[FREELANCE] Beautiful Goodbye

beautifulgoodbye1

Author: Misol Kim

Title: Beautiful Goodbye

Genre: Romance

Rating: PG 15

Main Cast: Choi Sooyoung – Byun Baekhyun

Poster by : hyunji

Beautiful Goodbye

Malam ini aku sedikit berlari menuju ke apartemen dari tempat bus stop, menghiraukan hujan yang turun deras membasahi tubuh ini. Joonmyun memberiku pesan bahwa  hari ini dia mengirimkan aku sebuah skateboard. Aku menjadi sangat tidak sabar semenjak sepuluh menit lalu, setelah ia mengirim pesan.

Sooyoung berlarian menuju kamarnya tanpa melepas heels yang masih terpasang. Menurut pesannya itu skateboardnya diletakkan dikamar Sooyoung. “Hmm. Apa ini?” Sooyoung mengangkat sebuah kotak besar yang terletak tepat diatas tempat tidurnya.

“Oke ayo kita coba buka” gumamnya, membuka kotak berwarna putih polos yang ukurannya lumayan besar dengan hati-hati. “Omg! Joonmyun, ini benar benar bagus! Mirip seperti apa yang aku bayangkan!” Sooyoung memeluk skateboard pemberian Joonmyun erat.

Mengingat kemarin sore Sooyoung dan Joonmyun pergi ke festival skateboard yang kebetulan diadakan dekat kantor Joonmyun.

— “Joonmyun, aku berfikir dari tadi apa kamu bisa memainkan itu”

— “Ya, Sooyoung-ah, kamu fikir mengapa aku mengajak mu kesini?”

— “Melihat lihat?”

Sebelum Joonmyun menarik tangan Sooyoung, ia mencubiti pipi perempuan didepannya itu. “Ayo kesana, aku akan menunjukkan kepadamu bahwa aku bisa dibilang cukup mahir memainkannya”

Joonmyun memberikan ku dasi dan jas nya, ia membuka kerah atas kemejanya. “Tunggu disini dan lihat aku baik baik, oke?” ucapnya mencibir mencium dahiku lalu berlari menuju arena skateboard, walaupun aku hanya melihatnya dari kejauhan tetapi cukup jelas untuk melihat setiap gerak geriknya.

Untuk orang yang sama sekali tidak mengerti tentang ‘Skateboard’ aku hanya bisa melongo melihat setiap gerakan gerakan itu. Setelah sepuluh menit melihatnya bermain, ia kembali lagi kearahku. “Bagaimana? Apa kau menjadi semakin cinta setelah melihatku bermain?” tanyanya sambil membenahi rambutku. Aku hanya bisa mencubit lengannya kesal. Tapi bagaimanapun hatiku benar benar luluh dibuatnya. Rambutnya yang tertata rapi, kerah atas yang sedikit dibukanya, dan senyuman khasnya. Goddam he’s absolutely perfect.

Selama perjalanan pulang kami hanya membahas skateboard. Joonmyun juga memperlihatkanku beberapa koleksi skateboardnya yang ada di dalam gallery handphone nya. Jari jari ku bergerak gerak merasa ingin mendesign sebuah skateboard.

Setelah sampai di apartement, aku menyadari Joonmyun yang mengikutiku dari belakang. Aku berbalik arah menghadapnya.

—“Ini sudah larut, pulanglah. Besok kamu akan kerja”

—“Hari ini aku akan menginap disini” ucapnya santai seraya mengganti sepatunya berjalan menuju dapur.

—“Ada apa? Lagi pula disini hanya ada satu kamar”

Joonmyun meneguk air yang di ambilnya. “Besok aku harus ke kantor pukul lima pagi hari sebelum berangkat ke bandara”

—“Ke bandara? Kamu akan pergi kemana? Kenapa tidak memberitahu ku terlebih dahulu?” tanyaku berjalan mendekatinya.

