[Oneshot] Angel

Angel

Title : Angel

Author : Idwinaya (@dina_issika)

Cast :

Sooyoung SNSD

Sehun EXO-K

Baekhyun EXO-K

Siwon Super Junior

Choi Soojin (Sooyoung’s Sister)

Length : Oneshot

Rating : PG

Genre : Romance, Friendship, Family, Sad

Author Note : This fic is requested by my beloved dongsaeng, Park Hyun Ni a.k.a. Yusni Fitri.

It was inspired by SHINee’s 1000 Years Always by Your Side and Postman to Heaven or Heaven’s Postman. So sorry, if the plot looks like Postman to Heaven. Actually, I’ve tried m best ._.v

Happy reading all!

***

Afure dasu omoi kore ga boku no ai
Sarani motto, motto ōkiku natte
Sugu ni subete wa tsutae kirenai
Itsuka tsutaetai
Moshimo zen nen kakatta to shite
Zutto boku no soba ni ite

 

Thoughts are overflowing, this is my love
Increased even more and more
All I can not tell immediately
I want to tell someday
As if I took 1000 years
But always by your side

 

-1000 Years by Your Side by SHINee

***

Oh Sehun doesn’t understand about love.

So, he learns it from a brokenhearted girl—Choi Sooyoung.

 

“I don’t understand it. Why do I have to learn about love from a brokenhearted girl?”

-Oh Sehun-

 

“Cause you’ll understand about love, after you treating a broken heart.”

-Byun Baekhyun-

***

“Oh Sehun?”, panggil sebuah suara yang tak lain adalah Sang Dewa Kematian—Byun Baekhun.

Oh Sehun—namja yang dipanggil itu—mendongak ke arah Sang Dewa Kematian. “Ne?”

“Aku memberimu tugas baru.”, ucap Baekhyun yang terduduk di singgasananya.

Sehun mendengus pelan. “Tugas lagi.”, gerutu Sehun.

Baekhyun menatap Sehun tajam. “Kau yang menginginkan ini semua, bukan?”, tanya Baekhyun.

“Ne, ne.” Sehun mengangguk pasrah. “Jadi, kali ini, siapa targetku?”, tanya Sehun malas.

Baekhyun mengambil selembar kertas dari meja kerjanya, lalu menunjukkannya pada Sehun. “Ini dia orangnya.”, ucap Baekhyun.

Sehun membaca kertas yang diberikan oleh Baekhyun. Tertera sebuah tulisan besar dan foto seorang gadis cantik yang tertempel disana.

Choi Sooyoung

***

Sehun menghentakkan kakinya ke tanah sebanyak beberapa kali. Jujur saja, ia bosan. Sangat bosan.

Well, Sehun sedikit menyesal karena telah membuat suatu perjanjian dengan si Dewa Kematian yang—menurutnya—menyebalkan dan hobi kerja paksa itu. Kali ini, Sehun mendapatkan tugas baru dengan target seorang gadis SMA bernama Choi Sooyoung. Entah kenapa, sejak pertama kali melihat data gadis itu, Sehun merasa begitu kesal pada gadis itu dan ingin segera menuntaskan masalah yang ditimbulkannya.

Menurut data yang diberikan oleh Baekhyun, Sooyoung selalu mengunjungi padang rumput di dekat rumahnya, terduduk di salah satu pohon tua yang terukir tulisan Choi Sooyoung. Tapi, Sehun sudah menanti disana selama satu setengah jam dan gadis yang ditunggunya itu belum muncul juga. Padahal, seharusnya, sejak satu jam yang lalu, Sooyoung sudah pulang dari sekolahnya dan mengunjungi tempat itu.

Sehun mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Padang rumput itu sepi. Sangat sepi. Tempat itu memang cocok bagi orang yang ingin menyendiri. Pantas saja, Sooyoung senang berkunjung kesana.

Sehun melihat sehelai bulu berwarna putih yang jatuh dari atas. Dia bisa merasakan suatu pertanda. Diambilnya bulu itu dengan segera. Meskipun bulu itu nampak polos, tapi tidak bagi Sehun. Sehun mampu membaca ‘tulisan’ pada bulu itu.

Bodoh! Jangan hanya menunggu! Coba cari dia di sekolah atau rumahnya. Mengerti?

Sehun mendengus pelan. Ia bisa menduga kalau pesan itu berasal dari Baekhyun. Akhirnya, Sehun pun memutuskan untuk mengikuti saran Baekhyun dan melangkah meninggalkan padang rumput itu menuju sekolah Sooyoung.

***

“Lama sekali.”, gerutu seorang gadis yang terduduk di halte bus di depan sekolah.

Sehun membulatkan matanya dengan sempurna ketika menyadari bahwa gadis yang dilihatnya saat ini adalah gadis yang sedang ia cari.

Choi Sooyoung

Sehun pun berjalan secara perlahan ke arah gadis itu. Lalu, ia pun ikut terduduk di halte bus. Sesekali, ia mencuri pandang ke arah gadis yang masih mengenakan seragam SMA-nya itu. Ia ingin sekali mengajak gadis itu berbincang, menyelesaikan tugasnya, sehingga ia bisa kembali ke tempatnya semula.

“An—”

“Oppa!”, seru gadis itu tiba-tiba.

Sehun berjingkat kaget dan langsung menoleh ke arah gadis itu. Gadis itu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju sebuah mobil sport berwarna hitam yang terhenti tepat di depan halte bus. Sehun hanya bisa mendesah pelan.

“Sooyoung.”, balas seorang namja yang keluar dari dalam mobil itu, lalu menghampiri Sooyoung. Well, namja itu bertubuh tinggi dan kekar. Tapi, wajahnya tidak terlihat sangar, melainkan ramah, apalagi karena dimple smile yang dimilikinya itu.

“Kenapa lama sekali, Oppa?”, tanya Sooyoung ketus.

“Maafkan Oppa, ne? Oppa harus menyelesaikan rapat dengan dewan direksi.”, ucap namja itu.

Sooyoung memalingkan wajahnya dengan sebal. “Aku tak peduli.”, kata Sooyoung ketus, lalu melenggang mengabaikan namja yang dipanggilnya Oppa itu dan langsung masuk ke dalam mobil sport yang dikemudikan Oppa-nya.

Sang Oppa hanya bisa menghela nafas panjang, melihat kelakuan dongsaeng-nya itu. Ia pun memutuskan untuk masuk ke dalam mobil sport itu.

Sehun menatap pemandangan di depan matanya itu dengan miris. Selama ini, ia melakukan tugas-tugas semacam ini hanya untuk mengerti arti sesungguhnya tentang cinta. Ia sering menghadapi orang-orang yang begitu mencintai orang lain dan rela berkorban apapun demi orang yang dicintainya.

Tapi, gadis bernama Choi Sooyoung ini? Gadis ini bersikap acuh tak acuh pada namja yang kelihatan begitu menyayanginya.

