[Mini Series] Extraordinary Love – Chapter 1

extraordinary-love-jungminrin-done

Extraordinary Love

Chapter 1

by

Jung Minrin (@reddsky_10)

transformed from Idwinaya

SNSD Sooyoung || EXO-M Tao || SNSD Yuri

SNSD Tiffany || EXO-M Kris || f(x) Victoria || EXO-M Luhan || EXO-K Kai || SNSD Yoona

Length : Mini Series || Rating : PG || Genre : Romance, Family, Friendship, Sad

Note :

Fic series yang jadul-jadul belum bisa dilanjut, karena Ilham dan Wahyu yang menghilang *loh*

Nah, karena fic-fic baru idenya masih anget-angetnya *apa ini*, makanya aku lanjut dulu. Kalo bisa sih, mau diselesaiin dulu. Hehe ^^

Well, untuk kalian semua, happy reading🙂

***

TENG… TENG… TENG…

Bel SM High School sudah berbunyi, tanda bahwa sekolah sudah usai. Para guru menutup penjelasan mereka dan mempersilakan murid-muridnya untuk berkemas dan pulang.

Begitu pula yang terjadi di kelas 1-3.

“Yeay!!!” Murid-murid bersorak senang setelah mendengar bel pulang.

Guru yang mengajar mereka saat ini―Han Seonsaengnim―menghela nafas, lalu menata bukunya yang tergeletak di atas meja guru. “Baiklah, pelajaran kita akhiri sampai disini,” ucapnya. “Kalian bisa berkemas sekarang,” lanjutnya.

“Ne, Seonsaengnim!” seru para murid serempak. Mereka langsung merapikan alat tulis mereka dan memasukkannya dalam tas mereka masing-masing.

Setelah dirasa murid-murid selesai merapikan alat tulis mereka, Han Seonsaengnim pun kembali berkata, “Ketua Kelas, silakan pimpin doa.”

Ketua Kelas pun mengangguk mantap dan bersiap memimpin doa. “Berdoa mulai!”

Seluruh murid tertunduk dan berdoa dengan khidmat, mengucapkan syukur atas apa yang telah mereka terima sepanjang hari di sekolah dan mengharap keselamatan ketika pulang ke rumah.

“Berdoa selesai!” Ketua Kelas pun mengakhiri doa.

Seluruh murid kembali mendongakkan kepalanya.

“Baiklah. Sekian pertemuan kita kali ini. Annyeonghaseyo!” pamit Han Seonsaengnim, lantas melangkah meninggalkan kelas.

“Annyeonghaseyo, Seonsaengnim!” balas murid-murid serempak. Murid-murid pun segera bangkit dari duduk mereka dan berjalan secara rapi keluar dari kelas.

“Sooyoung-aa,” panggil seorang gadis cantik.

Gadis bertubuh tinggi semampai bernama Sooyoung pun menghentikan langkahnya dan menoleh. “Ada apa, Yoona?” tanya Sooyoung pada gadis cantik yang dipanggilnya Yoona.

Yoona tersenyum. “Apakah Umma-mu sudah kembali ke Seoul?” tanya Yoona.

“Belum,” jawab Sooyoung sambil menggeleng pelan. “Waeyo?”

Yoona merangkul pundak Sooyoung, lantas mengajaknya berjalan lagi. “Bagaimana kalau kau ke rumahku lagi saja? Kebetulan, aku sedang membutuhkan tutor untuk belajar Matematika. Ottokhae?” tawar Yoona.

Sooyoung terdiam sejenak. “Gwaenchana,” balasnya. “Tapi, aku harus pulang jam 5 sore nanti, karena Kang Ahjumma pasti mencariku,” jelas Sooyoung.

“Tenang saja,” ucap Yoona mantap. “Nanti, biar Lee Ahjussi yang mengantarmu pulang,” jelasnya.

“Gomawo, Yoong,” ucap Sooyoung tulus.

Yoona menyikut lengan Sooyoung. “Seharusnya, akulah yang berterima kasih padamu,” celetuk Yoona. “Kajja!” Yoona menarik lengan Sooyoung dan mengajak berlarian kecil.

***

“Thank you for your presentation, Mrs. Huang,” ucap seorang pria paruh baya sambil menyalami seorang wanita cantik.