—“Maaf karena tidak memberi tahu mu terlebih dahulu. Aku pun baru tahu ini kemarin malam” tangannya menarik pinggangku mendekatnya. “Jadi bulan ini ada perjalanan bisnis di Tokyo. Setelah pekerjaan ku selesai, aku akan menjemput ayah ibu mu ke Seoul untuk mengurus pernikahan kita.

—“S-sebulan? Bagaimana dengan pakaian mu? Apa sudah siap? Apa aku perlu menyiapkannya untuk mu?”

Joonmyun mengecup dahiku lembut. “Itu semua sudah siap, bersabarlah menungguku. Setelah aku kembali nanti kita akan selalu bersama” Ia melepas tangannya dari pinggang ku. “Apa kau lelah? Mari kita tidur. Ini sudah sangat larut” Joonmyun benar benar santai, ia bahkan mendahuluiku memasuki kamar.

­— “Joonmyun-ah, tapi kita belum menikah. Bagaimana?” tanyaku dengan ragu.

— “Trust me. Aku tidak akan melakukan hal hal aneh. Walaupun kalau kamu hamil, bukankah itu tidak apa apa? Maksud ku sebentar lagi kita akan menikah. Tinggal menghitung hari”

Aku hanya bisa mencubitinya seperti biasa.

***

Aku bertanya tanya mengapa Joonmyun mengirimkan aku sebuah sakteboard, dua hari aku hanya bilang bahwa aku ingin mendesign nya bukan memainkannya. Tetapi setelah melihatnya aku sanga ingin mencobanya.

Ku letakkan sakteboard itu di lantai, melepas blazer yang masih ku kenakan dan membuang tas ku sembarang. Kaki sebelah kiri ku naikkan diatas skateboard, aku cukup yakin untuk menaikkan kaki sebelah kanan ku ini. Bruk!

Stupid Sooyoung!” Aku memukul kepalaku dan mencoba untuk berdiri. Kaki ku berdarah dan rasanya benar benar sakit, nyeri bertubi tubi. Baru ku sadari aku belum melepas heels ku. Aku benar benar butuh pertolongan, tetapi ke siapa? Ayah dan ibu berada di Tokyo begitupula dengan Joonmyun. Sooyoung meraih handphonenya dan bersikeras untuk bisa berdiri berjalan keluar menuju rumah sakit terdekat. Menyetir dengan bersusah payah.

Setelah melalui sinar-X dokter memberi tahu bahwa kaki ku patah dan itu lumayan parah, aku hanya bisa mengangguk terhadap pertanyaan dokter untuk segera dioperasi. Seriously, aku sangat takut dengan kata operasi walaupun ini bukan kali pertamanya, tetapi tidak ada jalan lain lagi. Perawat membawa ku menuju kamar operasi, wajah ku sangat pucat saat itu. Walaupun dokter bilang jangan takut karena aku akan dibius sehingga tertidur, tetapi aku masih takut. Pelukan hangat Joonmyun benar benar dibutuhkan.

Cahaya matahari yang terang membuatku terbangun. Ini sudah siang, aku melihat ke sisi ruangan ini menyadari bahwa aku sudah didalam ruangan yang berbeda dengan saat diopersi, ini kamar pasien. Aku melihat kearah kanan dan mendapati tirai putih, aku yakin kalau kamar ini tidak dibuat untuk satu pasien, melainkan dua. Tak lama tirai itu tiba tiba sedikit terbuka. Seorang laki laki berambut merah kecoklatan dengan eyeliner tersenyum kearahku.

Senyuman itu luntur ketika ia melihat ke arahku. “Ah, non—sooyoung? Sooyoung kau sudah bangun? D-ddisebelah mu sudah ada makanan, suster memberitahuku untuk menyuruh mu untuk memakannya.” Ucap lelaki itu dengan terpatah patah. Aku sedikit kaget saat lelaki itu menyebut namaku, mengapa ia bisa tahu nama ku? Setelah laki laki tersebut menyebut namaku, seseorang yang terbaring disebelahnya mengangkat tubuhnya untuk melihatku.