Well, kalau Sehun saja belum mengerti arti cinta dari orang-orang yang bisa mencintai dengan tulus, lalu bagaimana mungkin, Sehun bisa belajar arti cinta dari orang ketus seperti Sooyoung ini? Hmm, sepertinya ini akan menjadi awal yang panjang bagi Oh Sehun.

***

“Kau bercanda?”, tanya Sehun heran pada Baekhyun yang setia duduk di singgasananya.

Baekhyun memicingkan matanya, lalu menutup buku yang dibacanya. “Aku tak pernah bercanda, Oh Sehun.”, kata Baekhyun tajam.

“Gadis itu sangat aneh.”, ungkap Sehun. “Bagaimana mungkin, ada gadis seperti dirinya. Kulihat seorang namja yang begitu perhatian padanya, tapi malah diacuhkannya.”, tutur Sehun kesal.

“Well, kau belum tahu masalah yang sesungguhnya, kan?”, tanya Baekhyun.

Sehun menaikkan sebelah alisnya. “Maksudmu?”

PLUK

Baekhyun melemparkan sesuatu, sehingga tepat mengenai kepala Sehun.

“Auw.”, rintih Sehun.

Baekhyun menatap tajam ke arah Sehun. “Kau diciptakan bukan untuk menjadi bodoh, Oh Sehun.”, kata Baekhyun mengingatkan. “Gunakanlah otakmu.”, perintah Baekhyun.

Sehun mengusap kepalanya yang sedikit sakit. “Kupikir, otakku sudah berhenti berfungsi semenjak aku bekerja sama denganmu.”, kata Sehun.

Baekhyun mendengus pelan. “Sudahlah. Kau harus mencari cara untuk mengetahui masalah yang sesungguhnya.”, perintah Baekhyun. “Tidakkah sikapnya yang ketus itu cukup menjelaskan masalah yang ditimbulkannya?”, tanya Baekhyun mencoba menguji Sehun.

Sehun terdiam dan berpikir sejenak. “Aku tak tahu.” Sehun mengangkat kedua bahunya.

“Well, aku akan memberitahumu sesuatu.”, kata Baekhyun. “Gadis itu telah menghambat kerja divisiku. Jadi, aku harap, kau bisa menyelesaikan semuanya dengan segera.”, jelas Baekhyun.

Dahi Sehun berkerut. “Masalah macam apa, ya?”, gumam Sehun.

“Ah, dan kalau kau berhasil, sepertinya setelah ini kau bisa belajar tentang arti cinta yang sesungguhya, Oh Sehun. Gadis itu akan mengajarkanmu ‘sesuatu’.”, kata Baekhyun misterius.

Kerutan di dahi Sehun bertambah. Ia semakin tak mengerti saja dengan perkara ini.

***

“Sepertinya, aku terlambat.” Sehun terus berlari menuju pohon tua yang dikunjunginya kemarin. Dalam hati, ia berharap agar ia bisa bertemu dengan Sooyoung kali ini. Bagaimanapun juga, rasanya ia ingin mengakhiri tugas ini.

Sehun sudah tiba di pohon yang dicarinya. Nafasnya terengah. Jadi, ia berniat untuk mengatur nafasnya terlebih dahulu.

“Siapa kau?!”, teriak sebuah suara.

Sehun mendongak dan matanya langsung menangkap sosok Sooyoung yang melongok dari balik pohon. “A-aku—”

Sooyoung menatap curiga ke arah Sehun. “Oh, aku tahu! Aku melihatmu di halte bus kemarin!”, seru Sooyoung. “Sekarang, katakan apa maumu? Kau mau menculikku, ya?”, tuduh Sooyoung.

Sehun melongo. “Ti-tidak, kok!”, elak Sehun.

Sooyoung bersiap mengayunkan tas selempangnya ke arah Sehun. “Lalu, apa maumu?”, tanya Sooyoung tajam.

“Aku hanya sedang berkunjung kemari. Memangnya, tak boleh?”, balas Sehun dengan nada menantang. Well, bagaimanapun juga, dia adalah namja dan dia tak boleh kelihatan seperti sedang ketakutan pada Sooyoung.

“Aku tak percaya!”, seru Sooyoung.

Sehun terdiam, lalu mengangkat bahunya. “Terserah kau saja.”, balas Sehun santai, lalu memutuskan untuk duduk di atas tanah, sambil bersandar pada batang pohon yang besar dan kuat itu.

Sooyoung menatap jengkel ke arah Sehun. “Ya! ini tempatku, tahu!”, seru Sooyoung.

Sehun mendongak dan menatap Sooyoung dengan malas. “Siapa yang bilang?”

“Lihatlah tulisan ini! Ada namaku di pohon ini. Choi Sooyoung!”, tegas Sooyoung.

Sehun menganggunk mengerti. “Oh, jadi namamu Choi Sooyoung, ya?”, tanya Sehun.

Sooyoung menggeram kesal. “Makhluk apa sih, kau ini?! Menyebalkan sekali!”, gerutu Sooyoung kesal.

Sehun terkekeh. “Aku adalah malaikat.”, jawab Sehun tenang.

Sooyoung membatu, lalu tertawa terbahak-bahak. “Kurasa, aku sedang bicara dengan orang gila, ya?”, kata Sooyoun di sela tawanya.

“Hei, aku bersungguh-sungguh!”, seru Sehun tidak terima.

“Tak ada malaikat yang mengaku diri mereka malaikat, bodoh!”, cibir Sooyoung.

Sehun mendengus, menyadari kebodohannya sendiri.

“Lagipula, kau lebih terlihat seperti manusia. Maksudku, dandananmu modis sekali.”, komentar Sooyoung sambil memperhatikan penampilan Sehun.

Sehun ikut memperhatikan penampilannya saat ini. “Kalau aku datang ke dunia manusia, maka aku harus membaur dengan mereka.”, jelas Sehun.

“Oh?” Sooyoung menaikkan sebelah alisnya. “Sepertinya, kau sudah mempraktekkan dialog semacam ini berkali-kali, ya? Lancar sekali.”, sindir Sooyoung sekali lagi.

Sehun menggeram kesal, lalu bangkit dari duduknya. “Dengar, ya. Kau mau percaya atau tidak, yang jelas aku ini adalah malaikat.”, tegas Sehun. Sehun merasa jengkel dengan gadis itu dan ingin menyerah saja pada tugasnya kali ini. Ia rela dihukum bagaimanapun oleh Baekhyun. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk pergi meninggalkan Sooyoung seorang diri.

Hal ini membuat Sooyoung heran.

Diam-diam, Sehun tak sadar kalau ia telah meninggalkan barang berharga miliknya yang berhasil mengubah pemikiran Sooyoung.

Sooyoung mengambil sehelai bulu yang terjatuh dari tas selempang yang dibawa Sehun. “Jangan-jangan, dia benar-benar malaikat.”, gumam Sooyoung sambil memperhatikan bulu tersebut.

***

“Aku adalah malaikat.”, gumam seseorang.

Sehun langsung mencari sumber suara tersebut. Baekhyun yang sedang bergumam. “Kau sedang meledekku, eoh?”, tanya Sehun.