“Hm, Kwon, please, Mr. Stone,” ralat wanita itu.

“Oh, sorry.” Pria paruh baya yang dipanggil sebagai Mr. Stone itu nampak bersalah. “I used to call you Mrs. Huang. I’m so sorry to hear that you divorce,” lanjutnya.

Wanita bermarga Kwon itu tersenyum manis. “Never mind, Mr. Stone. I can understand that.”

“Hm, I think I have to go home now. My wife is waiting for me now,” ucapnya dengan nada bercanda.

Wanita itu tertawa kecil. “Sure. Please send my gratitute to Mrs. Stone.”

“Fine,” balas Mr. Stone. “See you later, Mrs. Kwon,” ucapnya, lalu berjalan meninggalkan wanita itu.

Wanita itu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. ‘Hari yang berat,’ pikirnya.

“Hai, Yul,” panggil sebuah suara.

Wanita itu menoleh. Dilihatnya seorang pria bertubuh tinggi yang sudah berdiri di belakangnya. “Kris?” Ia tersenyum senang.

Pria bernama Kris itu tersenyum lebar. “Surprised?”

Wanita itu langsung memeluk Kris. “Tentu saja, aku merindukanmu, Kris,” ucapnya tulus.

Kris membalas pelukan wanita itu. “Jadi, bagaimana harimu, Kwon Yuri?” tanyanya. “Oh, atau aku harus segera memanggilmu Wu Yuri?”

Wanita bernama Yuri itu pun melepas pelukannya. “Kris, sesungguhnya, aku belum mengatakan tentang hal ini pada Sooyoung,” ucapnya sedih.

Kris tersenyum kecil. “Tak apa,” ucapnya menenangkan.

“Aku takut kalau dia tak bisa menerimamu,” ucap Yuri cemas.

Lagi-lagi, Kris tersenyum seolah mengatakan ‘semua akan baik-baik saja’. “Seiring dengan berjalannya waktu, kita pasti bisa saling memahami,” ucap Kris.

Yuri mengangguk paham.

“Setelah pekerjaanku di New York selesai, aku akan segera kembali ke Seoul,” kata Kris.

“Oh? Benarkah?” tanya Yuri tak percaya.

Kris mengangguk. “Aku akan menetap disana. Bahkan, aku juga sudah mempersiapkan kepindahan putraku,” jelas Kris.

Yuri tersenyum bahagia, lalu kembali memeluk Kris. “Aku senang kalau kita menjadi lebih dekat.”

“Aku juga, Yul. Kuharap, aku, kau, dan anak kita bisa saling menerima.”

***

“Park Ahjussi?” Sooyoung mengernyit heran ketika melihat seorang pria paruh baya yang menunggu di depan gerbang sekolahnya, sambil menyandarkan tubuhnya pada sebuah mobil hitam yang terlihat mewah.

Pria itu langsung membungkukkan badannya dengan hormat. “Nona Huang,” gumamnya.

“Kenapa Park Ahjussi ada disini?” tanya Sooyoung heran.

Sementara itu, Yoona yang berdiri di samping Sooyoung hanya celingukan karena tidak paham.

“Nyonya Huang meminta saya untuk menjemput Nona dan mengantar Nona ke rumah besar,” jelas Park Ahjussi.

“Eh? Nenek?” Sooyoung mengerjap kaget. “Jadi, aku pulang ke rumah besar? T-tapi, Umma…”

Park Ahjussi tersenyum. “Nyonya Huang sudah membicarakannya dengan Umma Anda, Nona,” selanya.

“Kau harus pulang ya, Soo?” bisik Yoona yang mulai memahami pembicaraan Sooyoung dan Park Ahjussi.

Sooyoung tersenyum canggung pada Yoona. “Begitulah, Yoong. Nenekku yang meminta dan aku tak bisa membantahnya,” jelas Sooyoung.

Yoona mendesah kecil. “Baiklah, kalau begitu. Pulanglah segera,” ucap Yoona.

“Arrasseo,” ucap Sooyoung. “Annyeong, Yoong,” pamitnya.

“Annyeong, Soo. Hati-hati di jalan,” ucap Yoona, lalu melambaikan tangannya pada Sooyoung.