“S-sooyoung, Sooyoung unnie?”  tanya perempuan itu ragu.

Aku mengerutkan dahiku. “Ya, jadi itu kau unnie? Aku Byun Yeri” ucap perempuan itu dengan senyuman yang lebar seraya membuka tirai itu lebih lebar.

“Ah, Yeri! Maaf tidak bisa mengenalimu tadi” ucapku tersenyum. Byun Yeri adalah mantan asisten ku di butik. Dia selesai karena mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliahnya.

— “Unnie, ada apa dengan kakimu? Apa itu patah?”

— “Ya begitulah, bagaimana denganmu?”

— “Aku hanya tifus, besok aku sepertinya sudah bisa pulang. Hmm, unnie apa Joonmyun-oppa tidak kemari?”

— “Dia masih ada di Tokyo”

— “Oh iya unnie, sepertinya kamu tidak mengenal dia. Dia oppa-ku, Byun Baekhyun”

Lelaki itu mengulurkan tangannya kepadaku. Aku pun membalasnya “Sooyoung, Choi Sooyoung” “I already knowucapnya terkekeh. Wajah lelaki ini benar benar terasa familiar. Aku memejamkan mataku mencoba mengingat semua masa lalu ku, apa mungkin dia adalah salah satu teman ku dulu? Tapi semuanya gagal. Semuanya terlihat buram.

Selama beberapa jam disini aku benar benar tidak merasa kesepian. Baekhyun dan Yeri selalu menemaniku, mereka benar benar membuatku melupakan Joonmyun. Bahkan aku tidak sempat membalas pesannya semalam. Setelah waktu menjelang sore Baekhyun mengajakku pergi ke taman dengan kursi roda yang ada dalam rumah sakit itu.

—“Kenapa kakimu bisa patah?”

—“Aku jatuh dari skateboard”

Tak lama Baekhyun tertawa terbahak bahak membuat orang orang disekeliling melihat ke arah kami. Walaupun kami baru berkenala tadi kami bisa disebut sudah akrab, kami bahkan sudah menghilangkan kata ‘ssi’ di akhir nama.

—“Maaf, tapi itu benar benar lucu. Apa Joonmyun tidak mengajarimu cara memainkannya?”

—“Itu adalah kali pertamanya aku mencobanya. Jangan tertawa begitu keras, Baekki!”

—“Lain kali aku akan mengajarimu”

—“Hm. Tadi kamu menyebut Joonmyun. Kamu mengenalnya?”

—“Y-yeri memberi tahuku. Katanya kalian sangat romantis”

Kata terakhir yang diucapkan Baekhyun benar benar membuat kami tertawa puas.

Pukul tujuh malam dokter kembali mengecheck kaki ku. Dia berkata kaki ku akan cepat pulih. Aku bertanya apa aku bisa pulang malam ini mengingat aku harus mendesign beberapa wedding dress. Dokter mengangguk, aku sangat senang. Aku menelpon Minho—sepupu laki lakiku untuk mengantarku pulang.

***

Sesampai apartemen aku langsung menuju ruang kerja. Minho kembali ke apartemennya mengingat ia berada di semester terakhir dalam masa kuliahnya jadi ia tidak bisa merawatku. Aku bekerja sampai larut malam sampai tertidur di meja kerja.

Bel berbunyi membuat aku terbangun dari tidurku. Badanku seluruhnya terasa sakit ditambah rasa pusing yang berlebihan, aku menggunakan kursi roda untuk menuju pintu utama. Sosok lelaki berambut merah kecoklatan dengan eyeliner tersenyum lebar dihadapanku, itu Baekhyun.

—“Hey, apa ada sesuatu yang kehilangan?”

—“Hmm. Sepertinya tidak, bagaimana kamu tahu apartemenku?”