“Kalau kau merasa diledek, baiklah, aku memang meledekmu.”, jawab Baekhyun tenang.

Sehun mendengus pelan.

“Dengar, Oh Sehun. Kau bukanlah malaikat. Kau hanyalah mediator. Mengerti?”, jelas Baekhyun.

“Ne, aku mengerti. Hanya saja, menjelaskan mengenai mediator pada manusia itu sangat rumit.”, balas Sehun.

“Kalau begitu, kau tidak perlu memamerkan identitasmu.”, celetuk Baekhyun.

“Kalau tidak, maka dia akan semakin semena-mena padaku!”, tegas Sehun. “Dia tak akan menganggapku.”, imbuhnya.

“Well, kurasa kau tetap harus kembali ke bumi. Karena sepertinya, Sooyoung memiliki alasan untuk menganggap kehadiranmu.”, tutur Baekhyun, lalu tersenyum penuh misteri.

Sehun mengernyit. Untuk kesekian kalinya, ia tak mengerti dengan ucapan Sang Dewa Kematian.

***

“Hei! Hei, malaikat!”

Sehun mendengar suara yang tak asing—tapi menjengkelkan—bagi dirinya. Ia pun mencari sumber suara tersebut. “Sooyoung?”, gumamnya tak percaya.

“Hei! Kau malaikat yang kemarin, kan?”, tanya Sooyoung dengan suara kerasnya,

Sehun segera membekap mulut Sooyoung dan menarik Sooyoung hingga keduanya masuk ke dalam suatu gang sempit dan agak gelap. “Jangan keras-keras!”, pekik Sehun.

Sooyoung berusaha melepaskan tangan Sehun yang membungkam mulutnya. “Kenapa? Kau takut, ya? Ini pasti karena kau bukan malaikat sungguhan, ya?”, tebak Sooyoung.

Sehun mendengus pelan. “Dengar, ya. Aku adalah malaikat yang sedang mendapat tugas di bumi. Jadi, aku harus merahasiakan identitasku.”, jelas Sehun.

Sooyoung mengangguk mengerti. “Lalu, kenapa kau memberitahukan identitasmu padaku?”, tanya Sooyoung tak mengerti.

Sehun terdiam dan mencoba mencari jawabannya. “Karena aku harus meminta bantuan darimu.”, jawab Sehun akhirnya.

Sooyoung melongo kaget. “Kalau aku tak bersedia?”, tanya Sooyoung.

Sehun mengangkat bahunya. “Tak apa.”, balasnya santai. “Jadi aku tak perlu memberikan upah pada gadis menyebalkan sepertimu.”, ucap Sehun.

“Eh? Upah?” Mata Sooyoung membulat sempurna. “Upah seperti apa?”, tanya Sooyoung penasaran.

Sehun tersenyum misterius. “Rahasia.”, balasnya. “Kalau kau sudah selesai membantuku, barulah aku memberitahukan upahku untukmu.”, jelas Sehun.

Sooyoung termenung. “Kau bukan orang jahat, kan?”, tanya Sooyoung was-was.

Sehun terkekeh pelan. “Waeyo? Kau pikir aku ini apa? Mucikari?”, balas Sehun.

“Kurasa kau adalah orang yang baik.”, gumam Sooyoung. “Baiklah, aku bersedia bekerja padamu.”, ucap Sooyoung.

“Eh? Jinjja?”, tanya Sehun tak percaya.

“Ne.”, balas Sooyoung malas.

“Eh, tapi apa yang mendadak mengubah pikiranmu tentangku? Maksudku, kemarin kau berpikir kalau aku bukanlah malaikat.”, tanya Sehun heran.

“Well, sesungguhnya, sampai sekarang pun, aku belum bisa percaya sepenuhnya padamu. Tapi, apa boleh buat.”, jawab Sooyoung. “Lagipula, kemarin aku menemukan ini. Jadi, kupikir kau serius dengan ucapanmu.”, lanjut Sooyoung sambil menunjukkan sehelai bulu.

Sehun mengambil bulu tersebut. Oh! Betapa cerobohnya aku!

“Oh ya, kenalkan, namaku Sooyoung.”, kata Sooyoung. “Kau?”

“Sehun. Namaku Oh Sehun.”

***

“Jadi, tugas macam apa yang harus kita lakukan?”

Sehun menatap Sooyoung yang seang menjilat es krim di sendoknya. Sekilas, Sehun merasa gadis itu tak seburuk yang dia pikirkan. Sepertinya, gadis itu masih memiliki sisi lembut. “Well, kita bertugas untuk memberikan orang-orang peringatan.”, jelas Sehun.

“Peringatan macam apa?”, tanya Sooyoung dengan polosnya.

Sehun berpikir sejenak, mencoba mencari kata yang tepat. “Peringatan tentang kematian.”, jawab Sehun ragu. Ia memang payah dalam kosakata.

“Peringatan tentang kematian?”, gumam Sooyoung heran. “Maksudmu, kita memperingatkan orang yang akan mati, begitu?”, tanya Sooyoung memastikan.

“Bukan, bukan.”, jawab Sehun cepat. “Lebih tepatnya, kita seperti memberikan pertanda kepada orang-orang di sekitarnya.”, tegas Sehun.

“Oh.” Sooyoung mengangguk mengerti, lalu kembali menyuapkan sesendok es krim ke mulutnya. “Lalu, siapa yang harus kita peringatkan?”, tanya Sooyoung.

Sehun mengeluarkan sebuah buku usang dari dalam tasnya. Dibukanya buku itu pada salah satu halaman. “Namja ini.”, kata Sehun sambil menunjuk foto seorang namja di bukunya.

Sooyoung melihat foto tersebut dengan seksama. “Lalu, kapan kita mulai?”, tanya Sooyoung.

“Lebih cepat, lebih baik. Waktu yeojachingu-nya tidak akan lama lagi.”, kata Sehun memberitahu.

“Eh? Yeojachingu?”, tanya Sooyoung heran.

“Ne.”, jawab Sehun. “Kita harus memperingatkan namja itu karena yeojachingu-nya akan segera meninggal dalam kecelakaan besok lusa.”, tutur Sehun.

“Baiklah, kalau begitu, kita harus cepat!”, seru Sooyoung sambil menarik lengan Sehun secara tiba-tiba.

Sehun pun terpaksa mengikuti Sooyoung dengan tergesa. Ada suatu rasa yang membuat hatinya berdesir ketika Sooyoung menyentuhnya. Satu rasa yang tak akan pernah bisa dijelaskan oleh mediator seperti Oh Sehun.

***

“Jadi, siapa yang akan menemuinya?”

Sehun menyipitkan matanya, menatap Sooyoung. Ia mengembangkan sebuah senyuman misterius.

“Jangan bilang, kau menyuruhku.”, desis Sooyoung.

“Sekarang, siapa yang bekerja pada siapa?”, tanya Sehun tajam.

Sooyoung mendengus pelan. “Tapi, aku kan, masih amatir. Setidaknya, kau memberiku petunjuk.”, kata Sooyoung memelas.

