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s