—“Y-yeri memberitahu ku. Apa kamu yakin?

—“Kemarin aku hanya membawa handphone dan-, handphone! Aku tidak melihatnya sedari sampai disini”

—“Ini kamu seharusnya lebih teliti lagi”

Baekhyun memberiku benda tipis berwarna pink polkadot.

—“Omg! Bagaimana aku bisa begitu ceroboh”

—“Haha, apa kamu sakit? Wajah mu terlihat sangat pucat”

—“Sepertinya aku demam”

Baekhyun meletakkan punggung tangannya di dahiku. “Demam, apa kamu sudah sarapan?” Aku melirik ke jam tangan di pergelangan tanganku. Ini sudah telat untuk disebut sarapan, aku menggelengkan kepalaku. Terlalu lemah untuk menjawab. “Apa kamu keberatan jika aku membuatkan mu makanan?” tanyanya. “Tentu saja tidak keberatan”.

Baekhyun mendorong kuris roda ini menuju kamar ku, layaknya sudah hafal dengan semua ruangan disini. Ia mengangkatku ke tempat tidurku. Lalu ia kembali dengan sebuah termometer, handuk kecil, dan semangkuk air, entah dimana ia mendapatkan semua benda itu tanpa bertanya terlebih dahulu. Pertama tama ia mengukur suhu tubuhku. “39” gumamnya. Ia meletakkan handuk kecil  yang sudah dibasahi itu di dahiku, lalu menginggalkan ku kembali.

Baekhyun membuatkanku dua mangkuk bubur, mengagetkannya karena aku bisa menghabiskan kedua mangkuk tersebut. “Sooyoung-ah, bukan aku keterlaluan tetapi pakaian mu sudah basah, sebaiknya diganti. Apa kamu bisa mengganti pakian mu sendiri? Aku akan menunggumu diluar” Aku menghela nafas sebelum menjawab “Apa kamu bisa menggantikannya? Aku terlalu lemah untuk menggantikan pakaian seorang diri” Baekhyun kembali dengan oversize sweater bercorak black-red. Tidak putuh waktu lama karena Baekhyun hanya menggantikan sweaternya. “Baekhyun, apa kamu tahu? Ini adalah favoritku” jelasnya sambil melihat kearah sweater-nya.

— “Baekki apa tidak sebaiknya kamu pulang? Ini hampir malam”

—“Bagaimana aku bisa meninggalkan perempuan yang sedang sakit seperti ini terlebih kakimu tidak dalam keadaan baik?”

Malam itu hujan kembali turun, akhir akhir ini hujan memang sering turun di malam hari. Tetapi malam itu berbeda, hujan kali ini di barengi oleh tiupan angin kencang dan petir. Sooyoung sangat takut jika dalam keadaan seperti ini, biasanya dia akan menelfon Joonmyun untuk datang menemaninya.

“Apa kau takut?” Baekhyun membenahi rambutku. Aku menarik tangan Baekhyun untuk mendekat. Baekhyun tersenyum ke arahku, ia menarik selimut menjadi menutupi bahuku. “Tidurlah, aku akan menjagamu disini” Ku pejamkan mataku untuk tertidur sebelum akhirnya Baekhyun mencium hidungku. “Selamat malam” Sudut bibir ku terangkat membuatku tersenyum.

Baekhyun sudah berada di apartemen ku kurang lebih tiga minggu, ia bahkan tidak pulang. Ia akan menggunakan pakaian Joonmyun yang memang sengaja ditinggalkan Joonmyun disini. Aku sempat bertanya apa ia tidak bekerja karena selalu merawatku, katanya dia adalah seorang songwriter jadi jam kerjanya bebas. Sangat merasa tidak enak karena harus membiarkan Baekhyun tidur di sofa ruang tengah, itu sangat tidak nyaman. Setiap hari ia akan mengantar ku ke butik, membuat sarapan dan makan malam dan mengantar ku untuk mencheck kaki ini.