“Sudahlah, cepat lakukan saja. Aku yakin, gadis cerdas sepertimu pasti punya banyak ide.”, kata Sehun sambil mendorong tubuh Sooyoung.

“Baiklah. Aku akan maju. Tapi jangan menyalahkanku kalau aku melakukan kesalahan, ne?”, balas Sooyoung.

“Ne.”, balas Sehun malas.

Sooyoung pun melangkah menuju sosok namja yang menjadi targetnya itu.

Namja itu sedang terduduk di sebuah bangku taman sambil mengutak-atik ponselnya.

“Annyeong.”, sapa Sooyoung. “Bolehkah aku duduk disini?”, tanya Sooyoung ramah.

Namja itu mendongak, menatao Sooyoung dengan tatapan ragu. “Silakan.”, jawab namja itu.

Sooyoung tersenyum senang. “Wah, gamsahamnida.”, ucap Sooyoung, lalu terduduk di samping namja itu.

Seketika, keheningan menyelimuti mereka. Sooyoung bingung cara memulai percakapa diantara mereka. “Kau sendirian saja? Tidak sedang menunggu seseorang?”, tanya Sooyoung.

Namja itu menoleh ke arah Sooyoung. “Ani, aku sedang sendiri.”, jawab namja itu.

“Yeojachingumu?”, tanya Sooyoung lagi.

“Hm, dia sedang berada di Jepang. Lusa, dia baru kembali ke Seoul.”, jelas namja itu.

“Oh.” Sooyoung mengangguk mengerti. “Jepang sangat indah. Tapi kenapa kau tak ikut kesana?”

“Dia sedang dalam urusan pekerjaan, makanya aku tak bisa mengganggunya.”, jelas namja itu.

“Sudah berapa lama dia pergi?”, tanya Sooyoung.

“Sekitar sebulan.”, jawab namja itu.

Sooyoung tercekat. Sebulan berpisah dan mereka dipertemukan kembali saat si gadis dalam keadaan kritis dan nyaris meninggal? Sehun pasti bercanda! “Kau pasti sangat merindukannya, ya?”, tebak Sooyoung.

Namja itu memasukkan ponsel ke dalam saku celananya. “Rindu? Pasti.”, kata namja itu. “Tapi ada satu hal yang lebih besar dari rasa rindu itu. Yaitu rasa cinta kami yang besar.”, tuturnya.

“Eh?”

“Ya, meskipun kami berpisah sejauh dan selama apapun, kalau kami saling mencintai, rasanya semua akan begitu mudah.”, kata namja itu sambil menatap langit. “Bahkan, kalaupun suatu saat nanti maut memisahkan kami, aku tak akan keberatan. Karena kami saling mencintai.”, lanjutnya.

Sepertinya, namja ini sangat siap menghadapi apapun. “Apakah itu tidak sulit? Kalian kan, sangat saling mencintai.”

Namja itu tersenyum. “Mungkin, awalnya memang sulit. Tapi sejak awal, aku sudah sadar, bahwa Tuhan pasti telah menyiapkan sesuatu bagi kami.”, jelas namja itu.

Sooyoung kagum dengan namja yang ada di hadapannya ini. Tak terasa, air mata mengalir turun begitu saja di pipinya. Jujur saja, Sooyoung belum pernah mengetahui rasa cinta yang begitu dalam seperti itu.

***

“Ya! Kenapa kau menangis?”

Sooyoung masih sibuk mengusap air matanya, lalu menatap Sehun tajam. “Kisah cinta mereka mengharukan bagiku. Namja itu mencintai yeojachingunya dengan tulus.”, tutur Sooyoung.

“Sepertinya, keputusanku mengutusmu tadi adalah keputusan yang salah.”, gumam Sehun. “Kupikir, kau lebih kuat dari ini. Ternyata, kau sangat cengeng.”, imbuh Sehun.

Sooyoung cemberut mendengar ucapan Sehun.

“Sooyoung! Sooyoung!”, seru sebuah suara.

Sehun nampak bingung. “Siapa yang memanggilmu?”

Sooyoung mengenali suara tersebut dengan baik. “Itu suara Oppa-ku!”, pekik Sooyoung.

“Soo, kau di… sini?” Muncul seorang namja tampan dari balik pohon tempat Sooyoung dan Sehun berada. Sepertinya, namja itu terkejut karena melihat Sooyoung yang tak sendiri.

“Ada apa, Oppa?”, tanya Sooyoung ketus.

Sehun terkejut melihat perubahan sikap Sooyoung.

“Ayo kembali, Soo. Sekarang sudah malam.”, ucap namja itu, sambil menyentuh pundak Sooyoung.

“Aku belum mau kembali.”, kata Sooyoung sambil menghempaskan tangan Oppa-nya dari pundaknya.

“Waeyo, Soo? Oppa akan menjenguk Eonni-mu. Kau tak ingin ikut?”, tawar namja itu.

“Tidak, Siwon Oppa!”, tegas Sooyoung. “Aku tak akan menjenguknya.”, tegasnya lagi.

Namja bernama Siwon itu mendesah pelan. “Tapi, Soojin Noona pasti sangat merindukanmu.”, kata Siwon lirih.

“Kalau dia merindukankanku, biar dia yang menemuiku.”, kata Sooyoung sinis. “Sudahlah, aku masih ingin bersama Sehun. Ayo Sehun!” Sooyoung menarik lengan Sehun dan mengajak namja itu pergi.

Sehun menoleh ke arah Siwon. Ia menatap tepat ke manik matanya. Suasananya memang gelap. Tapi Sehun bisa melihat dengan jela, kalau mata Siwon memaancarkan kesedihan yang mendalam.

***

“Kenapa kau bersikap begitu pada Oppa-mu?”

Sooyoung langsung memasang wajah cemberut. “Aku benci pada semua anggota keluargaku.”, jawab Sooyoung ketus.

“Waeyo?”, tanya Sehun heran. “Kelihatannya, dia sangat menyayangimu. Aku yakin, kalau keluargamu yang lain juga menyayangimu.”, ucap Sehun mantap.

Sooyoung tertunduk lesu. “Kalau mereka menyayangiku, tak mungkin mereka semua meninggalkanku.”, ucapnya lirih.

“Maksudmu?”

“Orang tuaku meninggal sejak aku masih kecil. Sejak saat itu, aku hanya tinggal bertiga dengan Oppa dan Eonni-ku. Oppa-ku adalah orang yang gila kerja dan sangat sibuk, sehingga dia tak memiliki waktu untukku. Sementara Eonni-ku,” Sooyoung menggantungkan kalimatnya. “aku tak ingin membahas mengenai mereka lagi. Yang jelas, aku membenci mereka. Titik.”, tegas Sooyoung.

Sehun terdiam. Ia tak mengerti dengan semua ini. Apakah aku harus mempelajari cinta dari seorang gadis yang hidup dengan kebencian seperti Sooyoung?