Sooyoung hanya tersenyum simpul. “Kajja, Ahjussi,” ajak Sooyoung pada Park Ahjussi. Keduanya pun segera naik ke dalam mobil hitam mewah milik keluarga Huang. Dalam hati Sooyoung terus bertanya-tanya, ‘Ada apa Nenek ingin bertemu denganku?

***

Tuan Huang, ada telepon untuk Anda.

Pria tampan yang dipanggil Tuan Huang itu menghentikan pekerjaannya sejenak, lantas menekan tombol pada telepon di atas meja kerjanya. “Katakan bahwa aku sedang sibuk,” ucapnya dingin.

Tapi ini dari Nyonya Huang, Tuan.”

Tuan Huang mengernyit, lalu mendesah pelan. “Baiklah, sambungkan segera,” ucapnya pasrah.

Yak, Huang Zhi Tao! Kenapa lama sekali?” seru sebuah suara melalui telepon.

Pria bernama lengkap Huang Zhi Tao itu mendesah berat. “Ya Tuhan, apakah Ibu harus berteriak sedemikian keras?” tanya Tao kesal.

Kau pasti sengaja ingin menghindari Ibu, kan?

“Tidak,” elak Tao. “Hanya saja, aku sedang sangat sibuk, Bu,” jelas Tao.

Nyonya Huang mendengus pelan. “Tinggalkan pekerjaanmu dan pulang sekarang juga!”

“Apa?!” Tao terkejut. “Bagaimana bisa, Bu? Pekerjaanku disini sangatlah penting. Apakah Ibu mau perusahaan yang dibangun Ayah…”

dengan susah payah ini bangkrut begitu saja?” sela Nyonya Huang dengan nada jengkel. “Demi Tuhan, Tao! Kau selalu menggunakan alasan yang sama!” seru Nyonya Huang. “Pulang sekarang!” perintahnya.

“Tapi, Bu…”

Sooyoung menunggumu. Kau tak rindu pada anakmu, hm?

Tao terdiam sejenak. “S-sooyoung?”

Ya. Cepatlah pulang,” perintah Nyonya Huang dengan suara yang melembut.

“Baiklah, Bu. Sampaikan pada Sooyoung bahwa aku akan segera pulang,” ucap Tao.

Kami menunggumu.

PIP!

Sambungan telepon terputus.

Sementara Tao masih mematung di tempatnya. “Sooyoung… Anakku…”

***

“Tumben sekali, Nenek memintaku kemari,” gumam Sooyoung sambil memainkan jemarinya.

Nyonya Huang yang melihatnya, langsung menghampiri Sooyoung dan memeluk tubuh cucunya dengan erat. “Memangnya, Sooyoung tidak merindukan Nenek dan Ayah, hm?” tanya Nyonya Huang.

Sooyoung terisak pelan. “Kupikir, Nenek membenciku,” bisiknya sedih.

Mata Nyonya Huang berkaca-kaca, ‘Ya Tuhan! Apakah sikapku selama ini telah mneyakiti Sooyoung?’. Ia menangkup wajah Sooyoung dengan kedua tangannya. “Mana mungkin, seorang Nenek membenci cucunya,” balas Nyonya Huang.

Sooyoung menatap neneknya lekat-lekat. “Tapi waktu itu, Nenek marah sekali pada Ibu,” jelas Sooyoung.

Nyonya Huang memeluk tubuh Sooyoung lagi. Ia merasa semakin bersalah pada cucunya. “Maafkan Nenek, Sooyoung. Saat itu, Nenek terlalu emosi. Tapi sungguh, Nenek tidak pernah membencimu,” ucapnya tulus.

Sooyoung kembali menatap Nyonya Huang. “Benarkah?”

“Ya,” ucap Nyonya Huang mantap.

“Nenek,” panggil Sooyoung.

“Ya, Sayang?”

“Bisakah Nenek berjanji padaku?” tanya Sooyoung.

“Janji apa?” Nyonya Huang nampak penasaran.

“Aku harap, Nenek tidak membenci Ibuku lagi. Kumohon…”

Nyonya Huang melihat pancaran ketulusan dari kedua mata Sooyoung. Ia tak bisa mengatakan kata lain selain, “Tentu saja.”