***

Hari ini hari minggu, hari dimana aku untuk pertama kalinya bangun lebih awal diantara semua hari yang aku habiskan bersama Baekhyun. Kali ini aku sudah bisa menggerakkan kaki untuk berjalan tentunya dengan hati-hati. Aku melangkahkan kaki menuju ruang tengah untuk membangunkan Baekhyun, tetapi melihatnya tertidur dengan muka damai seperti itu membuatku mengurungkan niat untuk membangunkannya. Jari-jari ku refleks bergerak menyentuh pipinya, kulitnya benar benar halus.

Jari-jari ku menari nari dipermukaan wajahnya. Ku helus dari hidungnya turun menuju bibirnya, lalu aku membungkukkan badanku 90 derajat wajah kita cuma berjarak bebrapa senti hingga aku bisa merasakan udara panas nafasnya. Apa kita pernah bertemu dulu ? Mengapa rasanya kamu sangat dekat dengan ku sebelum insiden itu?

“Yang terakhir” ucapku menyemangati diri sendiri. Sarapan kali ini dibuat oleh Sooyoung, sudah lama rasanya aku tidak pernah memasak jadi agak sedikit aneh. Makanan sudah siap di meja, tinggal mencuci perabotan memasak tadi. Tubuh ku terhentak kaget merasakan dua tangan yang memelukku dari belakang dan dagu seseorang bersandar di bahuku.

—“Baekhyun”

—“Jangan bergerak, lima menit saja”

—“Apa kamu tahu? Bermain main di muka seseorang itu tidak baik. Bagaimana jika kulit ku menjadi kusam atau berjerawat?”

—“M-maksud mu?”

—“Jangan berpura pura bodoh Sooyoung. Tadi itu adalah sebuah hukuman karena mengganggu tidur seorang pangeran”

Aku menghela nafas berat, menarik kursi disebelahku memberi sinyal Baekhyun untuk duduk. “Wow, kamu buat sendiri? Aku harap kamu tidak memberi racun didalamnya” ucap nya mengambil sendoknya menyuapi sesendok sup ke mulutnya. “Ya, seharusnya kamu lebih sering memasak dari sebelumnya, ini sangat enak” bibir Baekhyun tidak henti hantinya mengoceh tentang masakan pagi ini, ia bahkan tidak melirikku.

—“Apa ini sarapan untuk perpisahan?”

—“Mungkin?”

Baekhyun meneguk orange juice nya lalu menarik kursi itu menjadi menghadap ke arah Sooyoung. “Sooyoun-ah, apa kamu mengingat ku?” Sooyoung terdiam, selama ini Sooyoung benar benar ingin bertanya itu kepada Baekhyun. Sesuatu yang kebetulan jika Baekhyun bertanya lebih dulu.

—“Aku pernah bertemu kamu di mimpi mimpi ku. Setelah insiden itu”

—“Bukan. Itu bukan sebuah mimpi, itu kenyataan. Sepertinya aku harus memberitahu mu sebelum aku pergi. Apa tidak masalah?”

—“P-pergi? Apa setelah ini kita tidak akan bertemu lagi?”

Kepala laki laki itu menggeleng. “Beri tahu aku” Sooyoung meraih jari jari lelaki didepannya. “Dengan jelas”

Saat  berumur lima belas tahun, Baekhyun Sooyoung dan Joonmyun adalah seorang sahabat. Mereka kerap menghabiskan waktunya bersama-sama, di apartemen kecil milik Sooyoung ini. Baekhyun dan Sooyoung saling menyukai, tetapi Baekhyun tahu seberapa cintanya Joonmyun kepada Sooyoung. Jadi, Baekhyun tidak pernah memberitahunya.

Ada kala dimana Joonmyun memimta Baekhyun untuk menjauhi Sooyoung. Disaat Baekhyun menghilang itulah Sooyoung terkena insiden kecelakaan. Sooyoung tertabrak truk, sehingga membuatnya kehilangan ingatannya.