***

“Aku tak mengerti dengan semua ini. Mengapa aku harus belajar cinta dari seorang gadis sakit hati seperti Sooyoung?”

Baekhyun menatap Sehun lekat-lekat, lalu tersenyum. “Well, kau akan mengerti cinta setelah mengobati hati yang terluka.”, jawab Baekhyun.

Sehun mengernyit tak paham. “Maksudmu?”

Baekhyun turun dari singgasananya dan menghampiri Sehun. “Kadang, kita harus belajar sesuatu dari sisi buruknya. Dari sisi yang jarang dilihat oleh banyak orang.”, kata Baekhyun. “Dan dalam mempelajari cinta, kau juga tak bisa sekedar mempelajarinya dari orang-orang yang dimabuk asmara. Kadang, kau juga harus belajar dari orang yang patah hati.”, lanjutnya.

“Tapi, apa aku harus menyembuhkan luka di hati Sooyoung?”, tanya Sehun.

“Tentu saja.”

“Tapi, aku kan, tidak mengerti arti cinta.”, elak Sehun.

“Ketika kau mengerti cinta, maka secara tidak langsung, kau juga sudah mengobati lukanya.”, balas Baekhyun misterius.

Well, untuk kesekian kalinya, Sang Dewa Kematian membuat Sehun tak paham.

***

“Jadi, siapa target kita kali ini?”

Sehun menunjukkan foto seorang bocah di bukunya. “Bocah kecil ini.”, kata Sehun.

“Eh? Bocah ini lucu sekali.”, puji Sooyoung. “Aku tak akan tega padanya.”, ucap Sooyoung melas.

Sehun mendengus pelan, melihat sikap melodramatis Sooyoung.

“Jadi, kau saja yang menemuinya, ya?”, mohon Sooyoung.

“Mwo? Aku?” Sehun terkejut. “Andwae!”, seru Sehun.

“Ish, kau ini.”, cibir Sooyoung. “Kalau kau menyuruhku lagi, bisa kupastikan kalau aku akan menangis lagi.”, kata Sooyoung.

Sehun mendesah pelan. “Baiklah kalau begitu.”, jawab Sehun pasrah.

“Kalau begitu, ayo kita temui bocah ini!”, seru Sooyoung semangat.

Sehun hanya mengerjap bingung ke arah Sooyoung. Ia tak mengerti dengan kepribadian gadis ini. Sesungguhnya, yang manakah Sooyoung?

***

“Hyung, bisa bantu aku?”

Sehun melongo ke arah bocah yang dicarinya itu mengajaknya bicara. “Ne?”

“Tolong bantu aku bermain ayunan.”, mohon bocah itu.

Sehun tersenyum. “Ne, cepatlah naik.”

Bocah itu nampak antusias, lalu segera duduk di atas ayunan.

“Kau sudah siap?”, tanya Sehun memastikan.

“Ne, aku sudah siap!”, seru bocah itu.

Sehun pun mulai mendorong ayunan itu. Sehun senang ketika melihat bocah itu tersenyum bahagia.

“Hyung, ini menyenangkan sekali. Terima kasih karena telah membantuku.”, ucap bocah itu tulus.

“Ne, tentu saja.”, balas Sehun ramah. “Kau sendiri? Mana orang tuamu?”, tanya Sehun.

Bocah itu tertunduk lesu. “Umma sedang dirawat di rumah sakit, jadi Appa harus menunggu Umma.”, jelas bocah itu.

“Lalu, kenapa kau tak menunggui Umma-mu juga?”, tanya Sehun.

Bocah itu memanyunkan bibirnya. “Aku benci rumah sakit, Hyung.”, ucap bocah itu. “Dulu, Harabeoji meninggal karena dirawat di rumah sakit.”, celetuk bocah itu,

Sehun tertawa kecil. “Harabeoji-mu meninggal bukan karena rumah sakit.”

“Lalu, karena apa?”

“Karena ini semua adalah takdir Tuhan.”, kata Sehun.

“Takdir Tuhan?”

“Ne.” Sehun mengangguk. “Lagipula, Tuhan pasti sangat menyayangi orang-orang yang dipanggilnya.”, tutur Sehun.

“Jinjja?”, tanya bocah itu nampak tak percaya. “Tapi, aku juga menyayangi Harabeoji.”

Sehun mencolek hidung bocah itu. “Itulah sebabnya. Tuhan juga ingin menguji rasa sayangmu pada Harabeoji-mu. Apakah kau masih menyayangi Harabeoji-mu meski dia sudah pergi?”, tutur Sehun.

“Tentu saja! Aku masih sangat menyayangi Harabeoji.”, seru bocah itu semangat. “Sekarang, aku sudah mengerti, Hyung.”

“Ne, anak pintar.” Sehun mengusap rambut bocah itu. “Jadi, kau mau kembali lagi ke rumah sakit?”

“Ne, Hyung. Terima kasih sudah menemaniku bermain.”, ucap bocah itu. “Annyeong!”, pamitnya.

Sehun tersenyum puas atas kerjanya kali ini. Ia menoleh ke arah semak-semak tempat persembunyian Sooyoung. Dari kejauhan ia bisa melihat butiran kristal turun di pipi Sooyoung. Gadis itu menangis lagi?

***

“Kau menangis lagi?”

“Tidak!”, seru Sooyoung bohong.

Sehun mendengus pelan. “Jangan bohong. Aku melihat air matamu dengan jelas.”, tuduh Sehun. “Lagipula, apa salahnya kalau menangis? Kurasa, itu membuatmu lebih manusiawi.”, imbuhnya.

Sooyoung terdiam dan menatap Sehun lekat-lekat. “Memangnya, selama ini aku terlihat tidak manusiawi?”, tanya Sooyoung.

“Well, selama ini, kukira kau adalah gadis yang dingin dan menyebalkan.”, ungkap Sehun jujur. “Tapi aku sadar, meski begitu, kau punya sisi-sisi lembut.”, kata Sehun menambahkan.

Sooyoung tersipu malu.

“Bahkan, aku yakin, kalau sikap ketusmu pada anggota keluargamu itu hanyalah topeng.”, kata Sehun. “Kau menyayangi mereka, kan?”, tebak Sehun.

Sooyoung mendengus sebal. “Terserah kau saja.” Sooyoung  bangkit dari duduknya. “Aku harus pulang. Annyeong.”, pamitnya, lalu melangkah meninggalkan Sehun.

Sehun hanya bisa menghela nafas panjang. Bisakah aku menemukan arti cinta darinya?

***

“Kurasa, kita harus bekerja sama kali ini.”

Sooyoung mengerjap bingung. “Bukankah kita memang sudah bekerja sama, ya?”, tanya Sooyoung bingung.

“Ani, maksudku, kali ini, kita harus muncul bersama. Ottokhae?”, tawar Sehun.

Sooyoung terdiam, sedang menimbang-nimbang. “Arrasseo.”, jawab Sooyoung, akhirnya. “Memangnya, siapa target kita kali ini?”, tanya Sooyoung.