***

“Aku pulang!” seru Tao yang sudah tiba di rumah keluarganya. Dilihatnya keadaan rumah yang sepi, seperti biasanya. Ya, semenjak ia bercerai dari istrinya yang terdahulu―Kwon Yuri―sekitar 2 tahun yang lalu dan istrinya membawa pergi putri mereka satu-satunya―Huang Sooyoung―keadaan rumah besar keluarga Huang terbilang sepi. Maklum saja, selama ini, Sooyoung-lah yang selalu meramaikan rumah. Belum lagi, selama 2 tahun itu pula, Sooyoung sama sekali tidak berkunjung ke rumah besar. Tao bisa memaklumi keadaan Ibunya yang masih tak terima dengan perceraiannya dengan Yuri.

Tapi hari ini berbeda. Ibunya mengatakan bahwa Sooyoung sedang berada di rumah. Tao bertanya-tanya.

Apa yang terjadi pada Sooyoung?

Kenapa Sooyoung berkunjung ke rumah?

Bagaimana keadaannya sekarang?

Apakah Sooyoung-nya sudah memiliki kekasih?

Tao merasa dirinya begitu gagal menjadi Ayah bagi Sooyoung. Selama ia belum bercerai dari Yuri saja, Tao tidak pernah mencurahkan perhatiannya pada Sooyoung. Apalagi, setelah Tao bercerai dengan Yuri, rasanya jurang pemisah antara dirinya dan Sooyoung semakin melebar. Namun kali ini, terselip rasa rindu dalam dada Tao ketika mengetahui bahwa ia bisa bertemu Sooyoung lagi. Dan untuk pertama kalinya, Tao benar-benar merasakan rasanya sebagai seorang ayah.

Tao terus berjalan ke dalam rumahnya. “Ibu?” panggilnya pada Nyonya Huang.

Tak ada sahutan.

Tao mencari-cari ke setiap sudut rumahnya yang luas itu sambil memanggil ibunya.

“Tuan Huang?” sela salah satu maid.

Tao menghentikan langkah dan menoleh ke maid tersebut. “Ya?”

“Anda mencari Nyonya Huang?” tanya maid itu memastikan.

Tao hanya mengangguk.

Maid itu tersenyum. “Nyonya Huang sedang berada di taman belakang bersama Nona Huang,” jelasnya.

Tao tersenyum. ‘Terima kasih sudah memberitahuku,” ucap Tao.

Maid itu hanya membungkuk hormat.

Tao segera berjalan cepat ke arah taman belakang rumahnya. ‘Kenapa tidak terpikir dari tadi?’ keluhnya dalam hati. Padahal, ia ingat, kalau pasangan nenek dan cucu itu sama-sama memiliki hobi berkebun.

Sesampainya di taman belakang, tubuh Tao mendadak membeku. Matanya menatap lurus ke arah gadis yang berdiri di samping Ibunya sambil menggengam setangkai bunga Matahari.

Tiba-tiba, gadis itu menoleh ke arah Tao. Ia juga nampak terkejut. “Ayah?”

***

“Kenapa kalian diam saja?” tanya Nyonya Huang, memecah keheningan di meja makan. Ia menatap heran ke arah anak dan cucunya yang menikmati makan malam dalam diam. Keduanya juga terlihat kompak, terutama dalam hal menundukkan kepalanya.

Tao mendongak. “Apa, Bu?” tanya Tao pada ibunya.

Nyonya Huang mendengus pelan. “Yak! Berbicaralah! Aku seperti sedang makan di kuburan saja!” seru Nyonya Huang kesal.

Sooyoung yang masih tertunduk itu pun tertawa kecil, sambil menyantap makanannya.

“Jangan berteriak-teriak, Bu. Ingat, ada Sooyoung disini,” kata Tao. Bibirnya sedikit bergetar, ketika ia menyebut nama Sooyoung.

Nyonya Huang mendengus kesal. “Lihatlah, Soo. Ayahmu ini…” adu Nyonya Huang pada Sooyoung.

Sooyoung mendongak, menatap neneknya, lantas tersenyum kecil. Bahkan, ia sama sekali tak menoleh ke arah Tao. Ia kembali menunduk dan melahap makanannya.