Semejak insiden itu Baekhyun tidak pernah bertemu Sooyoung lagi, Joonmyun melarangnya menjenguk Sooyoung. Joonmyun dan orangtua Sooyoung menganggap ini semua kesalahan Baekhyun.

—“Lalu aku pindah ke China”

—“Jadi, sebenarnya aku tertabrak truk? Mereka memberitahuku bahwa aku jatuh dari tangga”

—“Saat itu aku berada cukup dekat dengan mu. Saat aku mau menyelamatkan mu, Joonmyun sudah lebih dahulu daripada diriku”

—“Jadi itu kamu yang diceritakan Jongdae”

—“Maaf karena baru datang. Semuanya sangat sulit untuk untukku, terlebih Joonmyun selalu bersamamu.

Sooyoung memaksakan dirinya untuk tersenyum. “Hey, itu bukan salahmu. Itu salahku” Air matanya tidak bisa ditahan lagi, tangannya reflek memeluk Baekhyun. Dan Baekhyun meresponnya. “Uljimalayo” bisiknya lalu mencium dahiku lembut.

“Baekhyun, jika ini yang terakhir” Sooyoung menggigit bibir bawahnya lalu mengadah untuk melihat wajah Baekhyun. Tangannya dengan pelan melingkar di leher Baekhyun. Bibir merah manisnya itu mengecup bibir milik Baekhyun. Kali ini Baekhyun meresponnya, dengan tangan baekhyun yang memegang rahang Sooyoung. Sooyoung awalnya merasa kaget tetapi lama lama ia menikmatinya, tangannya kembali melingkar di pinggang Baekhyun.

Lama kelamaan ciuman halus, manis itu semakin kasar. “Maaf” Baekhyun merutuki dirinya sendiri. Tangannya bertumpu di bahu Sooyoung. “Maafkan aku, kita seharusnya tidak begini” Tangan yang dari tadi melingkar di pinggang Baekhyun kini dipaksanya untuk lepas. “Aku harus pergi. Terimakasih unuk sarapannya. Aku sangat menikmatinya” ucapnya sambil berjalan meninggalkan Sooyoung.

“Tapi…Baekhyun” Sooyoung memeluk Baekhyun dari belakang. “Tidak bisakah kamu menghubungiku sesekali? Kamu tahu aku menyu—” Baekhyun berbalik arah menghadap Sooyoung “Youngie, ingat siapa yang menjagamu saat kamu ingin meninggalkan dunia ini saat kehilangan ingatan, disaat frustasi ? Siapa yang selalu berusaha menjagamu hingga meninggalkan kelas saat ujian? Joonmyun did.  Kamu harus menjadi istri yang baik untuknya. Sooyoung itu milik Joonmyun, bukan aku atau yang lainnya”

Dengan kecupan terakhir di dahi. Baekhyun meninggalkan apartemennya.

Beautiful Goodbye

 Yaya hallo, maafkan aku yang membuat ff oneshot sepanjang ini /sungkem/

Atau ini bukan oneshot

Atau pun apa

Dan maaf feelnya gaada </3

Komen dong readers :3

/rolling

15 comments

  1. hwaaaa :’(
    kenapa bukan SooBaek aja ?
    kan sayang baekkie jadi patah hati :’(
    Tapi keren bgt FF nya aku suka gaya tulisan kamu tapi kalau alur mungkin agak sedikir membingungkan.. Nice FF ditunggu karya selanjutnya ^^

  2. ya ampun kenapa suami kedua saya di exo bijak banget tapi kenapa kamu merebut ciuman pertama soo eoni
    kasihan kan suhonya bang baekhyun
    pengennnya jadi sama baekhyun tapi suho udah berkorban jdi saya relakan saja
    bagus ceritanya kok wlpun sedikit nyesek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s