“Ahjussi ini.”, kata Sehun sambil menunjukkan foto seorang namja paruh baya di bukunya.

Sooyoung mengangguk mengerti. “Kali ini, masalahnya apa?”, tanya Sooyoung.

Sehun tersenyum sambil menutup bukunya. “Ahjussi ini memiliki seorang anak lelaki. Beberapa bulan yang lalu, anaknya divonis menderita kanker paru-paru.”, tutur Sehun.

Sooyoung langsung membatu.

“Maka dari itu, sekarang, anaknya sedang dirawat di rumah sakit. Ahjussi ini memang peduli dan sayang pada anaknya. Dia mengirimkan sejumlah uang untuk perawatan anaknya. Hanya saja,” Sehun menarik nafas dalam-dalam. “Ahjussi ini tidak pernah mengunjungi anaknya, hanya karena dia sudah merasa gagal dalam menjaga putranya.”, lanjut Sehun. “Jadi, tugas kita adalah untuk menyadarkan Ahjussi itu sekaligus memperingatkan tentang kepergian anaknya sebentar lagi.”

Sooyoung tertunduk lesu. “Ne, aku mengerti.”

“Kau kenapa, Soo?”, tanya Sehun cemas.

“Gwaenchana, Sehun.” Sooyoung menggeleng lemas.

Meski begitu, Sehun tahu betul arti perubahan sikap Sooyoung. Mungkinkah Sooyoung sudah menyadari semua kesalahannya selama ini? Apakah ini berarti tugas Sehun akan segera selesai?

Entah kenapa, Sehun seolah ingin menarik kata-katanya. Ia tak ingin berpisah dari Sooyoung. Ia ingin bersama dengan Sooyoung bahkan untuk 1000 tahun lagi.

***

“Kalian terlihat sangat serasi.”

Sehun dan Sooyoung berjingkat kaget, dan langsung menoleh ke arah sumber suara tersebut. Ternyata, ahjussi yang mereka cari itu menyapa mereka terlebih dahulu.

“Kalian mengingatkanku pada masa mudaku dengan istriku. Benar-benar sangat serasi dan romantis.”, timpal ahjussi itu.
“Ah, kami—”

“Sudahlah, tak apa. Aku bisa mengerti kisah cinta remaja.”, ucap ahjussi itu menyela ucapan Sooyoung. “Bagaimana kalau kalian kuajak masuk ke dalam rumahku saja?”, usulnya.

Sehun dan Sooyoung saling berpandangan.

“bolehkah?”, tanya Sehun lembut.

‘Tentu saja. Asal kalian tak keberatan saja.”, balas ahjussi itu.

Sehun dan Sooyoung tersenyum lembut.

“Baiklah, ayo masuk.”, ajak sang ahjussi.

Sehun dan Sooyoung pun mengikuti langkah ahjussi tersebut masuk ke dalam rumahnya yang mewah, namun terkesan sunyi itu.

“Anda tinggal sendiri?”, tanya Sooyoung.

Ahjussi itu tersenyum tipis. “Begitulah.”, jawabnya santai. “Ngomong-ngomong, kalian ingin minum apa?”, tanya ahjussi itu.

“Moccachino.”, jawab Sehun dan Sooyoung serempak.

Ahjussi itu terkekeh pelan. “Kalian benar-benar sangat kompak.”, pujinya. “Tunggulah dulu, aku akan buatkan Moccachino-nya.”, katanya sambil berlalu meninggalkan Sehun dan Sooyoung di ruang tengah rumah Ahjussi tersebut.

Sooyoung mendengus. “Jangan mengikutiku.”, desis Sooyoung.

“Mwo? Siapa yang mengikutimu?”, tanya Sehun heran.

“Terserah kau sajalah.”, gumam Sooyoung. “Hei, lihat! Sepertinya, ahjussi ini hidup sangat bahagia, ya?”, tanya Sooyoung.

“Sepertinya begitu.”, gumam Sehun. “Eh, tunggu. Kurasa aku harus ke kamar kecil.”, ucap Sehun.

“Ya sudah. Cepat sana. Temui ahjussi itu.”, perintah Sooyoung.

Sehun pun meninggalkan Sooyoung dan pergi menemui ahjussi tadi untuk menanyakan letak kamar kecil.

Sooyoung hanya tertawa kecil melihat tingkah lucu Sehun. Tiba-tiba, matanya tertuju pada tas milik Sehun yang ditinggalkan di atas sofa. Penasaran, dibukanya tas tersebut. Tas tersebut hanya berisi buku yang selalu dibawa Sehun. Sooyoung pun mengambil buku itu dan mulai membaca isinya.

Sooyoung membaca setiap halaman pada buku itu. Hingga akhirnya, ia berhenti pada satu halaman yang membuatnya tercengang. Ada sebuah foto dari sosok yang begitu ia kenal.

Choi Soojin

Seketika, air mata Sooyoung menetes di pipinya.

***

“Anda punya seorang putra, ya?”

Ahjussi itu tersenyum kecil. “Ne.”, jawabnya singkat.

“Apakah dia sudah menikah?”, tanya Sehun lagi.

“Belum.”, jawab ahjussi itu dengan singkat lagi.

“Lantas, kenapa Anda sendirian di rumah ini?”, tanya Sehun heran.

Ahjussi itu mendesah panjang. “Ceritanya panjang, Nak.”, ucap Ahjussi itu.

“Putra Anda sedang berada di rumah sakit karena menderita kanker paru-paru, kan?”, tanya Sooyoung tiba-tiba. Sedari tadi, Sooyoung mendadak menjadi diam.

Sehun mengernyit tak mengerti dengan ucapan Sooyoung. Sehun melemparkan tatapan kau-ingin-menggagalkan-rencana-kita-?

Ahjussi itu pun hanya terdiam.

“Selama ini, dia sakit parah, tapi Anda tak pernah mencoba menjenguknya.”, gumam Sooyoung. “Tak tahukah Anda bahwa putra Anda membutuhkan lebih dari sekedar uang untuk bisa sembuh? Dia membutuhkan Anda.”, jelas Sooyoung dengan suara yang bergetar.

“Bagaimana kalian bisa tahu?”, tanya sang ahjussi tak percaya.

“Karena kami harus menyampaikan satu pesan pada Anda.”, ucap Sooyoung.

“Sooyoung!”, seru Sehun.

“Apa, Sehun?”, tantang Sooyoung.

“Kau mau bicara apa?”, tanya Sehun lirih.

Sooyoung mengusap air matanya yang mulai menetes. “Ini tugasmu kan, Sehun? Memberikan pertanda itu? Benar, kan?”, tanya Sooyoung.

“Tapi Soo, kau tahu bukan seperti ini caranya.”, balas Sehun.

“Lalu seperti apa?” Suara Sooyoung mulai meninggi. “Maksudmu dengan menyembunyikan dariku bahwa Eonni-ku juga ada dalam daftarmu, begitu? Apakah hidupmu hanya dipenuhi dengan kebohongan, Oh Sehun?”, tanya Sooyoung tak percaya.