“Apa makanannya tak enak, Soo?” tanya Tao pada Sooyoung. Meskipun ia belum bisa menerima sepenuhnya keadaan ini, bagaimanapun juga, ia harus mengakrabkan diri dengan Sooyoung.

Sooyoung mendongak ragu. Matanya bertemu dengan mata tajam ayahnya. “E-enak, kok,” jawab Sooyoung gugup.

Tao tersenyum kecil. Meski Sooyoung terlihat takut, tapi setidaknya gadis itu merespons ucapannya. “Seingatku, kau selalu suka makan,” komentarnya. “Kenapa kau terlihat tidak bersemangat?” tanya Tao.

Dari tempat duduknya, Nyonya Huang tersenyum kecil, menatap interaksi antara ayah dan anak itu.

“T-tadi, aku sudah makan, A-ayah,” ucap Sooyoung terbata.

Tao mendesah kecil. Kini, ia kebingungan mencari bahan pembicaraan dengan Sooyoung.

“Nenek, aku sudah kenyang,” lapor Sooyoung pada Nyonya Huang.

Tao mencelos. ‘Kenapa Sooyoung hanya berkata pada Ibu? Kenapa tidak padaku?’ Matanya menyiratkan kekecewaan.

Nyonya Huang melirik ke arah Tao dan menyadari bahwa anaknya begitu kecewa. Ia segera menatap Sooyoung kembali. “Kau sudah kenyang, Sayang?”

Sooyoung mengangguk kecil.

“Kau tak ingin menikmati pudding-nya terlebih dahulu?” tawar Nyonya Huang.

“Tidak, Nek.” Sooyoung menggeleng pelan.

“Kau ingin ke kamar sekarang? Perlu Nenek antar?”

“Eh, tidak perlu, Nek,” sela Sooyoung cepat. “Nenek nikmati makan malam saja dulu. Aku bisa ke kamar sendiri,” jelas Sooyoung. Ia bangkit dari duduknya, membungkuk sekilas, lalu segera melangkah pergi meninggalkan meja makan.

Nyonya Huang mendesah berat.

“Ibu…” panggil Tao.

Nyonya Huang menoleh ke arah putranya.

“Kurasa, aku juga akan kembali ke kamar. Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan,” ucapnya, lalu bangkit dari kursinya. Ia langsung melangkah pergi.

Nyonya Huang tak berkomentar apa-apa. Ia bisa memahami keadaan ini. “Mungkin, usahaku untuk menyatukan mereka akan sangat sulit.”

***

Tao mengacak rambutnya pelan. Sudah 1 jam ia duduk di balik meja kerjanya, menatap ke arah layar laptopnya, namun otaknya seolah tak bisa diajak untuk bekerja sama. Ia sama sekali tak bisa menyelesaikan pekerjaan kantornya malam itu.

“Aku pasti terlalu lelah,” gumamnya. Ia pun memutuskan untuk beranjak dari kursinya, lalu berjalan ke arah ranjang king size miliknya. Ia membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya. Tao berusaha memejamkan kedua matanya.

Ayah…

Tao segera membuka kedua matanya, ketika bayangan Sooyoung-lah yang melintas di pikirannya. Sooyoung memanggilnya, namun wajahnya nampak terluka dan kecewa.

Tao terduduk di atas ranjang, lalu mengusap wajahnya. Ia tak bisa mengelak, ia mengkhawatirkan Sooyoung. Ia mengkhawatirkan perasaan Sooyoung padanya, setelah sekian lama tak bertemu.

Tao pun memutuskan untuk turun dari ranjang dan berjalan keluar dari kamarnya. ‘Kurasa aku harus meminum coklat panas,’ pikirnya. Coklat panas adalah minuman favoritnya, yang selalu berhasil menenangkan jiwanya yang gundah.

“Hiks… hiks…”

Tao mendengar isakan pelan. Ia segera mencari arah datangnya isakan tersebut. Betapa terkejutnya Tao, ketika dilihatnya Sooyoung yang sedang terduduk di balik dinding sambil memeluk kedua kakinya. Tubuh gadis itu bergetar pelan. Tao pun segera menghampiri putrinya. “Sooyoung-aa.”

Sooyoung terdiam sejenak, menghentikan isakan kecilnya, lantas mendongakkan kepalanya. “A-ayah?” Ia segera menghapus air matanya dengan gerakan kasar. Ia bangkit dari duduknya. Ia tersenyum kaku. “Suaraku pasti mengganggu Ayah, ya? Maaf.” Ia tertunduk. “Aku akan kembali ke kamar dan segera tidur.”

Sebelum Sooyoung melangkah, Tao segera menahan putrinya. Ia menarik tubuh Sooyoung dan membawanya dalam dekapannya. “Sooyoung-aa,” panggil Tao sekali lagi.

Sooyoung kembali terisak dalam pelukan ayahnya.

“Maaf. Maafkan Ayah,” ucap Tao penuh penyesalan sambil terisak pelan.

Sooyoung tidak merespons ucapan ayahnya. Ia masih terisak.

“Maaf karena Ayah tidak pernah memperhatikanmu selama ini,” ucap Tao. “Maaf karena Ayah tidak mengunjungimu selama 2 tahun ini,” lanjutnya. “Maaf karena Ayah terlalu pengecut selama ini.”

“A-ayah…”

“Kau harus tahu Soo, Ayah sangat mencintaimu,” bisiknya lembut, di tengah isakannya.

Isakan Sooyoung terdengar semakin keras. Ia mengeratkan pelukannya pada tubuh Ayahnya. “Sooyoung juga mencintai Ayah.”

.

TBC

*crying*

Hiks, hiks😥

Ini masih chapter 1, tapi udah begini aja. Tapi tenang aja, setelah ini, full of happiness, kok. Tapi kalo udah klimaks, mungkin bakalan nangis-nangis lagi. Ketahuan banget deh, kalo aku ini cengeng+melankolis ._.

Hm, kira-kira, adakah yang penasaran dengan umur cast disini? Oke, aku kasih tahu umur mereka🙂

Sooyoung : 15 tahun

Tao : 38 tahun

Yuri : 35 tahun

Tiffany : 32 tahun (belum muncul)

Kris : 40 tahun

Victoria : 19 tahun (belum muncul)

Luhan : 20 tahun (belum muncul)

Kai : 15 tahun (belum muncul)

Yoona : 15 tahun

Nah, lebih mudah kan, nebak posisi cast tersebut, kalo udah tahu umurnya? Hehe😀

Okay, give your opinion and see you on the next chapter ^^

Love,

Jung Minrin

8 thoughts on “[Mini Series] Extraordinary Love – Chapter 1

  1. @Sung_SooAe May 4, 2013 / 10:21 PM

    Ehem,,, ok udah agak mulai muncul… or terbesit dibayangan aku ye ye ye😀 Kai ya pasanganya sooyoung?? *reader soktau -_-”
    ditunggu next chapternya,,,, cepet dimunculin ya pasangan sooyoungnya, kalo kya gini sedih terus kan kg enak😀 *adohbanyakmaunya

    • idwinaya May 4, 2013 / 10:34 PM

      KaiSoo? Ditunggu dulu aja, ya? Hehe🙂
      Siplah, next chap bakalan aku munculin pasangannya Sooyoung ^^

  2. Febryza May 5, 2013 / 12:22 AM

    Jadi yulkris udah nikah? Terus tao sama siapa? Fany ? Victoria luhan sama kai siapa? Entar yg jadi pasangannya soo unnie siapa? Hahah banyak banget nanya ini

    • idwinaya May 5, 2013 / 7:01 AM

      Hehe, banyak pertanyaan, ya?
      Mungkin, akan terjawab next chap🙂
      So, ditunggu aja, ya😀

  3. dyahcloudself June 9, 2013 / 6:08 PM

    Aku kirain tadu Sooyoung eonni sama Tao gege
    Taunya anak sama ayah ^^

  4. Choi_Reni407 August 14, 2013 / 11:04 PM

    Aku salah!
    Trnyata Tao itu appa’a soo.. Haha
    daebak thor..

  5. liliknisa June 5, 2014 / 12:44 AM

    ditunggu part selanjutnya ^^
    keren

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s