“Tunggu dulu, kalian membicarakan apa?”, tanya ahjussi itu kebingungan.

“Dengar, Ahjussi. Namja ini akan membawakan kabar bahwa sebentar lagi putramu akan meninggal karena penyakit yang dideritanya.”, tegas Sooyoung. “Mudah sekali kan, mengatakannya? Lantas, kenapa kau harus membohongiku selama ini, Oh Sehun?”, tanya Sooyoung tajam.

“Putraku?”, racau Ahjussi itu.

“Dengarkan aku, Soo.”, mohon Sehun.

“Tak ada yang perlu kudengar, Oh Sehun.”, tegas Sooyoung. “Kau perlu tahu bahwa aku akan sangat membencimu seumur hidupku, Oh Sehun.” Sooyoung pun berlari meninggalkan tempat tersebut.

Sehun menatap miris ke arah Sooyoung. Mungkin, Sehun memang berhasil membuat Sooyoung menyadari kesalahannya selama ini. Tapi haruskah perasaannya yang menjadi imbalannya?

***

3 hari kemudian…

“Sooyoung?”

Sooyoung mendongakkan kepalanya dan menemukan ahjussi paruh baya yang pernah ditemuinya itu berdiri di hadapannya. “Ahjussi.” Sooyoung membungkuk hormat pada ahjussi itu.

Ahjussi itu pun duduk di samping Sooyoung, di ruang tunggu rumah sakit. “Siapa yang sakit?”, tanya ahjussi itu.

“Aku sedang menjenguk Eonni-ku.”, ucap Sooyoung.

“Oh, Eonni yang kau bicarakan dengan namja itu, ya?”, tebak ahjussi itu.

Sooyoung mengangguk. “Bagaimana kabar putramu?”, tanya Sooyoung agak takut.

Ahjussi itu tersenyum lebar. “Putraku sudah mencapai kebahagiannya.”, jawabnya. “Kurasa, aku harus berterima kasih padamu karena telah menyadarkanku.”, ucap ahjussi itu tulus.

“T-tapi…”

“Aku memang sempat merasa sedih setelah kau mengatakan hal itu. Tapi aku sadar, bahwa selama ini, aku juga salah. Mungkin, kalian adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk memperingatkanku.”, tutur Ahjussi itu.

Sooyoung tertunduk. Kata ‘malaikat’ membuat dia teringat akan namja bernama Oh Sehun itu.

“Lalu, bagaimana hubunganmu dengan Sehun?”, tanya ahjussi itu.

Sooyoung mendesah pelan. “Kami tidak bertemu lagi sejak saat itu.”

Ahjussi itu tersenyum. “Sesungguhnya, Sehun adalah namja yang baik. Semuanya bisa terlihat dari sikapnya.”, ungkapnya. “Lagipula, sepertinya dia sangat mencintaimu. Caranya menatapmu selalu penuh kasih. Bahkan, ketika kau meninggalkannya begitu saja, namja itu nampak sangat sedih dan terpukul.”

Sooyoung ternganga. Ia tak menyangka dengan kenyataan itu. Benarkah Sehun mencintainya? Tapi, mereka kan, berada di dunia yang berbeda. Manusia dan malaikat. Mana mungkin mereka bisa bersatu?

“Ah, kurasa, aku harus segera pulang, Sooyoung.”, pamit ahjussi itu. “Sekali lagi, terima kasih atas bantuanmu. Dan aku menitipkan pesan pada Eonni-mu, semoga dia cepat sembuh.”, katanya tulus.

“Ne. Gomawo, Ahjussi.”, balas Sooyoung ramah.

Sepeninggalnya Ahjussi itu, Sooyoung hanya duduk termenung di tempatnya. Tiba-tiba saja, ia dikejutkan dengan kemunculan suatu benda di hadapannya.

Bulu

Mungkinkah, Sehun sedang ada disisinya?

***

Sooyoung mengayunkan kedua kakinya dengan bosan. Ia merasa bosan karena harus menunggu Oppa-nya yang masih mengadakan rapat dengan client-nya. Well, akhir-akhir ini, Sooyoung memang lebih dekat dengan Siwon. Maklum saja, kini hanya mereka berdua yang tersisa dari keluarga Choi.

Eonni Sooyoung?

Well, Choi Soojin sudah meninggal sekitar 2 bulan yang lalu karena penyakitnya.

Untung saja, Sooyoung sudah bersedia memaafkan kakaknya tepat sebelum kakaknya pergi. Hal itu benar-benar membuat kakaknya pergi dengan tenang. Sejak saat itu pula, Sooyoung menjadi semakin dekat dengan Siwon. Siwon pun lebih sering menghabiskan waktunya dengan Sooyoung daripada dengan pekerjaannya.

Sooyoung mengerjap kaget ketika sehelai bulu melayang turun di hadapannya. Ia segera menggapai bulu itu. Bulu selalu mengingatkannya pada Sehun. Sayangnya, Sehun tak pernah muncul lagi di hadapannya sejak saat itu.

“Hei!”, seru seseorang.

Sooyoung mendongak. Tubuhnya membeku seketika, saat ia menyadari sosok yang ada di depan matanya. “S-sehun?”

Namja itu mengernyit. “Kau kenal aku?”, tanya namja itu.

“Kau Oh Sehun, kan?”, tanya Sooyoung sekali lagi.

“Ne.”, jawab namja itu ragu. “Tunggu dulu, apakah kau Choi Sooyoung?”

“Ne, Sehun!”, seru Sooyoung yang langsung memeluk tubuh Sehun.

“K-kau?” Sehun nampak tak percaya dengan kenyataan ini. “Aku tak menduga akan bertemu denganmu lagi.”

“Aku juga.”, kata Sooyoung sambil terisak. “Kemana saja kau selama ini?”

“Aku harus mengikuti pemulihan setelah mengalami koma yang panjang.”, jawab Sehun.

“Koma?”, tanya Sooyoung tak percaya.

“Ne. Ceritanya sangatlah panjang, Soo. Kecelakaan, koma, pertemuan dengan Dewa Kematian dan akhirnya, pertemuanku denganmu.”, tutur Sehun.

Sooyoung memeluk Sehun lebih erat. “Aku tak peduli, asalkan aku bisa bertemu denganmu.”, ucap Sooyoung tulus.

Sehun pun membalas pelukan itu semakin erat.

***

“Aku sudah gagal.” Sehun nampak lesu ketika menghadap sang Dewa Kematian.

Baekhyun tertawa kecil. “Siapa bilang kau gagal?”

“Misiku sudah terbongkar.”, jelas Sehun kesal.

“Misimu? Setahuku, misimu selama ini adalah untuk mencari arti cinta yang sesungguhnya.”, kata Baekhyun.

Sehun menatap Baekhyun heran. “Maksudmu?”

“Bukankah kau hanya bertujuan untuk mencari arti cinta?”, tanya Baekhyun memastikan.

“Ne. Tapi…”

Baekhyu tertawa. “Selama ini kau bodoh, Oh Sehun. Kau tak sadar ya, bahwa sebenarnya, orang-orang yang kau tolong itu adalah mediatormu. Mediatormu untuk mencari arti cinta sesungguhnya.”, jelas Baekhyun.

Sehun mencerna ucapan Baekhyun dengan cepat. “Sooyoung?”

“Well, kau akan mengetahuinya setelah ini.”, ucap Baekhyun.

“Setelah ini? Apa yang akan terjadi setelah ini?”

“Pergilah ke pintu itu, Oh Sehun.”, perintah Baekhyun sambil menunjuk sebuah pintu besar berwarna coklat. “Kau sudah menyembuhkan hati yang terluka, jadi bisa kupastikan kau mengerti arti cinta. Dan kau pantas mendapatkan cinta itu.”, ucap baekhyun misterius.

Dan untuk terkahir kalinya, Sehun kembali dibuat tak paham oleh Sang Dewa Kematian.

THE END

***

EPILOG

“Jadi, apakah kau sudah belajar arti cinta?”

“Belum, Soo.”

“Belum? Setelah sekian lama, kau tetap belum mengerti arti cinta?”

“Well, itulah sebabnya aku ingin menghabiskan hidupku denganmu. Agar aku bisa mengerti arti cinta yang sesungguhnya.”

***

Huwee *nangis di pojokan*

FF gagal saya yang selanjutnya, nih. Saya mau minta maaf yang sebesar-besarnya sama Yusni yang sudah menanti-nanti FF ini. Saya janji untuk publish sebelum tahun baru. Jadi, saya bela-belain publish di tengah malam. Sekalian untuk merayakan tahun baru. Hoho~

Saya rasa, ff ini ancur banget. Kosakata saya mendadak nggak berkembang dan penulisannya kasar banget. Lagian, saya juga udah males ngedit. Alesannya? Saya nggak mau dibikin frustasi lagi u.u

Jadi, saya minta maaf kalau banyak typo yang bertebaran. Saya bener-bener mohon maaf.

Saya harap, readers bisa mengambil sisi positif ff ini.

Okelah. Sehancur apapun ff ini, saya harap review dari readers, okay?

Gomawo ^^

22 thoughts on “[Oneshot] Angel

  1. Febryza January 1, 2013 / 11:52 AM

    Baguuusss… Walaupun engga dijelasin kenapa sehun bisa dikasih misi itu

    • idwinaya January 1, 2013 / 6:34 PM

      Hehe, gomawo…
      Mian, kalo nggak dijelasin. Jd pas koma, dia itu ditemui sm Baekhyun dan ditawari utk menjalani misi itu. Akhirnya, Sehun mau😀
      Okesip, gomawo udah baca n comment ^^

  2. valen January 12, 2013 / 11:09 AM

    wah
    ff nya bagus
    daebak
    chingu kalo boleh request bikir pairing nya soo sama exo donk siapa aja deh yang penting member exo , kalo bisa sih kris , luhan , sehun , tao , baekhyun ,heeheheh kalo bisa sih tapi kalo ngak bisa juga ngak apa apa
    daebak chingu

    • idwinaya January 19, 2013 / 4:51 PM

      Soo-EXO? Okesip, deh. Nanti author bikinin ff-nya, yaa. Ditunggu saja, yaa. Hohoho~
      Gomawo udah baca n comment ya, chingu ^^

  3. gmutiaradewi January 19, 2013 / 10:12 AM

    Ffnya bagus. Sedih
    Tapi untung happy ending😀
    Daebak🙂

    • idwinaya January 19, 2013 / 4:47 PM

      Okesip, gomawo udah baca n comment ya, chingu ^^

      • gmutiaradewi February 24, 2013 / 11:41 AM

        iya samasama🙂
        btw abis baca ff ini jadi suka HunSoo, kapan-kapan bikin lagi HunSoo ya hehe😀

  4. dinaalifa February 1, 2013 / 9:52 PM

    Kya~~ sooyoung sama sehun
    sama2 bias saya😀
    kapan2 bikin lagi thor jarang2 ada ff sooyoung sama sehun
    kalo bisa sookris nya juga
    hehehe😛

    • idwinaya February 2, 2013 / 6:20 PM

      Eits, kita sama, dong! *high five*
      Oke, oke. Akan aku banyakin ff SooHun-nya😀
      Sookris? Okesip. Aku emang pnya rencana mau bikin ff SooKris. Ditunggu saja, ne😉

      • dinaalifa February 3, 2013 / 10:47 AM

        haha,, iya iya *histeris seketika😀
        makasih ya kalo sookris nya dibuatin😀

  5. it'sme Min2 February 9, 2013 / 10:48 AM

    inspirasi’a dari postman to heaven ya

  6. CherrfulPurple February 13, 2013 / 9:29 AM

    Kyaaaaaa!!!! Kerennn bangetttt. Baru kali ini nemuin ff Sehun – Sooyoung. Bias aku tuh dua2nya (´⌣`ʃƪ)♡
    Bagusss bgt deh ceritanya. Ditunggu ya ff Sehun – Sooyoung lainnya (•ˆ⌣ˆ•)

  7. AnnisaNindy February 25, 2013 / 10:35 PM

    Heaven’s postman’-‘ daebak xD

  8. Sone fina June 25, 2013 / 10:48 AM

    Kyaaaa ketje thor bkn lagi ne EXOsoo😀 aku pgen.a D.O sama soo kn bias.a soo eonni di exo kn kyungsoo oppa a.k.a D.O😀

    • Jung Minrin June 25, 2013 / 10:50 AM

      Haha, duh, makasih pujiannya😀
      Okesip, diusahain bikin D.O x Sooyoung🙂

  9. Fadhila Aryanti July 30, 2013 / 7:05 AM

    Thor, bagus + keren o.o

    Ceritanya juga menarik.

    Bikin Exo-Soo lagi, ya? Apalagi Sooyoung – Sehun & Sooyoung – Luhan.

    Series kan jarang. Jadi bisa series, gak?

  10. Daninta August 13, 2013 / 10:33 AM

    Wiiih keren , apa kehidupan nyata bisa kaya gitu ? *plak
    SooHan hidup bahagia deh

  11. Wu Rivzqia September 16, 2013 / 6:55 PM

    DAEBAK \m/ Buat FF SooKrisCouple dong chinguu ^^ *mengingat seorang Wu Rivzqia adalah SooKris Shipper/?*

  12. SooYoung~ December 29, 2013 / 2:52 PM

    Huwaaa, menyentuh thor ..😥

  13. gdexosnsdshineesujusaranghae January 15, 2014 / 5:58 PM

    Jyaaa.. Keren bgt thor.. Bias ak semua!! Sooyoung eonni.. Baekhyun & Sehun oppa.. :3 .<
    Keren bgt bayangin Baekhyun oppa jadi dewa kematian.. :3 pasti keren bgt.. kyk di komik".. :3 Uwooo~~~

  14. kyura December 24, 2014 / 9:32 AM

    Daeback,, jempol dehhh,, buat ff mu thor…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s